Angkatan IV – Free Online Workshop Komunikasi dalam Incident Command System (ICS) (2)

kemenkes

kemenkes     https://pbs.twimg.com/profile_images/499456108344266754/8ddlt7rY_400x400.jpeg

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM

Badan PPSDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan PKMK FK-KMK UGM

Free Online Workshop

Komunikasi dalam Incident Command System (ICS)

Penanganan COVID-19 di Rumah Sakit

Senin dan Rabu, 18 dan 20 Mei 2020


Pengantar

Konsep penanganan pandemic COVID-19 ini pada dasarnya sama dengan konsep penanganan bencana. Perbedaannya hanya ada di prinsip dasar penanganan karena perbedaan sifat agen kausatifnya. Sudah saatnya rumah sakit mengaktifkan ICS yang sudah dibentuk untuk menangani pandemic COVID-19. ICS yang dibentuk dapat dikatakan sudah berjalan jika sudah memenuhi 3 fungsi yaitu what doing what (pembagian tugas), communication (alur komunikasi), dan what if (rencana cadangan).

Permasalahan yang sering dihadapi oleh rumah sakit adalah sudah memiliki SK satuan tugas penanganan COVID-19 beserta tugas dan fungsinya, namun belum memiliki alur komunikasi internal dan alur komunikasi eksternal. Misalnya bidang logistik sudah masuk dalam ICS dan sudah memiliki tugas fungsi yang jelas, namun ketika ada masalah kekurangan APD, bidang logistik tidak mengetahui kemana harus berkoordinasi, apakah langsung meminta ke pihak eksternal atau melalui komandan internal dulu. Alur komunikasi ini penting untuk dipahami oleh tim ICS untuk memudahkan koordinasi secara sistematis antar bidang (internal) dan diluar tim (eksternal). Dengan demikian semua informasi kebutuhan dan pelaporan kegiatan bisa terpenuhi dengan baik.

Apa yang terjadi saat ini dalam komunikasi di wabah?

Cara berkomunikasi yang saat ini sangat popular saat ini adalah WAG. Kemudahan dan kecepatan WAG dapat diandalkan. Akan tetapi WAG mempunyai masalah karena dirancang untuk komunikasi social, bukan untuk alat komunikasi mengelola bencana yang sangat kompleks. Ada masalah terjadinya penimbunan, sehingga harus melakukan Scrolling ke atas untuk mencari berita atau kejadian.

Dalam konteks keterbatasan WAG, ada system baru yang disebit Slack yang dirancang mempunyai kanal-kanal untuk diskusi. Adanya kanal-kanal tersebut dapat mendukung komunikasi di dalam sebuah system manajemen yang kompleks. Diharapkan akan ada perbaikan komunikasi dengan menggunakan Slack dalam manajemen Wabah Covid-19 ini.

Tujuan Workshop

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan akan mengadakan Workshop Komunikasi dalam ICS Penanganan COVID-19 di rumah sakit, workshop ini akan membahas dasar-dasar komunikasi dalam ICS, alur komunikasi, SOP komunikasi dan alat/platform komunikasi berbasis online (aplikasi Slack). Dalam kondisi bencana, rapat koordinasi klaster kesehatan biasanya dilakukan setiap hari dimana dalam rapat koordinasi tersebut semua sub-klaster kesehatan menyampaikan laporan kegiatan dan list kebutuhan melalui pertemuan langsung. Namun dalam kondisi sekarang ini, dengan Pandemik COVID-19 yang memiliki karakter penularan sangat tinggi, maka alat komunikasi yang digunakan untuk koordinasi harus berbasis online. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan adalah aplikasi Slack.

Workshop ini bertujuan untuk memudahkan dan memperbaiki sistem komunikasi dalam ICS Penanganan COBID-19 di rumah sakit

 

Output

  • Peserta memahami alur komunikasi dalam ICS
  • Peserta memiliki SOP komunikasi internal dan komunikasi eksternal
  • Peserta memiliki alat komunikasi ICS berbasis online (aplikasi Slack)

 

Peserta dan Persyaratan

Peserta workshop adalah peserta yang telah mengikuti workshop Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System. Diikuti oleh 3 sampai yang terdiri dari :

  • Komandan ICS RS dalam Penanganan COVID-19
  • Staff lainnya yang tergabung dalam ICS RS dalam Penanganan COVID-19

 

Waktu Pelaksanaan

Hari/Tanggal : Senin dan Rabu, 18 dan 20 Mei 2020

Pukul            : 09.00 – 10.30 WIB

 

 

Agenda Kegiatan

Persiapan Workshop

  1. Seluruh peserta dipastikan masuk ke grup WA Komunikasi dalam ICS Angkatan IV
  2. Seluruh peserta mengerjakan survei pendahuluan sebagai berikut:
    1. Survei Awal KLIK DISINI
    2. Kirkpatrick  silahkan KLIK DISINI
  3. Seluruh rumah sakit yang terdaftar mengikuti workshop akan diberikan sertifikat sebagai peserta workshop (participant certificate) dan rumah sakit juga akan mendapatkan sertifikat telah menyelesaikan workshop (accomplishment certificate) dengan memenuhi syarat dibawah ini:
    1. mengirimkan survei
    2. mengerjakan Kirkpatrick evaluation sebelum dan sesudah workshop
    3. kehadiran online diskusi
    4. pengerjakan penugasan 1

 

{tab title=”Pertemuan 1″ class=”danger”}

Komunikasi dalam ICS dan Alat Komunikasi Menggunakan Aplikasi Slack

Tujuan Pembelajaran Umum : Memahami Alur Komunikasi dalam ICS

Narasumber:

1. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
2. dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD

Fasilitator : Happy R Pangaribuan SKM, MPH

TPK
(Tujuan Pembelajaran Khusus)

Pokok Bahasan dan

Sub Pokok Bahasan

Metode

Memahami dasar – dasar komunikasi

Memahami dasar – dasar komunikasi :

  1. Prinsip
  2. Elemen
  3. Teknik komunikasi

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan

Memahami posisi komunikasi dalam struktur ICS

Memahami posisi komunikasi dalam struktur ICS struktur :

  1. Struktur Organisasi
  2. Tugas dan tanggung jawab

Memahami juklak yang dibutuhkan dalam komunikasi

Memahami juklak yang dibutuhkan dalam komunikasi :

  1. SOP komunikasi internal
  2. SOP komunikasi eksternal
Memahami Alat Komunikasi menggunakan aplikasi Slack

Memahami Alat Komunikasi menggunakan aplikasi Slack

  1. Pengenalan Aplikasi Slack
  2. Langkah – Langkah Pembuatan dan Penggunaan Slack
 

 

 

MATERI

pdf Pengantar-Software-Komunikasi-ICS_LT

pdf Pertemuan I – Implementasi Komunikasi dalam ICS (ver.2)

pdf Pertemuan I – Tutorial Slack V.3

 

REFERENSI 

pdf Hawkins, Dan – Communication in ICS

pdf ICS_COMU_Implement Best Practices Guide

pdf NIMS Communication and Information Management

pdf NIMS, Component II page 23 – Communication and Information Mgmt

pdf Nimsgen, Craig – Role of the Communications in ICS

pdf WHO – Communicating Risk in PHE

pdf WHO WPRO, Risk-Communication-for-HCF (ID.ver10mar)

 


PENUGASAN


report icon Penugasan 1

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

 asdf

{slider title =”Reportase” class=”icon”}

h1 1 komunkasi angk 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan Materi Implementasi Komunikasi dalam ICS”

Rangkaian Workshop Online Aktivasi Hospital Disaster Plan dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 memasuki minggu II. Pada minggu ini, peserta mengikuti sesi Workshop Komunikasi dalam Incident Command System Penanganan COVID-19 di Rumah Sakit. Workshop ini bertujuan untuk memudahkan dan memperbaiki sistem komunikasi dalam ICS Penanganan Covid-19 di rumah sakit. Peserta diharapkan mampu memahami dasar – dasar komunikasi, posisi komunikasi dalam struktur ICS, juklak yang dibutuhkan dalam komunikasi dan penggunaan alat komunikasi menggunakan aplikasi Slack.

Narasumber pada hari ini adalah Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt dan dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD dari PKMK FK – KMK UGM dengan fasilitator Happy R Pangaribuan SKM, MPH. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt menyampaikan materi Implementasi Komunikasi dalam ICS (ver.2). Narasumber kedua, dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD menjelaskan materi Tutorial Slack V.3.

Sebelum pemaparan materi, moderator menyampaikan hasil dari penugasan minggu sebelumnya bahwa RS sudah mempunyai struktur organisasi berdasarkan ICS dimana sudah ada pembagian tugas dan planning jika terjadi lonjakan apa yang akan dilakukan RS, bagaimana alur komunikasinya dan sarana komunikasi yang digunakan. Materi komunikasi ini diantarkan terlebih dahulu oleh Prof. Laksono Trisnantoro dari PKMK FK – KMK UGM yang menyebutkan bahwa survei awal 100% RS komunikasinya menggunakan WhatsApp Group (WAG) dan belum ada yang menggunakan aplikasi Slack. WA lebih populer itu dikarenakan kestabilan koneksi, adanya notifikasi, PIN – nya menggunakan nomor ponsel, adanya tanda pesan terkirim, sudah diterima dan sudah dibaca serta adanya fitur yang menarik. Selain itu Prof. Laksono menyebutkan kelebihan menggunakan WA diantaranya terintegrasi dalam sistem, broadcast kirim pesan bisa ke banyak pengguna dan memiliki fitur “Tarik pesan”. Namun WAG bisa mengakibatkan pesan penting yang disampaikan tertimbun sehingga harus scroll up agar tidak tertinggal informasi dan bisa juga terjadi “ngeplang” atau membelokkan arah pembicaraan diskusi. Sedangkan dalam ICS diperlukan sistem komunikasi untuk memastikan sistem manajemen dalam COVID-19 dapat dicapai, memaksimalkan pertanggungjawaban tiap bidang/subbidang, dan untuk memantapkan rentang kendali.

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt mengatakan bahwa pada sesi ini beliau bukan memberi materi melainkan mengingatkan kembali bahwa komunikasi ini tergantung dari pimpinan. Posisi komunikasi dalam ICS bersifat vertical diusahakan komunikasi horizontal itu diminimalkan untuk mengurangi terjadinya konflik. Aspek komunikasi dalam ICS perlu ditekankan dalam SOP untuk memastikan penerima pesan memahami isi pesan sehingga bisa memberikan respon. Komunikasi dalam ICS harus terdokumentasi dengan baik dan dicatat semua sehingga dapat digunakan untuk evaluasi.

Setelah paparan dari narasumber pertama, moderator memaparkan hasil survey awal. Sebanyak 16 RS yang sudah mengerjakan survei awal sampai dengan hari Minggu 17 Mei 2020 pukul 21.00 WIB, antara lain: RSUD Pandan, RSI Pati, RS Undata, RSNU Jombang, RS Sari MUlia Banjarmasin, RS Islam Jakarta Cempaka, RS Woodward Palu, RSIA Graha Medika, RS Permata Bekasi, RSI Unisma, RSU Sis Aldjufrie Palu, RS Permata, RSUD Wonosari, RSUD DR. H. Abdul Moeloek, RSNU Banyuwangi. Dari hasil survei didapatkan ada 69% yang sudah menunjuk Juru Bicara / posko informasi COVID-19. Dan 31 % belum memiliki juru bicara informasi COVID-19 dan akan diadakan. Sebanyak 87% sudah ada mekanisme yang menjamin bahwa semua informasi yang keluar ke masyarakat, media, staf RS, Dinas Kesehatan, disetujui oleh Incident Commander / Ketua Satgas RS Sedangkan 13% RS yaitu RSNU Jombang dan RS Woodward Palu belum ada mekanisme tersebut dan akan diadakan. Sebanyak 69% sudah melakukan pencatatan semua intervensi dan hasil rapat, sedangkan 31% pencatatan masih belum rapi.   Sebanyak 56% sudah ada mekanisme atau SOP untuk mengkomunikasikan kebutuhan RS ke masyarakat / pemberi bantuan non-formal selain dinkes dan BPBD. Sedangkan 44% belum ada mekanisme dan akan diadakan. Instrument yang digunakan tim COVID-19/ komunikasi internal RS dalam sistem komando / ICS/ tim bencana paling banyak adalah melalui WAG (96,9%), ada rapat rutin tatap muka setiap hari (28,1%) sedangkan melalui grup telegram dan grup Slack sebanyak 0%.

RS yang sudah melaksanakan poin-poin di dalam survei awal antara lain RS Sari Mulia Banjarmasin, RS Permata Bekasi, RSI Unisma, RSUD Wonosari yaitu sudah menunjuk juru bicara RS dan ruang /posko informasi Covid-19, informasi yang keluar atas persetujuan Incident Commander, ada tenaga khusus yang mencatat informasi di grup WA / notulensi saat rapat, emberikan informasi pasien/ jumlah ruang isolasi ke Dinkes, ada mekanisme atau SOP untuk mengkomunikasikan kebutuhan RS ke masyarakat / pemberi bantuan non- formal.

Diskusi sesi pertama RSUD Ungaran menyampaikan untuk komunikasi internal menggunakan WAG, dan ada rapat setiap hari. LO masih dipegang oleh 1 orang saja yaitu Kasie. Pelayanan Medik dan masuk dalam Tim Covid-19 Kabupaten. Beliau ditunjuk karena pejabat yang mempunyai hubungan dengan pihak lain (menhubungkan antar RS dan Dinas Kesehatan). RSUD Ungaran juga menanyakan kepada narasumber apakah LO memang bisa dipegang 1 orang saja atau seperti apa.

Narasumber menanggapi pertanyaan dari RSUD ungaran. Beliau menyampaikan sebaiknya RS memiliki LO lebih dari 1 orang, tidak harus pejabat, karena akan menghubungkan RS dengan pihak luar. Tetapi memang semakin tinggi jabatan LO, maka akan lebih berpengaruh dengan relasi ke pihak luar. Narasumber menceritakan pengalaman pada saat penanganan gempa di Palu, ada RS yg mempunyai hubungan baik dengan NGO yang memberikan ARV ke penderita HIV. Dikarenakan penderita HIV tidak bisa datang sendiri ke RS, maka ARV nya diberikan di posko RS. Jadi dari RS ada LO khusus , ada orang yang khusus menangani konseling kepada penderita HIV/AIDS sekaligus menjadi LO dengan NGO tersebut. Narasumber mengatakan bahwa di RSUD Ungaran mungkin ada LO khusus yang berhubungan dengan Dinas Kesehatan, dengan Pemerinta Daerah, dengan RS lain, dengan organisasi kemasyarakatan misalnya dengan UNDIP. Dimunkinkan LO ada banyak tidak hanya 1 orang. LO juga bersifat fleksibel. Apabila hanya dijabat oleh 1 orang, maka akan banyak sekali informasi yang menumpuk dan akan menjadi beban bagi orang tersebut. LO bisa diberikan kepada staf yang mungkin tingkat penanganan kepada pasien covid-19 tidak terlalu tinggi. Apabila dimungkinkan dari masing-masing bidang memiliki LO sendiri tetapi tetap ada sarana komunikasi tersendiri.

Dari chat room ada yang menanyakan bagaimana jika RS memiliki sumber daya yang terbatas, apakah dimungkinkan adanya kerjasama misalnya dari pihak eksternal yang ditarik menjadi LO dan dimasukkan dalam struktur ICS. Narasumber memberikan tanggapan dengan menekankan untuk melihat terlebih dahulu hubungan RS dengan pihak luar. Apakah hubungannya sangat kuat. Apabila hubungannya RS dengan Dinas Kesehatan maka tidak bisa dipihak ketigakan. Tetapi apabila ada kejadian luar biasa misalnya dalam kondisi bencana, maka dimungkinkan untuk memobilisasi pihak luar, misal dari STIKES. Dengan catatan Untuk mobilisasi SDM eksternal harus ada MOU sebelumnya dan tetap ada komunikasi internal dan eksternal.

RSU Sari Mulia Banjarmasin memberikan tanggapan terkait survei awal. Mereka menyampaikan bahwa sudah menyiapkan mekanisme untuk pencatatan dan yang menjadi fokus adalah Juru Bicara adalah tim hukum dari RS, jadi semua informasi yang akan keluar ke masyarakat selalu dikoordinasikan dengan tim hukum, sehingga apabila ada informasi – informasi terkait pasien, maka tim hukum yang akan menyampaikan. Untuk infromasi yang keluar atas persetujuan Incident Commander. Pencatatan informasi dilakukan oleh sekretaris, baik informasi melalui Grup WA ataupun pada saat rapat. Ada 2 sekretaris. Internal RS pada saat rapat dan eksternal untuk pencatatan dan pelaporan yang ke Dinas Kesehatan. Untuk pemberian informasi pasien / jumlah ruang isolasi ke dinkes sudah dilakukan melalui tim eksternal. Mekanisme/ sop untuk komunikasi kebutuhan RS ke masyarakat dilakukan kepada masyarakat yang datang ke IGD ataupun ke poliklinik. Untuk informasi ke masyaratkat hanya lewat media di RS saja. Misal informasi tentang pembatasan jam pelayanan di RS dan jam berkunjung. Narasumber menanggapi apa yang disampaikan oleh RSU Sari Mulia Banjarmasin bahwa penting untuk dilakukan pencatatan pada setiap informasi yang masuk dan dimasukkan dalam SOP.Narasumber juga mengapresiasi adanya Tim Hukum RS yang ditunjuk sebagai juru bicara. Hal tersebut dirasa tepat untuk menyampaikan informasi karena memiliki pengetahuan yang lebih untuk meyampaikan informasi ke masyarakat.

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung menyampaikan bahwa ada ketetapan dari Dinas Kesehatan untuk juru bicara terkait COVID-19 hanya Dinas Kesehatan yang boleh menyampaikan. Berkaitan dengan hal tersebut apakah RS menetapkan juru bicara. Narasumber memberikan jawaban singkat apabila sudah ada ketetapan untuk juru bicara dari Dinas Kesehatan dan 1 pintu maka harus mengikuti dan menghormati ketetapan tersebut. Apabila ada informasi dari rumah sakit maka akan disampaikan ke Dinas Kesehatan terlebih dahulu.

h1 2 komunkasi angk 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Tutorial Aplikasi Slack”

Sesi selanjutnya penyampaian tutorial aplikasi Slack oleh dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD. Dhite mengatakan bahwa masa darurat bencana diperlukan komunikasi efektif baik internal maupun eksternal. Mengatasi keterbatasan WAG, ada sistem baru yang disebut Slack yang dirancang mempunyai kanal – kanal untuk diskusi. Untuk membuat Slack hanya dibutuhkan email dan pertama – tama yang dilakukan membuat workspace. Kelebihan dari Slack ini salah satunya pesan yang sudah dikirim bisa diedit. Untuk Slack ini tidak dipaksa semua RS memakai tetapi ini memperkenalkan saja.

Diskusi sesi kedua diawali oleh RSI Unisma yang menyampaikan beberapa kesulitan dalam mengoperasikan aplikasi Slack, antara lain : kesulitan untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan dari masing – masing anggota dan kegiatan di dalam kelompok. Setelah itu meng – invite peserta dan dikirim ke WAG, tetapi ketika ingin melihat aktivitas tidak berhasil dan juga belum memahami fitur-fitur yang ada di Slack. Narasumber menanggapi pertanyaan dengan memberikan apresiasi kepada RSI Unisma yang sudah berhasil membuat workspace. Narasumber juga mengulang Kembali tutorial Slack agar peserta memahami kembali cara penggunaan aplikasi Slack tersebut.

Pertanyaan selanjutnya dari RS Tarakan Jakarta yang menanyakan apakah data Slack bisa diretas oleh hacker, berapa jumlah maksimal member di dalam grup dan perbedaan dengan telegram dan keunggulan Slack. Narasumber menyampaikan bahwa telegram juga menggunakan sistem cloud seperti Slack, sehingga file yang diupload dapat diunduh dengan mudah di plafon manapun selama kita memiliki akses terhadap akun tersebut. Tidak ada isu dari sisi keamanan dan belum ada laporan peretasan data dari Slack. Ada 2 versi untuk pembatasan, ada slack yang free dan ada yang berbayar. Kemudian yang berbayar memang mahal sekali, tetapi yang free sudah cukup powerfull untuk memfasilitasi komunikasi internal di dalam ICS. Untuk yang free, pesan yang bisa disimpan dalam sistem Slack hanya 10.000 pesan saja setelah itu pesannya tidak bisa tersimpan dalam sistem. Dapat menggunakan fasilitas google drive yang bisa diintegrasikan dengan Slack. Sehingga file yang dikirimkan tidak disimpan di Slack tetapi disimpan di google drive. Anggota maksimal 2000 dalam 1 workspace.

Pertanyaan ketiga dari RSI Cempaka Putih Jakarta yang menanyakan terkait email dan link pada saat pertama kali mendaftar, informasi-informasi apakah bisa di back up dan untuk admin apakah bisa lebih dari 1 orang. Narasumber memberikan tanggapan yaitu bahwa email dan link dua hal yang berbeda. Yang dikirimkan email bisa masuk ke dalam Slack, yang hanya mendapatkan link via wa juga bisa masuk. Hanya saja memang lebih cepat untuk masuk Slack apabila melalui email. Peran administrasi ada 3 peran yaitu owner, administrator dan member. Lalu yang tertinggi adalah owner. Administrator bisa lebih 1 dari orang. Akan ada informasi seberapa banyak pesan yang sudah terjadi, kuota yang sudah dipakai bisa diakses dengan mudah dan versi laptop memiliki lebih banyak fitur daripada versi hp.

Workshop hari pertama Komunikasi dalam Incident Command System Penanganan COVID-19 di Rumah Sakit ditutup dengan fasilitator mengingatkan Kembali untuk mengirimkan penugasan paling lambat Selasa, 19 Mei 2020 pukul 15.00 WIB yang akan di presentasikan oleh peserta pada Rabu, 20 Mei 2020.

 

Reporter:

  1. Indrawati Wurdianing
  2. Ajeng Choirin

Bapelkes Semarang

{/sliders}

{tab title=”Pertemuan 2″ class=”warning”}

Presentasi Penugasan Peserta dan Pengecekan Slack Peserta

 

Tujuan Pembelajaran Umum :
Memiliki SOP Alur Komunikasi dalam ICS dan Memiliki Alat Komunikasi menggunakan Aplikasi Slack

Narasumber:

1. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
2. dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD

Fasilitator: Happy R Pangaribuan SKM, MPH

TPK
(Tujuan Pembelajaran Khusus)

Pokok Bahasan dan

Sub Pokok Bahasan

Metode

Memahami alur komunikasi dalam ICS dan memahami penggunaan aplikasi Slack

Presentasi oleh peserta

Tanggapan dan masukan oleh pembicara

Presentasi

Tanya jawab

Diskusi

Kesimpulan    
Penutup    

 

HASIL PENUGASAN

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”REPORTASE” class=”icon”}

h2 komunkasi angk 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pembahasan hasil penugasan peserta”

Hari kedua sesi Workshop Komunikasi dalam Incident Command System Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit peserta diminta mempresentasikan penugasan yang di moderatori oleh Happy R Pangaribuan SKM, MPH dengan narasumber pada hari ini adalah Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt dan dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD dari PKMK FK-KMK UGM.Ada 9 Rumah Sakit yang telah mengirimkan tugasnya yaitu: 1) RS H.L Manambai Abdulkadir; 2) RSI Pati; 3) RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung; 4) RSUD Pandan Tapanuli Tengah; 5) RSUD Tarakan Jakarta; 6) RSNU Jombang; 7) RS Sari Mulia Banjarmasin; 8) RS Awal Bros Bekasi; dan 9) RS Woodward Palu. Moderator menyampaikan hasil review dari penugasan komunikasi dalam ICS dimana dari 9 RS yang sudah mengirim penugasan hampir semuanya sistem komunikasinya sudah dibangun dan sudah ada RS yang sistem komunikasinya sudah detail dan bisa dijadikan pembelajaran RS lainnya diantaranya RSUD Tarakan Jakarta dan RS Sari Mulia.

Selanjutnya narasumber Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt mempresentasikan dummy dari 4 RS, yang pertama adalah RSI Pati. Narasumber menyampaikan bahwa sistem komunikasi sudah ada dan sudah terlihat jelas kepada siapa informasi disampaikan. Dalam struktur ICS Di dalam sistem komando RSI Pati didapatkan posisi Direktur sebagai Komandan Insiden yang langsung memberi perintah kepada koordinator-koordinator, yaitu koordinator bidang operasional, koordinator bidang perencanaan dan koordinator bidang pendanaan. Direktur memberikan informasi mengenai kebutuhan penambahan ruang isolasi Covid-19 dan pembangunan triase IGD Covid-19, ke komandan ICS pengalihan poli umum menjadi poli ODP, pembuatan alur triase untuk pasien ODP/ PDP dan disampaikan dalam grup WA. Diasumsikan 2 hal yang berbeda antara direktur dengan Komandan Insiden. Kemudian ada koordinator penasehat ahli diasumsikan ada di dekat Komandan Insiden dan menyampaikan pemeriksaan pasien PDP di ruang isolasi delakukan dengan minimal contact yaitu dengan media telepon, CCTV, dan HP ke koordinator operasional dan disampaikan dalam grup WA. Ada koordinator bidang operasional yang menyampaikan bahwa pasien ODP/PDP yang sampai di IGD dilakukan anamnesis dan screening awal di ruang triase depan IGD, jika pasien ODP/PDP langsung diarahkan menuju IGD Covid yang bersebelahan dengan ruang isolasi Covid ke Kepala ruang IGD dan Ruang Isolasi Covid-19 dan disampaikan melalui rapat koordinasi pelayanan IGD. Karena sarana komunikasi ada dua yaitu melalui grup WA dan rapat koordinasi sebaiknya dibuatkan SOP yang menyatakan tentang pencatatan. Koordinator bidang perencanaan membawahi bagian pengadaan obat dan alat Kesehatan dan juga tim lapangan. Bagian pengadaan obat dan alat Kesehatan memberikan informasi untuk menambah persediaan. Sedangkan tim lapangan tentang penyediaan relawan dan untuk menjamin keamanan dan keselamatan tenaga Kesehatan yang bekerja di RS, jadi pada saat penyediaan relawan sebaiknya berkoordinasi dengan penasehat ahli atau PPI karena standar – standar keamanan dan keselamatan perlu diperhatikan. Jangan sampai relawan tidak memahami komunikasi internal dan eksternal. SOP apa yang ada dalam RS ataupun ICS dikomunikasikan ke relawan yang masuk. Atau relawan yang bekerja di luar untuk RS tersebut jangan sampai ada kebocoran. Ada Mou Khusus untuk relawan.

Narasumber meminta klarifikasi kepada RSI Pati mengenai mekanisme rutin koordinator bidang perencanaan kebagian pengadaan obat dan alat kesehatan atau tim lapangan, struktur IC apabila Direktur langsung ke koordinator-koordinator, apakah direktur merangkap IC.Klarifikasi dari RSI Pati antara lain: ICS ini baru disusun setelah mengikuti worksop HDP, sebelumnya hanya memiliki tim HDP secara umum tetapi tim HDP pun baru dibentuk setelah tanggal 16 Maret 2020. Belum spesifik tergambar mekanisme komunikasi secara vertical, semua masih dipegang direktur. Walaupun sudah menunjuk komandan, tetapi di setiap rapat, dari manajemen masih memberikan instruksi kepada bidang-bidang yang terkait. Jadi untuk peran komandan memang pada awal-awal pandemi belum begitu menonjol . Peran komandan diandalkan pada saat berkoordinasi langsung dengan bidang-bidang terkait. Setelah mengikuti workshop, mencoba untuk Menyusun ICS. Komunikasi sudah berjalan seperti biasanya, hanya untuk notulensi dan pendokumentasian belum rapi dan belum tertib dilakukan. Untuk mekanisme rapat sudah mulai dilakukan per tanggal 16 Maret 2020 dengan mulai melakukan penertiban jumlah pengunjung, melarang jam besuk, membatasi pendamping pasien di rawat inap sudah dilakukan melalui rapat – rapat rutin dan dilakukan berdasarkan trend perkembangan wabah di daerah Pati. Koordinasi ke bagian perencanaan dan ke bagian logistic memang langsung dari manajemen ke instalasi farmasi, karena memang belum memahami struktur ICS. Terkait relawan ada instruksi dari Dinas Kesehatan Kabupaten untuk semua RS lini 2 dan lini 3 menyediakan tenaga Kesehatan untuk diperbantukan di hotel karantina dan mendapat jatah 1 bulan ada 3 kali jatah shift siaga dan sebelum mengirim tenaga Kesehatan sudah dibriefing terlebih dahulu tentang PPI. Tetapi memang belum ada SOP dan tidak didokumentasikan. Direktur langsung ke koordinator, karena memang belum memiliki struktur ICS.

h2 1 komunkasi angk 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi hasil penugasan RSUD Pandan dan RSI Pati”

Narasumber menyampaikan struktur RSUD Pandan Tapanuli Tengah dimana struktur organisasi sudah sesuai dan cukup sederhana. Direktur sebagai executive agency memberikan arahan 1 tingkat dibawahnya (IC) setiap hari dengan komunikasi langsung, telepon. IC (Ketua Tim Covid-19) memberikan instruksi ke 1 tingkat ke bawahnya setiap hari. Staf Ahli (tim klinis) memberi laporan klinis yang memberikan laporan 1 tingkat ke atas komunikasi langsung dan WA. Humas (sekretaris) memberikan laporan Covid-19 (laporan horizontal, eksternal) ke masyarakat melalui media massa dan WA grup. Ada 3 seksi yaitu seksi operasional, seksi logistic dan seksi pendanaan dan administrasi. Narasumber juga meminta klarifikasi kepada RSUD Pandan mengenai komunikasi langsung dari direktur seperti apa, Safety (PPI RS) dimanakah letaknya apakah dibawah atau di atas dekat dengan staf ahli dan apabila tidak mempunyai LO siapakah yang menyampaikan informasi ke eksternal.Klarifikasi dari RSUD Pandan antara lain Komunikasi langsung berupa arahan dari direktur ke ketua tim kemudian juga melalui telepon. Untuk bagian safety memang lupa belum membuat di dalam bagan, sebenarnya sejajar dengan staf ahli dan humas. Yang tidak ada LO dan seksi perencanaan. Untuk penyampaian informasi baik internal dan eksternal disampaikan oleh Humas. Ada seksi pelaporan yang membantu humas untuk pelaporan ke bagian eksternal dan juga informasi di WA grup. Belum menggunakan formulir yang belum disepakati tiap bagian jadi dibuat sendiri-sendiri oleh bagian. Narasumber menanggapi kembali klarifikasi RSUD Pandan bahwasannya formulir harus ada dan mencakup semua kebutuhan dari masing – masing bidang. Apabila tidak ada formulir yang disepakati khawatirnya ada informasi – informasi yang tidak tersampaikan. Meskipun tidak ada di struktur, fungsi LO ataupun perencanaan, tetapi tetap menempel pada fungsi-fungsi yang ada di struktur.

Narasumber selanjutnya memaparkan ICS dari RSUD Abdul Moeloek Lampung dan menyampaikan bahwa struktur organisasi sudah ada dan sebaiknya lebih dirampingkan. Dalam ICS dibatasi maksimal 4-5 tim/bagian/seksi supaya komunikasi berjalan efektif. Penanggung jawab (direktur) menyampaikan kebijakan dari pimpinan daerah dan pejabat pusat ke komandan. Komandan menyampaikan laporan ke 1 tingkat ke atasnya dan menyampaikan instruksi 1 tingkat ke bawahnya dan kesemua koordinator. Koordinator Liason Officer menyampaikan permintaan dan instruksi, koordinasi horizontal, internal dan eksternal. Koordinator dan anggota humas menyampaikan informasi eksternal. Keamanan dan keselamatan menyampaikan ke seluruh petugas dan ke komandan. Tim Operasional melaporkan secara horizontal dan ke atas ke staff ahli dan komandan. Tim logistic melaporkan secara horizontal dan ke bawah. Perencanaan menyampaikan laporan secara horizontal dan eksternal. Staf ahli menyampaikan laporan ke atas. Keuangan menyampaikan laporan ke atas dan horizontal.

RSUD Abdul Moeloek Lampung memberikan tanggapan bahwa struktur organisasi yang ditayangkan masih yang lama setelah mengikuti workshop sudah disesuaikan dengan ICS. RSUD Abdul Moeloek Lampung untuk laporan kasus pasien, PDP dan ODP dilakukan setiap hari ke Dinkes secara online sedangkan laporan logistic (APD, PCR, obat, dll) dilakukan setiap hari rabu ke Dinas Kesehatan secara online. Komunikasi dengan menggunakan WAG dan saat ini masih mempelajari aplikasi Slack. Untuk staf ahli masuk ke tim operasional. Video edukasi ke masyarakat yang melakukan adalah bagian humas.

Narasumber selanjutnya membahas penugasan dari RSUD Tarakan Jakarta dan menyampaikan bahwa struktur organisasi sudah detail dan sesuai dengan ICS. Komunikasi dilakukan secara vertical kepada ICS setiap ada perkembangan dengan menggunakan telepon, zoom meeting dan tele-conference. Humas menyampaikan informasi pengendalian bencana baik internal ke IC maupun eksternal jika diperintah oleh IC. Direktur RS sebagai executive agent yang menyampaikan hasil pengawasan dan pertimbangan ke Gubernur, Kepala Dinas dan Dewan Pengawas. RS besar tetapi memiliki struktur yang sederhana. RSUD Tarakan Jakarta memberikan klarifikasi bahwa bagian humas menginformasikan baik internal maupun eksternal RS. Executive agent dilaksanakan oleh direktur dan secara rutin melalui zoom meeting dengan dewan pengawas maupun dinas Kesehatan. Pada saat pertemuan maka executive agent yang menyampaikan data dan informasi yang dibutuhkan.

Narasumber juga menjawab pertanyaan yang ada di chat zoom antara lain : perbedaan peran LO dengan humas dan bagaimana kalau di dalam struktur organisasi ada ketua 1, ketua 2 dan wakil ketua. Narasumber menjelaskan bahwa LO itu lebih pada kegiatan mengkomunikasikan tentang kebutuhan dan permintaan ke dalam maupun keluar sedangkan humas komunikasinya hanya searah. LO sendiri adalah suatu kebutuhan , misalnya RS ke Dinas Kesehatan. Sedangkan untuk struktur organisasi dalam ICS hanya ada 1 ketua kalaupun ada lebih dari satu orang maka bertugasnya secara bergantian.

Sesi selanjutnya pengecekan aplikasi Slack oleh dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD. Dilihat dari hasil penugasan ini sudah ada yang membuat sampai kanal logistic. Memang untuk masuk Slack dibutuhkan email dan ini terkait isu keamanan agak lebih spesifik dan verifikasi ke email jika akan masuk ke Slack. Slack ini sudah banyak digunakan untuk memfasilitasi komunikasi internal dalam penangulangan bencana oleh Negara lain. Kesulitan/kendala yang dihadapi dalam Slack diantaranya yang disinvite menjadi anggota harus memiliki Slack, membutuhkan waktu untuk beradaptasi, kesulitan upload dokumen, menggunakan Bahasa asing, kesulitan sign in pada akun Slack, jika tidak aktif kemungkinan pesan tidak tersampaikan dan kesulitan untuk join channel. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini akan dibuat kanal troubleshooting Slack.  

Workshop hari kedua Komunikasi dalam Incident Command System Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit ditutup dengan fasilitator mengingatkan kembali untuk mengisi evaluasi Kirkpatrick setelah mengikuti workshop untuk melihat apakah workshop ini bermanfaat dan untuk mengatahui hal – hal yang penting untuk diperbaiki.

 

Reporter:

  1. Indrawati Wurdianing
  2. Ajeng Choirin

Bapelkes Semarang

{/sliders}

{tab title=”Rundown Workshop” class=”green”}

Waktu

Materi/Kegiatan

Narasumber/Fasilitator

Senin

Pembukaan:

Mengapa kita tidak bisa mengandalkan WAG, dan perlu mempertimbangkan alat komunikasi lainnya.

Prof. Dr. Laksono Trisnantoro

 

Materi Komunikasi dalam ICS

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

 

Diskusi

Happy R Pangaribuan SKM, MPH

Materi Alat Komunikasi Menggunakan Aplikasi Slack

dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD

Diskusi Lanjutan

Happy R Pangaribuan SKM, MPH

Penugasan untuk hari Rabu, 8 April 2020

Menyusun Kanal-kanal di Slack sesuai dengan Struktur ICS

Rabu

Review Hasil Penugasan 1

Happy R Pangaribuan, SKM, MPH

 

Presentasi Penugasan dari beberapa Peserta

Tanggapan dan Masukan dari Narasumber

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

dr. Dhite Bayu Nugroho, MSc, PhD

 

Kesimpulan dan Penutup

{/tabs}

Angkatan II Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command Systemdalam Menghadapi Pandemi COVID-19

pdf

Pengantar

Semua rumah sakit yang telah akreditasi pasti memiliki perencanaan penanggulangan bencana untuk rumah sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP). Namun, karena nilai untuk HDP hanya 20 persen dan bisa lolos tanpa membuat perencanaan, tidak jarang rumah sakit hanya membuat dokumen dan tidak mensosialisasikannya ke seluruh staff. Lebih kanjut RS sering tidak menjadikan ancaman bencana sebagai budaya di rumah sakit. Oleh karena itu, jika terjadi bencana internal atau pun kedatangan korban eksternal, atau mengirimkan tim ke daerah bencana atau mengalami bencana alam, rumah sakit mengalami kesulitan dalam aplikasi HDP.

Hal yang kerap menjadi masalah, ketika terjadi bencana rumah sakit mengabaikan kembali dokumen perencanaannya. siapa yang sudah ditunjuk sebagai komandan, siapa yang akan bertugas secara operasional, bidang data informasi mengurusi apa, bagaimana analisis risiko rumah sakit sebelumnya untuk perencanaan surge hospital menghadapi lonjakan kasus, bagaimana berkomunikasi dengan dinas kesehatan untuk rujukan pasien, bagaimana memahamkan kalau seluruh staff harus mengikuti alur yang telah dibuat saat aktivasi tim bencana, dan lain sebagainya.

Situasi tersebut lebih berat terjadi pada bencana non alam seperti saat ini, pandemi global COVID-19. Walaupun pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan konsep penanganan bencana, namun ada perbedaan yang sangat besar. Perbedaannya terletak pada prinsip dasar penanganan karena perbedaan sifat agen kausatifnya. Pandemik saat ini disebabkan virus yang sangat menular. Bukan bencana yang bersifat trauma tidak menular. Oleh karena itu penangannya menjadi lebih sulit karena masalahnya jauh lebih kompleks. Semua rumah sakit yang pernah kami dampingi Hospital Disaster Plan-nya belum ada yang memasukkan pandemic global sebagai ancaman bencana yang mungkin terjadi, yang ada hanya sebatas KLB DBD dan malaria.

Mengingat pentingnya pengorganisasian tim bencana di rumah sakit atau incident command system (ICS) dalam menghadapi situasi bencana, maka diselenggarakan kursus refreshing ini dalam bentuk workshop. Dalam kegiatan ini kejelasan tugas fungsi dan alur pelaporan harian yang diluar dari situasi normal atau birokrasi sehari – hari akan dibahas.

Diharapkan melalui workshop ini Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM akan membantu menfasilitasi rumah sakit yang sudah memiliki dokumen HDP dapat segera mengoperasikan dokumen tersebut dan bagi rumah sakit yang belum memiliki dokumen HDP dapat menyusunnya sesuai dengan kebutuhan penanganan COVID-19 khususnya dalam mengaktifkan ICS di rumah sakit.

Tujuan

  • refreshing cara pengaktifan Incident Command System (ICS) di rumah sakit dalam kerangka Hospital Disaster Plan.
  • mendiskusikan permasalahan dalam pelaksanaan HDP untuk COVID-19

Output

  • peserta memahami aktivasi ICS di rumah sakit
  • rumah sakit memiliki dan mengaktifkan tim bencana untuk menghadapi COVID-19
  • rumahsakit mempunyai dokumen HDP yang diperbaharui karena adanya COVID-19.

Peserta dan persyaratan

Diikuti oleh 3 sampai yang terdiri dari :

  • tim HDP rumah sakit,
  • pimpinan dan manajemen rumah sakit,
  • staf lainnya yang memilik tugas berkaitan dengan pelaksanaan HDP

Ketentuan Kepesertaan

Peserta wajib menjawab 4 survey pertanyaan mengenai HDP dan melalukan self assessment ICS pada link yang akan diberikan setelah menjadi peserta.

Agenda Kegiatan

{tab title=”Pertemuan 1″ class=”danger”}

HDP dalam SNARS dan Penugasan

Senin, 6 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Umum Pembelajaran:
Memahami Rencana Penanggulangan Bencana di RS (HDP) sesuai SNARS

Pembicara   : dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator    : Madelina Ariani, SKM, MPH

Tujuan Pembelajaran Khusus

(TPK)

Pokok Bahasan dan

Sub Pokok Bahasan

Metode

Memahami regulasi manajemen disaster

Memahami Regulasi Manajemen Disaster :

  1. Kebijakan
  2. Struktur organisasi
  3. Peran dan tanggung jawab staf
  4. SDM alternatif
  5. Fasilitas alternatif
  6. Komunikasi
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan

Memahami mengidentifikasi bencana internal dan bencana eksternal

Memahami mengidentifikasi Bencana Internal dan Bencana Eksternal :

  1. Analisis risiko (bencana non alam)
  2. Skenario (COVID-19)
Memahami melakukan self-assessment RS

Memahami melakukan self-assessment RS :

Indikator Kesiapsiagaan self-assessment

Overview ICS

Overview ICS :

  1. Latar Belakang ICS
  2. Prinsip ICS
  3. Organisasi dengan ICS

 

Materi

pdf Materi dr. Bella Donna, M.Kes

pdf Hasil Survey Peserta Workshop ICS HDP Angkatan 2- Madelina 6 Maret 2020

pdf Rekap Self Assessment Kapasitas ICS berdasarkan HSI- Peserta workshop HDI ICS angkatan 2

 

Referensi

pdf Major-Incident-Medical-Management-and-Support-Third-Edition

pdf HICS_Guidebook_2014_11

pdf Hospital safety index form

pdf Hospital safety index guideline for evaluator

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

report icon Rekap tugas hingga hari 1- Peserta workshop HDI ICS angkatan 2

 

 {slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}

Senin, 06 April 2020

6 04 2020

Dok. PKMK FK-KMK UGM “ Workshop Aktivasi HDP berbasis ICS-Angkatan II”

Peserta yang tergabung pada workshop ini sebanyak 43 rumah sakit yang tersebar di Indonesia. Fasilitator mengawali kegiatan ini dengan menampilkan hasil survei rumah sakit terkait Hospital Disaster Plan (HDP) dan Incident Command System (ICS) yang ada di RS. Hasil survei menunjukkan dari 21 rumah sakit terdapat 5 rumah sakit yang belum memiliki HDP, 6 rumah sakit belum memiliki tim bencana/ICS dan 13 rumah sakit belum mengaktifkan ICS.

Komponen HDP dalam Akreditasi SNARS : Menilai Kesiapan Rumah Sakit Saat Ini

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes dari Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. RS yang sudah memiliki HDP seharusnya sudah paham apa yang akan dilakukan dalam penanganan COVID-19 dan sejauh apa kapasitas mereka. Pada komponen HDP yang pertama adalah kebijakan harus siap, kemudian dibentuk sistem pengorganisasian, menyusun analisis risiko dan skenario. Skenario ini disusun berdasarkan kapasitas rumah sakit dan kondisi di daerah. Misalnya rumah sakit berada di wilayah zona merah COVID-19 sementara rumah sakit tidak termasuk rumah sakit rujukan untuk pasien COVID-19 dan faktanya RS menerima banyak pasien ODP dan PDP. Skenario ini yang penting disusun oleh RS, bagaimana rumah sakit menerima pasien dan batas pelayanan yang bisa diberikan untuk perawatan pasien. Bicara tentang ICS, BNPB sejak awal dibentuk sudah menggunakan ICS dalam sistem komando, begitu juga gugus tugas nasional. Terdapat 5 fungsi manajemen yaitu pertama komando, operasional, logistik, perencanaan dan keuangan/administrasi. Komandan lebih kepada manajemen untuk mengatur semuanya sementara operasional untuk menyelesaikan sesuatu (pelaku).

Diskusi :

  • RS Universitas Andalas Padang direncanakan akan masuk ke dalam rumah sakit rujukan penanganan COVID-19. Rumah sakit sudah melakukan MOU dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Keperawatan Universitas Andalan untuk membantu rumah sakit baik dari segi manajemen dan tenaga medis.
  • RSI Siti Aisyah Madiun melakukan merger ruangan, untuk surge capacity di RS rujukan. Namun yang menjadi kendala adalah logistik. Narasumber menyampaikan bahwa dalam persiapan logistik ini dibutuhkan sekali peran pemerintah daerah. Rumah sakit harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas kesehatan. Jika masing-masing RS rujukan di daerah sudah penuh, maka bisa dialihfungsikan ke RS yang bukan rujukan. Ini yang perlu dibicarakan, terkait surge capacity di daerah.
  • RSJ Grhasia Yogyakarta sudah mempunyai Tim Penanggulangan Bencana. Dalam penanganan COVID ini tidak mengaktifkan Tim Penanggulangan Bencana, namun membuat tim baru untuk menangani COVID, sudah ada protokol penanganan dan ada gugus tugas langsung. RS Gracia ditunjuk menjadi RS rujukan. Hal yang menjadi kendala adalah RSJ Grhasia bukan RS umum tetapi rumah sakit jiwa. Ada 2 kasus yang sudah masuk dan rumah sakit hanya merawat ODP. RSJ Grhasia masuk dalam rumah sakit rujukan level 1.
  • RSUD Kota Baru Banjarmasin bukan termasuk RS Rujukan. Sampai sekarang belum ada kasus, namun sudah mengantisipasi dengan membentuk tim bencana untuk tim internal RS. Ruang isolasi belum ada, sementara bisa memanfaatkan ruang PONED. Pelayanan yang dilakukan selama ini adalah merawat pasien suspect, dan setelah kita rujuk masih negatif, jadi belum ada kasusnya. Kendala APD terbatas dan distribusi logistik masih terhambat. RS tidak bisa berdiri sendiri, jadi dibutuhkan kebijakan wilayah dan kebijakan dinkes untuk terpenuhnya kebutuhan logistik. Semua RS yang ada di Indonesia harus tetap mempersiapkan mulai dari sistem komando karena ini sudah masuk pandemi. Jika sudah ada tim bencana, artinya tinggal mengaktifkan, bidang logistik yang bertugas menyiapkan APD.

Fasilitator mengakhiri workshop hari ini dengan menjelaskan penugasan, dimana peserta akan mengumpulkan penugasan hari ini maksimal pukul 15.00 WIB. Workshop ini akan berlanjut besok 7 April 2020 dengan membahas topik terkait ICS.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/sliders} 

 

{tab title=”Pertemuan 2″ class=”warning”}

Prinsip Hospital Incident Command System dan Implementasinya (HICS) dan Penugasan

Selasa,7 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

 

Tujuan Umum Pembelajaran : Memahami Sistem Komando di RS

Pembicara   : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                   2. dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator    : Madelina Ariani, SKM, MPH

 

Tujuan Pembelajaran Khusus

(TPK)

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

Memahami ICS dalam rumah sakit (HICS)

Memahami ICS dalam layanan kesehatan atau Rumah sakit (HICS):

  • Definisi HICS
  • Prinsip HICS
  • Komponen dalam HICS
  • Keuntungan ICS dalam HICS
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan

Lima fungsi manajemen ICS

Lima fungsi manajemen ICS

  • Komando insiden
  • Operasional
  • Perencanaan
  • Logistik
  • Administrasi dan keuangan
 

MATERI

pdf Materi H2 – Workshop ICS HDP – Hendro 1 April 2020

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”} dalam Penyusunan

{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}

Hari II : Selasa, 07 April 2020

7 04 2020

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Organisasi ICS di Rumah Sakit”

Organisasi ICS di Rumah Sakit

Materi ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK – KMK UGM. ICS adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dari struktur organisasi. Tujuannya agar terpenuhi who doing what (pembagian tugas), communication (komunikasi), dan what if (rencana cadangan). Komunikasi ini terjadi antar unit, misalnya poliklinik triase APD – nya habis, bisa minta kemana untuk stoknya. Contoh rencana cadangan harusnya komandan kepala pelayanan bidang medis, kemudian saat emergency ICS, komandan ada di luar kota, maka siapa yang akan menggantikan. ICS ini bukan satu – saatunya sistem, ada MIMMS dan HICS yang bisa digunakan di rumah sakit. Namun, mengenapa menggunakan ICS? DI dalamnya ada sistem komando yang jelas dan fleksibilitas organisasi.

Diskusi

  • RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan COVID-19 dan berada di zona merah. Sekarang rumah sakit memiliki total bed 12, apakah ICS ini akan diaktifkan jika pasien yang datang melampaui total bed?

Secara umum ICS sudah diterapkan ketika belum menerima pasien, ketika ditunjuk jadi RS rujukan harusnya sudah menyusun ICS. Ada 3 hal penting dalam ICS yaitu pembagian tugas, ada komunikasi (protap) dan rencana cadangan. Jika ketiga hal itu sudah ada maka ICS bisa diaktifkan. Rencana cadangan ini akan menjawab kendala yang mungkin bisa terjadi, misalnya rencana cadangan jika pasien yang datang melebihi kapasitas. Ada 3 kondisi dalam pelayanan kesehatan yaitu kondisi normal, kondisi emergency dan krisis. Kembali ke kondisi RSUD yang memiliki bed 12, jika kondisi normal tidak ada COVID-19, jika sudah terpenuhi 12 bed maka masuk pada kondisi emergensi dan kalau misalnya mencapai 20 pasien maka itu masuk kondisi krisis.

  • RSUP Fatmawati masuk dalam rujukan rumah sakit dan berada di zona merah. Rumah sakit sudah memiliki HDP, apakah ICS ini bagian dari HDP atau berdiri sendiri? Kemudian siapa yang layak menjadi komando?

ICS adalah petunjuk pelaksana HDP ketika terjadi bencana. ICS akan mengakomodir jika belum ada protap terkait COVID-19 di HDP. Komandan adalah orang yang menguasai semua masalah, bisasanya ada kursus untuk komandan. ICS jangan dikaitkan dengan pangkat atau eselon birokrasi sehari – hari. Siapa saja bisa menjadi komandan, tapi harus menguasai manajerial. Komandan mempunyai kuasa legal, power (kapasitas/kompetensi) dan resources (yang paling menguasai masalah di rumah sakit).

  • RSUD Selebesulo Sorong belum memiliki bidang perencanaan dalam ICS. Situasi saat ini terkendala terutama karena penerbangan ditutup jadi kesulitan untuk menerima APD dan tidak bisa mengirimkan sampel ke luar. Kasus positif COVID-19 yaitu 2 orang (1 meninggal dan 1 membaik) dan 2 orang PDP sedang dirawat.

Seksi perencanaan ini sangat penting dalam ICS, karena bidang perencanaan yang akan memikirkan apa yang kemungkinan yang akan terjadi dan kebutuhan apa yang dibutuhkan. Salah satu kelebihan ICS ini adalah organisasi yang fleksibel, jika SDM internal rumah sakit tidak memiliki kompetensi di bidang perencanaan, boleh memanggil dari luar rumah sakit untuk terlibat dalam ICS. Bagian perencanaan ini yang mengurus masalah jika pesawat nya ditahan apa yang harus dilakukan, misalnya bisa tidak menyewa pesawat.

  • RS Universitas Andalas Padang baru pertama sekali mengetahui konsep ICS. Rumah sakit sudah memiliki HDP dan ada tim penanggulangan bencana. Dalam kondisi COVID-19 ini, sudah ada tim dan juga sudah ditunjuk Kabid Pelayanan Medik sebagai komandan. Apakah memungkinkan seperti ini sudah bisa berjalan karena tidak menyebutnya ICS?

Kembali pada statement awal, struktur organisasi mau disebut oleh rumah sakit itu bebas, karena ICS ini bukan satu – satunya sistem komando yang bisa dipakai di rumah sakit. Hal yang paling penting sudah terlihat pembagian tugas, sudah ada komunikasi (protap) untuk covid dan sudah disusun rencana cadangan.

Workshop hari ini ditutup dengan penjelasan penugasan 2 terkait pembagian tugas ICS. Pembagian tugas dalam ICS ini harus sampai pada pelaksa langsung. Di dalam ICS tidak perlu disebutkan nama, namanya itu ada di SK atau daftar hadir.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM

{/sliders}

 

{tab title=”Pertemuan 3″ class=”info”}

HICS dalam Penanggulangan COVID-19 dan Penugasan

Rabu, 8 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Umum Pembelajaran: Memahami Sistem Komando di RS

Pembicara  : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                  2. dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator   : Madelina Ariani, SKM, MPH

 

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

1. Memahami sistem pengorganisasian di rumah sakit pada saat bencana COVID-19

Sistem pengorganisasian di rumahsakit pada saat bencana:

  • Organisasi tentang penanganan bencana (organisasi fungsi)
  • Sistem komando di rumahsakit dalam penanggulangan bencana COVID-19
  • Standar SDM (leadership) dalam organisasi penanggulangan bencana
  • Penjelasan tentang tugas pusat pengendalian, keuangan, logistik, dan operasional
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan
2.   Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM

Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM :

Struktur Organisasi dan kualifikasi SDM

 

MATERI

pdf MIIMS-strukturOrg

pdf OrganisasiICS-RS

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase” class=”icon”}

 

Kegiatan dimulai dengan review penugasan dan diskusi tentang kondisi beberapa rumah sakit selama pengalaman menangani COVID-19. Rumah sakit yang ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan berdasarkanAPD yang dimiliki oleh rumah sakit. Jika APD tidak memenuhi standar artinya rumah sakit bisa menjadi rumah sakit rujukan level 2, artinya hanya bisa menangani pasien yang non kritis. Daerah sebaiknya melakukan leveling rumah sakit di daerahnya, sehingga sistem rujukan ini lebih tersistematis. Rumah sakit yang bukan rujukan jika menerima pasien COVID-19, langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan. Terkait kebutuhan APD ini harus sudah dihitung berapa kebutuhannya, berapa yang sudah ada dan untuk berapa lama. HDP ini fleksibel dan tidak terkait dengan birokrasi sehari hari namun tergantung pada situasi sekarang.

08 04 2020

Dok. PKMK FK-KMK “Review Penugasan”

Major Incident Medical Management and Support (MIMMS) The Practical Approach in Hospital

Materi ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK – KMK UGM. Rumah sakit bisa mengikuti MIMMS dalam membuat struktur organisai sistem komando penanganan COVID. MIMMMS ini mengikuti prinsip – prinsip dasar ICS. Struktur pokok yang ada dalam MIMMS adalah koordinator, bidang manajemen, bidang keperawatan dan bidang medis. Dalam tim COVID, safety itu mengurus APD yaitu mengurus pencegahan transmisi penyakit. APD ada 3 level, APD untuk periksa pasien ODP, APD untuk periksa pasien PDP dan APD untuk ruangan PDP konfirmasi positif.

RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar sudah merawat ODP dan PDP. Rumah sakit mendapat APD dari segala penjuru namun ada beberapa APD yang dipalsukan (masker N95 palsu), dan masih ditahan di gudang. APD secara keseluruhan dicek oleh komite Pengendalian Penyakit Infeksi (PPI).

ICS HDP RS 3 1

Fasilitator menutup workshop hari ini dengan menjelaskan penugasan 3. Hasil penugasan ini akan dipresentasikan oleh peserta besok 9 April 2020. Informasi selengkapnya simak di http://bencana-kesehatan.net/index.php/73-full-page/serial-hdp-rs/3918-angkatan-ii-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-systemdalam-menghadapi-pandemi-covid-19#pertemuan-3.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM

 

{/sliders}

 

{tab title=”Pertemuan 4 ” class=”green”}

Presentasi dan Evaluasi

Kamis, 9 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Pembelajaran Umum :
memahami penerapan dan aktivasi ICS untuk covid-19

Pembicara :  1. Dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                  2. Dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator  : Madelina Ariani, SKM, MPH

Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

Memahami menyusun ICS, jadwal, dan rencana kegiatan tim selama tanggap darurat

Presentasi oleh peserta

Komentar dan masukan dari pembicara

  • Presentasi
  • Tanya jawab
  • Diskusi
Kesimpulan  
Penutupan  

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase” class=”icon”}

9042020

Fasilitator memulai kegiatan dengan menyampaikan akan ada workshop komunikasi dalam ICS, untuk memperdalam kesiapan rumah sakit selama operasional ICS di rumah sakit. Kemudian beberapa rumah sakit mempresentasikan hasil penugasan mereka. RSIA Muhammadyah Malang sudah menyusun struktur organisasi dalam penanganan COVID-19 berbasis ICS. Tugas dan fungsi masing – masing bidang sudah tercatat dengan baik. RS Bethesda menyampaiakn HDP yang dibuat sebelumnya masih dalam rangka kesiapsiagaan terhadap bencana alam dan trauma, mulai Februari 2020 RS Bethesda mengadaptasi dengan bencana wabah pandemik. Tenaga kesehatan yang bertugas di RS Bethesda sudah dibagi dalam shift untuk menghindari kelelahan petugas kesehatan.

Secara keseluruhan tugas bidang operasional ini sangat banyak, karena terjun langsung ke perawatan pasien. Bidang operasional melaporkan pelayanan yang mereka lakukan kepada komandan. Komandan yang melaporkan semua kegiatan ke eksternal termasuk ke dinkes dan BPBD, artinya bukan Ketua Bidang Operasional yang langsung menyampaikan ke eksternal. Komandan ini sebaiknya ditunjuk 2 atau 3 orang, karena load pekerjaan yang banyak, biar tetap ada pergantian.

Dalam HDP, RSUP dr. M. Djamil sudah ada struktur organisasi bencana yang sudah sesuai dengan ICS. Namun dalam struktur ini belum tergambar dimana peran Komite PPI terkait wabah. Komandan bencana adalah direktur medik dan keperawatan. Pada awal kasus COVID-19 di Sumatera Barat , RSUP dr. M. Djamil hanya mempunyai 7 tempat tidur, namun sekarang sudah dikembangkan menjadi 30 tempat tidur. Selain itu untuk penginapan petugas sudah disiapkan oleh pemerintah provinsi yaitu 2 buah hotel.

Masalah penting yang diperhatikan juga dalam ICS ini adalah masalah safety dan logistik. Kedua hal ini yang membedakan COVID-19 dengan bencana yang biasa. Safety fokus untuk mencegah transmisi COVID-19. Salah satunya dengan melihat apakah laporan harian dari masing – masing bidang sudah memanfaatkan online. Logistik terkait dengan ketersediaan APD.

Masalah berikutnya adalah masalah sistem jejaring dan rujukan. Kembali ke prinsip rumah sakit tidak mengalami bencana sendirian, artinya ada rumah sakit yang lain yang bisa diajak bekerja sama (jejaring rumah sakit). Kerja sama ini dibangun oleh staf incident commander. Kondisi sekarang, pada pandemic COVID-19 belum ada kelas rumah sakit rujukan, sistem rujukan dan manajemen data dan informasi belum tersistem dengan baik. Sistem rujukan RS COVID-19 di bawah koordinasi oleh dinas kesehatan. Dalam sistem manajemen data dan informasi terdapat informasi yang terintegrasi. Dalam data juga termasuk data APD dan ketersediaan SDM. RS Onkologi Sentani Malang termasuk rumah sakit level 1 karena rumah sakit hanya bisa melakukan triase, jika ada pasien datang langsung dirujuk. Rumah sakit level 1 adalah rumah sakit yang hanya bisa melakukan triase, Rumah Sakit Level 2 adalah rumah sakit yang bisa menangani pasien non kritis dan RS Level 3 adalah rumah sakit yang menangani pasien kritis. Meskipun RS Onkologi Sentani Malang ada di level 1, minimal rumah sakit harus menyiapkan APD sesuai standar rumah sakit level 2.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM

{/sliders}

{/tabs}

Serial Workshop Online Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

pdf

Kerangka Acuan Kegiatan

 

Pengantar

Seluruh rumah sakit yang telah terakreditasi sudah pasti memiliki perencanaan penanggulangan bencana untuk rumah sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP). Namun, karena nilai untuk HDP hanya 20 persen dan bisa lolos tanpa membuat perencanaan, tidak jarang rumah sakit hanya membuat dokumen dan tidak mensosialisasikannya ke seluruh staf. Lebih lanjut, RS sering tidak menjadikan ancaman bencana sebagai budaya yang harus dikenal dan diantisipasi oleh rumah sakit. Oleh karena itu, jika terjadi bencana internal atau pun kedatangan korban eksternal, atau mengirimkan tim ke daerah bencana atau mengalami bencana alam, rumah sakit mengalami kesulitan dalam aplikasi HDP.

Hal yang kerap menjadi masalah, ketika terjadi bencana rumah sakit mengabaikan kembali dokumen perencanaannya. Siapa yang sudah ditunjuk sebagai komandan, siapa yang akan bertugas secara operasional, bidang data informasi mengurusi apa, bagaimana analisis risiko rumah sakit sebelumnya untuk perencanaan surge hospital menghadapi lonjakan kasus, bagaimana berkomunikasi dengan dinas kesehatan untuk rujukan pasien, bagaimana menanamkan pemahaman pada seluruh staf bahwa mereka harus mengikuti alur yang telah dibuat saat aktivasi tim bencana, dan sebagainya.

Situasi tersebut lebih berat terjadi pada bencana non alam seperti saat ini, pandemi global COVID-19. Walaupun pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan konsep penanganan bencana, namun terdapat perbedaan yang sangat besar. Perbedaannya terletak pada prinsip dasar penanganan karena perbedaan sifat agen kausatifnya. Pandemik saat ini disebabkan virus yang sangat menular. Bukan bencana yang bersifat trauma tidak menular. Oleh karena itu, penangananya menjadi lebih sulit karena masalahnya jauh lebih kompleks. Semua rumah sakit yang pernah kami dampingi Hospital Disaster Plan-nya belum ada yang memasukkan pandemi global sebagai ancaman bencana yang mungkin terjadi, yang ada hanya sebatas KLB DBD dan malaria.

Mengingat pentingnya pengorganisasian tim bencana di rumah sakit atau incident command system (ICS) dalam menghadapi situasi bencana, maka PKMK menggagas kursus refreshing dalam bentuk workshop online. DI dalam kegiatan ini, kejelasan tugas fungsi dan alur pelaporan harian yang di luar dari situasi normal atau birokrasi sehari- hari akan dibahas.

Diharapkan melalui workshop ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK- KMK UGM akan membantu menfasilitasi rumah sakit yang sudah memiliki dokumen HDP dapat segera mengoperasikan dokumen tersebut dan bagi rumah sakit yang belum memiliki dokumen HDP dapat menyusunnya sesuai dengan kebutuhan penanganan COVID-19 khususnya dalam mengaktifkan ICS di rumah sakit.

Tujuan

  • refreshing cara pengaktifan Incident Command System (ICS) di rumah sakit dalam kerangka Hospital Disaster Plan.
  • mendiskusikan permasalahan dalam pelaksanaan HDP untuk covid-19

Output

  • peserta memahami aktivasi ICS di rumah sakit
  • rumah sakit memiliki dan mengaktifkan tim bencana untuk menghadapi COVID-19
  • rumah sakit mempunyai dokumen HDP yang diperbaharui karena adanya COVID-19.

Peserta dan persyaratan

Diikuti oleh 3 sampai 5 orang yang terdiri dari :

  • tim HDP rumah sakit,
  • pimpinan dan manajemen rumah sakit,
  • staf lainnya yang memilik tugas berkaitan dengan pelaksanaan HDP

Hal yang perlu dijawab masing – masing rumah sakit sebelum mengikuti workshop:

  1. Apakah rumah sakit sudah memiliki dokumen perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit/ Hospital Disaster Plan?
  2. Apakah di dalam dokumen Hospital Disaster Plan tersebut telah ada tim bencana/ struktur organisasi bencana/ incident command system (ICS)?
  3. Apakah saat ini ICS/ struktur organisasi bencana itu sudah diaktifkan?
  4. Selama dua minggu ini, masalah apa yang dihadapi rumah sakit terkait sistem komando/ ICS/ tim bencana ini?

Agenda Kegiatan

{tab title=”Pertemuan 1″ class=”danger”}

HDP dalam SNARS dan Penugasan

Selasa, 31 Maret 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Umum Pembelajaran:
Memahami Rencana Penanggulangan Bencana di RS (HDP) sesuai SNARS

Pembicara   : dr. Bella Donna, M.Kes
Fasilitator    : Madelina Ariani, SKM, MPH

Tujuan Pembelajaran Khusus

(TPK)

Pokok Bahasan dan

Sub Pokok Bahasan

Metode

Memahami regulasi manajemen disaster

Memahami Regulasi Manajemen Disaster :

  1. Kebijakan
  2. Struktur organisasi
  3. Peran dan tanggung jawab staf
  4. SDM alternatif
  5. Fasilitas alternatif
  6. Komunikasi
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan

Memahami mengidentifikasi bencana internal dan bencana eksternal

Memahami mengidentifikasi Bencana Internal dan Bencana Eksternal :

  1. Analisis risiko (bencana non alam)
  2. Skenario (COVID-19)
Memahami melakukan self-assessment RS

Memahami melakukan self-assessment RS :

Indikator Kesiapsiagaan self-assessment

Overview ICS

Overview ICS :

  1. Latar Belakang ICS
  2. Prinsip ICS
  3. Organisasi dengan ICS

 

Materi

pdf Materi Pendahuluan dr Hendro Wartatmo

pdf Materi dr. Bella Donna, M.Kes

pdf Cek list Kesiapan saat Bencana

pdf Survey 1 Peserta Workshop HDP ICS – edit madel – 31 Maret 2020

Referensi

pdf Major-Incident-Medical-Management-and-Support-Third-Edition

pdf HICS_Guidebook_2014_11

pdf Hospital safety index form

pdf Hospital safety index guideline for evaluator

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

 {slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}

Hari I : Selasa, 31 Maret 2020

Komponen HDP dalam Akreditasi SNARS : Menilai Kesiapan Rumah Sakit Saat Ini

31 3 2020

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes dari Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Dalam menilai kesiapan yang ada saat ini di rumah sakit penting untuk memahami regulasi manajemen bencana, identifikasi bencana internal dan eksternal, melakukan self-assessment rumah sakit dan overview Incident Command System (ICS). Surge capacity di rumah sakit bertujuan untuk mengembangkan integritas struktural, strategi komunikasi, mengelola sumber daya (termasuk sumber alternatif), dan kegiatan klinis (termasuk tempat pelayanan alternatif). Rumah sakit melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana dengan menggunakan Hospital Safety Index dari WHO. ICS sebagai alat untuk perintah, kontrol dan koordinasi sumber daya selama kejadian. ICS ini terdiri dari prosedur pengorganisasian personel, fasilitas, peralatan, dan komunikasi selama kejadian. Mengapa menggunakan ICS? ICS ini akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi persel tanggap dan menetapkan fokus yang jelas pada tujuan dan garis wewenang.

Diskusi

  • RSPAU Hardjolukito ditunjuk oleh Sultan HB X (Gubernur DI. Yogyakarta) sebagai RS Rujukan, sekarang tengah dipersiapkan gedung dan alat – alatnya. Jika RSPAU Hardjolukito kekurangan SDM, maka bisa dibantu oleh tenaga kesehatan dari rumah sakit yang bukan rujukan. Bagian manajemen support sudah bisa menyiapkan skenario dan ini terkait pengaturan SDM. Alur juga perlu disiapkan sehingga bantuan yang datang bisa dikelola, misaalnya ceklis apa saja yang dibutuhkan oleh RSPAU Hardjolukito. Kebutuhan ceklist ini bisa dilihat dalam Hospital Incident Command System (HICS).
  • Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah akan membuat rumah sakit rujukan sehingga membutuhkan panduan khusus dalam pengembangan rumah sakit rujukan tersebut, seperti wisma atlit di Jakarta. UGM tidak memiliki guideline khusus terkait pendirian RS Rujukan. Kemenkes sudah mengeluarkan buku pedoman kesiapsiagaan COVID-19, silakan masing – masing daerah membuat satu kebijakan untuk pengembangan rumah sakit rujukan. Misalnya di DIY ada dibentuk WAG yang beranggotakan Persi DIY, IDI DIY, FKKMK, rumah sakit dan Dinkes yang aktif berdiskusi, sehingga memiliki beberapa opsi dalam pengembangan rumah sakit rujukan ini yaitu surge hospital dan surge in hospital. Untuk Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah akan didampingi oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM.
  • RS Islam Surabaya belum termasuk dalam rumah sakit rujukan, sementara di Surabaya terdapat 14 rumah sakit rujukan dan sudah penuh. RS Islam Surabaya tetap menerima pasien ODP dan PDP. Sementara menggunakan ruangan isolasi TB dengan tetap memperhatikan syarat ruang isolasi COVID-19. Hal yang menjadi kendala ICS RS Islam Surabaya belum jalan, harapannya dengan adanya workshop ini akan membantu RS Islam Surabaya untuk mengaktifkan ICS mereka.

Kegiatan hari ini ditutup dengan penjelasan penugasan melalui laman website http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19. Semua materi dan penugasan di – upload di website tersebut.

{/sliders} 

Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Pertemuan 2″ class=”warning”}

Prinsip Hospital Incident Command System dan Implementasinya (HICS) dan Penugasan

Rabu, 1 Maret 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

 

Tujuan Umum Pembelajaran : Memahami Sistem Komando di RS

Pembicara   : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                   2. dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator    : Madelina Ariani, SKM, MPH

 

Tujuan Pembelajaran Khusus

(TPK)

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

Memahami ICS dalam rumah sakit (HICS)

Memahami ICS dalam layanan kesehatan atau Rumah sakit (HICS):

  • Definisi HICS
  • Prinsip HICS
  • Komponen dalam HICS
  • Keuntungan ICS dalam HICS
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan

Lima fungsi manajemen ICS

Lima fungsi manajemen ICS

  • Komando insiden
  • Operasional
  • Perencanaan
  • Logistik
  • Administrasi dan keuangan
 

MATERI

pdf Materi H2 – Workshop ICS HDP – Hendro 1 April 2020

 

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase Kegiatan” class=”icon”}

Kegiatan dimulai dengan review penugasan hari pertama. Fasilitator menunjukkan infografis jawaban dari peserta yaitu apakah sudah memiliki HDP, apakah ada ICS dan apakah ICS sudah diaktifkan. Hampir 50% peserta belum mengaktifkan ICS.

hdp rs 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Incident Command System (ICS)

Incident Command System (ICS)

Materi ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK -KMK UGM. Pada materi ini dr. Hendro menegaskan bahwa tanpa ICS di rumah sakit maka operasional penanganan COVID-19 tidak akan berjalan. ICS sebagai alat untuk perintah, kontrol dan koordinasi sumber daya selama suatu kegiatan dan / atau kejadian. Di dalam ICS terdapat 5 fungsi manajemen yaitu operasional, logistik perencanaan, keuangan dan komando. Komando bertanggung jawab secara keseluruhan, operasi melaksanakan rencana, perencanaan menyusun kebutuhan dalam beberapa jam/hari mendatang, logistik memberikan dukungan dan keuangan melacak biaya dan pengadaan. Beberapa kasus yang ditemukan selama ini, misalnya ada SK yang sudah ditentukan penanggung jawab, namun tidak jalan karena pembagian tugasnya tidak jelas. Seharusnya mereka bisa dimasukkan ke ICS. Mengapa struktur sehari – hari tidak bisa dipakai? Karena di rumah sakit ada beberapa bidang yang harus ada dalam kondisi darurat. Misalnya dalam sehari – hari rumah sakit tidak ada seksi penerimaan relawan, kalau ada bantuan siapa yang mengaturnya? Intinya di struktur ICS bisa ada pembagian tugas yang jelas, sistem komunikasi yang jelas dan perencanaan lain jika terjadi masalah.

 

Diskusi

  • Komandan ICS itu kerjanya 24 jam dan tidak harus direktur , boleh dipilih dua orang sebagai komandan jadi ada yang menggantikan.
  • RSUD Sleman belum mengaktifkan ICS, saat ini sudah ada surat satgas untuk penanganan COVID-19 ini sendiri. Pemateri menyampaikan nama – nama yang di satgas supaya ditambahkan dalam struktur ICS. Hal yang perlu diperhatikan adalah nama- nama dan pembagian tugas sudah ada, tapi alur komunikasi antar unit belum ada. Jika ada kotak – kotak belum dipahami bisa ditanyakan. Misalnya liaison itu adalah penghubung eksternal rumah sakit. Bagaimana dengan pos komando? Bagaimana membentuk komunikasinya? Di dalam ICS ada namanya fasilitas, kita tidak bisa menggunakan struktur umum karena pada sehari – hari fasilitas tidak ada. Pos komando mengendalikan kerjaan anak buahnya, adanya hanya ketika krisis. Pos komando harus ditempat yang mudah dicapai, ada ruangan bisa untuk meeting. Tempat yang disediakan khusus untuk ketua mengendalikan operasionalnya (what if).
  • RSA UGM sudah punya satu gugus tugas covid, tapi tidak dibawah HDP, apakah bisa disebut ICS? Pemateri menjelaskan jika tidak di dalam HDP tidak menjadi masalah. Jika hanya ada pembagian tugas, belum ada alur komunikasinya belum bisa disebut ICS. Ini yang penting, sistem komunikasinya silakan disusun dalam protap tersebut. Contoh jika kamar ICU itu kekurangan APD, maka stok harus minta kemana? Harus ijin ke komandan tidak? Hal – hal seperti itu yang diatur dalam sistem komunikasi. Jika sudah ada diatur berarti bisa disebut sebagai ICS.
  • RSPAU Hardjolukito sudah membentuk tim siaga bencana dan sudah stand by di posko tiap hari, dibantu dinkes prov untuk kelengkapan APD. Artinya ICS sudah mulai berjalan. Artinya sekarang RSPAU memperkuat bagaimana membangun komunikasi ini ke eksternal, seperti informasi ke rumah sakit lainnya bahwa RSPAU Hardjolukito sudah siap menerima rujukan.
  • RSUP Karyadi Semarang sampai sekarang cukup stabil, low pasien. Alur penerimaan pasien, perubahan ruangan berjalan sudah baik. ICS di RS juga sudah baik. Hal yang menjadi masalah adalah sifatnya teknis, misalnya bagaimana setelah meninggal? Tidak semua pemakaman bersedia selama 24 jam. Sudah diusulkan ke gubernur supaya bisa melaksanakan pemakaman secara mendadak. Pemudik dari Jakarta cukup banyak, mengusulkan ke direktur ada satu area di gedung diubah jadi tempat rujukan. Pemateri menyampaikan masalah pemakaman beurusan ke eksternal, harus paham jalurnya bagaimana. Liaison officer – nya saja yang menyampaikan ke eksternal, jadi komandan tidak terlalu repot. Untuk masalah gedung baru, itu tugas bagian perencanaan.
  • RSUD Selong Lombok Timur belum memiliki SK tim di dalam rumah sakit. Dalam skala kabupaten sudah dibuat satu SK dimana rumah sakit diberi tugas operasional logistik dan pendanaan. Rumah sakit penting untuk membentuk ICS di internal rumah sakit karena dalam rumah sakit juga perlu ada perencanaan, komandannya siapa. Personel RS yang ada di satgas kabupaten bisa dimasukkan jadi liaison officer, jadi liaison officer itulah yang masuk ke kabupaten.
  • Bagaimana klinik kecil dalam membuat ICS? Rumah sakit ada levelnya, tidak usah semua jadi level 3 misalnya patokan level 3 kesiapan fasilitas (APD, ventilator dll). Misalnya RS Tipe C dalam 5 fungsi manajemen ICS (komandan, operasional, perencanaan, keuangan, logistik) memiliki fungsi apa? Jadi bisa membentuk ICS sesuai levelnya. Tetap membuat ICS dengan orang yang ada sesuai kapasitas rumah sakit.

 

Workshop hari ini ditutup dengan penjelasan penugasan 2 melalui laman website http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19#pertemuan-2. Workshop akan berlanjut besok dengan memahami sistem komando di Rumah Sakit.

Reporter : Happy R Pangaribuan

{/sliders}

 

{tab title=”Pertemuan 3″ class=”info”}

HICS dalam Penanggulangan COVID-19 dan Penugasan

Kamis, 2 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Umum Pembelajaran: Memahami Sistem Komando di RS

Pembicara  : 1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                  2. dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator   : Madelina Ariani, SKM, MPH

 

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

1. Memahami sistem pengorganisasian di rumah sakit pada saat bencana COVID-19

Sistem pengorganisasian di rumahsakit pada saat bencana:

  • Organisasi tentang penanganan bencana (organisasi fungsi)
  • Sistem komando di rumahsakit dalam penanggulangan bencana COVID-19
  • Standar SDM (leadership) dalam organisasi penanggulangan bencana
  • Penjelasan tentang tugas pusat pengendalian, keuangan, logistik, dan operasional
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • Diskusi
  • Penugasan
2.   Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM

Mampu menyusun organisasi dan kualifikasi SDM :

Struktur Organisasi dan kualifikasi SDM

 

MATERI

pdf MIIMS-strukturOrg

pdf OrganisasiICS-RS

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase” class=”icon”}

hdp rs 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Pengorganisasian Incident Command System di Rumah Sakit

Kegiatan ini dimulai dengan mereview hasil penugasan 2 peserta. Fasilitator memberikan 2 contoh penugasan peserta yang menggunakan ICS dan MIMMS dalam struktur pengorganisasian di RS.

Pengorganisasian Incident Command System (ICS) di Rumah Sakit

Materi ini disampaikan ileh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK-KMK UGM. Tujuan dari ICS ini adalah untuk menjawab what doing what, communication, what if. ICS bukan satu-satunya sistem. Salah satunya Major Incident Medical Management and Support (MIMMS). Dalam MIMMS tetap ada command sistem, SOP, jobdes dan sistem manajemen. Dan ada juga syarat-syaratnya, misalnya standar pelatihan pada tenaga medis, bidang medis harus menguasai ATLS, ACLC, first responder Langkah penyusunan ICS ditentukan dulu kegiatan yang akan dilakukan, dalam hal ini sesuai kapasitas RS (level 1,2, atau 3). Level tersebut tergantung resources yang ada di rumah sakit misalnya ketersediaan APD. Karena pembagian APD dalam penangan COVID ini sesuai dengan level rumah sakit. Kemudian tetapkan personilnya sesuai kegiatan.

hdp rs 3 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Diskusi”

Diskusi :

  • RS Kendal merupakan RS baru dan baru sekitar 5 bulan beroperasi. Saat ini sedang menyusun HDP dan ICS. Pada ICS sudah dibentuk dan ditetapkan orang-orangnya. Jika saat bencana RS terkena dampaknya termasuk orang yang ada di ICS itu, bagaimana mengaktifkannya?

3 fungsi yang harus ada yaitu pembagian tugas, komunikasi, rencana cadangan. Rencana cadangan itu tentang how if someone missing? Kalau orangnya banyak, maka harus dicadangkan dan kalau sedikit maka akan membutuhkan orang dari luar rumah sakit. Artinya dalam satu daerah harus ada networking. Jadi networking dengan providernya harus direncakan juga.

  • RSA UGM: Apakah ke depannya akan terjadi eskalasi jumlah pasien, karena ini mas a karantina wilayah. Kemudian di rumah sakit untuk kepemimpinan dilaksanakan oleh dokter spesialis Paru, sementara mereka harus melakukan pelayanan.

Data itu sangat penting sekali, di Jogja sekarang belum ada perhitungan dan ini perhitungan baru mau dibuat. Mengenai fungsi rangkap seorang spesialis di manajemen medical dan support, dalam kondisi normal tidak masalah. Namun dalam kondisi sekarang ini, susah kalau merangkap. Secara teoritis tidak masalah, namun dalam teknis akan terkendala karena COVID ini masalah transmisi. Spesialis paru sebaiknya dialihkan ke bidang operasional sebagai coordinator. Kalau front liner full operasional, tapi kalau manajer tidak perlu dokter paru.

  • Masalah yang dihadapi RSUP Soeradji Klaten dan RS Selong Lombok Timur sama dengan RSA UGM bahwa komandan dalam ICS mereka adalah dokter spesialis paru. Kendala lainnya adalah jumlah pendatang yang mudik ke daerah merekan sementara kapasitas mereka sangat terbatas untuk penanganan COVID.

Itu adalah masalah surge capacity, bagaimana menambah ruang tambahan. Disiapkan betul bukan hanya tempatnya tetapi orangnya, memobilisir dari puskesmas. Misalnya kalau mau menggunakan wisma haji itu harus sudah diurus sejak sekarang. Dalam hal ini Pemda sangat berperan.

  • RSUD Banjarnegara : terkait dengan pengaturan relawan mohon informasi barangkali ada contoh kebijakan atau SPO nya.

Relawan harus ada yang mengatur sendiri dan ini diperjelas di ICS. Ada pendaftaran langsung relawan, kemudian dibagi (relawan medis, teknis). Orang yang mengurusi relawan ini berhubungan dengan sie operasioanal. Jadi ada pencatatan relawan yang dibutuhkan dimana. Untuk relawan yang tidak ada tempat, ditulis dulu kontaknya, sehingga bisa menghubunginya jika diperlukan. Ada formulir untuk pendaftaran relawan.

 

Kegiatan ditutup dengan penugasan 3 melalui laman website. Informasi selengkapnya terkait penugasan dan materi simak di http://bencana-kesehatan.net/index.php/16-hospital-disaster-plan/pelatihan-hdp/3917-serial-workshop-online-aktivasi-hospital-disaster-plan-berbasis-incident-command-system-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/sliders}

 

{tab title=”Pertemuan 4 ” class=”green”}

Presentasi dan Evaluasi

Jumat, 3 April 2020, Pukul 08.30 -10.00 WIB

Tujuan Pembelajaran Umum :
memahami penerapan dan aktivasi ICS untuk covid-19

Pembicara :  1. Dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
                  2. Dr. Bella Donna, M.Kes

Fasilitator  : Madelina Ariani, SKM, MPH

Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Metode

Memahami menyusun ICS, jadwal, dan rencana kegiatan tim selama tanggap darurat

Presentasi oleh peserta

Komentar dan masukan dari pembicara

  • Presentasi
  • Tanya jawab
  • Diskusi
Kesimpulan  
Penutupan  

 

 


PENUGASAN


report icon Bahan penugasan di sini

monitor Kirim penugasan di sini

 

{slider title =”Arsip Video” class=”icon”}

{slider title =”Reportase” class=”icon”}

03 04 2020

Kegiatan hari ini dimulai dengan review penugasan. Selanjutnya perwakilan dari beberapa peserta mempresentasikan hasil penugasan mereka dan menyampaikan kendala yang dihadapi dalam proses aktivasi Hospital Disaster Plan (HDP) berbasis Incident Command System (ICS). Beberapa RS yang presentase sebagai berikut :

RS Tadulako Palu

Kapasitas RS Tadulako Palu Hanya bisa melayani pasien ODP dan PDP, untuk pasien yang positif akan dirujuk ke RS Rujukan Sulawesi Tengah. Pasca gempa Palu, RS rusak berat jadi pelayanan dipindahkan ke klinik Undata. Kendala saat ini adalah turn over tenaga kesehatan cukup tinggi karena kunjungan pasien berkurang. Sistem koordinasi di rumah sakit berjalan dengan baik dan direkturnya aktif. Hal ini menjadi kekuatan bagi rumah sakit sendiri. RS jangan memaksakan harus melayani pasien positif jika memang keterbatasan sumber daya, tetap saja cukup sampai isolasi PDP.

RSUD Selong Lombok Timur

RS sedang merevisi ICS untuk Covid ini. Sejak bulan lalu sudah dilakukan perekrutan tenaga kesehatan sehingga untuk tenaga kesehatan sendiri tidak ada masalah. Permasalahan sekarang adalah belum melatih jika terjadi pasien PDP yang positif dan sesak nafas di ruangan. Rumah sakit hanya mempunyai 1 ventilator. Kondisi lainnya yang menjadi komandan dan penanggung jawab operasional sama yaitu dokter spesialis paru. Sementara sekarang semua puskesmas konsultasi ke dokter paru, misalkan ada ODP dari puskesmas langsung konsul ke dr paru, jika ke UGD terkadang anamnesi kurang tepat. Pemateri menyarankan bahwa sebaiknya dokter spesialis paru full sebagai operasional saja sementara untuk manajemennya diganti orang lain. RS ditetapkan sebagai RS pusat rujukan. Sehingga harus mampu pada level 3 untuk penanganan COVID, meskipun misalnya sehari-hari tarif BPJS level B. Sekarang rumah sakit perlu melanjutkan untuk RS level 3. Jika pasien banyak maka dibuat bangsal baru. Jika ada 1 ventilator, 1 dirawat di ventilator, selebihnya bisa di ruangan ICU. Terkait pengembangan ini diusulkan dari RS ke dinkes setempat kemudian ke BPBD, jadi bantuan dari pusat bisa diturunkan ke BPBD kemudian ke Dinkes kemudian diteruskan ke RS.

RSU Charlie Kendal

Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan SDM sehingga memasukkan SDM ke struktur ICS – nya yang kesulitan, ada beberapa yang merangkap. Kemudian yang kurang adalah kuantitas bukan kualitas. Plan B bisa dicarikan relawan. Relawan bisa berhubungan dengan LSM atau PMI atau dengan organisasi yang dikenal. Berdasarkan struktur ICS bisa di bagian Liason Officer untuk penerimaan relawan. Untuk penerimaan bantuan atau logistik medis bisa di safety officer atau logistik. RSU Charlie Kendal bisa menangani pasien ODP dan PDP, pasien positif akan dirujuk.

RSA UGM

ICS COVID-19 terpisah dengan HDP RSA UGM. COVID-19 ini dikepalai oleh dokter spesialis paru. Aktivasi ICS bisa dilakukan secara lisan dulu kemudian tertulis. Kalau tertulis itu terkait SPJ. COVID-19 berjalan bukan berarti pelayanan sehari-hari tidak jalan hanya saja pelayanan umum dibatasi untuk yang elektif. RSA UGM juga memiliki tim untuk kajian ilmiah. Kajian ilmiah ini melibatkan koordinasi dari berbagai unit. Para pakar dalm pengembangan kajian ilmiah ini bisa dimasukkan kedalam ICS sebagai pengarah tetapi terkait pelaksanaan teknis itu di bagian perencanaan.

RSUD Sleman

ICS sudah diperbaiki dan disesuaikan dengan hasil perbaikan penugasan dari fasilitator. Dalam SK Satgas sudah ada sekretaris, dan akan dimasukkan dalam skema. Kendala sekarang ini komandan sudah overload. Sehingga disarankan supaya komandan jangan hanya satu saja, boleh ditambah 2 atau 3 orang lagi dengan syarat pencatatan dan pelaporan tugas jelas. Jadi ada pergantian komandan, bisa pergantian dilakukan per minggu. Tim ICS ini memiliki masa jabatann, artinya SK Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit berlaku seterusnya namun SK ICS Penanganan COVID-19 ini usai setelah operasionalnya selesai.

PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Masih menggunakan satgas COVID-19, namun komukasinya sudah seperti ICS – nya. Setiap hari juga sudah dilakukan koordinasi. Untuk sistem informasi ada yaitu MCCC. Disana selalu update untuk kegiatan – kegiatan per hari. Selain internal juga ada pelayanan diluar misalnya informasi pencegahan covid. Jadi sistem komunikasi sudah dibangun ke eksternal.

 

Kesimpulan dari workshop hari ini adalah jika ICS sudah diaktifkan, harus melakukan evaluasi dan update melalui laporan tiap hari. Hal yang paling penting sekarang jelas pencatatannya, siapa – siapa saja tim yang terlibat dan ada laporan tiap hari. Sehingga ketika ingin mengeluarkan insentif sudah ada bukti yang jelas. Fasilitator menyampaikan bahwa workshop ini akan berlanjut dengan topik yang berbeda yaitu Sistem Komunikasi dalam ICS. Harapannya peserta tetap mengikuti workshop tersebut untuk mematangkan persiapan manajemen penanganan COVID-19.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KM UGM

{/sliders}

{/tabs}

Reportase: Surge Capacity dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Webinar dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro. Webinar ini membahas surge capacity untuk menghadapi lonjakan pasien saat wabah COVID-19 melanda Indonesia. Harapannya melalui diskusi ini akan didapatkan satu strategi surge capacity yang memungkinkan bisa dilaksanakan segera di DIY. Tentunya dengan memperhatikan sumber daya yang ada di daerah.

Perencanaan Surge Capacity dalam Konteks COVID-19

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna dari Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Surge berada di level rumah sakit yang terkait dengan Hospital Disaster Plan (HDP) dan sistem kesehatan. Hubungan surge capacity dalam HDP, dilihat dari elemen penilaian akreditasi rumah sakit sudah jelas. Dalam surge capacity ada struktural, ada sistem komunikasi, ada sumber alternatif dan pelayanan alternatif. Apakah rumah sakit saat ini sudah memiliki hal tersebut dalam penanganan COVID-19?. Indikator kesiapsiagaan rumah sakit dilihat dari segi kebijakan dan pengorganisasian, komunikasi, prosedur, rencana kontijensi, fasilitas dan SDM, pembiayaan, monitoring dan evaluasi. Terdapat empat komponen surge capacity (4 S) yaitu staff, stuff, structure dan system. Keempat komponen ini sangat penting disiapkan. Struktur berkaitan dengan fasilitas. Ada berbagai jenis surge hospital yang bisa dikembangkan misalnya membuka rumah sakit yang sudah ditutup (Pulau Galang), menggunakan bangunan non medis (Wisma Atlit, Wisma Haji), dan fasilitas medis bergerak. Pemenuhan SDM dalam surge facility bisa dilakukan dengan open rekrutmen relawan kesehatan dan mengirim atau menugaskan sementara staf dari rumah sakit non – surge ke rumah sakit surge. Pertanyaannya adalah siapa pemimpin yang merencanakan pengembangan surge capacity di DIY?

Surge Capacity Pada Penanggulangan COVID-19

Materi ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dari Pokja Bencana FK – KMK UGM. COVID-19 bagian dari bencana, artinya dalam penanganannya kita harus berpikir secara manajemen bencana. Surge berbicara tentang bagaimana meningkatkan kemampuan secara mendadak, namun tidak semudah yang dipikirkandibayangkan. Pilihan surge di DIY  ada dua yaitu pertama surge capacity in hospital dan kedua surge hospital. Jika surge capacity in hospital di 25 RS DIY sepertinya tidak mungkin, yang paling rasional itu adalah opsi kedua, membuat rumah sakit khusus untuk COVID-19  ini, tawarannya banyak bisa seperti wisma atlit dan rumah sakit kosong. Kenapa ini lebih dipilih? Karena syarat untuk menjadi rumah sakit rujukan itu sangat banyak. Prinsipnya adalah pelayanan kesehatan harus bisa dipenuhi apalagi pelayanan dituntut harus sesuai standar. Hal yang menjadi masalah, kita belum mempunyai pengalaman surge untuk penyakit menular. Konsep dasar skenario untuk surge hospital (sebagai RS Rujukan) adalah penanganan pasien dipusatkan di satu tempat, rumah sakit yang lain sebagai tempat triase termasuk puskesmas juga. Jika ingin melaksanakan rumah sakit rujukan, pertama sekali ditentukan dulu siapa komandannya, staf (gugus DIY, pakar profesi), pelaksana (RS Hardjolukito, RS Persi DIY, relawan), dan logistik (RS Harjolukito, pemerintah, sumbangan). Prinsip Incident Command System (ICS) ada 3 yaitu siapa komandannya, siapa melakukan apa, dan rencana cadangan. Kesimpulannya bagaimana RS Rujukan COVID-19 bisa berfungsi segera?

Diskusi

  • Skenario wabah hampir tidak ada di rumah sakit, yang banyak itu skenario bencana alam. Opsi yang memungkinkan dipilih adalah opsi kedua tadi yaitu surge hospital. Namun kita membutuhkan SK atau surat resmi dan ada ketegasan dari Pemda karena DIY punya kemampuan untuk surge hospital ini.
  • Problem besar saat ini selain kapasitas adalah ketersediaan resources, koordinasi dan leadership. Artinya jika memang alat pelindung diri (APD) – nya tidak siap, lebih baik penanganan COVID-19 ini disatukan saja seperti surge hospital. Misalnya dalam satu wilayah terdapat 10 rumah sakit, maka lebih baik ditentukan 1 atau 2 yang siap untuk menangani COVID-19 dengan mempertimbangkan  indikator rumah sakit rujukan (surge). Sementara rumah sakit lainnya (non – surge) melakukan triase dan tenaga kesehatan bisa ditugaskan dari rumah sakit non – surge
  • Terkait data dan informasi, sistem pelaporan, ada baiknya sudah terakomodir dalam satu ICS.  Sehingga datanya itu satu pintu. Termasuk nanti pengaturan surge resources dari rumah sakit lain di rumah sakit rujukan, ada kepala operasional yang mengaturnya.
  • Kebijakan terkait etika khususnya apakah tenaga medis diperbolehkan menolak memberikan asuhan pada pasien COVID-19 ini diatur oleh Pemda. Kembali ke konsep surge hospital, jika ini sudah tersistem dengan baik otomatis rumah sakit yang tidak siap melayani pasien, bisa dirujuk ke rumah sakit rujukan (surge) artinya tidak ada penolakan yang dilakukan rumah sakit. Dengan adanya surge hospital dalam satu wilayah, semua dilakukan secara bertahap atau berjenjang, puskesmas sudah mendapatkan triase, menuju rumah sakit secara bertahap (Puskesmas à RS Triase à RS Rujukan).
  • Perkembangan di DIY, usulan surge hospital sudah sampai Pemda, sekarang sedang menunggu kejelasan SK resmi. Seperti yang disampaikan oleh Prof Sutaryo (staf asisten gubernur DIY), sudah ada pembahasan penanganan COVID-19 dikonsentrasikan di Rumah Sakit TNI AU Hardjolukito Yogyakarta. Rumah sakit ini mampu, mempunyai cadangan, ada laboratorium, jauh dari pemukiman, jalur pasien masuk juga ada, sehingga inilah rumah sakit yang paling ideal untuk DIY sebagai rumah sakit rujukan. Selebihnya APD dilengkapi oleh pemerintah daerah dan tenaga kesehatan dari IDI atau Persi DIY dibawah koordinasi Dinkes. Semoga SK – nya segera terbit.

Penutup

Strategi untuk surge capacity di DIY lebih kepada opsi surge hospital yaitu memusatkan rujukan penanganan pasien di satu rumah sakit. Lonjakan mungkin bisa sedikit atau banyak. Dalam pengembangan surge hospital ini, penting juga mencermati shelter untuk SDM kesehatan, penanganan mental health SDM kesehatan dan penanganan limbah berbahaya. Webinar selanjutnya akan membahas satu skenario yang bisa dipakai berdasarkan SK yang akan dikeluarkan oleh gubernur dalam pengembangan surge hospital ini.

Peta Corona Jateng, Semarang Kasus Corona Terbanyak

Peta Corona Jateng, Semarang Kasus Corona Terbanyak

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) terus memperbarui website penyebaran virus corona COVID-19 agar warganya bisa memantau. Nama websitenya adalah corona.jatengprov.go.id.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2020), data dalam situs ini yang diupdate tanggal 25 Maret 2020 pukul 16.00 WIB. Disebutkan ada 2.858 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 270 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan ada 38 orang terkonfirmasi positif corona.

Selain itu, dari 38 kasus positif corona di Jateng, terdapat jumlah orang yang meninggal sebanyak 4 orang dan 34 lainnya sedang dirawat di tempat sebagai berikut ;

  • 4 di RS Dr. Moewardi Solo
  • 7 di RS Dr. Kariadi Semarang
  • 1 di RS Tidar Magelang
  • 3 di RS Telogorejo Semarang
  • 5 di Rumah Sakit Wongso Negoro Semarang
  • 1 di RSUD Kraton Pekalongan
  • 1 di RS Margono Purwokerto
  • 3 di RSUD Banyumas
  • 1 di RSUD Kardinah Tegal
  • 2 di RSU dr. Soedjono Magelang
  • 1 di RSUD Cilacap
  • 1 di RSUD Setjonegoro Wonosobo
  • 1 di RSUD dr. Soediran MS Wonogiri
  • 3 di RSUD dr. R. G. Taroenadibrata Purbalingga
  • 3 di RS Dr. Moewardi Solo
  • 1 di RS Dr. Kariadi Semarang

Dalam website tersebut dijabarkan pula peta sebaran kasus corona di daerah Jateng dengan masing-masing diberikan keterangan warna. Contohnya zona atau warna merah yang berarti daerah tersebt terdapat kasus positif corona.

Oleh karena itu berikut daerah Jateng yang paling banyak terdapat kasus positif corona atau ditandai  sebagai zona merah, per 25 Maret ;

  • Kota Tegal : ODP (19), PDP (14), Positif Corona (1)
  • Purbalingga : ODP (77), PDP (9), Positif Corona (3)
  • Banyumans : ODP (154), PDP (16), Positif Corona (4)
  • Cilacap : ODP (49), PDP (8), Positif Corona (1)
  • Kota Pekalongan : ODP (31), PDP (1), Positif Corona (1)
  • Wonosobo : ODP (218), PDP (2), Positif Corona (1)
  • Kota Magelang : ODP (47), PDP (17), Positif Corona (3)
  • Kota Semarang : ODP (700), PDP (78), Positif Corona (16)
  • Kota Surakarta : ODP (69), PDP (22), Positif Corona (7)
  • Wonogiri : ODP (27), PDP (7), Positif Corona (1)

Catatan saja, orang Dalam Pemantauan (ODP) merupakan pasien yang dipulangkan untuk dipantau kesehatannya selama 14 hari oleh Puskesmas di wilayah domisili.

Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) adalah pasien dirujuk ke RS Rujukan Covid-19 untuk mendapatkan perawatan dan pemeriksaan swab tenggorokan dan memastikan positif atau negatif Covid-19.

9 Cara untuk Mencegah Penyebaran Virus Corona COVID-19

Jakarta – Pasien COVID-19 akibat terjangkit virus Corona di Indonesia terus bertambah. Kondisi ini membuat seluruh masyarakat di Tanah Air wajib waspada.

Setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, dengan tidak ikut menyebarkan virus Corona. 

Pemerintah Indonesia saat ini sudah melakukan upaya untuk memutus mata rantai penularan virus Corona. Imbauan itu menjaga jarak fisik (physical distancing), kerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah di rumah terus digaungkan sehingga.

Hal itu terkait sifat virus Corona yang menular antarmanusia. Penularan bisa terjadi melalui percikan.

Itulah mengapa diharapkan warga menjaga jarak fisik dengan sesamanya untuk meminimalisasi risiko terkena percikan (droplet), atau menyentuh benda yang sebelumnya terkena droplet.

Dilansir dari CDC, virus Corona dapat tetap hidup di permukaan benda mati selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Jadi, sangat penting cara mengetahui bagaimana cara mencegah penyebaran virus Corona.

Bola.com telah merangkum dari berbagai sumber, petunjuk praktis yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona:

1. Sering-Sering Mencuci Tangan

Sekitar 98 persen penyebaran penyakit bersumber dari tangan. Mencuci tangan hingga bersih menggunakan sabun dan air mengalir efektif membunuh kuman, bakteri, dan virus, termasuk virus Corona.

Pentingnya menjaga kebersihan tangan membuat Anda memiliki risiko rendah terjangkit berbagai penyakit.

2. Hindari Menyentuh Area Wajah

Virus Corona dapat menyerang tubuh melalui area segitiga wajah, seperti mata, mulut, dan hidung. Area segitiga wajah rentan tersentuh oleh tangan, sadar atau tanpa disadari.

Sangat penting menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan benda atau bersalaman dengan orang lain.

3. Hindari Berjabat Tangan dan Berpelukan

Menghindari kontak kulit seperti berjabat tangan mampu mencegah penyebaran virus Corona. Untuk saat ini menghindari kontak adalah cara terbaik.

Tangan dan wajah bisa menjadi media penyebaran virus Corona.

4. Jangan Berbagi Barang Pribadi

Virus Corona mampu bertahan di permukaan hingga tiga hari. Penting untuk tidak berbagi peralatan makan, sedotan, handphone, dan sisir. Gunakan peralatan sendiri demi kesehatan dan mencegah terinfeksi virus Corona.

5. Etika ketika Bersin dan Batuk

Satu di antara penyebaran virus Corona bisa melalui udara. Ketika Anda bersin dan batuk, tutup mulut dan hidung agar orang yang ada di sekitar tidak terpapar percikan kelenjar liur.

Lebih baik gunakan tisu ketika menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk. Cuci tangan Anda hingga bersih menggunakan sabun agar tidak ada kuman, bakteri, dan virus yang tertinggal di tangan.

6. Bersihkan Perabotan di Rumah

Tak hanya menjaga kebersihan tubuh, kebersihan lingkungan tempat Anda tinggal juga penting. Gunakan disinfektan untuk membersih perabotan yang ada di rumah.

Bersihkan permukaan perabotan rumah yang rentan tersentuh, seperti gagang pintu, meja, furnitur, laptop, handphone, apa pun, secara teratur. Anda bisa membuat cairan disinfektan buatan sendiri di rumah menggunakan cairan pemutih dan air.

Bersihkan perabotan rumah Anda cukup dua kali sehari.

7. Jaga Jarak Sosial

Satu di antara pencegahan penyebaran virus Corona yang efektif adalah jaga jarak sosial. Pemerintah telah melakukan kampanye jaga jarak fisik atau physical distancing.

Dengan menerapkan physical distancing ketika beraktivitas di luar ruangan atau tempat umum, Anda sudah melakukan satu langkah mencegah terinfeksi virus Corona. Jaga jarak Anda dengan orang lain sekitar satu meter.

Jaga jarak fisik tak hanya berlaku di tempat umum, di rumah pun juga bisa Anda terapkan.

8. Hindari Berkumpul dalam Jumlah Banyak

Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia telah membuat peraturan untuk tidak melakukan aktivitas keramaian selama pandemi virus Corona. Tak hanya tempat umum, seperti tempat makan, gedung olah raga, tetapi tempat ibadah saat ini harus mengalami dampak tersebut.

Tindakan tersebut adalah upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona. Virus Corona dapat ditularkan melalui makanan, peralatan, hingga udara.

Untuk saat ini, dianjurkan lebih baik melakukan aktivitas di rumah agar pandemi virus Corona cepat berlalu.

9. Mencuci Bahan Makanan

Selain mencuci tangan, mencuci bahan makanan juga penting dilakukan. Rendam bahan makanan, seperti buah-buah dan sayur-sayuran menggunakan larutan hidrogen peroksida atau cuka putih yang aman untuk makanan.

Simpan di kulkas atau lemari es agar bahan makanan tetap segar ketika ingin dikonsumsi.

Selain untuk membersihkan, larutan yang digunakan sebagai mencuci memiliki sifat antibakteri yang mampu mengatasi bakteri yang ada di bahan makanan.

Bandung, Bogor, hingga Magetan Transmisi Lokal Baru Corona

Bandung, Bogor, hingga Magetan Transmisi Lokal Baru Corona

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Kesehatan mencatat sejumlah daerah menjadi wilayah transmisi lokal baru dalam penyebaran virus corona (Covid-19). Transmisi lokal adalah penularan virus corona yang terjadi dari satu orang ke orang lain di suatu wilayah.

Sebuah daerah disebut sebagai wilayah transmisi lokal ketika seseorang yang terpapar virus corona dengan sengaja atau tidak sengaja menularkan virus tersebut ke orang lain di wilayah tersebut. Kemudian penularan tersebut terus berulang hingga kasus positif terpapar corona semakin banyak.

Dikutip dari laman covid19.kemkes.go.id, daerah yang menjadi wilayah transmisi lokal baru berada di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Untuk transmisi lokal baru di Jawa Barat meliputi Bandung, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kabupaten Karawang. Sementara untuk di Jawa Timur berada di Kabupaten Magetan.

Untuk di Bandung, sampai Selasa (24/3), dari data Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), terdapat 11 pasien positif corona, 255 orang dalam pemantauan (ODP), dan 24 pasien dalam pengawasan (PDP).

Secara berturut-turut di Kabupaten Bogor terdapat 7 pasien positif corona, Kota Bogor sebanyak 7 pasien positif (satu di antaranya meninggal), dan Kabupaten Kerawang 5 pasien positif corona, termasuk Bupati Karawang Cellica Nurachaiana.

Sementar itu, Kabupaten Magetan terdapat 8 pasien positif corona, 34 ODP dan 8 PDP.

Daftar wilayah transmisi lokal corona:
DKI Jakarta
Banten: Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang
Jawa Barat: Bandung (baru), Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Bogor (baru), Kabupaten Bogor (baru) dan Kota Depok, dan Karawang.
Jawa Tengah: Solo

Jawa Timur: Kabupaten Malang, Magetan (baru) dan Kota Surabaya.

Hingga Rabu (25/3) per 15.30 WIB, jumlah kasus positif corona di Indonesia secara kumulatif sebanyak 790. Dari jumlah itu, 58 orang meninggal dunia dan 31 pasien dinyatakan sembuh setelah dua kali melakukan tes.

Dari data itu, Jakarta menjadi daerah dengan pasien positif terbanyak, yakni 463 kasus. Sementara secara berturut-turut 73 kasus positif Covid-19 di Jawa Barat, 67 kasus di Banten, 51 kasus di Jawa Timur, dan 38 kasus di Jawa Tengah.

Pemerintah mulai melakukan rapid test atau tes cepat untuk mendeteksi awal seseorang terinfeksi virus corona atau tidak menyusul penyebaran virus yang semakin meluas. Tercatat kasus positif virus corona sudah terdapat di 24 provinsi Indonesia.

Daftar Wilayah Transmisi Lokal Virus Corona di Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Kesehatan mencatat lima provinsi termasuk wilayah transmisi lokal penularan virus corona (covid-19). Transmisi lokal merujuk pada penularan covid-19 antara orang per orang di suatu wilayah.

Dikutip dari laman covid19.kemkes.go.id, lima provinsi itu yakni DKI Jakarta; Banten yang meliputi Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang; Jawa Barat yang meliputi Bandung, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok, dan Karawang; Jawa Tengah yang meliputi Solo, dan Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Malang, Magetan dan Surabaya. Jakarta diketahui menjadi provinsi paling banyak jumlah pasien yang terpapar covid-19.

Dari data Rabu (25/3), jumlah pasien positif covid-19 di Indonesia mencapai 790 orang. Jumlah ini bertambah 105 kasus dari sebelumnya yakni 685 orang. Sebanyak 58 orang di antaranya meninggal dunia dan jumlah pasien sembuh 31 orang.

Dari jumlah tersebut, 463 kasus berasal dari Jakarta atau paling banyak. Kemudian menyusul Jawa Barat 73 kasus positif covid-19, 67 kasus di Banten, 51 kasus di Jatim, dan 38 kasus di Jateng.  

Para pasien positif Covid-19 itu tersebar di 24 provinsi Indonesia. Dengan demikian masih terdapat 10 provinsi yang belum terpapar virus corona.

Daftar Wilayah Transmisi Lokal Virus Corona di Indonesia
Foto: CNNIndonesia/Basith SubastianPenyebaran virus ini pertama kali terdeteksi setelah dua warga Depok positif Covid-19 pada awal Maret ini. Mereka berdua tertular dari warga negara Jepang di sebuah klub di kawasan Kemang, Jakarta.

Penyebaran virus ini pertama kali terdeteksi setelah dua warga Depok positif Covid-19 pada awal Maret ini. Mereka berdua tertular dari warga negara Jepang di sebuah klub di kawasan Kemang, Jakarta.

Setelah itu, kasus positif lainnya bermunculan. Pemerintah lantas membagi kluster penyebaran ketika mengumumkan jumlah pasien positif. Mulai dari kluster Jakarta, imported case atau tertular saat ada di luar negeri, dan transmisi lokal.

Pemerintah saat ini mulai melakukan rapid test atau tes cepat untuk mendeteksi awal seseorang terinfeksi virus atau tidak menyusul persebaran covid-19 yang semakin masif. 

Selain diprioritaskan bagi petugas medis dan orang yang pernah kontak dekat dengan pasien covid-19, rapid test rencananya juga bakal dilakukan berbasis wilayah.

Basis wilayah ini akan dilakukan di wilayah yang sudah ada kasus positif covid-19 dan dianggap berpotensi menular, salah satunya Jakarta Selatan.

Pemerintah sendiri hingga saat ini telah mendistribusikan 125 ribu kit untuk rapid test di 34 provinsi di Indonesia.
Data-data tersebut masih bisa berubah. Pemerintah mengumumkan update kasus positif dan jumlah pasien meninggal serta sembuh setelah menerima laporan dari masing-masing wilayah per pukul 12.00 WIB setiap harinya. (psp)

Poin-poin Penjelasan Terbaru Pemerintah soal Virus Corona 25 Maret 2020

Jakarta – Pemerintah terus menginformasikan kasus virus Corona (COVID-19) terbaru dan penanganannya. Per Rabu 25 Maret 2020, ada 790 kasus positif virus Corona di Indonesia.

Informasi dan data terbaru kasus virus Corona ini disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB di YouTube, pada Rabu, 25 Maret 2020.

Yuri mengatakan total ada 58 orang positif Corona yang meninggal dunia yang tersebar di 11 provinsi.

Berikut ini poin-poin penjelasan terbaru pemerintah soal virus Corona pada 25 Maret 2020:

790 Kasus Positif Corona

Hingga hari ini, tercatat kasus positif Corona bertambah menjadi 790. “Total kasus positif 790, ini angka kumulasi,” ujar Yuri.

Data ini dihimpun hingga pukul 12.00 WIB hari ini. Dengan jumlah kasus itu, berarti ada penambahan 105 kasus positif Corona dari data sebelumnya.

58 Pasien Corona Meninggal, 31 Sembuh

Jumlah warga yang meninggal hingga hari ini total menjadi 58 orang.

“Kasus yang meninggal ada 58 orang,” kata Yuri.

Sementara itu, pasien yang sembuh bertambah 1 orang. Total pasien yang sembuh saat ini 31 orang.

“Kasus yang sudah sembuh ada 31 orang,” ujar Yuri.

Physical Distancing Juga di Rumah

Yuri mengatakan physical distancing harus dilakukan di dalam dan luar rumah. Dia mengingatkan pembatasan kontak fisik perlu dilakukan untuk mencegah penularan lewat percikan ludah.

“Pertama, harus dilaksanakan pembatasan kontak fisik dalam komunikasi sehari-hari. Bukan hanya di luar, tapi di dalam rumah juga harus kita lakukan. Mengapa penting, karena penyakit ini menular. Menular dari orang yang sakit ke yang sehat melalui percikan ludah yang kecil-kecil yang disebut droplet,” kata Yuri.

Dia mengatakan percikan ludah dari orang sakit bisa dengan mudah menular ke orang yang sehat saat batuk, berbicara, ataupun bersin. Dia mengingatkan masyarakat tetap waspada karena di beberapa kasus ditemukan pasien positif Corona tapi tidak menampakkan gejala.

Gejala Mirip Flu, Jangan Tebak-tebak

Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik dan memeriksakan kesehatannya jika mengalami gejala sakit, seperti influenza.

“Kami berharap masyarakat paham betul tentang penyakit ini, sehingga tidak perlu ada kepanikan. Manakala kemudian merasa dirinya tak enak badan dengan gejala mirip influenza, kita berharap mereka segera mengakses layanan kesehatan untuk berkonsultasi,” ujar Yuri.

“Sudah barang tentu, gunakan masker agar pada saat batuk, saat bersin, tak menyebarkan ke mana-mana. Konsul ke petugas kesehatan terdekat, mulai puskesmas, rumah sakit, dan seterusnya,” imbuhnya.

Yuri meminta masyarakat menyerahkan segalanya kepada tenaga medis. Yuri juga meminta masyarakat tak menebak-nebak sendiri tentang penyakit yang diderita.

Positif Corona Hanya Tunjukkan Sakit Ringan

Yuri mengatakan banyak pasien positif Corona yang hanya menunjukkan sakit ringan. Bahkan, pada beberapa kasus, pasien positif Corona tidak menunjukkan gejala sama sekali.

“Tetapi banyak sekali kasus positif mengandung virus ini justru dari orang-orang yang sakit ringan, tidak terlihat sakit berat, bahkan di beberapa data yang kita miliki tampak tidak bergejala sama sekali,” ujar Yuri.

Karena itu, masyarakat diminta menjaga jarak meskipun sama sekali tidak menunjukkan gejala batuk ataupun demam.

“Setidak-tidaknya kita harus memiliki jarak lebih dari 1,5 meter. Ini menjadi kunci,” kata Yuri.

Sebaran 790 Positif Corona

Data sebaran kasus positif COVID-19 per provinsi.

“Jumlah kasus positif COVID-19 ada 790 kasus. Jumlah kasus sudah sembuh dan boleh pulang ada 31 orang, dan kasus meninggal dunia ada 58 orang,” kata Yuri.

Positif COVID-19:

1. Bali: 9
2. Banten: 67
3. DIY: 17
4. DKI: 463
5. Jambi: 1
6. Jawa Barat: 73
7. Jawa Tengah: 38
8. Jawa Timur: 51
9. Kalimantan Barat: 3
10. Kalimantan Timur: 11
11. Kalimantan Tengah: 3
12. Kalimantan Selatan: 2
13. Kepulauan Riau: 5
14. NTB: 2
15. Sumatera Selatan: 1
16. Sulawesi Utara: 2
17. Sumatera Utara: 7
18. Sulawesi Tenggara: 3
19. Sulawesi Selatan: 13
20. Lampung: 1
21. Riau: 1
22. Maluku Utara: 1
23. Maluku: 1
24. Papua: 3
Dalam proses verifikasi: 12
Total: 790 kasus

Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Efektif

Yuri mengatakan mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif daripada hand sanitizer. “Dan yang lebih penting dari itu semuanya adalah cuci tangan. Cuci tangan pakai sabun, tidak harus hand sanitizer, jauh lebih efektif menggunakan sabun dibanding dengan menggunakan hand sanitizer,” kata Yuri.

Yuri, sapaan akrab Achmad Yurianto, menjelaskan dua alasan mengapa mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif daripada hand sanitizer. Pertama, sebut Yuri, dengan mencuci tangan menggunakan sabun, seluruh celah di tangan bisa dibasuh.

58 Pasien Corona Meninggal Ada di 11 Provinsi

Sebanyak 58 pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia ada di di 11 provinsi. Berikut ini data selengkapnya:

1. Bali: 2
2. Banten: 4
3. DIY: 2
4. DKI: 31
5. Jawa Barat: 10
6. Jawa Tengah: 4
7. Jawa Timur: 1
8. Kepulauan Riau: 1
9. Sumatera Selatan: 1
10. Sumatera Utara: 1
11. Sulawesi Selatan: 1
Total: 58

Kematian Kasus Corona Turun Jadi 7,34%

Dibandingkan Selasa (24/3) kemarin, tingkat kematian kasus positif virus Corona di Indonesia kini sudah turun menjadi 7,34%. Jumlah kasus positif Corona juga bertambah.

Dia menyampaikan data hari ini, ada 58 pasien positif COVID-19 meninggal dunia dari 790 kasus positif COVID-19. Penghitungan tingkat kematian (case fatality rate/CFR) bisa dilakukan dengan membagi angka kematian dengan total kasus positif, dikalikan 100.

Tingkat kematian saat ini adalah 7,34%, sebagaimana disampaikan juga oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kemarin, tingkat kematian kasus positif COVID-19 di Indonesia masih 8,02%. Kemarin, angka kematian ada 55 orang dengan jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 686 kasus. Berarti tingkat kematian turun 0,68%.

Di seluruh dunia, tingkat kematian kasus positif COVID-19 saat ini adalah 4,35%, diperoleh dari perbandingan angka kematian 16.362 orang dengan 375.498 kasus terkonfirmasi.

Positif Corona Tanpa Gejala

Pemerintah kembali mengingatkan untuk selalu menjaga jarak dengan lingkungan. Penularan bisa terjadi meskipun seseorang tidak menunjukkan gejala sakit. “Gambaran fisik dari orang yang sakit tidak selalu didominasi orang yang tampak sakit berat,” kata Yuri.

Menurut Yuri, ada banyak kasus positif yang ditemukan justru ada orang yang tampak sakit ringan. “Bahkan di beberapa data yang kami miliki, nampak tidak bergejala sama sekali,” jelas Yuri.

Laporan Kegiatan Table Top Exercise (TTX) di Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

ttx marawola 1

Laporan Kegiatan

Table Top Exercise (TTX)

di Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

Provinsi Sulawesi Tengah

Sigi, 24 Februari 2020

ttx marawola 1

Pengantar

Table Top Exercise (TTX) adalah salah satu bentuk simulasi dalam skala kecil yang dilakukan dalam satu ruangan dengan membaha operasional atau tidaknya dokumen perencanaan penanggulangan bencana Ppskesmas yang sudah dibuat. TTX ini dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) petugas dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas, serta lintas sektor untuk menanggapi situasi bencana yaitu bagaimana mereka memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana. Kemudian meninjau dan mendiskusikan kembali tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen. Ke depan dokumen rencana penanggulangan ini akan menjadi contoh untuk puskesmas lain dalam penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana sektor kesehatan.

Pelaksanaan

Table Top Exercise (TTX) Puskesmas Marawola dilaksanakan pada Senin (24/2/2020) di Puskesmas Marawola dengan jumlah peserta sebanyak 100 orang. Keseluruhan peserta berasal dari berbagai instansi antara lain :

  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah (UPT. Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu)
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
  • Dinas Sosial Kabupaten Sigi
  • Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
  • Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat
  • Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako
  • Sejenakhening.com
  • Puskesmas Marawola

TTX Puskesmas Marawola dimulai pada pukul 10.30 WITA dibuka oleh Kepala Puskesmas drg. Hari Setiyono. Hari menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh tim PKMK UGM selama hampir kurang lebih satu tahun terakhir membuat tim Bencana Puskesmas Marawola lebih siap jika nanti hal yang tidak diinginkan terjadi.

Dok. PKMK FK - KMK UGM “Pembukaan TTX Puskesmas Marawola”

Pelaksanaan TTX dibagi menjadi 3 sesi, Sesi pertama bertujuan untuk menilai: (1) Penerimaan dan memproses informasi kejadian bencana; (2) Pengaktifan klaster kesehatan; (3) Manajemen relawan Kesehatan/EMT. Pada sesi pertama pelaksanaan berlangsung dengan metode diskusi antara fasilitator dan tim bencana Puskesmas Marawola terkait beberapa kasus kemungkinan saat bencana terjadi. Sedangkan peserta dari luar puskesmas berperan sebagai observer di sesi ini.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Pertama TTX Puskesmas Marawola”

Sesi kedua bertujuan untuk menilai: (1) Manajemen bantuan logistik kesehatan dan non kesehatan; (2) Pengaktifan sub – sub klaster Kesehatan. Pada sesi kedua pelaksanaan berlangsung dengan membentuk kelompok- kelompok berdasarkan masalah yang timbul dalam subklaster kesehatan. Peserta dari Universitas Alkhairaat, Universitas Tadulako, dan Sejenakhening.com membaur dengan tim Puskesmas Marawola sesuai bidang dan keahliannya untuk membantu memecahkan masalah sub klaster Kesehatan yang bisa terjadi saat bencana terjadi.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Kedua TTX Puskesmas Marawola”

Sesi ketiga bertujuan untuk menilai: (1) Pembuatan peta respon; (2) Manajemen pencatatan, analisis, dan pelaporan data dan informasi. Pada sesi ini, tim universitas dan Sejenakhening.com bermain peran sebagai relawan yang datang dan membawa bantuan logistik. Sekretaris tim bencana puskesmas dibantu dengan staf berperan sebagai penerima dan pencatat relawan yang datang dan menempatkan relawan sesuai dengan kebutuhan masyarakat wilayah kerja puskesmas. Selain itu, mahasiswa juga diperbantukan pada bagian rekap data dan informasi kapasitas tenaga relawan yang datang dan pergi setiap harinya.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Ketiga TTX Puskesmas Marawola”

Reporter : Andi Tri Wangi