Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia – ASM 2013

gb1

Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia
Dalam Rangkaian Annual Scientific Meeting 2013

Oleh Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM

Yogyakarta-PKMK. Telah berlangsung (2/3/2013) pameran ilmiah kebencanaan di Indonesia yang diselenggararkan oleh Kelompok Kerja Bencana Fakultas Kedokteran UGM. Pameran dimulai sejak pukul 08.00 WIB di Lobby Auditorium FK UGM. Pameran kebencanaan ini merupakan rangkaian kegiatan pembukaan Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM.

gb1

Pada kesempatan kali ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, H.E.Dr. Nafsiah Mboy menyempatkan diri mengunjungi pameran setelah membuka acara Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM. Menteri kesehatan membubuhkan tanda tangan di partisi bencana Banjir Jakarta. Didampingi oleh dr. Bella Donna dari pokja Bencana, Menteri Kesehatan bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan pokja bencana.

gb2

Pameran ilmiah bertujuan menampilkan kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia yang pernah dilakukan tim pokja serta peta kurikulum bencana di FK UGM. Ada enam kegiatan penanggulangan bencana yang terekam mulai dari tsunami Aceh tahun 2004, gempa Yogyakarta tahun 2006, tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa bumi Padang tahun 2009, letusan Gunung Merapi tahun 2010, hingga banjjir Jakarta awal tahun 2013.

gb3

Komitmen pokja bencana tidak diragukan lagi keterlibatannya dalam penanggulangan bencana di Indonesia, misalnya bencana tsunami Aceh dimana tim terlibat hingga 4 tahun. Selama 2004 hingga 2008, lebih dari 500 orang telah diberangkatkan ke Aceh dengan berbagai macam profesi kesehatan yang ada di FK UGM. Tim membantu mulai fase akut, pemulihan, dan pengembangan. Kegiatan yang dilakukan mulai dengan mengirim relawan, melakukan penguatan sistem manajemen RS di Aceh, pengiriman layanan psikologis, pengembangan sistem rujukan dan penanggulangan gawat darurat terpadu dan sistem manajemen mutu RS.

gb4

Begitu juga dengan komitmen FK UGM sebagai satu-satunya universitas yang vioner dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Salah satu buktinya dengan mengembangkan kurikulum bencana pada Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat minat Kebijakan Manajemen Pelayanan kesehatan, Program Studi Kedokteran Umum, Program Studi Ilmu Keperawatan, dan terlibat dalam kurikulum Sekolah Pascasarjana minat Magister Manejemen Bencana.
Nanti malam, akan ada kegiatan Temu Almuni FK UGM. Pokja bencana terlibat kembali dengan menggelar pameran ilmiah kebencanaan di Joglo Alumni FK UGM.

Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta Berpulang ke Jogjakarta

h7-1

Senin, 28 Januari 2013

Saatnya tim berpulang ke Jogjakarta. Bantuan baik pelayanan kesehatan dan bantuan medis harapannya dapat bermanfaat bagi warga dan pengungsi banjir Jakarta. Banjir Jakarta memang belum mengering tetapi interaksi tim dan warga telah memberikan sebuah pelajaran yang berharga. Pelajaran mengenai kebersamaan dan tolong-menolong. Sebagaimana sebuah tubuh, ketika satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh akan meresakan sakitnya juga. Kali ini Jakarta yang mengalami Banjir dan UGM sebagai anggota tubuh lainnya merasakan hal yang sama dan peduli untuk membantu meringankan. Terimakasih kepada anggota Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta.

TIM UGM 1

h7-1
h7-2 h7-3 h7-4 h7-5

TIM 2 UGM

h7-6
h7-7 h7-8 h7-9 h7-10


Lihat reportase hari lainnya

hari-1   h4
h5 h6


Rekomendasi Tanggapdarurat Bencana Kedepannya

h6 1

Minggu, 27 Januari 2013

h6-1

Sepekan Tim Kesehatan berada di Jakarta untuk membantu korban dan pengungsian bencana banjir.Kerjasama yang baik antara Tim Kesehatan UGM dan kementrian kesehatan serta tim penanggulangan bencana lainnya telah dirasakan oleh warga dan pengungsi banjir. Terdapat permasalahan yang dirasakan oleh tim selama bertugas seperti koordinasi dan  komunikasi antar tim,  kurangnya peta wilayah dalam tanggapdarurat bencana, transportasi (traffic jump) dan  kendaraan operasional yang  kurang, serta kelengkapan peralatan tim yang masih harus dilengkapi.
Permasalahan dan kekurangan yang dirasakan saat ini harapannya dapat memberikan masukan bagi kegiatan selanjutnya, adapun usulan yang direkomendasikan tim adalah:

  1. Perlu diadakan suatu GIAT PELATIHAN SIMULASI BENCANA yang kontinu dan terintegrasi dalam setahun
  2. Mapping daerah bencana mutlak harus dimiliki Tim
  3. Mempunyai mobil operasional yang multiguna yang dapat sewaktu-waktu ada bencana siap dioperasikan
  4. Tim perlu dibekali peralatan sepeti: GPS, telephone satelit, Handy Talk (HT), dan adanya personal Kit yg standar.

h6-2


Lihar reportase hari lainnya:

hari-1   h4
h5  h7

10 Penyakit Terbanyak Hasil Pendataan Tim Kesehatan UGM

h5 1

Sabtu, 26 Januari 2013

h5-1

Tepat pukul 11.00 WIB Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta kembali mendatangi dua posko pengungsian yang kemarin telah didatangi, yaitu Pos Elektro dan Pos Jalan Marlina. Dua lokasi ini masih tergenangi banjir hingga saat ini dan warga masih membutuhkan bantuan.

Hingga pukul 15.00 WIB, tim kesehatan melakukan pelayanan kesehatan kepada 186 orang pengungsian. 10 Penyakit terbanyak meliputi ISPA, dermatitis, gastro enteritis akut, myalgia, common cold, faringitis akut, tinea pedis, febris, TTH, dan cephalgia. Hingga saat ini, ISPA masih menjadi keluhan utama warga dan pengungsi.

h5-2


Lihar reportase hari lainnya:

hari-1   h4
 h6 h7

Persiapkan Pos Pelayanan : Tim Kesehatan Bekerjasama dengan Warga

h4-1

Jumat,  25 Januari 2013

h4-1Hari ini, Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta melakukan pelayanan kesehatan di tiga titik pengungsian. Tim mempersiapkan segala keperluan, transportasi menuju lokasi dengan parahu karet, dan membawa logistik untuk pengobatan. Tim mulai bergerak pukul 11.30 pagi.

 

 

 

Posko Pabrik Baja, posko Elektro, dan Jalan Marlina menjadi sasaran pelayanan kesehatan hari ini. Diketahui dari hasil tim assessment bahwa di lokasi pengungsian ini terjadi kesulitan untuk mendapatkan air bersih sehingga hari ini akan didatangkan pula tim mobil pompa air.

h4-2

h4-3

h4-4

Total pengungsi yang diberikan pelayanan kesehatan hari sebanyak 460 orang. Dimana penyakit yang dikeluhkan tidak jauh berbeda dengan lokasi pengungsian hari-hari sebelumnya. ISPA masih menjadi keluhan yang utama. Namun, hari ini tim kesehatan merujuk 1 bayi yang lahir prematur dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan dehidrasi berat. Selain melakukan pengobatan, tim kesehatan juga melakukan promosi kesehatan seperti mencuci tangan yang baik dan benar, yang terlihat pada dokumentasi dibawah ini.

h4-5


Lihar reportase hari lainnya:

hari-1  
h5 h6 h7

Laporan Hari ke 5

hari-1

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

Laporan Hari 5

gb-5-1

{xtypo_dropcap}T{/xtypo_dropcap}idak terasa hari ini adalah hari terakhir kami berada di Umeo. Banyak pelajaran yang kami dapat untuk segara kami kerjakan di Indonesia. Hari ini pertemuan dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Umeo dan kami berdiskusi mengenai kegiatan yang akan kami lakukan dalam waktu setahun kedepan.

 

 

 

Ada lima tahapan yang akan dilaksanakan  di tahun 2013 yaitu :

  1. Menilai keberadaan kebijakan di sektor kesehatan dalam hal mitigasi dan adaptasi, yaitu dengan cara memberikan rekomendasi kebijakan serta kerangka konsep dari e Health yang akan dilaksanakan  pada tahun 2013-2014
  2. Merangkum atau menyimpulkan keberadaan pengetahuan pada dampak perubahan iklim dalam kesehatan. Kesimpulan ini berupa dokumen laporan mengenai resiko dan kerentanan di Indonesia dan juga di Swedia.
  3. Memperkirakan potensi perbedaan teknologi  eHealth dan pelayanan untuk menurunkan Carbon Footprint pada sektor kesehatan, menganalisis CCB ( Carbon Cost Benefit ) di kedua negara
  4. Evaluasi dan demonstrasi terhadap aplikasi eHealth dan pelayanan pada Adaptasi perubahan iklim di Swedia dan Indonesia. Kegiatan ini mencakup penyiapan pelaporan eHealth, melihat outcome dengan interview dan penyebaran kwesioner, Scientific Review mengenai eHealth pada bencana. Disamping itu direncanakan penyusunan modul bencana terkait perubahan iklim.
  5. Desiminasi hasil kepada stakeholder yang berbeda, serta melakukan workshop dengan pembuat keputusan, Konferensi, publikasi  serta Table Top Exercise

Sebagai hasil akhir disepakati bahwa semua anggota tim akan saling support demi kemajuan teknologi dan pelayanan yang ada di Indonesia serta persiapan menghadapi akibat perubahan iklim yang dapat menjadi bencana. Tim Swedia akan mengirimkan Tools kepada tim Indonesia agar pada saat tim Swedia datang ke Indonesia , maka rencana program pengembangan ini segera dapat dilaksanakan.

Sampai bertemu kembali pada laporan kegiatan di masa mendatang.

gb-5-2gb-5-3

Gallery Kegiatan

{gallery}2013/umea/H5{/gallery}

Laporan Hari ke 4

hari-1

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

Laporan Hari 4

{xtypo_dropcap}S{/xtypo_dropcap}esuai dengan hari libur di Indonesia (Maulid Nabi Muhammad), pada hari Kamis acara workshop libur pula, dan diisi dengan kunjungan ke pedesaan Swedia untuk melihat suasana lingkungan dengan Eco-Tourism ala Swedia.  Kunjungan hari ini dilakukan ke utara kota Umeå. Silahkan membaca laporannya, setelah catatan ringan mengenai tujuan  kebijakan lingkungan hidup di Swedia dan perilaku politikus Swedia yang aktif dalam kunjungan ini.

1. Catatan ringan mengenai tujuan kebijakan lingkungan hidup di Swedia

Tujuan utama kebijakan lingkungan di Swedia adalah untuk mewariskan ke generasi berikutnya dimana masalah utama lingkungan hidup sudah dapat diatasi. Untuk mencapai hal ini, the Swedish Riksdag (Parlemen Swedia) telah menetapkan 16 tujuan kebijakan lingkungan yang harus dicapai pada tahun 2020. Kemajuan pencapaian dimonitor oleh Dewan Tujuan Lingkungan (Environmental Objectives Council). Ke 16 tujuan lingkungan hidup tersebut adalah:

Reduced Climate Impact, Clean Air, Natural Acidification Only, A Non-Toxic Environment, A Protective Ozone Layer, A Safe Radiation Environment, Zero Eutrophication, Flourishing Lakes and Streams, Good-Quality Groundwater, A Balanced Marine Environment, Flourishing Coastal Areas and Archipelagos, Thriving Wetlands, Sustainable Forests, A Varied Agricultural Landscape, A Magnificent Mountain Landscape, A Good Built Environment, A Rich Diversity of Plant and Animal Life.

Di dalam praktek memang terlihat bahwa daerah pedesaan dan perkotaan Swedia terlihat sangat bersih. Pertanyaan pentingnya adalah: apakah ada praktek-praktek korupsi terkait dengan kebijakan lingkungan? Menurut pendapat dari Tina H, memang ada korupsi tetapi sangat kecil. Dalam konteks ini ada hal menarik mengenai  perilaku politikus di Swedia. Silahkan simak catatan berikut.

2. Catatan ringan mengenai politikus di Swedia

Selama  3 hari pertama workshop, dalam pertemuan selalu ada seorang anggota konsil yang berasal dari partai politik terbesar di Swedia. Politikus ini ibu setengah baya yang bekerja full-timer sebagai politikus dan dibayar negara. Ibu politikus ini terlihat seperti ibu rumahtangga biasa, sederhana dan begitu rendah hati. Beliau selalu hadir tepat waktu, memberikan komentar dengan pas, dan sampai membersihkan papan tulis. Perilakunya sangat menarik, sopan, dan rendah hati.

Ketika ditanya, sejak kapan menjadi politikus. Dia menjawab mulai menjadi anggota muda partai politik di usia 15 tahunan. Kemudian setelah cukup umur menjadi aktifis partai dan bekerja part-timer di partai politik. Kemudian pada pemilihan terpilih sebagai calon dan kampanye dan berhasil sehingga akhirnya sekarang bekerja sebagai politkus full-timer. Menurut ibu politikus tadi, di Swedia kampanye dibiayai oleh partai politik. Jadi dia tidak mengeluarkan sama sekali modal untuk kampanye.

Ibu politikus tersebut berasal dari Partai Social Democrat Workers yang merupakan partai terbesar di Swedia. Sejak tahun 1917, partai tersebut sudah menjadi majoritas di parlemen.  Ideologi partai ini ke areah sosialis (kiri) namun moderat. Pecahan dari partai ini menjadi Partai Kiri (Swedish Social Democratic Party).  Sebagai partai kiri Social Democrat Workers Party memang memperjuangkan Negara Kesejahteraan melalui system pajak progresif. Disebutkan bahwa bagi orang yang mendapat pendapatan diatas jumlah tertentu, pajak yang dibayar (maksimal) adalah sebesar 60%. Bandingkan dengan Indonesia yang maksimal hanya 34%.

Dengan pendapatan pajak yang sangat besar, tidak mengherankan bahwa Swedian dapat menjadi Negara yang menyejahterakan rakyat dengan program-program pendidikan, pelayanan kesehatan, dan lingkungan yang sangat pro-rakyat. Dengan system politik yang dibiayai negara, seorang aktivis politik muda yang sederhana tetapi giat dapat menjadi politikus yang santun dan tidak korup.

Laporan Eco-tourism di pedesaan Swedia

g-4-1 Hari keempat merupakan hari yang berbeda karena rombongan diajak pergi dengan menggunakan bis untuk bertualang melintasi padang salju, menggunakan kereta yang ditarik oleh sekelompok anjing Siberian Husky. Kami diajak ke Propinsi Lapland , desa Vindeln,paling utara Swedia sekitar 100 km dari Umeå. g-4-2

Sepanjang perjalanan ke Lapland kami melihat kawanan reindeer (rusa kutub yang sering dikenal dengan rusa santaclaus), juga deer dan moose , mereka berlarian melintasi jalan dan disekitar perumahan.

g-4-3 g-4-4

Sesampai disana cuaca sangat dingin (minus 26 derajadi Celsius). Kami melihat anjing yang sangat mirip dengan serigala berwarna putih abu-abu dengan mata berwarna biru muda bening, anjing yang gagah dan bagus. Awalnya kami takut mendekat tetapi ternyata anjing Siberian Husky ini sangat bersahabat sekali, mereka mendekat dan melompat kearah kita tetapi sangat tidak membahayakan.

g-4-5 g-4-6

Dalam Eco-Tourism ini kami dibagi beberapa kelompok. Tiap satu kereta berisi 3 orang penumpang serta satu kusir yang akan membawa kami melintasi padang salju. Kereta salju (dog sledding) adalah kereta kayu yang ditarik oleh 9 atau 11 anjing Siberian Husky, tetapi bisa juga 4 anjing untuk perorangan, tergantung beban yang akan ditarik. Kami mendengar jika kusir menyebut “gee” artinya belok ke kanan sedangkan “whoa” menyuruh anjing untuk berjalan terus, bahkan bila ingin kencang kusir akan mengatakan “faster”. Anjing-anjing ini memang dilahirkan untuk berlari karena mereka sangat antusias bila disuruh berlari, dan jika  haus mereka tinggal memakan salju yang ada dikiri kanan mereka.

Pemandangan sepanjang perjalanan dengan sled dog ini sangat mengagumkan dan benar-benar menunjukkan Eco-Tourism. Hamparan salju yg putih bersih dengan pepohonan pinus dikiri kanan yang tertutup butiran salju, sungguh membuat pemandangan yang sangat mengagumkan untuk kita yang tidak memiliki musim dingin.

g-4-7 g-4-8 g-4-9
g-4-10

Setelah selesai dari perjalanan meluncur, kami dibawa ke sebuah tempat yang berbentuk kerucut terbuat dari kayu yang setelah dibuka pintunya kami melihat ada perapian dan disana sudah menunggu pasta yang langsung dimasak diperapian tersebut beserta kopi panas (tampak gambar dengan tanda panah kuning). Baru terasa bagi kami bagaimana dingin dan sakitnya jari-jari kami akibat dingin yang luar biasa. Rumah kayu tersebut cukup panas untuk menghangatkan diri  dan membuat kami langsung menyantap makanan yang disajikan setelah sekitar 30 menit bertualang di padang salju.

Ibu Bupati Gunung Kidul (tanda panah merah) sedang menghangatkan diri dan sedang terus memikirkan banyak hal karena Kabupaten Gunung Kidul nantinya akan menjadi pilot project dalam Climate Change Mitigation di sektor kesehatan. Tentunya juga Eco-Tourism di Gunung Kidul juga akan dikembangkan.

g-4-11 g-4-12

Gallery Kegiatan

{gallery}2013/umea/H2{/gallery}

LAPORAN TIM KESEHATAN TANGGAP BENCANA BANJIR JAKARTA

tim-fk-ugm-banjir-jakarta

Senin, 21 Januari 2013

tim-fk-ugm-banjir-jakarta

Tim 1 atau Tim 2A berangkat dari Jogjakarta Senin, 21 Januari 2013 Pukul 07.00 WIB dan tiba di Jakarta Pukul 08.00 WIB. Tim langsung menuju Kemeterian Kesehatan RI dan bertemu dengan dr. Endro dan bu Heny (Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK)). Anggota Tim ini terdiri dari dr Hanif (RS. Sardjito), dr. Dias (RS. Sardjito), Suparman (RS. Sardjito), Nika (RSA), Irhas (TBMM-FK UGM). Kemudian Tim mengikuti briefing dengan PPKK.

h1-1

Ringkasan briefing bahwa kementerian kesehatan membentuk tim penanggulangan bencana banjir. Tim dibagi menjadi tim menetap (tim standby diposko yang telah dibuat) dan tim sirkuler (Tim berkeliling dimasyarakat diluar posko yang didirikan). Setiap tim yang terbentuk setelah melakukan kegiatan, harus melaporkan kegiatan setiap hari pukul 07.30 di kementerian kesehatan untuk ditindak lanjuti setiap masalah yang ada dan untuk koordinasi lebih lanjut. Jika ada pasien butuh dirujuk terdapat form dari kementrian untuk merujuk dan seluruh biaya digratiskan. Guna kelancaran tugas dan tanda pengenal maka seluruh tim mendapat rompi dan topi tanggap bencana. Kegiatan ini berakhir tepat pukul 12.00 setelah upacara pelepasan tim penanggulangan bencana banjir oleh Menteri Kesehatan RI.

h1-2

Kegitan terus berlanjut, pukul 14.00 dari kementerian kesehatan, Tim kesehatan bertolak ke MM UGM bertemu dengan TIM DERU. Briefing untuk kegiatan dilakukan dengan tim DERU UGM. Hasil Briefing adalah penyusunan rencana kegiatan esok hari, Selasa, 22 Januari 2013. Dimana tim DERU akan melakukan pelayanan kesehatan di Kelurahan Bukit Duri, tepatnya di RW 11 yang terdiri dari 740 KK. Jumlah penduduk kurang lebih 2400 jiwa yang terdiri atas 200 anak-anak dan 100 orang lansia. Rencananya akan dibuat 3 Posko yang akan diletakkan di :

  1. Posko di Rumah ketua RT 3
  2. Posko di Balai Warga (Paud)
  3. Posko di Rumah Ketua RW 43

Dilaporkan bahwa kondisi Bukit Duri terletak persis disekitar sungai Ciliwung. Banjir mencapai 1,5 m. Lebar jalan 1,5-2m dan hanya digunakan 1sisi, karena sisi yang lain untuk parkir kendaraan warga.

Diinformasi juga bahwa tanggal 22 Januari 2013 Prof Pratikno (Rektor UGM) akan mengunjungi Posko dan akan menyerahkan bantuan yang terdiri atas sembako.

Selain tim 1 atau tim 2A, menyusul tim 2 atau tim 2B yang berangkat dari Jogjakarta hari ini pukul 14.00 WIB dan akan tiba di Jakarta kurang lebih pukul 15.00 WIB. Tim 2A membawa obat-obatan untuk keperluan pelayanan kesehatan. Sekitar pukul 18.00 WIB, tim 2A dan tim 2B bergabung di MM UGM. Kemudian bersama mengidentifikasi obat dan membagi menjadi 3 paket untuk 3 Posko yang akan dilakukan pelayanan kesehatan esok hari.

Laporan Hari 3 umea

hari-1

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

Laporan Hari 3 (23 Januari 2013)

Kunjungan ke RS Norrland University Umeå

um-h3-1

um-h3-22

 

 

Mitigasi dan adaptasi Climate Change di sektor kesehatan tidak dapat dipisahkan dari rumahsakit yang dilengkapi dengan kemampuan cukup. Hari ini kami mengunjungi Rumah Sakit Norrland University Umeå yang ada di Regional Vasterbotten. Regional ini berada di Swedia Utara, dekat dengan lingkaran kutub utara. Melihat posisi geografinya, terlihat bahwa RS ini berada di daerah utara Swedia dan melayani penduduk yang sangat jarang.

 

 

um-h3-3

 

 

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa rumah sakit ini adalah yang terbesar sebagai pusat rujukan dengan 600 tempat tidur. Dalam konteks dukungan ke seluruh regional dan daerah utara, sistem rumahsakit banyak menggunakan teknologi IT dan telemedicine.

 

 

um-h3-4Salah satu yang ditunjukkan adalah penggunaan teknologi IT yang canggih di ruang OK dimana kami di ruangan konferensi dapat melihat dengan jelas jalannya operasi jantung dari awal hingga akhir. Dengan mudah operasi ini dapat dikirimkan secara digital ke RS yang mengirimkan pasien. Sebagai RS rujukan setiap hari RS Umeå melakukan operasi jantung sebanyak 6 orang dan mereka mempunyai kamar operasi khusus jantung ada 4 kamar. Tim yang bekerja sangat solid dan mereka benar-benar membuat tim mereka menjadi teman dan selalu bertukar pikiran dan memperdalam keilmuan yang dibutuhkan untuk masing-masing ahli.

Sebagai penyangga ilmu pengetahuan dan pelayanan untuk daerah Swedia Utara, RS Umeå ini sudah menggunakan telemedicine, sehingga pasien dari rumah juga dapat berkonsultasi dengan spesialis melalui komputer. Walaupun jarak yang jauh mereka dapat selalu berkonsultasi. Terkadang pusat kesehatan masyarakat yang letaknya jauh dari pusat kota tidak ada dokter spesialis yang bertugas tetapi pasien dapat mengkonsultasikan penyakit mereka dengan dokter spesialis yang ada di kota.

um-h3-5

Kunjungan berikutnya ke bagian biomedikal, disini kami diberi demonstrasi yang berbeda. Mereka memperagakan stetoskop elektrik. Stetoskop elektrik ini dihubungkan dengan komputer sehingga kita di tempat yang berbeda dapat mendengar detak jantung dan gambar grafik yang dimunculkan di komputer. Alat ini sangat baik untuk mempelajari dan memahami bagaimana bunyi jantung yang normal dan yang tidak normal serta kita dapat melihat bersama-sama melalui tampilan LCD ke layar lebar pola gambar jantung yang berdetak tadi. Ini juga alat telemedicine yang dapat digunakan untuk konsultasi dari dokter umum ke dokter spesialis di tempat yang berbeda. Sebagai contoh untuk pasien jantung dokter umum dapat berkonsultasi ke dokter spesialis jantung yang jauh dan dokter jantung tersebut akan dapat mendengarkan suara jantung murmur tanpa kunjungan ke daerah terpencil.

um-h3-6

 

 

Selain ini mereka membuat model bagaimana alat cek up dapat memeriksa tensi, Haemoglobin dan lainnya dengan alat yang menggunakan wireless yang langsung mencatat database ke komputer. Indonesia sangat banyak memiliki daerah terpencil, dan sangat berguna bagi kita untuk menggunakan alat telemedicine.

 

 

 

 

Diskusi mengenai prospek pengembangan di Indonesia

Sebagai langkah awal untuk pengembangan dan aplikasi kunjungan ini untu Indonesia, hari ini rombongan mulai dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok Climate Change dengan study kasus Gunung Kidul, e Health, dan Emergency disaster manajemen dengan study kasus banjir Jakarta dan emergency di berbagai tempat. Tiap kelompok diharapkan melihat bagaimana tantangan yang ada dan apa yang menjadi solusinya serta siapa yang bertanggung jawab terhadap rencana kerja tersebut.

um-h3-7Setelah berdiskusi maka masing-masing kelompok mempresentasikan hasil sementara yang sudah didapat.

Kelompok 1: Kelompok penanganan Climate Change di pemerintah daerah, dengan studi kasus Kabupaten Gunung Kidul. Di kabupaten ini terjadi ketergantungan pada curah hujan. Climate Change membuat ketidakpastian musin hujan dan kering. Daerah di Gunung Kidul ada yang terlalu kering sehingga harus menggali untuk mencari air. Terlalu banyak dana yang harus dikeluarkan hanya untuk air. Ketidakpastian tentang ketersediaan air semakin tinggi dengan adanya Climate Change. Solusi untuk Kabupaten Gunung Kidul adalah mengembangkan sistem pompa air untuk mengambil air yg dalamnya > 100m, penanaman pohon untuk penghutanan kembali yang sudah ada areanya, program REDD dan carbon trading. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi DIY dan Gunung Kidul, serta masyarakat.

Kelompok 2: Kelompok E-Health group mendiskusikan pentingnya eHealth dalam mitigasi dan adaptasi Climate Change. Tantangannya banyak, antara lain fragmanted health information system, dimana banyak aplikasi yang ada. Kemudian masalah kebutuhan energy untuk sistem e Health yang mungkin tidak tersedia di lapangan; Perbedaan SOP eHealth di berbagai level; perbedaan kemampuan sumber daya manusia, dana, IT dalam eHealth. Solusinya adalah mengembangkan partner yang sudah mempunyai pengalaman dalam eHealth, termasuk telemedicine. Penyusunan assessment yang bisa memberikan rekomendasi sehingga ada pengembangan standard dan guideline. Solusi ini merupakan tanggung-jawab pemerintah pusat dan daerah, serta berbagai lembaga peneliti dan universitas, termasuk UGM.

Kelompok 3: Kelompok yang membahas mengenai penguatan sistem emergency and disaster terkait dengan Climate Change. Dalam kelompok ini dinyatakan bahwa perlu pemahaman pengertian bahwa emergency dan disaster dalam climate change berbeda dengan keadaan disaster lainnya. Banjir di Jakarta merupakan campuran antara natural dan man-made disaster. Dengan adanya Climate Change, maka kejadian banjir dapat terus berulang setiap saat. Oleh karena itu persiapan dalam penanggulangan bencana atau situasi emergency dibagi dalam strategi mitigasi dan adaptasi yang tepat. Tantangannya, di sektor kesehatan (termasuk tim emergency dan surveilans dalam sistem kesehatan di daerah), belum ada pemahaman yang jelas mengenai impact Climate Change terhadap sektor kesehatan di Indonesia, dan belum baiknya koordinasi penanganan kesehatan pada saat kejadian bencana. Solusinya yang bisa dipikirkan sementara ini adalah penyebarluasan pemahaman mengenai Climate Change dan aspek mitigasi serta adaptasi sistem kesehatan (termasuk emergency system) di Indonesia, khususnya daerah yang mempunyai risiko tinggi. Langkah lain adalah penyusunan Regional Disaster Planning dan Hospital Disaster Planning serta peningkatan infrastruktur dan training kegawatdaruratan secara baik. Disamping itu pemberdayaan masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi Climate Change di sektor kesehatan perlu diperkuat.

Catatan akhir:

Hasil sementara ini akan dikembangkan lebih jauh pada hari terakhir dan selanjutnya akan dibawa ke Indonesia untuk pembahasan lebih detil bersama seluruh stakeholders terkait.

 

Gallery Kegiatan

{gallery}2013/umea/H3{/gallery}