Reportase Field Training Exercise (FTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Sulawesi Selatan

h1 ftx 2024

Reportase

Field Training Exercise (FTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE)
di Provinsi Sulawesi Selatan

Rabu, Kamis,

31 Januari – 1 Februari 2024


PKMK – Setelah melaksanakan uji coba pedoman berupa Table Top Exercise (TTX), kali ini PKMK FK-KMK UGM kembali bekerja sama dengan AIHSP (Australia Indonesia Health Support Partnership) melaksanakan Field Training Exercise (FTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Sulawesi Selatan pada Rabu-Kamis, 31 Januari-1 Februari 2024.

{tab title=”Hari 1″ class=”Red”}

 

h1 ftx 2024

Pada hari pertama, dilaksanakan kegiatan Pembukaan dan Academic Session. Kegiatan ini dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan bidang Pemerintahan, dr. Andi Mappatoba, MBA., DTAS. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini dan harapannya agar seluruh pemangku kebijakan di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di bidang kesehatan dapat lebih serius dalam mempersiapkan diri dalam perencanaan penanggulangan bencana alam dan non-alam, sesuai dengan skenario kegiatan kali ini. Andi mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang dengan sepenuh hati telah menyusun dokumen Pedoman HEOC Provinsi Sulawesi Selatan dan mengingatkan untuk terus bersemangat dalam upaya perbaikan dokumen, salah satunya dengan rangkaian uji coba. Beliau menutup dengan mengucapkan selamat melaksanakan gladi lapangan untuk seluruh peserta, panitia, dan undangan yang terlibat.

ftx h1 2

Memasuki kegiatan Academic Session, sesi dipandu oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Sesi pertama diisi oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Amson Padolo, S.Sos., M.Si., yang menyampaikan materi mengenai “Kebijakan Penanggulangan Bencana dan Koordinasi dalam Rangka Pencegahan dan Mitigasi Bencana”. Beliau menjelaskan bagaimana sistem komando dalam bencana berjalan, peran klaster, dan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam proses penanggulangan bencana.

ftx h1 3

Selanjutnya, Tim Penyusun Pedoman HEOC Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Fajar Qadri, S.Kep., Ns memaparkan bagian-bagian dan isi dari Pedoman HEOC. Fajar mengemukakan bagaimana proses penyusunan pedoman hingga akhirnya dilakukan uji publik dan mencapai tahap uji gladi lapangan. Konten dan konsep dari Pedoman HEOC inilah yang menjadi materi utama dalam kegiatan uji gladi.

ftx h1 4

Materi terakhir kemudian disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. dr. H. M. Ishak Iskandar, M. Kes., mengenai Kebijakan Penanganan Rabies di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sulawesi Selatan termasuk daerah yang rawan terjadi KLB Rabies karena banyak warganya yang hidup bersama hewan penyebab rabies. Rabies juga menjadi kasus yang akan diujikan saat gladi lapang. Perwakilan kelompok disabilitas dalam sesi diskusi selepas pemaparan mengemukakan perhatiannya terhadap GHPR dan dinamika diskusi bersama seluruh peserta menunjukkan Rabies telah menjadi perhatian bersama di Provinsi Sulawesi Selatan.

ftx h1 5

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan gladi bersih untuk menjelaskan alur kegiatan, pos-pos kegiatan, dan seluruh instrumen yang akan digunakan selama gladi. Kegiatan gladi bersih dipandu oleh tim PKMK FK-KMK UGM bertempat di Kompleks Kantor Pusat Krisis Regional Sulawesi Selatan.

ftx h1 6

 

{tab title=”Hari 2″ class=”Blue”}

Pada Kamis, 1 Februari 2024, dilaksanakan Field Training Exercise. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan termasuk Kepala Dinas Kesehatan yang terlibat dari awal gladi hingga sesi akhir. Hadir pula perwakilan dari lintas sektor yakni BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Biddokkes POLDA Sulawesi Selatan, Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, DP3A Provinsi Sulawesi Selatan, PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, EMT MDMC, EMT PMI, dan EMT TCK Pusat Krisis Regional Sulawesi Selatan. Kegiatan kali ini mengangkat topik complex disaster di mana terdapat kombinasi antara krisis kesehatan akibat KLB dan Wabah namun juga disertai dengan bencana banjir di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara umum, kegiatan berjalan lancar dan bahkan melibatkan kelompok disabilitas untuk memunculkan kasus GEDSI (Kesetaraan Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial).

ftx h1 7

Setelah kegiatan, pada Jumat, 2 Februari 2024 dilaksanakan kegiatan After Action Review (AAR) yang digunakan untuk memberikan evaluasi dan masukan terhadap penyusunan dokumen pedoman HEOC. Disimpulkan bahwa perlu perbaikan mayor untuk Pedoman HEOC Provinsi Sulawesi Selatan, karena pedoman disusun sebelum Pedoman Nasional Penanggulangan Bencana dari Kementerian Kesehatan diterbitkan pada 2023, sehingga banyak konten yang sudah tidak sesuai dan perlu diperbaharui.

ftx h1 8

{/tabs}

Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

 

Reportase Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Bali

ttx bali 1

Reportase

Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE)
di Provinsi Bali

Rabu-Kamis, 24-25 Januari 2024


PKMK – Uji coba dokumen menjadi salah satu aktivitas penting dalam membentuk ketahanan dalam penanggulangan bencana. Kali ini, PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan AIHSP (Australia Indonesia Health Support Partnership) melaksanakan Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Bali pada Rabu-Kamis, 24-25 Januari 2024.

A. Proses Persiapan Uji Coba

Agar dapat melaksanakan kegiatan secara efektif, efisien, lancar, dan supaya tujuan kegiatan dapat tercapai, maka diperlukan persiapan uji coba yang matang. Proses persiapan uji coba TTX di Provinsi Bali menjadi suatu hal yang cukup menantang. Bagaimana menyatukan persepsi dan kepentingan yang ada untuk mencapai tujuan bersama menjadikan tim PKMK UGM harus memutar otak dan berimprovisasi.

ttx bali 1

Dinamika yang dilaksanakan selama persiapan, terhitung selama 4 bulan sejak Oktober 2023 hingga pertengahan Januari 2024, telah menghasilkan 9 kali pertemuan dengan agenda:

  1. Menentukan peran masing-masing tim penyusun sebagai panitia lokal, evaluator, dan observer
  2. Menentukan jadwal pelaksanaan TTX
  3. Pembuatan matriks skenario dan melengkapinya (membuat inject, menentukan alur pemain, SOP yang diujikan, peserta yang terlibat, hingga peralatan yang dibutuhkan)
  4. Memastikan setiap peserta yang terlibat mendapatkan peran
  5. Mengidentifikasi instansi dan jumlah peserta yang dilibatkan dalam TTX
  6. Pembuatan kerangka acuan kegiatan dan draft undangan
  7. Penentuan lokasi dan susunan acara kegiatan TTX
  8. Menyusun alat evaluasi dan lembar jawab bagi peserta
  9. Finalisasi teknis dan strategi pelaksanaan TTX

Ketika penentuan jadwal kegiatan TTX, sempat ditemukan perbedaan pendapat hingga akhirnya kegiatan TTX terpaksa mundur dari target di awal pertemuan. Namun, sebagai kompensasi, kegiatan FTX sebagai tindak lanjut harus dilaksanakan dalam masa yang berdekatan. Selain dalam penentuan jadwal, kendala lain yang ditemukan adalah ketika menentukan komposisi pemain, yang jika menilik pada skenario justru lebih banyak melibatkan lintas sektor dibandingkan HEOC itu sendiri. Hal tersebut merupakan implikasi dari pedoman dan skenario yang sudah disusun. Namun, tim PKMK UGM dapat menemukan solusi dari problem tersebut dan kegiatan dapat disiapkan dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membuat susunan acara dan target pembahasan yang menjadi acuan dalam setiap rapat mingguan dengan tim Bali.

B. Pelaksanaan Uji Coba

Uji coba pedoman dilaksanakan pada Kamis, 25 Januari 2024 pukul 08.00-18.00 WITA di Hotel Prime Plaza Sanur. Acara dimulai dengan seremonial pembukaan. Sambutan diawali oleh Bappeda Provinsi Bali yang diwakili oleh I Putu Suparta Jaya menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Australia yang berhasil menyusun dokumen dan menyelenggarakan kegiatan ini. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh akademisi, ahli, lintas sektor, dan tim PKMK UGM yang membantu terselenggaranya acara ini. Beliau berharap, melalui dokumen dan kegiatan ini, Bali dapat meningkatkan koordinasi lintas sektor dan melihat pandangan dari berbagai pihak.

ttx bali 2

Sambutan dilanjutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak tahun lalu ketika menyusun dokumen pedoman HEOC. Kali ini, rangkaian uji coba dokumen mengangkat topik flu burung yang sesuai dengan Surat Edaran Dirjen P2P Kementerian Kesehatan RI berisi himbauan peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman kasus flu burung. Dengan kegiatan ini, Provinsi Bali diharapkan memiliki mitigasi pelaksanaan wabah dan krisis kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali kemudian membuka acara.

ttx bali 3

Pelaksanaan uji coba diawali dengan pengkondisian peserta. Bentuk forum melingkar dengan lingkaran pertama diisi oleh pemain dan lingkaran kedua diisi oleh observer dan evaluator yang duduk secara acak agar para peserta dapat menjaga konfidensialitasnya dalam menjawab.

Kegiatan TTX dibagi menjadi 3 fase yakni; pra krisis, krisis, dan resolusi. TTX ini mengangkat topik wabah flu burung di Provinsi Bali. Pedoman HEOC yang diujikan kali ini lebih banyak melibatkan lintas sektor dibandingkan komponen di dalam Dinas Kesehatan Provinsi Bali sendiri. Alur koordinasi dan komunikasi yang menjadi fokus uji coba pedoman ternyata belum cukup terlihat, dikarenakan peserta belum cukup memahami dokumen dan dokumen juga belum mengatur secara teknis kegiatan terkait koordinasi dan komunikasi. Sehingga jawaban yang dilontarkan para pemain hanya bersifat normatif. Beberapa peserta dinilai justru kurang memahami konteks.

Evaluator dalam kegiatan ini dihadirkan dari multi sektor, mulai dari Bappelitbangda Provinsi Bali, akademisi (FKH dan PSKM FK Universitas Udayana), ahli (PAEI), NGO (AIHSP), lintas sektor (BPBD, Detasemen Polisi Militer IX Udayana), dan juga Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Sedangkan observer kegiatan ini dihadirkan dari Bappelitbangda, PMI, Balai Besar Karantina Kesehatan Denpasar, RSUP Dr IGN Prof Ngurah, dan Dinas Pertanian Provinsi Bali.

ttx bali 4

Kegiatan TTX ditutup dengan After Action Review, yakni sesi penyampaian hasil evaluasi, masukan, kesan dan pesan terhadap jawaban yang diberikan, SOP yang dilakukan dan tidak atau justru belum ada di dalam pedoman yang telah disusun. Semua input dicatat dan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan uji coba tahap selanjutnya, yakni melihat dan menguji secara spesifik komponen dan/atau fungsi serta melihat operasionalisasinya, meski tidak menilai perlengkapan. Yakni dengan simulasi field training exercise (FTX).

C. Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut

Rapat evaluasi telah dilaksanakan pada hari yang sama selepas kegiatan TTX ditutup.

ttx bali 5

Rapat ini dihadiri oleh tim penyusun pedoman dan skenario, PKMK FK-KMK UGM, dan AIHSP. Rapat membahas tiga poin:

  1. Evaluasi teknis pelaksanaan kegiatan TTX
  2. Evaluasi berdasarkan hasil jawaban peserta, koreksi oleh evaluator dan observer, serta penjelasan konsep FTX
  3. Persiapan FTX
    1. Memastikan bentuk FTX yang akan diangkat
    2. Menyamakan persepsi tujuan pelaksanaan FTX
    3. Menentukan jadwal rapat rutin persiapan FTX
    4. Menentukan fase-fase FTX, detail skenario, dan pemain yang diundang
    5. Menentukan lokasi kegiatan dan waktu pelaksanaan
    6. Menentukan susunan acara FTX

Setelah rapat diakhiri, maka koordinasi selanjutnya akan berjalan melalui grup whatsapp dan rapat rutin secara daring hingga mendekati hari H.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati

Reportase Kegiatan Tabletop Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/HE) di Provinsi Sulawesi Selatan

ttx sulsel 1

Reportase Kegiatan

Tabletop Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/HE)
di Provinsi Sulawesi Selatan

Selasa-Rabu, 19-20 Desember 2023

PKMK – Dalam rangkaian penyusunan sebuah pedoman, diperlukan uji coba pedoman untuk menilai apakah dokumen yang sudah disusun dapat operasional dan sesuai kebutuhan di lapangan. Selain itu, uji coba dokumen juga menjadi penting sebagai upaya melihat pemahaman para pihak yang nantinya terlibat dalam sebuah sistem yang disusun. Kali ini, PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan AIHSP (Australia Indonesia Health Support Partnership) melaksanakan Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Krisis Kesehatan (Health Emergency/ HE) di Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa-Rabu, 19-20 Desember 2023.

  1. Proses Persiapan Uji Coba

Dalam proses penyusunan dokumen yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan pendampingan AIHSP, diperlukan persiapan dan refreshment terhadap pedoman dan skenario uji coba yang sudah dihasilkan.

ttx sulsel 1

Dari 15 orang tim penyusun yang terdiri dari pemangku kebijakan, akademisi, dan lintas sektor kemudian dibentuk tim yang lebih compact menjadi panitia lokal. Panitia lokal bertugas mematangkan konsep uji coba pedoman, membahas detail teknis kegiatan, dan berkoordinasi secara rutin dalam pertemuan reguler mingguan. Dalam rangkaian uji coba ini, terdapat 7 orang panitia lokal di mana 6 orang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan 1 orang berasal dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.

Dinamika yang dilaksanakan selama persiapan menghasilkan 10 kali pertemuan dengan agenda:

  1. Menentukan peran masing-masing tim penyusun sebagai panitia lokal, evaluator, dan observer
  2. Menentukan jadwal pelaksanaan TTX
  3. Penyelarasan skenario
  4. Pembuatan matriks skenario dan melengkapinya (membuat inject, menentukan alur pemain, SOP yang diujikan, peserta yang terlibat, hingga peralatan yang dibutuhkan)
  5. Memastikan setiap peserta yang terlibat mendapatkan peran
  6. Mengidentifikasi instansi dan jumlah peserta yang dilibatkan dalam TTX
  7. Pembuatan kerangka acuan kegiatan dan draft undangan
  8. Penentuan lokasi dan susunan acara kegiatan TTX
  9. Menyusun alat evaluasi dan lembar jawab bagi peserta
  10. Finalisasi teknis dan strategi pelaksanaan TTX

           

Dinamika di dalam rapat reguler pasti terjadi. Semangat yang naik turun, kooperasi dari tiap pihak yang terlibat, dan perbedaan zona waktu antara tim PKMK FK-KMK UGM dan panitia lokal seringkali menjadi hambatan pelaksanaan. Namun, selama 10 kali pertemuan dilakukan, selalu mengalami kemajuan atau progress sesuai target dan sangat mempengaruhi hasil yang tertampak pada proses pelaksanaan uji coba pedoman.

  1. Pelaksanaan Uji Coba

Uji coba pedoman dilaksanakan selama satu hari pada Selasa, 19 Desember 2023 pukul 10.00-16.45 WITA di Persik Hall Hotel Four Points Makassar. Acara dimulai dengan seremonial pembukaan yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Andi Muhammad Arsjad, M.Si. Andi menyampaikan apresiasi dan mengharapkan agar setiap peserta yang hadir bisa mengikuti dengan seksama pelaksanaan uji coba pedoman ini. Beliau mengingatkan betapa rawannya daerah Provinsi Sulawesi Selatan terhadap berbagai macam jenis ancaman baik alam dan/atau buatan. Arsjad juga mengemukakan betapa beruntungnya Provinsi Sulawesi Selatan karena mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak untuk membantu membentuk ketahanan dan kesiapsiagaan khususnya dalam permasalahan kegawatdaruratan kesehatan. Pihaknya berharap ke depan, Provinsi Sulawesi Selatan dapat berlaku secara mandiri menjalankan upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas menuju ketangguhan dan kesiapsiagaan krisis kesehatan.

ttx sulsel 2

Pelaksanaan uji coba diawali dengan pengkondisian peserta. Bentuk forum melingkar dengan lingkaran pertama diisi oleh pemain dan lingkaran kedua diisi oleh observer dan evaluator yang duduk secara acak agar para peserta dapat menjaga konfidensialitasnya dalam menjawab.

ttx sulsel 3

Kegiatan TTX dibagi menjadi 3 fase yakni; pra krisis, krisis, dan resolusi. TTX ini mengangkat topik wabah rabies di Provinsi Sulawesi Selatan yang disertai dengan banjir di beberapa area kabupaten/kota. Skenario yang diujikan cukup unik dan memasukkan poin-poin yang terkadang jarang diangkat seperti mekanisme manajemen logistik VAR dan SAR, isolasi HPR (hewan penyebab rabies), manajemen kelompok rentan, manajemen keuangan, dan administrasi. Dari kegiatan ini, dapat terlihat dengan jelas sejauh mana pemahaman pemain terhadap pedoman yang sudah disosialisasikan dan apakah pedoman sudah cukup operasional atau belum. Forum juga dapat menilai perspektif luas dari berbagai pihak yang terlibat.

ttx sulsel 4

Evaluator dalam kegiatan ini dihadirkan dari multi sektor, mulai dari Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan, akademisi (FK UNHAS dan FK UMI), ahli (PAEI), NGO (AIHSP), dan juga Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI. Sedangkan observer kegiatan ini dihadirkan dari Bappelitbangda, PMI, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Sulawesi Selatan, Biro Hukum Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan FK UNHAS, dan MDMC Provinsi Sulawesi Selatan.

ttx sulsel 5

Kegiatan TTX ditutup dengan After Action Review, yakni sesi penyampaian hasil evaluasi, masukan, kesan dan pesan terhadap jawaban yang diberikan, SOP yang dilakukan dan tidak atau justru belum ada di dalam pedoman yang telah disusun. Semua input dicatat dan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan uji coba tahap selanjutnya, yakni melihat dan menguji secara spesifik komponen dan/atau fungsi serta melihat operasionalisasinya, meski tidak menilai perlengkapan. Yakni dengan simulasi functional exercise (FTX).

  1. Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut

Rapat evaluasi telah dilaksanakan pada Rabu, 20 Desember 2023 bertempat di Ruang Rapat Losari D Hotel Four Points Makassar pada 09.00-14.30 WITA.

ttx sulsel 6

Rapat ini dihadiri oleh tim penyusun pedoman dan skenario, PKMK FK-KMK UGM, dan AIHSP. Rapat membahas tiga poin:

  1. Evaluasi teknis pelaksanaan kegiatan TTX
  2. Evaluasi berdasarkan hasil jawaban peserta, koreksi oleh evaluator dan observer, serta penjelasan konsep FTX
  3. Persiapan FTX
    1. Memastikan bentuk FTX yang akan diangkat
    2. Menyamakan persepsi tujuan pelaksanaan FTX
    3. Menentukan jadwal rapat rutin persiapan FTX
    4. Menentukan fase-fase FTX, detail skenario, dan pemain yang diundang
    5. Menentukan lokasi kegiatan dan waktu pelaksanaan
    6. Menentukan susunan acara FTX

Setelah rapat diakhiri, maka koordinasi selanjutnya akan berjalan melalui grup whatsapp dan rapat rutin secara daring hingga mendekati hari H.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati

Reportase In House Training Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

soeradji 1

Reportase

In House Training Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

Selasa-Rabu/14-15 November 2023

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari 1: Selasa, 14 November 2023

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian “Pelatihan Potensi Pembentukan Emergency Medical Team (EMT) AHS UGM untuk mendukung kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan. Pokja Bencana FK-KMK UGM bekerja sama dengan AHS UGM dalam menyelenggarakan kegiatan ini dengan harapan seluruh jejaring AHS sudah memiliki EMT/TCK yang siap ditugaskan ketika terjadi bencana.

soeradji 1

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan”

Pertemuan pertama diawali dengan kata sambutan dari Dekanat FK-KMK UGM dan dari Direktur RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Poin penting yang disampaikan semoga kerja sama ini terus berlangsung dengan baik dan rumah sakit akan membentuk EMT/TCK sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh RS. Materi awal adalah flashback pengiriman tim AHS UGM dan Penyusunan rencana operasi EMT AHS yang disampaikan oleh dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD. Tim yang diberangkatkan tidak ujuk-ujuk (tiba-tiba) berangkat tanpa persiapan. Ketika diketahui terjadi bencana, tim AHS melakukan rapat koordinasi awal dulu membahas sejauh mana dampak yang diakibatkan bencana tersebut, apakah tim AHS perlu segera dikirimkan. Informasi dapat diketahui setelah berkoordinasi dengan PKK Kemenkes dan dinkes setempat. Jika ada kesepakatan mengirimkan tim maka tahap selanjutnya adalah melengkapi logistik individu dan logistik tim. Selama tim bertugas ada beberapa hal yang wajib dilakukan yaitu briefing awal sebelum bertugas, mencatat apa yang ditemukan di lapangan atau pelayanan apa yang sudah dilakukan serta melaporkan kegiatan harian yang dikirim ke dinas kesehatan. Setelah berakhir penugasan juga tim wajib menyerahkan exit report.

soeradji 2

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan materi Konsem EMT”

Selanjutnya dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD menyampaikan materi Konsep EMT AHS melalui penjelasan “METHANE” yaotu hal apa saja yang perlu diketahui tim EMT sebelum berangkat. Major Incident (M) yaitu memastikan gambaran kejadian seperti apa? Apakah berdampak pada manusia khususnya kesehatan yang menimbulkan korban. Exact Location (E) yaitu memastikan lokasi kejadian bencana dan dimana saja lokasi yang membutuhkan pelayanan kesehatan segera. Type of Injury (T) yaitu mengetahui jenis pelayanan kesehatan seperti apa yang dibutuhkan. Hazard existing and predicting (H) yaitu mengetahui bahaya yang diakibatkan. Access (A) yaitu mengetahui akses. Number of Injury (N) yaitu mengetahui jumlah yang terdampak. EMT Exiting + Need yaitu kebutuhan EMT selama melakukan tugas.

Materi selanjutnya adalah survival in disaster and safety security disampaikan Sutono, S.Kep., Sc,. M.Kep. Bagaimana menjaga keamanan EMT saat bertugas di lapangan?. Kemudian penyampaian materi Aktivasi HEOC/k laster kesehatan di dinkes terdampak dan kaitannya dengan EMT oleh dr. Bella Donna, M.Kes. EMT yang ditugaskan terintegrasi dengan operasi klaster kesehatan, pusat koordinasi ada di HEOC/ klaster kesehatan. EMT/TCK harus melapor mulai dari pendaftaran, penempatan penugasan pelayanan kesehatan sampai kepada kepulangan ke HEOC/ klaster kesehatan.

Di akhir sesi, Madelina Ariani, MPH mengenalkan form-form EMT dan MDS diantaranya form register relawan, form penanganan pasien korban bencana, form rujukan, form Health Need Assessment (HNA) dan penerimaan logistik.

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari 2: Rabu, 15 November 2023

soeradji 3

Dok. FK-KMK UGM “Peserta Pelatihan Pembentukan EMT RSUP dr. Soeradji”

Pertemuan kedua diawali dengan pemaparan materi persiapan logistic personal, tim dan operasional oleh Maryami Y Kosim, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D. Sebelum keberangkatan logistik ini sudah disiapkan oleh tim khusus logistik khusunya untuk kebutuhan operasional di lapangan. Kebutuhan logistik sesuai dengan jenis bencana yang terjadi dan sebaiknya disiapkan setelah mendapatkan informasi kejadian awal dan RHA dari dinas kesehatan terdampak. Pada materi ini juga disampaikan form yang dibutuhkan untuk manajemen logistik saat bencana, siapa yang bertanggung jawab atas logistik dan seperti apa bentuk pelaporannya.

Materi kedua tentang Rapid Health Assessment oleh Happy R Panngaribuan, MPH. RHA yang dipaparkan adalah bagaiamana RHA yang dilakukan oleh dinkes dan RHA yang dilakukan oleh EMT/TCK. Khusus untuk dinkes sudah memiliki panduan dan formulir tersendiri untuk RHA sesuai dengan Permenkes Nomor 75 Tahun 2019. RHA yang dilakukan oleh EMT/TCK menjadi tugas bidang manajemen, tim ini biasanya diberangkatkan maksimal satu hari paska kejadian bencana untuk mendapatkan informasi yang valid khususnya jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Penugasan EMT, logistik yang dibutuhkan semua ditentukan berdasarkan hasil RHA tersebut. RHA dilaksanakan pada awal kejadian, pada masa tanggap darurat, pada masa akhir tanggap darurat dan pada masa rehabilitasi.

soeradji 4

Dok. FK-KMK UGM “ Materi Persiapan Kepulangan EMT (kiri) dan Praktek (kanan)

Materi ketiga tentang Persiapan kepulangan EMT dan manajemen pos penugasan oleh dr Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B. Pada materi ini, ditekankan bahwa seluruh pelayanan yang dilakukan oleh EMT wajib dilaporkan kepada HEOC/ klaster kesehatan. Dari laporan tersebut akan didapatkan rekomendasi kebijakan, kebutuhan pelayanan selanjutnya dan penyakit terbesar yang muncul di daerah pengungsian.

Di akhir sesi adalah praktek, simulasi dan demonstrasi dengan skenario dibagi menjadi beberapa sesi yaitu sesi awal kejadian bencana, sesi koordinasi awal AHS UGM, sesi persiapan keberangkatan, sesi persiapan logistik, sesi operasional EMT di lapangan dan sesi evaluasi.

Dilanjutkan rencana tindak lanjut, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sepakat akan membentuk EMT Type I dan tahun depan akan melaksanakan kegiatan pelatihan yang dibutuhkan oleh EMT.

Reporter

Happy R Pangaribuan, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK-KMK UGM)

{/tabs}

Reportase Workshop Health in Emergency

h1 whe scale

Reportase

“Workshop Health in Emergency”

13-17 November 2023


 

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama: 13 November 2023

Peningkatan kapasitas para pelaku penanggulangan bencana bidang kesehatan di Indonesia pada berbagai tingkat baik di kalangan pemerintah maupun non pemerintah merupakan sebuah keharusan terutama dalam aspek pengurangan risiko bencana untuk mencegah dan mengurangi korban serta dampak kesehatan lainnya. Upaya tersebut sejalan dengan agenda Kementerian Kesehatan yang sedang menjalankan Transformasi Kesehatan khususnya di bidang Ketahanan Kesehatan.

h1 whe scale

Berdasarkan hal tersebut, Pusat Krisis Kesehatan bekerja sama dengan UNICEF Indonesia dalam kerangka Annual Work Plan (AWP) tahun 2023 menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan dalam bentuk Workshop Health in Emergency pada 13-17 November 2023 di Hotel Aston Sentul Lake Resort & Convention Center, Bogor. Peserta kegiatan berasal dari multi sektor di bidang kesehatan, seperti BNPB, Puskes TNI, Pusdokkes POLRI, Akademisi, WHO, UNICEF, UNFPA, CDC, Kemenkes, dan TCK EMT. PKMK FK-KMK UGM mengirimkan delegasinya, dr. Alif Indiralarasati, dalam kegiatan tersebut.

Pada hari pertama, peserta pelatihan mendapatkan materi dasar seputar konsep mengenai UNICEF Core Commitment for Children and SPHERE Minimum Standard for Humanitarian Response, Situasi Bencana dan Krisis Kesehatan di Indonesia serta kebijakan yang menaungi. Situasi Kegawatdaruratan Kesehatan di Asia Pasifik, Konsep Manajemen berbasis Klaster dalam Penanggulangan Bencana, dan Konsep mengenai bencana serta Kegawatdaruratan Kemanusiaan yang Rumit/Kompleks. Pemateri pada hari pertama berasal dari berbagai institusi seperti UNICEF, Kemenkes, BNPB, dan CDC Atlanta.


Reporter: dr. Alif Indiralarasati

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari Kedua: 14 November 2023

Setelah memahami konsep dasar dalam kegawatdaruratan di bidang kesehatan, termasuk kaitannya dengan bencana dan krisis kesehatan, maka topik kegiatan di hari kedua mulai membahas teknis-teknis dalam penanggulangan krisis kesehatan.

Kegiatan hari ini dibuka dengan penyampaian Early Warning Alert and Response (EWAR) oleh CDC Atlanta yang mengawali konsep pentingnya mendapatkan informasi dalam waktu cepat dengan cara yang paling efisien dan mudah, yakni berbentuk surveilans data penyakit berdasarkan gejala. Materi kemudian dilanjutkan dengan kebijakan surveilans di Indonesia oleh Kemenkes RI, yang mengafirmasi sistem EWAR dengan nama berbeda, yakni SKDR.

h2 whe 1

Masih berbicara mengenai surveilans, sesi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan konsep Rapid Assessment oleh CDC. Pembicara menekankan agar tim surveilans mengumpulkan data sebelum dan setelah bencana. Dalam teknik pengumpulan data, dapat dibagi menjadi data primer dan sekunder. Untuk data primer, penting dalam menjelaskan bagaimana data didapatkan, tujuan pengumpulan data, dan limitasi dari hasil pengumpulan data tersebut. Tak lupa, materi dilanjutkan dengan situasi dan konsep RHA di Indonesia.

h2 whe 2

Sebagai penutup sesi hari ini, diberikan materi mengenai Manajemen Logistik Kesehatan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Meski tampak sederhana, namun manajemen logistik saat bencana membutuhkan kerja sama multi sektor dan koordinasi yang kuat baik di internal dan eksternal lembaga. Tak lupa, berbeda dengan hari sebelumnya, di sesi hari ini terdapat 2 sesi diskusi kelompok berdasarkan kasus yang disediakan, mengenai materi EWAR dan Surveilans. Kelas pelatihan hari ini berjalan dengan menarik dan hangat.


Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{tab title=”Hari 3″ class=”blue”}

Hari Ketiga: 15 November 2023

Masih berbicara mengenai teknis dalam sistem penanggulangan krisis kesehatan. Hari ketiga membawa para peserta untuk lebih memahami tentang manajemen penyakit menular. Sesi di pagi hari, disampaikan oleh Andrew Boyd dari CDC Atlanta, yang menjelaskan pendekatan pada penyakit menular dalam situasi gawat darurat dan Emerging Infectious Diseases. Dalam paparannya, Andrew menekankan tentang banyaknya faktor risiko timbulnya lokus penyakit menular di pengungsian. Terdapat 4 jenis penyakit yang sering muncul, yakni diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), campak, dan malari. Di sisi lain, sebagai kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap krisis kesehatan, kita juga harus lebih menilik pada penyakit-penyakit yang berpotensi menjadi wabah dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

h3 whe 1

Kemudian, diberikan materi mengenai kesetaraan gender dan disabilitas dalam krisis kesehatan. Kondisi krisis kesehatan menghadirkan tantangan baru dalam menerapkan kesetaraan gender dan disabilitas, karena terkadang kurangnya prioritas dan dokumentasi, adanya peningkatan stres, sistem keamanan yang terdisrupsi, maupun timbulnya kesakitan baru akan meningkatkan vulnerabilitas dalam penerapan kesetaraan dalam kerangka krisis kesehatan. Penting pula untuk dapat mengkomunikasikan risiko dan melibatkan masyarakat dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama. Tak lupa, manajemen logistik dan fasilitas kesehatan dalam bencana harus dikonsiderasikan secara baik dan terencana, agar ketika situasi bencana dan krisis hadir, tiap aktor hanya perlu mengaktivasi sistem bukan membentuk sistem yang baru.

h3 whe 2

Sesi terakhir, membahas manajemen Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) yang berkaitan erat dengan timbulnya risiko terhadap penyakit infeksius dan kesejahteraan pengungsi. Kesalahan dalam manajemen WASH akan dapat mempengaruhi aspek kesehatan dan non kesehatan. Salah satu penyakit yang sangat berhubungan dengan WASH pada konteks pengungsian adalah diare cair akut dengan salah satu etiologi yang paling ditakuti adalah kolera. Kolera sangat mudah menyebar, tidak semua pasien bergejala, dan hanya sejumlah kecil akan jatuh ke dalam kondisi fatal. Sayangnya, keterlambatan identifikasi kasus utamanya saat kondisi bencana dan ekosistem pengungsian, akan menurunkan kemampuan deteksi dini dan analisis risiko.

Sebagai penutup hari ketiga, para peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan melakukan aktivitas diskusi kasus mengenai WASH dan kasus infeksi di pengungsian, khususnya kolera. Dalam diskusi ini, para peserta diminta untuk mengidentifikasi komponen WASH, tantangan dalam manajemen kasus infeksi di lingkungan pengungsian, hingga bagaimana upaya prevensi dan vaksinasi untuk kolera.


Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{tab title=”Hari 4″ class=”grey”}

Hari Keempat: 16 November 2023

Hari ini adalah hari terakhir penyampaian materi. Topik yang dibahas mencakup sub klaster dalam klaster kesehatan bencana. Sesi pertama membahas mengenai “Gizi saat Bencana” yang dibawakan oleh Kemenkes dan UNICEF. Terdapat 4 fokus intervensi gizi saat bencana, yakni Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), manajemen gizi buruk, pemberian suplementasi gizi, dan pendampingan kepada kelompok rentan. Intervensi gizi saat bencana dibagi menjadi 2, intervensi gizi spesifik (fokus sub klaster gizi), dan intervensi gizi spesifik (melibatkan lintas sektor). Di akhir sesi mengenai nutrisi/gizi ini, dilakukan simulasi kasus mengenai bagaimana mengeola gizi buruk pada populasi terdampak bencana 3 kecamatan berbeda.

h4 whe 1

Selanjutnya, UNICEF memberikan materi mengenai “Vaksinasi saat Bencana” yang menjadi penting untuk mencegah adanya KLB di pengungsian. Pelatihan juga menyentuh isu tentang dukungan kesehatan mental dan psikososial saat bencana, yang menjadi tantangan besar dalam situasi tanggap darurat maupun pasca bencana. Dukungan ini harus menyentuh semua golongan, dan justru yang seharusnya diupayakan adalah bagaimana para penyintas bisa melakukan kegiatan seperti yang biasa mereka lakukan sebelum terjadi bencana.

Topik yang tak kalah penting adalah manajemen kesehatan reproduksi, ibu dan anak pada saat bencana. Terbatasnya akses, alokasi dana, perubahan status psikologis, dan permasalahan sosiokultural akan menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan tersebut. Direktorat Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia telah membuat PPAM (Paket Pelayanan Awal Minimal) beserta kalkulatornya untuk menghitung profil demografi populasi terdampak yang dapat digunakan sebagai dasar advokasi, pengajuan pendanaan, dan pembuatan program dalam masa tanggap darurat. Dalam implementasinya, diperlukan 3 hal, yakni penyebarluasan informasi, menghimpun umpan balik, dan partisipasi aktif. Sejalan dengan upaya Kemenkes, CDC juga memiliki pedoman yang digunakan secara global untuk membantu manajemen usia produktif, ibu dan anak pada saat bencana. Tak lupa, di sesi ini juga diadakan simulasi bermain peran sebagai pelaku dan expert dalam bidang KIA menghadapi bencana.

h4 whe 2

Terakhir, disampaikan materi mengenai kesehatan untuk remaja dalam bencana. Meski bukan termasuk kelompok rentan, namun karena di Indonesia populasi usia produktif terutama remaja memiliki persentase yang cukup besar, maka kesehatannya harus diperhatikan. Pendekatan yang komprehensif menjadi kunci dalam tatalaksana kesehatan di segala kelompok usia, termasuk remaja.


Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{tab title=”Hari 5″ class=”red”}

Hari Kelima: 17 November 2023

Pada hari kelima, telah dilaksanakan table top exercise dengan skenario gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Barat. Pada simulasi kali ini, peserta dibagi menjadi 6 kelompok, yakni klaster koordinasi, WASH, Yankes, P2P, Kespro, dan Nutrisi. Kegiatan dibagi menjadi 2 bagian, yakni fase tanggap darurat akut (0-72 jam) dan fase tanggap darurat pada 3-7 hari pasca kejadian.

h5 whe

Dalam simulasi ini, peserta dapat memahami bahwa permasalahan respon dalam bencana harus bersifat komprehensif, tidak hanya memikirkan masalah makro tapi juga belajar berpikir secara kesehatan masyarakat. Poin-poin seperti kelompok rentan, penyakit infeksi, dan nutrisi menjadi kunci dalam simulasi kali ini. Namun sayang, bentuk simulasi tidak sesuai dengan pedoman ICS yang berlaku di Indonesia, meski secara konten cukup baik. Di sisi lain, simulasi lebih bersifat seperti bermain peran dibanding sebagai sebuah table top exercise.

Secara keseluruhan kegiatan pelatihan ini baik dan sangat direkomendasikan untuk dilanjutkan namun dengan menghadirkan lebih banyak pelaku terkait (dinas kesehatan) dan/atau menitikberatkan pada poin koordinasi dan bagaimana mekanisme operasionalisasi HEOC agar lebih aplikatif dan sesuai dengan kondisi riil di Indonesia.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{/tabs}

Reportase Kegiatan In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates

hdp wates 1

Reportase Kegiatan

In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama

7 November 2023

Kelompok Kerja Bencana FK-KMK UGM bersama AHS UGM melakukan pelatihan pembentukan Emergency Medical Team (EMT) di RSUD Wates. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian “Pelatihan Potensi Pembentukan Emergency Medical Team (EMT) AHS UGM untuk Mendukung Kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK)” sebagai implementasi Hibah AHS UGM. Kegiatan berlangsung selama dua hari pada Selasa – Rabu, 7 – 8 November 2023. Hari pertama berlangsung dari pukul 09.00 – 15.00 WIB di Ruang Komite Medis RSUD Wates.

hdp wates 1

Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Direktur RSUD Wates, dr. Eko Budiarto, Sp.An., M.Kes. Eko menyampaikan syukur dan terima kasih atas kehormatan menjadi tuan rumah in house training yang pertama dalam pembentukan EMT diantara rumah sakit jejaring AHS UGM lainnya. Acara ini, nantinya akan menjadi salah satu roadmap peresmian Tim Disaster RSUD Wates. Eko berharap setelah pelatihan, tim akan menjadi lebih matang dan siap jika nantinya akan diterjunkan bersama AHS UGM.

Sambutan dilanjutkan oleh dr. Datu Respatika, Sp.M., Ph.D yang mewakili jajaran pengurus AHS UGM. Datu menghaturkan terima kasih atas kesediaan RSUD Wates sebagai pioneer pelatihan pembentukan EMT yang menjadi implementasi dukungan AHS UGM terhadap kebijakan TCK yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI pertengahan bulan melalui UU Kesehatan.

Seusai sambutan, peserta pelatihan diajak untuk melakukan pemanasan sebelum sesi materi melalui survey dan pre-test yang telah disiapkan oleh panitia. Fungsi dari kuis ini untuk menguji pemahaman awal para peserta dan kesiapan untuk penerjunan tim dalam masa tanggap darurat. Kemudian, acara diteruskan dengan penyampaian materi oleh dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD mengenai “Flashback Penerjunan Tim AHS UGM” dan “Perencanaan Operasional Harian EMT”. Dalam materi pertama, Agung menyampaikan bagaimana rumah sakit-rumah sakit jejaring AHS UGM mampu berkolaborasi dan gotong royong dalam mengirimkan tim ke lokasi bencana. Agung kemudian memaparkan tentang pentingnya perencanaan dalam operasi EMT. Tahapan perencanaan dimulai dengan preparasi, aplikasi, rencana keluar, dan pembelajaran dari misi. Proses preparasi menjadi kunci dari penerjunan tim, karena harus dilakukan dari asesmen yang baik, memahami dan mengetahui kekuatan institusi, persiapan logistik, administratif, koordinasi di lokasi, serta mengetahui kondisi tim. Saat aplikasi di lapangan, penting untuk membuat jadwal operasi harian secara rinci, agar kemudian dapat memperkirakan rencana penarikan tim dan pembelajaran saat sesi refleksi selesai dari misi.

hdp wates 2

Materi berikutnya, disampaikan oleh Sutono, S.Kep., M.Sc., M.Kep. mengenai Persiapan Pengiriman EMT. Sutono menyampaikan konsep EMT dan jenis-jenisnya sesuai standar WHO serta bagaimana dapat mencapai standarisasi tersebut. Dalam materinya, banyak dibagikan pengalaman penerjunan tim agar dapat memotivasi para peserta untuk mau diterjunkan ketika nanti ada bencana bersama EMT AHS UGM.

hdp wates 3

Pada sesi siang, Sutono kembali hadir dengan materi mengenai “Safety and Security” dan “Survival in Disaster”. Bencana bukan kondisi ideal, yang sewaktu-waktu dapat memunculkan stres baik fisiologis dan psikologis para relawan saat di medan. Kunci untuk dapat bertahan hidup sebagai relawan di medan bencana, adalah dengan mengedepankan safety (untuk mencegah kejadian yang tidak disengaja) dan security (mencegah kejadian yang disengaja). Sikap yang harus dilakukan selama di lapangan adalah; bertanggung jawab, mematuhi peraturan, waspada, bertindak dengan tepat, dan komunikasi.

hdp wates 4

Materi terakhir pada pertemuan hari pertama pelatihan disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD mengenai Konsep EMT-AHS. Dalam penjelasannya, Hendro mengajarkan singkatan agar menjadi EMT yang paripurna, yakni “METHANE”. M adalah major incident (sebelum diterjunkan, tim harus memastikan kejadian betul terjadi atau tidak). E singkatan dari exact location (memastikan lokasi kejadian, area yang paling terdampak, dan area yang masih terisolir atau yang belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan). T yakni type of injury (untuk memastikan logistik yang dibawa oleh tim). H yang berarti hazard existing and predicting. A adalah access. N singkatan dari number of injury. Dan terakhir E yaitu EMT existing + need.

Kegiatan hari pertama ditutup tepat waktu dan harapannya peserta dapat memahami dan termotivasi menjadi EMT yang paripurna dan siap diberangkatkan kapan saja terdapat bencana melanda bersama AHS UGM.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{tab title=”Hari 2″ class=”blue”}

Pada Rabu, 8 November 2023 telah terlaksana Pelatihan Hari Kedua In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates di Ruang Komite Medis RSUD Wates pukul 09.00 – 15.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah 30 peserta dari staf rumah sakit yang fokus pada penanggulangan bencana.

hdp wates h2 1

Berbeda dengan hari pertama, hari kedua lebih banyak membahas tentang penerapan teknis EMT di lapangan. Materi pertama, dibuka oleh dr. Bella Donna, M.Kes mengenai Aktivitas HEOC/ Pos Klaster Kesehatan dan kaitannya dengan EMT. Sebagai tim yang diterjunkan ke lapangan, harus memahami dimana harus bernaung dan melapor selama penugasan. Tim harus memahami siapa yang mengatur dan mengontrol kinerja di lapangan, agar gerak semua pihak dapat terkoordinir dengan baik dan mampu mencapai tujuan bersama, yakni kesejahteraan penyintas.

Selain materi tersebut, Bella juga mengenalkan formulir-formulir yang digunakan oleh EMT untuk fungsi pendataan dan pelaporan, serta sistem MDS yang digunakan secara universal untuk merekap data pasien menggantikan sistem rekam medis yang konvensional, khusus di medan bencana.

Kegiatan kemudian diteruskan dengan materi oleh dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B mengenai “Persiapan Kepulangan EMT dan Manajemen Pos Penugasan”. EMT seringkali melakukan kesalahan ketika penugasan hingga kepulangan, diantaranya; kurang latihan, komunikasi yang lemah, kebingungan peran, kurang fleksibel, mismanajemen sumber daya, dan kurang baiknya sistem dokumentasi. Maka, EMT memiliki kewajiban untuk; melakukan pelayanan yang aman, adil, dan etis, respon yang bertanggungjawab, sesuai, dan terkoordinasi.

Selepas istirahat siang, sesi latihan diisi oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid yang menuturkan topik “Rapid Health Assessment oleh EMT dan HNA”. Meski idealnya dalam melakukan RHA membutuhkan SK dari pemerintah setempat terlebih dahulu, namun faskes di sekitar area terdampak dapat mendahului melakukan penilaian awal dan dapat menjadi dasar untuk segera mengaktivasi HEOC oleh pemangku kebijakan terkait. EMT harus dapat membedakan jenis bencana yang terjadi secara tiba-tiba atau bencana yang terjadi secara perlahan namun lama. Pedoman-pedoman yang dapat digunakan EMT sudah ditranslasi dan disesuaikan dengan kultur bangsa Indonesia dan dapat diakses secara bebas melalui laman Kemenkes RI.

Terakhir, Gde menyampaikan materi “Persiapan Logistik Personal, Tim, dan Operasional”. Dalam materi ini, EMT harus mengidentifikasi kemampuannya dan komposisinya. EMT juga harus mengidentifikasi terlebih dahulu jenis bencana dan hasil penilaian awal untuk menentukan durasi penerjunan tim yang akan sangat berpengaruh terhadap penyusunan logistik selama penugasan. Gde juga mengingatkan bahwa EMT harus melapor kepada HEOC setempat agar dalam penugasannya dapat termonitor sampai pada urusan logistik yang dibawa oleh tim.

hdp wates h2 2

Sesi pelatihan juga diikuti dengan simulasi berupa tabletop exercise oleh tim bencana RSUD Wates. Simulasi menggunakan kasus yang merupakan risiko tertinggi di daerah Wates, yakni banjir yang mungkin terjadi akibat jebolnya tanggul Waduk Sermo. Dinamika simulasi berjalan dengan baik dan tim besar berharap nantinya tim bencana RSUD Wates dapat berpartisipasi secara aktif dalam penerjunan tim di medan bencana bersama AHS UGM.

Reportase: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM)

{/tabs}

Reportase The 5 International Conference for Mass Gatherings Medicine (ICMGM) “Legacy in Global Health Security”

gcmgm h1 1

Reportase

The 5 International Conference for Mass Gatherings Medicine (ICMGM) “Legacy in Global Health Security”

Riyadh, Arab Saudi, pada 29-31 Oktober 2023


Global Center for Mass Gatherings Medicine (GCMGM) merupakan salah satu WHO collaborating center yang bernaung di bawah Kementerian Kesehatan Kerajaan Saudi, menyelengarakan konferensi Internasional untuk Mass Gatherings Medicine (ICMGM) yang ke-5 dengan tema “Warisan untuk Keamanan Kesehatan Global”. Acara ini berlangsung di Hilton Riyadh pada 29-31 Oktober 2023. Tujuan konferensi ini antara lain berbagi pengetahuan dan keahlian terkini mengenai perencanaan dan pengelolaan mass gatherings selama pandemi COVID-19 dan peran mereka dalam mempromosikan keamanan kesehatan global (global health security-GHS), memperluas jejaring spesialis dan pusat GHS, mengembangkan strategi berkelanjutan untuk GHS, dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan serta merancang rencana penelitian dan peningkatan kapasitas di GHS, menjelajahi pemanfaatan teknologi digital untuk mass gatherings dan GHS. GCMGM sendiri sebagai salah satu WHO-CC adalah bagian dari kolaborasi internasional WHO untuk manajemen pengetahuan, penelitian dan publikasi berbasis bukti, mengadakan program pelatihan di MGH, memberi nasihat dan berkonsultasi dengan komunitas internasional untuk memperkuat dan menjunjung tinggi kegiatan nasional untuk mengembangkan rencana, program dan jejaring, terutamanya dalam lingkup mass gatherings.

Peneliti dari PKMK FK-KMK UGM, apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid.,menjadi salah satu pembicara yang diundang sebagai tindak lanjut dari jejarig yang dibentuk pada saat konferensi Congress World Association on Disaster and Emergency Medicine (WADEM) ke-22 yang diselengarakan di Killarney, Irlandia pada Mei 2023 lalu. Terdapatnya sebuah dokumentasi akademik terkait lesson learnt dari insiden-tragedi lebih tepatnya-Kanjuruhan menarik perhatian dari dunia akademik internasional pemerhati mass gatherings medicine untuk dijadikan pembelajaran bagi dunia melalui konferensi ini.

Informasi selengkapnya https://5thicmgm.com/agenda/

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama, 29 Otober 2023

KSA telah banyak berinvestasi di semua bidang MGS untuk menjamin keselamatan sejumlah besar jamaah selama haji dan umrah tahunan. Penelitian akan membantu menginformasikan pengambilan keputusan sehubungan dengan rekomendasi kesehatan masyarakat untuk haji dan umrah serta acara mgs lainnya di seluruh dunia, dan akan menjadi sumber referensi informasi, keahlian dan pengetahuan kesehatan dan manajemen MGS secara nasional dan internasional. Pengakuan internasional atas keahlian dan upaya KSA dalam pengembangan bidang kesehatan dan manajemen MGS agar lebih mengantisipasi penyerbuan dan penyalahgunaan zat dalam acara olahraga dan budaya. Peristiwa dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama, bergilir secara periodik, atau tunggal pada satu waktu. Analisis mendalam diperlukan untuk menarik semua pelajaran yang mungkin didapat di tengah kesulitan dalam generalisasi.

ICMGM ke-5 dibuka oleh pejabat-pejabat kementerian Kesehatan Kerajaan Saudi yaitu Dr. Hani Jokhdar, Deputi Menkes bidang Kesehatan Masyarakat dan Wakil Menteri Mr. Abdulaziz Alrumaih, dan Dr Anas Khan, Direktur GCMGM, bersama dengan pejabat WHO Regional EMRO yaitu Dr. Ahmed Almandhari sebagai Regional Director demisioner, dan Prof. Hanan H. Balkhy sebagai RD yang baru saja terpilih.

gcmgm h1 1

Penutupan sesi pembukaan oleh Prof Hanan Balkhy yang baru saja terpilih menjadi Regional Director WHO EMRO, beliau RD wanita pertama di regional ini.

Sesi pertama terkait tata kelola dan perencanaan keamanan kesehatan global harus kuat, terkoordinasi, dan kolaboratif agar dapat secara efektif mengatasi sifat ancaman kesehatan yang dinamis dan saling berhubungan dalam skala global. Komunitas global dapat meningkatkan kemampuan kolektifnya untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman kesehatan, yang pada akhirnya memperkuat keamanan kesehatan global dan melindungi kesejahteraan populasi di seluruh dunia. Pertimbangan tata kelola dan perencanaan dalam konteks keamanan kesehatan global meliputi: kerja sama dan kepemimpinan internasional, kolaborasi multisektoral: institusi kesehatan global, strategi keamanan kesehatan nasional, penilaian risiko dan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas, penelitian dan pengembangan, kolaborasi regional, transparansi dan akuntabilitas, komunikasi dan komunikasi risiko, pembiayaan berkelanjutan, serta inklusivitas dan kesetaraan. Moderator: Dr. Hani Jokhdar – Deputi Menteri Kesehatan Masyarakat, dengan materi dan para panelis “Data Driven Decision Making” oleh Dr. Mohammed K. Alabdulaali, “MG & GHS: Competing Interests” oleh Dr. Saleh Al Marri, dan “International & Multilateral Coooperation” by Dr. Mohamed Hassani.

Sesi kedua terkait arah global health security yang harus bersifat komprehensif, kolaboratif, dan proaktif agar dapat secara efektif mengatasi tantangan kesehatan dunia yang kompleks dan saling berhubungan. Prinsip dan pendekatan utama yang dapat memandu arah global menuju ketahanan kesehatan mencakup kolaborasi multilateral dengan pendekatan terpadu, kesiapsiagaan dan ketahanan, diplomasi kesehatan, pembagian informasi yang tepat waktu, penelitian dan inovasi, peningkatan kapasitas dan pelatihan, pendekatan One Health, akses layanan kesehatan yang inklusif dan adil, Kemitraan pemerintah-swasta, peraturan dan kepatuhan internasional, mekanisme pembiayaan yang efektif, serta pendidikan dan komunikasi kesehatan. Global health security harus adaptif, seragam dan berwawasan ke depan, mengantisipasi tantangan masa depan sambil belajar dari pengalaman masa lalu untuk terus meningkatkan upaya kesiapsiagaan dan respons. Moderator: Dr. Tareef Alaama – Wakil Menteri Pelayanan Kuratif dengan materi dan para panelis: “IHR Future Direction” oleh Dr. Abdullah Assiri, “Building the Evidence Base for GHS” oleh Dr. Tina Endericks, “Decision Making Finesse and Early Interventions” oleh Dr. Pasi Penttinen, “Process, Challenges and impact” oleh Dr. Douglas L. Hatch, kemudian ditutup dengan sambutan oleh Prof Paul Arbon terkait bagaimana mass gatherings menjadi salah satu ancaman terhadap global health security yang sifatnya massif dan harus dicegah bersama-sama.

gcmgm h1 2

Peneliti PKMK FK-KMK UGM, apt. Gde Yulian, M.Epid. berfoto bersama Dr Tina Enderics dari Pulic Health UK yang juga salah satu WHO-CC untuk mass gatherings dan pernah membantu Indonesia menyiapkan dokumen mitigasi untuk Asian Games 2018, dan Dr Donald Donahue yang seminggu yang lalu baru kembali dari Yogyakarta untuk mengikuti ASEAN Academic Conference dan kini menyaksikan langsung bagaimana jejaring AANDHM terlibat dalam kegiatan emergency research.

Sesi ketiga pada topik membangun kapasitas dan melakukan penilaian dalam keamanan kesehatan global merupakan komponen penting dari pendekatan komprehensif untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman kesehatan secara efektif. Untuk meningkatkan kapasitas, kita perlu memperkuat infrastruktur layanan kesehatan, termasuk fasilitas medis, laboratorium, dan rantai pasokan. Pengembangan Tenaga Kerja dan upaya untuk menarik dan mempertahankan individu-individu berbakat merupakan investasi yang sangat penting. Serta melibatkan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko kesehatan dan tindakan pencegahan. Kegiatan yang dilakukan harus mencakup pengintegrasian keahlian dari berbagai sektor untuk mengatasi penyakit zoonosis dan tantangan kesehatan lintas sektoral lainnya. Sistem ini harus memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti solusi kesehatan digital, telemedis, dan kecerdasan buatan, untuk meningkatkan pengawasan penyakit, analisis data, dan koordinasi respons. Di sisi lain, melakukan penilaian risiko secara berkala untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan potensi ancaman kesehatan akan memulai dan mengarahkan mitigasi. Penilaian ini harus mempertimbangkan risiko yang ada dan yang akan muncul. Hal ini mencakup latihan simulasi, pemantauan kinerja, Tinjauan Setelah Tindakan (AAR), penilaian kapasitas dan analisis kesenjangan, serta tinjauan sejawat dan tolok ukur. Moderator: Prof. Saleh Almohsen – Dekan Fakultas Kedokteran KSU dengan materi dan para panelis “Global Health as a Driving Force” oleh Dr. Abdullah Alquwizani, “Global & National Integration for Capacity Building” oleh Dr. Mark Salter, “Data Sharing for GHS” oleh Prof. Lucille Blumberg, dan terakhir materi terkat “Capacity Building & Assessment” oleh Dr. Ninglan Wang.

 gcmgm h1 3

Sesi debat oleh : Dr. Gregory Ciottone dan Dr Michael Molloy dua orang pakar terkait pengorganisasian emergency di lingkup kesehatan, keduana memiliki opini yang sangat menarik untuk mengangkat ideologinya dan “menjatuhkan” ideologi yang lain, pada akhirnya kembali kepada kapasitas instansi ataupun negara yang memilih untuk mengimplementasikan system tersebut

Sesi Debat tentang HICS (Sistem Komando Insiden Rumah Sakit) dan MIMMS (Manajemen dan Dukungan Medis Insiden Besar) keduanya merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk mengelola insiden dan keadaan darurat, namun keduanya ditargetkan pada jenis organisasi dan insiden yang berbeda. Perbedaan utama mencakup audiens target, ruang lingkup, pelatihan, serta struktur dan peran komando. Karena keduanya berasal dari sistem yang berbeda, kedua pembicara membandingkan fitur-fiturnya dengan harapan dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang pemanfaatannya. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Badr Al Otaibi dan pembicaranya iaah Dr. Gregory Ciottone serta Dr Michael Molloy. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah MIMMS lebih membutuhkan sumber daya untuk pelatihannya sehingga cocok di Negara maju sementara ICS lebih inklusif dan dapat diimplementasikan di berbagai instansi dan lebih interoperable.

 

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari Kedua, 30 Oktober 2023.

Pada hari kedua, peneliti PKMK FK-KMK UGM memutuskan untuk mengikuti kegiatan di sesi Supply Chain & Operations, karena bidang yang lebih relevan dengan kebencanaan. Di sesi ini didiskusikan bagaimana mengatasi rantai pasokan dan rencana operasi yang akan sangat penting untuk memastikan ketersediaan dan distribusi sumber daya Kesehatan serta pasokan medis yang efektif pada kegiatan mass gathering yang berpotensi terjadinya bencana mendadak – sudden onset disaster. Kesiapsiagaan dan perencanaan terhadap akses dan rencana kontijensi yang tepat dengan menerapkan sistem untuk memantau ketersediaan dan gangguan. Perencanaan dan sistem manajemen sumber daya yang real-time merupakan hal yang wajib, dan pengulangan sangat penting untuk meningkatkan keapasitas, dan konsep “Just-in-time” mengalami hambatan di tengah pandemi, dan “Just-in-Case” pun semakin meningkat. Koordinasi multi-lembaga dan jaringan distribusi yang efisien untuk memastikan pengiriman sumber daya medis tepat waktu ke titik-titik yang ditentukan perlu direncanakan dengan cermat, dan alokasi sumber daya dinamis dengan menggunakan solusi digital dapat memastikan ketersediaan sumber daya medis dan meningkatkan ketahanan terhadap GHS.

Sesi ini dimoderatori oleh Mr. Abdulaziz Abdulbaqi, dan mengangkat topik presentasi “Prehospital Care during Hajj” oleh Dr. Fahad Al Hajjaj, “Supply and Logistics: the Human Element” oleh Dr. Donald Donahue, Moderator kedua: Dr. Bandar Muzahim, “Clinical Tricks during MG operations” oleh Dr. Jamie Ranse, “Eastern Health Cluster – World Cup preparedness” oleh Dr. Mobarak Almulhim, “Logistic Challenges and Solutions” oleh Mr. Emad Alzahrani.

ICMGM h2 1

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Kesiapsiagaan menghadapi mass gathering event memilika sama denganmempersiapkan kejadian bencana seperti pengalaman manajemen Piala Dunia Qatar 2022 yang dibahgikan oleh Dr. Hamad Al Romaihi.

Pada sesi selanjutnya, terkait Climate Change & Heat-Related Illnesses. Diskusi mengarahkan pada perlunya fokus pada pembangunan ketahanan sistem kesehatan dan penerapan strategi pencegahan dan pengelolaan yang efektif terhadap penyakit yang berhubungan dengan panas. Peningkatan kapasitas, melakukan intervensi kesehatan masyarakat untuk mitigasi, dan menyediakan sumber daya untuk melakukan respons merupakan hal yang sangat penting. Itu semua bermula dari kesadaran dan pendidikan bagi masyarakat dan profesional kesehatan. Meskipun perubahan iklim menempati banyak ruang media, penelitian mengenai HRI tidak mendapat banyak perhatian. Pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit terkait panas secara tepat waktu sangat penting untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan peserta, sehingga pertemuan massal menjadi lebih aman dan tangguh dalam menghadapi tantangan terkait iklim.

Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Bandar Almutairi, denan subject “HRI Management Current Guidelines & Opportunities” oleh Dr. Majid Salamah, “Health as a Lever for Action on Climate Change” oleh Dr. Cecilia Sorensen. Moderator kedua: Dr. Abdulrahman Sabbagh, “Climate & Health Systems Resilience” oleh Dr. Revati Phalkey, “Impact of Climate Change on Health Security” oleh Prof. David Callaway, “Physiological Implications of Heatstroke” oleh Dr. Abdulrazak Bouchama

ICMGM h2 2

Dokmentasi PKMK FK-KMK UGM: Peneliti PKMK FK-KMK UGM apt. Gde Yulian, M.Epid. yang menjadi pembicara pertama pada sesi “Events Experience”membagikan pengalaman bagaimana Indonesia khsususnya Kementerian Kesehatan RI berbenah setelah terjadi tragedi Kanjuruhan. Meskpun hingga satu tahun kemudian keluarga korban masih mencari keadilan dari PSSI dan Kepolisian namun di sektor kesehatan sudah ada perbaikan denganpenyusunan juknis terkait mass gathering yang melibatkan sepakbola..

Pada sesi setelah makan siang, yaitu Events Experience. Para pembicara membawakan pengalaman bahwa karakteristik acara mass gathering sangat berbeda-beda dan memerlukan pertimbangan tersendiri. Acara keagamaan menghadapi risiko penyakit pernapasan menular dan desak-desakan yang lebih tinggi. Acara olah raga dan kebudayaan lebih banyak terjadi insiden terinjak-inak dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Peristiwa dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama, secara periodik, atau tunggal pada satu waktu. Analisis mendalam diperlukan untuk menarik semua pelajaran yang mungkin didapat di tengah kesulitan dalam generalisasi. Pada sesi ini peneliti PKMK FK-KMK UGM memaparkan lesson learnt dari kejadian mass gathering yang berujung pada insiden korban banyak (mass casualty incident-MCI) yaitu Tragedi Kanjuruhan.

Sesi ini dimoderatori oleh: Dr. Loui Al Sulimani, dengan preentasi-presentasi: “Football Stampede in Kanjuruhan Stadium” oleh Mr. Gde Yulian Yogadhita, “Crowd Disasters and Countermeasures” oleh Dr. Heejun Shin, “Karbala Arbaen” oleh Dr. Fares Allami. Moderator kedua: Dr. Abdulaziz Alrabiah, “Papal Mass” oleh Dr. Valerio Mogini, “Ships Evacuation from Sudan” oleh Dr. Ali Alzahrani. Dan sesi Events Experience – 2 (E4) selanjutnya dimoderatori oleh Dr. Ali Alshareef. “Boston Marathons” oleh Prof. Sophia Dyer, “Qatar FIFA World Cup” oleh Dr. Hamad Al Romaihi. Moderator kedua sesi ini : Dr. Omar Othman, “Paris SAMU Events” oleh Dr. Eric Revue, “Riyadh Entertainment Seasons” oleh Dr. Saad Assiri, and “Mass gatherings in Times of Unrest” oleh Dr. Derrick Tin. Hari kedua kemudian ditutup dengan Lesson Learnt from Pandemic yang dimoderatori oleh Dr. Mehmood Khan dengan pembicara: Dr. Maria Van Kerkhove dan Prof. Jennifer Nuzzo.

Para pembicara pada konferensi ini dapat dilihat di tautan: https://5thicmgm.com/speakers/

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Hari 3″ class=”blue”}

Seperti pada hari kedua, dimana ada dua sesi parallel, hari ketiga atau hari yang terakhir ini peneliti PKMK FK KMK UGM memutuskan untuk mengikuti kegiatan di sesi Emergency Medical Team atau EMT, karena bidang ini yang lebih relevan dengan kebencanaan. Inisiatif global EMTs yang diadvokasi oleh WHO, bertujuan untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan koordinasi tim medis dalam menanggapi keadaan darurat dan bencana, termasuk acara mass gathering yang berskala internasional. EMT adalah kelompok profesional kesehatan dan staf pendukung yang dikerahkan dengan cepat untuk memberikan perawatan medis darurat dan layanan kesehatan penting setelah keadaan darurat kesehatan masyarakat. Komponennya meliputi klasifikasi dan verifikasi, standardisasi dan pelatihan, penerapan cepat dan dukungan dalam acara mass gathering yang berskala internasional. Dengan mengikutsertakan EMT ke dalam perencanaan kesiapsiagaan dan respons medis untuk acara mass gathering yang berskala internasional, penyelenggara acara dapat meningkatkan keamanan kesehatan keseluruhan dari pertemuan tersebut dan lebih siap untuk mengelola potensi risiko dan keadaan darurat kesehatan. EMT memainkan peran penting dalam menyediakan perawatan medis yang tepat waktu dan menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak keadaan darurat, dan memastikan kesejahteraan peserta acara maupun penonton.

Sesi E5 ini dimoderatori oleh: Dr. Elsakka Hammam, dengan menghadirkan beberapa topik diskusi seperti “WHO Endeaver in EMT Standardization” oleh Dr. Flavio Salio, “Standards for Emergency Medical Teams During MGs” oleh Dr. Kris Spaepan. Moderator ke-2 Dr. Yaser Alaska, mengangkat topic diskusi “Legislation on Mass Gathering Medical Response” oleh Dr. Marc-Antoine Pigeon dan “International Standards & Considerations during Sports Events” oleh Dr. Andrew Massey.

ICMGM h3 1

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Dr. Flavio Salio, kepala sekertariat global EMT di WHO HQ menyampaikan bagaimana EMT dapat berkontribusi dalam acara mass gathering yang berskala internasional dengan membandingkan standard rasio kebutuhan tenaga kesehatan dengan standar EMT internasional.

Pada sesi selanjutnya, Manajemen Kasus dalam Keadaan Mass Gathering dan PHE (E6). Dalam konteks mass gathering medicine, manajemen kasus mengacu pada pendekatan sistematis dalam memberikan perawatan yang komprehensif dan tepat kepada individu yang memerlukan perhatian medis selama acara berlangsung. Hal ini melibatkan penilaian, pengobatan, dan tindak lanjut kasus, serta koordinasi perawatan untuk memastikan hasil kesehatan yang optimal. Hal ini mencakup triase, penilaian, pengobatan dan stabilisasi, kesinambungan perawatan, dokumentasi, manajemen pengobatan, komunikasi, rujukan, dukungan psikologis, dan AAR-After Action Reviews. Dengan mencakup aspek-aspek manajemen kasus ini selama acara mass gathering atau pertemuan massal, penyedia layanan kesehatan dapat memberikan layanan medis yang efisien dan efektif kepada peserta, berkontribusi terhadap keamanan kesehatan secara keseluruhan pada acara tersebut, dan memastikan kesejahteraan peserta acara maupun masyarakat yang menonton. Moderator: Dr. Michael Molloy, dengan beberapa topic seperti “Emergency Departments Preparations” oleh Dr. Tariq Althubaiti, “A Day in Emergency Department during Hajj” oleh Dr. Thamer Junaid, “Mobile Medical Teams” oleh Prof. Ives Hubloue, Moderator ke-2: Prof. Ahmed Al-Jedai, “Competencies for HCPs in MGs” oleh Dr. Attila Hertelendy dan “Critical Care Operations” oleh Prof. Zohair Assiri.

ICMGM h3 2

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Peneliti PKMK FK-KMK UGM apt. Gde Yulian, M.Epid. bersama dr Kasemsuk Yothasamutr SpEM, anggota EMT Internasional Thailand yang juga staff di Division of Medical, Technical and Academic Affairs, Department of Medical Services di Kementerian Kesehatan Thailand. Diharapkan setelah acara konferensi ini akan ada joint research terkait mitigasi mapun manajemen mass gathering yang menjadi produk AANDHM-ASEAN Academic Network on Disaster Health Management

Pada sesi setelah makan siang, yaitu Imunisasi, dimana imunisasi memainkan peran penting dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular dan menjadi salah satu komponen penting GHS. Memilih vaksin dan kemoprofilaksis mana yang diamanatkan atau direkomendasikan adalah langkah pertama, diikuti dengan penanganan masalah akses dan logistik. Kampanye penyadaran, komunikasi dan dokumentasi juga merupakan kegiatan canggih yang memerlukan tim multi-disiplin. Keragu-raguan dan infodemik merupakan tantangan besar seperti yang terlihat pada masa COVID-19 dan wabah lainnya. Investasi dalam pengembangan, produksi dan distribusi vaksin merupakan infrastruktur penting bagi GHS selama masa normal dan terbukti sangat penting dalam keadaan darurat dan pandemi. Dengan menerapkan strategi ini, keamanan kesehatan global dapat ditingkatkan secara signifikan selama pertemuan massal. Imunisasi membantu melindungi peserta dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, mengurangi risiko penularan penyakit, dan berkontribusi terhadap kesehatan dan keselamatan peserta secara keseluruhan dan komunitas yang lebih luas. Sesi ini dimoderatori oleh: Dr. Junaid Bajwa, menghadirkan topic-topik seperti “Mass Vaccination” oleh Dr. Khalid Alabdulkareem, “Vaccination for travel & MG” oleh Dr. Salim Parker, “Discovieries and Regionalization of Vaccine Manufacturing” oleh Dr. Anwar Hashem, “Epidemiology of Vaccine Preventable Diseases” oleh Dr. Harunor Rashid, dan “Policies for Vaccine Recommendation” oleh Dr. Haleema Alserihi.

Kemudian acara ditutup dengan pembacaan lima belas rekomendasi dari acara konferensi ini sebagai berikut:

  1. Pertemuan massal adalah sarana untuk meningkatkan kapasitas dan bekerja secara terus-menerus bagi institusi untuk mendorong dampak positif dan berkelanjutan pada sistem kesehatan dan menghindari siklus “panik dan pengabaian”
  2. Era kita menuntut untuk memastikan kapasitas dan kesiapan fasilitas medis, laboratorium, dan rantai pasokan, kita perlu membangun kapasitas dengan layanan terintegrasi
  3. Kita perlu merumuskan rencana kesiapsiagaan dan respons yang komprehensif yang mencakup penilaian risiko, alokasi sumber daya, dan mekanisme koordinasi
  4. Kita memerlukan pendekatan gabungan, bottom-up dan top-down untuk melengkapi kerangka kerja kuat yang dirancang dengan baik seperti “pertimbangan utama” dan bukti untuk pertemuan massal dan keamanan kesehatan global
  5. Sangat penting untuk mengadopsi model keputusan berbasis data dan mengamankan investasi dalam infrastruktur analisis data untuk mengoptimalkan prosedur tata kelola dan hasil perencanaan
  6. Sudah menjadi kebutuhan untuk membentuk kelompok kerja internasional untuk mengembangkan protokol kesehatan, standar, dan pedoman terpadu untuk pertemuan massal
  7. Kami menganjurkan pengalokasian sumber daya dan pendanaan untuk mendukung inisiatif keamanan kesehatan global dalam konteks pertemuan massal
  8. Kami mendorong pengembangan inisiatif penelitian bersama, berbagi pengalaman, dan praktik terbaik untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan terkait pertemuan massal
  9. Kami menganjurkan strategi multidimensi, multidisiplin dan multisektoral untuk keberhasilan komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas (RCCE) terutama untuk kelompok rentan
  10. Masa depan kesehatan masyarakat adalah berfokus pada kesehatan perilaku, ada banyak potensi untuk menggunakan ilmu perilaku untuk memastikan kepatuhan dan penyederhanaan prosedur
  11. Kita memerlukan penilaian komprehensif untuk mengidentifikasi hambatan rantai pasokan dan merancang strategi untuk memastikan ketersediaan dan distribusi yang memadai selama pertemuan massal
  12. Kami menganjurkan penguatan jaringan pengawasan laboratorium dan kolaborasi disiplin ilmu
  13. Kami menganjurkan penerapan sistem pengawasan canggih yang mampu mengumpulkan, memantau, dan menganalisis data secara real-time untuk melacak indikator kesehatan selama pertemuan massal
  14. Kita perlu mengintegrasikan tim medis darurat dalam proses perencanaan kesiapsiagaan dan respons untuk pertemuan massal
  15. Kita memerlukan imunisasi yang komprehensif dan strategi pasca masuk untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit menular

Profil para pembicara pada konferensi ini dapat diakses di tautan: https://5thicmgm.com/speakers/

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Reportase Pre Conference Seminar On Safe And Resilient Health Facilities And Infrastructure

aac 2023 1

 

{tab title=”Pre Conference” class=”blue”}

Seminar Pre Conference

FKK-MK-Yogya. Seminar Safe and Resilient Health Facilities and Infrastructure ini merupakan sesi tematik pada 2nd ASEAN Academic Conference on Disaster Health Management (2nd AAC on DHM) pada 17 Oktober 2023. Seminar terdiri dari dua sesi dengan tujuan untuk berbagi wawasan ilmiah yang inovatif mengenai Disaster Health Management (DHM) serta memperkuat jejaring antara peneliti/akademis, praktisi medis, dan pengambil kebijakan.

aac 2023 1

Dok. FK-KMK UGM “Sambutan Seminar Pre-Conference on Safe and Resilient Health Facilities and Infrastructure”

Seminar Pre Conference diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD, FRSPH selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperwatan, Universitas Gadjah Mada dan Dr. Sumarjaya, SKM, MM,MFP, C.F.A yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI. Yodi, dalam sambutannya memberikan dukungan terhadap aktivitas kegiatan DHM dimana FK-KMK UGM adalah National Focal Point (NFP) Indonesia dari ASEAN Academic Network on DHM (AANDHM). Lebih lanjut, bahwa tugas prioritas NFP adalah melakukan integrasi dari WHO Safe Hospital Concept dalam hubungannya dengan Sendai Framework dan menyelenggarakan seminar/workshop mengenai Safe Hospital. Kedua kegiatan ini adalah bentuk implementasi dari tugas yang harus dilaksanakan oleh FK-KMK UGM sebagai salah satu NFP Indonesia dari AANDHM.

Sesi pertama dengan tema “Integration of WHO Safe Hospital Concepts in Relation to the Sendai Framework”. Sesi ini menghadirkan Yanick Michaud-Marcotte (United Nations Office for Disaster Risk Reduction, UNDRR), Dr. Hari Kumar (WHO SEARO), dan dr. Hendro Wartatmo, Sp-KBD (Indonesia).

aac 2023 2

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan Sesi 1: Integration of WHO Safe Hospital Concepts in Relation to the Sendai Framework”

Sesi kedua, diskusi berbagi pengalaman dan pengetahuan di Negara ASEAN dengan pembicara dari Indonesia sebagai negara tuan rumah, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Penentuan tiga negara terpilih dilakukan melalui tahapan scientific rapid review oleh tim Indonesia. Pembicara dari perwakilan negara memberikan gambaran dan berbagi mengenai penguatan manajemen keadaan darurat dan bencana di rumah sakit oleh Kementrian Kesehatan negara tersebut. Akhir sesi pemaparan, dilakukan diskusi panel dengan keaktifan partisipan seminar dalam memberikan pertanyaan kepada pembicara. Setelah sesi diskusi dan penyerahan plakat, seluruh partisipan mengikuti kegiatan selanjutnya adalah observation tour ke UGM.

 

aac 2023 3

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan Sesi 2:Knowledge and Experience sharing in the ASEAN”

OBSERVATION TOUR

aac 2023 4

Dok. FK-KMK UGM “Sesi inagurasi AIDHM”

Partisipan mengikuti sesi Inagurasi ASEAN Institute for Disaster Health Management (AIDHM) di Gedung Auditorium FK-KMK UGM. AIDHM telah mendapatkan endorsement dari seluruh negara ASEAN dan Indonesia ditetapkan sebagai Host Country untuk Sekretariat AIDHM. Kementrian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan bekerja sama dengan FK-KMK UGM melaksanakan mandat dan fungsi AIDHM dengan menetapkan sekretariat AIDHM di Gedung Litbang FK-KMK UGM. Sekretariat AIDHM memiliki ketugasan dalam mengelola dan mendukung aktivitas terkait dengan peningkatan manajemen pengetahuan akademik tentang manajemen bencana kesehatan khususnya pada wilayah ASEAN.

Selanjutnya, partisipan mengikuti sesi observasi tur ke sekretariat AIDHM, ruangan Pokja Bencana FK-KMK UGM, InaHealth Broadcast Room, dan Auditorium FK-KMK UGM sesuai pembagian kelompok dan alur sesi observasi. Partisipan terlihat sangat menikmati sesi observasi dan aktif memberikan pertanyaan di tiap ruangan. Akhir sesi observasi, partisipan berkumpul di Gedung Tahir untuk melakukan foto bersama dan dilanjutkan untuk mengikuti welcoming dinner.

aac 2023 5

Dok. FK-KMK UGM “Sesi observation tour”

Reporter: Gusti Sultan Arifin (FK-KMK UGM)

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}.

18 Oktober 2023

FKKMK-Yogya. 2nd ASEAN Academic Conference on Disaster Health Management (2nd AAC on DHM) dilaksanakan pada 18-19 Oktober 2023 di Indonesia, sebagai Host Country. Konferensi ini terlaksana dengan tujuan utama untuk berbagi pengetahuan dan memberikan wawasan ilmiah inovatif tentang DHM serta memperkuat jejaring antara pengambil kebijakan, praktisi medis, dan peneliti/akademisi. Konferensi ini dibuka oleh Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada dan Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., MA., Ph.D, Sekretaris Jendral, Kementerian Kesehatan RI serta Flt. Lt. dr. Atchariya Pangma, MPH, Chair of the Steering Committee for ASEAN Academic Network on DHM (SC/AANDHM).

aidhm h1 1

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan 2nd AAC on DHM”

Sesi keynote lecture oleh Donald A. Donahue, DHEd, MBA, MSJ, FACHE, FRSPH, President of World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) dengan tema “Defining the Discipline: Advancing Disaster Health Management in a Changing World”. Dalam paparannya, promosi integrasi global untuk masa depan Disaster Medicine dapat dilakukan dengan pendekatan regional chapters, kolaborasi dan koordinasi, kegiatan ilmiah, berbagi informasi, dan advokasi. Budaya baru yang perlu diperbarui dalam kesehatan global dan kepemimpinan layanan kesehatan harus melibatkan seluruh stakeholder dan advokasi secara interdisipliner. Lebih lanjut, bahwa sasaran tujuan WADEM dan AANDHM harus saling berkoordinasi, terkalibrasi, dan komprehensif.

aidhm h1 2

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Keynote Lecture: Advancing Disaster Health Management in a Changing World”

Sesi pertama mengenai “Disaster and Public Health” dengan moderator dr. Datu Respatika, Ph.D., Sp.M (Indonesia). Tujuan sesi pertama ini adalah untuk mengidentifikasi kegiatan potensial di bidang kesehatan masyarakat yang harus ditangani dalam DHM melalui berbagi kasus praktik aktual kesehatan masyarakat yang dilakukan selama tanggap bencana dan pengetahuan/pengalaman DHM yang dapat diterapkan pada keadaan darurat kesehatan masyrarakat.

aidhm h1 3

Dok. FK-KMK UGM “Sesi 1: Disaster and Public Health”

Sesi kedua bertemakan “Human Development and Education for DHM” dengan dr. Phumin Silapunt (Thailand) sebagai moderator. Berbagai pengalaman dalam pengembangan pendidikan/pelatihan DHM dan mengidentifikasi permasalahan dan tantangan serta diskusi strategi yang diperlukan untuk peningkatan pendidikan/pelatihan pada DHM adalah tujuan sesi kedua ini. Mewakili Indonesia sebagai speaker Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, UGM, mempresentasikan mengenai “The Introduction of The DHM Curriculum In Pre-Service Education, and Challenges And Strategies for The Future” dan dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M dari Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI dengan tema “Health Reserve Workforce System (surge Capacity System Including EMT Regional).

aidhm h1 4

Dok. FK-KMK UGM “Sesi 2: Human Development and Education for DHM”

Sesi ketiga mengenai “EMT Development” yang dipimpin oleh Mr. Souheil Reaiche (Technical Officer EMT Health Emergencies Programme WHO HQ). Tujuan sesi ketiga ini untuk berbagi pengalaman dan tantangan bagi pengembangan EMT di setiap negara dan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan tindakan yang dapat diterapkan di AMS lainnya. Mewakili Indonesia sebagai speaker yaitu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.Si., Apt, Universitas Pertahanan dengan tema “The Strategies for EMT development in ASEAN”.

aidhm h1 5

Reporter: Gusti Sultan Arifin (FK-KMK UGM)

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

dalam penyusunan

{/tabs}

Reportase Pelatihan Dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)

hdp ntb 1

Reportase

PROGRAM LANJUTAN: PENDAMPINGAN HDP DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Kamis, 26 Oktober 2023

hdp ntb 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sambutan Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesling, Dinas Kabupaten Provinsi NTB”

PKMK-Yogya. Kegiatan pelatihan dan pendampingan penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit ini direncanakan berlangsung selama lima kali pertemuan. Pertemuan ini merupakan kegiatan lanjutan dari workshop Hospital Disaster Plan pada 3-6 September 2023 di Mataram. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesling, Dinas Kabupaten Provinsi NTB, Badarudin, S.Kep.Ns,MM. Dalam sambutannya, Badarudin menyampaikan bahwa rumah sakit wajib memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Lebih lanjut, sistem organisasi dan/atau manajemen penanganan bencana juga perlu ditindaklanjuti oleh pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, dokumen HDP ini sangat membantu dan berfungsi bagi rumah sakit dalam menentukan potensi bencana/bahaya yang dihadapi, aktivasi sistem komando, prosedur penanganan bencana, fasilitas saat bencana, dan alur komunikasi. Kegiatan ini diikuti oleh 18 Rumah Sakit dengan tipe A-D yang ada di NTB.

Selanjutnya, Rumah Sakit Provinsi NTB menyampaikan draft dokumen HDP yang telah disusun yaitu pengorganisasian saat bencana. Dalam paparannya, Rumah Sakit Provinsi NTB telah membuat draft struktur organisasi saat bencana, namun dalam struktur ini harus terdapat person in charge tertulis beserta tugas pokok dan fungsi berdasarkan strukur organisasi yang dibuat.

hdp ntb 2

Dok. PKMK-FKKMK UGM “Pendampingan Penyusunan Pengorganisasian tim HDP”

dr. Bella Donna, M.Kes memberikan review singkat mengenai konsep Incident Command System (ICS), Kartu Tugas, dan perbedaan ICS dengan MIMMS. Penyusunan struktur organisasi ini menggunakan pendekatan konsep ICS yang akan memberikan pembagian tugas pada tiap personil, kejelasan alur komando, dan komunikasi, serta dimungkinkan adanya pengembangan operasi jika diperlukan. Selain itu, dalam menyusun struktur operasional penanggulangan bencana untuk bencana alam dan non-alam terdapat perbedaan. Ketua bidang operasional dalam bencana alam berasal dari tim dokter bedah/orthopedi/anestesi yang disesuaikan dengan bencana alam yang terjadi sedangkan non alam adalah dokter penyakit dalam/paru untuk kasus bencana non alam.

Sesi diakhiri dengan diskusi singkat peserta dengan dr. Bella Donna, M.Kes dan akan dilakukan pembagian kelompok dalam proses pendampingan penyusunan dokumen HDP bersama tim fasilitator PKMK UGM. Menilai dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi ini, pendampingan penysunan akan berlanjut dan komunikasi yang akan tetap terjalin melalui WhatsApp. Pertemuan selanjutnya akan dijadwalkan pada 2 November 2023.

Reporter: Gusti Sultan (FK-KMK UGM)

Reportase Pertemuan Pendampingan Penyusunan Hospital Disaster Plan (HDP)

hdp pendampingan 1

Reportase

Pertemuan Pendampingan Penyusunan Hospital Disaster Plan (HDP)


Selasa, 5 Oktober 2023: Pemaparan Dokumen Rencana HDP Masing-Masing RS

Sesi kali ini merupakan pertemuan terakhir dimana seluruh peserta mempresentasikan dokumen HDP masing-masing rumah sakit yang telah disusun selama pendampingan bersama tim Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM.

hdp pendampingan 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Presentasi Dokumen HDP RS Imanuel Way Halim”

Sesi presentasi dibagi dalam 3 tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari 2 rumah sakit yang dipilih berurutan oleh tim fasilitator pendampingan. Setelah melakukan presentasi, seluruh fasilitator memberikan masukan atas dokumen yang dipresentasikan baik oleh fasilitator yang telah mendampingi secara langsung maupun fasilitator dari kelompok lain. Para peserta juga dapat saling memberikan masukan sembari saling mengoreksi dengan dokumen yang sudah disusun. Masukan dari fasilitator banyak menyoroti terkait sistem pengorganisasian, analisis risiko, pengembangan skenario dan fasilitas. Kejelasan struktur organisasi RS Imanuel Way Halim, kelengkapan analisis skenario RSAB Harapan Kita dan Narasi Pengembangan Skenario RSUD Cibinong menjadi contoh yang baik untuk perbaikan dokumen. Harapannya seluruh rencana tindak lanjut yang dituliskan dalam dokumen dapat terlaksana sehingga dokumen ini mendapat perhatian dari seluruh pihak rumah sakit.

hdp pendampingan 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Peserta Pelatihan”

Kendala yang dihadapi selama sesi adalah sinyal yang kurang stabil dari RSUD Sumedang sehingga dokumen tidak dapat dipaparkan hingga akhir sesi dan adanya kegiatan lain dari RSU Handayani sehingga tidak dapat memaparkan dokumen. Meskipun demikian, komunikasi dengan RSUD Sumedang masih bisa dilakukan melalui chat room dan telpon langsung, sementara pemaparan RSUD Sumedang digantikan oleh fasilitator pendamping. Di akhir sesi, dilakukan pengerjaan post-test sebagai upaya menilai ulang pemahaman seluruh peserta setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan bersama. Peserta kemudian mendapatkan sertifikat terakreditasi yang dikirimkan secara personal. Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik, sangat terlihat jelas perubahan dokumen sebelum dan setelah mengikuti pelatihan. Tim dari rumah sakit aktif untuk melakukan diskusi dengan fasilitator selama mengerjakan penugasan. Meski pelatihan dan pendampingan telah usai, rumah sakit tetap dapat menghubungi para fasilitator dan mendapatkan bantuan perbaikan dokumen.

Reportase: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM-)