Assesmen Kasus Asmat dan Alternatif Penanganannya

Krisis kesehatan yang terjadi di Asmat menjadi pembahasan di berbagai kalangan termasuk civitas akademka Universitas Gadjah Mada. Salah satunya adalah Pokja Bencana FKKMK UGM. Dua orang perwakilan Pokja Bencana FKKMK bergabung dalam Tim Deru berangkat menuju Agats, kabupaten Asmat. Temuan hasil asesmen yang dilakukan selama seminggu pada Asmat adalah permasalahan gizi yang kronis, fasilitas dan peralatan tidak digunakan dengan tepat, birokrasi yang tidak efisien, perilaku dan budaya, medan yang ekstrim hingga permasalahan politik. Permasalahan yang ditemukan cukup kompleks dari lingkungan, SDM pemberi layanan kesehatan maupun masyarakat Asmat tersebut. Webinar koordinasi kemudian dilakukan untuk menanggapi kejadian tersebut. Beberapa kutipan rencana tindak lanjutnya berupa rencana penguatan puskesmas di kabupaten Asmat, penyusunan proposal program acuan kegiatan jangka panjang serta melibatkan unsur lain yang terkait setelah pelaporan hasil tersebut. KLIK DISINI

Usulan kebijakan terkait penanganan masalah krisis kesehatan tersebut secara jelas digambarkan dalam policy brief berikut (POLICY BRIEF: ) KLIK DISINI

Jumlah bencana menurun tetapi kerusakan meningkat di banding tahun sebelumnya

1 tim ugm for agat 1

1 tim ugm for agat 1

Selamat berjumpa kembali kepada seluruh pembaca website bencana kesehatan di seluruh nusantara. Berbagai kejadian kegawatdaruratan maupun bencana selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia. Kejadian alam mendominasi berbagai peristiwa tersebut. Mengawali 2018, kasus Asmat menunjukkan sisi lain dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berita dari tanah Papua tersebut semakin hangat diperbincangkan di berbagai media masa. Kasus Asmat dan kejadian terkait harus dikaji untuk merefleksikan sisi lain yang jarang menjadi perhatian kita.

Laporan kegiatan tim UGM yang berangkat ke Agats

Pembaca website bencana kesehatan, selamat berjumpa kembali pada awal Februari ini. Kesiapan kita selalu diuji dengan berbagai kejadian bencana serta keadaan cuaca yang tidak menentu yang kerap menimbulkan bencana seperti angin kencang dan lainnya. BNPB merilis jumlah kejadian bencana Januari 2018 dibanding Januari 2017 menurun hingga 32 persen namun jumlah kerusakan rumah meningkat hingga 292 persen. Peningkatan ini akibat gempa 6,1 SR pada 23 Januari lalu. Di samping itu, beberapa upaya mitigasi banjir sepertinya mengalami keberhasilan dimana penurunan jumlah banjir hingga 48 persen di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, kejadian tanah longsor pun mengalami penurunan hingga 39 persen, puting beliung menurun 18 persen. Hal ini berdampak pula pada turunnya jumlah pengungsi hingga 40 persen. Meski demikian, perkiraan puncak curah hujan akan terus berlangsung hingga penghujung Februari 2018 maka seluruh masyarakat masih terus dihimbau agar tetap siaga (BNPB 2018).

Pembaca website sekalian, minggu ini kami menyajikan 3 rangkuman kegiatan sebagai pengantar. Pertama, mengenai laporan kegiatan tim UGM yang berangkat ke Agats, Kabupaten Asmat. Laporan ini juga dilengkapi dengan policy brief mengenai sistem kontrak untuk penanganan masalah kesehatan serupa. Hal ini sangat menarik untuk dijadikan bahan pelajaran serta rekomedasi usulan kebijakan untuk penanganan masalah krisis kesehatan yang terjadi di sana

REPORTASE   POLICY BRIEF

Kedua, komitmen Divisi Manajemen Bencana Kesehatan untuk mensosialisasikan Hospital Disaster Plan terus menjadi program kerja unggulan dalam beberapa tahun ini. mengawali 2018 kami kembali mengadakan Bimbingan Teknis Penyusuanan Hospital Disaster Plan. Bagaimana aktivitasnya simak reportasenya pada KLIK DISINI

Ketiga, kami merangkum seluruh kegiatan selama tahun 2017. Silakan pembaca sekalian untuk menyimak pada link berikut KLIK DISINI

Pembaca website bencana, agenda seminar terdekat ada di bulan Maret yang mengangkat tema Mental Health Problem and Health Crisis, simak tanggal dan TOR kegiatan pada link berikut KLIK DISINI

Sampai jumpa minggu depan!

Simposium Internasional terkait Perubahan Iklim dan Kesehatan di Kawasan Asia-Pasifik

simposium perubahan iklim

simposium perubahan iklimSimposium Internasional ini diselenggarakan oleh Departemen Kebijakan Kesehatan dan Manajemen, School of Public Health, Sun Yat-sen University, serta didukung oleh Guangdong Provincial Association for Science and Technology dan APN. Kegiatan ini dilaksanakan pada 9-12 Desember 2017 lalu di Guangzhou, Cina. Kegiatan ini dihadiri oleh ahli internasional yang berasal dari Bangladesh, Jepang, Republic of Korea, Nepal, Filipina, Amerika Serikat dan Vietnam. kegiatan berlangsung selama 4 hari dan terdiri dari 3 topik yaitu topik perubahan lingkungan, heat stress, kesehatan dan produktivitas; perubahan lingkungan, polusi udara dan kelompok rentan; serta promosi tentang kesadaran dan penguatan resiliansi kesehatan untuk perubahan iklim. Terdapat banyak informasi baru terkait dengan topik-topik yang dibahas pada setiap topiknya.

Informasi selengkapnya Klik Disini

 

Extreme Temperature : Pengkajian Efek Kesehatan dan Pengembangan Strategi Adaptasinya di Kawasan Asia-Pasifik

extreme temperature

extreme temperatureSalah satu project yang didukung oleh Asia-Pasific Network (APN) untuk Global Change Research adalah terkait temperatur yang ekstrim. Judul project ini “Assessing the health effects of extreme temperatures and the development of adaptation strategies to climate change in the Asia-Pacific region”. Temperatur yang ekstrim merupakan sumber paling signifikan terkait dengan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan cuaca. Terdapat 3 tujuan utama pelaksanaan project ini yaitu menganalisis total beban kematian yang disebabkan oleh suhu lingkungan yang tidak optimal di Cina, Vietnam, Thailand dan Bangladesh; memeriksa apakah resiko kesehatan terkait suhu bervariasi sesuai dengan karakteristik individu dan masyarakat; serta merumuskan strategi adaptasi lokal dalam menghadapi efek kesehatan yang terkait dengan termperatur dan mengurangi kerentanan. Project ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membuat strategi dalam memproteksi kesehatan saat ini dan generasi selanjutnya di kawasan Asia-Pasifik.

Informasi selengkapnya Klik Disini

Climate Change Adaptation Toolkit Untuk Memperbaiki Resiliansi Komunitas

simposium perubahan iklim

simposium perubahan iklimPerubahan pola musim, kejadian cuaca ekstrim yang semakin banyak dan mencairnya glacier di dataran tinggi Himalaya – Tibet yang terus menerus memiliki implikasi jangka panjang untuk kualitas air, energi, dan keamanan pangan atau makanan pada negara yang berkaitan langsung dengan dataran tinggi ini. Glacier merupakan bongkahan es di puncak gunung dan tidak mencair selama musim panas. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim diperlukan untuk tetap bertahan. Terdapat toolkit yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Toolkit yang dikembangkan ini dinamakan IAP toolkit (the ICLEI ACCRN PRocess). Toolkit ini memiliki 6 fase yang terdiri dari tools yang dapat digunakan oleh pemerintah lokal untuk mengevaluasi resiko iklim dari berbagai sistem terkait dengan kerentanannya. Berdasarkan hal tersebut dapat diformulasikan dan diimplementasikan berbagai intervensi untuk merespon kelemahan dari sistem yang telah teridentifikasi. Secara keseluruhan fase-fase tersebut adalah fase engagement atau fokus pada mendapatkan dukungan secara politik dari pihak yang memiliki otoritas dan kelompok komunitas, penelitian terkait dengan perubahan iklim dan pengkajian dampak, pengkajian kerentanan, strategi resiliansi, implementasi serta monitoring dan review. Setiap fase ini harus dilalui untuk memperoleh strategi yang tepat dalam menciptakan resiliansi komunitas. 

Informasi selengkapnya Klik Disini

Menilik Kondisi Bali setelah Erupsi Gunung Agung

gunung agung

gunung agungTerdapat banyak isu menyesatkan yang menyatakan Gunung Agung Akan meletus. Kompleksitas gunung api serta keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan prediksi letusan gunung api secara pasti sulit untuk dilakukan. PVMBG terus melakukan pengamatan secara intensif melalui pengamatan secara visual, kegempaan, deformasi, geokimia maupun dari satelit. Hasil kajian tersebut dijadikan rujukan untuk memberikan peringatan dini serta penanganannya. Gunung Agung saat ini berada pada status Awas (level 4). Aktivitas gunung Agung beberapa hari terakhir secara visual tidak terjadi erupsi serta semburan abu dan material piroklastik, namun aktivitas kegempaan masih tinggi. Berdasarkan pengamatan dari PVMBG diketahui bahwa pada 8/12/2017 pukul 06:00-12:00 WITA telah terjadi kegempaan 10 kali, kegempaan dengan frekuensi lemah 7 kali serta gempa vulkanik dalam 2 kali. Pengungsi yang tersebar di 225 titik pengungsian tertangani dengan baik. Stok logistik di pengungsian juga mencukupi. Masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut terkait dengan kondisi gunung Aung maupun bantuan serta tujuan lainnya dengan menghubungi Call Center Posko Gunung Agung di 0361-234099. Informasi selengkapnya Klik Disini

Mengenal Siklon Tropis sebagai suatu Ancaman atau Resiko Bencana

siklon tropis 1

siklon tropis 1Pada 7 Desember 2017, Magister Manajemen Bencana UGM bekerja sama dengan Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) melaksanakan “Rountable Discussion: Evaluasi dan Ancaman Siklon Tropis”. Kegiatan ini ditujukan untuk membahas siklon dan evaluasi tindakan penanganan yang telah dilakukan. Siklon tropis Cempaka yang terjadi di sebelah selatan Jawa Tengah berdampak pada pola cuaca di sekitar lintasannya. Hujan lebat terjadi di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pembicara menyebutkan bahwa peringatan dini telah diberikan sejak 25 November 2017 oleh BMKG pusat terkait 2 potensi siklon. BMKG menggandeng berbagai media antara berhadap peringatan dini tersebut dapat dijadikan acuan masyarakat untuk siap siaga dalam menghadapi dampak siklon yang berupa banjir, tanah longsor, banjir bandang, dan lain-lain. Bencana tersebut membuat aktivitas masyarakat terhentime dan menimbulkan kerugian moril dan materil. Pada kesempatan ini juga dijelaskan penanganan dampak siklon di berbagai daerah di Yogyakarta. Lemahnya sistem peringatan dini terkait cuaca ekstrim, pengenalan resiko, analisis wilayah yang mengalami dampaknya serta penyampaian informasi merupakan pembelajaran yang diperoleh dari kejadian ini. Informasi selengkapnya Klik Disini

 

Fenomena Korban Lansia Pada Kejadian Bencana di Dunia

korban bencana

korban bencanaLansia merupakan salah satu kelompok rentan pada saat bencana terjadi. kerentanan kelompok ini diakibatkan oleh keterbatasan fisik maupun mental yang dialami. Masalah pendengaran, mobilitas fisik, penglihatan maupun daya ingat mempengaruhi tingkat survival saat bencana atau peristiwa kegawatdaruratan terjadi. Walaupun pada keadaan normal keterbatasan yang dialami dapat ditoleransi, hal tersebut sangat berpengaruh saat bencana terjadi. Keterbatasan tersebut membuat lansia kesulitan untuk bergerak lebih cepat atau meninggalkan rumah mereka pada saat kejadian bencana, khususnya pada bencana alam. Keadaan ini lebih buruk lagi pada lansia yang tinggal sendiri, lansia yang tinggal di fasilitas perawatan dapat memperoleh pertolongan jauh lebih mudah.

Kejadian kebakaran di California menjadi salah satu contoh akibat kerentanan lansia. Berdasarkan laporan yang diperoleh, umur rata-rata korban adalah 79 tahun. Pada kejadian badai Katrina jumlah kelompok lansia yang meninggal lebih banyak dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, begitu pula dengan badai Sandy dengan umur meninggal terbanyak adalah 65 tahun. Fenomena ini terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti tsunami di Jepang maupun badai di Filipina. Tercatat 65% korban tsunami Jepang dan sepertiga korban di badai Filipina merupakan lansia. Peran keluarga dan pemerintah dalam membuat perencanaan untuk pelaksanaan evakuasi pada saat bencana terjadi. pendataan teerkait jumlah maupun keterbatasan lansia menjadi salah satu solusi penting yang dapat dipilih oleh pemerintah maupun pihak terkait. Informasi selengkapnya Klik Disini

Progress Pemerintah Amerika Serikat dalam Penanganan Kesehatan dan Bencana 2017

trust in federal

 trust in federalSurvey tingkat nasional yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 29 November- 4 Desember 2017 ini dapat memberikan gambaran menyeluruh terkait pandangan publik terhadap pemerintah dalam menghadapi berbagai permasalahan. Terdapat 12 isu yang diangkat terkait masalah publik. Kepercayaan publik terhadap Pemerintah Amerika Serikat tinggi pada 1950-an dan 1960-an. Penurunan pesat terjadi sejak 1970-an, selama perang Vietnam. Berdasarkan hasil survey, positive rating publik terhadap pemerintah pada aspek akses ke pelayanan kesehatan menurun 20% dari 56% menjadi 36%. Pada periode yang sama presentase kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga lingkungan dan merespon bencana alam menurun hingga 15%.

Pada masa pemerintahan Barack Obama, hasil survey yang dilakukan 2 tahun lalu menunjukkan hal yang positif baik pada publik, baik kelompok demokrat maupun republik. Hasil survey terbaru pada pemerintahan Donald Trump republik lebih memberikan evaluasi yang positif dibandingkan dengan demokrat. Namun teerdapat persamaan aspirasi yang terlihat pada topik sistem imigran. Kedua kelompok baik republik maupun demokrat berharap permasalahan terkait dengan sistem imigran dapat memperoleh solusi terbaik. Informasi selengkapnya Klik Disini