Penanggulangan Banjir Jakarta

1

Pengiriman Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta 21-28 Januari 2013

Oleh
Pokja Bencana FK UGM


1

Banjir Jakarta sejak pertengahan Januari menggerakkan Pokja Bencana FK UGM untuk mengirimkan Tim sebagai bentuk kepedulian. Tim yang dikirim berasal dari Rumah Sakit Sardjito, Rumah Sakit Akademik, dan Fakultas Kedokteran UGM yang kemudian menjadi satu kesatuan TIM Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta. Anggota yang dikirimkan 4 orang dokter, 4 orang perawat, dan 2 orang mahasiswa FK.

Tim pertama kali berangkat pagi dan disusul tim kedua siang hari pada tanggal yang sama yakni 21 Januari 2013. Tim akan berada di Jakarta selama sepekan hingga tanggal 28 Januari 2013. Selain membawa perlengkapan, tim dibekali dengan logistik medis bagi korban banjir Jakarta.

Tim pertama terdiri dari dr. Hanif Afkari (RS. Sardjito), dr. Yulestrina Widiastuti (RS. Sardjito), Suparman, AMK (RS. Sardjito), Nika WS, S.Kep Ners (RS Akademik), Irhas Faisal (TBMM-FK UGM). Kemudian, tim kedua terdiri dari dr. Faturrahman (RS. Sardjito), dr. Desi Recsanti (RS. Sardjito), Wahyu Dwi N, AMK (RS. Sardjito), Angga Ardianto, S.kep Ners (RS Akademik) , dan Ghandi Irawan (mahasiswa FK UGM).

Hari pertama (21 Januari 2013) tiba di Jakarta, tim langsung menuju kementerian kesehatan dan bergabung dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) kementerian kesehatan. Tim bertemu dengan dr. Endro dan bu Heny (Kepala PPKK) untuk melakukan briefing. Ringkasan briefing bahwa kementerian kesehatan membentuk tim penanggulangan bencana banjir. Tim dibagi menjadi tim menetap (tim standby diposko yang telah dibuat) dan tim sirkuler (Tim berkeliling dimasyarakat diluar posko yang didirikan). Setiap tim yang terbentuk setelah melakukan kegiatan, harus melaporkan kegiatan setiap hari pukul 07.30 di kementerian kesehatan untuk ditindak lanjuti setiap masalah yang ada dan untuk koordinasi lebih lanjut.

Selasa, 22 Januari 2013. Tim melakukan pelayanan kesehatan di Kelurahan Bukit Duri, tepatnya di RW 11 yang terdiri dari 740 KK. Jumlah penduduk kurang lebih 2400 jiwa yang terdiri atas 200 anak-anak dan 100 orang lansia. 3 posko tersebut adalah Posko di Rumah ketua RT 3, Posko di Balai Warga (Paud), dan Posko di Rumah Ketua RW 43. Pada hari ini, tim kedatangan Rektor UGM yang juga memberikan bantuan kepada korban pengungsian berupa sembako.

Rabu, 23 Januari 2013. Hari ini, Tim Kesehatan FK UGM melakukan briefing di Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) kementrian kesehatan. Dalam arahan ini, tim kesehatan FK UGM berkoordinasi dengan PPKK untuk menuju lokasi pengungsian. Ada dua lokasi yang dituju, yakni wilayah Muara Baru dan Penjaringan Jakarta yang kemudian terbagi menjadi Posko Gudang Carvil, Muara Baru, Penjaringan dan Pos Hotel Aston Pluit, Jakarta Utara.

Di dua Posko pelayanan kesehatan didapatkan 350 pasien tertangani di Pos Gudang Carvil dan 32 pasien di Pos Hotel Aston Pluit. Berdasarkan perhitungan diketahui 10 penyakit terbanyak yang dikeluhkan pengungsi banjir di dua posko adalah ISPA, dermatitis, tinea pedis, gastro enteritis akut, common cold, myalgia, faringitis akut, febris, cephalgia, dan OA.

Kamis, 24 Januari 2013. Meski mengalami penurunan ketinggian air tetapi masih terdapat lokasi banjir yang terisolir dari bantuan luar. Menurut laporan tim salah satu lokasi tersebut adalah Muara Baru. Untuk menuju daerah lokasi Tim Kesehatan FK UGM dan PPKK kementrian kesehatan harus menggunakan perahu karet.

Jumlah pasien di pos SDN 03 Muara Baru sebanyak 65 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti, tinea, pedis, ISPA, common cold, cephalgia, myalgia, gastro enteritis akut, hipertensi, vulnus apertum, anemia, dan combutio (1 pasien). Sedangkan Jumlah pasien di pos Penjaringan (Pabrik Baja) sebanyak 130 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti ISPA, common cold, GEA, dermatitis, myalgia, chepalgia, vulnus apertum, hipertensi, tinea pedis, dan osteoartritis. Terlihat bahwa keluhan penyakit di dua posko tidak terlalu berbeda jauh. Keluhan ISPA, myalgia, dan common cold banyak di dua posko.

Jumat, 25 Januari 2013. Hari ini, Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta melakukan pelayanan kesehatan di tiga titik pengungsian. Tim mempersiapkan segala keperluan, transportasi menuju lokasi dengan parahu karet, dan membawa logistik untuk pengobatan. Tim mulai bergerak pukul 11.30 pagi.

Posko Pabrik Baja, posko Elektro, dan Jalan Marlina menjadi sasaran pelayanan kesehatan hari ini. Diketahui dari hasil tim assessment bahwa di lokasi pengungsian ini terjadi kesulitan untuk mendapatkan air bersih sehingga hari ini akan didatangkan pula tim mobil pompa air.

Total pengungsi yang diberikan pelayanan kesehatan hari sebanyak 460 orang. Dimana penyakit yang dikeluhkan tidak jauh berbeda dengan lokasi pengungsian hari-hari sebelumnya. ISPA masih menjadi keluhan yang utama. Namun, hari ini tim kesehatan merujuk 1 bayi yang lahir prematur dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan dehidrasi berat. Selain melakukan pengobatan, tim kesehatan juga melakukan promosi kesehatan seperti mencuci tangan yang baik dan benar.

26 Januari 2013. Tepat pukul 11.00 WIB Tim Kesehatan UGM Peduli Banjir Jakarta kembali mendatangi dua posko pengungsian yang kemarin telah didatangi, yaitu Pos Elektro dan Pos Jalan Marlina. Dua lokasi ini masih tergenangi banjir hingga saat ini dan warga masih membutuhkan bantuan.

Hingga pukul 15.00 WIB, tim kesehatan melakukan pelayanan kesehatan kepada 186 orang pengungsian. 10 Penyakit terbanyak meliputi ISPA, dermatitis, gastro enteritis akut, myalgia, common cold, faringitis akut, tinea pedis, febris, TTH, dan cephalgia. Hingga saat ini, ISPA masih menjadi keluhan utama warga dan pengungsi.

27 Januari 2013. Sepekan Tim Kesehatan berada di Jakarta untuk membantu korban dan pengungsian bencana banjir. Kerjasama yang baik antara Tim Kesehatan UGM dan kementrian kesehatan serta tim penanggulangan bencana lainnya telah dirasakan oleh warga dan pengungsi banjir. Terdapat permasalahan yang dirasakan oleh tim selama bertugas seperti koordinasi dan komunikasi antar tim, kurangnya peta wilayah dalam tanggapdarurat bencana, transportasi (traffic jump) dan kendaraan operasional yang kurang, serta kelengkapan peralatan tim yang masih harus dilengkapi.

Permasalahan dan kekurangan yang dirasakan saat ini harapannya dapat memberikan masukan bagi kegiatan selanjutnya, adapun usulan yang direkomendasikan tim adalah:

  1. Perlu diadakan suatu GIAT PELATIHAN SIMULASI BENCANA yang kontinu dan terintegrasi dalam setahun
  2. Mapping daerah bencana mutlak harus dimiliki Tim
  3. Mempunyai mobil operasional yang multiguna yang dapat sewaktu-waktu ada bencana siap dioperasikan
  4. Tim perlu dibekali peralatan sepeti: GPS, telephone satelit, Handy Talk (HT), dan adanya personal Kit yg standar.

Puskesmas Menggamat Buka Posko Bencana Alam

Aceh Selatan – Untuk memberikan pelayan kesehatan kepada masyarakat korban banjir di Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, H Jamnan selaku Kepala Puskesmas Menggamat, Sabtu (11/5/2013) kemarin menginstruksikan kepada petugas medis yang bekerja pada Puskesmas tersebut untuk membuka posko bencana alam.

Continue reading

Meluas, Amukan puting Beliung di Sukabumi

SUKABUMI – Puluhan rumah di dua desa di Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dilaporkan rusak akibat diterjang angin puting beliung. Hingga Minggu (12/5), sedikitnya 65 unit rumah warga rusak yang tersebar di Desa Jambe Nenggang dan Desa Bojong Sawah.

Continue reading

Earthquakes in Iran spark fears across the region

Al Ain: Earthquakes have been rocking Iran — sending a wave of fear across the region. An earthquake measuring 5.5 on the Richter scale on Sunday jolted southern Iran close to the Strait of Hormuz around 2.45pm UAE time. The National Centre of Meteorology and Seismology (NCMS) recorded the quake, saying that it was an aftershock of the 6.2 magnitude earthquake that hit Iran’s southern Hormozgan province early on Saturday.

Continue reading

Perlunya Standarisasi, Akreditasi dan Klasifikasi Tim Bantuan Medis dalam Bencana

POLICY BRIEF

Perlunya Standarisasi, Akreditasi dan Klasifikasi Tim Bantuan Medis dalam Bencana

Policy Brief ini ditujukan untuk pemerhati kebencanaan dan pengambil kebijakan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementrian Kesehatan khususnya Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes.


Pengantar

Indonesia merupakan negara dengan tingkat frekuensi bencana yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bencana besar yang terjadi di Indonesia, seperti bencana Gempa dan Tsunami Aceh, Gempa Padang, Gempa dan Tsunami Pangandaran, Gempa Bantul Yogyakarta dan Letusan Gunung Merapi Yogyakarta pada tahun 2010. Bencana yang sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan banyak masalah, salah satunya adalah masalah kesehatan. Hal ini mendorong tim kesehatan, termasuk tim bantuan medis untuk memberikan pelayanan dan bantuan terhadap korban akibat dampak bencana yang terjadi terutama pada fase akut. Pada proses penanggulangan bencana, peran Tim Medis sangat penting.

Berdasarkan pengamatan selama kejadian bencana mulai dari Tsunami Aceh tahun 2004 sampai Letusan Gunung Merapi tahun 2012, ada dua hal yang cukup menonjol. Pertama adalah perkembangan kuantitatif maupun kualitatif dari Tim Bantuan Medis Indonesia serta banyaknya Tim Medis Asing yang terlibat. Kedua adalah kurangnya Sistim yang mengatur dan mengkoordinir (Controll and Coordination) aktifitas Tim Medis tersebut. Ketiadaan sistim tersebut dapat dilihat dari tidak adanya pedoman yang mengatur standar kompetensi dari Tim Bantuan Medis, maupun evaluasi kinerjanya.

Selama ini, belum ada regulasi untuk pengaturan tim medis yang datang ke daerah bencana baik untuk tim medis lokal maupun tim medis asing. Hal ini sangat berbeda di negara yang sudah maju dalam Manajemen Penanganan Bencana, karena ada sistim yang jelas, yang berfungsi sebagai pedoman dalam mengatur bekerjanya Tim Bantuan Medis agar efektif dan efisien. Masalah manajemen dan profesionalisme dari Tim Medis ini memang sangat vital karena akan menentukan hasil akhir, sehingga hal ini diangkat menjadi salah satu topik Pre-Conference pada 11th Asia-Pasific Conference Emergency and Disaster Medicine yang diadakan di Denpasar Bali, akhir bulan September 2012.

 

Konteks dan Pentingnya Permasalahan

Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan terhadap kejadian bencana (disaster prone country), sehingga pada saat terjadi bencana banyak Tim Medis yang datang membantu. Sementara itu, sistim yang mengatur terhadap tim bantuan medis belum ada. Adapun yang perlu diatur adalah:

  1. Banyak bantuan Asing yang datang ke Indonesia tidak jelas perizinan dan keberadaannya, sehingga perlu adanya registrasi tim bantuan medis yang didukung dengan Penetapan kebutuhan akan Tim Bantuan Medis yang jelas akuntabilitasnya. dan adanya quality control terhadap tim bantuan medis baik lokal maupun asing serta sistem pelaporan.
  2. Tim bantuan medis yang datang tidak jelas kompetensinya sehingga sering menimbulkan masalah, seperti infeksi setelah bencana selesai sebagai efek sekunder yang ditimbulkan. Oleh karena itu, perlu penetapan kualifikasi Tim Bantuan Medis seperti kompetensi klinik yang jelas dan tercatat serta data-data yang selalu terarsip dan tersimpan rapi.
  3. Tidak ada standar minimal yang sama untuk setiap profesional dalam pemberian bantuan medis, sehingga perlu adanya sistim manajemen untuk mengkoordinasikan Tim Medis tersebut agar bisa bekerja secara efektif dan efisian serta termonitor. Sistim manajemennya harus diatur dengan jelas dan perlu ada Institusi yang melaksanakannya, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan Institusi lain yang legal.

 

Rekomendasi Kebijakan

Dalam upaya mengkoordinir dan mengontrol tim bantuan medis yang ada di Indonesia, maka diberikan beberapa rekomendasi kebijakan:

  1. Registrasi tim bantuan medis baik asing maupun lokal yang mengatur mobilitas keluar masuk pada satu pintu, sehingga bisa memonitor aktifitas yang dilakukan serta kebutuhan tim medis dilapangan.
  2. Penetapan Pedoman (Guideline) untuk Bantuan Tim Medis Asing termasuk didalamnya Standar Minimal pelayanan kesehatan yang diperlukan, list spesifikasi rumahsakit dan logistik medis serta non-medis yang ada di setiap rumah sakit saat bencana. Pedoman (Guideline) ini dimaksudkan untuk memberi arah kebijakan dan petunjuk praktis dalam operasionalisasi dari Tim Medis, baik lokal maupun asing, agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan dampak seminimal mungkin.
  3. Legalisasi Institusi dan pejabat dari jajaran kesehatan, agar memiliki power yang cukup untuk dapat mengkoordinir para profesional dalam tim bantuan medis. Institusi kesehatan ini menjadi bagian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang berwenang melakukan uji kelayakan tim medis.
  4. Pengumpulan, kompilasi dan recording data dokter dan dokter spesialis yang expert dalam bidang bencana sehingga akan memudahkan koordinasi terhadap kebutuhan sumber daya tim bantuan medis, serta list spesifikasi rumah sakit yang ada di Indonesia

 


Penyusun :

dr. Bella Donna, Mkes
Phone : 0811286284
Email : [email protected]

________________________________

dr. Hendro Wartatmo, SpB KBD
Phone : 0811283118
Email : [email protected]

________________________________

 

Pengantar Minggu ini 3-10 Mei 2013

pasific-angel

Sepekan Kegiatan Pasific Angel

pasific-angel

Selama sepekan penuh (22-29 April 2013) telah berlangsung kegiatan Pacific Angel yang dilaksanakan di Desa Madurejo Kecamatan Prambanan dan di Rumah Sakit PusatAngkatan Udara, Hardjolukito. Pacific Angel merupakan inisiatif dari militer Angkatan Udara Amerika Serikat untuk melaksanakan bakti sosial diwilayah Asia Pacific. Dalam setiap kegiatannya militer Amerika selalu bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia. Bahkan, kali ini Militer Amerika dan TNI menggandeng universitas (FK UGM, UMY, dan UKDW), NGO, dan rumah sakit yang ada di Yogyakarta. Kegiatan ini rutin dilaksanakan di beberapa negara Asia. Di Indonesia, Pacific Angel Yogyakarta tahun ini adalah kegiatan yang ketiga setelah Pacific Angel di Palembang dan Kupang. Kegiatan yang dilakukan berupa pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, perbaikan fasilitas umum pasca bencana, dan air evacuation. Untuk membaca reportase silahkan klik-disini

Masyarakat Sekitar Papandayan Perlu Tenang

BANDUNG – Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM Surono meminta masyarakat di sekitar G. Papandayan tetap tenang dan tidak terpancing kabar menyesatkan. Masyarakat diharapkannya tetap mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut dan BPBD Jawa Barat (Jabar)

Continue reading

6 Jam, 60 Gempa Tektonik di Gunung Papandayan

Warga disekitar Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat diminta untuk menjauhi puncak gunung setidaknya di radius dua kilometer. Sebab, sejak Minggu pukul 12.00 WIB, status gunung tersebut naik dari waspada menjadi siaga. Bisa saja sewaktu-waktu gunung setinggi 2,665 meter itu meletus tiba-tiba.

Continue reading