{tab title=”Hari ke- 1″ class=”green”}
ARSIP VIDEO
{tab title=”Hari ke- 2″ class=”grey”}
{slider title=”Materi” class=”green”}
{slider title=”VIDEO” class=”grey”}
ARSIP VIDEO
{/sliders}
{/tabs}
{tab title=”Hari ke- 1″ class=”green”}
{tab title=”Hari ke- 2″ class=”grey”}
{slider title=”Materi” class=”green”}
{slider title=”VIDEO” class=”grey”}
{/sliders}
{/tabs}
{tab Materi}
Pendalaman Materi Komponen Hospital Disaster Plan
dr. Bella Donna, M.Kes
Download Materi
Pembagian template draft HDP
Template HDP 2022
Analisis Risiko & Hospital Safety Index
Download Materi
Implementasi Logistik dalam Dokumen Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (HDP)
Download Materi
{tab title=”Reportase” class=”green” }
{slider title=”Rabu, 11 Mei 2022″ class=”red”}
Reportase
Mei – Juli 2022 | Rabu, 11 Mei 2022

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Moderator, Narasumber dan Fasilitator Pelatihan HDP”
Pertemuan pertama pelatihan dan pendampingan penyusunan Hospital Disaster Plan dimoderatori oleh dr. Satrio Pamungkas. Rumah sakit yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 7 RS yaitu RSUD Bali Mandara, RS Keselamatan Kerja Jawa Barat, RSUD Kota Dumai, RSUD Jusuf Tarakan, RSUD Bridjen H Hasan Basri, RSKB Halmahera dan RSUD Zainal Abidin. Sesi pertama dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan Komponen Disaster Plan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Sistem Komando dan Pengorganisasian. Komponen Hospital Disaster Plan mencakup profil singkat RS, sistem pengorganisasian saat bencana serta tupoksi, analisis risiko, SOP saat bencana, fasilitas saat bencana dan formular yang dibutuhkan. Seluruh komponen tersebut sesuai juga dengan penilaian akreditasi RS dalam kesiapan penanganan bencana. Dokumen HDP yang akan disusun diupayakan operasional, jelas sistem pengorganisasian dan komandonya, artinya melalui dokumen ini staf dapat memahami apa yang menjadi tugasnya Ketika terjadi bencana. Struktur pengorganisasian yang akan disusun bukannya satu organisasi baru namun disusunkan berdasarkan struktur sehari – hari di RS. Misalnya jika dalam sehari hari bertugas untuk bidang farmasi maka dalam struktur pengorganisasian saat bencana orang tersebut ditempatkan dalam bidang logistik. Perlu dipahami juga, struktur pengorganisasian ini diaktifkan saat bencana terjadi akan lebih mudah jika disusun dengan pendekatan Incident Command System.
Pada sesi diskusi RS Keselamatan Kerja (RSKK) Jawa Barat menanyakan bagaimana meningkatkan minat RS untuk memberikan perhatian prioritas kepada dokumen HDP. Risiko yang paling besar di RSKK adalah kebakaran. Rumah sakit dalam satu gedung. Tantangan RS Ketika melakukan simulasi adalah informasi terkait Penanggulangan Bencana masih terbatas, HDP ini belum menjadi prioritas bencana. Sehingga Ketika dilakukan simulasi banyak yang tidak ikut. Dr. Bella Donna merespon memang selama ini tugas K3 hanya berfokus pada keselamatan dan kecelakaan, sementara dalam HDP ini sudah masuk didalamnya fungsi dan peran K3. Pemahaman ini yang harus rutin disosialisasikan, bahwa peran K3 masuk dalam dokumen HDP. Sosialisasi harus melibatkan kepemimpinan, peran kepemimpinan ini yang membuat tim aktif.

Dok PKMK FK – KMK UGM “Review Dokumen HDP RS H.Hasan Basri”
Pada sesi review, dr. Satrio bersama dengan Happy Pangaribuan, MPH menampilkan ceklist komponen HDP yang sudah ada dalam dokumen HDP peserta. Beberapa komponen tersebut sudah ada dalam dokumen, namun beberapa yang perlu dilengkapi detail tupoksi, fasilitas saat bencana dan analisis Risiko. Selanjutnya peserta dibagi ke dalam 3 room zoom untuk mengerjakan penugasan struktur pengorganisasian dan tupoksi. Masing – masing room didampingi oleh fasilitator, sehingga diskusi dapat dilakukan secara langsung. Beberapa RS menggunakan pendekatan Major Incident Medical Management Support (MIMMS) dalam struktur pengorganisasian dan ada juga RS yang sudah menggunakan pendekatan ICS.
Rencana Tindak Lanjut sekitar 3 minggu RS akan melanjutkan penyusunan struktur pengorganisasian dan tupoksi secara mandiri dan didampingi oleh fasilitator. Akan dibuat WAG khusus pendampingan penyusunan dokumen. Pertemuan kedua akan dilaksanakan pada Rabu, 8 Juni 2022 untuk membahas analisis risiko (HIS, HVA).
Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK – KMK UGM
{slider title=”Rabu, 8 Juni 2022″ class=”green”}

Dok. PKMK FK – KMK UGM
“Peserta Pelatihan”
Pertemuan kedua dimoderatori oleh dr. Satrio Pamungkas, dimana pada perteman ini terdapat sesi pemaparan penugasan sistem komando, pengorganisasian dari masing – masing RS dan sesi materi analisis risiko melalui (HVA dan HSI). Ketujuh RS memaparkan penugasan sistem pengorganisasian berdasarkan diskusi tim, sesi pemaparan dipandu oleh Happy R Pangaribuan, MPH. RS ada yang menyusun pengorganisasian menggunakan pendekatan ICS dan pendekatan MIMMS. Fasilitator dr. Bella Donna, M.Kes dan Gde Yulian Yogadhita memberikan masukan terhadap sistem pengorganisasian RS. Penyusunan dalam pengorganisasian tidak masalah apakah menggunakan pendekatan MIMMS dan ICS, yang penting itu bagaimana bisa dilakukan supaya operasional. Terlihat RSUD Kota Dumai dalam menyusun sudah menyesuaikan dengan fungsi struktur organisasi sehari – hari. Fungsi sehari – hari dalam situasi normal harus sama dengan situasi kedaruratan. Jika sehari – hari berperan mengelola logistik maka dalam situasi darurat tetap logistk. Hal menarik lainnya ada RS yang sudah menyiapkan khusus mendampingi tamu kenegaraan, ini masukan yang bagus, karena memang hal semacam ini sering terjadi. Terdapat stakeholder engagement, dalam struktur bisa dimasukkan staf ahli untuk mendampingi tamu kenegaraan. Hal yang menjadi masukan untuk semua RS adalah menuliskan pelimpahan wewenang dalam tupoksi.

Dok. PKMK FK – KMK UGM
“Diskusi Hasil Penugasan (kiri) dan Pemaparan Materi Analisis Risiko (kanan)
Sesi selanjutnya Madelina Ariani menyampaikan materi Analisis Risiko dengan memperlihatkan contoh menggunakan tool Hazard Vulnerability Analysis (HVA) dan tool Hospital Safety Index (HSI). Secara umum terdapat 3 langkah melakukan analisis risiko yaitu (1) Menentukan kemungkinan potensi ancaman bencana; (2) Menilai dampak bencana dan (3) Menganalisis risiko. RS melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana dengan menggunakan tools HIS dari WHO agar RS mengetahui kekurangan yang harus dipenuhi untuk menghadapi bencana. Setelah risiko bencana, maka dapat dilakukan prioritas dalam penanganan bencana. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi terhadap terjadinya risiko krisis kesehatan. Selanjutnya peserta dibagi ke dalam 3 breakout room untuk penugasan pengerjaan analisis risiko yang didampingi oleh fasilitator.
Rencana tindak lanjut sekitar 2 minggu RS akan mengerjakan revisi struktur pengorganisasian dan tupoksi, dilanjutkan mengerjakan analis risiko. Proses penugasanan tersebut dilakukan secara mandiri dan didampingi oleh fasilitator, peserta diperbolehkan berdiskusi kapanpun melalui WAG. Pertemuan ketiga akan dilaksanakan pada Rabu, 22 Juni 2022 untuk membahas Logistik Medik dan Manajemen Relawan.
Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK – KMK UGM
{slider title=”Rabu, 22 Juni 2022″ class=”red” }
Pendampingan Hospital Disaster Plan
22 Juni 2022

Pada Rabu (22/6/2022) diadakan pertemuan lanjutan pendampingan Hospital Disaster Plan (HDP) secara daring yang dimoderatori oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Sesi ini dihadiri 6 rumah sakit dari total 7 rumah sakit dikarenakan 1 RS ijin berhalangan hadir. Materi pertama disampaikan oleh Madelina Ariani, MPH tentang penugasan analisis risiko. Madelina menyampaikan analisis risiko rumah sakit dapat dihitung, salah satunya, dengan metode Hospital Safety Index (HSI) yang selanjutnya HSI membantu rumah sakit untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Penilaian HSI dilakukan secara mandiri, untuk itu petugas rumah sakit perlu belajar modul HSI guide for evaluators. Selanjutnya Madelina memandu para peserta untuk mengisi pertanyaan – pertanyaan yang ada di dalam form HSI.

Materi selanjutnya dipaparkan oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, dengan topik Implementasi Logistik dalam Dokumen Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit. Gde mengawali presentasinya dengan berpesan bahwa persiapan logistik sangat penting karena merupakan salah satu unsur pokok manajemen bencana. Persiapan logistik yang baik dapat menentukan berhasil atau gagalnya manajemen bencana. Secara konsep, manajemen logistik merupakan proses perencanaan, mengelola, dan mengontrol aliran bantuan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Proses manajemen logistik ini sudah dimulai saat fase mitigasi dan persiapan bencana yang nantinya ketika terjadi bencana (memasuki fase respon), proses ini dapat berkesinambungan. Pada fase pra bencana, kita dapat memperkirakan kebutuhan yang nantinya akan melonjak pada saat memasuki fase respon. Gde mencontohkan terdapat metode kalkulasi dari WHO untuk menghitung kebutuhan suplai esensial penanganan pandemi COVID-19. Manajemen logistik tergabung dalam struktur organisasi Incident Commander System (ICS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya ICS, respon penanganan bencana terbukti lebih efektif. Gde melanjutkan materinya dengan penjelasan Berita Acara Serah Terima (BAST), peta risiko, peta respon, dan manajemen relawan.
Sesi berikutnya praktik BAST, praktik denah fasilitas RS untuk bencana, dan praktik manajemen relawan oleh para peserta. Fasilitator memberikan catatan bahwa tugas pokok organisasi yang dibuat para peserta masih secara umum, perlu dirancang lebih detil. dr. Bella Donna, M.Kes mengingatkan bahwa tugas tim logistik cukup berat, karena tim tersebut harus menyediakan kebutuhan operasional, melakukan pengecekan dan pendistribusian bantuan. Bella menyarankan tim logistik lebih baik dipisahkan dari tim keuangan dan perencanaan karena berdasarkan pengalaman di lapangan, tim logistik dapat bergerak lebih leluasa ketika terpisah dari tim yang lain sehingga sangat memudahkan saat kondisi darurat, selain itu perlu adanya pendamping warga lokal yang bisa menghubungkan antara korban bencana dan penolong, serta perlu adanya manajemen relawan dan bantuan. Acara ditutup dengan pengarahan untuk pertemuan berikutnya.
Reportase oleh dr. Satrio Pamungkas
Divisi Manajemen Bencana FK – KMK UGM
{slider title=”Rabu, 29 Juni 2022″ class=”green”}
Pendampingan Hospital Disaster Plan
29 Juni 2022

Pada Rabu (29/6/2022), diadakan pertemuan lanjutan pendampingan Hospital Disaster Plan (HDP) secara daring yang dimoderatori oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Sesi kali ini membahas tentang perencanaan surge capacity dan standard operating procedure (SOP) dalam HDP yang dihadiri oleh total 7 peserta rumah sakit. Materi diawali dengan laporan secara singkat perkembangan penugasan struktur pengorganisasian, HVA dan HSI oleh masing – masing rumah sakit. Selanjutnya topik perencanaan surge capacity disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes.
Bella menyampaikan bahwa surge capacity adalah kemampuan sistem pelayanan kesehatan menambah kapasitas untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat secara cepat. Surge capacity terdiri atas 4 komponen: Struktur (fasilitas), staf (SDM), logistik, dan sistem (kebijakan). Bella menyebutkan jenis struktur atau fasilitas yang bisa dimanfaatkan antara lain rumah sakit yang sudah tidak berfungsi seperti rumah sakit di pulau Galang, Batam, dalam penanganan pandemi COVID-19, memanfaatkan fasilitas yang dapat diubah menjadi rumah sakit, contohnya wisma atlit dan wisma haji yang diubah menjadi rumah isolasi/karantina, dan membuat fasilitas bergerak dan portabel seperti rumah sakit container dan rumah sakit lapangan tenda.
Staf atau sumber daya manusia yang perlu diperhatikan dalam pemenuhan surge capacity adalah jumlah personel yang dibutuhkan, jenis tenaga kesehatan, kemampuan atau kompetensi yang diperlukan, perlindungan/asuransi dan gaji/honor bagi staf baru. Dalam hal logistik, hal vital seperti alat dan ruang medis, alat pelindung diri, obat – obatan sangat dibutuhkan, selain itu perlu diperhatikan juga pengelolaan sampah dan pengolahan limbah. Komponen terakhir adalah sistem atau kebijakan yang mana terintegrasi dari organisasi incident commander system, didukung oleh pedoman, prosedur, sistem komunikasi, data dan informasi, serta pendanaan lalu berhubungan dengan pimpinan wilayah seperti pemerintah daerah, dinas kesehatan setempat yang diperkuat dengan nota kesepahaman.
Materi kedua oleh Madelina Ariani, MPH dengan judul standard operating procedure (SOP) dalam HDP. Madelina menyebutkan terdapat 16 SOP berdasarkan HSI yang harus dimiliki oleh rumah sakit dalam dokumen HDP. Dari 7 peserta rumah sakit ini, kebanyakan peserta baru memiliki beberapa SOP saja. SOP dalam HDP dibutuhkan untuk memenuhi standar yang diperlukan dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang tidak terdapat pada aktivitas sehari – hari. Para peserta diajak untuk mengidentifikasi kegiatan apa yang ada di situasi bencana namun tidak ada dalam kegiatan keseharian melalui beberapa pertanyaan seperti bagaimana mengaktifkan tim bencana dan bagaimana mengirimkan/menugaskan tim ke daerah bencana. Prinsip penyusunan SOP adalah mudah, jelas, efisien, efektif, selaras, terukur, dinamis, dan terbaru. Tahapan menyusun SOP dalam HDP adalah persiapan, identifikasi kebutuhan SOP, penulisan & pelaksanaan, dan monitoring evaluasi.

Agenda pertemuan hari ini ditutup dengan tanya jawab oleh para peserta dengan narasumber. Para peserta antusias dalam sesi kali ini, mereka bertanya terkait kondisi yang ada di rumah sakit masing – masing. Acara ditutup dengan pemberian tugas untuk seluruh rumah sakit yang hadir yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
Reporter: dr. Satrio Pamungkas
Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM
{slider title=”Jumat, 15 Juli 2022″ class=”green” open=”true”}

Pada Jumat (15/7/2022), diadakan pertemuan kelima pelatihan Hospital Disaster Plan (HDP) secara daring. Pertemuan kali ini diikuti oleh 5 rumah sakit dan dimoderatori oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Sesi pertama yaitu pemaparan rangkuman dokumen HDP yang telah disusun oleh seluruh peserta. Presentasi RSUD Kesehatan Kerja (RSKK) Provinsi Jawa Barat disampaikan oleh Nurbaeti. Nurbaeti menyampaikan dokumen HDP RSKK terdapat tambahan HVA & HSI dan beberapa SOP. Nurbaeti mengatakan masih terdapat kekurangan pada bagian manajemen bencana dikarenakan penyusunan dokumen ini belum selesai dan belum disosialisasikan. Pihaknya sudah membuat beberapa SOP seperti aktivasi sistem komando, penanganan darurat saat memberikan bantuan di luar RS, persiapan kedatangan dan rencana penanggulangan darurat bencana, dan pengakhiran penanganan bencana eksternal. Selanjutnya, penjelasan HDP Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Halmahera Siaga oleh Wiwi. Penjelasan isi HDP oleh Wiwi disampaikan dari bab awal hingga akhir. Namun, terdapat SOP belum dibuat dikarenakan memerlukan proses lebih lanjut. Pemaparan terakhir dari RSUD Bali Mandara diwakili oleh Jaya yang menjelaskan dokumen HDP dari awal hingga akhir, namun masih terdapat kekurangan pada bagian SOP. Setelah para peserta menjelaskan dokumen mereka, acara dilanjutkan dengan pemberian masukan oleh para fasilitator yaitu Madelina Ariani, MPH, dr. Bella Donna, M.Kes, dan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid.
Para fasilitator menyampaikan bahwa mereka mengapresiasi usaha para peserta yang telah mengikuti seluruh rangkaian sesi pelatihan dan sudah membuat dokumen HDP hingga dapat dipresentasikan di akhir sesi. Lalu, Madelina memberikan masukan berupa perlu adanya tugas pokok organisasi terkait alur pelaporan, memperbaiki penghitungan HSI dan HVA, dan memasukkan layanan yang ada di rumah sakit dan sarana dan prasarana yang ada di rumah sakit ke dalam dokumen HDP. Bella mengingatkan bahwa HDP merupakan dokumen yang hidup yang berarti akan ada revisi terus menerus sesuai kebutuhan kondisi. Harapannya masing – masing peserta membuat rencana tindak lanjut untuk me – review dokumen. Bella menambahkan perlunya SOP jika terjadi dua bencana yang terjadi bersamaan atau dalam satu waktu misalnya pada masa pandemi COVID-19 terjadi kasus keracunan makanan. Gde membagikan petunjuk teknis sebagai bahan acuan untuk para peserta membuat SOP. Gde juga menyampaikan perlu adanya pelimpahan SOP dan skenario.
Reportase oleh dr. Satrio Pamungkas – Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM
{/sliders}
{tab Video}
{slider title=”Rabu, 22 Juni 2022″ class=”green”}
{slider title=”Rabu, 8 Juni 2022″ class=”blue”}
dalam Proses
{slider title=”Rabu, 11 Mei 2022″ class=”red”}
{slider title=”Rabu, 29 Juni 2022″ class=”red”}
{slider title=”Jumat, 15 Juli 2022″ class=”grey”}
{/sliders}
{/tabs}
{tab Materi}
| Materi 1: Akreditasi (SNARS) dan Strategi Penyiapan HDP di RS |
dr. Bella Donna, M.Kes |
| Materi 2: Sistem Komando dan Pengorganisasian |
Dr. Yudha Mathan Sakti,SpOT, K(Spine) |
| Materi 3 : Logistik Medik dan Manajemen Relawan |
apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid |
| Materi 4 : Analisis Risiko, Hospital Safety Indeks |
Madelina Ariani, MPH
|
| Materi/Kegiatan | Narasumber/Fasilitator |
| Materi 5 : Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat |
dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B
|
| Materi 6 : Data dan Informasi saat Bencana |
dr. Bella Donna, M.Kes
|
| Materi 7 : Fasilitas dan SOP saat Bencana |
Happy R Pangaribuan, MPH
|
| Materi 8 : Pengembangan Skenario dan Peta Respon |
Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid
|
{tab Reportase}
{slider 12 April 2022}

Pelatihan hari kedua secara daring dilaksanakan pada Selasa, 12 April 2022 yang dihadiri oleh 68 peserta. Acara dibuka dan dipandu oleh Madelina Ariani, MPH selaku moderator. Kegiatan hari ini terdiri atas review tugas dari pertemuan sebelumnya, presentasi 4 materi, dan pemaparan tugas hari kedua. Pada sesi review tugas hari pertama, Madelina memeriksa tugas mengenai pengorganisasian dan Hospital Safety Index. Secara umum pengorganisasian HDP menggunakan pendekatan MIMMS dan HICS, keduanya bisa digunakan dengan tetap memperhatikan fungsi pengorganisasian dan prinsipnya yakni ada tugas dan fungsi komando, perencanaan, operasional, logistik, serta keuangan dan administrasi. Tidak hanya itu, tetapi juga memastikan bahwa tugas telah dibagi habis termasuk siapa melakukan apa, alur komunikasinya bagaimana, siapa melapor ke siapa, dan ada perencanaan. Sedangkan untuk penugasan HVA dan HSI bahwa secara umum peserta sudah sangat familiar dengan tools HVA dan HSI. Rumah sakit perlu memberikan kesimpulan dari analisis risiko yang sudah dilakukan dalam bentuk deskripsi mengenai jenis bencana apa yang dijadikan prioritas dan dikembangkan menjadi skenario untuk dilanjutkan menjadi kasus simulasi ataupun pengembangan SOP.
Materi pertama pada hari kedua dengan topik “Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat” disampaikan oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, SpB. Awalnya, dr. Tomo, SpB menyampaikan adanya penyakit yang dapat menyebabkan kedaruratan yang mengancam kesehatan masyarakat secara global, seperti Mers-CoV dan Ebola, dan ada penyakit – penyakit lain yang membebani kesehatan Indonesia seperti Tuberkulosis, Pneumonia, Hepatitis B, Tifoid, Rabies, Leptospirosis, dan lain – lain. Penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar dari bencana alam adalah penyakit gastrointestinal dan respirasi. Kedua penyakit itu membutuhkan perhatian yang khusus dalam penanganannya. Wahyu menyampaikan Trias Epidemiologis Penyakit Infeksi, yang terdiri atas agen (patogen), lingkungan, inang (host). Ketiganya memiliki corak karakteristik dan cara intervensi tersendiri. Dengan memecah rantai infeksi melalui cara intervensi masing-masing, harapannya potensi – potensi penyakit yang ada bisa dicegah. Berbagai penyakit dapat muncul pada saat bencana, secara umum dibagi menjadi infeksi dan non infeksi.
Materi selanjutnya berjudul “Fasilitas dan SOP saat Bencana” dipaparkan oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Fasilitas saat bencana adalah perubahan fungsi fasilitas sehari – hari menjadi fasilitas yang menjadi penyokong saat bencana dan hanya digunakan saat terjadi bencana. Contohnya, adanya ruang komando, ruang media, ruang informasi, ruang dekontaminasi, triase, logistik, ruang perawatan pasien dan lain – lain. Fasilitas penunjang juga diperlukan seperti ATK, alat komunikasi, peta, makanan, minuman, alat pelindung diri dan sebagainya. Tim harus memastikan fasilitas tersebut tersedia agar penanganan bencana dapat berjalan secara optimal. SOP dalam HDP untuk memenuhi sejumlah standar yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana yang tidak terdapat pada kegiatan sehari – hari. Isi SOP tersebut oproses penyelenggaraan kegiatan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana, dan oleh siapa dilakukan. SOP tersebut antara lain alur komando, sistem komunikasi, triase, penerimaan donasi, pengaturan relawan, dan lain – lain. SOP ini disesuaikan dengan kondisi tiap rumah sakit tergantung kebutuhan. Menentukan kebutuhan SOP berdasarkan analisis risiko bencana di rumah sakit, berdasarkan pengalaman, evaluasi dokumen HDP, dan referensi.
Materi ketiga berisi Data dan Informasi Saat Bencana diberikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes, yang menyampaikan bahwa data dan informasi dibutuhkan pada fase pra bencana dan saat terjadi bencana karena data diperlukan menjalankan fungsi rumah sakit dan membuat laporan ke pihak terkait. Seorang surveilans dibutuhkan di rumah sakit yang bertugas untuk melakukan pengamatan secara teratur dan terus menerus yang nantinya data akan diseminasikan kepada para stakeholder. Komponen surveilans yaitu pengumpulan data/informasi, pengolahan data, analisis dan interpretasi data, dan penyebarluasan informasi. Surveilans saat bencana tidak ada bedanya dengan saat tidak terjadi bencana, hanya harus lebih cepat, sederhana, berjejaring, dan memiliki prioritas. Peran dan fungsi data dalam manajemen bencana adalah sebagai dasar dalam mengambil keputusan/kebijakan, early warning, dan dokumentasi kegiatan/ laporan. Dibutuhkan SDM, kompetensi, pengetahuan, dan update untuk pengelolaan data dan informasi. Akhirnya, sistem administrasi informasi di rumah sakit untuk membantu aktivitas yang ada di rumah sakit.
Materi terakhir berjudul “Pengembangan Skenario dan Peta Respon” oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Peta Risiko adalah gambaran tingkat risiko bencana suatu daerah, disusun sebelum terjadi bencana. Sedangkan peta respon dibuat saat terjadi bencana berisi bahaya, kapasitas, alur respon, dan jalur evakuasi. Tujuan peta respon ini untuk mengoptimalkan bantuan yang masuk dari luar daerah terdampak bencana. Peta respon diletakkan di tempat yang mudah dilihat, selalu di – update berdasarkan hasil laporan perkembangan. Skenario disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang menggambarkan situasi yang realistis, logis, serta dapat dipertanggungjawabkan, bertujukan untuk mendeskripsikan satu ancaman bahaya yang akan dibuatkan rencana kontinjesi sehingga para penyusun memiliki persepsi yang sama akan dampak yang mungkin terjadi. Komponen penyusunan skenario: kronologi kejadian, penentuan tingkat risiko, waktu terjadinya, lokasi kejadian, durasi kejadian, asumsi dampak, kondisi yang memperberat/meringankan dampak. Di akhir sesi, kegiatan ditutup dengan tanya jawab dengan para peserta.
Reporter: dr. Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
{slider 5 April 2022}

Pelatihan dasar penyusunan rencana penanganan bencana di rumah sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) dilakukan secara online pada minggu pertama dan kedua bulan ini (5 dan 12 April 2022). Hari pertama (5/4/2022) pelatihan dihadiri 101 peserta yang tergabung dalam Zoom. Agenda hari pertama antara lain pemaparan 4 materi dan terdapat beberapa penugasan. Acara ini bertujuan agar peserta memahami penyusunan HDP yang sesuai dengan karakteristik tiap rumah sakit agar nantinya rumah sakit siap untuk menghadapi baik bencana alam maupun non alam.
Pelatihan dipandu oleh Happy R. Pangaribuan, MPH, selaku moderator, dan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD selaku konsultan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan. Hendro meninggalkan pesan bahwa pembuatan HDP bertujuan untuk persiapan RS dalam menghadapi bencana bukan hanya untuk akreditasi. Pasalnya jika HDP disusun sesuai dengan pelatihan ini, maka dapat digunakan juga sebagai persyaratan akreditasi. Hasil dari pelatihan ini adalah Hospital Disaster Plan yang operasional sesuai kondisi di tempat masing – masing.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes tentang HDP & Akreditasi SNARS 1.1. Bella Donna menyampaikan bahwa Hospital Disaster Plan (HDP) harus bisa operasional saat terjadi bencana, tidak hanya sekadar dokumen. Dari pengalaman pandemi dan bencana yang dialami selama ini, rumah sakit harus bisa memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam dan pengendalian penyakit.
Posisi HDP dalam Akreditasi SNARS 1.1 yaitu Standar HDP terdapat pada Standar MFK 6. Elemen penilaian MFK 6 terdiri atas 4 poin: 1. RS memiliki regulasi manajemen bencana, 2. RS mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, 3. RS telah melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana, 4. IGD telah mempunyai ruang dekontaminasi. Surge capacity adalah kemampuan sistem pelayanan kesehatan untuk secara cepat menambah kapasitas melebihi dari kondisi pelayanan normal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis yang meningkat. Terdiri dari 4 komponen: struktur (fasilitas), staf (sumber daya manusia), sistem (manajemen, proses dan kebijakan), stuff (peralatan dan obat).
Materi kedua dengan topik Sistem Komando dan Pengorganisasian disampaikan oleh dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT(K) – Spine. Yudha menitikberatkan masalah utama dalam penanganan bencana adalah Koordinasi. Persiapan dan koordinasi merupakan hal yang sangat penting karena bencana dapat “diprediksi” namun bisa datang kapan saja. Dengan HDP, rumah sakit bisa mempersiapkan penanganan bencana dengan baik, memperpendek masa krisis, dan memberikan respon optimal.
Konsep pengorganisasian harus membuat organisasi yang sederhana dan jelas. Lalu, saat terjadi bencana harus ada Incident Command System (ICS) dan membawahi 4 bidang dengan masing – masing ada penanggung jawabnya, antara lain: operasional, perencanaan, logistik, administrasi/keuangan. Yudha memberikan pesan jangan memberikan satu posisi untuk satu orang saja karena bencana dapat menimpa siapa saja, sediakan backup plan dan harus bisa interchangeable. Masing – masing personil harus memiliki kartu tugas (Job Action Sheets) yang berisi garis kewenangan, peran dan tanggung jawab personel. Di lokasi bencana harus memiliki command center untuk koordinasi karena kondisi bisa dinamis, liquid, dan volatile.
Materi ketiga dengan topik Logistik Medis dan Manajemen Relawan dipaparkan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Bidang Logistik merupakan salah satu bidang yang penting karena berfungsi untuk menyediakan semua kebutuhan dukungan insiden dan mengelola SDM. Logistik bertanggung jawab untuk menyediakan: fasilitas, transportasi, komunikasi, persediaan, pemeliharaan dan pengisian bahan bakar peralatan, layanan makanan, dan layanan medis.
Pada proses perencanaan diperlukan sense of crisis agar dapat menerjemahkan data yang diperlukan untuk perhitungan kebutuhan. Potensi bantuan bisa dari pemanfaatan filantropis, donasi, lingkungan sekitar RS, pemerintah, dan sumber lain. Penyimpanan logistik perlu ada beberapa hal yang dipertimbangkan lalu yang penting adalah pencatatan jenis bantuan, khususnya Berita Acara Serah Terima (BAST). Tugas logistik juga memahami platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya, memahami manajemen relawan, pengadaan logistik, penyimpanan dan pencatatan logistik
Materi terakhir di hari pertama dengan topik Analisis Risiko dan Hospital Safety Index oleh Madelina Ariani, MPH. SNARS mewajibkan rumah sakit melakukan self-assessment kesiapan menghadapi bencana dengan Hospital Safety Index (HIS) dari WHO. Terdapat 40 jenis ancaman bencana yang perlu dinilai antara lain bencana meterologi, hidrologi, iklim, teknologi, biologi, sosial, dan geoteknikal.
Analisis risiko perlu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi ancaman sehingga dapat membuat kesiapsiagaan/perencanaan yang tepat. Selanjutnya dapat mengetahui potensi ancaman bencana yang ada di wilayah tersebut dan menentukan prioritas dalam penanggulanan bencana dan krisis kesehatan
Instrumen – instrumen analisis risiko antara lain: cara sederhana, Hazard Vulnerable Assessment (HVA), Hospital Safety Index (HSI), Hazard Risk Assessment (HRA), dan lain – lain. Selanjutnya diberikan prioritas dalam penanganan bencana. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi terhadap terjadinya risiko krisis kesehatan.
Reporter: dr Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK)
{/sliders}
{tab Rekaman Video}
{/tabs}
Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) di daerah yang diselenggarakan pada tahun lalu. Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil reviewmenunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.
Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali PHEOC daerah yang terintegrasi dengan Dinkes Disaster Plan. Secara khusus bertujuan untuk menguatkan komponen dinkes disaster plan yang memuat H-EOC dan PHEOC di daerah dan memfasilitasi penyusunan dinkes disaster plan struktur pengorganisasian dan interoperability koordinasi PHEOC di daerah, termasuk tupoksinya.
Adapun agenda kegiatan adalah :


Materi
Reportase
Pelatihan Pendalaman Rencana Kesiapsiagaan Bencana
Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
Dalam dan Luar Jaringan (Hybrid)

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Komponen Dinkes Disaster Plan”
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi pengorganisasian, komponen dan analisis risiko. Pada pertemuan pertama 22 Maret 2022 peserta yang mengikuti kegiatan melalui zoom sekitar 26 orang. Kegiatan dimoderatori oleh Happy R Pangaribuan, MPH. Koordinator program Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS membuka kegiatan dan menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berkelanjutan hingga 2023. Harapannya dinas kesehatan tetap berkomitmen mengikuti kegiatan dan aktif memberikan masukan, sehingga output dokumen dinkes disaster plan bisa tercapai dan sampai pada tahap Table Top Excercises. Selanjutnya dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan Komponen Dinkes Disaster Plan. Komponen ini sudah disesuaikan dengan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang dikembangkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Dokumen mencakup hal – hal yang dibutuhkan dinas kesehatan untuk kesiapsiagaan krisis kesehatan akibat bencana alam maupun bencana non alam. Komponen – komponen tersebut diantaranya identifikasi kapasitas kesehatan, analisis risiko, rencana kontingensi dan operasional HEOC. Dokumen ini disusun sesuai dengan karakteristik dinas kesehatan dan ada tim khusus untuk menyelesaikan dokumen. Pada sesi diskusi peserta menanyakan data apa saja yang diperlukan dalam menganalisi risiko dan apa perbedaan rencana kontingensi dengan dokumen dinkes disaster plan.

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pemapran Materi Pengorganisasian (kiri) dan Analisis Risiko (kanan)
Pertemuan kedua 24 Maret 2022, Gde Yulian, Apt, M.Epid memaparkan bagaimana sistem pengorganisasian dalam dokumen dinkes disaster plan. Pengorganisasian yang disusun tetap mengacu pada pendekatan Incident Command System (ICS). Pengorganisasi dengan pendekatan ICS akan memudahkan tim bencana untuk aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC), yang sebelumnya dikenal dengan klaster kesehatan. Pertemuan ketiga, 25 Maret 2022, Madelina Ariani, MPH memaparkan analisis risiko bencana. Melalui analisis ini akan didapatkan satu jenis bencana yang menjadi prioritas penanganan dalam dokumen dinkes disaster plan. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan skenario yang mendetailkan rencana aksi untuk penanganan bencana prioritas tadi. Madelina juga menyampaikan sekilas terkait SOP apa saja yang diperlukan dalam penanganan bencana. Pada sesi diskusi Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa sudah pernah melakukan kajian analisis risiko bencana. Hasil kajian ini nanti akan di – review kembali pada pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan secara luring di Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan pelatihan online ini berjalan dengan baik, peserta juga konsisten untuk mengikuti via zoom. Peserta yang mengikuti pelatihan online ini menjadi peserta pelatihan luring. Pelatihan luring untuk Dinkes Kabupaten Maros akan dilaksanakan pada 27 – 28 Maret 2022, Dinkes Kota Makassar digabung dengan Dinkes Provinsi Sulsel pada 29 – 30 Maret 2022. Pelatihan luring nanti akan banyak ke penugasan langsung menyusun komponen dinkes disaster plan dan diskusi lebih lanjut.
Reporter : Happy R Pangaribuan (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
Pelatihan Pendalaman Rencana Kesiapsiagaan Bencana
Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros
Dalam dan Luar Jaringan (Hybrid)
22 – 31 Maret 2022
{tab title=”Kerangka Acuan Kegiatan” class=”red”}
Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) adalah wadah pusat komunikasi dan koordinasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau juga dikenal dengan public health emergency, baik pada saat normal karena eskalasi kejadian penyakit atau kejadian luar biasa penyakit yang merupakan dampak lanjutan dari kejadian bencana non alam yang mendahului, atau public health in emergency. Kedaruratan kesehatan masyarakat seringkali diikuti dengan kejadian yang sangat cepat, menyerang banyak orang dan luas wilayah yang bisa sangat luas, serta dapat menimbulkan kecemasan berbagai pihak.
Untuk itu, dengan kondisi negara Indonesia yang luas ini, PHEOC diharapkan tidak hanya berada di level nasional saja tapi juga dapat diimplementasikan juga di tingkat daerah. Selama ini PHEOC daerah fungsinya berada di dinas kesehatan di seksi surveilans bidang pengendalian penyakit dengan fungsi komando dan koordinasi yang masih sangat terbatas, padahal dengan kapasitas pemantauan rutin dan pengolahan data seperti yang selama ini sudah berjalan dengan baik, fungsi PHEOC daerah dapat lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu, PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Lembaga INSPIRASI melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas PHEOC Daerah untuk Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil review menunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan/ Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.
Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam pengendalian kegawatdaruratan kesehatan masyarakat melalui penguatan kapasitas sumber daya pengendali PHEOC daerah yang terintegrasi dengan Dinkes Disaster Plan.
Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk:
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi Pengorganisasian, komponen dan analisis risiko.
Dilanjutkan dengan 2 hari secara tatap muka untuk masing-masing daerah. Hari 1 dan 2 setiap narasumber kembali menguatkan konsep, operasi, dan pengorganiasain H-EOC dan PHEOC dalam dinkes disaster plan di daerah melanjutkan dari kegiatan pelatihan online tahun lalu. Kemudian dilanjutkan dengan penugasan – penugasan dikerjakan oleh tim penyusun PHEOC daerah yang berfokus pada penyusunan pengorganisasian, alur dan tupoksi, termasuk interoprebaility dan koordinasi lintas sektor. Evaluasi kegiatan dan konten dilaksanakan diakhir kegiatan tatap muka.
Setelah kegiatan tatap muka, selama 2 bulan oleh PKMK FK – KMK UGM, masing – masing daerah akan didampingi menyusun Dinas Kesehatan Disaster Plan. Beberapa kegiatan online dibutuhkan untuk mengevaluasi progress pengerjaan dan pemahaman, termasuk konsultasi menggunakan media email dan WA Group.
Peserta kegiatan berasal dari tiga daerah terpilih yakni Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, dan Dinas Kesehatan Kota Makasar. Peserta diharapkanyang berasal dari Bidang Pengendalian Penyakit (P2), Sie Surveillans, Sie Krisis Kesehatan, Bidang Yankes, dan Sie Rujukan.
Sangat diharapkan peserta asesmen pada April dan pelatihan online awal Juni tetap dapat berhadir dalam kegiatan ini. Setiap dinas kesehatan diharapkan dapat mengirimkan maksimal 10 orang yang dapat berhadir selama tiga hari kegiatan.
Setiap kelompok dinas kesehatan diharapkan membawa:
| Selasa, 22 Maret 2022 | |||
| Waktu (WITA) | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 10.00 – 10.10 |
Pengantar dan Pembukaan
Pretest |
PKMK FK – KMK UGM Dinkes Prov. Sulawesi Selatan
Moderator : Madelina Ariani, MPH |
|
| 10.10 – 10.50 |
Overview Dinkes Disaster Plan Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
| 10.50 – 11.50 | Diskusi | ||
| 11.50 – 12.00 | Pengarahan pertemuan selanjutnya | ||
| Kamis, 24 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 10.00 – 10.10 | Pengantar singkat dan review pertemuan sebelumnya |
Moderator Happy R Pangaribuan, MPH |
|
|
10.10 – 10.50
|
Pengorganisasian Penguatan Operasional HEOC dan PHEOC |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
| 10.50 – 11.50 | Diskusi | ||
| 11.50 – 12.00 | Pengarahan pertemuan berikutnya | PKMK FK – KMK UGM | |
| Jumat, 25 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Moderator/Narasumber | |
| 09.00 – 09.10 | Pengantar singkat |
Moderator Happy R Pangaribuan, MPH |
|
| 09.10 – 10.00 | Analisis Risiko dan Pengembangan Skenario | Madelina Ariani, MPH – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.00 – 10.40
|
Diskusi | ||
| 10.40 – 10.50 | Post Test | ||
| 10.50 – 11.00 | Testimoni dan Rencana Tindak Lanjut | ||
| 10.00 | Penutupan | ||
Jadwal Luring Pendampingan Penyusunan Dinkes Disaster Plan
Kabupaten Maros
| Senin, 28 Maret 2022 | ||||
| Waktu (WITA) | Materi | Keterangan | ||
|
09.00 – 09.10 09.10 – 09.30 |
Pengantar kegiatan Pengarahan dan pembukaan
|
PKMK FK-KMK UGM Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan |
||
| 09.30 – 10.00 |
Review Pelatihan Online minggu sebelumnya Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | ||
|
10.00– 12.00
|
Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
||
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | |||
| 13.00 – 14.45 |
Lanjutan Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
||
| 14.45 – 15.00 | Pengarahan pertemuan hari 2 | PKMK FK-KMK UGM | ||
| Selasa, 29 Maret 2022 | ||||
| Waktu | Materi | Keterangan | ||
| 09.00 – 09.30 | Review materi hari 1 dan penugasan 1-2 | Fasilitator dan peserta | ||
|
09.30 – 10.00
10.00 – 10.15 |
Materi 3 : Interoperability H-EOC dan koordinasi PHEOC di daerah Diskusi |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | ||
|
10.15 – 12.00
|
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
||
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | |||
| 13.00 – 14.00 |
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan |
Fasilitator:
|
||
|
14.00 – 14.30
|
Presentasi draft dokumen dinkes disaster plan | Dinas Kesehatan | ||
| 14.30 – 15.00 | RTL dan Penutup | Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt | ||
Kota Makassar – Provinsi Sulawesi Selatan
| Rabu, 30 Maret 2022 | |||
| Waktu (WITA) | Materi | Keterangan | |
|
09.00 – 09.10 09.10 – 09.30 |
Pengantar kegiatan Pengarahan dan pembukaan
|
PKMK FK-KMK UGM Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan |
|
| 09.30 – 10.00 |
Review Pelatihan Online minggu sebelumnya Komponen Dinkes Disaster Plan |
dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.00– 12.00
|
Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
|
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | ||
| 13.00 – 14.45 |
Lanjutan Penyusunan Dokumen Dinkes Disarter Plan
|
Fasilitator:
|
|
| 14.45 – 15.00 | Pengarahan pertemuan hari 2 | PKMK FK-KMK UGM | |
| Kamis, 31 Maret 2022 | |||
| Waktu | Materi | Keterangan | |
| 09.00 – 09.30 | Review materi hari 1 dan penugasan 1-2 | Fasilitator dan peserta | |
|
09.30 – 10.00
10.00 – 10.15 |
Materi 3 : Interoperability H-EOC dan koordinasi PHEOC di daerah Diskusi |
Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM | |
|
10.15 – 12.00
|
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
|
| 12.00 – 13.00 | Istirahat | ||
| 13.00 – 14.00 |
Lanjutan : Penyusunan dokumen dinkes disaster plan
|
Fasilitator:
|
|
|
14.00 – 14.30
|
Presentasi draft dokumen dinkes disaster plan | Dinas Kesehatan | |
| 14.30 – 15.00 | RTL dan Penutup | Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt | |
Jadwal pendampingan jarak jauh ditentukan kemudian selama 2 bulan yaitu April dan Mei 2022.
Penutup
Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Hybrid – Daring dan Tatap Muka Peningkatan Kapasitas Penyusunan Dinkes Disaster Plan, integrasi H-EOC dengan PHEOC Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berharap Dinas Kesehatan dapat memahami aspek-aspek yang terdapat dalam Dinkes Disaster Plan daerah dan dapat mengembangkan rencana tersebut kedepannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan kesehatan masyarakat baik yang disebabkan bencana non alam, krisis kesehatan dan bencana alam itu sendiri. Sebagai lembaga riset dan konsultasi, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan/ PKMK FK – KMK UGM serta jejaring yang terlibat akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan peningkatan kesiapsiagaan krisis kesehatan baik karena bencana alam, non-alam maupun sosial di daerah.
{tab title=”Reportase” class=”blue”}

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Komponen Dinkes Disaster Plan”
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara online. Kegiatan pelatihan online ditujukan untuk penguatan konsep DDP yang meliputi pengorganisasian, komponen dan analisis risiko. Pada pertemuan pertama 22 Maret 2022 peserta yang mengikuti kegiatan melalui zoom sekitar 26 orang. Kegiatan dimoderatori oleh Happy R Pangaribuan, MPH. Koordinator program Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS membuka kegiatan dan menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berkelanjutan hingga 2023. Harapannya dinas kesehatan tetap berkomitmen mengikuti kegiatan dan aktif memberikan masukan, sehingga output dokumen dinkes disaster plan bisa tercapai dan sampai pada tahap Table Top Excercises. Selanjutnya dr. Bella Donna, M.Kes memaparkan Komponen Dinkes Disaster Plan. Komponen ini sudah disesuaikan dengan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang dikembangkan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Dokumen mencakup hal – hal yang dibutuhkan dinas kesehatan untuk kesiapsiagaan krisis kesehatan akibat bencana alam maupun bencana non alam. Komponen – komponen tersebut diantaranya identifikasi kapasitas kesehatan, analisis risiko, rencana kontingensi dan operasional HEOC. Dokumen ini disusun sesuai dengan karakteristik dinas kesehatan dan ada tim khusus untuk menyelesaikan dokumen. Pada sesi diskusi peserta menanyakan data apa saja yang diperlukan dalam menganalisi risiko dan apa perbedaan rencana kontingensi dengan dokumen dinkes disaster plan.

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pemapran Materi Pengorganisasian (kiri) dan Analisis Risiko (kanan)
Pertemuan kedua 24 Maret 2022, Gde Yulian, Apt, M.Epid memaparkan bagaimana sistem pengorganisasian dalam dokumen dinkes disaster plan. Pengorganisasian yang disusun tetap mengacu pada pendekatan Incident Command System (ICS). Pengorganisasi dengan pendekatan ICS akan memudahkan tim bencana untuk aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC), yang sebelumnya dikenal dengan klaster kesehatan. Pertemuan ketiga, 25 Maret 2022, Madelina Ariani, MPH memaparkan analisis risiko bencana. Melalui analisis ini akan didapatkan satu jenis bencana yang menjadi prioritas penanganan dalam dokumen dinkes disaster plan. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan skenario yang mendetailkan rencana aksi untuk penanganan bencana prioritas tadi. Madelina juga menyampaikan sekilas terkait SOP apa saja yang diperlukan dalam penanganan bencana. Pada sesi diskusi Dinas Kesehatan menyampaikan bahwa sudah pernah melakukan kajian analisis risiko bencana. Hasil kajian ini nanti akan di – review kembali pada pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan secara luring di Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan pelatihan online ini berjalan dengan baik, peserta juga konsisten untuk mengikuti via zoom. Peserta yang mengikuti pelatihan online ini menjadi peserta pelatihan luring. Pelatihan luring untuk Dinkes Kabupaten Maros akan dilaksanakan pada 27 – 28 Maret 2022, Dinkes Kota Makassar digabung dengan Dinkes Provinsi Sulsel pada 29 – 30 Maret 2022. Pelatihan luring nanti akan banyak ke penugasan langsung menyusun komponen dinkes disaster plan dan diskusi lebih lanjut.
Reporter : Happy R Pangaribuan (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
{/tabs}
{tab Reportase}
{slider 12 April 2022}

Pelatihan hari kedua secara daring dilaksanakan pada Selasa, 12 April 2022 yang dihadiri oleh 68 peserta. Acara dibuka dan dipandu oleh Madelina Ariani, MPH selaku moderator. Kegiatan hari ini terdiri atas review tugas dari pertemuan sebelumnya, presentasi 4 materi, dan pemaparan tugas hari kedua. Pada sesi review tugas hari pertama, Madelina memeriksa tugas mengenai pengorganisasian dan Hospital Safety Index. Secara umum pengorganisasian HDP menggunakan pendekatan MIMMS dan HICS, keduanya bisa digunakan dengan tetap memperhatikan fungsi pengorganisasian dan prinsipnya yakni ada tugas dan fungsi komando, perencanaan, operasional, logistik, serta keuangan dan administrasi. Tidak hanya itu, tetapi juga memastikan bahwa tugas telah dibagi habis termasuk siapa melakukan apa, alur komunikasinya bagaimana, siapa melapor ke siapa, dan ada perencanaan. Sedangkan untuk penugasan HVA dan HSI bahwa secara umum peserta sudah sangat familiar dengan tools HVA dan HSI. Rumah sakit perlu memberikan kesimpulan dari analisis risiko yang sudah dilakukan dalam bentuk deskripsi mengenai jenis bencana apa yang dijadikan prioritas dan dikembangkan menjadi skenario untuk dilanjutkan menjadi kasus simulasi ataupun pengembangan SOP.
Materi pertama pada hari kedua dengan topik “Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat” disampaikan oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, SpB. Awalnya, dr. Tomo, SpB menyampaikan adanya penyakit yang dapat menyebabkan kedaruratan yang mengancam kesehatan masyarakat secara global, seperti Mers-CoV dan Ebola, dan ada penyakit – penyakit lain yang membebani kesehatan Indonesia seperti Tuberkulosis, Pneumonia, Hepatitis B, Tifoid, Rabies, Leptospirosis, dan lain – lain. Penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar dari bencana alam adalah penyakit gastrointestinal dan respirasi. Kedua penyakit itu membutuhkan perhatian yang khusus dalam penanganannya. Wahyu menyampaikan Trias Epidemiologis Penyakit Infeksi, yang terdiri atas agen (patogen), lingkungan, inang (host). Ketiganya memiliki corak karakteristik dan cara intervensi tersendiri. Dengan memecah rantai infeksi melalui cara intervensi masing-masing, harapannya potensi – potensi penyakit yang ada bisa dicegah. Berbagai penyakit dapat muncul pada saat bencana, secara umum dibagi menjadi infeksi dan non infeksi.
Materi selanjutnya berjudul “Fasilitas dan SOP saat Bencana” dipaparkan oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Fasilitas saat bencana adalah perubahan fungsi fasilitas sehari – hari menjadi fasilitas yang menjadi penyokong saat bencana dan hanya digunakan saat terjadi bencana. Contohnya, adanya ruang komando, ruang media, ruang informasi, ruang dekontaminasi, triase, logistik, ruang perawatan pasien dan lain – lain. Fasilitas penunjang juga diperlukan seperti ATK, alat komunikasi, peta, makanan, minuman, alat pelindung diri dan sebagainya. Tim harus memastikan fasilitas tersebut tersedia agar penanganan bencana dapat berjalan secara optimal. SOP dalam HDP untuk memenuhi sejumlah standar yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana yang tidak terdapat pada kegiatan sehari – hari. Isi SOP tersebut oproses penyelenggaraan kegiatan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana, dan oleh siapa dilakukan. SOP tersebut antara lain alur komando, sistem komunikasi, triase, penerimaan donasi, pengaturan relawan, dan lain – lain. SOP ini disesuaikan dengan kondisi tiap rumah sakit tergantung kebutuhan. Menentukan kebutuhan SOP berdasarkan analisis risiko bencana di rumah sakit, berdasarkan pengalaman, evaluasi dokumen HDP, dan referensi.
Materi ketiga berisi Data dan Informasi Saat Bencana diberikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes, yang menyampaikan bahwa data dan informasi dibutuhkan pada fase pra bencana dan saat terjadi bencana karena data diperlukan menjalankan fungsi rumah sakit dan membuat laporan ke pihak terkait. Seorang surveilans dibutuhkan di rumah sakit yang bertugas untuk melakukan pengamatan secara teratur dan terus menerus yang nantinya data akan diseminasikan kepada para stakeholder. Komponen surveilans yaitu pengumpulan data/informasi, pengolahan data, analisis dan interpretasi data, dan penyebarluasan informasi. Surveilans saat bencana tidak ada bedanya dengan saat tidak terjadi bencana, hanya harus lebih cepat, sederhana, berjejaring, dan memiliki prioritas. Peran dan fungsi data dalam manajemen bencana adalah sebagai dasar dalam mengambil keputusan/kebijakan, early warning, dan dokumentasi kegiatan/ laporan. Dibutuhkan SDM, kompetensi, pengetahuan, dan update untuk pengelolaan data dan informasi. Akhirnya, sistem administrasi informasi di rumah sakit untuk membantu aktivitas yang ada di rumah sakit.
Materi terakhir berjudul “Pengembangan Skenario dan Peta Respon” oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Peta Risiko adalah gambaran tingkat risiko bencana suatu daerah, disusun sebelum terjadi bencana. Sedangkan peta respon dibuat saat terjadi bencana berisi bahaya, kapasitas, alur respon, dan jalur evakuasi. Tujuan peta respon ini untuk mengoptimalkan bantuan yang masuk dari luar daerah terdampak bencana. Peta respon diletakkan di tempat yang mudah dilihat, selalu di – update berdasarkan hasil laporan perkembangan. Skenario disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang menggambarkan situasi yang realistis, logis, serta dapat dipertanggungjawabkan, bertujukan untuk mendeskripsikan satu ancaman bahaya yang akan dibuatkan rencana kontinjesi sehingga para penyusun memiliki persepsi yang sama akan dampak yang mungkin terjadi. Komponen penyusunan skenario: kronologi kejadian, penentuan tingkat risiko, waktu terjadinya, lokasi kejadian, durasi kejadian, asumsi dampak, kondisi yang memperberat/meringankan dampak. Di akhir sesi, kegiatan ditutup dengan tanya jawab dengan para peserta.
Reporter: dr. Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)
{slider 5 April 2022}

Pelatihan dasar penyusunan rencana penanganan bencana di rumah sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) dilakukan secara online pada minggu pertama dan kedua bulan ini (5 dan 12 April 2022). Hari pertama (5/4/2022) pelatihan dihadiri 101 peserta yang tergabung dalam Zoom. Agenda hari pertama antara lain pemaparan 4 materi dan terdapat beberapa penugasan. Acara ini bertujuan agar peserta memahami penyusunan HDP yang sesuai dengan karakteristik tiap rumah sakit agar nantinya rumah sakit siap untuk menghadapi baik bencana alam maupun non alam.
Pelatihan dipandu oleh Happy R. Pangaribuan, MPH, selaku moderator, dan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD selaku konsultan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan. Hendro meninggalkan pesan bahwa pembuatan HDP bertujuan untuk persiapan RS dalam menghadapi bencana bukan hanya untuk akreditasi. Pasalnya jika HDP disusun sesuai dengan pelatihan ini, maka dapat digunakan juga sebagai persyaratan akreditasi. Hasil dari pelatihan ini adalah Hospital Disaster Plan yang operasional sesuai kondisi di tempat masing – masing.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes tentang HDP & Akreditasi SNARS 1.1. Bella Donna menyampaikan bahwa Hospital Disaster Plan (HDP) harus bisa operasional saat terjadi bencana, tidak hanya sekadar dokumen. Dari pengalaman pandemi dan bencana yang dialami selama ini, rumah sakit harus bisa memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam dan pengendalian penyakit.
Posisi HDP dalam Akreditasi SNARS 1.1 yaitu Standar HDP terdapat pada Standar MFK 6. Elemen penilaian MFK 6 terdiri atas 4 poin: 1. RS memiliki regulasi manajemen bencana, 2. RS mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, 3. RS telah melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana, 4. IGD telah mempunyai ruang dekontaminasi. Surge capacity adalah kemampuan sistem pelayanan kesehatan untuk secara cepat menambah kapasitas melebihi dari kondisi pelayanan normal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis yang meningkat. Terdiri dari 4 komponen: struktur (fasilitas), staf (sumber daya manusia), sistem (manajemen, proses dan kebijakan), stuff (peralatan dan obat).
Materi kedua dengan topik Sistem Komando dan Pengorganisasian disampaikan oleh dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT(K) – Spine. Yudha menitikberatkan masalah utama dalam penanganan bencana adalah Koordinasi. Persiapan dan koordinasi merupakan hal yang sangat penting karena bencana dapat “diprediksi” namun bisa datang kapan saja. Dengan HDP, rumah sakit bisa mempersiapkan penanganan bencana dengan baik, memperpendek masa krisis, dan memberikan respon optimal.
Konsep pengorganisasian harus membuat organisasi yang sederhana dan jelas. Lalu, saat terjadi bencana harus ada Incident Command System (ICS) dan membawahi 4 bidang dengan masing – masing ada penanggung jawabnya, antara lain: operasional, perencanaan, logistik, administrasi/keuangan. Yudha memberikan pesan jangan memberikan satu posisi untuk satu orang saja karena bencana dapat menimpa siapa saja, sediakan backup plan dan harus bisa interchangeable. Masing – masing personil harus memiliki kartu tugas (Job Action Sheets) yang berisi garis kewenangan, peran dan tanggung jawab personel. Di lokasi bencana harus memiliki command center untuk koordinasi karena kondisi bisa dinamis, liquid, dan volatile.
Materi ketiga dengan topik Logistik Medis dan Manajemen Relawan dipaparkan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Bidang Logistik merupakan salah satu bidang yang penting karena berfungsi untuk menyediakan semua kebutuhan dukungan insiden dan mengelola SDM. Logistik bertanggung jawab untuk menyediakan: fasilitas, transportasi, komunikasi, persediaan, pemeliharaan dan pengisian bahan bakar peralatan, layanan makanan, dan layanan medis.
Pada proses perencanaan diperlukan sense of crisis agar dapat menerjemahkan data yang diperlukan untuk perhitungan kebutuhan. Potensi bantuan bisa dari pemanfaatan filantropis, donasi, lingkungan sekitar RS, pemerintah, dan sumber lain. Penyimpanan logistik perlu ada beberapa hal yang dipertimbangkan lalu yang penting adalah pencatatan jenis bantuan, khususnya Berita Acara Serah Terima (BAST). Tugas logistik juga memahami platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya, memahami manajemen relawan, pengadaan logistik, penyimpanan dan pencatatan logistik
Materi terakhir di hari pertama dengan topik Analisis Risiko dan Hospital Safety Index oleh Madelina Ariani, MPH. SNARS mewajibkan rumah sakit melakukan self-assessment kesiapan menghadapi bencana dengan Hospital Safety Index (HIS) dari WHO. Terdapat 40 jenis ancaman bencana yang perlu dinilai antara lain bencana meterologi, hidrologi, iklim, teknologi, biologi, sosial, dan geoteknikal.
Analisis risiko perlu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi ancaman sehingga dapat membuat kesiapsiagaan/perencanaan yang tepat. Selanjutnya dapat mengetahui potensi ancaman bencana yang ada di wilayah tersebut dan menentukan prioritas dalam penanggulanan bencana dan krisis kesehatan
Instrumen – instrumen analisis risiko antara lain: cara sederhana, Hazard Vulnerable Assessment (HVA), Hospital Safety Index (HSI), Hazard Risk Assessment (HRA), dan lain – lain. Selanjutnya diberikan prioritas dalam penanganan bencana. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi terhadap terjadinya risiko krisis kesehatan.
Reporter: dr Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK)
{/sliders}
{tab KAK}
April 2022
Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Demikian juga akan terjadi bagi rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun belum operasional. Rumah sakit harus memahami bahwa HDP adalah sebagai salah satu bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Seperti situasi sekarang dunia telah digemparkan dengan terjadinya bencana non alam pandemik COVID-19. Masalah yang dihadapi rumah sakit akan semakin kompleks karena rumah sakit harus memikirkan bagaimana memutuskan mata rantai penularan di rumah sakit dan bagaimana untuk menghadapi lonjakan pasien. Pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan penanganan bencana, perbedaannya terletak pada sifat agen kausatif virus.
Dengan demikian sudah saatnya rumah sakit memahami bahwa HDP ini sangat penting dipersiapkan sejak sekarang, HDP yang operasional dan yang mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam. HDP yang disusun dalam bentuk dokumen berisi potensi bencana yang dihadapi rumah sakit, aktivasi sistem komando, prosedur pengananan bencana, fasilitas saat bencana dan alur komunikasi. HDP ini merupakan dokumen yang bersifat hidup (update) dan menjadi satu sistem untuk memenuhi kebutuhan menuju Safe Hospital yang dapat digunakan dalam keadaan krisis kesehatan sehari-hari di Rumah Sakit.
![]() |
![]() |
![]() |
Selasa, 12 April 2022 |
Kamis 28 Juli 2022 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
![]() |
![]() |
2 Hari |
(*waktu sesuai permintaan klien) |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dr Bella Donna, M.Kes |
dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD |
dr. H. Sulanto Saleh-Danu, SpFK |
dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B |
|
Madelina Ariani, SKM, MPH |
dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.OT |
Happy R. Pangaribuan SKM, MPH |
|
|
Informasi Selengkapnya Hubungi Pendaftaran Konten
|
{tab Pelatihan Dasar}
Selasa, 5 April 2022 & Selasa, 12 April 2022
MATERI & DOKUMENTASI SELENGKAPNYA >>
{/tabs}