Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Reportase oleh Madelina Ariani
Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali bahwa dihari kedua kemarin untuk kita sektor kesehatan telah mendapat wadah dalam bencana, yakni Epidemi dan wabah penyakit sebagai bencana non alam. Dengan hal ini kedepannya kita tidak bekerja sendiri jika menghadapi epidemi dan wabah.
Pembaca website bencana kesehatan, hari ini adalah hari penutupan PIT IABI. Agenda hari ini adalah pleno terbuka, munas, pameran dan dialog publik, serta penutupan. Pleno dari bidang kesehatan di sampaikan oleh Prof. Edi Raharjo yang berbicara mengenai ahli kesehatan dalam kebencanaan. Diantaranya beliau membahas mengenai
WASH/ water, sanitation, and hygiene yang berdasarkan dari pengalaman Gempa Haiti.
SPGDT bahwa jika korban sudah harus diatur penempatannya mulai dari triase di lapangan dan transport.
Siangnya berlangsung penutupan PIT IABI 2015. Penyampaian pesan disampaikan oleh Deputi Kesiapsiagaan BNPB dan Wakil Rektor UGM. Dalam pesannya, melalui IABI harapannya semua kalangan dapat bersatu untuk bersumbangsih menciptakan Indonesia yang tangguh bencana. Dalam kesempatan ini, juga diumumkan mengenai pelaksanaan PIT IABI 2016 mendatang di ITB. Seluruh peserta berdiri untuk menyanyikan lagu nasional Padamu Negeri. Selamat berjumpa pada PIT IABI ketiga tahun 2016. Semoga semakin besar konstribusi civitas kesehatan dalam riset kebencanaan ke depannya.
Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Reportase oleh Madelina Ariani
Masih dalam rangkaian PIT IABI 2015, hari kedua masih dibuka pameran untuk umum di lantai 1 GSP. Fakultas Kedokteran melalui Pokja Bencana Kesehatannya berpartisipasi dalam pameran ini bersama fakultas lain yang ada di UGM. Kami terlibat dalam tiga pase bencana yakni preparedness, response, dan recovery. Modul Hospital Disaster Plan dan Regional Disaster Plan, serta buku kurikulum manajemen bencana kesehatan untuk mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran juga kami pamerkan dalam kegiatan ini. RS Sardjito juga terlibat dengan memamerkan peralatan kesehatan dalam bencana serta mannequin atau boneka yang digunakan untuk pelatihan pertolongan pertama, dan masih banyak yang lain.
Di hari kedua ini, IABI khusus mengadakan pertemuan tertutup untuk anggota dan pengurus IABI saja. Sehari ini, masing-masing pokja membahas mengenai blue print riset kebencanaan yang akan dikembangkan selama tiga tahun ke depan. Pokja Epidemi, wabah, dan kesehatan dalam bencana dihadiri lebih dari 20 orang anggota. Masih dipimpin oleh Pak I Nyoman Kandun dan Kristijogo, diskusi mengenai agenda riset epidemi dan wabah sebagai bencana non alam berjalan dengan lancar.
Banyak masukan dan isu bencana kesehatan yang masuk dari praktisi rumah sakit, pemerintah, fakultas-fakultas kedokteran dan kesehatan, serta dari LSM kesehatan. beberaoa diantaranya adalah masalah emerging diseases yang lintas negara, kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi bencana, msalah tumpeng tindih peran antar penggerak bencana, serta masukkan sektor kesehatan dalam semua jenis ancaman bencana. Sore hari, blue print selesai direvisi dan harapannya ini dapat menjadi acuan riset kebencanaan sektor kesehatan di tahun-tahun ke depan.
Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali selama tiga hari di akhir Mei ini kita dapat berkumpul dalam suatu event besar penggiat kebencanaan di Indonesia dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan yang kedua tahun ini. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dengan UGM, BNPB, dan Kemenristek Dikti yang bersama-sama mengusung tema PIT “Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia”
Sejak pagi, Gedung pertemuan terbesar di UGM, Graha Sabha Pramana telah ramai peserta kegiatan yang datang dari dalam dan luar Yogyakarta. Masuk ke lantai dua, kita dapat melihat penuhnya peserta hingga podium bagian atas. Seperti PIT sebelumnya, PIT tahun ini juga dihadiri oleh banyak penggiat bencana baik dari instansi pemerintah, NGO, maupun masyarakat, serta peserta dari universitas-universitas di Indoensia yang bertambah.
Sambutan pertama disampaikan oleh ketua AIBI, Prof. Dr. HA Sudibyakto, MS. Sudibyakto menyampaikan bahwa ia senang sekali penyelenggaraan PIT kedua dapat terselenggara dan UGM bersedia menjadi tuan rumah. Kesadaran masyarakat akan ancaman bencana perlu ditingkatkan selalu, dalam kesempatan ini, IABI memiliki harapan bahwa ke depannya, dapat menggiring arah riset kebencanaan untuk mencapai Indonesia yang tangguh bencana. Riset-riset dari akademisi perlu dimanfaatkan untuk pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Sambutan kedua disampaikan oleh rektor UGM, Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, MT. Dalam sambutan singkatnya Dwikorita menyampaikan rasa senangnya bahwa UGM mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah. Hal ini seperti keinginan yang bersambut, dimana UGM ini seperti “restoran” yang memiliki banyak “koki” handal tetapi “pembeli” jarang. Dua ribu dosen di UGM seperti layaknya koki yang menciptakan karya-karya di bidang teknologi kebencanaan. Sekitar tiga hingga lima tahun yang lalu, UGM terus berupaya mengusahakan paten untuk karya-karya yang akhirnya bisa digunakan Indonesia untuk Pengurangan Risiko Bencana karena pada tahun 2009 China telah terlebih dahulu menggunakan karya yang dibuat UGM untuk bencana dan UGM tidak mendapat lisensi apapun oleh karena belum ada paten. Maka daripada itu, pertemuan kita kali ini ada dua poin yang perlu kita garis bawahi yakni mengupayakan paten produk UGM untuk bencana dan Pengembangan konsep socioenterpreneur penanganan bencana.
Sambutan dan pembukaan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si. Syamsul menyampaikan bawah kesadaran akan bencana di Indonesia oleh akademisi dan masyarakat sudah cukup baik tetapi pemanfaatan karya-karya bencana memang masih rendah. Sehingga, pertemuan ilmiah dan melalui IABI ini harapannya kita dapat menghimpun karya dan paten teknologi kebencanaan ini untuk menciptakan Indonesia tangguh bencana. Syamsul kembali menekankan bahwa paradigma Indonesia adalah Supermarket Bencana harus diubah menjadi Indonesia adalah Laboratoirum Bencana. Dengan demikian, wawasan ilmiah dan riset itu ada dan memang inilah tujuan kita. “Kita negara yang rawan sekali bencana dan kita juga mampu untuk beradaptasi di dalamnya dengan upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang kita upayakan bersama”, ungkap Syamsul. Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, Prof. Syamsul Maarif membuka PIT 2015 dengan secara simbolis memukul gong.
Dalam kesempatan ini juga, diluncurkan jurnal kebencaaan Indonesia yakni, Jurnal Riset Kebencanaan Indonesia yang diinisiasi oleh Ikatan Ahli Bencana Indonesia. Jurnal ilmiah ini akan terbit dua kali dalam setahun. Jurnal ini dipersembahkan oleh IABI kepada bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang tangguh bencana. Pada terbitan pertama ini terdapat Sembilan artikel dari berbagai instansi pemerintah dan universitas.
Pembaca website bencana kesehatan, rangkaian kegiatan ini tidak hanya berhenti pada seminar terbuka, tetapi juga masih ada sesi oral presentation per pokja, sesi poster presentation, diskusi per pokja untuk perumusan rencana kerja, dan juga pameran yang terbuka untuk umum mulai pukul 08.00-18.00 WIB hingga Kamis (27/5/2015).
Selengkapnya mengenai jadwal kegiatan dapat mengunjungi website PIT IABI 2015,
Challenges for Curriculum Development in Disaster Health Management:What we can do?
This policy brief is addressed to policy maker and stakeholder in Higher Education Agency, Universities, Faculty of Medicine and Health, and Section of Human Resources in Ministry of Health
Introduction
Disaster events increase continuously and require adequate medical treatment. Education on disaster medicine and disaster management is important because the post-disaster requires a lot of health workers assistance. Health institutions and medical schools involved in disaster management. There are involvements on disaster management of both formally through education for students and informally through training for health workers.
Increasing threat of natural disasters and social is impacted to increasing the world’s preparedness with to enter disaster education into college, including disaster education in medical school. United States began to take notice of disaster education in medical school since the Sept. 11 attacks and outbreaks anthrax in 2001. Disaster preparedness followed by many countries as the incidence of natural disasters in the Southeast Asian tsunami and Hurricane Katrina in 2004 South America in 2005. In Indonesia, the tsunami Aceh in 2004 is start steps to develop disaster management.
Context and Challenges in Development of Disaster Health Curriculum
The first challenge in the development of health disaster management curriculum is up to the current disaster management and emergency by health personnel is still not good. Health workers have not been able to understand its role in emergency response and disaster management. Doctors are still not ready and feel less capable in dealing with disaster situations, such as an outbreak of disease after a disaster. The health workers have poor performance where they do not know the work area at the time of the disaster as well as the low approaches to leadership and coordination in disaster management in the health sector. In fact, lack of health care will bad impact for health workers and patients.
The second challenge is the medical school felt it was important to prepare students in the face of disaster, but still found the low quality of learning are developed. Many medical schools only develop disaster education as elective courses and informal courses. Curriculum developed health disaster is still unclear with the competencies required of students and not properly describe the role and collaboration with health professionals that took place in the system of the disaster. In addition, medical student insight is still low against disasters. However, students feel important for learning about disaster medicine.
The third challenge is the lack of coordination. Chaos in the management of health disasters often occur not because of a lack of resources but because of lack of coordination in health professionals. Students or health workers who have not received education or training of disaster management will feel confused face a chaotic situation at the time of the disaster. In hope, material of disaster health management for medical students can provide an overview of their role in disaster management along with other health professionals in a system.
Policy Recommendations
Based on the above challenges then we can provide a solution through learning methods approach of disaster health management. We can describing the real problem and situation of disaster through online learning, interactive video, simulations, and live exercise, field trips, discussions based on real cases and other. In some studies, disaster cases developed based on the local situation. Learning models to integrate the role of physicians in disaster management continue to be developed in disaster health management. Studies in disaster management learning geared to provide the best understanding for medical students about health disaster management, able to describe their role in the future of health disaster management, and be able to retain the knowledge of disaster management in spite of the long term between the occurrence of disaster to next disaster.
Disaster Curriculum for Medical Student, Faculty of Medicine UGM
Since 2010, Faculty of Medicine UGM has developed a block 4.2 about Health System and Disaster. Block 4.2. is the second block in year 4. This block is part of Phase 2 of the medical curriculum, entitled transition from Theory to Practice.
In this block, students learn about the health system and disaster management, which are closely related. A health system is a set of collections of components organized to accomplish a set of functions in health. The health system can be analyzed from a normal situation perspective. However due to the natural and man-made disasters, the system can be disturbed or even destroyed. Block 4.2 is divided into two modules and five weekly themes. The modules are: (1) Health System, and (2) Disaster Management. In Module 1, there are three weekly themes discussing: (1) The Concept of Health System, (2) Physician Payment Mechanism and Quality of Care, and (3) Leadership and Communication. In Module 2 there two themes: (1) Disaster Management and (2) Disaster Medicine.
To achieve goals of this block, particularly in module 2, we develop problem based learning beside lecture and tutorial based learning, such as disaster practitioners for guest lecture, practice session, and disaster exhibition in one week. Disaster exhibition always invited Disaster and Humanitarian NGO, Local Disaster Management Agency, District Health Office, Red Cross, and etc. All disaster exhibition participants and student were direct communication. This exhibition always becomes favorite session chosen by students.
The Importance of Standardization, Accreditation, and Classification of Disaster Medical Assistance Team
This policy brief is addressed to policy maker in National Agency for Disaster Management and Ministry of Health especially to Health Crisis Center
Introduction
Indonesia is one of the most disaster prone countries in the world. It is scientifically explainable as Indonesia’s geography, geology, and hydrology are vulnerable to earthquake, tsunami, flood, and landslide. It is also Indonesia located at the convergence of Eurasia, Indo-Australia, and Pacific Plates. Indonesia has experienced many major natural disasters such as earthquake and tsunami in Aceh (2004), earthquake in Bantul Yogyakarta (2006), earthquake and tsunami in Pangandaran (2006), earthquake in Padang (2009), and Mount Merapi eruption (2010). When disaster happens, many health problems arise. In emergency situation, medical team is needed to provide health services and support to disaster victims. Disaster medical assistance team plays an essential role to save human lives during the emergency response periods.
Based on the past experiences, started from tsunami in Aceh 2004 untill the Mount Merapi eruption 2010, there were two things to be highlighted. First, is the quality of disaster medical team who assisted on disaster and second, is the system to cordinate and control the disaster medical assistance team. Until now, there is no system to control disaster medical assistance team. It can be seen that there is no guidelines to manage standard for competences of disaster medical assistance team.
Indonesia has experienced many major natural disasters. In emergency response phase, there were many medical teams from Indonesia and overseas that went to disaster-affected area. But until this time, there is no guideline to manage the medical team. In developed countries, they already have a guideline to manage the disaster medical team so that they can do it in effective and efficient way. The problem of management and professionalism of disaster medical team is vital because it affects to the results. Therefore this problem is highlighted at Pre-Conference 11th Asia-Pacific Conference Emergency and Disaster Medicine, which held at Denpasar Bali, September 2012.
Context and The Importance of Problem
Indonesia is one of the most disaster prone countries in the world. In an emergency situation, there were many disaster medical teams from Indonesia and overseas that went to area affected by disasters. There is no guideline to manage disaster medical assistance teams. Therefore, it needs a system to manage these problems:
There were many disaster assistance teams came to Indonesia, but it was not clear whether they have a permission or not. Thus, it is very important to register all the medical assistance teams and provide information on how many disaster medical teams are needed. Then, it is essential to provide quality control to disaster medical teams for both local and oversea teams.
Disaster medical teams who came to area affected by disaster was not clear whether they have competences or not. Sometimes this problem cause secondary effect after disaster such as infection. Therefore, it is essential to determine the qualification of disaster medical assistance
There isno minimum standard in giving medical assistance. Thus, it needs management system to coordinate disaster medical teams so that they can work in effective and efficient way. It is very important to build a system to manage this problem. Then it also needs an institution to carry out this work. It can be done independently or corporately with other institutions.
Policy Recommendation
To control and coordinate disaster medical assistance teams in Indonesia, the policy recommendations are given as follows:
Register all medical assistance teams for both local and international teams with one door policy so that the authority can monitor the activities of the medical teams. Besides, it can be determined on how many disaster teamsare needed in the field.
The government should provide guideline for disaster medical assistance teams, include minimum standard for health services, list of hospital specification, and medical logistic and non medical logistic that available in hospital during a disaster. This guideline is aimed to provide standard and practical guide for disaster medical assistance teams for both local and international teams in order to work effectively with minimum impact.
Legalization of institution and official of health institution, therefore they have a power to coordinate disaster medical assistance team. This health institution can be a part of national agency for disaster management that has authority to conduct feasibility test for medical teams.
It is essential to collect, compile and record medical doctor and medical specialist data that has an expertise in disaster field so that it will simplify coordination. It is also important to make a list of hospital specification in Indonesia.
Bapak yang juga menjabat sebagai Ketua Pokja Bencana FK UGM ini lahir di Yogyakarta pada 22 Mei 1963. Saat ini merupakan Kepala IGD RSUP dr. Sardjito, selain itu juga sebagai dosen luar biasa di FK UGM dan dosen pendidikan PPDS Bedah FK UGM.
Lulus pendidikan kedokteran tahun 1987 dan terus aktif dalam pelatihan kebencanaan maupun kegawatdaruratan. Beliau telah meluluskan banyak pendidikan dan pelatihan diantaranya ATLS course, TOT Course IKABI Pusat, Pelatihan Lecturing in Problem Based Learning, FK UGM 27 September 2006, Kursus Pelatihan Untuk Pelatih, Kolegium Ilmu Bedah Indonesia di RSUP Dr.Sardjito, 20-22 Maret 2009, Pelatihan Dokter Sebagai Clinical Teacher Dalam Program Pendidikan Clinical Rotation Dan Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Pendidikan Utama Dan Jejaring Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta 20-21 Februari 2007, Neuro-Anesthesia And Critical Care Course (NACC), 9th ISNACC, Singapore 28-29 Januari 2009, dan 1st NNI-Aesculap Academy Neurosurgical Appoaches Course 2007 held from 7-10 February 2007 in Singapore.
Sejak 2012 aktif bergabung baik di Pokja Bencana FK UGM dan Divisi Manajemen Bencana baik sebagai pembicara dan pelatih Hospital Disaster Plan. Juga terlibat dalam pelatihan dan seminar yang diselenggarakan baik nasional dan internacional sebagai pembicara dan pelatih.
Happy R Pangaribuan lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara tahun 2012 dan Magister Public Health FK UGM tahun 2016. Beliau pernah bekerja di LSM Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan Deli Serdang CDP tahun 2013-2016 sebagai Operational Department bertugas dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pemberdayaan masyarakat dan pemenuhan hak-hak anak. Sejak bulan November 2018 menjadi peneliti dan asisten konsultan di Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK–KMK UGM.
Awal bergabung di Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM beliau ditugaskan sebagai tim assessment Post Disaster Need Assessment (PDNA) sektor kesehatan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Selanjutnya ditugaskan dalam program asistensi dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan terkait Assessment Kapasitas Daerah dalam Penerapan Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan. Beliau akan terlibat dalam pelaksanaan bimbingan teknis penyusunan perencanaan penanggulangan bencana seperti Hospital Disaster Plan, Dinkes Disaster Plan, Puskesmas Disaster Plan dan rencana kontijensi. Beliau juga mengurus konten website bencana kesehatan dan aktif dalam kegiatan pelatihan, seminar dan penelitian terkait manajemen bencana kesehatan.
Madelina, begitu panggilan kesehariannya. Lahir pada tanggal 20 November 1990 di Banjarmasin. Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat tahun 2012. Enam bulan kemudian langsung memutuskan untuk melanjutkan sekolah kembali di minat yang sama dengan S1 nya, Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM, dan kini masih dalam proses menyelesaikan masternya.
Telah mengenal mengenai bencana sejak mendapat mata kuliah Kesehatan Lingkungan Pasca Bencana sewaktu S1nya, kemudian terus aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dipinggiran sungai kota Banjarmasin untuk menggalakkan kelestraian lingkungan, pencegahan banjir, dan upaya peningkatan status kesehatan. Terus berlanjut mendalami materi manajemen bencana sektor kesehatan baik selama kuliah S2 maupun dari seminar yang diikuti. Sejak awal 2013 menjadi asisten peneliti/ konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM.
Selain mengurusi konten website bencana kesehatan bersama para konsultan, melaksanakan tugas hariannya, Madelina juga kerap dilibatkan dalam pelatihan, seminar, penelitian, dan pelaksanaan kuliah manajemen bencana. Oktober 2013 menyelesaikan pelatihan internasional (ITCDRR) mengenai Koordinasi Penanggulangan Bencana oleh PPKK Kemenkes, Juni 2014 juga menyelesaikan pelatihan internasional mengenai manajemen bencana yang diselenggarakan atas kerjasama University of Hawaii dan UGM, dan kegiatan kebencanaan lainnya.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
21 April, Cape Town, South Africa
{tab Capacity Strategy |orange align_justify}
Reporter: Bella Donna
Kelas ini membicarakan mengenai penelitian masing-masing presenter dalam peningkatan kapasitas masyarakat di daerahnya. Sesi dimulai oleh presenter dari Hongkong yang menceritakan penelitian di sebuah kecamatan di China untuk mengembangkan desa tanggap siaga (kita menyebutnya di Indonesia) dengan strategi kapasitas melalui pengembangan fungsi orang-orang desa tanggap siaga pada kesiapan keselamatan kebakaran dengan teknik Communication for Behavioural Impact (COMBI ).
Presenter lain dari Amerika membuktikan bahwa pelatihan penurunan resiko bencana dapat mengubah kapasitas masyarakat untuk mengisentifikasi penilaian dan manajemen resiko, bahaya yang mengancam dan kerentanan. Penelitian ini dilakukan di Haiti.
Presenter dari Ghana melihat bahwa jika terjadi bencana seringkali tim emergency atau bantuan datang terlambat, faktanya sangat dibutuhkan agar bantuan berdasarkan pendekatan kepada masyarakat. Modul yang sudah dibuat didesain untuk edukasi, pelatihan dan layanan sederhana serta pencatatan sehingga masyarakat paham dalam merespon kebutuhan kegawatdaruratan yang berbeda-beda.
Presenter dari Kenya bercerita bahwa banyaknya bencana yang terjadi di Kenya membuat masyarakat Kenya sangat membutuhkan kesiapan dalam menghadapinya. Melalui simulasi yang mereka lakukan dengan skenario teroris di pusat perbelanjaan. Simulasi ini menunjukkan diaktifkannya Incident Command Structure (ICS) dengan melakukan koordinasi dan respon struktur gawat darurat yang langsung mengikuti. Area triase dan waktu respon yang dilakukan di catat serta rujukan korban ke fasilitas kesehatan.
Presenter dari Jerman mengatakan bahwa penelitian yang dilakukannya melalui komunikasi tradisional dan soSial media, ternyata membuktikan bahwa soSial media memiliki potensi yang besar dalam mengubah komunikasi antara Public Protection and Disaster Relief Representatives (PPDRs) dengan masyarakat dalam situasi masa gawat darurat.
Dari penelitian yang ada, Indonesia saat ini juga sangat memperhatikan pendekatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan penurunan resiko bencana. Bahkan simulasi juga sudah sering dilakukan oleh BNPB, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan bahkan Puskesmas.
{tab Resilience Building |green }
Reporter: Bella Donna
Presenter dari Australia berbicara mengenai definisi ketahanan (resilience) pada literature multidiscipline dalam kebencanaan melalui rantai ketahanan, dalam penguatan masyarakat pada semua fase siklus bencana.
Presenter dari Boston memaparkan bahwa sejak banjir besar di Thailand pada 2011, banyak terjadi perdagangan manusia, sehingga dilakukan kesiapsiagaan pendekatan pada masyarakat agar diperoleh pemahaman tentang risiko dari ketahanan masyarakat yang terkena dampak dari perdagangan manusia selama tahun 2011. Selain itu, presenter dari Boston juga memeriksa kekuatan kesiapsiagaan bencana, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait dengan pencegahan perdagangan manusia dan perlindungan. Akibat disaster ternyata meningkatkan kerentanan dari grup yang spesifik kepada perdagangan manusia.
Setelah melakukan interview dan focus groupdiscussion dengan kasus Non Communicable Diseases (NCDs), responden bencana, petugas kesehatan dan pemerintah, presenter dari Australia menemukan dampak bencana pada pengelolaan NCDs. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bencana-bencana yang ada memberikan sebuah tantangan dalam pengelolaan NCDs. Untuk meminimalisir dampaknya maka perlu dimiliki ketahanan infrastruktur kesehatan masyarakat, ini berarti salah satu kesiapsiagaan bencana perlu lebih difokuskan pada penguatan infrastruktur dalam kesehatan masyarakat.
Presenter dari Rusia ini melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat sebuah eksposisi proyek percontohan di tingkat negara dan di tingkat WHO untuk promosi keselamatan jalan di federasi Rusia. Kecelakaan di jalan adalah faktor urutan ketiga yang memprovokasi trauma dan kematian dalam populasi dan faktor pertama dalam kelompok orang-orang yang usianya kurang dari 50 tahun. Korban tewas dalam keadaan darurat jalan adalah 12 kali lebih tinggi daripada di tempat lain. Sehingga pelaksanaan program keamanan jalan Federal menyebabkan dinamika positif dalam indeks sasaran utama, penurunan angka kematian 19 % dan tingkat keparahan kecelakaan jalan 17,5 % lebih rendah.
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh presenter asal Canada ini adalah lokakarya membangun masyarakat tangguh dibawa stakeholder kunci dalam perencanaan ketahanan masyarakat Kanada, dengan tujuan berbagi pengalaman dan mengembangkan strategi konkret untuk mendukung berkelanjutan dan muncul inisiatif dalam perencanaan masyarakat dan ketahanan terhadap bencana.
43 peserta dari berbagai tingkat pemerintahan Kanada, praktisi senior, pembuat kebijakan, akademisi, anggota masyarakat dan berbagai lembaga praktisi diperiksa dan alat/tools ketahanan terhadap bencana yang ada, kemudian diidentifikasi kemungkinan dan kendala partisipasi masyarakat dalam perencanaan ketahanan bencana. Ini menghasilkan kesimpulan bahwa partisipan pada lokakarya dapat membangun masyarakat tangguh tercatat lebih variatif, efektif dalam tools dan mampu dalam prosesnya pada masyarakat Canadian. Pesan utama adalah bahwa setiap keterlibatan dengan perencanaan ketahanan bencana meningkatkan ketahanan masyarakat. Masyarakat harus didorong untuk menggunakan alat atau proses yang tepat, daripada berjuang untuk menemukan yang sempurna.
{tab Disaster Risk Management |red}
Reportase oleh Madelina Ariani
Sesi mengenai pengurangan risiko bencana ini memang menjadi topik yang begitu hangat dibicarakan. Sesuai dengan tema WCDEM kali ini yang juga berupaya mengurangi dampak resiko bencana dengan peningkatan ketahanan dan kapasitas. Kali ini, ruangan auditorium 2 CTICC hampir penuh dengan peserta yang ingin mendengarkan penjelasan dari sembilan presenter. Chair sesi ini adalah Graeme McColl dan Hillarie Cranmer. Graeme pernah bekunjung ke Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM pada acara Seminar Internasional Manajemen Bencana Kesehatan dalam rangkaian peringatan 10 tahun tsunami di Yogyakarta.
Seluruh penelitian yang dipresentasikan kali ini menarik. Banyak metode, alat, wawasan, dan isu yang diangkat secara ilmiah oleh para peneliti yang semua bertujuan untuk mengurangi risiko bencana. Presenter pertama memaparkan penelitian yang menarik tentang bagaimana mengelola aset yang dimiliki daerah, fasilitas kesehatan dan masyarakat sehingga kerugian akibat bencana dapat dihindari atau tidak begitu merugikan. Namun, pesan penting disampaikan di akhir penelitian Ronald Bownes, Kanada ini adalah bagaimana aplikasi ini dapat dimengerti dan digunakan oleh masyarakat, sehingga dari awal aplikasi ini sudah melibatkan masyarakat.
Ada juga yang melihat pengurangan risiko bencana dari sisi komunikasi antara penyelamat denga korban. Terutama di tempat layanan umum, maka Jonathan Groff dari Prancis memberikan gambaran model yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat mengerti bagaimana mencari penyelamatan diri dan penyelamat juga dapat mengetahui dimana korbannya.
Masih dengan tools dan aplikasi, Ahmadreza Djalali dari Italy memaparkan mengenai tools untuk mengukur kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi ancaman bencana. Djalali mengatakan bahwa tools ini memang tidak mudah dilakukan namun lebih memudahkan daripada tools lainnya yang sudah ada. Hasil pengukuran akan di-konvert menjadi tingkatan level, rendah, sedang, dan tinggi. Pengembangan tools ini tentunya harus disesuaikan kembali dengan daerah yang mengadopsinya.
Berbeda dengan tiga pembicara di atas, kali ini Nidaa Bajow dari Saudi Arabia mengangkat mengenai kesiapsiagaan dari pembangunan kurikulum kodokteran bencana di perguruan tinggi di Arab. Ternyata, tantangan pembangunan kurikulum bencana kesehatan dan kedokteran bencana tidaklah mudah dan ini membutuhkan kesadaran yang tinggi dari berbagai pihak, misalnya kementerian pendidikan tinggi, kementerian kesehatan, dan universitas yang memiliki fakultas kedokteran dan kesehatan untuk bisa mengintegrasikan kurikulum bencana dalam perkuliahan. Hal ini juga terjadi di Indonesia.
Penelitian lainnya yang dipresentasikan ada yang berupa pengalaman, laporan kegiatan, dan integrative review. Ada yang menarik perhatian reporter yakni mengenai pembangunan kesiapsiagaan bencana kesehatan dengan membangun disaster medicine team di China oleh Prof. Zhongmin Liu dari Chine of Society on Disaster Medicine. Sistem mulai dibangun sejak 2011 dan mereka rutin mengadakan latihan dan kongres. Jika dibandingkan dengan perkembangan bencana kedokteran di Indonesia, negara kita tidak lebih buruk dari ini, bahkan lebih dulu ada.
{tab Environmental Challenges |blue}
Reporter: Oktomi Wijaya
Pembicara kedua adalah Soo Hyun Park dari Samsung Medical Center yang mempresentasikan tentang tren bencana alam di Korea Selatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendemonstrasikan kejadian bencana alam di Korea Selatan. Dari laporan pemerintah yang diambil dari tahun 1985 sampai tahun 2012 bahwa kejadian bencana alam yang terjadi di Korea Selatan didominasi oleh kejadian bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim seperti topan.
Pembicara ketiga adalah Marie D.B Fouche dari Amerika Serikat yang mempresentasikan tentang Feasibility of a Predictive Multi-Sector Cholera Emergency Preparedness and Control Tool for Haiti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan tool untuk memprediksi kejadian wabah kolera di Haiti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kebanyakan kasus bahwa kejadian kematian akibat kolera banyak terjadi di slum area. Dengan adanya indeks kerentanan masyarakat, maka dapat dipetakan daerah-daerah yang berisiko sehingga dapat dilakukan intervensi sebelum, saat dan sesudah terjadi wabah kolera.
Pembicara keempat adalah Dr. Daniel Martinez Garcia dari Spanyol yang mempresentasikan tentang ClimateChange, Disasters and their impact on Children Health. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi resiko kesehatan langsung dan tidak langsung pada anak-anak akibat perubahan iklim dan bencana. Dari systematic review diperoleh bahwa hampir 95 persen kejadian kematian pada anak akibat bencana terkait perubahan iklim terjadi pada Negara dengan pendapatan rendah dan menengah.
Pembicara kelima adalah Kevin M ryan dari Boston, USA yang mempresentasikan tentang Noise Pollution, Do We Need a Solution? An Analysis of Noise in Cardiac Care Unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan pada tiga tempat yang berbeda di CCU. Selama satu bulan alat pencatat kebisingan dipasang di tiga lokasi yang berbeda di CCU. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada ruangan 1 dekat pintu masuk tingkat kebisingan masih di bawah ambang batas, sementara di Nurse station level bising sudah melebihi ambang batas yang direkomendasikan oleh WHO. Perlu dilakukan usaha untuk menurunkan level kebisingan dan memeriksa tingkat kenyamanan pasien di CCU.
Pembicara keenam adalah Morgan C. Broccoli dari John Hopkins University yang mempresentasikan tentang An Analysis of Patient Arrivals in an Academic Emergency Department in Baltimore, Maryland, USA, during the Heat Wave of July 2012. Di bulan Juli, selama 12 hari Kota Baltimore mengalami gelombang panas dengan suhu 90-104 derjat Fahrenheit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak kunjungan pada ruang gawat darurat terkait dengan kejadian gelombang panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama periode studi dari 2008-2013 jumlah kunjungan 91.759. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang signifikan jumlah kunjungan pada emergency department dengan kejadian gelombang panas.
Pembicara ketujuh adalah Matthew D Tyler dari Boston University yang mempresentasikan tentang A Systematic Review of The Literature on The Epidemiology of Drowning Injuries in Low and Middle Income Countries. Tujuan penelitian adalah untuk melihat kejadian epidemiologi tenggelam pada negara dengan pendapatan kecil dan menengah. Hasil systematical review ini menunjukkan bahwa kejadian tenggelam banyak terjadi di Asia dan Afrika. Masih tingginya angka kejadian tenggelam memerlukan usaha pencegahan seperti latihan renang dan training sea survival.
Pembicara kedelapan adalah Josep Mcisaac dari University Connectitut: Combining State and Private Resources to Develop Medical Resiliency Through Immersive Simulation. Hasil penelitian ini untuk mengetahui peningkatan skill personil medis untuk menghadapi bencana melalui pelatihan yang dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua mahasiswa berhasil melakukan semua prosedur pada saat simulasi. Mahasiswa mampu dengan baik melakukan triase pada saat simulasi dan dasar operasi. Kombinasi kerjasama ini terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan personil medis dalam menghadapi situasi darurat.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
22 April, Cape Town, South Africa
{tab Mass Gathering |orange align_justify}
Reporter: Bella Donna
Dok. PKMK: Sesi oral presentation dengan topic Mass Gathering
Sesi kali ini membahas mengenai situasi gawat darurat yang sering terjadi pada pertemuan-pertemuan massa yang sering terjadi di berbagai negara. Bahwa berdasarkan Guideline dari WHO mengenai bahaya penyakit menular dan tanggap darurat untuk perencanaan dalam pertemuan massa. Perencanaan dan persiapan sistem kesehatan masyarakat dan layanan untuk mengelola pertemuan massa adalah prosedur yang kompleks: penilaian risiko awal dan peningkatan sistem sangat penting untuk mengidentifikasi risiko kesehatan masyarakat yang potensial, baik alam dan buatan manusia dan untuk mencegah, meminimalkan dan menanggapi insiden kesehatan masyarakat. Dokumen dari WHO ini adalah tujuan utama dari manajemen kesehatan public terutama dalam even pada sebuah Negara yang sedang mengadakan kegiatan besar tersebut, serta pembuat kebijakan dan pembuat perencanaan.
Selain bidang kesehatan, ada banyak orang lain yang terlibat dalam memberikan kontribusi bagi dampak kesehatan di pertemuan massa, data ini berguna, termasuk untuk promotor even dan manajer, layanan darurat pribadi, badan pemerintahan, dan organisasi atau individu yang berkontribusi pada organisasi pengumpulan massa.
Perbaharuan dokumen ini mencerminkan pergeseran dalam pengetahuan, pemahaman dan pendekatan dan telah ditulis oleh kader ahli dunia. Indonesia sendiri juga sering kali mengadakan acara pagelaran music maupun budaya-budaya di tiap propinsi, dan kegiatan ini cukup membuat banyak masyarakat yang hadir. Bukan hanya acara kegiatan tetapi untuk masyarakat yang akan haji yang didampingi oleh tim kesehatan, sangat penting bagi tim untuk memahami situasi pertemuan massa ini, sehingga untuk Indonesia perlu segera dilakukan kebijakan maupun guideline untuk pertemuan masssa yang terjadi di Indonesia.
Sesi ini dimoderatori langsung oleh pakar mass gathering yang juga menjabat sebagai president WADEM, Paul Arbon dari Australia. Beruntung sekali, perwakilan dari Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM, Madeline Ariani mendapat kesempatan menjadi co-chair bersama dengan Paul Arbon. Ke depan, mass gathering ini juga akan menjadi bahasan diskusi oleh oleh kami.
{tab Hospital and Health System |green }
Reporter: Madelina Ariani
Berbicara mengenai rumah sakit dan bencana sudah barang tentu akan terkait dengan system kesehatan yang terbangun. Karena penanganan korban bencana ada yang pre rumah sakit dan yang di rumah sakit sendiri. Kita akan menemukan banyak pengembangan system kesehatan di dalam bidang ini, misalnya bagaimana dengan system rujukan, bagaimana dengan system perpindahan pasien dari satu dokter ke doketar yang lain, juga bagaimana sistem penilaian penyelamatan korban. Di dalam sesi oral presentasi di hari kedua WCDEM kali, kita akan sama-sama menyimak paparan hasil penelitian dan studi yang dilakukan oleh 9 peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan ruma sakit dunia.
Sesi orang presentasi ini di moderator oleh Jerry Overton. Jerry yang juga menjabat chief financial officer WADEM dari United States. Dalam kesempatan ini, Jerry juga didampingi oleh Johan von Schreeb sebagai co-chair. Ruangan kecil yang kira-kira mampu menampung 60 peserta ini hampir terisi penuh. Tepat pukul setengah dua siang, sesi ini dimulai oleh Jerry.
Baru dihari kedua ini dibuka sesi parallel mengenai rumah sakit dan sistem kesehatan. 9 peneltian yang dipaparkan hari ini semuanya menarik perhatian. Ada yang mengangkat isu mengenai kepemimpinan dan kegawatdaruratan. Dan ini memang masalah dalam penanganan kegawatdaruratan bencana biasanya, siapa yang memimpin dan siapa yang melakukan apa. Lev Zhurasky dari New Zealand menceritakan mengenai krisis kepempimpinan di ruangan ICU pada saat gempa Christchurch. Melalui studi kualitatifnya dia menunjukka bahwa pemipin bisa datang dari status informal, dalam artian bisa saja dari dokter ICU meskipun bukan kepala, karena hasil wawancara menunjukkan yang factor keahlian dan pengaruh ke anggotanya.
Menarik lagi penelitian dari Bachar Nizar Halimeh dari rumah sakit King Faisal, Saudi Arabia. Isu yang diangkatnya adalah mengenai pengurangan risko perpindahan pasien antar dokter pada saat situasi gawat darurat di UGD. Aspek komunikasi dan disposisi yang baik akan sangat menentukan proses pemindahan pasien ini. Penelitian ini dilakukan selama enam minggu dan hampir mengamati pasien hingga 1000 lebih dan kasus pemindahan sekitar 200 pasien. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan pre dan post kepada dokter yang dipapar dengan Standardize Physician Handover Tool. Hasilnya terjadi peningkatakan pemahaman dan praktik.