Ancaman Sesar Opak di DIY, Kepala BMKG : Mitigasi Harus Terus Dilakukan, Jangan Teputus !

YOGYAKARTA (3 Agustus 2023) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa keberadaan sumber gempa Sesar Opak di DIY, yang memiliki magnitudo tertarget M6,6 dan sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust dengan magnitudo tertarget M8,7 di selatan Jawa masih terus aktif.

Tak cuma gempa, kata dia, ada potensi tsunami setinggi 8-10 meter yang bisa menerjang pantai Selatan Jawa. Maka dari itu, menurutnya, pelatihan mitigasi kebencanaan kepada masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini penting untuk terus meningkatkan ketangguhan yang berkelanjutan (sustainable resilience).

“Sesar Opak merupakan sumber gempa yang jalurnya terletak di daratan ini memang aktif dan belum berhenti aktivitasnya. Sedangkan di Samudra Hindia selatan Yogyakarta juga terdapat sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust, yang juga masih sangat aktif,” ungkap Dwikorita usai pembukaan ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (ARDEX) 2023 di Royal Ambarrukmo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, baru-baru ini.

“Jadi tidak boleh berhenti upaya mitigasi dan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat. Khususnya yang tinggal di wilayah pesisir karena ancaman tsunami juga menghantui selain gempa bumi,” tambah dia.

Sebagai informasi, Kegiatan ARDEX 2023 ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Global Platform Disaster Risk Reduction (GPDRR) tahun lalu di Bali, di mana Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menggelar simulasi latihan penanggulangan darurat bencana. Selain itu, acara ini bertujuan untuk membangun kapasitas dan menjalin solidaritas kerjasama negara-negara ASEAN dalam kebencanaan.

Dwikorita memaparkan, Sesar Opak adalah patahan yang berada di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di sekitar aliran Sungai Opak. Panjang jalur sesarnya mencapai 45 kilometer di sepanjang aliran Sungai Opak.

Sungai Opak sendiri berhulu dari lereng Gunung Merapi, lalu mengalir ke selatan dengan muara langsung ke Samudra Hindia di Pantai Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktivitas Sesar Opak sendiri pernah menyebabkan gempa bumi merusak pada 27 Mei 2006 yang menewaskan 6.234 orang.

Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan bahwa saat ini mulai tampak adanya gejala peningkatan aktivitas kegempaan akibat Sesar Opak. Salah satunya adalah gempa dengan Magnituda 6.0 di Kabupaten Bantul 30 Juni 2023 lalu. Namun demikian, gempa tersebut hanya menyebabkan kerusakan ringan. Menurut Dwikorita, hal ini salah satunya berkat antisipasi struktur bangunan yang cukup baik di daerah Bantul.

“Peluang periode ulang untuk terjadi gerakan lagi atau pengunciannya mulai lepas tampak dari aktivitas kegempaannya yang saat ini mulai meningkat. Kesiap-siagaan masyarakat harus terus ditingkatkan, jangan terputus,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan ketangguhan sangat diperlukan. Negara-negara di ASEAN dapat saling bertukar nilai, ilmu, serta pengalaman terutama terkait kebencanaan yang melibatkan sipil-militer, menuju One ASEAN, One Response.

“Terkait penanggulangan bencana, kita telah bekerjasama dengan seluruh negara yang ada di wilayah ASEAN ini. Semuanya sudah terjalin dengan kokoh dengan saling membantu jika terjadi bencana di negara-negara kawasan Asia Tenggara,” tuturnya. (*)

ITB Sukses Selenggarakan Pelatihan Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim kepada Negara Anggota CARICOM dan SICA

BANDUNG, itb.ac.id—Institut Teknologi Bandung, melalui Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) sukses selenggarakan acara Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurangan Dampak Risiko Bencana Serta Adaptasi Perubahan Iklim untuk Negara-Negara Anggota Caribbean Community (Caricom) dan Central American Integration System (Sica) pada 13-20 Juli 2023.

Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara Kementerian Luar Negeri dengan LDKPI/ IndonesianAid dan didukung oleh ITB. Pelaksanaan dari kegiatan tersebut dilakukan oleh FITB.

Dalam acara pembukaan pelatihan tersebut, turut hadir Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D., Kepala Divisi LDKPI/Indonesian Aid, Direktur NAM CSSTC Kemenlu, Sekretaris Dirjen Amerika dan Eropa Kemenlu, dan Direktur Kerjasama Pembangunan Internasional Kemenlu, dan Dekan FITB.

Foto bersama di acara pembukaan kegiatan. Dari kiri ke kanan, Dekan FITB ITB, Kepala Divisi LDKPI/Indonesian Aid, Wakil Rektor bidang Riset dan
Inovasi, Direktur NAM CSSTC Kemenlu, Sekretaris Dirjen Amerika dan Eropa Kemenlu, dan Direktur Kerjasama Pembangunan Internasional Kemenlu.

Dekan FITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mitigasi bencana bagi negara-negara di Amerika Tengah dan Karibia dengan total peserta sebanyak 24 orang yang berasal dari 11 negara di antaranya: Antigua dan Barbuda, Bahamas, Kostarika, El Salvador, Guatemala, Guyana, Honduras, Nikaragua, Panama, Suriname, serta Trinidad dan Tobago.

Penanaman mangrove di pantai Kejawanan, Cirebon

Kegiatan diselenggarakan di Jawa Barat, di tiga lokasi kampus ITB yaitu di ITB Kampus Bandung, ITB Kampus Jatinangor dan ITB Kampus Cirebon,” ujarnya sebagaimana dikutip dalam rilis yang diterima Humas ITB, Kamis (3/8/2023).

Kunjungan lapangan ke gunung Tangkuban Perahu, dipandu oleh Dr. Astyka Pamumpuni dari prodi Geologi ITB.

Pelatihan sendiri berisi kegiatan belajar di kelas sebanyak tujuh kali dengan narasumber berasal dari ITB, BMKG dan BNPB; kunjungan lapangan sebanyak tiga kali dengan lokasi di Gunung Tangkuban Perahu, area rawan banjir di Majalaya dan Pantai Kejawanan Cirebon; dan berdiskusi dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

Reportase Seminar Awal Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Kota Yogyakarta

rencana penanggulangan bencana 1

rencana penanggulangan bencana 1

1 Agustus 2023


Pada Selasa (1/8/2023) BPBD Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan seminar bertajuk “Seminar Awal Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Kota Yogyakarta” bertempat di Hotel Tjokro Style pada pukul 08.30-12.30 WIB. Seminar dihadiri oleh pemangku kebijakan dan jejaring penanggulangan bencana mulai dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinar P3AP2, Dinas Perdagangan, Dinas Dukcapil, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, PDAM, PMI, Polres dan Kodim, Kwarcab, BMKG, BPPTKG, PDM dan PCNU, BPKAD, Satpol PP, ORARI dan RAPI, serta akademisi dari berbagai universitas. FK-KMK UGM turut hadir dalam acara tersebut, diwakili oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM.

Penyelenggaraan seminar bertujuan untuk memberikan gambaran awal terkait penyusunan dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kota Yogyakarta selama periode 5 tahun ke depan. Penyusunan RPB ini diharapkan dapat memperbaiki upaya penanggulangan bencana khususnya di Kota Yogyakarta, dan meningkatkan kapasitas daerah dalam lingkup kebencanaan dan ketahanan.

Acara dibuka dengan sambutan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta yang menyampaikan urgensi penyusunan RPB sebagai layanan dasar pada pelaksanaan setiap kegiatan penanggulangan bencana di Kota Yogyakarta. Dalam penyusunan RPB, penting untuk memperhatikan kolaborasi pentahelix yang melibatkan multisektor dan multi komunitas, agar perspektif yang diberikan lebih komprehensif dan menyentuh berbagai aspek.

Seminar dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Siti Nur Santi Iriyani, S.T., M.Eng selaku Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kota Yogyakarta mengenai “Urgensi RPB dalam Rencana Pembangunan”. Siti menjelaskan bahwa untuk mewujudkan pembangunan yang aman dan berkelanjutan, maka di dalamnya perlu memperhatikan upaya dan aspek pengurangan risiko bencana yang tidak dapat dilepaskan dari aspek pembangunan. Indonesia menargetkan sebagai Negara Tangguh Bencana pada 2045, yang dapat dicapai melalui; penanggulangan bencana yang tangguh dan berkelanjutan, tata kelola penanggulangan bencana yang profesional dan inklusif, serta penanganan darurat bencana serta pemulihan pasca bencana yang prima. Beliau menyayangkan bagaimana alokasi anggaran pada fase bencana yang lebih berat pada upaya rehabilitasi dan rekonsiliasi (sebesar 90%) dibandingkan upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana (hanya sebesar 10%). Pihaknya mengharapkan, meski Provinsi DIY belum memiliki RPB, Kota Yogyakarta dapat memulai menyusun RPB sesuai Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) milik BNPB yang telah sejalan dengan RPJMN 2020-2024 dan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030.

Materi kedua, disampaikan oleh Dr. Arif Rianto Budi Nugroho, S.T., M.Si selaku perwakilan dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta. Dalam materinya, Arif menjelaskan bagaimana alur sistem RPB dan bagaimana tahapan penyusunan dokumen RPB yang dapat mengacu pada pedoman yang telah diterbitkan oleh BNPB. Pihaknya juga melakukan diseminasi Data Kajian Risiko Bencana Kota Yogyakarta. Dari data tersebut, ditemukan bahwa terdapat 7 potensi ancaman dan kerentanan Kota Yogyakarta diantaranya; banjir, wabah penyakit, cuaca ekstrim, gempa bumi, kegagalan teknologi, kekeringan, dan letusan gunung api. Dalam penyusunan RPB, harus dilakukan penentuan prioritas risiko bencana yang ditangani. Tidak semua risiko bencana menjadi prioritas dalam 5 tahun ke depan. Meski disusun saat ini, RPB masih dapat direvisi dalam jangka kurang lebih 2 tahun jika terdapat bencana. RPB berbeda dengan kerangka kebijakan. RPB tidak hanya menunjuk siapa berperan apa, tapi juga mencantumkan anggaran serta sarana prasarana yang digunakan dalam agenda yang dirumuskan. Harapannya, dengan RPB dapat menunjukkan dan menilai ketangguhan bencana di suatu daerah. Posisi RPB dapat dijadikan sebagai payung dari berbagai dokumen kebencanaan.

rencana penanggulangan bencana 2

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dari para peserta seminar kepada para pembicara. Diskusi yang berjalan seputar dengan mitigasi dan perawatan bangunan cagar budaya, pelibatan sektor lain dalam upaya penanggulangan bencana (seperti sekolah, asrama mahasiswa, dan ormas), anggaran kebencanaan, perubahan nominal dalam kebencanaan akibat UU OBL, pentingnya perhatian kepada aspek psikososial dalam lingkup kebencanaan (bagaimana infrastruktur dalam penanggulangan bencana bersifat sensitif dan inklusif sehingga humanis), serta bagaimana pelatihan dapat diberikan kepada pihak strategis sebagai upaya penanggulangan bencana (seperti pelaku wisata dan industri). PKMK FK-KMK UGM khusus menyoroti dokumen RPB sebagai potensi baru dalam mendorong upaya klaster kesehatan dalam menyusun perencanaan baik program maupun anggaran. Harapannya perencana program penanggulangan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan dapat melihat peluang ini dalam memperjuangkan anggaran kegiatan untuk kegiatan kesiapsiagaan krisis kesehatan kedepan, termasuk memanfaatkan forum penyusunan dokumen RPB untuk sharing program, anggaran dan capaian untuk penanggulangan krisis kesehatan.

rencana penanggulangan bencana 3

Seminar ini hanyalah awal permulaan dari rangkaian seminar penyusunan RPB selanjutnya. BPBD Kota Yogyakarta bertekad kuat untuk terus secara aktif melibatkan berbagai pihak dengan prinsip pentahelix (melibatkan akademisi, pemerintah, LSDM, dunia usaha, dan media) dalam penyusunan RPB. Hasil seminar ini juga menyimpulkan bahwa proses monitoring dan evaluasi menjadi tantangan besar dalam pelaksanaan dan penyusunan RPB sehingga perlu dipikirkan sistem yang baik.

Reporter dr. Alif Indira dan Madelina A, MPH – Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK

Kunjungan Davao Medical School Philippine : Ingin Belajar Kegiatan dan Kurikulum Bencana Kesehatan di FK-KMK UGM

kunjungan davao medical school

Reportase

 Kunjungan Davao Medical School Philippine :

Ingin Belajar Kegiatan dan Kurikulum Bencana Kesehatan di FK-KMK UGM

29 Juli 2023


kunjungan davao medical school

Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM: Foto bersama dengan tamu dari Davao Medical School, Dekanat, dan Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM

Pada Sabtu, 29 Juli 2023, Dekanat Fakultas Kedokteran, bagian kurikulum dan Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM menerima kunjungan dari perwakilan Davao Medical School Philippine di Ruang Diskusi Lantai 2 Gedung Tahir Foundation, FK-KMK UGM. Tujuan utama kunjungan untuk studi banding kurikulum kebencanaan bagi mahasiswa program S1.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh perwakilan dekanat, yakni dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D yang menyebutkan tentang kesamaan letak geografis dan profil risiko bencana alam antara Indonesia dan Filipina. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari perwakilan Davao Medical School Philippine, Dr. Ma Victoria Lim yang menuturkan tujuan kedatangan sekaligus menyampaikan terima kasih atas perkenanan FK-KMK UGM menerima kunjungan.

Sesi diskusi diawali dengan penyampaian materi oleh Madelina Ariani, SKM, MPH tentang perjalanan respons kemanusiaan oleh Pokja Bencana di bawah PKMK FK-KMK UGM hingga dapat menyusun kurikulum dan menjadikannya salah satu keistimewaan pendidikan program sarjana di FK-KMK UGM. Selain itu, dijelaskan pula mengenai kerja sama Pokja Bencana dengan berbagai pihak dan pemangku kebijakan di berbagai level di Indonesia maupun Internasional. Materi dilanjutkan oleh Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM selaku Kaprodi Kedokteran FK-KMK UGM yang menjelaskan alur kurikulum pendidikan mahasiswa kedokteran selama menempuh pendidikan S1 hingga profesi di FK-KMK UGM serta bagaimana implementasi kurikulum kebencanaan sejak semester awal hingga akhir.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Di Davao, hanya ada satu tema kebencanaan di semester awal, belum terintegrasi pada semua semester dan menjadi pembelajaran Inter-profesional education (IPE). Selain itu di Davao juga belum ada juga kelompok studi khusus atau kelompok kerja yang bertugas merancang kurikulum kebencanaan dan merespons kebencanaan.

Tim Pokja Bencana memberikan tanggapan mengenai bagaimana kiprah tim dalam berbagai aktivitas kebencanaan di Indonesia. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD menyampaikan lika-liku perjalanan Pokja Bencana dan tantangan yang ada, serta peran serta Pokja Bencana di ASEAN melalui AIDHM. Pak Sutono, S.Kep., M.Sc., M.Kep juga menyampaikan bagaimana kurikulum kebencanaan juga telah diterapkan di program pendidikan sarjana keperawatan FK-KMK UGM. Selain itu, perwakilan tim Pokja Bencana juga memberikan perspektif mahasiswa ketika menjalani kurikulum kebencanaan, khususnya saat melakukan kegiatan bersama dengan masyarakat seperti simulasi bencana.

Davao Medical School Philippine bertekad untuk lebih fokus dan serius dalam mengembangkan kurikulum kebencanaan di sekolahnya. Mereka ingin menjalin komunikasi dan kerja sama lebih lanjut dengan FK-KMK UGM sebagai role model penyusunan kurikulum dan pembentuk kelompok kerja divisi Bencana.

Reportase oleh : dr. Alif Indiralarasati dan Madelina A, MPH – PKMK UGM

Kepala BNPB Pimpin Rakor Antisipasi Karhutla di Wilayah Kalsel

BANJARBARU – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memimpin rapat koordinasi (rakor) dalam rangka antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, pada Selasa (25/7).

Untuk mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah sesuai araha Presiden Joko Widodo dalam menghadapi karhutla, Kepala BNPB telah melakukan kunjungan kerja ke wilayah yang telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla, mulai dari Provinsi Riau, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Jambi, dan yang terakhir Provinsi Kalimantan Selatan. 

Pertengahan tahun 2023 cuaca akan lebih panas dari tiga tahun sebelumnya. Musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dibandingkan dengan kemaraunya dua tahun terakhir,” ucap Suharyanto. 

Diketahui dalam kurun waktu satu bulan terakhir (24 juni hingga 24 Juli 2023), jumlah titik api yang ada di Kalimantan Selatan mencapai 1.552 titik. 

Melihat potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan cukup tinggi di Kalsel, BNPB telah menurunkan 2 helikopter patroli dan 2 helikopter water bombing.

Selain Kalimantan Selatan, lima provinsi lain yang metetapkan status siaga darurat bencana karhutla juga telah menerima dukungan helikopter untuk menunjang operasi penanganan melalui udara, dengan total 31 unit heli.

Selain dukungan operasi udara, BNPB juga memberikan bantuan untuk operasi darat penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Selatan. Adapun bentuk dukungan peralatan tersebut meliputi pompa induk 4 unit, pompa sedang 6 horse power 8 unit, pompa jinjing 16 unit, selang 1,5 inchi 48 rol, selang 2,5 inchi 36 rol, nozel 1,5 inchi 32 unit, Y konektor 2,5 inchi ke 1,5 inchi 8 unit, Y konektor 1,5 inchi ke 1,5 inchi 88 unit, perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) 80 paket dan flexible tank 5.000 liter sebanyak 4 unit.

Pada rakor tersebut, Suharyanto kembali menekankan terkait arahan Presiden Joko Widodo Untuk mengutamakan pencegahan, kesiapsiagaan dan penegakan hukum.

“Saya mengapresiasi dan berterimakasih kepada pemerintah Kalimantan Selatan yang telah melakukan penegakan hukum bagi oknum yang membakar lahan dengan sengaja, tidak ada lagi toleransi bagi siapapun yang membuka lahan dengan cara membakar,” ucapnya.

Sebelumnya Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan  mulai 22 Mei 2023 dan berlaku hingga 15 November 2023. 

Di akhir sambutan, Suharyanto berharap agar penanganan kebakaran di Kalimantan Selatan berjalan dengan optimal. 

“Jika ada titik api, langsung dipadamkan, jangan tunggu api membesar, karena operasi pemadaman lewat udara biayanya sangat mahal. Kita berharap, kebakaran hutan dan lahan tahun ini dapat terkendali dengan baik,” tegas Suharyanto. 

Rakor tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda)  Kalimantan Selatan Brigjen Pol Heri Armanto, Kasrem 101 Antasari, Karo Ops Polda Kalimantan Selatan, Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Fajar Setiawan Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansyah, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari serta seluruh unsur Forkopimda se-Kalimantan Selatan. 

Abdul Muhari, Ph.D. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

BNPB dan LLHPB PP AISYIYAH Indonesia Perkuat Program Keluarga Tangguh Bencana

JAKARTA – Terbatasnya akses informasi dan keterlibatan perempuan dalam sosialisasi kebencanaan di tingkat desa menjadi salah satu penyebab tingginya angka korban akibat kejadian bencana. Pengetahuan yang terbatas soal mengenal gejala alam dan teknik penyelamatan diri membawa konsekuensi perempuan lebih rentan menjadi korban bencana.

Guna mensosialisasikan program Keluarga Tangguh Bencana (KATANA), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghadiri undangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada kegiatan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana ‘Aisyiyah se- Indonesia dengan tema “Ketahanan Keluarga terhadap Perubahan Iklim dan Bencana untuk Mewujudkan Qaryah Thoyyibah” di Sofyan Hotel Cut Meutia Cikini Menteng Jakarta.

Deputi Bidang Pencegahan Dra. Prasinta Dewi, M.A.P sebagai narasumber memaparkan materi tentang Ketahanan Keluarga dalam Mengurangi Risiko Bencana. Prasinta mengatakan ketidakhadiran perempuan dalam kegiatan pendidikan bencana, sosialisasi, penyuluhan, latihan atau simulasi kebencanaan membuat pengetahuan dan keterampilan mereka terkait pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi minim.

“Ketangguhan perempuan dapat dibentuk dengan memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk memperoleh kesetaraan akses, kapabilitas, sumber daya, dan peluang yang setara. Penguatan kapasitas kelompok perempuan mutlak dilakukan, upaya penguatan kapasitas akan meminimalisir risiko bencana akibat ancaman yang dihadapi”, jelas Prasinta dalam pemaparannya, Sabtu (22/7).

Prof. Rahmawati Husein selaku Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) sekaligus Unsur Pengarah di lingkungan BNPB menyampaikan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan peningkatan kejadian bencana merupakan ancaman terbesar dalam ketahanan masyarakat dan keluarga di Indonesia. Oleh karena itu, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim merupakan dua konsep yang terintegrasi dan sangat esensial untuk menciptakan ketahanan.

“Pengarusutamaan adaptasi perubahan lklim dan pengurangan risiko bencana di lingkungan ‘Aisyiyah perlu dilakukan dengan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, sosialisasi dan penyebarluasan informasi dan gerakan melalui Ngaji Lingkungan dan PRB”, ujar Rahmawati.

Pada kesempatan tersebut, Prasinta menjelaskan program Keluarga Tangguh Bencana (KATANA) sebagai bentuk penguatan program Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Keluarga yang telah memenuhi standar ketangguhan keluarga berupa pengetahuan, kesadaran, keterampilan yang terus dikembangkan untuk mengurangi korban jiwa pada saat terjadi bencana. Terdapat 4 hal yang dimiliki oleh Keluarga Tangguh Bencana (KATANA), antara lain:

1.    Memiliki pengetahuan memadai tentang risiko bencana di keluarga dan lingkungannya.

2.    Sadar akan tanggung jawabnya dalam mengelola risiko bencana.

3.    Menerapkan kesadaran tersebut hingga menjadi budaya pada setiap anggota keluarga. 

4.    Berdaya untuk bertindak dalam mengurangi risiko bencana, mengurangi korban dan kerugian serta menularkan ketangguhan bencana ke keluarga lain. 

Mengakhiri paparannya, Prasinta berharap pertemuan RAKERNAS ini bisa mewujudkan program KATANA di masing-masing pengurus wilayah dan menjadikannya sebagai program prioritas. 

“Saya berharap pengurus yang hadir pada kegiatan ini  bisa menjadi penyuluh KATANA dan menjadi suatu gerakan yang berkelanjutan untuk membangun ketangguhan keluarga dalam mengurangi kejadian bencana, mengantisipasi kejadian bencana, dan pulih secara optimal dari kejadian bencana”, tutup Prasinta.

Pada kesempatan yang sama, Staf Direktorat Kesiapsiagaan Tasril Mulyadi turut memberikan bekal keterampilan penyelamatan diri dan simulasi gempabumi Drop, Cover, Hold-On.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Direktur Pengurangan Sampah KLHK. Peserta kegiatan merupakan perwakilan dari 29 pengurus Tingkat Wilayah/Provinsi dengan jumlah peserta sebanyak 70 orang.

Abdul Muhari, Ph.D. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Mitigasi Bencana Iklim Melalui Reboisasi, Pengabdian Masyarakat di Cikapek Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com – Organisasi Lingkungan Hidup Donor Oksigen Indonesia tengah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Sukabumi, sejak 23 Juli hingga 30 Juli 2023 mendatang. Organisasi tersebut beranggotakan mahasiswa dari tiga kampus yang ada di Kota Sukabumi dan satu lainnya berasal dari Kota Bandung.

Pengabdian masyarakat dengan tema “Amalkan Pengetahuan, Berbakti untuk Negeri” diikuti oleh 20 orang mahasiswa. Kegiatan dibuka dengan penanaman 50 pohon mahoni dan cengkeh di Kampung Cikapek, Desa Sukamekar, Goalpara, Kabupaten Sukabumi.

Kegiatan pengabdian masyarakat Organisasi Lingkungan Hidup Donor Oksigen Indonesia di Sukabumi mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Hal ini terkait kebutuhan akses pendidikan dan literasi untuk anak-anak yang selama ini tidak didapatkan di sekolah.

Aris Rahman (18 tahun), dari divisi kesehatan Donor Oksigen Indonesia mengatakan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan sesuai dengan slogan organisasi yaitu adil dan lestari.

“Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan upaya kami untuk membantu negara dalam memberikan akses pendidikan yang adil dan melakukan mitigasi bencana iklim melalui reboisasi. Semoga kedepan lebih banyak mahasiswa yang tergerak hati dan fisiknya untuk berbakti dan mengabdi pada lingkungan sekitar.” kata Aris, dikutip sukabumiupdate.com, Rabu (26/7/2023).

Ada beberapa kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Organisasi Lingkungan Hidup Donor Oksigen Indonesia di Sukabumi, diantaranya Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan serta Pembangunan taman Baca Masyarakat.

Kemudian, sebagai upaya mitigasi bencana ekologi ada juga penanaman 50 pohon mahoni dan cengkeh di lahan kritis. Sementara kegiatan pendidikan dilakukan dengan belajar bersama siswa SD Negeri Cikapek, Kabupaten Sukabumi.

Nantinya, kegiatan pengabdian masyarakat Organisasi Lingkungan Hidup Donor Oksigen Indonesia di Sukabumi akan ditutup dengan pembuatan kebun Tanaman Obat dan Keluarga (TOGA) bersama masyarakat Cikapek.

Pembangunan taman baca termasuk salah satu hal yang sudah lama diharapkan masyarakat Cikapek, Kabupaten Sukabumi. Apalagi kondisi pandemi COVID-19 dua tahun silam, membuat anak-anak di Cikapek sedikit tertinggal dalam mengembangkan kemampuan kognitifnya.

Masyarakat turut mengapresiasi layanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Organisasi Lingkungan Hidup Donor Oksigen Indonesia. Layanan kesehatan ini berupa pemeriksaan dan konsultasi kesehatan gratis untuk masyarakat Cikapek, Kabupaten Sukabumi.

Terakhir, program reboisasi menjadi upaya edukasi dan pencegahan yang berdampak positif pada lingkungan masyarakat Cikapek, Kabupaten Sukabumi.

Masyarakat setempat, Ade (40 tahun), mengatakan kedatangan tim Donor Oksigen Indonesia membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, mulai dari kesehatan hingga pendidikan di kampung Cikapek, Kabupaten Sukabumi.

“Terimakasih banyak, kegiatan pengabdian ini jadi menambah semangat belajar anak-anak di Cikapek. Anak saya juga ikut di taman baca” kata Ade.

ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise 2023

Pada 1-4 Agustus 2023, DIY mewakili Indonesia dan menjadi tuan rumah ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise {ARDEX} 2023. Kegiatan rutin ini dilakukan setiap tahun dan diikuti perwakilan dari 10 negara anggota ASEAN. Tujuannya selain meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan dan koordinasi dalam penanganan darurat bencana, namun juga meningkatkan sinergitas dan kecepatan mobilisasi sumber daya regional dalam mewujudkan ketangguhan kawasan terhadap bencana sesuai visi One ASEAN One Response {Sumber informasi kegiatan dan ilustrasi: BPBD DIY}.  selengkapnya 

https://mediaindonesia.com/nusantara/563943/bantul-jadi-tuan-rumah-asean-regional-disaster-emergency-response-simulation-exercise-2023

7 Hal yang Harus Dilakukan saat Terjadi Gempa

Belajar dari gempa di Kabupaten Cianjur, membuat kita menyadari bahwa penting bagi kita untuk mengetahui berbagai langkah antisipatif untuk terhindar dari dampak gempa bumi. Karena hanya dengan demikian, jumlah korban baik luka maupun korban jiwa dapat diminimalisir saat terjadi gempa berikutnya.

Salah satu bentuk langkah antisipatif yang bisa dipelajari adalah mengenai apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi. Dengan mengetahui hal tersebut, maka potensi selamat bagi korban gempa yang sedang berada di lokasi rawan dan tidak memungkinkan untuk lari ke ruang terbuka menjadi lebih meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan saat Terjadi Gempa Bumi?

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus dilakukan saat gempa bumi terjadi, diantaranya adalah:

  1. Melindungi kepala dengan menggunakan bantal atau helm, atau berdirilah di bawah pintu.

  2. Berlindung di bawah meja untuk menghindari dari benda-benda yang dimungkinkan akan jatuh seperti atap atau benda berbahaya lainnya.

  3. Bila keluar rumah, perhatikan kemungkinan pecahan kaca, genteng atau material lain. Tetap lindungi kepala anda dan segera menuju ke lapangan terbuka.

  4. Jangan berdiri di dekat tiang, pohon atau sumber listrik atau gedung yang mungkin roboh.

  5. Kenali bagian bangunan gedung atau rumah yang memiliki struktur kuat, seperti pada sudut bangunan untuk berlindung.

  6. Ikuti instruksi evakuasi dari pengelola, penjaga, atau petugas yang berwenang.

  7. Pilihlah menggunakan tangga darurat untuk melakukan evakuasi keluar bangunan. Apabila sedang berada di dalam elevator, tekan semua tombol atau gunakan interphone untuk melakukan panggilan kepada pengelola gedung.

Gempa di Kabupaten Cianjur memberikan duka yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, namun demikian, pelajaran penting mengenai langkah antisipatif saat terjadi bencana juga harus diambil untuk meningkatkan jumah korban yang selamat dari bencana-bencana yang akan terjadi di waktu mendatang.

Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami luka selama masa evakuasi, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin dari petugas kesehatan.

sumber: puskris kemenkes

https://youtube.com/shorts/qJ3_JYk25mg

Mitigasi Bencana Sebelum Banjir , Saat Banjir dan Sesudah Banjir

Jakarta – Upaya mitigasi bencana banjir perlu diketahui oleh masyarakat terutama bagi yang berada dan/atau tinggal di lokasi rawan bencana banjir. Hal ini sebagai tindakan mengurangi dampak yang disebabkan oleh bencana banjir

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan mitigasi bencana banjir dan langkah-langkah upayanya berikut ini.

Apa itu Mitigasi Bencana Banjir?

Secara umum, terkait mitigasi bencana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Sementara bencana banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat.

Sehingga, mitigasi bencana banjir adalah serangkaian upaya untuk mengurangi dampak atau risiko yang disebabkan bencana banjir terhadap masyarakat yang berada dan/atau tinggal di kawasan rawan banjir. Mitigasi bencana banjir terdiri dari mitigasi sebelum, saat dan sesudah bencana banjir terjadi.

Langkah-langkah Mitigasi Bencana Banjir

Melansir situs resmi BPBD Grobogan, berikut ini langkah-langkah upaya mitigasi bencana banjir sebelum, saat, dan sesudah bencana terjadi:

Mitigasi Sebelum Bencana Banjir

  1. Mengetahui istilah-istilah peringatan yang berhubungan dengan bahaya banjir, seperti Siaga I sampai dengan Siaga IV dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan.
  2. Mengetahui tingkat kerentanan tempat tinggal kita, apakah di zona rawan banjir (bisa menggunakan aplikasi inarisk)
  3. Mengetahui cara-cara untuk melindungi rumah kita dari banjir
  4. Mengetahui saluran dan jalur yang sering dilalui air banjir dan apa dampaknya untuk rumah kita
  5. Melakukan persiapan untuk evakuasi, termasuk memahami rute evakuasi dan daerah yang lebih tinggi
  6. Membicarakan dengan anggota keluarga mengenai ancaman banjir dan merencanakan tempat pertemuan apabila anggota keluarga terpencar-pencar
  7. Mengetahui bantuan apa yang bisa diberikan apabila ada anggota keluarga yang terkena banjir.
  8. Mengetahui kebutuhan-kebutuhan khusus anggota keluarga dan tetangga apabila banjir terjadi
  9. Membuat persiapan untuk hidup mandiri selama sekurangnya tiga hari, misalnya persiapan tas siaga bencana, penyediaan makanan dan air minum
  10. Mengetahui bagaimana mematikan air, listrik dan gas
  11. Mempertimbangkan asuransi banjir
  12. Berkaitan dengan harta dan kepemilikan, maka anda bisa membuat catatan harta kita, mendokumentasikan dalam foto, dan simpan dokumen tersebut di tempat yang aman
  13. Menyimpan berbagai dokumen penting ditempat yang aman.
  14. Hindari membangun di tempat rawan banjir kecuali ada upaya penguatan dan peninggian bangunan rumah
  15. Perhatikan berbagai instrumen listrik yang dapat memicu bahaya saat bersentuhan dengan air banjir
  16. Turut serta mendirikan tenda pengungsian dan pembuatan dapur umum
  17. Melibatkan diri dalam pendistribusian bantuan
  18. Menggunakan air bersih dengan efisien

Mitigasi Saat Bencana Banjir

  1. Apabila banjir akan terjadi di wilayah Anda, maka simaklah informasi dari berbagai media mengenai informasi banjir untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
  2. Apabila terjadi banjir, segeralah evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.
  3. Waspada terhadap arus bawah, saluran air, kubangan, dan tempat-tempat lain yang tergenang air.
  4. Ketahui risiko banjir dan banjir bandang di tempat Anda, misalnya banjir bandang dapat terjadi di tempat Anda dengan atau tanpa peringatan pada saat hujan biasa atau deras.
  5. Apabila Anda harus bersiap untuk evakuasi: amankan rumah Anda. Apabila masih tersedia waktu, tempatkan perabot di luar rumah atau di tempat yang aman dari banjir. Barang yang lebih berharga diletakan pada bagian yang lebih tinggi di dalam rumah.
  6. Matikan semua jaringan listrik apabila ada instruksi dari pihak berwenang. Cabut alat-alat yang masih tersambung dengan listrik. Jangan menyentuh peralatan yang bermuatan listrik apabila Anda berdiri di atas/dalam air.
  7. Jika ada perintah evakuasi dan Anda harus meninggalkan rumah: Jangan berjalan di arus air. Beberapa langkah berjalan di arus air dapat mengakibatkan Anda jatuh.
  8. Apabila Anda harus berjalan di air, berjalanlah pada pijakan yang tidak bergerak. Gunakan tongkat atau sejenisnya untuk mengecek kepadatan tempat Anda berpijak.
  9. Jangan mengemudikan mobil di wilayah banjir. Apabila air mulai naik, abaikan mobil dan keluarlah ke tempat yang lebih tinggi. Apabila hal ini tidak dilakukan, Anda dan mobil dapat tersapu arus banjir dengan cepat.
  10. Bersihkan dan siapkan penampungan air untuk berjaga-jaga seandainya kehabisan air bersih.
  11. Waspada saluran air atau tempat melintasnya air yang kemungkinan akan dilalui oleh arus yang deras karena kerap kali banjir bandang tiba tanpa peringatan.

Mitigasi Sesudah Bencana Banjir

  1. Hindari air banjir karena kemungkinan kontaminasi zat-zat berbahaya dan ancaman kesetrum.
  2. Waspada dengan instalasi listrik.
  3. Hindari air yang bergerak.
  4. Hindari area yang airnya baru saja surut karena jalan bisa saja keropos dan ambles.
  5. Hindari lokasi yang masih terkena bencana, kecuali jika pihak yang berwenang membutuhkan sukarelawan.
  6. Kembali ke rumah sesuai dengan perintah dari pihak yang berwenang.
  7. Tetap di luar gedung/rumah yang masih dikelilingi air.
  8. Hati-hati saat memasuki gedung karena ancaman kerusakan yang tidak terlihat seperti pada pondasi.
  9. Perhatikan kesehatan dan keselamatan keluarga dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih jika
  10. Anda terkena air banjir.
  11. Buang makanan yang terkontaminasi air banjir.
  12. Dengarkan berita atau informasi mengenai kondisi air, serta di mana mendapatkan bantuan perumahan/shelter, pakaian, dan makanan.
  13. Dapatkan perawatan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat.
  14. Bersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah dari sisa-sisa kotoran setelah banjir.
  15. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
  16. Terlibat dalam kaporitisasi sumur gali.
  17. Terlibat dalam perbaikan jamban dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL).