Networking Perguruan Tinggi

alt

Mengapa perguruan tinggi, selain rumah sakit dan dinas kesehatan, perlu terlibat dalam pengembangan kegiatan dalam upaya penanggulangan bencana? Alasannya adalah berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam upaya penerapan tridarma pertama yaitu pendidikan, maka dilakukan pengembangan kurikulum. Dalam hal ini berkaitan dengan kurikulum manajemen bencana di universitas/perguruan tinggi, dengan tujuan agar memberi bekal dan menciptakan SDM yang memiliki pengetahuan mengenai manajemen bencana. Selain itu, dalam upaya membangun kapasitas masyarakat melalui kegiatan pendidikan, melalui kegiatan nonformal maupun pendidikan formal dan berbagai penelitian dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Kegiatan pada tahap prabencana erat kaitannya dengan istilah mitigasi bencana yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Mitigasi bencana mencakup perencanaan dan pelaksanaan tindakan untuk mengurangi risiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi termasuk kesiapan dan tindakan pengurangan risiko jangka panjang. Perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup penting dalam upaya penanggulangan bencana karena perguruan tinggi mempunyai peran dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dan lembaga terkait dalam upaya penanggulangan bencana. Selama ini, koordinasi dalam penanganan bencana menjadi kendala yang terus dihadapi masyarakat dan pemangku kepentingan. Penanganan bencana selama ini hanya reaktif dan tidak menggunakan pendekatan ilmiah. Dalam upaya agar penanganan bencana dapat dilakukan secara komprehensif, maka dilakukan pengembangan kurikulum manajemen bencana di perguruan tinggi. Atas dasar itu, pemerintah menunjuk dua perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum kebencanaan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Syiah Kuala Aceh.

alt

alt

SEMINAR HOSPITAL DISASTER PLAN

SEMINAR HOSPITAL DISASTER PLAN

Diselenggarakan oleh:
Magister Manajemen Rumah Sakit (S2 MMR)
Bekerjasama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM

Yogyakarta, 25 Februari 2012

Minat Utama Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR), Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM menyelenggarakan Seminar Setengah Hari dengan Tema “Hospital Disaster Plan”. Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya inovasi dari perkuliahan Blok 4 khusus bencana yang dibuat berbeda dalam bentuk seminar. Blok 4 secara garis besar terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian pertama membahas mengenai dinamika lingkungan dengan perubahan sistem pembiayaan dan sistem regulasi yang ada. Perubahan lingkungan ini tentunya mempengaruhi manajemen rumah sakit. Perubahan sistem ini dianalisis melalui perspektif ideologi, kebijakan politik dan regulasi kesehatan.

Bagian kedua membahas mengenai respons rumah sakit dalam menghadapi dinamika luar tersebut. Salah satu dinamika yang sering terjadi bahwa setiap rumah sakit mempunyai peluang yang sama menghadapi sebuah bencana, bahkan rumah sakit itu sendiri dapat menjadi sumber bencana bagi lingkungan sekitarnya. Dalam kontek pembelajaran blok 4 ini, akan disampaikan topik Hospital Disaster Plan sebagai salah satu upaya strategik dari rumah sakit menghadapi bencana. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip Hospital Disaster Plan, kepemimpinan saat bencana dan perencanaan saat terjadi bencana.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari sabtu, 25 Februari 2012 bertempat di Gedung Pertemuan IKM FK UGM Yogyakarta dari Pukul 08.00 – 14.40 WIB, dengan narasumber adalah para ahli yang memang berkompeten dalam bidangnya masing-masing, yaitu: dr. Hendro Wartatmo, Sp.B, KBD, dr. Agus Barmawi, Sp.B, Sp.BD, dr. Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS, dr. Gandung B, M.Kes. Peserta yang mengikuti kegiatan adalah Mahasiswa MMR Tahun Akademik 2011/2012 Kelas Reguler Intensif, Kerjasama PT Askes, Paruh Waktu Yogyakarta, Kelas Paruh Waktu Jakarta (Video streaming), Mahasiswa MMR Tahun Akademik 2010/2011 dan sebelumnya, Alumni MMR UGM serta RS Yogyakarta dan sekitarnya.

Sesi-sesi Penyampaian Materi oleh Narasumber

Sesi I
Prinsip dan Common System dalam Hospital Disaster Plan
Dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD

Pada sesi pertama dalam kegiatan ini, dr. Hendro Sp.B.KBD menjelaskan bahwa sebenarnya Ilmu kebencanaan yang sekarang ada belum terstuktur, manajemen bencana isinya tergantung siapa yang bikin dan bidang keahlian misalnya bidang kedokteran yaitu dengan disaster medicine. Kejadian bencana akan menimbulkan korban baik itu korban luka, korban yang meninggal maupun korban yang selamat yang selanjutnya mengungsi. Bagi korban cidera/luka, maka akan dibawa ke rumah sakit, dalam hal ini akan menyebabkan rumah sakit kebanjiran korban. Selain bencana menyebabkan korban, juga bisa berdampak pada kerusakan rumah sakit, sehinggu muncul lah program dari Who untuk program Safe hospital, yaitu RS yang aman tidak hanya dari bencana tapi juga dalam keadaan normal, salah bagian dari Safe Hospital adalah adanya rencana penanggulangan bencana rumah sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) yang merupakan perencanaan yang dibuat rumah dalam menanggulangi bencana dengan kondisi yang sesuai dengan rumah sakit itu. HDP itu seharusnya dibuat sebagai syarat dari rumah sakit bukan hanya sebagai syarat formalitas saja. Dalam HDP tersebut terdiri dari beberapa komponen, jadi seandainya dalam suata penilaian yang dilakukan terhadap rumah sakit mengenai kepemilikan HDP, maka tidak bisa hanya dengan melihat ada atau tidaknya Struktur organisasinya, melainkan komponen lain yang ada dalam HDP tersebut. Pada proses penyusunan modul umumnya rumah sakit harus membuat tim baru kemudian penyamaan persepsi untuk HDP bukan hanya untuk akreditasi saja, namun memang benar-benar sebagai suatu perencanaan rumah sakit dalam penanggulangan bencana. Adanya sistem komando, dalam HDP itu dimaksudkan supaya adanya alur komando yang jelas dari suatu instruksi atau perintah, serta adanya Protap yang mengatur untuk aktifasi dari Tim bencana yang artinya bahwa orang tersebut bisa menentukan suatu kondisi yang ada sebagai bencana atau tidak. Selain itu, perlu adanya Manajemen relawan yang berfungsi untuk mengatur penempatan relawan serta penetapan perlu atau tidak pertolongan dari relawan, kalau ada relawan yang datang siapa yang menempatkan.

Sesi II
Manajemen Operasional saat bencana
Dr. Agus Barmawi, Sp.B, Sp.BD

Materi kedua dilanjutkan dengan topic Manajemen Operasional Pada Saat Bencana yang disampaikan oleh Dr. Agus Barmawi, Sp.B, Sp.BD. beliau memaparkan tentang siklus dari manajemen bencana menurut Depkes, yaitu tanggap darurat, rehabilitasi, pencegahan dan mitigasi serta kesiapsiagaan. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terletak pada ring of fire sehingga penuh dengan risiko bencana. Dalam hal ini, rumah sakit sebagai insitusi kesehatan yang akan terkena dampak pada saat bencana dengan kebanjiran korban, maka diperlukan adanya manajemen operasional dalam hal pengobatan pasien, evakuasi, alternative lokasi pelayanan korban, keamanan pelayanan dan keberlangsungan pelayanan rumah sakit. Pada bagian operasional yang ada di rumah sakit, biasanya meliputi bagian pelayanan medis, pelayanan penunjang dan pelayanan sosial, dimana dalam setiap bagian ini memiliki peran-peran yang mendukung kegiatan operasional dalam penanganan korban di rumah sakit.

Sesi III
Perencanaan Logistik dan Finansial
Dr. Gandung Bambang Hermanto

Sesi ketiga disampaikan oleh Dr. Gandung Bambang Hermanto dengan materi Perencanaan Logistik dan Finansial. Dalam bencana logistic perlu disiapkan dan dikelola dengan baik, karena bencana mempengaruhi kehidupan manusia dalam hal ini adalah korban dari bencana. Logistic dalam komponen tim penanggulangan bencana adalah salah satu bidang yang penting dan memiliki seksi-seksi yang mempunyai peran masing-masing dan merupakan salah satu komponen dasar dari rencana kegiatan di rumah sakit. Selain itu, beliau juga menjelaskan mengenai permasalahan logistic obat dan barang yang berasal dari Donator, sumber-sumber logistic medic, siklus dari manajemen suplay logistic, bagaimana pemilihan dan seleksi dari logistic medic, klasifikasi, penyimpanan, pemeliharaan dan pengamanan dari logistic medic. Pada sesi ini juga beliau menyampaikan tentang perencanaan dan pendanaan dalam manajemen bencana, bahwa rencana yang baik akan memastikan bahwa orang yang tepat berada pada tempat yang tepat pada waktu yang tepat, dan setelah berapa pada posisi tersebut mereka dapat melakukan pekerjaan yang benar, sedangkan dalam hal pendanaan dalam suatu keadaan bencana maka yang mengelola adalah mereka yang ada di tim keuangan dari rumah sakit.

Sesi IV
Disaster Leadership
Dr. Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS

Sesi terakhir disampaikan oleh Dr. Andreasta Meliala, DPH, M.Kes, MAS mengenai Leadership Style dalam Manajemen bencana. Beliau menjelaskan bahwa dalam Penanganan bencana dapat dibagi menjadi beberapa fase, dimana masing-masing fase memiliki karakteristik yang spesifik namun satu dengan yang lainnya saling menunjang secara sekuansial. Setiap fase penanganan bencana akan melibatkan banyak pihak yang mungkin terlibat hanya pada satu fase atau pada keseluruhan fase. Pihak yang terlibat juga memiliki berbagai misi dan kompetensi yang berbeda. Tipe kepemimpinan pada penanganan bencana dapat disesuaikan dengan fase penanganan bencana. Tujuan dari penyesuaian ini adalah untuk meningkatkan efektifitas dari kepemimpinan itu sendiri yang pada akhirnya akan meningkatkan efektifitas dari setiap fase penanganan. Diperlukan sistem kepemimpinan bersama untuk dapat mengaplikasikan setiap tipe kepemimpinan pada setiap fase penanganan bencana.

.

in house training RSUD Tugurejo 2012

alt

In House Training
Rencana Penyusunan Program Penanggulangan Bencana di Rumah sakit (Hospital Disaster Plan)

RSUD Tugurejo Semarang
13-14 Maret 2012

 alt

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM bekerjasama dengan RSUD Tugurejo Semarang mengadakan In House Training di RSUD Tugurejo. Melalui kegiatan ini maka diharapkan RSUD Tugurejo Semarang memiliki Dokumen HDP yang operasional.

Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan In House Training ini dilakukan adalah :

  1. Peserta memahami bahwa Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) berbeda di tiap Rumah Sakit
  2. Peserta di RS mampu membuat Plan of Action atau POA sampai operasional.
  3. Peserta di RS mampu memahami pembuatan HDP berdasarkan template yang ada.
  4. Setelah in-house training peserta mampu mempraktekkan HDP.

Agenda Kegiatan

alt
alt

Output Kegiatan

Setelah melalui proses In House Training dan Pendampingan jarak jauh melalui online via website maka pihak rumah sakit akan mempunyai tenaga yang terlatih dan Dokumen Hospital Disaster Plan yang operasional.

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu

  • Tahap Persiapan
  • Tahap Pelaksanaan
    • Pada tahap pelaksanaan, dibagi dalam 2 periode kegiatan, yaitu
      • Pertemuan tatap muka saat In House Training
      • Pendampingan melalui Online
  • Tahap Akhir


Tempat

Tempat pelaksanaan In House Training adalah di RSUD Tugurejo Semarang

Peserta 
Tim Penyusun HDP yang terdiri dari 40 orang dari Tim RSUD Tugurejo Semarang

Tenaga Konsultan

  1. Dr. Adib Yahya, MARS
  2. Dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
  3. Dr. Agus Barmawi, SpB.KBD
  4. Dr. Bella Donna, M.Kes

Asisten Konsultan

  1. Fauzie Rahman, SKM 

ASM 2012

Annual Scientific Meeting (ASM) 2012

Seminar Umum
ADAPTASI BIDANG KESEHATAN
TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran UGM ke-66
dan HUT RSUP Dr. Sardjito ke-30

Yogyakarta, 3 Maret 2012

 

PENDAHULUAN

Perubahan iklim sudah terjadi dan akan terus berlangsung walaupun andaikata penduduk bumi mampu menghentikan laju peningkatan emisi gas rumah kaca pada saat ini. Kenyataan menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca, khususnya akibat pembakaran batu bara, minyak dan gas, terus meningkatkan dari waktu ke waktu. Namun upaya untuk mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim tidak memadai. Oleh karena itu dibutuhkan strategi, kebijakan dan program-program yang bertujuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, sehingga manusia tidak dirugikan bahkan mampu memanfaatkannya untuk kesehatan dan kesehteraan masyarakat.

WHO (2009) menegaskan bahwa perubahan iklim akan menganggu pelbagai aspek penting yang mendukung kesehatan manusia, antara lain meliputi udara dan air yang bersih, pasokan makanan yang mencukupi, tempat tinggal yang aman dan bebas dari penyakit. Oleh karenanya, perubahan iklim tidak bisa hanya dianggap sebagai masalah lingkungan atau pembangunan semata-mata. Kesehatan dan well-being seluruh populasi manusia akan semakin terancam. Pemahaman yang lebih mendalam atas implikasi perubahan iklim dan alternatif solusi yang dapat mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mutlak diperlukan. Aspek kesehatan bahkan menjadi agenda utama adaptasi terhadap perubahan iklim. Pemikiran beragam profesi kesehatan sangat menentukan pilihan adaptasi yang efektif, efisien dan layak untuk diimplementasikan.

TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah
a.    Tujuan Umum

ASM 2012 ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman bersama dan menggali pemikiran para pemangku profesi kesehatan dan kedokteran, bagaimana solusi adaptasi terhadap perubahan iklim dapat diimplementasikan di Indonesia dan Negara tropis pada umumnya.

b.  Tujuan Umum

  1. Bagaimana penguatan sistem kesehatan dapat melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim
  2. Bagaimana pola penyakit menular maupun tidak menular yang meningkat akibat perubahan iklim dapat diidentifikasikan, dicegah, dan dikendalikan.
  3. Bagaimana advokasi kebijakan dan program-program kesehatan di fasilitas kesehatan maupun di masyarakat dapat memprioritaskan adaptasi terhadap perubahan iklim.
  4. Bagaimana komunikasi resiko, promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dapat melindungi penduduk dari dampak perubahan iklim yang mengancam kesehatan.

PESERTA

Peserta ASM 2012 diharapkan dari : para dosen, mahasiswa S1, S2, S3 dan alumni Fakultas Kedokteran UGM, para petugas kesehatan.paramedis di Rumah Sakit, para tamu undangan dan masyarakat luas yang berminat.

ACARA

(3 Maret 2012 )

Jam

 Uraian

 PIC , R

07.00 – 08.00

Pendaftaran peserta

 

08.00 – 08.30

Pembukaan

Sambutan Ketua KAGAMA Kedokteran

Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan FK-UGM

Sambutan Ketua Dies FK UGM

Sambutan Ketua Panitia

Auditorium II

Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA

dr. Titi Savitri, MA, M.Med.Ed,Ph.D

dr. Ibnu Purwanto, Sp.PD

Prof. Dr. dr. Hari Kusnanto Dr.PH

SESI  I ( 08.30 – 09.00 wib ) Moderator : Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D

08.30 – 09.00

Keynote Speaker

Keynote Speaker“ kebijakan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim”

Menteri Lingkungan Hidup
Prof. Dr. Balthasar Kambuaga, MBA

Ir.  Rosita Hermin
Sekertaris Mentri Lingkungan Hidup

 09.00 – 09.30

”Riset Adaptasi terhadap Perubahan Iklim”

Prof. Dr. Ir. H. Gusti M Hatta, MS
Menteri Riset dan Teknologi RI

Cofee Break  (09.30-10.00 wib)

Sesi II ( 10.00 – 12.00 wib )

10.00 – 10.30

Pembicara III

”Program-program Kesehatan dalam Adaptasi Perubahan Iklim”

dr.Supriyantoro,Sp.P,MARS

Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI

10.30-11.00

Tackling climate change – a New Task for the Health Sector

Dr. Maria Nilsson, PhD

Division of Epidemiology and Global Health, Department of Public Health and Clinical Medicine, Umeå University

11.00 – 12.00

Diskusi

 

 Lunch  ( 12.00-13.00 wib)

 SESI III ( Pararel 4 kelas ) 13.00-15.00 wib

13.00 – 16.00

Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam adaptasi terhadap perubahan iklim

Judul : Promosi kesehatan dalam perubahan iklim

Auditorium FK UGM

PIC:

Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi, Ph.D

13.00 – 16.00

RS Tanggap Bencana dalam penanggulangan dampak perubahan Iklim

Pembicara :

  1. Dr. Joacim Rocklöv, PhD (Umea Swedia)
    Abstrack Dr. Joacim Rocklov, PhD
  2. dr  Hendro Wartatmo, Sp.B
  3. Sharad Adhikary, WHO 
    Abstract Sharad Adhikary
  4. Mudjiharto, SKM, MM – PPK Kementerian Kesehatan RI *)
  5. dr. H. Chairul Rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes. – BUK Rujukan Kementerian Kesehatan RI *)

R.Kuliah Lt.2 Ged. Auditorium FK UGM

PIC

  1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B
  2. Prof. dr. Laksono Trisnantoro,  MSc, Ph.D

13.00 – 16.00

“Penyakit-penyakit infeksi tropik terkait perubahan iklim global ”

  1. dr. Yanri Wijayanti S, Ph.D, Sp.PD
  2. dr. Doni Priyambodo, Sp.PD-KPTI
  3. Prof. dr. M.Juffrie,Sp.A

R. Kuliah Lt.3Ged. Auditorium FK UGM

PIC:

  1. Yodhi Mahendradhata, MSc
  2. dr. Yanri Wijayanti S, Ph.D, Sp.PD

13.00 – 16.00

“Pembelajaran dari penanggulangan erupsi Gunung Merapi tahun 2010 ”

  1. Prof. dr. Suhardjo, SU, Sp.M(K)
  2. Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH

R. Kuliah Lt.4Ged. Auditorium FK UGM

PIC: Prof. Hari Kusnanto


DRAFT ACARA PUNCAK ASM “Adaptasi Bidang Kesehatan terhadap Perubahan Iklim “

BIAYA REGISTRASI

No

Pilihan

Sebelum 1 Februari 2012

Sesudah 1 Februari 2012

1

Mahasiswa S1 dan dosen FK UGM

Rp. 50.000,-   

 

Rp. 50.000,-   

 

2

Mahasiswa S2, S3 FK UGM dan luar UGM  

Rp. 100.000,-

 

Rp. 100.000,-

3

Dokter Puskesmas   

Rp. 100.000,-

Rp. 100.000,-

4

Umum / Alumni

Rp. 250.000,-

Rp. 300.000,-

Mendapatkan sertifikat SKP IDI

Sekretariat Pusat :
KAGAMA Kedokteran
Ged. Program Doktor (S3) Lama, Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta
Telp. 0274 – 560300 ext 406, 7012807, Fax. 0274 – 560116
Email : [email protected]
Cp. Dora / Dwi

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan
Ged. IKM Sayap Utara Lt. 2 Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta
Telp. 0274 – 549425 (hunting), 08111498442
Email : [email protected]
Cp. Angelina Yusridar

International Event

{tab=Even Internasional}

No

Events

Time

Place

Organizer

Additional information

1

Disaster risk reduction and sustainable development

03 Apr 2012

Uganda (Kampala)

United Nations International Strategy for Disaster Reduction Secretariat (UNISDR); Inter-Parliamentary Union (IPU)

http://www.ipu.org/

2

Comprehensive disaster risk management framework course

27 Feb – 06 Apr 2012

Online

Earthquakes and Megacities Initiative, Global Facility for Disaster Reduction and Recovery, the (GFDRR)) (EMI)

http://www.emi-megacities.org

3

12th International convention of Melaka Twin Cities 2012 – ‘Be prepared for emergency disaster preparedness and risk reduction’

10-11 Apr 2012

Malaysia (Melaka Twin Cities)

Malaysia – government, Melaka City)

http://www.worldmbmb.my/

4

2012 Annual emergency preparedness conference

11-12 Apr 2012

United States of America (Arlington, VA)

2012 Annual emergency preparedness conference

http://www.jcrinc.com/

5

From Sendai to Rio – cultivating a disaster-resilient society for sustainable development

11-12 Apr 2012

United States of America (New York, New York)

UNISDR NY

http://www.earth.columbia.edu/

6

Australian & New Zealand disaster and emergency management conference

16-18 Apr 2012

Australia (Brisbane)

Association for Sustainability in Business Inc.; Australian and New Zealand Mental Health Association Inc; Australian Institute of Emergency Services (AIES)

http://www.anzdmc.com.au/

7

Role of insurance in disaster risk reduction (RIDRR – 2012)

19-20 Apr 2012

India (New Delhi)

Global Forum for Disaster Reduction (GFDR); India -government; National Disaster Management Authority (NDMA)

http://www.gfdr.in

8

Certificate in community-based disaster risk reduction online course

09 Apr – 05 Oct 2012

Kenya (Online Course/ Worldwide)

International Center for Emergency Preparedness Training (INTER-CEPT)

http://www.inter-cept.org/

9

SAARC Training program on role of media in disaster risk reduction in South Asia

12-22 Apr 2012

Bangladesh (Dhaka)

Bangladesh University of Engineering and Technology (BUET)

http://www.buet.ac.bd/

10

Ph.D. Block course: From vulnerability to resilience in disaster risk management

16-27 Apr 2012

Germany (Bonn)

United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS)

http://www.ehs.unu.edu/

11

Community-based disaster risk management online course

16 Apr – 16 May 2012

Philippines

Earthquakes and Megacities Initiative (EMI)

http://www.emi-megacities.org

12

National Platform on disaster risk reduction – Vigyan Bhawan

25-26 Apr 2012

India (New Delhi)

Ministry of Home Affairs (MHA); National Disaster Management Authority (NDMA); National Institute of Disaster Management (NIDM)

http://nidm.gov.in/npdrr/

{tab=Arsip Even Internasional}

No

Events

Time, Place

Organizer

Additional information

1

Integrated urban disaster risk reduction – February 2012

24-28 Feb 2012, India (Delhi)

 

Indian Institute for Human Settlements, the (IIHS)

http://www.iihs.co.in

2

Grassroots participatory disaster management course

24 Feb – 30 Mar 2012,

Online

 

Village Earth

http://villageearth.org /

3

European seminar on assessing & managing disaster risks

27-28 Feb 2012, Germany (Berlin)

European Academy for Taxes, Economics & Law, the

 

http://www.gripweb.org /

4

Comprehensive disaster risk management framework course

27 Feb – 06 Apr 2012,  Online

Earthquakes and Megacities Initiative, Global Facility for Disaster Reduction and Recovery, the (GFDRR)) (EMI)

http://www.emi-megacities.org

5

Earthquake risk reduction online course

05-30 Mar 2012, Online

Earthquakes and Megacities Initiative (EMI)

 

6

Community action planning in disaster prone communities

11-17 Mar 2012, Uganda (Mbarara)

Agency for Integrated Development and Training Services (AIDTS)

Apply by contacting
[email protected]

 

7

Training of trainers on community-based disaster risk management (CBDRM)

11-15 Mar 2012, Bangladesh (Dhaka)

Register of Engineers for Disaster Relief India (RedR India)

http://www.redr.org.in

8

Emergency management summer institute

12-16 Mar 2012, Massey University Campus

Massey University

http://disasters.massey.ac.nz

9

Advanced institute on forensic investigations of disasters (FORIN)

12-18 Mar 2012, Taiwan (China) (Taipei)

Integrated Research on Disaster Risk, International Centre of Excellence (ICoE)) (IRDR)

http://irdr-icoe.sinica.edu.tw/

10

Climate and disaster risk management online course

12 Mar – 01 Apr 2012, Online

Arab Academy for Science, Technology & Maritime Transport (AASTMT); Global Facility for Disaster Reduction and Recovery, the (GFDRR); Regional Centre for Disaster Risk Reduction (RCDRR)

 

11

5th International training on use of GIS and remote sensing in disaster risk management

Kenya (Nairobi)

Indepth Research Services (IRES)

http://www.indepthresearch.org

{/tabs}

National Event

{tab=Event}

No

Acara

Tempat

Tanggal

Pendaftaran

Info Lain

1

Disaster Management Training And Emergency Preparedness

Hotel Kartika Chandra. Jakarta

Angkatan II, 18-20 Januari 2012

 Angkatan III, 09-11 April 2012

 Angkatan IV, 12-14 September 2012

 

http://www.semua seminar.com

2

“Revitalisasi geografi dalam mitigasi bencana nasional”

Universitas Negeri Padang (UNP)

19 – 22 April 2012

http://www.ima hagi.com/

http://www.ima hagi.com/

3

Emergency Response Plan (ERP)

Bandung

27 Juni 2012

26 – 28 September 2012

5 – 7 Desember 2012

http://www.informasi-training.com/

http://www.informasi-training.com/

{tab=Arsip Event}

No

Acara

Tanggal, Tempat

Pendaftaran

1

International Symposium On Disaster Management

26 Februari – 1 Maret 2012,

Auditorium Universitas Andalas, Padang, Indonesia

Email : [email protected]

2

Annual Scientific Meeting

“Adaptasi Bidang Kesehatan Terhadap Perubahan Iklim”

Dalam Rangka Dies Natalis FK UGM ke-66 dan HUT RSUP Dr.Sardjito ke-30

25 Februari -18 Maret 2012,

Fakultas Kedokteran FK UGM dan RSUP Dr.Sardjito, Yogyakarta

Sekretariat Panitia Pusat

KAGAMA Kedokteran

Gedung Program Doktor (S3) Lama, Fakultas Kedokteran UGM

Jln.Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta

Telp.0274-560300 ext 406, 7012807, Fax. 0274-560116

email : [email protected]

CP: Dora/Dwi

{/tabs}

Hari ke III

Hari Ke-III

Pada hari ketiga kembali pleno presentasi rencana aksi masing-masing kelompok dengan hasilnya sebagai berikut:

  1. Program pelatihan non-gelar, termasuk mengakomodasi Program 100 hari Kabinet Indonesia bersatu, yaitu untuk penguatan 100 rumahsakit dalam menanggulangi bencana dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusianya. Program ini juga mencakup penguatan logistik pada 9 pusat regional dan 2 sub regional penanggulangan bencana dengan tujuan selalu siap menghadapi terjadinya bencana dan mempersiapkan standby team di semua pusat regional yang selalu siap 24 jam untuk dikirimkan ke berbagai tempat bencana secara tepat dan cepat. Reaksi cepat dan tepat untuk penanggulangan bencana ini diterjemahkan dalam suatu bentuk in-house training (HOPE) untuk rumahsakit dan rencana in-house regional training plan untuk dinas kesehatan. Selain itu, akan dikembangkan standarisasi dan kurikulum HosDip untuk rumahsakit dan table-top untuk dinas kesehatan.
  2. Penguatan program pendidikan sarjana untuk bencana difokuskan pada kurikulum pendidikan kedokteran, pendidikan kesehatan masyarakat, dan pendidikan kesehatan lain seperti psikologi. Mengapa kurikulum bencana untuk pendidikan tingkat sarjana ini penting? Alasannya berkaitan dengan manfaat dan legalitas. Berkaitan dengan manfaat karena mahasiswa kedokteran diharapkan memiliki keterampilan medis praktis seperti mengobati atau merawat pasien, SAR, dan pengabdian masyarakat. Di satu pihak, keterampilan tentang bencana seringkali hanya diberikan secara tidak formal atau melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga dipertanyakan apakah sebaiknya dimasukkan secara formal ke dalam kurikulum atau tidak. Di lain pihak, kurikulum yang mengakomodasi kegiatan ekstrakurikuler tentang bencana secara formal, akan dipertanyakan legalitasnya, apakah akan disetujui oleh Dikti? Hasil dari rapat koordinasi ini merekomendasikan agar konsep pengembangan kurikulum ini memasukkan mass disaster dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler praktis ke dalam kurikulum pendidikan sarjana kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan, dan memperoleh persetujuan dari Dikti. Selain itu, akan dibuat rencana pertemuan lanjutan untuk menyempurnakan konsep kurikulum, termasuk sumberdaya manusia, bahan ajar dan program pelatihan atau simulasi.
  3. Pada program Master dan Doktoral, fokus pengembangan mencakup dua hal, yaitu kurikulum dan pendanaan. Beberapa program Master di perguruan tinggi, sudah memberikan kuliah tentang bencana, seperti di program studi S2 IKM UGM mengajarkan mata kuliah bencana dalam bentuk Blok sebagai mata kuliah pilihan. Tetapi program master yang mempunyai kurikulum sendiri tentang penanggulangan bencana masih sedikit, diantaranya adalah program studi IKM Universitas Sumatera Utara (USU) melalui minat studi Manajemen Kesehatan Bencana dan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) melalui minat studi Emergency and Disaster Management. Kurikulum bencana di USU berfokus pada aspek-aspek manajerial pra bencana, selama bencana, pasca bencana dan fase rehabilitasi sampai pada persiapan menghadapi disaster politik. Sedangkan kurikulum bencana di UNHAS lebih berfokus pada aspek medical emergency dan disaster management. Pada rapat koordinasi ini disetujui bahwa untuk program master dalam hal bencana akan menggunakan nama minat emergency and disaster management, dan akan dibuat suatu kurikulum standar nasional dan international, sehingga perguruan tinggi menjadi suatu pusat pembelajaran dan pengembangan dalam hal bencana. Selain itu, diharapkan UGM dapat menjadi pelopor dalam pengembangan program Doktoral atau S3, yang berbasis pada riset.
  4. Aspek pendanaan atau financing strategic, berfokus pada aspek pengembangan sumberdaya dosen, yaitu pendidikan yang lebih tinggi atau program doktoral. Siapa penyandang dana? Siapa yang berhak memperoleh dana? Kemana akan disekolahkan? Apa bentuknya? Aspek pendanaan ini penting karena seringkali dana untuk program Master, sudah habis digunakan untuk kegiatan-kegiatan operasional. Akibatnya dana untuk pengembangan sumberdaya dosen tidak tersedia. Hal ini diakui oleh perguruan tinggi lain, seperti Unibraw, Udayana, Unair, bahkan USU dan UNHAS, juga menyatakan hal yang sama. Maka, dibutuhkan pihak lain untuk mensubsidi dana pengembangan sumberdaya dosen ini. WHO – ITC DRR telah berkomitmen untuk memberikan fellowship (sandwich/fullfellowship), melaksanakan exchange program atau pertukaran dosen pengajar dan para ahli bidang bencana dari luar dan dalam negeri, melaksanakan internship atau magang di negara-negara yang telah memiliki networking dengan ITC-DRR bagi peserta program master dan doktoral, dan melakukan scientific meeting secara berkala setiap tahun. Diharapkan juga ada dana dari Depdiknas sebagai induk organisasi pendidikan untuk pendanaan pelatihan, pendidikan di dalam dan luar negeri, pendanaan untuk riset dalam konteks S2 dan S3. Selain itu, perlu dibentuk suatu networking sunber-sumber pendanaan dari masyarakat, pemerintah daerah, corporate social responsibility dan perguruan tinggi.
  5. Pada program pelatihan dan pendidikan psikososial dan kesehatan mental, ditandaskan bahwa aspek psikososial adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan dan kedokteran. Hal ini terlihat nyata dari banyaknya kebutuhan akan terapi mental dan kejiwaan dari para korban, setelah mereka menghadapi shock akibat bencana. Pertimbangan lain adalah alasan manfaat. Di lokasi bencana, sering terjadi ‘malpraktik psikologi’ yaitu orang-orang non-psikologi yang turut bergerak di bidang kesehatan mental tetapi dengan cara yang tidak tepat. Maka, para peserta diskusi sepakat berinisiatif untuk membentuk program kesehatan mental yang lebih luas, tidak terbatas pada pendidikan formal di perguruan tinggi, namun juga merambah pada pelatihan untuk pihak non-psikologi. Maka, dirumuskan beberapa hal penting sebagai rekomendasi, yaitu: melakukan standarisasi mata kuliah psikologi bencana di program sarjana psikologi, melaksanakan sistem sertifikasi untuk pekerja bencana di bidang psikososial dan kesehatan mental, melakukan program pelatihan dan pendidikan lanjut psikologi bencana bagi dosen, menyediakan standarisasi paket pelatihan dukungan psikososial dan kesehatan mental untuk pekerja bencana, dan membuat jaringan antara fakultas psikologi dengan fakultas lain dalam perguruan tinggi, dan fakultas psikologi dengan perguruan tinggi lainnya.
  6. Setiap bentuk penanggulangan bencana-koordinasi, komunikasi, mobilisasi, mitigasi bencana, baik pada fase pra-bencana, bencana, pasca bencana, dan rehabilitasi – membutuhkan networking atau jaringan yang kuat dan handal. Maka, salah satu cara untuk memfasilitasi networking dari perguruan tinggi, rumahsakit, dinas kesehatan dan lembaga-lembaga terkait penanggulangan bencana ini adalah menggunakan website khusus bencana. Website ini dikembangkan oleh ITC-DRR dengan harapan Indonesia dapat menjadi salah satu pusat pendidikan dan laboratorium pengembangan dalam hal bencana bertaraf nasional dan internasional. Fasilitas mailling list bermanfaat untuk menyebarkan informasi, koordinasi dan mitigasi. Ada banyak informasi tentang perguruan-perguruan tinggi yang ambil bagian dalam pendidikan bencana, nama-nama dosen dan staf pengajar, kurikulum, modul-modul pelatihan, kalender ilmiah ilmu manajemen bencana, perpustakaan elektronik -berisi jurnal, review, penelitian, editorial, e-book yang ditulis oleh peneliti dan ahli-ahli tentnag bencana -, berita-berita terkini atau berita lama tentang bencana, jadwal-jadwal pelatihan, data-data bencana masa lalu, dan lain-lain. Website ini akan menjadi rujukan besar tentang bencana yang dapat diakses setiap saat dan dapat digunakan oleh semua orang. Setiap perguruan tinggi akan dibantu membangun website dan memperoleh guideline untuk maintenance fasilitas ini. Website baru ini bernama Crisis-Center Indonesia dengan alamat www.crisiscenter-indonesia.com.
  7. Pada rapat koordinasi ini, pihak Dikti setuju untuk pengembangan pendidikan di bidang manajemen bencana, baik untuk program Sarjana, Master dan Doktoral. Isi kurikulum sepenuhnya diserahkan pada perguruan tinggi dengan mengacu pada Indonesia Quality Framework atau IQF. Dikti juga menyetujui pelaksanaan pertemuan-pertemuan ilmiah tentang bencana dan memberikan saran agar peserta membentuk suatu forum pertemuan profesi agar dapat memanfaatkan dana yang tersedia di DP2M dengan cara kompetisi. Selain itu, penelitian juga bisa dilakukan dengan syarat penelitian memiliki kaitan dengan agenda riset nasional, yang dirinci dalam bentuk cluster nasional. Maka, pihak Dikti meminta agar segera membuat kelompok-kelompok judul penelitian yang baru agar dapat dibahas dalam pertemun cluster di Dikti. Dana juga diberikan bagi dosen untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti academic recharging program selama 2, 4 atau 5 bulan. Dikti juga membentuk jejaring dengan memanfaatkan teknologi, yaitu jaringan INHERENT, dan akan di-link dengan data portal ilmiah nasional atau RII – berisi referensi ilmiah indonesia sebanyak kira-100 artikel dengan 80 ribu judul. Jaringan ini dapat diakses 24 jam/7 hari.
  8. Plan of action dari rapat koordinasi penanggulangan bencana ini adalah persetujuan seluruh peserta untuk membentuk suatu forum profesi yaitu Forum Kajian Bencana Bidang Kesehatan atau FKBBK. Rencana penyusunan proposal yang akan diajukan ke Dikti dilakukan sesegera mungkin, tahap pertama untuk penyusunan draft dapat dilakukan pada pertemuan di Makassar. Agenda untuk pertemuan FKBBK yang kedua ditetapkan pada bulan Oktober 2010, tanggal dan tempat akan diinformasikan

{gallery}galeri_peranpt/h3{/gallery}

Hari I

Pada hari pertama pembukaan dengan beberapa keynotes, yaitu:
Keynotes pertama oleh Prof. dr Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD, yang menyampaikan alasan perguruan tinggi perlu terlibat dalam penanganan bencana yang terjadi di daerah. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia berada di Ring of Fire dan terletak di antara 4 plate tektonik dan lebih dari 100 gunung merapi yang aktif, sementara itu juga terdapat universitas-universitas yang tersebar diseluruh daerah yang potensial terkena gempa. Selain itu, beliau juga menyampaikan tujuan dan harapan serta proses pelaksanaan dari kegiatan ini.
 Materi Prof. Laksono 

Keynotes Kedua disampaikan oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis DepKes RI, Dr. Rustam S Pakaya, MpH, menyampaikan Harapan DepKes terhadap Perguruan Tinggi Kesehatan dalam Penanggulangan Bencana. Pada sesi ini, beliau menyampaikan bahwa terdapat 9 Pusat Penanggulangan Krisis Regional dan 2 sub Regional yang ada di Indonesia yang diresmikan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI pada tahun 2007. Melalui pertemuan ini, dengan adanya kurikulum bencana yang disusun di Perguruan tinggi dalam hal ini oleh Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat maupun Fakultas Psikologi dalam upaya sosialisasi kepada mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu manajemen bencana yang didapatkan sehingga akan berdampak kepada penguatan SDM dalam kerangka Disaster Risk Reduction (DRR).
 Materi Dr. Rustam

Keynotes ketiga oleh Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B, Sp.BO selaku Rektor Universitas Hasanuddin., yang menyampaikan bagaimana Pengalaman Perguruan Tinggi dalam Bencana. Beliau menjelaskan mengenai jenis yang terjadi Indonesia, meliputi bencana akibat manusia dan bencana alam serta contoh kejadian yang pernah di alami dan akibat yang ditimbulkan oleh bencana yang terjadi. Dampak yang terjadi antara lain dampak kesehatan masyarakat, merusak infrastruktur kesehatan, dampak social, kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan adanya aksi dan respon dari berbagai sektor untuk penanganan bencana tersebut. Salah satunya diperlukan peran dari perguruan tinggi yang ada.
 Materi Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B, Sp.BO 

Dan Keynotes yang terakhir oleh dr Vijay Nath Kyaw Win sambil meresmikan website yang baru.

{gallery}galeri_peranpt/h1{/gallery}

WORKSHOP

PERAN PERGURUAN TINGGI PADA PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

Pendahuluan

Pasca bencana, dibutuhkan action untuk emergency respons, yaitu tenaga teknis medis untuk pengobatan dan perawatan, dan management support untuk menangani masalah komunikasi, koordinasi, sistem informasi dan rehabilitasi. Kegiatan tersebut membutuhkan persiapan yang baik dan antisipasi untuk menghadapi keadaan-keadaan darurat. Pada tahun 2007, Depkes dengan dukungan dari WHO dan mitra kerja, dalam kerangka DRR-PHS Indonesia, meluncurkan ITC-DRR di Makassar. Kegiatan ITC-DRR berdasar pada konsep orbit dan merupakan garis edaran yang dibentuk oleh 9 Regional Pusat Krisis dan 2 Sub Regional Pusat Krisis, dan masing-masing regional dan sub regional mewakili perguruan tinggi di masing-masing daerah yang rawan bencana.

Mengapa perguruan tinggi, selain rumahsakit dan dinas kesehatan, perlu terlibat dalam pengembangan pusat krisis penanggulangan bencana? Salah satu alasannya berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Melalui keikutsertaan dalam penanggulangan bencana, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi melakukan tanggungjawabnya untuk mengabdi kepada masyarakat. Alasan lain adalah di perguruan tinggi tersedia banyak sumberdaya. Contoh: Fakultas Kedokteran memiliki banyak dokter, residen, perawat, laboratorium; Fakultas Psikologi memiliki psikolog; Fakultas Teknik memiliki arsitek, tenaga teknik sipil, tenaga elektro; dan biasanya perguruan tinggi memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang luas dan dapat dimanfaatkan sewaktu mobilisasi dan mitigasi penanggulangan bencana.

Namun, harus diakui bahwa kemampuan dari perguruan-perguruan tinggi dalam pengembangan penanggulangan bencana, berbeda-beda dan tidak merata. Tidak semua perguruan tinggi siap menghadapi bencana yang mungkin saja terjadi di wilayahnya. Maka dibutuhkan penguatan perguruan tinggi dalam hal bencana. Penguatan peran perguruan tinggi akan difokuskan pada standar regional pendidikan bencana, yaitu untuk program pelatihan non-gelar (Program 100 hari Kabinet Indonesia bersatu: untuk 100 rumahsakit), pendidikan kedokteran, program Master dan Doktoral, serta pengembangan website sebagai sarana pertukaran informasi dan networking untuk bencana.

Tujuan Workshop ini secara umum adalah (1) Menetapkan sistem dan standar pendidikan dalam pelatihan internasional ITC DRR sampai dengan periode 2010 – 2011 (plus program 100 hari DepKes); (2) Penguatan pendidikan kedokteran; dan (3) Mempersiapkan program Master dan PhD dalam bidang manajemen kegawatdaruratan dan bencana di Universitas yang berpartisipasi.

Secara khusus, akan: (1) Memperkuat pelatihan non gelar di ITC-DRR melalui standarisasi dan akreditasi, karena resiko bencana sangat besar dan pelatihan yang efektif adalah secara in-house trainning; (2) Memantau bahan pengajaran Kegawatdaruratan dan Penanganan Bencana dalam pendidikan kedokteran; (3) Merencanakan tahun 2010 dan 2011 kegiatan pelatihan berdasarkan pengalaman dan penelitian; (4) Memantau kemajuan program Master Degree Darurat dan Penanggulangan Bencana; (5) Mengembangkan kurikulum dan persiapan teknis untuk program PhD Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Bencana, dan (6) Menganalisis aspek keuangan dari program.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari di Hotel Inna Garuda Yogyakarta mulai tanggal 24-26 November 2009, dihadiri oleh Peserta yang berasal dari Pusat Penanggulangan Krisis, Depkes (9 Regional 2 sub Regional), Universitas yang telah melakukan ITC-DRR, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan WHO