Dalam rangka mengurangi risiko bencana khususnya bencana geologi di Kabupaten Bandung Barat, Tim Pengabdian Masyarakat FMIPA UI bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat dan SMA Negeri 1 Cisarua mengadakan sosialisasi dan simulasi bencana yang berpotensi terjadi di Kecamatan Cisarua menggunakan pendekatan berbasis teknologi informasi secara hybrid di SMA Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 9-10 Maret 2021 di tengah pemberlakuan PPKM di sejumlah kota di Jawa – Bali.
Acara ini merupakan rangkaian acara dalam program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat IPTEKS bagi Masyarakat. Program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat UI merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencetak Kader Muda Tangguh Bencana. Pada tahun ketiga berjalannya program ini, tema yang diusung yaitu pengurangan risiko bencana melalui pendekatan berbasis teknologi informasi atau IT. Teknologi informasi yang dimaksud adalah melalui pemanfaatan gawai sebagai media edukasi kepada masyarakat seperti VR Box dan Augmented Reality sebagai media informasi pembelajaran potensi bencana di sekitar mereka.
>Hadir sebagai narasumber yaitu Poniman, S.Sos., M.Si. selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Barat. Beliau menjelaskan bahwa pentingnya kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dalam upaya pengurangan risiko bencana khususnya di Kabupaten Bandung Barat.
“Kabupaten Bandung Barat ini paket komplit kalau soal bencana mulai dari Tanah Longsor, Banjir Bandang, Letusan Gunungapi, maupun Potensi terjadinya Gempabumi akibat aktivasi Sesar Lembang. Kalau tidak disiapkan dari sekarang potensi jatuhnya korban jiwa semakin besar.” Ujarnya.
Sesar Lembang sendiri merupakan sebuah sesar strike slip aktif yang berada di Kabupaten Bandung Barat. Sesar ini diindikasikan dapat menyebabkan gempabumi berkekuatan 6,8 – 7 Mw di Kota Bandung dan sekitarnya dengan pergerakannya berada di angka 3 mm/tahun merujuk kepada data Pusat Gempa Nasional (PUSGEN).
Di hari kedua kegiatan difokuskan kepada simulasi bencana yang berpotensi terjadi di Cisarua seperti banjir dan kebakaran serta potensi gempabumi akibat aktivasi Sesar Lembang. Acara ini diawali dengan persiapan ketika terjadi bencana, praktik evakuasi mandiri, dan ditutup dengan pembentukan sistem manajemen bencana di masing-masing sekolah. Antusias terlihat dari setiap peserta. Tidak terkecuali Yusup, salah seorang peserta dari SMA Negeri 1 Cisarua.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tim PPM UI atas terselenggaranya acara sosialisasi. Ini pengalaman pertama saya mengikuti acara seperti ini.” ujar Yusup.
Antusias tidak hanya muncul dari para siswa saja, para guru yang mendampingi khususnya dari SMA Negeri 1 Cisarua selaku tuan rumah acara ini. Ibu Tuti Kurniawati, M.Pd., Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cisarua, sangat senang atas dipercayanya sebagai tuan rumah acara tersebut dan sangat berharap kegiatan ini bisa dijadikan program yang berkelanjutan.
“SMA Negeri 1 Cisarua selalu siap menjadi partner UI dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kecamatan Cisarua” Sebutnya.
Muhammad Rizqy Septyandy, M.T., staf pengajar program studi geologi Universitas Indonesia dan salah satu narasumber di hari kedua kegiatan mengingatkan pentingnya pemanfaatan IT dalam hal ini adalah gawai sebagai media edukasi kepada masyarakat di tengah belum usainya pandemi Covid-19 di Indonesia
“Dalam kondisi pandemi seperti ini yang membatasi ruang gerak kegiatan maka melalui gawai yang kita miliki diharapkan edukasi mengenai mitigasi bencana tetap dapat tersampaikan dengan baik seperti penggunaan fotogrametri serta augmented reality.” Imbuhnya.
Fotogrametri atau aerial surveying merupakan teknik pemetaan melalui foto udara yang didapatkan dari drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Hasil pemetaan secara fotogrametri berupa peta foto baik dalam bentuk 2D maupun 3D. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestrial, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Hasil dari fotogrametri nanti akan dikombinasikan dengan hasil dari foto yang didapatkan dari Kamera 360 derajat sehingga diperoleh model analog Sesar Lembang untuk dijadikan bahan dasar pembuatan Augmented Reality yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Adapun Augmented Reality (AR) merupakan sebuah teknologi penggabungan secara real-time terhadap konten digital yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata. Teknologi ini memungkinkan pengguna atau user melihat objek maya secara 2D maupun 3D yang diproyeksikan terhadap dunia nyata. Adapun cara kerja dari AR secara sederhana dimulai dari model analog Sesar Lembang ditampilkan melalui gawai seperti handphone, kacamata khusus, kamera, layar, webcam, dan sebagainya. Perangkat-perangkat tersebut akan berfungsi sebagai output device. Mengapa output device? Karena gawai tersebut akan menampilkan sebuah informasi berupa video, gambar, animasi, dan model 3D yang diinginkan. Sehingga, pengguna bisa melihat hasilnya dalam cahaya buatan dan alami. Augmented Reality atau AR menggunakan teknologi SLAM (Simultaneous Localization and Mapping), sensor, dan pengukur ketinggian sehingga diharapkan masyarakat dalam hal ini Kader Muda Tangguh Bencana di sekitar Kecamatan Cisarua dapat mengenali potensi bahaya yang berada di sekitar mereka dengan lebih mudah dan tidak membosankan.
SOLO, KOMPAS.TV – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, banjir menjadi bencana alam yang paling kerap terjadi selama setahun terakhir. Jumlah kasusnya tercatat sebanyak 1.064 kejadian.
Banjir dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, dapat terjadi dalam bentuk rob atau bandang. Air menggenangi wilayah yang tidak memiliki serapan tanah yang cukup. Banjir juga biasanya bersifat lokal.
Meskipun demikian, banjir tetap dapat meluas dan berdampak pada masyarakat maupun infrastruktur.
Untuk menghadapi bencana banjir dapat dilakukan tindakan-tindakan mitigasi sebelum, saat, dan setelah terjadi banjir. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
Persiapan menghadapi banjir
1. Perhatikan lokasi kerentanan tempat tinggal terhadap banjir.
2. Pastikan memiliki persediaan pelampung yang cukup untuk anggota keluarga.
3. Pastikan bekal makanan dan persediaan obat-obatan memadai.
4. Miliki nomor Ketua RT, RW atau instansi yang dapat dihubungi.
5. Simpan dokumen-dokumen dan surat-surat penting dalam plastik atau kotak tahan air.
6. Titipkan salinan dokumen dan surat-surat penting ke kerabat atau orang terpercaya yang tinggal di daerah yang tidak terkena banjir.
7. Segera naikkan alat-alat atau kabel-kabel listrik sebelum terkena banjir ke tempat yang lebih tinggi yang tidak terjangkau air banjir.
8. Tutup kran saluran air utama yang mengalir ke dalam rumah.
9. Selalu mendengar informasi tentang perkembangan cuaca.
10. Ikuti perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan petugas bencana yang ada.
Tindakan-Tindakan saat Terjadi Banjir:
1. Tindakan saat banjir yang dapat dilakukan perorangan, antara lain:
2. Periksa apakah diri sendiri atau orang di sekitar terluka, jika perlu beri pertolongan pertama.
3. Ingat untuk menolong orang yang memerlukan bantuan khusus seperti bayi, orang lanjut usia dan orang cacat.
4. Tidak meminum air kecuali setelah dimasak dan tidak menggunakan air tercemar untuk mencuci alat-alat dapur dan pakaian.
5. Tidak membiarkan anak-anak bermain di air banjir.
6. Dengarkan informasi darurat.
7. Ikuti rencana darurat di lingkungan bencana anda.
Tindakan yang Harus Dilakukan Pihak Berwenang atau Pemerintah:
KOMPAS.com – Jumlah pasien terinfeksi corona di dunia, hingga Senin (27/4/2020) pukul 8.41 WIB mencapai 2.994.761 kasus.
Ini artinya, dalam kurun waktu kurang dari 24 jam jumlah kasus terkonfirmasi bertambah lebih dari 63.000 kasus. Pasalnya, pada Minggu(26/4/2020) pukul 16.06 WIB total ada 2.930.901 kasus.
Dari 2,99 juta orang yang positif terinfeksi Covid-19, 206.992 pasien meninggal dunia dan 878.820 dinyatakan sembuh.
Terdapat 210 negara dan wilayah di seluruh dunia yang telah melaporkan Covid-19.
Selain itu, pandemi juga menyebar di dua transportasi angkut Internasional, yakni Diamond Princess yang bersandar di Yokohama, Jepang dan Kapal pesiar MS Zaandam Holland America.
Perkembangan terkini corona di Indonesia
Kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga Minggu (25/4/2020) bertambah sebanyak 275 kasus.
Dengan demikian, jumlah total kasus pasien yang terjangkit virus corona di Tanah Air kini mencapai 8.882 kasus orang.
Hal ini diungkapkan Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers dari Graha BNPB pada Minggu sore.
“72.000 spesimen kami periksa, dari 56.000 orang. Dari pemeriksaan itu terdapat 8.882 kasus positif Covid-19,” ujar Yurianto, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu sore.
Dalam periode yang sama, data memperlihatkan bahwa ada penambahan 65 pasien Covid-19 yang dinyataan negatif virus corona setelah menjalani dua kali pemeriksaan. Sehingga, total ada 1.107 pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh.
Selain itu, pemerintah menyatakan kabar duka dengan masih adanya pasien Covid-19 yang tutup usia.
Ada penambahan 23 pasien Covid-19 yang meninggal dunia dalam sehari. Dengan demikian, totalnya ada 743 pasien Covid-19 yang meninggal dunia sejak kasus ini diumumkan untuk kali pertama pada 2 Maret 2020.
ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI Rilsan Malkhi (26) menunjukkan hasil rontgen paru-paru miliknya di Jakarta. Karyawan swasta itu menjalani isolasi di RSPAD Gatot Soebroto dan dinyatakan negatif 14 April 2020.
Yuri menegaskan bahwa penularan virus corona masih terjadi di tengah masyarakat.
Oleh sebab itu, masyarakat diminta sementara waktu untuk tidak bepergian ke luar rumah dulu hingga wabah virus berakhir.
Kerjakan segala sesuatu dari rumah, mulai dari bekerja, belajar, beribadah, hingga berolahraga.
Apabila terpaksa ke luar rumah, dianjurkan untuk menerapkan protokol kesehatan.
Misalnya, membatasi waktu di luar rumah, menjaga jarak fisik dengan orang lain, mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta mandi setelah bepergian dari luar rumah.
“Tolong tetap tinggal di rumah, karena kita tak pernah tahu siapa orang di luar rumah yang membawa virus,” ujar Yuri, Sabtu (25/4/2020).
“Banyak orang tanpa gejala yang membawa virus di tubuh, tapi tidak ada keluhan sama sekali atau keluhannya sangat ringan sehingga dia mempersepsikan tidak sedang sakit,” lanjut dia.
Update corona global
Data Worldmeters menunjukkan, AS, Spanyol, Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Turki, dan Iran adalah delapan negara yang mengonfirmasi kasus Covid-19 melebihi China – negara yang pertama kali mengidentifikasi adanya virus corona baru pada akhir Desember 2019.
ANTARA FOTO/REUTERS/CARLOS OSORI Petugas medis berfoto bersama saat Polisi Toronto dan responder garis depan kota memberikan penghormatan kepada tenaga kesehatan di sepanjang University Avenue saat jumlah kasus penyakit virus corona (Covid-19) terus meningkat di Toronto, Ontario, Kanada, AS, Minggu (19/4/2020). Berdasarkan data Johns Hopkins University, hingga Selasa (21/4/2020), AS masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi dunia mencapai 787.794 dengan korban meninggal 42.362.
Untuk Amerika Serikat sendiri, orang yang dikonfirmasi terinfeksi corona ada lebih dari 987 ribu kasus.
AS telah melakukan tes ke lebih dari 5,47 juta orang. Tes Covid-19 terbanyak yang dilakukan suatu negara untuk mencari pasien Covid-19.
Menurut data Worldmeters, setidaknya 16.527 orang per satu juta warga AS sudah diuji tes PCR.
Sementara itu, ada lima negara yang mencatatkan jumlah kematian lebih dari 20.000, yakni AS, Italia, Spanyol, Perancis, dan Inggris.
Untuk jumlah pasien sembuh terbanyak adalah Jerman. Lebih dari 157 ribu pasien yang dikonfirmasi terinfeksi virus corona, 112.000 pasien di antaranya sembuh.
Selain Jerman, Spanyol, dan China juga membawa kabar baik.
Ada lebih dari 226 ribu kasus Covid-19 di Spanyol, dan 117.727 di antaranya sembuh. Sementara di China, terdapat 82.830 kasus yang dikonfirmasi dan 77.474 pasien di antaranya telah sembuh.
Hal ini menunjukkan, virus corona dapat disembuhkan. Harapan untuk kita semua.
Namun perlu diketahui, orang yang sudah sembuh dari Covid-19 bukan berarti kebal dari virus SARS-CoV-2. Hingga saat ini belum ada cukup bukti yang cukup menunjukkan bahwa pasien sembuh Covid-19 jadi kebal.
Oleh sebab itu, bagi pasien Covid-19 yang sudah sembuh diimbau untuk tetap menjaga jarak dengan orang lain dan patuhi aturan yang ada, agar tidak terinfeksi ulang.
Tim insinyur NASA dari Jet Propulsion Laboratory menunjukkan ventilator VITAL yang akan digunakan untuk membantu pasien yang terinfeksi virus corona, Covid-19.
Jakarta – Pemerintah terus menginformasikan kasus virus Corona (COVID-19) terbaru dan penanganannya. Per Rabu 25 Maret 2020, ada 790 kasus positif virus Corona di Indonesia.
Informasi dan data terbaru kasus virus Corona ini disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB di YouTube, pada Rabu, 25 Maret 2020.
Yuri mengatakan total ada 58 orang positif Corona yang meninggal dunia yang tersebar di 11 provinsi.
Berikut ini poin-poin penjelasan terbaru pemerintah soal virus Corona pada 25 Maret 2020:
790 Kasus Positif Corona
Hingga hari ini, tercatat kasus positif Corona bertambah menjadi 790. “Total kasus positif 790, ini angka kumulasi,” ujar Yuri.
Data ini dihimpun hingga pukul 12.00 WIB hari ini. Dengan jumlah kasus itu, berarti ada penambahan 105 kasus positif Corona dari data sebelumnya.
58 Pasien Corona Meninggal, 31 Sembuh
Jumlah warga yang meninggal hingga hari ini total menjadi 58 orang.
“Kasus yang meninggal ada 58 orang,” kata Yuri.
Sementara itu, pasien yang sembuh bertambah 1 orang. Total pasien yang sembuh saat ini 31 orang.
“Kasus yang sudah sembuh ada 31 orang,” ujar Yuri.
Physical Distancing Juga di Rumah
Yuri mengatakan physical distancing harus dilakukan di dalam dan luar rumah. Dia mengingatkan pembatasan kontak fisik perlu dilakukan untuk mencegah penularan lewat percikan ludah.
“Pertama, harus dilaksanakan pembatasan kontak fisik dalam komunikasi sehari-hari. Bukan hanya di luar, tapi di dalam rumah juga harus kita lakukan. Mengapa penting, karena penyakit ini menular. Menular dari orang yang sakit ke yang sehat melalui percikan ludah yang kecil-kecil yang disebut droplet,” kata Yuri.
Dia mengatakan percikan ludah dari orang sakit bisa dengan mudah menular ke orang yang sehat saat batuk, berbicara, ataupun bersin. Dia mengingatkan masyarakat tetap waspada karena di beberapa kasus ditemukan pasien positif Corona tapi tidak menampakkan gejala.
Gejala Mirip Flu, Jangan Tebak-tebak
Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik dan memeriksakan kesehatannya jika mengalami gejala sakit, seperti influenza.
“Kami berharap masyarakat paham betul tentang penyakit ini, sehingga tidak perlu ada kepanikan. Manakala kemudian merasa dirinya tak enak badan dengan gejala mirip influenza, kita berharap mereka segera mengakses layanan kesehatan untuk berkonsultasi,” ujar Yuri.
“Sudah barang tentu, gunakan masker agar pada saat batuk, saat bersin, tak menyebarkan ke mana-mana. Konsul ke petugas kesehatan terdekat, mulai puskesmas, rumah sakit, dan seterusnya,” imbuhnya.
Yuri meminta masyarakat menyerahkan segalanya kepada tenaga medis. Yuri juga meminta masyarakat tak menebak-nebak sendiri tentang penyakit yang diderita.
Positif Corona Hanya Tunjukkan Sakit Ringan
Yuri mengatakan banyak pasien positif Corona yang hanya menunjukkan sakit ringan. Bahkan, pada beberapa kasus, pasien positif Corona tidak menunjukkan gejala sama sekali.
“Tetapi banyak sekali kasus positif mengandung virus ini justru dari orang-orang yang sakit ringan, tidak terlihat sakit berat, bahkan di beberapa data yang kita miliki tampak tidak bergejala sama sekali,” ujar Yuri.
Karena itu, masyarakat diminta menjaga jarak meskipun sama sekali tidak menunjukkan gejala batuk ataupun demam.
“Setidak-tidaknya kita harus memiliki jarak lebih dari 1,5 meter. Ini menjadi kunci,” kata Yuri.
Sebaran 790 Positif Corona
Data sebaran kasus positif COVID-19 per provinsi.
“Jumlah kasus positif COVID-19 ada 790 kasus. Jumlah kasus sudah sembuh dan boleh pulang ada 31 orang, dan kasus meninggal dunia ada 58 orang,” kata Yuri.
Positif COVID-19:
1. Bali: 9 2. Banten: 67 3. DIY: 17 4. DKI: 463 5. Jambi: 1 6. Jawa Barat: 73 7. Jawa Tengah: 38 8. Jawa Timur: 51 9. Kalimantan Barat: 3 10. Kalimantan Timur: 11 11. Kalimantan Tengah: 3 12. Kalimantan Selatan: 2 13. Kepulauan Riau: 5 14. NTB: 2 15. Sumatera Selatan: 1 16. Sulawesi Utara: 2 17. Sumatera Utara: 7 18. Sulawesi Tenggara: 3 19. Sulawesi Selatan: 13 20. Lampung: 1 21. Riau: 1 22. Maluku Utara: 1 23. Maluku: 1 24. Papua: 3 Dalam proses verifikasi: 12 Total: 790 kasus
Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Efektif
Yuri mengatakan mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif daripada hand sanitizer. “Dan yang lebih penting dari itu semuanya adalah cuci tangan. Cuci tangan pakai sabun, tidak harus hand sanitizer, jauh lebih efektif menggunakan sabun dibanding dengan menggunakan hand sanitizer,” kata Yuri.
Yuri, sapaan akrab Achmad Yurianto, menjelaskan dua alasan mengapa mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif daripada hand sanitizer. Pertama, sebut Yuri, dengan mencuci tangan menggunakan sabun, seluruh celah di tangan bisa dibasuh.
58 Pasien Corona Meninggal Ada di 11 Provinsi
Sebanyak 58 pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia ada di di 11 provinsi. Berikut ini data selengkapnya:
1. Bali: 2 2. Banten: 4 3. DIY: 2 4. DKI: 31 5. Jawa Barat: 10 6. Jawa Tengah: 4 7. Jawa Timur: 1 8. Kepulauan Riau: 1 9. Sumatera Selatan: 1 10. Sumatera Utara: 1 11. Sulawesi Selatan: 1 Total: 58
Kematian Kasus Corona Turun Jadi 7,34%
Dibandingkan Selasa (24/3) kemarin, tingkat kematian kasus positif virus Corona di Indonesia kini sudah turun menjadi 7,34%. Jumlah kasus positif Corona juga bertambah.
Dia menyampaikan data hari ini, ada 58 pasien positif COVID-19 meninggal dunia dari 790 kasus positif COVID-19. Penghitungan tingkat kematian (case fatality rate/CFR) bisa dilakukan dengan membagi angka kematian dengan total kasus positif, dikalikan 100.
Tingkat kematian saat ini adalah 7,34%, sebagaimana disampaikan juga oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kemarin, tingkat kematian kasus positif COVID-19 di Indonesia masih 8,02%. Kemarin, angka kematian ada 55 orang dengan jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 686 kasus. Berarti tingkat kematian turun 0,68%.
Di seluruh dunia, tingkat kematian kasus positif COVID-19 saat ini adalah 4,35%, diperoleh dari perbandingan angka kematian 16.362 orang dengan 375.498 kasus terkonfirmasi.
Positif Corona Tanpa Gejala
Pemerintah kembali mengingatkan untuk selalu menjaga jarak dengan lingkungan. Penularan bisa terjadi meskipun seseorang tidak menunjukkan gejala sakit. “Gambaran fisik dari orang yang sakit tidak selalu didominasi orang yang tampak sakit berat,” kata Yuri.
Menurut Yuri, ada banyak kasus positif yang ditemukan justru ada orang yang tampak sakit ringan. “Bahkan di beberapa data yang kami miliki, nampak tidak bergejala sama sekali,” jelas Yuri.
Jakarta – Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengungkapkan penyebab wilayah Jakarta dan sekitarnya rentan banjir setiap kali hujan deras. Salah satu alasan terkuat yang menyebabkan Jakarta mudah banjir adalah karena banyaknya daerah resapan tanah yang diambil alih menjadi bangunan.
“Daerah-daerah resapan sudah mulai tertutup oleh bangunan, drainase juga tidak jalan,” ujar Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementerian ATR/BPN Budi Situmorang ditemui di Gedung Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Selasa (25/2/2020).
Salah satu daerah resapan yang menjadi sorotan adalah Kawasan Puncak Bogor. Tanah di kawasan ini kini sudah banyak dipakai untuk membangun vila. Untuk itu, Kementerian ATR/BPN bertekad untuk mengembalikan fungsi lahan di sana menjadi daerah resapan air, dengan cara memperbanyak penanam pohon di wilayah tersebut.
“Menurut informasi dari hulu ada persoalan juga karena di puncak kan sudah banyak (tanah) yang jadi vila. Untuk itu, kita sudah mulai dari hulu, sudah ada rencana kita mau menanam kembali (pohon) karena vila-vila di sana besar-besar,” katanya.
Menurut Budi, di kawasan tersebut sebenarnya pembangunan bangunan komersil hanya diberi jatah sebesar 20% lahan, akan tetapi kenyataannya jumlah bangunan di kawasan itu kebanyakan telah melebih jatah tersebut.
“Yang kita syaratkan cuma 20% sesuai tata ruangnya. Kalau lebih dari situ kita akan bongkar dan umumnya itu vila-vila. Sesuai kebijakan Pak Menteri (Sofyan Djalil), agar ada win-win solution, dan tidak terjadi pembongkaran, maka nanti kita akan minta mereka yang lahan-lahannya masih kosong agar ditanamkan pohon-pohon,” tambahnya.
Demikian pula dengan bangunan-bangunan di Jakarta. Untuk bangunan-bangunan yang tidak memiliki hak milik yang jelas, akan dibongkar agar dapat dialihfungsikan sebagai kawasan serapan air.
“Iya (bakal dibongkar) sesuai Undang-Undang nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pemerintah bisa mencabut hak kalau untuk penyelenggaraan bencana,” tutupnya.
Jakarta, CNN Indonesia — Presiden Joko Widodo mengingatkan agar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah tak gagap menghadapi bencana alam. Pasalnya, bencana alam seperti banjir, longsor, hingga gempa bumi selalu terjadi tiap tahun namun penanganannya dinilai belum maksimal.
Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan tema Penanggulangan Bencana 2020 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2).
“Masih banyak bencana yang bisa dicegah, dikurangi, tapi tidak berhasil. Masih sering juga kita tergagap-gagap di daerah, step manajemennya seperti apa, tahapan manajemen seperti apa. Ini harus memiliki semua,” ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan, tiap daerah mesti sigap dalam menghadapi bencana. Mulai dari penanganan kerusakan infrastruktur, menampung pengungsi, hingga menghadapi pemulihan para korban.
“Step manajemennya itu, tahapannya harus jelas. Contoh tanah longsor tiap tahun terjadi di negara kita. Jabar banyak, Jateng banyak, Sumatera ada, Sulawesi ada tiap tahun terjadi,” katanya.
Sementara pada musim kemarau, bencana yang selalu terjadi tak lepas dari kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Ia meminta agar seluruh jajaran berhati-hati menangani kebakaran hutan. Jokowi membandingkan kondisi itu dengan kebakaran hutan yang begitu masif di Australia.
“Hati-hati negara sebesar Australia saja sekarang ini kewalahan menghadapi kebakaran hutan yang mencapai 6 juta hektar. Kehilangan 500 juta hewan. Bayangkan, bencana bukan hanya urusan ekonomi tapi ke mana-mana,” ucap Jokowi.
Untuk itu ia meminta seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah bersinergi mencegah dan meningkatkan mitigasi penanganan bencana.
Hal itu, menurutnya, dapat dilakukan dengan pengendalian tata ruang berbasis risiko bencana salah satunya dengan menyusun rencana kontijensi atau darurat yang bisa dilaksanakan semua pihak.
“Penanggulangan bencana juga harus dilakukan dengan pendekatan kolaboratif pentahelix,” katanya.
Mantan wali kota Solo itu juga meminta agar anggaran penanganan bencana dapat ditingkatkan sesuai prioritas Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Selain pada instansi pusat dan daerah, Jokowi juga meminta TNI/Polri ikut membantu penegakan hukum selama proses penanganan bencana.
“Kepada Panglima TNI dan Kapolri agar terus melakukan penegakan hukum, bersinergi dengan pemerintah daerah dan BNPB,” ucapnya.
Sementara itu Kepala BNPB Doni Moenardo menyebut ada eskalasi jumlah bencana di Indonesia dari tahun ke tahun. Merujuk pada bencana yang terjadi satu dekade terakhir, kata Doni, hampir semua bencana ancamannya permanen dan berulang.
Misalnya, pada musim hujan selalu terjadi banjir, longsor, hingga angin puting beliung. Sementara pada musim kemarau dihadapkan pada kekeringan, kesulitan air, kebakaran hutan, hingga bencana kabut asap.
Belum lagi, lanjut Doni, bencana yang bisa sewaktu-waktu muncul seperti gunung api meletus, gempa bumi, dan tsunami.
“Maka perlu dicari solusi permanen. Tidak hanga dicegah namun juga harus dimitigasi. Bencana alam ini butuh kesiapsiagaan,” tuturnya.
Doni juga mengingatkan pesan Jokowi yang berulang kali menyatakan perlunya menjaga sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana.
“Perlu kesadaran kolektif semua pihak. Maka kita wajib gotong royong, urun rembug, dalam pengurangan risiko bencana,” katanya.
REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL — Pakar kebencanaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmawati Husein mengatakan, perubahan iklim secara ekstrem tengah menjadi perhatian seluruh dunia. Bahkan, Indonesia pun merasakan dampaknya.
Pasalnya, cuaca berubah menjadi tidak menentu seperti curah hujan yang tinggi dan lama. Bahkan, kekeringan panjang yang menyebabkan kebakaran di beberapa negara dan kekuatan badai yang semakin meningkat juga terjadi.
“Meningkatnya kejadian bencana itu 15 sampai 30 persen dari adanya perubahan iklim. Kalau di Indonesia tahun 2019 lalu, bencana didominasi berkaitan dengan iklim sebanyak 99 persen dari data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” kata Rahmawati dalam keterangan resminya, Rabu (8/01).
Ia menjelaskan, sepanjang 2019, perubahan iklim mendominasi terjadinya bencana alam di Indonesia. Dengan begitu, ia pun memprediksi di 2020 ini tidak akan jauh berbeda dengan 2019.
Untuk itu, permasalahan ini harus diselesaikan oleh seluruh lapisan masyarakat dengan melakukan gerakan secara terpadu dan masif. Selain itu, menurutnya, pemerintah juga harus mengeluarkan kebijakan yang tepat dalam pengendalian tata ruang dan tata guna lahan.
“Lahan itu kalau tidak ditata, orang akan seenaknya. Misalnya untuk kelapa sawit semua, akhirnya kebakaran. Jadi pemerintah harus melalui intervansi kebiijakan dan aturan, aturan untuk mengatur dan aturan untuk penegakan hukum menjadi sangat penting,” katanya yang juga Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah tersebut.
Menurutnya, izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Izin Mendirikan Banagunan (IMB) sangat penting dan berimbas bagi lingkungan. Dengan begitu, peran pemegang kebijakan dalam hal ini pemerintah yakni menjalankan dan menegakkan aturan tersebut dengan baik.
“Aturan itu bukan harus dicabut, tetapi dilihat kenapa tidak berjalan. Jika tidak ada pengendalian, maka akan terjadi kekacauan bagi lingkungan,” jelasnya.
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK – KMK) UGM, Pokja Bencana dan Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM kembali menyelenggarakan pameran dan launching buku: Relawan Kesehatan di Medan Bencana. Acara diselenggarakan pada 30 Oktober hingga 1 November 2019. Pameran di lobi auditorium FK – KMK UGM, sementara launching buku digelar di auditorium FK – KMK UGM pada Rabu (30/10/2019). Pameran bencana salah satunya bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa FK – KMK pada pelaku manajemen penanggulangan bencana di DIY. Kemudian, buku yang diluncurkan membahas banyak hal, dua diantaranya ialah pengalaman dan pembelajaran tim kesehatan dalam penanganan bencana. Launching ini terbuka untuk umum dan dapat diakses melalui link berikut:
Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Sosial (Kemensos) menyatakan pembahasan mengenai revisi Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana bakal dilanjutkan dalam masa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024 atau carry over ke periode selanjutnya.
Menteri Sosial, Agus Gumiwang, mengatakan draft revisi baru dilakukan beberapa hari lalu setelah mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan demikian, revisi UU tidak mungkin disahkan dalam masa anggota DPR periode 2014-2019.
“Kami baru masukkan ke DPR baru empat hari yang lalu. Tidak mungkin kekejar, sedangkan waktu kerja DPR hanya seminggu lagi. Tapi ini tidak masalah untuk di carry over,” ucap Agus, Selasa (24/9).
Ia menuturkan pihak dari pemerintah mengusulkan agar penamaan untuk badan yang menanggulangi bencana tak perlu dicantumkan secara tegas dalam UU.
Dalam aturan sekarang, pemerintah menuliskan dengan jelas bahwa lembaga yang bertanggung jawab menanggulangi bencana adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Jadi kami ingin penamaan BNPB itu tidak perlu, nanti sama Presiden diberikan fleksibilitas diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP),” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mengusulkan agar tugas atau komando BNPB diperjelas. Sebab, Agus menyebut selama ini BNPB terkadang masih kesulitan untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda).
“Kalau ada bencana misalnya pemda lumpuh, kalau begitu BNPB ingin berkoordinasi dengan pemda tidak bisa karena lumpuh. Maka harus diberikan wewenang atau payung hukum terkait komando dari PNBP itu,” jelas Agus.
DPR telah menyetujui sejumlah rancangan undang-undang (RUU) menjadi undang-undang (UU) jelang masa anggota DPR 2014-2019 berakhir bulan ini.
Beberapa yang disetujui, seperti UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, dan UU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan.
KEBUMEN – Ada cara unik masyarakat Kebumen untuk selamat dari bencana tsunami. Cara yang harus dilakukan saat tsunami datang, adalah dengan kukut-kukut (kemas-kemas) dan langsung lari serta menek uwit (naik pohon).
Cara itu disampaikan salah satu siswi SMKN 1 Ambal Kebumen, Vika Lestari kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat mengikuti acara ekspedisi desa tangguh bencana (Destana)Tsunami, Selasa (30/7/2019). Saat ditanya Ganjar tentang bagaimana cara menyelamatkan diri saat tsunami datang, Vika dengan mantab menjawab pertanyaan itu.
“Ayo siapa yang tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri saat ada bencana tsunami?,” tanya Ganjar saat memberi materi di SMKN 1 Kebumen.
Seorang siswi bernama Vika Lestari langsung maju ke depan. Dengan bahasa yang lugu, Vika menjawab pertanyaan itu dan membuat suasana ger-geran. “Caranya kukut-kukut terus mlayu pak (kemas-kemas terus lari). Larinya ke tempat yang tinggi,” jawab Vika.Mendengar itu semua peserta tertawa, termasuk Ganjar.
Seolah belum puas, Ganjar kembali menanyakan hal yang lucu kepada Vika. “Nek ora sempet mlayu kepiye (kalau tidak sempat lari bagaimana),” tanya Ganjar lagi. “Menek uwit pak (manjat pohon pak),” jawab Vika tegas.
“Memang harus pakai bahasa sederhana, seperti yang dikatakan Vika, kalau ada tsunami langsung kukut-kukut terus mlayu (kemas-kemas langsung lari), menek uwit sing dhuwur (manjat pohon tinggi). Pemahaman semacam ini harus terus diberikan pada masyarakat,” terang Ganjar sambil memberikan sejumlah hadiah kepada para siswa.
Ganjar menerangkan, selama ini masyarakat khawatir apabila ada informasi terkait bencana. Padahal lanjut dia, tidak ada yang perlu ditakutkan. Hal yang harus dilakukan adalah siap dengan berbagai potensi bencana yang ada dan mencari cara untuk menyelamatkan diri.
“Ndak usah geger, tenang saja. Kan memang kita hidup di negara bencana. Maka kita harus paham bagaimana caranya mitigasi, melakukan evakuasi saat terjadi bencana dan lainnya. Mari kita selalu harmoni dengan alam dan berkompromi dengan alam,” terangnya.
Pemerintah lanjut dia juga tidak tinggal diam. Selain memberikan sosialisasi, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah alat pendeteksi bencana termasuk tsunami. “Tapi tolong, itu dirawat. Jangan ada yang mencuri. Saya ingin Kebumen menjadi contoh,” pungkasnya.
Kegiatan sosialisasi kebencanaan di Kebumen tersebut tidak hanya dilakukan Ganjar. Dalam kesempatan itu, hadir pula Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo dan Kepala BMKG, Dwikorita.
Doni Monardo mengatakan, kesadaran masyarakat akan potensi bencana perlu terus ditingkatkan. Dengan sosialisasi terus menerus, maka masyarakat akan terbiasa dan tidak takut menghadapi bencana.
“Kita semua harus menyadari bahwa Indonesia kawasan yang sangat rentan. Sejumlah bencana pernah terjadi di negeri ini, dan yakinlah suatu saat bencana itu akan terulang, karena alam selalu mencari keseimbangan,” katanya.