2 Gempa Majene Berkaitan dan Merusak, Kenapa yang Kedua Lebih Dahsyat?

KOMPAS.com – Dua kali gempa bumi bermagnitudo diatas M 5,0 mengguncang wilayah Majene Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) telah 28 kali susulan dan menyebabkan kerusakan hingga korban jiwa.

Disampaikan oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono bahwa kedua gempa ini memiliki keterkaitan dan termasuk gempa merusak.

Sebagai informasi, wilayah Majene diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo M 5,9 pada pukul 13.35 WIB, Kamis (14/1/2021).

Episenter gempa pertama ini terjadi di koordinat 2,99 LS dan 118,89 BT, atau lokasi tepatnya berada di darat pada jarak 4 kilometer arah Barat Laut Majene, Sulawesi Barat dengan kedalaman 10 kilometer.

Daryono menyebutkan gempa pertama ini adalah gempa pendahuluan atau foreshock.

Sementara itu, gempa kedua terjadi dini hari tadi pada pukul 01.28 WIB, Jumat (15/1/2021) dengan magnitudo M 6,2.

Gempa yang saat ini dianggap sebagai gempa utama ini memiliki episenter yang tidak begitu jauh daripada gempa pertama yaitu pada koordinat 2,98 LS dan 118,94 BT, tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 kilometer arah Timur Laut Majene, Sulawesi Barat dengan kedalaman 10 kilometer.

Dijelaskan Daryono, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, baik gempa signifikan ke-1 dan ke-2 yang terjadi merupakan jenis gempa kerak dangkal atau shallow crustal eartquake.

 

KOMPAS.COM/JUNAEDI Warga Majene Mengungsi Ke Dataran Tinggi Pasca Gempa

Gempa jenis kerak dangkal ini terjadi diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif.

“Kemarin itu dipandang sebagai gempa pendahuluan atau pembuka, yang tadi itu (dini hari-gempa kedua) harapan kita adalah sudah maksimal, sudah (gempa bumi) utama,” kata Daryono dalam konferensi pers daring bertajuk Updating Informasi Gempa Signifikan yang Terjadi Beberapa Waktu Lalu, Jumat (15/1/2021).

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

KOMPAS.com – Setelah dua hari berturut-turut dilanda gempa, Majene kembali mengalami guncangan gempa bumi pada pagi ini.

Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 5,0 mengguncang wilayah Masama, tepat pada pukul 06.32 WiB, Sabtu (16/1/2021).

Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo Mw 4,8.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno MSi, mengatakan dalam keterangan tertulisnya bahwa episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,89 LS dan 119,05 BT.

Lokasi tepatnya berada di di darat pada jarak 29 kilometer arah Tenggara Kota Mamuju, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 kilometer.

Bambang mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif Majene.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault),” kata dia. 

Guncangan gempa bumi ini sendiri dirasakan di daerah Mamuju dengan skala intensitas III MMI, di mana getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa seakan ada truk yang berlalu.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut,” ujarnya.

Kendati dari hasil pemodelan BMKG tidak menunjukkan adanya potensi tsunami, ternyata berdasarkan hasil monitoring, gempa ini merupakan rangkaian gempa bumi kemarin.

Selain itu, hasil monitoring BMKG hingga pukul 07.03 WIB, Sabtu (16/1/2021) juga menunjukkan adanya 32 aktivitas gempabumi susulan atau aftershock dengan magnitudo maksimum M 4,8.

“Gempa ini merupakan rangkaian gempa bumi susulan pada tanggal 14 Januari 2021 Pukul 13.35 WIB dengan magnitude M=5,9,” jelasnya.

Oleh karena itu, masyarakat di sekitar guncangan gempa bumi diingatkan agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ucap dia.

Catatan Terbaru Pusdalops BNPB: Sebegini Jumlah Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa di Sulbar

jpnn.com, MAMUJU – Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) mencatat 43 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), hingga Jumat (15/1) malam. Dengan rincian 34 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dan delapan orang di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
“Korban meninggal dunia akibat gempa 6,2 magnitudo yang terjadi pada Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB atau 02.28 waktu setempat di Provinsi Sulawesi Barat menjadi 42 orang,” tulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangan resminya, Jumat.
 
Lebih lanjut, kata Jati, Pusdalops BNPB mencatat data kerusakan di Kabupaten Mamuju antara lain di Rumah Sakit Mitra Manakarra yang mengalami rusak berat, RSUD Kabupaten Mamuju mengalami rusak berat, dan kerusakan di Pelabuhan Mamuju, serta Jembatan Kuning yang berlokasi di Takandeang, Tapalang, Mamuju. “Sementara itu di Kabupaten Majene 300 unit rumah rusak yang masih dalam proses pendataan hingga rilis ini disiarkan,” tutur dia.
 
Namun, ujar Jati, saat ini terdapat tiga rumah sakit yang aktif untuk pelayanan kedaruratan di Kabupaten Mamuju. Antara lain RS Bhayangkara, RS Regional Provinsi Sulawesi Barat, dan RSUD Kabupaten Mamuju. Baca Juga: Korban Gempa Sulbar Bertambah jadi 42 Orang Kemudian, kata dia, sebagian wilayah di Kabupaten Mamuju sudah dapat dialiri listrik dan sebagian lainnya masih mengalami gangguan. Di sisi lain, kata dia, Kabupaten Majene masih dilakukan proses perbaikan arus listrik sehingga seluruh wilayah masih dalam keadaan padam.

 

BMKG Ingatkan Potensi Gempa Susulan Lebih Besar dan Tsunami di Sulbar

Merdeka.com – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengingatkan potensi gempa susulan yang memicu tsunami di Sulawesi Barat. Diprediksi ada potensi gempa susulan yang lebih besar yang terjadi di Mamuju dini hari tadi.

“Perlu kami sampaikan pula bahwa pertama adalah masih ada potensi gempa susulan berikutnya yang masih kuat bisa mencapai kekuatan seperti yang sudah terjadi 6,2 atau sedikit lebih tinggi,” katanya dalam konferensi pers daring, Jumat (15/1).

Dia mengingatkan, potensi terjadinya tsunami. Karena kondisi batuan sudah diguncang akibat gempa sebanyak 28 kali, serta pusat gempa di pantai. Memungkinkan terjadinya longsor bawah laut yang menjadi penyebab tsunami.

“Itu karena kondisi batuan digoncang 28 kali sudah rapuh dan pusat gempa di pantai memungkinkan terjadinya longsor ke dalam laut atau longsor bawah laut masih atau dapat pula berpotensi tsunami jika pusat gempa masih di pantai atau laut,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat di daerah yang terdampak untuk menjauhi bangunan atau gedung yang rentan. Serta masyarakat diminta menjauhi daerah pantai. Tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami karena bisa terjadi dalam waktu cepat.

“Kami mengimbau warga masyarakat di daerah terdampak tidak hanya menjauhi bangunan yang rentan atau gedung-gedung tapi juga apabila kebetulan masyarakat ada di pantai dan merasakan guncangan gempa segera menjauhi pantai. Tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami. Karena bisa sangat cepat,” tegasnya. [fik]

Waspadai Penyakit Pascabanjir, Dinkes Banjarbaru Sediakan Fasilitas Kesehatan untuk Korban Banjir

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza mengimbau kepada warga Banjarbaru yang menjadi korban banjir untuk memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan di posko-posko Banjir yang sudah ditetapkan diwilayah masing masing.

Sebab kata dia, biasanya banjir ini penyakit yang banyak menyerang warga adalah gatal-gatal, diare dan lainnya.

“Biasanya paling sering gatal-gatal karena terlalu lama terendam air kotor,” kata dia.

Selain itu Rizana juga meminta masyarakat terdampak banjir mengantisipasi penyakit lainnya seperti salah satunya leptospirosis.

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans pada tikus.

Penyakit ini ditularkan melalui kencing dan kotoran tikus yang larut dalam genangan air, banjir, atau lumpur.

Gejala yang ditimbulkan bermacam-macam, seperti menggigil, batuk, diare, sakit kepala tiba-tiba, demam tinggi, nyeri otot, hilang nafsu makan, mata merah, dan nyeri otot.

“Penyakit kotoran tikus ini juga kadang menyerang warga di saat banjir,” sebut dia.

Oleh sebab itu Rizana juga menghimbau kepada sejumlah puskesmas untuk selalu siaga baik pelayanan maupun obat-obatan bagi warga.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan BNPB dan Dinsos Banjarbaru untuk membuka posko dengan menempatkan tenaga kesehatan.

“Saya juga meminta petugas rajin mengunjungi para pengungsi memeriksa kondisi mereka. Ingat semua gratis di Banjarbaru ini, ke puskesmas saja gratis apalagi dalam kondisi saat ini,” pungkas dia.

Artikel ini telah tayang di dengan judul Waspadai Penyakit Pascabanjir, Dinkes Banjarbaru Sediakan Fasilitas Kesehatan untuk Korban Banjir, https://banjarmasin.tribunnews.com/2021/01/15/waspadai-penyakit-pascabanjir-dinkes-banjarbaru-sediakan-fasilitas-kesehatan-untuk-korban-banjir.
Penulis: Khairil Rahim
Editor: Eka Dinayanti

Status Merapi Terkini 15 Januari 2021

tirto.id – Guguran lava pijar Gunung Merapi teramati satu kali dengan jarak luncur 400 meter ke arah hulu Kali Krasak pada periode pengamatan Jumat (15/1/2021) pukul 00.00-06.00 WIB.

Pada periode pengamatan yang sama, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) juga menginformasikan terjadinya 25 kali gempa guguran.

Sebelumnya, menurut BPPTKG, pada periode pengamatan Kamis (14/1/2021) pukul 18.00 hingga 24:00 WIB terjadi guguran lava pijar 17 kali dengan intensitas kecil hingga sedang dan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah hulu Kali Krasak.

Info Gunung Merapi Terkini

Periode pengamatan

15-01-2021 00:00-06:00 WIB

Lokasi Gunung Merapi

Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

Meteorologi

Cuaca berawan dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara 13-22 °C, kelembaban udara 66-95 %, dan tekanan udara 567-687 mmHg.

Visual

● Gunung kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
● Guguran lava pijar 1 kali jarak luncur 400 meter arah hulu Kali Krasak.

Kegempaan

■ Guguran
(Jumlah : 25, Amplitudo : 4-12 mm, Durasi : 16-68 detik)
■ Hybrid/Fase Banyak
(Jumlah : 2, Amplitudo : 7-8 mm, S-P : 0.4-0.5 detik, Durasi : 8-9 detik)
■ Tektonik Jauh
(Jumlah : 1, Amplitudo : 9 mm, S-P : tidak terbaca, Durasi : 238 detik)

Kesimpulan

Tingkat Aktivitas Gunung Merapi Level III (Siaga)

Rekomendasi BPPTKG

1.) Prakiraan daerah bahaya meliputi:
A. Provinsi DIY
a. Kabupaten Sleman. Kecamatan Cangkringan: Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor); Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem); Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).

B. Provinsi Jawa Tengah
a. Kabupaten Magelang. Kecamatan Dukun: Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2)
b. Kabupaten Boyolali. Kecamatan Selo: Desa Tlogolele (Dusun Stabelan, Takeran, Belang); Desa Klakah (Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur); Desa Jrakah (Dusun Jarak, Sepi)
c. Kabupaten Klaten. Kecamatan Kemalang: Desa Tegal Mulyo (Dusun Pajekan, Canguk, Sumur); Desa Sidorejo (Dusun Petung, Kembangan, Deles); Desa Balerante (Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang)

2.) Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.

3.) Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

4.) Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

5.) Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

BPPTKG: Dalam 12 Jam Terakhir, Gunung Merapi Tercatat Keluarkan 18 Kali Lava Pijar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gunung Merapi kembali mengeluarkan lava pijar dengan intensitas cukup tinggi pada Kamis (14/1/2021) malam. 

Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Kamis (14/1/2021) pukul 18.00-24.00 WIB, teramati guguran lava pijar sebanyak 17 kali dengan intensitas kecil hingga sedang dan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah hulu Kali Krasak.

“Guguran beberapa kali terjadi pada malam ini. Jarak luncur bervariasi, namun secara umum masih kurang dari 1 km,” ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, saat dihubungi, Kamis (14/1/2021) malam.

Pada periode tersebut, dilaporkan gunung jelas terlihat, kabut 0-I, hingga kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati.

Selanjutnya, guguran lava pijar kembali terjadi sebanyak 1 kali pada Jumat (15/1/2021) antara pukul 00.00-06.00 WIB.

Pada periode ini, secara visual gunung kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

“Guguran lava pijar 1 kali jarak luncur 400 meter arah hulu Kali Krasak,” ungkap Hanik menjelaskan lava pijar pada periode tersebut.

Secara meteorologi, cuaca berawan dan mendung.

Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Suhu udara 13-22 °C, kelembaban udara 66-95 persen, dan tekanan udara 567-687 mmHg.

Adapun kegempaan yang terjadi di antaranya 25 kali gempa guguran, 2 kali gempa hybrid/fase banyak, dan 1 kali gempa tektonik jauh. (uti)

Banjir Hulu Sungai Tengah semakin parah

Barabai (ANTARA) – Banjir yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sejak Kamis (14/1) pukul 02.00 dini hari semakin parah akibat hujan yang terus menerus turun, kalaupun reda hanya sebentar, kemudian hujan lagi hingga pukul 21.00 Wita malam masih berlanjut.

Banjir terparah dalam sejarah Kabupaten HST ini makin dipersulit dengan aliran listrik yang padam di seluruh wilayah Barabai dan sekitarnya.

Air PDAM juga macet dan sinyal internet down atau tidak bisa diakses, sehingga membuat masyarakat kesulitan untuk berkomunikasi dan meminta bantuan.

“Dari pukul delapan tadi listrik sudah mati, leding tidak jalan dan internet tidak bisa digunakan,” kata Jamal, warga Barabai.

Beberapa wilayah yang parah terkena banjir adalah Desa Alat, Hantakan, Aluan, Barabai Darat dan Barabai Timur termasuk areal perkotaan dan berada di pinggiran sungai Barabai.

Fasiltas pemerintah yang biasanya aman dari banjir, tahun ini juga turut terendam yaitu kantor Bupati HST, kantor DPRD, rumah jabatan bupati dan wakil bupati, rumah jabatan Ketua DPRD, rumah Sekda dan fasilitas pemerintah lainnya.

Selain itu banjir juga merendam Mapolres HST, pasar Murakata Barabai, Pasar Keramat, Pujasera, Pasar Garuda serta Lapangan Pelajar dan Dwi Warna berubah bak lautan yang kedalamannya mencacapai 1,5 meter hingga 2 meter.

Banjir terparah, juga terjadi di Kecamatan Pandawan yaitu Desa Pajukungan, Palajau dan Mahang. Bahkan di Desa Jaranih dan Masiraan, ketinggian air sudah lebih 2 meter sampai atap rumah warga.

Di Kecamatan LAU juga tak luput terkena luapan air sungai seperti Walangku, Kasarangan Samhurang hingga desa Tabat dan beberapa desa di Kecamatan Haruyan.

Saat ini, para pengungsi di alihkan ke daerah-daerah tertinggi dan masjid. Namun masih kekurangan logistik dan perlu bantuan.

Pemkab HST juga telah mendirikan dapur umum di halaman Gedung Juang Barabai.

Sampai malam ini kegiatan evakuasi warga pun masih dilakukan oleh tim relawan dan TNI POLRI. Bahkan bantuan relawan penyelamatan dari beberapa Kabupaten tetangga juga berdatangan.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada laporan warga terkait korban banjir.

Banjir yang cukup parah ini, menyebabkan banyak kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor, tidak sempat diselamatkan pemiliknya dan dibiarkan terendam banjir di jalanan.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Sosial Pemprov Kalsel, sebanyak 71.339 orang atau 19.502 kepala keluarga yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan, terdampak banjir besar yang terjadi sejak Senin (11/1) 2021.

Berdasarkan data harian data bencana Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Kamis, banjir merendam 26 kecamatan di tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan.

Tujuh kabupaten dan kota yang terendam banjir yaitu, Kabupaten Tapin, satu kecamatan yaitu Kecamatan Binuang, kemudian Kota Banjarbaru, tiga kecamatan, Kabupaten Tanah Laut, delapan kecamatan dan Kabupaten Banjar, enam kecamatan.

Selanjutnya, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tiga kecamatan, Hulu Sungai Selatan, tiga kecamatan dan Kabupaten Balangan satu kecamatan.

Membantu para korban banjir, dinas sosial masing-masing daerah, telah mendirikan posko penanganan banjir dan dapur umum.

sumber: https://kalsel.antaranews.com/berita/227632/banjir-hst-semakin-parah-listrik-padam-dan-pdam-macet

Berita Banjir di Kalsel: Air Capai 2 Meter, Warga Butuh Pertolongan

tirto.id – Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan mengalami banjir yang cukup parah. Bahkan, pada Kamis, 14 Januari 2021 ini, debit air cukup tinggi dan mencapai 2 meter.

Akibatnya, seperti diwartakan Antara, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai masih terjebak banjir dan membutuhkan pertolongan.

Sejak Rabu, 13 Januari, curah hujan cukup tinggi sehingga menyebabkan sungai meluap dan air cepat naik, bahkan sampai menggenangi wilayah kota.

“Pada Rabu sekitar pukul 23:00 Wita sudah ada info bahwa di Desa Alat dan wilayah Kecamatan Hantakan bahwa air sungai mulai meluap,” kata Warga Barabai, Rizky.

Oleh karena itu, jajaran TNI-POLRI melakuan patroli guna mengimbau masyarakat Kota Barabai untuk siaga dan waspada terhadap banjir. Para relawan dan TNI POLRI pun kewalahan mengavakuasi warga.

Menurut Rizky, hujan kala itu tidak berhenti sehingga air sungai cepat meluap, bahkan sekitar pukul 02.00 wita dini hari, banjir sudah mulai masuk ke kota Barabai.

“Karena tidak menduga separah ini, banyak warga yang masih terjebak banjir dan menyelematkan diri naik ke tas atap rumah,” kata dia.

Ia mengatakan, di wilayah dekat aliran sungai Barabai, ketinggian air bahkan lebih dari dua meter.

Dampak Banjir di Kalsel: Jalur Trans Kalimantan Terputus

Selain itu, banjir di Kalsel juga telah menyebabkan terputusnya jalur Trans Kalimantan karena sisi jembatan Astambul-Mataraman runtuh diterjang banjir pada Kamis, 14 Januari.

Akan tetapi, Pemerintah Kabupaten Tapin sudah berkoordinasi dengan pihak perusahaan tambang batu bara agar membuka jalur alternatif untuk menghubungkan hilir mudik kendaraan dari Hulu Sungai – Banjarmasin.

Terkait dengan hal itu, Kasat Lantas Polres Tapin, Iptu Guntur Setyo Pambudi, mengatakan, ada banyak lubang di jalur alternatif lintas tambang batu bara karena sedang ada perbaikan.

“Jalur alternatif, sedang dilakukan perbaikan. Saat ini masih berlangsung koordinasi pengalihan arus lalu lintas,” kata Guntur kepada Antara.

Ia menjelaskan, saat ini kondisi di jalur trans Kalimantan di titik Marabahan – Margasari masih memperihatinkan karena ada sekitar 5 km yang belum diaspal sehingga ada banyak mobil yang amblas dan masih terperangkap.

Kondisi jalur trans Kalimantan di titik Marabahan – Margasari di Kabupaten Tapin yang belum diaspal sekitar 5 km memperihatinkan, banyak mobil yang amblas dan terperangkap.

Polsek, Kantor Camat dan Batalion TNI Terendam Banjir

Banjir di Kalsel juga berdampak pada terendamnya sarana penting pelayanan publik, termasuk Polsek, Kantor Camat dan Puskesmas di di Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, bahkan tinggi airnya mencapai 1,5 meter.

“Menurut keterangan Pak Camat Mataraman, kondisi banjir sekarang paling parah sejak tahun 2006,” kata Kapolres Banjar AKBP Andri Koko Prabowo seperti diwartakan Antara.

Selain itu, total ada sembilan desa yang ikut terdampak banjir, jumlahnya mencapai kurang lebih 3.000 Kepala Keluarga.

Koko mengatakan, polisi bersama SAR gabungan sudah mengevakuasi warga yang rumahnya diterjang banjir. Akan tetapi, sebagian warga masih belum mau mengungsi karena menduga banjir akan segera surut.

“Sudah kami sampaikan bahwa curah hujan masih tinggi dan belum ada tanda-tanda air akan surut dalam waktu dekat,” bebernya.

Walau demikian, Koko memastikan posko pengungsian dan tenda-tenda darurat sudah disiapkan. Selain itu, Polres Banjar dibantu oleh Polda serta Brimob bersama TNI, BPBD, Dinas Sosial dan relawan juga sudah mendirikan dapur umum untuk penyediaan makanan.

“Nasi bungkus setiap harinya juga kami bagikan dari rumah ke rumah untuk warga yang masih bertahan,” jelasnya.

Sejak Selasa kemarin, banjir juga mulai menyebar di Kecamatan Pengaron. Total, kata Koko, ada sekitar 1.500 Kepala Keluarga yang terdampak banjir tersebut. Namun, kini sudah berdiri dapur umum serta tenda darurat di samping Polsek Pengaron, Polres Banjar jajaran Polda Kalimantan Selatan.

“Kami terus monitor ketinggian air, dimana banjir tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Banjar dengan ketinggian air bervariasi,” ungkap Koko.

Selain itu, banjir juga ikut menyebar ke komplek Batalion TNI-AD Barabai, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Seperti dilaporkan Antara, banjir sudah masuk kesatriaan Batalion Infanteri di Barabai Darat tersebut.

Namun banjir yang masuk komplek Batalion TNI-AD di Desa Batali – Barabai tersebut belum setinggi lutut, tetapi warganya sudah waspada dan siap siaga kalau terjadi hal-hal terburuk dari dalam bencana itu.