Telemedicine Indonesia Terhambat Biaya Mahal

Jakarta, PKMK. Penerapan telemedicine di Indonesia terhambat oleh sejumlah faktor. Satu di antaranya adalah biaya penyelenggaran infrastruktur teknologi informasi yang masih mahal. dr. Erik Tapan, MHA, pengamat informatika kedokteran,  mengatakan hal tersebut di Jakarta hari ini.

Continue reading

Jepang Pasca Bencana Tsunami 2011

tsunami-jepang1

tsunami-jepang1

Sebelas Maret 2011 adalah masa kelam bagi negara Jepang. Adapatasi dan mitigasi yang siapkan untuk menghadapi bencana benar-benar terjadi. Namun, diluar dugaan bencana yang terjadi diluar perkiraan. Penghalang pantai tidak mampu menahan laju gelombang laut yang menghantam darat hingga berkilo meter. Gempa berkekuatan 8,5 skala richter pada siang menjelang sore hari waktu setempat telah mengakibatkan tsunami yang memporak-porandakan kota Fukushima, Miyagi, dan Iwata. Sepekan dilaporkan bahwa korban mencapai 24.124 jiwa dengan 9.408 meninggal dunia, 14.716 dinyatakan hilang, dan 2.746 mengalami luka-luka.

Bencana ini juga menyebabkan retaknya dinding reactor nuklir Jepang yang mengancam radiasi nuklir bagi masyarakat sekitarnya. Masyarakat jepang hingga diungsikan sejauh 30 kilometer dari tempat dan skrining radiasi pun dilakukan bagi semua korban dan masyarakat. Meski demikian, Jepang tetap tegak berdiri menyelamatkan diri. Tidak banyak yang meragukan bahwa Jepang pasti bisa bengkit dari keterpurukan, termasuk Indonesia yang yakin dalam tiga bulan Jepang bisa kembali pulih.

Pemulihan pasca bencana tsunami Jepang sangat cepat. Pada masa tanggap darurat, pemerintah daerah berfokus untuk menyelamatkan korban dengan segera. Manajemen tanggap darurat Jepang cepat dan terkoordinir. Masyarakat tidak banyak mengeluh dan mengikuti semua instruksi dengan baik meski kondisi fisik dan mental mereka sangat lelah. Satu komando untuk tanggapdarurat berhasil dilakukan oleh Jepang. Satuan komando diperlukan pada tanggap darurat. Keadaan bencana tidak menghapuskan manajemen meskipun yang bersifat formal biasanya terabaikan pada saat bencana.

Terkait kebocoran reactor nuklir di Fukushima juga mengundang kekaguman dunia, dimana aksi evakuasi dan skrining dilakuan dengan cepat. Bahkan karyawan PLTN Fukushima dengan etos kerja yang tinggi cepat tanggap memperbaiki kerusakan reactor. Padahal mereka sangat berisiko terkena dampak radiasi. Etos kerja bangsa Jepang memang tidak diragukan lagi.

Adaptasi mitigasi bencana yang dilakukan Jepang dikatakan berhasil. Kemampuan Jepang untuk mempersiapkan diri terhadap bencana terlihat dari pelatihan-pelatihan dan simulasi yang kerap dilakukan sejak bangku sekolah dasar hingga masyarakat tentang bagaimana bertindak ketika bencana terjadi. Pada saat gempa, masyarakat Jepang telah dilatih untuk tidak panik. Kini, ketika gempa terjadi masyarakat Jepang saling bantu membantu untuk keluar gedung sehingga tidak terlihat saling berebut untuk keluar. Selain itu, persiapan Jepang menghadapi bencana terlihat juga dari pondasi bangunan yang didirikannya. Pada gempa dan tsunami tahun 2011 bahkan tidak ada gedung bertingkat yang runtuh melainkan hanya retak.

tsunami-jepang

Gambar di atas menunjukkan kemajuan Jepang tiga bulan pasca tsunami. Kesiapan, kecepatan, dan kemandirian Jepang dalam menghadapi bencana menjadi refleksi bagi Indonesia. Bagaimana adapatasi dan mitigasi Indonesia terhadap bencana yang sering atau bahkan sudah bisa diramalkan terjadinya? Lalu bagaimana sistem komando tanggapdarurat bencana agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi yang berdampak pada lambatnya penanganan korban bencana?

Benarkah Climate Change Permasalahan Kesehatan Masyarakat?

Perubahan cuaca telah terjadi saat ini. Baik disadari atau tidak. Lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya selalu berinteraksi dengan cuaca. Perubahan cuaca akan mempengaruhi kehidupan di dalamnya. Seperti atap melindungi rumah, terjadi kebocoran atau kerusakan pada atap akan mempengaruhi kehidupan penghuninya, misalnya atap yang bocor menyebabkan lantai basah ketika musim penghujan, sinar matahari masuk ke dalam rumah, lama kelamaan menyebabkan dinding berjamur, dan membuat penghuni terganggu. Cuaca dunia seperti atap dunia, bahkan lebih dari itu, interaksi cuaca dengan lingkungan dan manusia bahkan lebih dekat.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, menjadi masalah kesehatan masyarakat. Ada populasi yang merasakan dampak dari perubahan cuaca, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik disadari atau tidak, tetapi bagi yang sadar ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus dicegah dampak buruknya.

Essay yang ditulis Maria Nilsson, Birgitta E, Rainer Sauerborn, Peter Byass, yang berjudul Connecting the Global Climate Change and Public Health Agendas memberikan gambaran umum kepada kita bagaimana interaksi manusia, lingkungan, dan perubahan cuaca. Selain itu tulisan ini secara gamblang juga menjalaskan dan mempersuasi bagaimana agenda global dalam menghadapi perubahan cuaca. Ada sebuah gambar menarik di dalam tulisan ini mengenai hubungan perubahan cuaca dengan kesehatan sekaligus upaya-upaya yang bisa dilakukan individu hingga global dalam menghadapi perubahan cuaca agar tidak berdampak buruk.

Tiga kesimpulan yang dapat kita tangkap yakni:

  1. Perubahan cuaca adalah masalah kesehatan masyarakat. Pengaruh lingkungan pada sektor lingkungan secara tidak langsung akan berdampak pada masyarakat, terutama pada masyarakat rentan seperti masyarakat miskin, anak-anak, dan lansia.
  2. Kesehatan masyarakat dan perubahan cuaca sangat berhubungan, sebaliknya perilaku manusia juga berdampak pada perubahan lingkungan sehingga pencegahan dampak perubahan cuaca memerlukan perubahan perilaku manusia.
  3. Aksi terhadap dampak perubahan cuaca bagi masyarakat sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara top down dan bottom up, pemerintah dan masyarakat untuk sama-sama mencegah perubahan cuaca ekstrim dan dampaknya.

 

Sumber:

Nilsson Maria, Evenga°rd Birgitta, Sauerborn Rainer, Byass Peter. Connecting the global climate change and public health agendas. PLoS Med 9(6): 1-3. 2012.

 

Pengantar Minggu ini 1-7 April 2013

Artikel Bencana Kesehatan Indonesia

Bencana dapat terjadi kapanpun dan dimanapun di seluruh dunia, namun masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Berikut ini merupakan beberapa artikel yang membahas seputar bencana yang patut untuk diikuti, diantaranya :

Untuk membaca artikel selangkapnya silahkan klik di masing-masing judul artikel diatas

Banjir Bandang Rendam Dua Kecamatan di Bontang

BONTANG – Sedikitnya 500 rumah di Kecamatan Bontang Barat dan Bontang Utara, terendam banjir, Senin (8/4/2013). banjirkiriman dari hulu Sungai Bontang yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur, dilaporkan mulai masuk ke rumah warga, sejak pukul 04.00 Wita, dan hingga kini belum surut.

Continue reading

Risk Perception terhadap Kejadian Bencana : Indonesia dan Jepang

Risk Perception terhadap Kejadian Bencana : Indonesia dan Jepang

Oleh Madelina

Berada pada jalur ring of fire membuat Indonesia akrab dengan kejadian bencana. Lebih dari dua kejadian bencana terjadi di Indonesia setiap harinya. Tercatat bahwa selama Januari 2013 telah terjadi bencana sebanyak 120 kejadian di berbagai daerah di Indonesia, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Meski mengalami penurunan, bencana masih banyak terjadi pada Februari yang mencapai 87 kejadian. Bencana yang terjadi diantaranya banjir, tanah longsor, dan puting beliung masih mendominasi.

Bencana kembali terulang kembali, seolah-olah hal biasa yang terjadi. Bahkan di Indonesia yang dikenal sebagai negara tropis yang hanya memiliki dua musim, saat ini juga terkenal dengan “musim banjir” pula. Sadar atau tidaknya masyarakat bahwa mereka berada di daerah yang rawan bencana merupakan indikator keberhasilan dari sosialiasai Risk Perception. Bencana akan dianggap kejadian alam biasa jika masyarakat menganggap itu bukan bencana yang senantiasa mengintai harta benda bahkan nyawa dan keluarga. Inilah pentingnya konsep Risk Perception. Orang akan cenderung bertindak sesuai dengan persepi yang dimilikinya.

Sebaiknya seluruh masyarakat Indonesia belajar dari masyarakat Jepang. Jepang memiliki daerah yang jauh lebih kecil dari Indonesia dan parahnya hampir di seluruh wilayah Jepang berisiko besar terhadap gempa dan tsunami. Berbeda dengan Indonesia yang masih memiliki daerah yang setidaknya lebih aman terhadap bencana (seperti Kalimantan). Namun, pemerintah dan masyarakat Jepang memiliki kewaspadaan dan persepsi yang sama mengenai bencana. Bencana dianggap sesuatu yang terjadi secara spontan dan akan membahayakan jiwa jika tidak ditanggapi dengan tepat. Maka tidak heran proses mitigasi dan adaptasi Jepang terhadap bencana sangat baik, seperti membangun pondasi gedung yang tahan gempa, pemantauan gempa aktif, sistem awareness yang baik dan disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat, serta pendidikan penyelamatan jiwa ketika bencana sejak TK.

Uniknya lagi, Jepang juga dikenal dengan negara yang masih menganut agama  dan kepercayaan. Masyarakat Jepang percaya bahwa gunung berapi misalnya memiliki seorang Dewa penjaga. Sehingga kejadian gunung meletus bisa saja dianggap peringatan atau kemarahan Dewa. Meski demikian, masyarakat jepang juga memahami risk perception mengenai bencana yang disosialisasikan pemerintahnya. Masyarakat Jepang percaya adanya Dewa, mereka selalu melakukan pemujaan untuk menghindari kemarahan dewa. Di sisi lain mereka juga percaya dengan risiko bencana, untuk itu mereka mempersiapkan diri dengan latihan tanggap darurat bencana dan simulasi jika terjadi bencana. Dua sisi persepsi yang saling bertolak belakang tetapi mereka “mengawinkannya” dengan baik, seharusya Indonesia juga bisa seperti itu.

Proses Perubahan Iklim yang berdampak pada Kesehatan Manusia

Oleh Madelina
Sumber: Patz JA dan Kovarts RS (2002) 

PKMK – Pembahasan perubahan iklim (climate change) adalah pembahasan mengenai perubahan signifikan dari iklim yang menetap dalam jangka waktu yang lama (satu dekade) dan seterusnya (IPCC, 2001). Perubahannya kerap diukur melalui perubahan masa lampau, misalnya perubahan temperatur udara, ketinggian permukaan air laut, ketebalan selaput es dan salju, serta kejadian ekstrim lainnya. Sehingga pembahasan mengenai efek perubahan iklim selalu berbicara pada dampak atau impact bukan sebuah efek akut atau output.

Penuturan mengenai dampak perubahan iklim bagi kesehatan manusia berada pada tingkatan impact. Gambar di atas berusaha menjelaskan dampak perubahan iklim bagi penurunan kesehatan masyarakat. Setelah terjadi perubahan secara ekstrim yang mempengaruhi lingkungan tempat tinggal manusia, misalnya kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan, sumber air bersih berkurang, beberapa mikrooganisme meningkat perkembangbiakannya, setelah itu baru dirasakan dampaknya bagi manusia, misalnya kelaparan, kasus gizi kurang, dan meningkatnya kejadian penyakit infeksi.

Penyakit diare merupakan penyakit yang signifikan meningkat insidennya ketika terjadi peningkatan temperatur 1°C baik pada musim kemarau maupun musim penghujan. Curah hujan meningkat menyebabkan kejadian banjir di beberapa tempat yang berakibat meningkatnya penyebaran penyakit melalui air seperti kolera dan diare. Pada saat musim kemarau terjadi juga dimana sumber air bersih berkurang dan higien sanitasi buruk yang adekuat menyebabkan peningkatan kejadian diare.

Perubahan iklim menyebabkan belahan bumi lain mengalami pemanasan dan belahan yang lain mengalami pendinginan. Pemasanan dan pendinginan yang tidak seimbang mempengaruhi spesies yang hidup didalamnya, khususnya nyamuk yang peka terhadap perubahan cuaca. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan tahun 2010 diketahui bahwa terjadi peningkatan kejadian malaria seiring peningkatan temperatur selama 20 tahun.

Konsekuensi perubahan iklim adalah tantangan signifikan bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia. Semuanya saling berhubungan tetapi yang merasakan dampaknya tetaplah manusia sebagai makhluk hidup di dalamnya. Kesadaran dalam penanggulangan dan pencegahannya harus melibatkan interaksi dari ketiganya.

 

Daftar rujukan:

  • IPCC. Climate change 2000. Special Report on Methodological and technological Issues in technology Transfer. Metz B, Davidson OR, Van Rooijen S and Wie McGrovy. New York: Cambridge University Press. 2001.
  • Patz JA, Kovats RS. Hots spots in climate change and human health. British medical Journal; 325:1094-1098. 2002.
  • Keman Soedjajadi. Perubahan iklim global, kesehatan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Jurnal Kesehatan Lingkungan; 3 (2):195-204. 2007.