10 Titik Rawan Bencana di Tangsel

Ilustrasi - Medcom.id.

Tangerang: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan telah memetakan 10 wilayah rawan bencana memasuki musim hujan. Antisipasi dilakukan untuk bencana banjir, pergerakan tanah dan pohon tumbang.
 
“Terjadi penyusutan wilayah rawan bencana di Tangsel, sebelumnya 23 lokasi, saat ini tinggal 10 titik di tujuh kecamatan,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Tangsel, Zulham Yunus, di Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 20 November 2019.
 
Dia mengungkap 10 lokasi rawan bencana di antaranya di Kecamatan Pondok Aren yakni perumahan Pondok Maharta, Kampung Bulak dan Pondok Safari Indah. Kemudian di Kecamatan Pamulang, titik rawan bencana terdapat di Bukit Pamulang Indah dan Lembah Pinus.

“Sementara kasus di wilayah Ciputat Timur terjadi tembok rusak di Kampung Sawah, kemudian perumahan Pesona Serpong, Kademangan di Kecamatan Setu,” ucapnya.
 
Zulham mengaku berkurangnya titik bencana lantaran dibangunnya drainase baru, dan saluran air kembali berfungsi. Sedangkan, kata dia, untuk titik lokasi rawan longsor di Kampung Sengkol RT 06 RW 02 Muncul serta Kampung Koceak RT 04 RW 02, Keranggan, Kecamatan Setu.
 
“Antisipasi dari BPBD kita terus melakukan monitoring dan kita koordinasi bersama pihak-pihak seperti kelurahan kecamatan dan dinas terkait,” tandasnya.

Webinar Pasca Tsunami Aceh: Apa Dampaknya terhadap Kebijakan dan Kurikulum Bencana di Indonesia?

15th aceh 1

Peringatan 15 Tahun Bencana Tsunami Aceh (2004-2019)

Webinar Pasca Tsunami Aceh dan Launching EMT Specialized Cell Aceh:
Apa Dampaknya Terhadap Kebijakan Serta Kurikulum Bencana Di Indonesia?

Webinar di Yogyakarta, Aceh dan Palu
19 Desember 2019

 

{tab title=”TOR dan Materi” class=”red” align=”justify”}

Pokja Bencana FK – KMK UGM bekerjasama dengan FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh; FK Universitas Tadulako Palu dan Oceania Chapter World Association on Disaster and Emergency Medicine


Pengantar

Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi titik balik kedukaan sekaligus pembelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Kejadian air laut yang naik ke daratan menjadi fenomena langka mengerikan yang tayang tidak hanya di televisi nasional tetapi juga internasional. Akibat gempa bumi di Samudra Hindia ini, setidaknya 14 negara terkena dampak tsunami besar dan Indonesia yang terparah.

Sejak saat itu, bangsa Indonesia seperti terbangun untuk berproses dalam penanggulangan bencana, belum lagi disusulnya banyak bencana alam seperti gempa bumi dan erupsi gunung api. Manajemen penanggulangan bencana terus melakukan perbaikan dari pusat hingga daerah. Disektor kesehatan misalnya, mulai bermunculan aturan, pedoman, dan pelatihan untuk bencana dan krisis kesehatan. Begitu juga dengan sektor Pendidikan, diantaranya bermunculan mata kuliah bencana di universitas, termasuk fakultas kedokteran dan kesehatan lainnya.

Bertolak dari pengalaman mengirimkan bantuan dan pendampingan untuk penanggulangan bencana tsunami Aceh di sektor kesehatan tahun 2004 hingga 2008 maka FK-KMK UGM sejak saat itu berkomitmen mengembangkan kurikulum bencana kesehatan untuk mahasiswa S1 di semua program studi dan S2, serta melakukan pendampingan perencanaan penanggulangan bencana untuk tingkat puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan. Pendekatan yang dilakukan menggunakan prinsip competency based, dukungan sistem kesehatan, serta berjejaring (dengan dinas, rumah sakit, puskesmas, universitas, dan alumni di daerah termasuk kementerian kesehatan dan AHS (Academic Health System) UGM). Beberapa Fakultas Kedokteran dan Kesehatan kemudian juga mengembangkan kurikulum bencana, diantaranya Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala, Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, dan lainnya.

Bersamaan dengan momentum Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh, Pokja Bencana FK-KMK UGM bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Universitas Syah Kuala, Universitas Tadulako, Universitas Mataram, dan Oceania Chapter World Association on Disaster and Emergency Medicine mengadakan diskusi tentang perkembangan penanggulangan dan kurikulum manajemen bencana kesehatan di Indonesia, serta launching EMT Specialized Cell Aceh. Harapannya, diskusi ini dapat menjadi wadah sharing antar universitas, publikasi, serta catatan pembelajaran kedepannya

Tujuan

  1. Memperingati 15 tahun bencana tsunami Aceh (2004-2019)
  2. Menjelaskan perkembangan kebijakan dan penanganan manajemen bencana sektor kesehatan di Indonesia
  3. Relaunch buku keterlibatan UGM di bidang bencana kesehatan dan buku relawan kesehatan
  4. Launching EMT Specialize Cell Aceh
  5. Sharing kurikulum bencana kesehatan di Indonesia

Pembicara

  1. Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes
  2. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA)
  3. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD
  4. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B(K)BD
  5. dr. Bella Donna, M.Kes
  6. Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
  7. FK Universitas Syah Kuala Banda Aceh : Dr.dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT
  8. FK Universitas Tadulako Palu
  9. Dr. Penny Burns: on the role of general practitioners in disasters; how general practice has been engaged in disaster management in Australia, Oceania, and internationally; and her journey researching primary health care in disasters.

 Moderator:

  • Syahirul Alim PhD.
  • Madelina Ariani, MPH

Peserta

  • Dosen – dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
  • Konsultan dan tenaga ahlli dalam manajemen bencana di sector kesehatan
  • Mahasiswa S1 dan S2
  • Praktisi

Daftar Bacaan

  • Ariani, Madelina. (2019). When Disaster Strike. Diterbitkan di website Indonesia-Melbourne. https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/when-disaster-strikes/
  • Donna, Bella. Ariani, Madelina. (2019). Eartquake, Tsunami, and Liquefaction in Central Sulawesi, Indonesia: how well our disaster health management progress? Proceeding on World Congress on Disaster and Emergency Medicine. Supplement journal Prehospital and Disaster Medicine: 34(1) 2019.  https://doi.org/10.1017/S1049023X19001213
  • Policy brief. Ariani, Madelina. Donna, Bella. Challenges for Curriculum Development in Disaster Health Management. http://www.bencana-kesehatan.net/images/policy_brief/PB_1.pdf
  • Tiga Tahun Kegiatan RS Dr. Sardjito, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi UGM di ACEH. (2008). Fakultas Kedokteran bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM dan RS Dr. Sardjito Yogyakarta
  • Wartatmo, Hendro dkk. (2019). Relawan Kesehatan di Medan Bencana: Perjalanan Tim FK-KMK UGM/ RSUP Dr. Sardjito Membantu Korban Bencana (2004-2018)

 

Tempat dan Jadwal kegiatan

Hari/Tanggal   : Kamis, 19 Desember 2019
Waktu           : 08.00 – 12.30 WIB
Tempat         : FK-KMK UGM dan Webinar di Banda Aceh, Yogyakarta dan Palu

Rundown Kegiatan

Waktu Kegiatan Keterangan
08.00 – 08.30 Registrasi peserta dan persiapan webinar  

08.30 – 09.00

 

Sambutan dan pembukaan oleh:

          Rektor Universitas Syah Kuala

          Universitas Tadulako

          Dekan FK-KMK UGM FK-KMK UGM

 

Prof.Dr.Ir.Samsul Rizal, M.Eng

Dr. Golar, S. Hut, M. Si

Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD., SpOG(K)

09.00 – 09.20

Pengantar:

          Mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh FK-KMK UGM

          Launching Buku-buku Bencana di Web

 

Field Commander dan PI Project recovery tsunami Aceh 2004-2008:

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD

09.20 – 09.30 Break
Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.
09.30 – 10.30 Perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dan Dunia pasca Tsunami Aceh

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA)

Materi

Perkembangan kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan di Indonesia pasca Tsunami Aceh.

Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan

Materi

Perkembangan ilmu manajemen klaster kesehatan saat bencana Pasca Tsunami Aceh.

dr. Bella Donna, M.Kes

https://doi.org/10.1017/S1049023X19001213

10.30 – 10.45 Launching EMT Specialized Cell Aceh sekaligus inaugurasi oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI FK Universitas Syah Kuala
Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran
10.45 – 12.00 Kurikulum bencana kesehatan di S1 dan S2 FK-KMK UGM

Dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD

Materi

Penggunaan kasus bencana untuk IPE pada program CFHC IPE di S1 FK-KMK UGM Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
(Webinar) Kurikulum bencana di FK Universitas Syahkuala

FK Universitas Syiah kuala :

Dr.dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT

Materi

(Webinar) Kurikulum bencana di FK Universitas Tadulako FK Universitas Tadulako : dr. Muh. Ardi Munir, M.Kes., Sp.OT., M.Kes., FICS., M.H
12.00 – 12.30 (Webinar) The mission and vision of Ocenia Chapter WADEM

Dr. Penny Burns

Materi

12.30 – 13.00 Rumusan dan kesimpulan: 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana system pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencena?

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Materi

Narahubung

  Kepesertaan:
Dewi Catur
0818 263 653
[email protected]
      Konten:
Happy Pangaribuan
0853 5872 7172
[email protected]

{tab title=”Reportase” class=”green”}

 

Reportase Webinar

Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004  2019)


Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Marwan, Wakil Rektor 1 Universitas Syiah Kuala. Prof. Marwan menyampaikan bahwa kebencanaan menjadi isu penting sejak tsunami Aceh, sehingga kita sudah mulai menyadari mitigasi bencana ini penting. Universitas Syiah Kuala sudah mempunyai riset penelitian terkait kebencanan dan sudah menetapkan pendidikan bencana. Sambutan selanjutnya oleh dr. M. Ardi Munir, M.Kes, Sp.OT, FICS, MH Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Dr. M. Ardi menekankan bahwa pada 2018 tsunami dan likuifikasi Sulawesi Tengah menjadi peringatan untuk masyarakat supaya lebih kuat dan lebih siap dalam menghadapi bencana. FK Untad mendukung pengembangan kurikulum dalam manajemen bencana. Sambutan terakhir oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), PhD selaku Wakil Dekan bidang Kerjasama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK – KMK UGM sekaligus membuka kegiatan ini secara keseluruhan. dr. Mei Neni juga menekankan kembali bahwa mitigasi menjadi hal yang penting, tujuannya bukan untuk mencegah bencana melainkan sebagai kesiapsiagaan untuk mengurangi kerugian yang terjadi. Secara institusi pendidikan juga FK – KMK UGM sudah mempersiapkannya dengan adanya pusat studi bencana dan kurikulum bencana.

Pengantar

Pengantar yang disampaikan terkait mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD dari FK – KMK UGM. Tsunami Aceh menjadi batu loncatan khususnya untuk FK – KMK UGM dalam memberikan respon dalam bencana. Tanpa diatur terlebih dahulu tim UGM berangkat sebagai tim medis dan tim manajemen. Hal tersebut yang dikembangkan sampai sekarang sehingga produk kita adalah kurikulum terkait kebencanaan pada mahasiswa S1. Selanjutnya Prof. Laksono memperkenalkan 3 buah buku melalui website http://bencana-kesehatan.net/. Buku pertama berjudul 3 Tahun Kegiatan di Aceh mencatat berbagai kegiatan RS Sardjito, Fakultas Kesehatan UGM, dan Fakultas Psikologi UGM dalam misi kemanusiaan. Buku kedua berjudul Satu Tahun Kegiatan di Aceh menceritakan pengalaman pribadi ketika ikut membantu ke Aceh. Buku ketiga berjudul Relawan Kesehatan di Medan Bencana merekam perjalanan tim FK – KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito membantu korban bencana selama 15 tahun (2004 – 2018).

15th aceh 1

Dok. FK Unsyah “Pengantar mengenang tsunami 15 tahun”

Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.

Pada sesi talkshow 1 ada 3 pembicara yang membahas perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dari segi kebijakan, ilmu manajemen klaster kesehatan dan secara globalisasi pasca tsunami Aceh. Pembicara pertama Yudi Satria SST, MPS, SP dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Banyak hal yang sudah dilakukan di Indonesia untuk membangun kesadaran masyarakat. Sosialisasi terus – menerus diberikani kepada masyarakat, supaya tidak lupa.

Pembicara kedua dr. Budi Sylvana, MARS Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Trend meningkat dalam 3 tahun terakhir, terjadi pergeseran ke bencana non alam dan kegagalan teknologi. Dari sisi jumlah korban bencana juga meningkat selama 2019 (Januari – Desember). Logistik bencana belum terjamah dengan baik. SDM kita sudah lengkap dan pembiayaan juga banyak yang membantu. Terdapat 3 program pengurangan risiko bencana oleh pusat krisis yaitu asistensi, peta respon renkon dan TTX simulasi.

Pembicara ketiga dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Indikator perkembangan ini bisa dilihat dari koordinasi, pengorganisasian, komunikasi dan data informasi. Pertama pada gempa tsunami Aceh dan Yogyakarta hampir mirip, sudah ada pertemuan klaster yang didukung oleh WHO. Relawan yang datang pada saat itu langsung menuju pos kesehatan. Belum ada pelaporan yang jelas. Kedua pada gempa Padang dan erupsi Merapi, manajemen sudah mulai diperbaiki dimana relawan sudah mulai terkelola dengan baik. Ketiga pada gempa Lombok, Palu dan Lampung sudah jauh lebih baik lagi, klaster kesehatan sudah terbentuk. Form  form yang ada untuk pelaporan sudah terstandar dan sudah bisa memetakan relawan yang datang berdasarkan peta respon.

15th aceh 2

Dok. FK Unsyah dan FK-KMK UGM “Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia”

Launching EMT Specialize Cell (EMT SC)

Dalam webinar ini, diluncurkan pula EMT SC yang mengangkat slogan: dari Aceh untuk dunia. Ini bukan satu karier tapi satu panggilan. Kapuskris memberikan ransel relawan EMT kepada anggota secara simbolik. Sampai sekarang terkumpul 100 anggota yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis bedah, perawat, surveilans dan tenaga kesehatan lainnya.

15th aceh 3

Dok. FK Unsyah “Peluncuran EMT Specialize Cell Aceh”

Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran

Sesi kedua ada 4 pembicara yang membahas tentang kurikulum. Pembicara pertama dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD dari FK – KMK UGM. Latar belakang kurikulum manajemen bencana di FK – KMK UGM adalah ilmu kebencanaan relatif baru, institusi yang berpartisipasi belum mapan, dan referensi dari luar bervariasi. Partisipasi dalam pendidikan formal ada di S1 FK – KMK, S2 IKM (opsional) dan magister manajemen bencana sekolah pasca sarjana UGM. Konsep kurikulum di FK – KMK akhirnya mengerucut menjadi disaster medicine dan disaster managemen. Disaster medicine dalam aspek teknis berdasar pada emergency medicine dan disaster managemen dalam aspek manajerial berbasis pada manajemen krisis. Penyusunan kurikulum berdasar lesson learnt, berbasis referensi dan ada prioritas, yang belum ada adalah biological disaster dan hazard. Kurikulum mulai diberikan pada mahasiswa S1 FK 2010 sebagai materi intrakulikuler.

Pembicara kedua yaitu Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep dari FK – KMK UGM tentang penggunaan kasus bencana sebagai sarana pembelajaran IPE – CFHC di FK – KMK UGM. Komponen-komponen kerja sama dimasukkan dalam kurikulum IPE – CFHC. Kurikulum ini diterapkan pada seluruh mahasiswa FK – KMK UGM. Pengembangan kompetensi lulusan berbasis interprofessional collaborasion (IPE). Tahun keempat CFHC yaitu pengembangan keluarga siaga bencana, 480 mahasiswa belajar bersama (prodi kedokteran, keperawatan dan gizi). Mahasiswa mendampingi keluarga menangani permasalahan keluarga, memanfaatkan fasilitas kesehatan, harapannya agar sudah mencapai profesi masing – masing mereka dapat bekerja sama. Mengenali early warning system dan peta respon adalah 2 dari banyak hal yang harus dikuasai mahasiswa.

15th aceh 4

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM”

Pembicara ketiga ialah Dr. dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT dari FK Unsyah. FK Unsyah memulai kurikulum terkait bencana sejak 2006 pada mahasiswa program sarjana, pasca sarjana dan doktoral. Harapannya bagi mahasiswa program sarjana terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran untuk pengembangan karir mereka dalam penanganan bencana. Pada mahasiswa pasca sarjana harapannya bisa memimpin tim medis atau klaster kesehatan pada saat bencana. Terdapat beberapa inovasi mahasiswa dalam pengembangan penanganan bencana ini. Mahasiswa menciptakan satu lampu sebagai early warning system, living room untuk pengungsi dan ransel penampung untuk anak – anak. Selanjutnya harapan bagi mahasiswa program doktoral, mereka sudah mulai bisa mengkritisi kebijakan pemerintah dan kebijakan dunia sehingga mereka juga harus ikut mewarnai sistem kebijakan kebencanaan.

Pembicara keempat adalah dr. Indah Puspasari, MMedEd dari FK Universitas Tadulako. Kurikulum bencana di FK Untad sudah dikembangkan sejak 2008 untuk mahasiswa semester 8 dan pada 2015 untuk mahasiswa semester 6. Sekarang sudah ada pada blok 13 yaitu health system, disaster management and traumatology. Blok ini wajib diikuti oleh mahasiswa. Harapannya mahasiswa bisa menjelaskan sistem manajemen bencana, tahapan mulai dari pre sampai dengan pasca bencana, dan mampu menjelaskan trauma manajemen. Mahasiswa juga mulai mendapatkan ilmu terkait sistem koodinasi dalam penanganan bencana.

Setelah sesi talkshow 2 dilanjutkan dengan penyampaian materi via webinar oleh Dr. Penny Burns tentang The mission and vision of Ocaenia Chapter WADEM. Oceania Chapter bertujuan untuk advokasi dan promosi pengembangan dan peningkatan penanganan bencana dalam penelitian, pengembangan dan aplikasi. Oceania Chapter WADEM sudah membangun kolaborasi dengan para ahli bencana dari berbagai negara sehingga interpretasi dan pertukaran informasi didapatkan melalui jaringan dan publikasi. Sekarang Oceania Chapter WADEM sedang mengembangkan peningkatan penanggulangan bencana di masyarakat. Respon lokal dalam pemulihan bencana sangat penting. Misi saat ini adalah mempromosikan integrasi profesional Primary Health Care lokal ke dalam manajemen bencana untuk memastikan kebutuhan kesehatan primer masyarakat dipertimbangkan dan direncanakan dengan baik.

15th aceh 5

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Rumusan dan Kesimpulan”

Sesi terakhir Rumusan dan kesimpulan, webinar 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana sistem pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencana? disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Berbagi isu selama proses diskusi adalah risiko bencana semakin besar, tidak terbatas pada medical emergency unit. Terjadi pembelajaran selama 15 tahun termasuk adanya klaster kesehatan dalam konteks BNPB. Kecepatan yang makin meningkat tapi koordinasi belum baik termasuk adanya duplikasi komando di lapangan. Mitigasi perlu ditekankan. Ada kombinasi antara disaster medicine dan disaster managemen, ada ilmunya sendiri termasuk manajemen logistik bencana sektor kesehatan. Perguruan tinggi mempunyai modal tenaga dan sarana untuk membantu mitigasi dan penanggulangan bencana secara baik. Diharapkan penelitian bencana masuk dalam prioritas nasional, ada buku teks dan modul pendidikan tentang bencana.

Beberapa saran dari peserta :

  • Aceh : Harapannya kerjasama tidak putus disini. Dibutuhkan jurnal disaster managemen bencana sehingga ilmu ini bisa disebarkan secara luas dan penting juga merancang modul-modul tentang kebencanan diamana secara parsial bisa diajarkan juga kepada masyarakat awam.
  • Palu : Kerja sama ini lebih ditingkatkan dan kami berharap terus dilibatkan khususnya kolaborasi perbaikan penanganan bencana di Sulawesi tengah.
  • Yogyakarta : Penting ada workshop pengembangan kurikulum kebencanaan tentang klaster kesehatan yang diikuti oleh fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat dan institusi selevel lainnya.
  • Bengkulu : Program studi kesehatan masyarakat Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu masih kesulitan untuk mendapatkan buku kajian. Selanjutnya mohon dilibatkan jika ada workshop.

Reporter: Happy R Pangaribuan

{/tabs}

 

Mengenal Disaster Victim Identification di Indonesia

Image result for victim indonesia disaster

Disaster Victim Identification (DVI) merupakan proses identifikasi korban yang meninggal akibat bencana. Kementerian Kesehatan bersama dengan Kepolisian RI sejak 1999 membentuk Tim DVI di Indonesia yaitu Tim DVI Nasional, Tim DVI Regional dan Tim DVI Provinsi. Tim DVI ini masuk dalam salah satu sub klaster kesehatan saat penanganan bencana. Tim DVI terdiri dari dokter spesialis forensik, dokter gigi, antropolog, kepolisian, fotografi dan ada yang berasal dari masyarakat. Operasi DVI dibagi menjadi 5 fase : (1) Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) sebagai tindakan awal untuk mengetahui seberapa luas jangkauan bencana; (2) Post Mortem sebagai tindakan pemeriksaan keseluruhan untuk memperoleh dan mencatat data lengkap mengenai korban; (3) Ante Mortem yaitu proses pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian; (4) Rekonsiliasi sebagai tindakan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem; (5) Debriefing yaitu pengembalian korban yang sudah diidentifikasi kepada keluarganya untuk dimakamkan dan apabila korban tidak teridentifikasi maka pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI.

Secara teoritis kelima fase DVI tersebut harus dapat dikerjakan dengan baik pada setiap kasus bencana. Faktanya masih sering ditemui kendala teknis maupun non teknis selama operasi DVI. Seperti yang disebutkan di artikel berikut masalah dalam menetapkan prosedur DVI terjadi karena tempat penyimpanan jenazah yang minim, waktu dan jumlah dokter forensik yang terbatas, otoritas keluarga serta kurangnya koordinasi. Selengkapnya KLIK DISINI

Selanjutnya artikel ini juga mengeksplorasi masalah pencatatan gigi lengkap dalam operasi DVI. Sebagian besar dokter gigi sudah menyadari pentingnya pencatatan gigi lengkap dalam identifikasi korban saat bencana. Departemen Kesehatan Indonesia sudah memberikan pedoman pencatatan kelengkapan bagan gigi, namun masih terdapat dokter gigi tidak merekam catatan gigi yang akurat sesuai standar. Sehingga menjadi kendala untuk identifikasi data korban. Penting dilakukan pemantauan rutin yang tersistematis oleh Dewan Gigi kepada setiap klinik gigi untuk menyatakan atau sertifikasi bahwa dokter gigi telah menyusun dan menyimpan catatan gigi yang akurat. KLIK DISINI

Gempa Sleman dan Letusan Merapi Terkait? Ini Kata Pakar BMKG

TEMPO.CO, Bandung – Sebelum Gunung Merapi meletus terjadi Gempa Sleman sehari sebelumnya. Gempa terjadi Sabtu, sedangkan erupsi Merapi pada Ahad pagi 17 November 2019. Adakah kaitannya?

Gunung Merapi meletus pukul 10.46 WIB. Menurut Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kolom letusan Gunung Merapi tingginya mencapai sekitar 1000 meter.

Sebelumnya pada Sabtu 16 November 2019 pukul 02.54 WIB BMKG mencatat peristiwa Gempa Sleman dengan magnitudo 2,7 yang berpusat di sekitar Gunung Merapi. Episenter terletak pada koordinat 7,63 LS dan 110,47 BT.

Lokasi tepatnya di darat pada jarak 10 kilometer arah selatan dari puncak Merapi pada kedalaman 6 kilometer. “Episenter gempa ini sangat dekat dengan puncak Merapi,” kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Ahad, 17 November 2019.

Peristiwa ini menurutnya mirip dengan erupsi Merapi pada 14 Oktober 2019 yang juga didahului oleh serangkaian aktivitas gempa tektonik yang berpusat di sekitar Merapi.

Aktivitas peningkatan vulkanisme menurutnya sensitif dengan guncangan gempa tektonik. Secara tektovolkanik aktivitas tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme. Syaratnya gunung api sedang kondisi aktif,  kondisi magma sedang cair dan kaya produksi gas.

Erupsi Merapi 2001 dan 2006 juga didahului oleh aktivitas gempa tektonik. “Dalam kondisi seperti itu erupsi gunung api mudah dipicu oleh gempa tektonik,” kata Daryono.

Gempa tektonik menurutnya  dapat memicu perubahan tekanan gas di kantong magma sehingga terjadi akumulasi gas dan memicu  erupsi. “Perlu ada kajian empiris untuk membuktikan kaitan gempa dan letusan Merapi itu,” katanya.

BNPB Salurkan Dana Rp3,8 Triliun untuk Penanganan Darurat Bencana Selama 2019

BNPB Salurkan Dana Rp3,8 Triliun untuk Penanganan Darurat Bencana Selama 2019

Trubus.id — Sepanjang tahun 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyalurkan Rp3,8 trilyun dana siap pakai (DSP) untuk penanganan darurat bencana di Indonesia. Nilai tersebut mencapai 96,58 persen dari total pagu senilai Rp4 triliun. Hal ini diungkapkan Kepala BNPB Doni Monardo dihadapan Komisi VIII DPR RI pada Rabu (13/11).

Pada kesempatan itu, Doni mengungkapkan bahwa DSP sebesar Rp4 triliun telah disalurkan Rp3,87 triliun (96,58 persen), sementara sisanya akan disalurkan usai proses penyelesaian pertanggungjawaban administrasi keuangan selesai.

“Pemanfaatan DSP sebagian terserap untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan yang diprioritaskan pada enam provinsi, yaitu Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Data BNPB mencatat DSP yang telah dikeluarkan untuk penanganan karhutla mencapa Rp1 triliun,” demikian dikatakan Doni dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Di sisi lain, alokasi DSP masih dibutuhkan untuk kesiapsiagaan dan penanganan potensi bahaya hidrometerologi hingga akhir tahun ini.

Lebih lanjut diakui Kepala BNPB, Komisi VIII meminta BNPB untuk memperhatikan beberapa catatan penanggulangan bencana tahun 2020, antara lain penyiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana karena peralatan yang ada belum memadai, khususnya untuk penanggulangan bencana yang besar seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tsunami dan banjir akibat musim penghujan.

Selain itu, BNPB juga diminta untuk meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat dan meningkatkan pelatihan relawan kesiapsiagaan bencana dengan melibatkan pesantren dan stakeholders yang lain.

“Terkait dengan realisasi anggaran penanggulangan bencana tahun 2019 sampai dengan hari ini mencapai Rp3,2 triliun dari pagu dana akhir sebesar Rp4,8 triliun. BNPB masih memiliki sisa anggaran Rp1,6 triliun. Realisasi anggaran ini belum maksimal dikarenakan adanya keterlambatan proses lelang dan gagal lelang serta prioritas pada penanganan darurat bencana,” tambah Doni Monardo.

Pada tahun 2020 nanti pagu anggaran BNPB sebesar Rp700 miliar, yang terdiri dari 3 program yakni, pertama, program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Rp213 miliar; ke dua, program penanggulangan bencana Rp478 miliar; dan yang terakhir adalah program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas Rp8,9 miliar. Jumlah tersebut belum termasuk DSP yang dialokasikan sebesar Rp4 triliun.

BNPB Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana di Banyuwangi

Banyuwangi – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar simulasi penanggulangan bencana Gladi Ruang (Table Top Exercise/TTX). Simulasi ini digelar untuk melatih para pemangku kepentingan menyiapkan rencana kontijensi menghadapi bencana secara cepat dan tepat.

Simulasi ini digelar selama tiga hari 12-15 November 2019 di Hotel Aston Banyuwangi yang diikuti diikuti 30 peserta dari unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, Lembaga Sosial, Relawan dan perwakilan masyarakat.

Plt Kepala BNPB Bagus Tjahjono mengatakan pelatihan simulasi metode Geladi Ruang ini merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) penanggulangan bencana.
Gladi ruang adalah sebuah metode simulasi bencana bagi para pengambil keputusan daerah dalam menghadapi bencana.

Pada simulasi ini, para peserta dilatih untuk bisa mengambil kebijakan yang cepat dan tepat dalam menghadapi bencana dalam koridor protap atau SOP (standar of operation) yang berlaku.

“Pada simulasi ini pihak-pihak yang memiliki wewenang menyusun rencana kebijakan penanggulangan bencana kami latih bagaimana menghadapi bencana dan membuat langkah perencanaan kontijensi yang tepat,” kata Bagus kepada wartawan di lokasi, Rabu (13/11/2019).

Pada pelatihan tersebut para peserta juga diajak memecahkan masalah dan menyusun rencana penanggulangan bencana dengan berbagai skenario. Skenarionya dibuat berdasarkan potensi bencana yang ada di daerah. Di antaranya gempa bumi, tsunami, banjir dan gunung meletus.

“Jadi kami ajak peserta membuat perencanaan kontijensi sesuai skenario yang kami buat sebagai uji coba langsung. Tidak hanya satu jenis bencana saja tapi berbagai macam karena ancaman kebencanaan di Banyuwangi juga beragam,” kata Bagus.

Selain Gladi Ruang, BNPB juga melakukan pelatihan Geladi Posko. Pelatihan ini menekankan pada mekanisme hubungan antar jajaran yang ada di Banyuwangi dalam menangani kebencanaan.

“Pelatihan ini juga dimaksudkan untuk mempersolid semua stake holder yang terkait dalam penanganan bencana,” ujarnya.

Sementara Sekda Banyuwangi, Mujiono memberikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan BNPB untuk menggelar simulasi di Banyuwangi. Mujiono berharap dengan pelatihan bisa dilakukan perencanaan penanganan bencana yang tepat oleh para pemangku kepentingan daerah dan meminimalisir jumlah korban jiwa.

“Bencana sifatnya tidak bisa diprediksi tapi bila terjadi kita harus bisa merespon dengan cepat dan tepat. Lewat penyelenggaraan simulasi ini, kami bergarap bisa memberi bekal bagi kami untuk menghadapi bencana,” ujar Mujiono.
(fat/fat)

Puting Beliung Bencana Tertinggi Sepanjang 2019

WARGA memperbaiki atap rumah miliknya yang rusak, akibat angin puting beliung yang melanda di kampung Sukajaya, Desa Banjarsari, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Selasa, 22 Oktober 2019.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat dari Januari hingga November 2019 jumlah puting beliung merupakan kejadian tertinggi dibandingkan jenis bencana lain. Sebanyak 1.010 kejadian puting beliung terjadi sepanjang tahun ini.

Kejadian puting beliung telah mengakibatkan korban meninggal dunia 13 jiwa, luka-luka 187 dan mengungsi 41.429. Sedangkan kerusakan pemukiman, bencana ini mengakibatkan rumah rusak berat 1.865 unit, rusak sedang 3.134 unit dan rusak ringan 18.211 unit.

“Angin puting biasanya terjadi saat pergantian musim, dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Warga diimbau untuk tetap waspada dalam menghadapi potensi bahaya angin puting beliung,” Kata Agus Wibowo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya, Senin, 11 November 2019. 

Selebihnya, Agus mengatakan jumlah kejadian bencana secara nasional hingga 11 November 2019 sebanyak 3.200 kali terdiri atas 1.010 kali puting beliung, 680 kali banjir, 688 karhutla, 651 kali tanah longsor, 121 kali kekeringan, 26 kali gempabumi, 17 kali gelombang pasang/abrasi dan 7 kali letusan gunung api.

“Jumlah korban akibat bencana 459 orang meninggal, 107 orang hilang, 3.290 orang luka-luka dan 5.942.002 orang menderita & mengungsi,” ucap dia. 

Kerusakan rumah akibat bencana sebanyak 62.275 unit rumah terdiri dari 14.770 unit rusak berat, 11.880 unit rusak sedang, dan 35.625 rusak ringan.

Sementara itu, kerusakan fasilitas akibat bencana sebanyak 1.884 unit terdiri dari 1.054 fasilitas pendidikan, 629 fasilitas peribadatan dan 201 fasilitas pendidikan.

Kerusakan kantor akibat bencana sebanyak 253 unit dan jembatan sebanyak 402 unit.

Laporan Kegiatan Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

launcing buku audit

Laporan Kegiatan

Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

Rabu- Jumat, 30 Oktober – 1 November 2019


launcing buku audit

{tab title=”Pengantar” class=”blue” align=”justify”}

Sejak pertama kali diselenggarakan, pameran ilmiah bencana menjadi kegiatan dan salah satu metode pembelajaran yang disukai oleh mahasiswa dan dirasakan mampu memberikan pemahaman lebih mengenai gambaran penanggulangan bencana bidang kesehatan yang riil bagi mahasiswa. Pokja Bencana FK – KMK UGM juga selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. FK – KMK UGM pada kesempatan ini mengajak semua pihak untuk kembali terlibat dalam Launching Buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Bidang Kesehatan di Indonesia.

{tab title=”Launching Buku” class=”blue”}

Launching buku dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan pameran ilmiah manajemen bencana bidang kesehatan. MC membuka kegiatan launching dengan membacakan ulang rangkaian kegiatan launching buku dan pelaksanaan pameran. MC juga memperkenalkan penulis buku dan menceritakan sekilas tentang rangkuman isi buku. Selanjutnya sambutan dari dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD selaku Ketua Blok D.2 Pendidikan Dokter reguler/internasional FK-KMK UGM. Dr Yodi mengatakan bahwa tantangan terbesar bidang kesehatan secara global adalah bagaimana menghadapi bencana. Statistik 2018 menunjukkan korban bencana yang tinggi ada di Indonesia. Lulusan kedokteran Indonesia seyogiyanya siap berperan dalam penanganan bencana. Pokja bencana FK – KMK UGM sudah berinovasi untuk memudahkan mahasiswa dalam pembelajaran bencana melalui pameran ilmiah kebencanaan. Event ini mendorong mahasiswa bisa bertemu langsung dengan para pelaku penanganan bencana di lapangan. Demikian juga halnya dengan adanya buku relawan yang dituliskan oleh tim pokja bencana sangat bagus untuk menambah pengetahuan dalam penanganan bencana.

Selanjutnya adalah pemaparan dari dr. Hendro SpB. KBD, salah satu penulis buku relawan kesehatan di medan bencana. dr. Hendro menyampaikan bahwa buku ini seperti brainstorming atau lesson learnt yang ditangkap oleh para penulis selama bekerja di lapangan. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Kekurangan dari buku ini adalah semua penulis masih pemula tidak ada pengalaman menulis sebelumnya. Kelebihan buku ini adalah mencakup pengalaman yang sangat lama sejak 2004 – 2018. Kemudian Pokja Bencana mendapatkan dukungan yang konsistensi dari institusi sehingga pokja bencana dapat berinovasi dalam pengembangan manajemen bencana sector kesehatan di Indonesia. Beberapa produk dari pokja bencana adalah Hospital Disaster Plan, Dinkes Disaster Plan, Puskesmas Disaster Plan dan disaster kit.

Setelah pemaparan selesai, MC mengajak semua penulis untuk duduk di depan dan memulai diskusi dengan peserta. Peserta yang mengikuti webinar yaitu 4 orang.

launcing buku audit 1

Dok. Pokja Bencana “Diskusi dengan penulis buku relawan kesehatan di medan bencana”

{tab title=”Diskusi” class=”green”}

1.      Bagaimana menyusun kebencanaan ini sehingga bisa masuk dalam perkuliahan?

  • dr. Hendro : disusun sesuai dengan bidangnya masing – masing. Tim Pokja Bencana mempunyai keahlian di bidang masing – masing, jadi semuanya saing berkoordinasi untuk mengemas segala pengalaman dan pengetahuan ke dalam pendidikan kedokteran.
  • dr Bella : diawali oleh pembentukan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Divisi Manajemen Bencana. Kemudian Prof. Laksono meminta supaya dibuatkan untuk mahasiswa. Awalnya kebutuhannya ada disaster manajemen dikembangkan menjadi disaster medicine.
  • dr Handoyo : penyusunan tersebut tidak mudah, yang dibutuhkan itu fasilitator dan komitmen serta dukungan dari institusi institusi. Jadi kurikulum ini diimplementasikan makin lama makin bagus. Untuk knowledge sudah cukup baik jadi next level ke arah relief.
  • Sutono : di perawatan juga sudah dikembangan disaster manajemen perawat, kemudian kita juga ada council nursing yang memiliki kurikulum sehingga berdasarkan itu kami kembangkan menjadi kurikulum peran perawat saat bencana dan post bencana.
  • dr. Sulanto : yang perlu dipahami adalah kita tidak bisa mencegah bencana, yang bisa dilakukan mengurangi risiko akibat bencana. Bagaimana menyiapkan manusia siap menghadapi bencana. Jogja dimulai dengan memasukkan dalam pendidikan pada kurikulum kedokteran.

2.      Bagaimana melibatkan mahasiswa dalam kebencanaan?

  • dr. Hendro : ilmu kebencanaan di kita belum terstruktur. Pengalaman langsung ke lapangan baru bisa sah jadi petugas atau pengajar kebencanaan. Mahasiswa mana dulu yang dimaksud. Kita bisa melibatkan sesuai dengan kapasitas mereka. Jika mahasiswa kedokteran masih dianggap masyarakat awam. Artinya tergantung dari mahasiswa mana. Jika mahasiswa teknik dari awal dilibatkan mungkin sudah bisa.

{tab  title=”Pameran” class=”red”}

launcing buku audit 2

Dok. Pokja Bencana “Peserta Stand Pameran”

Kegiatan selanjutnya adalah pembukaan acara pameran oleh Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed. Ph.D.,SpOG(K). Prof. Ova menegaskan kembali bahwa tim pokja bisa terus belajar, berkembang menjadi lebih bagus, sudah 25 tahun mampu menuliskan dalam sebuah buku. Musibah bisa suatu kesenangan bisa juga suatu kesedihan bagi kita jadi kita tidak bisa mengatur musibah. Tim ini memberikan semangat bagi kita. Sebagai institusi pendidikan harus siap menyiapkan profesi untuk menanggapi perubahan alam dengan baik dan membawa outcome yang lebih baik. Seluruh peserta diajak ke luar ruangan untuk pemotongan pita sebagai simbol pembukaan pameran.

Selanjutnya peserta bebas mengunjungi pameran. Beberapa organisasi yang mengisi pameran adalah FK – KMK UGM (Pokja Bencana, Divisi Bencana Kesehatan PKMK, Prodi Keperawatan, Prodi Kedokteran Umum, dan Prodi Gizi Kesehatan); Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY; PMI Provinsi Yogyakarta; TBMM FK – KMK UGM; dan Pusbankes 118 PERSI DIY. Pameran dilaksanakan sampai dengan 1 November 2019.

{tab  title=”Penutup” class=”grey”}

Demikian laporan kegiatan Launching Buku dan Pameran Bencana 2019. Kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang manajemen penanggulangan bencana bidang kesehatan. Pengalaman – pengalaman peserta saat menangani bencana yang dibagikan pada pameran dan juga yang sudah terdokumentasi dalam satu buku bisa menjadi pelajaran untuk perbaikan manajemen bencana kesehatan.

{/tabs}

Kearifan Lokal dalam Siaga Bencana

 “Kearifan Lokal dalam Siaga Bencana”

labuhan

Selamat berjumpa kembali para pembaca website bencana kesehatan. Pengantar website kali ini akan membahas 2 artikel tentang budaya pengurangan risiko bencana dipadukan dengan kearifan lokal. Pada artikel pertama disebutkan bahwa kearifan lokal bisa digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat masa kini terkait risiko bencana. Budaya pengurangan risiko bencana sudah lama diterapkan masyarakat Indonesia dalam wujud cerita dan legenda. Misalnya, pesan waspada bencana dalam tembang macapat (puisi bahasa jawa) “sebelum ada gempa, berhati – hatilah dan waspada diikat jangan sampai rubuh selalu siap siaga…” Selanjutnya dalam bahasa Kaili Sulawesi Tengah ada dikenal dengan istilah Nalodo (ambles atau dihisap lumpur) dan Nalonjo (berawa atau berlumpur), yang berlokasi di Petobo, Balaroa dan Jono Oge. Sehingga sebelum 1980 tidak ada masyarakat Kaili yang berani membangun hunian dan berkebun di daerah tersebut. Legenda, mitos atau cerita yang ada di masyarakat bisa diteliti untuk mendapatkan pesan soal siaga bencana.

Selengkapnya

Artikel kedua mengkaji upaya mitigasi bencana alam dengan memadukan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat sehingga menjadi tangguh menghadapi bencana. Peneliti mengkaji dari parameter kondisi geologi, bangunan rumah, problem psikologi masyarakat di daerah rawan bencana gempa bumi. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa bangunan rumah tradisional Joglo dan gotong royong merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Yogyakarta, Bantul dan sekitarnya yang dapat diberdayakan sebagai modal masyarakat untuk tangguh menghadapi bencana gempa bumi

Selengkapnya

BNPB: 3.155 Bencana hingga November, 459 Tewas

BNPB: 3.155 Bencana hingga November, 459 Tewas

Jakarta, CNN Indonesia — Sebanyak 3.155 bencana terjadi di Indonesia sejak awal Januari hingga 7 November berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Agus Wibowo mengatakan bencana-bencana itu terdiri atas 987 puting beliung, 678 banjir, 673 kebakaran hutan dan lahan, 646 tanah longsor, 121 kekeringan, 26 gempa bumi, 17 gelombang pasang atau abrasi dan 7 letusan gunung api.

“Jumlah korban akibat bencana 459 orang meninggal, 107 orang hilang, 3.280 orang luka-luka dan 5.940.077 orang menderita dan terdampak,” kata Agus dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (7/11).

Agus melanjutkan, ribuan bencana sepanjang 2019 juga menyebabkan kerusakan 61.821 unit rumah, terdiri dari 14.721 unit rusak berat, 11.772 unit rusak sedang, dan 35.328 rusak ringan.

Sementara kerusakan fasilitas akibat bencana sebanyak 1.881 unit terdiri dari 1.053 fasilitas pendidikan, 627 fasilitas peribadatan dan 201 fasilitas kesehatan.

BNPB sebelumnya telah menyatakan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia mulai memasuki musim pancaroba. Cuaca ekstrem perlu diwaspadai masyarakat.

Daerah yang memasuki Pancaroba antara lainProvinsi Jambi, Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi. Sementara wilayah

Sementara dari utara Pulau Sumatera yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, hingga, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara sudah masuk musim hujan.

Agus mengingatkan cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi yaitu hujan deras disertai badar, petis, banjir bandang, tanah longsor, hingga hujan es. 

“Masyarakat perlu mengetahui apa saja potensi yang bisa terjadi akibat dari peralihan musim ini sehingga bisa lebih waspada,” katanya seperti dilansir Antara.

Ia menambahkan hujan deras yang mengguyur ibu kota pada Selasa malam (5/11), tidak ada menimbulkan banjir. Namun, masyarakat diminta tetap waspada.

Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG Adi Rivaldi mengatakan cuaca ekstrem biasanya ditandai perubahan cuaca cepat.

“Pagi hingga siang panas terik dan sore tiba-tiba hujan deras disertai petir,” kata dia.
BNPB telah menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp850 miliar guna mengantisipasi berbagai bencana alam yang terjadi saat peralihan musim atau pancaroba.

“Kita masih ada dana alokasi siap pakai sekitar Rp850 miliar hingga akhir tahun untuk antisipasi banjir dan tanah longsor,” kata Agus.

Dana dapat digunakan langsung untuk membantu daerah-daerah apabila terdampak bencana alam banjir dan tanah longsor. Agus menyatakan dana tersebut merupakan salah satu bentuk kesiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana alam yang berpotensi terjadi di berbagai daerah saat peralihan musim.

Selain menyiapkan dana siap pakai, BNPB terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Indonesia guna mewaspadai cuaca ekstrem.

“Semua daerah diminta untuk terus waspada, terutama Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa dan Bali karena cuaca ekstrem bisa terjadi secara tiba-tiba,” katanya.

Ia menambahkan masyarakat juga diminta untuk menyiapkan dan menanam bibit-bibit pohon yang berfungsi sebagai penahan air saat terjadi musim hujan. Karena, saat peralihan musim kemarau ke hujan, tanaman akan lebih mudah tumbuh.

“Kita perlu lebih banyak tanam pohon, karena banyak daerah yang kekurangan pohon untuk menyerap air,” katanya. (Antara/wis)