Loading Now

Oral Presentation Session Hari Kedua

h2-oral1-1

Oral Presentation Session Hari Kedua

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

22 April, Cape Town, South Africa


 {tab Mass Gathering |orange align_justify}

Reporter: Bella Donna


h2-oral1-1

Dok. PKMK: Sesi oral presentation dengan topic Mass Gathering

Sesi kali ini membahas mengenai situasi gawat darurat yang sering terjadi pada pertemuan-pertemuan massa yang sering terjadi di berbagai negara. Bahwa berdasarkan Guideline dari WHO mengenai bahaya penyakit menular dan tanggap darurat untuk perencanaan dalam pertemuan massa. Perencanaan dan persiapan sistem kesehatan masyarakat dan layanan untuk mengelola pertemuan massa adalah prosedur yang kompleks: penilaian risiko awal dan peningkatan sistem sangat penting untuk mengidentifikasi risiko kesehatan masyarakat yang potensial, baik alam dan buatan manusia dan untuk mencegah, meminimalkan dan menanggapi insiden kesehatan masyarakat. Dokumen dari WHO ini adalah tujuan utama dari manajemen kesehatan public terutama dalam even pada sebuah Negara yang sedang mengadakan kegiatan besar tersebut, serta pembuat kebijakan dan pembuat perencanaan.

Selain bidang kesehatan, ada banyak orang lain yang terlibat dalam memberikan kontribusi bagi dampak kesehatan di pertemuan massa, data ini berguna, termasuk untuk promotor even dan manajer, layanan darurat pribadi, badan pemerintahan, dan organisasi atau individu yang berkontribusi pada organisasi pengumpulan massa.

Perbaharuan dokumen ini mencerminkan pergeseran dalam pengetahuan, pemahaman dan pendekatan dan telah ditulis oleh kader ahli dunia. Indonesia sendiri juga sering kali mengadakan acara pagelaran music maupun budaya-budaya di tiap propinsi, dan kegiatan ini cukup membuat banyak masyarakat yang hadir. Bukan hanya acara kegiatan tetapi untuk masyarakat yang akan haji yang didampingi oleh tim kesehatan, sangat penting bagi tim untuk memahami situasi pertemuan massa ini, sehingga untuk Indonesia perlu segera dilakukan kebijakan maupun guideline untuk pertemuan masssa yang terjadi di Indonesia.

Sesi ini dimoderatori langsung oleh pakar mass gathering yang juga menjabat sebagai president WADEM, Paul Arbon dari Australia. Beruntung sekali, perwakilan dari Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM, Madeline Ariani mendapat kesempatan menjadi co-chair bersama dengan Paul Arbon. Ke depan, mass gathering ini juga akan menjadi bahasan diskusi oleh oleh kami.

{tab Hospital and Health System |green }

Reporter: Madelina Ariani


Berbicara mengenai rumah sakit dan bencana sudah barang tentu akan terkait dengan system kesehatan yang terbangun. Karena penanganan korban bencana ada yang pre rumah sakit dan yang di rumah sakit sendiri. Kita akan menemukan banyak pengembangan system kesehatan di dalam bidang ini, misalnya bagaimana dengan system rujukan, bagaimana dengan system perpindahan pasien dari satu dokter ke doketar yang lain, juga bagaimana sistem penilaian penyelamatan korban. Di dalam sesi oral presentasi di hari kedua WCDEM kali, kita akan sama-sama menyimak paparan hasil penelitian dan studi yang dilakukan oleh 9 peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan ruma sakit dunia.

Sesi orang presentasi ini di moderator oleh Jerry Overton. Jerry yang juga menjabat chief financial officer WADEM dari United States. Dalam kesempatan ini, Jerry juga didampingi oleh Johan von Schreeb sebagai co-chair. Ruangan kecil yang kira-kira mampu menampung 60 peserta ini hampir terisi penuh. Tepat pukul setengah dua siang, sesi ini dimulai oleh Jerry.

Baru dihari kedua ini dibuka sesi parallel mengenai rumah sakit dan sistem kesehatan. 9 peneltian yang dipaparkan hari ini semuanya menarik perhatian. Ada yang mengangkat isu mengenai kepemimpinan dan kegawatdaruratan. Dan ini memang masalah dalam penanganan kegawatdaruratan bencana biasanya, siapa yang memimpin dan siapa yang melakukan apa. Lev Zhurasky dari New Zealand menceritakan mengenai krisis kepempimpinan di ruangan ICU pada saat gempa Christchurch. Melalui studi kualitatifnya dia menunjukka bahwa pemipin bisa datang dari status informal, dalam artian bisa saja dari dokter ICU meskipun bukan kepala, karena hasil wawancara menunjukkan yang factor keahlian dan pengaruh ke anggotanya.

Menarik lagi penelitian dari Bachar Nizar Halimeh dari rumah sakit King Faisal, Saudi Arabia. Isu yang diangkatnya adalah mengenai pengurangan risko perpindahan pasien antar dokter pada saat situasi gawat darurat di UGD. Aspek komunikasi dan disposisi yang baik akan sangat menentukan proses pemindahan pasien ini. Penelitian ini dilakukan selama enam minggu dan hampir mengamati pasien hingga 1000 lebih dan kasus pemindahan sekitar 200 pasien. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan pre dan post kepada dokter yang dipapar dengan Standardize Physician Handover Tool. Hasilnya terjadi peningkatakan pemahaman dan praktik.

{/tabs}

Post Comment

YOU MAY HAVE MISSED