Pesan Menlu Cina ke Israel: Cegah Bencana Kemanusiaan yang Lebih Serius

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Menteri luar negeri Cina, Wang Yi, telah mengatakan kepada rekannya dari Israel bahwa semua negara mempunyai hak untuk membela diri. Pernyataan tersebut disampaikan Wang saat melakukan panggilan telepon pertama antara diplomat tinggi dari kedua negara sejak konflik Israel-Hamas berkobar bulan ini.

“Semua negara mempunyai hak untuk membela diri,” kata Wang Yi kepada Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen, Selasa (24/10/2023).

Namun Wang juga menekankan bahwa Israel harus mematuhi hukum kemanusiaan internasional dan melindungi keselamatan warga sipil. Wang berjanji Cina akan melakukan yang terbaik untuk mendukung upaya yang kondusif terhadap perdamaian.

Hamas menyerbu masuk ke Israel dari Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober. Cina menahan diri untuk tidak secara eksplisit mengutuk Hamas atas serangan tersebut.

Washington mengatakan pihaknya berharap persahabatan Cina dengan pendukung Hamas, Iran, dapat membantu meredakan konflik, terutama setelah Beijing menjadi perantara antara Teheran dan musuh lamanya, Arab Saudi, tahun ini.

“Tugas paling mendesak saat ini adalah mencegah situasi semakin memburuk dan mengarah pada bencana kemanusiaan yang lebih serius,” kata Menteri Luar Negeri Wang kepada Cohen.

Ia juga menegaskan kembali posisi Beijing bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya hasil yang layak dalam konflik ini.

“Cina dengan tulus berharap bahwa masalah Palestina akan diselesaikan secara komprehensif dan adil berdasarkan ‘solusi dua negara’, dan sebagai hasilnya, masalah keamanan yang sah dari semua pihak akan diselesaikan dengan cara yang tulus dan menyeluruh,” tutur Wang.

Gaza Memburuk, Bencana Kemanusiaan dan Pembantaian Massal di Depan Mata

Hingga Selasa 17 Oktober 2023, agresi Israel ke Gaza, Palestina, membuat situasi Gaza semakin memburuk dan berada dalam bencana kemanusiaan dan pembantaian massal. Hal tersebut disampaikan Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban Ahed melalui siaran persnya di Jakarta yang dikutip Rabu 18 Oktober 2023.

“Pendudukan Israel telah memutuskan pasokan air, listrik, dan bahan bakar, serta melarang masuknya bahan pokok makanan ke wilayah Gaza. Sebagai akibatnya, Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan yang besar dan menghadapi pembantaian massal,” kata Ahed.

Dalam sehari, terang Ahed, Israel menjatuhkan lebih dari 1.200 ton amunisi bom yang terlarang secara internasional. Serangan itu mengakibatkan penghancuran yang luar biasa. Baca Juga PBB Sahkan Resolusi Gencatan Senjata Kemanusiaan di Gaza Ribuan unit rumah telah hancur total atau rusak parah, menyebabkan 445.000 warga sipil mengungsi, sementara Tim SAR kesulitan dalam upaya penyelamatan.

Pendudukan Israel, ungkap Ahed, melakukan serangan brutal dan menyasar warga sipil, paramedis, fasilitas kesehatan dan lembaga pendidikan. Ahed menambahkan, hingga saat ini, serangan Israel telah menyasar 144 lembaga pendidikan, termasuk universitas, sekolah, dan taman kanak-kanak. Sementara itu, jumlah korban jiwa meningkat setiap saat di Gaza, bahkan dalam setiap 5 menit satu orang warga Palestina di Gaza terbunuh oleh serangan Israel. Menurut kantor Informasi Pemerintahan Gaza menyebutkan 64% korban tewas adalah anak-anak dan wanita.

“Senin kemarin, korban serangan Israel telah bertambah menjadi 2.778 orang dan 9.938 lainnya luka-luka. Selain itu juga telah memusnahkan total 371 keluarga dengan seluruh anggota keluarganya,” kata Ahed. Sehingga jumlah korban terbunuh dan meninggal sejak awal agresi Israel hingga Senin (16/10) telah mencapai lebih 3.200 orang, sepertiganya sebanyak 950 orang adalah anak-anak dan sepertiga lainnya lebih 900 orang adalah wanita dan lansia. “Jumlah ini belum termasuk korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing sejak hari pertama agresi di Gaza,” demikian Ahed.

sumber: https://www.ajnn.net/.

Pemerintah Siapkan Bantuan Kemanusiaan Penanganan Bencana Banjir ke Libya

JAKARTA – Bencana banjir yang melanda beberapa wilayah yang berada di negara Libya pada beberapa waktu lalu, berdampak pada 884.000 orang, 6.000 jiwa meninggal dunia dan 10.000 orang masih dalam pencarian. Pemerintah Indonesia bergerak untuk melakukan dukungan percepatan penanganan.

Dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Rencana Bantuan Kemanusiaan Pemerintah Indonesia ke Libya di Kemenko PMK, Jakarta pada Jumat (22/9) diputuskan bahwa pemerintah Indonesia akan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Hal itu diungkap Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat memimpin rapat.

“Sesuai dengan permintaan dari pemerintah Libya, Indonesia akan memberikan bantuan. Mengingat hubungan diplomatis antar dua negara ini sejak tahun 1991 dan juga kita memiliki hubungan sangat dekat dengan pemerintah Libya dan masyarakat Libya,” ucap Muhadjir.

“Pemerintah Indonesia akan memberikan bantuan berupa bantuan logistik dan jasa yang masih dicocokan dengan kebutuhan di lapangan, menunggu kabar dari KBRI Tripoli. Sehingga yang kita kirim akan betul-betul yang dibutuhkan di sana,” lanjutnya.

Pengiriman bantuan kemanusiaan ini akan dipimpin oleh Kepala BNPB.

“Koordinasi penanganan ini akan di lakukan oleh kepala BNPB, pengiriman bantuan diperkirakan dilaksanakan 27 September 2023,” tutup Muhadjir.

Pada kesempatan yang sama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto yang turut hadir dalam rapat, saat ini proses koordinasi dengan berbagai pihak masih terus dilakukan.

“Masih berkoordinasi terus dengan pemerintah Libya kira-kira barang yang diperlukan seperti apa, kit asiapkan 45 ton dengan 16 jenis barang. Belum termasuk dengan bantuan yang dikumpulkan oelh Lembaga lain,” ujar Suharyanto

“Barang-barang yang sangat dibutuhkan ketika bencana banjir seperti tenda, selimut, matras, velbed, pakaian anak, pakaian dewasa, pakaian lansia, pakaian Wanita, alat pembersih, makanan siap saji, kemudian genset. Untuk yang meninggal disiapkan kantong mayat dan kain kafan,” imbuhnya.

Suharyanto mengungkapkan, sebelumnya pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa kali pengiriman dukungan kemanusiaan ke negara sahabat selain logistik juga tim Search and Rescue (SAR) dan Emergency Medical Team (EMT).

“Indonesia sudah punya pengalaman memberikan bantuan ke Pakistan, Turkiye dan Surya. Tim SAR dan EMT sudah ada dan sudah pernah bertugas ke luar negeri,” pungkasnya.

Abdul Muhari, Ph.D.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Masuk Musim Pancaroba, BPBD Jabar Siapkan Mitigasi Bencana Alam

BANDUNG, KOMPAS.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat tengah mempersiapkan pelbagai cara untuk menghadapi bencana alam akibat musim pancaroba.

Hal ini diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Dani Ramdan yang ditemui usai Apel Kesiapsiagaan Bencana di Dom Balerame, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/11/2023).

Mitigasi kebencanaan, kata Dani Ramdan, masih menjadi formula untuk mengurangi dampak dari bencana alam.

Saat ini, BPBD Jabar telah mewadahi relawan yang tergabung dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk menyosialisasikan mitigasi kebencanaan.

“Misalnya di lingkungan rumah masing-masing, membersihkan saluran-saluran air sampai kali di sungai, sosialisasi itu kita sampaikan menggunakan relawan atau langsung dari BPBD,” kata Dani Ramdan.

Pengurangan potensi bencana di sektor sungai, BPBD Jabar bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

Kerjasama dengan BBWS, kata dia, mulai dari susur sungai, hingga mendeteksi potensi banjir bandang serta pohon tumbang.

“Kita kerjasama dengan BBWS melakukan susur sungai. Terutama yang punya potensi banjir bandang.”

“Jadi daerah hulu, supaya tidak ada pohon yang tumbang, batu atau material lain yang biasanya pada saat musim hujan menjadi pemicu adanya banjir bandang,” kata dia.

Dani Ramdan lantas menyebut beberapa wilayah di Jabar yang berpotensi mengalami bencana banjir, yakni di wilayah Pantura, Bekasi, Subang, Karawang, hingga Indramayu.

“Kalau longsor di selatan, mulai dari Sukabumi, Cianjur, Garut Selatan. Kalau Pangandaran, Ciamis banjir,” imbuh Dani Ramdan.

Dani Ramdan menyebut, musim pancaroba juga berpotensi terjadi angin kencang.

Meski, soal potensi angin kencang tidak ada dalam mitigasi kebencanaan, namun tetap disiapkan antisipasi.

“Karena angin kencang itu, mitigasinya harus memperbanyak penanaman pohon besar. Itu bisa mengurangi sirkulasi angin.”

“Nanti yang harus kita siapkan reaksi cepat. Reaksi cepat itu, misalnya pohon tumbang menghalangi jalan, minimal atau kalau sudah menimpa korban ada upaya penyelamatan,” ungkap Dani Ramdan.

Selain menghimbau soal reaksi cepat, Dani Ramdan menyebut mitigasi bencana angin kencang itu harus memperkuat bangunan, terutama atap.

“Biasanya transisi dari kemarau ke hujan, ada cuaca ekstrem, angin puting beliung,” kata dia.

Reportase Kegiatan In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates

hdp wates 1

Reportase Kegiatan

In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama

7 November 2023

Kelompok Kerja Bencana FK-KMK UGM bersama AHS UGM melakukan pelatihan pembentukan Emergency Medical Team (EMT) di RSUD Wates. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian “Pelatihan Potensi Pembentukan Emergency Medical Team (EMT) AHS UGM untuk Mendukung Kebijakan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK)” sebagai implementasi Hibah AHS UGM. Kegiatan berlangsung selama dua hari pada Selasa – Rabu, 7 – 8 November 2023. Hari pertama berlangsung dari pukul 09.00 – 15.00 WIB di Ruang Komite Medis RSUD Wates.

hdp wates 1

Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Direktur RSUD Wates, dr. Eko Budiarto, Sp.An., M.Kes. Eko menyampaikan syukur dan terima kasih atas kehormatan menjadi tuan rumah in house training yang pertama dalam pembentukan EMT diantara rumah sakit jejaring AHS UGM lainnya. Acara ini, nantinya akan menjadi salah satu roadmap peresmian Tim Disaster RSUD Wates. Eko berharap setelah pelatihan, tim akan menjadi lebih matang dan siap jika nantinya akan diterjunkan bersama AHS UGM.

Sambutan dilanjutkan oleh dr. Datu Respatika, Sp.M., Ph.D yang mewakili jajaran pengurus AHS UGM. Datu menghaturkan terima kasih atas kesediaan RSUD Wates sebagai pioneer pelatihan pembentukan EMT yang menjadi implementasi dukungan AHS UGM terhadap kebijakan TCK yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI pertengahan bulan melalui UU Kesehatan.

Seusai sambutan, peserta pelatihan diajak untuk melakukan pemanasan sebelum sesi materi melalui survey dan pre-test yang telah disiapkan oleh panitia. Fungsi dari kuis ini untuk menguji pemahaman awal para peserta dan kesiapan untuk penerjunan tim dalam masa tanggap darurat. Kemudian, acara diteruskan dengan penyampaian materi oleh dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD mengenai “Flashback Penerjunan Tim AHS UGM” dan “Perencanaan Operasional Harian EMT”. Dalam materi pertama, Agung menyampaikan bagaimana rumah sakit-rumah sakit jejaring AHS UGM mampu berkolaborasi dan gotong royong dalam mengirimkan tim ke lokasi bencana. Agung kemudian memaparkan tentang pentingnya perencanaan dalam operasi EMT. Tahapan perencanaan dimulai dengan preparasi, aplikasi, rencana keluar, dan pembelajaran dari misi. Proses preparasi menjadi kunci dari penerjunan tim, karena harus dilakukan dari asesmen yang baik, memahami dan mengetahui kekuatan institusi, persiapan logistik, administratif, koordinasi di lokasi, serta mengetahui kondisi tim. Saat aplikasi di lapangan, penting untuk membuat jadwal operasi harian secara rinci, agar kemudian dapat memperkirakan rencana penarikan tim dan pembelajaran saat sesi refleksi selesai dari misi.

hdp wates 2

Materi berikutnya, disampaikan oleh Sutono, S.Kep., M.Sc., M.Kep. mengenai Persiapan Pengiriman EMT. Sutono menyampaikan konsep EMT dan jenis-jenisnya sesuai standar WHO serta bagaimana dapat mencapai standarisasi tersebut. Dalam materinya, banyak dibagikan pengalaman penerjunan tim agar dapat memotivasi para peserta untuk mau diterjunkan ketika nanti ada bencana bersama EMT AHS UGM.

hdp wates 3

Pada sesi siang, Sutono kembali hadir dengan materi mengenai “Safety and Security” dan “Survival in Disaster”. Bencana bukan kondisi ideal, yang sewaktu-waktu dapat memunculkan stres baik fisiologis dan psikologis para relawan saat di medan. Kunci untuk dapat bertahan hidup sebagai relawan di medan bencana, adalah dengan mengedepankan safety (untuk mencegah kejadian yang tidak disengaja) dan security (mencegah kejadian yang disengaja). Sikap yang harus dilakukan selama di lapangan adalah; bertanggung jawab, mematuhi peraturan, waspada, bertindak dengan tepat, dan komunikasi.

hdp wates 4

Materi terakhir pada pertemuan hari pertama pelatihan disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD mengenai Konsep EMT-AHS. Dalam penjelasannya, Hendro mengajarkan singkatan agar menjadi EMT yang paripurna, yakni “METHANE”. M adalah major incident (sebelum diterjunkan, tim harus memastikan kejadian betul terjadi atau tidak). E singkatan dari exact location (memastikan lokasi kejadian, area yang paling terdampak, dan area yang masih terisolir atau yang belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan). T yakni type of injury (untuk memastikan logistik yang dibawa oleh tim). H yang berarti hazard existing and predicting. A adalah access. N singkatan dari number of injury. Dan terakhir E yaitu EMT existing + need.

Kegiatan hari pertama ditutup tepat waktu dan harapannya peserta dapat memahami dan termotivasi menjadi EMT yang paripurna dan siap diberangkatkan kapan saja terdapat bencana melanda bersama AHS UGM.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

{tab title=”Hari 2″ class=”blue”}

Pada Rabu, 8 November 2023 telah terlaksana Pelatihan Hari Kedua In House Training Pembentukan EMT RSUD Wates di Ruang Komite Medis RSUD Wates pukul 09.00 – 15.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah 30 peserta dari staf rumah sakit yang fokus pada penanggulangan bencana.

hdp wates h2 1

Berbeda dengan hari pertama, hari kedua lebih banyak membahas tentang penerapan teknis EMT di lapangan. Materi pertama, dibuka oleh dr. Bella Donna, M.Kes mengenai Aktivitas HEOC/ Pos Klaster Kesehatan dan kaitannya dengan EMT. Sebagai tim yang diterjunkan ke lapangan, harus memahami dimana harus bernaung dan melapor selama penugasan. Tim harus memahami siapa yang mengatur dan mengontrol kinerja di lapangan, agar gerak semua pihak dapat terkoordinir dengan baik dan mampu mencapai tujuan bersama, yakni kesejahteraan penyintas.

Selain materi tersebut, Bella juga mengenalkan formulir-formulir yang digunakan oleh EMT untuk fungsi pendataan dan pelaporan, serta sistem MDS yang digunakan secara universal untuk merekap data pasien menggantikan sistem rekam medis yang konvensional, khusus di medan bencana.

Kegiatan kemudian diteruskan dengan materi oleh dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B mengenai “Persiapan Kepulangan EMT dan Manajemen Pos Penugasan”. EMT seringkali melakukan kesalahan ketika penugasan hingga kepulangan, diantaranya; kurang latihan, komunikasi yang lemah, kebingungan peran, kurang fleksibel, mismanajemen sumber daya, dan kurang baiknya sistem dokumentasi. Maka, EMT memiliki kewajiban untuk; melakukan pelayanan yang aman, adil, dan etis, respon yang bertanggungjawab, sesuai, dan terkoordinasi.

Selepas istirahat siang, sesi latihan diisi oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid yang menuturkan topik “Rapid Health Assessment oleh EMT dan HNA”. Meski idealnya dalam melakukan RHA membutuhkan SK dari pemerintah setempat terlebih dahulu, namun faskes di sekitar area terdampak dapat mendahului melakukan penilaian awal dan dapat menjadi dasar untuk segera mengaktivasi HEOC oleh pemangku kebijakan terkait. EMT harus dapat membedakan jenis bencana yang terjadi secara tiba-tiba atau bencana yang terjadi secara perlahan namun lama. Pedoman-pedoman yang dapat digunakan EMT sudah ditranslasi dan disesuaikan dengan kultur bangsa Indonesia dan dapat diakses secara bebas melalui laman Kemenkes RI.

Terakhir, Gde menyampaikan materi “Persiapan Logistik Personal, Tim, dan Operasional”. Dalam materi ini, EMT harus mengidentifikasi kemampuannya dan komposisinya. EMT juga harus mengidentifikasi terlebih dahulu jenis bencana dan hasil penilaian awal untuk menentukan durasi penerjunan tim yang akan sangat berpengaruh terhadap penyusunan logistik selama penugasan. Gde juga mengingatkan bahwa EMT harus melapor kepada HEOC setempat agar dalam penugasannya dapat termonitor sampai pada urusan logistik yang dibawa oleh tim.

hdp wates h2 2

Sesi pelatihan juga diikuti dengan simulasi berupa tabletop exercise oleh tim bencana RSUD Wates. Simulasi menggunakan kasus yang merupakan risiko tertinggi di daerah Wates, yakni banjir yang mungkin terjadi akibat jebolnya tanggul Waduk Sermo. Dinamika simulasi berjalan dengan baik dan tim besar berharap nantinya tim bencana RSUD Wates dapat berpartisipasi secara aktif dalam penerjunan tim di medan bencana bersama AHS UGM.

Reportase: dr. Alif Indiralarasati (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM)

{/tabs}

BIMBINGAN TEKNIS: Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit

pembicara

{tab Kerangka Acuan Kegiatan}

LATAR BELAKANG

PKMK PKMK FK-KMK UGM bersama dengan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan WHO sudah concern mengembangkan dan melakukan pelatihan penyusunan HDP sejak 2008. Pada 2010, PKMK FK-KMK secara mandiri mengadvokasikan dan menyelenggarakan pelatihan penyusunan HDP secara rutin. Selama pandemi COVID-19 pelatihan HDP dilakukan melalui online dan sekarang PKMK hadir kembali menyelenggarakan bimtek penyusunan HDP secara luring dengan tujuan agar semakin banyak rumah sakit terpapar dalam penyusunan HDP. Kami berharap melalui bimtek ini rumah sakit yang baru menyusun HDP dan rumah sakit yang sedang merevisi HDP dapat bergabung dengan PKMK FK-KMK UGM untuk bersama-sama menyusun HDP yang operasional.

TUJUAN

  1. Peserta memahami penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit (HDP) harus  menyesuaikan dengan karakteristik di tiap rumah sakit.
  2. Peserta mampu memahami komponen-komponen dokumen HDP berdasarkan template yang  ada

OUTPUT KEGIATAN

  1. Peserta memahami dan mampu menyusun dokumen hospital disaster plan.
  2. Rumah Sakit memiliki draft dokumen HDP

WAKTU PELAKSANAAN 

Hari/Tanggal  : Selasa-Kamis / 12-14 Desember 2023
Pukul            : 08.00 – 16.00 WIB
Tempat         : Yogyakarta

 

NARASUMBER

pembicara

MATERI

  1. Konsep Manajemen Kesehatan dan Hospital Disaster Plan
  2. Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP
  3. Analisis Risiko HVA dan HSI dalam HDP
  4. Sistem Komando dan Pengorganisasian
  5. Penentuan Tupoksi dan Kartu Tugas Tim HDP
  6. 6.SOP dalam Hospital Disaster Plan
  7. Penentuan Fasilitas untuk situasi Bencana
  8. Persiapan logistik, manajemen relawan dan alur pelaporan saat bencana.
  9. Kunjungan ke RS Akademik UGM

 

BIAYA KEPESERTAAN

Biaya kepesertaan Pelatihan dan Pendampingan sebesar: Rp. 4.000.000/orang.

Biaya sudah termasuk:

  • Paket meeting full day
  • Transportasi bus dan konsumsi pada saat sesi kunjungan ke Rumah Sakit
  • Sertifikat dari institusi terakreditasi
  • Akses download materi HDP
  • Souvenir/Seminar kit

Biaya tidak termasuk:

  • Penginapan peserta

PENDAFTARAN :

https://s.id/bimtekHDP2023


Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia:

No Rekening   : 9888807171130003
Nama Pemilik  : Online Course/ Blended Learning FK UGM 
Nama Bank  : BNI
 Alamat  : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281

Bukti transfer pembayaran tersebut di kirim melalui Whatsapp Messenger ke Nomor 081326116064 (Hagung Putra)

 

{tab Materi}

 

Topik

Unduh

Konsep Hospital Disaster Plan  dalam Safe Hospital dan Akreditasi Rumah Sakit

Unduh Materi

Analisis Risiko dan HSI

Unduh Materi

Persiapan logistik, manajemen relawan dan alur pelaporan saat bencana.

Unduh Materi

Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP di RS

Unduh Materi

Penentuan Fasilitas untuk situasi Bencana

Unduh Materi

Sistem Pengorganisasian Dengan Pendekatan ICS

Unduh Materi

Template HDP

Unduh Materi

Praktek Pengisian HSI bahasa Indonesia Unduh Materi
Tools HVA  Unduh Materi
Penjabaran Modul 4 HSI untuk evaluator- Safe Hospital 040723 Manado PKK Unduh Materi
SOP dalam HDP Unduh Materi
SEJARAH RSA UGM DALAM PENYUSUNAN HDP DAN PERANNYA Unduh Materi

{tab Arsip Video}

Pengantar : Madelina Ariani, MPH   VIDEO
Materi 1: Konsep Manajemen Kesehatan danHospital Disaster Plan
dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD 
  VIDEO
Materi 2: Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP di RS
dr. Bella Donna, M.Kes
  VIDEO
Materi 3: Analisis Risiko HVA dan HSIdalam HDP
Madelina Ariani, MPH
  VIDEO
     

 

{tab Reportase} 

Reportase

Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)

{tab-ex  title=”Hari 1″ class=”red”}

PKMK-Yogyakarta. Pada Selasa, 12 Desember 2023 telah dilaksanakan Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit hari pertama. Kegiatan ini diikuti oleh 7 institusi yakni dari RSUP Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Islam Purwokerto, RS Columbia Asia, RS Santo Yusup Boro, RSUD Sumberrejo Bojonegoro, Poltekkes Tasikmalaya, dan FIKES Universitas Brawijaya. Acara dilaksanakan di Hotel Khas Tugu, Jogja.

hdp tugu h1 1

Kegiatan Bimtek Penyusunan HDP ini menjadi yang pertama dilaksanakan secara luring setelah pandemi selama tiga tahun terakhir. Dalam sambutannya, Madelina Ariani, SKM., MPH. menyampaikan mengenai bentuk pelatihan dan pendampingan yang ditawarkan oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM. Madelina juga mengutarakan bagaimana perjalanan Hospital Disaster Plan (HDP) dari awal inisiasi hingga sekarang diakui dan menjadi salah satu muatan dalam akreditasi rumah sakit, bahkan menjadi kurikulum dalam pembelajaran di kampus.

hdp tugu h1 2

Materi pertama dibuka oleh pemaparan dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD mengenai Konsep Manajemen Kesehatan dan Hospital Disaster Plan. HDP adalah rencana respon terhadap situasi bencana di RS pada pra, saat, dan pasca kejadian. Dua hal yang melatarbelakangi terintegrasinya HDP dalam Manajemen Kesehatan adalah terutama Kerangka Kerja Hyogo dan Sendai. Dari sana, muncul konsep safe hospital yang bermakna sebuah fasilitas dikatakan aman ketika pelayanannya tetap aksesibel dan berfungsi pada kapasitas maksimum dengan infrastruktur yang sama pada pra, saat, dan secepatnya pasca kejadian. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengukur indikator ini adalah Hospital Safety Index (HSI). Berbeda dengan SNARS, HSI khusus menilai bencana dan ketangguhan RS. HSI bersifat berkesinambungan dan diutamakan untuk RS tersier/ universitas/ besar. Hasil akhir yang dilihat adalah kesiapan terhadap bencana.

hdp tugu h1 3

Materi kedua disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes mengenai Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP di RS. Melanjutkan materi sebelumnya, dalam upaya mencapai safe hospital maka perlu mengingat SAFE (S: SDM; A: Alat; F: Fasilitas; dan E: Estimasi kebutuhan). Maka dalam upaya tersebut, dikenal surge capacity sebagai kemampuan sistem pelayanan kesehatan untuk secara cepat menambah kapasitas melebihi dari kondisi pelayanan normal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis yang meningkat. Strategi yang dapat digunakan adalah melakukan identifikasi risiko, menyusun rencana, menyiapkan pemimpin, dan melakukan implementasi dan pelatihan.

Materi ketiga sekaligus penutup pada sesi hari pertama, disampaikan oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. bertajuk Analisis Risiko dan HSI. Madelina mengawali dengan memaparkan 9 proses pembangunan HDP dan 3 proses utama menyusun HDP, salah satunya adalah analisis risiko. Dari analisis risiko, dapat dilakukan penentuan prioritas mitigasi dan kesiapsiagaan. Instrumen analisis risiko sangat banyak, namun ada beberapa cara yang lazim digunakan seperti cara probabilitas dan tabel risiko (umum dipakai oleh BNPB dan BPBD), HVA, dan HSI. HSI terdiri dari 2 formulir di mana formulir checklist terdiri dari 4 modul; modul 1 hazard, modul 2 structural, modul 3 non structural, dan modul 4 manajemen emergensi dan bencana. Setelah melakukan identifikasi risiko, RS dapat melanjutkan dengan menyusun skenario sehingga dapat membentuk incident planning guide dan incident response guide.

Reporter: dr. Alif Indira Larasati (PKMK FK-KMK UGM)

{tab-ex title=”Hari 2″ class=”green”}

PKMK – Hari kedua Bimtek Penyusunan HDP telah terlaksana pada Rabu, 13 Desember 2023 pukul 08.00 – 16.00 WIB di Hotel Khas Tugu, Yogyakarta. Hari kedua kegiatan berisi pemaparan materi dan penugasan. Peserta kegiatan bertambah menjadi 23 orang dengan kehadiran RSUD Provinsi Papua Barat.

hdp tugu h2 1

Kegiatan langsung dibuka dengan pemaparan Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid mengenai “Persiapan Logistik, Manajemen Relawan dan Alur Pelaporan Saat Bencana”. Perencanaan logistik menjadi salah satu komponen penting dalam penyusunan HDP untuk mengantisipasi surge capacity. Pendekatan struktur dalam persiapan logistik disarankan menggunakan struktur ICS dibandingkan MIMS karena sejalan dengan perspektif logistik yang semua harus tercatat dalam satu pintu pencatatan. Hal ini tertampak pada pendekatan ICS yang menunjukkan manajemen logistik medis lebih mudah dikendalikan dan interoperable dengan instansi lain. Sedangkan prinsip alur pelaporan yang harus dipegang adalah transparansi informasi dan akuntabilitas. Terkait manajemen relawan, Gde mengenalkan dua pendekatan berdasarkan jenis bencana onset cepat dan lambat, yang dapat membantu RS memperkirakan kebutuhan SDM dan bagaimana sistem manajemennya dapat diterapkan.

hdp tugu h2 2

Materi berikutnya oleh dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD menyampaikan mengenai SOP dalam HDP. Penyusunan SOP dalam HDP dilakukan setelah menyelesaikan kegiatan identifikasi dan analisis risiko. SOP hadir untuk memenuhi standar yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang tidak terdapat pada kegiatan sehari-hari. SOP yang disusun harus memiliki kemudahan dan kejelasan, efisien dan efektif, keselarasan, keterukuran, dan dinamis. Ada berbagai sumber sebagai dasar penyusunan minimal SOP dalam HDP. Selepas SOP tersusun, tim harus melakukan monitoring dan evaluasi SOP, termasuk uji coba SOP.

hdp tugu h2 3

Selanjutnya, Happy R Pangaribuan, SKM., MPH. melanjutkan dengan materi Fasilitas saat Bencana di RS. Tiga sub komponen fasilitas saat bencana, yakni fasilitas umum dan penunjang, peta risiko, dan daftar kontak. Fasilitas umum adalah ruang yang biasa digunakan sehari-hari dialih fungsikan menjadi fasilitas bencana. Di dalam fasilitas penunjang, harus disediakan kit manajemen saat bencana yang harus diinventarisir dan dilakukan pengecekan rutin agar selalu siap digunakan kapan pun. Maka, selain dilakukan inventarisir kebutuhan dalam ruangan, diperlukan penyertaan daftar kontak baik internal dan eksternal RS agar dapat membantu alur komunikasi dan koordinasi ketika bencana terjadi.

hdp tugu h2 4

Materi terakhir mengenai Sistem Pengorganisasian Menggunakan Pendekatan ICS disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Rencana penyusunan organisasi harus berdasarkan organisasi sehari-hari, karena jika terdapat perubahan yang besar dapat berpotensi gagal. Selain itu, struktur organisasi harus dibuat sesederhana mungkin namun dapat mencakup semua kebutuhan, bukan membentuk organisasi baru namun pengembangan organisasi sehari-hari, dapat dimobilisasi dalam waktu singkat, dan fleksibel karena penyusunannya sesuai dengan tupoksi sehari-hari. Penyusunan struktur organisasi saat bencana dapat menggunakan metode crosswalk dan worksheet. Setelah menyusun struktur organisasi, maka tim juga harus mendefinisikan tugas setiap komponen di dalamnya dan dituangkan dalam bentuk kartu tugas. Kartu tugas dapat berupa kartu yang dibawa ke mana saja bersama nametag kantor atau bisa disimpan dalam kit manajemen bencana yang kemudian diaktifkan ketika bencana terjadi.

hdp tugu h2 5

Setelah peserta mengikuti semua pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan penugasan. Dalam bentuk penugasan kali ini, peserta melakukan identifikasi terlebih dahulu dari kekurangan pada dokumen HDP institusi masing-masing atau materi yang dirasa ingin diperdalam. Kemudian peserta dibagi menjadi 3 kelompok dengan 3 instruktur dari PKMK FK-KMK UGM. Selama dua hari ini kelas sangat hangat dan diskusi yang terjadi selama pemaparan materi juga menunjukkan keaktifan kelas dan atmosfer yang hidup.

 

{tab-ex title=”Hari 3″ class=”Blue”}

hdp tugu h3

PKMK – Rangkaian terakhir kegiatan Bimtek HDP telah dilaksanakan pada Kamis, 14 Desember 2023 di RS Akademik Universitas Gadjah Mada. Pada hari terakhir dilakukan kunjungan fasilitas kesehatan dan studi banding terkait dokumen Hospital Disaster Plan dan penerapannya di lingkungan rumah sakit tersebut.

hdp tugu h3 1

Acara dibuka oleh Kepala Instalasi Rawat Jalan RS Akademik Universitas Gadjah Mada, dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD dan dr. Bella Donna, M.Kes selaku perwakilan PKMK FK-KMK UGM. Materi pertama kemudian disampaikan oleh dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B(K)-Onk mengenai “Sejarah RSA UGM dalam Penyusunan HDP dan Perannya”. Tomo menjelaskan mengenai latar belakang HDP RSA UGM, susunan organisasi dan tupoksi, serta pengalaman peran HDP RSA UGM. Kemudian penjelasan terkait implementasi HDP di RSA UGM juga diberikan oleh perwakilan tim HDP RSA UGM.

Setelah pemaparan, para peserta diajak untuk melihat fasilitas bencana yang dimiliki RSA UGM dan bagaimana tata cara pengaktifan maupun pengimplementasian HDP. Di akhir kegiatan, peserta diajak untuk melakukan refleksi sembari duduk dan makan siang bersama di The Westlake Resto.

Reporter: dr. Alif Indiralarasati

{/tabs-ex}

{/tabs}

Reportase The 5 International Conference for Mass Gatherings Medicine (ICMGM) “Legacy in Global Health Security”

gcmgm h1 1

Reportase

The 5 International Conference for Mass Gatherings Medicine (ICMGM) “Legacy in Global Health Security”

Riyadh, Arab Saudi, pada 29-31 Oktober 2023


Global Center for Mass Gatherings Medicine (GCMGM) merupakan salah satu WHO collaborating center yang bernaung di bawah Kementerian Kesehatan Kerajaan Saudi, menyelengarakan konferensi Internasional untuk Mass Gatherings Medicine (ICMGM) yang ke-5 dengan tema “Warisan untuk Keamanan Kesehatan Global”. Acara ini berlangsung di Hilton Riyadh pada 29-31 Oktober 2023. Tujuan konferensi ini antara lain berbagi pengetahuan dan keahlian terkini mengenai perencanaan dan pengelolaan mass gatherings selama pandemi COVID-19 dan peran mereka dalam mempromosikan keamanan kesehatan global (global health security-GHS), memperluas jejaring spesialis dan pusat GHS, mengembangkan strategi berkelanjutan untuk GHS, dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan serta merancang rencana penelitian dan peningkatan kapasitas di GHS, menjelajahi pemanfaatan teknologi digital untuk mass gatherings dan GHS. GCMGM sendiri sebagai salah satu WHO-CC adalah bagian dari kolaborasi internasional WHO untuk manajemen pengetahuan, penelitian dan publikasi berbasis bukti, mengadakan program pelatihan di MGH, memberi nasihat dan berkonsultasi dengan komunitas internasional untuk memperkuat dan menjunjung tinggi kegiatan nasional untuk mengembangkan rencana, program dan jejaring, terutamanya dalam lingkup mass gatherings.

Peneliti dari PKMK FK-KMK UGM, apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid.,menjadi salah satu pembicara yang diundang sebagai tindak lanjut dari jejarig yang dibentuk pada saat konferensi Congress World Association on Disaster and Emergency Medicine (WADEM) ke-22 yang diselengarakan di Killarney, Irlandia pada Mei 2023 lalu. Terdapatnya sebuah dokumentasi akademik terkait lesson learnt dari insiden-tragedi lebih tepatnya-Kanjuruhan menarik perhatian dari dunia akademik internasional pemerhati mass gatherings medicine untuk dijadikan pembelajaran bagi dunia melalui konferensi ini.

Informasi selengkapnya https://5thicmgm.com/agenda/

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama, 29 Otober 2023

KSA telah banyak berinvestasi di semua bidang MGS untuk menjamin keselamatan sejumlah besar jamaah selama haji dan umrah tahunan. Penelitian akan membantu menginformasikan pengambilan keputusan sehubungan dengan rekomendasi kesehatan masyarakat untuk haji dan umrah serta acara mgs lainnya di seluruh dunia, dan akan menjadi sumber referensi informasi, keahlian dan pengetahuan kesehatan dan manajemen MGS secara nasional dan internasional. Pengakuan internasional atas keahlian dan upaya KSA dalam pengembangan bidang kesehatan dan manajemen MGS agar lebih mengantisipasi penyerbuan dan penyalahgunaan zat dalam acara olahraga dan budaya. Peristiwa dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama, bergilir secara periodik, atau tunggal pada satu waktu. Analisis mendalam diperlukan untuk menarik semua pelajaran yang mungkin didapat di tengah kesulitan dalam generalisasi.

ICMGM ke-5 dibuka oleh pejabat-pejabat kementerian Kesehatan Kerajaan Saudi yaitu Dr. Hani Jokhdar, Deputi Menkes bidang Kesehatan Masyarakat dan Wakil Menteri Mr. Abdulaziz Alrumaih, dan Dr Anas Khan, Direktur GCMGM, bersama dengan pejabat WHO Regional EMRO yaitu Dr. Ahmed Almandhari sebagai Regional Director demisioner, dan Prof. Hanan H. Balkhy sebagai RD yang baru saja terpilih.

gcmgm h1 1

Penutupan sesi pembukaan oleh Prof Hanan Balkhy yang baru saja terpilih menjadi Regional Director WHO EMRO, beliau RD wanita pertama di regional ini.

Sesi pertama terkait tata kelola dan perencanaan keamanan kesehatan global harus kuat, terkoordinasi, dan kolaboratif agar dapat secara efektif mengatasi sifat ancaman kesehatan yang dinamis dan saling berhubungan dalam skala global. Komunitas global dapat meningkatkan kemampuan kolektifnya untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman kesehatan, yang pada akhirnya memperkuat keamanan kesehatan global dan melindungi kesejahteraan populasi di seluruh dunia. Pertimbangan tata kelola dan perencanaan dalam konteks keamanan kesehatan global meliputi: kerja sama dan kepemimpinan internasional, kolaborasi multisektoral: institusi kesehatan global, strategi keamanan kesehatan nasional, penilaian risiko dan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas, penelitian dan pengembangan, kolaborasi regional, transparansi dan akuntabilitas, komunikasi dan komunikasi risiko, pembiayaan berkelanjutan, serta inklusivitas dan kesetaraan. Moderator: Dr. Hani Jokhdar – Deputi Menteri Kesehatan Masyarakat, dengan materi dan para panelis “Data Driven Decision Making” oleh Dr. Mohammed K. Alabdulaali, “MG & GHS: Competing Interests” oleh Dr. Saleh Al Marri, dan “International & Multilateral Coooperation” by Dr. Mohamed Hassani.

Sesi kedua terkait arah global health security yang harus bersifat komprehensif, kolaboratif, dan proaktif agar dapat secara efektif mengatasi tantangan kesehatan dunia yang kompleks dan saling berhubungan. Prinsip dan pendekatan utama yang dapat memandu arah global menuju ketahanan kesehatan mencakup kolaborasi multilateral dengan pendekatan terpadu, kesiapsiagaan dan ketahanan, diplomasi kesehatan, pembagian informasi yang tepat waktu, penelitian dan inovasi, peningkatan kapasitas dan pelatihan, pendekatan One Health, akses layanan kesehatan yang inklusif dan adil, Kemitraan pemerintah-swasta, peraturan dan kepatuhan internasional, mekanisme pembiayaan yang efektif, serta pendidikan dan komunikasi kesehatan. Global health security harus adaptif, seragam dan berwawasan ke depan, mengantisipasi tantangan masa depan sambil belajar dari pengalaman masa lalu untuk terus meningkatkan upaya kesiapsiagaan dan respons. Moderator: Dr. Tareef Alaama – Wakil Menteri Pelayanan Kuratif dengan materi dan para panelis: “IHR Future Direction” oleh Dr. Abdullah Assiri, “Building the Evidence Base for GHS” oleh Dr. Tina Endericks, “Decision Making Finesse and Early Interventions” oleh Dr. Pasi Penttinen, “Process, Challenges and impact” oleh Dr. Douglas L. Hatch, kemudian ditutup dengan sambutan oleh Prof Paul Arbon terkait bagaimana mass gatherings menjadi salah satu ancaman terhadap global health security yang sifatnya massif dan harus dicegah bersama-sama.

gcmgm h1 2

Peneliti PKMK FK-KMK UGM, apt. Gde Yulian, M.Epid. berfoto bersama Dr Tina Enderics dari Pulic Health UK yang juga salah satu WHO-CC untuk mass gatherings dan pernah membantu Indonesia menyiapkan dokumen mitigasi untuk Asian Games 2018, dan Dr Donald Donahue yang seminggu yang lalu baru kembali dari Yogyakarta untuk mengikuti ASEAN Academic Conference dan kini menyaksikan langsung bagaimana jejaring AANDHM terlibat dalam kegiatan emergency research.

Sesi ketiga pada topik membangun kapasitas dan melakukan penilaian dalam keamanan kesehatan global merupakan komponen penting dari pendekatan komprehensif untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman kesehatan secara efektif. Untuk meningkatkan kapasitas, kita perlu memperkuat infrastruktur layanan kesehatan, termasuk fasilitas medis, laboratorium, dan rantai pasokan. Pengembangan Tenaga Kerja dan upaya untuk menarik dan mempertahankan individu-individu berbakat merupakan investasi yang sangat penting. Serta melibatkan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko kesehatan dan tindakan pencegahan. Kegiatan yang dilakukan harus mencakup pengintegrasian keahlian dari berbagai sektor untuk mengatasi penyakit zoonosis dan tantangan kesehatan lintas sektoral lainnya. Sistem ini harus memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti solusi kesehatan digital, telemedis, dan kecerdasan buatan, untuk meningkatkan pengawasan penyakit, analisis data, dan koordinasi respons. Di sisi lain, melakukan penilaian risiko secara berkala untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan potensi ancaman kesehatan akan memulai dan mengarahkan mitigasi. Penilaian ini harus mempertimbangkan risiko yang ada dan yang akan muncul. Hal ini mencakup latihan simulasi, pemantauan kinerja, Tinjauan Setelah Tindakan (AAR), penilaian kapasitas dan analisis kesenjangan, serta tinjauan sejawat dan tolok ukur. Moderator: Prof. Saleh Almohsen – Dekan Fakultas Kedokteran KSU dengan materi dan para panelis “Global Health as a Driving Force” oleh Dr. Abdullah Alquwizani, “Global & National Integration for Capacity Building” oleh Dr. Mark Salter, “Data Sharing for GHS” oleh Prof. Lucille Blumberg, dan terakhir materi terkat “Capacity Building & Assessment” oleh Dr. Ninglan Wang.

 gcmgm h1 3

Sesi debat oleh : Dr. Gregory Ciottone dan Dr Michael Molloy dua orang pakar terkait pengorganisasian emergency di lingkup kesehatan, keduana memiliki opini yang sangat menarik untuk mengangkat ideologinya dan “menjatuhkan” ideologi yang lain, pada akhirnya kembali kepada kapasitas instansi ataupun negara yang memilih untuk mengimplementasikan system tersebut

Sesi Debat tentang HICS (Sistem Komando Insiden Rumah Sakit) dan MIMMS (Manajemen dan Dukungan Medis Insiden Besar) keduanya merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk mengelola insiden dan keadaan darurat, namun keduanya ditargetkan pada jenis organisasi dan insiden yang berbeda. Perbedaan utama mencakup audiens target, ruang lingkup, pelatihan, serta struktur dan peran komando. Karena keduanya berasal dari sistem yang berbeda, kedua pembicara membandingkan fitur-fiturnya dengan harapan dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang pemanfaatannya. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Badr Al Otaibi dan pembicaranya iaah Dr. Gregory Ciottone serta Dr Michael Molloy. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah MIMMS lebih membutuhkan sumber daya untuk pelatihannya sehingga cocok di Negara maju sementara ICS lebih inklusif dan dapat diimplementasikan di berbagai instansi dan lebih interoperable.

 

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari Kedua, 30 Oktober 2023.

Pada hari kedua, peneliti PKMK FK-KMK UGM memutuskan untuk mengikuti kegiatan di sesi Supply Chain & Operations, karena bidang yang lebih relevan dengan kebencanaan. Di sesi ini didiskusikan bagaimana mengatasi rantai pasokan dan rencana operasi yang akan sangat penting untuk memastikan ketersediaan dan distribusi sumber daya Kesehatan serta pasokan medis yang efektif pada kegiatan mass gathering yang berpotensi terjadinya bencana mendadak – sudden onset disaster. Kesiapsiagaan dan perencanaan terhadap akses dan rencana kontijensi yang tepat dengan menerapkan sistem untuk memantau ketersediaan dan gangguan. Perencanaan dan sistem manajemen sumber daya yang real-time merupakan hal yang wajib, dan pengulangan sangat penting untuk meningkatkan keapasitas, dan konsep “Just-in-time” mengalami hambatan di tengah pandemi, dan “Just-in-Case” pun semakin meningkat. Koordinasi multi-lembaga dan jaringan distribusi yang efisien untuk memastikan pengiriman sumber daya medis tepat waktu ke titik-titik yang ditentukan perlu direncanakan dengan cermat, dan alokasi sumber daya dinamis dengan menggunakan solusi digital dapat memastikan ketersediaan sumber daya medis dan meningkatkan ketahanan terhadap GHS.

Sesi ini dimoderatori oleh Mr. Abdulaziz Abdulbaqi, dan mengangkat topik presentasi “Prehospital Care during Hajj” oleh Dr. Fahad Al Hajjaj, “Supply and Logistics: the Human Element” oleh Dr. Donald Donahue, Moderator kedua: Dr. Bandar Muzahim, “Clinical Tricks during MG operations” oleh Dr. Jamie Ranse, “Eastern Health Cluster – World Cup preparedness” oleh Dr. Mobarak Almulhim, “Logistic Challenges and Solutions” oleh Mr. Emad Alzahrani.

ICMGM h2 1

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Kesiapsiagaan menghadapi mass gathering event memilika sama denganmempersiapkan kejadian bencana seperti pengalaman manajemen Piala Dunia Qatar 2022 yang dibahgikan oleh Dr. Hamad Al Romaihi.

Pada sesi selanjutnya, terkait Climate Change & Heat-Related Illnesses. Diskusi mengarahkan pada perlunya fokus pada pembangunan ketahanan sistem kesehatan dan penerapan strategi pencegahan dan pengelolaan yang efektif terhadap penyakit yang berhubungan dengan panas. Peningkatan kapasitas, melakukan intervensi kesehatan masyarakat untuk mitigasi, dan menyediakan sumber daya untuk melakukan respons merupakan hal yang sangat penting. Itu semua bermula dari kesadaran dan pendidikan bagi masyarakat dan profesional kesehatan. Meskipun perubahan iklim menempati banyak ruang media, penelitian mengenai HRI tidak mendapat banyak perhatian. Pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit terkait panas secara tepat waktu sangat penting untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan peserta, sehingga pertemuan massal menjadi lebih aman dan tangguh dalam menghadapi tantangan terkait iklim.

Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Bandar Almutairi, denan subject “HRI Management Current Guidelines & Opportunities” oleh Dr. Majid Salamah, “Health as a Lever for Action on Climate Change” oleh Dr. Cecilia Sorensen. Moderator kedua: Dr. Abdulrahman Sabbagh, “Climate & Health Systems Resilience” oleh Dr. Revati Phalkey, “Impact of Climate Change on Health Security” oleh Prof. David Callaway, “Physiological Implications of Heatstroke” oleh Dr. Abdulrazak Bouchama

ICMGM h2 2

Dokmentasi PKMK FK-KMK UGM: Peneliti PKMK FK-KMK UGM apt. Gde Yulian, M.Epid. yang menjadi pembicara pertama pada sesi “Events Experience”membagikan pengalaman bagaimana Indonesia khsususnya Kementerian Kesehatan RI berbenah setelah terjadi tragedi Kanjuruhan. Meskpun hingga satu tahun kemudian keluarga korban masih mencari keadilan dari PSSI dan Kepolisian namun di sektor kesehatan sudah ada perbaikan denganpenyusunan juknis terkait mass gathering yang melibatkan sepakbola..

Pada sesi setelah makan siang, yaitu Events Experience. Para pembicara membawakan pengalaman bahwa karakteristik acara mass gathering sangat berbeda-beda dan memerlukan pertimbangan tersendiri. Acara keagamaan menghadapi risiko penyakit pernapasan menular dan desak-desakan yang lebih tinggi. Acara olah raga dan kebudayaan lebih banyak terjadi insiden terinjak-inak dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Peristiwa dapat terjadi secara berulang pada lokasi yang sama, secara periodik, atau tunggal pada satu waktu. Analisis mendalam diperlukan untuk menarik semua pelajaran yang mungkin didapat di tengah kesulitan dalam generalisasi. Pada sesi ini peneliti PKMK FK-KMK UGM memaparkan lesson learnt dari kejadian mass gathering yang berujung pada insiden korban banyak (mass casualty incident-MCI) yaitu Tragedi Kanjuruhan.

Sesi ini dimoderatori oleh: Dr. Loui Al Sulimani, dengan preentasi-presentasi: “Football Stampede in Kanjuruhan Stadium” oleh Mr. Gde Yulian Yogadhita, “Crowd Disasters and Countermeasures” oleh Dr. Heejun Shin, “Karbala Arbaen” oleh Dr. Fares Allami. Moderator kedua: Dr. Abdulaziz Alrabiah, “Papal Mass” oleh Dr. Valerio Mogini, “Ships Evacuation from Sudan” oleh Dr. Ali Alzahrani. Dan sesi Events Experience – 2 (E4) selanjutnya dimoderatori oleh Dr. Ali Alshareef. “Boston Marathons” oleh Prof. Sophia Dyer, “Qatar FIFA World Cup” oleh Dr. Hamad Al Romaihi. Moderator kedua sesi ini : Dr. Omar Othman, “Paris SAMU Events” oleh Dr. Eric Revue, “Riyadh Entertainment Seasons” oleh Dr. Saad Assiri, and “Mass gatherings in Times of Unrest” oleh Dr. Derrick Tin. Hari kedua kemudian ditutup dengan Lesson Learnt from Pandemic yang dimoderatori oleh Dr. Mehmood Khan dengan pembicara: Dr. Maria Van Kerkhove dan Prof. Jennifer Nuzzo.

Para pembicara pada konferensi ini dapat dilihat di tautan: https://5thicmgm.com/speakers/

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Hari 3″ class=”blue”}

Seperti pada hari kedua, dimana ada dua sesi parallel, hari ketiga atau hari yang terakhir ini peneliti PKMK FK KMK UGM memutuskan untuk mengikuti kegiatan di sesi Emergency Medical Team atau EMT, karena bidang ini yang lebih relevan dengan kebencanaan. Inisiatif global EMTs yang diadvokasi oleh WHO, bertujuan untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan koordinasi tim medis dalam menanggapi keadaan darurat dan bencana, termasuk acara mass gathering yang berskala internasional. EMT adalah kelompok profesional kesehatan dan staf pendukung yang dikerahkan dengan cepat untuk memberikan perawatan medis darurat dan layanan kesehatan penting setelah keadaan darurat kesehatan masyarakat. Komponennya meliputi klasifikasi dan verifikasi, standardisasi dan pelatihan, penerapan cepat dan dukungan dalam acara mass gathering yang berskala internasional. Dengan mengikutsertakan EMT ke dalam perencanaan kesiapsiagaan dan respons medis untuk acara mass gathering yang berskala internasional, penyelenggara acara dapat meningkatkan keamanan kesehatan keseluruhan dari pertemuan tersebut dan lebih siap untuk mengelola potensi risiko dan keadaan darurat kesehatan. EMT memainkan peran penting dalam menyediakan perawatan medis yang tepat waktu dan menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak keadaan darurat, dan memastikan kesejahteraan peserta acara maupun penonton.

Sesi E5 ini dimoderatori oleh: Dr. Elsakka Hammam, dengan menghadirkan beberapa topik diskusi seperti “WHO Endeaver in EMT Standardization” oleh Dr. Flavio Salio, “Standards for Emergency Medical Teams During MGs” oleh Dr. Kris Spaepan. Moderator ke-2 Dr. Yaser Alaska, mengangkat topic diskusi “Legislation on Mass Gathering Medical Response” oleh Dr. Marc-Antoine Pigeon dan “International Standards & Considerations during Sports Events” oleh Dr. Andrew Massey.

ICMGM h3 1

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Dr. Flavio Salio, kepala sekertariat global EMT di WHO HQ menyampaikan bagaimana EMT dapat berkontribusi dalam acara mass gathering yang berskala internasional dengan membandingkan standard rasio kebutuhan tenaga kesehatan dengan standar EMT internasional.

Pada sesi selanjutnya, Manajemen Kasus dalam Keadaan Mass Gathering dan PHE (E6). Dalam konteks mass gathering medicine, manajemen kasus mengacu pada pendekatan sistematis dalam memberikan perawatan yang komprehensif dan tepat kepada individu yang memerlukan perhatian medis selama acara berlangsung. Hal ini melibatkan penilaian, pengobatan, dan tindak lanjut kasus, serta koordinasi perawatan untuk memastikan hasil kesehatan yang optimal. Hal ini mencakup triase, penilaian, pengobatan dan stabilisasi, kesinambungan perawatan, dokumentasi, manajemen pengobatan, komunikasi, rujukan, dukungan psikologis, dan AAR-After Action Reviews. Dengan mencakup aspek-aspek manajemen kasus ini selama acara mass gathering atau pertemuan massal, penyedia layanan kesehatan dapat memberikan layanan medis yang efisien dan efektif kepada peserta, berkontribusi terhadap keamanan kesehatan secara keseluruhan pada acara tersebut, dan memastikan kesejahteraan peserta acara maupun masyarakat yang menonton. Moderator: Dr. Michael Molloy, dengan beberapa topic seperti “Emergency Departments Preparations” oleh Dr. Tariq Althubaiti, “A Day in Emergency Department during Hajj” oleh Dr. Thamer Junaid, “Mobile Medical Teams” oleh Prof. Ives Hubloue, Moderator ke-2: Prof. Ahmed Al-Jedai, “Competencies for HCPs in MGs” oleh Dr. Attila Hertelendy dan “Critical Care Operations” oleh Prof. Zohair Assiri.

ICMGM h3 2

Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM: Peneliti PKMK FK-KMK UGM apt. Gde Yulian, M.Epid. bersama dr Kasemsuk Yothasamutr SpEM, anggota EMT Internasional Thailand yang juga staff di Division of Medical, Technical and Academic Affairs, Department of Medical Services di Kementerian Kesehatan Thailand. Diharapkan setelah acara konferensi ini akan ada joint research terkait mitigasi mapun manajemen mass gathering yang menjadi produk AANDHM-ASEAN Academic Network on Disaster Health Management

Pada sesi setelah makan siang, yaitu Imunisasi, dimana imunisasi memainkan peran penting dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular dan menjadi salah satu komponen penting GHS. Memilih vaksin dan kemoprofilaksis mana yang diamanatkan atau direkomendasikan adalah langkah pertama, diikuti dengan penanganan masalah akses dan logistik. Kampanye penyadaran, komunikasi dan dokumentasi juga merupakan kegiatan canggih yang memerlukan tim multi-disiplin. Keragu-raguan dan infodemik merupakan tantangan besar seperti yang terlihat pada masa COVID-19 dan wabah lainnya. Investasi dalam pengembangan, produksi dan distribusi vaksin merupakan infrastruktur penting bagi GHS selama masa normal dan terbukti sangat penting dalam keadaan darurat dan pandemi. Dengan menerapkan strategi ini, keamanan kesehatan global dapat ditingkatkan secara signifikan selama pertemuan massal. Imunisasi membantu melindungi peserta dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, mengurangi risiko penularan penyakit, dan berkontribusi terhadap kesehatan dan keselamatan peserta secara keseluruhan dan komunitas yang lebih luas. Sesi ini dimoderatori oleh: Dr. Junaid Bajwa, menghadirkan topic-topik seperti “Mass Vaccination” oleh Dr. Khalid Alabdulkareem, “Vaccination for travel & MG” oleh Dr. Salim Parker, “Discovieries and Regionalization of Vaccine Manufacturing” oleh Dr. Anwar Hashem, “Epidemiology of Vaccine Preventable Diseases” oleh Dr. Harunor Rashid, dan “Policies for Vaccine Recommendation” oleh Dr. Haleema Alserihi.

Kemudian acara ditutup dengan pembacaan lima belas rekomendasi dari acara konferensi ini sebagai berikut:

  1. Pertemuan massal adalah sarana untuk meningkatkan kapasitas dan bekerja secara terus-menerus bagi institusi untuk mendorong dampak positif dan berkelanjutan pada sistem kesehatan dan menghindari siklus “panik dan pengabaian”
  2. Era kita menuntut untuk memastikan kapasitas dan kesiapan fasilitas medis, laboratorium, dan rantai pasokan, kita perlu membangun kapasitas dengan layanan terintegrasi
  3. Kita perlu merumuskan rencana kesiapsiagaan dan respons yang komprehensif yang mencakup penilaian risiko, alokasi sumber daya, dan mekanisme koordinasi
  4. Kita memerlukan pendekatan gabungan, bottom-up dan top-down untuk melengkapi kerangka kerja kuat yang dirancang dengan baik seperti “pertimbangan utama” dan bukti untuk pertemuan massal dan keamanan kesehatan global
  5. Sangat penting untuk mengadopsi model keputusan berbasis data dan mengamankan investasi dalam infrastruktur analisis data untuk mengoptimalkan prosedur tata kelola dan hasil perencanaan
  6. Sudah menjadi kebutuhan untuk membentuk kelompok kerja internasional untuk mengembangkan protokol kesehatan, standar, dan pedoman terpadu untuk pertemuan massal
  7. Kami menganjurkan pengalokasian sumber daya dan pendanaan untuk mendukung inisiatif keamanan kesehatan global dalam konteks pertemuan massal
  8. Kami mendorong pengembangan inisiatif penelitian bersama, berbagi pengalaman, dan praktik terbaik untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan terkait pertemuan massal
  9. Kami menganjurkan strategi multidimensi, multidisiplin dan multisektoral untuk keberhasilan komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas (RCCE) terutama untuk kelompok rentan
  10. Masa depan kesehatan masyarakat adalah berfokus pada kesehatan perilaku, ada banyak potensi untuk menggunakan ilmu perilaku untuk memastikan kepatuhan dan penyederhanaan prosedur
  11. Kita memerlukan penilaian komprehensif untuk mengidentifikasi hambatan rantai pasokan dan merancang strategi untuk memastikan ketersediaan dan distribusi yang memadai selama pertemuan massal
  12. Kami menganjurkan penguatan jaringan pengawasan laboratorium dan kolaborasi disiplin ilmu
  13. Kami menganjurkan penerapan sistem pengawasan canggih yang mampu mengumpulkan, memantau, dan menganalisis data secara real-time untuk melacak indikator kesehatan selama pertemuan massal
  14. Kita perlu mengintegrasikan tim medis darurat dalam proses perencanaan kesiapsiagaan dan respons untuk pertemuan massal
  15. Kita memerlukan imunisasi yang komprehensif dan strategi pasca masuk untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit menular

Profil para pembicara pada konferensi ini dapat diakses di tautan: https://5thicmgm.com/speakers/

Reporter : apt. Gde Yulian, M.Epid.

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Reportase Pre Conference Seminar On Safe And Resilient Health Facilities And Infrastructure

aac 2023 1

 

{tab title=”Pre Conference” class=”blue”}

Seminar Pre Conference

FKK-MK-Yogya. Seminar Safe and Resilient Health Facilities and Infrastructure ini merupakan sesi tematik pada 2nd ASEAN Academic Conference on Disaster Health Management (2nd AAC on DHM) pada 17 Oktober 2023. Seminar terdiri dari dua sesi dengan tujuan untuk berbagi wawasan ilmiah yang inovatif mengenai Disaster Health Management (DHM) serta memperkuat jejaring antara peneliti/akademis, praktisi medis, dan pengambil kebijakan.

aac 2023 1

Dok. FK-KMK UGM “Sambutan Seminar Pre-Conference on Safe and Resilient Health Facilities and Infrastructure”

Seminar Pre Conference diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD, FRSPH selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperwatan, Universitas Gadjah Mada dan Dr. Sumarjaya, SKM, MM,MFP, C.F.A yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI. Yodi, dalam sambutannya memberikan dukungan terhadap aktivitas kegiatan DHM dimana FK-KMK UGM adalah National Focal Point (NFP) Indonesia dari ASEAN Academic Network on DHM (AANDHM). Lebih lanjut, bahwa tugas prioritas NFP adalah melakukan integrasi dari WHO Safe Hospital Concept dalam hubungannya dengan Sendai Framework dan menyelenggarakan seminar/workshop mengenai Safe Hospital. Kedua kegiatan ini adalah bentuk implementasi dari tugas yang harus dilaksanakan oleh FK-KMK UGM sebagai salah satu NFP Indonesia dari AANDHM.

Sesi pertama dengan tema “Integration of WHO Safe Hospital Concepts in Relation to the Sendai Framework”. Sesi ini menghadirkan Yanick Michaud-Marcotte (United Nations Office for Disaster Risk Reduction, UNDRR), Dr. Hari Kumar (WHO SEARO), dan dr. Hendro Wartatmo, Sp-KBD (Indonesia).

aac 2023 2

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan Sesi 1: Integration of WHO Safe Hospital Concepts in Relation to the Sendai Framework”

Sesi kedua, diskusi berbagi pengalaman dan pengetahuan di Negara ASEAN dengan pembicara dari Indonesia sebagai negara tuan rumah, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Penentuan tiga negara terpilih dilakukan melalui tahapan scientific rapid review oleh tim Indonesia. Pembicara dari perwakilan negara memberikan gambaran dan berbagi mengenai penguatan manajemen keadaan darurat dan bencana di rumah sakit oleh Kementrian Kesehatan negara tersebut. Akhir sesi pemaparan, dilakukan diskusi panel dengan keaktifan partisipan seminar dalam memberikan pertanyaan kepada pembicara. Setelah sesi diskusi dan penyerahan plakat, seluruh partisipan mengikuti kegiatan selanjutnya adalah observation tour ke UGM.

 

aac 2023 3

Dok. FK-KMK UGM “Pemaparan Sesi 2:Knowledge and Experience sharing in the ASEAN”

OBSERVATION TOUR

aac 2023 4

Dok. FK-KMK UGM “Sesi inagurasi AIDHM”

Partisipan mengikuti sesi Inagurasi ASEAN Institute for Disaster Health Management (AIDHM) di Gedung Auditorium FK-KMK UGM. AIDHM telah mendapatkan endorsement dari seluruh negara ASEAN dan Indonesia ditetapkan sebagai Host Country untuk Sekretariat AIDHM. Kementrian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan bekerja sama dengan FK-KMK UGM melaksanakan mandat dan fungsi AIDHM dengan menetapkan sekretariat AIDHM di Gedung Litbang FK-KMK UGM. Sekretariat AIDHM memiliki ketugasan dalam mengelola dan mendukung aktivitas terkait dengan peningkatan manajemen pengetahuan akademik tentang manajemen bencana kesehatan khususnya pada wilayah ASEAN.

Selanjutnya, partisipan mengikuti sesi observasi tur ke sekretariat AIDHM, ruangan Pokja Bencana FK-KMK UGM, InaHealth Broadcast Room, dan Auditorium FK-KMK UGM sesuai pembagian kelompok dan alur sesi observasi. Partisipan terlihat sangat menikmati sesi observasi dan aktif memberikan pertanyaan di tiap ruangan. Akhir sesi observasi, partisipan berkumpul di Gedung Tahir untuk melakukan foto bersama dan dilanjutkan untuk mengikuti welcoming dinner.

aac 2023 5

Dok. FK-KMK UGM “Sesi observation tour”

Reporter: Gusti Sultan Arifin (FK-KMK UGM)

{tab title=”Hari 1″ class=”red”}.

18 Oktober 2023

FKKMK-Yogya. 2nd ASEAN Academic Conference on Disaster Health Management (2nd AAC on DHM) dilaksanakan pada 18-19 Oktober 2023 di Indonesia, sebagai Host Country. Konferensi ini terlaksana dengan tujuan utama untuk berbagi pengetahuan dan memberikan wawasan ilmiah inovatif tentang DHM serta memperkuat jejaring antara pengambil kebijakan, praktisi medis, dan peneliti/akademisi. Konferensi ini dibuka oleh Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada dan Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., MA., Ph.D, Sekretaris Jendral, Kementerian Kesehatan RI serta Flt. Lt. dr. Atchariya Pangma, MPH, Chair of the Steering Committee for ASEAN Academic Network on DHM (SC/AANDHM).

aidhm h1 1

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan 2nd AAC on DHM”

Sesi keynote lecture oleh Donald A. Donahue, DHEd, MBA, MSJ, FACHE, FRSPH, President of World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) dengan tema “Defining the Discipline: Advancing Disaster Health Management in a Changing World”. Dalam paparannya, promosi integrasi global untuk masa depan Disaster Medicine dapat dilakukan dengan pendekatan regional chapters, kolaborasi dan koordinasi, kegiatan ilmiah, berbagi informasi, dan advokasi. Budaya baru yang perlu diperbarui dalam kesehatan global dan kepemimpinan layanan kesehatan harus melibatkan seluruh stakeholder dan advokasi secara interdisipliner. Lebih lanjut, bahwa sasaran tujuan WADEM dan AANDHM harus saling berkoordinasi, terkalibrasi, dan komprehensif.

aidhm h1 2

Dok. FK-KMK UGM “Sesi Keynote Lecture: Advancing Disaster Health Management in a Changing World”

Sesi pertama mengenai “Disaster and Public Health” dengan moderator dr. Datu Respatika, Ph.D., Sp.M (Indonesia). Tujuan sesi pertama ini adalah untuk mengidentifikasi kegiatan potensial di bidang kesehatan masyarakat yang harus ditangani dalam DHM melalui berbagi kasus praktik aktual kesehatan masyarakat yang dilakukan selama tanggap bencana dan pengetahuan/pengalaman DHM yang dapat diterapkan pada keadaan darurat kesehatan masyrarakat.

aidhm h1 3

Dok. FK-KMK UGM “Sesi 1: Disaster and Public Health”

Sesi kedua bertemakan “Human Development and Education for DHM” dengan dr. Phumin Silapunt (Thailand) sebagai moderator. Berbagai pengalaman dalam pengembangan pendidikan/pelatihan DHM dan mengidentifikasi permasalahan dan tantangan serta diskusi strategi yang diperlukan untuk peningkatan pendidikan/pelatihan pada DHM adalah tujuan sesi kedua ini. Mewakili Indonesia sebagai speaker Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, UGM, mempresentasikan mengenai “The Introduction of The DHM Curriculum In Pre-Service Education, and Challenges And Strategies for The Future” dan dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M dari Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI dengan tema “Health Reserve Workforce System (surge Capacity System Including EMT Regional).

aidhm h1 4

Dok. FK-KMK UGM “Sesi 2: Human Development and Education for DHM”

Sesi ketiga mengenai “EMT Development” yang dipimpin oleh Mr. Souheil Reaiche (Technical Officer EMT Health Emergencies Programme WHO HQ). Tujuan sesi ketiga ini untuk berbagi pengalaman dan tantangan bagi pengembangan EMT di setiap negara dan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan tindakan yang dapat diterapkan di AMS lainnya. Mewakili Indonesia sebagai speaker yaitu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.Si., Apt, Universitas Pertahanan dengan tema “The Strategies for EMT development in ASEAN”.

aidhm h1 5

Reporter: Gusti Sultan Arifin (FK-KMK UGM)

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

dalam penyusunan

{/tabs}

Reportase Pelatihan Dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)

hdp ntb 1

Reportase

PROGRAM LANJUTAN: PENDAMPINGAN HDP DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Kamis, 26 Oktober 2023

hdp ntb 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sambutan Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesling, Dinas Kabupaten Provinsi NTB”

PKMK-Yogya. Kegiatan pelatihan dan pendampingan penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit ini direncanakan berlangsung selama lima kali pertemuan. Pertemuan ini merupakan kegiatan lanjutan dari workshop Hospital Disaster Plan pada 3-6 September 2023 di Mataram. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesling, Dinas Kabupaten Provinsi NTB, Badarudin, S.Kep.Ns,MM. Dalam sambutannya, Badarudin menyampaikan bahwa rumah sakit wajib memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Lebih lanjut, sistem organisasi dan/atau manajemen penanganan bencana juga perlu ditindaklanjuti oleh pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, dokumen HDP ini sangat membantu dan berfungsi bagi rumah sakit dalam menentukan potensi bencana/bahaya yang dihadapi, aktivasi sistem komando, prosedur penanganan bencana, fasilitas saat bencana, dan alur komunikasi. Kegiatan ini diikuti oleh 18 Rumah Sakit dengan tipe A-D yang ada di NTB.

Selanjutnya, Rumah Sakit Provinsi NTB menyampaikan draft dokumen HDP yang telah disusun yaitu pengorganisasian saat bencana. Dalam paparannya, Rumah Sakit Provinsi NTB telah membuat draft struktur organisasi saat bencana, namun dalam struktur ini harus terdapat person in charge tertulis beserta tugas pokok dan fungsi berdasarkan strukur organisasi yang dibuat.

hdp ntb 2

Dok. PKMK-FKKMK UGM “Pendampingan Penyusunan Pengorganisasian tim HDP”

dr. Bella Donna, M.Kes memberikan review singkat mengenai konsep Incident Command System (ICS), Kartu Tugas, dan perbedaan ICS dengan MIMMS. Penyusunan struktur organisasi ini menggunakan pendekatan konsep ICS yang akan memberikan pembagian tugas pada tiap personil, kejelasan alur komando, dan komunikasi, serta dimungkinkan adanya pengembangan operasi jika diperlukan. Selain itu, dalam menyusun struktur operasional penanggulangan bencana untuk bencana alam dan non-alam terdapat perbedaan. Ketua bidang operasional dalam bencana alam berasal dari tim dokter bedah/orthopedi/anestesi yang disesuaikan dengan bencana alam yang terjadi sedangkan non alam adalah dokter penyakit dalam/paru untuk kasus bencana non alam.

Sesi diakhiri dengan diskusi singkat peserta dengan dr. Bella Donna, M.Kes dan akan dilakukan pembagian kelompok dalam proses pendampingan penyusunan dokumen HDP bersama tim fasilitator PKMK UGM. Menilai dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi ini, pendampingan penysunan akan berlanjut dan komunikasi yang akan tetap terjalin melalui WhatsApp. Pertemuan selanjutnya akan dijadwalkan pada 2 November 2023.

Reporter: Gusti Sultan (FK-KMK UGM)

Efektivitas Kebijakan Penanggulangan Bencana Gempa Bumi di Indonesia

Indonesia sangat rentan terhadap berbagai bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, termasuk gempa bumi, gunung berapi, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah mengembangkan berbagai kebijakan penanggulangan bencana, termasuk kebijakan penanggulangan bencana gempa bumi. Tujuan studi untuk menilai efektivitas kebijakan manajemen gempa bumi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan penanggulangan bencana seismik di Indonesia telah dirumuskan secara komprehensif dan sistematis melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan turunannya. Artikel ini dipublikasikan pada 2023 di Jayangapus Press. 

SELENGKAPNYA