Masuk Peralihan Musim, Masyarakat Diimbau Waspada Bencana

Masuk Peralihan Musim, Masyarakat Diimbau Waspada Bencana

Jakarta, CNN Indonesia — Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengimbau masyarakat mulai melakukan persiapan menghadapi peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Ia meminta agar masyarakat bisa mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana hidrometeorologi saat musim penghujan.

Beberapa di antaranya, kata Agus, ialah dengan memangkas daun dan ranting di pohon yang besar. Kemudian tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga kebersihan lingkungan, saluran air dan sungai.

“Membawa payung atau jas hujan selama berkegiatan di luar ruang, dan memperbarui informasi prakiraan cuaca dari sumber berwenang,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Senin (21/10).

Untuk jangka panjang, pencegahan bencana hidrometeorologi di musim penghujan bisa dilakukan dengan menanam pohon yang dapat mencegah longsor. Menanam pohon disebut Agus sekaligus bisa mengikat air tanah sebagai cadangan saat kemarau panjang tiba.

Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam antara lain beringin, karet, matoa, jabon putih, sukun, mahoni, dan sebagainya. Selain itu, Agus menjelaskan musim penghujan bisa memicu bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir.

“Dengan ditambah beberapa faktor seperti lingkungan yang tidak terawat dengan baik, alih fungsi hutan pegunungan, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan,” kata dia.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim penghujan 2019 akan dimulai pada akhir Oktober hingga pertengahan November. Masa peralihan musim kemarau menuju musim penghujan atau masa pancaroba ditandai dengan beberapa gejala alam.

Beberapa di antaranya adalah perubahan suhu dan cuaca secara drastis, munculnya mendung tebal disertai petir, gelombang pasang air laut, angin kencang, hingga angin puting beliung.

Diketahui, musim penghujan pada 2019 cenderung terlambat karena pengaruh fenomena el nino yang panjang. Kondisi ini sekaligus berdampak pada bencana kekeringan panjang di beberapa wilayah Indonesia.

Penyandang Disabilitas dalam Menghadapi Bencana

Bagaimana penyandang disabilitas menghadapi bencana? Penyandang disabilitas termasuk dalam kelompok rentan saat bencana terjadi. Mereka tidak bisa sepenuhnya bertindak cepat dalam penyelamatan diri.  Indonesia sudah mempunyai peraturan untuk penyandang disabilitas, antara lain UU Nomor 8 Tahun 2016 dan Perka BNPB Nomor 14 Tahun 2014 tentang penanganan, perlindungan, dan partisipasi penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana. Namun pelaksanaan program persiapan bencana yang ramah penyandang disabilitas masih minim. Melihat Indonesia yang sangat rawan bencana, pemerintah harus berupaya membangun manajemen yang baik bagi penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana. Upaya yang dapat dilakukan adalah ketersediaan infrastruktur yang ramah difabel dan edukasi bencana.

Artikel berikut menjelaskan bahwa perbaikan akses kebutuhan fungsional dan edukasi kebencanaan merupakan bentuk perencanaan dan respon yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas. Perencanaan yang terkoordinasi dan penyaluran sumber daya untuk memenuhi kebutuhan lokal memperkuat kapasitas kesiapsiagaan bencana dan mengurangi dampak bencana bagi penyandang disabilitas.

Selengkapnya Klik Disini

Artikel ini juga membahas bagaimana perhatian untuk anak – anak disabilitas di daerah terpencil dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan bencana bagi keluarga dengan anak yang membutuhan perawatan kesehatan khusus masih rendah. Dukungan sosial, kemandirian dan ketahanan keluarga perlu dipertimbangkan dalam mendesign program kesiapsiagaan bencana, dengan mengkhususkan anak anak disabilitas dalam mengidentifikasi solusi untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.

Selengkapnya Klik Disini

Pameran Ilmiah Kebijakan Kesehatan dan Manajemen Bencana Indonesia 2019

 Pameran Ilmiah Kebijakan Kesehatan dan Manajemen Bencana Indonesia 2019

Rabu – Jumat, 30 Oktober – 1 November 2019

Diselenggarakan oleh:

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM bekerjasama dengan Pokja Bencana FK UGM
dan Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK – KMK UGM

Pengantar

Kompleksitas masalah dan peran dalam penanggulangan bencana menuntut aktor -aktor penanggulangan bencana mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan berbagai sektor yang terlibat. Seorang tenaga kesehatan misalnya, tidak dapat melakukan layanan kesehatan pada masa tanggap bencana sendirian, layanan kesehatan yang ada di daerah bencana akan bertemu dan mendapat bantuan dari relawan yang datang baik dari pemerintah, perguruan tinggi, ataupun organisasi kemasyarakatan. Mengingat prosedur penanggulangan bencana adalah serangkaian prosedur yang sudah disiapkan sebelumnya maka sebuah Disaster Plan hanya akan dapat dijalankan bila sesuai dengan kapasitas dan kompetensi staf yang dilatih, dievaluasi, dan diperbaiki secara periodik. Oleh karena itu, perlu pengembangan manajemen bencana dan pelatihan terus menerus.

Kebijakan dalam penanggulangan bencana ini selalu diupdate karena karakteristik bencana yang terjadi berbeda – beda. Kementerian kesehatan bersama dengan organisasi terkait termasuk FK – KMK UGM bekerja sama untuk menyusun kebijakan yang strategis dan terintegrasi, misalnya stategi untuk menghimpun relawan kesehatan yang ada di Indonesia. Belajar dari beberapa pengalaman bencana Indonesia, tercatat bahwa banyak relawan yang sudah terlatih dan siap membantu saat bencana terjadi. Banyaknya bencana yang terjadi saat ini menuntut peran perguruan tinggi untuk dapat memasukkan kurikulum pendidikan bencana bagi mahasiswa sehingga mahasiswa mampu memahami perannya dimasa depan dalam penanggulangan bencana.

Tantangan dalam memahamkan pembelajaran manajemen bencana kesehatan bagi mahasiswa adalah sulitnya mahasiswa membayangkan kejadian bencana, bagaimana proses koordinasi, bagaimana memberikan layanan kesehatan, bagaimana cara bergabung dalam upaya penanggulangan bencana, dan banyak tantangan lainnya. Proses pembelajaran manajemen bencana kesehatan ini semakin berat, terutama dirasakan oleh mahasiswa yang belum memiliki pengalaman dalam situasi bencana. Berdasarkan hal ini, proses pembelajaran kemudian dikembangkan dengan berbagai macam pendekatan antara lain menggunakan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah, praktikum, skills lab, kuliah pakar, dan video pembelajaran. Semua metode yang dikembangkan bertujuan untuk memahamkan mahasiswa kepada perannya sebagai tenaga kesehatan di masa yang akan datang dalam menghadapi bencana.

Sejak 2010, FK – KMK selalu mengadakan pameran ilmiah kebencanaan pada akhir Blok D2 untuk mahasiswa kedokteran dan keperawatan. Setiap tahun pameran ini melibatkan organisasi kemanusiaan dan kebencanaan yang ada di Yogyakarta seperti Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta, BPBD, PMI, TBMM dan MDMC, serta rumah sakit dan Pusbankes 118. Melalui pameran harapannya mahasiswa dapat langsung berinteraksi dengan pelaku lapangan untuk lebih mudah memahami mengenai manajeman penanggulangan bencana bidang kesehatan.

Sejak pertama kali diadakan, pameran ilmiah bencana menjadi kegiatan dan salah satu metode pembelajaran yang disukai oleh mahasiswa dan dirasakan mampu memberikan pemahaman lebih mengenai gambaran penanggulangan bencana bidang kesehatan yang sebenarnya bagi mahasiswa. Pokja Bencana FK – KMK UGM juga selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sector kesehatan. FK – KMK UGM pada kesempatan ini mengajak semua pihak untuk kembali terlibat dalam Launching Buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Bidang Kesehatan di Indonesia 2019.

Tujuan

Pameran bertujuan untuk:

  1. Memberikan pengetahuan dan gambaran mengenai pengalaman dalam penanganan bencana yang telah dilakukan khususnya bidang kesehatan, agar bisa memberikan bentuk inovasi dalam penanggulangan bencana di masa depan.
  2. Memberikan pelajaran langsung mengenai manajamen penanggulangan bencana bidang kesehatan sehingga mahasiswa mendapat gambaran bagaimana prosesnya melalui diskusi dan dokumentasi kegiatan oleh pelaku penanggulangan bencana.
  3. Mendekatkan mahasiswa dengan pelaku-pelaku manajemen penanggulangan bencana di DIY.

Ketentuan Peserta Pameran Dan Pembagian Topik

Pada umumnya semua peserta pameran diharapkan dapat menunjukkan atau menampilkan peran masing – masing dalam penanggulangan bencana selama ini, baik pengalaman kegiatan bencana, program atau fokus. Namun, untuk keperluan pembelajaran mahasiswa kami mencoba membagi dan mengharap kesediaan rekan peserta pameran sekalian untuk menambahkan materi atau menjelaskan materi di bawah ini selain materi yang memang seharusnya ada pada stand peserta masing – masing.

Kami juga mengharapkan keikutsertaan peserta dalam mengisi materi di Ignite Stage yang telah disediakan setiap harinya pada jadwal yang telah ditentukan di bawah ini:

 

No. Peserta Permohonan topik tambahan/ menjelaskan tentang
1

FK KMK UGM (Pokja Bencana, Divisi Bencana Kesehatan PKMK, Prodi Keperawatan, Prodi Kedokteran Umum, dan Prodi Gizi Kesehatan)

FK KMK UGM Lebih menjelaskan tentang teori sesuai dengan materi perkuliahan

Teori pembelajaran sesuai dengan topik perkuliahan diantaranya:

       Manajemen bencana kesehatan

       Emergency Medical Team (EMT)

       Hospital Disaster Plan (HDP)

       Disaster Nursing

       Pengalaman pengiriman tim medis dan manajemen ke lapangan (Lombok, Palu, Lampung)

       Simulasi klaster kesehatan saat bencana (Peta respon)

2

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY

BPBD lebih menjelaskan tentang ICS dan koordinasi dalam penanggulangan bencana.

       Peralatan dalam penanggulangan bencana (bisa mobil, evakuasi, dll)

       Materi pameran BPBD DIY

3

PMI Provinsi Yogyakarta

Lebih menjelaskan mengenai manajemen relawan kesehatan.

Kegiatan kegiatan PMI di lapangan.

4 MDMC Lebih menjelaskan kegiatan penanggulangan bencana yang dilakukan, termasuk manajemen relawan kesehatan.
5 TBMM FK KMK UGM Kegiatan yang dilakukan oleh TBMM terkait kesiapsiagaan dan respon bencana.
6 Pusbankes 118 PERSI DIY Lebih menjelaskan kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan bencana, pelatihan, simulasi, dan lain sebagainya.

PENGUNJUNG PAMERAN

  • Mahasiswa kedokteran umum Blok D.2 reguler
  • Mahasiswa kedokteran umum Blok D.2 internasional
  • Mahasiswa Fakultas Kedokteran FK UGM
  • Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas lainnya di Jogjakarta
  • Masyarakat Umum

 

WAKTU DAN TEMPAT

Waktu     : Rabu- Jumat, 30 Oktober – 1 November 2019
Tempat   : Auditorium FK – KMK UGM (Pembukaan tanggal 30 Oktober 2019)
Lobby Auditoriun FK – KMK UGM (Pameran 31 Oktober – 1 November 2019)

Jadwal kegiatan

Waktu Kegiatan Ket.
Rabu, 30 Oktober 2019
07.30 – 08.15 Registrasi Panitia
08.15 – 08.30 Pembukaan MC
08.30 – 10.00 Kuliah Tamu  
10.00 – 11.00 Launching Buku
  1. Wartatmo,
11.00 – 11.10 Sambutan Ketua Blok D.2 Pendidikan Dokter reguler/internasional Dr. dr. Andreasta Meliala/ dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD
11.10 – 11.20 Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan FK-KMK UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed. Ph.D.,SpOG(K)
11.20 – 11.30 Simbolis Pembukaan dengan Pemotongan pita di gerbang pameran Dekan FK UGM, Direktur PKMK, Ketua Pokja, Ketua Board PKMK dan hadirin
11.30 – 11.40 Orientasi ke stand pameran masing-masing Tamu undangan dan mahasiswa
12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 16.00 Pameran Peserta
Kamis, 31 Oktober 2019
09.00 – 16.00 Pameran Peserta
Jumat, 1 November 2019
09.00 – 16.00 Pameran Peserta

Penutup

Demikian TOR Launching Buku dan Pameran Bencana 2019 disusun. Kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang manajemen penanggulangan bencana bdiang kesehatan. Pengalaman – pengalaman peserta saat menangani bencana yang dibagikan pada pameran dan juga yang sudah terdokumentasi dalam satu buku bisa menjadi pelajaran untuk perbaikan manajemen bencana kesehatan.


INFORMASI LEBIH LANJUT

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM Gedung IKM Sayap Utara Lantai 2
Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]m
Website: www.bencana-kesehatan.net

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818-263-653
Email: [email protected]

 

Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana

Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana

Rabu, 30 Oktober 2019

Diselenggarakan oleh:
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada


PENGANTAR

Indonesia merupakan negeri yang terletak di wilayah cincin api dunia, dengan karakteristik geografis rawan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)   mencatat sebanyak 2.277 bencana alam terjadi sejak Januari – Juli 2019. Bahkan, menjelang akhir Januari 2019, data dari Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) dan EM-DAT   (International   Disaster   Database),   Badan Perserikatan Bangsa Bangsa   untuk Pengurangan Risiko Bencana (United Nations Office for Disaster Risk Reduction/UNISDR) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat pertama negara dengan jumlah korban jiwa tertinggi akibat bencana alam sepanjang 2018.

Bencana   geologi,   mulai   gempa,   tsunami,   erupsi   gunung   berapi,   longsor,   banjir,   dan belakangan likuefaksi, merupakan peristiwa alam yang terjadi secara tak terduga dan tak mengenal waktu. Dampak yang ditimbulkan pun sangat besar, seperti hancurnya infrastruktur bangunan, rusaknya infrastruktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat hingga jatuhnya korban jiwa. Kehadiran bencana memang tidak bisa dicegah, akan tetapi masih mungkin untuk melakukan tindakan yang mampu mengurangi risiko akibat paparan dampaknya. Oleh karenanya, kesiapsiagaan dan upaya mitigasi bencana sangat diperlukan terutama untuk menurunkan angka cedera, hilang, dan jatuhnya korban jiwa.

Tim Bencana Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan FK- KMK/RSUP Dr. Sardjito berinisiatif menyusun buku yang berisi berisi catatan lapangan tim membantu korban bencana di Indonesia selama kurun waktu 15 tahun. Narasi buku diawali dengan kisah tim saat tsunami Aceh pada Desember 2004 hingga tsunami Selat Sunda menghantam Banten dan Lampung pada Desember 2018. Tidak hanya itu, buku yang ditulis juga mengungkapkan pengalaman pribadi salah satu anggota tim yang terlibat dalam penanganan bencana kelaparan di Kabupaten Lombok Tengah, NTB 1980, serta erupsi Merapi 1994.

Belum banyak buku pengalaman penanganan bencana yang khusus membahas kegiatan tim kesehatan di lapangan. Berkaitan dengan hal tersebut, FK- KMK UGM akan menggelar launching dan bedah buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana”, untuk memperkenalkan karya buku tersebut sekaligus harapannya buku ini dapat menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa kesehatan dan masyarakat umum yang tertarik pada bidang kesehatan bencana.

 

TUJUAN

Agenda ini bertujuan untuk:

  1. Launching buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana, perjalanan Tim FK UGM/RSUP dr. Sardjito Membantu Korban Bencana (2004
  2. Diskusi pengalaman dan pembelajaran tim kesehatan dalam penanganan bencana.

 

WAKTU DAN TEMPAT

Waktu     : Rabu 30 Oktober 2019

Pukul       : 10.00 – 12.00 WIB
                 (bersamaan dengan pembukaan pameran ilmiah bencana kesehatan)

Tempat   : Auditorium FK – KMK UGM

 

WEBINAR

http://bit.ly/webinarbencana2019
Webinar ID: 163-113-235

        

JADWAL KEGIATAN

Waktu Kegiatan Ket.
09.50 – 10.00 Registrasi  
10.00 – 10.10 Pembukaan Dekan FK KMK UGM
10.10 – 10.40 Pemaparan isi buku  
10.40 – 11.00 Diskusi dan tanya jawab Moderator
11.00 – 12.00 Pembukaan Pameran Ilmiah Bencana Kesehatan

Informasi Lebih Lanjut

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM Gedung IKM Sayap Utara Lantai 2
Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]m
Website: www.bencana-kesehatan.net

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818-263-653
Email: [email protected]

 

WASH in Emergency

Meningkatnya angka kesakitan dan kematian pada situasi bencana tidak hanya disebabkan oleh dampak langsung bencana tetapi juga penyertanya seperti menurunnya kualitas lingkungan, perubahan kesehatan lingkungan dan keterbatasan akses air bersih. Kepadatan populasi di pengungsian juga semakin memicu meningkatnya penyebaran penyakit menular yang dapat berpotensi wabah setelah bencana; diantaranya peningkatan kasus diare, leptospirosis, DBD, dan penyakit kulit. Artikel ini membahas bagaimana dampak program Water Sanitation and Hygiene (WASH) dalam pengendalian penyakit menular saat bencana. Dalam artikel, terdapat delapan program WASH yang di – review saat bencana yaitu meliputi perbaikan akses air bersih, pengolahan sumber airm pengolahan air rumah tangga, promosi pola hidup bersih sehat (PHBS), distribusi hygiene kit, kebersihan lingkungan, pemasangan fasilitas sanitasi dan distribusi alternatif jamban.

Selengkapnya Klik Disini 

Pengaturan ketersediaan air bersih dan hygiene ini juga sudah diatur dalam peraturan BNPB RI Nomor 2 Tahun 2018 tentang penggunaan dana siap pakai. Dana siap pakai bisa digunakan saat tanggap darurat untuk kebutuhan air bersih, sanitasi dan hygiene. Penyediaan air bersih mencakup pembelian dan distribusi air bersih, pembelian air minum kemasan, pengadaan hidran umum, sumur bor, dan pengawasan kualitas air bersih. Pengadaan sarana sanitasi dan hygiene mencakup pengadaan jamban/mandi cuci kakus, tempat pembuangan sampah, pembuatan saluran air limbah di tempat pengungsian, sewa kendaraan angkutan dan bahan bakar. Monitoring dan surveilans terhadap ketersediaan air bersih, sanitasi dan hygiene (WASH) bagi masyarakat terdampak penting untuk diperhatikan untuk menghindari bencana sekunder.

Launcing Buku: Relawan Kesehatan di Medan Bencana

launcing buku

launcing buku

Pokja Bencana FK – KMK UGM selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, FK – KMK UGM menggelar soft launching dan bedah buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” untuk memperkenalkan karya buku dan mensosialisasikan bagaimana pengalaman relawan kesehatan menolong korban bencana. Narasumber acara ini adalah Suparlan dari Yayasan SHEEP Indonesia; Danang Syamsurizal, ST dari BPBD DIY dan dr. Hendro Wartatmo, Sp.B., KBD mewakili tim penulis buku. Bedah buku dilaksanakan di Ruang Theater, Gedung Perpustakaan lantai 2,FK – KMK UGM pada Rabu, 2 Oktober 2019.

Selengkapnya Klik Disini

Antisipasi Aktivitas Merapi, BPBD DIY Siapkan 50 Ribu Masker

Suasana puncak Gunung Merapi di kawasan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho.

tirto.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyiapkan 50.000 masker dan sejumlah logistik untuk mengantisipasi meningkatnya aktivitas Gunung Merapi.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan saat terjadi awan panas letusan Merapi, pada Senin (14/10/2019) memang tidak mengakibatkan hujan abu signifikan di wilayah DIY jika di bandingkan wilayah Jawa Tengah seperti Magelang.

Namun kata Biwara, pihaknya telah mempersiapkan masker dan logistik untuk mengantisipasi adanya peningkatan aktivitas Merapi jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu.

“Masker siap di BPBD DIY ada, di BPBD Sleman ada, di Puskesmas ada. Update terakhir saya belum dapat laporan tapi kalau 50 ribu [masker] saja di BPBD DIY ada,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana saat dihubungi, Selasa (15/10/2019).

Selain itu, 11 barak juga dalam kondisi siap digunakan. Hanya ada satu barak yang rusak di Donokerto, Turi, Sleman setelah temboknya roboh terkena angin kencang beberapa waktu lalu.

Perbaikan barak akan dilakukan tahun depan sesuai anggaran 2020. Sekaligus perbaikan juga akan dilakukan di salah satu barak yang lain yakni meliputi pergudangan dan dapur.

“Kebutuhan-kebutuhan [lain] siap, tikar, selimut logistik. Dan masyarakat sudah terkondisikan kemana evaluasi jalur ke mana,” ujar dia.

Di sisi lain, kata dia, masyarakat di lereng Merapi juga telah dipersiapkan sejak dini jika sewaktu-waktu aktivitas Merapi meningkat. Sebab, seluruh desa yang ada di lereng Merapi, kata dia, telah menjadi Desa Tanggung Bencana (Destana).

Selain itu, menurutnya, masyarakat di lereng Merapi sudah bergumul lama dengan aktivitas Merapi sehingga paham setiap aktivitas Merapi. Pun demikian pos-pos pengamatan Merapi juga aktif memberikan informasi ke masyarakat.

Sebelumnya, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas letusan dengan tinggi kolom mencapai kurang lebih 3.000 meter, Senin (14/10/2019).

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menjelaskan penyebab awan panas letusan dikarenakan adanya akumulasi gas.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan karakter letusan yang terjadi pada Senin sore sama persis dengan letusan pada 22 September 2019. Namun, yang terakhir lebih besar karena tinggi kolom letusan mencapai 3.000 meter sedangkan sebelumnya hanya 800 meter.

“Penyebabnya akumulasi gas karena saat ini Merapi masih proses terus ya masih hidup. Merapi ini masih hidup jadi proses terus terjadi akumulasi gas bisa terjadi dan sewaktu-waktu bisa meletus seperti itu,” kata Hanik di Kantor BPPTKG, Senin (14/10/2019).

Aplikasi Mitigasi Bencana Merapi Diresmikan, Tapi Sinyal Ponsel Masih Susah

Aplikasi Mitigasi Bencana Merapi Diresmikan, Tapi Sinyal Ponsel Masih Susah

Suara.com – Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman wajibkan pengemudi Jip Lava Tour Merapi untuk mengunduh aplikasi ‘Jarak Aku dan Merapi’. Aplikasi tersebut berfungsi sebagai penanda, untuk mengetahui perubahan status kegunungapian di Gunung Merapi.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman Sudarningsih menjelaskan, ketika ada peningkatan status atau ada bahaya, ponsel yang sudah memiliki aplikasi ‘Jarak Aku dan Merapi’ akan bergetar.

“Itu tandanya harus cepat-cepat evakuasi, wisatawan naik jip dan turun untuk mengamankan,” katanya di Rumah Seni Kustiyah Edhie Sunarso di Mlati, Sleman, Yogyakarta pada Selasa (15/10/2019).

Menurutnya, aplikasi ini wajib diunduh oleh para pengemudi jip Merapi, karena mereka sering mengantar wisatawan hingga ke lokasi kawasan rawan bencana (KRB) 3.

Ia menambahkan, wilayah KRB 3 memang diperbolehkan untuk wisatawan minat khusus, seperti jelajah alam Jip Lava Tour Merapi. Asalkan tetap memerhatikan peningkatan status Merapi.

“Namun tidak diperbolehkan dibangun bangunan permanen,” kata dia.

Jarak Aku dan Merapi ini, merupakan fitur yang menjadi bagian dalam aplikasi mitigasi bencana yang dikembangkan oleh BPBD Sleman, bernama Lapor Bencana Sleman. Pengguna dapat mengunduhnya lewat Google Plays.

Aplikasi Lapor Bencana Sleman yang dilengkapi dengan fitur Jarak Aku dan Merapi sudah diwajibkan untuk diunduh oleh pengemudi jip wisata ‘lava tour’ Merapi, Yogyakarta. Bahkan, sedikitnya 800 pengemudi jip Merapi sudah diberi pelatihan untuk menggunakannya.

Namun, ternyata penggunaan aplikasi ini masih terkendala kualitas sinyal ponsel, terutama di kawasan Sleman Utara, area terdekat dengan Merapi.

Sudarningsih mengungkapkan lokasi di lereng Merapi sering minim sinyal. Agar penggunaan aplikasi yang sudah dikembangkan BPBD Sleman sejak Januari 2019 ini bisa optimal, jajarannya berkoordinasi dengan Diskominfo Sleman.

“Kami minta diperbaiki dan diperkuat sinyalnya. Sinyal di atas (kawasan Merapi) relatif susah,” katanya.

Perbaikan sinyal diperlukan, agar meminimalisasi halangan penanganan wisatawan yang ada di lereng Merapi.

Bukan hanya pelatihan dan perbaikan sinyal, Dinas Pariwisata terus menekankan kepada pengemudi jip Merapi, agar mereka memahami kebencanaan dan Sapta Pesona.

“Mereka jadi punya wawasan juga kalau ada bencana harus begini,” ujarnya.

Selama ini, informasi kebencanaan di kawasan wisata Merapi, masih berpedoman pada informasi BPPTKG dan BPBD. Bila rekomendasi dari dua lembaga tersebut menyatakan aman, maka Dinas Pariwisata akan merekomendasikan hal yang sama bagi pelaku wisata dan wisatawan.

Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat, Dardiri membenarkan telah mendapat sosialisasi dari Pemkab Sleman, agar mereka menggunakan aplikasi Jarak Aku dan Merapi.

Hanya saja, mereka menghadapi kendala susahnya sinyal di lokasi.

“Akhirnya tetap masih mengandalkan HT (Handy Talky) untuk komunikasi,” kata dia.

Diketahui, saat ini status Gunung Merapi masih Waspada. BPPTKG merekomendasikan agar masyarakat menghindari radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sedangkan yang berada lebih dari radius tiga kilometer, dapat beraktivitas seperti biasa. Masyarakat diimbau tetap tenang namun selalu waspada.

Topan Hagibis dan Kesiapan Jepang Hadapi Bencana Alam

Warga Jepang yang mengungsi akibat Topan Hagibis (Reuters)

Tokyo – Jepang dilanda Topan Hagibis yang disebut-sebut terdahsyat sepanjang sejarah Negeri Sakura. Namun, Pemerintah Jepang sudah lebih dari siap.

Badan Meteorologi Jepang sudah memprediksi Topan Hagibis menghantam akhir pekan ini. Dampaknya pun dirasakan pada Sabtu (12/10) kemarin, di mana terjadi banyak pembatalan pesawat hingga kereta sebagai dampak dari topan tersebut.

Dikabarkan, bahwa topan tersebut menjadi yang terburuk dalam rentang waktu 60 tahun. Lantas, tagar #SaveJapan pun mulai bermunculan di media sosial.

Namun pada saat bicara soal bencana alam, Negeri Sakura Jepang mungkin bisa disebut sebagai negara yang amat siap menghadapi bencana alam. Pasalnya, bencana alam seperti gempa bumi, topan, dan tsunami sudah umum menerjang Jepang. Malah, sampai ada musim topan di Jepang saking seringnya musibah itu muncul.

Mendapati begitu banyaknya musibah yang cukup rutin menimpa Jepang, pihak Pemerintahnya pun tak tinggal diam. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Minggu (13/10/2019), pihak Pemerintah Jepang pun lantas membuat aturan spesifik untuk menghadapi bencana alam.

Terhitung sejak tahun 1981, pihak Pemerintah Jepang sangat ketat soal desain dan pendirian bangunan serta infrastruktur. Ada pakem utama yang harus diaplikasikan, di mana setiap bangunan dibangun untuk menghadapi gempa, angin, topan dan hujan badai.

Desainnya pun dibuat sedemikian rupa, sehingga air dapat mengalir tanpa merusak struktur utama. Hal yang sama juga berlaku untuk jalanan Jepang.

Memastikan masyarakatnya siap menghadapi bencana, pihak Pemerintah Jepang juga menyiapkan instruksi manual serta latihan keselamatan apabila terjadi bencana yang tak diinginkan. Sistem sirene yang berbunyi masal juga hadir untuk menandakan musibah yang akan datang.

Saking banyaknya bencana alam di sana, Jepang bahkan memiliki satu hari khusus untuk pencegahan bencana atau Hari Pencegahan Bencana Alam Nasional yang jatuh tiap 1 September. Hari khusus itu didedikasikan untuk mengenang bencana gempa bumi dahsyat yang menghancurkan Tokyo pada tahun 1923 silam.

Oleh sebab itu, penanganan bencana alam telah diajarkan di Jepang sejak dini. Mayoritas masyarakat di Jepang juga sadar betul akan langkah persiapan menghadapi bencana.

Apabila ingin belajar menangani bencana alam seperti Jepang, kamu bahkan bisa ambil bagian lewat simulasi pencegahan bencana alam di Ikebukuro Life Safety Learning Center atau di Yokohama Disaster Risk Reduction Learning Center. Luar biasa ya.

Dana Desa 2020 Diprioritaskan untuk Penanganan Bencana

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKAL PUNANG — Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) gencar mendorong pemerintah desa turut memprioritaskan penggunaan dana desa untuk kebencanaan. Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana dari Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kemendesa PDTT Hasman Maa’ni mengatakan Indonesia memiliki potensi kebencanaan yang sangat beragam, mulai dari bencana teknonik hingga vulkanik.

Tercatat beberapa bencana besar pernah terjadi di Indonesia, mulai dari Tsunami di Aceh, Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, Gempa Palu di Sulawesi Tengah sampai Gempa Lombok di NTB. Kemendes PDTT dalam rangka turut membantu mengurangi risiko bencana mengeluarkan suatu aturan pengunaaan dana desa untuk kebencanaan yang telah tertuang dalam Permendesa nomor 11 tahun 2019 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2020.

Adapun peluang pemanfaatan dana desa dapat dilakukan lebih dalam untuk pengurangan risiko bencana dengan pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan konflik sosial serta penanganan bencana alam dan bencana sosial.

“Ada di bab dua pasal 8, ayat 1d yang menyebutkan pengadaan, pembangunan, pengembangan serta pemeliharaan sarana dan prasarana lingkungan alam untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana, penanganan bencana alam dan pelestarian lingkungan hidup,” katanya, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar atas kerjasama Kemendes PDTT dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana Tahun 2019, Jumat (11/10).

Dalam hal pengadaan, pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana prasarana untuk penanggulangan bencana alam dan/atau kejadian luar biasa lainnya tersebut meliputi kegiatan tanggap darurat bencana alam, pembangunan jalan evakuasi dalam bencana gunung berapi, pembangunan gedung pengungsian, pembersihan lingkungan perumahan yang terkena bencana alam.

“Selain itu juga untuk rehabilitasi dan rekonstruksi lingkungan perumahan yang terkena bencana alam, pembuatan peta potensi rawan bencana di Desa, P3K untuk bencana, Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di Desa dan sarana prasarana untuk penanggulangan bencana yang lainnya sesuai dengan kewenangan Desa dan diputuskan dalam musyawarah Desa,” katanya.

Hasman menjelaskan Kemendes PDTT pada dasarnya lebih fokus pada upaya mitigasi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

“Untuk tanggap darurat kami tidak punya tupoksi disana. Tapi, kami tetap hadir disana seperti banjir bandang digarut, erupsi gunung sinabung, longsor di ponorogo, gempa di lombok, palu dan selat sunda. Bahkan, Pada tahun 2018, Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu melalui Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana telah memberikan bantuan dalam percepatan rehab/rekon daerah pasca bencana di Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Donggala,” katanya.

Kemendes PDTT berharap, dengan adanya Permendes nomor 11 tahun 2019 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2020 yang salah satunya terkait kebencanaan bisa di terapkan oleh pemerintah desa.

“Kalau ada yang belum menerapkannya, harus kita bantu sosialisasikan, harus kita inisiatifkan sehinggga penggunaan dana desa untuk kebencanaan dapat dilakukan karena ada regulasinya yakni permendes,” katanya.