Pemprov Sumsel Jamin Stok Bantuan Bencana

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjamin stok bantuan bencana untuk mengantisipasi terjadinya banjir dan tanah longsor pada puncak musim hujan Februari 2021 tersedia dalam jumlah cukup.

Stok bantuan bencana terutama beras tersedia cukup banyak, jika sewaktu-waktu terjadi banjir dan tanah longsor bisa segera disalurkan kepada masyarakat yang menjadi korban bencana tersebut, kata Wakil Gubernur Sumsel, Mawardi Yahya di Palembang, Selasa.

Dia menjelaskan, stok beras yang dialokasikan khusus untuk membantu masyarakat jika terjadi bencana pada suatu daerah saat ini tersedia 100 ton per kabupaten dan kota.

Dengan tersedianya bantuan dalam jumlah cukup sesuai ketentuan itu, jika sewaktu-waktu terjadi bencana di suatu daerah, korbannya bisa dibantu dengan cepat sehingga dapat mencegah terjadinya masalah sosial di lokasi bencana.

“Jika diketahui ada masyarakat mengalami bencana banjir dan tanah longsor, bisa segera diberikan bantuan sehingga dapat dicegah timbulnya masalah sosial seperti rawan pangan,” ujarnya.

Bantuan tersebut sifatnya sebagai perlindungan sosial kepada masyarakat yang benar-benar layak menerimanya, untuk menyalurkannya akan dilakukan secara selektif sehingga tepat sasaran.

Beberapa daerah berpotensi terjadinya bencana tanah longsor yang menjadi pusat perhatian seperti Kabupaten Lahat, Empat Lawang dan Kota Pagaralam, mengingat daerah tersebut berada di dataran tinggi.

Sedangkan daerah yang kemungkinan berpotensi terjadi bencana banjir adalah yang berada di kawasan dataran rendah seperti Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir, Musirawas, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Masyarakat yang berada di daerah tersebut diimbau agar meningkatkan kewaspadaan dari ancaman bencana itu sehingga diharapkan permasalahan sosial akibat dampak bencana pada musim hujan dapat dihindari atau paling tidak bisa diminimalkan, kata wagub.

Muhammadiyah Ingatkan Indonesia Sebagai Negara “Supermarket Bencana”

JAKARTA – Tren bencana di Indonesia cenderung meningkat, Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein ingatkan masyarakat tentang pentingnya mitigasi.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, pada tahun 2020 mulaI 1 Januari sampai 18 Mei total bencana sebanyak 1.296 kejadian. Pada rentang tersebut, berdampak pada 2.015.363 manusia mengungsi, 249 luka-luka, 178 meninggal dunia dan 8 hilang.

“Kalau kena, masyarakat juga bisa termiskinkan juga orang semakin kekurangan. Apalagi di zaman pandemi ini,” tuturnya dikutip MNC Portal Indonesia dari laman resmi Muhammadiyah (15/2/2021)

Karena kondisi geologis, geografis, dan demografis Indonesia sering disebut sebagai negara supermarket bencana. Rahmawati memaparkan, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki ancaman gempa bumi. Bahkan, Pulau Kalimantan juga memiliki potensi, meski sedikit.

Selain itu, Indonesia juga terletak di atas cincin api. Letak geografis Indonesia di sisi lain juga memberikan potensi bencana, termasuk demografis kependudukan yang tidak menyebar merata Indonesia memiliki resiko indeks bencana yang merah.

Sehingga semua pihak atau stakeholder harus bersinergi dalam menanggulangi bencana dan melakukan mitigasi penyelamatan jiwa manusia, termasuk umat Islam, hal itu merujuk QS. Al Maidah Ayat 32.

Selain itu, bagi Muhammadiyah dalam peran kebencanaan juga merujuk pada pesan KH. Ahmad Dahlan. “Hadjatnya PKO itoe akan menolong kesangsaraan dengan memakai azas agama islam dengan segala orang, tidak dengan membelah bangsa dan agamanya.”

Maka dari itu, Muhammadiyah melalui LPB mengajak kepada masyarakat muslim Indonesia untuk turut serta melakukan penyadaran tentang bencana atau dakwah mitigasi. Amma menjelaskan, mitigasi bencana adalah fase situasi tidak terjadi bencana.

“Saat ini, banyak masyarakat yang fokus di tanggap darurat, termasuk di Muhammadiyah. Kerja-kerja mitigasi dan kesiapsiagaan lebih sedikit ketimbang kerja-kerja dari tanggap darurat,” kata Rahmawati.

Anggota Dewan Pengarah Central Emergency Response Fund (CERF) PBB mengajak warga persyarikatan lebih intens untuk melakukan dakwah mitigasi. Warga persyarikatan diharapkan bisa menjadi pelopor dakwah mitigasi, sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemauan menghadapi bencana.

85 EWS Dipasang di Daerah Rawan Bencana Temanggung

Temanggung: Sebanyak 85 unit sistem peringatan dini (early warning system/EWS) telah dipasang pada periode 2016-2019 di sejumlah daerah rawan bencana di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pemasangan EWS tersebut diharap bisa mengurangi korban saat bencana.
 
“Pengadaan EWS tersebut didanai dengan APBD Kabupaten Temanggng sebanyak 82 unit, APBD Provinsi Jateng dua unit, dan APBN satu unit,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Pria Andaka, di Temanggung, Selasa, 16 Februari 2021.
 
Dia menjelaskan EWS tersebut untuk memantau, mendeteksi, dan memberikan peringatan dini bahaya longsor dan ada juga untuk memantau curah hujan.
 
Pria menyebut sejumlah EWS tersebut dipasang di sejumlah daerah rawan bencana di 19 kecamatan yakni Tretep, Bansari, Bejen, Tembarak, Selopampang, Kledung, Kranggan, Tlogomulyo, Bulu, Jumo, Candiroto, Kedu, Gemawang, Kaloran, Wonoboyo, Kledung, Pringsurat, Kandangan, dan Jumo. Namun beberapa di antaranya dilaporkan tidak berfungsi dengan baik.
 
Menurutnya ke depan perlu ada tambahan pengadaan EWS karena daerah rawan bencana di Kabupaten Temanggung, terutama tanah longsor cukup banyak.
 
“Dalam waktu dekat kami akan melakukan pengecekan ke lapangan untuk mengetahui berapa alat peringatan dini bencana tersebut yang rusak. Mudah-mudahan nanti disetujui oleh pemda. Untuk tahun ini tidak ada anggaran pengadaan EWS,” jelasnya.
 
(DEN): medcom.id

 

Bencana Banjir dan Tragedi Longsor di Nganjuk, 20 Warga Masih Tertimbun

Nganjuk – Hujan deras selama kurang lebih 4 jam membuat Kabupaten Nganjuk dilanda longsor dan banjir. Hujan deras turun sekitar pukul 14.30 WIB. Longsor terjadi Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos RT 01/RW 06, sekitar pukul 18.00 WIB.

Peristiwa longsor di Nganjuk, 20 orang dikabarkan hilang dan melukai 14 orang, yang dirawat di Puskesmas Ngetos. Sementara 16 warga terpaksa diungsikan ke tempat aman.

“Dikabarkan ada 20 yang hilang dalam pencarian dan ada 14 orang dilarikan ke puskesmas Ngetos,” ujar Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi saat dikonfirmasi detikcom (14/2/2021).

Dari 14 orang yang dirawat di Puskesmas Ngetos, kata Marhaen, dirinya belum mengetahui detail luka yang dialami korban. “Untuk lukanya belum detail, yang jelas dalam perawatan di Puskesmas Ngetos ada 14 orang,” kata Marhaen.

Marhaen mengatakan saat ini Pemkab Nganjuk telah mengerahkan BPBD, TNI, Polri, dan Basarnas untuk melakukan pencarian warga yang dilaporkan hilang akibat longsor Nganjuk ini. “Sampai saat ini masih pencarian, dikerahkan dari TNI, Polri, BPBD, dan juga Basarnas,” papar Marhaen.

Sementara Komandan Kodim 0810/Nganjuk Letkol Inf. Georgius Luky Ariesta mengaku 16 warga diungsikan di rumah Kepala Desa Ngetos. 16 Pengungsi terdiri dari dewasa dan anak-anak.

selengkapnya https://news.detik.com/

Mengelola Bencana di Tengah Pandemi COVID-19: Pendekatan Respons Terhadap Bencana Banjir

Dunia menghadapi kesulitan dalam menangani bencana sembari melakukan upaya untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Makalah ini bertujuan untuk mengusulkan kebijakan dan pendekatan untuk mengelola dua bencana banjir dan COVID-19. Ini meninjau upaya yang sedang berlangsung dari organisasi di bidang bantuan kemanusiaan, air dan sanitasi, manajemen bencana dan kesehatan. Berdasarkan tinjauan kerja, kebijakan itu direkomendasikan. Tujuan kebijakan tersebut adalah untuk melindungi kehidupan manusia, khususnya kelompok rentan, dari perspektif keamanan manusia. Organisasi dan komunitas lokal memainkan peran penting dalam manajemen bencana, dan informasi risiko yang didukung oleh pengetahuan ilmiah sangatlah penting. Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman manajemen bencana, berbagai organisasi termasuk kesehatan dan air harus dikoordinasikan untuk melakukan tindakan. Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di jurnal Elsevier Public Health Emergency Collection

SELENGKAPNYA

Live Report: PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI – 9 Februari

live report 9 feb

Reportase

Live Report ke-3 tanggal 9 Februari 2021

PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI

(Bencana Non-Alam)

live report 9 feb

PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany, sejak respon bencana Sulawesi Tengah pada 2018 hingga saat ini telah melakukan peningkatan kapasitas untuk Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas dan masyarakat dalam merencanakan dan merespon bencana. Oleh karena itu, untuk merespon Gempa Bumi Sulawesi Barat 15 Januari 2021 lalu, PKMK telah melakukan koordinasi dan persiapan keberangkatan tim medis dengan mengandalkan kapasitas lokal Sulawesi Tengah sebagai provinsi tetangga.

Pada Selasa, 9 Februari 2021 pukul 07.30 – 08.30 WIB langsung dari Sulawesi Barat, kembali dilaksanakan live report tim gabungan PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany dan kapasitas lokal Sulawesi Tengah (RS Undata, FKM Universitas Tadulako dan InWCCA Sulteng) dengan kekuatan tiga tim, tim manajemen bencana dengan narasumber Madelina Ariani, SKM, MPH., tim medis pelayanan kesehatan terdiri dari dr. Muhammad Ilham Juraij, dr. Agnesstacia Vania Lumintang, Ns. Syaiful R. Tahir, S.Kep., M.Kep, dan Armawin, A.Md.Kep dari RSUD Undata, dan Ns. Sabir, S.Kep beserta Ns. Aprianis, S.Kep dari InWCCA Sulteng. Ditambah dengan tim penyehatan lingkungan, Abdul Hamid, SKM, MKKK dan Yusril, SKM dari FKM Untad. Seperti minggu sebelumnya, acara ini kembali dimoderatori oleh apt. Gde Yulian, M.Epid.

Saat live report berlangsung, tim manajemen bencana sudah menyelesaikan tugas dan alhamdulillah kondisi semua anggota tim pada hari ini baik dan sehat, dan semua anggota tim sedang berada di pantai Manakarra. Tim gabungan ini dinamakan “Tim Gabungan Pokja Bencana FK-KMK UGM, Caritas Germany, dan Sulteng (RSUD Undata, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako dan perawat dari InCCWA Sulawesi Tengah) kembali diketuai oleh Madelina, tim ini adalah tim dengan misi dan tujuan yang sama, yaitu follow up dari project pelokalan dan pengingkatan kapasitas pasca Gempa-Tsunami dan Likuifaksi di Sulteng pada 2018, dan karena ini tim yang dibentuk saat akan berangkat, maka komunikasi dan keterbukaan antar anggota tim adalah hal yang sangat penting. Ditambahkan oleh dr. Ilham, karena merupakan tim gabungan yang baru dibentuk maka miskomunikasi beberapa kali terjadi, peran koordinator tim menjadi kunci agar komunikasi berjalan lancar, dr. Agnes juga memiliki perasaan bingung kaget dan canggung pada awalnya bekerjasama dengan tim lain di luar tim dari RS Undata. Madelina menambahkan, dirinya sebagai c\koordinator tim untuk mengatasi kekhawatiran saat menerjunkan tim mobile memberikan pelayanan ke daerah terdampak bencana diantaranya melengkapi diri dengan APD dan logistik, istirahat dan pengaturan load kerja yang disesuaikan, dan tentunya disiplin dalam menerapkan protokol Kesehatan yang hal ini diamini oleh dr Agnes yang menekankan ke disiplin penggunaan APD di pengungsian. Juga kendala di lapangan adalah cuaca panas saat penggunaan APD saat pelayanan di pengungsian tambah dr Ilham.

Program kerja/target tim gabungan ini yang pertama memberikan layanan kesehatan dalam bentuk EMT tipe-1, yang kedua tim manajemen bencana mendampingi dinas Kesehatan dan fasyankes yang ketiga adalah Kesehatan masyarakat baik promosi Kesehatan maupun penyehatan lingkungan. Di masa awal transisi ini tim mengarahkan kepada fasyankes agar mulai ke situasi normal dengan tidak meninggalkan pemantauan -pemantauan yang sudah dijalankan oleh sub – sub klaster. Ns Armawin menyampaikan salah satu targetnya melakukan pelayanan kesehatan secara mobile dan perawatan luka dan post-op dan luka dengan penyerta diabetes di wilayah Botteng Utara, Desa Taan dan wilayah Tapalang Barat. Sementara tim dari penyehatan lingkungan, Hamid dan Yusril menyampaikan target pengelolaan sampah dilakukan dengan melibatkan kepala desa dan masyarakat di bawah koordinasi dinas kesehatan dan dinas lingkungan hidup setempat. Di awal masa transisi ini juga tim perawat melakukan sosialisasi dan pendampingan perawatan luka kepada perawat puskesmas tempat tim bertugas. Dari sisi manajemen, Ketika tanggap darurat selesai pada 4 Februari 2021, koordinasi klaster kesehatan ditutup dan sub – sub klaster kesehatan melakukan serah terima upaya kesehatan bencana ke program, dimana salah satu yang menjadi tantangan adalah program imunisasi dan program gizi. relawan kesehatan yang masuk ke Sulawesi Barat masih diterima oleh Dinas Kesehatan namun sudah bukan tim EMT mobile lagi tapi menyatu dengan puskesmas yang sedang diaktifkan kembali. Sehubungan dengan ini, tim gabungan mempersiapkan puskesmas untuk dapat beroperasi seperti sebelum gempa dengan membantu dalam penyusunan alur dan sistem puskesmas darurat di wilayah penugasan, yaitu Puskesmas Botteng dan Puskesmas Satelit Tapalang Barat.

 live report 9 feb 1

Sebelum menutup live report, kembali dr Ilham menegaskan agar tim yang datang membantu pelayanan Kesehatan di wilayah terdampak bencana Sulawesi Barat untuk selalu dapat disiplin menjaga protokol kesehatan dan tidak henti hentinya melakukan edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat yang masih ada di pengungsian untuk mematuhi 3M. Acara kemudian ditutup dengan mengheningkan cipta selama 15 detik sebagai tanda turut berbelasungkawa atas meninggalnya Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi barat, dr. Muhammad Alif Satria Lahmuddin, M.Kes., pada hari Ahad 7 Februari 2021 di Makassar akibat COVID-19.

Link video: https://youtu.be/Rx4xIYvRr68

Reportase oleh: apt.Gde Yulian, M.Epid.

Pendekatan One Health di Era Pandemi COVID-19 dan Bencana Alam

one health

one health

Salah satu respon tanggap darurat pada bencana alam adalah berupa evakuasi, transportasi dan pengungsian. Berbeda dengan respon tanggap darurat saat pandemi, massa tidak boleh berkumpul dan harus tetap menjaga jarak fisik dan isolasi di rumah. Bagaimana respon tanggap darurat bencana alam selama pandemi? Tentu penanganan yang dilakukan tidak terlepas dari protokol pencegahan COVID-19. Dalam artikel berikut disebutkan setelah Gempa Jepang, korban yang selamat, tinggal di pusat evakuai dalam kondisi tidak sehat yang mengarah ke wabah penyakit menular. Tinggal di tempat penampungan selama pandemic COVID-19 kemungkinan besar akan rentan terjadi penularan karena kurangnya jarak fisik dan ketidakmampuan memakai masker. Mengembangkan rencana/tanggapan kesiapsiagaan bencana dengan menggunakan pendekatan multidisiplin One Health sangat dibutuhkan sebagai bagian dari perencanaan pandemi. Konsep tiga dimensi yaitu lingkungan, sistem pangan dan obat – obatan/intervensi masuk ke dalam pendekatan One Health dalam COVID-19. Mengidentifikasi inang perantara SARS-CoV-2, penularan lintas spesimen dan penularan zoonosis merupakan salah satu pendekatan One Health dari dimensi lingkungan. Dimensi sitem pangan menetapkan sistem pangan alternatif dalam hal bahan bioaktif, keamanan, dan keberlanjutan pangan. Pada dimensi intervensi mengembangkan sistem pengawasan SARS-CoV-2 pada manusia, hewan dan lingkungan. 

Selengkapnya

Live Report: PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI – 3 Februari

live report 3 feb 1

Laporan Penanganan
Bencana Gempa Sulbar oleh Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM:
Pengelolaan Bencana Alam di Kala Pandemi

Rabu, 3 Februari 2021


live report 3 feb 1

Pokja Bencana AHS FK – KMK UGM memberangkatkan dua tim untuk penanganan bencana Sulawasi Barat, pada Rabu, 3 Februari 2021 pukul 12.30 – 14.00 WIB dilaksanakan laporan dari dua tim yang berangkat, dimana tim pelayanan Kesehatan AHS diwakili oleh ketua tim dr.Yudha Mathan Sakti, SpOT(K) dan dr. Tomo, sementara tim manajemen bencana diwakili oleh apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., dan pembahasan oleh dr.Hendro Wartatmo SpB, moderator sesi ini ialah Nenggih Sri Wahyuni, MA.

Acara dibuka oleh dr Mei Neni Sitaresmi, PhD, Sp.A(K) selaku wakil dekan FK – KMK sekaligus, dalam pembukaannya pihaknya mengepresiasi willingness dari tim yang sudah sudi diberangkatkan ke daerah bencana dengan persiapan yang singkat dan dalam masa pandemi COVID-19 ini dengan risiko yang sudah dipertimbangkan betul dan kerja keras mereka di sana dengan segala keterbatasan di daerah bencana, alhamdulillah tim pulang dengan kondisi yang baik. Adapun terdapat hasil swab PCR positif dari anggota tim didapatkan bukan selama periode bertugas di daerah bencana.

Selanjutnya laporan disampaikan oleh dr Yudha Mathan, SpOT(K) mewakili seluruh anggota tim pelayanan kesehatan yang berangkat ke sana: Wahyu Tomo, Agus Damar, Sutarno Eko, Septian Gathot, Waafiyah Rizki, laporan disampaikan secara chronological time sequence, dimulai dari fase persiapan tim untuk dipastikan bagaimana tim berangkat dengan good assessment yang tervalidasi, memiliki objective yang tepat, kesiapan penugasan secara administratif, logistik dan koordinatif dengan tim yang sudah diberangkatkan lebih dulu, dan yang paling penting segera membangun kekompakan tim agar nantinya tim pre-deployment composite EMT AHS UGM ini benar – benar self-sufficient secara materiil dan spirituil. Berbeda dengan penugasan bencana terdahulu, sebelum berangkat, tim harus mendapatkan informed consent terlebih dahulu dari para anggotanya, saat bertugas pun tanda vital anggota selalu dipantau setiap hari dan protokol kesehatan selalu dijaga ketat, termasuk harus selalu mandi sebelum dan setelah keluar basecamp, minum (membuka masker) bergantian di dalam mobil dan selalu mendapat asupan makanan yang bergizi dan vitamin/obat – obatan profilaksis secukupnya.

live report 3 feb 1

Tim setelah berkoordinasi dengan tim manajemen yang diberangkatkan sebelumnya di pos koordinasi Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat untuk mendapatkan gambaran lapangan, melakukan pelayanan di Dusun Galang Utara, wilayah kerja Puskesmas Tapalang di hari ke-2, Puskesmas Botteng di hari ke-3, pos – pos pengungsian di wilayah kerja Puskesmas Binanga di hari ke-4, Puskesmas Tapalang di hari ke-5, Pustu Karampuang Puskesmas Bambu di hari ke-6, dan Desa Bambangan di Malunda di hari ke-7. Menariknya, karena ini adalah composite team (gabungan) di hari ke-3 beberapa anggota tim dipecah untuk memberikan layanan ke daerah terdampak bencana sesuai dengan keahliannya, seperti bu Wafiyyah yang membantu mengaktifkan SKDR Bencana menggunakan platform DHIS2 di pos koordinasi klaster Kesehatan Mamuju Bersama tim PHEOC Kemenkes, dan dr. Yudha Mathan yang melakukan tindakan operasi bersama tim UB di RSUD regional. Bahkan di hari terakhir, tim composite EMT AHS kemudian membentuk tim composite EMT lagi bersama tim UB RSSA untuk memberikan pelayanan Kesehatan di Desa Bambangan.

Narasumber kedua yaitu dr Wahyu Tomo SpB menambahkan bahwa sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga diberangkatkan menjadi bagian tim yang melakukan respon bencana di saat pandemi, dari hasil penyisiran pengungsian dalam rangka mendekatkan korban terdampak bencana alam dengan fasilitas kesehatan, tim mendapatkan banyak temuan untuk dibagikan dalam sesi laporan ini. Antara lain tidak adanya awareness akan prokes terkait COVID-19, kemudian beberapa pasien menolak dirujuk dengan alasan takut gempa lagi dan alasan COVID-19, oleh karenanya tim selalu melakukan edukasi berkesinambungan prokes covid dan kebersihan lingkungan pengungsian selama melakukan pelayanan medis, protokol Kesehatan selalu dijaga dan disiplin diterapkan saat melakukan pelayanan di lapangan. Satu hari seblum penugasan berakhir, tim melakukan swab antigen di lapangan PSC 119 Mamuju dengan hasil semua anggota negatif kemudian menyerahkan perbekalan medis orthopaeedi (gips, crutch dan cane) kepada dr.Indra Sakti Sp.OT sebagai Sp.OT Organik di Sulawesi Barat dan secara administrative menyerahkan exit report ke pos koordinasi klaster Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat.

Narasumber yang ketiga, apt.Gde Yulian menyampaikan bagaimana pihaknya sebagai tim manajemen bencana mencoba melakukan RHA (kaji cepat Kesehatan) dengan memanfaatkan potensi relawan kesehatan di klaster kesehatan. Untuk itu, koordinasi klaster kesehatan diperkuat terlebih dahulu dengan penyunan struktur komanda yang sesuai dengan sumberdaya yang ada, penyusunan peta respon dengan pendekatan fasilitas layanan Kesehatan, registrasi dan mobilisasi relawan, dan penguatan laporan harian untuk mendapatkan informasi penyakit di pos -pos pengungsian. Hasil ini kemudian disampaikan ke tim relawan kesehata yang salah satunya adalah tim AHS UGM agar lebih efisien dalam bekerja.

Pembahas pada sesi ini yaitu dr Hendro Wartatmo, SpB(K) Digestive, menyampaikan pengalamannya Ketika menangani Tsunami Aceh pada 2004 lalu, sekarang koordinasi sudah jauh lebih baik, sudah ada pencatatan baik itu relawan yang datang maupun penyakit dan pasien yang ditangani sehingga tenaga Kesehatan setempat lebih mudah melakukan follow up. Sambung beliau juga waktu Tsunami Aceh banyak kebetulan kebetulan yang terjadi untuk dapat memobilisasi sumber daya, dan pesannya agar pengalaman tim yang diberangkatkan ke sana segera didokumentasikan agar menjadi pembelajaran, lesson learnt untuk bencana yang akan datang. Apalagi ini bagian dari sejarah saat melakukan penanganan bencana di masa pandemi.

Reportase oleh: apt.Gde Yulian, M.Epid.

Live Report: PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI – 2 Februari

live report 2 feb

Reportase
Live Report:

PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI

(Bencana Non-Alam)

live report 2 feb

PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany, sejak respon bencana Sulawesi Tengah pada 2018 hingga saat ini telah melakukan peningkatan kapasitas untuk Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas dan masyarakat dalam merencanakan dan merespon bencana. Oleh karena itu, untuk merespon Gempa Bumi Sulawesi Barat 15 Januari 2021 lalu, telah melakukan koordinasi dan persiapan keberangkatan tim medis dengan mengandalkan kapasitas lokal Sulawesi Tengah sebagai provinsi tetangga.

Pada Selasa, 2 Februari 2021 pukul 07.30 – 8.30 WIB langsung dari Sulawesi Barat, telah dilaksanakan live report tim gabungan PKMK FK-KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany dan kapasitas lokal Sulawesi Tengah (RS Undata, Puskesmas Marawola dan FKM Universitas Tadulako) yang menerjunkan tiga tim, tim manajemen bencana dengan narasumber Madelina Ariani, SKM, MPH., tim pelayanan kesehatan yang diwakili oleh Arifin, A.Md.Kep dan dr M Hapsi dari RSUD Undata, dan tim promosi Kesehatan Lusia Salmawati, SKM, MSc., dari FKM Untad. Acara ini dimoderatori oleh apt.Gde Yulian, M.Epid.

Saat live report berlangsung, tim manajemen bencana berada di PSC 119 Mamuju, tim pelayanan Kesehatan dan promkes sedang di basecamp bersiap untuk turun ke lapangan, alhamdulillah kondisi semua anggota tim pada hari ini baik dan sehat. Nama tim yang panjang yaitu “Tim Gabungan Pokja Bencana FK-KMK UGM, Caritas Germany, dan Sulteng (RSUD Undata, Puskesmas Marawola dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako) menunjukkan bahwa ini adalah tim gabungan yang dibentuk sebelum ditugaskan (pre-deployed composite EMT). Dijelaskan oleh Madelina, ini adalah follow up dari project pelokalan dan pengingkatan kapasitas pasca Gempa-Tsunami dan Likuifaksi di Sulteng pada 2018, agar dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan perguruan tinggi kesehatan di Sulteng berdayaguna dalam merespon bencana kesehatan baik di daerahnya maupun daerah terdekat.

Untuk anggota tim sendiri, ini adalah pengalaman pertama mereka bekerja dalam composite EMT, menurut dr Hapsi dan ners. Arifin ini pengalaman yang sangat menarik karena pelayanannya komprehensif dan efisien, saling mengerti kebutuhan di bidang keilmuan yang berbeda, sedangkan menurut dr Maya meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya, namun semangat sebagai penyintas di bencana 2018 menyatukan mereka, membuka wawasan akan banyaknya komponen yang terlibat dalam penanggulangan bencana dan masing masing komponen itu penting. Sementara menurut bidan Evi dan bidan Intan, ide komposit ini saling melengkapi dan membangun kekompakan tim, Lusia dosen FKM Untad juga menambahkan pentingnya membangun jejaring saat kesiapsiagaan bencana. Kemudian dr.Bella Donna, M. Kes menjelaskan mengapa UGM melakukan pelatihan pelatihan dan pelokalan untuk mempersiapkan kejadian seperti ini, dimana kolaborasi tidak hanya sekedar teori di atas kertas.

Program kerja/target tim gabungan ini yang pertama memberikan layanan kesehatan dalam bentuk EMT tipe-1 dengan tambahan tim manajemen bencana dan promosi Kesehatan masyarakat. Untuk layanan kesehatan mobile mendapatkan tantangan tambahan karena bencana ini terjadi di masa pandemi dan di pengungsian masyarakat banyak yang mengabaikan protokol Kesehatan, jadi programnya selain untuk memberikan pelayanan primer, mendekatkan pasien korban gempa ke fasilitas layanan Kesehatan. Informasi dari Lusia, di ranah promosi Kesehatan sendiri programnya adalah edukasi 3M, edukasi pemberian makanan siap saji, sanitasi dan manajemen sampah di pos-pos pengungsian karena masalah Kesehatan masyarakat seperti ISPA dan diare mulai banyak bermunculan. Target daerah penugasan yaitu di tiga titik di wilayah kerja Puskesmas Botteng (bukit,kendang ayam, lapangan) dan Puskesmas Tapallang (bukit baruda, desa kaeli, desa takandeang).

live report 2 feb madelina

Ibu Madelina Ariani, SKM, MPH., memberikan laporan langsung dari pos koordinasi klaster Kesehatan Kab.Mamuju bertempat di PSC 119 Mamuju

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa penanganan bencana di masa pandemic ini membutuhkan kesiapan yang lebih untuk para relawan Kesehatan, dijelaskan oleh dr. Hapsi dan ners.Arifin bahwa relawan kesehatan yang memberikan pelayanan mobile agar selalu disiplin terhadap protokol Kesehatan pribadi dan tim, kemudian tidak henti – hentinya melakukan edukasi ke pengungsi akan pentingnya 3M jika bisa dilakukan. Ditambahkan oleh bu Madelina, rencana tim pengganti sudah ada dalam dua tiga hari kedepan dan akan bertugas selama seminggu melanjutkan pelayanan Kesehatan mobile di titik titik yang sudah disebut di atas. Pelayanan Kesehatan pun sedapat mungkin akan dilakukan di luar puskesmas mengingat pengungsi dan petugas puskesmas belum berani masuk ke puskesmas dan gempa masih kerap terjadi di Majene, untuk itu tim gabungan ini telah mencoba memfasilitasi untuk membuatkan standar alur pelayanan.

Reportase oleh: apt.Gde Yulian, M.Epid.

 

Status Tanggap Darurat Banjir di Kalsel Diperpanjang Hingga 10 Februari 2021

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Status tanggap darurat banjir diperpanjang untuk kali kedua oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (3/2/2021).

Hal ini diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Mujiyat, setelah pemprov mendapat instruksi dari pimpinan  Satgas Tanggap Darurat banjir.

Untuk Komandan Satgas (Dansatgas) dijabat Gubernur dan Ketua Satgas Harian dijabat Danrem.

Status tersebut diperpanjang, lanjutnya, mengingat normalisasi pasca Banjir di Kalsel belum tuntas.

Dan juga, beberapa daerah telah memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor dan Puting Beliung.

“Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah , Kabupaten Tabalong, menyusul Kabupaten Tanah Laut yang memperpanjang Status Tanggap Darurat,” ujarnya melalui zoom meeting dengan media.

Pemerintah provinsi, sambung Mujiyat, sudah membuat konsep perpanjangan Status Tanggap Darurat dan akan ditandatangani Gubernur H Sahbirin Noor.

Perpanjangan Status Tanggap Darurat, jelasnya, diprioritaskan untuk sebagian Kabupaten Barito Kuala,  Banjarmasin yang masih tergenang, juga Kabupaten Banjar di antaranya di daerah Kecamatan Sungai Tabuk, Tajau Landung hingga Teluk Selong.

Kalau di Kabupaten Tanah Laut, daerah masih tergenang di Kecamatan Bumi Makmur dan Kecamatan Kurau. Juga, di sebagian Kabupaten Hulu Sungai Tengah. “Karena, di lima daerah tersebut, masih ada yang mengungsi,” tambahnya.

Berdasarkan data BPBD Kalsel, jumlah pengungsi yang masih bertahan sebanyak 25.481 orang, dari total keseluruhan pengungsi 135.656 orang. 

Dengan perpanjangan Status Tanggap Darurat hingga tujuh hari ke depan, maka berakhirnya pada 10 Februari 2021.