Kriteria Penumpang dari China yang Diwaspadai Terkait Corona

Kriteria Penumpang dari China yang Diwaspadai Terkait Corona

Jakarta, CNN Indonesia — Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Bambang Wibowo, mengatakan sejauh ini di Indonesia masih belum memiliki satu pun suspect positif virus corona.

“Sampai hari ini tidak ada satu pun yang positif corona virus, namun kami (Kemenkes) akan selalu siap siaga,” ujar Bambang di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Rabu (29/1).

Pihaknya juga menegaskan masih tetap waspada terhadap wisatawan maupun WNI yang baru saja bepergian dari daerah endemik virus corona di China.

“Jadi, ketika ada yang pulang dari daerah endemik itu akan menjadi perhatian khusus, baik itu WNI maupun WNA,” katanya.

Di Jakarta, pasien yang menunjukkan gejala suspect virus corona itu dirawat isolasi di RSPI Sulianti Saroso.

Ketua Pokja Penyakit Infeksi New Emerging & Reemerging RSPI Sulianti Saroso, Pompini Agustina mengatakan, ada beberapa ciri utama yang menjadikan penanda virus corona.

Ciri-ciri tersebut menyerupai gejala influenza, serta memiliki riwayat bepergian ke daerah endemik.

“Ciri-ciri utamanya demam tinggi, sesak nafas, flu, batuk, terutama kalau baru bepergian dari daerah endemik,” ujar Pompini.

Di tempat yang sama Wakil Ketua Komisi IX, Emanuel Melkiades Laka Lena menginformasikan tingkat kematian akibat virus corona sejauh ini hanya 5 persen, berbeda dengan virus lain yang tingkat kematiannya tinggi.

“Perlu diingat ya, tingkat kematian akibat virus ini hanya sekitar 5 persen, berbeda dengan SARS, flu burung, H5N1, yang tingkat kematiannya 90 persen,” ujarnya.
Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Humas RSUD Kota Tangerang, Tintin Supriyatin, menyatakan pihaknya hanya menyediakan ruang isolasi di IGD yang memang yang sudah disediakan sebelumnya untuk penyakit infeksi.

“Ini sih kita belum ada pasien yang ada indikasi ke arah sana. Otomatis kalau persiapan rumah sakit sih ada. Cuma sebatas RSUD hanya pengawasan sampai ke IGD aja,” ujar Tintin kepada CNNIndonesia.com di RSUD Kota Tangerang, Rabu.

Tintin mewanti-wanti masyarakat agar tetap mewaspadai penyebaran virus ini. Hal itu bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan, makan teratur dan, istirahat yang cukup. Dengan menjaga pola hidup yang teratur, kata Tintin hal itu bisa cukup mencegah tubuh terjangkit.

Satu Lagi Pasien Diduga Terinfeksi Virus Corona Dirawat di RSPI Sulianti Saroso

JAKARTA, KOMPAS.com – Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta, mengisolasi satu lagi pasien yang diduga terinfeksi virus novel Corona.

Hal itu disampaikan Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril pada Rabu (29/1/2020).

“Dirawat dari hari Senin (27/1/2020),” kata Syahril di RSPI.

Syahril mengatakan, pasien tersebut merupakan warga negara Indonesia dan berjenis kelamin perempuan.

Ia menyampaikan, pasien tersebut merupakan rujukan dari RS Pondok Indah.

Pasien tersebut mengalami gejala sesuai kriteria batuk-batuk, panas, dan sakit tenggorokan.

Pasien tersebut juga memiliki catatan baru kembali dari kota asal virus novel corona, yakni Wuhan, China.

“Itu orang Indonesia. Jadi orang Indonesia bepergian ke sana,” tutur Syahril.

Adapun pasien tersebut merupakan pasien kedua yang diduga terinfeksi virus novel corona dan diisolasi di RSPI Sulianti Saroso.

Pasien pertama berinisial R (35), telah dinyatakan negatif infeksi virus novel corona pada Jumat (24/1/2020).

Syahril menyebutkan pasien tersebut kondisinya membaik dan sudah dipulangkan dari rumah sakit.

Korban meninggal virus corona dilaporkan mencapai 132 orang, setelah China mengumumkan adanya kasus kematian baru.

Dalam angka yang dipaparkan oleh pemerintah Provinsi Hubei pada Rabu pagi, terdapat 25 angka kematian baru dalam 24 jam terakhir.

Kemudian angka baru muncul di luar Hubei, dan membuat korban meninggal akibat virus corona mencapai 132 orang, dilaporkan AFP.

Selain itu, Komisi Kesehatan Nasional China juga mengonfirmasi adanya 1.400 kasus baru, dan membuat orang yang terinfeksi mencapai 5.974.

Saat bertemu Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Presiden Xi Jinping menyebut negaranya tengah menghadapi patogen yang sangat serius.

“Epidemi ini adalah iblis. Tentunya, kami tidak bisa membiarkan iblis ini bersembunyi,” kata Xi kepada Ghebreyesus di Beijing.

Presiden Xi Jinping pun menjanjikan pemerintahannya bakal lebih terbuka dan membagikan informasi berdasarkan waktu yang “tepat”.

Peneliti dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan sudah menemukan sumber dari virus China setelah melakukan penelitian.

Berdasarkan keterangan dari CDC, sumber itu berasal dari Pasar Seafood Huanan, di mana ada bagian yang menjual hewan liar dan eksotis.

Dalam keterangan CDC, sebanyak 31 dari 33 sampel positif diambil dari zona barat yang merupakan tempat perdagangan hewan liar.

Pertama di Timur Tengah, Satu Keluarga di Uni Emirat Arab Terkena Corona

Dubai

Virus corona telah sampai di Uni Emirat Arab (UAE). Satu keluarga di UAE yang baru tiba dari kota Wuhan, China telah didiagnosa positif terinfeksi virus corona yang tengah mewabah.

Ini merupakan kasus terkonfirmasi virus corona yang pertama di UAE. Dengan kasus ini menjadikan UAE sebagai negara Timur Tengah pertama yang terpapar virus ini.

Belum jelas berapa jumlah orang dalam keluarga tersebut yang terinfeksi virus mematikan coronavirus ini. Kementerian Kesehatan UAE hanya menyatakan bahwa mereka yang terinfeksi virus corona tersebut saat ini dalam kondisi stabil dan terus diobservasi. Demikian disampaikan kementerian seperti dilaporkan kantor berita pemerintah UAE, WAM dan dilansir Reuters, Rabu (29/1/2020).

Kementerian Kesehatan UAE tidak menyebutkan di mana keluarga tersebut dirawat.

Otoritas kesehatan China juga mengumumkan bahwa sejauh ini, 132 orang tewas akibat virus corona dan 5.974 kasus virus corona terkonfirmasi di 31 wilayah di China hingga Selasa (28/1) malam waktu setempat. Otoritas kesehatan China juga menyatakan bahwa mereka tengah memonitor lebih dari 9 ribu kasus suspect (diduga) virus mematikan ini.

Virus corona ini diyakini berasal dari sebuah pasar hewan di kota Wuhan, di mana hewan-hewan eksotik dan daging hewan liar diperdagangkan secara ilegal. Pasar hewan itu telah ditutup dan penyelidikan telah dilakukan otoritas setempat.

Muncul sejak Desember 2019, virus yang memicu gangguan pernapasan ini telah menyebar luas ke sebanyak 31 provinsi, wilayah otonomi dan kotapraja di China. Virus ini juga diketahui telah menyebar hingga ke belasan negara di dunia.

Selain China dan Uni Emirat Arab, negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Macau, Nepal, Sri Lanka, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Prancis, Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja juga telah terpapar virus tersebut.

 

Korban Virus Corona Makin Banyak, Situasi ‘Darurat’ Global?

Australia, Eropa hingga Amerika

Jakarta, CNBC Indonesia – Virus corona semakin banyak memakan korban. Pemerintah China bahkan sudah mengumumkan tambahan korban tewas sebanyak 133 orang.

Meski demikian, pemerintah juga sempat mengklaim sudah ada pasien yang sembuh. Setidaknya, ada 126 orang yang dinyatakan kembali sehat dan dipulangkan dari rumah sakit.

Namun, corona tetap menjadi ancaman dunia. Bahkan dua negara baru saja mengonfirmasi penderita positif corona yakni Uni Emirat Arab dan Finlandia.

Berikut daftar lengkap sejumlah negara yang sudah mengumumkan kasus corona di negaranya:

China

China merupakan negara di mana virus corona pertama kali menyebar. Kota Wuhan, provinsi Hubei menjadi episentrum kasus.

Tak heran kalau jumlah penderita di negara ini mencapai ribuan. Per Rabu kemarin sebanyak 133 orang tewas sementara 6.165 kasus positif corona.

Bukan hanya China daratan, kasus corona ditemukan di Makau dan Hong Kong. Makau mengkonfirmasi tujuh kasus sementara Hong Kong 10 kasus.

Jepang

Jepang sudah mengkonfirmasi ada 7 kasus penderita penyakit karena virus corona. Termasuk, satu kasus penularan dari manusia ke manusia.

Seorang suspect dikatakan tidak pernah melakukan perjalanan ke Wuhan. Tapi terkena virus ini karena mengantarkan turis dengan kendaraannya.

Korea Selatan

Korsel melaporkan empat kasus. Tiga merupakan laku-laki sementara satu perempuan. Semuanya sempat melakukan perjalanan ke Wuhan.

Taiwan

Taiwan mengatakan menemukan 8 kasus corona di negara Formosa itu. Dua diantaranya memiliki kewarganegaraan China dan sampai di Taiwan sejak 22 Januari lalu.

Malaysia

Malaysia mengkonfirmasi 7 kasus. Semuanya merupakan warga China yang tengah berlibur ke negara itu, yang mendarat sebelumnya di Singapura.

Singapura

Singapura juga telah mengkonfirmasi adanya 10 kasus penderita penyakit akibat virus corona. Semuanya merupakan turis dari Wuhan.

Thailand

Thailand mengkonfirmasi 14 kasus. Negara ini menjadi negara terbesar yang mengkonfirmasi suspect virus corona di luar China.

Kamboja

Menteri Kesehatan Kamboja melaporkan kasus corona pertama Senin lalu. Seorang pria berusia 60 tahun mendarat dari Wuhan dan dinyatakan suspect corona.

Vietnam

Sejauh ini Vietnam mengakui ada dua kasus coronavirus di negaranya. Kedua korban merupakan orang tua dan anak.

Nepal

Nepal mengkonfirmasi satu kasus. Lelaki berumur 32 tahun tersebut baru saja sampai dari Wuhan, dan saat ini masih dikarantina di rumah sakit setempat.

Sri Lanka

Sri lanka juga mengkonfirmasi kasus corona. Seorang wanita asal China berumur 43 tahun yang masuk Sri Lanka sebagai pelancong.

Uni Emirat Arab (UEA)

Penyebaran virus corona sudah sampai ke Uni Emirat Arab. Negara tersebut mengumumkan kasus virus corona pertama yang disebut menjangkit sebuah keluarga yang baru kembali dari Wuhan.

“Kementerian Kesehatan Uni Emirat Arab mengumumkan sebuah kasus virus corona baru yang diderita orang dari sebuah keluarga yang datang dari Wuhan, China,” demikian pernyataan kantor berita WAM dilansir dari AFP, Rabu (29/1/2020).

Ini adalah kasus virus corona pertama di Timur Tengah. Namun tidak disebutkan lebih lanjut berapa orang yang terjangkit virus tersebut.

Australia

Negara ini mengkonfirmasi ada tujuh kasus. Semuanya melibatkan turis China yang datang dari Wuhan.

Saat ini pasien tengah dirawat di dua kota. Yakni Sydney dan Melbourne.

Kanada

Kanada mengkonfirmasi kasus pertama di Senin lalu. Namun kasusnya bertambah menjadi dua orang sehari setelahnya.

AS

AS mengkonfirmasi lima kasus. Para pasien rata-rata datang dari Wuhan. Kini dua pasien dirawat di California, sementara yang lain menyebar di Arizona, Chicago dan Washington.

Prancis

Prancis menjadi negara Eropa pertama yang melaporkan kasus ini. Negara tersebut melaporkan lima kasus, yang semuanya melibatkan turis China.

Jerman

Jerman melaporkan kasus pertama kemarin. Penderita tertular corona setelah seorang teman asal China mengunjunginya pekan lalu.

Finlandia

Finlandia mengatakan hal ini pada Rabu kemarin. Seorang turis dari Wuhan dikabarkan positif Corona.

Buku Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV)

Pedoman ini ditujukan bagi petugas kesehatan sebagai acuan dalam melakukan kesiapsiagaan menghadapi 2019-nCoV. Pedoman ini bersifat sementara karena disusun dengan mengadopsi pedoman sementara WHO sehingga akan diperbarui sesuai dengan perkembangan penyakit dan situasi terkini.

Pada buku pedoman ini dijelaskan mengenai:

  1. Surveilans dan Respon
  2. Manajemen Klinis
  3. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  4. Pengelolaan Spesimen dan Konfirmasi Laboratorium
  5. Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat

DOWNLOAD

Wabah Coronavirus

https://e3.365dm.com/20/01/2048x1152/skynews-wuhan-coronavirus_4897184.jpg

Penyakit menular menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat pada abad ke – 21, salah satunya ialah virus zoonosis. Virus berpotensi mengakibatkan kesakitan, kematian dan gangguan ekonomi pada populasi manusia. Beberapa kasus virus yang muncul mengakibatkan wabah lokal yang membutuhkan intervensi kesehatan masyarakat, jika tidak diatasi skenario terburuknya akan berkembang menjadi epidemi besar atau pandemik global.  Analisis data kasus untuk melacak penyebaran penyakit menular akan membantu mengendalikan serangan virus tersebut. Artikel ini akan menggambarkan kunci pertanyaan dalam epidemiologi penyakit menular, dari awal deteksi dan karakter virus.

Selengkapnya KLIK DISINI

Peristiwa kemunculan virus selama dua dekade terakhir ini sangat banyak dan beragam, termasuk virus yang sebelumnya tidak ditemukan seperti coronavirus SARS dan MERS1-3. Seperti kasus yang terjadi baru – baru ini, coronavirus muncul di kota Wuhan, Cina. Coronavirus adalah kelompok virus yang menyerang manusia, merusak paru – paru dan dapat mengakibatkan kematian. Pihak berwenang Wuhan mengatakan sebanyak 136 kasus baru telah dikonfirmasi sepanjang akhir pekan. Pada periode tersebut orang ketiga telah meninggal dunia dan 170 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Meskipun pihak berwenang mengatakan penyebaran coronavirus masih dapat dicegah dan dikendalikan, Komisi Kesehatan Nasional memperingatkan bahwa diperlukan monitoring ketat. Sejauh ini sumber, transmisi dan metode mutasi virus belum diketahui.

Selengkapnya KLIK DISINI

Reportase Webinar Outlook Bencana Kesehatan 2020

outlook1

outlook1

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM mengadakan diskusi outlook bencana kesehatan 2020 dengan mengangkat isu rumusan penguatan dinas kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan termasuk penguatan pembiayaan, koordinasi lintas program dan kerja sama perguruan tinggi di daerah. Kegiatan ini dilakukan juga melalui webinar dengan sasaran peserta dari dinkes provinsi/kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, BPBD provinsi/kabupaten/kota, Fakutas Kedokteran/Kesehatan Masyarakat, peneliti, mahasiswa dan pemerhati bencana kesehatan. Dari hasil diskusi outlook terdapat dua poin penting yang menjadi perhatian khusus yaitu penguatan dinkes provinsi dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana sektor kesehatan.

Selengkapnya KLIK DISINI

Penularan 2019-nCov Sangat Cepat

RMOLSumsel. Masyarakat Indonesia diminta untuk tidak panik, namun harus waspada terhadap penularah Virus Corona. Sebab Virus Corona jenis  2019-nCoV penularannya sangat cepat.

2019-nCoV ini baru ditemukan pada akhir tahun lalu di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Tapi sekarang sudah lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia  positif terinfeksi virus ini.  Catatan itu berdasarka data dari South China Morning Post yang dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (26/1).

Menurut sebuah studi yang dilakukan para ilmuan, cepatnya penyebaran epidemi ini dikarenakan rata-rata seorang yang terinfeksi corona dapat menularkannya kepada dua hingga tiga orang.

Studi tersebut juga menyatakan, untuk mengatasi epidemi ini, dibutuhkan langkah-langkah pengendalian dengan harus menghentikan penularan setidaknya sebanyak 60 persen.

 “Tidak jelas pada saat ini apakah wabah ini dapat ditahan di China,” kata spesialis penyakit menular di Imperial College London, Neil Ferguson.

Studi lain mengatakan, jika sebanyak 4.000 orang di Wuhan terinfeksi pada 18 Januari. Dan setiap orang bisa menularkan virus ke dua atau tiga orang lainnya, maka epidemi akan jauh lebih besar.

Hal yang sama juga diungkapkan dalam studi dari para peneliti di Universitas Lancaster, Inggris. Jika menghitung tingkat penularan ke 2,5 orang, maka pada Selasa (4/2), akan ada 190 ribu orang yang terjangkit virus ini.

“Jika epidemi terus berlanjut di Wuhan, kami memperkirakan (itu) akan jauh lebih besar pada 4 Februari,” tulis para ilmuwan.

“Infeksi akan terjadi di kota-kota Cina lainnya, dan impor ke negara lain akan lebih sering,” lanjut studi tersebut.

Dikatakan oleh Kepala Program Penelitian Biosecutity di Kirby Institute, Raina Maclntyre, dibutuhkan banyak hal untuk menangani epidemi tersebut.

 “Yang kami butuhkan adalah lebih banyak data yang akan dipublikasikan tentang faktor risiko, penularan, masa inkubasi, dan epidemiologi, sehingga kami dapat memahami tindakan pengendalian apa yang paling tepat,” kata MacIntyre.[*]

Virus Korona, Kemenlu Bahas Opsi Evakuasi 93 Mahasiswa di Wuhan

JAKARTA – Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, menyebut Menteri Retno Marsudi dan sejumlah pejabat lintas kementerian tengah membahas opsi kemungkinan mengevakuasi mahasiswa maupun WNI yang kini terisolir di kota Wuhan, China.

Untuk itu, Menteri Retno dan beberapa kementerian pada Minggu 26Januari 2020 sore menggelar video conference dengan KBRI di Beijing agar mendapat informasi yang valid tentang kondisi di sana.

“Kita ingin mendapat informasi langsung kira-kira saran apa yang mereka berikan seperti apa,” ujar Teuku Faizasyah mangutip BBC.

Menurut Teuku, untuk proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan lantaran pemerintah China masih menutup kota itu.

“Memang tidak sesederhana permasalahannya, kalau untuk evakuasi. Memang saat sekarang opsi-opsi itu sedang dibahas, tapi karena status wilayah itu masih ditutup.”

Dari pantauan Kemenlu, beberapa negara seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia berupaya mengevakuasi warga negara mereka dari Wuhan. Namun, sejauh ini belum ada satupun negara yang berhasil melakukannya.

Karena itulah, pemerintah belum menemukan cara evakuasi yang ideal.

“Jadi kita belum bisa melihat contoh proses pelaksanaan yang ideal seperti apa, apakah dievakuasi langsung di bawa pulang atau bagaimana. Itu kan hal-hal yang harus betul-betul disiapkan di lapangan,” jelasnya.

Setidaknya ada 96 mahasiswa yang masih tinggal di asrama-asrama kampus di Wuhan. Mereka, katanya, mulai dilanda rasa khawatir luar biasa sejak pemerintah China menutup seluruh akses transportasi di sana dan melarang masyarakat setempat keluar dari Wuhan.

Pada Minggu (26/1), setidaknya 56 orang dilaporkan meninggal dunia karena virus corona dan menginveksi lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia.

Virus Corona, SARS, dan MERS, Manakah yang Paling Berbahaya?

KOMPAS.com – Dunia sedang dihebohkan dengan mewabahnya virus corona jenis baru, yakni Novel coronavirus ( 2019-nCov) yang berasal dari Wuhan, China.

Hingga saat ini tercatat sudah 14 negara yang tertular oleh virus ini.

Diketahui, Novel coronavirus (2019-nCov) merupakan virus penyebab penyakit saluran pernapasan di mana virus ini masih satu keluarga dengan virus SARS dan MERS.

Meski mirip, apakah ketiganya sama-sama berbahaya?

Salah satu dokter spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, dr. R. Ludhang Pradipta R., M. Biotech, Sp.MK mengungkapkan, virus 2019-nCov saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut untuk bahaya yang ditimbulkan.

Meskipun demikian, virus ini sudah membunuh 41 orang di China.

“Sejauh ini untuk yang nCoV masih belum bisa dipastikan apakah ini berbahaya atau tidak, masih dalam penelitian lebih lanjut,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (26/1/2020).

Berdasarkan situs realtime gisanddata.maps.arcgis.com, imbuhnya virus 2019-nCov telah menewaskan 42 orang dari 1.438 kasus dan diindikasi masih akan terus bertambah.

“Sedangkan angka kematian SARS-CoV sebesar 10 persen dan MERS-CoV sebesar 37 persen,” terang dokter yang juga salah satu anggota dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) ini.

 

Ia menjelaskan, dalam situs realtime tersebut laporan kasus meninggal sejauh ini hanya terjadi di China saja.

Menurutnya, belum ada laporan dari negara-negara yang melaporkan ada kasus dan sudah terkonfirmasi corona.

“Sejauh ini, per hari ini saya update, belum ada laporan korban meninggal di luar China,” ujar Ludhang.

Ciri SARS, MERS, dan 2019-nCov

Berdasarkan jurnal pengobatan umum mingguan di Inggris, The Lancet, merilis penjelasan terkait tanda dan gejala dari ketiga jenis virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

 

Berikut rinciannya:

2019-nCov

Novel Coronavirus (2019-nCov) memang memiliki kesamaan dengan virus corona jenis lain, seperi MERS dan SARS.

Umumnya 2019-nCov memiliki gejala umum bagi orang yang terinfeksi, seperti demam, batuk, kelelahan, sakit tenggorokan, sakit kepala, hemoptisis, dan diare.

Hingga Minggu (26/1/2020) sebanyak 41 orang meninggal dunia akibat terjangkit 2019-nCov.

Adapun tindakan pencegahan melalui udara, seperti respirator N95 teruji efektif, dan peralatan pelindung pribadi lainnya sangat disarankan oleh petugas kesehatan.

SARS-CoV

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARAS-CoV) pertama kali ditemukan di China pada November 2002.

Diketahui, virus ini menyebabkan wabah mematikan di seluruh dunia pada kurun waktu 2002-2003.

Tercatat, sebanyak 777 penduduk meninggal dunia dari 8.098 kasus.

Meski begitu, para peneliti menyimpulkan, SARS-CoV memiliki tingkat kematian sebesar 10 persen.

Bagi pasien yang terjangkit SARS-CoV umumnya sebanyak 20-25 persen mengalami diare.

Sebuah studi awal menunjukkan bahwa peningkatan jumlah sitokin proinflamasi dalam serum tertentu dikaitkan dengan peradangan paru dan kerusakan paru-paru yang meluas pada pasien SARS.

Gejala SARS yang umumnya terjadi antara lain, menggigil, demam, batuk kering, dan sakit di bagian dada.

MERS-CoV

Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) diketahui pertama kali ditemukan di Timur Tengah pada 2012.

Saat itu ditemukan enam orang dengan gejala gagal pernapasan. Kemudian, dua orang di antaranya meninggal dunia.

MERS-CoV dilaporkan memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada SARS-CoV yakni sebesar 37 persen.

Kasus menjadi meluas, di Arab Saudi tercatat 22 orang meninggal dunia dari 44 kasus yang terjadi.

Seorang peneliti dari Erasmus Medical Center (EMC) di Belanda, Ron Fouchier mendunga MERS-CoV berasal dari kelelawar.

Pada 2013, penyakit ini mewabah ke negara-negara di Eropa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia.

WHO sempat mengeluarkan peringatan bahwa MERS-CoV dapat menjadi ancaman dunia.

Sementara itu, bagi orang yang terinfeksi MERS-CoV dilaporkan menginduksi peningkatan konsentrasi sitokin proinflamasi yang juga dikaitkan dengan peradangan paru dan kerusakan paru-paru yang luas.

Adapun MERS juga memiliki tanda dan gejala masalah pencernaan pada usus, misalnya diare.

Hingga saat ini belum ada pengobatan antivirus yang terbukti efektif untuk infeksi coronavirus.