Gunung Merapi keluarkan awan panas puluhan kali, setidaknya 150 warga diungsikan

Setidaknya 150 warga diungsikan di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas puluhan kali hari Rabu (27/01).

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu, mengeluarkan awan panas sebanyak 36 kali dengan jarak luncur hingga tiga kilometer.

“Arahnya ke barat daya atau ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida, sebagaimana dilaporkan Furqon Ulya Himawan, wartawan di Yogyakarta untuk BBC News Indonesia.

Sejak pukul 00.00 – 14.00 WIB hari Rabu, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas guguran dengan amplitudo antara 15-60 mm dengan durasi antara 83-197 detik, yang memicu hujan abu tipis di Desa Tamansari, Kabupaten Boyolali, dan Kota Boyolali, Jawa Tengah.

Sekitar 150 warga Dusun Turgo yang tinggal di sekitar Sungai Boyong sudah diungsikan ke barak di Kelurahan Purwobinganun, kata Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman.

Para pengungsi terdiri dari kelompok rentan, anak-anak dan lansia.

Jika status Merapi naik menjadi ‘awas,’ semua warga yang berada di daerah rawan bahaya akan segera diungsikan, menurut keterangan BPBD.

Potensi erupsi eksplosif

Hanik Humaida mengatakan masih ada potensi erupsi eksplosif Gunung Merapi dan dia memperkirakan lontaran material vulkaniknya bisa mencapai radius tiga kilometer dari puncak.

Maka itu, dia meminta warga untuk tidak melakukan aktivitas di radius lima kilometer dari puncak,

Sejak 5 November 2020, BPPTKG telah manaikkan status Gunung Merapi dari Waspada (level II) ke Siaga (level III) akibat meningkatnya aktivitas vulkanik.

Sementara itu, pada hari Selasa, 157 pengungsi meninggalkan Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, di Sleman, D.I Yogyakarta menyusul bergesernya zona bahaya serta arah guguran lava Gunung Merapi ke arah barat.

Mereka adalah warga Kali Tengah Lor yang sudah mengungsi sejak tiga bulan terakhir.

Gempa M 5,4 Getarkan Pesisir Barat Lampung

Liputan6.com, Jakarta – Gempa bumi mengguncang wilayah di perairan pesisir barat Lampung, Rabu (27/1/2021). Gempa berkekuatan magnitudo 5,4 itu terjadi pada pukul 17.40 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, pusat gempa berada di laut, 20 km barat laut pesisir barat Lampung. Episenter gempa berada pada koordinat 5.13 LS dan 103.76 BT.

Gempa berada pada kedalaman 10 km.

BMKG melaporkan, gempa dirasakan di Liwa dengan skala III MMI, Bengkulu Selatan skala III MMI, Tanggamus skala II MMI, Krui dengan skala III MMI, Sekincau dengan skala III MMI, Way Kanan skala II MMI, dan Lampung Barat skala III MMI.

Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan terkait dampak yang ditimbulkan dari gempa bumi tersebut.

Gempa inipun tidak berpotensi tsunami.

 

Dilema Penanganan Banjir di Jabar, Banyak Lahan Resapan Kritis hingga Terbenturnya Kemampuan Anggaran

PIKIRAN RAKYAT – Rusaknya kawasan hulu di Jawa Barat diyakini menjadi penyebab utama terjadinya sejumlah bencana di saat musim hujan terutama banjir. Hampir setiap hujan turun terjadi genangan di kawasan hilir bahkan tidak jarang menimbulkan banjir bandang.

Berbagai upaya harus dilakukan seperti penghijauan kembali maupun rekayasa teknis untuk meminimalisasi bencana tersebut. Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat Dikky Achmad Sidik mengakui banyaknya kawasan hijau di wilayahnya yang beralih fungsi, seperti di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Ini berdampak terhadap kualitas resapan sehingga hujan yang turun menimbulkan aliran air yang deras ke wilayah hilir. Pada sisi lain, tambah dia, saluran yang ada seperti sungai sudah tidak mampu menampung derasnya aliran tersebut.

Dikky menilai, berbagai cara harus ditempuh untuk meminimalisasi potensi banjir, seperti normalisasi sungai agar air tetap mengalir pada tempatnya. Namun, menurutnya langkah ini cukup berat mengingat terbatasnya lahan untuk pelebaran sungai serta kemampuan anggaran.

“Susah untuk memperlebar sungai, apalagi kalau harus makan lahan orang. Sehingga perlu penambahan kawasan resapan agar air hujan yang turun tidak terbuang ke wilayah hilir,” ucap Dikky saat diwawancarai pada Rabu 27 Januari 2021.

Selain melalui cara alami seperti penanaman pohon kembali, menurut Dikky perlu rekayasa teknis agar kawasan hijau yang sudah beralih fungsi tetap mampu menyerap air di saat hujan turun.

“Jumlah kawasan resapan air harus terus ditambah, agar air hujan yang turun tidak mengalir ke hilir, sehingga tidak menyebabkan banjir,” katanya.

selengkapnya https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-011340399/dilema-penanganan-banjir-di-jabar-banyak-lahan-resapan-kritis-hingga-terbenturnya-kemampuan-anggaran?page=2

Arutmin sebut pembukaan lahan besar-besaran dapat menjadi penyebab banjir di Kalsel

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA.  Bencana banjir yang merendam Kalimantan Selatan (Kalsel) pada awal tahun 2021 ini diduga tak lepas dari kerusakan lingkungan dan alih fungsi kawasan hutan akibat pertambangan batubara.

Salah satu perusahaan tambang batubara berskala jumbo yang beroperasi di Kalsel adalah PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), group usaha Bakrie.

General Manager Legal and External Affairs PT Arutmin Indonesia Ezra Sibarani tak menampik, pembukaan lahan secara besar-besaran bisa saja menjadi salah satu faktor penyebab banjir.

Pembukaan lahan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai macam kegiatan seperti perkebunan khususnya sawit, pertambangan dan pertanian.

Kendati begitu, Ezra menegaskan bahwa penyebab utama terjadinya banjir di Kalsel perlu dilihat kembali dan dievaluasi secara mendalam.

“Seperti yang sudah disampaikan Bapak Presiden, curah hujan beberapa hari terakhir memang sangat tinggi, bahkan jauh di atas curah hujan rata-rata beberapa tahun terakhir. Selain itu sistem drainase apakah sudah cukup memadai atau tidak,” kata Ezra saat dihubungi Kontan.co.id, Jum’at (22/1).

Dalam hal pembukaan lahan, Ezra pun menekankan bahwa aktivitas tersebut harus dilihat kembali, apakah sudah memiliki kajian lingkungan (Amdal) yang sudah dievaluasi dan disetujui pemerintah, atau tidak.

Sebab fakta di lapangan menunjukan masih banyak ditemukan kegiatan-kegiatan pembukaan lahan untuk perkebunan, pertanian dan pertambangan yang tidak dilakukan evaluasi kelayakan lingkungan dan tidak memiliki izin Amdal. “Hal ini perlu perhatian dan tindakan tegas dari pemerintah,” sambung Ezra.

Lebih lanjut, dia juga mengklaim bahwa kegiatan reklamasi pasca tambang Arutmin Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1990-an dan terus berlangsung hingga sekarang.

“Praktek reklamasi pasca tambang Arutmin sudah banyak dijadikan contoh dan acuan bagi perusahaan pertambangan lain. Pemerintah sendiri bebetapa kali memberikan penghargaan atas keberhasilan reklamasi paska tambang di Arutmin,” sebutnya.

Dalam catatan Kontan.co.id, PT Arutmin Indonesia memiliki tambang yang berlokasi di Satui, Senakin, Batulicin, dan Asam-asam, Kalimantan Selatan dengan luas mencapai 57.107 hektare (ha).

Setelah memperoleh perpanjangan izin dan perubahan status dari PKP2B menjadi IUPK pada 2 November 2020, konsesi Arutmin diciutkan  40,1%. Dengan begitu, luas wilayah konsesi Arutmin menjadi sekitar 34.207 ha.

Di sisi lain, banjir di Kalsel juga mengganggu kegiatan operasional pertambangan, termasuk Arutmin. Kata Ezra, penambangan dengan cara open pit dapat terganggu ketika curah hujan tinggi. Namun dia memastikan bahwa kegiatan produksi batubara Arutmin terus berjalan.

“Banjir sedikit berdampak pada kegiatan operasional. Kita melakukan upaya teknis menghadapi curah hujan yang tinggi, agar tambang kita juga tidak dipenuhi oleh air,” pungkas Ezra.

Kegagalan Cegah Banjir Kalimantan Selatan

Merdeka.com – Rukka Sombolinggi hanya geleng-geleng membaca pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait banjir di Kalimantan Selatan. Dia kecewa. Merasa pernyataan Presiden tidak tegas ungkap penyebab banjir besar yang melanda sejak 13 Januari 2021 itu. Seakan menuduh hujan lebat menjadi akar masalah.

Sebagai Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN), Rukka meyakini banjir besar menerjang sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan akibat keserakahan pengusaha. Ini bisa terlihat bagaimana deforestasi terjadi akibat alih fungsi lahan menjadi pertambangan maupun kebun kelapa sawit.

Sejak AMAN berdiri tahun 1999, beragam kerusakan alam di Kalimantan memang sudah terlihat. Kondisi ini juga berdampak pada suku Dayak, selaku masyarakat asli di sana. Salah satunya di Desa Dayak Meratus. Sehingga gerakan ini dibangun sebagai perlawanan agar hutan tidak semakin dirusak.

“Banjir yang terjadi Kalimantan Selatan itulah salah satu yang dicegah oleh masyarakat adat selama ini. Tapi pemerintah menutup mata,” kata Rukka kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Pemerintah seakan tidak pernah mendengar beragam temuan kerusakan alam. Bagi Rukka, banyak izin usaha pertambangan maupun kepala sawit diberikan serampangan. Setidaknya sudah 50 persen lahan di Kalimantan Selatan dikuasai untuk tambang dan perkebunan.

Selama ini warga telah memperjuangkan supaya wilayah adat di Meratus berhenti dirampas, dikupas permukaannya, dan dikeruk isi perut bumi dari tangan tak bertanggungjawab. Sayang usaha itu masih belum dilirik pemerintah.

Greenpeace Indonesia mencatat sepanjang 2001-2019, wilayah Kalimantan Selatan kehilangan 304.223,9 Ha DAS (daerah aliran sungai). Penyebab terbesar yakni, perubahan fungsi lahan.

Adapun tiap tahun jumlah semakin meningkat. Hilangnya tutupan hutan pada 2001 sebanyak 4.274,3 Ha, kemudian 2002 sebesar 11.926,5 Ha, lanjut di 2003 sebanyak 16.615,7 Ha dan terus naik di 2004 sebanyak 16.751,2 Ha dan 2005 sebanyak 21.051,9 Ha.

Pada 2006, sedikit mengalami penurunan sehingga hanya 11.427,5 Ha. Namun, 2007 meningkat lagi menjadi 22.907,2 Ha, kemudian turun lagi di 2008 sebanyak 15.688,9 Ha. Penurunan juga terjadi di 2009 sebanyak 12.708,9 Ha dan 2010 sebanyak 14,464.5 Ha.

Memasuki 2011, kembali terjadi hilangan tutupan hutan sebesar 12,366.9 Ha. Angka itu terus naik di 2012 sebanyak 21,148.6 Ha. Pada 2013 sempat terjadi penurunan hingga 10.443,5 Ha. Kemudian pada 2014, di tahun Presiden Jokowi pertama menjabat justru terjadi peningkatan menjadi 15.190 Ha.

Angka itu terus naik di 2015 sebanyak 19.937 Ha dan puncaknya di 2016 sebanyak 49.388,8 Ha. Pada 2017 terjadi penurunan drastis sebanyak 8,157.4 Ha, lalu 2018 sempat kembali sebanyak 10,224.9 Ha, dan 2019 mengalami penurunan sebanyak 9.550.1 Ha.

Juru Bicara Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arie Kompas menegaskan, dalam bencana ini proses pemberian izin tidak mempertimbangkan daya tampung lingkungan, dan proses pengawasan dan penegak hukum tidak dilakukan, dan tampak besar direklamasi dibiarkan. Termasuk tambang ilegal sehingga fungsi pemerintah tidak berjalan. Faktor kebijakan dan tata kelola sumber carut marut bagian pemicu bencana.

Katanya, Kalsel ini dikuasai Oligarki. Jadi fungsi pemerintah itu menjalankan regulasi itu sangat lemah. Jadi lebih banyak dipengaruhi Oligarki sehingga kemudian izinnya diberikan jor-joran tanpa memperhatikan lingkungan. “Penegakan hukum menjadi tumpul,” ujar Arie kepada merdeka.com.

sumber: https://www.merdeka.com/khas/kegagalan-cegah-banjir-kalimantan-selatan-bencana-di-kalsel.html

BNPB targetkan penyelesaian dampak gempa Sulbar selesai enam bulan

Mamuju (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan penyelesaian dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat bisa selesai dalam enam bulan, khususnya terkait rekonstruksi perumahan.

“Proses pendataan dan administrasi kami targetkan selesai hingga Februari 2021. Mudah-mudahan dari Februari sampai Juli 2021 sudah tidak ada lagi pengungsian,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Rifai kepada wartawan di Mamuju, Selasa.

Ia berharap proses pendataan dan verifikasi terhadap rumah warga yang rusak akibat gempa, baik di Kabupaten Mamuju maupun di Kabupaten Majene, dapat segera selesai hingga Februari 2021.

“Berdasarkan kesepakatan, batas akhir pendataan rumah warga yang rusak, baik rusak ringan, sedang hingga berat sampai hari ini. Tetapi, sambil proses pendataan, kami terus memasukkan data warga yang sudah masuk dan tentu kami akan menunggu hingga semuanya rampung,” tuturnya.

“Kami masih menunggu dan berharap pada Februari 2021, semuanya sudah rampung, sehingga warga akan segera meninggalkan tempat pengungsian dan mereka akan menghuni kembali rumah yang rusak ringan dan rusak sedang. Bantuan dana itu langsung kami serahkan 100 persen,” kata Rifai.

Sementara itu, untuk warga yang rumahnya rusak berat, tambahnya, disejajarkan dengan rumah yang rusak ringan dan sedang.

“Pada prinsipnya, rumah rusak berat sejajar dengan rusak ringan dan sedang. Tapi, rusak berat ini tentu menggunakan fasilitas membangun kembali, sehingga prosesnya agak lebih lama. Tawaran saya, sama pengalaman kami seperti di beberapa daerah pascagempa seperti NTB dan Palu Sulteng, kita menggunakan rumah instan,” papar Rifai.

Rifai mengatakan telah menyurat ke beberapa vendor yang memiliki pengalaman untuk melakukan pembangunan rumah terdampak gempa tersebut.

“Kita sudah menyurati beberapa vendor yang sudah punya akses untuk penyelenggaraan seperti ini. Rumah instan ini lebih mudah, lebih cepat dan lebih aman. Prinsipnya, rumah instan itu terbangun lebih baik dan lebih aman, dimana nanti semua spek teknisnya sudah SNI ditambah lagi rekomendasi rumah tahan gempa,” tutur Rifai.

Rumah instan tersebut, lanjutnya, bukan berdasarkan pilihan BNPB. “Tetapi, BNPB berpengalaman memberikan informasi bahwa instan ini ada beberapa jenis,.di antaranya sistem Domus dari Tata Logam, Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) dari PUPR serta Risba (rumah instan baja) dari Universitas Gajah Mada. Kami hanya mengenalkan dan ini bukan paten,” katanya.

Gempa Sulbar, BNPB: 7.863 Rumah dan 62 Fasilitas Umum Rusak

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 7.863 rumah dan juga 62 fasilitas umum mengalami kerusakan akibat gempa bumi M6,2 yang mengguncang Kabupaten Mamuju dan Majene Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu.

Dimana data kerusakan di Majene meliputi rumah 4.122 unit, fasilitas ekonomi dan perkantoran 32 unit, fasilitas kesehatan 17 unit dan kantor militer 1 unit.

Sementara data kerusakan di Mamuju antara lain, rumah 3.741 unit, fasilitas kesehatan 5 unit, jembatan 3 unit, Pelabuhan 1, mini market 1, perkantoran 1 dan hotel 1.

Sehingga, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Rifai mengatakan dari data sementara total kerusakan dan kerugian akibat gempa tersebut mencapai Rp829,1 miliar. “Total tersebut teridentifikasi untuk wilayah Kabupaten Mamuju dan Majene di Provinsi Sulawesi Barat,” ungkapnya dari rilis yang diterima MNC Portal Indonesia, Rabu (27/1/2021).

Total kerusakan dan kerugian di Majene mencapai Rp449,8 miliar. Angka tersebut dinilai dari sektor permukiman Rp365,3 M, sosial Rp76,9 M, ekonomi Rp5,13 M, lintas sektor Rp2,1 M dan infrastruktur Rp235 juta.

Sedangkan di Mamuju, total nilai kerusakan dan kerugian mencapai Rp379,3 miliar. Rincian nilai kerusakan dan kerugian sebagai berikut, permukiman Rp270,1 M, ekonomi Rp50,4 M, lintas sektor Rp39,9 M, sosial Rp17,4 M dan infrastruktur Rp1,3 M.

Rifai juga mengatakan data kerusakan dan kerugian yang masih dinamis ini dilakukan oleh Tim Jitupasna dari Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB. Selanjutnya data ini akan dilaporkan kepada Gubernur Sulbar untuk langkah selanjutnya. “Data susulan akan melalui proses yang sama, yaitu dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat. Data yang sudah ada akan diproses terlebih dahulu dan segera ditindaklanjuti,” katanya.

PMI Bangun 2 Gudang Logistik Darurat Distribusi Bantuan Gempa Sulbar

JAKARTA, KOMPAS.com – Palang Merah Indonesia (PMI) membangun dua gudang logistik di wilayah Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Staf Logistik PMI Pusat Ilham Husnul mengatakan, gudang tersebut berfungsi mempermudah dan mempercepat pendistribusikan bantuan kepada para korban gempa.

“Sebanyak enam relawan dari Tim Logistik PMI Pusat dan daerah dikerahkan dalam respons bencana gempa Sulbar dengan membangun gudang logistik darurat di wilayah Majene dan Mamuju,” kata Ilham dikutip dari Antara, Senin (25/1/2021)

Ilham mengatakan, pengaturan distribusi bantuan untuk bencana gempa akan dipusatkan di gudang logistik tersebut. Sebab, prioritas PMI, kata dia, yakni untuk layanan dan distribusi bantuan.

Gudang tersebut, kata dia, berkapasitas 240 meter persegi dan berfungsi sebagai penyimpanan bantuan dan logistik.

“Agar terjaga kondisinya serta lebih cepat dan mudah dalam mendistribusikan berbagai bantuan untuk penanganan pasca-gempa khususnya bagi para penyintas yang tinggal di pengungsian,” ucap dia.

Menurut Ilham, distribusi logistik di Sulawesi Barat belum merata akibat adanya hambatan, misalnya kondisi medan.

Hal itu, kata dia, karena banyak korban gempa yang mengungsi di pelosok seperti perbukitan yang sulit diakses.

Selain itu, tidak meratanya distribusi bantuan karena banyak korban bencana yang kehilangan dokumen penting masyarakat sebagai syarat penerimaan bantuan, misalnya, KTP, kartu keluarga dan lainnya.

Lebih lanjut, Iham menuturkan, berdasarkan hasil pendataan cepat (rapid assessment) PMI, sejumlah kebutuhan yang mendesak saat ini yakni air bersih, makanan, kesehatan dan kelengkapan rumah tangga berupa selimut dan tenda.

“Hingga 24 Januari, PMI telah menyalurkan 200 paket perlengkapan keluarga, 200 selimut, 11 ribu potong pakaian, 51.500 masker kain dan medis dan 500 terpaulin,” kata Ilham.

Di sisi lain, PMI juga melengkapi relawannya dengan alat pelindung diri agar terhindar dari bahaya penularan Covid-19.

Dalam hal ini, PMI mengirimkan 1.000 pelindung wajah, 500 sarung tangan karet, penyanitasi tangan serta 100 baju hazmat.

Pada sektor pelayanan, Ilham mengatakan, PMI telah mendistribusikan 200.900 liter air bersih, melakukan 44 program dukungan psikososial, tujuh pemulihan hubungan keluarga, 647 layanan kesehatan, serta 39 pelayanan ambulans dan pertolongan pertama.

“Bantuan yang disalurkan PMI juga ada yang berasal dari masyarakat, selain itu PMI membuka rekening untuk warga yang ingin ikut berdonasi membantu saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah di Sulbar,” ucap Ilham.

Korban Meninggal Akibat Gempa di Sulbar Mencapai 105 Orang

Merdeka.com – Sinkronisasi dan validasi data korban meninggal dunia dampak gempa bumi Majene dan Mamuju terus dilakukan. Data Selasa, 27 Januari 2021, korban meninggal dunia gempa bumi di dua Kabupaten Mamuju dan Majene, berjumlah 105 orang. Korban dari Mamuju 95 orang dan Majene 10 orang.

Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mamuju ditunjuk sebagai Koordinator dalam melakukan sinkronisasi dan validasi data korban yang meninggal dunia akibat Bencana Alam gempa bumi di Kabupaten Majene dan Mamuju.

Tim dari Basarnas, TNI, Polri, Kemensos, Kesehatan dan BNPB dan beberapa Sumber pendukung lainnya melakukan proses validasi untuk mendapatkan data valid agar korban meninggal segera mendapatkan santunan kepada ahli waris. Validasi dilakukan di Posko Gabungan SAR, Senin (26/1).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan ( Basarnas ) Mamuju, Saidar Rahmanjaya berharap semua data korban yang meninggal dunia dapat tervalidasi datanya sehingga proses pemberian santunan cepat terlaksana.

“Kita berharap agar semua korban Meninggal dunia berjumlah 105 orang dapat tervalidasi datanya, sehingga akan mempercepat proses pemberian santunan ke ahli warisnya masing-masing” Kata Saidar.

Keputusan korban gempa mendapatkan santunan kepada ahli waris korban berdasarkan arahan Sekda Provinsi Sulawesi Barat, pada rapat evaluasi yang dihadiri oleh seluruh stakeholder.

“Korban meninggal dunia tersebut akan mendapatkan santunan berdasarkan hasil rapat evaluasi seluruh stakeholder yang tergabung dalam penanganan dampak gempa Majene dan Mamuju, dan pemberian santunan tersebut telah di proses oleh Kemensos, ” jelas Saidar. [ray]

Gubernur Sulbar Menangis saat Temui Pengungsi Korban Gempa di Polman

POLEWALI MANDAR – Gubernur Sulawesi Barat HA Ali Baal Masdar tak kuasa menahan tangis saat bertemu dengan pengungsi korban gempa 6,2 Skala Richter (SR) di Polewali Mandar (Polman), Minggu (24/1/2021).

Selanjutnya Gubernur Sulbar A Ali Baal Masdar ABM bersama rombongan didampingi Bupati Polman AIM mengunjungi para pengungsi gempa Majene-Mamuju yang mengungsidi Stadion S Mengga, Polman.

Ali Baal Masdar yang didampingi sejumlah pejabat teras kumudian menyambangi tenda pengungsian dan memberikan dukungan kepada para pengungsi. Dia mengimbau kepada para pengungsi agar kembali ke rumah masing-masing jika kondisi sudah membaik dan aman.
“Hal itu untuk memudahkan pendataan kerusakan akibat gempa karena akan ada bantuan dari pemerintah terutama kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan baik kerusakan berat, sedang dan ringan, agar jangan sampai tidak terdata,” katanya.

Gubernur menambahkan, warga yang rumahnya rusak berat akan dibantu Rp50 juta, rusak ringan Rp25 juta dan rusak ringan Rp10 juta. “Jika kita tidak pulang ke rumah, khawatirnya nanti tidak terdata,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini di Mamuju dan Majene sudah disiapkan tempat sementara untuk pengungsi sambil pelaksanaan pendataan dan menunggu perbaikan rumah.

“Bagi pengungsi yang akan kembali ke rumahnya akan disiapkan kendaraan dan diberikan bekal sembako untuk kebutuhan sebulan dan tenda untuk dipakai sementara,” kata mantan Bupati Polman 2 periode ini .

Salah satu pengungsi warga Malunda Majene mengaku dari awal enggan untuk mengungsi. Namun karena istrinya merasa khawatir akan gempa susulan, maka akhirnya dia dan keluarga mengungsi ke Stadion S Mengga.