Sudah ke-35, Gempa Susulan Mamuju-Majene Diperhitungkan 3-4 Minggu

TEMPO.CO, Bandung – Gempa tektonik bermagnitudo 2,9 menggoyang Mamuju, Sulawesi Barat, pada Minggu 24 Januari 2021, pukul 10.38 WITA. Lokasi sumber gempanya di darat, berjarak sekitar 52 kilometer arah timur laut Majene, Sulawesi Barat.

Hingga Senin pagi ini, 25 Januari 2021, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa itu sebagai susulan yang ke-35 sejak gempa utama bermagnitudo 6,2 pada 15 Januari 2021. “Gempa tergolong dangkal dengan kedalaman 10 kilometer,” ujar Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Minggu.

Menurut Daryono, sumber atau episentrum gempa susulan terkini itu berada pada koordinat 3,10 LS – 119,16 BT. Getarannya dirasakan lemah di Mamuju dengan skala intensitas II MMI, atau dirasakan sebagian warga dan membuat benda-benda yang digantung bergoyang.

Gempa susulan ini terjadi setelah sempat nihil selama dua hari, pada Jumat-Sabtu, 22-23 Januari 2021. Sementara selama tiga hari sebelumnya pada 19-21 Januari terjadi sekali gempa susulan setiap hari. Gempa susulan terbanyak yaitu 24 kali terjadi pada 15 Januari lalu setelah muncul gempa utama bermagnitudo 6,2.

Menurut Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly lewat siaran pers, Sabtu, 24 Januari 2021, produktivitas susulan Gempa Majene-Mamuju sangat rendah dan cenderung jarang. BMKG membuat perkiraan berakhirnya gempa di Majene dan sekitarnya berdasarkan hasil analisis peluruhan gempa susulan.

 “Diperkirakan gempa susulan akan berakhir sekitar 3-4 minggu pasca gempa utama, dengan intensitas dan frekuensi yang semakin menurun,” ujarnya.

Hasil perhitungan itu meskipun menggunakan formula dan metoda yang sahih namun diakuinya bukan menjadi hitungan yang pasti. BMKG tetap mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap gempa Mamuju-Majene.

Penjelasan BMKG soal Gempa Magnitudo 7,0 di Kepulauan Talaud, Termasuk Gempa Besar

TRIBUNNEWS.COM – Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,0 guncang Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis (21/1/2021). 

Gempa terjadi pada pukul 19.23 WIB. 

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr Daryono menyebut gempa ini dipicu oleh aktivitas tunjaman lempeng Laut Filipina.

Daryono menjelaskan, gempa ini tergolong gempa berkekuatan besar.

“Wilayah Kepulauan Talaud diguncang gempa hari Kamis, 21 Januari 2021 pukul 19.23.08 WIB dengan magnitudo 7,0.”

“Gempa ini termasuk gempa berkekuatan besar lazimnya terjadi di zona tunjaman lempeng,” ungkap Daryono kepada Tribunnews.com, Kamis malam.

Diketahui, BMKG awalnya menyampaikan gempa ini berkekuatan 7,1 M, tapi diperbarui menjadi 7,0 M.

Sementara itu lokasi gempa Talaud ini disebut BMKG berada di timur laut Melonguane atau sebelah selatan Filipina.

BMKG melalui unggahan Twitter menyebut pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 154 km.

“Pembangkit Gempa Talaud 7,0 adalah deformasi batuan pada bagian slab Lempeng Laut Filipina yang tersubduksi di bawah Kepulauan Talaud dan Miangas,” ungkap Daryono.

Sementara itu hingga saat ini belum terjadi gempa susulan.

“Hal ini karena karakteristik batuan pada Lempeng Laut Filipina sangat homogen dan elastis (ductile).”

“Sifat elastis pada batuan ini yang menjadikan batuan tidak rapuh, sehingga gempa susulan jarang terjadi,” jelasnya.

Peningkatan Aktivitas Beberapa Tahun Terakhir

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan hasil monitoring BMKG menunjukkan selama beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan aktivitas seismisitas di wilayah ini khususnya untuk aktivitas gempa menengah di kedalaman sekitar 100 km.

“Wilayah Lempeng Laut Maluku dan Tunjaman Lempeng Laut Filipina merupakan salah satu kawasan seismik paling aktif di dunia.”

“Lokasi Kepulauan Talaud dan Miangas bersebelahan dengan zona tunjaman Lempeng Laut Filipina ini,” ujarnya.

Adapun zona Tunjaman Lempeng Laut Filipina melintas berarah utara-selatan dengan panjang mencapai sekitar 1.200 km, dari Pulau Luzon, Filipina, di Utara hingga Pulau Halmahera di selatan.

“Zona subduksi aktif ini memiliki laju penunjaman lempeng antara 10 hingga 46 milimeter per tahun dengan magnitudo tertarget 8,2,” ungkap Daryono.

“Tunjaman Lempeng Laut Filipina adalah sumber gempa potensial pemicu gempa dan tsunami bagi wilayah Maluku Utara seperti Halmahera, Morotai, Miangas dan Kepulauan Talaud,” lanjutnya.

Minta Masyarakat Waspada, BMKG Beberkan Kawasan Seismic Gap di Zona Sumber Gempa Megathrust dan Sesar Aktif

PIKIRAN RAKYAT – Hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap aktivitas gempa di Majene dan Mamuju hingga Sabtu 23 Januari 2021 pukul 11.00 WITA, sementara telah terjadi sebanyak 34 kali gempa susulan.

Adapun total gempa sejak 14 Januari 2021 tercatat sebanyak 43 kali, dengan gempa yang dirasakan mencapai 7 kali.

Bila mencermati aktivitas gempa di Majene, Sulawesi Barat, tampak produktivitas gempa susulan sangat rendah, bahkan cenderung jarang terjadi. Kendati demikian, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada.

Deputi bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly menyebut pihaknya tidak menginstruksikan pengungsi kembali ke kediamannya masing-masing.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada. BMKG tidak menginstruksikan agar pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing,” kata Deputi bidang Geofisika, Muhammad Sadly dalam keterangan yang diterima Pikiran-Rakyat.com pada Sabtu, 23 Januari 2021.

Sementara itu, berdasarkan hasil monitoring BMKG terkini terhadap aktivitas kegempaan di seluruh wilayah Tanah Air, menunjukkan bahwa sejak awal Januari 2021 aktivitas gempa dirasakan mengalami peningkatan.

Selama periode 1 hingga 22 Januari 2021, BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali, jumlah tersebut tergolong tinggi, dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan.

Inilah Daftar Daerah Rawan Gempa Berdasar Data BMKG, Waspadalah!

jpnn.com, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sejak 1-22 Januari 2021, di wilayah Indonesia telah terjadi gempa sebanyak 59 kali.

Deputi bidang Geofisika Muhammad Sadly mengatakan, jumlah tersebut tergolong tinggi dan hampir tiap hari terjadi gempa di Indonesia.

Hasil monitoring BMKG, sejak awal Januari 2021 aktivitas kegempaan di Indonesia tengah mengalami peningkatan.

“Jika kita ingin mewaspadai titik-titik rawan bencana gempa dapat didasarkan pada kawasan yang diduga menjadi seismic gap, yaitu zona gempa potensial tetapi sudah sangat lama tidak terjadi gempa yang patut diwaspadai,” kata Sadly dalam keterangannya yang diterima JPNN.com, Minggu (24/1).

Sadly menambahkan, kawasan seismic gap di zona sumber gempa megathrust (tumbukan lempeng di kedalaman dangkal) yaitu Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, Selat Sunda, Selatan Bali, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua, dan Laut Banda.

Sementara untuk wilayah seismic gap di zona sumber gempa sesar (patahan) aktif adalah Sesar Lembang (Jabar) dan Sesar Matano (Sulteng), Sesar Sorong (Papua Barat), dan Sesar Segmen Aceh.

“Namun demikian sebaiknya selalu patut waspada untuk setiap sumber gempa yang ada karena gempa dapat terjadi kapan saja dan dapat terjadi tidak hanya di zona seismic gap saja,” ujar Sadly. (cr1/jpnn)

Kasus Positif Corona di Amerika Serikat Tembus 25 Juta!

Washington DC – Kasus positif Corona di Amerika Serikat (AS) semakin bertambah. Kini, kasus positif Corona di Amerika Serikat mencapai 25 juta.

Dilansir AFP, data tersebut dirilis Universitas Johns Hopkins. Totalnya yakni 25.109.148 kasus Corona. Jumlah kematian di AS juga fantastis, yakni 400.000 kasus.

Presiden AS, Joe Biden, berjanji akan memerangi virus Corona sebagai prioritas dan mendorong kongres untuk menyetujui paket bantuan senilai USD 1,9 triliun untuk meningkatkan vaksinasi.

Joe Biden menargetkan 100 juta warga AS divaksinasi dalam 100 hari pertamanya menjabat sebagai presiden. Selain itu, ia juga meminta warganya untuk tetap memakai masker.

Kepala Staf Gedung Putih Ron Klain mengatakan pemerintahan Joe Biden akan bertanggung jawab menuntaskan pandemi Corona. Mantan presiden AS, Donald Trump, sering dikritik karena dianggap lamban dalam memerangi virus.

“Kami akan mendirikan pusat vaksinasi federal untuk memastikan bahwa di negara bagian yang tidak memiliki cukup … kami mengisi celah itu,” kata Klain pada acara NBC News seperti dilansir AFP.

“Kami membutuhkan lebih banyak vaksin, kami membutuhkan lebih banyak vaksinasi dan kami membutuhkan lebih banyak lokasi vaksin,” lanjutnya.

Menurut Universitas John Hopkins, Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus Corona terbanyak di dunia. Di bawah Amerika Serikat, ada India dengan 10,6 juta kasus Corona.

Banjir di Indonesia, Benarkah karena Curah Hujan dan Cuaca Ekstrem?

KOMPAS.com – Bencana banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Selain banjir Kalimantan Selatan (Kalsel) yang cukup parah, banjir juga melanda kawasan puncak Bogor, jawa Barat pada Selasa (19/1/2021) pukul 09.30 WIB.

Sehari sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi disertai struktur tanah yang labil menyebabkan banjir yang berdampak pada 4 Kecamatan di Kota Malang pada Senin (18/1) pukul 17.00 WIB.

Adapun wilayah yang terdampak, yaitu Kecamatan Klojen, Kecamatan Sukun, Kecamatan Lowokwaru, dan Kecamatan Kedungkandang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang melaporkan tinggi mata air antara 20-50 sentimeter.

Di hari yang sama, ratusan rumah di Cirebon JUGA dilanda banjir setinggi 50 sentimeter hingga 1 meter pada Senin (18/1/2021). Titik genangan ada di Kecamatan Plered, Klangenan, Arjawinangun, Kapetakan dan Suranenggala.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Senin (18/1) pukul 19.00 WIB.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mencatat tinggi muka air berkisar 5-80 sentimeter yang berdampak pada empat kecamatan, antara lain Kecamatan Tirto, Kecamatan Sragi, Kecamatan Siwalan, dan Kecamatan Kedungwuni.

Lantas, apa yang menjadi penyebab maraknya banjir di sejumlah wilayah di Indonesia?

Curah hujan tinggi dan topografi ?

Banjir Bandang di Puncak Bogor Jawa Barat Selasa (19/1/2021).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Banjir Bandang di Puncak Bogor Jawa Barat Selasa (19/1/2021).

Ahli Hidrologi dan Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Pramono Hadi mengatakan, maraknya banjir di Indonesia salah satunya akibat pengaruh iklim periodik La Nina dan topografi.

“Ini kan La Nina, kebetulan curah hujannya tinggi, itu faktor utamanya. Tetapi selain itu ada faktor lain lagi, yaitu topografi,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

La Nina merupakan anomali sistem global yang cukup sering terjadi dengan periode ulang berkisar antara dua sampai tujuh tahun.

Kejadian La Nina terjadi saat Samudera Pasifik dan atmosfer di atasnya berubah dari keadaan netral (normal) pada periode waktu dua bulan atau lebih

Dampak utama dari fenomena La Nina ke cuaca atau iklim di Indonesia yakni timbulnya peningkatan curah hujan.

Kendati demikian, kondisi topografi di Indonesia yang berbeda-beda, maka dampak La Nina pun tidak seragam di seluruh wilayah. Hal itu terlihat pada kondisi dataran di wilayah Kalsel.

“Kalimantan itu terkenal daerahnya datar, sehingga kalau ada genangan wajar kalau kemudian kota-kota besar di Kalimantan itu selalu kena banjir,” terang Pramono.

Ia menjelaskan mengenai perbedaan genangan dan banjir.

Untuk daerah Kalsel, dikategorikan sebagai banjir genangan, karena meski ada aliran air, tetapi ketinggian airnya cenderung naik dan menyebabkan genangan banjir.

Berbeda dengan banjir bandang yang biasa terjadi di daerah yang curam, dekat tebing, datangnya mendadak, biasanya disertai longsor.

Contohnya seperti yang terjadi di Bogor, Selasa (19/1/2021) pagi.

Penyimpanan air

Pramono menjelaskan bahwa alam secara alami memiliki storege, atau penyimpanan air.

Penyimpanan air dapat berupa waduk, sungai, dan hutan.

Khusus untuk hutan, sistem penyimpanannya bersifat sponge atau menyerap.

Pramono juga menambahkan bahwa ceruk bekas tambang juga dapat dimanfaatkan sebagai penampung air hujan.

“Bekas galian atau ceruk-ceruk tambang itu dapat digunakan untuk menyimpan air, seharusnya, tetapi tambang itu dapat menyebabkan faktor atau hal lain, yaitu longsor,” katanya.

Terkait perluasan lahan sawit dan pertambangan sebagai penyebab banjir di Kalimantan Selatan, Pramono tidak dapat menyimpulkan karena butuh kajian mendalam.

“Memang karakteristik topografinya sangat mendukung, buruh riset yang menjelaskan prosesnya. ini karena penggundulan hutan, belum tentu. Butuh kajian yang mendalam untuk bisa menyimpulkan itu,” katanya lagi.

Hasil kajian

Sementara itu, koordinator Kampanye Wahana Lingkungan Hidup ( Walhi) Nasional, Edo Rakhman menjelaskan bahwa ada banyak kajian mengenai deforestasi atau tutupan hutan beserta segala aspeknya yang berdampak pada hilangnya struktur dan fungsi hutan.

“Beberapa kawan-kawan kelompok masyarakat sipil itu sudah sering melakukan kajian, dan memang laju deforestasi kita masih cukup tinggi,” katanya saat dihubungi terpisah Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

Walhi mencatat dari 3,7 hektar lahan Kalsel setengahnya dikuasai tambang dan sawit. Sampai saat ini ada 817 lubang galian milik 157 perusahaan tambang.

5 Rumah Warga Porak-Poranda Diterjang Longsor dan Banjir BandangKOMPAS.COM/JUNAEDI 5 Rumah Warga Porak-Poranda Diterjang Longsor dan Banjir Bandang

Hal ini sejalan dengan analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengenai penyebab banjir yang melanda wilayah provinsi Kalsel.

Lapan menyebutkan penyempitan kawasan hutan atau tutupan lahan meningkatkan risiko banjir.

Berdasarkan data Lapan 2010-2020, terjadi penyusutan luas hutan primer sebanyak 13.000 hektar, hutan sekunder 116.000 hektar, sawah 146.000 hektar, dan semak belukar sebanyak 47.000 hektar.

Laporan tahunan Walhi pada 2020 juga mengkaji mengenai tren kenaikan kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi akibat interaksi dan pengaruh parameter meteorologi (cuaca, kelembapan, suhu, awan, angin, penguapan, hujan, penyinaran) sangat erat kaitannya dengan isu perubahan iklim.

Pada 2018, BNPB mencatat terjadi 2.572 kejadian bencana, pada 2019 sebanyak 3.768 kejadian bencana, dan pada 2020 sebanyak 2.925 kejadian bencana.

Adapun di awal tahun, terjadi bencana yang cukup ekstrem.

Edo menilai bencana seperti banjir dan tanah longsor berkaitan dengan daya dukung ekosistem.

“Bagi kami di WALHI, bahwa semua kejadian baik itu banjir maupun tanah longsor itu pasti ada kaitannya dengan daya dukung ekosistem sebagai penyangga di wilayah masing-masing,” katanya.
Solusi penanganan banjir

Rumah warga yang terendam banjir, BPBD Kabupaten Cirebon masih mendata rumah warga di beberapa kecamatan yang terendam banjir, Senin (18/1/2021). ANTARA/Khaerul Izan Rumah warga yang terendam banjir, BPBD Kabupaten Cirebon masih mendata rumah warga di beberapa kecamatan yang terendam banjir, Senin (18/1/2021).

Pramono menyarankan solusi atau penanganan dengan cara adaptasi, seperti membangun rumah panggung.

Sementara untuk mitigasi, dengan pembangunan bendung dinilai belum mampu secara ekonomi.

“Dalam kondisi rata-rata sebenarnya dengan adaptasi, bukan mitigasi. Kalau mitigasi itu cost-nya untuk Indonesia yang secara ekonomi belum cukup bagus,” imbuh dia.

Ia menambahkan bahwa sistem kehutanan memang berpengaruh, tetapi tidak dapat menghadapi curah hujan yang tinggi.

“Sistem kehutanan itu ya berpengaruh tetapi dengan curah hujan yang begitu tinggi itu dia tidak bisa apa-apa sebenarnya,” tambahnya.

Pernyataan tersebut dibantah oleh Edo. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang selalu menyalahkan curah hujan.

“Kami menyayangkan juga kenapa pemerintah, kasarnya, selalu menyalahkan bahwa itu karena curah hujan tinggi, cuaca ekstrem dan seterusnya,” tutur Edo.

Curah hujan, menurut Edo memang ada pengaruhnya. Namun bencana semacam ini dapat diminimalisir dengan memelihara ekosistem penyangga.

“Betul itu memang pasti ada hubungannya, tetapi kalau bicara konteks kehidupan manusia yang ada saat ini di mana pun kita selalu bergantung pada wilayah penyangga,” katanya.

Ekosistem penyangga yang ia maksud ialah wilayah hutan primer, hutan skunder, sungai, dan wilayah resapan lainnya.

Wilayah tersebut perlu dipelihara dan dijaga agar tidak dialihfungsikan untuk kepentingan bisnis.

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

KOMPAS.com – Setelah dua hari berturut-turut dilanda gempa, Majene kembali mengalami guncangan gempa bumi pada pagi ini.

Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 5,0 mengguncang wilayah Masama, tepat pada pukul 06.32 WiB, Sabtu (16/1/2021).

Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo Mw 4,8.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno MSi, mengatakan dalam keterangan tertulisnya bahwa episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,89 LS dan 119,05 BT.

Lokasi tepatnya berada di di darat pada jarak 29 kilometer arah Tenggara Kota Mamuju, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 kilometer.

Bambang mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif Majene.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault),” kata dia. 

Guncangan gempa bumi ini sendiri dirasakan di daerah Mamuju dengan skala intensitas III MMI, di mana getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa seakan ada truk yang berlalu.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut,” ujarnya.

Kendati dari hasil pemodelan BMKG tidak menunjukkan adanya potensi tsunami, ternyata berdasarkan hasil monitoring, gempa ini merupakan rangkaian gempa bumi kemarin.

Selain itu, hasil monitoring BMKG hingga pukul 07.03 WIB, Sabtu (16/1/2021) juga menunjukkan adanya 32 aktivitas gempabumi susulan atau aftershock dengan magnitudo maksimum M 4,8.

“Gempa ini merupakan rangkaian gempa bumi susulan pada tanggal 14 Januari 2021 Pukul 13.35 WIB dengan magnitude M=5,9,” jelasnya.

Oleh karena itu, masyarakat di sekitar guncangan gempa bumi diingatkan agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ucap dia.

Waspadai Penyakit Pascabanjir, Dinkes Banjarbaru Sediakan Fasilitas Kesehatan untuk Korban Banjir

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza mengimbau kepada warga Banjarbaru yang menjadi korban banjir untuk memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan di posko-posko Banjir yang sudah ditetapkan diwilayah masing masing.

Sebab kata dia, biasanya banjir ini penyakit yang banyak menyerang warga adalah gatal-gatal, diare dan lainnya.

“Biasanya paling sering gatal-gatal karena terlalu lama terendam air kotor,” kata dia.

Selain itu Rizana juga meminta masyarakat terdampak banjir mengantisipasi penyakit lainnya seperti salah satunya leptospirosis.

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans pada tikus.

Penyakit ini ditularkan melalui kencing dan kotoran tikus yang larut dalam genangan air, banjir, atau lumpur.

Gejala yang ditimbulkan bermacam-macam, seperti menggigil, batuk, diare, sakit kepala tiba-tiba, demam tinggi, nyeri otot, hilang nafsu makan, mata merah, dan nyeri otot.

“Penyakit kotoran tikus ini juga kadang menyerang warga di saat banjir,” sebut dia.

Oleh sebab itu Rizana juga menghimbau kepada sejumlah puskesmas untuk selalu siaga baik pelayanan maupun obat-obatan bagi warga.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan BNPB dan Dinsos Banjarbaru untuk membuka posko dengan menempatkan tenaga kesehatan.

“Saya juga meminta petugas rajin mengunjungi para pengungsi memeriksa kondisi mereka. Ingat semua gratis di Banjarbaru ini, ke puskesmas saja gratis apalagi dalam kondisi saat ini,” pungkas dia.

Artikel ini telah tayang di dengan judul Waspadai Penyakit Pascabanjir, Dinkes Banjarbaru Sediakan Fasilitas Kesehatan untuk Korban Banjir, https://banjarmasin.tribunnews.com/2021/01/15/waspadai-penyakit-pascabanjir-dinkes-banjarbaru-sediakan-fasilitas-kesehatan-untuk-korban-banjir.
Penulis: Khairil Rahim
Editor: Eka Dinayanti

Status Merapi Terkini 15 Januari 2021

tirto.id – Guguran lava pijar Gunung Merapi teramati satu kali dengan jarak luncur 400 meter ke arah hulu Kali Krasak pada periode pengamatan Jumat (15/1/2021) pukul 00.00-06.00 WIB.

Pada periode pengamatan yang sama, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) juga menginformasikan terjadinya 25 kali gempa guguran.

Sebelumnya, menurut BPPTKG, pada periode pengamatan Kamis (14/1/2021) pukul 18.00 hingga 24:00 WIB terjadi guguran lava pijar 17 kali dengan intensitas kecil hingga sedang dan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah hulu Kali Krasak.

Info Gunung Merapi Terkini

Periode pengamatan

15-01-2021 00:00-06:00 WIB

Lokasi Gunung Merapi

Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

Meteorologi

Cuaca berawan dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara 13-22 °C, kelembaban udara 66-95 %, dan tekanan udara 567-687 mmHg.

Visual

● Gunung kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
● Guguran lava pijar 1 kali jarak luncur 400 meter arah hulu Kali Krasak.

Kegempaan

■ Guguran
(Jumlah : 25, Amplitudo : 4-12 mm, Durasi : 16-68 detik)
■ Hybrid/Fase Banyak
(Jumlah : 2, Amplitudo : 7-8 mm, S-P : 0.4-0.5 detik, Durasi : 8-9 detik)
■ Tektonik Jauh
(Jumlah : 1, Amplitudo : 9 mm, S-P : tidak terbaca, Durasi : 238 detik)

Kesimpulan

Tingkat Aktivitas Gunung Merapi Level III (Siaga)

Rekomendasi BPPTKG

1.) Prakiraan daerah bahaya meliputi:
A. Provinsi DIY
a. Kabupaten Sleman. Kecamatan Cangkringan: Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor); Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem); Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).

B. Provinsi Jawa Tengah
a. Kabupaten Magelang. Kecamatan Dukun: Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2)
b. Kabupaten Boyolali. Kecamatan Selo: Desa Tlogolele (Dusun Stabelan, Takeran, Belang); Desa Klakah (Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur); Desa Jrakah (Dusun Jarak, Sepi)
c. Kabupaten Klaten. Kecamatan Kemalang: Desa Tegal Mulyo (Dusun Pajekan, Canguk, Sumur); Desa Sidorejo (Dusun Petung, Kembangan, Deles); Desa Balerante (Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang)

2.) Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.

3.) Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

4.) Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

5.) Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

BPPTKG: Dalam 12 Jam Terakhir, Gunung Merapi Tercatat Keluarkan 18 Kali Lava Pijar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gunung Merapi kembali mengeluarkan lava pijar dengan intensitas cukup tinggi pada Kamis (14/1/2021) malam. 

Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Kamis (14/1/2021) pukul 18.00-24.00 WIB, teramati guguran lava pijar sebanyak 17 kali dengan intensitas kecil hingga sedang dan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah hulu Kali Krasak.

“Guguran beberapa kali terjadi pada malam ini. Jarak luncur bervariasi, namun secara umum masih kurang dari 1 km,” ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, saat dihubungi, Kamis (14/1/2021) malam.

Pada periode tersebut, dilaporkan gunung jelas terlihat, kabut 0-I, hingga kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati.

Selanjutnya, guguran lava pijar kembali terjadi sebanyak 1 kali pada Jumat (15/1/2021) antara pukul 00.00-06.00 WIB.

Pada periode ini, secara visual gunung kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

“Guguran lava pijar 1 kali jarak luncur 400 meter arah hulu Kali Krasak,” ungkap Hanik menjelaskan lava pijar pada periode tersebut.

Secara meteorologi, cuaca berawan dan mendung.

Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Suhu udara 13-22 °C, kelembaban udara 66-95 persen, dan tekanan udara 567-687 mmHg.

Adapun kegempaan yang terjadi di antaranya 25 kali gempa guguran, 2 kali gempa hybrid/fase banyak, dan 1 kali gempa tektonik jauh. (uti)