Pengurangan Risiko Bencana

Yth. Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali kita dapat bertemu kembali pada minggu pertama bulan September ini. Tidak terasa kita sudah memasuki catur wulan keempat tahun 2014 ini. Sayangnya, negara kita sering dilanda bencana di penghujung tahun seperti ini, baik itu karena pergantian musim atau pun akibat dampak perubahan iklim dunia. 

Tahun ini adalah tahun kesepuluh kita akan memperingati kejadian bencana besar Tsunami yang melanda Aceh dan negara di sekitar Indonesia. Pembaca sekalian, apa yang telah kita pelajari dari kejadian bencana besar ini? Sudahkah kita menyusun langkah untuk kesiapsiagaan yang lebih baik di masa yang akan datang? Simak, pengalaman Fakultas Kedokteran UGM dalam membantu bencana Tsunami Aceh di sektor kesehatan selama 4 tahun, silakan klik-disini

Pembaca, melihat perkembangan berita tanah air, saat ini sudah dapat kita rasakan adanya kewaspadaan dari pemerintah daerah untuk menghadapi bencana. Menghadapi musim penghujan, Pemerintah Bogor dan Pemerintah Sumatera Utara telah menghimbau warga dan jajarannya untuk melakukan kesiapsiagaan. Begitu juga yang dilakukan oleh BPBD Gunungkidul, DIY yang menggelar pelatihan bencana bagi masyarakat pekan lalu. Kesiapsiagaan dan pelatihan yang rutin akan membuat respon kegawatdarutan menjadi lebih baik.

Pembaca, upaya meningkatkan ketahanan wilayah terhadap bencana tidak dapat terbangun oleh masyarakat dan pemerintah jika tidak melibatkan pihak swasta juga di dalamnya. Marilah kita simak bagaimana upaya Asia dalam menjalin kerjasama dengan pihak swasta dalam program pengurangan risiko bencana. Silakan klik-disini

Skenario Terburuk Musim Kemarau

Skenario Terburuk Musim Kemarau

Pembaca, di pertengahan tahun ini, kita mulai memasuki musim kemarau. Dibeberapa wilayah Indonesia (Jawa dan Sumatera) sudah mulai merasakan dampaknya dan bersiap untuk menghadapi skenario kemarau yang terburuk. Kemarau akan berdampak pada hasil produksi pangan dan ketersediaan air bersih. Namun dengan persiapan yang baik, bencana kelaparan di Sudan seperti yang dilaporkan PBB tidak akan terjadi. Silakan klik-disini  untuk menyimak selengkapnya. Di sektor kesehatan, kesiapsiagaan wabah penyakit akibat kemarau sudah harus mulai diantisipasi baik dengan persiapan sarana prasarana higien masyarakat ataupun dengan promosi kesehatan.

Buletin BNPB Juli 2014: Mengulas Tanah Longsor dan Banjir

Pembaca yang terhormat, simak juga laporan kejadian bencana selama Juli 2014 yang terangkum dalam buletin bulanan BNPB, silakan klik-disini. Kejadian bencana bulan ini diwarnai oleh dua bencana besar yakni Tanah Longsor dan Banjir.

Health and Disaster Risk

healthSelamat bertemu kembali pembaca website bencana. Minggu ini kita bersemangat karena akan menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Pembaca, pada pengantar minggu lalu kita telah menyimak buku pengalaman Jepang dalam menghadapi megadisaster gempa bumi tahun 2011. Selain itu, kita telah menyimak policy brief dari partner for resilience untuk kerangka pengurangan resiko bencana setelah 2015. Pembaca sekalian masih dapat menyimak pengantar minggu lalu pada halaman website ini.

Minggu ini, kita mendapatkan data lengkap mengenai data kecelakaan lalu lintas mudik tahun 2014. Angka kecelakaan mencapai 3000 lebih dengan dominasi kecelakaan dari sepeda motor. Jumlah kecelakaan ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Selengkapnya silakanklik-disini

Pembaca, berikut ini adalah analisis dan rekomendari dari United Nation pada Third World Conference on Disaster Risk Reduction (WCDRR) mengenai risiko bencana di sektor kesehatan. Catatan rekomendasi sebanyak tujuh halaman ini ditujukan untuk penyusunan kerangka pengurangan risiko bencana pasca Hyogo Framework berakhir. Selengkapnya silakan klik-disini

Policy Brief minggu ini berasal dari kelompok kerja terbuka untuk Sustainable Development Goals (SDGs) untuk memberikan gambaran-gambaran kasus bencana yang terjadi selama ini dan merekomendasikannya untuk masuk dalam agenda SDG’s mendatang. Selengkapnya silakan klik-disini

Pembaca website bencana, dalam penanggulangan bencana kita memang membutuhkan partisipasi dari semua sektor, seperti yang dilakukan oleh komunitas IT berikut ini. Silakan simak berita lengkapnya, klik-disini

Selamat Hari Kemanusiaan Sedunia

klik-disini

Selamat Hari Kemanusiaan Sedunia

Selamat berjumpa kembali pembaca website bencana kesehatan. 19 Agustus 2014 kemarin kita telah memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia atau akrab dikenal dengan World Humanitarian Day. Begitu banyak kejadian bencana dan konflik yang berdampak pada kemanusiaan, antara lain konflik di Palestina, Myanmar, Afrika Tengah hingga kelaparan di Sudan. Pembaca dapat menyimak profil dan keadaan negara-negara tersebut pada link berikut, Silakan klik-disini

Perubahan Iklim dan Manajemennya di Sektor Kesehatan

Berbicara mengenai perubahan iklim, tentu negara tropis seperti Indonesia sangat merasakan dampaknya. Bisa kita simak pada pemberitaan minggu ini, beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa timur sedang mengalami musim kemarau dan mempersiapkan diri menghadapi masa kering. Sementara, daerah lain sedang mengalami musim penghujan dan mempersiapkan diri menghadapi bencana banjir yang mungkin terjadi, misalnya di Bogor. Penanganan bencana sektor kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim sudah tidak bisa lagi hanya fokus pada masa respon, tetapi sudah harus berjaga mulai di masa kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi. Pencatatan pola penyakit yang terkait dengan bencana sudah mulai harus diperbaiki dan dapat dijadikan pola epidemiologi dalam menyususn rencana kontigensi bencana di sektor kesehatan. Pembaca minggu ini kita akan menyimak sebuah artikel menarik berjudul Managing the Health Effects of Climate Change yang diterbitkan oleh Lancet and University College London Institute for Global Health Commission, selengkapnya silakan klik-disini

Belajar dari Pengalaman Tsunami Aceh

buku-acehPembaca website bencana, di tahun 2014 ini, masih ingatkah kita pada kejadian mega bencana yang terjadi di ujung barat Indonesia tahun 2014 lalu? Tsunami Aceh memang menjadi penutup tahun 2004 yang sulit kita lupakan. Sudah10 tahun berlalu, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil, bagaimana perbaikan manajemen bencana ke depannya hingga kisah haru pertemuan keluarga yang terpisah akibat bencana tsunami Aceh. FK UGM telah menerbitkan buku mengenai pengalaman dalam membantu bencana tsunami Aceh. Silakan bagi pembaca untuk mendownload buku “Tiga Tahun Kegiatan RS. Dr. Sardjito di Aceh” di  kanan website bencana kesehatan. Selamat membaca!.

Health and Disaster Risk

health

Health and Disaster Risk

healthSelamat bertemu kembali pembaca website bencana. Minggu ini kita bersemangat karena akan menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Pembaca, pada pengantar minggu lalu kita telah menyimak buku pengalaman Jepang dalam menghadapi megadisaster gempa bumi tahun 2011. Selain itu, kita telah menyimak policy brief dari partner for resilience untuk kerangka pengurangan resiko bencana setelah 2015. Pembaca sekalian masih dapat menyimak pengantar minggu lalu pada halaman website ini.

Minggu ini, kita mendapatkan data lengkap mengenai data kecelakaan lalu lintas mudik tahun 2014. Angka kecelakaan mencapai 3000 lebih dengan dominasi kecelakaan dari sepeda motor. Jumlah kecelakaan ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Selengkapnya silakanklik-disini

Pembaca, berikut ini adalah analisis dan rekomendari dari United Nation pada Third World Conference on Disaster Risk Reduction (WCDRR) mengenai risiko bencana di sektor kesehatan. Catatan rekomendasi sebanyak tujuh halaman ini ditujukan untuk penyusunan kerangka pengurangan risiko bencana pasca Hyogo Framework berakhir. Selengkapnya silakan klik-disini

Policy Brief minggu ini berasal dari kelompok kerja terbuka untuk Sustainable Development Goals (SDGs) untuk memberikan gambaran-gambaran kasus bencana yang terjadi selama ini dan merekomendasikannya untuk masuk dalam agenda SDG’s mendatang. Selengkapnya silakan klik-disini

Pembaca website bencana, dalam penanggulangan bencana kita memang membutuhkan partisipasi dari semua sektor, seperti yang dilakukan oleh komunitas IT berikut ini. Silakan simak berita lengkapnya, klik-disini

Learning from Megadisaster

mega-disasterPembaca, menjelang dan selepas lebaran merupakan arus mudik yang rawan terjadi kecelakaan di jalan raya. Minggu ini, telah dilaporkan lebih dari 2000 kecelakaan terjadi diberbagai kawasan di Indonesia dengan korban jiwa mencapai lebih dari 400 jiwa. Kejadian ini memang belum bisa dikatakan bencana tetapi menuntut perhatian kita untuk dapat melakukan perjalanan yang aman. Berikut ini The National Preparedness Community memberikan tips perjalanan yang aman jika tiba-tiba terjadi bencana. Silakan klik-disini

Pembaca, minggu lalu kita telah menyimak buku atlas kerugian dan dampak bencana pada kemanusiaan dan ekonomi. Buku ini harapannya dapat menjadi dasar pertimbangan pentingnya melakukan perencaan penanggulangan bencana bagi setiap daerah. Minggu ini, kembali kita menyimak sebuah buku yang dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan rencana penanggulangan bencana.

Buku ini berisikan pelajaran dan pengalaman Jepang dalam menghadapi megadisaster tahun 2011 lalu berjudul learning from Megadisaster: Lessons from the Great East Japan Earthquake. Manajemen risiko bencana dilihat dari 7 aspek , yaitu strukrural, non struktural, respon gawat darurat, perencanaan rekonstruksi, bahaya dan risiko informasi serta pembuatan kebijakan, risiko ekonomi dampak bencana, dan pemulihan. Selengkapnyaklik-disini

Hyogo Framework for Action (HFA) akan berakhir di 2014 ini. Bagaimana proses dan pelajaran yang diberikan framework dalam kesepakatan ini menjadi masukan untuk menyusun rencana pengurangan risiko bencana ke depannya. Melalui Partner for Resilience maka disusunlah Policy Brief dengan judul Policy Brief for Post 2015 Framework for Disaster Risk Reduction: Key Messages on Building Resilient Communities. Selengkapnya klik-disini

Pembaca juga dapat menyimak hasil Preparatory Committee dari The Third UN World Conferenceon on Disaster Risk Reduction, 14-15 July 2014. Selengkapnya dapat disimak klik-disini. Pertemuan dan diskusi akan terus dilakukan hingga Maret 2015 mendatang di Jepang untuk menyambut UN World Conference on Disaster Risk Reduction, 14-18 March 2015, Sendai, Japan.

DASAR PERTIMBANGAN PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA

renstra-bencana

renstra-bencana

Kebijakan kesiapsiagaan bencana memang tidak sehangat kebijakan untuk masa tanggap darurat bencana atau pun rehabilitasi. Fokus penanggulangan bencana masih terarah pada masa tanggap darurat. Begitu juga penanggulangan bencana di sektor kesehatan. Namun, mengingat kekacauan yang terjadi pada masa bencana dapat saja melumpuhkan sistem maka penyusunan rencana penanggulangan bencana mau tidak mau harus menjadi wawasan di semua sektor.

Tantangan dalam penyusunan rencana kesiapsiagaan penanggulangan bencana selama ini memang dipengaruhi beberapa faktor, antara lain ketidakpastian suatu kejadian akan terjadi, biaya koordinasi dan pelatihan yang besar tetapi bencana belum tentu terjadi, kesulitan dalam mengukur implementasi upaya peningkatan ketahan masyarakat dibanding dengan pembangunan gedung dan insprastruktur, dan lainnya. Namun, pemerintah dan masyarakat baru menyadari kerugian bencana yang begitu besar ketika bencana benar-benar terjadi. Data-data masa respond an rehabilitasi pun masih sedikit yang tercatat dengan baik, padahal data ini menjadi dasar untuk penyusunan rencana penanggulangan bencana ke depannya.

Minggu ini, pembaca dapat menyimak sebuah handout yang memaparkan mengenai besaran data kematian dan kerugian ekonomi akibat bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim dan hidrometeorologi di berbagai belahan dunia. Handout yang dipublikasikan oleh World Meteorology Organization ini berjudul Atlas of Mortality and Economic Losses from Weather Climate and Water Extremes (1970-2012) Klik Disini ini semoga dapat menjadi dasar dan bukti perlunya penyusunan rencana penanggulangan bencana karena memang dampak yang ditimbulkan begitu besar, baik secara kemanusiaan, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Menarik, handout ini juga memaparkan metodologi yang digunakan para pakar dalam perhitungan kerugiannya baik secara ekonomi dan kesehatan masyarakatnya.klik-disini

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana

klik-disini

Banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Indonesia dapat menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berharga bagi masyarakat Indonesia, bahkan ilmuan dari luar negeri untuk mempelajari bencana. Upaya penanggulangan bencana memerlukan diskusi lintas ilmu sehingga terbentuk rekomendasi dan intervensi yang menyeluruh demi keselamatan masyarakat disekitar daerah bencana.

Sebuah pelatihan internasional mengenai pengurangan risiko bencana (Disaster Risk Reduction Training) oleh tiga universitas (UGM, UII, dan Universitas Hawai Manoa) bekerjasama dengan USAID telah di laksanakan Senin hingga Jumat, 23 – 27 Juni 2014 di Universitas Gadjah Mada. Pelatihan ini mengusung tema Learning from Disaster: Perspective from the US and Indonesia. Menarik, pelatihan ini bertujuan untuk memfasilitasi diskusi dan pertukaran pengalaman dalam penanggulangan dan pengurangan risiko bencana dari masing-masing negara, US dan Indonesia. Pembicara tidak saja berasal dari Universitas tetapi juga melibatkan Instansi pemerintah (BNPB, BPBD, dan BPPT). Begitupun dengan beragam peserta pelatihan yang diundang berasal dari BPBD, Kepolisian, organisasi masyarakat, berbagai fakultas dari universitas baik dalam dan luar jogja, dan penggiat kebencanaan lainnya. Harapannya, setelah kegiatan pelatihan ini maka hubungan kerjasama, pemerintah, dan penggiat bencana dapat bekerjasama lebih baik dalam melakukan penanggulangan bencana di daerah masing-masing.

Terkait dengan pelatihan pengurangan risiko bencana maka perlu kita simak sebuah artikel yang membahas mengenai upaya mitigasi bencana. Menariknya artikel ini mencoba memetakan bahaya dan risiko bencana perkotaan dan upaya menyusun tindakan mitigasinya. Simak artikel yang berjudul Urban Mitigation Hazard: Creating Resilient City klik-disini

Mempersiapkan Pengembangan Regional Disaster Plan

Mempersiapkan Pengembangan Regional Disaster Plan

Pembaca sekalian, beberapa minggu ini kita membahas mengenai pengembangan kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana atau kita kenal dengan Regional Disaster Plan. Sudah kita bahas pada pengantar minggu lalu juga mengenai istilah Regional Disaster Plan ini. Menarik, jika pembaca sudah menyimak dokumentasi dan reportase dari seminar Regional Disaster Plan dan Safety Awareness pada relawan bencana yang diselenggarakan oleh Pokja Bencana FK UGM minggu lalu bahwa ada beberapa hal yang harus diperjelas terlebih dahulu sebelum diimplementasikan. Silakan klik-disini bagi pembaca yang belum menyimak reportase kegiatan.

Beberapa hal yang harus kita kaji diantaranya mengenai kebijakan, definisi bencana, dan alur koordinasinya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana selama ini ternyata tidak memiliki wewenang dalam memerintah BPBD selaku pelaksana penanggulangan bencana di daerah. BPBD merupakan badan di daerah yang langsung dibawahi oleh kepala daerah. Ikatan antara BNPB dan BPBD selama ini hanya “emosional” dalam artian sama-sama mengurusi mengenai bencana. Simak materi lengkapnya oleh Ir. Sugeng Triutomo, DESS selaku Senior Advisor BNPB, silakan klik-disini

Mengenai definisi bencana, selama ini kita berpegang pada Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 dimana asal ada korban jiwa dan kerugian harta bendan maka itu dikatakan bencana. Definisi ini berbeda dengan bencana bagi UNSDR bahwa dikatakan bencana hanya ketika suatu wilayah tersebut tidak sanggup menanganinya dan meminta bantuan dari luar. Menanggapi hal ini, kami hadirkan artikel menarik mengenai konsep-konsep yang selama ini keliru dalam penanggulangan bencana. Artikel ini ditulis oleh Erik Auf der Heide dengan judul Common Misconceptions about Disaster, silakan klik-disini

Pembaca website bencana, pengembangan Regional Disaster Plan memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pelaksana kebijakan berikut sektor swasta dan masyarakat. Minggu ini ada dua artikel menarik mengenai pengembangan regional disaster plan yang diambil dari pembelajaran pascabencana serangan gas sarin di Jepang. Artikel ini mencoba kembali memetakan kebutuhan apa? Hubungan seperti apa yang harus terbangun antar isntansi pemerintah dalam penanggulangan bencana? dan apa yang harus menjadi kerangka kerja menghadapi bencana? The Tokyo Subway sarin Attack: Disaster Management Part 1: Community Emergency Response, silakan klik-disini

Siaga Bencana untuk Anak-Anak

siaga-bencana-anak

siaga-bencana-anakAnak-anak merupakan salah satu kelompok rentan yang harus diprioritaskan dalam penanganan bencana. Bayangkan bahwa ada rentang waktu tertentu dimana anak terlepas dari pengawasan orang tuanya, pada jam sekolah misalnya. Di waktu-waktu inilah dituntut kemandirian anak untuk mampu menyelamatkan dirinya pada saat terjadi bencana. Menyadari hal ini, Pokja Bencana pada 10 Mei 2014 lalu berkesempatan memberikan pengabdian dengan mengajarkan materi mengenai kejadian bencana pada anak kelas 1 Sekolah Dasar Lempuyangwangi, Yogyakarta. Rata-rata siswa sudah mengenal berbagai macam kejadian bencana terutama yang kerap terjadi di Yogyakarta, hanya disayangkan bahwa siswa kurang mengetahui cara-cara penyelamatan diri pada saat terjadi bencana. Materi mengenai bencana sudah masuk pada kurikulum tahun 2013 dan saat ini sedang diujicobakan pada beberapa SD terpilih.

Pembaca website, di minggu ini kami menyajikan beberapa artikel yang mengkaji tentang pembelajaran bencana pada anak-anak, berserta tantangan dan studi kasusnya. Pertama, Buku saku yang berjudul Adolescent in Emergenciesklik-disini

Buku yang berasal dari Workshop Regional di Asia Pacific mengenai Adolescent in Emergency ini membahas empat hal penting, seperti What is an emergency and its related with adolescent, impact and vulnerabilities, promising approaches, and programming frameworks. Juga sebuah artikel dari International Journal of Emergency Management yang berjudul Towards Resilient Communities in Developing Countries through Education of Children for Disaster Preparedness klik-disini

i. Artikel ini akan membawa pembaca alternatif pembelajaran bencana pada anak, bagaimana pembelajaran bencana terutama mengenai gempa bumi dapat diterima anak sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran yang menyenangkan tetapi mampu meningkatkan kesadaran mereka untuk dapat meningkatkan ketahanan atau keselamatan mereka. Pembaca dapat mengetahui tren kejadian bencana beberapa bulan ini dari bulletin bencana yang diterbitkan BNPB Berikut, Buletin Bencana Bulan April klik-disini

Regulasi Internasional dalam Bencana kaitannya dengan penyusunan Regional Disaster Plan

regulasi

Regulasi Internasional dalam Bencana kaitannya dengan penyusunan Regional Disaster Plan

regulasiPembaca website bencana kesehatan, dua minggu lalu kita telah membicarakan mengenai persiapan menyusun Regional Disaster Plan. Minggu ini kita akan melanjutkanya dengan membahas mengenai peraturan jika bencana terjadi diantara dua wilayah atau bahkan bencana internasional dan bagaimana kaitannya dengan Regional Disaster Plan. Menarik untuk membahas hal ini, sebab banyak bencana yang melanda suatu negara dan berdampak pada negara tetangga, misalnya kabut asap yang terjadi di Indonesia berdampak bagi Singapura dan Malaysia, bencana Tsunami yang terjadi disepanjang pantai mulai dari Jepang hingga Indonesia, bencana topan Hayyan di Filifina, begitu juga dengan dampak global akibat perubahan iklim.

Pembahasan mengenai regulasi internasional dalam bencana dapat dikatakan masih baru dalam regulasi internasional lainnya. Internasional Palang Merah mencoba menjelaskannya dalam artikel berikut ini, apa dan bagaimana lingkup pembahasan mengenai regulasi internasional dalam bencana, What is the scope of international disaster response law? Silakan klik-disini. Menarik juga untuk lebih mendalami pembelajaran mengenai pengembangan regulasi bencana internasional dalam konteks di Afrika Selatan, International disaster response law in a Southern Africa context, Silakanklik-disini
Regulasi internasional mengenai bencana jelas tidak bisa berdiri sendiri. Regulasi ini mutlak bersinggungan dengan regulasi internasional lainnya. Pada pengantar minggu depan kita akan melanjutkan bahasan ini dengan membahas bagaimana kaitannya regulasi bencana dengan regulasi internasional lainnya, misalnya regulasi kesehatan dan kependudukan. Bagi pembaca yang ingin lebih memahami mengenai regulasi bencana internasional bisa mengikuti Kursus yang diselenggarakan oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies pada 28 April hingga 2 Mei mendatang, informasi lengkap silakan klik-disini

Dimulai dari mana untuk mengembangkan Regional Disaster Plan?

Pembaca website bencana kesehatan, bagaimana tanggapan pembaca mengenai definisi dari regional disaster plan pada pengantar minggu lalu? Banyak yang masih menjadi pekerjaan kita bersama. Regional Disaster Plan bisa kita mulai dengan memperjelas makna regional terlebih dahulu. Meski bencana tidak mengenal batas wilayah, tetapi kebijakan di Indonesia dalam regional disaster plan sebenarnya sudah tergambar dengan diwajibkannya seluruh provinsi di Indonesia memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang disusul kemudian oleh kabupaten dan kota di Indonesia. Artinya yang dimaksud dengan regional bisa saja disebut satu daerah, misalnya satu provinsi, kabupaten, atau kota. Terkait hal ini, menarik jika pembaca juga membaca handbook berikut ini, Regional Disaster Resilience: A Guide for Developing an Action Plan klik-disini

Adanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan berperan sebagai komandan pada saat bencana sedangkan pada masa tenang, BPBD menjalankan perannya sebagai penggerak penyusunan rencana penanganan bencana dan sebagai pendamping masyarakat untuk menjadi tangguh menghadapi bencana. BPBD, pada masa tenang bencana, berupaya menjalin jejaring dan kerjasama antar instansi pemerintah dan masyarakat dalam penanganan bencana. Dengan ini, artinya langkah kedua dalam pengembangan regional disaster plan adalah membangun jejaring. Mengenai jejaring dalam pengembangan regional disaster plan akan kita bahas pada minggu-mimggu berikutnya. Sebagai permulaan, silakan simak artikel menarik berikut ini, The Network Governance of Crisis Response: case Studies of Incident Command Systemsklik-disini

Berkaitan dengan pengantar minggu lalu, kita telah menunjukkan artikel mengenai pengalaman Jepang dalam membangun Regional Disaster Plan berdasarkan pembelajaran dari serangan gas sarin di Tokyo subway, minggu ini kita lanjutkan dengan artikel bagian keduanya, berjudul The Tokyo Subway Sarin Attack: Disaster Management, Part 2: Hospital Response. Silakan  Menarik memang membahas mengenai hospital response pada saat bencana karena rumah sakit juga merupakan bagian dari perencanaan regional disaster plan. Barangkali, pada pengantar-pengantar selanjutnya kita akan lebih mengupas mengenai Hospital Disaster Plan. Tentunya setelah kita rasa cukup untuk memahami mengenai Regional Disaster Plan klik-disini