Bencana Asap di Riau dan Pengembangan Regional Disaster Plan

asm-14

Bencana Asap di Riau dan Pengembangan Regional Disaster Plan

asm-14

Bencana asap di Riau telah berlangsung lebih dari dua bulan. Pakar kesehatan menyatakan udara di Riau tidak baik untuk kesehatan. Dinas Kesehatan merilis berita tingginya kenaikan kasus ISPA dalam dua bulan ini. Di lain sisi, penanganan pemerintah Riau dirasakan lambat sehingga menyebabkan masyarakat terkepung asap. Instruksi Presiden untuk melakukan tindakan gawat darurat asap di Riau langsung ditindaklanjuti oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jajaran penanggulangan bencana di daerah untuk melakukan tindakan pemadaman maupun mencari oknum yang diduga sebagai pembakar hutan dan ladang.

Yogyakarta (Jumat,14/03/14) Pokja Bencana bekerjasama dengan PKMK FK UGM mengadakan seminar Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan dan Safety Awareness pada Relawan Bencana. Peserta hadir dari berbagai instansi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Rumah Sakit, Magister Bencana, Dinas Kesehatan, dan pemerintah daerah. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari BNPB, BPBD DIY, PKMK, PMI, dan Organisasi kemanusiaan seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU).

Pengembangan Regional Disaster Plan perlu mendapat perhatian lebih, seperti salah satu hasil diskusi pada seminar ini. Kata “Regional” perlu dipertegas, apakah penanggulangan bencana berdasarkan wilayah daerah, kewenanganan, atau luas wilayah yang dikenai dampak bencana?. Kasus asap di Riau misalnya. Riau adalah daerah penyebab bencana asap tetapi dampaknya dirasakan oleh provinsi sekitarnya. Dengan ini, diharapkan ke depannya kesiapsiagaan bencana daerah juga harus mempertimbangkan kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh risiko bencana yang berada di daerah lain dan sekitarnya. Pengembangan Regional Disaster Plan harus kita cermati bersama lagi. Bapak/Ibu pembaca website bencana bisa menyimak dokumentasi, mengunduh materi, dan membaca reportase pada link berikut klik-disini. Sedangkan untuk membaca press release kegiatan ini silakan klik-disini

Tetap Siaga Walau Bencana Sudah Tertangani

siaga-bencana

Tetap Siaga Walau Bencana Sudah Tertangani

siaga-bencanaLetusan gunung api Kelud telah berlalu lebih dari sepekan. Daerah-Daerah yang menyatakan status tanggap darurat dampak abu vulkanik sudah menurunkan statusnya. Guyuran hujan bahkan mempercepat berhentinya status tanggap darurat di beberapa wilayah. Namun, daerah-daerah di Pulau Jawa sepertinya masih dituntut untuk siap siaga yang ditandai dengan peningkatan aktivitas vulkanik di beberapa gunung api lainnya.

Letusan Gunung Api Kelud memberikan pelajaran tersendiri, baik dari sisi kesiapsiagaan, penanganan pengungsi, koordinasi pada saat bencana, ataupun prediksi dampak bencana. Pemerintah daerah memperlihatkan kesiapsiagaan mereka jauh sebelum gunung api kelud meletus dan ini terbukti dengan tidak adanya korban pada saat Kelud meletus. Begitu pula dengan koordinasi yang diperlihatkan beberapa daerah di sekitar gunung api Kelud, bahkan upaya pembersihan abu vulkanik terlaksana lebih cepat dari perkiraan.

Namun, ada yang luput dari perkiraan, yakni prediksi abu Kelud akan mencapai ratusan kilometer hingga ke Jawa Barat. Hal ini menjadi alarm bagi seluruh wilayah, untuk terus mensiagakan diri dan menyusun rencana kesiapsiagaan dampak bencana. Artinya, ancaman bencana di suatu daerah juga harus menjadi kesiapsiagaan daerah lainnya untuk menyusun rencana kesiapsiagaan jika terjadi dampak bencana tersebut.

Minggu lalu kita telah menampilkan artikel mengenai manajemen respon bencana dan kolaborasi. Artikel minggu kembali seperti pada dua minggu sebelumnya mengenai kesiapsiagaan. Artikel pertama mengenai pengenalan kesiapsiagaan bencana yang dikembangkan oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies berjudul Introduction to Disaster Preparedness klik-disini. Artikel kedua mengenai ukuran kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang berjudul The Readiness Estimate and Deployability Index A Self-assessment Tool for Emergency Center RNs in Preparation for Disaster care klik-disini

Dampak Erupsi Kelud: Tanggap Darurat Seminggu di DIY

kelud-abu-vulkanik

Dampak Erupsi Kelud: Tanggap Darurat Seminggu di DIY

kelud-abu-vulkanik

Website bencana telah mengulas mengenai kesiapsiagaan bencana terkait peningkatan status Gunung Api Kelud tiga minggu lalu. Akhirnya, Gunung Api Kelud benar meletus pada Kamis Malam (13/02/14) lalu. Letusan Gunung Api Kelud menjadi evaluasi tersendiri bagi kesiapsiagaan pemerintah daerah, terutama tiga kabupaten terdekat, Malang, Blitar, dan Kediri.

Letusan Gunung Api Kelud setinggi 17 Km menyebabkan banyak daerah sebelah barat mengalami dampak hujan abu. Abu kelud menyebar tidak hanya di Jawa Timur, tetapi Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga sebagian daerah Jawa Barat.

Yogyakarta turut merasakan dampaknya dimana hujan abu menutupi seluruh wilayah DIY bahkan Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul dengan ketebalan mencapai 1 cm. Menanggapi hal tersebut, sejak Jumat (14/02/14) DIY telah menetapkan status tanggap darurat dampak abu vulkanik melalui SK Gubernur nomor 27/kep/2014 tentang pemberlakukan status tanggap darurat abu vulkanik kelud selama seminggu (14-20/02/14).

Surat keputusan ini langsung disosialisasikan, sebagai tanggapannya FK UGM melalui Pokja Bencana melakukan beberapa rekomendasi terutama untuk wilayah Fakultas Kedokteran seperti pembersihan abu vulkanik hingga minggu (16/02/14) serta pembagian masker gratis di wilayah sekitar FK dan civitas akademik FK, termasuk RS sardjito dan RS Akademik. Mahasiswa akan dikerahkan juga untuk membantu pembagian masker untuk masyarakat.

Berdasarkan Surat Edaran Rektor UGM, diberitahukan bahwa kegiatan kampus kan dilaksanakan mulai selasa (18/02/14). Namun, pada Senin (17/02/14) diharapkan civitas akademik dan mahasiswa dapat membantu pembersihan lingkungan kampus UGM.

Pembaca sekalian, kami akan terus menginformasikan kegiatan tanggap darurat dampak abu Kelud di lingkungan FK UGM, UGM, dan DIY baik melalui pengantar, hot news, maupun berita pada website bencana kesehatan. Minggu ini ada artikel yang dapat kita simak bersama mengenai dampak abu vulkanik dan kolaborasi pemerintah dalam tanggap darurat bencana.

  • The respiratory health hazards of volcanic ash: a review for volcanic risk mitigation klik-disini
  • The network governance of crisis response: case studies of incident command systems klik-disini
  • Collaboration and leadership for effective emergency management klik-disini

Kesiapan dan Koordinasi Pemerintah Terhadap Kemungkinan Erupsi Kelud

merapi

Kesiapan dan Koordinasi Pemerintah Terhadap Kemungkinan Erupsi Kelud

merapiIntensitas bencana yang terjadi di Indonesia tahun ini sepertinya akan terus meningkat. Mengingat kemungkinan bertambahnya kejadian bencana ini, masyarakat dan pemerintah tidak perlu menanggapinya dengan ketakutan, melainkan dengan keberanian dan upaya mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Masih ingat dengan perkalian risiko bencana? Risiko adalah perkalian antara bahaya (hazard) dengan kerentanan (vulnerability) dibagi kemampuan (capacity). Artinya dengan upaya meningkatkan kemampuan maka risiko akan semakin kecil, apalagi dengan upaya memperkecil kerentanan.

Sama halnya dengan upaya yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi ancaman letusan Gunung Kelud. Tidak ingin berdiam diri dan pasrah bahwa kemungkinan letusan Gunung Kelud akan lebih besar dari Gunung Sinabung, maka status waspada ditingkatkan menjadi siaga, pemerintah daerah terus melakukan koordinasi. Lintas wilayah di putaran Gunung Kelud telah melakukan koordinasi dan memperkirakan beberapa skenario penanggulangan bencana jika tiba-tiba Gunung Kelud meletus. Bahkan telah dilakukan upaya perisiapan pelayanan kesehatan, dimana untuk daerah di sekitar kawasan terdampak langsung 12-20 puskesmas telah disiapkan sebagai lini pertama pelayanan kesehatan pengungsi.

Bencana alam memang tidak dapat dicegah kemunculannya, tetapi upaya menghadapinya tergantung kesiapan kita. Masyarakat dan pemerintah lokal ialah pihak yang benar-benar mengetahui wilayah tersebut yang mampu memetakan kerawanan hingga menyusun strategi penyelamatan diri sehingga setidaknya tidak ada korban jiwa dalam sebuah bencana.
Beberapa minggu ke depan, kita akan terus membahas mengenai kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan koordinasi dalam penanggulangan bencana. Untuk minggu ini, ada dua artikel menarik yang bisa pembaca simak mengenai manajemen ketidakpastian dan risiko:
– Crisis and emergency risk communication as an integrative model klik-disini
– Learning under uncertainty: networks in crisis management klik-disini

Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah

bencana

Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah

bencanaMinggu lalu kita telah membahas mengenai kerugian bencana dari sisi ekonomi. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa dampak bencana alam dan perubahan iklim berdampak pada  semua sektor. Maka, kita perlu melakukan perencanaan dan penanggulangan bersama. Awal minggu ini kita dikejutkan dengan berita terkait meningkatnya 19 status gunung api di beberapa tempat, padahal bencana hidrometeorologi masih terus terjadi. Tiga gunung api diantaranya malah berstatus siaga dan menimbulkan korban seperti Gunung Sinabung.

Di lain sisi, kegagapan penanggulangan bencana ternyata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat melainkan juga terlihat pada pemerintah. Contohnya seperti penanganan relawan yang menjadi korban di Gunung Sinabung sampai terlambatnya pencairan dana bencana di Kabupaten Kudus. Keterlambatan ini disebabkan oleh pemerintah lebih terfokus pada penanganan korban sehingga lupa untuk menerbitkan surat keputusan tanggap darurat. Jika pemerintah siap sebelumnya, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. Baca selengkapnya klik-disini

Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?

Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?

Menarik menyimak pendapat budayawan mengenai banjir Jakarta pada salah satu stasiun televisi pada Senin (27/01/14), “Nama-nama daerah di Jakarta sebenarnya menunjukkan gambaran alam sekitarnya, seperti Rawamangun dan lainnya. Jadi sebenarnya nenek moyang sudah mengajarkan kepada kita untuk hidup selaras dengan alam bukan menaklukkan alam. Nah, kegiatan kita selama ini kan menaklukan alam dengan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Akibatnya ya alam balik menyerang kita dengan bencana.” kurang lebih begitu kutipannya.

Alam Indonesia memang mengalami pengrusakan, ditambah dengan dampak posisi negara kita yang rentan dengan perubahan iklim dunia, maka jadilah bencana terjadi di mana-mana di wilayah Indonesia sepanjang tahun. Namun, upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bancana minim kita rasakan. Seperti kejadian gempa Kebumen (25/01/14), masyarakat masih saja kalut dan keluar rumah atau tempat umum berdesak-desakan.

Dilihat dari dana upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana pun kurang. Anggaran penanggulangan bencana setiap tahunnya berkisar 1 triliun rupiah. Coba bandingkan dengan taksiran kerugian beberapa bencana nasional: Tsunami Aceh 39 Triliun, gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Triliun, banjir Jakarta 4,8 Triliun, gempa Padang 21,6 Triliun, dan Erupsi Merapi 3,65 Triliun. Kita bandingkan lagi dengan biaya tanggap darurat bencana yang terjadi bulan ini: Manado 5 Milyar, Sinabung untuk pemulihan pertanian sebesar 63,5 Milyar, DKI Jakarta untuk penanganan banjir 3,5 Triliun, dan bencana banjir Pantura 800 Juta rupiah (sumber kompas, 25/01/14).

Untuk itulah pada Kongres Perdana Indonesia Health Economics Association (InaHEA) 24-25 januari 2014, Divisi Bencana PKMK memberikan presentasi paper di sesi panel hari kedua pukul 15.00 -17.00 WIB. Presentasi ini menyajikan tentang pengukuran biaya kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan simulasi. Paper ini bertujuan memberikan rekomendasi biaya kesiapsiagaan bencana bagi daerah dalam penanggulangan bencana dan keutamaan simulasi yang dapat memperbaiki kekacauan koordinasi penanggulangan bencana. Pembaca dapat menyimak reportase kegiatan ini pada link berikut klik di sini.

Minggu ini beberapa artikel menyajikan beberapa cara mengukur bencana dari sisi ekonomi seperti:

Adaptation Investment: A Resource Allocation Framework klik-disini

Assesing the Macroeconomic Impacts of natural Disaster: Are There Any?  klik-disini

Handbook on Health Inequality Monitoring

Handbook on Health Inequality Monitoring

him

Masalah inequality dalam bidang kesehatan masih terjadi di seluruh dunia terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Secara jelas, masalah ini terwujud dalam ketidakadilan dalam akses terhadap pelayanan kesehatan yang berbeda tergantung pada tingkat pendapatan, jenis kelamin, status sosial, kelompok etnis, tingkat pendidikan, dan daerah. Dalam mengatasi inequality ini, dibutuhkan sistem monitoring yang efektif agar tercapai kemajuan yang berarti dan mampu meningkatkan akuntabilitas dalam penyusunan kebijakan publik. Untuk itu, WHO beserta tujuh agency lain, menyusun sebuah handbook untuk memonitor dan mengevaluasi kemajuan dan kinerja masing-masing negara dalam mengatasi inequality secara akuntabel dan transparan.

Handbook ini terdiri dari lima bab. Bab I tentang Overview MonitoringInequality Kesehatan. Bab II tentang Sumber-sumber Data. Bab III tentang Pengukuran Inequality Kesehatan. Bab IV tentang Pelaporan Inequality Kesehatan. Bab V tentang Langkah-langkah Menilai Inequality Kesehatan dengan studi kasus di Filipina. Selain itu, Handbook ini dilengkapi dengan ilustrasi tabel dan gambar untuk memperjelas uraian yang diberikan. Selengkapnya dapat disimak pada link berikut klik-disini

Semua Pihak Harus Siap Hadapi Bencana

siaga

Belajar dari pengalaman bencana awal tahun 2013 lalu, daerah yang memang rawan bencana hidrometeorologi harus melakukan kesiapsiagaan sejak dini. Bencana banjir dan tanah longsor masih mendominasi hingga saat ini. Diprediksi untuk tahun 2014, banjir masih akan terus terjadi hingga April mendatang. Hal ini terkait dengan perubahan iklim yang semakin ektstrim sehingga daerah tropis dan bagian kutub menerima dampak perubahan yang terjadi. Di Indonesia, banyak wilayah mengalami banjir hebat sedangkan di Amerika sedang menghadapi bencana badai salju.

Banyak daerah di Indonesia telah menetapkan status siaga banjir dan bencana bahkan hingga pertengahan Februari mendatang. Jakarta misalnya yang telah menyiapkan sumur resapan dan relokasi Sungai Ciliwung dan Jawa Barat yang terkenal dengan daerah rawan bencana juga telah melakukan kesiapsiagaan dengan melakukan koordinasi dengan tim relawan bencana. Ambon baru saja melakukan perbaikan koordinasi bencana dengan menggelar simulasi besar pada akhir 2013 lalu. Daerah ini terpuruk karena banjir dan tanah longsor selama dua tahun. Kejadian bencana yang tidak terduga justru terjadi di Kotamadya Banjarbaru, Kalimantan Selatan dimana hujan dengan intensitas tinggi selama lima jam mampu menenggelamkan hampir 52 rumah warga, mematahkan jalur transportasi kota, dan merusak fasilitas air bersih warga.

Dilihat dari kebijakan yang diambil oleh kepala daerah sebenarnya kesadaran akan bahaya bencana sudah mulai baik, sayangnya kesadaran ini masih kurang dirasakan oleh masyarakat. Dari survei yang dilakuan oleh Climate Asia BBC Media Action mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan terendah tentang bagaimana mereka seharusnya beradaptasi menghadapi perubahan cuaca. Kesiapsiagaan terhadap bencana harus dilakukan dari masyarakat dengan mempertimbangkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Minggu, ini pembaca dapat menyimak beberapa artikel yang terkait dengan kesiapsiagaan bancana berbasis masyarakat:

Disaster Risk Management and Vulnerability Reduction: Protecting the Poor klik-disini

Climate Change and Local Level Disaster Risk Reduction Planning: Need, Opportunities and Challenges klik-disini

Monitoring and Reporting Progress on Community Based Disaster Risk Management in Philippines klik-disini

Kaleidoskop 2013 dan Outlook 2014

Banyak kejadian bencana alam yang melanda Indonesia di tahun 2013, mulai dari banjir, tanah longsor dan sebagainya. Bencana yang datang tanpa diduga di hampir seluruh penjuru nusantara mendorong Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM turut ambil bagian untuk mengedukasi warga melalui simulasi bencana, dan aktif dalam pengiriman personel ke sejumlah tempat yang terkena bencana. Berikut ini telah kami susun Kaleidoskop 2013 klik-disini dan Outlook 2014 yang terkait dengan kebencanaan Silahkan klik-disini


Minggu lalu:

pameran-600

2014 Masih didominasi Bencana Hidrometeorologi klik-disini

pameran-600

Usai Simulasi, Bencana benar-benar terjadi di Gunungkidul klik-disini

Semua Pihak Harus Siap Hadapi Bencana

siaga

Semua Pihak Harus Siap Hadapi Bencana

siaga

Belajar dari pengalaman bencana awal tahun 2013 lalu, daerah yang memang rawan bencana hidrometeorologi harus melakukan kesiapsiagaan sejak dini. Bencana banjir dan tanah longsor masih mendominasi hingga saat ini. Diprediksi untuk tahun 2014, banjir masih akan terus terjadi hingga April mendatang. Hal ini terkait dengan perubahan iklim yang semakin ektstrim sehingga daerah tropis dan bagian kutub menerima dampak perubahan yang terjadi. Di Indonesia, banyak wilayah mengalami banjir hebat sedangkan di Amerika sedang menghadapi bencana badai salju.

Banyak daerah di Indonesia telah menetapkan status siaga banjir dan bencana bahkan hingga pertengahan Februari mendatang. Jakarta misalnya yang telah menyiapkan sumur resapan dan relokasi Sungai Ciliwung dan Jawa Barat yang terkenal dengan daerah rawan bencana juga telah melakukan kesiapsiagaan dengan melakukan koordinasi dengan tim relawan bencana. Ambon baru saja melakukan perbaikan koordinasi bencana dengan menggelar simulasi besar pada akhir 2013 lalu. Daerah ini terpuruk karena banjir dan tanah longsor selama dua tahun. Kejadian bencana yang tidak terduga justru terjadi di Kotamadya Banjarbaru, Kalimantan Selatan dimana hujan dengan intensitas tinggi selama lima jam mampu menenggelamkan hampir 52 rumah warga, mematahkan jalur transportasi kota, dan merusak fasilitas air bersih warga.

Dilihat dari kebijakan yang diambil oleh kepala daerah sebenarnya kesadaran akan bahaya bencana sudah mulai baik, sayangnya kesadaran ini masih kurang dirasakan oleh masyarakat. Dari survei yang dilakuan oleh Climate Asia BBC Media Action mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan terendah tentang bagaimana mereka seharusnya beradaptasi menghadapi perubahan cuaca. Kesiapsiagaan terhadap bencana harus dilakukan dari masyarakat dengan mempertimbangkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Minggu, ini pembaca dapat menyimak beberapa artikel yang terkait dengan kesiapsiagaan bancana berbasis masyarakat:

Disaster Risk Management and Vulnerability Reduction: Protecting the Poor klik-disini

Climate Change and Local Level Disaster Risk Reduction Planning: Need, Opportunities and Challenges klik-disini

Monitoring and Reporting Progress on Community Based Disaster Risk Management in Philippines klik-disini

Pengantar 5 – 12 Januari 2014

Kaleidoskop 2013 dan Outlook 2014

Banyak kejadian bencana alam yang melanda Indonesia di tahun 2013, mulai dari banjir, tanah longsor dan sebagainya. Bencana yang datang tanpa diduga di hampir seluruh penjuru nusantara mendorong Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM turut ambil bagian untuk mengedukasi warga melalui simulasi bencana, dan aktif dalam pengiriman personel ke sejumlah tempat yang terkena bencana. Berikut ini telah kami susun Kaleidoskop 2013 klik-disini dan Outlook 2014 yang terkait dengan kebencanaan Silahkan klik-disini

2014 Masih di Dominasi bencana Hidrometeorologi

Masih lekat di ingatan kita pada awal tahun 2013, Indonesia dilanda bencana besar yakni banjir Jakarta. Tidak hanya itu, sepanjang tahun masih terus terjadi bencana banjir di berbagai wilayah Indonesia. Hingga saat ini, dimana perubahan cuaca dan iklim terus tidak menentu menyebabkan wilayah Indonesia masih terancam bencana hidrometeorologi. Kondisi ini menyebabkan beberapa kepala daerah telah menetapkan siaga bencana banjir di daerahnya hingga Februari tahun 2014.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan lebih dari 85 persen bencana hidrometeorologi akan terjadi di tahun 2014. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pemanasan global menyebabkan wilayah tropis meluas hingga 18 derajat lintang utara dan lintang selatan, hal ini memicu seringnya terjadi intensitas hujan yang cukup tinggi.

Ancaman bencana seperti ini jika disadari dengan baik sudah cukup sebagai dasar untuk melakukan tindakan peningkatan ketahanan masyarakat. Kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun dan disadari oleh masyarakat sendiri, minggu ini kami sajikan dua artikel yang berkaitan dengan peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Silahkan simak.

Building Human Resilience The Role of Public Health Preparedness and Response As an daptation to Climate Change klik-disini

Reducing hazard Vulnerability: Towards a common Approach between Disaster Risk Reduction and Climate Change, silahkan klik-disini

Artikel Minggu ini:

Indonesia bangkit! Transformasi Masyarakat Rentan Menjadi Tangguh Bencana dengan Dukungan

Buku ini memaparkan kegiatan pemulihan pasca bencana yang tantangan-tantangannya diungkap secara detail. Persaingan antara NGO, gejolak inflasi, dan konflik dengan regulasi serta penghentian program merupakan bagian dari kenyataan pahit. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman para profesional humanitarian sekaligus masyarakat umum pemerhati bencana ini baru saja dirilis dan bisa diperoleh di toko buku terdekat.

Engaging the Public in Critical Disaster Planning and Decision Making: Workshop Summary

bukuHasil workshop dan pertemuan para ahli bencana dan perencanaan bencana ini menghasilkan kerangka pikir yang operasional dalam melibatkan publik pada perencaaan kesiapsiagaan bencana. Buku ini mengulas mengenai awal kerangka keterlibatan publik dana perumusan keputusan dan bagaimana keterlibatan mereka. Hal ini diperkuat dengan praktiknya dalam melaksanakan kegiatan keterlibatan publik. Buku ini ditulis berdasarkan masukan dari berbagai ahli dan aktivis bencana maka buku ini juga diperkaya dengan pembelajaran dan pengalaman serta contoh sederhana bagaimana melibatkan publik dalam perencanan bencana. Untuk membaca buku ini selengkapnya silakan klik-disini


Minggu lalu:

pameran-600

International Symposium on Climate Change and Health klik-disini

pameran-600

Usai Simulasi, Bencana benar-benar terjadi di Gunungkidul klik-disini

Pengantar 31 Desember 2013 – Januari 2014

selamtkan-diri

 Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan informasi terbaru setiap minggunya!


Tetap Waspada Bencana Meski Sedang Berlibur

selamtkan-diriAkhir tahun dan liburan sekolah seperti saat ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk berlibur. Wisata alam pun menjadi tempat yang ramai dikunjungi, seperti pantai, pengunungan, dan air terjun. Sayangnya, ancaman bencana tidak pernah berhenti apalagi ditambah dengan curah hujan tinggi dan musim tidak menentu seperti saat ini, silahkan  klik-disini

Sudah seharusnya pengelola tempat wisata memperhatikan hal ini dengan terus memantau perkiraan cuaca, ketinggian gelombang, kemiringan tempat, dan pergesaran tanah untuk memperkirakan bencana yang mungkin terjadi. Fasilitas di tempat wisata juga harus dilengkapi dengan jalur evakuasi dan tanda-tanda bahaya. Begitu juga dengan pengunjung, harus memperhatikan tanda keselamatan yang tersedia di tempat wisata dengan seksama. Berikut poster mengenai tanah longsor yang bisa di-download, silahkan klik-disini

Artikel Minggu ini:

Indonesia bangkit! Transformasi Masyarakat Rentan Menjadi Tangguh Bencana dengan Dukungan

Buku ini memaparkan kegiatan pemulihan pasca bencana yang tantangan-tantangannya diungkap secara detail. Persaingan antara NGO, gejolak inflasi, dan konflik dengan regulasi serta penghentian program merupakan bagian dari kenyataan pahit. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman para profesional humanitarian sekaligus masyarakat umum pemerhati bencana ini baru saja dirilis dan bisa diperoleh di toko buku terdekat.

Engaging the Public in Critical Disaster Planning and Decision Making: Workshop Summary

bukuHasil workshop dan pertemuan para ahli bencana dan perencanaan bencana ini menghasilkan kerangka pikir yang operasional dalam melibatkan publik pada perencaaan kesiapsiagaan bencana. Buku ini mengulas mengenai awal kerangka keterlibatan publik dana perumusan keputusan dan bagaimana keterlibatan mereka. Hal ini diperkuat dengan praktiknya dalam melaksanakan kegiatan keterlibatan publik. Buku ini ditulis berdasarkan masukan dari berbagai ahli dan aktivis bencana maka buku ini juga diperkaya dengan pembelajaran dan pengalaman serta contoh sederhana bagaimana melibatkan publik dalam perencanan bencana. Untuk membaca buku ini selengkapnya silakan klik-disini


Minggu lalu:

pameran-600

International Symposium on Climate Change and Health klik-disini

pameran-600

Usai Simulasi, Bencana benar-benar terjadi di Gunungkidul klik-disini