Gempa Sinabang tak Berpotensi Tsunami

Gempa Sinabang tak Berpotensi Tsunami


JAKARTA–MICOM: Gempa berkekuatan 5,8 skala richter (SR) mengoncang Sinabang, Aceh. Namun, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Seperti yang dikutip situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di kedalaman 28 kilometer, 27 kilometer arah Barat Daya Sinabang, Aceh, atau 149 kilometer di Barat Daya Tapaktuan, 159 km Barat Daya Labuhanhaji, atau 1523 km Barat Laut Jakarta. Gempa terjadi pukul 00.16.20 WIB, Senin (17/10). (OL-8)

Perairan Timur Aceh Kembali Digoyang Gempa, Kali Ini 5,8 SR

alt

Perairan Timur Aceh Kembali Digoyang Gempa, Kali Ini 5,8 SR

alt

Gempa 5,8 SR yang mengguncang perairan Timur Pulau Simeulue, Aceh, Senin (17/10) dini hari

Senin, 17 Oktober 2011 00:31 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Perairan Timur Aceh kembali dilanda gempa. Kali ini, menurut catatan BMKG, gempa sebesar 5,8 SR mengguncang perairan di timur Pulau Simeulue. Gempa terjadi pada Senin (17/10) dini hari, tepatnya 00.16.20 dengan kedalaman 28 kilometer dari muka laut. Posisi gempa 27 kilometer barat daya Sinabang, NAD. Sejauh ini belum ada informasi lanjutan terkait gempa. Namun BMKG mengklaim tidak terjadi tsunami dalam gempa ini. Kawasan Timur Sumatera memang rawan gempa. Sebelumnya, gempa yang memicu tsunami dahsyat di Kepulauan Mentawai terjadi pada 2010.


Sumber: BMKG

Banjir Bandang di Donggala Mengakibatkan 3 Orang Tewas

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir bandang yang terjadi Donggala pada Jumat (14/10/2011) pukul 16.00 WIB di Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah  menyebabkan ratusan rumah rusak.

Tercatat, tujuh desa terkena banjir bandang yaitu Desa Mbuwu, Desa Watatu, Desa Suluwana, Desa Walombi, Desa Malimo, Desa Lumbu Lama, Desa Nguwara. Banjir bandang menyebabkan 3 orang meninggal yaitu Sinim (70), Neti (8), Neli (5).

Continue reading

Tak Ada Korban Jiwa dalam Gempa Bali

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak gempa di Bali yang berkekuatan 6,8 skala Richter yang terjadi pada Kamis (13/10/2011). Tidak ada korban jiwa akibat gempa tersebut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, total korban luka sebanyak 90 orang, dengan perincian 86 orang korban rawat jalan dan empat orang rawat inap.

Continue reading

Aktivitas Gempa Gunung Anak Krakatau Menurun

BANDAR LAMPUNG – Aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) menunjukkan frekuensi menurun, pada Ahad (16/10). Meski gempa menurun, namun wisatawan belum boleh mendekat kawasan GAK.

“Aktivitas kegempaannya menurun beberapa hari terakhir,” kata Andi Suardi, kepala Pos Pemantau GAK di Desa Hargo Pancoran, Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Ahad (16/10).

Continue reading

Kegempaan Gunung Lokon Masih diatas Normal

MANADO – Aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Provinsi Sulawesi Utara, masih tinggi meskipun sudah ditandai dengan sejumlah letusan pada 11 dan 14 Oktober 2011. “Aktivitas kegempaannya masih di atas normal. Indikasi peningkatan aktivitas magmatik masih tinggi dan terus menyuplai energi,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon Farid Ruskanda Bina di Tomohon, Sabtu. Peningkatan kegempaan kembali terjadi Jumat (14/10) pascapeningkatan kegempaan di hari Senin (9/10).

Tercatat empat kali gempa tektonik jauh, 97 gempa vulkanik dangkal, 94 gempa vulkanik dalam serta 29 kali gempa embusan. Total gempa vulkanik dalam dan dangkal sebanyak 191 kali.

Catatan pos pengamatan gunung api Sabtu (15/10), pukul 00.00 WITA-06.00 WITA empat kali gempa tektonik jauh, 15 kali gempa vulkanik dalam dan 26 kali gempa vulkanik dangkal.

Continue reading

Gunung Anak Krakatau Digoyang Gempa 1.468 Kali

Gunung Anak Krakatau Digoyang Gempa 1.468 Kali

CINANGKA–MICOM: Kegempaan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda mencapai 1.468 kali sehingga Pusat Vulkanalogi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melarang siapapun untuk mendekat sampai radius dua kilometer.

“Aktivitas GAK terus menerus, dan seismograf mencatat pada Kamis,  13 Oktober 2011 terjadi 1.468 kali kegempaan engan rincian 1. 466 gempa vulkanik, dan dua  kali hembusan,” kata Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Anton Tripambudi, Jumat (14/10) malam.

Dia menjelaskan, kegempaan GAK sudah tiga hari mengalami penurunan yang sebelumnya mencapai angka 5 ribu sampai 6 ribu lebih. “PVMBG masih memberikan status GAK pada level III atau Siaga, karenanya masih melarang warga atau turis mendekat ke lokasi kegempaan pada radius dua kilometer,” katanya menambahkan.

PVMBG juga masih menurut Anton, meminta kepada warga untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa, seperti nelayan atau lainnya. “Sepanjang rekomendasi yang telah dibuat oleh kami tidak dilanggar, saya rasa aman,” katanya menambahkan.

Seorang nelayan di Cinangka, Kabupaten Serang, Julkifli mengaku dengan peningkatan status GAK dari level II ke III,

sedikit terganggu aktivitas mencari ikan. “Kalau sebelum GAK statusnya Siaga, saya bisa mencari ikan sampai pinggir gunung, tapi setelah statusnya naik saya tidak berani khawatir ada kecelakaan,” katanya.

Apalagi kata dia, setiap dirinya akan pergi mencari ikan di laut, istrinya selalu mengingatkan dan melarangnya untuk mendekat ke GAK. “Keluarga saya sangat khawatir dan selalu was-was kalau saya pergi ke laut, karena status GAK yang Siaga,” katanya.

Diakui oleh dia, istri dan anaknya sudah meminta untuk tidak melaut lagi, dan mencari penghasilan dari profesi lain. “Saya sudah diminta oleh istri untuk berjualan kelapa di pasar, tapi karena saya sedang tidak punya modal, saya tetap menjadi nelayan,” ujarnya. (Ant/OL-2)

Dampak Gempa, 71 Bangunan Rusak, 10 Masih Dirawat

Gempa 6,8 SR di Bali

Dampak Gempa, 71 Bangunan Rusak, 10 Masih Dirawat

Denpasar, CyberNews. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dua gempa bumi yang mengguncang barat daya Nusa Dua, Bali merusak setidaknya 71 bangunan di Pulau Dewata.

Sebanyak 39 rumah penduduk dan 16 sekolah rusak ringan-sedang, 4 rumah ibadah rusak ringan, 7 kantor pemerintah rusak ringan, dan 2 toko serta 3 rumah sakit/puskesmas rusak ringan.

“Sebagian besar kerusakan atap runtuh dan tembok retak. Tidak ada hotel yang rusak,” tulis Kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya.

Sementara itu, Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan melaporkan, korban gempa sebanyak 83 orang. Sepuluh orang di antaranya masih menjalani rawat inap di rumah sakit.

Hasil diagnosa terhadap mereka yang dirawat inap menyebutkan, lima orang cidera kepala ringan dan lima orang mengalami fraktur/patah tulang. Tujuh orang di antara mereka dirawat RS Sanglah, dua di RSU Kasih Ibu, dan seorang lagi dirawat di RS Surya Husada.

Sebelumnya, dua gempa mengguncang Bali. Gempa pertama terjadi sekira pukul 10.16 WIB dengan kekuatan 6,8 SR. Gempa bertitik pusat di 143 kilometer barat daya Nusa Dua. Sedangkan gempa kedua terjadi pukul 14.52 WIB dengan kekuatan 5,6 SR.

Terjadi 16 Gempa Susulan pasca Gempa Bali

Terjadi 16 Gempa Susulan pasca Gempa Bali

REPUBLIKA.CO.ID,DENPASAR – Kepala Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Wayan Suwardana, mengatakan akitivitas seismik di selatan Bali saat ini sudah relatif normal. Pada Kamis (13/10) pagi kemarin, gempa berkekuatan 6,8 SR mengguncang Bali.

“Meski aktivitas seismik sudah relatif normal, namun masih terdeteksi terjadi gempa oleh alat kami,” kata Suwardana saat dihubungi Antara di Denpasar, Jumat.

Kekuatan gempa susulan, yang terjadi setelah gempa utama pada Kamis (13/10) pukul 11.16 Wita, terus melemah. Berdasarkan hasil pemantauan, sejak bencana alam tersebut melanda kawasan Pulau Dewata sampai sekarang itu tercatat sebanyak 16 kali gempa susulan.

“Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena kekuatan gempa tersebut di bawah 4 pada Skala Richter (SR). Getarannya hanya bisa dirasakan oleh peralatan saja,” ujarnya.

Dari hasil monitoring pihaknya, gempa susulan tersebut masih tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Mengenai perkiraan akan kembali terjadi gempa kekuatan yang besar lagi, menurut Suwardana, pihaknya tidak bisa memperkirakan. Karena, semua ilmuwan di seluruh dunia tidak akan bisa memperkirakan terjadinya gempa.

“Saat ini hal yang kami lakukan terus melakukan monitoring aktivitas seismik. Ini untuk mengetahui apakah masih terjadi gempa susulan atau tidak,” katanya.


Sumber: Antara

Papua Nugini Diguncang Gempa 6,7 SR

Papua Nugini Diguncang Gempa 6,7 SR

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut, gempa terjadi di kedalaman 45 km.

VIVAnews — Lindu dengan kekuatan besar, 6,7 skala Richter mengguncang Papua Nugini, Jumat 14 Oktober 2011 pukul 13.35 waktu setempat. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut, gempa terjadi di kedalaman 45 kilometer.

Pusat gempa berada di 103 kilometer timur kota pegunungan Lae dan 336 kilometer utara ibu kota Port Moresby.

Meski memenuhi syarat terjadinya tsunami — di mana gempa berkekuatan lebih dari 6,5 SR — tak dikeluarkan peringatan datangnya gelombang raksasa.

Pasific Tsunami Warning Centre juga tidak mengeluarkan peringatan tsunami pasca gempa. Belum diketahui dampak kerusakan dan korban jiwa akibat peristiwa ini.

Sebelumnya, dua gempa mengguncang Bali, Kamis 13 Oktober 2011. Pertama, pada pukul 10.16 WIB, dengan kekuatan 6,8 SR. Gempa berikutnya terjadi pada pukul 14.52 WIB dengan kekuatan 5,6 SR.

Tak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan di Bali. Gempa juga tak menyebabkan korban jiwa. Meski sejumlah bangunan rusak dan sekitar 49 orang luka-luka.

• VIVAnews