Reportase Sesi 3 CCMAP

sesi3-1

International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in The Health Sector with Focus on Research, Policy and Action

sesi3-1

Sambil menikmati makan siang dan istirahat sholat, peserta diajak untuk melihat pameran ilmiah yang digelar di lobby auditorium FK UGM. Gambar di atas menunjukkan pengalaman-pengalaman FK UGM dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Selain itu, PKMK FK UGM juga menampilkan poster mengenai kurikulum kebencanaan untuk mahasiswa S1 dan S2 di FK UGM. Poster lainnya berupa Hospital Disaster Plan dan Regional Disaster Plan.

sesi3-2

Sebelum sesi 3 dimulai, Annika Siwertz dari kedutaan Swedia memberikan kenang-kenangan kepada UGM yang diwakili oleh Prof. Hari Kusnanto. Dalam pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak, mereka sama-sama mengucapkan terimakasih dan berharap kerjasama ini terus berlangsung ke depannya.

sesi3-3

Sesi ketiga membahas tentang eHealth sebagai strategi yang menjanjikan bagi sektor kesehatan. Sesi ini menghadirkan tiga pembicara yang akan membahas mengenai eHealth baik pengembangannya dan manfaatnya. Harapannya, peserta dapat memahami bahwa eHealth merupakan upaya mitigasi adaptasi bagi dampak perubahan iklim dan upaya pemerataan pelayanan kesehatan antardaerah.

Dr. Asa Holmner menjelaskan apa yang dimaksud dengan eHealth sebagai upaya penyebaran sumber daya dan pelayanan kesehatan melalui media elektronik. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam siklus kehidupan kita, transportasi adalah hal yang sering kita gunakan padahal itu merupakan penyebab tingginya emisi gas buang di udara. eHealth memberikan solusi untuk mengurangi dampak emisi gas melalui transportasi eletronik yang ditawarkan. Jika dikaitkan dengan bencana, maka penggunaan eHealth sangat bermanfaat dalam upaya pelayanan rujukan data korban.

Penerapan eHealth di Indonesia memberikan manfaat tersendiri untuk menghubungkan layanan kesehatan antarpulau. Namun, sekaligus hal tersebut menjadi tantangan, salah satunya adalah regulasi dan pemanfaatannya. Saat ini, pemanfaatan sistem informasi kesehatan terbanyak sebagai medical documentation dan masih rendah sebagai transfer data pasien antarrumah sakit atau layanan kesehatan. Justru, masing-masing layanan kesehatan memiliki sistem informasinya sendiri-sendiri, atau belum terintegrasi satu sama lain. Persepsi manajer layanan kesehatan terhadap telemedicine cukup tinggi tetapi kita dihadapkan pada banyak tantangan seperti, rendahnya kompetensi penggunaan teknologi Informasi, rendahnya kebijakan dan peraturan, terbatasnya infrastruktur, isu kebudayaan, dan biaya.

Sebagai salah satu tempat proyek penerapan eHealth adalah Kabupaten Gunung Kidul. Di kesempatan ini, drg. Widodo, MM sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul memaparkan mengenai electronic medical record. Tantangan yang dirasakan Kabupaten Gunung Kidul tidak jauh berbeda seperti yang disampaikan oleh dr. Lutfan Lazuardi seperti yang dirasakan oleh daerah-daerah lain di Indonesia, salah satunya adalah rendahnya kemampuan penggunaan IT.

sesi3-4

Reportase Sesi 4 CCMAP

sesi4

International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in The Health Sector with Focus on Research, Policy and Action

sesi4

Sesi keempat dimoderatori oleh Prof. Laksono Trisnantoro. Dalam sesi ini, moderator bersama dengan para narasumber membahas mengenai peningkatan, kesiapsiagaan, dan respon sistem kesehatan terkait pemanfaatan sistem informasi dalam menghadapi perubahan iklim. Tiga narasumber yang dihadirkan dari Swedia yang akan membahas pelayanan gawat darurat di wilayah terpencil, dari Ericson mengenai dampak IT pada pengembangan sosioekonomi, dan dari Dinas Kesehatan DIY, dr Arida Oetami, M.Kes mengenai prioritas provinsi dalam menghadapi perubahan iklim dan kesehatan.

Lena Kroik memulai presentasinya dengan memutar sebuah film dokumenter. Film ini mengisahkan kecelakaan yang terjadi di sebuah daerah terpencil di Swedia. Korban gawat darurat membutuhkan pertolongan segera, maka first responder menelpon pusat pertolongan dan terjadilah koordinasi pelayanan kesehatan sehingga beberapa saat kemudian ambulans udara bisa didatangkan untuk menyelamatkan korban. Pembelajaran yang dapat diambil dari paparan Lena adalah pemetaan wilayah, sumber daya, dan peralatan sangat membantu dalam membangun sistem informasi.

Dari Ericson, sebagai salah satu pengembang IT di Indonesia, Crist B Ngantung menjelaskan mengenai dampak ICT terhadap pengembangan sosioekonomi. Bagaimana ICT berpengaruh pada nilai GDP dan household.

Menyadari bahwa wilayah Yogya rentan terhadap bencana serta belajar dari berbagai pengalaman bencana yang pernah terjadi, maka Dinas Kesehatan DIY melakukan kesiapsiagaan dengan pemetaan Kawasan Risiko Bencana, pemantauan, penyebaran informasi, koordinasi aktif dengan SKPD terkait, melakukan kesiapsiagaan logistik, dan rekomedasi kegiatan teknis yang berkaitan dengan mitigasi. Kegiatan kesiapsiagaan ini berkaitan dengan sistem informasi yang dibangun oleh Dinas Kesehatan DIY, misalnya dalam melakukan pemetaan wilayah berisiko dan merekam kegiatan surveilans.


Reportase Sesi 2 CCMAP

sesi2-iscc

International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in the health sector with focus on research, policy and action

sesi2-iscc

Mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim salah satunya dilakukan dengan penelitian sebagai dasar dalam pembuatan keputusan di bidang kesehatan. Di sesi dua dalam simposium ini kita diajak untuk memahami gap-gap dalam penelitian, penguatan sistem kesehatan, dan pemaparan mengenai persepsi terhadap perubahan iklim dan peran kesehatan di dalamnya.

Prof. Hari Kusnanto dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM menyampaikan tentang gap-gap penelitian dalam perubahan iklim. Banyak penelitian yang menampilkan hubungan antara kesakitan masyarakat dengan perubahan iklim ataupun bencana yang diakibatkan perubahan iklim. Namun, belum semua hasil penelitian menjadi dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan, terutama di negara berkembang.

Prof. Laksono Trisnantoro menyampaikan definisi adaptasi kebijakan dalam menghadapi perubahan iklim. Adaptasi kebijakan tersebut adalah upaya dari pemerintah termasuk dalam membuat legislasi, peraturan, dan insentif untuk memfasilitasi sebuah sistem yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Namun disayangkan, hingga saat ini tidak ada peraturan daerah yang khusus mengatur atau berhubungan dengan perubahan iklim. Dalam paparannya, beliau juga menjelaskan mengenai tantangan dalam adaptasi kebijakan baik di tingkat nasional ataupun daerah, salah satunya minimnya penelitian dampak perubahan iklim bagi kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Diselingi dengan gurauan dan dibuka sesi pendapat dari peserta, paparan dari dr. Nawi Ng memberikan kesimpulan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk peduli pada dampak perubahan iklim bagi kesehatan masyarakat dan peran lebih dari profesional kesehatan merupakan upaya adaptasi menghadapi perubahan iklim. Pada rangking berapakah sebenarnya perubahan iklim dan pemanasan global menjadi perhatian bagi kita semua? Satu, dua, atau tiga kah?

Reportase Sesi 1 CCMAP

sesi1-iscc

International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in The Health Sector with Focus on Research, Policy and Action

sesi1-iscc

Sesi 1 dimoderatori oleh Ngawi Ng, PhD dari Umeå University selama kurang lebih dua jam dengan empat pembicara. Teleconference untuk pembicara pertama oleh Dr. Lachlan Mclver dari WHO mengenai dampak perubahan iklim pada kesehatan masyarakat. Dalam presentasinya, disampaikan juga mengenai kelompok rentan yang harus diberikan perhatian dan yang terpenting berikutnya adalah bagaimana kita mampu melindungi masyarakat tersebut. Disinggung juga mengenai peta kerentanan di Indonesia dimana hampir seluruh wilayah Indonesia menerima dampak perubahan iklim.

Pandangan dan aksi nasional menghadapi perubahan iklim disampaikan dua negara, perwakilan Indonesia disampaikan oleh drg. Rudy Kurniawan, M.Kes (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI) dan dari Sweden oleh Matin Andreasson (Pusat eHealth, Sweden). Drg. Rudi Kurniawan, M.Kes menyampaikan tentang eHealth sebagai salah satu solusi dalam jaminan kesehatan dan mengurangi emisi gas rumah kaca di Indonesia. Beliau juga menjelaskan mengenai situasi, regulasi, dan insprastruktur sistem informasi kesehatan di Indonesia.

Dalam paparannya, Martin menjelaskan tentang keberadaan eHealth di Swedia. Dalam pelayanan kesehatan untuk mencapai negara yang sejahtera, Swedia mengembangkan eHealth sejak 1960-an dan hingga saat ini bagian-bagian negara yang jauh dari pelayanan kesehatan perkotaan tetap mendapat pelayanan kesehatan. Enam langkah pencapaian eHealth meliputi andil pemerintahan secara nasional dan tiap-tiap pelayanan kesehatan di bagian. Pemerintah menyiapkan dan melaksanakan peraturan, mengembangkan struktur informasi, dan membagi rata infrastruktur teknik. Tugas dari pelayanan kesehatan di bagian adalah memfasilitasi sistem informasi, fasilitasi akses, dan mempublikasikan pelayanan elektronik kepada masyarakat.

Sharad Adhikary dari kesehatan lingkungan WHO menerangkan tentang dampak perubahan iklim dan emisi gas secara regional terutama regional ASIA, seperti peningkatan penyakit menular, keamanan pangan, risiko bencana, penurunan kualitas air, dan meningkatnya populasi vektor penyakit. Beberapa negara di Asia menjadi contoh baik dalam fenomena lingkungan dan upaya pananganan perubahan iklim. Rekomendasi yang diberikan adalah pengembangan wilayah haruslah memperhatikan kesehatan lingkungan, meningkatkan kerjasama dengan semua sektor, penguatan sistem dengan kolaborasi seperti pemetaan risiko dan penyakit, dan penguatan pengurangan risiko bencana.

Table Top Exercise Perencanaan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul

ttx1

Table Top Exercise Perencanaan Kesiapsiagaan  Penanggulangan

Bencana di Rumah Sakit Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul

ttx1

Gunung Kidul- (26/11/13) telah dilaksanakan Table Top Exercise untuk menguji dokumen perencanaan kesiapsiagaan penanggulangan bencana atau Hospital Disaster Plan (HDP) Rumah Sakit Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Peserta yang hadir berasal dari unsur pimpinan, logistik, keuangan, operasional, dan IGD rumah sakit Wonosari dan perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul. Kegiatan ini dipandu dan diarahkan oleh tim Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan dan Kelompok Kerja Bencana FK UGM.

Acara yang berlangsung selama dua jam ini dimulai dengan sambutan drg. Isti Indiyani, MM sebagai Direktur RSUD Wonosari. Dalam sambutannya beliau memberikan pemahaman kepada seluruh peserta bahwa Gunung Kidul berada dalam ancaman bahaya, tidak saja dari bahaya alam tetapi juga lalu lintas. Untuk itu, ditahun 2010 telah disusun HDP sebagai salah satu syarat pemenuhan akreditasi rumah sakit. Namun, HDP tersebut telah jauh berubah dan belum pernah direvisi sesuai dengan pembangunan rumah sakit selama 3 tahun terakhir. Harapannya, table top exercise kali ini menyadarkan kita bahwa HDP bukan saja bermanfaat sebagai pemenuhan akreditasi tetapi memang dokumen penanggulangan bencana yang dibutuhkan rumah sakit dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pada masa bencana. Diakhir sambutannya beliau meminta komitmen dari semua jajaran rumah sakit untuk pengembangan HDP kedepannya.

dr. Handoyo Pramusinto sebagai Ketua Pokja Bencana FK UGM. Beliau menyampaikan bahwa table top exercise ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk simulasi bencana yang akan dilaksanaka pada tanggal 5 Desember 2013 di Kecamatan Wedang Sari, Gunung Kidul. Sebelum dilakuan simulasi maka perlu dilakukan peninjuan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana dengan table top exercise. Harapannya table top exercise dapat menjadi pembelajaran bersama untuk memperbaharui HDP yang sudah dimiliki Rumah Sakit Wonosari dari tahun 2010.

Kegiatan table top exercise dibawakan oleh dr.Bella Donna, M.Kes. Setiap peserta mendapatkan skenario yang sama dan membahasnya sesuai dengan bagiannya. Tiap-tiap peserta memberikan komentar dan membuat perencanaan untuk penanggulangan korban sesuai dengan skenario, mulai dari penyiapan tenaga kesehatan, ruangan, perlatan, dan komunikasi. Disela-sela diskusi, dr.Hendro Wartatmo, SpBKBD, dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK, dan dr. Handoyo Pramusinto, SpBS memberikan komentar, pertanyaan, dan masukan kepada RSUD Wonosari.

Kegiatan table top exercise berjalan lancar selama 2 jam. Diakhir kegiatan, Direktur RSUD Wonosari memberikan kesimpulan dan catatan penting sebagai bahan perbaikan HDP dari hasil kajian hari ini. Semoga pada simulasi bencana tanah longsor tanggal 5 Desember 2013, rumah sakit telah mampu menyiapkan rumah sakit dan sumbe dayanya untuk penanganan korban.

Mahasiswa KKN UGM Mengadakan Penyuluhan dan Simulasi Bencana Longsor

kkn-1

Mahasiswa KKN UGM Mengadakan Penyuluhan dan

Simulasi Bencana Longsor

kkn-1

Kulonprogo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada 2013 Unit KP-01 mengadakan acara Penyuluhan dan Simulasi Bencana Longsor, Minggu (1/12). Acara yang dilaksanakan di Balai Desa Banjaroya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat desa Banjaroya terhadap mitigasi, adaptasi, dan penanganan bencana.

Para narasumber ahli di bidang kebencanaan dan kesehatan yang diundang antara lain Enaryaka, S.Kep (Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY), Winaryo, SSi (Pusat Studi Bencana Alam UGM), dr. Bella Dona, M.Kes (Center for Health Service Management UGM), dan Sutono, S.Kp (Pertolongan Pertama Gawat Darurat UGM).
 
kkn-pembicara

Kegiatan simulasi bencana longsor ini adalah pertama kali diadakan di Desa Banjaroya. “Simulasi bencana longsor belum pernah dilakukan di Desa Banjaroya, padahal desa ini termasuk daerah yang memiliki potensi longsor. Oleh karena itu kami mengadakan kegiatan ini agar masyarakat siap dan sigap apabila sewaktu-waktu bencana tersebut datang”, ujar Rinaldy Saputro, ketua panitia acara.
kkn-aksi

Sebelum dilakukan simulasi, warga diberikan penyuluhan selama 80 menit mengenai penanganan bencana oleh para narasumber ahli dibidang kebencanaan dan kesehatan. Materi penyuluhan yang dikupas dalam acara ini antara lain mengenai Pertolongan Pertama Gawat Darurat, Pengorganisasian Bencana, Penanggulangan Bencana, serta Mitigasi Bencana.  Selain mengikuti penyuluhan, warga desa Banjaroya juga turut aktif dalam kegiatan simulasi bencana yang berlangsung selama 90 menit. Warga dibuat seolah – olah sedang menghadapi situasi bencana alam, dan diharuskan untuk melakukan penanganan darurat pada korban, seperti triase, evakuasi, penanganan luka, bandagin, dan pembidaian. 
 
simulasi

Rinaldy mengatakan bahwa Penyuluhan dan Simulasi Bencana ini diadakan sebagai bentuk partisipasi Mahasiswa KKN PPM UGM 2013 Unit KP-01 dalam meningkatkan pemahaman masyarakat Desa Banjaroya terhadap kebencanaan. “Harapannya dengan diadakannya acara ini, warga Desa Banjaroya menjadi tanggap dan sigap dalam menghadapi situasi darurat bencana yang bisa datang setiap saat”, tambahnya.

Reportase Kunjungan University of Hawaii

kunjungan1

Reportase Kunjungan University of Hawaii

Pre-simposium Indonesia Disaster Risk Reduction: University of Hawaii Kunjungi FK UGM

 
kunjungan1

Kedatangan dekan University of Hawaii disambut oleh Dekanat Fakultas Kedokteran, bagian kurikulum, Konsultan Pokja Bencana, dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM. dr.Endro memulai diskusi dengan dekan UH mengenai kurikulum kebencanaan di FK UGM. dekan UH menyatakan ketertarikannya dan mencoba membicarakan dengan presiden terkait kerjasama yang bisa dilakukan UH dan UGM dalam manajemen kebencanaan.

 
kunjungan2

Diskusi terus berlanjut dengan penyampaian keterlibatan FK UGM dalam penanggulangan bencana di Indonesia oleh dr.Hendro Wartatmo yang merupakan konsultan senior di Pokja Bencana FK UGM.  Disampaikan juga tentang kerjasama FK  dengan kementerian kesehatan, pusat krisis kesehatan, rumah sakit dan masyarakat. Diskusi menghangat dengan pembahasan upaya resilience terhadap masyarakat.

Bagian kurikulum FK menyampaikan tentang keberadaan kurikulum kebencanan di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh wilayah Jogjakarta yang rentan dengan bencana. Hampir semua bencana bisa terjadi di wilayah Jogjakarta sehingga diperlukan pemahaman dan wawasan kepada mahasiswa tentang manajemen bencana sejak mereka berada di perguruan tinggi. Fakultas kedokteran UGM  berharap bisa bekerjasama lebih dengan Universitas of Hawaii dalam pendidikan manajemen bencana.

Khususnya bagian Gizi FK UGM tertarik sekali untuk melakukan kerja sama terkait gizi obesitas di masyarakat. Masalah obesitas di Amerika juga menjadi pusat perhatian karena terjadi banyak pada anak-anak dan kebanyakan terjadi di daerah miskin. Sedangkan di Indonesia, obesitas tidak saja terjadi pada masyarakat miskin tetapi meningkat kejadiannya pada masyarakat kalangan menengah.

kunjungan3

Diskusi berlanjut dengan melihat pameran kebencanaan oleh Pokja Bencana FK UGM. Poster yang dipamerkan tentang penanggulangan bencana Tsunami dan gempa Aceh 2004, Gempa Bantul di Yogyakarta 2006, dan Gunung Merapi di Yogyakarta 2010.
Kunjungan berakhir dengan penyerahan kenang-kenangan dari FK UGM kepada Dekan University of Hawaii. Dekan Dekan University of Hawaii merasa sangat tertarik dan senang dengan awal kerjasama ini.

kunjungan4

APDR3

pembukaan-apdr3

Reportase

Indonesia Symposium Disaster Risk Reduction and Resilience

Asia Pacific Disaster Risk Reduction and Resilience (APDR3)

13-14 Juni 2013
Sheraton, Yogyakarta

 
pembukaan-apdr3

Sambutan pada pembukaan simposium secara bergantian di sampaikan oleh penyelenggara kegiatan, yakni Asia Pacific Disaster Risk Reduction and Resilience (APDR3), Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, University of Hawaii Manoa, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Islam Indonesia. Dalam sambutannya, masing-masing universitas merasa senang dengan keterlibatan mereka dalam kegiatan ini. Mereka menyadari ancaman bencana di Indonesia dan berupaya melakukan sesuatu dalam rangka penanggulangan bencana.

Pembicara dalam simposium ini datang dari berbagai kalangan, pemerintah, pendidikan, LSM, dan pemerhati bencana. Dari pemerintah diwakili oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dimana dalam kesempatan ini, Dr. Syamsul Ma’arif, ketua BNPB langsung menyampaikan mengenai peran dan kegiatan BNPB dalam penanggulangan bencana di Indonesia selama ini. Desa Tanggap Bencana yang dirintis oleh BNPB yang disebar ke 63 daerah rawan bencana di Indonesia menjadi upaya penguatan kapasitas dan resilience kepada masyarakat.
  
pembicara1

pembicara2

Selama dua hari, para pembicara menyampaikan mengenai organisasi ataupun kegiatan pananggulangan bencana yang pernah dilakukan seperti:
1.    Early Warning for Landslide Hazard in Indonesia  oleh UGM
2.    Urban Resilience oleh Mercy Corps
3.    Earthquake : Innovative Professional Education oleh UII
4.    Resilience by Education oleh Hope Worlwide

Dalam simposium ini banyak ditemui hal yang menarik, salah satunya peserta berkesempatan berdiskusi lebih dalam sesuai dengan minat masing-masing. Pada hari pertama, telah dilaksanakan roundtable 1 dan 2. Dalam kesempatan ini, FK UGM bergabung pada roundtable 2 mengenai Urban Resilience: Understanding Cities to Address Disaster Risk. FK UGM menyampaikan hal-hal yang sudah pernah dilakukan dalam hal ini seperti pengembangan Regional Disaster Plan dan Hospital Disaster Plan. Diskusi ini berlangsung selama dua jam dengan hasil yaitu kesimpulan bersama terkait masalah yang diangkat dan bagaimana upaya penanggulangannya.gambar3

Pada hari kedua, FK UGM mengikuti dua roundtable yakni roundtable 3 dan 4 mengenai Earthquakes: Integrating Engineering and Social Sciences in Professional Programs dan Resilience through Education in Isolated Disaster Prone Communities. Roundtable kali ini mencoba membahas tentang pendidikan dan kurikulum kebencanaan yang ada di Yogyakarta.

Di sesi terakhir, semua peserta dikelompokkan kembali ke dalam roundtable-rondtable yang pernah diikuti sebelumnya. Dengan tujuan mendapatkan kesimpulan selama dua hari ini terkait upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. Hasil dari roundtable akan dikumpulkan dan akan di-follow up pada kesempatan yang akan datang.

Pada satu sesi tersendiri perwakilan dari beberapa pendonor bergabung ke depan dan menyatakan kesepakatan mereka untuk berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana di wilayah Asia Pacifik terutama Indonesia.
Penutupan simposium dilakukan tepat pukul 17.00 hari kedua. Secara simbolis ditutup oleh Direktur APDR3 dengan memberikan rangkaian bunga kepada perwakilan University of Hawaii, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama penyelenggara dengan semua peserta.

Penanggulangan Banjir Jakarta

1

Pengiriman Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta 21-28 Januari 2013

Oleh
Pokja Bencana FK UGM


1

Banjir Jakarta sejak pertengahan Januari menggerakkan Pokja Bencana FK UGM untuk mengirimkan Tim sebagai bentuk kepedulian. Tim yang dikirim berasal dari Rumah Sakit Sardjito, Rumah Sakit Akademik, dan Fakultas Kedokteran UGM yang kemudian menjadi satu kesatuan TIM Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta. Anggota yang dikirimkan 4 orang dokter, 4 orang perawat, dan 2 orang mahasiswa FK.

Tim pertama kali berangkat pagi dan disusul tim kedua siang hari pada tanggal yang sama yakni 21 Januari 2013. Tim akan berada di Jakarta selama sepekan hingga tanggal 28 Januari 2013. Selain membawa perlengkapan, tim dibekali dengan logistik medis bagi korban banjir Jakarta.

Tim pertama terdiri dari dr. Hanif Afkari (RS. Sardjito), dr. Yulestrina Widiastuti (RS. Sardjito), Suparman, AMK (RS. Sardjito), Nika WS, S.Kep Ners (RS Akademik), Irhas Faisal (TBMM-FK UGM). Kemudian, tim kedua terdiri dari dr. Faturrahman (RS. Sardjito), dr. Desi Recsanti (RS. Sardjito), Wahyu Dwi N, AMK (RS. Sardjito), Angga Ardianto, S.kep Ners (RS Akademik) , dan Ghandi Irawan (mahasiswa FK UGM).

Hari pertama (21 Januari 2013) tiba di Jakarta, tim langsung menuju kementerian kesehatan dan bergabung dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) kementerian kesehatan. Tim bertemu dengan dr. Endro dan bu Heny (Kepala PPKK) untuk melakukan briefing. Ringkasan briefing bahwa kementerian kesehatan membentuk tim penanggulangan bencana banjir. Tim dibagi menjadi tim menetap (tim standby diposko yang telah dibuat) dan tim sirkuler (Tim berkeliling dimasyarakat diluar posko yang didirikan). Setiap tim yang terbentuk setelah melakukan kegiatan, harus melaporkan kegiatan setiap hari pukul 07.30 di kementerian kesehatan untuk ditindak lanjuti setiap masalah yang ada dan untuk koordinasi lebih lanjut.

Selasa, 22 Januari 2013. Tim melakukan pelayanan kesehatan di Kelurahan Bukit Duri, tepatnya di RW 11 yang terdiri dari 740 KK. Jumlah penduduk kurang lebih 2400 jiwa yang terdiri atas 200 anak-anak dan 100 orang lansia. 3 posko tersebut adalah Posko di Rumah ketua RT 3, Posko di Balai Warga (Paud), dan Posko di Rumah Ketua RW 43. Pada hari ini, tim kedatangan Rektor UGM yang juga memberikan bantuan kepada korban pengungsian berupa sembako.

Rabu, 23 Januari 2013. Hari ini, Tim Kesehatan FK UGM melakukan briefing di Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) kementrian kesehatan. Dalam arahan ini, tim kesehatan FK UGM berkoordinasi dengan PPKK untuk menuju lokasi pengungsian. Ada dua lokasi yang dituju, yakni wilayah Muara Baru dan Penjaringan Jakarta yang kemudian terbagi menjadi Posko Gudang Carvil, Muara Baru, Penjaringan dan Pos Hotel Aston Pluit, Jakarta Utara.

Di dua Posko pelayanan kesehatan didapatkan 350 pasien tertangani di Pos Gudang Carvil dan 32 pasien di Pos Hotel Aston Pluit. Berdasarkan perhitungan diketahui 10 penyakit terbanyak yang dikeluhkan pengungsi banjir di dua posko adalah ISPA, dermatitis, tinea pedis, gastro enteritis akut, common cold, myalgia, faringitis akut, febris, cephalgia, dan OA.

Kamis, 24 Januari 2013. Meski mengalami penurunan ketinggian air tetapi masih terdapat lokasi banjir yang terisolir dari bantuan luar. Menurut laporan tim salah satu lokasi tersebut adalah Muara Baru. Untuk menuju daerah lokasi Tim Kesehatan FK UGM dan PPKK kementrian kesehatan harus menggunakan perahu karet.

Jumlah pasien di pos SDN 03 Muara Baru sebanyak 65 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti, tinea, pedis, ISPA, common cold, cephalgia, myalgia, gastro enteritis akut, hipertensi, vulnus apertum, anemia, dan combutio (1 pasien). Sedangkan Jumlah pasien di pos Penjaringan (Pabrik Baja) sebanyak 130 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti ISPA, common cold, GEA, dermatitis, myalgia, chepalgia, vulnus apertum, hipertensi, tinea pedis, dan osteoartritis. Terlihat bahwa keluhan penyakit di dua posko tidak terlalu berbeda jauh. Keluhan ISPA, myalgia, dan common cold banyak di dua posko.

Jumat, 25 Januari 2013. Hari ini, Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta melakukan pelayanan kesehatan di tiga titik pengungsian. Tim mempersiapkan segala keperluan, transportasi menuju lokasi dengan parahu karet, dan membawa logistik untuk pengobatan. Tim mulai bergerak pukul 11.30 pagi.

Posko Pabrik Baja, posko Elektro, dan Jalan Marlina menjadi sasaran pelayanan kesehatan hari ini. Diketahui dari hasil tim assessment bahwa di lokasi pengungsian ini terjadi kesulitan untuk mendapatkan air bersih sehingga hari ini akan didatangkan pula tim mobil pompa air.

Total pengungsi yang diberikan pelayanan kesehatan hari sebanyak 460 orang. Dimana penyakit yang dikeluhkan tidak jauh berbeda dengan lokasi pengungsian hari-hari sebelumnya. ISPA masih menjadi keluhan yang utama. Namun, hari ini tim kesehatan merujuk 1 bayi yang lahir prematur dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan dehidrasi berat. Selain melakukan pengobatan, tim kesehatan juga melakukan promosi kesehatan seperti mencuci tangan yang baik dan benar.

26 Januari 2013. Tepat pukul 11.00 WIB Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta kembali mendatangi dua posko pengungsian yang kemarin telah didatangi, yaitu Pos Elektro dan Pos Jalan Marlina. Dua lokasi ini masih tergenangi banjir hingga saat ini dan warga masih membutuhkan bantuan.

Hingga pukul 15.00 WIB, tim kesehatan melakukan pelayanan kesehatan kepada 186 orang pengungsian. 10 Penyakit terbanyak meliputi ISPA, dermatitis, gastro enteritis akut, myalgia, common cold, faringitis akut, tinea pedis, febris, TTH, dan cephalgia. Hingga saat ini, ISPA masih menjadi keluhan utama warga dan pengungsi.

27 Januari 2013. Sepekan Tim Kesehatan berada di Jakarta untuk membantu korban dan pengungsian bencana banjir. Kerjasama yang baik antara Tim Kesehatan UGM dan kementrian kesehatan serta tim penanggulangan bencana lainnya telah dirasakan oleh warga dan pengungsi banjir. Terdapat permasalahan yang dirasakan oleh tim selama bertugas seperti koordinasi dan komunikasi antar tim, kurangnya peta wilayah dalam tanggapdarurat bencana, transportasi (traffic jump) dan kendaraan operasional yang kurang, serta kelengkapan peralatan tim yang masih harus dilengkapi.

Permasalahan dan kekurangan yang dirasakan saat ini harapannya dapat memberikan masukan bagi kegiatan selanjutnya, adapun usulan yang direkomendasikan tim adalah:

  1. Perlu diadakan suatu GIAT PELATIHAN SIMULASI BENCANA yang kontinu dan terintegrasi dalam setahun
  2. Mapping daerah bencana mutlak harus dimiliki Tim
  3. Mempunyai mobil operasional yang multiguna yang dapat sewaktu-waktu ada bencana siap dioperasikan
  4. Tim perlu dibekali peralatan sepeti: GPS, telephone satelit, Handy Talk (HT), dan adanya personal Kit yg standar.

Perlunya Standarisasi, Akreditasi dan Klasifikasi Tim Bantuan Medis dalam Bencana

POLICY BRIEF

Perlunya Standarisasi, Akreditasi dan Klasifikasi Tim Bantuan Medis dalam Bencana

Policy Brief ini ditujukan untuk pemerhati kebencanaan dan pengambil kebijakan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementrian Kesehatan khususnya Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes.


Pengantar

Indonesia merupakan negara dengan tingkat frekuensi bencana yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bencana besar yang terjadi di Indonesia, seperti bencana Gempa dan Tsunami Aceh, Gempa Padang, Gempa dan Tsunami Pangandaran, Gempa Bantul Yogyakarta dan Letusan Gunung Merapi Yogyakarta pada tahun 2010. Bencana yang sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan banyak masalah, salah satunya adalah masalah kesehatan. Hal ini mendorong tim kesehatan, termasuk tim bantuan medis untuk memberikan pelayanan dan bantuan terhadap korban akibat dampak bencana yang terjadi terutama pada fase akut. Pada proses penanggulangan bencana, peran Tim Medis sangat penting.

Berdasarkan pengamatan selama kejadian bencana mulai dari Tsunami Aceh tahun 2004 sampai Letusan Gunung Merapi tahun 2012, ada dua hal yang cukup menonjol. Pertama adalah perkembangan kuantitatif maupun kualitatif dari Tim Bantuan Medis Indonesia serta banyaknya Tim Medis Asing yang terlibat. Kedua adalah kurangnya Sistim yang mengatur dan mengkoordinir (Controll and Coordination) aktifitas Tim Medis tersebut. Ketiadaan sistim tersebut dapat dilihat dari tidak adanya pedoman yang mengatur standar kompetensi dari Tim Bantuan Medis, maupun evaluasi kinerjanya.

Selama ini, belum ada regulasi untuk pengaturan tim medis yang datang ke daerah bencana baik untuk tim medis lokal maupun tim medis asing. Hal ini sangat berbeda di negara yang sudah maju dalam Manajemen Penanganan Bencana, karena ada sistim yang jelas, yang berfungsi sebagai pedoman dalam mengatur bekerjanya Tim Bantuan Medis agar efektif dan efisien. Masalah manajemen dan profesionalisme dari Tim Medis ini memang sangat vital karena akan menentukan hasil akhir, sehingga hal ini diangkat menjadi salah satu topik Pre-Conference pada 11th Asia-Pasific Conference Emergency and Disaster Medicine yang diadakan di Denpasar Bali, akhir bulan September 2012.

 

Konteks dan Pentingnya Permasalahan

Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan terhadap kejadian bencana (disaster prone country), sehingga pada saat terjadi bencana banyak Tim Medis yang datang membantu. Sementara itu, sistim yang mengatur terhadap tim bantuan medis belum ada. Adapun yang perlu diatur adalah:

  1. Banyak bantuan Asing yang datang ke Indonesia tidak jelas perizinan dan keberadaannya, sehingga perlu adanya registrasi tim bantuan medis yang didukung dengan Penetapan kebutuhan akan Tim Bantuan Medis yang jelas akuntabilitasnya. dan adanya quality control terhadap tim bantuan medis baik lokal maupun asing serta sistem pelaporan.
  2. Tim bantuan medis yang datang tidak jelas kompetensinya sehingga sering menimbulkan masalah, seperti infeksi setelah bencana selesai sebagai efek sekunder yang ditimbulkan. Oleh karena itu, perlu penetapan kualifikasi Tim Bantuan Medis seperti kompetensi klinik yang jelas dan tercatat serta data-data yang selalu terarsip dan tersimpan rapi.
  3. Tidak ada standar minimal yang sama untuk setiap profesional dalam pemberian bantuan medis, sehingga perlu adanya sistim manajemen untuk mengkoordinasikan Tim Medis tersebut agar bisa bekerja secara efektif dan efisian serta termonitor. Sistim manajemennya harus diatur dengan jelas dan perlu ada Institusi yang melaksanakannya, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan Institusi lain yang legal.

 

Rekomendasi Kebijakan

Dalam upaya mengkoordinir dan mengontrol tim bantuan medis yang ada di Indonesia, maka diberikan beberapa rekomendasi kebijakan:

  1. Registrasi tim bantuan medis baik asing maupun lokal yang mengatur mobilitas keluar masuk pada satu pintu, sehingga bisa memonitor aktifitas yang dilakukan serta kebutuhan tim medis dilapangan.
  2. Penetapan Pedoman (Guideline) untuk Bantuan Tim Medis Asing termasuk didalamnya Standar Minimal pelayanan kesehatan yang diperlukan, list spesifikasi rumahsakit dan logistik medis serta non-medis yang ada di setiap rumah sakit saat bencana. Pedoman (Guideline) ini dimaksudkan untuk memberi arah kebijakan dan petunjuk praktis dalam operasionalisasi dari Tim Medis, baik lokal maupun asing, agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan dampak seminimal mungkin.
  3. Legalisasi Institusi dan pejabat dari jajaran kesehatan, agar memiliki power yang cukup untuk dapat mengkoordinir para profesional dalam tim bantuan medis. Institusi kesehatan ini menjadi bagian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang berwenang melakukan uji kelayakan tim medis.
  4. Pengumpulan, kompilasi dan recording data dokter dan dokter spesialis yang expert dalam bidang bencana sehingga akan memudahkan koordinasi terhadap kebutuhan sumber daya tim bantuan medis, serta list spesifikasi rumah sakit yang ada di Indonesia

 


Penyusun :

dr. Bella Donna, Mkes
Phone : 0811286284
Email : [email protected]

________________________________

dr. Hendro Wartatmo, SpB KBD
Phone : 0811283118
Email : [email protected]

________________________________