Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala

logo caritas

logo caritas

Kerangka Acuan Kegiatan

Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala

(Dinas Kesehatan Disaster Plan)

Kamis, 21 dan 28 Oktober 2021
Pukul 10.30 – 12.00 WITA

 

 

Pengantar

PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany akan melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Pengembangan dokumen perencanaan penanggulangan bencana di tingkat Dinas Kesehatan (Dinkes Disaster Plan) masih sangat jarang dilakukan. Pada Maret 2021 lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala sudah menyusun dokumen dinkes disaster plan dan berproses selama 6 bulan untuk penyelesaian dokumen. Penyusunan dokumen dinkes disaster plan ini didampingi oleh fasilitator lokal Sulawesi Tengah dan Tim dari PKMK FK – KMK UGM.   Melalui dokumen ini dinas kesehatan harus memahami bahwa dokumen Dinkes Disaster Plan atau disebut juga dengan rencana kontingensi sebagai salah satu bentuk kesiapan dinas kesehatan untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Artinya dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin sehingga saat bencana terjadi sistem komando sudah terkoordinir dengan baik.

 

Selama proses penyelesaian dokumen dinkes disaster plan, terdapat WhatsApp group / WAG sebagai wadah untuk diskusi jika sewaktu – waktu tim penyusun kecil mengalami kendala. Isi dari dokumen ini masih diketahui oleh segelintir orang yang terlibat dalam penyusunan sementara dalam pengaplikasian dokumen seluruh staff di dinas kesehatan terlibat. Internal dinas kesehatan penting mengetahui kapan dokumen ini akan diaktifkan, apa yang menjadi peran masing – masing bidang, bagaimana alur komando dan komunikasi serta SOP yang digunakan saat bencana. Melalui kegiatan ini tim penyusun kecil dokumen dinkes disaster plan akan mensosialisasikan dokumen yang sudah disusun kepada staf internal dinas kesehatan.

 

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi dokumen dinkes disaster plan kepada internal Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan melalui virtual menggunakan aplikasi zoom. Sosialisasi dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Pertemuan pertama tim penyusun kecil akan mempresentasikan dokumen kemudian staf internal melengkapi atau memberikan masukan jika ada kekurangan dalam dokumen. Selanjutnya jeda 5 hari tim penyusun akan merevisi kembali dan pada pertemuan kedua disosialisasikan kembali.

 

Hal yang Perlu Dipersiapkan oleh Peserta

  • Peserta menyiapkan dokumen yang digunakan saat penanggulangan bencana baik itu SOP, formulir dan alur
  • Tim Penyusun Kecil Dinkes Disaster Plan Kabupaten Donggala menyiapkan dokumen dinkes disaster plan yang sudah disusun dan siap dipresentasikan

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini adalah staf internal Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala khususnya SDM kesehatan yang terlibat dalam struktur organisasi saat bencana.

Output Kegiatan

Staf internal Dinas Kesehatan mengetahui dan memahami isi dari dokumen Dinas Kesehatan disaster plan.

 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Link Zoom setiap pertemuan

Meeting ID: 820 2643 6953

Passcode: 131054

 

Pertemuan 1

Waktu     : Kamis, 21 Oktober 2021

Pukul      : 10.30 – 12.00 WITA

 

Pertemuan 2

Waktu     : Kamis, 28 Oktober 2021

Pukul      : 10.30 – 12.00 WITA

 

Waktu Kegiatan/Materi Fasilitator
Pertemuan 1 : Kamis, 21 Oktober 2021
10.30 – 10.40 WITA Pengantar dan Pembukaan

PKMK FK-KMK UGM

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala

10.40 – 11.10 WITA Presentasi dokumen Dinas Kesehatan Disaster Plan Kabupaten Donggala Tim Penyusun Dokumen Dinas Kesehatan Disaster Plan Kabupaten Donggala
11.10 – 11. 50 WITA Diskusi Peserta dan Fasilitator
11.50 – 12.00 WITA Rencana Tindak Lanjut  
Pertemuan 2 : Kamis, 28 Oktober 2021
10.30 – 10.35 WITA Pengantar PKMK FK-KMK UGM
10.35 – 11.05 WITA Presentasi dokumen Dinas Kesehatan Disaster Plan Tim Penyusun Dokumen Dinas Kesehatan Disaster Plan Kabupaten Donggala
11.05 – 11.30 WITA Diskusi  
11.30 – 11.50 WITA Rencana Table Top Exercise (TTX) atau simulasi dokumen Dinas Kesehatan Disaster Plan PKMK FK-KMK UGM
11.50 – 12.00 WITA Penutupan dan Rencana Tindak Lanjut  

 

 

Webinar Series Pengembangan Konsep Telemedicine dan Manajemen Bencana Kesehatan di Era Pandemi Covid-19

logo caritas

logo caritas

 Webinar Series

Pengembangan Konsep Telemedicine dan Manajemen Bencana Kesehatan di Era Pandemi Covid-19

30 Agustus – 27 September

{tab Kerangka Acuan Kegiatan}

Latar Belakang

Di era pandemic COVID-19, penggunaan teknologi informasi atau aplikasi digital kesehatan menjadi strategi yang efektif untuk mendukung berjalannya pelayanan kesehatan. Kementerian Kesehatan menggandeng banyak platform layanan telemedicine untuk konsultasi kesehatan virtual bagi pasien COVID-19 khususnya yang menjalani isolasi mandiri. Konsep telemedicine ini juga sudah banyak diaplikasikan dan dikembangkan di berbagai daerah termasuk Sulawesi Tengah.

Sejak Juni 2021 terjadi peningkatan kasus COVID-19 yang signifikan di Kota Palu Sulawesi Tengah dan dinyatakan Kota Palu memberlakukan PPKM Level 4. Fasilitas kesehatan penuh dan mulai kewalahan menagani pasien, ditambah lagi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan. Untuk menekan kekacauan tersebut, pemerintah Kota Palu mengambil langkah strategi bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat dalam hal penanganan COVID-19, berharap mereka bisa mandiri dan tangguh. Pemerintah Kota Palu didukung dengan berbagai organisasi profesi kesehatan di Kota Palu membentuk Tim Relawan Nagasi. Tim Relawan Nagasi membuka konsultasi pelayanan kesehatan pasien COVID-19 via WhatsApp. Tidak hanya sebatas konsultasi tetapi ada pengantaran obat dan membantu mengkoordinasikan dengan fasilitas kesehatan terdekat jika pasien membutuhkan perawatan segera. Program Tim Relawan Nagasi ini disebut juga sebagai pemanfaatan telemedicine untuk melakukan pelayanan kesehatan.

Sangat penting bagi daerah yang menggunakan aplikasi digital kesehatan mengetahui dan lebih memahami konsep telemedicine dan mekanisme pelaporan dan pencatatan telemedicine, termasuk bagaimana konsep ini bisa diintergrasikan dengan manajemen bencana serta krisis kesehatan. Bersama Relawan Nagasi dan peserta lainnya, PKMK FK-KMK UGM dan Caritas Germany berinisiatif membuat 5 rangkaian webinar rutin satu jam setiap minggunya. Penyampaian konsep dan penugasan ini akan dikembangkan secara mandiri oleh Relawan Nagasi untuk mendisain telemedicine yang paling cocok dan sesuai dengan kapasitas dan situasi penanganan bencana alam non alam di Kota Palu khususnya.

Tujuan

Peserta memahami konsep telemedicine secara umum khususnya dalam era pandemic COVID-19. Secara khusus diharapkan dapat memahami mengenai konsep dan mekanisme pelayanan kesehatan telemedicine, memahami pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan telemedicine, memahami manajemen informasi bencana, serta mampu membuat perencanaan kegiatan telemedicine Relawan Nagasi.

Proses Kegiatan

Kegiatan ini berbentuk webinar yang dilaksanakan melalui aplikasi zoom meeting. Narasumber akan menyampaikan konsep secara umum. Dilanjutkan dengan diskusi dan penugasan untuk Relawan Nagasi. Proses pendampingan dilakukan secara jarak jauh baik pada saat pertemuan rutin setiap Senin pukul 13.00 – 14.30 WIB ataupun melalui email dan grup chating antara peserta dan fasilitatror. Evaluasi tertulis dan penilaian hasil penugasan peserta akan dinilai sebagai pertimbangan kebutuhan sertifikat kegiatan.

 

Peserta Kegiatan

  • Tim Relawan Nagasi Kota Palu Sulawesi Tengah
  • Fasilitator Lokal Disaster Plan Sulawesi Tengah (*dampingan PKMK FK-KMK UGM)

Undangan:

  • Bidang Krisis Kesehatan dan Bidang terkait Di Dinas Kesehatan Sulawesi Barat
  • UPT P2KT Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah
  • Dinas Kesehatan Kota Palu
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
  • PSC 119 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah

 

Output Kegiatan dan Syarat Sertifikat

Peserta mendapatkan pengetahuan terkait konsep telemedicine secara umum khususnya dalam era pandemic COVID-19 dan draft-draft penugasan. Syarat mendapatkan sertifikat adalah menghadiri kegiatan secara penuh (5 kali pertemuan), aktif berdiskusi, mengerjakan penugasan, dan mengikuti ujian tulis dengan nilai minimal 7.

 

Waktu Pelaksanaan dan Rundown Kegiatan

Hari/Tanggal   : 5 kali pertemuan setiap Senin, 30 Agustus – 27 September 2021
Waktu            : 14.00 – 15.30 WITA
Link Zoom       : Meeting ID: 817 6782 5523 / Passcode: 934606

Waktu Kegiatan/Materi Narasumber/Moderator
Pertemuan 1: Senin, 30 Agustus 2021
14.00 – 14.10 WITA Pembukaan dan pengantar Inisiator Relawan Nagasi dan PKMK-FK-KMK UGM
14.10 – 14.50 WITA Pemaparan Materi
Pelayanan telemedicine : Konsep, Regulasi dan Implementasi
Anis Fuad, S.Ked., DEA (Konsultan dan Dosen Sistem Informasi FK-KMK UGM)
14.50 – 15.25 WITA Diskusi (dan penyampaian tugas)

          Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

          Madelina Ariani, SKM, MPH

15.25 – 15.30 WITA Penutup PKMK FK-KMK UGM
Pertemuan 2: Senin, 6 September 2021
14.00 – 14.05 WITA Pengantar dr. Bella Donna, M.Kes
14.05 – 14.50 WITA Pemaparan Materi : Monitoring Telemedicine Anis Fuad, S.Ked., DEA (Konsultan dan Dosen Sistem Informasi FK-KMK UGM)
14.50 – 15.25 WITA Diskusi (dan penyampaian tugas)

Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

Madelina Ariani, SKM, MPH

15.25 – 15.30 WITA Penutup
Pertemuan 3: Senin, 13 September 2021
14.00 – 14.05 WITA Pengantar dr. Bella Donna, M.Kes
14.05 – 14.45 WITA Penugasan Relawan Nagasi

dr. Bella Donna, M.Kes

Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

Madelina Ariani, SKM, MPH

14.45 – 15.25 WITA Pengerjaan Mandiri oleh peserta Happy Pangaribuan, SKM, MPH
15.25 – 15.30 WITA Penutup PKMK FK-KMK UGM
Pertemuan 4: Senin, 20 September 2021
14.00 – 14.05 WITA Pengantar dr. Bella Donna, M.Kes
14.05 – 14.50 WITA Penugasan (lanjutan)

dr. Bella Donna, M.Kes

Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

Madelina Ariani, SKM, MPH

14.50 – 15.25 WITA Diskusi (dan penyampaian tugas) Happy Pangaribuan, SKM, MPH
15.25 – 15.30 WITA Penutup PKMK FK-KMK UGM
Pertemuan 5: Senin, 27 September 2021
14.00 – 14.05 WITA Pengantar dr. Bella Donna, M.Kes
14.05 – 14.45 WITA Pemaparan Materi : Manajemen bencana (informasi, komunikasi risiko, promkes dan perilaku)

Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

14.45 – 15.25 WITA Ujian tulis Happy Pangaribuan, SKM, MPH
15.25 – 15.30 WITA Penutup PKMK FK-KMK UGM

 

Penutup

Demikian kerangka acuan webinar konsep telemedicine di era pandemic COVID-19. Pelatihan ini bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan berbasis digital kesehatan di daerah. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FKKMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program. 

 

{tab Reportase}

Series ini dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan setiap Senin dimulai pada 30 Agustus 2021. Webinar ini bertujuan supaya peserta memahami konsep telemedicine secara umum khususnya dalam era pandemi COVID-19. Secara khusus peserta diharapkan dapat memahami konsep dan mekanisme pelayanan kesehatan telemedicine, memahami pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan telemedicine, memahami manajemen informasi bencana, serta mampu membuat perencanaan telemedicine Relawan Nagasi. Peserta kegiatan ini khusus yaitu Tim Relawan Nagasi Kota Palu Sulawesi Tengah.

{slider title=”Senin, 30 Agustus 2021″ class=”icon” open=”false”}

sulteng 30 8

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan oleh dr. Reny Lamadjijo Sp.PK, M.Kes”

Peserta dari Tim Relawan Nagasi yang mengikuti pertemuan pertama sebanyak 89 orang. Pertemuan pertama ini dibuka oleh dr. Reny Lamadjido Sp.PK., M.Kes selaku Wakil Walikota Palu sekaligus inisiator Relawan Nagasi. Reny menekankan kembali bahwa Tim Nagasi sangat diapresiasi seluruh masyarakat, melalui tim Nagasi ini masyarakat mau membuka diri tentang yang dialami dan masyarakat sangat terbantu. Artinya webinar terkait telemedicine ini akan sangat membantu untuk menambah pengetahuan relawan Nagasi dan memperbaiki atau mengembangkan sistem yang ada saat ini. Selanjutnya Anis Fuad, S.Ked., DEA menyampaikan materi berjudul Pelayanan Telemedicine di era Pandemi : Konsep, Regulasi dan Implementasi. Telemedicine merupakan pelayanan kesehatan secara jarak jauh oleh tenaga kesehatan yang menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi untuk pertukaran informasi yang valid. Kegiatan telemedicinie dilakukan dalam kegiatan pencegahan, diagnosis, pengobatan, penelitian dan evaluasi serta pendidikan berkelanjutan para tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesehatan individu dan populasi. Regulasi terkait telemedicine telah diatur dalam PMK Nomor 20 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan pelayanan telemedicine antar fasilitas kesehatan. Telemedicine dapat dilakukan selama kedaruratan kesehatan masyarakat dan/ atau bencana nasional COVID-19. Implementasi telemedicine dapat menggunakan platform komunikasi yang ada, mudah digunakan (diakses) serta efektif.

Pada sesi diskusi, peserta menyampaikan bahwa kekurangan pada sistem pelayanan relawan Nagasi adalah kerahasiaan pasien tidak terjaga, sehingga isu yang muncul ialah bagaimana untuk memperkuat perlindungan kepada pasien. Mungkin harus dibuat general consent yang menyatakan bahwa pemeriksaan hanya bersifat diagnosis. Faktanya saat ini adalah kondisi yang tidak ideal. Ketika dibuat grup WhatsApp untuk konsultasi dan ternyata kondisinya tidak ideal maka perlu dilakukan assessment sembari melihat apakah ada platform lain yang lebih efektif. Dalam grup WhatsApp susah untuk membuat konsep, namun bisa juga disebutkan di depan bahwa data bisa dibaca pasien lain. Ketika proses perbaikan, pengembangan telemedicine tergantung pada leader. Tantangan dalam grup yaitu antar pasien mengetahui satu sama lain. Mencantumkan etika dan aturan – aturan perlu dibuat misalnya tidak bisa capture, jika tetap dilakukan akan terkena hukum. Permenkes Nomor 20 Tahun 2019 masih mengatur telemedicine dari 1 faskes ke faskes lain. Aturan ini menjadi aspek yang penting dalam inovasi. Pada sesi akhir moderator menyampaikan penugasan dari pertemuan ertama dan akan dibahas pada pertemuan kedua.

Materi

Selengkapnya Series I Pengembangan Konsep Telemedicine dan Manajemen Bencana Kesehatan di Era Pandemi Covid 19

YouTube http://ugm.id/2BQ

{slider title=”Senin, 6 September 2021” class=”icon”}

sulteng 6 9

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Monitoring Telemedicine”

Peserta dari Tim Relawan Nagasi yang mengikuti pertemuan kedua ini sebanyak 43 orang. Peserta mendapatkan materi Monitoring Telemedicine yang disampaikan Anis Fuad, S.Ked., DEA. Sebelum sesi dimulai, moderator memaparkan secara singkat hasil dari penugasan peserta yaitu terkait kendala yang dialami pada platform yang ada dan platform apa yang cocok digunakan pada sistem Nagasi. Anis menyatakan bahwa evaluasi perlu dilakukan untuk memperkuat praktik telemedicine yang baik. kerangka implementasi telemedicine yang berhasil meliputi 3 lapisan yaitu aspek tindak lanjut, evaluasi dan optimisasi; aspek pengembangan layanan telemedicine; dan aspek strategi telemedicine nasional. Terkait pembahasan pada pertemuan pertama bagaimana menjaga privasi pasien melalui grup WhatsApp? Grup Whatsapp isoman bisa diatur read only oleh admin grup, sementara igrup Whatsapp dokter bisa dua arah. Tentunya ini dilengkapi atau disertakan dengan berbagai aturan sederhana atau kebiajakan sederhana pada platform. Sistem yang sudah dikembangkan oleh relawan Nagasi sebaiknya bekerja sama dengan platform spesifik seperti platform yang dikembangkan oleh Alodokter, platform Kemenkes dan platform BPJS Kesehatan.

Pada sesi diskusi disampaikan bahwa dasar hukum yang dimiliki oleh relawan Nagasi saat ini adalah SK tim. SK disusun berdasarkan tupoksi, dimana yang bertugas harus memiliki standar kompetensi seperti Surat Izin Praktik (SIP) dan STR. Inilah yang menjadi dasar hukumnya dan ada juga surat tugas mereka.

Materi

 

Selengkapnya Webinar Seri 2: Pengembangan Konsep Telemedicine dan Manajemen Bencana Kesehatan di Masa Covid-19

YouTube http://ugm.id/2CG

{slider title=” enin, 13 September 2021 ” class=”icon”}

sulteng 13 9

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Penugasan”

Peserta dari Tim Relawan Nagasi yang mengikuti pertemuan ketiga ini sebanyak 95 orang. Diskusi penugasan ini difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt. Pada pemaparan awal Gde menyampaikan pemetaan kapasitas, target dan ekspektasi relawan Nagasi. Relawan Nagasi memiliki anggota dan ada pemimpinnya di masing – masing kelompok. Memiliki latar belakang yang sama namun keseharian/kebiasaan yang berbeda. Metode pelayanan setiap kelompok seragam sehingga kualitas pelayanan yang diberikan setara. Selanjutnya dibantu oleh moderator peserta dipandu untuk mengisi input, output untuk mencapai tujuan dan hasil relawan Nagasi. Salah satu peserta yang bertugas jadi admin relawan nagasi menampilkan format yang selama ini digunakan dan algoritma message yang digunakan selama ini. Ada keseragaman format message dan ini perlu didokumentasikan dan menjadi SOP, misalnya welcoming message. Konsep organisasi dari relawan ini harus diperkuat, ini akan membantu masyarakat di Palu. Disusun alur komando dan alur konsultasi.

Materi

Selengkapnya Webinar Seri 3: Pengembangan Konsep Telemedicine & Manajemen Bencana Kesehatan di Era Pandemi Covid19 – YouTube http://ugm.id/2DU

{slider title=”Senin, 21 September 2021” class=”icon”}

sulteng 20 9

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Penugasan melalui Whattsup Group”

Karena adanya kendala koneksi wifi dan internet di Yogyakarta serta di Kota Palu, pertemuan keempat hari ini diganti dengan diskusi penugasan melalui grup WhatsApp peserta webinar. Peserta tetap berproses dan mendiskusikan perihal input dan output dari masing – masing profesi. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt memandu diskusi dalam grup WA, bagaimana masing – masing profesi dalam relawan Nagasi dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pelayanan. Layanan yang diberikan oleh relawan Nagasi ini sangat komplit karena tergabung dari berbagai profesi yaitu admin, dokter, apoteker, perawat, bidan, mahasiswa dan psikolog.

{/sliders}

Reporter : Happy R Pangaribuan
Div. Manajemen Bencana Kesehatan

{/tabs}

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

pheoc 1

 

Pelatihan lanjutan – Tatap Muka

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

Senin – Rabu, 28 – 30 Juni 2021

{tab title=”Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}

Pengantar

PHEOC adalah pusat komunikasi dan koordinasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau juga dikenal dengan public health emergency, baik pada saat kondisi normal karena eskalasi kejadian penyakit atau kejadian luar biasa penyakit yang disebabkan sebagai dampak lanjutan dari kejadian bencana non alam yang mendahului, atau public health in emergency. Kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat seringkali diikuti dengan kejadian yang sangat cepat, menyerang banyak orang dan luas wilayah yang bisa sangat luas, serta dapat menimbulkan kecemasan berbagai pihak. Untuk itu, dengan kondisi Indonesia yang luas ini, PHEOC diharapkan tidak hanya berada di level nasional saja tapi juga dapat diimplementasikan juga di daerah. Selama ini PHEOC daerah fungsinya berada di dinas kesehatan di seksi surveilans bidang pengendalian penyakit dengan fungsi komando dan koordinasi yang masih sangat terbatas, padahal dengan kapasitas pemantauan rutin dan pengolahan data seperti yang selama ini sudah berjalan dengan baik, fungsi PHEOC daerah dapat lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu, PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Lembaga INSPIRASI melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas PHEOC Daerah untuk Provinsi Sulawesi Selatan.

April lalu telah dilaksanakan kegiatan review kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM. Hasil review menunjukkan bahwa kapasitas untuk KKM masih perlu dikembangkan. Kemudian, telah dilaksanakan juga pelatihan online selama 2 minggu dengan 4 kali pertemuan pada awal Juni untuk mengenalkan dan memperkuat peran PHEOC di dinas kesehatan. Selanjutnya, rangkaian kegiatan di atas akan dikuatkan dengan workshop tatap muka dan evaluasi yang diselenggarakan akhir Juni. Harapannya peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan dipahami. Selain itu, dinas kesehatan mampu menyusun perencanaan organisasi PHEOC daerah, termasuk mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat ke depannya di daerah.

 

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali public health emergency operation center (PHEOC) daerah. Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. menguatkan konsep operasi dan peran PHEOC di daerah
  2. menyusun struktur pengorganisasian dan interoperability koordinasi PHEOC di daerah, termasuk tupoksinya

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara tatap muka. Hari 1 dan 2 setiap narasumber kembali menguatkan konsep, operasi, dan pengorganisasian PHEOC di daerah melanjutkan dari kegiatan pelatihan online sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan penugasan yang dikerjakan oleh tim penyusun PHEOC daerah yang berfokus pada penyusunan pengorganisasian, alur dan tupoksi, termasuk interoprebaility dan koordinasi lintas sektor. Di hari 3 dilaksanakan kegiatan evaluasi untuk seluruh rangkaian kegiatan sejak April – Juni 2021, diantaranya mengevaluasi kegiatan, metode, dan konten.

 

Peserta dan Kebutuhan yang Dibawa Saat Kegiatan

Peserta kegiatan berasal dari tiga daerah terpilih yakni Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, dan Dinas Kesehatan Kota Makasar, yang berasal dari Bidang Pengendalian Penyakit (P2), Seksi Surveillans, Seksi Krisis Kesehatan, Bidang Yankes, dan Seksi Rujukan.

Sangat diharapkan peserta asesmen pada April dan pelatihan online awal Juni tetap dapat berhadir dalam kegiatan ini. Setiap dinas kesehatan diharapkan dapat mengirimkan maksimal 10 orang yang dapat berhadir selama tiga hari kegiatan.

Setiap kelompok dinas kesehatan diharapkan membawa:

  • minimal 2 laptop,
  • profil dinas kesehatan,
  • rencana kontijensi bencana alam non alam bidang kesehatan/ kegawatdaruratan kesehatan masyarakat (jika ada),
  • struktur organiasai dinas kesehatan terupdate.

 

Untuk kegiatan hari 2, Selasa 29 Juni 2021, peserta diluar dinas kesehatan yang diharapkan hadir berasal dari :

  1. Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
  2. Bidang Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
  3. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan
  4. Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar
  5. Dinas Perikanan, Peternakan dan Kelautan Kabupaten Maros

 

Output Kegiatan

  • draft struktur pengorganisasian PHEOC daerah
  • draft tupoksi PHEOC daerah
  • rencana tindak lanjut PHEOC daerah

 

Jadwal

Senin, 28 Juni 2021
Waktu Materi Keterangan  

09.00 – 09.10

09.10 – 09.30

Pengantar kegiatan

Pengarahan dan pembukaan

 

PKMK FK-KMK UGM

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan

 
09.30 – 10.00 Review Pelatihan PHEOC online dan tujuan pembalajaran Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  

10.00– 10.30

 

10.30 – 10.45

Materi 1: Sistem pengorganisasian PHEOC daerah

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  

10.45 – 12.00

 

 

 

 

Penugasan 1: Penyusunan pengorganisasian PHEOC daerah

 

 

 

Narasumber: dr. Bella Donna, M.Kes

 

Fasilitator:

  1. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  2. Madelina Ariani, MPH
  3. Happy Pangaribuan, MPH
 
12.00 – 13.00 Istirahat    

13.00 – 13.30

 

13.30 – 13.45

Materi 2: Penguatan Operasional PHEOC Daerah

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  
13.45 – 14.45 Penugasan 2: Penentuan tupoksi pengorganisasian PHEOC

Narasumber: Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

Fasilitator:

  1. Madelina Ariani, MPH
  2. Happy Pangaribuan, MPH
 
14.45 – 15.00 Pengarahan pertemuan hari 2 PKMK FK-KMK UGM  
Selasa, 29 Juni 2021
Waktu Materi Keterangan  
09.00 – 09.30 Review materi hari 1 dan penugasan 1-2 Fasilitator dan peserta  

09.30 – 10.00

 

10.00 – 10.15

Materi 3 : Interoperability dan koordinasi PHEOC di daerah

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  

10.15 – 10.45

10.45 – 11.15

Penugasan 3: Presentasi kelompok

Diskusi

Masing-masing dinas kesehatan  
11.15 – 12.00 Penugasan 4: Revisi pengorganisasian, tupoksi dan interoperability

Narasumber: Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

Fasilitator:

  1. Madelina Ariani, MPH
  2. Happy Pangaribuan, MPH
 
12.00 – 13.00 Istirahat    

13.00 – 13.30

 

13.30 – 13.45

Materi 4: Perencanaan Mobilisasi SDM dan SOP

Diskusi

Madelina Ariani, MPH – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  

13.45 – 14.15

 

 

 

14.15 – 14.30

Materi 5: Strategi penyusunan rencana penanggulangan bencana bidang kesehatan di dinas kesehatan/ Dinas Kesehatan Disaster Plan

Diskusi

Narasumber: Happy Pangaribuan, MPH  
14.30 – 15.00 RTL Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt  
Rabu, 30 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
09.00 – 09.10 Pengantar kegiatan evaluasi PKMK FK-KMK UGM  
09.10 – 09.30

– Pemaparan hasil asesmen kapasitas PHEOC daerah

– Pemaparan hasil pelatihan online dan tatap muka

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

dr. Bella Donna, MPH

 

 
09.30 – 10.00 Tanggapan masing-masing kepala dinas kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makasar

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros

 
10.00 – 11.00

Evaluasi dari peserta kegiatan

– konten

– metode

– kegiatan

Fasilitator dan peserta  

11.00 – 11.20

11.20 – 11.30

Laporan kegiatan

Penutupan

PKMK FK-KMK UGM

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

 
11.30 Foto bersama    

 

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Lanjutan- Tatap Muka Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berharap Dinas Kesehatan dapat memahami aspek – aspek yang terdapat dalam PHEOC daerah dan dapat mengembangkan PHEOC daerah ke depannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan kesehatan masyarakat baik yang disebabkan bencana non alam, krisis kesehatan dan bencana alam itu sendiri. Sebagai lembaga riset dan konsultasi, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan/ PKMK FK-KMK UGM serta jejaring yang terlibat akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan peningkatan kesiapsiagaan krisis kesehatan baik karena bencana alam, non alam maupun sosial di daerah.

{tab title=”Reportase” class=”green”}

Reportase

Pelatihan Lanjutan – Tatap Muka

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah 

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

Senin – Rabu, 28 – 30 Juni 2021

 

Kegiatan ini merupakan lanjutan pelatihan yang sudah dilakukan sebelumnya secara daring. Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali public health emergency operation center (PHEOC) daerah. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 41 orang yang berasal dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, Dinkes Kabupaten Maros dan Dinkes Kota Makassar. Selama 3 hari, pertemuan ini memperdalam materi yang sudah diberikan sebelumnya dan lebih banyak pada kegiatan penugasan.

Senin, 28 Juni 2021

Kegiatan ini diawali dengan sesi review Pelatihan PHEOC online dan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita. Ditekankan kembali bahwa pengorganisasian internal baik di dinas kesehatan maupun di tingkat lintas sektor pemerintah daerah setempat diwajibkan untuk mengacu pada struktur organisasi berbasis Incident Command System (ICS). Dalam kegiatan operasionalnya, model keberlanjutan PHEOC daerah dapat dilakukan melalui analisis rutin dan pengawasan data (sistem surveilans) yang didukung dengan fasilitas yang memadai (logistik operasional). Selanjutnya dr. Bella Donna memaparkan kembali materi sistem pengorganisasian PHEOC daerah. Struktur ini bukan memebntuk struktur yang baru. Struktur pengorganisasian yang disusun bersifat fungsional artinya diaktifkan pada saat situasi darurat.

pheoc 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Presentasi Hasil Penugasan Peserta”

Setelah sesi materi, peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan asal instansi dan mengerjakan penugasan menyusun sistem pengorganisasian dan menentukan tupoksi pengorganisasian PHEOC. Setiap kelompok didampingi oleh fasilitator sehingga peserta dapat berdiskusi langsung jika ada hal – hal yang ditanyakan. Kemudian peserta mempresentasikan hasil dari penugasan. Secara umum hasil penugasan sistem pengorganisasian yang disusun sudah mengacu pada sistem komando dan disesuaikan dengan struktur organisasi sehari – hari Dinkes. Hal yang paling banyak didiskusikan adalah bagaimana alur koordinasi tiap bidang, siapa mengaktifkan strukutur organisasi ini dan kapan diaktifkan. Peserta juga menyampaikan peran dan fungsi PHEOC bisa masuk dalam bidang operasional.

 

Selasa, 29 Juni 2021

Pada pertemuan kedua ini, pelatihan dihadiri juga oleh BPBD setempat, Dinas Sosial, dan Dinas Peternakan. Hasil penugasan yang sudah dikerjakan dinas kesehatan pada hari sebelumnya, bisa didiskusikan kembali dengan lintas sektor tersebut untuk mengetahui dimana peran dan fungsi lintas sektor pada operasi PHEOC dan bagaimana alur koordinasinya. Pada materi Interoperability dan koordinasi PHEOC di daerah yang disampaikan oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt menyampaikan bahwa masih ada struktur pengorganisasian bencana/krisis kesehatan di luar sektor kesehatan. Artinya dinas kesehatan harus mengusahakan menyusun dan memiliki dinkes disaster plan dan SOP yang di dalamnya memiliki interoperabilitas alir hubungan yang operasional dengan struktur – struktur organisasi di luar kesehatan. Hal ini bisa dibangun pada fase pemantauan sehingga pada fase peringatan komunikasi sudah terbangun, skema pembiayaan sudah jelas dan pada fase respon semua sumber daya sudah siap digunakan. Setelah mendapatkan pendalaman terkait materi ini, peserta diberikan waktu kembali untuk revisi penugasan pengorganisasian, tupoksi dan interoperability.

pheoc2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Penyampaian Materi”

Selanjutnya Madelina Ariani, MPH menyampaikan materi Perencanaan Mobilisasi SDM dan diskusi. Materi ini membahas bagaimana langkah – langkah mobilisasi SDM PHEOC, siapa yang mengaktifkannya, kapan mereka bekerja dan bagaimana persiapan mobilisasi SDM dan logistik. Proses mobilisasi ini disesuaikan dengan struktur pengorganisasian yang sudah disusun oleh tim. Siapa saja yang bekerja pada fase pemantauan, fase peringatan dan fase respon. Proses mobilisasi dimulai dari kesiapan (personil, operational), sampai di lokasi, persiapan operasi, pelaksanaan operasi sampai dengan pengakhiran operasi. Selanjutnya materi terkahir terkait dengan Strategi Penyusunan Dinkes Disaster Plan disampaikan oleh Happy R Pangaribuan. Pada sesi materi ini diinformasikan bahwa peserta selama mendapatkan pelatihan sudah mengerjakan beberapa komponen dinkes disaster plan yaitu struktur organisasi dan sekilar terkait SOP. Masih banyak hal atau komponen lain yang perlu disiapkan oleh dinas kesehatan untuk memperkuat kesiapan dinas kesehatan dalam menghadapi bencana dan Krisis kesehatan. Komponen – komponen tersebut diantaranya analisis risiko, pengembangan skenario, dan fasilitas. Semua ini dapat disiapkan melalui penyusunan satu dokumen yang operasional yaitu dokumen dinkes disaster plan.

pheoc 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Revisi Penugasan Pengorganisasian, Tupoksi dan Interoperability”

Sesi pertemuan kedua ini diakhiri dengan rencana tindak lanjut, apa yang akan dikerjakan oleh peserta setelah pelatihan selesai. Ada beberapa poin penting yang perlu ditindaklanjuti yaitu merincikan tupoksi, alur aktivasi PHEOC, menyusun penerimaan informasi/SOP, sosialisasi dan menyusun dokumen dinkes disaster plan. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan sepakat akan menyelesaikannya pada 28 Juli 2021, Dinkes Kabupaten Maros dan Dinkes Kota Makassar akan menyelesaikan pada 30 Agustus 2021.

 

Rabu, 30 Juni 2021

Pertemuan ketiga ini peserta melakukan evaluasi bersama dengan narasumber dan fasilitator dari PKMK FK – KMK UGM. Fasilitator mengajak peserta untuk mengulas kembali kegiatan dan semua materi yang sudah didapatkan sejak pertemuan awal mulai dari assessment awal, pelatihan online hingga pelatihan tatap muka. Peserta sangat mengapresiasi seluruh rangkaian kegiatan dan PHEOC ini sangat penting dikembangkan di dinas kesehatan. Faktanya selama ini masih banyak kebingungan atau ketidaktahuan dinas kesehatan terkait operasional PHEOC. Ternyata selama ini peran dan fungsi PHEOC sduah berjalan di Dinas Kesehatan hanya saja belum terdokumentasi dengan baik, belum beroperasional dnegan baik dan fasilitasnya juga belum maksimal. Ke depannya ini akan menjadi perhatian bersama, melalui rencana tindak lanjut yang sudah disepakati bersama. Harapannya tim PKMK FK-KMK UGM tetap mendampingi dinas kesehatan untuk pengembangan PHEOC yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan dan kalau bisa sampai penyusunan dokumen dinkes disaster plan. Peserta juga mengevaluasi materi, metode pembelajaran, penguasaan materi oleh narasumber. Secara keseluruhan semua memberikan respon yang sangat baik.

 

{/tabs}

Peningkatan Kapasitas Public Health Operation Center (PHEOC) di Sulawesi Selatan 2021


PENINGKATAN KAPASITAS PHEOC DAERAH &  PROVINSI SULAWESI SELATAN, KOTA MAKASSAR DAN KABUPATEN MAROS

28 – 30 Juni 2021


PELATIHAN ONLINE PENINGKATAN KAPASITAS PHEOC DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN, KOTA MAKASSAR DAN KABUPATEN MAROS

Juni 2021


REVIEW KAPASITAS PUBLIC HEALTH EMERGENCY OPERATION CENTER (PHEOC) DI DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI SELATAN, DINAS KESEHATAN KAB. MAROS DAN DINAS KESEHATAN KOTA MAKASSAR

6 – 9 April 2021


 

Pelatihan Pertolongan Pertama saat Bencana terhadap Staf Medis, non Medis dan Masyarakat Terlatih di Wilayah Puskesmas

logo caritas

logo caritas

Pelatihan Pertolongan Pertama saat Bencana terhadap Staf Medis, non Medis dan Masyarakat Terlatih di Wilayah Puskesmas

 

{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}

Latar Belakang

PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan di Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran antara lain Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Donggala, RS Kabelota, RS di Kota Palu, Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tompe. Dalam pelaksanaan program ini PKMK FK – KMK UGM akan tetap melibatkan Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan universitas lokal (Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako serta Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairat).

Seminggu pertama pasca gempa Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu, puskesmas mengalami kekacauan. Banyak tenaga kesehatan juga sebagai korban sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat diberikan secara optimal. Korban bencana tidak hanya mendapatkan perawatan medis namun juga mendapatkan perawatan non medis. Tenaga medis dan tenaga non medis bekerja sama untuk menangani pasien dan keluarga pasien. Pada saat bencana terjadi tenaga non medis harus mampu melakukan pertolongan pertama pada korban karena puskesmas pasti menerima pasien dalam jumlah besar. Manajemen penanganan bencana harus berbasis masyarakat karena pada dasarnya pada saat bencana terjadi yang dilakukan adalah menyelamatkan diri sendiri. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Sangurara khususnya terlatih atau kader kesehatan puskesmas perlu mengetahui bagaimana penanganan bencana dalam sektor kesehatan.

Pandemi COVID-19 menuntut semua pihak yang terlibat untuk siap respon. Pada prinsipnya konsep penanganan bencana non alam seperti pandemik virus sama dengan bencana alam, yang berbeda adalah sifat agen kausatifnya. Pelatihan ini akan menyajikan pengetahuan dasar terkait pertolongan pertama untuk tenaga medis, non medis dan kader kesehatan. Materi pelatihan tentang pertolongan pertama dengan bantuan hidup dasar, manajemen cidera dan trauma, dan pelatihan pertolongan pertama dengan perlengkapan rumah. Pelatihan ini juga menggunakan manekin, perlengkapan bidai, dan perlengkapan sehari – hari/rumah tangga seperti sandal jepit, kain lap, selimut, dan lain – lain.

 

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat/kader terlatih dan staf non medis yang ada di puskesmas dalam menghadapi situasi bencana/krisis kesehatan terutama dalam situasi pandemi.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan selama 2 (dua) hari yaitu pada hari I adalah penyampaian materi dan hari II adalah praktek atau skill station. Kegiatan ini akan dilakukan secara luring dalam bentuk pengajaran, pelatihan hands-on PPGD awam khusus dan praktek Dasar Penyelamatan Diri

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini sekitar 20 – 30 orang yaitu terdiri dari tenaga medis (dokter, perawat); non-medis; dan masyarakat terlatih/kader kesehatan

 

Output Kegiatan

Peserta mendapatkan pengetahuan terkait pertolongan pertama saat bencana dan dapat terlibat langsung dalam penguatan sistem manajemen penanggulangan bencana di Puskesmas

 

Waktu Pelaksanaan

1. Puskesmas Tompe

Hari, tanggal  : Jumat – Sabtu, 18 – 19 Juni 2021
Pukul            : 09.00 – 14.00 WITA
Tempat         : Puskesmas Tompe

 

2. Puskesmas Sangurara

Hari, tanggal  : Senin – Selasa, 21 – 22 Juni 2021
Pukul            : 09.00 – 14.00 WITA
Tempat         : Puskesmas Sangurara

 

Narasumber, Instruktur dan Fasilitator

  1. dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA
  2. Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  3. Dr. Surianto, S.Kep, Ns, MPH
  4. HIPGABI Sulawesi Tengah
  5. Happy R Pangaribuan, MPH (fasilitator)

 

Penutup

Demikian kerangka acuan pertolongan pertama saat bencana pada tenaga medis, non medis dan kader kesehatan wilayah kerja puskesmas. Pelatihan ini bermanfaat bagi puskesmas untuk kesiapsiagaan dan pengembangan penanganan bencana dan krisis kesehatan. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program.

 

{tab title=”Reportase” class=”blue”}

Pelatihan ini bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat/ kader terlatih dan staf non medis yang ada di puskesmas dalam menghadapi situasi bencana/krisis kesehatan terutama dalam situasi pandemi. Kegiatan dilaksanakan pada 18 – 19 Juni di Puskesmas Tompe dan pada 21 – 22 Juni di Puskesmas Sangurara. Kegiatan dilaksanakan secara luring dalam bentuk pengajaran, pelatihan hands-on PPGD awam khusus dan praktek Dasar Penyelamatan Diri. Peserta yang mengikuti adalah tenaga medis, tenaga non medis dan masyarakat awan terlatih (kader kesehatan) dari Puskesmas Tompe sebanyak 29 orang dan dari Puskesmas Sangurara 24 orang.

Dalam pelaksaan program ini, PKMK FK – KMK UGM mengundang ahli emergency medicine dari FK Universitas Brawijaya dan tim dari Pusat Himpunan Perawat Gawat Darurat Bencana (HIPGABI) Sulawesi Tengah sebagai narasumber dan intruktur.Selama pelatihan terdapat 9 materi yang disampaikan oleh narasumber yaitu (1) dr. Ali Haedar, SpEM, FAHA menyampaikan materi Introduction to the EMS System, materi CPR dan Sirkulasi, materi Penilaian Pasien; (2) Sukrang, S.Kep.,NS.,M.Kep menyampaikan materi Etika Pertolongan dan Tata Laksana Tempat Kejadian, materi Cedera pada Otot dan Tulang; (3) Dr. Surianto, S.Kep, Ns, MPH menyampaikan materi Evakuasi Mengangkat dan Memindahkan Korban, materi Supplemental Skill (4) Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep menyampaikan materi Airway Care and Rescue Breathing, materi Pendarahan dan Syok. Peserta juga melakukan praktek langsung terkait dengan materi tersebut.

EMS1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Perkenalan Emergency Medical System oleh dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Pada sesi perkenalan Emergency Medical System (EMS) disampaikan beberapa keterampilan trauma untuk first responder adalah kontrol jalan napas, kontrol pendarahan luar, menangani syok dan menangani luka serta bidai cedera untuk menstabilkan ekstremitas. First responder berperan untuk merespon segera dan tentunya melindungi diri sendiri. Pengawasan medis dilakukan oelh medical director, secara langsung dokter berhubungan dengan petugas EMS pra-rumah sakit, biasanya melalui radio dua arah atau telepon seluler. Secara tidak langsung dokter mengarahkan kursus pelatihan, membantu menetapkan kebijakan medis dan memastikan mutu sistem EMS.

 EMS2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Praktek mengangkat dan memindahkan pasien di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Prinsip Etika Pertolongan dan Tata Laksana Tempat Kejadian, tenaga kesehatan memberikan pertolongan sesuai dengan standar perilaku professional. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah persetujuan untuk perawatan dan kerahasiaan informasi pasien. Pasien dipindahkan hanya jika diperlukan, jangan membahayakan pasien lebih lanjut. Metode mengangkat dan memindahkan pasien dengan clothes drag pada pasien jantung, blanket drag, arm to arm drag, firefighter drag, two person extremity carry, two person seat carry, two-person chair carry dan pack-strap carry. Membebaskan jalan napas yang tersumbat dengan menggunakan sapuan jari, terlebih dahulu membalikkan pasien ke samping kemudian memasukkan jari ke dalam mulut membentuk C dan menyapukan dari satu sisi belakang mulut ke sisi lainnya, Membebaskan jalan nafas juga bisa menggunakan suctioning. Peserta melakukan praktek bagaimana memindahkan korban dengan berbagai metode dan bagaimana membebaskan jalan napas dengan menggunakan jari dan suctioning.

EMS3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Praktek CPR di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Hal pertama yang dilakukan untuk menilai pasien adalah scene size up (menggambarkan keadaan korban dan situasinya) setekah sudah mendapatkan gambaran, dilakukan penilaian awal misalnya apakah ada pendarahan. Pasien diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki dan mendapatkan sampel. Pada penilaian awal dilakukan nilai kesan umum dan respon pasien, memeriksa jalan napas dan sirkulasi. CPR harus dimulai pada pasien tanpa nadi, kecuali jika kepala terputus, kaku mayat, pembusukan tubuh dan lebam mayat tidak perlu dilakukan CPR. CPR dihentikan ketika denyut nadi pasien kembali. Pada sesi praktek peserta melakukan latihan keterampilan CPR dewasa dan CPR bayi. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok didampingi oleh 4 instruktur.

Ketika terjadi pendarahan prinsip perawatan luka yang diberikan adalah kontrol pendarahan, mencegah kontaminasi lebih lanjut dari luka. Syok terjadi karena kolapsnya sistem kardiovaskular, keadaan dimana pengiriman darah yang tidak memadai ke organ-organ. Hal ini dapat terjadi karena kegagalan pompa, kegagalan pipa dan kehilangan cairan. Pertolongan yang dilakukan pada korban cedera otot dan tulang, salah satunya dengan melakukan pembidaian. Pada proses pembidaian ada penilaian anggota gerak, menutup semua luka terbuka dengan perban dan imobilisasi sendi di atas dan di bawah cedera. Pada materi keterampilan tambahan, disampaikan bagaimana mengukur tekanan darah dan memberikan oksigen. Peserta kembali dibagi menjadi 4 kelompok untuk praktek melakukan pembidaian dan memberikan oksigen.

Penutup

Secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan baik, peserta sangat antusias memberikan pertanyaan pada sesi diskusi. Penanganan pertolongan pertama memang dibutuhkan peserta karena di wilayah kerja mereka sering terjadi kecelakaan dan juga kasus tenggelam. narasumber juga menyarakan supaya puskesmas melengkapi beberapa alat yang harus ada di puskesmas misalnya Automated External Defibrillation (AED) karena Puskesmas Tompe dan Puskesmas Sangurara adalah puskesmas rawat inap.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital PSC 119

logo caritas

logo caritas

 

Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital

PSC 119

Sulawesi Tengah, Selasa-Kamis, 15-17 Juni 2021


{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}

 

Latar Belakang

Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah telah membentuk Unit Pusat Pelayanan Kesehatan Terpadu (P2KT) sejak 2019. Unit tersebut berperan untuk mengembangkan dan menguatkan program – program bencana dan wabah yang bersinggungan dengan krisis kesehatan. Salah satu program yang dibentuk di unit tersebut adalah PSC 119 Dinkes Sulteng yang menjadi garda terdepan untuk menerima informasi kasus emergensi. Kecepatan dan ketepatan penanganan kasus emergensi tersebut tergantung pada kesiapan PSC 119 untuk mengambil tindakan respon yang tepat. PSC 119 masih dikatakan baru terbentuk di Dinkes Provinsi Sulteng. Berdasarkan pembelajaran dan pengalaman dari pelaksanaan Table Top Exercise (TTX) dokumen dinkes disaster plan pada Februari dan dilanjutkan dengan webinar pendampingan PSC pada Juni 2020, staf terdepan (penerima informasi dan triage) PSC 119 belum maksimal memahami apa yang menjadi peran mereka saat terjadi bencana. Menindaklanjuti hal ini, PKMK FK – KMK UGM perlu untuk melakukan peninjauan kembali SOP layanan pre hospitalapa saja yang harus disusun di PSC 119 UPT P2KT, dan diselesaikan serta disosialisasikan baik internal dan eksternal ke jejaring di Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kota Palu. SOP seperti penerimaan telepon darurat, triage melalui telpon oleh tenaga non medis, menjemput, membawa, dan mencatat, termasuk menjadikan informasi pelaporan.

Ditambah lagi dengan kondisi sekarang, pandemi COVID-19 menuntut semua pihak yang terlibat khususnya PSC untuk siap respon. Pada prinsipnya konsep penanganan bencana non alam seperti pandemi virus sama dengan bencana alam, yang berbeda adalah sifat agen kausatifnya. Dalam hal ini tentu ada prosedur – prosedur khusus yang harus diketahui oleh PSC 119 dalam menerima dan meneruskan informasi dari pasien atau keluarga pasien. Dengan demikian penting dilakukan penguatan kapasitas dalam penanganan kasus emergensi bagi PSC 119, mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang kasus emergensi. Pelatihan teknis pelayanan pre hospital PSC 119 untuk petugas di ruangan dan tim ambulans tentang bagaimana mengangkat/menurunkan pasien, konsep mengendarai dan kecakapan tim ambulans, penyelamatan pasien kasus kedaruratan serta memahami sistem rujukan, sangat menentukan keselamatan pasien. Untuk itu dibutuhkan peningkatan keterampilan petugas PSC 119 khususnya petugas tim reaksi cepat yang terdiri dari tenaga medis dan non medis serta tim driver dan logistik. Masing – masing kabupetan kota diharapkan mengirim perwakilan untuk pelatihan ini.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peran fungsi PSC 119 di Sulawesi Tengah dalam penanganan kasus emergensi mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang teknis pelayanan pre-hospital.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan secara workshop luring (offline) dalam bentuk pengajaran, simulasi komunikasi penerimaan informasi kasus emergensi, penentuan kasus/ triase korban saat menerima telepon, manajemen lokasi kejadian kegawatdaruratan, dan transportasi ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini adalah PSC 119 di Sulawesi Tengah, PSC mengirimkan peserta untuk mengikuti secara offline dari :

  • Bidang manajemen (sekretaris PSC, kasi di PSC atau kasie di dinkes yang membawahi PSC) 1 orang
  • Bidang operasional (tim PSC, dokter perawat dan yang terkait) 3 orang
  • Tenaga non medis (penerima informasi, driver dan lain – lain) 1 orang

NB :

Jika PSC atau dinkes belum mempunyai tim operasional PSC maka tim manajemen yang mengikuti bisa 2 – 3 orang, karena mereka yang akan membangun manajemen PSC.

 

Output Kegiatan

Peserta memahami teknis terkait manajemen penerimaan dan penanganan kasus emergensi, dan tambahan/ revisi SOP penerimaan.

 

Waktu dan Tempat Kegiatan

Waktu : Selasa-Kamis, 15-17 Juni 2021

Pukul : 09.00 – 15.00 WITA

Tempat : Aula FK-Alhairat (*sedang konfirmasi)

 

Narasumber dan Fasilitator

  • dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA
  • Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  • Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  • Happy R Pangaribuan, MPH (fasilitator)

 

Penutup

Demikian TOR Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre Hospital PSC 119 di Sulawesi Tengah. Kegiatan ini bermanfaat bagi dinas kesehatan untuk menguatkan peran dan fungsi PSC 119. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program.

 

{tab title=”Reportase” class=”blue”}

psc191 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Peserta Pelatihan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital PSC 119”

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peran fungsi PSC 119 di Sulawesi Tengah dalam penanganan kasus emergensi mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang teknis pelayanan pre-hospital. Metode pelatihan dilakukan secara hybrid yaitu melalui offline dan online dengan jumlah peserta sebanyak 80 orang yang berasal dari :

  1. PSC 119 Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah
  2. PSC 119 Paparimo Dinkes Kab. Tolitoli
  3. PSC 119 Dinkes Kab. Banggai
  4. PSC 119 Dinkes Kab. Sigi
  5. PSC 119 Malia Luwuk Kabupaten Banggai
  6. PSC 119 Dinkes Kab. Morowali Utara
  7. Dinas Kesehatan Parigi Moutong
  8. Dinas kesehatan kabupaten Morowali
  9. Puskesmas Batusuya Kab Donggala
  10. UPT Puskesmas Wosu, Bungku Barat, Kab.Morowali
  11. UPTD Puskesmas Talise Kota Palu
  12. Fakultas Kedokteran Univ. Alkhairaat
  13. RSU SIS Aldjufri

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, narasumber menyampaikan 11 modul yang membahas konsep Emergency Medical System (EMS) dan bagaimana peran fungsi PSC dalam konsep EMS tersebut pada pengembangan sistem pelayanan pre hospital. Beberapa PSC yang mengikuti kegiatan ini masih baru dibentuk dan ada juga yang akan di – launching pada akhir tahun ini. Pelatihan ini masih tergolong baru bagi mereka dan dari pelatihan ini diketahui bahwa PSC 119 masih membutuhkan penguatan dan pendampingan bekerlanjutan untuk memaksimalkan operasional PSC 119.

Selasa, 15 Juni 2021

psc191 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan dan Pengantar oleh Sekretaris Dinkes Prov.Sulteng”

Pertemuan pertama dimulai dengan assessment PSC 119 yang difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt. Assessment ini untuk melihat sejauh mana PSC 119 sudah beroperasi dilihat dari alur komunikasi, SOP yang ada, fasilitas yang digunakan dan sistem koordinasi yang dijalankan. Dari hasil assessment yang disampaikan secara lisan oleh peserta, Gde Yulian mengaitkannya kepada SPGDT dan Sistem EMS di Indonesia. Hal yang menjadi kendala selama ini adalah belum ada satu sistem yang terintegrasi dalam operasional PSC 119, kerap sekali fungsi dan peran PSC salah dipahami oleh masyarakat dan staff dari PSC itu sendiri. Pada materi selanjutnya dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA menekankan bahwa Peran Public Safety Center (PSC) merupakan ujung tombak Sistem EMS di Indonesia. EMS sebagai layanan medis darurat dan dikenal sebagai layanan ambulans adalah layanan darurat yang menangani masalah medis dan trauma yang memerlukan respon segera dnegan menyediakan perawatan di luar rumah sakit dan transportasi ke perawatan definitif.

Apakah pasien yang datang ke 119 semua harus ditangani? Konsep layanan ambulan tidak hanya pada pasien yang tepat tetapi juga tempat dan waktu yang tepat. Pasien yang dibawa pada waktu dan tempat yang tepat akan mengurangi angka kematian. Layanan EMS pada pre hospital melakukan pelayanan perawatan di lingkungan masyarakat, selama transportasi (akses ke fasilitas kesehatan) dan saat kedatangan di fasilitas kesehatan penerima. Harapannya ambulans base – nya di PSC. Terdapat 15 komponen esensial sistem EMS. Sutono, S.Kp, M.Sc,M.Kep menyampaikan bagaimana Standar Ambulan (Operasi dan Keselamatan). Peserta juga bersama – sama melihat apakah ambulans yang digunakan selama ini sudah memenuhi standar pelayanan PSC 119.

Rabu, 16 Juni 2021

psc191 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM” Penyampaian Materi Mass Casualty Incident dan Triase Pre Hospital oleh dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA

Pertemuan hari kedua peserta mendapatkan materi tentang Mass Casualty Incident (MCI) and Triase Pre Hospital oleh dr. Ali Haedar, SpEM,FAHA; Communication to Medical Director oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt; Inter-Facility Transfer oleh Sutono, S.Kp, M.Sc,M.Kep. Di sela – sela penyampaian materi, peserta juga aktif memberikan pertanyaan dan dilakukan simulai langsung dalam bentuk skenario. dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA menyampaikan bahwa ketika terjadi ketidakseimbangan antara korban dan sumber daya, yang harus dilakukan adalah meminta pertolongan. Kompetensi dan kapasitas para personel sangat dibutuhkan saat menghadapi MCI. Pertimbangan saat mendapatkan MCI adalah sumber daya, siapa pasien, pasien yang pertama butuh penanganan. Pada saat di TKP manajemen yang dilakukan pertama sekali adalah komando, siapa yang bertanggung jawab dan melakukan apa. Konsep komando ini disebut dengan incident command system, membuat struktur organisasi modular, mengontrol duplikasi pekerjaan dan tim.

Triase adalah proses yang mana pasien digolongkan menurut tingkat dan kegawatan kondisinya. Triase yang dilakukan pada pukul 10.05 WITA akan berbeda dengan triase pukul 10.10 WITA, mungkin akan terjadi perbedaan warna. Triase bergantung pada waktu, segera dan tepat waktu. Sistem triase pada non-MCI untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap individu pasien. Sistem triase pada saat MCI/disaster untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien jumlah banyak. Selanjutnya peserta melakukan table top exercises tentang triase pada MCI. Dalam kasus tersebut terdapat 7 korban dimana peserta akan menentukan dan mengkategorikan korban yang membutuhkan pertolongan prioritas.

Pada materinya, Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt menyebutkan alur penyelenggaraan SPGDT melalui NCC 119. PSC 119 adalah panggilan masyarakat masuk ke 119 melalui NCC dan bagi daerah yang sudah memiliki PSC 119, maka panggilan akan langsung diterima dan ditindaklanjuti oleh PSC 119. Penanganan gawat darurat di PSC 119 Kabupaten/Kota meliputi penanganan kegawatdaruratan dengan menggunakan algoritma, kebutuhan informasi tempat tidur, informasi fasilitas kesehatan terdekat dan informasi ambulans; dan PSC 119 berjejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dengan lokasi kejadian untuk mobilisasi ataupun merujuk pasien guna mendapatkan penanganan gawat darurat.

 

Kamis, 17 Juni 2021

psc191 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Presentase Penugasan difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt”

Sesi hari ini dimulai dengan recall dan review materi yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Kemudian dilanjutkan sengan penyampaian materi Pengembangan Protokol Ambulans: Protokol Kewaspadaan Terhadap Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) dan materi Partisipasi Masyarakat sebagai komponen EMS oleh dr. Ali Haedar, SpEM,FAHA. Protokol EMS merupakan prosedur operasional yang diakui dan harus diikuti oleh semua professional EMS, seperti paramedis dan teknis medis darurat (EMT) untuk penilaian, perawatan, transportasi dan pengiriman pasien ke perawatan definitif. Protokol kewaspadaan tehadap COVID-19 memberikan perlindungan terhadap agen infeksius dan mengurangi penyebaran virus selama perawatan pasien di area pre-hospital. Perawatan dan transportasi oleh pertugas ambulans memiliki tantangan unik karena ruang tertutup selama transportasi dan membutuhkan pengambilan keputusan medis yang tepat.ketika mempersiapkan respon untuk pasien dnegan dugaan atau konfirmasi COVID-19, koordinasi dan komunikasi yang efektif penting antara call centre, system rujukan, fasilitas kesehatan dan sistem yang dibuat oleh pemerintah setempat.

Setelah pemaparan materi, peserta mengerjakan penugasan untuk mengisi SOP yang sudah dimiliki, SOP yang perlu disusun dan pelatihan yang diperlukan mengacu pada 15 komponen esensial PSC 119. Komponen tersebut yaitu personil, pelatihan, komunikasi, transportasi, fasilitas, unit perawatan lanjutan, public safety lanjutan, partisipasi masyarakat, akses untuk mendapatkan perawatan dan transfer ke fasilitas perawatan. Masing – masing PSC mempresentasikan hasil penugasan mereka. Secara keseluruhan PSC belum memiliki SOP yang lengkap sesuai dengan komponen esensial tersebut dan menyebutkan beberapa pelatihan yang dibutuhkan.

 

Penutup dan Rencana Tindak Lanjut

Kegiatan ini berlangsung dengan baik, PKMK FK – KMK UGM dibantu oleh para narasumber meringkas kondisi dan kebutuhan lanjutan untuk pengembangan PSC 119 di Sulawesi Tengah. Hasil ringkasan tersebut akan disampaikan kepada pemegang kebijakan, dalam hal ini Dinkes Provinsi Sulteng dan Wakil Walikota Palu untuk menyampaikan rekomendasi. Kegiatan ini didukung penuh oleh pemerintah daerah Sulawesi Tengah, selanjutnya PKMK FK – KMK UGM akan menggandeng FK Universitas Al-Khaeraat dalam pengembangan peran dan fungsi PSC-119 di Sulawesi Tengah.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Pengayaan Materi Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan pada Fasilitator Lokal Sulawesi Tengah

Pelatihan fasilitator mei 1

Pengayaan Materi Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan pada Fasilitator Lokal Sulawesi Tengah

25 Mei 2021

 

{tab Kerangka Acuan Kegiatan}

 

Pengantar

Peningkatan kapasitas sumber daya lokal dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah sangatlah penting. Dalam peningkatan kapasitas sumber daya lokal tersebut, PKMK FK-KMK UGM telah menyelenggarakan TOT Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan (Disaster Plan) pada 17 – 26 November 2020. TOT ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Dinas Kesehatan dan Perguruan Tinggi untuk mendampingi kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Dari 37 orang peserta yang telah mendapatkan Pelatihan TOT disaster plan sebanyak 25 orang yang bersedia menjadi fasilitator lokal.

Pada gempa Mamuju Sulawesi Barat, fasilitator lokal berkoordinasi dengan tim PKMK FK-KMK UGM ikut terlibat dalam penanganan gempa. Selanjutnya fasilitator lokal juga sudah berperan sebagai pemateri pada pelatihan penyusunan dokumen penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinkes Kota Palu, Dinkes Kab. Donggala, RSUD Kabelota, Puskesmas Tompe dan Puskesmas Sangurara. Secara umum fasilitator mampu memaparkan materi dengan baik. Penyampaian materi pada pelatihan tersebut didampingi oleh narasumber dari PKMK FK – KMK UGM.

PKMK FK – KMK UGM akan terus bekerja sama dengan fasilitator lokal dalam rangka melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Pengembangan kapasitas lokal ini juga menjadi salah satu program pengembangan kapasitas sumber daya di daerah dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan.. Dengan demikian, penguatan pemahaman fasilitator lokal terhadap materi yang sudah dipilih sangat penting untuk diperdalam kembali supaya fasilitator lebih memahami dan menguasai konsep materi.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman fasilitator lokal terhadap materi terkait penyusunan perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting dengan pembagian room sesuai dengan minat fasilitator.

 

Peserta Kegiatan

Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah fasilitator lokal yang sudah mengikuti rangkaian TOT disaster plan oleh PKMK FK – KMK UGM

 

Hal yang perlu dipersiapkan oleh peserta:

Materi yang sudah pernah dibawakan pada pelatihan dan pertanyaan/pernyataan yang perlu diperdalam.

 

Output Kegiatan

Fasilitator lokal lebih memahami konsep materi yang diminati/dipilih

 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Hari/Tanggal : Selasa, 25 Mei 2021

Waktu : 09.00 – 12.00 WITA

 

Kamis, 15 April 2021
Waktu Materi/Kegiatan Fasilitator/Narasumber
09.00 – 09.10 Pengantar – PKMK FK-KMK UGM
09.10 – 09.20 Pembagian room sesi 1 – PKMK dan Peserta
09.20 – 10.20

Room 1 :

Materi Kebijakan dan Komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas

Akreditasi SNARS

– dr. Bella Donna, M.Kes

– Fasilitator materi kebijakan dan komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas

– Fasilitator Materi Akreditasi SNARS

Room 2 :

Materi Analisis Risiko

– Madelina Ariani, MPH

– Fasiliattor materi analisis risiko

Room 3 :

Materi Logistik dan Fasilitas saat Bencana

– Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt

– Fasilitator Logistik dan Fasilitas

10.20 – 10.30 Pembagian room sesi 2  
10.30 – 11.30

Room 1 :

Sistem Pengorganisasian

– dr. Bella Donna, M.Kes

– Fasilitator materi sistem pengorganisasian

 

Room 2 :

SOP dan Pengembangan Skenario

– Madelina Ariani, MPH

– Fasilitator materi SOP dan Pengembangan Skenario

 

Room 3 :

– Data dan Informasi

– Peta Respon

– Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt

– Fasilitator data dan informasi

– Fasilitator materi peta respon

11.30 – 12.00 Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan  

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam materi pemahaman fasilitator lokal terkait penyusunan perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas. Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting dengan pembagian room sesuai dengan minat fasilitator. Room terbagi menjadi 3 room dengan 2 sesi. Materi sesi pertama : (a) Kebijakan dan Komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas oleh dr. Bella Donna, M.Kes; (b) Analisis Risiko oleh Madelina Ariani, MPH; (c) Logistik dan Fasilitas saat Bencana oleh Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt. Materi sesi kedua : (a) Sistem Pengorganisasian oleh dr. Bella Donna, M.Kes; (b) SOP dan Pengembangan oleh Madelina Ariani, MPH dan (c) Data Informasi, Peta Respon oleh Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt. Peserta yang mengikuti kegiatan ini 17 orang fasilitator lokal. Peserta dan narasumber lebih banyak berdiskusi untuk membahas hal – hal yang belum dipahami oleh fasilitator.

Pelatihan fasilitator mei 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi terkait materi disaster plan (kiri) sistem pengorganisasian (kanan)”

Pada materi sistem pengorganisasian peserta menanyakan sejauh mana kewenangan tim bencana yang notabene pengaktifan tim ini berbasis sistem komando, memperjelas tugas dan fungsi dari masing – masing bidang. Pada materi logistik berdiskusi terkait SOP apa yang harus dipersiapkan di Disaster Plan serta bahwa berita acara penerimaan bantuan sebaiknya melampirkan invoice atau ada perkiraan harga barang. Dalam logistik ini ada dua pendekatan, yaitu secara makro maupun secara mikro dalam artian pengelolaan logistik secara makro yaitu bagaimana perencanaan, distribusi, penyimpanan dan pelaporan/pencatatan logistik ini terintegrasi dengan bidang – bidang lain di sistem komando, bagaimana merencanakan sesuai dengan informasi di lapangan mendistribusi dan menyipan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Namun di sisi lain, secara mikro, logistik ini tak kalah penting yaitu bagaimana detail tanggal kadaluarsa, siapa yang menyimpan kunci gudang, temperatur saat penyimpanan dan transportasi obat alat kesehatan maupun bahan habis pakai, sampai detil harga bantuan yang diberikan juga harus dicatat dan didokumentasikan dalam disaster plan – disaster plan yang diadvokasikan ke klien. Untuk menghindari secondary disaster pasca bencana SOP yang mendokumentasikan manajemen logistik secara mikro ini sangat penting, sementara untuk menghindari inovasi – inovasi yang kurang strategis dan tidak efisien saat awal terjadi bencana, diantisipasi dengan SOP manajemen logsitik secara makro.

Materi peta respon peserta berdiskusi apakah peta respon hanya bisa dibuat manual atau juga digital, bagaimana mengkonversi RHA menjadi peta respon, siapa yang berhak meng – update informasi di peta respon serta bagaimana peta respon RS memetakan kapasitas cadangan. Peta respon adalah salah satu bentuk produk informasi yang dihasilkan oleh otoritas kesehatan (klaster kesehatan daerah atau faskes terdampak) saat terjadi bencana. Peta risiko disusun berdasarkan hasil analisis resiko dan memperhatikan HVC yang ada saat pra bencana, maka peta respon memuktahirkan peta risiko dengan menambahkan alur rujukan dan kontak person yang ada saat itu. Pemuktahiran informasi HVC didapat dari hasil RHA oleh tim yang ditunjuk dari pusat, propinsi, kabupaten, laporan petugas puskesmas maupun relawan kesehatan yang melaporkan hasil temuan mereka di lapangan. Tidak semua orang boleh melakukan update/pemuktahiran pada peta respon, itulah pentingnya dinkes memiliki SOP alur informasi, sehingga jelas disebutkan siapa yang melakukan analisis hasil RHA dan melakukan update pada peta respon.

Pelatihan fasilitator mei 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi materi analisis risiko dalam rencana kontijensi”

Jika ada dua atau lebih metodologi penyusunan peta respon saat bencana maupun saat simulasi, keputusan dikembalikan kepada komandan penanggulangan bencana kesehatan, yang tertuang di rencana kontijensi/dinkes disaster plan, bisa kepala dinas maupun siapapun orang yang ditunjuk. Untuk peta respon di RS, ada dua pendekatan, peta respon internal untuk manajemen relawan kesehatan dan pasien di lingkungan rumah sakit maupun eksternal di daerah sekitar rumahsakit/wilayah kerja RS. Peta respon internal disusun dari peta risiko terlebih dahulu yang kemudian ditambah dengan pemuktahiran relawan – relawan kesehatan yang datang ke RS tersebut memberikan bantuan, perlu disebutkan bangsal – bangsal apa saja yang masih berfungsi dan kontak person penanggung jawab bangsalnya, sementara untuk yang eksternal seperti peta respon dinas dan puskesmas, hanya saja memang penting untuk diidentifikasi terlebih dahulu sumber daya yang berpotensi memberikan bantuan sebagai tenaga cadangan dan tempat tempat cadangan yang dapat dialihfungsikan sebagai bangsal agar mudah saat membuat peta respon ketika bencana terjadi baik internal maupun eksternal. Pada materi anlisis risiko membahas apa yang yang membedakan beda analisis risiko BPBD dengan dinkes dan bagaimana sikap puskesmas menghadapi renkon baru oleh BPBD sigi mengenai banjir, padahal mereka sudah susun untuk gempa.

 

Reportase : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK

{/tabs}

Pelatihan Online Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

PHEOC 1

Pelatihan Online

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros


 

{tab title=”Kerangka Acuan Kegiatan” class=”red”}

Pengantar

PHEOC adalah wadah pusat komunikasi dan koordinasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau juga dikenal dengan public health emergency, baik pada saat normal karena eskalasi kejadian penyakit atau kejadian luarbiasa penyakit yang disebabkan sebagai dampak lanjutan dari kejadian bencana non alam yang mendahului, atau public health in emergency. Kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat seringkali diikuti dengan kejadian yang sangat cepat, menyerang banyak orang dan luas wilayah yang bisa sangat luas, serta dapat menimbulkan kecemasan berbagai pihak. Untuk itu, dengan kondisi negra Indonesia yang luas ini, PHEOC diharapkan tidak hanya berada di level nasional saja tapi juga dapat diimplementasikan juga di tingkat daerah.

Operasional PHEOC daerah dalam keadaan darurat mengacu pada struktur organisasi berbasis Incident Command System (ICS) serta beroperasi melalui pengawasan kegiatan rutin dalam melayani kebutuhan kesehatan masyarakat selama periode wabah. Dengan demikian dapat dipastikan model keberlanjutan PHEOC daerah dapat dilakukan melalui analisis rutin dan pengawasan data (sistem surveilans) yang didukung dengan fasilitas yang memadai (logistik operasional). Selama ini PHEOC daerah fungsinya berada di Dinas Kesehatan di seksi surveilans bidang pengendalian penyakit dengan fungsi komando dan koordinasi yang masih sangat terbatas, padahal dengan kapasitas pemantauan rutin dan pengolahan data seperti yang selama ini sudah berjalan dengan baik, fungsi PHEOC daerah dapat lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu PKMK FK-KMK UGM bekerjasama dengan Lembaga INSPIRASI melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas PHEOC Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada bulan April lalu telah dilaksanakan kegiatan review kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan Kedaruratan KKM. Hasil review ini menunjukkan kapasitas daerah dalam kegiatan KKM masih perlu dikembangkan. Daerah belum memiliki dasar hukum dari dinas kesehatan maupun PERDA terkait dengan badan khusus penanganan KKM yang memiliki fungsi komando dan koordinasi dan lebih komprehensif dapat bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor di daerah. Pelatihan ini merupakan salah satu kegiatan untuk pengembangan dan penguatan sumber daya manusia untuk mengoperasionalkan PHEOC daerah di Dinas Kesehatan. Untuk itu, PKMK FK-KMK UGM kembali mengadakan penguatan kapasitas PHEOC di daerah dengan melakukan kegiatan pelatihan online.

 

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan melalui daring (online), dimana setiap narasumber menyampaikan materi. Penugasan yang dibutuhkan pada materi tertentu akan dilanjutkan dan dilaksanakan pada pertemuan langsung di akhir bulan Juni di Kota Makassar.

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini adalah

  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
  • Dinas Kesehatan Kota Makasar

Peserta dari masing – masing Dinas Kesehatan terdiri dari:

  • Bidang Pengendalian Penyakit (P2)
  • Sie Surveillans
  • Sie Krisis Kesehatan
  • Bidang Yankes
  • Sie Rujukan
  • Bidang Logistik
  • Bidang Administrasi Keuangan

 

Output Kegiatan

Peserta memahami peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat.

Jadwal

Pertemuan I       : Rabu, 2 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.30 WITA

Pertemuan II      : Kamis, 3 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Pertemuan III  : Selasa, 8 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Pertemuan IV  : Kamis, 10 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Rabu, 2 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.10

Pengantar dan Pembukaan

 

 

Pretest

PKMK FK-KMK UGM

Dinkes Prov. Sulawesi Selatan

 

Moderator : Madelina Ariani, MPH

 

10.10 – 10.30

 

 

Paparan Hasil Review Kapasitas PHEOC (Public Health Emergency Operation Center) Provinsi Sulawesi Selatan

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

10.30 – 11.10

 

 

 

11.10 – 11.25

Konsep Ketahanan Kesehatan Nasional dan Komitmen global serta Kebijakan Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan di Indonesia

Diskusi

dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M – Pusat Krisis Kemenkes

Materi

 

11.25 – 12.05

 

 

 

12.05 – 12.20

Konsep, Tugas dan Fungsi PHEOC Daerah dalam Sistem Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan, serta Ketahanan Kesehatan

Diskusi

Abdurahman, SKM, M.Kes – Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes

Materi

 

 
12.20 – 12.30 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Kamis, 3 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator

Happy R Pangaribuan, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 11.00

Sistem Pengorganisasian

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

11.00 – 11.45

 

11.45 – 12.00

Operasional PHEOC Daerah dan Analisis RHA

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 
12.00 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Selasa, 8 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator

Happy R Pangaribuan, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 11.00

Konsep dan Jenis-jenis Tim Bantuan Bencana

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

11.00 – 11.45

 

11.45 – 12.00

Perencanaan Mobilisasi SDM

 

Diskusi

Madelina Ariani, MPH – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 
12.00 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Kamis, 10 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 10.55

Logistik dalam Operasional PHEOC Daerah

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

 

10.55 – 11.35

 

11.35 – 11.50

Bentuk, Aplikasi dan

Komponen Dinkes Disaster Plan

Diskusi

Happy R Pangaribuan, MPHPeneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  
11.50 – 11.55 Post Test

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 
11.55 – 12.00 Testimoni dan Rencana Tindak Lanjut

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 
12.00 Penutupan    

 

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Online Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berharap Dinas Kesehatan dapat memahami aspek-aspek yang terdapat dalam PHEOC daerah. Sebagai lembaga riset dan konsultasi, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan/ PKMK FK-KMK UGM serta jejaring yang terlibat akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan peningkatan kesiapsiagaan krisis kesehatan baik karena bencana alam, non-alam maupun sosial di daerah.

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

{tab-ex title=”Hari Pertama” class=”red”}

 

Reportase

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros


Rabu, 2 Juni 2021

PHEOC 1

 

Dok. PKMK FK. KMK UGM “Pengantar Kegiatan Peningkatan Kapasitas PHEO Daerah Sulawesi Selatan”

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan. Kegiatan ini dimoderatori oleh Madelina Ariani, sebagai salah satu peneliti/konsultan PKMK FK-KMK UGM, dimulai dengan pengantar oleh dr. Bella Donna. Dalam penganar disampaikan bahwa PHEOC ini masih belum familiar di daerah, sehingga perlu dikembangkan sampai ke daerah. Bagaimana dinas kesehatan memahami apa yang menjadi peran dan fungsi PHEOC. Selanjutnya Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt menyampaikan hasil kegiatan review kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan Kedaruratan KKM. Hasil review ini menunjukkan kapasitas daerah dalam kegiatan KKM masih perlu dikembangkan. Daerah belum memiliki dasar hukum dari dinas kesehatan maupun PERDA terkait dengan badan khusus penanganan KKM yang memiliki fungsi komando dan koordinasi dan lebih komprehensif dapat bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor di daerah.

PHEOC 2

Dok. PKMK FK. KMK UGM “Penyampaian materi pertama oleh dr. Widiana K. Agustin, MKM (kiri) dan materi kedua oleh Abdurahman, SKM, M.Kes”

Materi pertama Konsep Ketahanan Kesehatan Nasional dan Komitmen global serta Kebijakan Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan di Indonesia disampaikan oleh dr. Widiana K. Agustin, MKM dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Diawal pemaparannya menyampaikan terkait permenkes 75 tahun 2019 tentang krisis kesehatan. Paradigma manajemen bencana sudah berubah kalau dulu berfokus pada tanggap darurat tetap sekarang mengarah ke pengurangan risiko. Pernyataan Standar, Pengertian, DO, Rumus penghitungan, Target, langkah, teknik penghitungan dan Monev tentang SPM ada dalam Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Penanganan pandemic menggunakan framework manajemen bencana dengan prioritas pengurangan risiko becana. Dimana pada para bencana terdapat sistem kewaspadaan dini KLB dan kesiapsiagaan serta adanya peringatan dini. Komitmen global dalam menyikapi meningkatnya ancaman KKM dengan menerapkan IHR (2005) dan global health security.

Materi kedua Konsep, Tugas dan Fungsi PHEOC Daerah dalam Sistem Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan, serta Ketahanan Kesehatan disampaikan oleh Abdurahman, SKM, M.Kes dari Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes. Dalam pelaksanaannya PHEOC bekerja dalam 24 jam sehingga mengunakan metode kerja shift. Jika melihat framework WHO ada EOC framework, bagaimana EOC dibangun dan bagaimana operasionalnya. Kedudukan PH-EOC berbeda dalam setiap negara. Di Indonesia PHEOC ada di kemenkes dibawah dirjen P2P, fokus untuk bencana non alam seperti KLB, KKM. Dalam ruang PHEOC ada disediakan juga ruang rapat sebagai tempat pertemuan untuk pengambilan keputusan jika misaalnya terjadi KLB. Secara komprehensif perlu diketahui oleh Dinkes apa peran dan tanggung jawab masing-masing bidang PHEOC artinya tidak hanya sekedar melengkapi fasilitas saja. Salahs atu basic pelatihan yang dibutuhkan oleh PHEOC adalah pelatihan Incident Command System (ICS). Kegiatan operasional PH-EOC terdiri dari 3 fase yaitu fase pemantauan, fase kewaspadaan dan fase respon. Fase pemantauan itu bagaimana memonitor kejadian kesehatan masyarakat, dilakukan komunikasi risiko, pelatihan, kesiapan logistik dan update SOP.

PHEOC 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi diskusi”

Diskusi

Pada sesi diskusi membahas terkait dengan struktur organisasi PHEOC, siapa yang menjadi penanggung jawab/komandan di daerah. Pada struktur yang ditampilkan belum menggambarkan kondisi emergensi dari operasional ini. Pada klaster kesehatan nasional PJ nya adalah PKK Kemenkes. Sementara PHEOC masuk kedalam subklaster P2P. Jadi tetap mengacu pada struktur organisasi klaster kesehatan, jika situasinya bencana non alam makan leading bidang operasionalnya ada di subklaster pengendalian penyakit. Pada pengembangan PHEOC ada protab siapa yang melakukan apa. PHEOC beroperasi tidak hanya pada saat emergensi tetapi bekerja di 3 fase (fase normal, fase alert dan fase respon).

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

 

{tab-ex title=”Hari Kedua” class=”green”}

Kamis, 3 Juni 2021

pelatihan pheoc h2 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM: konsep pengorgansasian ICS

Hari kedua yaitu Kamis, 3 Juni 2021 kembali dilanjutkan pelatihan online penguatan kapasitas PHEOC tepat pukul 09.00 WIB yang dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH. Acara diawali dengan arahan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. H. Muhammad Ichsan Mustari, MHM. Kasus kegawatdaruratan kesehatan masyarakat harus dipandang sangat serius, bagaimanapun ini bisa berdampak luas bagi masyarakat kita, ungkapnya. Dasarnya ada di kemampuan membaca data dan menganalisisnya menjadi informasi yang valid untuk pengambilan keputusan status kasus yang berpotensi menjadi kegawatdaruratan masyarakat. Penting bagi daerah memahami konsepnya dan menyesuaikan dengan kebutuhan daerah masing – masing, tambah beliau.

Materi pertama oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Tentu tidak asing dengan pembicara karena di banyak kesempatan Bella selalu menyampaikan materi tentang konsep pengorganisasian dalam situasi kebencanaan. Kali ini untuk PHEOC daerah juga demikian. Bagaimana daerah mampu mendisain pengorganisasiannya, dan tidak bingung dengan adanya kontrol di BPBD, di bagian krisis kesehatan, dan di PHEOC sendiri. Namun, bagaimana kejelasan tugas dan fungsi yang terpenting agar tugas, komunikasi dan koordinasi terjalin tidak saja antara dinas kesehatan dengan lintas sektor tetapi juga di internal dinas kesehatan sendiri. Bella juga menjelaskan dimana peran PHEOC dalam klaster kesehatan dalam situasi bencana alam dan non alam.

pelatihan pheoc h2 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM: Sesi diskusi

Kabupaten Maros bercerita bahwa sudah memiliki rencana kontijensi antraks dan Kota Makasar yang juga memiliki rencana kontijensi Sars. Meski demikian, itu adalah pengorganisasian dan koordinasi untuk spesifik penyakit/ bencana non alamnya, yang dibutuhkan oleh dinas kesehatan saat ini adalah pengorganisasian/ perencanaan yang dapat menanggapi semua jenis bencana bai kalam non alam, dan menguatkan peran PHEOC di dalamnya, tegas Bella.

Materi kedua disampaikan oleh Gde Yulian Yogadhita, Apt. M.Epid mengenai RHA dan perubahan dari RHA menjadi analisis situasi kegawatdaruratan kesehatan masyarakat/ KKM. Pembahas ini menggambarkan tugas rutin surveilans masuk ke dalam tahapan – tahapan fase KKM. Mulai dari sehari – hari atau situasi pemantauan, berlanjut ke situasi peringatan, dan situasi respons. Hal ini tidak bisa anggap biasa dan rutin, sebab PHEOC adalah integrasi dari kegiatan public health sehari – hari dalam kerangka Emergency Operation Center, mau tidak mau petugas PHEOC harus memiliki wawasan dan rasa mengenai emergency, bagaimana menganalisis data rutin dan membacanya sebagai warning alert di masa pemantauan. Selain itu ditekankan juga menganai pelaporan dan berbagai kepentingan dari pelaporan tersebut jika dilakukan secara terintegrasi di dinas kesehatan ataupun di bawah pemerintah daerah, ungkap Gde.

Pertemuan akan berlanjut pada, Rabu, 8 Juni 2021 di waktu yang sama. Seluruh materi dapat di download pada halaman website ini.

Reportase oleh: Madelina A

{tab-ex title=”Hari Ketiga” class=”grey”}

Selasa, 8 Juni 2021

pheoc 3 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi diskusi mobilisasi SDM”

Pertemuan hari ini dimoderatori oleh Happy R Pangaribua, MPH. Peserta mendapatkan dua materi Konsep dan Jenis-jenis Tim Bantuan Bencana oleh dr. Bella Donna, M.Kes dan materi Perencanaan Mobilisasi SDM oleh Madelina Ariani, MPPH. Peserta yang mengikuti pelatihan dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, Dinkes Kota Makassar dan Dinkes Kab. Maros.

Pada saat pra bencana disiapkan tim bencana mulI dari Tim Rapid Health Assessment (RHA); Emergency Medical Team (EMT) dan Public Health Rapid Response Team (PHRRT). Bagaimana membentuk tim ini? ini bisa dilakukan dengan penyusunan dokumen dinkes disaster plan. Dimana didalam dokumen ini tertulis jelas tupoksi dari setiap tim tersebut. Pada saat tanggap darurat tim tersebut sudah bisa melaksanakan tugasnya. Mereka akan bertugas sesuai dengan bencana yang ada. Tim RHA untuk melihat situasi, dampak dan apa saja yang dibutuhkan, pengiriman RHA ini dapat dilakukan secara berulang. Emergency MedicalTeam (EMT) sering disebut dengan tim medis, sekelompok professional kesehatan yang mememberikan perawatan klinis langsung kepada penduduk yang terdampak KKM. PHRRT lebih banyak ke pendekatan kolaboratif dan multi disiplin artinya tidak hanya dari bidang kesehatan saja, misalnya satgas kesehatan bergabung dnegan satgas daerah. PHRRT lebih ke arah promotifnya. PHRRT merupakan tim yang terdiri dari berbagai professional kesehatan masyarakat, terlatih dan siap untuk memobilisasi ketika ada keadaan darurat kesehatan masyarakat.

pheoc 3 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian materi Mobilisasi SDM oleh Madelina Arinai, MPH”

Mobilisasi SDM ini berkaitan dengan pengorganisasian dan SOP aktivasi PHEOC. Ssaat bencana terjadi tim RHA melakukan assessment awal kemundian dari hasil RHA ini memberikan informasi apakah dibutuhkan mobilisasi sumber daya. Jika dibutuhkan maka dibuat segera peta respon dan rencana operasi. Selanjutnya koordinator klaster kesehatan mengkoordinasikan upaya mobilisasi. Pada fase peringatan ketua/penanggungjawab PHEOC dan Kepala Dinkes dapat memberikan notifikasi kepada lintas sektor terkait waspada dan kesiapan. Pada fase respon, jika dibutuhkan meminta bantuan dan mobilisasi tim RHA, EMT dan PHRRT. Mobilisasi EMT, PHRRT dan relawan kesehatan dapat dilakuakn dari luar daerah. Proses mobilisasi dimulai dari kesiapa personil, kepada siapa melapor ketika tim sudah tiba di lokasi, pelaksanaan operasi sampai dnegan pengakhiran operasi. Kesiapan tim harus memperhatikan logistik yang dibutuhkan.

Sesi Diskusi

Terdapat 3 hal yang dibahas pada sesi diskusi yaitu terkait dengan waktu pelayanan kesehatan yang diberikan tim, jumlah personil tim yang akan dikirimkan dan pengalaman dinas kesehatan selama menugaskan Tim Gerak Cepat. Waktu pelayanan EMT adalah bukan lamanya salah satu relawan bertugas disana namum lamanya layanan kesehatan yang akan diberikan. Jadi misalnya EMT type 2 minimal 14 hari, bisa dilakukan pergantian orang yang bertugas untuk memberikan layanan selama 14 hari tadi. Jumlah personil yang dikirim atau TGC sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Yang penting diperhatikan adalah fungsi/peran siapa yang dibutuhkan. Sekarnag yang menjadi tugas bersama adalah memahamkan dinas kesehatan dan puskesmas bahwa TGC itu tidak hanya memberikan pelayanan medis saja namun didalamnya bisa juga memberikan layanan kesehatan masyarakat saat terjadi KKM. Artinya mereka akan ditugaskan sesuai dengan fungsinya dan jenis bencana apa yang terjadi.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs-ex}

 

{/tabs}

Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) di Kota Palu

logo caritas

logo caritas

Kerangka Acuan Kegiatan

Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit

(Hospital Disaster Plan) di Kota Palu

April – Mei 2021

{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”} 

Pengantar

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany akan melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran program ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Donggala, RS Kabelota, RS di Kota Palu, Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tompe. Dalam pelaksanaan program ini PKMK FK – KMK UGM akan tetap melibatkan Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan universitas lokal (Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, dan Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairat).

Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Hal tersebut juga akan terjadi pada rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun belum operasional. Rumah sakit harus memahami bahwa HDP adalah sebagai salah satu bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Seperti situasi sekarang dunia telah digemparkan dengan terjadinya bencana non alam pandemi COVID-19. Masalah yang dihadapi rumah sakit akan semakin kompleks karena rumah sakit harus memikirkan bagaimana memutuskan mata rantai penularan di rumah sakit dan bagaimana untuk menghadapi lonjakan pasien. Pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan penanganan bencana, perbedaannya terletak pada sifat agen kausatif virus.

Dengan demikian, sudah saatnya rumah sakit memahami bahwa HDP ini sangat penting dipersiapkan sejak sekarang, HDP yang operasional dan yang mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam. HDP yang disusun dalam bentuk dokumen berisi potensi bencana yang dihadapi rumah sakit, aktivasi sistem komando, prosedur pengananan bencana, fasilitas saat bencana dan alur komunikasi. HDP ini merupakan dokumen yang bersifat hidup (update) dan menjadi satu sistem untuk memenuhi kebutuhan menuju Safe Hospital yang dapat digunakan dalam keadaan krisis kesehatan sehari – hari di rumah sakit. Penyelenggaraan kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Palu.

Tujuan

Review HDP yang sudah ada di rumah sakit kota Palu.

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting sebanyak 3 kali pertemuan.

  • Pertemuan pertama peserta dari masing – masing RS mempresentasikan dokumen HDP.
    Setelah pertemuan pertama selama satu minggu para narasumber akan melakukan review dari hasil presentasi, kemudian mengirimkan kepada rumah sakit hal yang perlu diperbaiki dari dokumen rumah sakit
  • Pertemuan kedua, peserta akan mendapatkan materi sesuai hasil review dari narasumber terhadap dokumen HDP. Setelah pertemuan kedua ada jeda 2 minggu bagi rumah sakit untuk memperbaiki dokumen berdasarkan hasil review dan materi yang sudah didapatkan.
  • Pertemuan ketiga, masing – masing rumah sakit kembali mempresentasikan HDP yang sudah direvisi

 

 Peserta Kegiatan

Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah rumah sakit di kota Palu yang sudah memiliki dokumen HDP.

Daftar Rumah Sakit :

  1. Rumah Sakit Undata
  2. Rumah Sakit Woodward Palu
  3. Rumah Sakit Anutapura
  4. Rumah Sakit Bhayangkara
  5. Rumah Sakit Wirabuana
  6. Rumah Sakit Budi Agung
  7. Rumah Sakit Samaritan
  8. Rumah Sakit Madani
  9. Rumah Sakit Sis Aljufri
  10. Rumah Sakit Universitas Tadulako

Peserta diperkirakan sekitar 3 – 5 orang dari masing – masing rumah sakit yang terdiri dari :

  • Direksi dan kepala bagian rumah sakit
  • Bidang/bagian yang mengurusi rujukan, wabah, bencana, krisis kesehatan
  • Tim penyusun HDP

Hal – hal yang perlu dipersiapkan oleh peserta:

  • Sebelum pertemuan, diharapkan peserta mengirimkan file dokumen HDP kepada panitia penyelenggara kegiatan (PKMK FK – KMK UGM).
  • Masing – masing rumah sakit menyiapkan dokumen HDP yang akan dipresentasikan

Output Kegiatan

Setelah melalui proses review ini, masing – masing rumah sakit memiliki dokumen HDP yang update dan operasional sesuai kebutuhan rumah sakit

 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Kegiatan terbagi menjadi 3 pertemuan :

  1. Pertemuan 1 : Kamis, 15 April 2021
    Waktu          : 09.00 – 12.00 WITA
  2. Pertemuan 2 : Kamis, 29 April 2021
    Waktu          : 09.00 – 12.00 WITA
  3. Pertemuan 3 : Kamis, 20 Mei 2021
    Waktu          : 09.00 – 12.00 WITA
Kamis, 15 April 2021
Waktu (WITA) Materi/Kegiatan Fasilitator/Narasumber
09.00 – 09.10 Pengantar dan Pembukaan
  • PKMK FK – KMK UGM
  • Dinkes Kota Palu

09.10 – 09.25

Presentasi dokumen HDP masing-masing rumah sakit
  • Rumah Sakit Undata
  • Rumah Sakit Woodward Palu
  • Rumah Sakit Anutapura
  • Rumah Sakit Bhayangkara
  • Rumah Sakit Wirabuana
  • Rumah Sakit Budi Agung
  • Rumah Sakit Samaritan
  • Rumah Sakit Madani
  • Rumah Sakit Sis Aljufri
  • Rumah Sakit Universitas Tadulako
11.40 – 11.55 Review secara umum HDP
  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  • dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
11.55 – 12.00 Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan
Kamis, 29 April 2021
Waktu Materi/Kegiatan
09.00 – 09.10 Pengantar : review kegiatan pertemuan pertama PKMK FK – KMK UGM
09.10 – 11.10

Room 1 :

Materi Sistem Pengorganisasian
Penugasan

PKMK FK – KMK UGM

Room 2 :

Materi Logistik dan Fasilitas saat Bencana

Penugasan

PKMK FK – KMK UGM

Room 3 :

Materi Analisis Risiko

Penugasan

PKMK FK – KMK UGM

Room 4 :

SOP saat Bencana

Penugasan

PKMK FK – KMK UGM
11.10 – 11.30 Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan
Kamis, 20 Mei 2021
Waktu Materi
09.00 – 09.10 Pengantar : review kegiatan pertemuan kedua PKMK FK-KMK UGM

09.10 – 09.25

Presentasi dokumen HDP masing-masing rumah sakit
  • Rumah Sakit Undata
  • Rumah Sakit Woodward Palu
  • Rumah Sakit Anutapura
  • Rumah Sakit Bhayangkara
  • Rumah Sakit Wirabuana
  • Rumah Sakit Budi Agung
  • Rumah Sakit Samaritan
  • Rumah Sakit Madani
  • Rumah Sakit Sis Aljufri
  • Rumah Sakit Universitas Tadulako

11.40 – 11.55 Masukan secara umum HDP
  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  • dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
11.55 – 12.00 Penutupan

 

{tab title=”Reportase” class=”blue”}

Laporan Kegiatan

Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit

(Hospital Disaster Plan) di Kota Palu

 

Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting sebanyak 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 15 April 2021, peserta dari masing – masing RS mempresentasikan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP). Setelah pertemuan pertama selama dua minggu para narasumber akan melakukan review dari hasil presentasi, kemudian mengirimkan kepada rumah sakit hal yang perlu diperbaiki dari dokumen rumah sakit. Pertemuan kedua pada 29 April 2021, peserta mendapatkan materi sesuai hasil review dari narasumber terhadap dokumen HDP. Setelah pertemuan kedua ada jeda 3 minggu bagi rumah sakit untuk memperbaiki dokumen berdasarkan hasil review dan materi yang sudah didapatkan. Pertemuan ketiga pada 20 Mei, masing – masing rumah sakit kembali mempresentasikan HDP yang sudah direvisi. Rumah sakit yang mengikuti rangkaian proses review ini sebanyak 8 RS yaitu : RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara, RSU Universitas Tadulako, RS Anutapura, RS Woodward, RS Samaritan dan RS Budi Agung.

 

Kamis, 15 April 2021

rev hdp palu 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan HDP RSUD Undata Palu (kiri) dan RS Budi Agung (kanan)

Pertemuan diawali dengan pengantar dari dr. Andreasta Meliala Direktur PKMK FK – KMK UGM dan pembukaan dari dr. Huzaema Kepala Dinkes Kota Palu. Kesiapsiagaan rumah sakit direncanakan bukan hanya untuk satu jenis bencana saja namun untuk bencana apapun yang mungkin terjadi di wilayah rumah sakit. Dokumen HDP perlu disiapkan sebagai langkah – langkah penanggulangan bencana yang operasional artinya sudah ada rencana yang matang. Mulai dari sistem komando, prosedur penanganan dan fasilitas. Selanjutnya masing – masing rumah sakit memaparkan dokumen HDP yang sudah ada saat ini sekitar 10 – 15 menit. Secara umum dokumen HDP yang sudah ada sudah memiliki sistem komando dan SOP. Namun dokumen ini masih fokus pada penanganan becana alam. Reviewer petama dr. Hendro Wartatmo menanggapi bahwa dokumen HDP ini harus disiapkan sebaik mungkin, SOP dan fasilita yang sudah disusun perlu untuk disempurnakan. Reviewer kedua dr. Wahyu Kartiko Tomo menanggapi HDP dan sistem keselamatan ini berkaitan dnegan SNARS artinya yang perlu diperhatikan adalah telusur dan bukti. Reviewer ketiga dr. Sulanto Saleh Danu menambahkan bahwa dalam dokumen belum terlihat denah tindakan evakuasi dan secara teknis masih perlu diperjelas siapa melakukan apa serta pengelolaan logistik.

 

Kamis, 29 April 2021

rev hdp palu 2

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pembagian room (kiri) dan materi sistem pengorganisasian (kanan)

Hari ini peserta terbagi menjadi 4 room sesuai dengan materi yang dibutuhkan oleh peserta untuk perbaikan dokumen berdasarkan hasil review. Terdapat 4 materi yang disampaikan yaitu sistem pengorganisasian oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD; logistik dan fasilitas saat bencana oleh dr. Sulanto Danu, analisis risiko oleh Madelina Ariani, MPH dan SPO saat Bencana oleh dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B. Terdapat 7 rumah sakit yang mengikuti pertemuan kedua yaitu RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara, RSU Universitas Tadulako, RS Anutapura, RS Woodward dan RS Budi Agung. Sistem pengorganisasian membahas bagaimana membentuk satu tim bencana berbasis incident command system (ICS). Tim ini diaktifkan saat bencana terjadi. Logistik dan fasilitas saat bencana membahas bagaimana perencanaan kebutuhan logistik sata pra bencana, bencana dan paska bencana. Hal apa saja yang eprlu diperhatikan saat menerima logistik, menyimpat logistik, mendistribusikan logistik dan melaporkan penggunaan logistik saat bencana. Pada materi SPO disampaiakna beberapa SPO yang dibutuhkan dalam penanganan bencana di rumah sakit misalnya SPO triase, SPO pengaktifan tim bencana dan sebagainya. Analisis risiko membahas bencana apa yang menjadi prioritas penanganan di RS, ini didapatkan dari proses penilaian analisis risiko.

Kamis, 20 Mei 2021

rev hdp palu 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan revisi HDP RS Bhayangkara (kiri) dan masukan dari reviwer (kanan)”

Pada pertemuan ini masing – masing RS kembali mempresentasikan dokumen HDP yang sudah direvisi. RS yang sudah menyelesaikan dokumen HDP dan siap untuk dipresentasikan sebanyak 4 RS yaitu RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara dan RSU Universitas Tadulako sementara RS lainnya masih dalam tahap proses revisi. Berdasarkan hasil presentasi keempat RS tersebut, secara keseluruhan sudah melengkapi dokumen dengan baik, mulai terlihat jelas sistem komando, analisis risiko, SPO, denah evakuasi dan fasilitas yang dibutuhkan. RSUD Undata menentukan komandan berdasarkan jenis bencana, misalnya untuk saat ini dalam penanganan COVID-19 yang menjadi komandan adalah dokter spesialis penyakit dalam. RS Sis Aljufri sudah membentuk SK sistem komando. RS Bhayangkara menyebutkan bencana terorisme menjadi prioritas tertinggi yang butuh perencanaan penanganan. RSU Tadulako sudah menambahkan beberapa SPO terkait penanganan COVID-19 pada dokumen. Masukan dari reviewer hanya sedikit yaitu proses aktivasi sistem komando lebih didetailkan, ditambahkan dalam dokumen networking dengan jejaring rumah sakit dan persiapan simulasi.

 

Reportase : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Enlarging public health disaster plan into community level

logo caritas

logo caritas

Enlarging public health disaster plan into community level in managing natural disaster and pandemi crisis in Central Sulawesi

Diselenggarakan oleh :
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany


Pengantar

Pasca gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala tercatat dari 49 Puskesmas ada sebanyak 9 puskesmas terkena dampak dengan rusak berat dan 12 puskesmas dengan rusak ringan. Selain itu terdapat 2 rumah sakit mengalami kerusakan berat dan 11 rumah sakit mengalami kerusakan ringan. Sebagai wilayah zona merah berpotensi bencana, banyak hal yang harus disiapkan untuk meningkatkan kapasitas sektor kesehatan dalam menghadapi bencana di Sulawesi Tengah. Pada tahun 2019-2020 pasca bencana (gempa, tsunami, dan likuifaksi) Sulawesi Tengah, PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany telah melakukan program pendampingan rutin dalam menguatkan sistem manajemen dan kapasitas SDM kesehatan Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran program ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Sigi, RS Tora Belo dan Puskesmas Marawola.

Berdasarkan lesson learn dari program tersebut dan setelah melihat kebutuhan lanjutan dalam peningkatan kapasitas Sulawesi Tengah, maka PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany merencanakan perluasan program ini ke daerah lainnya di Sulawesi Tengah. Oleh karena itu, pada rapat evaluasi dan rencana tindak lanjut proyek antara PKMK FK – KMK UGM dan stakeholder di Sulawesi Tengah maka dilakukanlah sinkronisasi program dengan rencana aksi daerah bidang kesehatan sebagai berikut: dinas kesehatan provinsi memperluas pendampingannya ke Kota Palu dan Kabupaten Donggala, serta pengembangan aplikasi akses kegawatdaruratan untuk masyarakat, dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Sulawasi Tengah dalam pengaktifan pos klaster kesehatan. Perluasan program ini akan berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis keseahtan di Sulawesi Tengah.

Tujuan umum

Kegiatan ini adalah untuk memperluas dan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana alam dan krisis kesehatan di Sulawesi Tengah.

Tujuan khusus

  • Meningkatkan kemampuan Dinas Kesehatan dan perguruan tinggi untuk mendampingi kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana bidang kesehatan.
  • Meningkatkan kapasitas sistem manajemen penanggulangan bencana alam dan pandemi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala
  • Meningkatkan kesiapsiagaan dan pemberdayaan masyarakat untuk adaptasi kebiasaan baru dan penanganan bencana alam di masa pandemic
  • Monitoring, evaluasi dan diseminasi pembelajaran kegiatan ke daerah lainnya

Waktu Pelaksanaan

Kegitan proyek ini dimulai sejak 1 Oktober 2020 s/d 30 September 2021

Target

  • Target kunci dalam project ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Sigi, Dinkes Kabupaten Donggala, Dinkes Kota Palu, Rumah Sakit Kabupaten Donggala, Kota Palu dan dua Puskesmas Model di masing-masing Kabupaten/Kota.
  • Target pendukung adalah universitas yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, dan Fakultas Kedokteran Universitas Al – Khairat.

 

Kegiatan

Beberapa Kegiatan untuk Mencapai Tujuan Program :

  • Update modul pembelajaran dan ujian TOT penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di tingkat dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas
  • Training of Trainer (TOT) Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan
  • Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)
  • Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan (Dinkes Disaster Plan)
  • Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas (Puskesmas Disaster Plan)
  • Pelatihan Aktivasi Klaster Kesehatan di Dinas Kesehatan
  • Pengembangan sistem teknis pelayanan pre hospital PSC 119 dan masyarakat
  • Peningkatan kapasitas kader, tokoh di masyarakat, dan relawan kesehatan di bawah wilayah kerja puskesmas untuk mengintergrasikan family disaster plan dengan program puskesmas disaster plan
  • rapat rutin bulanan dan monitoring tiga bulanan tim PKMK FK-KMK UGM dan seluruh tim bencana kesehatan Sulawesi Tengah (Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas, Kader)
  • Pengelolaan pengetahuan dan publikasi kegiatan

REPORTASE BINCANG RADIO SERIES 1 – 4
EDUKASI UNTUK MASYARAKAT MENGENAI KEGIATAN PENINGKATAN KAPASITAS PENANGGULANGAN BENCANA ALAM DAN PANDEMI DI SULAWESI TENGAH


PEKAN DISEMINASI
PENGUATAN KETAHANAN SISTEM KESEHATAN
UNTUK BERBAGAI ANCAMAN BENCANA ALAM DAN PANDEMI

15 – 17 Desember 2021


Serah Terima Fasilitator Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan kepada Daerah Sulawesi Tengah oleh PKMK FK – KMK UGM

22 November 2021


Penguatan Pengetahuan dan Pemahaman Bidan dan Kader Kesehatan Puskesmas Marawola tentang Promosi Family Disaster Plan

23 & 26 November 2021


Table Top Exercise (TTX) Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana Dan Krisis Kesehatan

November 2021


Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas Tompe

22 dan 29 Oktober 2021


Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas Sangurara

Jum’at, 22 dan 29 Oktober 2021


Sosialisasi Internal DokumenHospital Disaster Plan(HDP) RSUD Kabelota Donggala

22 dan 29 Oktober 2021


Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala

21 dan 28 Oktober 2021


Sosialisasi Internal Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Palu

21 – 28 Oktober 2021


Matrikulasi Materi Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan pada Fasilitator Lokal Sulawesi Tengah

Mei – Oktober 2021


Webinar Series:  Pengembangan Konsep Telemedicine dan Manajemen Bencana Kesehatan di Era Pandemi Covid-19

30 Agustus – 27 September


Review Penanganan Covid-19 Berbasis Kawasan: Relawan Nagasi Kota Palu

Senin, 23 Agustus 2021


Sinkronisasi Program dengan Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota Sulawesi Tengah


Sinkronisasi Program dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, dan Fakultas Kedookteran Universitas Al-Khairat

Perluasan Peningkatan Kapasitas Masyarakat melalui Penguatan Sistem dan Pemberdayaan dalam Menghadapi Bencana dan Krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah


Training of Trainer (TOT) Dinkes Disaster Plan, Hospital Disaster Plan dan Puskesmas Disaster Plan


Ujian dan Interview Peserta Training of Trainer (TOT) Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan


Sosialisasi Rencana Kegiatan Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit


Pelatihan Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan (Dinkes Disaster Plan)


Pelatihan Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas (Puskesmas Disaster Plan)


Pelatihan Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Puskesmas (Puskesmas Disaster Plan)


Pelatihan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)


Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) di Kota Palu


Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital PSC 119


Pelatihan Pertolongan Pertama saat Bencana terhadap Staf Medis, non Medis dan Masyarakat Terlatih di Wilayah Puskesmas