Serial Workshop Online Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19
Kerangka Acuan Kegiatan
Pengantar
Seluruh rumah sakit yang telah terakreditasi sudah pasti memiliki perencanaan penanggulangan bencana untuk rumah sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP). Namun, karena nilai untuk HDP hanya 20 persen dan bisa lolos tanpa membuat perencanaan, tidak jarang rumah sakit hanya membuat dokumen dan tidak mensosialisasikannya ke seluruh staf. Lebih lanjut, RS sering tidak menjadikan ancaman bencana sebagai budaya yang harus dikenal dan diantisipasi oleh rumah sakit. Oleh karena itu, jika terjadi bencana internal atau pun kedatangan korban eksternal, atau mengirimkan tim ke daerah bencana atau mengalami bencana alam, rumah sakit mengalami kesulitan dalam aplikasi HDP.
Hal yang kerap menjadi masalah, ketika terjadi bencana rumah sakit mengabaikan kembali dokumen perencanaannya. Siapa yang sudah ditunjuk sebagai komandan, siapa yang akan bertugas secara operasional, bidang data informasi mengurusi apa, bagaimana analisis risiko rumah sakit sebelumnya untuk perencanaan surge hospital menghadapi lonjakan kasus, bagaimana berkomunikasi dengan dinas kesehatan untuk rujukan pasien, bagaimana menanamkan pemahaman pada seluruh staf bahwa mereka harus mengikuti alur yang telah dibuat saat aktivasi tim bencana, dan sebagainya.
Situasi tersebut lebih berat terjadi pada bencana non alam seperti saat ini, pandemi global COVID-19. Walaupun pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan konsep penanganan bencana, namun terdapat perbedaan yang sangat besar. Perbedaannya terletak pada prinsip dasar penanganan karena perbedaan sifat agen kausatifnya. Pandemik saat ini disebabkan virus yang sangat menular. Bukan bencana yang bersifat trauma tidak menular. Oleh karena itu, penangananya menjadi lebih sulit karena masalahnya jauh lebih kompleks. Semua rumah sakit yang pernah kami dampingi Hospital Disaster Plan-nya belum ada yang memasukkan pandemi global sebagai ancaman bencana yang mungkin terjadi, yang ada hanya sebatas KLB DBD dan malaria.
Mengingat pentingnya pengorganisasian tim bencana di rumah sakit atau incident command system (ICS) dalam menghadapi situasi bencana, maka PKMK menggagas kursus refreshing dalam bentuk workshop online. DI dalam kegiatan ini, kejelasan tugas fungsi dan alur pelaporan harian yang di luar dari situasi normal atau birokrasi sehari- hari akan dibahas.
Diharapkan melalui workshop ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK- KMK UGM akan membantu menfasilitasi rumah sakit yang sudah memiliki dokumen HDP dapat segera mengoperasikan dokumen tersebut dan bagi rumah sakit yang belum memiliki dokumen HDP dapat menyusunnya sesuai dengan kebutuhan penanganan COVID-19 khususnya dalam mengaktifkan ICS di rumah sakit.
Tujuan
- refreshing cara pengaktifan Incident Command System (ICS) di rumah sakit dalam kerangka Hospital Disaster Plan.
- mendiskusikan permasalahan dalam pelaksanaan HDP untuk covid-19
Output
- peserta memahami aktivasi ICS di rumah sakit
- rumah sakit memiliki dan mengaktifkan tim bencana untuk menghadapi COVID-19
- rumah sakit mempunyai dokumen HDP yang diperbaharui karena adanya COVID-19.
Peserta dan persyaratan
Diikuti oleh 3 sampai 5 orang yang terdiri dari :
- tim HDP rumah sakit,
- pimpinan dan manajemen rumah sakit,
- staf lainnya yang memilik tugas berkaitan dengan pelaksanaan HDP
Hal yang perlu dijawab masing – masing rumah sakit sebelum mengikuti workshop:
- Apakah rumah sakit sudah memiliki dokumen perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit/ Hospital Disaster Plan?
- Apakah di dalam dokumen Hospital Disaster Plan tersebut telah ada tim bencana/ struktur organisasi bencana/ incident command system (ICS)?
- Apakah saat ini ICS/ struktur organisasi bencana itu sudah diaktifkan?
- Selama dua minggu ini, masalah apa yang dihadapi rumah sakit terkait sistem komando/ ICS/ tim bencana ini?
Agenda Kegiatan
{tab title=”Pertemuan 1″ class=”danger”}
HDP dalam SNARS dan Penugasan
Selasa, 31 Maret 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB
Tujuan Umum Pembelajaran:
Memahami Rencana Penanggulangan Bencana di RS (HDP) sesuai SNARS
Pembicara : dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator : Madelina Ariani, SKM, MPH
|
Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) |
Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan |
Metode |
|
Memahami regulasi manajemen disaster |
Memahami Regulasi Manajemen Disaster :
|
|
|
Memahami mengidentifikasi bencana internal dan bencana eksternal |
Memahami mengidentifikasi Bencana Internal dan Bencana Eksternal :
|
|
| Memahami melakukan self-assessment RS |
Memahami melakukan self-assessment RS : Indikator Kesiapsiagaan self-assessment |
|
| Overview ICS |
Overview ICS :
|
Materi
Materi Pendahuluan dr Hendro Wartatmo
Cek list Kesiapan saat Bencana
Survey 1 Peserta Workshop HDP ICS – edit madel – 31 Maret 2020
Referensi
Major-Incident-Medical-Management-and-Support-Third-Edition
Hospital safety index guideline for evaluator
PENUGASAN
{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}
{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}
Hari I : Selasa, 31 Maret 2020
Komponen HDP dalam Akreditasi SNARS : Menilai Kesiapan Rumah Sakit Saat Ini

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes dari Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Dalam menilai kesiapan yang ada saat ini di rumah sakit penting untuk memahami regulasi manajemen bencana, identifikasi bencana internal dan eksternal, melakukan self-assessment rumah sakit dan overview Incident Command System (ICS). Surge capacity di rumah sakit bertujuan untuk mengembangkan integritas struktural, strategi komunikasi, mengelola sumber daya (termasuk sumber alternatif), dan kegiatan klinis (termasuk tempat pelayanan alternatif). Rumah sakit melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana dengan menggunakan Hospital Safety Index dari WHO. ICS sebagai alat untuk perintah, kontrol dan koordinasi sumber daya selama kejadian. ICS ini terdiri dari prosedur pengorganisasian personel, fasilitas, peralatan, dan komunikasi selama kejadian. Mengapa menggunakan ICS? ICS ini akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi persel tanggap dan menetapkan fokus yang jelas pada tujuan dan garis wewenang.
- RSPAU Hardjolukito ditunjuk oleh Sultan HB X (Gubernur DI. Yogyakarta) sebagai RS Rujukan, sekarang tengah dipersiapkan gedung dan alat – alatnya. Jika RSPAU Hardjolukito kekurangan SDM, maka bisa dibantu oleh tenaga kesehatan dari rumah sakit yang bukan rujukan. Bagian manajemen support sudah bisa menyiapkan skenario dan ini terkait pengaturan SDM. Alur juga perlu disiapkan sehingga bantuan yang datang bisa dikelola, misaalnya ceklis apa saja yang dibutuhkan oleh RSPAU Hardjolukito. Kebutuhan ceklist ini bisa dilihat dalam Hospital Incident Command System (HICS).
- Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah akan membuat rumah sakit rujukan sehingga membutuhkan panduan khusus dalam pengembangan rumah sakit rujukan tersebut, seperti wisma atlit di Jakarta. UGM tidak memiliki guideline khusus terkait pendirian RS Rujukan. Kemenkes sudah mengeluarkan buku pedoman kesiapsiagaan COVID-19, silakan masing – masing daerah membuat satu kebijakan untuk pengembangan rumah sakit rujukan. Misalnya di DIY ada dibentuk WAG yang beranggotakan Persi DIY, IDI DIY, FKKMK, rumah sakit dan Dinkes yang aktif berdiskusi, sehingga memiliki beberapa opsi dalam pengembangan rumah sakit rujukan ini yaitu surge hospital dan surge in hospital. Untuk Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah akan didampingi oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM.
- RS Islam Surabaya belum termasuk dalam rumah sakit rujukan, sementara di Surabaya terdapat 14 rumah sakit rujukan dan sudah penuh. RS Islam Surabaya tetap menerima pasien ODP dan PDP. Sementara menggunakan ruangan isolasi TB dengan tetap memperhatikan syarat ruang isolasi COVID-19. Hal yang menjadi kendala ICS RS Islam Surabaya belum jalan, harapannya dengan adanya workshop ini akan membantu RS Islam Surabaya untuk mengaktifkan ICS mereka.
Kegiatan hari ini ditutup dengan penjelasan penugasan melalui laman website http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19. Semua materi dan penugasan di – upload di website tersebut.
{/sliders}
Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
{tab title=”Pertemuan 2″ class=”warning”}
Prinsip Hospital Incident Command System dan Implementasinya (HICS) dan Penugasan
Rabu, 1 Maret 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB
Tujuan Umum Pembelajaran : Memahami Sistem Komando di RS
Pembicara : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
2. dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator : Madelina Ariani, SKM, MPH
|
Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) |
Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan | Metode |
|
Memahami ICS dalam rumah sakit (HICS) |
Memahami ICS dalam layanan kesehatan atau Rumah sakit (HICS):
|
|
|
Lima fungsi manajemen ICS |
Lima fungsi manajemen ICS
|
MATERI
Materi H2 – Workshop ICS HDP – Hendro 1 April 2020
PENUGASAN
{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}
{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}
Kegiatan dimulai dengan review penugasan hari pertama. Fasilitator menunjukkan infografis jawaban dari peserta yaitu apakah sudah memiliki HDP, apakah ada ICS dan apakah ICS sudah diaktifkan. Hampir 50% peserta belum mengaktifkan ICS.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Incident Command System (ICS)
Incident Command System (ICS)
Materi ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK -KMK UGM. Pada materi ini dr. Hendro menegaskan bahwa tanpa ICS di rumah sakit maka operasional penanganan COVID-19 tidak akan berjalan. ICS sebagai alat untuk perintah, kontrol dan koordinasi sumber daya selama suatu kegiatan dan / atau kejadian. Di dalam ICS terdapat 5 fungsi manajemen yaitu operasional, logistik perencanaan, keuangan dan komando. Komando bertanggung jawab secara keseluruhan, operasi melaksanakan rencana, perencanaan menyusun kebutuhan dalam beberapa jam/hari mendatang, logistik memberikan dukungan dan keuangan melacak biaya dan pengadaan. Beberapa kasus yang ditemukan selama ini, misalnya ada SK yang sudah ditentukan penanggung jawab, namun tidak jalan karena pembagian tugasnya tidak jelas. Seharusnya mereka bisa dimasukkan ke ICS. Mengapa struktur sehari – hari tidak bisa dipakai? Karena di rumah sakit ada beberapa bidang yang harus ada dalam kondisi darurat. Misalnya dalam sehari – hari rumah sakit tidak ada seksi penerimaan relawan, kalau ada bantuan siapa yang mengaturnya? Intinya di struktur ICS bisa ada pembagian tugas yang jelas, sistem komunikasi yang jelas dan perencanaan lain jika terjadi masalah.
Diskusi
- Komandan ICS itu kerjanya 24 jam dan tidak harus direktur , boleh dipilih dua orang sebagai komandan jadi ada yang menggantikan.
- RSUD Sleman belum mengaktifkan ICS, saat ini sudah ada surat satgas untuk penanganan COVID-19 ini sendiri. Pemateri menyampaikan nama – nama yang di satgas supaya ditambahkan dalam struktur ICS. Hal yang perlu diperhatikan adalah nama- nama dan pembagian tugas sudah ada, tapi alur komunikasi antar unit belum ada. Jika ada kotak – kotak belum dipahami bisa ditanyakan. Misalnya liaison itu adalah penghubung eksternal rumah sakit. Bagaimana dengan pos komando? Bagaimana membentuk komunikasinya? Di dalam ICS ada namanya fasilitas, kita tidak bisa menggunakan struktur umum karena pada sehari – hari fasilitas tidak ada. Pos komando mengendalikan kerjaan anak buahnya, adanya hanya ketika krisis. Pos komando harus ditempat yang mudah dicapai, ada ruangan bisa untuk meeting. Tempat yang disediakan khusus untuk ketua mengendalikan operasionalnya (what if).
- RSA UGM sudah punya satu gugus tugas covid, tapi tidak dibawah HDP, apakah bisa disebut ICS? Pemateri menjelaskan jika tidak di dalam HDP tidak menjadi masalah. Jika hanya ada pembagian tugas, belum ada alur komunikasinya belum bisa disebut ICS. Ini yang penting, sistem komunikasinya silakan disusun dalam protap tersebut. Contoh jika kamar ICU itu kekurangan APD, maka stok harus minta kemana? Harus ijin ke komandan tidak? Hal – hal seperti itu yang diatur dalam sistem komunikasi. Jika sudah ada diatur berarti bisa disebut sebagai ICS.
- RSPAU Hardjolukito sudah membentuk tim siaga bencana dan sudah stand by di posko tiap hari, dibantu dinkes prov untuk kelengkapan APD. Artinya ICS sudah mulai berjalan. Artinya sekarang RSPAU memperkuat bagaimana membangun komunikasi ini ke eksternal, seperti informasi ke rumah sakit lainnya bahwa RSPAU Hardjolukito sudah siap menerima rujukan.
- RSUP Karyadi Semarang sampai sekarang cukup stabil, low pasien. Alur penerimaan pasien, perubahan ruangan berjalan sudah baik. ICS di RS juga sudah baik. Hal yang menjadi masalah adalah sifatnya teknis, misalnya bagaimana setelah meninggal? Tidak semua pemakaman bersedia selama 24 jam. Sudah diusulkan ke gubernur supaya bisa melaksanakan pemakaman secara mendadak. Pemudik dari Jakarta cukup banyak, mengusulkan ke direktur ada satu area di gedung diubah jadi tempat rujukan. Pemateri menyampaikan masalah pemakaman beurusan ke eksternal, harus paham jalurnya bagaimana. Liaison officer – nya saja yang menyampaikan ke eksternal, jadi komandan tidak terlalu repot. Untuk masalah gedung baru, itu tugas bagian perencanaan.
- RSUD Selong Lombok Timur belum memiliki SK tim di dalam rumah sakit. Dalam skala kabupaten sudah dibuat satu SK dimana rumah sakit diberi tugas operasional logistik dan pendanaan. Rumah sakit penting untuk membentuk ICS di internal rumah sakit karena dalam rumah sakit juga perlu ada perencanaan, komandannya siapa. Personel RS yang ada di satgas kabupaten bisa dimasukkan jadi liaison officer, jadi liaison officer itulah yang masuk ke kabupaten.
- Bagaimana klinik kecil dalam membuat ICS? Rumah sakit ada levelnya, tidak usah semua jadi level 3 misalnya patokan level 3 kesiapan fasilitas (APD, ventilator dll). Misalnya RS Tipe C dalam 5 fungsi manajemen ICS (komandan, operasional, perencanaan, keuangan, logistik) memiliki fungsi apa? Jadi bisa membentuk ICS sesuai levelnya. Tetap membuat ICS dengan orang yang ada sesuai kapasitas rumah sakit.
Workshop hari ini ditutup dengan penjelasan penugasan 2 melalui laman website http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19#pertemuan-2. Workshop akan berlanjut besok dengan memahami sistem komando di Rumah Sakit.
Reporter : Happy R Pangaribuan
{/sliders}
{tab title=”Pertemuan 3″ class=”info”}
HICS dalam Penanggulangan COVID-19 dan Penugasan
Kamis, 2 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB
Tujuan Umum Pembelajaran: Memahami Sistem Komando di RS
Pembicara : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
2. dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator : Madelina Ariani, SKM, MPH
| Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) | Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan | Metode |
|
1. Memahami sistem pengorganisasian di rumah sakit pada saat bencana COVID-19 |
Sistem pengorganisasian di rumahsakit pada saat bencana:
|
|
| 2. Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM |
Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM : Struktur Organisasi dan kualifikasi SDM |
MATERI
PENUGASAN
{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}
{slider title =”Reportase” class=”icon”}

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Pengorganisasian Incident Command System di Rumah Sakit
Kegiatan ini dimulai dengan mereview hasil penugasan 2 peserta. Fasilitator memberikan 2 contoh penugasan peserta yang menggunakan ICS dan MIMMS dalam struktur pengorganisasian di RS.
Pengorganisasian Incident Command System (ICS) di Rumah Sakit
Materi ini disampaikan ileh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK-KMK UGM. Tujuan dari ICS ini adalah untuk menjawab what doing what, communication, what if. ICS bukan satu-satunya sistem. Salah satunya Major Incident Medical Management and Support (MIMMS). Dalam MIMMS tetap ada command sistem, SOP, jobdes dan sistem manajemen. Dan ada juga syarat-syaratnya, misalnya standar pelatihan pada tenaga medis, bidang medis harus menguasai ATLS, ACLC, first responder Langkah penyusunan ICS ditentukan dulu kegiatan yang akan dilakukan, dalam hal ini sesuai kapasitas RS (level 1,2, atau 3). Level tersebut tergantung resources yang ada di rumah sakit misalnya ketersediaan APD. Karena pembagian APD dalam penangan COVID ini sesuai dengan level rumah sakit. Kemudian tetapkan personilnya sesuai kegiatan.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Diskusi”
Diskusi :
- RS Kendal merupakan RS baru dan baru sekitar 5 bulan beroperasi. Saat ini sedang menyusun HDP dan ICS. Pada ICS sudah dibentuk dan ditetapkan orang-orangnya. Jika saat bencana RS terkena dampaknya termasuk orang yang ada di ICS itu, bagaimana mengaktifkannya?
3 fungsi yang harus ada yaitu pembagian tugas, komunikasi, rencana cadangan. Rencana cadangan itu tentang how if someone missing? Kalau orangnya banyak, maka harus dicadangkan dan kalau sedikit maka akan membutuhkan orang dari luar rumah sakit. Artinya dalam satu daerah harus ada networking. Jadi networking dengan providernya harus direncakan juga.
- RSA UGM: Apakah ke depannya akan terjadi eskalasi jumlah pasien, karena ini mas a karantina wilayah. Kemudian di rumah sakit untuk kepemimpinan dilaksanakan oleh dokter spesialis Paru, sementara mereka harus melakukan pelayanan.
Data itu sangat penting sekali, di Jogja sekarang belum ada perhitungan dan ini perhitungan baru mau dibuat. Mengenai fungsi rangkap seorang spesialis di manajemen medical dan support, dalam kondisi normal tidak masalah. Namun dalam kondisi sekarang ini, susah kalau merangkap. Secara teoritis tidak masalah, namun dalam teknis akan terkendala karena COVID ini masalah transmisi. Spesialis paru sebaiknya dialihkan ke bidang operasional sebagai coordinator. Kalau front liner full operasional, tapi kalau manajer tidak perlu dokter paru.
- Masalah yang dihadapi RSUP Soeradji Klaten dan RS Selong Lombok Timur sama dengan RSA UGM bahwa komandan dalam ICS mereka adalah dokter spesialis paru. Kendala lainnya adalah jumlah pendatang yang mudik ke daerah merekan sementara kapasitas mereka sangat terbatas untuk penanganan COVID.
Itu adalah masalah surge capacity, bagaimana menambah ruang tambahan. Disiapkan betul bukan hanya tempatnya tetapi orangnya, memobilisir dari puskesmas. Misalnya kalau mau menggunakan wisma haji itu harus sudah diurus sejak sekarang. Dalam hal ini Pemda sangat berperan.
- RSUD Banjarnegara : terkait dengan pengaturan relawan mohon informasi barangkali ada contoh kebijakan atau SPO nya.
Relawan harus ada yang mengatur sendiri dan ini diperjelas di ICS. Ada pendaftaran langsung relawan, kemudian dibagi (relawan medis, teknis). Orang yang mengurusi relawan ini berhubungan dengan sie operasioanal. Jadi ada pencatatan relawan yang dibutuhkan dimana. Untuk relawan yang tidak ada tempat, ditulis dulu kontaknya, sehingga bisa menghubunginya jika diperlukan. Ada formulir untuk pendaftaran relawan.
Kegiatan ditutup dengan penugasan 3 melalui laman website. Informasi selengkapnya terkait penugasan dan materi simak di http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19.
Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
{/sliders}
{tab title=”Pertemuan 4 ” class=”green”}
Presentasi dan Evaluasi
Jumat, 3 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB
Tujuan Pembelajaran Umum :
memahami penerapan dan aktivasi ICS untuk covid-19
Pembicara : 1. Dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
2. Dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator : Madelina Ariani, SKM, MPH
| Tujuan Pembelajaran Khusus | Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan | Metode |
|
Memahami menyusun ICS, jadwal, dan rencana kegiatan tim selama tanggap darurat |
Presentasi oleh peserta Komentar dan masukan dari pembicara |
|
| Kesimpulan | ||
| Penutupan |
PENUGASAN
{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}
{slider title =”Reportase” class=”icon”}

Kegiatan hari ini dimulai dengan review penugasan. Selanjutnya perwakilan dari beberapa peserta mempresentasikan hasil penugasan mereka dan menyampaikan kendala yang dihadapi dalam proses aktivasi Hospital Disaster Plan (HDP) berbasis Incident Command System (ICS). Beberapa RS yang presentase sebagai berikut :
RS Tadulako Palu
Kapasitas RS Tadulako Palu Hanya bisa melayani pasien ODP dan PDP, untuk pasien yang positif akan dirujuk ke RS Rujukan Sulawesi Tengah. Pasca gempa Palu, RS rusak berat jadi pelayanan dipindahkan ke klinik Undata. Kendala saat ini adalah turn over tenaga kesehatan cukup tinggi karena kunjungan pasien berkurang. Sistem koordinasi di rumah sakit berjalan dengan baik dan direkturnya aktif. Hal ini menjadi kekuatan bagi rumah sakit sendiri. RS jangan memaksakan harus melayani pasien positif jika memang keterbatasan sumber daya, tetap saja cukup sampai isolasi PDP.
RSUD Selong Lombok Timur
RS sedang merevisi ICS untuk Covid ini. Sejak bulan lalu sudah dilakukan perekrutan tenaga kesehatan sehingga untuk tenaga kesehatan sendiri tidak ada masalah. Permasalahan sekarang adalah belum melatih jika terjadi pasien PDP yang positif dan sesak nafas di ruangan. Rumah sakit hanya mempunyai 1 ventilator. Kondisi lainnya yang menjadi komandan dan penanggung jawab operasional sama yaitu dokter spesialis paru. Sementara sekarang semua puskesmas konsultasi ke dokter paru, misalkan ada ODP dari puskesmas langsung konsul ke dr paru, jika ke UGD terkadang anamnesi kurang tepat. Pemateri menyarankan bahwa sebaiknya dokter spesialis paru full sebagai operasional saja sementara untuk manajemennya diganti orang lain. RS ditetapkan sebagai RS pusat rujukan. Sehingga harus mampu pada level 3 untuk penanganan COVID, meskipun misalnya sehari-hari tarif BPJS level B. Sekarang rumah sakit perlu melanjutkan untuk RS level 3. Jika pasien banyak maka dibuat bangsal baru. Jika ada 1 ventilator, 1 dirawat di ventilator, selebihnya bisa di ruangan ICU. Terkait pengembangan ini diusulkan dari RS ke dinkes setempat kemudian ke BPBD, jadi bantuan dari pusat bisa diturunkan ke BPBD kemudian ke Dinkes kemudian diteruskan ke RS.
RSU Charlie Kendal
Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan SDM sehingga memasukkan SDM ke struktur ICS – nya yang kesulitan, ada beberapa yang merangkap. Kemudian yang kurang adalah kuantitas bukan kualitas. Plan B bisa dicarikan relawan. Relawan bisa berhubungan dengan LSM atau PMI atau dengan organisasi yang dikenal. Berdasarkan struktur ICS bisa di bagian Liason Officer untuk penerimaan relawan. Untuk penerimaan bantuan atau logistik medis bisa di safety officer atau logistik. RSU Charlie Kendal bisa menangani pasien ODP dan PDP, pasien positif akan dirujuk.
RSA UGM
ICS COVID-19 terpisah dengan HDP RSA UGM. COVID-19 ini dikepalai oleh dokter spesialis paru. Aktivasi ICS bisa dilakukan secara lisan dulu kemudian tertulis. Kalau tertulis itu terkait SPJ. COVID-19 berjalan bukan berarti pelayanan sehari-hari tidak jalan hanya saja pelayanan umum dibatasi untuk yang elektif. RSA UGM juga memiliki tim untuk kajian ilmiah. Kajian ilmiah ini melibatkan koordinasi dari berbagai unit. Para pakar dalm pengembangan kajian ilmiah ini bisa dimasukkan kedalam ICS sebagai pengarah tetapi terkait pelaksanaan teknis itu di bagian perencanaan.
RSUD Sleman
ICS sudah diperbaiki dan disesuaikan dengan hasil perbaikan penugasan dari fasilitator. Dalam SK Satgas sudah ada sekretaris, dan akan dimasukkan dalam skema. Kendala sekarang ini komandan sudah overload. Sehingga disarankan supaya komandan jangan hanya satu saja, boleh ditambah 2 atau 3 orang lagi dengan syarat pencatatan dan pelaporan tugas jelas. Jadi ada pergantian komandan, bisa pergantian dilakukan per minggu. Tim ICS ini memiliki masa jabatann, artinya SK Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit berlaku seterusnya namun SK ICS Penanganan COVID-19 ini usai setelah operasionalnya selesai.
PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta
Masih menggunakan satgas COVID-19, namun komukasinya sudah seperti ICS – nya. Setiap hari juga sudah dilakukan koordinasi. Untuk sistem informasi ada yaitu MCCC. Disana selalu update untuk kegiatan – kegiatan per hari. Selain internal juga ada pelayanan diluar misalnya informasi pencegahan covid. Jadi sistem komunikasi sudah dibangun ke eksternal.
Kesimpulan dari workshop hari ini adalah jika ICS sudah diaktifkan, harus melakukan evaluasi dan update melalui laporan tiap hari. Hal yang paling penting sekarang jelas pencatatannya, siapa – siapa saja tim yang terlibat dan ada laporan tiap hari. Sehingga ketika ingin mengeluarkan insentif sudah ada bukti yang jelas. Fasilitator menyampaikan bahwa workshop ini akan berlanjut dengan topik yang berbeda yaitu Sistem Komunikasi dalam ICS. Harapannya peserta tetap mengikuti workshop tersebut untuk mematangkan persiapan manajemen penanganan COVID-19.
Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KM UGM
{/sliders}
{/tabs}

Post Comment