Reportase hari 2 Umea

hari-1

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

Laporan Hari 2 (22 Januari 2013)

Pengantar:

Hari kedua membahas mengenai bagaimana strategi-strategi dalam menghadapi Climate Change. Di dalam hal ini, ada strategi yang terkait dengan pemerintah daerah dalam konteks energi. Di samping itu penggunaan e-Health dan tele-medicine untuk menggurangi energi untuk transportasi. DI hari ini juga akan dibahas mengenai sistem konsultasi dokter jarak-jauh.

Sesi 1: Strategi regional untuk menghadapi Climate Change

um-h2-1Hari kedua dimulai oleh Tina Holmlund yang berbicara mengenai strategi regional terhadap energy dan cuaca di lingkungan propinsi Vasterbotten. Situasi pemerintahan di Swedia sangat berbeda dengan keadaan Indonesia yang begitu banyak politik bermain dalam segala situasi. Swedia dibagi 21 county ( propinsi) dan mempunyai tujuan dan strategi nasional untuk pengelolaan energi. Selanjutnya tiap regional diharapkan mengembangkan sendiri berdasarkan tujuan tersebut. Jika di Indonesia yang bekerja sebagai teknis adalah dinas, maka berbeda dengan swedia yang bekerja sebagai teknis adalah sekelompok eksekutif yang ditunjuk oleh anggota perwakilan rakyat di Council Assembly.

Regional Vasterbotten mempunyai berbagai strategi dalam mempertahankan gaya hidup dan tingkat kesehatan mereka dalam konteks Climate Change . Strategi tersebut antara lain dengan meningkatkan pengetahuan mengenai situasi Climate Change dan menetapkan berbagai kebijakan dalam transportasi , informasi, pendidikan dan dunia kerja. Materi dapat dilihat selengkapnya 

[email protected]

Sesi 2 : Strategi terhadap Mitigasi dan Adaptasi di sektor Kesehatan oleh Asa Holmner di Swedia dan dr Lutfan Lazuardi situasi di Indonesia

um-h2-2Asa Holmnermenyampaikan pernyataan bahwa ada perbedaan antara Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi berbicara mengenai bagaimana cara menurunkan emisi gas rumah kaca , sedangkan adaptasi bertujuan membuat strategi menurunkan kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat akibat dampak perubahan cuaca. Asa juga berbicara mengenai strategi menurunkan emisi rumah kaca seperti meminimalisir penggunaan energy dari penerangan, pencegahan terhadap perjalanan yang tidak perlu dengan menggunakan video konferens, dan lebih menggunakan sistem informasi kesehatan. Penggunaan telemedicine sangat bermanfaat terhadap jarak yang jauh, sumber daya yang minim, dan dengan mobilitas yang rendah seperti cuaca dingin, hujan , winter ddan lain-lain. Untuk lebih jelasnya Materi Asa Holmner  

um-h2-4Dr Lutfan membahas mengenai keTerkaitan perubahan iklim dan ehealth, bahwa ada terminologi yang perlu ditegaskan terkait dengan perubahan iklim yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi lebih bertujuan untuk mengurangi greenhouse gas yang diyakini menyebabkan perubahan iklim, sementara mitigasi terkait dengan respon adaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim. Meski berbeda, keduanya sama-sama diperlukan sinerginya untuk menghadapi perubahan iklim dan akan terkait dengan strategi eHealthnya. Pembicara mempresentasikan inisiatif eHealth di Indonesia terutama di level administrasi tingkat kabupaten dan provinsi, dimana sudah banyak sekali inisitif pengembangan eHealth dalam berbagai format yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota.

Sebagai contoh disampaikan pengembangan Wide Area Network yang menghubungkan semua puskesmas di Kabupaten Wonosobo, dimana kontur geografinya ada dataran rendah dan pegunungan. Selain itu di Purworejo dilakukan pengembangan sistem pelaporan Malaria berbasis SMS. Dinas Kesehatan Gunungkidul juga tidak sedang mengembangkan sistem informasi berbasis komputer untuk puskesmas-puskesmasnya yang memfasilitasi rekam medis pasien dan juga peresepan elektronik. Tidak kalah juga berbagai program seperti KIA, Malaria maupun surveilans mengembangkan berbagai aplikasi berbasis IT untuk mendukung aktivitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa inistiatif terkait eHealth sudah dilakukan meskipun masih dalam tahap awal dan lebih kepada untuk mendokumentasi dan pelaporan. Akan tetapi hal ini juga sudah relevan dengan aktivitas terkait dengan perubahan iklim, dimana mengurangi penggunaan kertas yang produksinya sangat tergantung dengan keberadaan pohon dan hutan. Inisiatif eHealth menjadi sangat populer di berbagai daerah meskipun alasannya belum langsung terkait dengan isu perubahan iklim. Pengambangan eHealth saat ini lebih lebih bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Meski merupakan tantangan, mengenalkan pentingnya isu perubahan iklim dan mengkaitkan dengan pengembangan eHealth yang dilakukan adalah strategi yang baik dan penting. Materi Silahkan 

Sesi 3 : Konsultasi menggunakan Cardiac Echo oleh Kurt Boman dan Mona Olofsson serta Telemedicine oleh Thomas Molen dan Goran Algers

um-h2-3

Sesi ini menceritakan tentang bagaimana efektifitasnya penggunaan Tele Medicine yang telah digunakan oleh dr Kurt Boman dan Mona Olofsson seorang BMO (Bio Medic Officer)

Latar belakang dari dilakukannya Tele-echo adalah karena jarak yang jauh, mahalnya biaya transport dan akses untuk bertemu dengan spesialis sangat sulit. Terutama pada kasus gagal Jantung kronik yang sering dijumpai pada orang tua, juga banyaknya pasien inap dan rawat jalan yang menderita penyakit ini. Tujuan dilakukan a Tele-Echo adalah penegakan diagnosa yang tepat dan lebih dini, optimal terapi, memudahkan untuk follow up, biaya lebih murah dan prognosis yang jelas akan lebih baik. Tele-echo melibatkan pasien, dokter umum, dokter spesialis dan ahli sonografer, dan proyek ini dimulai sejak tahun 2004 di puskesmas ( Primary Health Care) dengan menggunakan Robot echo.

Keuntungan yang didapat adalah bahwa pasien akan lebih merasa nyaman karena dia cukup memeriksa di puskesmas tempat dia biasa periksa dan dengan dokter umum tempat dia biasa berkonsultasi. Dengan penggunaan Tele ini maka pasien dan dokter umum bersama-sama menerima keterangan dari dokter spesialis dengan waktu yang lebih singkat karena segera dikonsultasikan ke dokter spesialis.
Materi Selengkapnya silahkan 

Tidak jauh berbeda dengan pembicara sebelumnya, Thomas Molen dan Goran Algers membahas mengenai kelebihan dalam mendiagnosa pasien dengan menggunakan Telemedicine. Ini dilatar belakangi oleh jauhnya jarak didaerah terpencil dan bagaimana mempermudah mereka dalam konsultasi dengan dokter yang diharapkan. Telemedicine ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas, mengevaluasi dan monitoring tujuan terapi , melakukan intervensi jarak jauh dan meningkatkan cakupan rehabilitasi. Kemudahan teknologi ini bahkan memungkinkan pasien dapat konsultasi dari rumah dengan menggunakan peralatan seperti laptop dan langsung berkonsultasi lewat video kepada dokter atau tenaga ahli yang dibutuhkan.

 

refleksi  Refleksi Hari Kedua

{xtypo_code}Hari kedua memberikan pemahaman bahwa aspek climate change sudah menjadi hal yang masuk dalam perencanaan dan pelaksanaan program sehari hari di pemerintah Swedia. Dalam konteks mitigasi dan adaptasi climate change di sektor kesehatan terlihat bahwa ada langkah langkah riil. Situasi ini yang masih belum banyak terjadi di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa situasi di Indonesia masih jauh tertinggal dengan Swedia. Tantangannya adalah bagaimana mitigasi dan adaptasi Climate Change dapat diterapkan di Indonesia.{/xtypo_code}

Gallery Kegiatan

{gallery}2013/umea/H2{/gallery}

Rektor UGM Kunjungi Korban Banjir Jakarta

Kunjungan-Rektor-UGM-ke-Posko-Tim-Kesehatan-FK-UGM-Bagi-Bencana-Banjir-Jakarta

Selasa, 22 Januari 2013

Kunjungan-Rektor-UGM-ke-Posko-Tim-Kesehatan-FK-UGM-Bagi-Bencana-Banjir-Jakarta{xtypo_dropcap}T{/xtypo_dropcap}im kesehatan yang dikirim Pokja FK UGM bagi bencana banjir Jakarta mulai melakukan pertolongan kepada korban banjir. Hari ini tim kesehatan juga mendapat kunjungan dari rektor UGM. Bersamaan dengan kedatangan beliau, Prof. Pratikno memberikan bantuan berupa sembako kepada korban banjir Jakarta.

Berdasarkan hasil assessment lapangan sebelumnya, hari ini hari ini tim kesehatan ditempatkan di 3 titik lokasi (3RW) di daerah Bukit Duri. Sejak jam 11 siang Bukit Duri diguyur hujan lebat. Namun, tim kesehatan tetap melakukan kegiatan penyelamatan dan pengobatan bagi korban banjir.

Bersama tim DERU UGM, tim menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Setiap Posko terdiri dari 2 dokter, 2 perawat, 2 mahasiswa kesehatan, dan relawan. Dari 3 Posko yang dilakukan pelayanan kesehatan didapatkan data

Jumlah Kunjungan :

  1. Posko 1 di Rumah ketua RT 3 sebanyak 76 pasien
  2. Posko 2 di Balai Warga (Paud) sebanyak 136 pasien
  3. Posko 3 di Rumah Ketua RW 43 sebanyak 130 pasien

Selama pelayanan sering didapatkan pasien yang terluka. Hal ini dikarena pasien bekerja untuk membersihkan rumah atau mengemasi harta benda dari banjir dan kerap mengenai benda tumpul atau tajam yang terinjak di dalam banjir. Tindakan yang dilakukan seperti dressing luka dan buka jahitan. Dari hasil kegiatan di dapatkan 10 penyakit terbanyak:

  1. ISPA
  2. Common Cold
  3. Hipertensi
  4. GEA
  5. Tinea Pedis
  6. Myalgia
  7. Chepalgia
  8. Dyspepsia
  9. Febris
  10. Dermatitis Alergika

Berdasarkan pencataan penggunaan logistik medis untuk kegiatan hari ini, beberapa obat yang diperlukan dan stok sedikit atau habis

  1. Neuralgin
  2. BeComce
  3. Minyak Kayu Putih
  4. Minyak Telon
  5. Bedak Salicyl
  6. Cetirizine 10mg
  7. Obat batuk pilek sirup untuk anak-anak
  8. Meconazole salep
  9. Captopril 12,5mg
  10. Captopril 25mg
  11. Tetes Mata
  12. Vitamin sirup anak
  13. Dexamethasone
  14. Asam mefenamat 500mg
  15. Ranitidin 150mg
  16. Vit B Complek
  17. Ibuprofen
  18. Cefadroxin
  19. Furosemid
  20. Vitamin C
  21. Betadine
  22. Meloxicam
  23. Voltadex (natrium diklofenak)
  24. Amoxiculin sirup
  25. Amlodipin
  26. Metilprexnizolone

{gallery}2013/jakarta{/gallery}


Lihar reportase hari lainnya:

  h4
h5 h6 h7

Pengiriman Tim Kesehatan oleh Pokja Bencana FK UGM

{xtypo_dropcap}D{/xtypo_dropcap}ua pekan banjir di Jakarta telah menimbulkan banyak kerugian materi dan jiwa. Hingga kini banjir di Jakarta telah ditetapkan sebagai siaga 1. Tindakan kepedulian dilakukan dengan melakukan pengiriman tim kesehatan ke Jakarta. Tim kesehatan terdiri dari Tim Pokja Bencana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari Tim FK, Rumah Sakit Sardjito, dan Rumah Sakit Akademik UGM bersama DERU UGM.

Pengiriman tim kesehatan dilakukan sejak tanggal 18 januari. Disusul tim 2A pada pagi dan tim 2B pada siang hari tanggal 21 januari 2013. Tim yang dikirim tanggal 18 Januari bertugas sebagai tim assessment. Tim ini sekaligus membawa 2 orang dokter, 4 orang perawat, dan mahasiswa FK. Tim ditempatkan di wilayah Pademangan Jakarta.

21 Januari pagi, Pokja Bencana mengirimkan kembali tim 2A yang dikomandani oleh dr. Hanif. Tim beranggotakan 1 orang dokter, 2 orang perawat, dan mahasiswa TBMM. Mereka langsung berkoordinasi dengan tim dari kementrian kesehatan untuk menempati posko Utama UGM di Saharjo 18 Jakarta.

Siang, 21 januari, tim 2B yang dikomandani oleh dr. Faturrohman bersama 1 orang dokter, 2 orang perawat, dan 1 mahasiswa TBMM kembali diberangkatkann menyusul tim 2A. Mereka juga dibekali berbagai macam logistik medis yang diperlukan korban bencana banjir Jakarta.

Tim kesehatan akan berada di Jakarta hingga 28 januari 2013. Selama seminggu tim akan melakukan bantuan kepada korban dan pengungsi banjir Jakarta. Menyusul kemudian Pokja Bencana FK UGM akan mengirimkan tenaga survailans, psikiatri, dan petugas sanitarian untuk di tempatkan di area pengungsian banjir Jakarta.

Berikut laporan kegiatan yang dikirimkan oleh Tim Kesehatan langsung dari Jakarta 

hari-1   h4
h5 h6 h7

photography_64x64 Galeri Foto :

{gallery}2013/jakarta/21/{/gallery}


Reportase Hari 1 Umea

hari-1

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

Laporan Hari 1:

DonnaLokakarya Mitigasi Perubahan Cuaca dan Kebijakan Adaptasi Disektor Kesehatan

Penulis: Belladonna (Konsultan bencana kesehatan di Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM)

 

 

 

1-umea{xtypo_dropcap}U{/xtypo_dropcap}mea adalah salah satu kota  di  Swediayang letaknya di daerah utara dan berdekatan dengan kutub utara dibanding negara Eropa lainnya. Pemandangan  dalam pesawat dari atas pada saat dari Stockholm ke Umea sangat indah, kelihatan hamparan putih dan terlihat pohon pinus yang tegak berdiri dengan sangat indahnya, tanpa terganggu dengan dinginnya cuaca.

Begitu turun dari pesawat rombongan UGM disambut dengan cuaca -14 derajat Celcius dan bisa dibayangkan bagaimana rasanya karena di negara kita sudah terbiasa dengan cuaca yang 30 derajat. Tim UGM yang berangkat ada 10 orang yaitu ibu Elisabeth Jane Soepardi ( kepala Pusat Data dan Informatika dari Kemenkes ),ibu Badingah (Bupati Gunung Kidul), Ibu Kartini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, ibu Berti Murtiningsih dari Dinas Kesehatan Propinsi Yogyakarta, Pak Hari Kusnanto dari Pusat Lingkungan Hidup UGM sebagai pemimpin rombongan, pak Eko Sugiharto juga dari Pusat  Lingkungan Hidup, Pak Laksono dari Ilmu Kesehatan Masyarakat dan S3 FK UGM, pak Handoyo, dokter ahli bedah syaraf, Ketua Unit Gawat Darurat RS Sardjito sekaligus sebagai Ketua Pokja Bencana FK UGM, pak Lutfan Lazuardi dari Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM , dan saya Belladonna dari divisi Manajemen Bencana PMPK.

Umea sendiri selain ibukota kabupaten dari Vasterbotten, juga  sebagai pusat pendidikan dan ekonomi. Umea juga mempunyai Rumah Sakit yang terbesar di Northern Sweden dan sama besarnya dengan universitasnya.

1-1-umeaPertemuan ini dilaksanakan selama 5 hari, dan pada hari pertama Dr. Maria Nilsson dari Umea University sebagai penanggung-jawab program membuka workshop ini. Tujuan dan struktur program diuraikan dimana intinya adalah bagaimana sektor kesehatan bersama sektor lainnya dapat menghadapi dampak negatif Climate Change. Tema yang ada ini sangat relevan dengan berbagai kejadian bencana di Indonesia, termasuk banjir besar di Jakarta. Kegiatan workshop ini merupakan kerjasama antara Universitas Umea dan Universitas Gadjah Mada. Silahkan klik-disini untuk membaca lebih lanjut mengenai tujuan program ini.

 

{xtypo_download} Sesi 1: Impact dari Climate Change di Swedia dan Indonesia.{/xtypo_download}

1-2-umeaAss. Prof Joacim dari Umea Center for Global Health Research, memaparkan mengenai   hubungan antara Perubahan Iklim dengan Tema Kesehatan Global.  Dalam hal ini impact untuk kesehatan di Swedia dan Indonesia akan dibahas.  Ass Prof. Joachim mulai dengan bagaimana mengelola Climate Change  sebagai suatu risiko yang perlu disadari, dinilai dan dikelola. Arti Climate Change dipaparkan dengan jelas.

 

 

 

Impact Climate Change pada kesehatan mempunyai  alur sebagai berikut:

  • Perubahan Lingkungan
  • Kondisi Sosial Ekonomi di Masyarakat
  • Faktor Sistem Kesehatan

yang akhirnya akan berdampak pada status kesehatan di masyarakat. Dalam konteks impact ini diperlukan penelitian-penelitian epidemiologis. Manajemen risiko Climate Change disebut sebagai adaptasi yang terdiri atas preparedness dan pencegahan impact. Sebagai akhir presentasi, impact Climate Change ke sektor kesehatan Swedia dipaparkan. Selengkapnya silakan klik-disini

Prof Hari Kusnanto dosen Bagian IKM FK UGM yang sekaligus sebagai Direktur Pusat Studi Lingkungan UGM menerangkan mengenai impact Climate Change di Indonesia. Menurut Prof Hari memang belum banyak riset yang mengenai dampak Climate Change untuk kesehatan. Prof Hari memaparkan mengenai berbagai dugaan sebagai dampak dari Climate Change di Indonesia. Dalam hal ini memang masih banyak impact di aspek lingkungan, khususnya kebakaran hutan dan banjir. Berbagai penyakit yang sering dibahas dalam keterkaitan dengan Climate Change antaralain Dengue, Malaria. 

Dalam diskusi: Dibahas mengenai berbagai kelompok yang mempunyai tanggung jawab dalam aspek ini. Sektor kesehatan merupakan sektor yang terkena dampak Climate Change, tetapi untuk manajemen pencegahannya berbagai sektor sangat berpengaruh. Di Swedia juga masih menjadi masalah dalam penetapan kebijakan, termasuk masalah banjir.

Materi Silahkan 

{xtypo_download} Sesi 2: Struktur pengambilan keputusan di sektor kesehatan {/xtypo_download}
 1-4-umeaProf. Laksono berbicara mengenai struktur pengambilan keputusan sektor kesehatan yang intinya tersusun atas beberapa pokok, antara lain:
– Desentralisasi
– Pemerintah pusat
– Propinsi
– kota/kabupaten;

Pengambilan keputusan yang cukup kompleks karena erat dengan proses politik, serta masih jarang ada kebijakan kesehatan yang terkait dengan Climate Change. Silahkan klik-disini untuk paper lengkapnya.

Pembicara kedua di sesi ini adalah Tomas Sandstrom yang membahas mengenai pembuat keputusan dan  menilai kebijakan yang ada untuk mitigasi perubahan cuaca di Swedia Kebijakan di konsil daerah di Swedia telah mengidentifikasikan hubungan antara kesehatan, lingkungan dan perubahan cuaca, selengkapnya klik-disini. Sementara itu e-health adalah alat untuk meningkatkan efisiensi dan reduce cost  bukan mitigasi perubahan cuaca. Selengkapnya  klik-disini

1-5-umeaPembicara selanjutnya adalah Susanne Bergstrom dari Versbotten County yang memaparkan mengenai konsil daerah ( County Council), dan mendeskripsikan kinerja county dalam  statistik  kesehatan. Suzanne memaparkan juga program lingkungan, bagaimana menurunkan pemakaian energidan alat-alat listrik, menurunkan emisi transport, menurunkan biaya transport dan traveling, memaparkan produk-produk dan kimiawi, dan juga pengembangan pengelolaan sampah serta sistem recycling. Selengkapnya  klik-disini

 

 

{xtypo_download}Sesi 3: Kunjungan Lapangan ke RS Umeo {/xtypo_download}
1-6-umeaKegiatan terakhir hari ini adalah kunjungan ke Rumah Sakit Universitas Umea untuk memahami sistem mitigasi bencana di bagian Emergency dan Disaster. Dipaparkan bagaimana Rumah Sakit tersebut mempunyai rencana penanggulangan, dari pencegahan dan persiapan sebelum terjadi bencana sampai ke evaluasi. Mereka  melakukan training untuk perawat dan dokter antara lain: team training trauma, ATLS dokter, juga pelatihan guna pengiriman tim ke daerah bencana.  Pelatihan selalu berkoordinasi bersama-sama dengan polisi dan tim pemadam kebakaran (dilaksanakan setahun sekali secara besar-besaran). Di akhir kegiatan , mereka selalu melakukan evaluasi dan follow up agar dapat melihat apa yang sudah baik dan apa yg masih perlu diperbaiki.

1-7-umea 1-8-umea
1-9-umea

refleksi  Refleksi Hari Pertama

{xtypo_code}Hari pertama merupakan pembuka untuk melihat bagaimana perbandingan antara Swedia dengan Indonesia dalam penanganan Climate Change. Memang terlihat bahwa penanganan di Swedia sangat maju. Keputusan-keputusan strategis di pemerintah pusat dan daerah sudah mengandung tindakan operasional untuk menghadapi Climate Change yang berbasis manajemen lingkungan. Kata “Climate Change” sudah banyak dipahami sampai ke unit operasional di lapangan seperti tim Emergency di rumahsakit. Apa yang dapat diperoleh untuk Indonesia? Dalam hal “Climate Change” sudah saatnya pemahaman mengenai hal ini disebarkan ke seluruh masyarakat. Berbagai kejadian seperti banjir, angin ribut, kebakaran hutan di musim kemarau, kekeringan, sampai perubahan pola penyebaran penyakit sedikit banyak terkait dengan “Climate Change“. Pimpinan pemerintah diharapkan memahami tentang Climate Change dan mulai mengembangkan strategi untuk menghadapinya bersama masyarakat luas.{/xtypo_code}

Gallery Kegiatan

{gallery}2013/umea/H1{/gallery}

Arsip Agenda 2013

Tanggal

Agenda

Yogyakarta
4 November 2013

International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in the health sector with focus on research, policy and action

Yogyakarta
12 November 2013

Seminar Strategi Penyusunan Hospital Disaster Plan

Yogyakarta,
11-14 November 2013

Pameran Ilmiah Bencana (Pengalaman Fakultas Kedokteran UGM dalam Penanggulangan Bencana)

Yogyakarta,
27 Oktober –
2 November 2013

Pengurangan Risiko Bencana (Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

Yogyakarta
13-14 Juni 2013

Indonesia Symposium on Disaster Risk Reduction and Resilience APDR3

Yogyakarta
13 Juni 2013

Kuliah Umum Pengorganisasian Bencana pada Masa Tanggap Darurat

Yogyakarta
11 Juni 2013

Kunjungan University of Hawaii Manoa dalam Rangkaian Asia Pacific Disaster Risk Reduction and Resilience (APDR3)

Yogyakarta
22 – 29 April 2013

Pacific Angel 13-2

Yogyakarta
15 – 19 April 2013

Workshop Adaptasi dan Mitigasi Kebijakan Kesehatan terhadap Climate Change (Climate Change Mitigation and Adaptation Policies in the Health Sector (CC MAP) Workshop)

Yogyakarta
6 Maret 2013

Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)”
pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan
dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta

Yogyakarta
2 – 6 Maret 2013

Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia – ASM 2013
Oleh Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM

Umeå University-Swedia,
21-26 Januari 2013

Lokakarya Mitigasi Perubahan Cuaca dan Kebijakan Adaptasi Disektor Kesehatan

Jakarta
19 – 28 Januari

Tim UGM Peduli Banjir Jakarta
Pengiriman Tim Kesehatan oleh Pokja Bencana FK UG

New Orleans, Louisiana
08 – 10 Januari

Konferensi Internasional Kebencanaan dan Expo

Pembukaan Pameran Ilmiah 2012

Pemotongan-Pita-Secara-Simbolis

Pembukaan Pameran Ilmiah

Pengalaman FK UGM dalam Berbagai Bencana dan
Kurikulum Bencana di Pendidikan Kedokteran S1 dan S2 UGM

 Lobby auditorium FK UGM,
10-13 Desember 2012


Pemotongan-Pita-Secara-SimbolisPokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM, Divisi Manajemen Bencana mempersembahkan sebuah Pameran Ilmiah dalam rangka mendukung Pelaksanaan Blok 4.2 (Health System and Disaster Manajement), Program S1 Pendidikan Kedokteran. Pameran dengan tema “Pengalaman FK UGM Dalam Berbagai Bencana dan Kurikulum Bencana Di Pendidikan Kedokteran Program S1 Dan S2 UGM” merupakan bentuk penyebaran pengetahuan dan gambaran kepada peserta, khususnya mahasiswa FK UGM mengenai pengalaman dalam penanganan bencana yang telah dilakukan, agar bisa memberikan bentuk inovasi dalam penanggulangan bencana ke masa depan. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 10–13 Desember 2012 di Lobby Auditorium FK UGM. Pameran yang dilaksanakan kali ini adalah Pameran Ilmiah kedua, dan akan menjadi program kerja rutin yang akan dilaksanakan setiap tahun.

Pengalaman yang ditampilkan dalam pelaksanaan kali ini adalah mengenai penanggulangan bencana dari beberapa kejadian bencana yang terjadi di Indonesia, seperti kejadian Tsunami Aceh, Gempa Padang, serta Bencana Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Bencana-bencana tersebut menyebabkan kerugian baik material maupun korban jiwa. Dari beberapa kejadian bencana yang telah terjadi, melibatkan Tim yang Expert dan berkompeten dari FK UGM dan RS Sardjito dalam upaya penanganan bencana yang terjadi, dan menjadikan sebagai dasar lesson learned dalam proses pembelajaran untuk Manajemen Bencana di Perguruan Tinggi, khususnya untuk Mahasiswa FK UGM dengan harapan mahasiswa FK UGM bisa melihat aspek manajemen bencana dari Tim yang mengikuti kegiatan penanganan bencana tersebut.

Topik pameran dari stand Pokja Bencana FK UGM, ada 6 topik besar yaitu, mengenai kerangka konsep manajemen bencana, fase bencana yang diikuti oleh Tim dari RS Sardjito dan FK UGM dalam kegiatan penanggulangan bencana yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu 1) fase respon (kegiatan yang diikuti oleh Tim Sardjito dan FK UGM pada Bencana Gempa Padang dan Letusan Gunung Merapi melakukan medical dan management support); 2) fase recovery (Tsunami Aceh dengan melakukan perencanaan dan penguatan system manajemen rumahsakit serta melakukan pelatihan-pelatihan seperti General Emergency Life Support (GELS), Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Persiapan Pelayanan Psikologis, Pelatihan MTBS); 3) Fase Preparedness, kegiatan pelatihan dan workshop mengenai penanggulangan bencana di rumah sakit dan daerah, kurikulum bencana yang ada pada Program S1 dan S2 UGM serta penelitian dari tim Pokja FK UGM yang pernh dipresentasikan pada forum internasional.

Kegiatan pameran ini juga akan di ikuti oleh beberapa LSM yang aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana, seperti: Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Yogyakarta dan Komunitas Merapi.

Sambutan-Prof-Adi-Utarini--dan-dr-hendroPembukaan acara pameran dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 10 Desember 2012, Pukul 10.00 – 10.30 WIB yang diisi oleh Pidato Sambutan oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD, selaku Konsultan Senior Divisi Manajemen Bencana PMPK FK UGM dan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D, selaku Wakil Dekan Bidang, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama.

Dalam pidato sambutannya, dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD menyampaikan bahwa pameran yang dilaksanakan kali ini untuk mempublikasikan apa yang sudah kami lakukan selama ini dalam pengelolaan bencana yang terjadi di Indonesia. UGM merupakan satu-satunya yang merintis kegiatan semacam ini atau bisa dikatakan sebagai pemula sebagai Uiniversitas yang peduli kepada bencana dan memiliki dan mengembangkan kurikulum dalam kebencanaan. Kegiatan pertama yang kita lakukan sejak gempa dan tsunami tahun 2004, berlanjut gempa tahun 2006 hingga saat ini. Dulu kami sebagai Divisi Bencana PMPK F UGM dan sekarang telah berubah menjadi Pokja Bencana FK UGM sehingga kegiatannya pun menjadi lebih luas.

Sambutan sekaligus pembukaan acara pameran secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama Wakil Dekan Bidang Prof. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D. Beliau menyampaikan bahwa bentuk dukungan FK UGM dalam manajemen bencana adalah salah satunya dengan mengembangkan kurikulum kebencanaan pada beberapa Prodi seperti Kedokteran Umum, keperawatan, dan gizi. Hal ini ditujukan dalam upaya mengajarkan kewaspadaan kepada mahasiswa dan antisipasi kejadian bencana.

Acara pembukaan pameran secara simbolis dengan pemotongan rangkaian bunga di depan pintu masuk Pameran Pokja Bencana FK UGM yang didamping oleh tim Pokja Bencana dan perwakilan dari tim PMI, Komunitas Merapi dan MDMC.


Galeri Kegiatan

{gallery}pameran12{/gallery}

 

hari ke 4 amcdrr

Tarian-Mataram-Ginanjing1

Spesial session 20
Strengthened National Preparedness through Balangoda City Resilience Program to get Ready for any Disaster

Tarian-Mataram-Ginanjing1Berdasarkan misi dari penilaian preparedness UNDAC pada November 2011, pemerintah Sri langka menginisiasi beberapa peluang untuk kerangka manajemen bencana. Tujuan dari sesi ini adalah mengilustrasikan mengenai penguatan program respon kesiapsiagaan yang dilakukan Sri Langka, sebagai contoh mengenai program Pada pemaparan yang disampaikan, dijelaskan bagaimana peluang tersebut dapat diwujudkan oleh pemerintah. Program ketahanan Balangoda telah memasukkan suatu program komprehensif untuk manajemen limbah padat untuk 12 tahun dan memperkenalkan program pengumpulan limbah yang baik disekolah. Belajar dari pengalaman yang disampaikan penyaji, bahwa ada 40 rekomendasi dalam pengurangan risiko bencana. Dari rekomendasi tersebut, di ringkas menjadi beberapa lingkup yang meliputi preparedness, koordinasi, logistik, kesehatan, emergensi (kegawatdaruratan), paparan risiko dan kerentanan.

Dari aspek preparedness, diharapkan adanya program jangka panjang untuk pengurangan risiko bencana secara komprehensif dan konseptual terhadap program manajemen bencana yang dilaksanakan. Secara nasional, adanya program perencanaan secara operasional untuk emergensi pada manajemen bencana di Balangoda telah disusun serta adanya pengembangan dari database dan informasi untuk pengumpulan dan analisis data kegiatan. Selain itu, penguatan kementerian bidang manajemen bencana juga dilaksanakan agar bisa berdampak pada perbaikan program pengurangan risiko bencana. Pada lingkup koordinasi, sudah dibentuk suatu komite nasional untuk Koordinasi dalam pelaksanaan manajemen bencana di Balangoda serta sudah di strukturisasi kembali agar efektifitasnya bisa maksimal. 17 daerah sudah memiliki draft untuk perencanaan koordinasi, serta paparan risiko dan kerentanan.

Lingkup logistic juga menjadi area rekomendasi dari pengalaman yang ada. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah koordinasi dan kolaborasi dengan sektor swasta untuk logistic juga sudah dibentuk untuk manajemen bencana, yaitu melalui partisipasi sektor swasta pada komite nasiaonal manajemen bencana mengenai isu kegawatdaruratan telah didiskusikan. Untuk lingkup rekomendasi kesehatan, isu utama adalah untuk preparednes dan respon dimasukkan dalam kementerian perencanaan kesehatan dan perencanaan sektor kesehatan untuk preparednses kegawatdaruratan telah diselesaikan , WHO dan kementerian kesehatan telah melaksanakan pelatihan dan membetuk tools untuk penguatan preparendess dan respon, serta mental health dan surveilans. Untuk Emergency (kegawatdaruratan) juga menjadi area rekomendasi yang menjadi perhatian serta paparan risiko dan kerentanan. Selain itu, juga dilakukan pengembangan kebijakan dan pedoman untuk penetapan kebutuhan khusus. Dari seluruh aspek, yang menjadi focus dalam Lesson learnt adalah manajemen limbah padat merupakan solusi yang baik untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.



Closing Ceremony

Penutupan untuk seluruh rangkain kegiatan 5th AMCDRR dimulai pada pukul 10.00 – 12.00 WIB, acara diawali dengan pemaparan mengenai film festival yang pelaksanaannya oleh BNPD dan kolaborasi UNISDR. Pada film festival ini memperkenalkan isu mengenai disaster pada beberapa Negara serta pengalaman yang pernah dilaksanakan oleh tiap Negara. Selain itu, juga untuk memberikan gambaran kepada Negara lain beberapa aspek yang menarik untuk dibahas dan di ambil pembelajaran dari pengalaman Negara lain dalam penanggulangan bencana serta upaya pengurangan risiko bencana. Melalui kegiatan ini, diharapkan adanya perubahan perspektif mengenai bencana melalui film festival.

Film-film yang telah diputar tersebut akhirnya pemenang-film-festivalmemunculkan beberapa film yang menarik dan menjadi nominasi untuk best film dari beberapa kategori utama. Ada 3 kategori film yang di berikan award oleh panitia, yaitu untuk Best Human Story, Best Investigation Stori dan Best Disaster Risk Reduction Story.

Berikut adalah nominasi dari beberapa kategori yang di pilih.

Best human story adalah

  1. Kazal on the flood : Bangladesh
  2. Tale of friends : Indonesia
  3. Do you hear me : sri langka

Dari ketiga nominasi, yang menjadi pemenang untuk The Best Human Story adalah film dari Bangladesh dengan judul Kazal On The Flood Dari Bangladesh, yang menceritakan pengalaman dari korban bencana banjir di Bangladesh

Best invetigation story

  1. The legend of krakatau : Indonesia
  2. Memories of summer day 2012 : Korea
  3. Aof ones own : India
  4. The invicible bangladesh in disaster : Bangladesh

Pada kategori Best Investigation Story, film Memories Of Summer Day 2012 yang dibuat oleh Korea menjadi pemenang.

Best disaster risk reduction story

  1. The voice of earthquake : bnpd
  2. A time for action : malaysia
  3. Toward resilience : bangladesh
  4. Special task call : china

Perwakilan-dari-Indonesia-yPemenang untuk kategori cerita pengurangan risiko bencana diraih oleh Indonesia melalui film yang menceritakan mengenai Gempa yang ada di Indonesia dengan judul The Voice Of Earthquake

Setelah pemberian Nominasi untuk Best Kategori film, dilakukan pelapolaran akhir dari kegiatan dari beberapa High Level Round Table (HLRT) dan Plenari Session. Laporan untuk HLRT yang pertama disampaikan oleh Hon Nicole Roxon mengenai Integrating Local Level Disaster Risk Reduction and Climate Change Adaptation into National Development Planning. Laporan kedua untuk HLRT ke-II oleh H.E Mr. Lyonpo Minjur Dorli, Minister of Home and Cultural Affair of Bhutan mengenai hasil dari sesi Local Risk Assessment and Financing. Intinya adalah kapasitas dan sumber diskusi sangat dinamis dan energik, mengenai pengalaman dan pembelajaran yang diambil dari lokal dan nasional mengenai pembiayaan, lokal kapasitis memiliki kemampuan finansial dan publik private, dan ada pembiayaan untuk budget, beberapa delegasi menyampaikan mengenai lokal komunitas dan pemerintah dalam peningkatan, upaya promosi. Penilaian risiko, standarisasi dan mobilisasi.

Dan laporan terakhir untuk sesi HLRT oleh HE Mr Abul Hassan Mahmud Ali, Minister of Disaster Management and Relief, Bangladesh mengenai penguatan pemerintah lokal pada tingkat daerah, komunitas lokal mempunyai target, dan punya peran serta fungsin masing-masing, serta penetapan dari pengurangan risiko serta perubahan iklim, rekomendasi dari ini adalah ada 7 isu, untuk mrngembangkan kemampuan, pengembangan kebijakan dan kerangka konsep untuk drr, kemampuan masyakarat, mengenai data dan infromasi untuk program serta kontribusi aktif dari orang, serta peningkatan peran stakeholder dalam pengembangan pengurangan risiko bencana.

Kemudian juga adanya deklarasi untuk anak-anak yaitu mengenai partisipasi dari anak-anak dan aspirasinya dari indonesia, cina, Bangladesh. Beberapa hal yang disampaikan adalah Protection children, school must safe, adanya jaringan antara anak sedunia,  adanya advokasi dan pengalaman dari berbagai teman serta sekolah dan komitenya,  membentuk tim siaga bencana di sekolah dengan cara yang menyenangkan, adanya pembentukan dan penghijauan serta melindungi lingkungan sekitar,

Acara puncak adalah penutupan oleh kepala BNPB, dr syamsul marief. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan 5th AMCDRR, penguatan kapasitas lokal, dan implementasi dari konferensi ini adalah adanya roadmap dan action plan untuk disaster risk reduction, serta peran dari berbagai regional dan subregional dalam penguatan kapasitas lokal serta peningkatan peran multisektoral, lokal risk dan financing, lokal infrastruktur, peningkatan lokal kapasitas, komitemen politik serta akses publik untuk promosi serta alokasi dari sumber untuk penguatan kapasitas local. Serta disampaikan bahwa kegiatan AMCDRR ke-6 akan diselenggarakan di Thailand pada tahun 2014.

Children Participation in Safe School and Inclusive Disaster Risk Reduction

Dr.-Nhim-Vanda

Children Participation in Safe School and Inclusive Disaster Risk Reduction

Dr.-Nhim-VandaKalau ada gempa, lindungi kepala.
Kalau ada gempa, maju kolong meja.
Kalau ada gempa, jauh dari kaca.
Kalau ada gempa, lari keluarlah

Itulah petikan lagu yang dinyanyikan anak-anak pada film documenter ‘Sekolah Aman adalah Hak Anak’.  Film tersebut membuka sesi side event The 5th AMCDRR, ‘Children Participation in Safe School and Inclusive Disaster Risk Reduction’.  Sesi ini terselenggara atas kerja sama Plan Indonesia, KYPA, Care, Handicap International, dan Bantuan Kemanusiaan dan Perlindungan Masyarakat. Dalam sesi ini, hadir beberapa anak yang telah melakukan hal kecil namun bermanfaat besar khususnya dalam mewujudkan sekolah aman. Sekolah aman ialah sekolah yang memberikan jaminan keamanan, kesehatan dan kenyamanan pada anak-anak. Secara resmi acara ini dibukan oleh H. C. Dr. Nhim Vanda, Senior Minister, First Vice President of The National ommittee for Disaster Management of Cambodia.

Pemerintah RI telah melakukan ratifikasi Konvensi hak anak melalui Peraturan Presiden UU No 36 Tahun 1990 dan UU 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Melalui amandemen UUD 1945, pemerintah juga akan menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan partisipasi anak-anak, ungkap Dr. Wahyu Hartono, M. Sc, perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Wahyu menambahkan, ‘bahkan tahun 2006, telah ditetapkan kebijakan ‘Kabupaten Kota Layak Anak’, dan hal ini memberikan stimulus yang baik pada Pemda untuk serius dalam memberikan perlindungan anak’. Turunan dari kebijakan tersebut yaitu forum anak yang tersebar di 33 provinsi. Melalui forum tersebut, anak-anak saling berbagi informasi dan belajar mengenai sekolah aman. Forum ini bukan hanya untuk sekolah anak, melainkan juga penangulangan atau pencegahan AIDS, bahaya asap rokok dan sebagainya.

Anak-anak-dan-para-peserta-sesi-Children-Participation-in-Safe-School-and-Inclusive-Disaster-Risk-Reduction

Perkembangan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah RI tersebut disampaikan lebih jauh oleh Yanti Sriyulianti, Ketua Seknas Sekolah Aman. Pemerintah dibantu oleh Plan Indonesia, Handicap Internasional dan NGO lainnya ‘membangun’ sekolah aman selama tahun 2011 di Sumatera Barat, Jawa Barat, NTB dan Jateng. Yanti memaparkan, ‘melalui kerjasama itu, sekitar 210 sekolah aman telah terbentuk’. Sekolah aman akan tetap eksis jika melibatkan guru, orang tua murid dan terutama siswanya. Seknas Sekolah Aman juga mendampingi dalam monitoting dan evaluasi pelaksanaan sekolah aman tersebut. Pihak lain yang turut mendukung sekolah aman melalui pembuatan website ialah BEC-TF melalui www.supportmyschool.com.

Praktek langsung sekolah aman digambarkan oleh 4 anak perwakilan yang terpilih, mereka ialah Arlian (Bandung), Genta (Rembang), Sandri (Atambua) dan Ien Sopheurn (Kamboja). Arlian mengisahkan di sekolahnya mereka telah melakukan deklarasi sekolah aman dan mereka saling mensosialisasikan sekolah aman melalui wayang golek misalnya. Arlian menambahkan, jangan remehkan anak-anak, jangan lupakan mereka tapi rangkul mereka dalam sekolah aman dan resiko pengurangan bencana.

Genta menceritakan hal yang lebih unik lagi, ia hobi membuat mainan dari barang bekas. Melalui hal sekecil itu, ia yakin ia daoat melakukan perubahan yang besar. Sehingga ketika ia bergabung dengan tim siaga bencana sekolah ia bekerjasama dengan temannya untuk mewujudkan sekolah aman, ia mengajarkan materi sekolah aman kepada teman-temannya melalui hal sederhana, misalnya : permainan.

Sementara Sandri, siswi Tuna Daksa dari Atambua karena di sekolahnya rata-ratasiwanya berkebutuhan khusus maka merea sepakat membuat tanda. Bendera merah artinya awas, hijau itu aman dan kuning untuk siaga. Di sekolahnya juga telah dipasang sirene dan sering dilakukan simulasi bencana. Ketika putting beliung melanda Atambua 2007 lalu, Sandri membantu berteriak dan melambaikan bendera merah sehingga ia dan teman-temannya bisa segera dievakuasi dari sekolah. Sandri menambahkan, ‘pengalaman saya membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi saya untuk membantu orang lain’.

Ien Sopheurn dari Kamboja berbagi cerita bahwa di negaranya tema pengurangan resiko bencana sudah menjadi mata pelajaran bagian dari Geografi. Sehingga anak-anak sejak dini telah terbiasa dengan upaya-upaya mempersiapkan diri ketika bencana datang. Mereka juga mampu menjadi agen perubahan masyarakatnya. Sementara di Indonesia, pengurangan resiko bencana baru menjadi ekstra kurikuler, Wahyu menambahkan akan memasukkan tema ini dalam kurikulum (Wid). 

Opening Ceremony AMCDRR 2012

pembukaan-amcdrr

pembukaan-amcdrrPerhelatan Konferensi Tingkat Menteri se-Asia untuk Pengurangan Risiko Bencana Ke-5 atau Fifth Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction – AMCDRR V) pada tanggal 23 Oktober 2012 di gedung Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta secara resmi dibuka oleh Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono. Acara ini diikuti oleh 38 negara dengan jumlah delegasi ada 137 orang, jumlah peserta secara keseluruhan mencapai 1200 partisipan dengan tambahan peserta dan pendukung dari Indonesia.

Acara AMCDRR ini diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), the United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR), serta dengan dukungan dari mitra-mitra di tingkat internasional, regional, nasional dan lokal. Kegiatan AMCDRR Ke-5 diselenggarakan selama empat hari, yaitu dari tanggal 22 hingga 25 Oktober 2012.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa sungguh merupakan suatu kehormatan bagi Indonesia dipilih sebagai tuan rumah bagi penyelenggaraan Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction kali ini. Penyelenggaraan konferensi ini mempunyai arti penting bagi Indonesia yang sedang membangun kemampuan nasional di bidang penanggulangan bencana, sekaligus merupakan tantangan untuk bekerja lebih keras dalam penguranga risiko bencana. Menurut Presiden SBY, bangsa Indonesia terletak di daerah rentan bencana, yaitu di pertemuan tiga lempeng samudra dan rangkaian gugusan gunung api (ring of fire) sebagai Laboratorium Bencana. Kejadian bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 membuka kesadaran bahwa perlu banyak hal yang harus dipelajari untuk menghadapi bencana besar. Setelah bencana itu bangsa Indonesia mulai membangun Sistem Nasional Penanggulangan Bencana dengan dukungan banyak pihak.

suasana-amcdrrke-5Dengan landasan Kerangka Aksi Hyogo sistem penanggulangan bencana ditata dari komitmen politis, kelembagaan, anggaran dan peningkatan kapasitas. Komitmen politis dilakukan antara pemerintah dan DPR menghasilkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan ini kemudian diikuti oleh kebijakan turunannya, baik Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, dan lain-lain. Untuk kelembagaan adalah dengan membentuk badan yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; selain itu membentuk forum koordinasi multi pihak untuk pengurangan risiko bencana baik di tingkat nasional maupun provinsi dan kabupaten/kota.

Dari sudut anggaran adalah meningkatkan jumlah anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional, pada tahun 2012 ini anggarannya sebesar Rp 9,5 Trilyun atau 0,77% dari total dana APBN. Dana tersebut tidak saja untuk keperluan saat tanggap darurat dan pemulihan, tapi juga untuk pengurangan risiko bencana. Khusus untuk dana penanggulangan bencana yang dialokasikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana menjadi Rp 1.045 Milyar di tahun 2013.

Peningkatan kapasitas dilakukan dengan asistensi teknis dalam bentuk pembuatan peta risiko bencana, penyusunan rencana penanggulangan bencana, rencana kontijensi, pendidikan dan pelatihan, serta simulasi bencana. Di bidang asistensi administrasi berupa pengetahuan tentang legislasi dan regulasi, pedoman dan panduan hingga pelaksanaan seluruh program kegiatan penanggulangan bencana secara transparan dan akuntabel. Dukungan kepada pemerintah daerah berupa mobil komando, peralatan komunikasi dan informasi serta kebutuhan logistik. sedangkan dukungan pendanaan kepada pemerintah daerah adalah untuk membantu kelancaran tugas-tugas oprasional terutama pada saat tanggap darurat. Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dalam pesannya melalui rekaman video menekankan perlunya pemahaman tentang pengurangan resiko bencana untuk mendorong keberhasilan pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan. “Kita harus bertindak sekarang”, katanya.

Dalam acara pembukaan AMCDRR Ke-5 ini hadir juga Presiden Republik Nauru Sprent Dabwido; Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, Margaretha Wahlstrom; Gubernur Provinsi DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gusti Kanjeng Hemas, dan Kepala BNPB Syamsul Maarif serta Ibu Ani Yudhoyono. Tema umum AMCDRR Ke-5 ini adalah “Penguatan Kapasitas Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana”. Dalam pelaksanaan konferensi akan membahas tiga tema utama, yaitu mengintegrasikan pengurangan risiko bencana di tingkat lokal dan mengadaptasikan perubahan iklim ke rencana pembangunan nasional, mengkaji risiko di daerah dan pembiayaan, dan memperkuat tata kelola risiko daerah dan kemitraan.

opening-amcdrr-ke-5Penyelenggaraan AMCDRR Ke-5 ini terdiri atas rangkaian program yang dilakukan secara pararel. Program tersebut terdiri atas pre conference, plenary, market place, field and cultural visits, film festival, media training, dan consultation mechanism. Indonesia adalah negara tuan rumah yang kelima untuk Konferensi Para Menteri Asia dalam Pengurangan Risiko Bencana setelah Beijing, Republik Cina (2005); New Delhi, India (2007); Kuala Lumpur, Malaysia (2008); dan Incheon, Republik Korea (2010)

 

 

   


Belajar dari Yogyakarta dalam Menghadapi Bencana

Suasana-sesi-konferensi-Urban-Health-Emergency-ManagementYogyakarta – hari kedua, Selasa (23/10)konferensi the 5th AMCDRR semakin menarik untuk diikuti. Salah satu bahasan lokal yang menarik perhatian dalam sesi ‘Urban Health Emergency Management’ ialah Persiapan Kegawatdaruratan dan Bencana di Yogyakarta. Pembahasan ini mengarah pada apa saja yang harus dipersiapkan dan siapa saja yang harus mempersiapkan diri ketika terjadi bencana. Materi ini disampaikan oleh Sarminto, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta.

Read MoreKantor Kesehatan Provinsi Yogyakarta dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana melakukan beberapa koordinasi dengan :

  1. Tim Respon Cepat yang meliputi Dinas Kesehatan Provinsi, RS dan PMI.
  2. Pusat Bantuan Kesehatan Darurat, ini merupakan kolaborasi antara Asosiasi RS (PERSI) dan  PMI serta disusun secara legal oleh Kepala Dinas kesehatan Provinsi.

Selain itu, Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan  Provinsi telah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) tersendiri, yaitu :

  1. SOP Manajemen Bencana di Yogyakarta
  2. SOP Manajemen Kegawatdaruratan
  3. Manajemen Kegawatdaruratan : kolaborasi forum Direktur RS dalam Pelayanan Kegawatdaruratan sebelum dan saat penanganan.
  4. Pusat Bantuan Kesehatan : Asosiasi RS dan PMI

Sejalan dengan Program Kesehatan Nasional tentang Safe Hospital, saat ini telah terbentuk empat RS yang menerapkan Hospital Disaster Plan (HDP) antara lain :

  1. RS Sardjito
  2. RS Jogja
  3. RSUD Panembahan Senopati, dan
  4. PKU Muhammadiyah Bantul.

Pengalaman kebencanaan yang dilakukan di Yogyakarta saat Gempa Juni 2006, diantaranya :
* 0-7 bulan pertama : respon yang menjadi prioritas mengurangi angka kematian, mengevakuasi kaum difabel secepat mungkin, manajemen korban, menyediakan layanan yang cepat dan tepat.
* Rehabilitasi sampai tiga bulan awal : rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi psikologis, memperbaiki nutrisi warga, imunisasi dan rehabilitasi lingkungan.

Hal-hal yang dikembangkan untuk menghadapi bencana :

  1. Pelatihan manajemen bencana
  2. Sistem Penanggulangan Gawat Terpadu (SPGT) diaktifkan terus
  3. Program butrisi yang berkelanjutan
  4. Ketahanan terhadap penyakit
  5. Kesehatan lingkungan
  6. Promosi kesehatan
  7. Manajemen logistik kesehatan
  8. Manajemen Informasi Kesehatan yang tahan terhadap penyakit
  9. Membangun sekretariat Manajemen bencana

Selain itu, terakhir Yogyakarta sempat mengalami erupsi Merapi pada 2010 dan karena telah memiliki beberapa persiapan di atas, maka pemerintah dan warga sudah siap menghadapi bencana tersebut. Letak geografis Yogyakarta yang memungkinkan bencana terjadi membuat pemerintah dan warga belajar dari alam dan pengalaman (Wid).

Pre-conference The 5th Asian Ministerial Conference Disaster Risk Reduction

IMG_1081

Telah Berlangsung Pre-conference The 5th Asian Ministerial Conference Disaster Risk Reduction

IMG_1081Senin (22/10) telah berlangsung pre-conference The 5th Ministerial Conference Disaster Risk Reduction (AMCDRR). Pre-Conference The 5th AMCDRR ini dilakukan di beberapa tempat, ntara lain : Hotel Sheraton, Hotel Grand Aston dan Jogja Expo Center (JEC). Sekitar 18 pre-conference di JEC, dua diantaranya tentang Childrens Views on Disaater Risk Reduction and Climate Change Adaptation serta ASEAN Committee for Disaster Management.

IMG_1083Pre-conference Childrens Views on Disaater Risk Reduction and Climate Change Adaptation salah satunya menghadirkan anak-anak dari Turgo, Kaliurang. Mereka begitu antusias ketika diajak berdiskusi tentang bencana dan peringatan bencana. Hal ini sangat penting mengingat lokasi rumah mereka yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB). Sementara pre-conference ASEAN Committee for Disaster Management membahas hal yang tak kalah menarik, yaitu ASEAN Coordinating Center for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA).

Adelina Kamal, Head Disaster Management & Humanitarian Division of ASEAN Secretariat memaparkan strategi yang dilakukan AHA untuk pengurangan resiko bencana diantaranya :

1.  Prevention and navigation yang melliputi :

  • Membangun kesadaran publik dan melakukan pendidikan kebencaan,
  • Strategi pembangunan resiko pembiayaan dan asuransi

2.  Preparednes : misalnya sistem logistik yang stabil, serta

3.  Pre disaster recovery planning

Sementara, dr. Markessa Teyez, Technical Advisor for Disaster Management & Humanitarian Division of ASEAN Secretariat menjelaskan tentang perkembangan The Hyogo Framework Action (HFA) yang telah diterapkan negara-negara ASEAN. HFA yang disepakati Januari 2005 kini telah mengalami banyak kemajuan di ASEAN, diantaranya :

  1. Pengurangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction/DRR) telah menjadi prioritas
  2. Mengetahui resiko dan mengambil aksi nyata (identifikasi, monitoring bencana)
  3. Memanfaatkan pengetahuan untuk pendidikan kebencanaan
  4. Menandai dan mengurangi faktor resiko, masing-masing negara harus menyiapkan diri dan bersiap untuk menghadapi bencana sejak awal.

Markessa Teyez menambahkan, ‘tantangan ke depan untuk negara-negara ASEAN yaitu sinkronisasi, kolaborasi, dan monitoring DRR pada level nasional dan regional’ (Wid).

Side Event Visit Hospital RSUD Panembahan Senopati

IMG_1123Senin (22/10) sore hari telah berlangsung kunjungan rombongan peserta Pre-Conference The 5th AMCDRR ke RSUD Panembahan Senopati Bantul. Kunjungan ini dilakukan sebagai ajang untuk berbagi pengalaman RS dalam menghadapi bencana. Faktanya, RS harus selalu siap melayani dalam menghadapi bencana dan kegawatdaruratan. RSUD Panembahan Senopati merupakan RS Binaan WHO dan PMPK UGM dalam penyusunan dan implementasi Hospital Disaster Plan (HDP). HDP inilah yang menjadi acuan para personil RS ketika terjadi bencana.

I Wayan Sudana, M. Kes, Direktur RSUD Panembahan Senopati menjelaskan HDP yang ada di RS ini diantaranya :

  1. Mengorganisasi HDP yang meliputi : komando dan operasional bencana, perencanaan, logistic dan pembiayaan.
  2. Mempersiapkan lokasi untuk evakuasi diantaranya mencakup : pos komando, pusat evakuasi, pusat komunikasi, seluruhnya ada 22 lokasi.
  3. Menyusun peta atau jalur penanggulangan bencana.
  4. Menyusun peta evakuasi

Sementara kegiatan terkait yang telah dilakukan antara lain :

  1. Workshop manajemen bencana
  2. Training manajemen kebakaran
  3. Training PPGD
  4. Memasang instalasi arah petunjuk diantaranya : alarm kebakaran, RAM dan seterusnya.
  5. Memasang instalasi alarm, yaitu : detector asap, detector panas dan sebagainya.
  6. Simulasi rutin dengan Bantul Emergency Service Support (BESS).

IMG_1100Simulasi tersebut dilakukan dua kali dalam setahun, tambah dr. Gandung, Kepala Komando HDP. Selain simulasi, HDP juga diterapkan melalui hal-hal yang sederhana, misalnya : ketika terjadi bencana banyak ruangan yang ‘disulap’ menjadi ruang istirahat pasien. Disamping itu, IGD menjadi pusat komando ketika bencana terjadi. Sehingga diharapkan akselerasi respon terhadap bencana cepat dan tepat.

Menanggapi pemaparan tersebut, Sameer, perwakilan dari World Bank memberikan apresiasi yang sangat baik pada HDP RSUD Panembahan Senopati serta pengalaman kebencanaan Indonesia. Ia menyatakan Indonesia memiliki kekayaan yang tak ternilai dalam pengalaman menghadapi bencana. Ada tiga poin yang ia catat, diantaranya : pertama, Indonesia sudah memliki prosedur yang baik seperti akses kesehatan dan fasilitas yang baik. Kedua, struktur bangunan RSUD Panembahan Senopati yang tetap kokoh saat terjadi gempa 2006 lalu. Ketiga, penanggulangan bencana yang sudah baik (Wid).