Workshop Climate Change Mitigation and Adaptation in Health Sector yang telah berlangsung hingga hari ini, diharapkan menghasilkan rencana kegiatan untuk kedepannya. Untuk itulah diperlukan diskusi tim dan stakeholder untuk membahas kegiatan workshop dan kunjungan. Hari ini hadir juga perwakilan dinas kesehatan kota Jogjakarta dan Kabupaten Gunung Kidul.
Diskusi atas Kegiatan yang Telah Berlangsung
Diskusi dipimpin oleh Dr. Maria. Banyak pertanyaan dan feedback yang disampaikan oleh Tim Umea maupun UGM mengenai kasus-kasus kesehatan yang ada di masyarakat, kebijakan yang sudah ditempuh, bagaimana hasilnya, dan rencana kegiatan kedepannya kepada pihak dinas kesehatan Kota Jogjakarta yang diwakili Sukantoro dan Kabupaten GunungKidul yang diwakili oleh Kartini.
Kedepannya, masih diperlukan workshop semacam ini sekaligus pertemuan untuk mengevaluasi kegiatan dari masing-masing penanggungjawab kegiatan. Proses diseminasi dilakukan oleh semua tim kepada pemerintah demi memperoleh pemahaman yang sama dan dukungan mengenai pentingnya mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi masalah dan bencana yang berdampak pada kesehatan dalam masyarakat. Mitigasi dan adaptasi yang coba dilakukan dengan penerapan e-health di GunungKidul, Indonesia dan Vasterbotten Council Country, Swedia.
Makan Siang Sambil Menikmati Pemandangan Kota Jogjakarta dari Ketinggian
Rumah Pohon menjadi pilihan untuk makansiang kali ini. Bangunan berlantai enam dengan pilar-pilar bambu besar yang kokoh bersilang diantara ikatan kawat menyambut tim Umea dan UGM siang ini. Kesan yang didapat adalah makan-makanan tradisional Indonesia dari ketinggian diiringi semilir angin dan tarian dedauan pohon tempat bangunan ini bersandar.
Dari tempat teratas dari bangunan ini, kita bisa melihat aktivitas Kota Jogjakarta tanpa takut terhalang apapun. Sebuah pengalaman makan siang sambil menikmati pemandangan Kota Jogjakarta.
Agenda Wokrshop CC MAP hari keempat ini adalah diskusi ICLD dan kunjungan ke RS Sardjito. Kunjungan ini untuk mendapatkan pengalaman RS Sardjito dalam penanggulangan bencana dan sistem informasi kesehatan yang digunakan ada sister hospital.
Kunjungan ke Rumah Sakit Sardjito
Kedatangan tim workshop CC MAP ke IGD RS Sardjito disambut oleh dr. Handoyo dan staff IGD. Di depan ruang pertemuan IGD, telah terpajang banner dokumentasi kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia, dimana FK UGM terlibat di dalamnya.
Kemudian dr. Handoyo dan dr. Bella Donna menjelaskan beberapa pengalaman penanggulangan bencana. Menariknya, Umea University tertarik dengan keterlibatan FK UGM dalam penanggulangan bencana tsunami di Aceh tahun 2004. Penanggulangan bencana tsunami Aceh dilakuan selama empat tahun dan melibatkan lebih dari 500 tenaga kesehatan dan non kesehatan yang diberangkatkan ke Aceh.
IGD juga memberikan presentasi mengenai pengalaman Sardjito dalam kebencanaan. Terutama kebencanaan yang terjadi di Yogyakarta seperti Letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Usai tanya jawab, tim kemudian melanjutkan kunjungan ke ruang perawatan pasien IGD. Terakhir, tim mengunjungi ruang sister hospital rumah sakit Sardjito.
Makan Siang Sambil Menyelami Budaya Jogjakarta
Sekitar jam satu siang, kunjungan keRS Sardjito selesai. Mobil tim langsung meluncur ke rumah makan Bale Raos. Bale Raos merupakan rumah makan milik Keraton Yogyakarta yang menu makanannya pun khas tradisional Yogyakarta.
Setibanya, tim Umea University langsung disambut halaman yang luas dengan tembok tinggi yang mengelilinginya. Dinding dan ornamen bangunan bernuansa hijau diselingi dengan tanaman dan pohon yang besar. Indera pendengaran juga dimanjakan dengan alunan gamelan dan sesekali suara sinden yang merdu mengisi kekosongannya.
Tim dari Universitas Gadjah Mada dan Umea University berangkat ke Gunung Kidul dengan dua buah mobil pada Rabu lalu (17/4/2013). Sepanjang perjalanan yang menanjak dan menukik membuat pengalaman baru bagi rekan dari Swedia. Kehijauan alam pertanian di sepanjang jalan menambah pengalaman mereka di Indonesia.
Kunjungan ke Puskesmas
Sekitar satu setengah jam kemudian, tim sampai di Gunung Kidul. Tujuan tim kali ini adalah Puskesmas Wonosari II. Puskesmas ini memperlihatkan tatanan yang masih asri, dari depan dapat dilihat ada balai yang kerap digunakan untuk penyuluhan atau dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan “siaran kesehatan”. Pertama memasuki puskesmas tim disambut banyaknya pasien ibu dan anak. Hari ini bertepatan dengan hari posyandu tutur Kepala Puskesmas.
Semua poli di puskesmas mendapat kunjungan secara bergantian mulai dari poli umum, kesehatan ibu dan anak, hingga poli gigi, dan berakhir di Aula Puskesmas. Di aula lantai dua, kepala puskesmas memberikan presentasi mengenai keadaan penyakit dan layanan kesehatan di wilayah kerjanya. Sepuluh penyakit terbanyak selama tahun 2012 hingga 2013 masih ditempati oleh ISPA dan demam berdarah. Dengan meningkatnya cakupan asuransi baik Jamkesmas dan Jamkesda hingga triwulan pertama tahun 2013 jumlah kunjungan puskemas mengalami peningkatan. Puskesmas juga mengembangkan upaya kesehatan kerja yang berada di tempat industri menengah dan pasar.
Kunjungan ke Posyandu
Sekitar pukul sepuluh, pihak puskesmas Wonosari II mengajak tim menuju Posyandu di Dusun Trimulyo Desa Kepek. Kurang lebih lima menit tim sampai di posyandu. Posyandu ini merupakan tempat sekolah anak-anak usia dini (PAUD) dan disampingnya merupakan balai yang biasa digunakan untuk kegiatan posyandu juga. Sambutan pertama kepada tim adalah senam sehat gembira, anak-anak bersemangat melakukan gerakan senam bersama para guru.
Hari ini di posyandu sedang diadakan survei yang bertujuan untuk pemantauan dan penemuan kasus gizi kurang dan ketidaknormalan tumbuh kembang. Suasananya posyandu selain ramai dengan ibu yang membawa anaknya, ada juga nenek-nenek yang membawa cucunya, juga mainan anak yang berserakan. Dari cara bermain anak dan interaksinya dengan teman sebayanya kami bisa mengobservasi bagaimana perkembangan anak tersebut, tutur salah satu petugas survei
Tim UGM, Umea University, puskesmas dan Dinas Kesehatan Gunung Kidul mendapat suguhan kue-kue tradisional dan teh hangat dari warga. Teh hangat yang disuguhkan menggunakan gelas dan penutup dari aluminium merupakan budaya menjamu tamu terbaik yang dilakukan masyarakat Indonesia.
Kunjungan ke Rumah Sakit
Beranjak dari posyandu, tim diajak untuk mengunjungi Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Gunung Kidul. Rumah sakit yang masih terbilang baru dibangun ini bernuansa biru sejuk. Ruangan rekam medis menjadi tempat pertama yang dilihat, lalu ke poli klinik terpadu, ke ruangan farmasi dan apotek, radiologi, dan ruang perawatan kelas III. Bagian-bagian inilah dalam rumah sakit nantinya yang erat berhubungan dengan teknologi informasi dalam penerapan e-health. Bagaimana sebuah rekam medis pasien tersimpan dengan baik dan aman serta mudah ditemukan kembali. Bagaimana konsultasi radiologi bisa dilakukan oleh dokter di rumah sakit Gunung Kidul yang terhubung dengan rumah sakit yang ada di Jogjakarta misalnya untuk memperkuat diagnosa atau hal lainnya.
Sambutan Pemerintah Gunung Kidul
Usai kunjungan ke rumah sakit, perjalanan dilanjutkan ke sebuah pondok Baron. Pondok Baron sebuah rumah makan sekaligus tempat beristirahat bagi turis yang ingin berlibur ke pantai-pantai yang dimiliki Gunung Kidul. Akses Pondok Baron ke pantai Kukut tidak lebih dari lima menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.
Di Pondok Baron, Bupati Gunung Kidul beserta staff sudah menunggu. Setibanya disana tim langsung disuguhi dengan hidangan makan siang khas laut dan tradisional Indonesia. Ikan bakar, ikan masak asam, udang, dan kepiting, cah kangkung, dan sambal super pedas. Sebuah pengalaman baru bagi tim Umea University.
Bupati Gunung Kidul, Badingah, S.Sos juga mengajak tim mendatangi pantai Kukup. Menyuguhi dengan hidangan ringan seperti singkong goreng, pisang rebus, dan kacang rebus. Makanan tradisional yang banyak ditemui di Gunung Kidul dan mengandung banyak karbohidrat dan protein yang baik untuk tubuh. Tidak lupa segarnya kelapa muda menjadi penyangga haus bagi tim setelah menikmati pantai Kukup. Sebuah pantai landai dengan penjagaan karang besar pada sisi kanan dan kirinya, airnya biru dan terkadang terlihat hijau, bersih dan segar airnya, serta pasir putih yang menggelitik kaki.
Tim kembali diajak, Bupati Gunung Kidul ke pantai Krakal. Pantai Krakal sedikit berbeda dengan pantai Kukup. Pantai Krakal memiliki tebing karang Sarangan. Dari atas Sarangan kita bisa menikmati seluruh pemandangan di bawahnya. Menoleh ke sebelah kanan kiri, kita akan melihat pemandangan yang hijau berupa hutan dan pertanian dengan sesekali rumah penduduk diantaranya. Menoleh ke kiri, kita akan melihat laut lepas dengan ombak yang cukup tinggi dan keras menghantam karang-karang. Sedangkan menatap ke depan, kita akan melihat hampir seluruh pesisir yang dimiliki Gunung Kidul.
Menjelang sore tim kembali ke Jogjakarta menggunakan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan. Di jalur yang lebih sempit ini, perjalanan tim disambut oleh sebagian besar hutan jati. Gunung Kidul memang penghasil kayu Jati. Kayu Jati merupakan bahan dasar pembuatan furnitur karena serat kayunya yang indah, kuat, dan tahan rayap.
Workshop hari kedua ini membahas tentang kesiapan untuk implementasi dan pengembangan e-health. Pengembangan e-health memerlukan penguatan tim teknis mengenai biomedis dan kelancaran sistem informasi kesehatan yang dibangun suatu daerah. Hari kedua ini masih di hadiri oleh tim dari kedua universitas, Gadjah Mada dan Umea, Sweden. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dan Rumah Sakit Sardjito.
Sesi I : Teknis Biomedis dan Sistem Informasi yang Kuat diperlukan dalam Implementasi dan Pengembangan E-Health
Materi pertama hari kedua ini disampaikan oleh Prof. Ronnie Lundstrom. Prof. Ronnie berasal dari Umea University Hospital (Center for Biomedical Engineering and Radiation Physics) dan Umea University (Departement of Public Health and Clinical Medicine Occupational and Enviromental Medicine). Pada sesi ini, Prof. Ronnie mengenalkan badan-badan di Swedia yang fokus mengembangkan ehealth dan sistem informasi kesehatan, antaralain Umea University Hospital (UHU), Departemennt of Biomedical Engineering and Informatics (UHU/BMEI), Swedish Society for Biomedical Engineering and Physics (MTF), dan Swedish Federation for Medical Informatics (SFMI). Terpenting berikutnya, Prof. Ronnie menjelaskan tentang daerah Vasterbotten Country Council (VCC), merupakan daerah bagian utara Swedia dan daerah yang menerapkan ehealth oleh rumah sakit Umea.
Visi VCC pada tahun 2020 akan menjadi daerah dengan pelayanan dan status kesehatan terbaik di dunia dengan penerapan e-health pada pelayanan kesehatan masyarakat. Saat ini UHU dan BMEI memiliki tugas utama memberikan pelayanan berkualitas, melakukan penelitian, dan pengejaran. Saat ini didukung hingga 5.700 staff untuk mengusahakan pemanfaatan sistem informasi kesehatan yang dilindungi hukum dan regulasi, membuat struktur informasi, membangun inprastruktur, penguatan sistem informasi kesehatan, memfasilitasi berjalannya sistem informasi antar organisasi, dan membuat sistem informasi mudah digunakan dan didapat masyarakat.
Diskusi sesi pertama ini berjalan lancar, beberapa pertanyaan dilontarkan kepada Prof. Ronnie untuk mendapatkan penjelasan lebih mengenai kerja BMEI dan UHU sebagai operator kesehatan di VCC. Materi selengkapnya silahkan
Video Arsip Prof. Ronie Lundstrom
Sesi II : Persiapan E-Health dan Carbon Cost Benefit penerapan E-Health
Menarik, sesi kedua ini secara parallel Dr. Asa Holmner dari Umea University, Sweden dan dr. Lutfan Lazuardi dari Universitas Gadjah Mada yang menyampaikan tentang kesiapan penerapan e-health.
Melanjutkan pembahasan pada sesi I, Asa kembali menjelaskan sedikit kesiapan Swedia dalam menerapkan ehealth. Kemudian, Asa lebih menjelaskan tentang komponen sistem informasi seperti mobile, wifi, kestabilan pasokan listrik, dan kemampuan menangkap dan menyimpan format data digital. Di Sswedia ada jaringan teknologi informasi sejak tahun 2002 dimana pelayanan kesehatan di Swedia terhubung dengan jaringan yang disediakan SJUNET.
dr. Lutfan melanjutkan pemaparan mengenai survey sistem informasi di Indonesia. Diketahui bahwa pengetahuan petugas sistem kesehatan dinas kesehatan masih rendah. Padahal di Indonesia terdapat hampir 9000 puskesmas yang tersebar baik di daerah kota hingga daerah terpencil. Penerapan ehealth menjadi tantangan bagi Indonesia karena kurangnya tenaga kesehatan yang kompeten mengenai sistem informasi, kurangnya dukungan kebijakan dan regulasi, keterbatasan inpastruktur, sosiokultur dimana masyarakat masih menganggap sangat penting bertemu langsung dengan dokter praktek, dan memerlukan biaya investasi yang tinggi.
Diskusi berlanjut dengan peserta yang antusias ingin mengetahui perkiraan hambatan implementasi telemedicine di daerah. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa tantangannya mengenai biaya, budaya organisasi yang menganggap sistem informasi justru menyulitkan pekerjaan, dan kurangnya kemauan dari tenaga kesehatan. Sedangkan infrastruktur, kurangnya tenaga ahli, kurangnya dukungan kebijakan dianggap tidak terlalu menghambat.
Sesi III: Kesiapsiagaan dalam Kebencanaan
Sesi ketiga diisi oleh pembicara dari Pokja Bencana FK UGM. Pokja Bencana diwakili dr. Bella Donna, dr. Handoyo, dan dr. Hendro. Pokja bencana berkesempatan menjelaskan tentang kegiatan Pokja Bencana sejak tahun 2007 dan pengalaman penanggulangan beberapa bencana di Indonesia.
dr. Bella menceritakan sejarah berdirinya Divisi Bencana yang berada di bawah Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM. Kini Divisi Bencana juga bergabung dalam Pokja Bencana FK UGM bersama Rumah Sakit Sardjito dan Rumah Sakit Akademik dan aktif hingga saat ini. Pokja Bencana mengembangkan Hospital Disaster Plan (HDP) dan Regional Disaster Plan (RDP), kurikulum kebencanaan, dan pananggulangan bencana. Bencana kerap terjadi di Indonesia, dan UGM sebagai universitas terkemuka dirasakan perlu membentuk pokja yang khusus menangani tentang bencana. Materi dr.Bella dan dr. Handoyo silahkan
Arsip Video dr Bella Dona
dr. handoyo, selaku ketua Pokja Bencana FK UGM melanjutkan presentasi mengenai beberapa bencana yang terjadi, seperti letusan Gunung Merapi Jogjakarta dan banjir Jakarta. Beragam pembelajaran telah diperoleh dari kejadian bencana tersebut terkait persiapan yang harus disiapkan rumah sakit dan pemerintah jika terjadi bencana. Kemudian, dikembangkan Hospital Disaster Plan sejak beberapa tahun lalu guna mempersiapkan rumah sakit menghadapi bencana. Sementara, untuk tingkat daerah dikembangkan Regional Disaster Plan atau Regional Management Disaster Plan (RMDP). Keberadaan RMDP memerlukan komponen yang saling mendukung seperti aspek legal, pendanaan, perencanaan, keberadaan institusi, dan pengembangan tim.
Arsip Video dr. Handoyo
Kegiatan workshop hari ini ditutup dengan diskusi cukup panjang. Rekan dari Umea University tertarik dengan keberadaan Indonesia sebagai negara yang sering dilanda bencana. Hal unik dan menimbulkan pertanyaan bagaimana sikap Indonesia menghadapi keadaan daerah yang seperti ini. dr. Hendro Wartatmo sebagai salah satu Advisory Board Pokja Bencana FK UGM, kembali menceritakan sejarah pokja bencana di FK UGM. Berawal dari bencana gempa tsunami Aceh dan Bantul, hampir dipastikan bahwa kerusakan dan banyaknya korban pada saat bencana terjadi karena kita memang tidak memiliki konsep menajemen bencana dan pengetahuan kesadaran masyarakat rendah terhadap bencana. Berawal dari itulah dirintis Pokja Bencana yang berpartisipasi dalam pendidikan, pelatihan, dan penanganan penanggulangan bencana di Indonesia.
Workshop Climate Change and Adaptation Policies in the Health Sector oleh FK UGM dan Umea University merupakan kegiatan lanjutan dari workshop serupa yang pernah diselenggarakan pada awal tahun 2013 di Swedia. Workshop kali ini diarahkan langsung untuk melihat keadaan Kabupaten Gunung Kidul sebagai daerah yang akan menjadi model percontohan pemanfaatan sistem informasi kesehatan.
Pembukaan
Workshop CC MAP dimulai dengan sambutan yang diberikan oleh Prof. Hari Kusnanto. Dalam sambutannya, Prof. Hari Kusnanto mengucapkan terimakasih atas kedatangan rekan-rekan dari Umea University, Sweden. Pada hari ini bersama-sama berkumpul dalam suatu forum workshop untuk merumuskan dan memikirkan mengenai tantangan climate change terhadap kesehatan. Workshop ini sangat berharga manfaatnya bagi kedua universitas dan kedua negara dalam menghadapi dampak climate change.
Sambutan sekaligus pembukaan secara resmi dilakukan oleh Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Beliau sangat senang dengan adanya workshop ini karena mampu mempertemukan kedua universitas dan pemerintahan kabupaten Gunung Kidul. Gunung Kidul menjadi daerah target guna dilakukan mitigasi dan adaptasi kesehatan untuk tindakan awal terkait dampak climate change terhadap kesehatan masyarakat.
Hubungan kerjasama ditandai dengan pertukaran kenang-kenangan antara universitas Gadjah Mada diwakili Dekan FK UGM dengan Umea University yang diwakili oleh Dr. Maria Nelson.
Perkenalan CC MAP Project
Dr. Maria Nelson mewakili untuk menjelaskan seputar CC MAP Project pada seluruh peserta workshop. CC MAP project bertujuan sebagai upaya penguatan adaptasi mitigasi disektor kesehatan dalam menghadapi dampak climate change bagi kedua negara, Indonesia dan Swedia. Selama ini, hal yang dilakukan dalam upaya penyebaran informasi mengenai dampak climate change terhadap kesehatan antara lain, melakukan penelitian mengenai climate change, mengadakan kajian kebijakan kesehatan menghadapi climate change antara Indonesia dan Swedia, memulai project e-health di Gunung Kidul, Indonesia dan Vasternbottens Country Council, Swedia, dan upaya diseminasi hasil workshop selama ini kepada pemerintah dan penyebaran informasi melalui media massa. Materi selengkapnya silahkan
Sesi I : Effect on Health in the District as a Result of Climate Change
Joacim Rocklöv beraffiliasi di Epidemiologi Gobal Halsa, Umeå University. Joacim merupakan peneliti yang berfokus mendalami hubungan perubahan iklim, cuaca, dan kesehatan. Fokus pemaparan Joacim mengenai efek climate change terhadap kesehatan. Peningkatan suhu satu derajat saja akan berdampak pada berubahnya pola perkembangbiakan vektor penyakit serta perubahan lingkungan, untuk itu sedini mungkin diperlukan adaptasi dan mitigasi terhadap climate change.
Beberapa kasus di Indonesia yang diperkirakan sebagai dampak climate change sebagai berikut:
Dampak climate change dirasakan oleh masyarakat pinggiran pantai. Peningkatan permukaan laut dan menurunnya populasi karang sehingga warga yang menggantungkan hidup dengan mencari kerang akan merasakan dampaknya.
Banjir juga kerap terjadi karena curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan.
Masyarakat pertanian akan merasakan dampak climate change yang berhubungan dengan proses presipitasion.
Peningkatan suhu bumi satu derajat menyebabkan banyaknya kebakaran hutan. Kejadian El Nino tahun 1997 berdampak pada 6,8 juta hektar hutan terbakar.
Contohnya di Sleman yang masih menghadapi malaria dan dengue. Karena perubahan cuaca sensitif sekali mempengaruhi populasi dengue dan malaria.
Waterborne deseases mengalami peningkatan jumlah penyakit kolera, selalu terjadi di Tanggerang. Sama halnya seperti di Swedia yang terjadi peningkatan alga pada musim tertentu.
Diadakan e-survey singkat mengenai pengetahuan tentang climate change. Dihasilkan data yang kurang menggembirakan, dimana separuh responde menganggap climate change bukan issu global yang penting dibanding peperangan dan terorisme. Materi selegkapnya
Kemudian, dilanjutkan pemaparan oleh Prof. Hari Kusnanto mengenai dampak kesehatan akibat climate change. Khusus di Indonesia terjadi peningkatan titik kekeringan sedangkan pada daerah lain terjadi kelebihan air yang juga tidak bisa dimanfaatkan. Selain itu, terjadi pula perubahan penyakit diare yang terjadi sepanjang tahun. Sekarang diare tidak saja ditemukan pada musim penghujan tetapi juga musim kemarau. Di Jogjakarta, peningkatan kasus asma terjadi biasanya pada bulan Juli tiap tahunnya karena ini bulan-bulan dingin. Uniknya di Gunung Kidul terjadi kekeringan yang berkepanjangan akibatnya debu PM mencemari udara dan mengganggu pernafasan warga.
Kerugian jangka pendek dan panjang banjir adalah kehilangan harta benda dan menjadi korban. Sedangkan, jangka panjangnya terjadi malnutrisi dan penyakit infeksi. Efek climate change terhadap vektor penyakit memiliki hubungan yang erat. Dengan curah hujan yang tinggi maka terjadi peningkatan jumlah mikroba penyebab diare dan penularannya menjadi lebih mudah terbawa air. Sebaliknya malah terjadi penurunan populasi larva nyamuk karena tersapu dari habitatnya akibat banjir atau aliran air.
Telah jelas dampak langsung dan tidak langsung climate change terhadap sektor kesehatan. Namun, kesadaran melakukan adaptasi dan mitigasi masih rendah bagi banyak masyarakat, terutama masyarakat miskin yang justru menerima dampak paling besar. Penelitian tentang climate change masih seputar survey dan kualitatif, tantangan ke depannya diperlukan penelitian dan diskusi secara kuantitatif.
Sesi II: Decision Making Process in Health in Gunung Kidul
Materi tentang kebijakan sektor kesehatan di Gunung Kidul di sampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan. Beberapa masalah tersebut sntara lain masalah kesehatan Gunung Kidul seperti, angka kematian ibu (14 kasus tahun 2011) dan kematian bayi tinggi (109 kasus tahun 2011), penyakit menular (DB, TB, HIVAIDS), kurang gizi, buruknya perilaku kesehatan, peningkatan penyakit degenertif, manajemen obat, dan manajemen sistem informasi.
Kebijakan penanggulangan meliputi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pembiayaan kesehatan kepada masyarakat miskin, pendekatan perorangan dan kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan gizi masyarakat, pencegahan penyakit, menjalin kerjasama, perapian penyimpanan dan pelaporan dokumen kesehatan.
Materi ini mengundang banyak pertanyaan dari rekan-rekan Umea University. Rata-rata dari mereka ingin mengetahui lebih tentang geografis Gunung Kidul, statistik kesehatan terutama mengenai angka kematian ibu dan anak serta meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi dalam masyarakat, dan keadaan arsip dokumen kesehatan saat ini. Materi selengkapnya silahkan
Ehealth situasi di Gunung Kidul disampaikan oleh Kartini sebagai wakil dari Dinas Kesehatan dan pemegang salah satu program kesehatan. Dengan 30 puskesmas dan 3 rumah sakit, sistem informasi kesehatan Gunung Kidul telah menggunakan sistem informasi kesehatan terutama sistem informasi puskesmas dan IHIS yang ada di Dinas Kesehatan. Namun, penggunaan sistem informasi ini masih bersama-sama dengan metode lama, dimana pencatatan secara manual dan penumpukan dokumen masih bisa ditemukan.
Tantangan penerapan sistem informasi di Gunung Kidul pada sumberdaya yang masih terbatas baik dalam jumlah dan kualitas serta keterbatasan insfrastruktur yang dimiliki Gunung Kidul. Peluang ke depan, Gunung Kidul sangat terbuka untuk bekerjasama dalam penguatan sistem informasi kesehatan sebab perubahan dan belajar merupakan kunci kesuksesan yang diyakini Gunung Kidul. Materi selengkapnya silahkan
Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta
Sesi II
Usai istirahat, seluruh peserta kembali ke ruang seminar untuk mengikuti pemaparan dan diskusi terkait kasus bencana banjir Jakarta awal tahun 2013. Pemaparan mengenai pengalaman kedua tim UGM yang diberangkatkan pada bencana banjir Jakarta. Moderator, dr. Bella Donna mempersilahkan pembicara pertama memaparkan pengalamannya bersama tim dalam tanggap darurat banjir Jakarta
Sri Setyorini, S.Kep, MKes berasal dari Program Studi Ilmu Keperawatan mewakili tim yang dilibatkan oleh FK UGM dengan Tim DERU UGM pada bencana banjir Jakarta tanggal 18 hingga 23 Januari 2013. Hal yang menarik disampaikan bahwa tim memiliki tim evakuasi binatang berbisa dan berbahaya pasca banjir. Hal ini sangat diperlukan guna keselamatan korban banjir saat kembali ke tempat tinggalnya. Tim evakuasi binatang berbahaya menjadi rekomendasi bagi tim penanggulangan bencana selanjutnya.
Dalam paparannya, disampaikan juga mengenai hambatan terkait komunikasi, koordinasi, dan instruksi. Tim yang diberangkatkan oleh UGM sampai di Jakarta mengalami kebingungan untuk bergabung dan berkoordinasi dengan tim apa yang ada di Jakarta. Kemudian tim secara mandiri diminta menghubungi pemerintah setempat daerah yang akan membutuhkan pelayanan kesehatan tetapi nomor yang dihubungi tidak aktif. Hal-hal nilah yang menghambat kerja tim dalam menolong korban banjir.
Dokumentasi Video Pembicara 1 :
Pembicara kedua oleh dr. Hanif Afkari berasal dari RSSardjito. Pada bagian latar belakang disampaikan bahwa banjir Jakarta merupakan bencana tahunan, tetapi aktivasi sistem tanggap darurat tidak berjalan dengan optimal. Tim yang diketuai oleh pembicara sendiri diberangkatkan oleh Pokja Bencana pada 21 Januari 2013. Sampai di Jakarta, tim langsung bergabung dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kementerian Kesehatan. Selama seminggu sebagai tim mobile, tim melakukan pelayanan kesehatan, assessment, promosi kesehatan kepada korban banjir di titik-titik pengungsian yang masih terisolir seperti Muara Baru. Laporan kegiatan lengkap, silahkan .
Dokumentasi Video Pembicara 2 :
Pembahasan
Acara dilanjutkan dengan pembahasan yang terkait pengalaman kedua tim pembicara dalam penanggulangan banjir Jakarta. Pembahasan pertama oleh dr. Dr Hendro Wartatmo, SpB. KBD dan langsung menanggapi permasalahan yang dirasakan oleh kedua tim. Menurut pembahas permasalahan koordinasi kerap terjadi dalam penanggulangan bencana. Seharusnya, keadaan emergency tidak membuat segala menjadi kehilangan manajemen.
Masalah koordinasi terjadi pada kedua tim. Tim pertama dari awal tidak mengetahui siapa yang menerima di daerah bencana. Sedangkan tim kedua hanya terkendala komunikasi dengan pihak kemenkes atau dinkes. Masalah kedua adalah time respon yang merupakan masalah birokrasi, misalnya terkait surat tugas. Seharusnya dalam bencana birokrasi urusan kedua karena birokrasi sangat mengganggu respon time. Masalah berikutnya adalah assessment. Assessment merupakan tugasnya tim yang terlibat. Jadi bukannya orang di luar tim karena tim harus mengetahui dimana akan melakukan pelayanan kesehatan. Jadi sebelum bertugas, tim harus tahu apa yang diperlukan wilayah. Tujuan kedatangan harus jelas sehingga bisa dipecah dalam tim kerja. Tim bencana haruslah tim yang independent artinya jangan sampai terlibat politik, bisnis, dan birokrasi. Prinsip penanggulangan bencana adalah bekerja untuk orang yang menderita, tugas utama kita mengobati bukan promosi obat, independent, dan free sponsor.
Dokumentasi Video Pembahas 1 :
Pembahas kedua oleh Dr. Handoyo Pramusinto, SpB BS yang lebih menekankan pada pendanaan penanggulangan bencana. Disinggung tentang dana bencana yang berpotensi untuk disalahgunakan. Dalam setiap kejadian bencana, tentunya memerlukan pendanaan yang berbeda. Pada tahap mitigasi maka dana lebih banyak digunakan untuk pencegahan kejadian bencana ataupun untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana. Berbeda pula pendanaan pada saat tanggap darurat dimana dana bencana banyak untuk keperluan korban bencana. Pendanaan penanggulangan bencana telah diatur dan harus dianggarkan oleh pemerintah daerah.
Menanggapi permasalahan tim pertama yang menanti instruksi terkait tenaga kesehatan perawat boleh melakukan tindakan penyelamatan dan pengobatan atau tidak terhadap korban, serta hasil pertemuan Asia-Pasific Conference on Emergency and Disaster Medicine (APCEDM) di Bali tahun 2012, tentang standar tim yag diberangkatkan ke lokasi bencana. Adanya bencana akan mendorong tim medis untuk datang ke lokasi bencana tetapi yang menjadi masalah apabila tim medis tersebut tidak kompeten. Hal ini akan berdampak pada tindakan medis yang keliru dan infeksi sekunder pada korban bencana, selain juga akan menjadi beban bagi daerah bencana.
Dokumentasi Video Pembahas 2 :
Diskusi
Usai pembahasan, moderator memberikan kesempatan pada semua peserta untuk berdiskusi. Diskusi ini menjadi menarik karena seluruh tim dari berbagai instansi yang kerap terlibat dalam kegiatan bencana berdiskusi dan saling bertukar pengalaman. Diskusi masih seputar dana, koordinasi, dan assessment tanggap darurat bencana. Pusbankes 118 mengutarakan pengalamannya sewaktu membantu korban pada Gempa Padang. Tim mereka mendapat hambatan akomodasi di daerah bencana. Akhinya untuk akomodasi mereka mengeluarkan biaya pribadi. Bagaimana sebenarnya pendanaan untuk akomodasi tim di daerah bencana? Pertanyaan ini mendapat tanggapan dari pemateri pertama bahwa sebenarnya dana bencana itu besar, pengaturannya diatur oleh daerah. Namun, perjalanan dananya memang sedikit sulit karena birokrasi. Ke depannya, diperlukan manajemen pengaturan aliran dana ini. Pertanyaan mengenai cost effective manarik perhatian pada diskusi kali ini. Pengukuran efektivitas tim yang dikirim tidak bisa hanya diukur dengan dana yang dikeluarkan. Memang itu bisa menjadi ukuran, tetapi dalam kebencanaan sedikit lebih unik dimana waktu, tenaga, dan kompetensi tim perlu diperhitungkan. Namun, pengukuran tiga item terakhir masih sulit dilakukan. Pada pertemuan internasional pun, mengenai standar kompetensi tim yang dikirim telah dibahas dan memang harus dipikirkan bersama. Harapannya tim yang dikirim benar-benar bisa membantu korban bencana bukan malah menambah penderitaan korban. Pihak RS Panti Rapih memberikan masukkan mengenai indikator keberhasilan tim yang diberangkatkan kalau bisa tidak saja dinilai dari banyaknya pasien yang di tangani tetapi juga dari data epidemiologi dan survailans penyakit atau daerah bencana. Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai keterlibatan peran swasta dalam penanggulangan bencana. Sebab selama ini pemerintah dan swasta sepertinya bergerak sendiri-sediri. Terakhir, peserta dari universitas Brawijaya menyampaikan saran terkait pengalaman tim mereka dalam kegiatan penanggulangan bencana. Sebelum berangkat tim mereka selalu mempertanyakan beberepa hal seperti tim mau berangkat kemana di dearah bencana tersebut? Di daerah bencana akan melakukan apa? Bekerjasama dengan siapa saja? Bagaimana persiapan tim yang akan diberangkatkan, apakah untuk pengobatan tanggap darurat, survailans, atau manejemen rumah sakti pasca bencana? Setelah pertanyaan-pertanyaan ini terjawab, harapannya tim yang dikirim bisa bekerja dengan baik di daerah bencana.
SOSIALISASI POKJA BENCANA
Sesi sosialisasi Pokja Bencana FK UGM diwakili oleh salah satu Advisory Board, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Dalam sosialisasinya, pertama diperkenalkan tetang profil pokja bencana, termasuk latar belakang, visi misi, tujuan, dan struktur organisasi. Kedua, Laksono menekankan bahwa pokja bencana yang dimiliki oleh FK UGM ini fleksibel untuk bekerjasama dengan pihak-pihak lain baik di dalam universitas dan luar universitas seperti rumah sakit swasta dan perusahaan. Ketiga, tentang dana yang diperlukan untuk memberangkatkan tim ke daerah bencana. Paradigma sukarelawan adalah orang yang diberangkatkan ke daerah bencana untuk menolong korban bencana dengan kemampuan dan didukung biaya yang lancar. Penting juga untuk memberikan insentif dan asuransi bagi tim yang dikirim agar tim tenang melakuan pertolongan di daerah bencana dengan optimal. Untuk itu semua pokja bencana memerlukan “energi” atau dana untuk pemenuhan segala keperluan pemberangkatan tim dan kegiatan pokja lainnya. Berdasarkan hal inilah pokja bencana mengadakan Program Alumni Menyumbang.
Sosialisasi pokja bencana mengakhiri rangkaian kegiatan seminar pokja bencana dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM 2013. Prof. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama FK UGM menutup kegiatan dengan ucapan terimakasih telah melaksanakan kegiatan ilmiah terkait kebencanaan di indonesia. Semoga bisa bertemu kembali pada kegiatan ilmiah kebencanaan selajutnya.
Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta
Sesi I Pemaparan Materi
Sesi I seminar membahas mengenai dampak dan strategi adapatasi dalam menghadapi climate change yang berdampak pada kesehatan serta pemanfaatan e-health sebagai salah satu strategi dan adaptasi di sektor kesehatan. Di sesi I, Dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K) sebagai moderator langsung mempersilahkan pembicara pertama untuk memaparkan materinya.
Joacim Rocklöv beraffiliasi di Epidemiologi Gobal Halsa, Umeå University. Ia juga tergabung dalam Climate Change and Global Health Group, Umeå University. Joacim merupakan peneliti yang berfokus mendalami hubungan perubahan iklim, cuaca, dan kesehatan dengan menggunakan pendekatan metode epidemiologi. Selama 30 menit, Joacim memaparkan tentang dampak dan strategi adaptasi perubahan iklim terhadap kesehatan.
Berikut ini merupakan empat poin penting yang disampaikan Joacim, pertama ia menjelaskan mengenai cuaca, iklim, dan apa perubahan iklim tersebut. Hujan, suhu, kecepatan angin, dan kemarau ini disebut cuaca. Statistik dari cuaca dalam waktu yang cukup lama kemudian disebut iklim. Sedangkan climate change terjadi akibat ketidakseimbangan energi di sistem iklim. Climate change merupakan interaksi yang kompleks dari atmosfer, matahari, vegetasi, lautan, dan aktivitas manusia. Seluruh elemen tersebu berpengaruh terhadap perubahan iklim, seperti gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
Kedua, mengenai dampak climate change pada hampir seluruh sektor kehidupan. Peningkatan suhu bumi satu derajat saja telah memberikan dampak buruk bagi kehidupan apalagi jika proyeksi global mengenai kanaikan suhu bumi ekstrim benar-benar terjadi. Maka, akan terjadi peningkatan kematian spesies tanaman dan meningkatnya permukaan air laut yang menyebabkan banyak daratan akan tenggelam.
Ketiga, mengenai dampak climate change terhadap kehidupan manusia. Climate change berdampak langsung dan secara tidak langsung pada kehidupan manusia. Beberapa diantaranya : meningkatnya jumlah serta perubahan vektor penyakit, kekurangan makanan akibat kekeringan, dan penyakit tidak menular. Dampak secara langsung dan tidak langsung ini berakibat pada menurunnya fungsi sosial dan ekonomi. Kesemua dampak ini berpengaruh buruk bagi kesehatan manusia. Pada titik inilah kita memerlukan sistem kesehatan dalam menghadapi climate change.
Keempat, mengenai adaptasi sebagai salah satu cara dari manajemen risiko. Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan terhadap dampak climate change. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan, kebijakan, dan intervensi kepada masyarakat luas. Selain itu, diperlukan juga prespektif yang tepat baik kebijakan dari bawah atau dari atas mengenai pencegahan terhadap dampak climate change secara bersama-sama. Contoh yang sudah dilakukan di Swedia seperti membangun sistem kewaspaadan, meningkatkan tindakan survailans, dan penggunaan sinar UV untuk air permukaan yang dikonsumsi/diminum masyarakat, serta banyak penelitian dan kajian mengenai dampak climate change.
Sementara, tiga hal penting dalam menghadapi dampak climate change adalah Risk Perception, Risk Assessment, dan Risk Management. Persepsi seseorang terhadap risiko bencana berdampak pada sikapnya dalam menghadapi risiko, waspada atau biasa saja. Begitu juga dengan kemampuan mengidentifikasi risiko bencana sehingga bisa mempersiapkan atau bahkan mencegah dampak climate change. Materi selengkapnya silahkan
Video Dokumentasi Sesi 1:
Pembicara kedua adalah Åsa Holmner-Rocklöv berasal dari University Hospital of Umeå Department of Biomedical Engineering and Informatics, Umeå Sweden. Selama 30 menit, Åsa berbicara mengenai strategi mitigasi dan adaptasi di sektor kesehatan menghadapi perubahan iklim. Beberapa hal penting yang disampaikan Åsa adalah konsep mengenai adaptasi, mitigasi, dan penggunaan sistem informasi kesehatan, serta tantangannya penerapannya.
Adaptasi merupakan strategi yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat untuk menahan dampak tertentu. Sedangkan Mitigasi merupakan strategi yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Penyumbang emisi terbesar adalah energi dan transportasi. Di titik inilah, peran kita melakukan mitigasi terhadap climate change dengan mengurangi perjalanan sehingga akan sedikit emisi yang terbuang serta mampu melampaui jarak yang jauh, salah satu sistem informasi tersebut adalah e-health.
e-health menurut WHO merupakan transfer sumber daya kesehatan dan perawatan kesehatan dengan cara elektronik. Contoh sistem informasi dalam perawatan kesehatan yang bisa dikatakan green strategi antara lain, meminimalkan penggunaan energi dari pencahayaan dengan menggunakan sensor gerakan, mencegah perjalanan yang tidak perlu menggunakan video konferensi, dan lebih efisien perawatan proses menggunakan sistem informasi kesehatan (Model care). Macam-macam e-health seperti telemedicine, e-learning yang kerap digunakan untuk pendidikan tenaga kesehatan jarak jauh, dan sistem manajemen kesehatan menggunakan elektronik.
Penggunaan telemedicine di California, Skotlandia, dan Kanada terbukti mampu mengurangi jarak perjalanan perawat yang harus mengunjungi pasien ke rumah-rumah sebanyak 4,7 juta mil hingga 120 juta Km hanya dengan melakukan telecare/ telemedicine yang artinya mengurangi emisi CO2 hingga 33.220 ton. Penggunaan telemedicine sangat berguna bagi daerah yang jauh dari pusat kota, daerah yang memiliki sumber terbatas, mobilitas yang rendah, serta penduduk yang jarang. Telemedicine ini juga dikembangkan pada sektor bencana. Dengan penggunaan telemedicine maka pemetaan potensi dan daerah bencana menjadi lebih mudah.
Aplikasi dan keberhasilan telemedicine tergantung banyak hal seperti kemampuan alat telemedicine tersebut, ketersediaan dana, kelengkapan inprastruktur, isu budaya, dan terpenting adalah komitmen politik. Tantangan multisektoral dan multinasional harus dihadapi misalnya dengan advokasi pada pengambil keputusan dengan merekomendasikan kebijakan berdasarkan bukti empiris. Materi Asa selengkapnya silahkan
Video Rekaman :
Pembahasan
Pembahasan dilakukan oleh Prof. Sudibyakto, M.S dari Pusat Studi Bencana UGM dan Penasehat BNPB menarik dan membuat peserta antusias. Sudibyakto menekankan bahwa Indonesia merupakan daerah bencana tetapi kesadaran akan hal tersebut masih rendah. Indonesia merupakan daerah yang sensitif menyumbang dan merasakan dampak climate change. Betapa tidak, iklim Indonesia yang berada di darah tropis berpengaruh pada iklim dunia dan begitu juga sebaliknya.
Video Dokumentasi Sesi 1 Pembahas 1
Indonesia lebih merasakan dampak climate change seperti kemarau yang berkepanjangan atau pun musim penghujan yang berkepanjangan. 80 persen bencana terjadi akibat hidrometeorologi, di beberapa daerah di Indonesia telah mengalami kehilangan banyak daratan akibat peningkatan air laut. Jika benar proyeksi yang di paparkan Joacim terkait peningkatan suhu bumi pada puluhan tahun akan datang maka tidak ada cara lain mencegahnya selain dengan merubah perilaku. Hal yang penting dalam hal ini adalah mitigasi dan adaptasi. Sejauh mana sebuah daerah mampu memanfaatkan data wilayahnya untuk mendeteksi hazard dan kerentanan wilayah dalam menghadapi risiko tersebut. Materi Sudibyakto selengkapnya silahkan
Lima belas menit berikutnya, dilanjutkan pembahasan oleh Prof. Hari Kusnanto, Dr. PH mengenai dampak climate change terhadap kesehatan di Indonesia : dari beberapa penelitian. Pembahas kedua tertarik pada paparan Joacim mengenai dampak climate change terhadap kesehatan karena baik langsung maupun tidak langsung ataupun karena penurunan fungsi ekonomi akibat climat change, semuanya akan berdampak pada kesehatan manusia.
Saat ini, misalnya kenaikan suhu dan permukaan air laut menyebabkan hilangnya beberapa pulau, terumbu karang, dan menurunnya jumlah ikan. Hal ini berdampak pada menurunnya konsumsi ikan masyarakat otomatis gizi masyarakat terganggu. Hal yang serupa terjadi ketika bencana banjir juga menimbulkan penyakit pasca banjir seperti meningkatnya kolera dan leptospirosis.
Begitu pula dengan wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan dan menyebabkan pertanian terganggu sehingga konsumsi masyarakat menurun. Kemudian, terjadilah kekurangan gizi pada masyarakat daerah tersebut. Hal ini menambah masalah baru, dimana masalah klasik tentang gizi buruk belum juga bisa dituntaskan Indonesia.
Kesimpulan yang diberikan pembahas bahwa pencegahan climate change harus berdasarkan sumbernya, jika climate change diakibatkan emisi dari energi maka emisi harus ditekan, begitu juga dengan sumber-sumber lainnya.
Video Dokumentasi Pembahas 2:
Diskusi
Sesi diskusi berlangsung secara aktif, secara umum peserta mepertanyakan mengenai pengalaman daerah asal pemateri (Swedia) dalam menerapkan telemedicine dan pengalaman Swedia dalam sosialisasi kewaspadaan masyarakat terhadap bencana sebab hal ini menjadi tantangan tersendiri kedepannya bagi Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi sektor kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim. Joacim dan Åsa bergantian menjawab pertanyaan tersebut. Mereka menuturkan bahwa memang awalnya tidak mudah dalam menerapkan telemedicine terutama dalam hal menjalin kesepahaman dengan stakeholder yang terkait. Namun, di Swedia banyak terdapat kelompok-kelompok yang peduli terhadap lingkungan dan climate change sehingga banyak dari kami bergerak dengan memberikan rekomendasi berdasarkan data empirik hasil diskusi dan penelitian yang dilakukan. Sehingga advokasi terhadap stakeholeder berjalan lebih lancar.
Sebuah tantangan ketika melakukan promosi kewaspadaan bencana akibat climate change, dimana sebenarnya keberadaan climate change di Swedia dirasakan sebagai dampak positif, dimana daerah Swedia dirasakan menjadi lebih hangat. Namun, ini hanya sebuah “perasaan” dan kami terus menyebarkan informasi melalui media kepada seluruh masyarakat. Kami juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa dampak climate change bisa dikatakan seperti penyakit yang diam-diam kemudian menimbulkan kematian “the silent killer” sehingga masyarakat mengerti dan kesadaran timbul dengan sendirinya.
Pertanyaan juga diberikan kepada pembahas mengenai keterlibatan Indonesia dalam pengurangan emisi dan sosialisasi kesepakatan Bali Action Plan pada Conference of Parties United Nations Climate Change Convention (COP UNFCCC) ke-13 di Bali, Desember 2007 oleh pemerintah. Pada kesempatan ini pembahas menjawab bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga 26%. Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah mengenai pengukuran penurunan emisi tersebut. Selain itu, nilai tukar apa yang di dapat Indonesia atau negara-negara yang berhasil menurunkan emisinya. Masalah ini yang belum terjawab hingga saat ini.
Sesi I berakhir dengan kesepahaman bersama bahwa climate change merupakan tantangan akan potensi bencana sehingga penggunaan manajemen informasi dan teknologi sangat diperlukan dalam menghadapinya.
Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta
Yogyakarta-PKMK. Telah dilaksanakan seminar Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta pada Rabu, 6 Maret 2013 bertempat di Gedung Program Pasca Sarjana FK UGM lantai 2.
Seminar ini dihadiri lebih dari 60 peserta seminar dari berbagai profesi, instansi, dan universitas, dan dimulai pukul 08.30 WIB. Seminar ini diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Bencana FK UGM yang merupakan rangkaian acara Annual Scientific Meeting FK UGM 2013.
Hidup di negara katulistwa dengan segala keindahannya merupakan berkah tersendiri bagi Indonesia. Namun, hal ini membuat warga negara ini akrab dengan bencana alam yang terjadi. Tanah longsor, letusan gunung api, banjir, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya seringkali hadir di Indonesia. Akhir-akhir ini, para ahli juga mendeteksi pengaruh Climate Change yang menimbulkan potensi bencana di indonesa. Salah satu yang masih segar di ingatan ialah banjir Jakarta.
Seminar dibuka oleh ketua pokja bencana Dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K). Ketua Pokja Bencana mengucapkan terimakasih atas kedatangan pembicara dari Umea University Sweden dan peserta dari berbagai profesi kesehatan dan non kesehatan, berbagai instansi dan rumah sakit di Yogyakarta, dan dari Universitas Brawijaya. Dalam sambutannya, beliau berharap peserta dapat mengambil pelajaran dengan diskusi yang dilakukan pada hari ini. Acara berlanjut dengan pemutaran video dokumenter bencana-bencana yang pernah terjadi di Indonesia, yang juga merupakan rekaman keterlibatan Pokja Bencana dalam kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia.
Untuk melanjutkan membaca sesi selanjutnya silahkan klik tombol sesi :
Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia Dalam Rangkaian Annual Scientific Meeting 2013
Oleh Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM
Yogyakarta-PKMK. Telah berlangsung (2/3/2013) pameran ilmiah kebencanaan di Indonesia yang diselenggararkan oleh Kelompok Kerja Bencana Fakultas Kedokteran UGM. Pameran dimulai sejak pukul 08.00 WIB di Lobby Auditorium FK UGM. Pameran kebencanaan ini merupakan rangkaian kegiatan pembukaan Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM.
Pada kesempatan kali ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, H.E.Dr. Nafsiah Mboy menyempatkan diri mengunjungi pameran setelah membuka acara Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM. Menteri kesehatan membubuhkan tanda tangan di partisi bencana Banjir Jakarta. Didampingi oleh dr. Bella Donna dari pokja Bencana, Menteri Kesehatan bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan pokja bencana.
Pameran ilmiah bertujuan menampilkan kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia yang pernah dilakukan tim pokja serta peta kurikulum bencana di FK UGM. Ada enam kegiatan penanggulangan bencana yang terekam mulai dari tsunami Aceh tahun 2004, gempa Yogyakarta tahun 2006, tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa bumi Padang tahun 2009, letusan Gunung Merapi tahun 2010, hingga banjjir Jakarta awal tahun 2013.
Komitmen pokja bencana tidak diragukan lagi keterlibatannya dalam penanggulangan bencana di Indonesia, misalnya bencana tsunami Aceh dimana tim terlibat hingga 4 tahun. Selama 2004 hingga 2008, lebih dari 500 orang telah diberangkatkan ke Aceh dengan berbagai macam profesi kesehatan yang ada di FK UGM. Tim membantu mulai fase akut, pemulihan, dan pengembangan. Kegiatan yang dilakukan mulai dengan mengirim relawan, melakukan penguatan sistem manajemen RS di Aceh, pengiriman layanan psikologis, pengembangan sistem rujukan dan penanggulangan gawat darurat terpadu dan sistem manajemen mutu RS.
Begitu juga dengan komitmen FK UGM sebagai satu-satunya universitas yang vioner dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Salah satu buktinya dengan mengembangkan kurikulum bencana pada Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat minat Kebijakan Manajemen Pelayanan kesehatan, Program Studi Kedokteran Umum, Program Studi Ilmu Keperawatan, dan terlibat dalam kurikulum Sekolah Pascasarjana minat Magister Manejemen Bencana. Nanti malam, akan ada kegiatan Temu Almuni FK UGM. Pokja bencana terlibat kembali dengan menggelar pameran ilmiah kebencanaan di Joglo Alumni FK UGM.
Jakarta: Badan Kehormatan (BK) DPR RI akan memanggil seorang anggota DPR RI terkait dugaan penyimpangan anggaran bencana alam. BK sendiri sudah memeriksa staf ahli anggota Dewan tersebut. Continue reading