Menurut BMKG, Tsunami 20 Meter Hanya Butuh Waktu 20 Menit Capai Daratan

Jakarta – Ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan ada potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuma butuh waktu 20 menit bagi gelombang raksasa itu untuk sampai pantai.

“Dari hasil modelling kami, di selatan Jawa kurang-lebih hanya sekitar 20 menit tsunami sudah melanda daratan,” kata Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

Di selatan Jawa, ada jalur Sunda Megathrust, yakni zona subduksi antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Sunda Megathrust merentang dari pantai barat Sumatera hingga Kepulauan Nusa Tenggara. Jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera ke jalur megatrhust sekitar 200-250 km. Dari jalur itu, bisa terjadi gempa besar yang memicu tsunami.

Bila gempa besar dengan magnitudo (M) 9,1 terjadi di zona megathrust, 20 menit kemudian gelombang tsunami akan sampai di pantai. Masyarakat di daratan tidak bakal punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Masyarakat di kawasan pesisir diimbau untuk tidak menunggu peringatan tsunami dari BMKG. Pokoknya, lari saja ke tempat aman.

“Kalau memang tinggal di dekat garis pantai, kalau merasakan guncangan yang kuat, ya, tidak usah menunggu warning, karena tidak lama kemudian kemungkinan besar tsunami akan terjadi. Begitu ada guncangan, ya lari. Kalau menunggu warning, itu artinya sudah kehilangan waktu,” kata Rahmat.

Sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS/Indonesia Tsunami Early Warning System) bakal dites pada 6 Oktober nanti, lewat gelaran Indian Ocean Wave Exercise 20 (IOWave20) pada 6 Oktober nanti. Acara itu berupa simulasi gempa bumi magnitudo (M) 9,1 dan respons sistem InaTEWS. Banyak negara yang berpotensi terkena dampak tsunami bakal terlibat.

“Namun, sebaik-baiknya peringatan dini, lebih baik adalah kesadaran masyarakat untuk segera merespons, melakukan evakuasi mandiri,” kata dia.

Sebelumnya, ITB menyampaikan hasil risetnya. Tsunami diperkirakan terjadi disepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Riset ini juga memakai data dari BMKG dan GPS.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi bersamaan.

Berdasarkan permodelan skenario kebencanaan yang dibikin para ilmuwan ITB, tsunami besar itu terjadi bila segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan.

428 Jiwa Terdampak Banjir Bandang Sukabumi, 72 Rumah Rusak

Bandung, CNN Indonesia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menyebut 428 jiwa terkena dampak banjir bandang di 12 desa di tiga kecamatan di Sukabumi.

Sejumlah warga pun masih mengungsi karena rumah milik mereka rusak diterjang banjir bandang.

“Sebanyak 428 jiwa terdata. Selain itu, sebanyak 44 unit rumah rusak ringan, 23 unit rumah rusak sedang dan 49 unit rumah rusak berat,” tutur Manajer Pusdalops PB BPBD Jabar Budi Budiman Wahyu, Rabu (23/9).

Adapun korban meninggal dunia akibat banjir bandang tercatat sebanyak dua orang. Sementara itu, satu orang masih dalam pencarian. Selain itu, enam jembatan dan satu unit musala turut dilaporkan mengalami kerusakan.

Banjir bandang yang diakibatkan meluapnya anak Sungai Cicatih tersebut juga memiliki tingkat kerusakan kecil hingga berat. Di Kecamatan Cicurug, terdapat lima desa yang terdampak yaitu, Desa Cisaat, Pasawahan, Cicurug, Mekarsari, dan Bangbayang.

Kemudian, lima desa di Kecamatan Cidahu yang terdampak ialah Desa Babakan Sari, Pondokkaso Tengah, Pondokkaso Tonggoh, Jaya Bakti, dan Cidahu. Sedangkan di Kecamatan Parungkuda terdapat dua desa, yaitu Desa Langensari dan Kompa.

Menurut Budi, tingkat kerusakan di sejumlah desa tersebut bervariasi.

“Tergantung melihat kerusakannya, soalnya ada yang banyak rusak rumahnya tapi ada juga dilihat besarnya kerusakan. Contoh rumah dan jembatan atau TPT, ada yang sedikit rumahnya tapi jembatan putus atau TPT runtuh,” jelasnya.

Saat ini, BPBD Jabar bersama BPBD Sukabumi dan unsur relawan masih melakukan pendataan dan evakuasi korban yang terdampak. Selain itu, BPBD bersama unsur yang terlibat, komunitas relawan mengevakuasi korban terdampak serta dua alat berat excavator dan dua dump truck diturunkan.

Dataran Rendah Rawan

Terpisah,  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan

“Kesimpulan yang didapat adalah bahwa meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, dalam keterangannya, Rabu (23/9).

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, curah hujan yang terukur di wilayah Pos Perkeb Tugu Menteng, Kecamatan Lengkong, dan Pos Ganesha, Kecamatan Cisolok, adalah sebesar 88 mm dan 57 mm. Curah hujan tersebut tergolong tinggi sehingga berakibat menimbulkan banjir bandang.

Analisis meteorologi BMKG dari citra radar juga menunjukkan bahwa pada Senin 21 (21/9), pukul 14.08 WIB, terdapat pertumbuhan awan konvektif di Sukabumi bagian utara dan selatan. Awan konvektif tersebut berupa cumulunimbus (CB) yang terbentuk sangat cepat dan intensif.

Dari hasil analisis tersebut, BMKG menyimpulkan bahwa meluapnya Sungai Citarik-Cipeucit dan Sungai Cibojong menjadi faktor penyebab terjadinya banjir bandang.

Hal ini diperkuat analisis sementara dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB. Bahwa wilayah kejadian banjir bandang Sukabumi merupakan dataran rendah yang berada di bawah kaki Gunung Salak dan dilalui beberapa sungai, yaitu Sungai Citarik-Cipeuncit dan Sungai Cibojong.

Berdasarkan hasil monitoring bahaya Banjir Bandang InaRisk BNPB, wilayah yang terdampak tersebut juga memiliki indeks bahaya sedang hingga tinggi terhadap banjir bandang.

(hyg/Antara/arh)

Pemkot Tangerang Petakan Titik Rawan Banjir

TANGERANGNEWS.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memetakan titik-titik rawan banjir di wilayah Kota Tangerang. 

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah mengatakan pemetaan dilakukan Dinas PUPR untuk mengantisipasi terjadinya banjir. 

“Ada, sudah dipetakan. Rencananya PU mau ekspos. Tapi saya belum sempat baru tadi saya minta mereka ekspos rencananya,” ujarnya, Kamis (24/9/2020). 

Arief tak merinci di mana saja titik-titik rawan banjir yang dipetakan. Sebab, masih belum dipublikasikan Dinas PUPR. 

Titik rawan banjir yang di Kota Tangerang diketahui berada di Kecamatan Periuk dan Kecamatan Ciledug. 

Petugas Dinas PUPR Kota Tangerang saat melakukan normalisasi saluran air di kawasan Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

 

Menurut Arief, Dinas PUPR juga saat ini sedang fokus melakukan normalisasi saluran-saluran air. 

“Jadi sekarang PU terus melakukan normalisasi saluran, sungai,” katanya. 

Arief menambahkan dalam proses normalisasi petugas menemukan banyaknya sampah di saluran-saluran air. 

“Rata-rata buang sampah sembarangan. Kita imbau ya jaga kebersihan lah jadi jangan sampai masyarakat ngeluh banjir,  tersumbat, padahal yang buang sampahnya masyarakat juga,” pungkasnya. (RMI/RAC)

HEADLINE: Hujan Ekstrem dan Banjir di Jakarta hingga Sukabumi, Langkah Penanganannya?

Liputan6.com, Jakarta – Hujan yang mengguyur Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Sukabumi pada Senin sore hingga malam (21/9/2020), menyebabkan duka bagi sebagian warga. 

Di Sukabumi, Jawa Barat, hujan deras yang mengguyur mengakibatkan puluhan rumah dan kendaraan bermotor di kecamatan Cicurug, Cidahu dan Cibadak hanyut terbawa arus banjir. Hujan juga merendam sekitar 85 rumah di kawasan tersebut. Akibarnya sebanyak 299 kepala keluarga atau 1.210 orang harus mengungsi.

Tak cukup itu, hujan deras yang berujung banjir dan longsor di Sukabumi juga merenggut dua korban jiwa. Hasyim (60) warga Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan dan Jeje (60) warga Kampung Aspol, Kelurahan Cicurug ditemukan tak bernyawa setelah terbawa arus banjir. Kedua jenazah korban ditemukan di aliran Sungai Cicatih, Sukabumi, Selasa (22/9/2020) siang.

Di Bogor, hujan deras memutus Jalan Pancawati, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB. Tebing setinggi kurang lebih 20 meter di kawasan tersebut l ongsor dan menutup seluruh badan jalan. Material longsor bahkan sempat menyeret satu keluarga yang sedang melintas. Beruntukng, warga bersama BPBD Kabupaten Bogor dan Pemerintah Desa Pancawati gerak cepat melakukan evakuasi, nyawa satu keluarga yakni Emi (27), Anggun (9), Acep (30), Wita (14), Upik (19), Eva (13) dan Kiranti (15) akhirnya selamat.

Cerita serupa muncul dari Ibu Kota Jakarta. Guyuran air langit sejak Senin sore membuat sejumlah ruas jalan di Jakarta tergenang dengan ketinggian beragam. Air bahkan sempat menggenangi jalan protokol seperti Sudirman dan Thamrin, meski tidak lama akhirnya surut. 

Namun, ancaman banjir justru membayangi dari daerah yang lebih tinggi, yakni Bogor. Banjir kiriman yang beberapa kali telah terjadi kembali dipastikan akan terulang. Sebab, Senin pukul 18.18 WIB Bendung Katulampa sudah menyentuh 250 cm. Katulapampa Siaga 1. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun mewanti-wanti warga Jakarta yang tinggal di sekitaran Kali Ciliwung bersiap-siap menyambut tamu tak diundang tersebut.

Dan sesuai prediksi, air kiriman mengguyur Jakarta, Selasa dini hari. Banjir kiriman menggenangi sekitar 56 RT di Jakarta di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Ketinggian air bervariasi dari 10 hingga 100 sentimeter. Hingga Selasa siang, banjir juga menggenangi 20 ruas jalan di Jakarta.

Rendaman banjir juga membuat sejumlah warga Jakarta harus mengungsi. Sumber BNPB menyebutkan, ada 30 Kepala keluarga atau 104 orang mengungsi di sejumlah titik yang disediakan akibat banjir di Ibu Kota.

Wakil Gubenur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan, pihaknya meminta warga Jakarta untuk bersiap menghadapi anomali cuaca yang terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia saat ini. Biasanya curah hujan tinggi yang bisa berdampak banjir di Jakarta, terjadi pada Desember-Januari hingga Maret, namun dengan adanya anomali cuaca saat ini, hujan bisa mengguyur lebih cepat dan menyebabkan banjir seperti yang terjadi saat ini.

“Masyarakat harus bersiap di samping terus menjaga kebersihan lingkungan tidak membuang sampah. Kita minta masyarakat menbantu untuk membersihkan selokan atau tempat lain sehingga aliran air terus bisa mengalir ke sungai dan kita teruskan ke laut,” ujarnya, Selasa (22/9/2020).

Ariza mengaku, pihaknya sudah menyiapkan dan 54 ekskavator, beko dan sebagainya untuk melakukan pengerukan sepanjang tahun sungai-sungai dan waduk yang ada di Jakarta.

“Pengerukan ada 13 sungai di Jakarta. kemudian waduk situ yang ada di Jakarta. Mengerahkan 54 ekskavator sepanjang hari tidak berhenti,” ujarnya.

Selain itu, sambung Reza, Pemprov DKI juga melakukan terobosan dengan membuat sodetan yang bisa mengalihkan air agar tidak terjadi banjir. 

“Di tahun anggaran ini kami akan adakan mobile pompa untuk bisa digunakan ketika banjir. Untuk mengatur dan alihkan genangan banjir,” sambungnya.

Reza menambahkan, untuk banjir kali ini pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya adalah dokter yang bertugas memantau kesehatan warga yang terdampak banjir.  

Reza memastikan penanganan pengungsi banjir yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta merujuk pada protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran Covid-19. 

“Sudah disiapkan titik pengungsi, jumlah dua kali lipat dari biasa. BPBD telah siapkan titik-titik atau tempat pengungsian dengan jumlah lebih besar,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, pihaknya sudah mengintruksikan sejumlah kepala daerah di Jawa Barat untuk menyiapkan program antisipasi menghadapi bahaya banjir dan longsor, seperti yang berjadi di Sukabumi saat ini.  

“Turut prihatin kepada Kab Sukabumi terkait bencana banjir bandang. Dukungan dan bantuan sudah dikirim ke sana via pak Wagub @ruzhanul dan BPBD Jabar,” ujar Ridwan Kamil dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (22/9/2020).

Pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, tahun ini musim hujan datang lebih awal dari perkiraan. Jika sebelumnya diprediksi BMKG musim penghujan akan turun akhir Oktober, kenyataannya saat ini sudah hujan.

“Pemprov Jawa Barat melalui Dinas PU sejak dua minggu lalu sudah memulai program antisipasi banjir. Mudah-mudahan bisa efektif,” pungkasnya.

Waspada Klaster Pengungsian Banjir, Ini Saran dari Satgas Covid-19

JAKARTA – Memasuki musim penghujan menjadi kekhawatiran sendiri munculnya klaster baru penyebaran virus corona atau Covid-19. Dalam hal ini masyarakat rentan tertular di posko-posko pengungsian bagi mereka yang rumahnya terdampak banjir.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, kebersihan lokasi pengungsian akan menjaga para pengungsi dari penyakit-penyakit lainnya yang bisa disebabkan oleh musim hujan. Beberapa diantaranya demam berdarah dengue, lepra, tifus, diare dan penyakit kulit.

“Semua penyakit ini dapat menurunkan imunitas sehingga masyarakat menjadi rentan tertular Covid-19. Jika tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sebisa mungkin pemerintah setempat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang cukup dan memastikan kebersihan lokasi pengungsian,” kata Wiku dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (24/9/2020).

Pasalnya, masyarakat yang terdampak banjir harus tinggal di lokasi pengungsian sehingga terjadi kerumunan di lokasi-lokasi tersebut. Lokasi pengungsian katanya berpeluang menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Namun, kedisiplinan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat dengan memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan termasuk menjaga kebersihan dapat menekan potensi penularan tersebut,” ujar Wiku.

Disisi lain, Wiku menyatakan, pada klaster perkantoran ada peran kantor yang bisa membantu pemerintah. Dalam hal ini, perkantoran perlu transparan melaporkan kasus Covid-19 di lingkungannya kepada dinas kesehatan setempat.

Lalu, kata Wiku, melakukan trading lanjutan untuk menjaring kontak erat dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat.

Kantor juga harus memberi swab gratis bagi daftar kontak erat. Jika ditemukan kasus positif tambahan , segera merujuk dengan berkoordinasi dengan dinas kesehatan.

Maka harus dirujuk ke rumah sakit khusus menangani Covid-19 dan biaya ditanggung pemerintah. Baik peserta BPJS Kes ataupun belum menjadi peserta termasuk warga negara asing (WNA).

“Bagi karyawan yang negatif, harus diperkenankan dirumah (WFH). Jika ditemukan kasus positif dalam jumlah banyak, maka kantor tersebut ditutup sementara untuk dilakukan disinfeksi,” kata Wiku.

(kha)

Laporan Kegiatan Sosialisasi Dokumen Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

laporan kegiatan

Laporan Kegiatan

Sosialisasi Dokumen Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

Sulteng, 8 Januari 2020

 

Kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi dokumen dinkes disaster plan oleh Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan Dinkes Provinsi Kab. Sigi. Peserta berasal dari UPT. P2KT, Dinkes Provinsi, Dinkes Sigi, RS Torabelo, Puskesmas Marawola. Kemudian pihak eksternal yang mengikuti pertemuan ini adalah Dinkes Kota Palu, Dinkes Donggala, BPBD Provinsi, FK Universitas Tadulako, FKM Universitas Tadulako, FK Universitas Alkhaeraat, DVI Bidekkes, Puskesmas Nokilalaki dan Dinas Sosial Provinsi. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinkes Provinsi Sulteng. Pada pembukaan kepala dinkes mengatakan bahwa sistem penanganan bencana di daerah akan sangat terbantu dengan adanya dokumen disaster plan. Sulteng menjadi etalase bencana artinya harus benar-benar mempersiapkan perencanaan penanggulangan bencana. Pengalaman dalam penaganan bencana gempa dan likuifaksi Palu serta materi-materi terkait kebencanaan, tertuang dengan baik dalam dokumen. Harapannya melalui dokumen ini sistem koordinasi inter bidang dan antar sektor leboh tertata dengan baik.

Sosialisasi dokumen dinkes disaster plan Dinkes provinsi Sulteng dipaparkan oleh Kepala Bidang UPT P2KT. Dalam paparannya lebih banyak menunjukkan struktur organisasi berbasis insiden sistem komando saat bencana, hasil analisis risiko bencana dan standar prosedur operasional. Ada beberapa hal yang akan beririsan dengan pihak eksternal misalnya terkait sistem rujukan korban bencana, pengurusan jenazah dan koordinasi pengaturan relawan serta logistik. Selanjutnya dokumen dinkes disaster plan Dinkes Kab. Sigi disampaikan oleh ketua tim penyusun kecil dinkes disaster plan Kabupaten Sigi. Tidak jauh berbeda dengan Dinkes Provinsi Sulteng, pada dokumen sudah terlihat jelas struktur organisasi berbasis insiden sistem komando dan pembagian tupoksi masing-masing bidang. Peta respon yang ada dalam dokumen adalah peta respon banjir karena potensi bencana yang paling tinggi adalah banjir.

Setelah pemaparan sosialisasi dokumen ini masing-masing institusi bisa memahami bagaimana alur komunikasi dengan dinas kesehatan dan apa yang menjadi tupoksi mereka saat bencana terjadi. Dinsos Provinsi melalui klaster kesehatan Dinkes akan membantu dan berkoordinasi dengan bidang logistik. Pihak Universitas menyampaikan mereka akan berkoordinasi dengan bidang operasional dalam melakukan pelayanan kesehatan. BPBD lebih kearah bagaimana informasi yang dikeluarkan oleh klaster kesehatan sama dengan BPBD dan akan berkoordinasi juga dengan penempatan relawan, pengadaan logistik dan anggaran kegiatan. Rencana pendampingan disaster plan ini juga akan dilanjutkan tahun 2020. Ditengah-tengah sosialisasi Dinkes kota Palu dan Dinkes Koabupaten Donggala menyampaikan bahwa jika masih ada pendampingan lanjutan terkait penyususn dokumen disaster plan ini, mereka bersedia untuk didampingi.

laporan kegiatan

Dok. Dinkes Prov. Sulteng “Sosialisasi Dokumen Dinkes Disaster Plan”.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

 

Banjir Bandang di Tengah Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

KOMPAS.com – Banjir bandang menerjang beberapa wilayah di Sukabumi, Jawa Barat, Senin (21/9/2020) sekitar pukul 17.00 WIB.

Peristiwa tersebut terjadi saat sejumlah daerah di Sukabumi diguyur hujan dengan intensitas tinggi beberapa jam. Hingga Selasa (22/9/2020), setidaknya 11 desa dan 11 kampung yang terdampak.

Masing-masing yakni, Kecamatan Cicurug meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kampung Nyangkowek dan Kampung Lio) dan Bangbayang (Perum Setia Budi).

Kecamatan Parungkuda meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Kecamatan Cidahu yakni Desa Babakanpari (Kamping Bojong Astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu.

Selain itu, 133 kepala keluarga (KK) atau 431 jiwa terdampak banjir bandang.

Sejumlah warga mengungsi ke tempat saudara dan tetangga terdekat.

Sementara itu, kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat 47 unit, rusak sedang 41 dan rusak ringan 45.

Secara umum, wilayah Indonesia belum memasuki musim penghujan.

Lantas, mengapa banjir bandang bisa terjadi ketika belum masuk musim penghujan?

Potensi hujan tidak selalu saat musim penghujan

Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Agie Wandala Putra mengatakan, potensi hujan lebat tidak semata terjadi pada periode musim hujan.

Dan hal itu, lanjut Agie, perlu diedukasikan kepada masyarakat.

“Termasuks saat ini ketika kita baru memasuki masa peralihan sudah terdapat energi atsmofer yang cukup besar yang dapat membuat hujan memiliki intensitas tinggi,” kata Agie saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/9/2020).

Agie menambahkan, itu menunjukkan betapa uniknya wilayah Indonesia yang berada benua maritim tropis dan melimpahnya curah hujan tetapi perlu juga memahami behaviour hujan ekstrem.

Jika ditinjau dari analisis meteorologi, hujan lebat yang terjadi pada Senin, 21 September 2020 sore hingga Selasa, 22 September 2020 dini hari, terjadi karena beberapa faktor.

Faktor-faktor

istimewa Sejumlah desa di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat terendam banjir. Banjir membuat beberapa akses jalan terputus dan sejumlah lokasi terisolir. Ratusan warga juga telah mengungsi ke daratan yang lebih tinggi.

Pertama, terpantaunya gangguan gelombang ekuator.

“Yakni gelombang Equatoria Rossby di Jawa bagian Barat yang mampu meningkatkan proses pembentukan awan di wilayah Banten, Jawa Barat dan Jabodetabek,” ucap Agie.

Kedua, adanya anomali suhu muka laut atau peningkatan suhu muka laut dibandingkan dengan normalnya.

Hal ini terjadi di perairan Selatan Banten-Jawa Barat yang memberikan suplai uap air untuk pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jawa Bagian Barat, khususnya di Jabodetabek.

Ketiga, terpantaunya pola pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi).

“Faktor ketiga terjadi di Jawa Barat yang meningkatkan proses pembentukan awan hujan khususnya di Jabodetabek,” katanya lagi.

Terakhir, atmosfer yang labil di Jawa bagian Barat yang dapat mengintensifkan proses pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

Hal-hal tersebut, kata Agie, mengakibatkan terjadi hujan dengan intensitas curah hujan dan volumnya sangat tinggi dan dalam periode singkat.

“Ini yang berkaitan sebagai pemicu banjir bandang, meskipun kita harus lihat bagaiman kondisi permukaan tanah apakah mampu menampung jumlah curah hujan tersebut atau tidak. Seperti yang terjadi di Sukabumi,” jelasnya.

Banjir Bandang Sukabumi, Status Darurat Ditetapkan 7 Hari

Sejumlah relawan gabungan mengevakuasi material kayu yang terbawa pasca  banjir bandang di  Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (22/9/2020). Data sementara yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dampak akibat banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Cicurug, Senin (21/9), mengakibatkan 12 rumah hanyut dan 85 rumah terendam. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat pascabanjir bandang pada awal pekan ini. Status darurat akan berlangsung selama tujuh hari terhitung sejak 21-27 September 2020. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sukabumi bersama tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan dinas kabupaten terkait telah melakukan penanganan darurat. Tim gabungan ini juga mendirikan dapur umum untuk para korban banjir.

“Tim gabungan juga melaksanakan upaya darurat lainnya seperti pertolongan, penyelamatan, pencarian dan evakuasi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Raditya juga menjelaskan pembersihan banjir bandang telah dilakukan menggunakan cara manual dibantu dengan alat berat berupa dump truck untuk mengangkut material lumpur.

“Pemerintah daerah setempat mengerahkan dua unit, milik Dinas PU Kabupaten Sukabumi satu unit, dan Kodim 1 unit,” katanya.  

Hingga Selasa (22/9), BNPB mencatat ada tiga kecamatan terdampak banjir dengan 11 desa dan 11 kampung. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Cicurug, Kecamatan Parungkuda, dan Kecamatan Cidahu.

Di Kecamatan Cicurug ada lima desa dan lima kampung terdampak banjir, meliputi Desa Cisaat (Kampung Cipari), Pasawahan (Cibuntu), Cicurug (Aspol), Mekarsari (Kp. Nyangkowek dan Kp. Lio) dan Bangbayang (Perumahan Setia Budi).

Lalu di Kecamatan Parungkuda dua desa dan dua kampung terdampak, meliputi Desa Langensari (Kampung Bojong Astana) dan Kompa (Bantar).

Di Kecamatan Cidahu tercatat empat desa dan empat kampung terdampak, antara lain Desa Babakanpari (Kamping Bojong astana), Podokkaso Tengah (Bantar), Jayabakti (Cibojong) dan Cidahu. 

Sementara total keluarga terdampak berjumlah 133 Kartu Keluarga atau 431 jiwa, sejumlah warga juga diketahui mengungsi ke saudara dan tetangga terdekat.

Catatan kerusakan akibat banjir bandang mencakup rumah rusak berat (RB) 47 unit, rusak sedang (RS) 41, rusak ringan (RR) 45, jembatan RB 5 dan TPT 1.

Rumah RB di Kecamatan Cicurug sebanyak 36 unit, Cidahu 10 dan Parungkuda 1, sedangkan rumah RS di Kecamatan Cicurug 34 unit dan Cidahu 7 unit.   

Sebelumnya

terjadi pada Senin (21/9) pukul 17.00 WIB. Banjir terjadi karena intensitas hujan tinggi dan Sungai Citarik-Cipeuncit meluap.

Akibat banjir bandang, tiga warga dilaporkan hilang terseret arus banjir. Dua diantaranya ditemukan tim gabungan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Tim gabungan telah menyusun rencana lanjutan untuk mencari korban hilang dengan membentuk 12 tim dan perluasan titik pencarian.

Untuk hari ini Rabu (23/9), Raditya mengatakan BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca wilayah Provinsi Jawa Barat masih berpotensi hujan dengan disertai kilat atau petir dan angin kencang. 

“Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi seperti angin kencang atau angin puting beliung, banjir, banjir bandang dan tanah longsor,” kata Raditya.

Anies Minta Peringatan Dini Disiarkan Satu Hari Sebelum Banjir Datang

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Ingub Nomor 52 Tahun 2020 tentang Percepatan Peningkatan Sistem Pengendalian Banjir di Era Perubahan Iklim. Di Ingub tersebut Anies minta peringatan dini disiarkan sebelum banjir datang.

“Membangun sistem deteksi dan peringatan dini kebijakan banjir serta sistem penanggulangan bencana banjir yang antisipasif, prediktif, cerdas, dan terpadu,” tulis Anies dalam ingub tersebut, seperti dilihat detikcom, Rabu (23/9/2020).

Dalam hal penanggulangan banjir, Anies meminta Pemprov DKI memberikan deteksi dan peringatan dini. Peringatan dini harus diberikan selambatnya 1 hari sebelum banjir.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dibantu oleh Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik menyusun sistem deteksi dan peringatan dini kejadian banjir, yang dapat dimonitor secara daring serta dapat memprediksi dan mengumumkan potensi kebanjiran selambat-lambatnya 1 hari sebelum kejadian, dengan target September 2020,” ujar Anies.

Seperti diketahui, Anies Baswedan ingin meningkatkan sistem pengendalian banjir dengan mengeluarkan ingub tersebut. Dalam ingub tersebut, Anies menulis terjadi peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim. Maka perlu percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir.

“Diperlukan percepatan peningkatan sistem pengendalian banjir yang responsif, adaptif, dan memiliki resiliensi atas risiko banjir yang dihadapi saat ini, dan di masa yang akan datang, baik dari segi peningkatan infrastruktur fisik maupun infrastruktur sosial,” ujar Anies dalam ingub tersebut.

Waspadai, Ternyata Covid-19 Menyebar Lebih Mudah dari yang Dikira

KOMPAS.com – Sejak masa awal pandemi Covid-19 merebak, salah satu perdebatan yang kerap muncul adalah kemungkinan virus corona menyebar lewat udara atau tidak.

Dalam laporan resmi yang diunggah pada awal Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan virus corona memang bisa menyebar melalui udara.

Namun, masih banyak pihak yang meragukan kesimpulan tersebut.

Nah, belum lama ini, laporan WHO yang menyatakan kemungkinan penyebaran virus corona lewat udara juga didukung oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Di situs resminya, CDC menyebutkan virus corona dapat menyebar melalui tetesan liur (droplet) atau partikel kecil yang diproduksi seseorang saat bernapas.

“Virus di udara, termasuk Covid-19 paling menular dan mudah menyebar,” demikian penjelasan dalam situs CDC.

Sebelum panduan itu diperbarui, CDC menyatakan, Covid-19 diperkirakan menyebar saat seseorang berada dalam jarak dekat dengan orang lain, sekitar dua meter.

CDC juga menyebutkan, Covid-19 bisa menyebar lewat tetesan pernapasan saat seseorang yang terinfeksi virus berbicara dan mengalami batuk atau bersin.

Penjelasan di laman tersebut diperbarui pada Jumat (18/9/2020).

Covid-19 menyebar lewat tetesan pernapasan atau partikel kecil seperti aerosol yang dihasilkan saat seseorang yang terinfeksi virus batuk, bersin, bernyanyi, berbicara, atau bernapas.”

Partikel tersebut dapat memicu infeksi ketika terhirup oleh hidung, mulut, saluran udara, dan paru-paru.

“Ini dianggap sebagai cara utama penyebaran virus,” demikian penjelasan yang tertulis.

Laman CDC pun menambahkan, ada bukti tetesan pernapasan dan partikel bisa bertahan di udara dan terhirup orang lain, serta menyebar lebih dari jarak dua meter.

“Secara umum, ruangan tertutup tanpa ventilasi yang baik meningkatkan risiko ini.”

Dengan penjelasan itu, CDC lalu memperbarui pedoman untuk melindungi diri dan orang lain.

Sebelumnya, mereka menyarankan setiap orang agar menjaga jarak fisik sekitar dua meter, mencuci tangan, rutin membersihkan, dan mendisinfeksi permukaan, serta menggunakan masker saat berada di sekitar orang lain.

Saat ini, pembaruan pedoman menyebutkan agar setiap orang menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain apabila memungkinkan. 

Lalu, meminta orang untuk memakai masker serta membersihkan dan mendisinfeksi permukaan.

Selengkapnya