Review Kejadian Arus Mudik dan Balik 2018

https://v-images2.antarafoto.com/arus-balik-sepeda-motor-pelabuhan-bakauheni-pam7ht-prv.jpgJumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi sejak H-8 hingga H+8 lebaran tahun ini mengalami penurunan hingga 30 persen. Jumlah kejadiannya menurun dari 2.745 kejadian pada 2017 lalu menjadi 1.921 kejadian pada tahun ini. Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI menyebutkan bahwa, hingga H+5 lebaran pertolongan pertama yang diberikan pada korban setengahnya dilakukan di puskesmas, lainnya dilakukan di rumah sakit dan pos kesehatan. Disebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya kemacetan yang dialami selama arus mudik dan balik kali ini adalah masih adanya mobil barang yang melewati jalan tol selama masa operasi ketupat. Faktor sosialisasi aturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang kurang efektif serta kurang tegasnya anggota lalu lintas dalam penegakan hukum khususnya pelanggaran operasional mobil penumpang pada 12-14 Juni dan 23-24 Juni menjadi menjadi penyebabnya.

SELENGKAPNYA

 

Analisis Situasi Pada Mass Gathering dalam Sejarah

Murray & Soomarco pada 2012 lalu melakukan review terhadap kejadian mass gathering yang terlapor. Berdasarkan laporan diketahui terdapat 156 kejadian mass gathering sejak 1971-2011. Studi ini berfokus pada kepadatan orang pada saat terjadinya mass gathering. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada kejadian sebelumnya, kebijakan terkait dengan perencanaan penanganan kejadian, prosedur evakuasi dan pelayanan kegawatdaruratan dibutuhkan untuk menyukseskan suatu mass gathering. Perencanaan kesehatan harus meliputi pelatihan staf terkait kegiatan khususnya staf keamanan dalam kendali masa, sistem tiket yang memadai dan membatasi kepadatan (pada kejadian dengan membutuhkan tiket), perencanaan evakuasi termasuk keamanan kebakaran harus tersedia, rute keluar yang jelas dan bebas dari hambatan. Setiap jenis mass gathering memiliki kemungkinan untuk terjadinya kejadian mayor. Hal ini harus menjadi bagian dari perencanaan dalam penanganan kejadian yang mungkin terjadi.

SELENGKAPNYA

Mengenal Mass Gathering Sebagai Salah Satu Risiko Terjadinya Kejadian Kegawatdaruratan

https://cdn.sindonews.net/dyn/940/photos/2015/07/19/13533/49593_highres.jpgMenurut WHO mass gathering merupakan kegiatan yang telah terorganisir maupun tidak dimana jumlah orang yang berkumpul banyak dan cukup untuk membebani sumber daya komunitas atau pemerintah dalam merencanakan maupun memberikan respon dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Contoh mass gathering yang sering kita jumpai yaitu kegiatan olahraga, festival musik, demonstrasi politik dan kegiatan keagaamaan. Arus mudik dan balik setiap tahunnya merupakan contoh yang kita jumpai di Indonesia.

Risiko kesehatan yang dapat dialami oleh seseorang yang berada pada mass gathering disebabkan oleh tingginya kepadatan orang, terbatasnya kontrol yang dapat dilakukan terhadap kerumunan orang, tidak adekuatnya perawatan medis di tempat kejadian, serta kurangnya persiapan terhadap kemungkinan perubahan iklim yang ekstrim. Keluhan yang sering dialami ada kejadian seperti cedera, penyakit terkait dengan temperatur, intoksikasi, penyakit gastrointestinal, serta gangguan respirasi. Perawatan medis di tempat biasanya dapat memberikan perawatan untuk cidera ringan. Penanganan yang lebih besar membutuhkan kerja sama multi sektor.

SELENGKAPNYA

Rapat Koordinasi Penyiapan Skenario dan Rencana Penanganan Erupsi Merapi saat Libur Lebaran 2018

rakor persiapan bencana 2018 merapi 01

Yogyakarta memiliki potensi terjadi bencana yang bermacam-macam dan salah satu yang kerap terjadi yaitu Gunung Merapi, dengan siklus 4 tahun sekali. Dari bulan Mei sampai dengan Juni sudah terjadi 3 kali letusan freatik dan status Gunung Merapi sudah meningkat dari Normal menjadi Waspada. Letusan freatik pertama terjadi pada 11 Mei 2018 kemudian terjadi kembali pada 21 Mei 2018. Update terakhir letusan freatik terjadi pada 1 Juni 2018 pukul 08.20 WIB dengan ketinggian kolom 6000 meter kearah barat laut dengan durasi 2 menit dan amplitudo 77mm. Fenomena ini tidak terlalu berbahaya, tetapi kita tetap perlu selalu siap dalam menghadapinya. Persiapan yang dilakukan sudah harus dimulai sejak sebelum terjadinya bencana. Sebentar lagi umat muslim di Indonesia akan merayakan libur Lebaran dan seluruh pegawai baik negeri maupun swasta akan mendapatkan libur nasional mulai dari 12 Juni 2018 sampai 20 Juni 2018. Oleh karena itu, sangat diperlukan rapat koordinasi untuk mempersiapkan skenario dan rencana penanganan bencana Erupsi Merapi saat libur Lebaran untuk mengantisipasi jika terjadi Erupsi Merapi pada saat jangka waktu.

SELENGKAPNYA

Laporan Pengkajian Global untuk Pengurangan Risiko Bencana pada 2019 (GAR19)

gar 2018

gar 2018

Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) membuat sebuah laporan pengkajian/ Global Assessment Report (GAR) tentang pengurangan resiko bencana setiap 2 tahun sekali. GAR ini dilakukan untuk memberikan gambaran perkembangan implementasi Sendai Framework untuk pengurangan resiko bencana yang berkaitan dengan target SDGs, pengkajian tren risiko global serta memberikan penelitian inovatif untuk meningkatkan pemahaman terkait pengurangan risiko bencana pada semua dimensinya. GAR19 ini terdiri dari 4 chapter dan tidak hanya berfokus pada risiko terkait hazard/bahaya alam, namun pada spektrum yang lebih luas baik bahaya yang sifatnya sering/tidak, bahaya alam maupun buatan manusia yang memicu terjadi bencana dengan on set tiba-tiba maupun lambat, dan lain-lain

SELENGKAPNYA

 

 

Call for Papers: Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction 2019

gar 2019

gar 2019

Call for Papers merupakan salah satu agenda yang dilakukan GAR19. Hasil penelitian yang lolos seleksi akan ikut berkontribusi pada GAR19. Hasil penelitian tersebut juga akan tersedia secara online sebagai lampiran resmi kegiatan GAR19 pada Mei 2019. Batas waktu pengajuan abstrak untuk kegiatan tersebut yaitu 3 Juni 2018 yang terdiri dari 300 kata atau lebih, ditranslasikan dalam bahasa inggris dan dikirimkan ke [email protected] dan chiara.menchise-intern@un. Peserta abstrak yang lolos seleksi akan diumumkan pada 15 Juni 2018.

SELENGKAPNYA

Gunung Merapi mengalami Erupsi freatik

letusan freatik gunung merapi diy

Selamat berkunjung kembali pada seluruh pembaca di nusantara. Penyakit infeksius merupakan salah satu jenis penyakit yang harus diwaspadai karena kemungkinananya untuk menyebar secara cepat di masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, penyakit infeksius semakin mudah menyebar. Minggu ini kami menyajikan beberapa informasi menarik seputar penyakit infeksius antara lain:

letusan freatik gunung merapi diy

Gunung Merapi mengalami Erupsi freatik, Jumat (11/5/2018) pukul 07.32 WIB dengan durasi kegempaan 5 menit dengan ketinggian kolom 5500 meter di atas puncak. Erupsi freatik (dominasi uap air) merupakan letusan yang berupa gas atau hembusan asap material yang dipicu oleh tekanan gas yang berada di bawah permukaan tanah. Erupsi ini berlangsung satu kali dan tidak diikuti dengan erupsi susulan, sebelum erupsi freatik, telah terjadi jaringan seismik gunung Merapi dan tidak terekam adanya peningkatan kegempaan. Namun demikian, sempat teramati peningkatan suhu kawah secara singkat pada pukul 06.00 WIB. Pasca erupsi kegempaan yang terekam tidak didapati perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan.

SELENGKAPNYA

Kejadian Luar Biasa dan Penyakit Infeksius di Asia-Pasifik

penyakit asia

penyakit asiaWilayah Asia-Pasifik disebut sebagai hot spot untuk penyakit infeksius baru maupun yang berulang. Terdapat banyak jenis parasit yang menyebabkan penyakit infeksius baru serta menyebabkan terjadinya kejadian luar biasa di wilayah Asia-Pasifik. Berdasarkan investigasi yang telah dilakukan, biodiversity diketahui berpengaruh terhadap persebaran suatu penyakit infeksi dan kejadian luar biasa di suatu wilayah. Biodiversity yang dimaksud adalah berbagai jenis burung dan mamalia, hutan, dan lain-lain. Jumlah penyakit infeksius secara positif berhubungan dengan ragam jenis burung dan mamalia di suatu daerah, sedangkan jumlah penyakit yang dibawa oleh vektor berkorelasi negatif dengan adanya hutan. Biodiversity merupakan sumber adanya suatu patogen, sehingga dapat menjadi salah satu faktor penting dalam penanggulangan penyakit infeksius saat ini.

SELENGKAPNYA

 

Pelatihan Influenza Sentinel Surveillance

influence sentinel

influence sentinelWorld Health Organization kembali membuka kesempatan bagi pemberi layanan kesehatan untuk dapat mengikuti pelatihan terkait dengan surveillance influenza. Partisipan akan mendapatkan pembelajaran melalui kombinasi antara pembelajaran online dengan media interaktif. Pembelajaran juga didukung dengan adanya penugasan dengan menggunakan skenario untuk membantu partisipan untuk lebih memahami konten pembelajaran. Semua bahan pembelajaran dapat di download sebagai bahan pembelajaran selanjutnya. Materi pembelajaran terdiri dari langkah utama dan konsep dalam surveillance kesehatan masyarakat terkait dengan influenza.

SELENGKAPNYA

Erupsi Freatik Gunung Merapi, Warga Diminta Tetap Tenang

letusan freatik gunung merapi diy

letusan freatik gunung merapi diy

Yogyakarta, 11 Mei 2018

Gunung Merapi mengalami Erupsi freatik, Jumat (11/5/2018) pukul 07.32 WIB dengan durasi kegempaan 5 menit dengan ketinggian kolom 5500 meter di atas puncak. Erupsi freatik (dominasi uap air) merupakan letusan yang berupa gas atau hembusan asap material yang dipicu oleh tekanan gas yang berada di bawah permukaan tanah. Erupsi ini berlangsung satu kali dan tidak diikuti dengan erupsi susulan, sebelum erupsi freatik, telah terjadi jaringan seismik gunung Merapi dan tidak terekam adanya peningkatan kegempaan. Namun demikian, sempat teramati peningkatan suhu kawah secara singkat pada pukul 06.00 WIB. Pasca erupsi kegempaan yang terekam tidak didapati perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan.

Dampak kejadian Erupsi freaktik gunung Merapi adalah hujan abu di wilayah kecamatan Turi, Pakem dan Cangkringan serta angin membawa partikel abu ke arah selatan atau kota Yogyakarta. Belum ada laporan terkait korban jiwa dan kerusakan. Masyarakat yang berada di sekitar gunung Merapi telah melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang aman. BPBD kabupaten Sleman beserta komunitas relawan dan masyarakat masih melakukan penanganan di wilayah terdampak.

Kondisi gunung Merapi berstatus “Normal” pada pukul 09.44 WIB rekaman seismik gunung Merapi sudah landai kembali (sumber BPPTKG). Pada pukul 09.35 WIB lokasi 5 KM dari puncak hujan abu sudah reda dan radius diturunkan menjadi 2 KM. Pengungsian sementara di barak Purwobinangun kurang lebih 190 Jiwa terdiri dari kelompok rentan, balita dan anak-anak yang lain masih bertahan dirumah masing-masing. Klaster kesehatan bencana Yogyakarta melakukan pendistribusian masker di Posko Kesehatan Utama Pakem, Tim PSC 119 Dinkes DIY membagikan masker di 3 dusun yaitu, Dusun Sumberan, Boyong dan Kemiri, PMI Yogyakarta membagikan masker di Fly over Jombor, menyiagakan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Sleman, dan mencatat pesebaran pengungsi di barak Brayut, Wukirsari, Girikerto, Purwobinangun dan Hargobinangun.

Pemerintah menghimbau untuk masyarakat tidak panik dengan kejadian tersebut, jika terpaksa mengungsi diharapkan ke tempat yang sudah disediakan dan tetap tenang. Bila memiliki hewan peliharaan atau ternak, harap dibawa ke tempat tertutup. Menutup sumber air atau sumur agar terlindung dari abu vulkanik; Tidak menjemur pakaian, bahan makanan dan lainnya saat terjadi hujan abu vulkanik. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya menggunakan masker untuk melindungi pernafasan dan tidak menggunakan softlens.

Sumber informasi: BPPTKG, BMKG, BPBD Sleman, TRC BPBD DIY, Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta, komunitas relawan, warga masyarakat dan lembaga terkait.

 

Disusun oleh Intan Anatasia (Pokja Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

 

Video amatir letusan freatik gunung merapi