Prediksi Bill Gates & WHO Kapan Corona Berakhir di Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Warga dunia terus mempertanyakan kapan pandemi Covid-19 berakhir dan hidup normal. Bill Gates dan World Health Organization (WHO) mencoba memprediksinya.

Pendiri Microsoft Bill Gates virus Covid-19 berakhir dan hidup normal pada 2021. Ada dua hal yang mendasari prediksi ini. Yakni, vaksin corona sudah ditemukan dan corona yang tak mampu bertahan di bumi selamanya.

“Jika persetujuan vaksin akan datang di awal 2021 … maka pada musim panas mendatang AS akan mulai normal kembali. Dan, pada akhir tahun, aktivitas kita bisa dibilang normal,” ujarnya dikutip dari Fox News, Selasa (22/9/2020).

Ia pun menambahkan akhir terbaik kasus mungkin ada di 2022. Tapi ia tetap optimis di 2021 angkanya akan terus menurun signifikan.

Bagi WHO hidup normal akan terjadi pada 2022. Chief Scientist WHO Soumya Swaminathan mengatakan kendala yang dihadapi saat ini ketersediaan vaksin. Asosiasi vaksin yang mengumpulkan vaksin dan menyalurkannya ke negara-negara secara adil, Covax WHO, hanya bisa menyediakan ratusan juta hingga pertengahan tahun depan.

“Orang membayangkannya di bulan Januari Anda memiliki vaksin untuk seluruh dunia dan semuanya akan mulai kembali normal. Bukan begitu cara kerjanya,” katanya dikutip dari South China Morning Post.

Ia pun menilai, pertengahan 2021 adalah waktu yang realistis bagi vaksin siap pakai. Soalnya, awal 2021 adalah masa dunia melihat apakah uji coba yang dilakukan produsen vaksin sukses atau tidak.

“Semua uji coba yang sedang berlangsung, memiliki tindak lanjut selama setidaknya 12 bulan, jika tidak lebih lama,” katanya.

Produksi VaksinFoto: Produksi Vaksin dalam kondisi normal (Ist)

“Itu adalah waktu yang biasa Anda lihat untuk memastikan Anda tidak mengalami efek samping jangka panjang setelah beberapa minggu pertama.”

CEO Serum Institute of India Adar Poornawalla mengatakan Covid-19 bisa mengancam manusia hingga 2024. Masalahnya ketersediaan vaksin bagi seluruh warga dunia.

Adar Poornawalla mengatakan perusahaan farmasi belum meningkatkan kapasitas produksi untuk memvaksinasi penduduk dunia secara cepat. Ia menghitung jika vaksin Covid-19 butuh 2 dosis per orang dibutuhkan 15 miliar vaksin.

“Ini akan memakan waktu empat hingga lima tahun sampai semua orang di planet ini mendapat vaksin,” ujarnya kepada Financial Times.

Serum Institute of India merupakan salah satu pembuat vaksin terbesar di dunia, perusahaan memproduksi 1,5 miliar dosis vaksin per tahun untuk digunakan di lebih dari 170 negara guna melindungi penduduk dari penyakit menular seperti polio, campak, dan influenza.

9 Pedagang Positif Covid-19 dan 2 Meninggal, 2 Pasar di Pati Ditutup Total

Liputan6.com, Pati – Pasar Kayen dan Pasar Bulumanis, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ditutup total sementara. Sebab, di dua pasar tersebut diketahui terdapat sembilan orang pedagang terkonfirmasi positif Covid-19 dan dua orang meninggal dunia.

Bupati Pati, Haryanto mengatakan, kedua pasar ditutup selama tiga hari, yakni tanggal 19-21 September 2020. Selama itu, dilakukan sterilisasi dan disemprot disinfektan untuk mengantisipasi agar persebaran virus Corona di lingkungan pasar tidak semakin meluas.

“Pasar kami tutup sementara karena terdapat dua orang yang meninggal dunia. Mereka pedagang kecambah yang menempati los pasar,” ujar Haryanto saat ditemui sejumlah awak media, Minggu (20/9/2020).

Haryanto menyebut, dua orang pedagang yang meninggal berusia diatas 60 tahun. Berasal dari Pasar Kayen yang hasil swabnya belum keluar. Adanya hal itu, pihaknya juga melakukan penelusuran kontak erat ke keluarga dan kerabat dari kedua pedagang tersebut.

“Kami telah melakukan rapid test ke pedagang yang lainnya. Sebanyak 85 orang di rapid test, 20 di antaranya reaktif,” katanya

Lebih lanjut, Haryanto menyampaikan, dari 20 yang reaktif itu akan di tes swab hari Senin.

“Karena hotel Kencana penuh, mereka kami minta untuk isolasi mandiri dulu sambil menunggu perkembangan,” katanya.

20 Pedagang Reaktif

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati yang diwakili Kepala Bidang Pasar, BJ Ishrony menyampaikan, Pasar Bulumanis juga ditutup sebagai tindak lanjut adanya dua pedagang pasar Kayen yang meninggal dunia.

Ishrony membeberkan, 120 pedagang pasar Bulumanis telah mengikuti rapid test massal di UPTD Margoyoso I. Hasilnya, 20 pedagang reaktif rapid test dan setelah di test swab terdapat sembilan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Langkah cepat Pemkab itu menindaklanjuti adanya informasi seorang pedagang yang sakit. Diduga karena terpapar Covid-19,” kata Ishrony.

Diketahui, pada Selasa (1/9/2020) hingga Rabu (2/9/2020) lalu pasar Bulumanis juga telah ditutup karena adanya pedagang yang reaktif usai mengikuti rapid test massal.

Klaster Penyebaran Covid-19 Meluas di Pesantren Kendal

KENDAL, AYOSEMARANG.COM — Setelah ada klaster pusat perkantoran, pelayanan publik, pasar tradisional dan pertokoan kini klaster-klaster baru penularan covid-19 di Kendal meluas. Kini muncul klaster di pondok pesantren, rumah makan dan yang terkecil di lingkungan rumah tangga.

“Ini yang menjadikan angka positif covid 19 terus meningkat, ada klaster-klaster baru penularan covid. Mulai dari rumah makan, warung hingga pondok pesantren. Bahkan dilingkungan rumah tangga juga kini menjadi klaster baru,” jelas Sekda Kendal Moh Toha saat memberikan keterangan Senin (21/09/2020).

Sekda menjelaskan ada dua pondok pesantren di Kendal yang sudah menjadi klaster penyebaran, yakni pondok pesantren di wilayah Patean dan Kendal. 

“Bahkan di salah satu pesantren jumlah yang terpapar positif covid mencapai 14 orang. Kita akan meminta keterangan dari pengasuh pondok pesantren, apakan akan tetap melaksanakan pendidikan tatap muka atau menghentikan dan mengembalikan santri ke rumah masing-masing,” imbuhnya.

Penyebaran covid-19 di Kabupaten Kendal dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Bila dalam satu hari rata-rata 10 warga yang terpapar, tetapi sekarang meningkat menjadi 20 orang dalam satu hari yang dinyatakan positif.  

Toha menambahkan, perkembangan penyebaran korona di Kabupaten Kendal terus meningkat. Hingga kemarin jumlah yang terpapar korona 768 orang dan meninggal 47 orang. 

“Kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Jika dibuat persentase angkanya antara lima hingga enam persen,” tambahnya. 

Pemkab Kendal, lanjutnya, telah melaksanakan penegakan bagi warga yang abai menerapkan protokol kesehatan, seperti tidak menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Mereka yang melanggar diberi sanksi sosial seperti membersihkan sampah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya.

“Kami juga memberlakukan denda administrasi sebesar Rp20 ribu. Hal itu sesuai dengan Perbup Nomor 67 Tahun 2020,” terang Toha. 

Menurutnya, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, kesadaran warga dalam penerapan protokol kesehatan perlu ditingkatkan. Tempat-tempat yang bisa menimbulkan klaster baru penyebaran korona, seperti pasar yang beraktifitas tanpa menggunakan masker akan diperingatkan. 

“Kami berencana menaikkan denda minimal Rp50 ribu dan batas tertinggi sesuai Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2020. Kami akan memberlakukan penegasan jam malam. Sudah disepakati jam malam maksimal pukul 21.30,” tegasnya.

Tim gugus sendiri nantinya akan berubah menjadi satuan tugas berdasarkan surat edaran Mendagri, satuan tugas ini akan dibuat hingga tingkat desa. Untuk menekan angka positif covid pemerintah juga berencana melaksanakan penegasan jam malam, yang akan diatur surat edaran bupati. Jam malam nanti diberlakukan dengan maksimal warga keluar dan berkerumun di tempat umum hingga pukul 21.30 WIB

“Kita juga akan memberikan informasi kepada masyarakat terkait  jumlah kasus terpapar covid agar masyarakat tahu. Nantinya akan dipasang papan informasi disejumlah titik agar masyarakat tidak menyepelekan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Pemerintah Berencana Ubah Definisi Angka Kematian Akibat Covid-19

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah berupaya mengubah definisi angka kematian akibat Covid-19 menjadi hanya akibat virus Corona dan mencoret akibat penyakit penyerta. Soal penyempitan makna tersebut diungkap dalam penjelasan Kementerian Kesehatan pada laman Kemenkes.go.id pada Kamis 17 September 2020.

“Penurunan angka kematian harus kita definisikan dengan benar, meninggal karena Covid-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO,” kata Staf Ahli Kementerian Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Muhammad Subuh seperti dikutip dari Koran Tempo yang terbit hari ini, Senin 21 September 2020.

Ia mengatakan hal tersebut setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa di Gedung Grahadi pada Kamis 17 September 2020. Saat itu, Subur menjelaskan kedatangannya ke Surabaya untuk membantu daerah menekan laju kasus Covid-19. Saat ini ada 9 provinsi jadi fokus pemerintah untuk menekan kasus Covid-19. Ketika Tempo meminta konfirmasi ke Subuh soal penjelasan tersebut, ia belum menjawabnya.

Sebenarnya, wacana penyempitan penafsiran kematian Covid-19 ini mengemuka dalam rapat koordinasi penanganan pandemi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan kepala daerah di 9 provinsi. Di rapat itu, Khofifah meminta Kementerian kesehatan memperjelas hitung-hitungan angka kematian.

“Saya ingin memberikan acuan baku mengenai format penghitungan angka kematian. Apakah dihitung dengan Covid atau kematian dengan Covid,” katanya.

Khofifah mengelak ketika dimintai klarifikasi soal redefinisi tersebut. “Boleh tahu suratnya? Boleh tahu kopi suratnya,” katanya, Ahad 20 September.

Tulisan lengkapnya bisa dibaca di Koran Tempo hari ini.

WHO Tetapkan Protokol Uji Coba Obat Herbal Covid-19

Jakarta, CNN Indonesia — Organisasi Kesehatan Dunia mengesahkan protokol untuk menguji obat-obatan herbal Afrika sebagai pengobatan potensial untuk virus corona dan epidemi lainnya.

Hal ini menyusul adanya tawaran presiden Madagaskar untuk mempromosikan minuman berbasis artemisia, tanaman dengan khasiat yang terbukti dalam pengobatan malaria.

Artemisia disebut juga mugwort atau artemisinin. Mengutip Hello Sehat, komponen utama dari Artemisia annua adalah senyawa yang disebut artemisinin.

Artemisinin tersusun dari ikatan karbon, hidrogen, dan oksigen yang mampu berinteraksi dengan berbagai fungsi tubuh dan reaksi kimia di dalamnya. Atemisia ini disebut ampuh mengobati malaria , infeksi parasit, penyakit gusi, radang sendi, sampai risiko kanker.

Pada hari Sabtu, para ahli WHO dan dua organisasi lain “mengesahkan protokol untuk uji klinis pengobatan herbal fase III untuk Covid-19 serta piagam dan kerangka acuan untuk pembentukan data dan badan pemantauan keamanan untuk klinis pengobatan herbal. pengadilan, “kata sebuah pernyataan dikutip dari AFP.

“Uji klinis Tahap III sangat penting dalam menilai sepenuhnya keamanan dan kemanjuran produk medis baru,” katanya.

“Jika suatu produk obat tradisional ditemukan aman, berkhasiat dan terjamin kualitasnya, WHO akan merekomendasikan (itu) untuk manufaktur lokal skala besar yang dapat dilacak dengan cepat,” Prosper Tumusiime, direktur regional WHO.

Dia tidak merujuk secara spesifik pada minuman Madagaskar Covid-Organics, juga disebut CVO, yang Presiden Andry Rajoelina anggap sebagai obat untuk virus tersebut.

Telah didistribusikan secara luas di Madagaskar dan dijual ke beberapa negara lain, terutama di Afrika.

Pada bulan Mei, Direktur WHO Afrika Matshidiso Moeti mengatakan kepada media bahwa pemerintah Afrika telah berkomitmen pada tahun 2000 untuk menggunakan “terapi tradisional” melalui uji klinis yang sama seperti pengobatan lainnya.

“Saya dapat memahami kebutuhan, dorongan untuk menemukan sesuatu yang dapat membantu,” kata Moeti.

“Tapi kami sangat ingin mendorong proses ilmiah di mana pemerintah sendiri membuat komitmen.”

Sampai saat ini sudah banyak jenis obat-obatan herbal yang diklaim ampuh untuk menyembuhkan Covid-19. Hanya saja masih butuh penelitian dan pengujian lebih lanjut terkait hal ini. 

Disclaimer: penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam sebelum bisa ditetapkan sebagai obat untuk mengatasi infeksi corona. WHO dan kemenkes hingga saat ini belum merekomendasikan obat tertentu untuk penyembuhan Covid-19.

Forum Logistik Medik Online Pemenuhan Logistik di Fasyankes selama Bencana dan Pandemi

logistik reportaseH1

 

{tab title=”KAK” class=”green”}

Pengantar

            Penanganan COVID-19 merupakan hal baru bagi semua lini kesehatan, baik di manajerial seperti dinas kesehatan atau gugus tugas maupun di bidang pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun puskesmas. Sekarang ini penanganan COVID-19 tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit rujukan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menangani COVID-19. Melihat pengalaman rumah sakit yang bukan rujukan serta Puskesmas juga turut menerima dan melayani pasien COVID-19. Maka mau tidak mau semua lini sistem Kksehatan harus bergerak cepat untuk menilai kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi penanganan bencana/COVID-19. Kapasitas yang dimaksud dalam hal ini termasuk sistem komando, fasilitas, sumber daya, dan logistik.

            Instansi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang sudah memiliki tim atau satuan tugas untuk penanganan COVID-19 dapat langsung diaktifkan. Tim tersebut terbentuk dalam satu struktur organisasi sistem komando berbasis Incident Command System (ICS) yang mencakup komandan, bidang operasional, logistik, perencanaan dan keuangan/administrasi. Dalam struktur organisasi tersebut telah disertakan alur komunikasi antar bidang (internal) dan komunikasi eksternal. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana masing – masing bidang ini bisa memenuhi kebutuhan mereka selama bertugas? Bagaimana sistem kesehatan dapat menjamin kesinambungan pelayanan kesehatannya secara komprehensif yang dapat dicapai saat terjadi bencana. Dengan memahami sistem pengelolaan logistik yang dibutuhkan jika terjadi bencana, ini akan memudahkan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi situasi kedaruratan. Pengelolaan logistik yang baik di dinas kesehatan, rumah sakit maupun di puskesmas dapat memanfaatkan struktur yang ada dan komunikasi yang efektif antar seksi. Bagaimana seksi logistik dapat memenuhi kebutuhan seksi operasional melalui perencanaan yang optimal. Lebih jauh lagi bagaimana dinas kesehatan, rumah sakit maupun di puskesmas dapat melakukan identifikasi dan pemetaan sumber daya baik di dalam maupun di luar sistem menggunakan jejaring potensial, baik dari instansi pemerintah maupun non pemerintah seperti relawan dan lembaga swadaya masyarakat.

Instansi dan fasilitas kesehatan merupakan pintu masuk dalam penerimaan logistik dari luar daerah ke daerah terdampak bencana. Hal ini menyebabkan kebutuhan skema maupun strategi dalam pengelolaan logistik dalam institusi kesehatan tersebut sangat penting. Bagaimana penerimaan, pencatatan, dan distribusinya, serta quality control logistik di instansi dan fasilitas kesehatan menjadi dasar dari pengelolaan logistik tersebut. Selain itu manajemen relawan kesehatan maupun kader dalam membantu fasilitas kesehatan saat terjadi bencana sebagai salah satu sumber daya yang bisa berdaya guna juga menjadi salah satu kebutuhan pemenuhan bantuan terhadap respon bencana. Namun demikian, kondisi-kondisi dan permasalahan – permasalahan perlu didokumentasi dan dipetakan untuk dicari segera model intervensi terbaik dan jalan keluar jika ada permasalahan, situasi ini juga perlu dikomunikasikan dengan baik ke stakeholder di daerah, pemberdayaan masyarakat maupun nasional sehingga sumber daya dapat terdistribusi dengan baik dan permasalahan kesehatan dapat tertanggulangi. Dengan demikian, tidak hanya fasilitas kesehatan, tetapi stakeholder dan masyarakat dengan mudah mengetahui kapasitas dan kebutuhan layanan kesehatan yang dapat diberikan selama penanganan bencana maupun COVID-19.

           

Tujuan Workshop

Tujuan workshop ini untuk membahas dasar -dasar aspek logistik, alur identifikasi kebutuhan dan perencanaan sumber daya, prosedur standar apa saja yang diperlukan terkait pengelolaan logistik dan platform komunikasi informasi untuk memperlancar dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi permintaan kebutuhan logistik. Workshop ini bertujuan untuk menguatkan aspek logistik pada penanganan bencana atau COVID-19 di instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Output

  • Peserta memahami alur, tugas dan fungsi perencanaan kebutuhan dalam ICS,
  • Peserta memahami fungsi fungsi dasar logistik dalam ICS,
  • Peserta memahami bagaimana mengidentifikasi kebutuhan dan pasokan sumber daya di dalam dan sekitar fasilitas pelayanan kesehatan,
  • Peserta memahami prosedur standar apa saja yang diperlukan terkait pengelolaan logistik di instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Peserta dan Persyaratan

  • Kepala instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan,
  • Staf manajemen instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan,
  • Satgas COVID-19 di instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dari komandan/ketua, wakil, sekretaris dan ketua bidang – bidang dalam struktur tersebut

Waktu Pelaksanaan

Hari/Tanggal             : Rabu – Jumat / 2- 4 Desember 2020
Pukul                       : 10.00 – 12.00 WIB
Tempat                   : di tempat masing – masing peserta

PENDAFTARAN

Zoom Meeting    
Meeting ID 813 3962 0017
Security Passcode 439823
Invite Link
https://us02web.zoom.us/j/81339620017?pwd=VWwxR1o3YnJlS1g2UmgyR0RGU1Y3Zz09

 

Agenda Kegiatan

Pertemuan I

  1. Memahami tugas dan tanggung jawab pemenuhan kebutuhan logistik medis dalam struktur ICS pada bencana/COVID-19
  2. Memahami konsep dalam pengelolaan logistik medis di instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan pada saat bencana

 

Pertemuan II

  1. Memproyeksikan dan memastikan kebutuhan logistik medis dan alat pengaman diri di fasilitas kesehatan dengan standar yang tepat.
  2. Manajemen komunikasi saat respon bencana, pengelolaan relawan dan sumber daya logistik medis di fasilitas pelayanan kesehatan

 

Pertemuan III

  1. Perencanaan kebutuhan logistik medis di fasilitas kesehatan terintegrasi dengan rencana operasi sektor kesehatan
  2. Memahami platform dan jejaring koordinasi dan kolaborasi sumber daya di luar puskesmas (system Klaster Nasional) dan alur komunikasi permintaan kebutuhan sumber daya ke luar fasilitas kesehatan

Rundown Acara

Waktu Kegiatan/Materi Narasumber/Moderator
Pertemuan I : Rabu, 2 Desember 2020
10.00 – 10.10 Pembukaan

PKMK FK-KMK UGM

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

10.10 – 10.50

10.50 – 11.05

Materi: Logistik medis dalam struktur ICS pada bencana/covid-19

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes

Materi

11.05 – 11.45

11.45 – 12.00

Materi : Konsep dalam pengelolaan logistik medis di fasyankes saat bencana

Diskusi

dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

Materi

12.00 Penutupan PKMK FK-KMK UGM
Pertemuan II : Kamis, 3 Desember 2020
10.00 – 10.10 Pengantar

PKMK FK-KMK UGM

Moderator :

Happy R Pangaribuan, MPH

10.10 – 10.50

10.50 – 11.05

Materi: Proyeksi Kebutuhan Logistik Medik di Fasyankes

Diskusi

Sri Purwaningsih S.Kep, Ners, MSc

Materi

11.05 – 11.45

11.45 – 12.00

Materi : Manajemen Komunikasi saat Respon Bencana di Fasyankes

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

Materi Komunikasi

Contoh >>

 

12.00 Penutupan PKMK FK-KMK UGM
Pertemuan III : Jumat, 4 Desember 2020
10.00 – 10.10 Pengantar

PKMK FK-KMK UGM

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

10.10 – 10.50

10.50 – 11.05

Materi: Perencanaan Kebutuhan Logistik di Fasyankes

Diskusi

dr.Budi Sylvana,MARS – Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Materi

11.05 – 11.45

11.45 – 12.00

Materi : Platform dan jejaring koordinasi, kolaborasi sumber daya di luar puskesmas (Sistem Klaster Nasional)

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

Materi Platform

12.00 Penutupan PKMK FK-KMK UGM

 

Contact Person :

Kepesertaan    : Dewi Catur (0818263653)
Konten           : Happy R Pangaribuan (085358727172)

 

{tab title=”Reportase Hari 1″ class=”red”}

logistik reportaseH1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan materi Logistik medis dalam struktur ICS (kiri) dan Sesi Diskusi (kanan)”

Forum ini bertujuan untuk menguatkan aspek logistik pada penanganan bencana atau COVID-19 di instansi kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Pada pertemuan pertama mengulas bagaimana konsep dasar dalam logistik medik saat bencana melalui dua materi yaitu (1) Logistik medis dalam struktur ICS pada bencana/COVID-19 oleh dr. Bella Donna, M.Kes; (2) Konsep dalam pengelolaan logistik medis di fasyankes saat bencana oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK. peserta yang mengikuti forum ini melalui akun zoom meeting sekitar 50 orang.

dr. Bella menyampaikan dalam manajemen logistik ada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengawasan kegiatan dan monitoring. Logistik dalam struktur organisasi saat bencana yang berbasis Incident Command System atau sistem komando masuk dalam tim bencana, tim logistik dan manajemen. Selama ini bidang logistik hanya sekedar menunggu, misalnya saat terjadi bencana menunggu kedatangan obat, kedatangan relawan dan sebagainya. Orang yang di dalam logistik seharusnya mampu berpikir bagaimana menreka bisa mendapatkan apa saja yang dibutuhkan tim operasi mulai dari APD, alat, obat, transportasi dan lain – lain. Ada dokumen logistik yang perlu disiapkan, bagaimana melakukan semua perkerjaan dan menuliskannya dalam sebuah dokumen. Sehingga setelah fase respon, bisa diketahui hal – hal apa yang perlu diperbaiki. Dokumen tersebut adalah logistik preparedness, rencana kontijensi dan ceklist.

Selanjutnya konsep dasar dalam logistik medik saat bencana diulas lebih jelas lagi oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK. Mengawali materi, dr Sulanto mengutip satu quote yang menyatakan perang itu bisa menang atau kalah sangat tergantung dengan tim yang menyiapkan logistik dari perang itu. Artinya banyak yang perlu disiapkan oleh bidang logistik. Kesiapan logistik medik ini ada dalam setiap fase bencana yaitu logistik medik pada fase pra bencana, fase respon dan pasca bencana. Penyimpanan logistik medik bencana tergantung pada fase bencana, tipe bencana, dampak bencana, lokasi bencana, komunikasi dan transportasi. Dalam mempersiapkan logitik medik pada saat respon, penting terlebih dahulu diketahui data informasi situasi di lokasi bencana, informasi ini didapatkan dari tim surveilans dan tim RHA. Dalam menyiapkan logistik medik untuk operasional (pelayanan) harus berdasarkan pedoman pengobatan. Dalam pengiriman distribusi ini ada dua sistem yaitu pull dan push. Fakta yang terjadi di lapangan, biasanya para donator memberikan bantuan langsung ke lokasi tanpa ada koordinasi dan informasi ke petugas logistik (koordinator logistik medik). Bantuan harus melalui koordinator dan dari koorditaor baru dikirimkan ke lokasi sesuai dengan kebutuhan. Dalam donasi juga ada aturannya harus memenuhi standar kualitas. Jika ada barang yang datang tidak sesuai standar petugas logistik harus berani menolak.

Diskusi:

Sesi diskusi membahas beberapa hal diantaranya, bagaimana membangun kerjasama atau MoU dengan institusi yang membidangi perbekalan dan pendistribusian logistik kesehatan; bagaimana mengontrol; bantuan logistik yang datang dan siapa sebenarnya yang memiliki power dalam penanganan bencana di daerah. Selanjutnya peserta dari Apoteker Tanggap Bencana (ATB) juga menyampaikan terkait dengan pengelolaan perbekalan farmasi, ATB akan terlibat. Peran bidang logistik dengan menggunakan sistem komando akan sangat menolong manajemen pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian logistik kesehatan. Dalam logistik ini banyak orang memikirkan hanya barang. Sementara penyediaan sumber daya manusia juga meruoakan salah satu pemenuhan logistik dalam sumber daya manusia. Pada kasus bencana banjir di Tebing Tinggi, banjir ini sudah sering terjadi, seharusnya sudah ada persiapan atau perencanaan jika terjadi lagi. BPBD merupakan koordinator yang memiliki kewenangan dalam penanganan bencana di daerah. BPBD ada dua yaitu BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota. Jika Tebing Tinggi memiliki BPBD Kota maka BPBD tersebut bekerjasama dengan kepolisian dan TNI untuk menyiapkan perencanaan penanganan banjir seperti mengatur alur akses kendaraan, pengadaan logistik dan manajemen relawan.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

Arsip Video

{tab title=”Reportase Hari 2″ class=”blue”}

logistikh21

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan materi oleh Ibu Ipung mengenai Proyeksi Kebutuhan Logistik Medik di Fasilitas Layanan Kesehatan”

Masih berlangsung forum logistik medik hari kedua. Materi mengenai kebutuhan logistik dan manajemen komunikasi disampaikan secara apik dan jelas oleh kedua pemateri, Sri Purwaningsih, S.Kep, Ners, M.Sc dan Apt. Gde Yulian Yogaditha, M.Epid. Kedua pemateri yang memang sudah berkali – kali berkolaborasi dalam memberikan pelatihan manajemen logistik dalam kerangka Incident Command System (ICS) selama pandemi COVID-19 ini memberikan paparan dan diskusi yang terintegrasi dan saling menguatkan, termasuk hubungan dengan paparan hari pertama dan ketiga.

Sri Purwaningsih yang dikenal dengan sapaan Ipung sangat menekankan bahwa cuci tangan adalah pilar utama Pengendalian Penyakit Infeksi (PPI). Ipung menekankan pendekatan kedisiplinan cuci tangan Di semua pembagian zona untuk penanganan COVID-19 di rumah sakit. Menariknya, bahwa upaya perhitungan logistik erat hubungannya dengan kemampuan melakukan analisis risiko, dan tentu untuk setiap rumah sakit berbeda. Tidak hanya itu, keberhasilan kesiapsiagaan logistik di semua fase bencana/ pandemi saat ini juga berkaitan dengan kejelasan sistem komando yang ada di setiap rumah sakit. Ibu Ipung juga mencontohkan langsung perhitungan Excel untuk logistik COVID-19 di rumah sakit per ruangan per shift yang dibutuhkan.

Sesi diskusi ini tidak kalah menariknya. Moderator bertanya apakah perhitungan logistik ini bisa digunakan untuk perkiraan kebutuhan berbulan – bulan? Tentu jawab Ipung. Meski tetap harus dimonitoring hari per harinya, terutama situasi dan jumlah pasien. Namun, berdasarkan perkiraan kegiatan/tindakan pasien per shift di setiap ruangan maka sudah dapat ditentukan jumlah logistik (APD, jumlah SDM dan sebagainya) hingga beberapa waktu yang sudah ditentukan. Madelina juga menanyakan mengenai kemampuan analisis risiko oleh tim yang disiapkan oleh rumah sakit, bagaimana jika kemampuan analisis risikonya rendah? Ipung langsung merujuk pada PMK 27, apa yang sudah tertulis di ana dan jika diterapkan sesuai dengan kondisi rumah sakit, upaya persiapan logistik berbasis analisis risiko ini akan bisa dilakukan. Strategi tim logistik dan PPI memang tidak hanya satu, jika dimungkinkan menggunakan power komandan/ sistem komando yang ada di hospital disaster plan, sehingga penentuan dan rencana analisis risiko dan PPI menghadapi covid ini menjadi tanggungjawab semua pihak di rumah sakit.

logistikh2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan materi oleh Bapa Gde Yulian mengenai Manajemen Komunikasi saat Respon Bencana di Fasilitas Layanan Kesehatan”

Gde Yulian menjelaskan kaitan komunikasi risiko dan krisis terhadap kebutuhan logistik. semakin jelas informasi yang dihasilkan dari manajemen komunikasi risiko dan krisis yang efektif maka semakin jelas pula perhitungan kebutuhan logistik. Mengambil contoh bantuan logistik obat yang tidak tepat sasaran pada situasi bencana yang pernah terjadi, Gde Yulian menekankan pentingnya alur data informasi dari fasyankes hingga dinas kesehatan. Hal ini sangat penting agar para donatur tahu dan benar – benar menyiapkan bantuan logistik sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak. Model komunikasi krisis pandemi COVID-19 dimana situasi kasus tinggi sedangkan kesadaran masyarakat rendah, maka dapat menerapkan penyampaian informasi yang sederhana tetap berbasis data tetapi menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh setiap level pengetahuan masyarakat. Sederhana tetapi tetang menggugah kesadaran untuk patuh pada protokol kesehatan.

Diskusi dari moderator, Yuditha dan dr. Hendro sangat menarik. Berawal dari kasus yang disampaikan oleh Yuditha mengenai banyaknya rumah sakit yang mengurangi layanan pasien umum, dan puskesmas yang tutup pelayanan akibat berkurangnya SDM kesehatan. Apa yang keliru dari komunikasi koordinasi penanganan COVID-19 seperti ini? tanyanya. Dijawab oleh Gde Yulian bahwa evaluasi proses perlu dilakukan untuk menemukan sumber masalahnya seperti yang dilakukan oleh WHO dalam inter action review penanganan COVID-19 Indonesia dan beberapa negara. Sehingga rekomendasi dari temuan ini akan menjadi perbaikan. Bisa jadi masalahnya ada pada protap yang kurang jelas, pelaporan yang bermasalah, ketabuan dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, logistik memang tidak hanya berbicara produk tetapi juga SDM dan bahan makanan misalnya. SDM kesehatan tentunya menjadi logistik yang sangat dibutuhkan pada kasus Yudhita. Ditimpali oleh dr Hendro dari BPBD Cimahi bahwa salah satu tantangannya adalah penerapan sistem komando yang masih lemah antar instansi dalam penanganan COVID-19 , dan masih menganggap logistik hanya bagian kecil.

Sekaligus menutup rangkaian hari kedua, diskusi di atas juga diperkuat oleh pernyataan dr. Bella Donna bahwa tim logistik dan logistik itu sendiri bukan sesuatu yang kecil yang hanya dibebankan pada petugas farmasi dan segelintir orang di dalam sebuah institusi atau fasilitas kesehatan. Logistik merupakan hal yang esensial yang perencanaan dan tindakannya harus dilakukan dengan penuh perhitungan, pertimbangan dan didukung oleh seluruh manajemen atau komando.

Reporter : Madelina Ariani

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM

Arsip Video

{tab title=”Reportase Hari 3″ class=”grey”}

logistik h4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Perencanaan Kebutuhan Logistik di Fasyankes”

Pada sesi hari ini forum logistik medik fokus membahas bagaimana menyusun perencanaan dalam logistik medik saat becana dan krisis kesehatan. Materi pertama disampaikan oleh dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M tentang Perencanaan Kebutuhan Logistik di Fasyankes. Pada paparannya Ina menyampaikan dalam melakukan perencanaan kebutuhan logistik perlu dilakukan kajian kebutuhan secara cepat, bagaimana ketersediaan logistik, SDM, fasyankes, fasilitas infrastruktur dan sebagainya. Hasil kajian kebutuhan tersebut kemudian dibandingkan dengan ketersediaan untuk dinilai kesenjangannya. Perencanaan harus mampu berpikir bagaimana mengatasi kondisi – kondisi yang tidak ideal (kondisi krisis kesehatan). Sumber – sumber pendanaan baik dari APBD, APBN maupun swasta dan masyarakat merupakan salah satu informasi yang dibutuhkan untuk pemenuhan logistik medik.

Selanjutnya pemaparan materi 2 tentang Platform Dan Jejaring Koordinasi, Kolaborasi Sumber Daya di Luar Puskesmas (Sistem Klaster Nasional) oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt. Potensi bantuan bisa dari dalam, lingkungan sekitar fasyankes, Pemda bahkan dari luar negeri. Koordinasi, kolaborasi dan integrasi sumber daya kesehatan dikoordinir oleh dinas kesehatan. Saat pandemi, banyak referensi literatur internasional yang dapat digunakan untuk membantu perhitungan kebutuhan APD dan logistik medik lain. Berita Acara Serah Terima (BAST) ini penting untuk disiapkan saat menerima bantuan. BAST ini harus dikuantifikasi dalam bentuk nominal (rupiah).

Pada sesi diskusi peserta menanyakan terkait dengan peralatan yang disiapkan oleh tim relawan saat ditugaskan ke lokasi, siapa yang menyiapkan peralatan ini. Ina menyampaikan bahwa ini ada dalam dasar – dasar manajemen bencana. Dalam penanganan bencana ada level kebencanaan yaitu level kab/ kota, provinsi dan nasional. Bencana merupakan tanggung jawab bersama antara pusat dan daerah. Dalam pengiriman tim ini, yang ideal adalah sudah menyiapakan tim sebelum terjadi bencana. Sehingga bisa disiapkan semua peralatan sebelum diberangkatkan. Siapa yang menyiapkan tentu adalah daerah, karena daerah yang bertanggungjawab. Kabupaten/kota memetakan tim di daerahnya, melengkapai perlengkapan sesuai standar. Sekarang yang sedang dikembangkan adalah Emergency Medical Team (EMT), sehingga EMT ini bisa mandiri, mandiri dalam hal menyiapkan peralatan sesuai standar. Karena di lapangan pasti kesulitan, jangan sampai setelah di lapangan malah membebani daerah. Ada panduan klaster kesehatan pada kondisi bencana. Ditekankan lagi oleh dr. Bella Donna, ketika tim berangkat bukan serta merta hanya berangkat. Tapi sudah mengetahui logistik apa yang harus disiapkan.

Peserta juga menanyakan apakah sudah ada ketentuan Standar Bahan dan Pembuatan APD yang dapat digunakan, baik yang dibuat secara fabrikasi maupun industri rumah tangga. Ina mengirimkan beberapa link Panduan APD yang dikeluarkan oleh yankes dan gugus tugas. Sudah ada standar – standar sebagai panduan dan bagaimana standar – standar ini dapat disosialisasikan. Pihak akademisi berperan mensosialisasikan semua pendoman, kebijakan ter – update. Fasyankes membutuhkan informasi ini, karena fasyankes sibuk melakukan pelayanan. Jangan sampai fasyankes termakan oleh berita hoax.

Penutupan

Secara keseluruhan rangkaian forum logistik medik ini berjalan dengan baik. Peserta menyampaikan bahwa materi yang didapat sangat bermanfaat bagi pekerjaan mereka. Selanjutnya forum logitik ini akan diselenggarakan lagi ditingkat nasional dan akan melibatkan institusi terkait. Baik dari Lembaga pemerintah, non pemerintah, dan akademisi. Harapannya Forum Logistik Medik ini dapat meningkatkan manajemen logistik medik dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan mulai dari perencanaan sampai dengan implementasi.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

Arsip Video

 

{/tabs}

Hotel Bintang 3 ke Bawah Jadi RS Corona

Jakarta – Pemerintah memastikan tidak ada keterbatasan kapasitas kesehatan untuk penanganan COVID-19. Kapasitas tempat tidur (bed) di rumah sakit akan terus ditambah karena dana yang dimiliki diklaim cukup.

“Pemerintah menegaskan bahwa tidak ada kapasitas kesehatan yang terbatas. Pemerintah sudah mempunyai dana yang cukup dan pemerintah akan terus menambah kapasitas bed sesuai dengan kebutuhan dan meyakinkan bahwa seluruh daerah termasuk DKI Jakarta kapasitas pelayanan kesehatan akan terus dimaksimalkan oleh pemerintah,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers yang disiarkan akun YouTube BNPB, Kamis (10/9/2020).

Selain tempat tidur, rumah sakit juga akan ditambah kapasitas jumlahnya. Hotel bintang 2 dan 3 akan dimanfaatkan menjadi rumah sakit yang menangani pasien Corona. Tambahan ruang isolasi mandiri juga akan disiapkan di Wisma Atlet Kemayoran.

“Jadi peningkatan rumah sakit dan fasilitas kesehatan itu juga akan terus menambah fasilitas di hotel, termasuk memanfaatkan hotel bintang 2 dan 3 seperti yang dicontohkan di Sulawesi Selatan dan juga mempersiapkan ruang isolasi mandiri di Wisma Atlet di mana Wisma Atlet juga mempersiapkan baik di tower 5-6 maupun yang khusus dari pekerja dari luar negeri itu adalah tower 7 dan 8,” ujarnya.

Sayangnya, Airlangga tidak menyebut berapa jumlah hotel yang akan dijadikan rumah sakit tambahan. Namun, dengan pemanfaatan itu diharapkan masyarakat dapat terfasilitasi dengan baik. Pemerintah juga menjamin pasokan obat-obatan tersedia. Klik halaman selanjutnya.

Airlangga mengatakan pemerintah sudah memproduksi obat antivirus untuk pasien yang terpapar COVID-19, baik yang di rumah sakit maupun yang menjalani isolasi mandiri.

“Terkait dengan ketersediaan obat-obatan baik untuk rumah sakit maupun untuk pasien isolasi mandiri, pemerintah sudah memproduksi obat antivirus,” ucapnya.

Dijelaskan obat tersebut antara lain seperti tamiflu atau oseltamivir, hingga favipiravir yang diproduksi melalui PT Bio Farma (Persero) bersama PT Kimia Farma Tbk yang jumlahnya dikatakan hampir 480.000.

“Seperti tamiflu atau oseltamivir itu minggu depan belum bertambah hampir 480.000. Kemudian juga yang terkait dengan favipiravir ini kebetulan patennnya sudah lepas sehingga juga akan diproduksi oleh Kimia Farma,” jelasnya.

DKI PSBB Total, Satgas Covid-19: Kita Harus Terima Kenyataan

Jakarta, CNBC Indonesia – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengomentari rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total di DKI Jakarta mulai Senin (14/9/2020). Menurut Wiku, penerapan PSBB total tidak terlepas dari peningkatan kasus konfirmasi positif Covid-19 selama pemberlakuan PSBB transisi.

Dalam keterangan pers dari Kantor Presiden, Jakarta, dia mengungkapkan, sebelum PSBB, kasus konfirmasi positif Covid-19 di ibu kota relatif masih rendah. Hal itu terlihat pada PSBB tahap I, II, dan II.

“Akan tetapi, ketika (PSBB) transisi kasusnya cenderung meningkat dari waktu ke waktu,” kata Wiku, Kamis (10/9/2020).

Ia menambahkan, selama lima pekan terakhir, lima kota di Jakarta tetap berada di zona merah. Hal itu menunjukkan kondisi dengan tingkat penularan yang tinggi sehingga diperlukan pengetatan.

“Dan kalau kita lihat dari kondisi tersebut mari kita jadikan ini adalah sarana pembelajaran kita bersama dan pembatasan aktivitas ini sudah seharusnya kita lakukan bersama sejak awal supaya bisa menekan kasus positif ini dan juga kematian dan tapi ternyata kondisi itu belum sempurna terjadi di beberapa waktu yang lalu,” kata Wiku.

“Dan kita harus menerima kenyataan ini dan kita harus mundur satu langkah untuk bisa melangkah kembali ke depan dengan lebih baik dalam kehidupan yang lebih normal. Maka dari itu mari kita bangun kedisplinan bersama jika kondisi ini tidak ingin terulang kembali.”

Satgas: 7 RS Rujukan Covid-19 di DKI Jakarta Sudah Penuh

JAKARTA, KOMPAS.com – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, semua tempat tidur di tujuh rumah sakit rujukan Covid-19 DKI Jakarta sudah terisi penuh. Data ini tercatat hingga 8 September 2020.

“7 Dari 67 rumah sakit rujukan Covid-19 penuh 100 persen. ICU dan isolasinya penuh 100 persen,” kata Wiku dalam konferensi pers dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Sementara itu, tempat tidur ruang isolasi maupun ICU di 46 rumah sakit rumah sakit rujukan Covid-19 terisi di atas 60 persen. Sisanya, yakni 14 rumah sakit terisi di bawah 60 persen.

Untuk mengantisipasi penuhnya rumah sakit rujukan Covid-19 di ibu kota, pemerintah mempersiapkan ribuan tempat tidur di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran.

Namun, pasien yang didistribusikan ke RSD Wisma Atlet merupakan pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan ringan.  

“Jumlah kamar yang ada (di RS Wisma Atlet) pada saat ini 2.700 tempat tidur dan terisi 1.600. Jadi masih ada 1.100 tempat tidur untuk perawatan pasien dengan status sedang dan ringan,” ujar dia.

Sampai hari ini, kasus Covid-19 di DKI Jakarta mencapai 50.671 orang. Dari jumlah tersebut, 38.228 sembuh, 1.351 meninggal dunia dan 11.092 orang sedang dirawat atau isolasi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk menarik rem darurat dan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Anies menyebutkan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, yakni ketersediaan tempat tidur rumah sakit yang hampir penuh dan tingkat kematian yang tinggi. Dengan demikian, penerapan PSBB transisi di Jakarta pun dicabut dan PSBB kembali diterapkan pada 14 September.

“Tidak ada banyak pilihan bagi Jakarta, kecuali untuk menarik rem darurat sesegera mungkin,” ujar Anies dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Pemprov DKI, Rabu (9/9/2020).

Peta Sebaran Kasus Baru Covid-19 hingga Kamis 10 September 2020 Pagi Ini, Data Rinci di 34 Provinsi

TRIBUNJOGJA.COM – Berikut update data terkini peta sebaran kasus virus corona di Indonesia, hingga Kamis (10/9/2020) pagi ini.

Pemerintah melalui kementrian kesehatan dan BNPB merilis data sebaran peta penyebaran virus corona.

Data terakhir yang dilansir dari BPNB menyatakan kasus terkonfirmasi positif corona telah mencapai angka 203.342 pasien.

Jumlah ini mengalami penambahan sebanyak 3.307 kasus, bila dibanding data terakhir pada hari sebelumnya.

Di sisi lain, kabar gembiranya adalah angka kesembuhan pasien covid-19 di Indonesia juga dilaporkan terus bertambah.

Tercatat, hingga angka kesembuhan telah mencapai 145.200 orang.

Sementara untuk korban meninggal terkonfirmasi positif virus corona adalah sebesar 8.336 orang. 

Berikut data penyebaran kasus Covid-19 di 34 provinsi Indonesia selengkapnya, berdasarkan laporan data dari akun Twitter @BNPB_Indonesia :

1. DKI Jakarta
Kasus Baru: 1.004 orang
Sembuh: 37.224 orang
Meninggal Dunia: 1.334 orang
Terkonfirmasi: 49.397 orang

2. Jawa Timur
Kasus Baru: 370 orang
Sembuh: 29.071 orang
Meninggal Dunia: 2.646 orang
Terkonfirmasi: 36.712 orang

3. Jawa Tengah
Kasus Baru: 281 orang
Sembuh: 10.491 orang
Meninggal Dunia: 1.106 orang
Terkonfirmasi: 16.133 orang

4. Sulawesi Selatan
Kasus Baru: 118 orang
Sembuh: 9.886 orang
Meninggal Dunia: 374 orang
Terkonfirmasi: 12.864 orang

5. Jawa Barat
Kasus Baru: 288 orang
Sembuh: 6.766 orang
Meninggal Dunia: 286 orang
Terkonfirmasi: 13.333 orang

6. Kalimantan Selatan
Kasus Baru: 98 orang
Sembuh: 6.996 orang
Meninggal Dunia: 374 orang
Terkonfirmasi: 9.001 orang

7. Sumatera Utara
Kasus Baru: 132 orang
Sembuh: 4.824 orang
Meninggal Dunia: 343 orang
Terkonfirmasi: 7.964 orang

8. Bali
Kasus Baru: 174 orang
Sembuh: 5.322 orang
Meninggal Dunia: 142 orang
Terkonfirmasi: 6.723 orang

9. Kalimantan Timur
Kasus Baru: 80 orang
Sembuh: 3.114 orang
Meninggal Dunia: 227 orang
Terkonfirmasi: 5.357 orang

10. Sumatera Selatan
Kasus Baru: 38 orang
Sembuh: 3.467 orang
Meninggal Dunia: 288 orang
Terkonfirmasi: 4.824 orang

11. Papua
Kasus baru: – orang
Sembuh: 3.310 orang
Meninggal Dunia: 50 orang
Terkonfirmasi: 4.162 orang

12. Sulawesi Utara
Kasus Baru: 22 orang
Sembuh: 3.054 orang
Meninggal Dunia: 160 orang
Terkonfirmasi: 4.046 orang

selengkapnya