BNPB Catat Terjadi 2.203 Bencana Alam, Korban Meninggal 549 Orang

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 2.203 bencana alam terjadi di Indonesia terhitung sejak 1 Januari-30 Oktober 2021. Kejadian bencana alam yang paling banyak terjadi ialah banjir, puting beliung, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan. Mayoritas bencana alam itu terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Aceh. 

BNPB mencatat peristiwa banjir sebanyak 891 kejadian, puting beliung 587, tanah longsor 406, kebakaran hutan dan lahan 258. Selanjutnya, gempa bumi tercatat 26 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 22 kali, serta kekeringan 22 peristiwa.

Ribuan bencana alam tersebut mengakibatkan 6,63 juta orang menderita dan mengungsi, 13.031 orang luka-luka, 549 orang meninggal, dan 74 orang hilang.

BNPB juga mencatat ada 134.587 rumah rusak. Angka itu terdiri dari 17.007 rumah rusak berat, 24.035 rumah rusak sedang, 93.545 rumah rusak ringan.

Selain itu, sebanyak 3.597 fasilitas publik mengalami kerusakan yang meliputi 1.446 fasilitas pendidikan, 1.798 fasilitas peribadatan, dan 353 fasilitas kesehatan. Kemudian, 502 kantor dan 359 jembatan mengalami kerusakan.

Kepala BNPB Ganip Warsito menegaskan pentingnya peringatan dini dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Secara khusus ia menyoroti dampak yang ditimbulkan akibat La Nina yang diperkirakan akan bertahan sampai Februari 2022.

Ganip menuturkan peringatan dini dari BMKG menjadi salah satu referensi untuk ditindaklanjuti di lapangan. Bahkan BNPB memasang 27 alat peringatan dini bencana tanah longsor untuk membantu pengambilan keputusan proses evakuasi masyarakat.

Alat tersebut masih terus ditambah hingga menjangkau ke seluruh pelosok Indonesia yang berpotensi terjadi bencana alam. Dalam waktu dekat penambahan alat untuk beberapa wilayah aliran sungai di Jawa Timur dan Jawa Tengah akan dilakukan penambahan sebanyak tujuh unit alat.

Italia Banjir Bandang, Dua Orang Meninggal Dunia

Jakarta, CNN Indonesia — Wilayah Sisilia, Italia, diterjang banjir bandang menyebabkan dua orang meninggal dunia. Banjir ini menutupi berbagai jalan di Catania.

Situasi banjir di daerah itu sangat kritis, menurut pejabat pemerintah yang berbasis di Catania, Giuseppa Maria Spampinato pada CNN, Selasa (26/10). Spampinato menyatakan kalau jalan utama di kota itu Via Etnea, terendam banjir.

Pada Senin (25/10), Departemen Perlindungan Sipil Italia memberikan peringatan darurat untuk bencana banjir yang terjadi di Sisilia dan Calabria. Peringatan ini juga diberikan pada Selasa (26/10) akibat potensi turunnya hujan lebat lebih lanjut.

Hujan lebat dan angin kencang tengah melanda wilayah selatan Italia sejak Minggu (24/10).

Beberapa daerah Italia dengan curah hujan tertinggi ialah Linguaglossa, Sisilia, sebanyak 520.4 millimeter dan Fabrizia, Calabria, sebanyak 440.2 millimeter.

Catania sendiri melaporkan curah hujan sebanyak 167 millimeter dalam sehari terakhir. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan curah hujan rata-rata daerah itu yang hanya 62,7 millimeter pada Oktober.

Akibat kondisi ini, Mayor Catania Salvo Pogliese menutup sekolah dan taman di daerah tersebut. Para warga juga dilarang mampir ke daerah yang rentan mengalami longsor dan wilayah pesisir.

Sementara itu, tim SAR Italia Vigili del Fuoco menyatakan bahwa pihaknya menerima 250 panggilan akibat cuaca buruk di Catania.

Mengutip Euro News, sebanyak dua orang meninggal dunia akibat banjir di Sisilia. Kabar ini dikonfirmasi oleh kepala daerah tersebut, Nello Musumeci. Tak hanya itu, ia menyampaikan ada satu orang yang hilang akibat banjir ini.

Musumeci juga menyampaikan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu alasan banjir parah ini terjadi.

“Perubahan iklim, kerentanan wilayah kami, dan kondisi instabilitas, yang kebanyakan disebabkan oleh intervensi manusia, adalah faktor yang, jika digabungkan, dapat menyebabkan efek mematikan, seperti yang kita lihat sekarang,” tambahnya.

Mengutip laman resmi Badan Lingkungan PBB (UNEP), banjir dapat disebabkan oleh pola cuaca yang kian ekstrim akibat masalah perubahan iklim.

Tak hanya itu, banjir juga rentan terjadi di dataran rendah yang dekat dengan pesisir dan sungai. Untuk daerah langganan banjir, seperti Jakarta, tak menutup kemungkinan banjir akan lebih sering terjadi.

Italia Banjir Bandang, Dua Orang Meninggal Dunia

Jakarta, CNN Indonesia — Wilayah Sisilia, Italia, diterjang banjir bandang menyebabkan dua orang meninggal dunia. Banjir ini menutupi berbagai jalan di Catania.

Situasi banjir di daerah itu sangat kritis, menurut pejabat pemerintah yang berbasis di Catania, Giuseppa Maria Spampinato pada CNN, Selasa (26/10). Spampinato menyatakan kalau jalan utama di kota itu Via Etnea, terendam banjir.

Pada Senin (25/10), Departemen Perlindungan Sipil Italia memberikan peringatan darurat untuk bencana banjir yang terjadi di Sisilia dan Calabria. Peringatan ini juga diberikan pada Selasa (26/10) akibat potensi turunnya hujan lebat lebih lanjut.

Hujan lebat dan angin kencang tengah melanda wilayah selatan Italia sejak Minggu (24/10).

Beberapa daerah Italia dengan curah hujan tertinggi ialah Linguaglossa, Sisilia, sebanyak 520.4 millimeter dan Fabrizia, Calabria, sebanyak 440.2 millimeter.

Catania sendiri melaporkan curah hujan sebanyak 167 millimeter dalam sehari terakhir. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan curah hujan rata-rata daerah itu yang hanya 62,7 millimeter pada Oktober.

Akibat kondisi ini, Mayor Catania Salvo Pogliese menutup sekolah dan taman di daerah tersebut. Para warga juga dilarang mampir ke daerah yang rentan mengalami longsor dan wilayah pesisir.

Sementara itu, tim SAR Italia Vigili del Fuoco menyatakan bahwa pihaknya menerima 250 panggilan akibat cuaca buruk di Catania.

Mengutip Euro News, sebanyak dua orang meninggal dunia akibat banjir di Sisilia. Kabar ini dikonfirmasi oleh kepala daerah tersebut, Nello Musumeci. Tak hanya itu, ia menyampaikan ada satu orang yang hilang akibat banjir ini.

Musumeci juga menyampaikan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu alasan banjir parah ini terjadi.

“Perubahan iklim, kerentanan wilayah kami, dan kondisi instabilitas, yang kebanyakan disebabkan oleh intervensi manusia, adalah faktor yang, jika digabungkan, dapat menyebabkan efek mematikan, seperti yang kita lihat sekarang,” tambahnya.

Mengutip laman resmi Badan Lingkungan PBB (UNEP), banjir dapat disebabkan oleh pola cuaca yang kian ekstrim akibat masalah perubahan iklim.

Tak hanya itu, banjir juga rentan terjadi di dataran rendah yang dekat dengan pesisir dan sungai. Untuk daerah langganan banjir, seperti Jakarta, tak menutup kemungkinan banjir akan lebih sering terjadi.

Pakar ingatkan pemetaan lokasi rawan banjir perlu diintensifkan

Purwokerto (ANTARA) – Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air Universitas Jenderal Soedirman Yanto, Ph.D mengingatkan perlunya mengintensifkan pemetaan lokasi rawan banjir guna mendukung upaya pengurangan risiko bencana.

“Pemetaan yang akurat terkait lokasi rawan banjir atau prakiraan wilayah berpotensi terkena banjir sangat diperlukan, terutama di tengah peningkatan curah hujan seperti sekarang ini,” kata Yanto di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu.

Dia juga mengatakan prediksi banjir yang mendekati waktu nyata (near real time) juga perlu dibuat pada skala wilayah yang kecil, misal wilayah desa.

“Ini memang sulit, namun pemerintah melalui BMKG dengan perangkat teknologi yang dimilikinya dapat bekerja sama dengan para peneliti untuk menyusun model prakiraan banjir yang lebih mendekati waktu nyata,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, masyarakat yang mungkin berpotensi terdampak banjir memiliki waktu yang cukup untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan dari bencana tersebut.

Dia menambahkan bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan bahwa peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat meningkatkan kemungkinan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan angin kencang.

Terkait imbauan BMKG tersebut, kata dia, maka perlu penguatan mitigasi bencana guna meminimalkan risiko yang ditimbulkan, salah satunya dengan membuat pemetaan.

“La Nina adalah fenomena anomali suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada meningkatnya curah hujan, terutama di Indonesia,” katanya.

“Hal ini karena anomali suhu tersebut mengakibatkan meningkatnya massa air menguap dari Samudera Pasifik dan bertambahnya kecepatan angin yang membawa massa air tersebut ke arah Indonesia,” lanjutnya.

Dampak yang dapat dideteksi dari La Nina, kata dia, adalah meningkatnya curah hujan. Sementara itu curah hujan yang turun di Indonesia berfluktuasi dari waktu ke waktu.

“Sayangnya, hujan ekstrem tersebut tidak tersebar secara merata sehingga sulit untuk memperkirakan daerah mana yang akan mengalami banjir dan mana yang tidak,” katanya.

Wilayah yang di waktu-waktu sebelumnya tidak banjir, tambah dia, sangat mungkin terkena banjir pada tahun ini atau tahun-tahun mendatang karena variasi sebaran hujan ekstrem tersebut.

“Oleh karena itu, penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir, harus bersiap dengan kemungkinan bencana banjir, meski tahun-tahun sebelumnya tidak mengalami kejadian banjir,” katanya.

Banjir Sekadau Kalbar: 2.541 Rumah Terendam, Satu Meninggal

Jakarta, CNN Indonesia — Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat dilanda banjir akibat intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya Sungai Kapuas, Rabu (27/10).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau mencatat sebanyak 2.541 unit rumah terendam. Selain itu, satu orang juga dikabarkan meninggal dunia.

“Banjir yang terjadi di Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat mengakibatkan satu warga meninggal dunia,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Kamis (28/10).

Abdul juga mengatakan banjir berdampak pada sedikitnya 2.541 KK atau 8.430 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 571 KK atau 1.879 jiwa harus mengungsi.

Kepala BPBD Sekadau, Matius Jon menjelaskan debit air mengalami kenaikan signifikan sejak Sabtu (23/10) lalu.

Beberapa desa yang tergenang di Kabupaten Sekadau yakni Desa Mungguk, Desa Sungai Ringin, Desa Tanjung, Desa Merapi, Desa Seberang Kapuas dan Desa Penit yang berada di Kecamatan Sekadau Hilir. Kemudian Desa Belintang I dan Desa Belintang II di Kecamatan Belitang.

“Debit air mulai naik secara signifikan sejak tanggal 23 Oktober 2021,” ujar Matius dalam keterangan tertulisnya, Rabu (27/10).

“Hingga kini, ketinggian air rata-rata masih berkisar antara 2 – 2,5 meter dari permukaan tanah,” tambahnya.

Tim BPBD Kabupaten Sekadau saat ini tengah berkoordinasi dengan unit terkait untuk segera terjun ke lapangan. Langkah itu diambil untuk mendata dan melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak.”Melakukan evakuasi menggunakan perahu terhadap warga terdampak. Untuk hasil kaji cepat di lapangan akan terus dilaporkan guna mendapatkan informasi terkini,” ucapnya.

Selain itu, penanganan darurat juga segera dilakukan dengan mendirikan posko bencana serta memberikan bantuan logistik ke beberapa desa yang terdampak.

(yla/ain)

Banjir Rendam Ratusan Rumah dan Trans Sulawesi di Mamuju

TEMPO.COMamuju – Banjir akibat meluapnya Sungai Kalukku melanda sejumlah desa wilayah bagian utara Kecamatan Kalukku, di antaranya Desa Pokkang, dan juga merendam jalur jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin, 25 Oktober 2021.

Menurut warga setempat banjir tersebut sudah menjadi langganan ketika musim hujan, sehingga butuh perhatian pemerintah setempat. “Butuh dilakukan normalisasi sungai dengan tanggul atau drainase, agar ketika air sungai meluap tidak merendam permukiman warga,” kata Karmal, salah seorang warga.

Ia mengatakan banjir yang terjadi setiap musim hujan tersebut merugikan masyarakat, karena lahan pertanian warga terendam dan juga mengakibatkan ternak hanyut.

Dia berharap agar pemerintah dapat melakukan penanggulangan banjir, agar banjir tidak lagi menghantui masyarakat ketika hujan turun.

Hal senada dikatakan warga lainnya, Amri, bahwa masyarakat terus membersihkan rumahnya akibat genangan air dan lumpur setinggi lutut manusia.

“Banjir yang terjadi saat ini tidak hanya merusak rumah permukiman penduduk, namun merendam barang berharga milik masyarakat yang terdapat pada ratusan permukiman,” katanya pula.

Ia berharap banjir akibat meluapnya Sungai Kalukku tersebut dapat diantisipasi agar masyarakat tidak mengalami kerugian.

ANTARA

BNPB: Indonesia Jadi Laboratorium Bencana

Merdeka.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ganip Warsito mengatakan, Indonesia dengan beragam potensi kebencanaannya lebih layak disebut sebagai laboratorium bencana dan bukan supermarket bencana.

“Kita (Indonesia) sering disebut sebagai supermarket bencana. Sebutan ini mungkin kurang tepat. Indonesia lebih layak disebut laboratorium bencana, sehingga wajib untuk dipelajari untuk disiapkan langkah-langkah antisipasi dan pencegahannya,” katanya di Ambon, Rabu (20/10).

Menurutnya, semua potensi bencana ada di Indonesia mulai dari hidrometeorologi, vulkanologi, geologi, bencana sosial hingga non alam seperti pandemi Covid-19. Berbagai potensi bencana di Tanah Air itu harus dipelajari untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik.

Penegasan tersebut juga telah disampaikannya saat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Kota Ambon, Maluku, Selasa (19/10), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tahun 2021.

Ganip menegaskan, pengurangan risiko bencana menjadi sebuah investasi penting guna meminimalisasi dampak dari potensi ancaman bencana yang ada di Tanah Air. Adapun bentuk dari investasi PRB yang dimaksud adalah investasi struktural, kultural, sumber daya manusia (SDM), ilmu pengetahuan dan teknologi serta keuangan.

Investasi struktural yang dimaksud Ganip adalah melalui pembangunan infrastruktur berdasarkan kajian risiko bencana.

“Baik berupa bangunan tahan bencana maupun penanaman dan pemeliharaan vegetasi yang dapat menjadi buffer bagi jenis bencana tertentu seperti tsunami, maupun bencana hidrometeorologi,” jelasnya.

Investasi selanjutnya adalah kultural yang lebih mengarah kepada bagaimana mengubah paradigma masyarakat dalam penanggulangan bencana dari responsif menjadi preventif, katanya.

“Investasi kultural atau non-struktural ini dapat diupayakan melalui literasi kebencanaan, edukasi maupun sosialisasi, serta pengembanganya dapat dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal setempat,” terangnya seperti dilansir dari Antara.

Investasi pengurangan risiko bencana berikutnya adalah menyangkut bagaimana kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditingkatkan.

“Investasi sumber daya manusia ini pada dasarnya untuk membentuk karakter masyarakat yang tangguh bencana,” jelas Ganip.

Dalam pengurangan risiko bencana, investasi iptek juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Bentuk investasi ini adalah dengan menciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk monitoring, analisa dan asesmen dalam pengurangan risiko bencana.

Dengan kata lain, iptek juga dapat diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar maupun peneliti.

Sedangkan investasi terakhir yakni mengenai anggaran keuangan. Hal ini menyangkut investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana, sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asuransi bencana.

Melalui kuliah umum itu, Ganip juga mengajak kalangan kampus IAIN Ambon agar dapat lebih memaksimalkan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana, sebagaimana yang diintegrasikan ke dalam tri dharma perguruan tinggi.

“Sangat banyak kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dan perguruan tinggi dalam hal penanggulangan bencana, terutama dalam aspek pencegahan dan kesiapsiagaan, diantaranya adalah melatih kesiapan teknis perguruan tinggi, dalam menghadapi bencana,” katanya.

Melalui kesiapan teknis, maka pelatihan seperti kesiapsiagaan ketika terjadi gempa bumi, maupun latihan evakuasi korban pasca gempa terjadi dapat dilakukan dengan harapan seluruh warga kampus lebih tangguh dalam menghadapi bencana. [fik]

Tim Mahasiswa UNS Ciptakan Pembangkit Listrik di Daerah Rawan Bencana

RADARSOLO.ID – Berbagai bencana alam berpotensi terjadi di Tanah Air. Mayoritas adalah hydro meteorologi. Mulai dari tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya. Sekelompok mahasiswa ini membuat alat pembangkit listrik bagi daerah-daerah rawan bencana. Dengan memanfaatkan aliran air sungai. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan terjadi 2.925 bencana alam sepanjang 2020. Semua bencana tidak jauh dari hydro meteorologi. Beberapa upaya mitigasi dilakukan. Salah satunya dengan pemadaman listrik di wilayah terdampak bencana. Biasanya PLN akan memadamkan listrik dalam beberapa kondisi.

Ambil contoh, adanya gardu listrik yang terkena guncangan tanah longsor atau banjir. Sehingga penduduk di daerah itu tidak bisa memanfaatkan fasilitas listrik lantaran pemadaman yang biasanya dilakukan secara mendadak. Maka wilayah terdampak bencana akan membutuhkan penyimpanan energi listrik yang cukup mewadahi. Apabila terjadi pemutusan arus listrik. Sekaligus memperoleh listrik yang didapatkan secara alternatif.

“Merespons fenomena itu, kami merancang alat pembangkit listrik yang bisa portable digunakan diaplikasikan pada daerah-daerah rawan bencana alam hydro meteorologi. Yakni pembangkit listrik drag type turbin. Dengan tenaga micro hydro berbasis teknologi ultra low head (ULH) stream,” ungkap Lana Alfirza, mahasiswa teknik mesin Universitas Sebelas Maret (UNS) kepada Jawa Pos Radar Solo.

Alat pembangkit listrik ini memanfaatkan penggunaan turbin tipe drag. Tujuannya, mewujudkan daerah rawan bencana yang tangguh energi. Pengaplikasiannya berada di daerah-daerah rawan bencana di Indonesia. Di Kota Solo dan sekitarnya, alat ini diaplikasikan di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Sudah ada salah satu percontohan desa di Indonesia. Tepatnya di Jambi. Di sana memang benar-benar bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di desa itu untuk dijadikan energi listrik. Seperti air dan sel surya dari panas matahari.

“Nah, kami ingin mewujudkan di Solo dan sekitarnya. Kenapa kita tidak menggunakan energi air yang melimpah. Di daerah pegunungan seperti di Lawu, Jenawi, Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Boyolali. Di sana mata air sangat melimpah. Kenapa tidak diaplikasikan turbin ini di sana?” bebernya.

Lana bersama dua rekannya, Muhamad Satya Ragil Kencono dan Muhammad Hadziq Munajih lantas membuat alat itu sebagai solusi untuk memanfaatkan energi air menjadi energi listrik. Harapannya, alat ini bisa dimanfaatkan oleh warga desa bila ada pemutusan aliran listrik.

Lana menyontohkan studi kasus di Jenawi. Di sana sering terjadi bencana tanah bergerak. Sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pemadaman listrik. Sedangkan di Jenawi ada potensi sumber daya air yang melimpah. Ini bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Maka alat ini cocok diaplikasikan di sana.

“Harapannya, apabila ada tanah bergerak di Jenawi, bisa mengaplikasikan alat ini. Untuk pembangkit listrik di sana. Setidaknya bisa menjadi penerangan bila warga ada evakuasi atau penyelamatan dini. Jadi tidak gelap-gelap amat saat malam hari terjadi bencana,” sambungnya.

Alat ini sudah diaplikasikan di Desa Bonglot, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Dengan potensi lebar sungai 0,5 meter. Kecepatan total arus mencapai 2,83 meter per second. Debit air total sebesar 99,2 liter per detik.

Mengapa menggunakan drag type turbin pada pembangkit listrik ini? Lana mengatakan, tipe ini adalah salah satu turbin yang efektif untuk bisa dikomparasikan pada alat serupa yang ada di Jepang. Lana mengaku aplikasi alat pembangkit listrik buatannya memodifikasi apa yang ada di Jepang.

“Nah kelebihannya, ada pada pengaplikasian teknologi ULH stream. Aliran sungai yang ada di Indonesia itu banyak sekali. Ini salah satu potensi yang melimpah. Kami merekayasa bagaimana memanfaatkan aliran yang ada di Indonesia dengan alat ini,” sambungnya.

Perbedaan alat ini dengan alat di Jepang, Lana mengklaim, dimensi yang dibuat lebih kecil dan lebih ramping. Selain itu, alat ini portable sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Termasuk didesain agar bisa dibongkar pasang sesuai keinginan dan kebutuhan pengaplikasian.

Teknologi ULH stream ini suitable dengan kontur atau sebaran aliran di Indonesia. Turbin tipe drag yang efisien berpotensi menghasilkan daya output yang lebih maksimal bila dibandingkan dengan alat di Jepang.

“Kami menggunakan drag type turbin ini bukan tanpa alasan. Karena efisiensi yang sangat maksimal dan daya output yang maksimal juga,” imbuhnya.

Soal paten hak kekayaan intelektual alat ini, Lana menyebutkan timnya sudah mendaftarkan paten terkait desain industri. Dengan demikian ada potensi alat ini bisa dikomersilkan. Dibanderol Rp 5 juta.

“Harapannya, alat ini bisa diaplikasikan di berbagai daerah. Terutama daerah rawan bencana. Agar menjadi daerah yang tangguh,” ujarnya. (*/bun)

Mengenal Pagang, Destinasi Wisata Sekaligus Pulau Mitigasi Bencana

PASIR putih terhampar di sepanjang pantai. Air laut yang tenang dan jernih dan pepohonan rindang yang bisa menaungi saat tidur bermalas-malasan sungguh menggoda. Terlebih matahari menjelang siang masih terasa ramah, tidak terlalu panas.

Benar saja, setelah memesan cottage dan meletakkan barang, beberapa wisatawan yang baru datang berlarian menuju pantai, terjun menikmati perairan Pulau Pagang.

Mungkin nanti mereka juga akan menikmati banana boat, donut boat atau jet ski yang juga disediakan pengelola. Atau mungkin menikmati snorkeling, berfoto di area terumbu karang.

Agak ke ujung pulau, beberapa orang sudah terlihat mencebur ke laut yang berwarna biru cerah, memantulkan warna pasir putih di dasarnya yang tidak terlalu dalam. Mereka adalah wisatawan yang ingin lebih dekat dengan alam, memanfaatkan area camping ground yang juga disediakan pengelola pulau.

Pengelola Pulau Pagang, Heru Farta mengungkapkan, terdapat beberapa pilihan yang bisa dipilih wisatawan yang memutuskan untuk menginap di pulau di antaranya, cottage bersama seharga Rp1,3 juta per malam, VIP cottage Rp1,2 juta per malam, cottage backpacker Rp1 juta per malam, backpacker non AC Rp800 ribu per malam dan camping ground Rp50 ribu per orang.

Pulau Pagang, Sumbar

Fasilitas itu dilengkapi pula dengan toilet umum yang cukup representatif dan bersih. Selesai mandi di laut, wisatawan bisa membilas diri di tempat itu. Sabun dan shampo sudah disediakan. Juga ada musala untuk wisatawan menunaikan ibadah.

Lebih ke ujung pulau, beberapa wisatawan tampak turun dari bukit kecil. Mungkin agak terlalu berlebihan disebut bukit, karena tempat itu hanya berupa gundukan setinggi tujuh atau delapan meter. Mendakinya tidak lebih dari 10 menit. Namun dari puncak bukit kecil itu pemandangan menjadi agak lepas.

Laut biru dan beberapa gugus pulau terlihat jelas. Itulah salah satu spot foto paling keren di Pulau Pagang, selain gugusan karang, gazebo dan beberapa bangku taman yang di susun fotogenik.

Pulau Pagang, Sumbar

Bila ingin mencoba medan yang lebih menantang, bisa menyusuri jalur tracking di bukit setinggi 37 meter di belakang pulau. Jalur itu sebenarnya disediakan untuk evakuasi jika terjadi ancaman tsunami, namun bisa dinikmati untuk tracking bagi wisatawan.

Menjelang siang, wisatawan menyudahi acara mandi di laut dan bersiap untuk bersantap siang. Wisatawan yang membeli paket wisata mendapatkan layanan makan siang dan malam dari perusahaan perjalan wisata.

Empat Titik di Sukabumi Dilanda Bencana Pascahujan Deras

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Peristiwa hujan disertai angin kencang di Kota Sukabumi menyebabkan bencana di empat titik berbeda. Kejadian tersebut menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan.

”Hingga Senin (18/10), kami terus berupaya menangani dampak dari intensitas hujan yang terjadi,” ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, Senin sore. Sejak Ahad (17/10) dilaporkan ada sebanyak empat kasus bencana.

Bencana itu kata Zulkarnain, berakibat pada sejumlah rumah warga rusak. Bencana pertama yakni angin puting beliung menimpa kampung di RW 01 Cigunung, RW 12 Babakan, RW 03 Babakan dan RW 04 Kubang, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong.

Dilaporkan kejadian terjadi sekitar pukul 15.30 WIB. Bencana itu menyebabkan satu atap rumah warga terangkat angin, satu pohon karet tercabut akarnya sehingga tumbang menimpa rumah warga atas nama Isam (70 tahun) dan Ny Titin serta satu tembok rumah bekas pabrik kue jebol.

Bencana kedus lanjut Zulkarnain, banjir permukaan jalan di RT 04 RW 04 Jalan Merdeka Kelurahan Cipanengah, Kecamatan Lembursitu pada pukul 16.30 WIB. Hal ini dipicu oleh drainase pinggr jalan tersumbat menggenang radius 30 meter dari akibat sampah serta kurangnya bak kontrol air sepanjang trotoar.

Selanjutnya ungkap Zulkarnain, cuaca ekstrem mengakibatkan sebagian atap rumah warga atas nama Uen (61) warga Cibodas RT. 03 RW 01 Kelurahan Cikundul, Lembursitu ambruk. Kondisi itu dipicu oleh keadaan atap rumah lapuk.

Terakhir, cuaca ekstrem di Kuta Pasir RT 03 RW 11, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh mengakibatkan retakan dinding dan atap dapur rumah warga atas nama Neneng Sri Giantini. Bencana ini dipicu karena lapuk dan luas terdampak 24 meter persegi.

”BPBD meminta warga supaya tetap waspada terhadap kondisi ini, dengan tetap cermat memantau kondisi lingkungan setiap saat,” ungkap Zulkarnain. Sebab keselamatan saat darurat kejadian lebih banyak orang terselamatkan karena faktor diri sendiri.

Di sisi lain terang Zulkarnain, BPBD terhadap beberapa laporan ini dari sejak Ahad kemarin hingga Senin malam melakukan tindakan penanganan. Misalnya memasang bambu dan pemotongan pohon yang tumbang.

Selain itu lanjut Zulkarnain, pada kesempatan tersebut juga diberikan bantuan stimulan bagi korban yang terkena langsung bencana sebagai bentuk respons atas peristiwa. Salah satunya kepada ibu Titin yang rumahnya tertimpa pohon tumbang di Kampung Kubang RT 01 RW 03, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong.