BMKG Ingatkan Sembilan Daerah di NTT Terancam Bencana Kekeringan

bali.jpnn.com, KUPANG – Sembilan daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus meningkatkan kewaspadaannya terkait ancaman bencana kekeringan meteorologis.

Sembilan daerah berstatus awas kekeringan yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Lembata, dan Nagekeo.

Menurut Pelaksana Harian Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang BMKG Carolina Rommer di Kupang, Senin (4/10),

daerah-daerah berstatus awas kekeringan ini memiliki hari tanpa hujan dengan kategori ekstrem panjang yakni lebih dari 61 hari dengan persentase di atas 70 persen.

“Perlu kewaspadaan dari pemerintah daerah dan masyarakat terkait ancaman bencana kekeringan ini,” kata Carolina Rommer.

Menurutnya, ada sejumlah langkah antisipasi yang perlu dilakukan masyarakat di sembilan daerah itu.

Seperti menghemat penggunaan air bersih, mewaspadai kebakaran hutan dan lain.
“Selain itu kegiatan budidaya pertanian agar diupayakan yang tidak membutuhkan banyak air,” ujar Carolina Rommer.

Carolina menambahkan saat ini, zona musim di NTT masih berada dalam periode musim kemarau berdasar pemantauan awal musim kemarau per 30 September 2021.

Berdasar prakiraan, pada umumnya wilayah NTT diperkirakan akan mengalami curah hujan sangat rendah (kurang dari 20 mm/dasarian) dengan peluang 71-100 persen. (antara/lia/JPNN)

Duh! Covid Belum Reda, Bencana Lebih Hebat Akan Melanda Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Selain pandemi Covid-19, dunia kini juga menghadapi ancaman nyata yang sama bahayanya yakni perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim terjadi akibat meningkatnya emisi karbon sehingga meningkatkan tingkat suhu bumi. Tentunya, ini akan berdampak buruk bagi Bumi dan manusia.

Penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebutkan jika tidak ada perubahan, maka 95% permukaan laut Bumi menjadi tak layak huni pada 2100. Penelitian tentang perubahan iklim ini telah dilakukan sejak abad ke-18. Mereka pun memprediksi bagaimana emisi karbon mempengaruhi dunia pada 2021.

Sebagian besar kehidupan laut didukung oleh permukaan laut yang dicirikan oleh suhu air permukaan, keasaman, dan konsentrasi mineral arogonit yang dibutuhkan mahkluk laut guna membuat tulang atau cangkang.

Namun dengan meningkatnya tingkat CO2 (karbon dioksida) di atmosfer, setidaknya dalam tiga juta tahun, ada kekhawatiran suhu permukaan laut mungkin menjadi kurang bersahabat dengan spesies yang hidup di sana, seperti dikutip dari Nature World News, Sabtu (2/10/2021).

Laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral yang dibutuhkan bagi kehidupan laut untuk berkembang menjadikan laut tidak layanan huni bagi mahkluk laut.

Menurut penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, perubahan komposisi lautan sebagai akibat dari polusi karbon kemungkinan akan mempengaruhi semua spesies permukaan.

“Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat,” ujarnya.

Salah satu dampak perubahan iklim adalah matinya karang. Saat El Nino tahun 2016, air hangat mengancam terumbu karang di Great Barrier Reef (GBR).

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Tidak hanya itu, deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan.

Ini mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian, dan Badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian US$ 163,61 miliar.

Laporan tersebut menunjukkan tren yang semakin cepat, dengan jumlah bencana meningkat hampir lima kali lipat dari tahun 1970-an hingga dekade terakhir. Ini menambah tanda-tanda bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering karena pemanasan global.

WMO mengaitkan frekuensi yang meningkat dengan perubahan iklim dan pelaporan bencana yang lebih baik. Biaya dari peristiwa tersebut juga melonjak dari US$ 175,4 miliar pada 1970-an menjadi US$ 1,38 triliun pada 2010-an ketika badai seperti Harvey, Maria dan Irma melanda AS.

“Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas, dikutip dari Reuters.

Sementara bahaya bencana menjadi lebih mahal dan sering terjadi, jumlah kematian tahunan turun dari lebih dari 50.000 pada tahun 1970-an menjadi sekitar 18.000 pada tahun 2010. Ini menunjukkan bahwa perencanaan yang lebih baik telah membuahkan hasil.

“Sistem peringatan dini multi-bahaya yang ditingkatkan telah menyebabkan penurunan angka kematian yang signifikan,” tambah Taalas.

Namun lebih dari 91% dari 2 juta kematian terjadi di negara berkembang. Ini mencatat bahwa hanya setengah dari 193 anggota WMO yang memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya. Petteri Taalas juga mengatakan bahwa “kesenjangan yang parah” dalam pengamatan cuaca, terutama di Afrika, merusak keakuratan sistem peringatan dini.

WMO berharap laporan tersebut akan digunakan untuk membantu pemerintah mengembangkan kebijakan untuk melindungi masyarakat dengan lebih baik.

Jika Suhu Bumi Memanas 1,5 Derajat Celsius, Ini 6 Bencana Besar yang Akan Melanda

KOMPAS.com – Angka 1,5 derajat celsius memang kelihatan tidak banyak, tetapi memanasnya suhu Bumi sekecil itu saja bisa berdampak pada bencana alam di mana-mana.

Para pakar iklim mengatakan, dunia kini berpotensi menghangat 1,5 derajat celsius, berbanding kenaikan 2 derajat celsius (2C) pada abad ke-19.

Bumi dengan kenaikan suhu 2C akan diikuti gelombang panas ekstrem lebih dari dua kali lipat. Kekurangan air akan melanda seperempat miliar lebih banyak orang lagi.

Es di Samudra Arktik akan meleleh semuanya, tidak hanya sekali dalam satu abad, tetapi sekali setiap 10 tahun.

Negara-negara yang menandatangani Perjanjian Paris berjanji untuk membatasi kenaikan suhu global, tetapi masih jauh dari sasaran karena sekarang saja sudah memanas 1,1 derajat celsius.

Bahkan kalaupun terpenuhi, target untuk mengurangi emisi masih akan membuat Bumi memanas hingga 2,7 derajat celsius, menurut keterangan PBB yang dikutip AFP.

Lalu, apa saja dampak pemanasan global jika suhu Bumi memanas 1,5 derajat celsius atau lebih? Berikut prediksinya dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB.

1. Gelombang panas

Suhu maksimal di beberapa daerah akan meningkat 3 derajat celsius jika iklim menghangat 1,5C, 4 derajat jika pemanasan global mencapai tanda 2C.

Gelombang panas yang terjadi sekali dalam 10 tahun sekarang ini akan menjadi empat kali lebih sering pada tingkat 1,5C, dan hampir enam kali lebih sering pada 2C.

Peluang periode panas ekstrem yang sekarang terjadi setiap 50 tahun sekali meningkat hampir sembilan kali lipat pada 1,5C, dan 40 kali lipat di tingkat 4C.

2. Berbagai badai

Dampak pemanasan global berikutnya adalah lebih banyak hujan di wilayah lintang yang lebih tinggi, utara, dan selatan khatulistiwa, serta di daerah tropis dan beberapa zona muson.
Curah hujan di zona sub-tropis kemungkinan akan menjadi lebih jarang, meningkatkan momok kekeringan.

Peristiwa curah hujan ekstrem dibandingkan sekarang akan 1,3 kali lebih mungkin, dan tujuh persen lebih intens daripada sebelum pemanasan global dimulai.

Pada pemanasan global 1,5C, hujan ekstrem, hujan salju, atau peristiwa presipitasi lainnya akan menjadi 10 persen lebih berat dan 1,5 kali lebih mungkin.

3. Kekeringan

Di daerah rawan kekeringan, musim kering dua kali lebih mungkin terjadi di dunia dengan suhu 1,5C, dan empat kali lebih mungkin jika suhu naik 4C.
Membatasi kenaikan suhu global rata-rata menjadi 1,5C daripada 2C akan mencegah tambahan 200-250 juta orang menghadapi kekurangan air yang parah.

Membatasi kekeringan juga akan mengurangi risiko bencana terkait seperti kebakaran hutan.

4. Kekurangan pangan

Di dunia yang 2 derajat lebih panas daripada tingkat pra-industri, 7-10 persen lahan pertanian tidak akan lagi bisa ditanami.

Hasil panen juga diprediksi menurun, dengan panen jagung di zona tropis diperkirakan turun tiga persen di dunia yang lebih hangat 1,5C dan tujuh persen jika kenaikan 2C.

5. Naiknya permukaan laut

Dampak pemanasan global jika mencapai 2C, permukaan air laut akan naik sekitar setengah meter selama abad ke-21.
Permukaan air laut akan terus meningkat hingga hampir dua meter pada 2300 — dua kali lipat jumlah yang diprediksi oleh IPCC pada 2019.

Akibat ketidakpastian lapisan es, para ilmuwan masih memprediksi kenaikan total dua meter pada tahun 2100 dalam skenario emisi kasus terburuk.

Sementara itu, pemanasan global hingga 1,5C akan mengurangi kenaikan permukaan laut sebesar 10 sentimeter.

6. Separuh spesies di Bumi dalam bahaya
Semua dampak pemanasan global ini memengaruhi kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan di seluruh Planet Bumi.

Pemanasan global pada tingkat 1,5C berdampak negatif pada tujuh persen ekosistem. Pada 2C, angka itu hampir dua kali lipat.

Peningkatan 4C akan membahayakan setengah dari spesies di planet ini, dampak pemanasan global yang mengerikan jika suhu Bumi memanas tanpa henti.

Daerah Mulai Antisipasi Bencana

Jakarta: Sejumlah daerah terus mengantisipasi cuaca ekstrem berdampak terjadinya bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Provinsi Bangka Belitung telah mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor dengan melakukan normalisasi sejumlah sungai dan menyiapkan pompa air.
 
“Yang bisa kita lakukan saat ini adalah normalisasi sejumlah sungai untuk mengeruk sedimentasi di sungai agar saat musim hujan ditambah dengan pasang air laut, aliran air tidak meluap,” kata Kepala Dinas PUPR Kota Pangkalpinang, Suparlan, kemarin.
 
Menurutnya, pengendalian banjir belum maksimal karena keterbatasan anggaran. Hal serupa juga dilakukan Pemkot Palembang, Sumatra Selatan.

Kabupaten Kudus Tambah Dua Desa Tangguh Bencana

REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, segera menambah dua desa tangguh bencana. Sebelumnya, hanya ada tiga desa yang dinobatkan sebagai desa tangguh bencana. Desa tangguh bencana ini sebagai antisipasi dini penanggulangan bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana.

“Tiga desa yang sebelumnya ditetapkan sebagai desa tangguh bencana, yakni Rahtawu, Menawan dan Desa Japan. Sedangkan desa baru yang dipersiapkan menjadi desa tangguh bencana, yakni Kesambi (Kecamatan Mejobo) dan Wonosoco (Kecamatan Undaan),” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Budi Waluyo di Kudus, Senin (4/10).

Ia mengungkapkan dari dua desa yang dipersiapkan menjadi desa tangguh bencana (Destana), hingga kini sudah mulai dipersiapkan. Termasuk melakukan survei lapangan serta mempersiapkan sumber daya manusia (SDM)-nya. Targetnya, bulan Oktober 2021 sudah ditetapkan sebagaidesa tangguh bencana karena penganggarannya untuk Desa Kesambi dari APBD Kudus dan Desa Wonosoco dari APBD Provinsi Jateng.

“Kami juga menargetkan setiap tahun ada tambahan satu desa tangguh bencana, sehingga nantinya semua desa di Kudus memiliki kemampuan mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir SDM untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana alam,” ujarnya.

Dengan menjadi desa tangguh bencana, setidaknya penanggulangan bencana di desa-desa rawan dapat dilakukan dengan cepat serta warganya juga mudah beradaptasi dalam menghadapi bencana. “Kalaupun terjadi bencana yang merusak, tentunya mereka bisa pulih lebih cepat untuk bangkit,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Kudus sendiri menargetkan semua desa setempat menjadi desa tangguh bencana. Sehingga, nantinya desa yang minim permasalahan bencana alam bisa membantu mengirimkan personel yang sudah dilatih soal kebencanaan untuk membantu penanganan bencana di desa lain yang dilanda bencana. Hal itu, imbuh dia, mempertimbangkan keterbatasan anggaran daerah, sehingga perlu melibatkan semua pemangku kepentingan, terutama pemerintah desa untuk bantu membantu dalam penanganan bencana alam.

sumber : Antara

Damkar Makassar Kirim Tim Rescue Bantu Korban Bencana di Luwu

MAKASSAR – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Makassar, mengirim Tim Recue ke Kabupaten Luwu. Mereka akan membantu proses evakuasi korban banjir dan tanah longsor.

Bencana alam tersebut terjadi pada Minggu (3/10/2021). Banjir dan tanah longsor membuat permukiman warga terubrak-abrik. Ketinggian air mencapai kurang lebih satu meter.

Duka dalam peristiwa ini pun ikut dirasakan Pemkot Makassar. Makanya, Tim Rescue dikirim ke lokasi bencana untuk ikut melakukan evakuasi korban. Ada satu regu.

Plt Kepala Dinas Damkar Kota Makassar, Hasanuddin menyampaikan, satu regu yang dikirim tersebut terdiri dari 10 personel. Mereka merupakan regu khusus untuk melakukan evakuasi korban bencana.

Hasanuddin menyebut, pengiriman satu regu Tim Rescue ini menjadi panggilan kemanusiaan. Sebab dalam kondisi bencana, biasanya butuh tenaga ekstra. Terutama dalam proses evakuasi korban bencana.

“Panggilan kemanusiaan hari ini melihat duka yang sedang menimpa saudara kita di Luwu. Satu regu tanpa batas waktu kami lepas hari ini,” ujarnya usai pelepasan di kediaman pribadi Wali Kota Makassar, Senin (4/10/2021).

Personel yang dikirim tersebut merupakan tahap pertama. Jika dianggap masih butuh tenaga ekstra, maka Dinas Damkar Kota Makassar akan kembali menambah personel.

“Kami siap selama itu demi kemanusiaan. Jika masih dibutuhkan akan kami kirim regu lainnya untuk ikut bergabung di sana,” imbuh Hasanuddin.

(agn)

Petani dan nelayan tak bisa menghadapi pemanasan global sendirian, harus berkelompok

Petani skala kecil dan nelayan merupakan kelompok yang rentan terhadap perubahan iklim. Pasalnya, petani kecil kerap bercocok tanam di kawasan yang rentan, misalnya karena curah hujan yang rendah atau kualitas tanah yang menurun.

Nelayan pun bernasib hampir sama seiring dengan menurunnya keragaman biota laut akibat pemanasan global.

Kendati demikian, dua kelompok ini sebenarnya memiliki sistem kerja dan berbagai metode yang meningkatkan peluang adaptasi di tengah iklim yang berubah. Peluang tersebut dapat semakin tinggi jika mereka giat bekerja sama dan mengorganisasi diri untuk menyusun strategi menghadapi pemanasan global.

Dampak bervariasi bagi nelayan dan petani

Di Amerika bagian tengah dan Madagaskar, pemanasan global mengakibatkan terjadinya cuaca ekstrem yang menurunkan produktivitas pertanian. Kondisi akhirnya mengganggu ketahanan pangan bagi petani kecil.

Dapatkan rangkuman berita lingkungan hidup sepekan terakhir.

Sementara, sejumlah studi) juga menaksir perubahan cuaca dan temperatur akan terjadi di Indonesia setiap beberapa tahun pada 2010, 2030, dan 2050. Cuaca yang berubah-ubah akan mempengaruhi produksi beras secara drastis di pulau Jawa dan Bali.

Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara, lembaga nirlaba di sektor pertanian, Wahana Tani Mandiri/WTM, melaporkan kekeringan yang berkepanjangan, penurunan kesuburan tanah, dan serangan penyakit tanaman yang memperburuk kualitas panen.

Akibat kejadian-kejadian tersebut, petani kerap menunda aktivitas penananaman sehingga pendapatan mereka jauh berkurang.

Sementara, dalam wawancara yang dilakukan lembaga riset Yayasan Inobu, nelayan di Fakfak menyatakan harus menempuh pelayaran lebih jauh guna mempertahankan jumlah hasil tangkapan mereka.

Strategi khusus kian dibutuhkan

Di tengah kondisi yang semakin menantang, nelayan maupun petani sudah memiliki beragam strategi. Berikut ini adalah ragamnya.

1. Reorganisasi pekerja

Reorganisasi pekerja terjadi ketika petani melibatkan anggota keluarganya untuk bercocok tanam. Metode ini sudah jamak diterapkan petani kecil di banyak negara dalam pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak orang. Misalnya pekerjaan perawatan tanah dan air maupun diversifikasi tanaman.

Petani di Etiopia merawat tanah dan air dilakukan melalui rotasi penanaman jagung dengan kacang-kacangan. Petani setempat pun terbiasa membiarkan sisa-sisa panen di ladang mereka untuk menjaga kemampuan tanah menyerap air/.

Nah, penerapan pekerjaan semacam ini biasanya ditentukan oleh faktor jumlah laki-laki dalam suatu keluarga. Sebab, aktivitas rotasi tanaman maupun perawatan tanah dan air lebih membutuhkan banyak pekerja.

2. Alternatif sumber pendapatan

Petani yang memiliki sumber pendapatan alternatif di luar pemasukan hasil panen mereka akan beradaptasi lebih baik terhadap perubahan iklim.

Di Ghana, beragam sumber pendapatan yang dimiliki petani mampu mengurangi risiko keuangan dari gangguan panen akibat kekeringan, banjir, hujan ekstrem, maupun badai. Pendapatan dari sumber non-pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak jenis tanaman yang dikembangkan, ataupun pembelian pupuk agar produktivitas ladangnya meningkat.

Selain diversifikasi sumber pendapatan, upaya mengkombinasikan berbagai jenis tanaman juga menjadi strategi adaptasi yang efektif.

Di Nusa Tenggara Timur, para petani coklat–dalam wawancara kepada Wahana Tani Indonesia–menyatakan turut menanam vanili, pala, dan salak untuk menambah variasi hasil pertanian mereka.

Tak seperti coklat, vanili dan salak dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap cuaca panas dan kering. Sisa hasil panen [salak] pun (http://edepot.wur.nl/192242) dapat bermanfaat untuk pupuk organik.

Sedangkan tanaman pala yang dapat tumbuh tinggi mampu melindungi pohon coklat dari sinar matahari yang menyengat. Pada akhirnya, kombinasi keempat tanaman ini dapat mengisi pundi-pundi keuangan petani.

3. Kearifan lokal

Para nelayan telah menggunakan kearifan lokal untuk melestarikan ikan-ikan laut. Di Papua, para nelayan diajarkan secara turun-temurun untuk memberi jeda dalam menjala ikan agar laut dapat “beristirahat.” Praktik pemulihan sumber daya perikanan (stock recovery) ini dikenal sebagai Sasi Laut.

Tak hanya bagi aktivitas perikanan, Sasi Laut juga diterapkan ke pengelolaan pariwisata.

Guna menghadapi perubahan iklim, sektor perikanan tradisional juga dapat menerapkan upaya peningkatan stok(stock enhancement). Langkah lainnya adalah penambahan (restocking) dan pengembangan stok, hingga pelepasan ikan kembali ke laut–yang dikenal sebagai restorative aquaculture.

Relasi antar-nelayan menjadi vital

Perubahan iklim bukan hanya persoalan yang melanda petani secara individu, tapi juga komunitasnya. Karena itu, kelompok-kelompok tani harus menyusun strategi untuk menghadapinya bersama-sama.

Hal yang sama juga berlaku bagi komunitas nelayan. Riset menunjukkan ikatan sosial yang kuat di kalangan nelayan di pesisir Asia, Eropa, dan Afrika, mampu meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Tak hanya ikatan sosial: kemampuan berjejaring, tingkat kepercayaan dan norma-norma sosial, juga turut mempengaruhi pilihan-pilihan tindakan yang diambil para petani.

Di Nusa Tenggara Timur, para petani juga menganggap kelompok tani sebagai sarana utama untuk menghadapi beragam fenomena dalam perubahan iklim. Hal ini terjadi karena rasa tolong-menolong di antara sesama anggota.

Sebaliknya, kegiatan budi daya perikanan yang berkelanjutan (restorative aquaculture) yang dilakukan nelayan di Fakfak secara individu terbukti belum optimal. Sebab, pendekatan ini dapat efektif jika terdapat keterlibatan warga dalam kelompok dan kepala desa setempat.

Pendekatan kelompok memang bukanlah satu-satunya andalan bagi petani dan nelayan untuk menghadapi perubahan iklim. Aspek ini harus dibarengi dengan akses informasi yang memadai, peningkatan kualitas bagi para pemimpin di tingkat komunitas, dan kesediaan para nelayan serta petani untuk menggunakan pendekatan baru.

BMKG Pastikan Suhu Panas Jakarta Melebihi Laju Pemanasan Global

JAKARTA – Peneliti Bidang Meteorologi-Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, mengatakan teriknya matahari yang ada belakangan ini berbeda dengan laju pemanasan yang di Jakarta jauh lebih tinggi 1,4 kali dibandingkan pemanasan secara global.

Ia menjelaskan bahwa cuaca yang lebih terik dan panas saat ini karena sedang dalam masa peralihan musim untuk di Jakarta dan sekitar Jawa Barat, yang dari mulai kemarau ke musim penghujan.

“Ini juga menjelang bulan Oktober nanti biasanya matahari akan berada di sekitar Khatulistiwa dan akan cenderung bergerak ke arah selatan, sehingga nanti di sekitar tanggal 23 Oktober itu akan 23 derajat di lintang selatan ya, itu berarti akan melewati Pulau Jawa,” tuturnya saat dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (21/9/2021)

Kondisi seperti ini biasa disebut dengan titik kombinasi matahari, yang posisinya tepat di atas kepala kita. Sehingga akan merasakan radiasi matahari lebih kuat dari biasanya, itu biasanya menyebabkan cuaca terik di siang hari.

Nah, jika bicara soal perubahan temperatur di Jakarta yang 1,4 kali lebih kuat dibandingkan pemanasan global, itu sebenarnya adalah ukuran yang menyatakan perubahan suhu permukaan yang dihitung sejak zaman pra industri hingga zaman sekarang.

“Jadi sudah sekitar, kalau zaman pra industri kan sudah ada sejak tahun 1850 an hingga 1900 an, ya berarti data BMKG hingga sekarang menunjukan suhu Jakarta itu kemiringannya atau laju perubahannya itu jauh lebih tinggi dibanding laju perubahan global,” jelasnya.

” Nah, pemanasan global atau perubahan global itu dilaporkan oleh WMO (World Meteorological Organization) sudah 1,2 kali lebih tinggi sejak pra industri. Kalau Jakarta dari penelitian saja 1,6 selama 135 tahun terakhir,” imbuhnya.

Jika mengacu pada Perjanjian Paris, meminta seluruh pihak negara-negara yg menandatangani supaya menghentikan laju pemanasan global tidak lebih dari 2.

“Kalau kita secara ambisius 1,5. Kita diminta untuk melakukan kajian supaya secara global laju pemanasan tidak lebih dari 1,5,” tuturnya.

Saat ini, lanjut Siswanto, seluruh permukaan bumi 1,2 berarti masih punya untuk waktu 0,3 untuk tidak sampai ke 1,5. Dan sekitar 0,8 untuk tidak mencapai 2.

“Tapi kalau kita hitung per lokal, sebenarnya Jakarta sudah melebihi 1,5 dalam 135 tahun terakhir.” pungkasnya.

Mengenal Dampak Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Manusia

Bumi adalah planet yang dihuni oleh makhluk hidup, seperti hewan, manusia, tumbuhan, dan mikroorganisme. Planet berwarna biru ini menjadi tempat tinggal untuk bertahan hidup dan mencari makanan.

Namun, pemanasan global membuat ekosistem di bumi tidak seimbang. Hal ini terjadi karena pemanasan global membuat peningkatan suhu di atmosfer.  Berikut dampak pemanasan global terhadap kesehatan manusia.

Perubahan iklim yang terjadi di bumi semakin diperparah dengan pemanasan global. Beberapa tahun terakhir, beberapa daerah sering terjadi fenomena cuaca ekstrem, seperti badai, angin ribut, hujan deras, serta perubahan musim tanam.

Selain itu, ada pula bencana alam, seperti badai tropis, tsunami, banjir, longsor, kekeringan, meningkatnya potensi kebakaran hutan, punahnya berbagai jenis ikan, dan rusaknya terumbu karang.

Kerusakan lingkungan juga berdampak pada meningkatnya penyakit seperti penyebaran penyakit parasitik seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD), serta terjadi peningkatan insiden alergi, penyakit pernafasan dan radang selaput otak (encephalitis). 

Penjelasan Pemanasan Global

Pemanasan global adalah fenomena yang dipicu oleh kegiatan manusia. Kegiatan ini merusak lingkungan karena pemakaian bahan fosil dan kegiatan alih fungsi lahan. Contohnya, gas-gas yang dikeluarkan kendaraan memicu bertambahnya gas karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Fenomena ini disebut juga efek rumah kaca.

Meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi ini terjadi karena radiasi gelombang panjang matahari yang dipancarkan ke bumi oleh gas-gas rumah kaca. Ada enam jenis gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), hydrofluorocarbon (HFCs), perfluorocarbon (CFCs), sulfur heksa florida (SF6). Gas-gas tersebut berada di atmosfer, terperangkap, dan tidak bisa menyebar.

selengkapnya: 

https://katadata.co.id/sortatobing/berita/612c89cda3a7d/mengenal-dampak-pemanasan-global-terhadap-kesehatan-manusia

Climate Change: Don’t sideline plastic problem, nations urged

Scientists are warning politicians immersed in climate change policy not to forget that the world is also in the midst of a plastic waste crisis.

They fear that so much energy is being expended on emissions policy that tackling plastic pollution will be sidelined.

A paper from the Zoological Society of London (ZSL) and Bangor University says plastic pollution and climate change are not separate.

It says the issues are actually intertwined – and each makes the other worse.

Manufacturing plastic items adds to greenhouse gas emissions, while extreme weather such as floods and typhoons associated with a heating planet will disperse and worsen plastic pollution in the sea.

The researchers highlight that marine species and ecosystems, such as coral reefs, are taking a double hit from both problems.

Reefs and other vulnerable habitats are also suffering from the seas heating, from ocean acidification, pollution from farms and industry, dredging, development, tourism and over-fishing.

And in addition, sea ice is a major trap for microplastics, which will be released into the ocean as the ice melts due to warming.

The researchers want politicians to address all these issues – and not to allow climate change to take all the policy “bandwidth”.

Professor Heather Koldewey from ZSL said: “Climate change is undoubtedly one of the most critical global threats of our time. Plastic pollution is also having a global impact; from the top of Mount Everest to the deepest parts of our ocean.

“Both are having a detrimental effect on ocean biodiversity; with climate change heating ocean temperatures and bleaching coral reefs, to plastic damaging habitats and causing fatalities among marine species.

“The compounding impact of both crises just exacerbates the problem. It’s not a case of debating which issue is most important, it’s recognising that the two crises are interconnected and require joint solutions.”

Professor Koldewey added: “The biggest shift will be moving away from wasteful single-use plastic and from a linear to circular economy that reduces the demand for damaging fossil fuels.”

Helen Ford, from Bangor University, who led the study, said: “I have seen how even the most remote coral reefs are experiencing widespread coral death through global warming-caused mass bleaching. Plastic pollution is yet another threat to these stressed ecosystems.

“Our study shows that changes are already occurring from both plastic pollution and climate change that are affecting marine organisms across marine ecosystems and food webs, from the smallest plankton to the largest whale.”

ZSL is urging world governments and policy makers to put nature at the heart of all decision making in order to jointly tackle the combined global threats of climate change and biodiversity loss.