Pengantar Minggu ini 30 September – 6 Oktober 2013


Bencana dan Penyakit Tidak Menular

peta-bencana-bnpb

Minggu lalu (26-27/09/13) telah dilaksanakan Simposium Internasional tentang Kebijakan, Penelitian, dan Aksi Penanggulangan Penyakit Tidak menular di Fakultas Kedokteran UGM. Forum ini memang tidak membicarakan secara khusus tentang bencana tetapi beberapa sesi yang membahas tentang perubahan iklim berhubungan erat dengan kejadian bencana dan peningkatan kerentanan masyarakat terhadap penyakit tidak menular. Seperti pemaparan pakar dampak kesehatan perubahan iklim, Dr. Rainer Saourborn bahwa peningkatan perubahan cuaca telah berdampak signifikan pada peningkatan penyakit serta korban jiwa dan luka-luka akibat bencana yang ditimbulkannya. Simak materi dan reportase selengkapnya, klik-disini

Seperti kekeringan yang diperkirakan masih terjadi hingga akhir Oktober di Indonesia. Kekeringan yang terjadi di beberapa daerah mengancam pola dan jumlah konsumsi masyarakat, jika sudah seperti ini maka yang terancam adalah gizi masyarakat. Faktanya, korban kekeringan memang tidak terlihat secara nyata, misalnya harus dievakuasi atau berada di pengungsian, tetapi mereka sangat membutuhkan distribusi air dan makanan. Berikut ini beberapa jurnal dan artikel tentang gizi dan kekeringan yang dapat pembaca simak;

Energy and micronutrient composition of dietary and medicinal wild plants consumed during drought. Study of rural Fulani, Northeastern Nigeria klik-disini

Food for two seasons: Culinary uses of non-cultivatedd local vegetables and mushrooms in a south Italian village klik-disini

Wild and semi-domesticated food plant consumption in seven circum-mediterranean areasklik-disini

Proceedings of the World health Organization/ UNICEF/ World Food Programme/ United Nations High Commissioner for Refugees Consultation on the Management of Moderate Malnutrition in Children under 5 Years of Age, silahkan klik-disini

Seluruh SKPD di daerah yang terkena bencana, oleh kepala daerah diminta untuk siaga dan terus memantau perkembangan bencana, pengungsi, dan penyakit. Termasuk di dalamnya dinas kesehatan, dinas sosial, dan BPBD. Hingga lebih dari pertengahan tahun 2013, Indonesia masih belum aman terhadap bencana.

Minggu lalu:

peta-bencana-bnpbIndonesia Masih Terus Dilanda Bencana

world-needmoreWorld Humanitarian Day in Yogyakarta

Indonesia Masih Terus Dilanda Bencana

peta-bencana-bnpb

peta-bencana-bnpbBencana banjir belum selesai, kini kekeringan juga melanda Indonesia. Saat ini, justru ditambah dengan bencana meletusnya gunung Sinabung di Sumatera Utara. Dari bulletin BNPN, korban banjir di Indonesia lebih dari 200 ribu jiwa, korban kekeringan mencapai 100 ribu jiwa, sekarang jumlah pengungsi Gunung Sinabung mencapai 14.991 jiwa. Selengkapnya bulletin BNPN bulan Agustus dapat di klik-disini

Dari laporan meteorologi dan geofiska musim kemarau di Indonesia tahun ini akan berakhir pada akhir Oktober. Untuk itu, pemerintah menghimbau pada seluruh pemerintah daerah yang rawan kekeringan agar mempersiapkan ketahanan (resilient) baik masyarakat dan pemerintahnnya. Sejauh ini, sudah ada model ketahanan masyarakat yang bisa diadaptasi untuk menghadapi bencana, silahkan klik-disini serta model ketahanan masyarakat Afrika untuk menghadapi kekeringan, silahkan klik-disini

Pada pengantar dua minggu yang lalu, telah kita bahas mengenai penyakit dan gangguan kesehatan masyarakat yang kerap terjadi pada masa kekeringan. Kali ini, tentang penyakit bawaan bencana gunung meletus. Penyakit yang rentan diderita masyarakat, selengkapnya dapat di simak, silahkan klik-disini

Seluruh SKPD di daerah yang terkena bencana, oleh kepala daerah diminta untuk siaga dan terus memantau perkembangan bencana, pengungsi, dan penyakit. Termasuk di dalamnya dinas kesehatan, dinas sosial, dan BPBD. Hingga lebih dari pertengahan tahun 2013, Indonesia masih belum aman terhadap bencana.

Minggu lalu:

world-needmore

World Humanitarian Day in Yogyakarta

Perubahan Suhu Ekstrim : Kekeringan di Saat Daerah Lain Kelimpahan Air

World Humanitarian Day in Yogyakarta

world-needmore

world-needmore

Setelah tiga minggu kita membahas tentang bencana kekeringan, pada minggu ini kita beralih sejenak untuk memperingati hari kemanusiaan sedunia. Perwakilan UN OCHA, universitas dan organisasi yang peduli kemanusiaan di Yogyakarta berkumpul untuk mengkampanyekan kemanusiaan untuk dunia, antara lain UGM, UMY, UKDW, YEU, dan MDMC di titik nol, Yogyakarta, Selasa (10/9/2013).

Rangkaian kegiatan dimulai pagi hari dengan sarasehan di UMY. Sarasehan ini menarik karena mengundang banyak mahasiswa dari berbagai universitas serta aktivis kemanusiaan yang ada di Yogyakarta. Tujuannya untuk menyadarkan dan mengajak lebih banyak mahasiswa agar peduli dengan kemanusiaan. Kemanusiaan yang dimaksud tidak saja ketidakadilan, tetapi juga masyarakat sipil korban konflik dan bencana alam. Materi selengkapnya tentang Peran Mahasiswa dalam Urusan Kemanusiaan, silahkan klik-disini

Acara berlanjut hingga sore hari, seluruh peserta melakukan street campaign di titik nol Yogyakarta. Aktivis dan mahasiswa membagikan stiker yang bertuliskan The World Needs More…Kalimat ini bukan terputus, karena kolom titik akan diisi dengan keinginan dari masing-masing individu di jalan. Setiap kata harapan yang ditulis pada stiker mengandung donasi 1 dollar untuk kemanusiaan di dunia yang akan dilaporkan ke Badan Dunia. Pembaca sekalian dapat juga berdonasi secara online pada website berikut http://worldhumanitarianday.org/ dengan mengklik kata harapan apa yang sangat dibutuhkan oleh dunia. Silahkan kunjungi fanpage bencana kesehatan https://www.facebook.com/bencanakesehatanpmpk untuk melihat dokumentasi kegiatan lengkap.

Pengantar Minggu ini 17 -24 September 2013


 Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan informasi terbaru setiap minggunya!


Forum Nasional IV Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia dan Konas IAKMI di Kupang

Telah diselenggarakan pertemuan Forum Nasional Kebijakan Kesehatan di Kupang bersamaan dengan Konas IAKMI, minggu lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sekitar 225 peserta dari Aceh hingga Papua. Jika Anda tertarik untuk membaca atau bahkan men-download power point, abstrak, dan menyimak video berbagai sesi silahkan Anda klik. Laporan kegiatan Forum Nasional IV dan KONAS IAKMI Ke-12 tersebut bisa anda lihat pada link berikut:

h2pgtr

pembukaan-konas
h3pgtr penutupan-konas


World Humanitarian Day in Yogyakarta

world-needmore

Setelah tiga minggu kita membahas tentang bencana kekeringan, pada minggu ini kita beralih sejenak untuk memperingati hari kemanusiaan sedunia. Perwakilan UN OCHA, universitas dan organisasi yang peduli kemanusiaan di Yogyakarta berkumpul untuk mengkampanyekan kemanusiaan untuk dunia, antara lain UGM, UMY, UKDW, YEU, dan MDMC di titik nol, Yogyakarta, Selasa (10/9/2013).

Rangkaian kegiatan dimulai pagi hari dengan sarasehan di UMY. Sarasehan ini menarik karena mengundang banyak mahasiswa dari berbagai universitas serta aktivis kemanusiaan yang ada di Yogyakarta. Tujuannya untuk menyadarkan dan mengajak lebih banyak mahasiswa agar peduli dengan kemanusiaan. Kemanusiaan yang dimaksud tidak saja ketidakadilan, tetapi juga masyarakat sipil korban konflik dan bencana alam. Materi selengkapnya tentang Peran Mahasiswa dalam Urusan Kemanusiaan, silahkan klik-disini

Acara berlanjut hingga sore hari, seluruh peserta melakukan street campaign di titik nol Yogyakarta. Aktivis dan mahasiswa membagikan stiker yang bertuliskan The World Needs More…Kalimat ini bukan terputus, karena kolom titik akan diisi dengan keinginan dari masing-masing individu di jalan. Setiap kata harapan yang ditulis pada stiker mengandung donasi 1 dollar untuk kemanusiaan di dunia yang akan dilaporkan ke Badan Dunia. Pembaca sekalian dapat juga berdonasi secara online pada website berikut http://worldhumanitarianday.org/ dengan mengklik kata harapan apa yang sangat dibutuhkan oleh dunia. Silahkan kunjungi fanpage bencana kesehatan https://www.facebook.com/bencanakesehatanpmpk untuk melihat dokumentasi kegiatan lengkap.


Minggu lalu:

Perubahan Suhu Ekstrim : Kekeringan di Saat Daerah Lain Kelimpahan Air kekeringan Kekeringan: Siaga Pasokan Air dan Nutrisi Kesehatan

Kekeringan: Siaga Pasokan Air dan Nutrisi Kesehatan

kekeringan

Kekeringan: Siaga Pasokan Air dan Nutrisi Kesehatan

kekeringan

Pengantar minggu lalu telah membahas tentang pengaruh suhu ekstrim dengan kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, dimana bisa terjadi kekeringan di suatu daerah sedangkan daerah lain masih mengalami banjir. Pengantar kali ini mencoba mengangkat isu kekeringan yang semakin meluas di beberapa wilayah Indonesia bahkan sudah ditetapkan status siaga bencana, serta bagaimana dampak lingkungan dan adaptasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan air untuk kesehatan dan kebersihan. Berikut ini laporan menarik dari AusAID yang memaparkan secara lengkap mengenai dampak kekeringan terhadap cadangan makanan, air, kesehatan, dan lingkungan di Papua New Guinea. Report of an Assessment of The Impacts of Frost and Drought in Papua New Guinea. klik-disini

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah dan Jawa Barat telah menentapkan status siaga bencana kekeringan. Di Jawa Tengah, dalam sebulan ini telah ada 68 desa yang mengalami kekeringan. Juga, di Sragen dimana 900 warga kecamatan mengeluhkan sulitnya mendapatkan air, bahkan untuk minum. Setiap warga hanya diberikan jatah satu ember per hari yang digunakan untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK). Untuk minum, warga harus mengambil dari sumur sedalam 35 meter. Kualitas airnya pun jauh dari harapan. Air sumur ini berkapur sehingga ketika direbus air akan berubah keruh dan sebelum di masukkan ke dalam termos bubuk kapur dalam air harus diendapkan terlebih dahulu. Jika sudah seperti ini, hal yang dikhawatirkan adalah kesehatan masyarakat, terlebih pada anak-anak. Sebuah penelitian di Bangladesh yang menyajikan pengaruh kekeringan pada perubahan lingkungan dan kesehatan, selengkapnya Assessing Environmental and Health Impact of Drought in the Northwest Bangladesh klik-disini Serta pengaruhnya pada kesehatan mental masyarakat yang dapat dibaca pada original article berikut ini Mental health impact for adolescents living with prolonged drought. klik-disini

Perubahan Suhu Ekstrim : Kekeringan di Saat Daerah Lain Kelimpahan Air

Perubahan Suhu Ekstrim : Kekeringan di Saat Daerah Lain Kelimpahan Air

rumah-kaca

Melanjutkan pengantar minggu lalu tentang ancaman suhu ektrim pada masyarakat di seluruh belahan dunia, minggu ini akan kita bahas mengenai bencana kekeringan akibat suhu ekstrim dan dampaknya. Kondisi geografis yang unik menyebabkan Indonesia harus menerima konsekuensi dampak dari perubahan iklim perairan dan benua yang mengapitnya. Seperti saat ini dimana masih banyak daerah Indonesia yang mengalami bencana banjir, justru di daerah lain mengalami bencana kekeringan. Simak variabilitas curah hujan di Indonesia selama 40 tahun yang dipengaruhi oleh ENSO dan interaksi perairan di sekitar Indonesia pada Jurnal berikut, Indonesian Rainfall Variability: Impacts of ENSO and Local Air–Sea Interaction, Silahkan klik-disini

Perubahan iklim yang drastis membuat cuaca tidak mudah untuk ditebak. Salah satunya, pertanian di Banyumas yang mengandalkan sistem tadah hujan telah mengalami kekeringan dalam bulan ini. Petani sekitar memperkirakan kamarau basah masih terjadi hingga panen tiba sebab hujan masih terjadi hingga akhir Juli lalu tetapi justru kemarau kering yang terjadi selama Agustus.

Sementara itu, sepekan ini telah terjadi bencana kekeringan di lereng gunung Merapi dan di beberapa daerah di Jawa Tengah. Puluhan kecamatan dan desa mengalami dampak kekeringan. Saat ini masyarakat memanfaatkan air keruh yang disaring dari sisa-sisa sumur yang mengering untuk minum dan keperluan dapur. Kekeringan parah yang terjadi akan menyebabkan terganggunya sistem hidrolisis lingkungan dan manusia akan kekurangan air untuk dikonsumsi. Berikut ini sebuah jurnal yang membahas tentang dampak krisis dan kekeringan yang terjadi di Indonesia bagi kesehatan anak, dengan judul Crises and Child Health Outcomes: The Impacts of Economic and Drought/smoke Crises on Infant Mortality and Birthweight in Indonesia. Silahkan klik-disini


  Minggu lalu:

rumah-kaca

Suhu Ekstrem Mengancam Seluruh Penduduk Dunia
klik-disini

Suhu Ekstrem Mengancam Seluruh Penduduk Dunia

rumah-kaca

Suhu Ekstrem Mengancam Seluruh Penduduk Dunia

rumah-kaca

Kejadian dan dampak suhu ekstrem dirasakan hampir semua negara di dunia. Suhu ekstrem telah mengubah kondisi umum suatu wilayah, dimana daerah yang biasa bersuhu panas berubah bersuhu dingin dan sebaliknya.  Menurut Petoukhov dalam Potsdam Institute for Climate Impact Research,  faktor waktu menjadi sangat penting memicu cuaca ekstrem.  Jika suhu permukaan bumi mencapai 30 derajat Celsius dalam satu atau dua hari, tidak masalah. Menjadi persoalan ketika pemanasan global ekstrem terjadi selama 20 hari berturut-turut bahkan lebih. Anamoli suhu inilah yang kemudian mengacaukan sirkulasi udara di bumi dan meningkatkan aktivitas gelombang panas yang terperangkap dalam gelombang yang tidak bergerak, memicu terbentuknya cuaca ekstrem. Untuk mengetahui lebih jauh tentang perubahan cuaca dan hubungannya dengan suhu ekstrem dan gelombang panas silahkan membaca jurnal berikut berjudul Climate Change and Extrem Heat Events. klik-disini

Cuaca panas yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang ini akan merusak ekosistem, kematian,  memicu kebakaran hutan, bencana alam, dan gagal panen. Seperti, kejadian banyaknya lansia yang meninggal di China dalam bulan ini akibat tidak tahan suhu panas, meningkatnya suhu permukaan tanah yang menyebabkan banyaknya kejadian mobil meledak dengan sendirinya dan ribuan rumah roboh karena diselumbungi oleh salju yang semakin berat.  Lebih dari ribuan orang dibanyak negara telah menjadi korbannya. Jurnal berjudul Temporal Fluctuations in Weather and Climate Extremes That Cause Economic and Human Health Impacts  secara rinci akan menjelaskan bagaimana hubungan signifikan antara perubahan cuaca ekstrem terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat. Dalam review analisis jurnal ini, dipaparkan juga mengenai dampak peningkatan bencana alam yang terjadi dalam beberapa puluh tahun ini. klik-disini

Industri dunia dan aktivitas penduduk dunia bertanggung jawab terhadap suhu ekstrem. Untuk negara-negara, adaptasi perubahan iklim haruslah menjadi kebijakan terdepan dalam pembangunannya. Adaptasi adalah suatu proses dimana individu, masyarakat dan negara berusaha untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Proses adaptasi bukanlah hal yang baru, sepanjang sejarah, orang telah beradaptasi dengan kondisi yang berubah, termasuk perubahan jangka panjang dalam iklim alami. Masing-masing negara harus menggabungkan risiko iklim di masa depan ke dalam kebijakan dan implementasinya. Buku berikut akan membawa kita untuk memahami framework adaptasi sebuah negera terhadap dampak cuaca ekstrem. Buku ini dipersembahkan oleh UNDP dengan judul Adaptation Policy Frameworksfor Climate Change: Developing Strategies Policies and Measures. klik-disini

Pengantar Minggu ini 13 – 19 Agustus 2013

bagan-bencana

Terima Konsekuensi Jika Salah Menilai Resiko Bencana

bagan-bencana

Semakin banyak bencana yang terjadi tidak menentukan perbaikan pengalaman masyarakat menghadapi bencana. Ketidakwaspadaan, lemahnya sistem peringatan dini, kepatuhan masyarakat yang rendah, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap resiko bencana telah membawa korban jiwa dan harta yang lebih banyak, bahkan dengan kejadian bencana yang sama di tempat yang sama.

Dalam jurnalnya Task Force on Quality Control of Disaster Management klik-disini mendifinisikan resiko bencana sebagai hitungan dan penyimpulan kemungkinan sesuatu yang negatif akan terjadi. Masih ada tiga kemungkinan sebelum bencana kesehatan terjadi, yakni kemungkinan hazard terjadi atau akan terjadi, kemungkinan hazard menjadi event, dan event yang menyebabkan kerusakan. Resiko bencana kesehatan adalah produk dari probabilitas keempat kesempatan di atas. Sehingga ketika pemerintah atau masyarakat mampu mengendalikan probabilitas ini dengan baik, maka kecil kemungkinan event menjadi bencana kesehatan. Penilaian resiko bencana dapat digunakan sebagai alat untuk mengubah ancaman menjadi strategi nasional dalam pengurangan resiko. klik-disini

Di dalam penilaian resiko bencana terdapat dua tipe kesalahan. Kesalahan tipe I (berlebihan dalam memandang resiko) adalah memprediksi bencana akan terjadi tetapi tidak terjadi. Kesalahan Tipe II (meremehkan resiko bencana) adalah memprediksi tidak akan terjadi bencana kesehatan tetapi bencana terjadi. Kesalahan melakukan penilaian resiko memiliki konsekuensinya masing-masing. Upaya yang dilakukan adalah mengurangi kesalahan tipe I agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan dengan meningkatkan keakuratan prediksi kejadian bencana dan ketahanan agar kesalahan tipe II tidak terjadi yang menimbulkan kepanikan dan korban yang banyak. klik-disini

Pengantar Minggu ini 29 Juli – 5 Agustus 2013

bencana

Manajemen Penanggulangan Pasca Bencana

bencana

Negara kita telah menghadapi lima macam bencana di Juli ini. Sebut saja, Gempa di Aceh dan Padang. Banjir besar di Kendari, Gorontalo, Pekalongan, dan Bandar Lampung. Bencana asap di Aceh dan Riau yang juga menggegerkan negara tetangga. Tanah longsor di Gorontalo serta angin puting beliung di Sumatera Utara dan Sukabumi. Rentetan bencana alam ini telah menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat.  Berikut dampak gempa klik-disini dan banjir klik-disini bagi masyarakat.

Upaya penanggulangan bencana merupakan siklus yang terus berputar. Selesai masa tanggap darurat bencana, penanggulangan beralih pada upaya recovery sekaligus penyusunan rencana dan bahan pembelajaran untuk bencana yang akan datang. Misalnya pembuatan atlas risiko bencana berikut ini, Modelling the spatial distribution of five natural hazards in the context of the WHO/EMRO Atlas of Disaster Risk as a step towards the reduction of the health impact related to disasters. Namun, masih disayangkan penanggulangan bencana yang dilakukan baik dari pemerintah atau pun relawan lebih banyak bersifat jangka pendek. Bahkan korban bencana menyuarakan bahwa yang mereka butuhkan tidak hanya makanan tetapi bagaimana dampak bencana ini bisa terselesaikan dengan segera.  Harapannya, mereka mampu beraktivitas kembali segera pasca bencana. Pada kasus banjir misalnya, bagaimana upaya pengaliran air bah sehingga daerah yang terendam cepat kering. Jurnal yang berjudul Disaster Recovery Plan ini barangkali bisa menjadi pertimbangan penyusunan upaya pemulihan bencana.

Bantuan yang datang, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Seperti bantuan pembangunan kembali rumah ibadah, sekolah, dan sarana umum lainnya oleh pemerintah Arab Saudi bagi korban Gempa Aceh. Sayangnya, pembangunan yang begitu cepat ini sudahkah memperhatikan pembangunan jangka panjang untuk menghadapi bencana yang akan datang. Misalnya bagaimana membangun perumahan atau rumah sakit yang tahan gempa?. Sudahkah pembangunan rumah sakit dipersiapkan untuk menghadapi bencana yang akan datang seperti mempersiapkan sistem kegawat daruratan rumah sakit silahkan klik-disini dan mempersiapkan tim tanggap darurat yang efektif Sustained Effectiveness of a Primary Team Based Rapid Response System.

Pengantar 24 – 31 Juli 2013

merapi


 Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan informasi terbaru setiap minggunya!


Menilai Reaksi Cepat Warga terhadap Hembuskan Asap Merapi

merapi

Aktivitas vulkanik Gunung Merapi telah menjadi risiko bencana bagi tiga kabupaten yang mengitarinya. Kemarin, Senin (22/7) terjadi aktivitas vulkanik dengan menghembuskan lebih dari 100 kali hembusan asap sulfatara mencapai ketinggian 1000 meter. Hembusan asap dan abu yang terjadi sekitar satu jam (04.22 hingga 05.33 wib) menyebabkan sekitar 300 warga di sekitar Merapi mengungsi. Meski demikian hingga saat ini, status gunung merapi masih dikatakan normal.

Menurut warga, hembusan dan gempa kecil masih terjadi hingga Selasa (23/7). Warga juga mengaku selama sepekan memang kerap mendengar gemuruh berasal dari Merapi. Saat ini warga bersiap jika suatu saat mendapat peringatan untuk evakuasi, terutama para lansia yang sudah menyiapkan perlengkapan pengungsian. Namun, menurut Bupati Jawa Tengah pada sebuah harian nasional menyatakan masih saja ada warga yang enggan untuk mengungsi padahal mereka berada di zona merah. Meski saat ini tidak perlu dilakukan evakuasi tetapi pemerintah harus siaga dalam membantu warganya melakukan evakuasi. Sebuah studi mencoba menyusun perencanaan dan penelitian tentang proses evakuasi dengan judul Evacuation: An Assesment of Planning and Research. klik-disini. Juga, persiapan kesiapsiagaan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan penanggulangan bencana seperti yang dikembangkan oleh BNPB akhir-akhir ini, Aplikasi Inaware Tingkatkan Kesiapsiagaan klik-disini.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu dampak aktivitas gunung berapi terhadap kesehatan kelompok rentan (lansia dan anak). Sebuah penelitian mengungkapkan hubungan aktivitas volkanik dengan kesehatan pernapasan pada anak, silahkan klik-disini. Saran dari penelitian ini adalah perlunya persiapan pelayanan darurat pertolongan bantuan pernafasan bagi anak pada saat bencana gunung berapi.

Guna menggugah pentingnya persiapan sebelum terjadi bencana, kami mengangkat ringkasan sebuah publikasi mengenai manajemen penanggulangan bencana. Artikel ini dirilis oleh The Wall Street Journal yang sudah diterjemahkan dengan judul Bencana dan Pembangunan klik-disini Artikel ini mengungkapkan bahwa pembangunan dan penanganan yang baik pada bencana mampu mengurangi jumlah kematian korban secara signifikan.