Outlook Manajemen Bencana di Tahun 2015
Outlook Manajemen Bencana di Tahun 2015
Bagaimana Pengembangan Manajemen Bencana dalam Penguatan Sektor Kesehatan Menuju Daerah Tangguh Bencana?
Latar Belakang : Posisi geografis dan geologis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia (Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia) serta berada pada ring of fire menyebabkan wilayah Indonesia berpotensi terhadap ancaman bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api. Selain itu Indonesia sebagai negara kepulauan di daerah tropis menjadi rawan terhadap bencana akibat dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, longsor, dan penyakit. Data BNPB selama tahun 2014, 99 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi. Selama tahun 2014, puting beliung adalah jenis bencana paling banyak terjadi dengan 496 kejadian, kemudian banjir (458), dan longsor (413). Dalam 3 tahun terakhir bencana puting beliung telah menyebabkan 57 korban jiwa meninggal, 10.707 jiwa mengungsi, dan lebih dari 23.000 rumah rusak. Ancamannya makin meningkat baik di perkotaan dan perdesaan. Longsor adalah bencana yang paling mematikan selama 2014. Ada 343 orang meninggal dan hilang akibat longsor. Terakhir, longsor di Banjarnegara menyebabkan 99 jiwa meninggal dan 11 hilang merupakan bencana dengan korban terbanyak.
Kaleidoskop 2014: Berbagai macam kegiatan dalam manajemen bencana telah dilaksanakan selama tahun 2014, diantaranya seminar dan pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu upaya kesiapsiagaan yang telah dilaksanakan adalah rapat antara Kemenkes, Universitas, dan Dinas Kesehatan untuk merumuskan perpres terkait safe health facility. Beberapa kegiatan manajemen bencana di sektor kesehatan selama tahun 2014 telah dilaksanakan oleh divisi manajemen bencana PKMK FK UGM bersama dengan Pokja Bencana FK UGM seperti pengembangan hospital disaster plan di beberapa rumah sakit, pengembangan kurikulum bencana di FK, S2 IKM, PSIK dan S2 MMB UGM. Kegiatan divisi manajemen bencana PKMK UGM lebih lengkap dapat dilihat di kaleidoskop 2014.
Tantangan dan Peluang: Dalam situasi darurat bencana, sektor kesehatan memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan jiwa manusia. Agar sektor kesehatan dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka diperlukan adanya upaya manajemen bencana yang baik di sektor kesehatan. Namun dalam pelaksanaannya, ketika bencana terjadi, koordinasi diantara sektor kesehatan belum berjalan dengan maksimal. Selain itu, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas belum siap menghadapi bencana. Masih banyak rumah sakit yang belum memiliki rencana penanggulangan bencana (hospital disaster plan). Dari ribuan rumah sakit yang ada di Indonesia, masih sedikit sekali rumah sakit yang sudah memiliki hospital disaster plan. Kemudian, masih banyak petugas kesehatan yang belum memiliki skill dan kompetensi yang memadai untuk bencana. Disamping itu, perlu adanya upaya pengarusutamaan manajemen bencana di sektor kesehatan ke dalam pendidikan formal. Masih sedikit universitas di Indonesia yang mengembangkan manajemen bencana dalam pendidikan formal S1, S2 maupun S3.
Berdasarkan tantangan yang ada, beberapa peluang di tahun 2015 yang dapat dikembangkan, antara lain:
- Pengembangan rencana penanggulangan bencana daerah (regional disaster plan) dan rencana penanggulangan bencana sektor kesehatan dimulai dari puskesmas dan rumah sakit. Hal ini sesuai dengan post 2015 Hyogo framework ; Penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah lokal. Dan juga sesuai dengan nawa cita ke 3 yaitu membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
- Pemerintah bersama-sama dengan universitas perlu mengembangkan penelitian dan membentuk jejaring terkait pelatihan sesuai dengan bencana yang ada di masing-masing daerah.
- Peningkatan skill dan kompetensi petugas kesehatan melalui pelatihan teknis emergency.
- Pengembangan manajemen bencana ke dalam sektor pendidikan formal (Fakultas Kedokteran, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Keperawatan, Stikes).
Sasaran: Peluang kerjasama dapat dilakukan dengan :
- WHO, USAID, World Bank, BNPB, BPBD, PPKK Kemenkes, Dinas Kesehatan
- Rumah Sakit
- Universitas (dalam dan luar negeri) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Tim Penyusun:
- Dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD
- Dr. Handoyo Pramusinto, Sp.S
- Dr. Bella Donna, M.Kes
- Dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
- Sutono, S.Kp, M.Sc
- Sri Setyarini, S.Kp, M.Kes
- Oktomi Wijaya, SKM
- Madelina Ariani, SKM
Reportase Penutupan Seminar International on Disaster Health Management

Seminar manajemen bencana: peringatan 10 tahun Tsunami oleh Pokja Bencana FK UGM dan PKMK FK UGM ditutup oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK sekalu penasihat Pokja Bencana FK UGM. Beliau bersyukur seminar ini dapat terselenggara dengan baik dan dihadiri oleh peserta yang antusian mengenai pengembangan manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia. Harapannya kita dapat kembali bertemu untuk berdiskusi mengenai pengembangan manajemen bencana.
Dikesempatan ini, beliau juga mengumumkan untuk hasil presentasi paper terbaik dan presentasi poster terbaik. Pemenang presentasi paper terbaik didapat oleh dr. Angela dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sedangkan, pemenang presentasi poster terbaik didapat oleh Nita, S.Far dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.
Demikian pembaca website bencana sekalian, semoga kita dapat berjumpa pada seminar lainnya yang diselenggarakan oleh Pokja Bencana dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.
Reportase Sesi 4 Hari 2: Development of Disaster Surveilanss

Sesi 4 yang menjadi sesi terakhir di seminar ini membahas sebuah isu yang hangat, yakni mengenai surveilans penyakit pada saat bencana. Bagaimana hasil dari pengalaman di Aceh, apa yang telah dikembangkan hingga saat ini di Indonesia. Sesi ini menghadirkan tiga pembicara dari latar belakang yang berbeda untuk membahas mengenai surveilans kebencanaan di Indonesia. Pembicara pertama dari Dinas Kesehatan Aceh yang akan membahas mengenai pengembangan surveilans penyakit selama dan pasca kejadian Tsunami Aceh hingga saat ini, pembicara kedua dari WHO Indonesia yang juga membantu surveilans di Indonesia, dan yang ketiga dari pendidikan yang membahas mengenai konsep surveilans yang berkaitan dengan kejadian bencana.
dr. M. Yani menceritakan mengenai kegiatan Dinas Kesehatan Aceh yang menangani mengenai surveilans ini. Ada 3 sesi yang mengelola surveilans ini untuk seluruh kabupaten kota yang ada di Aceh dimana 12 kabupaten kota diantaranya mengalami ancaman bencana. Pada saat bencana yang lalu, penyakit yang banyak adalah diare, penyakit kulit, dan Ispa. Ada hal lain yang perlu diperhatikan dan sulit terpantau dari sistem surveilans ini, yakni mengenai kesehatan jiwa masyarakat.
Bersambut dengan paparan dari dr. Nirmal dari divisi kegawatdaruratan dan kemuanusiaan WHO Indonesia. Surveilans bencana bukan sesuatu yang baru harusnya, karena surveilans dilakuakn pada sebelum, saat, dan pasca bencana. Mengerjakan surveilans artinya kita bekerja pencegahan, maka untuk kejadian bencana kita membutuhkan sekali data surveilans pada saat sebelum bencana, untuk memetakan masalah kebutuhan makan dan minuman, sanitasi, dan penyakit yang kemungkinan terjadi.
Paparan ketiga begitu menarik dari dr. Rossi Sanusi, beliau menyampaikan sebuah konsep sistem surveilans yang baik dapat membantu penanggulangan penyakit pada saat bencana. Siklus surveilan jika dijalankan dengan benar maka memudahkan sekali untuk membuat pemetaan, meramalkan, bahkan menentukan kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh korban bencana. Point yang beliau sampaikan bahwa kembangkan surveilans respon pada saat tidak terjadi bencana dan adaptasi sistem ini juga pada saat terjadi bencana, jadi tidak ada perubahan apapun.
Diskusi:
Pertanyaan yang dibuka pada sesi ini juga menarik sekali. Ada pertanyaan mengenai dimana peran universitas dalam melakukan surveilans respon, dan hal ini ditujukan kepada dr. Yani dari Aceh. Tanggapan dr. Yani, memang belum banyak perannya, selama ini universitas lebih banyak dalam hal pemanfaatan data surveilans untuk penelitian.
Pertanyaan lainnya mengenai pengembangan surveilans di Indonesia, dan hal ini ditanggapi oleh dr. Nirmal bahwa pengembangan surveilans di Indonesia sudah cukup baik, kita hanya perlu menjaga komitmen dan penamfaatan data surveilans untuk keperluan lainnya, misalnya pada saat bencana.
Session 3 – The Role of Universities on Disaster Health Management in Indonesia

Hari kedua, seminar bertempat di ruang Senat lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM. seminar hari kedua ini disisipkan satu sesi sebelum sesi 3 dimulai. Dimoderatori langsung oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD, pembicara sesi 2 hari 1, Prof. Graeme dan dr. Carlos. Kedua pembicara ini membahas mengenai manajemen bencana sektor kesehatan di negara masing-masing. Prof. Graeme khusus membicarakan mengenai framework dan bagan organisasi penanggulangan bencana di bawah kementerian kesehatan New Zealand. Sedangkan, dr. Carlos lebih membicarakan mengenai konsep manajemen bencana dan definisi dari bencana itu sendiri. Point yang tertangkap adalah suatu kejadian dikatakan bencana jika peristiwa tersebut membutuhkan bantuan dari luar.
Sesi 3 kali ini mengundang pembicara perwakilan-perwakilan dari universitas di Indonesia yang pernah terlibat dalam penanggulangan bencana tsunami Aceh. Semua fakultas kedokteran dari Universitas Brawijaya, Universitas Hasanudin, dan Universitas Gadjah Mada. Melibatkan juga, dr. M. Yani yang sekarang merupakan mantan Pembantu Dekan 1 Universitas Syiah Kuala, Aceh.
Dr. Ali Haedar, Sp.EM, sebagai pembicara pertama menyampaikan pengalaman dan hasil penelitiannya mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dengan sangat apik. Beliau menekankan bahwa pengiriman tim bantuan ke daerah bencana tidak selalu melakukan kegiatan medis, tetapi juga penilaian atau assessment dan tidak selalu datang pada saat terjadi bencana. Seperti pengalaman beliau dan tim Brawijaya yang pernah berangkat ke Bencana Wasior justru hari ke 7 setelah kejadian. Hal ini terjadi karena yang dibutuhkan daerah adalah berdirinya rumah sakit lapangan.
Pembicara kedua, Prof. DR. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS yang saat ini merupakan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Setelah berbagai kejadian bencana yang terjadi di Indonesia, Makasar sendiri juga mulai mengambil pelajaran dimana sudah mulai dikembangkan adanya manajemen bencana bagi mahasiswa s1. Beliau juga mengomentari mengenai masalah perencanaan yang sulit apalagi terkait tentang pembiayaan pra bencana. Pada tahun 2000 pernah diadakan kegiatan yang menghasilkan Deklarasi Makasar, jika memang deklarasi ini dijalankan, sesungguhnya manajemen becana itu sudah bisa baik. Namun, alur birokrasi perlu dikompromikan sebelumnya dengan kondisi bencana yang tidak terduga dan sangat membutuhkan pelatihan dan perencaaan pada saat sebelum terjadi bencana.
Bersambut dengan bahasan yang dibawakan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS sebagai dokter di RS Sardjito dan juga ketua Pokja Bencana FK UGM, beliau menyampaikan mengenai peran universitas seharusnya dimana dalam fase-fase bencana tersebut. Pengalaman dan pengiriman tim sudah banyak dilakukan oleh universitas jika terjadi becana tetapi lebih dari itu apa yang bisa dilakukan oleh universitas dengan segala sumber dayanya pada saar kesiapsiagaan misalnya. Universitas sangat dibutuhkan perannya dalam rangka kajian dan rumusain inovasi untuk manajemen bencana di Indonesia.
Terakhir, dr. M. Yani sebagai narasumber dari Aceh menutup sesi ini dengan paparannya. Tidak banyak foto kejadian di Aceh silam yang ditampilkan beliau, karena pasti sudah banyak di media dan dimiliki oleh rakan sekalian ujar beliau. Pada saat kejadian bencana Aceh Universitas sempat kollaps hingga sekian lama, mau mengerahkan mahasiswa untuk membantu korban bencana tetapi juga ada sanak keluarga mahasiswa yang menjadi korban. Dilema bagi kami pada saat itu. Bahkan pada saat itu kami mengirimkan residen dan mahasiswa koas kami ke luar daearh Aceh agar pendidikan tetap berjalan dan tidak terganggu dengan kejadian bencana tsunami pada saat itu. Kalau peran universitas sendiri sampai saat ini terlibat pada tim bantuan dan psikososial. Saat ini telah ada magister manajemen bencana di Aceh.
Diskusi
Diskusi pada sesi ini berjalan dengan sangat baik dan dua arah. Penanya menanyakan juga mengenai pengalaman Universitas Brawijaya dengan kejadian Meletusnya Gunung Kelud awal tahun lalu.
Begitu juga dengan masalah mengenai pengiriman tim bencana Indonesia keluar negeri, terkadang tim kita tidak bisa masuk karena masalah birokrasi.
Dibahas juga mengenai pendanaan pengiriman tim ke daerah bencana. Biasanya hal sulit yang dilaukan adalah pada saat pelaporan karena SPJ yang disyaratkan sulit dipenuhi di daerah bencana.
Diskusi sesi ini ditutup dengan pemberian plakat pada semua pembicara, yang diwakilkan oleh Dekanat Fakultas Kedokteran UGM, dr. Endro Basuki.
Reportase Sesi 1: History of Disaster Management in Health Sector

Sesi pertama ditujukan untuk memaparkan mengenai sejarah manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia. Sesi ini langsung dimoderatori oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS dan juga menghadirkan pemateri yang memiliki banyak keterlibatan dalam penanggulangan bencana di Indonesia.
Pemateri pertama adalah dr. Hendro Wartatmo, Sp. BD yang merupakan penasihat dari Pokja Bencana FK UGM dan pada masa penanggulangan bencana Tsunami Aceh terlibat langsung bersama tim bencana dari FK UGM. Beliau membagi pengalamannya saat memberangkatkan tim dari FK UGM ke Meulaboh tahun 2004. Berikut tiga point yang menjadi sorotan beliau dalam manajemen bencana sektor kesehatan, pertama, akomodasi selama masa tanggap darurat, dr. Hendro meminjam pembiayaan ke kepala bagian di FK UGM. Kemudian ia menelpon Depkes apakah relawan bisa memasuki wilayah Aceh? Melalui koordinasi ini, terungkaplah bahwa masih banyak rapat atau briefing dari pemerintah yang menghambat masa tanggap darurat ini. Pengalaman menarik yaitu untuk tim yang akan ke Meulaboh, dr. Hendro sampai menolak relawan karena pendaftar membludak. Kedua, Hal yang pertama dilakukan tim relawan ini ialah masuk ke RS Meulaboh untuk memfungsikan kembali karena functiional collapse. Faktanya, seluruh proses yang dilakukan selama di Meulaboh ialah manajemen bencana yang selama ini ada di buku. Referensi lain untuk menyimak manajemen bencana dapat dibuka melalui wadem.org. Ketiga, Pasca pemberangkatan tim relawan FK UGM ke Meulaboh, dari internal ada ajakan untuk membuat Pokja Bencana pada 2006. Sejalan dengan pembentukan itu, terjadi gempa Jogja. Akhirnya, gempa ini menjadi bencana yang dikelola dengan baik oleh Pokja Bencana dari segi manajemennya.

Pemateri kedua adalah Prof. Dr. Sudibyakto selaku penasihat BNPB dan juga sebagai ketua prodi Magister Manajemen Bencana UGM. Isu terpenting dalam manajemen bencana akhir-akhir ini ialah disaster risk management. Bagaimana mengurangi resiko, terlebih ada prediksi dari para ahli, dalam 30 tahun ke depan akan terjadi gempa dengan kekuatan 8.9 SR. Dua hal terpenting yang harus dikembangkan ialah SOP dan contigency planning.Selain itu, harus ada trust kepercayaan antar institusi, siapa yang menghitung program. Misalnya, BPBD dan BNPB sebagai muara, maka yang menghitung korban dan kebutuhan harus dari institusi yang lain.
Sehingga, harus ada framework untuk disaster risk reduction. Kasus kekinian yang dapat disimak, Banjarnegara rawan longsor, sehingga penataan ruang harus kuat. Policy development dan kebijakan lain harus diatur internasional, nasional dan lokal. memgkomunikasikan resiko penting, komunikasi ke masyarakat itu penting.
Pemateri ketiga adalah dr. Achmad Yurianto hadir sebagai perwakilan dari Pusat Penanggulangan Krisis Kementrian Kesehatan. Beliau juga merupakan kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kemenkes. Kali ini, dr. Achmad memaparkan UU No 24 Tahun 2007 yang menyebutkan pemerintah pusat dan daerah merupakan penanggung jawab dalam penanganan bencana. Pertanggung jawaban ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan kedua belah pihak dalam pengurangan resiko yang harus dipadukan dengan program pembangunan. Salah satunya, mereka memiliki dana antisipasi atau cash in hand.
Pihak yang pertama merespon jika terjadi bencana ialah masyarakat. Maka, pemberdayaan masayarakat sangat penting untuk dilakukan. Pemberdayaan ini untuk mengelola bagaimana langkah yang tepat untuk mengantisipasi, menghadapi dan recovery pasca bencana. Perguruan tinggi dapat berperan besar dalam ranah ini melalui beragam kajian. Menurut pengalaman, ibukota akan selalu 40% wilayahnya banjir karena jumlah itu dihuni pendatang yang mungkin kurang aktif dalam penanggulangan banjir.
Beliau juga sangat menekankan mengenai peran universitas dalam hal kebencanaan. Tidak bisa jika semuanya diserahkan pada pemerintah. Univresitas harus terlibat terutama dari hasil penelitian yang dilakukan.
Sesi Diskusi

Kedua penanya antusias pada sesi ini dan berdikusi hangat dengan para pembicara, pertama, Husaini dari FK Unlam Banjarmasin, selama ini bencana menjadi pencitraan parpol dan Pemda. Bagaimana kita mengatasi hal ini?. Kedua, Al Azim dari KMPK menyatakan ada pergeseran paradigma, dari mitigasi ke pengurangan bencana. Kita tidak belajar dari pengalaman. Jika bencana itu sudah sering terjadi, pengurangan ini bisa dilakukan lebih awal. Jawaban oleh ketiga pembicara, menegaskan PJ pengelola bencana bukan hanya koordinator, namun ada hal lain yaitu pengelolaan manajemen bencana.
Sesi selanjutnya dilanjutkan dari pertanyaan saudara Hakim (Fakultas Psikologi dan Penanganan Bencana UIN Sunan Ampel) menambahkan pendekatan lingkungan untuk pengurangan bencana, masukan pengetahuan dan strategi dari ahli pengelolaan bencana ke pemerintah sudah dilakukan tapi tidak digunakan pemerintah. Bagaimana strategi agar suara PT digunakan pemerintah? Kasusnya, lumpur Lapindo hanya penggantian fisik, tanpa megindahkan nilai sejarah masayarakat disitu.
Pertanyaan di atas ditanggapi langsung oleh dr. Hendro. dr. Hendro menyampaikan euphoria penanganan bencana, orang antusias saat respon. Makin banyak publikasi, masa banyak massa. Preparedness jarang disentuh publikasi. Ada masalah lain yaitu, biokrasi dan otorisasi pengeluaran uang. BPBD tidak ada garis koordinasi/ komando- tidak segaris dengan BN[B. Ancaman lain yang ada yaitu korupsi dalam bencana yaitu secondary disaster, sementara, problem utama ialah koordinasi.
Selebihnya, secara bergantian pembicara menyampaikan pendapatnya, pertama, Prof. Sudibyakto berdasarkan pengalaman beliau, 50 juta/jam minimal 4 jam untuk helikopter air kebakaran hutan sampai terjadi kemarau. Menurut saya, perlu program preparedness yang lebih serius.
dr. Achmad menyatakan Pusat Penanggulangan Krisis Kemkes berkolaborasi dengan WHO dalam hal pengurangan resiko melalui riset dan pelatihan. Ada anggaran namun tidak ada yang menggunakan. Kemkes telah mendorong Menristek untuk mengajak ahli mengembangan riset agar dana dari WHO ini termanfaatkan.
Pembukaan 10 years Tsunami Aceh
Seminar International on Disaster Health Management
-
Memperingati 10 Tahun Kejadian Bencana Aceh:
Mengambil Pelajaran dan Stratgeti untuk Pengembangan Manajemen Bencana Sektor Kesehatan di Indonesia
University Club dan Senat KPTU FK UGM
17-18 Desember 2014
Yogyakarta, Indonesia

Dilanjutkan dengan penampilan tarian Saman yang merupakan tarian tradisional masyarakat Aceh. Tarian Saman yang juga dikenal dengan tarian 1000 tangan ini dibawakan oleh 11 orang mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM. Harapannya tarian ini dapat mewakilkan kegembiraan masyarakat Aceh sekarang yang dapat bangkit dari duka tsunami 10 tahun silam.
Sambutan pertama disampaikan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM. Singkat dan padat apa yang beliau sampaikan, yakni mengenai pentingnya sebuah kejadian untuk diambil sebagai sebuah pelajaran dan kita disini semua berkumpul untuk membahas, mendiskusikan, dan bersyukur jika hal ini dapat menjadi titik untuk menyusun strategi ke depannya.
Sambutan selanjutnya, disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.Onk. Beliau menyambut hangat kedatangan semua peserta dan pembicara baik dari dalam dan luar negeri yang terlibat dalam kegiatan ini. Tujuan kita disini semuanya sama, yakni duduk dan berdiskusi untuk manajemen bencana yang lebih baik ke depannya, khususnya di sektor kesehatan. UGM memang pernah terlibat selama kurang lebih 4 tahun dalam penanggulangan bencana di Aceh lalu dan ini bisa dijadikan dasar pengalaman yang baik untuk menyusun strategi ke depannya, misalnya mengenai peran universitas. Harapannya, seminar yang diselenggarakan oleh Pokja Bencana FK UGM dan PKMK ini dapat bermanfaat sebagai bahan rekomendasi manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia.
Secara simbolis, pembukaan dibuka dengan pembunyian sirine peringatan tsunami oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM.
Sebagai keynote speaker dalam seminar ini adalah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., Ph.D, beliau juga merupakan pemimpin proyek penanggulangan bencana Tsunami Aceh selama empat tahun (2004-2008). Beliau menyampaikan mengenai kronologi bantuan UGM untuk tsunami Aceh silam serta pengembangan apa yang dilakukan setelah bantuan tersebut. Saat ini misalnya, FK UGM telah mengembangkan kurikulum bencana untuk mahasiswa kesehatan (kedokteran umum dan keperawatan), mahasiswa S2 kesehatan masyarakat, serta membantu mengembangkan perkuliahan manajemen bencana kesehatan pada sekolah manajemen bencana UGM. Melalui seminar ini beliau berharap kita semua dapat berfikir untuk merumusakan mengenai manajemen bencana sektor kesehatan yang lebih baik ke depannya.
Acara selanjutnya adalah istirahat pagi, peserta juga disuguhkan dengan pemutaran dokumentasi kegiatan Fakultas Kedokteran UGM dan Pokja Bencana dalam penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia.

Dilanjutkan dengan penampilan tarian Saman yang merupakan tarian tradisional masyarakat Aceh. Tarian Saman yang juga dikenal dengan tarian 1000 tangan ini dibawakan oleh 11 orang mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM. Harapannya tarian ini dapat mewakilkan kegembiraan masyarakat Aceh sekarang yang dapat bangkit dari duka tsunami 10 tahun silam.
Sambutan pertama disampaikan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM. Singkat dan padat apa yang beliau sampaikan, yakni mengenai pentingnya sebuah kejadian untuk diambil sebagai sebuah pelajaran dan kita disini semua berkumpul untuk membahas, mendiskusikan, dan bersyukur jika hal ini dapat menjadi titik untuk menyusun strategi ke depannya.
Sambutan selanjutnya, disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.Onk. Beliau menyambut hangat kedatangan semua peserta dan pembicara baik dari dalam dan luar negeri yang terlibat dalam kegiatan ini. Tujuan kita disini semuanya sama, yakni duduk dan berdiskusi untuk manajemen bencana yang lebih baik ke depannya, khususnya di sektor kesehatan. UGM memang pernah terlibat selama kurang lebih 4 tahun dalam penanggulangan bencana di Aceh lalu dan ini bisa dijadikan dasar pengalaman yang baik untuk menyusun strategi ke depannya, misalnya mengenai peran universitas. Harapannya, seminar yang diselenggarakan oleh Pokja Bencana FK UGM dan PKMK ini dapat bermanfaat sebagai bahan rekomendasi manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia.
Secara simbolis, pembukaan dibuka dengan pembunyian sirine peringatan tsunami oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM.
Sebagai keynote speaker dalam seminar ini adalah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., Ph.D, beliau juga merupakan pemimpin proyek penanggulangan bencana Tsunami Aceh selama empat tahun (2004-2008). Beliau menyampaikan mengenai kronologi bantuan UGM untuk tsunami Aceh silam serta pengembangan apa yang dilakukan setelah bantuan tersebut. Saat ini misalnya, FK UGM telah mengembangkan kurikulum bencana untuk mahasiswa kesehatan (kedokteran umum dan keperawatan), mahasiswa S2 kesehatan masyarakat, serta membantu mengembangkan perkuliahan manajemen bencana kesehatan pada sekolah manajemen bencana UGM. Melalui seminar ini beliau berharap kita semua dapat berfikir untuk merumusakan mengenai manajemen bencana sektor kesehatan yang lebih baik ke depannya.
Acara selanjutnya adalah istirahat pagi, peserta juga disuguhkan dengan pemutaran dokumentasi kegiatan Fakultas Kedokteran UGM dan Pokja Bencana dalam penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia
Registration Form
Seminar Hospital Safety

Kerangka Acuan
Seminar Hospital Safety : Progress dan Tantangannya
Latar Belakang
Rumah sakit di Indonesia harusnya sudah berpikir tentang rencana kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana karena bencana bisa terjadi di mana saja, baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit, apalagi karena Indonesia berada di daerah yang rawan bencana. Biasanya yang terjadi pada saat bencana, Rumah Sakit sangat sibuk dan kacau terutama pada masa awal dimana banyak pasien yang harus ditangani, sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan. Padahal, harusnya Rumah sakit bisa menyediakan pelayanan kepada pasien dan melindungi staf, pengunjung dan masyarakat di sekitarnya serta menyelamatkan fasilitas Rumah Sakit.
Di samping itu, Rumah Sakit sering dihadapkan pada situasi dimana sumber daya yang terbatas pada saat bencana, padahal rumah sakit diharapkan dapat menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Oleh karena itu, rencana kesiapsiagaan rumah sakit perlu memastikan keamanan lingkungan rumah sakit dan tindakan yang perlu diambil untuk memastikan pelayanan kesehatan yang penting tetap tersedia. Tapi masih banyak Rumah Sakit yang memiliki rencana kesiapsiagaan yang terdokumentasi dan teruji, apalagi melibatkan masyarakat di sekitarnya untuk siap menghadapi bencana.
Dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh rumah sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan kemampuan tehnis medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan manejerial (Management Support). Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki system pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”.
Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.
Oleh karena itu, dalam rangka peringatan hari Pengurangan Risiko Bencana Sedunia dan hari Kesehatan Nasional dan mendukung kampanye yang digalakkan oleh United Nation –International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR), maka diadakan workshop yang membahas mengenai Hospital Safety, progress dan tantangan yang dihadapi ini sehingga diharapkan semakin banyak Rumah Sakit siap menghadapi bencana.
Tujuan
- Memahami pentingnya rencana kesiapsiagaan Rumah Sakit dan pelibatan masyarakat sekitar RS
- Mengetahui progress rencana kesiapsiaagan Rumah Sakit dan kebijakan Kementrian Kesehatan
- Mengetahui tantangan yang sering dihadapi dalam menerapkan rencana kesiapsiagaan RS dan cara mengatasinya
- Mengetahui progress penerapan hospital safety dan tantangannya di rumah sakit
Peserta
Peserta yang diundang adalah Rumah Sakit dan Mahasiswa Kedokteran dan kesehatan
Waktu dan tempat pelaksanaan
Hari/ tanggal : Selasa, 28 Oktober 2014
T e m p a t : Ruang Teater Gedung perpustakaan lantai 2 FK UGM
Jadwal Acara
|
08.00 – 08.30 |
Registrasi |
|
08.30 – 09.00 |
Pembukaan |
|
Sesi 1 |
|
|
09.00 – 09.30 09.30 – 10.00 10.00 – 10.45 |
PPKK Kemenkes: Kebijakan Kemenkes tentang Pedoman Perencanaan Penyiagaan Bencana di Rumah Sakit (P3BRS) WHO: Hospital Safety Diskusi |
|
10.45 –11.00 |
Break |
|
Sesi 2 |
|
|
11.00 – 11.30 11.30 – 12.00 |
PERSI : hospital safety dalam akreditasi RS Diskusi |
|
12.00 -13.00 |
ISHOMA |
|
Sesi 3 |
|
|
13.00- 13. 20 13.20- 13.40 13.40 – 14.00 14.00- 14.45 |
Pengalaman rumah sakit di Yogyakarta FK UGM : progress status report on HDP implementation YEU : Tantangan hospital safety MDMC : Adaptasi hospital safety menjadi pengalaman penerapan hospital safety dalam rumah sakit Diskusi |
|
14.45 – 15.00 |
Penutup dan RTL berikutnya berupa workshop— November/Desember |
Penutup
Respon bencana yang baik membutuhkan persiapan yang baik dan kunci untuk siap menghadapi krisis adalah siap siaga. Karena rencana kesiapsiagaan adalah proses yang dinamis, rumah sakit harus mengkaji ulang, melatih dan menguji coba rencananya dan melibatkan masyarakat di sekitarnya. Kekacauan memang tidak bisa dihindari pada menit-menit pertama tetapi dengan dari adanya rencana kesiapsiagaan diharapkan dapat meningkatkan ketahanan rumah sakit dan rumah sakit bisa segera beroperasi secepatnya. Tantangan kita bersama untuk mendorong rumah sakit/insitusi kesehatan agar siap menghadapi bencana.
Website Manajemen
|
Website ini didedikasikan untuk para manajer rumahsakit pemerintah serta swasta. Website ini disusun dalam kerangka pengembangan kepemimpinan manajer rumahsakit yang berfungsi sebagai pemimpin sebuah unit pelayanan yang tidak mencari untung atau mencari untung, namun mempunyai misi sosial yang kuat. Pengguna website ini diharapkan adalah Direksi RS pemerintah dan swasta, pemilik RS pemerintah dan swasta, pimpinan dan staf Puskesmas dengan rawat inap, dosen dan mahasiswa program pascasarjana manajemen rumahsakit, konsultan, manajemen rumahsakit, dan berbagai pihak yang terkait dengan manajemen rumahsakit. |
|
|
Website ini didedikasikan kepada Pimpinan dan staf Dinas Kesehatan Propinsi, Kabupaten, dan Kota serta Pimpinan dan staf Kementerian Kesehatan yang mempunyai tugas untuk mengelola sistem kesehatan, serta melakukan pengawasan pelayanan kesehatan. Pengguna lain yang diharapkan adalah pimpinan dan staf Puskesmas, mahasiswa fakultas kedokteran dan kesehatan masyarakat serta konsultan pelayanan kesehatan . Website ini disusun dengan fokus pengembangan kepemimpinan dan kompetensi manajemen bagi para pimpinan sektor kesehatan. Sebagai pemimpin sektor kesehatan yang bertugas menyusun kebijakan, diharapkan para pengguna website ini juga aktif dalam www.kebijakankesehatanindonesia.net. |
|
|
Website ini ditujukan untuk manajer sistem jaminan kesehatan yang tidak hanya harus mengelola dana besar untuk keperluan masyarakat sakit, namun juga harus memikirkan pemerataannya. Pengguna website yang diharapkan adalah: pengelola Badan Pengelola Jaminan Sosial, pengelola jaminan kesehatan daerah, pengelola lembaga asuransi kesehatan komersial, para mahasiswa dan dosen kebijakan dan manajemen kesehatan, konsultan serta para pemerhati. |
|
| Website ini dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan manajemen para pengelola lembaga pendidikan tinggi kedokteran dan kesehatan. Pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan konsep rantai nilai dalam perguruan tinggi yang mencakup proses pendidikan dan sistem pendukung yang diperlukan. Pengguna website yang diharapkan adalah: Dekanat FK, FK, FKM, Fakultas Keperawatan, Fakultas Gizi; Rektorat Institut dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan; Para Kepala Bagian; serta para Kepala Unit-Unit pendidikan. |


