Reportase Hari 4-CC MAP (18 April 2013)

1

Pengantar

1Agenda Wokrshop CC MAP hari keempat ini adalah diskusi ICLD dan kunjungan ke RS Sardjito. Kunjungan ini untuk mendapatkan pengalaman RS Sardjito dalam penanggulangan bencana dan sistem informasi kesehatan yang digunakan ada sister hospital.

Kunjungan ke Rumah Sakit Sardjito

Kedatangan tim workshop CC MAP ke IGD RS Sardjito disambut oleh dr. Handoyo dan staff IGD. Di depan ruang pertemuan IGD, telah terpajang banner dokumentasi kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia, dimana FK UGM terlibat di dalamnya.

Kemudian dr. Handoyo dan dr. Bella Donna menjelaskan beberapa pengalaman penanggulangan bencana. Menariknya, Umea University tertarik dengan keterlibatan FK UGM dalam penanggulangan bencana tsunami di Aceh tahun 2004. Penanggulangan bencana tsunami Aceh dilakuan selama empat tahun dan melibatkan lebih dari 500 tenaga kesehatan dan non kesehatan yang diberangkatkan ke Aceh.

IGD juga memberikan presentasi mengenai pengalaman Sardjito dalam kebencanaan. Terutama kebencanaan yang terjadi di Yogyakarta seperti Letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Usai tanya jawab, tim kemudian melanjutkan kunjungan ke ruang perawatan pasien IGD. Terakhir, tim mengunjungi ruang sister hospital rumah sakit Sardjito.

2

3

4

5

7

8

Makan Siang Sambil Menyelami Budaya Jogjakarta

Sekitar jam satu siang, kunjungan keRS Sardjito selesai. Mobil tim langsung meluncur ke rumah makan Bale Raos. Bale Raos merupakan rumah makan milik Keraton Yogyakarta yang menu makanannya pun khas tradisional Yogyakarta.

Setibanya, tim Umea University langsung disambut halaman yang luas dengan tembok tinggi yang mengelilinginya. Dinding dan ornamen bangunan bernuansa hijau diselingi dengan tanaman dan pohon yang besar. Indera pendengaran juga dimanjakan dengan alunan gamelan dan sesekali suara sinden yang merdu mengisi kekosongannya.

9

Reportase lainnya:


hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5


Rumah Sakit Perlu Kenali Teliti Karakteristik Bencana

 Jakarta, PKMK. Pengelola rumah sakit (RS) perlu mengenali karakteristik bencana. Dengan demikian, RS dapat menyusun langkah-langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. “Hal yang perlu diperhatikan bahwa tiap bencana mempunyai karakteristik tersendiri yang terkait erat dengan jenis masalah yang dapat diakibatkannya,” kata dr. Wily Pandu Ariawan dari Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan RI, di Jakarta (25/4/2013).

Continue reading

RAWAN BENCANA: Curah Hujan Tinggi Sampai Mei 2013

JAKARTA—Curah hujan berintensitas tinggi akan terjadi di wilayah Indonesia sampai dengan pertengahan Mei mendatang.

Untuk itu, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, masyarakat harus waspada, karena hujan dapat disertai dengan tanah longsor.

Continue reading

Pacific Angel Kali ini di Yogyakarta : Kolaborasi Militer dan Sipil untuk Kesehatan Masyarakat

hot-news1-edit

hot-news1-edit

Yogyakarta-PKMK. Kegiatan Pacific Angel 13-2 di Desa Madurejo, Prambanan dilaksanakan pada hari Senin (22/04/2013) hingga Minggu (28/04/2013). Pacific Angel 13-2 merupakan kegiatan latihan bersama antarmiliter (TNI dan USPACAF) dan sipil. Latihan ini merupakan kegiatan latihan rutin dengan tujuan meningkatkan koordinasi antara militer dan sipil khususnya dengan pemerintah daerah setempat dalam penanganan Humanitarian Assisstance and Disaster Relief (HADR). Kali ketiga ini militer bekerjasama dengan  universitas, rumah sakit, dan NGO yang ada di Yogyakarta. Ada UGM yang mengerahkan Fakultas Kedokteran (Kedokteran Umum, Kedokteran gigi,Keperawatan, dan Residen mata), Pokja Bencana, Rumah Sakit Akademik, dan Rumah Sakit Sardjito. Dari MDMC dengan menggait Universitas Muhamadiyah Yogyakarta dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Serta YAKUM yang menggait universitas Kristen Duta Wacana, YEU, dan Rumah Sakit Batesda 2. Kegiatan untuk kesehatan masyarakat ini meliputi kegiatan pelayanan kesehatan, penyuluhan kesehatan, perbaikan rumah, dan latihan evakuasi di udara.

2013, Bencana Alam di Jabar Renggut 25 Korban Jiwa

BANDUNG – Sekitar 35 orang meninggal akibat bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah Jawa Barat (Jabar) pada 2013. Bencana alam tersebut disebabkan oleh pengrusakan dan penghancuran alam yang dilegalisasi aturan dan dilegitimasi para kepala daerah dan parlemen.

Continue reading

China ramps up earthquake disaster response efforts

tentara-cina

tentara-cinaThe tent village that sprang up in two days in mountain-flanked Lushan to house survivors of the devastating earthquake in China on the weekend is no ordinary refugee camp, as the country’s full range of disaster response is on display: Trucks with x-ray equipment, phone-charging stations, bank tellers-on-wheels — even a tent for insurance claims.

Continue reading

Carbondioksida

co2

co2

Gas CO2 adalah gas yang normal terdapat dalam darah manusia tetapi kadar yang tinggi menimbulkan dampak yang serius yang dapat menyebabkan kematian. Inhalasi udara dengan kadar CO2 dapat meningkatkan kadar CO2 dalam darah. Inhalasi udara dengan CO2 dengan kadar tinggi dapat menimbulkan dampak antara lain gejala keracunan ringan CO2 seperti kedutan otot, penurunan aktivitas otak, kulit memerah (flushing), dan tekanan darah meningkat. Bila kadar CO2 dalam darah meningkat maka akan terasa nyeri kepala, letargi, peningkatan denyut nadi, denyut jantung tidak teratur, panik, nyeri dada, mual, muntah, nyeri perut, halusinasi, kejang, penurunan kesadaran, dan berakhir kematian.

Tabel. Efek yang timbul pada inhalasi CO2 tergantung pada kadar CO2

 

CO2

Efek

1%

RR meningkat (37%)

1,6%

Mv naik 100 %

2%

RR meningkat 50% ,aliran darah ke otak meningkat

3%

Toleransi terhadap exercise menurun

5%

MV meningkat 200% , RR meningkat 100 %,pusing, bingung, sesak

7,2%

RR meningkat hingga 100%, pusing, bingung, sesak

8-10%

Pusing,bingung, sesak berkeringat dan tunnel vision

10%

Sangat sesak, muntah, disorientasi, hypertensi, kehilangan kesadaran

 co2-cycle

Karbon diambil dari atmosper dengan berbagai cara seperti proses fotosintesis tumbuhan, pada permukaan laut ke arah kutub dimana air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut, dan pelapukan batuan silikat. Sementara karbon kembali ke atmosfer melalui resfirasi atau hembusan nafas makhluk hidup, melalui pembusukan binatang dan tumbuhan, asap pembakaran bermotor, fosil, dan batubara, jika permukaan laut menjadi lebih hangat maka CO2 kembali terlepas ke atmosfer dan proses erupsi vulkanik atau letusan gunung berapi. Pada proses alam yang normal, pengambilan dan pengembalian CO2 tidak akan berdampak apapun, bisa dikatakan 0. Namun, pada kondisi yang berlebihan terutama misalnya kepadatan hasil pembakaran pada kendaraan bermotor dan batubara sedangkan tumbuhan tidak mampu menyerapnya maka terjadilah ketidakseimbangan CO2 di atmosfer. Juga pada saat kejadian bencana gunung berapi, dimana gas CO2 yang berlebihan akan berdampak pada masyarakat disekitarnya.

Sumber:

Williams SN, Schaefer SJ, Calvache VML, Lopez Dina. Global carbon dioxide emission to the athmosphere by volcanoes. Geochimica et cosmochimica acta 56(4); 1765-1770. 1992.

Berner Robert, Lasaga Antonio. The carbonate-silicate geochemical cycle and its effect on atmospheric carbon dioxide over the past 100 million years. American Journal of Science 283; 641-683. 1983.

 


Hidrogen Sulfida

shs

shsGas H2S adalah rumus kimia dari gas Hidrogen Sulfida yang terbentuk dari dua unsur Hidrogen dan satu unsur Sulfur. Satuan ukur gas H2S adalah PPM (part per milion). Gas H2S disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang atau uap bau.

Gas H2S terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Oleh karena itu gas ini dapat ditemukan di dalam operasi pengeboran minyak/gas dan panas bumi, lokasi pembuangan limbah industri, peternakan atau pada lokasi pembuangan sampah dan pada beberapa kejadian gunung meletus atau retakan tanah.

 

Gas H2S mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Tidak berwarna tetapi mempunyai bau khas seperti telur busuk
  2. Jenis gas beracun
  3. Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL (Lower Explosive Limit)
  4. Berat jenis gas H2S lebih berat dari udara sehingga akan cenderung terkumpul di daerah yang rendah atau permukaan tanah.
  5. Dapat larut dalam air
  6. Bersifat korosif

 

Efek fisik gas H2S terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor, diantaranya

adalah :

  1. Lamanya waktu seseorang berada di lingkungan yang terpapar H2S
  2. Frekuensi (seringnya) seseorang terpapar H2S
  3. Besarnya konsentrasi H2S
  4. Daya tahan seseorang terhadap paparan H2S

Pada tingkat paparan yang ringan maka H2S dapat menyebabkan gejala-gejala antara lain sakit kepala atau pusing, lesu, hilang nafsu makan, korosifnya menyebabkan rasa kering pada hidung, tenggorokan, dan dada, batuk batuk, dan kulit terasa perih. Proses terjadinya keracunan pada tubuh manusia ketika kondisi normal, seseorang bernafas dengan menghirup udara yang terkandung oksigen sebagai salah satu bagian udara bebas, selain nitrogen dan unsur-unsur lainnya. Oksigen sangat dibutuhkan manusia untuk proses oksidasi di dalam tubuh. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru akan dibawa oleh darah ke seluruh tubuh termasuk ke otak. Jika seseorang menghirup udara yang telah tercampur dengan gas H2S maka komposisi oksigen yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang, sehingga kinerja otakpun akan terganggu. Tingkat konsentrasi gas H2S di otak yang semakin tinggi akan mengakibatkan lumpuhnya saraf pada indera penciuman dan hilangnya fungsi kontrol otak pada paru-paru. Akibat fatalnya adalah paru-paru akan melemah dan berhenti bekerja, sehingga seseorang dapat hilang kesadaran dan meninggal dalam ukuran waktu tertentu.

 

Tabel. Tingkat Konsentrasi H2S dan Efeknya pada Manusia

 

Tingkat H2S (PPM)

Efek pada Manusia

0,13

Tercium bau kadang-kadang

4,6

Mudah terdeteksi karena bau mulai tercium

10

Mulai iritasi pada mata dan mata mulai berair

27

Bau sangat menyengat dan mengganggu

100

Batuk-batuk, iritasi mata dan indera pencium tidak berfungsi lagi

200-300

Pembengkakan mata dan rasa kering di tenggorokan

500 – 700

Hilang kesadaran dan mematikan dalam waktu 1 jam

>700

Hilang kesadaran dengan cepat dan berlanjut kematian

 

Sumber:

Reiffenstein RJ, Hulbert WC, Roth SH. Toxicology of hydrogen sulfide. Pharmacology and Toxicology Journal 32; 109-134. 1992.

Li L, Moore PK. Putative biological roles of hydrogen sulfide in health and desease: a breath of not so fresh air?. Trends in Pharmacological Sciences 29(2); 84-90. 2008.

Chunyu Zhang, Junbao Du, Dingfang Bu, Xiuying Tang, Chaoshu Tang. The regulatory effect of hydrogen sulfide on hypoxic pulmonary hypertension in rats. Biochemical and Biophysical Research Communications 302 (4); 810-816. 2003.