Korban Meninggal Erupsi Semeru yang Teridentifikasi Bertambah

Lumajang – Jumlah korban erupsi Semeru yang teridentifikasi kembali bertambah setelah dilakukan tes ante mortem. Dari total 34 korban meninggal, 22 jenazah telah teridentifikasi.

Kapolsek Kota Lumajang Iptu Samsul Hadi merinci, dari 22 korban meninggal yang telah teridentifikasi 18 jenazah sudah diserahkan ke keluarganya masing-masing. Sedangkan 8 lainnya masih belum teridentifikasi.

“Total 34 jenazah korban erupsi Gunung Semeru ditemukan,” terang Samsul, Selasa (7/12/2021).

Mujiono, salah satu keluarga korban yang telah teridentifikasi mengaku bersyukur anggota keluarganya yang hilang telah ditemukan dan sudah bisa diserahkan keluarga. Meski begitu, ia belum bisa mengambil jenazah anggota keluarga yang meninggal lainnya.

Hal itu disebabkan jenazah harus menunggu tes ante mortem untuk memastikan identitasnya. Padahal, menurut Mujiono, dua korban ini ditemukan di lokasi yang sama. Kedua keluarganya yang meninggal itu yakni atas nama Budi Cahyono dan Misraji, warga Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo.

“Korban Budi Cahyono dan Misraji ditemukan berdekatan oleh petugas pencarian di Dusun Curah Kobokan. Untuk Budi Cahyono bisa pulang hari ini, karena hasil tes ante mortem cocok, dan Misraji masih belum, katanya besok bisa dibawa pulang, Budi Cahyono langsung dimakamkan malan ini,” kata Mujiono.

Kondisi di kawasan Gunung Semeru pasca-erupsi 4 hari ini sendiri masih hujan lebat. Akibat cuaca itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang dan pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau agar warga tetap waspada terhadap banjir lahar dingin yang disertai material abu vulkanik.

sumber: detik.com

Korban Meninggal Erupsi Semeru yang Teridentifikasi Bertambah

Lumajang – Jumlah korban erupsi Semeru yang teridentifikasi kembali bertambah setelah dilakukan tes ante mortem. Dari total 34 korban meninggal, 22 jenazah telah teridentifikasi.

Kapolsek Kota Lumajang Iptu Samsul Hadi merinci, dari 22 korban meninggal yang telah teridentifikasi 18 jenazah sudah diserahkan ke keluarganya masing-masing. Sedangkan 8 lainnya masih belum teridentifikasi.

“Total 34 jenazah korban erupsi Gunung Semeru ditemukan,” terang Samsul, Selasa (7/12/2021).

Mujiono, salah satu keluarga korban yang telah teridentifikasi mengaku bersyukur anggota keluarganya yang hilang telah ditemukan dan sudah bisa diserahkan keluarga. Meski begitu, ia belum bisa mengambil jenazah anggota keluarga yang meninggal lainnya.

Hal itu disebabkan jenazah harus menunggu tes ante mortem untuk memastikan identitasnya. Padahal, menurut Mujiono, dua korban ini ditemukan di lokasi yang sama. Kedua keluarganya yang meninggal itu yakni atas nama Budi Cahyono dan Misraji, warga Dusun Curah Kobokan, Kecamatan Pronojiwo.

“Korban Budi Cahyono dan Misraji ditemukan berdekatan oleh petugas pencarian di Dusun Curah Kobokan. Untuk Budi Cahyono bisa pulang hari ini, karena hasil tes ante mortem cocok, dan Misraji masih belum, katanya besok bisa dibawa pulang, Budi Cahyono langsung dimakamkan malan ini,” kata Mujiono.

Kondisi di kawasan Gunung Semeru pasca-erupsi 4 hari ini sendiri masih hujan lebat. Akibat cuaca itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang dan pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau agar warga tetap waspada terhadap banjir lahar dingin yang disertai material abu vulkanik.

sumber: detik.com

Pendapa Arya Wiraraja Jadi Pusat Bantuan Korban Semeru

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG — Bantuan untuk warga yang terdampak letusan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dipusatkan di Pendapa Arya Wiraraja pada Sabtu (4/12) malam untuk memudahkan koordinasi dan distribusi bantuan. “Bantuan bisa dikumpulkan di Pendapa Arya Wiraraja untuk segera karena malam ini kami distribusikan ke lokasi bencana,” kata Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

Ia mengajak masyarakat untuk memberikan bantuan kepada korban letusan Gunung Semeru di Kecamatan Pronojiwo dan sekitarnya karena bantuan tersebut sangat dibutuhkan. “Saudara kita yang terdampak letusan Gunung Semeru perlu bantuan. Saat ini yang segera diperlukan adalah nasi bungkus, pakaian layak pakai, makanan bayi dan kebutuhan darurat lainnya,” tuturnya. 

Bupati yang akrab disapa Cak Thoriq itu mengatakan, seluruh bantuan agar bisa dikumpulkan di Pendapa Kabupaten Lumajang untuk didistribusikan kepada masyarakat yang saat ini sedang dalam posko pengungsian. Ajakan Bupati Lumajang terkait bantuan korban terdampak letusan Gunung Semeru direspons cepat oleh masyarakat karena silih berganti bantuan masyarakat berdatangan di Pendapa Arya Wiraraja Lumajang dan mulai didistribusikan.

“Yang penting baju layak pakai dan makanan segera didistribusikan ke masyarakat di sana karena sangat dibutuhkan,” ucapnya, sebelum menuju ke lokasi terdampak letusan Gunung Semeru.

Bantuan logistik dari masyarakat mulai didistribusikan dengan truk milik Pemkab Lumajang. Bantuan yang telah terkumpul, antara lain makanan siap saji, air mineral, pakaian layak pakai, mi instan dan selimut.Hingga Sabtu malam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lumajang dibantu sejumlah relawan terus menghimpun bantuan dari warga yang terus berdatangan. 

Gunung Semeru masih dalam status Level II atau “Waspada”, namun potensi terjadinya awan panas guguran masih tinggi, ditambah dengan material lahar dingin yang terus mengalir di daerah aliran sungai. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan guguran awan panas mengarah ke Besuk Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, pada Sabtu sore.

Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih 500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di bawah kawah.

BPBD Banyuwangi Buka Posko Bantuan Erupsi Gunung Semeru

Merdeka.com – Selain mengirim tim relawan dan bantuan paket sembako ke Lumajang, Pemkab Banyuwangi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi membuka posko bantuan erupsi Gunung Semeru. Penggalangan bantuan dibuka mulai, Selasa (7/12).

Selain di BPBD, posko bantuan juga dibuka di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB).

Sekretaris BPBD Banyuwangi, Mujito mengatakan, donasi ini dibuka untuk membantu warga yang ingin menyalurkan bantuannya kepada warga Lumajang yang terdampak erupsi Gunung Semeru. Warga bisa langsung menyalurkan bantuannya ke posko yang ada di dia lokasi tersebut.

“Kami tidak menerima bantuan berupa uang. Kalau ada warga yang ingin membantu dengan uang, kami sarankan menyalurkannya melalui Baznas atau institusi yang menggalang dana berupa uang,” kata Mujito.

Dijelaskan Mujito, bantuan yang dibutuhkan terdiri dari enam item yakni sembako, makanan tambahan gizi, perlengkapan kebutuhan bayi dan balita, peralatan mandi, pakaian baru, dan selimut.

BPBD telah mengirimkan surat permohonan bantuan kepada seluruh dinas di Banyuwangi dan organisasi masyarakat untuk ikut berdonasi.

“Kami telah bersurat kepada seluruh SKPD dan ormas di Banyuwangi untuk mengumpulkan bantuan, mulai hari ini hingga tanggal 10 Desember mendatang. Selain ASN dan ormas, masyarakat umum juga bisa menyalurkan bantuannya,” jelas Mujito.

Mujito berharap, dengan adanya posko bantuan ini, penyaluran bantuan bisa satu pintu agar pelaporannya jelas. “Jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan keadaan, meminta sumbangan untuk digunakan sebagai keperluan pribadi,” harapnya.

Selain di BPBD posko bantuan juga dibuka di kantor Dinsos PPKB, Jalan HOS Cokroaminoto No 30 Banyuwangi.

Kepala Dinas Sosial PPKB, Henik Setyorini, mengatakan Posko utama untuk erupsi Semeru tetap satu pintu di BPBD.

“Sementara untuk Posko di Dinas Sosial sifatnya membantu. Posko perbantuan di Dinas Sosial ini fungsinya adalah mengakomodir para penyalur bantuan. Nantinya kami yang akan mengantarkan bantuan tersebut ke BPBD. Jadi masyarakat juga bisa menyalurkan lewan Dinas Sosial dan BPBD,” jelas Henik. [hrs]

PMI Surakarta Kirim Tim Medis untuk Korban Erupsi Semeru

 REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakartadi Provinsi Jawa Tengah mengirimkan tim medis dan bantuan bagi korban erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Senin (6/12). Pemimpin Eksekutif PMI Kota Surakarta Sumartono Hadinoto mengatakan, tim medis beranggotakan 11 orang, tiga mobil, dan barang-barang bantuan dikirim untuk membantu penanganan dampak letusan Gunung Semerudi Kabupaten Lumajang.

“Kami hari ini bersama Rumah Sakit UNS Surakarta, di mana UNS memberangkatkan satu tim dokter dan perawat serta sopir dengan satu mobil dobel kabin,” katanya.

Sumartono mengatakan, setelah tiba di Lumajangtim akan berkoordinasi dengan PMI setempat guna membantu penanganan korban bencana di area-area yang membutuhkan tambahan personel. Tim PMI Kota Surakartamembawa bantuan berupa 1.300 masker medis, 3.400 masker kain, 200 selimut, serta biskuit dan obat-obatan untuk korban erupsi Semeru. 

Tim PMI juga membawa tabung oksigen. PMI Surakarta berencana membantu penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi korban bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajangselama satu minggu dan siap mengirimkan personel lagi jika masih dibutuhkan. 

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit UNS Surakarta Prof Dr dr Hartono mengatakan bahwa universitas memberangkatkan tim medis yang terdiri atas tiga dokter, dua perawat, satu pembantu umum, dan satu sopir. Adapun bantuan yang diberikan berupa obat-obatan, masker, dan bahan pokok ke daerah yang terdampak erupsi Semerudi Lumajang.

Selain menyalurkan bantuan, tim UNSakan melakukan pemetaan dan mendata kebutuhan korban bencana agar selanjutnya bisa mengirimkan bantuan yang tepat. “Timnya untuk pemetaan situasi akan bekerja selama tiga hari, sedangkan tim teknis operasional evakuasi dan lain-lainnya itu akan membantu di lokasi bencana selama tujuh hari. Kami pada Ahad (5/12) malam juga sudah memberangkatkan lima orang dari Tim SAR dan Mapala,” katanya.

Menko PMK Tegaskan Keselamatan Korban Letusan Gunung Semeru Jadi Prioritas Utama

KEMENKO PMK — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan bahwa pemerintah berfokus menyelamatkan korban erupsi Gunung Semeru, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, setiap ada bencana seperti ini yang diprioritaskan adalah keselamatan korban. Terutama mereka yang cedera, yang kesakitan itu harus betul-betul mendapatkan perawatan maksimal. Sehingga terselamatkan,” ujarnya saat melakukan peninjauan di RSUD Pasirian Lumajang, pada Minggu (5/12).

Muhadjir mengatakan, korban cedera akibat erupsi Gunung Semeru di RSUD Pasirian banyak yang mengalami luka bakar parah. Selain itu, ada pula korban cedera yang tertimpa reruntuhan bangunan.

“Bahkan ada korban yang alami luka bakar sampai 80 persen. Karena itu, ini sedang kita perhatikan secara khusus untuk korban-korban ini yang terbakar,” tuturnya.

Diketahui, RSUD Pasirian telah menampung sedikitnya 16 pasien korban luka bakar akibat terkena dampak awan panas guguran Gunung Semeru. Sebanyak 6 orang mengalami luka bakar hingga 80 persen.

Menko PMK menyebut telah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kesehatan untuk dapat mengirimkan bantuan peralatan untuk menangani korban. Kata dia, dengan kondisi luka bakar separah itu, korban tidak bisa dibawa ke RS yang representatif dan lokasinya cukup jauh.

“Kita meminta bantuan dokter spesialis dan dokter sub spesialis untuk menangani, kemudian dokter bedah plastik, kemudian perawat yang sudah pengalaman merawat orang terbakar, dan seterusnya. Tadi saya sudah meminta Pak Menkes untuk segera mengirimkan bantuan-bantuan itu,” paparnya.

Lebih lanjut, Menko Muhadjir menyatakan pemerintah juga akan menangani korban pengungsi secara maksimal. Penyediaan tempat pengungsian yang layak, kebutuhan logistik, dan dapur umum sudah dilakukan oleh BNPB bersama Kemensos, dan Pemerintah Daerah.

“Untuk mereka yang masih yang ditampung di Kantor Kelurahan, itu saya minta malam ini juga dipindahkan ke sekolah. Karena kalau di sekolah kan lebih tertutup di ruang-ruang kelas. Malam ini juga akan ditangani,” imbuhnya.

Antisipasi Hujan, Pindahkan Pengungsi

Selain itu, dia mendapatkan laporan, ada beberapa tempat pengungsian yang rawan terdampak erupsi susulan, yakni di lokasi pengungsian di Desa Curah Kobokan dan Desa Sumberwuluh. Dia mengatakan, para pengungsi di dua desa tersebut akan ditarik dan dipindahkan ke pengungsian di Desa Penanggal.

“Karena tempat yang dijadikan penampungan di dua desa itu rawan termasuk zona merah. Kita khawatir kalau ada erupsi susulan atau seandainya ada hujan deras, maka lahar yang tertahan di atas akan turun,” imbuhnya.

Untuk mengkoordinasikan lebih lanjut penanganan pasca erupsi Gunung Semeru, Muhadjir menyampaikan, kepala BNPB telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana yang terdiri dari Komandan Korem, Bupati, dan Kapolres agar koordinasi mulai dari tanggap bencana sampai masa rehabilitasi dan rekonstruksi bisa berjalan baik.

Selain itu, juga telah dibentuk Posko Penanggulangan Darurat Bencana. Diharapkan dengan adanya posko, seluh relawan dan lembaga kemanusian lainnya, termasuk Dunia Usaha, media dan akademisi agar berkolaborasi dengan Posko dan Satgas  Penanggulangan Darurat Bencana erupsi Gunung Semeru.

“Sekarang mereka semua sudah bergerak. Dan Insya Allah penanganannya semua lancar,” pungkas Menko PMK.

Selain meninjau RSUD Pasirian, Menko PMK juga meninjau Posko Pengungsian di Desa Penanggal, dan RSUD Dokter Hartoyo Lumajang. Dalam kesempatan peninjauannya itu, Menko PMK didampingi Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Lumajang Thoriqul Haq, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta, Danrem 083 Kolonel Inf Zainuddin.

Sebagai informasi, erupsi Gunung Semeru yang mengakibatkan terjadinya banjir lahar dan guguran awan panas telah berdampak parah di Kecamatan Candipuro, Pronojiwo dan Pasirian. Berdasarkan data BNPB, per hari ini, Minggu (5/12), tercatat 14 korban jiwa meninggal, 69 orang luka-luka dan 5.205 jiwa kehilangan tempat tinggal dan mengungsi di tempat-tempat pengungsian. (*)

sumber: kemenko

SITUASI TERKINI Lumajang Pasca Letusan Gunung Semeru, Jumlah Korban Meninggal Terus Bertambah

PRFMNEWS – Data korban jiwa pasca erupsi Gunung Semeru di Kabuapaten Lumajang, Jawa Timur, terus bertambah.

Data terkini BNPB per Selasa 7 Desember 2021 sore, tercatat warga luka-luka sebanayak 56 orang, warga yang dinyatakan 17 jiwa dan korban meninggal dunia 34 orang.

Lebih lanjut data terkini Posko Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru menunjukan, jumlah warga mengungsi mengalami peningkatan menjadi 3.697 jiwa.

Warga yang mengungsi ini sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan di Kabupaten Malang hanya terdapat 24 jiwa. Adapun jumlah populasi terdampak sebanyak 5.205 jiwa.

“Terkait dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang dan luka, BNPB masih melakukan pemutakhiran data dan validasi,” tulis Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resmi yang diterima Redaksi Radio PRFM.

Penanganan darurat paska awan panas guguran Gunung Semeru masih berlangsung pada hari keempat.

Bencana letusan Gunung Semeru tidak hanya berdampak pada jatuhnya korban jiwa dan kerusakan, tetapi juga warga yang mengungsi akibat rusaknya tempat tinggal akibat material vulkanik.

Sebaran titik pengungsian di Kabupaten Lumajang berada di Kecamatan Pronojiwo dengan 9 titik berjumlah 382 jiwa, Kecamatan Candipuro 6 titik 1.136 jiwa, Kecamatan Pasirian 4 titik 563 jiwa, Kecamatan Lumajang 188 jiwa, Kecamatan Tempeh 290 jiwa, Kecamatan Sumberseko 67 jiwa, Kecamatan Sukodono 45 jiwa,

“Letusan Gunung Semeru mengakibatkan 2.970 unit rumah terdampak,” imbuh Abdul.

Sebagai informasi tambahan, Gunung Semeru terpantau mengalami 2 kali gempa letusan dan durasi gempa 55 – 125 detik.

Di samping itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menginformasikan terjadi 7 kali gempa guguran dengan durasi 50-120 detik.***

Letusan Gunung Semeru Termasuk Erupsi Sekunder

KOMPAS.com – Ahli Kebencanaan UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Slamet mengatakan, fenomena gunung Semeru meletus merupakan erupsi sekunder.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut, dia menyinggung pentingnya mencermati karakteristik suatu gunung api.

Dalam wawancara dengan Kompas TV, Minggu (5/12/2021), Eko mengatakan bahwa setiap gunung api memiliki kecenderungan yang berbeda ketika erupsi atau meletus.

“Kalau (Gunung) merapi (erupsi) berupa guguran kubah, kalau di semeru gugurannya kubah dan produk erupsi,” ungkap Eko dalam wawancara dengan Kompas TV, Minggu (5/12/2021) pagi.

Seperti diketahui, Desember 2020 Gunung Semeru pernah erupsi dan di tahun ini Semeru meletus lagi.

Dia menjelaskan, dari erupsi yang pertama, material-material erupsi berkumpul di puncak gunung karena hujan dan menyebabkan erupsi sekunder.

“Nah, gejala-gejala ini yang perlu dicermati kalau ada akumulasi kubah selama proses satu dua tahun sebelumnya dalam jumlah yang besar dan belakangan jumlahnya meningkat karena hujan deras, maka potensi erupsi bisa terjadi,” jelas Eko.

“Seperti halnya yang terjadi pada Desember tahun lalu dan sekarang terjadi lagi, tapi dengan jumlah volume yang berbeda.”

Untuk diketahui, curah hujan yang tinggi dapat memicu guguran kubah lava dan menyebabkan terjadinya luncuran awan panas.

Lantas, apakah erupsi sekunder ini terjadi tiba-tiba atau sudah ada tanda sebelumnya?

Dijelaskan Eko, tanda-tanda yang bisa dilihat adalah proses magmatisme, yakni perubahan di medan magma yang menginformasikan status gunung api ada di level normal, waspada, atau siaga.

“Sementara jika proses erupsi sekunder, gejalanya di guguran atau deformasinya,” terang Eko.

Eko mengaku tidak tahu persis bagaimana gejala yang ditunjukkan guguran atau deformasi Gunung Semeru.

Namun dia berkata, meski tidak terlihat, sebenarnya alam sudah memberikan tanda-tanda.

“Seperti kalau gunung api sudah memiliki banyak material dan hujan intensif, maka itu sudah jadi warning dari alam sebenarnya,” imbuh dia.

“Karena sebenarnya enggak ada erupsi saat musim kemarau untuk erupsi sekunder.”

Dikatakan Eko, erupsi sekunder bisa disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi pada hari-hari sebelumnya atau di hari saat meletus.

Dengan kata lain, ketika sudah musim penghujan dan satu atau dua tahun sebelumnya sudah terjadi erupsi, seharusnya pemerintah setempat dan masyarakat sudah mempersiapkan diri akan terjadinya erupsi sekunder seperti sosialisasi dan mitigasi.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB per Sabtu (4/11/2021), kejadian bencana awan panas guguran Gunung Semeru telah berdampak di enam desa yang berada di dua kecamatan di Kabupaten Lumajang. Selain itu, sebaran abu vulkanik telah berdampak di 11 desa/kelurahan di sembilan kecamatan.

Di samping itu, kejadian awan panas guguran Gunung Semeru telah menyebabkan satu orang warga meninggal dunia, 2 orang hilang, 8-10 orang masih terjebak, 70 orang dilarikan ke puskesmas dan 300 KK mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sementara itu, kerusakan dan kerugian materil masih dalam proses pendataan lebih lanjut.

Korban Meninggal Erupsi Gunung Semeru Tambah Jadi 34 Orang

Jakarta – BNPB memperbarui data korban terdampak erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur (Jatim). Korban meninggal karena erupsi Gunung Semeru bertambah menjadi 34 orang.

“Data korban jiwa tercatat warga luka-luka 56 jiwa, hilang 17 jiwa, dan meninggal dunia 34 jiwa, sedangkan jumlah populasi terdampak sebanyak 5.205 jiwa. Terkait dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang dan luka, posko masih melakukan pemutakhiran data dan validasi,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Selasa (7/12/2021).

Per pukul 12.00 WIB, jumlah warga mengungsi mengalami peningkatan menjadi 3.697 jiwa. Warga yang mengungsi sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan di Kabupaten Malang hanya terdapat 24 jiwa.

“Sebaran titik pengungsian di Kabupaten Lumajang berada di Kecamatan Pronojiwo dengan 9 titik berjumlah 382 jiwa, Kecamatan Candipuro 6 titik 1.136 jiwa, Kecamatan Pasirian 4 titik 563 jiwa, Kecamatan Lumajang 188 jiwa, Kecamatan Tempeh 290 jiwa, Kecamatan Sumberseko 67 jiwa, Kecamatan Sukodono 45 jiwa,” ujar Muhari.

Erupsi Gunung Semeru mengakibatkan 2.970 unit rumah terkena dampak. Pemerintah daerah masih melakukan pemutakhiran jumlah rumah terdampak ataupun tingkat kerusakan.

“Bangunan terdampak lainnya berupa fasilitas pendidikan 38 unit dan jembatan terputus (Gladak Perak) 1 unit,” ucapnya.

Presiden Jokowi sudah meninjau lokasi terdampak yang berada di Kabupaten Lumajang. Jokowi tiba di Lapangan Desa Sumberwuluh, Lumajang, pukul 10.21 WIB.

Jokowi bertemu dengan para penyintas erupsi Gunung Semeru, melihat dapur umum dan meninjau pos kesehatan, serta menyerahkan santunan kepada para ahli waris korban meninggal akibat erupsi.

Sementara itu, Gunung Semeru terpantau mengalami 2 kali gempa letusan dan durasi gempa 55-25 detik. Di samping itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menginformasikan terjadi 7 kali gempa guguran dengan durasi 50-20 detik.

2.000 Rumah Warga Terdampak Erupsi Semeru Segera Direlokasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan agar 2.000 rumah terdampak erupsi Gunung Semeru segera direlokasi ke tempat lebih aman.

“Segera kita putuskan di mana relokasinya dan saat itu juga akan kita bangun kalau semua sudah siap,” ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (7/12/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Jokowi mengungkapkan, ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan untuk penanganan tanggap darurat peristiwa tersebut.

Mulai dari pencarian korban dan proses evakuasi serta ketersediaan logistik bagi masyarakat terdampak dan pengungsi, termasuk rencana perbaikan infrastruktur yang rusak.

“Kita berharap semua sudah bisa dimulai, baik itu perbaikan infrastruktur maupun kemungkinan relokasi dari tempat-tempat yang kita perkirakan memang berbahaya untuk dihuni kembali,” lanjut Jokowi.

Sebagai tindaklanjut perintah Presiden, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membantu penanganan darurat bencana alam erupsi Gunung Semeru dengan mengerahkan sumber daya dan personel di balai-balai Kementerian PUPR di Provinsi Jawa Timur.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan, tugas Kementerian PUPR adalah memastikan akses menuju ke lokasi terdampak bencana bisa dilalui untuk kendaraan logistik, termasuk kebutuhan pengungsi.

“Tugas kami adalah mendukung upaya tanggap darurat, pembersihan, termasuk sarana dan prasarana juga sudah didistribusikan,” ujar Hedy.

Untuk relokasi warga, Kementerian PUPR menunggu lokasi yang aman dari Badan Geologi (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral).

Untuk percepatan peningkatan konektivitas, telah dilakukan langkah-langkah penanganan dengan mencari jalur-jalur alternatif untuk menghubungkan Lumajang-Turen-Malang yang putus akibat robohnya Jembatan Besuk Koboan.

 

Contohnya, pembangunan jembatan gantung dalam dua bulan ke depan untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua sebagai penghubung Kabupaten Lumajang dengan Malang Selatan.

Jembatan tersebut juga didesain dapat dilalui ambulans untuk keadaan darurat.

“Kami juga menyiapkan jalur alternatif ke arah selatan sepanjang 2 kilometer yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Kementerian PUPR membantu 7 kilometer,” ungkap Hedy.

Namun, jalur alternatif tersebut tidak bisa digunakan untuk kendaraan berat, melainkan hanya logistik ringan.

Untuk perbaikan permanen Jembatan Besuk Koboan di ruas Jalan Nasional Turen-Lumajang, dibutuhkan waktu sekitar 1 tahun.

“Pembangunan jembatan permanen dengan bentang 130 meter butuh waktu. Makanya, kita buatkan dulu jembatan gantung yang bersifat sementara untuk pemulihan konektivitas,” sambungnya.

Untuk mendukung kebutuhan pengungsi, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur telah memobilisasi 10 unit Hidran Umum (HU) kapasitas 2.000 liter.

Lalu, ada 4 unit Mobil Tangki Air (MTA) berkapasitas 4.000 liter, 6 unit tenda hunian darurat, 3 mobil toilet, 11 bed, 6 tenda ukuran 4×4, 1 unit dump truck dan mobil kabin, juga dukungan 16 personel tanggap darurat.

Kemudian, alat berat juga dikerahkan untuk mempercepat evakuasi korban dan pembersihan kawasan terdampak oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali seperti 1 unit ekskavator, 2 unit loader dan 2 dump truck.

Selanjutnya, 1 unit water tanker, 3 unit pick up di Lumajang dan Malang, serta 1 unit jembatan bailey, dan 2 unit dump truck, 3000 lembar kawat bronjong sudah standby di kantor balai.

Tambahan alat berat juga didistribusikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas berupa 1 unit ekskavatpr, 1 unit loader, 2 dump truck, dan perlengkapan tambahan berupa 1 set lighting lamp, 1 unit MTA dan alkon, 2 drum solar serta oli hidrolik dan oli mesin.