Analisis Mengapa Gempa Bumi di Turki Sangat Mematikan

Suara.com – Gempa bumi hebat mengguncang Turki pada Senin (6/1/2023) pagi waktu setempat. Gempa tersebut berpusat di dekat kota Gaziantep sekitar Turki tenggara yang berbatasan dengan Suriah.

Dilaporkan hingga Selasa (7/2/2023), gempa tersebut telah menewaskan lebih dari 5.000 orang. Angka itu disebut masih berpotensi naik mengingat banyak korban masih belum ditemukan di tengah reruntuhan bangunan. 

Gempa di Turki itu sendiri terjadi dua kali. Gempa sebelumnya diklasifikasikan sebagai gempa yang cukup parah dengan kekuatan 7,8 magnitudo, dan menembus sekitar 100km atau 62 mil dari garis patahan.

Alhasil peristiwa itu tercatat sebagai gempa yang sangat mematikan di Turki. Berikut ini penjelasan mengapa gempa di Turki begitu mematikan dengan menelan ribuan korban jiwa.

Penjelasan gempa Turki menurut para ahli

Menyadur BBC News, Kepala Institut Pengurangan Risiko dan Bencana dari University College London, Profesor Joana Faure Walker menyampaikan dari sederet gempa bumi paling mematikan di dunia, hanya dua dalam 10 tahun terakhir yang memiliki kekuatan yang setara, dan empat dalam 10 tahun sebelumnya.

Namun, gempa yang mematikan bukan hanya dinilai dari getaran yang menyebabkan kehancuran, melainkan kekuatan bangunan juga mempengaruhinya.

Dr. Carmen Solana selaku pembaca dalam vulkanologi dan komunikasi risiko dari Universitas Portsmouth menyampaikan, infrastruktur di Turki Selatan yang tidak kokoh secara merata, khususnya di Suriah menjadi salah satu faktornya.

Dr. Carmen juga menyampaikan, durasi 24 jam ke depan sangat penting untuk menemukan para korban.

Wilayah yang tak terkena gempa bumi besar maupun gempa kecil apapun selama lebih dari 200 tahun, tingkat kesiapsiagaannya akan jauh lebih rendah ketimbang wilayah yang lebih sering terguncang gempa.

Faktor gempa bumi

Faktor yang menyebabkan terjadinya gempa bumi adalah kerak bumi yang terdiri dari potongan-potongan yang terpisah. Potongan yang kerap disebut lempeng dan piringan ini saling berdampingan.

Gempa bumi disebabkan oleh strike-slip yang keliru. Contohnya, kedua wilayah memiliki pergerakan ke kanan dan wilayah yang lain ke kiri. Akhirnya, gerakan tersebut pun menyebabkan patahan.

Lempeng-lempeng itu kerap berusaha bergerak, tetapi dicegah dengan gesekan lempeng lainnya. Namun, terkadang tekanan menumpuk hingga akhirnya terjadi gerakan pada permukaan.

Dalam kasus ini, lempeng Arab bergerak ke utara dan menggiling lempeng Anatolia. Gesekan lempeng inilah yang menyebabkan gempa bumi di masa lalu.

Pada saat itu, tepatnya 13 Agustus 1822, gempa berkekuatan 7.4 ini lebih sedikit kekuatannya dibanding dengan gempa yang baru saja terjadi, yakni pada Senin yang lalu dengan kekuatan 7,8.  

Meski demikian, gempa dengan kekuatan 7.4 itu dulunya menyebabkan  sekitar 7.000 kematian yang tercatat di Kota Aleppo. 

Mengapa Gempa Bumi Turki Begitu Dahsyat?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ratusan orang di Suriah dan Turki meninggal dunia akibat gempa bumi besar bermagnitudo 7,8 yang mengguncang kedua negara bertetangga itu. Gempa ini yang terkuat sejak gempa yang juga berkekuatan 7,8 Skala Richter meluluhlantakkan Provinsi Erzincan pada 1939 dan merenggut 30 ribu nyawa.

Sejumlah laporan media asing menyebutkan, gempa bumi dahsyat yang melanda Turki ini sering terjadi karena Turki berada jalur gempa yang termasuk paling aktif di dunia, terutama karena adanya dua patahan di Lempeng Anatolia.

Kedua patahan itu adalah Patahan Anatolia Utara yang membentang antara Lempeng Anatolia dan Lempeng Eurasia di sebelah utara daratan Turki, dan Patahan Anatolia Timur yang membentang di sepanjang Lempeng Arab hingga bagian tenggara Turki. Pergerakan di Patahan Anatolia Timur inilah yang diyakini menjadi pemicu gempa bumi dahsyat yang terjadi Senin ini.

Faktanya, gempa yang mengguncang 6 Februari ini sendiri berepisentrum di Turki bagian tenggara yang berdekatan dengan perbatasan Turki-Suriah. Sejauh ini, gempa telah merenggut 640 nyawa yang diperkirakan akan terus bertambah. Jumlah korban sebanyak itu ditemukan di daerah-daerah Turki tenggara dan Suriah utara.

Guncangan gempa juga dirasakan di Siprus yang berada di Laut Tengah atau Mediterania, Lebanon yang berbatasan dengan Suriah, dan Mesir. Tim pencari dan penyelamat Turki dan Suriah tengah berusaha mencari korban yang masih tertimbun rangkaian bangunan yang ambruk diguncang gempa. Pihak berwenang Turki mengungkapkan 1.718 unit bangunan ambruk dan 2.023 orang terluka.

“Tim SAR segera dikirimkan ke daerah-daerah tertimpa gempa,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan via Twitter, Senin.

Berikut dua peristiwa penting dari gempa bumi dahsyat itu seperti dikutip laman Aljazirah.

Kapan dan di mana gempa ini persisnya terjadi?

Terjadi pukul 04.17 pagi waktu setempat atau 08.17 WIB dengan pusat gempa di Kahramanmaras di Provinsi Gaziantep yang berjarak 33 km dari ibu kota provinsi itu yang juga bernama Gaziantep.

Gaziantep berpenduduk dua juta orang yang juga menjadi tempat bagi ratusan ribu pengungsi korban perang saudara Suriah yang mulai pecah pada 2011. Gempa ini segera diikuti oleh 40 gempa susulan yang satu di antaranya bermagnitudo 6,7.

Menurut Chris Elders dari School of Earth and Planetary Sciences pada Universitas Curtin di Perth, Australia, gempa susulan ini membentang sepanjang sampai sekitar 200 km di sepanjang garis patahan besar, yakni Sesar Anatolia Timur, di sepanjang bagian tenggara Turki.

Mengapa gempa Turki begitu mematikan?

Chris Elders mengungkapkan gempa ini amat dahsyat dan menghancurkan karena kedalamannya yang hanya 18 km permukaan bumi atau sangat dangkal.

Akibatnya, tidak hanya menciptakan suara yang mengerikan, gempa ini juga melepaskan energi yang jauh lebih besar ketimbang gempa berkedalaman di dalam kerak bumi.

Bahkan seorang pakar gempa Turki mendesak pemerintah negara ini memeriksa retakan pada beberapa bendungan yang berada di kawasan gempa guna mengantisipasi kemungkinan bendungan-bendungan itu jebol sehingga menciptakan banjir bandang.

Sebagian wilayah Turki berada persis di atas Lempeng Anatolia yang memiliki dua patahan besar, yakni Patahan Anatolia Utara dan Patahan Anatolia Timur. Lempeng ini bersinggungan ke selatan di Lempeng Arab.

Karena letak geologisnya itu seperti beberapa wilayah Indonesia dan negara-negara rawan gempa lainnya seperti Iran dan Jepang, Turki adalah satu dari zona-zona gempa paling aktif di dunia.

Gempa berkekuatan hampir sama, tepatnya Magnitudo 7,4, pernah mengguncang Turki pada 1999 untuk menewaskan lebih dari 17.000 orang, termasuk sekitar 1.000 orang di kota terbesar di negara itu di Istanbul.

Analisis Gempa Turkiye yang Menimbulkan Banyak Korban Jiwa

KOMPAS.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang Turkiye Senin (6/2/2022) siang waktu setempat. Guncangan gempa Turkiye tersebut bahkan berdampak hingga Suriah.

Dilansir dari Daily Mail, gempa bumi Turkiye tersebut berpusat di dekat Kota Gaziantep, Turkiye.

Gempa Turkiye mempunyai kedalaman episentrum sekitar 18 kilometer.

Dilansir dari CNN, Senin (6/2/2023), setidaknya sebanyak 4.300 orang meningggal dunia akibat gempa Turkiye tersebut.

Perinciannya yakni 2.931 orang di Turkiye dan 1.451 orang di Suriah.

Sementara itu setidaknya 15.800 orang di Turkiye juga luka-luka.

Bangunan-bangunan perumahan, sekolah, dan perkantoran runtuh akibat gempa tersebut. Lantas apa penyebabnya dan mengapa banyak timbul korban jiwa?

Penyebab gempa

Lokasi gempa Turki atau Turkiye bermagnitudo 7,8 yang mengguncang selatan negara itu pada Senin (6/2/2023).
AP Lokasi gempa Turki atau Turkiye bermagnitudo 7,8 yang mengguncang selatan negara itu pada Senin (6/2/2023).

Menurut pakar kegempaan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengatakan bahwa gempa tersebut diakibatkan oleh sistem sesar Anatolia.

“Sumber gempa di Turki kita sebut dengan Anatolian Fault System atau Sistem Sesar Anatolia, yang merupakan sesar aktif yang berada di daratan maupun masuk ke bagian lautan,” ujar Irwan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/2/2023).

Menurut Irwan, sesar tersebut mirip dengan sesar Sumatera yang sangat aktif.

“Ada sumber gempa yang sangat aktif, mungkin mirip jika dengan sistem sesar Sumatera yang sangat tinggi aktivitasnya,” kata Irwan.

Lempeng sesar tersebut bergerak yang mengakibatkan terjadinya gempa.

Dikutip dari Washington Post, Turkiye memiliki dua sesar utama, yakni sesar Anatolia Utara sepanjang 930 mil dan sesar Anatolia Timur sepanjang lebih dari 300 mil.

Diperkirakan, sesar Anatolia Timur yang sudah menyebabkan gempa bumi tersebut.

Dalam hal ini, gempa bumi terjadi pada sesar atau patahan geser di kerak bumi.

Lempeng sesar tersebut bergerak yang mengakibatkan terjadinya gempa.

Jadi, gempa tersebut merupakan gempa tektonik yang disebabkan oleh pergerakan Sesar Anatolia.

Penyebab banyaknya korban jiwa

Irwan memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya korban jiwa yang meninggal akibat gempa Turkiye tersebut, yakni:

1. Gempa dangkal

Gempa di Turkiye tersebut termasuk dalam gempa dangkal yang hanya belasan kilo yakni 18 kilometer.

“Pertama itu karena gempa dangkal. Kedalamannya itu dangkal ya, di bawah 30 km. Hanya beberapa belasan km, termasuk gempa dangkal,” kata Irwan.

Dikutip dari Aljazeera, gempa dengan kedalaman 18 km tersebut juga berkontribusi membuat gempa tersebut sangat dahsyat.

2. Magnitudo yang besar

Irwan menambahkan bahwa magnitudo yang signifikan besar menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa.

“Kemudian magnitudo-nya pun signifikan, di atas 7 bahkan 7,8,” kata Irwan.

Dikutip dari Japan Times, gempa susulan yang bermagnitudo 7,5 juga menjadi penyebab dari parahnya dampak dari gempa.

3. Terjadi di daerah padat penduduk

Selain kedua hal di atas, Irwan menambahkan banyaknya korban jiwa pada gempa Turkiye tersebut lantaran gempa terjadi di daerah dengan padat penduduk.

“Hal ketiga yang menakutkan adalah terjadi di daerah dengan penduduk yang padat,” papar dia.

Diketahui gempa utama terjadi pada pukul 04.17 waktu setempat, di mana mayoritas penduduk masih tertidur.

4. Konstruksi bangunan

Irwan menjelaskan, faktor keempat yang menjadi penyebab banyaknya korban jiwa gempa Turkiye adalah konstruksi bangunan yang bervariasi.

Bervariasi dalam hal ini yakni konstruksi bangunan ada yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi gempa dan ada juga yang belum.

Irwan menjelaskan bahwa bangunan yang ada di Anatolia belum sebaik di daerah Ankara atau Istanbul.

Bangunan yang ada di Anatolia imbuhnya, kebanyakan bangunan yang relatif lama.

“Daerah sekitar Ankara dan Istanbul bangunannya relatif baru, yang konstruksi bangunan pun sudah lebih baik dibanding dengan daerah Anatolia yang menjadi sumber gempa,” papar dia.

Sementara itu, dikutip dari BBC,  kekokohan bangunan juga menjadi salah satu faktornya banyaknya korban jiwa akibat gempa Turkiye.

Terlebih dijelaskan, bahwa wilayah yang terdampak gempa disebutkan sudah tidak ada gempa besar selama lebih dari 200 tahun sehingga gedung dan masyarakatnya tidak siap untuk gempa besar yang akan terjadi.

Hasil Analisis Gempa Turki oleh BMKG: Jalur Patahan 300 KM Lebih, Gempa Terbesar dalam Sejarah

Update Terbaru! Hasil Analisis Gempa Turki oleh BMKG: Jalur Patahan 300 KM  Lebih, Gempa Terbesar dalam Sejarah - Ayo Jakarta

AYOJAKARTA.COM–Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui Daryono mengungkapkan hasil analisis gempa yang terjadi di Turki baru-baru ini.

Sebuah gempa berkekuatan 7,8 Magnitudo telah terjadi di Turki pada Senin (6/2/2023).

Sehubungan dengan hal tersebut, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG mengungkapkan hasil analisis tentang gempa Turki yang terjadi pada pagi hari ini.

Daryono melaporkan informasi yang telah diketahui tentang pusat gempa, jalur patahan, hingga sejarah kegempaan yang terjadi di Turki sejauh ini.

Dikutip AyoJakarta.com dari akun twitter @DaryonoBMKG, gempa Turki yang terjadi pagi ini diketahui berpusat di Turki selatan.

Tak hanya itu saja, Daryono juga menyebutkan bahwa pusat gempa ini berada di persimpangan tiga lempeng tektonik.

“Gempa merusak M7.8 yang berpusat di Turki selatan, berada di persimpangan tiga Lempeng Anatolia, Arab, dan Afrika,” ujar Daryono melalui cuitannya.

Sementara itu, hasil monitoring dari BMKG menyebutkan bahwa gempa susulan yang terjadi di Turki ini menunjukkan retakan jalur patahan dengan jarak lebih dari 300 km.

Bukan main-main, retakan pada jalur ini diperkirakan terjadi sepanjang Patahan anatolia timur.

“Hasil monitoring gempa susulan Turki Selatan menunjukkan panjang retakan di jalur patahan lebih dari 300 kilometer. Patahan ini pecah hampir sepanjang Patahan Anatolia Timur,” terangnya.

Sementara itu, Daryono menyatakan bahwa gempa bumi yang terjadi pada pagi ini menjadi peristiwa kegempaan dengan kekuatan Magnitudo terbesar sepanjang sejarah yang tercatat. Adapun catatan sebaran gempa ini dilihat sejak dioperasikannya seismograf atau alat pencatat gempa pada tahun 1900-an.

“Dengan mengamati sebaran gempa Magnitudo > 7 sejak dioperasikan seismograf (~1900), peristiwa gempa besar dan merusak M7.8 hari ini merupakan gempa yang terbesar yang pernah tercatat di wilayah Turki Selatan,” ungkapnya.

Di sisi lain, sejarah gempa bumi Turki menyebutkan bahwa sebagian besar gempa di negara tersebut hanya terjadi di wilayah bagian utara, bukan selatan.

“Sejarah gempa Turki mencatat, selama ini sebagian besar gempa kerak dangkal dahsyat hanya terjadi di sepanjang Sesar Anatolia Utara di wilayah Turki Utara, bukan di selatan,” tulisnya.***

Korban Tewas Gempa Turki-Suriah Tembus 12 Ribu Jiwa

Jakarta, CNN Indonesia — Korban tewas akibat gempa dahsyat yang melanda Turki dan Suriah menanjak menjadi setidaknya 12.049 orang.

Dilansir CNN, Kamis (9/2), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan jumlah korban tewas di Turki meningkat menjadi setidaknya 9.057 orang dengan 52.979 lainnya dilaporkan terluka.

Sementara, White Helmets, sebuah organisasi sukarelawan di Suriah, mengungkapkan total korban jiwa di Suriah naik menjadi 2.992. Jika dirinci, 1.730 korban jiwa berada di daerah yang dikuasai pemberontak di barat laut. Kemudian, 1.262 korban jiwa lainnya berada di bagian yang dikuasai pemerintah Suriah.

Jumlah korban luka-luka di Suriah di semua wilayah yang terkena dampak juga naik menjadi 5.108, baik di daerah pemberontak maupun yang dikuasai pemerintah.

Setidaknya 58.087 orang terluka di Suriah dan Turki, menurut angka dari pemerintah Turki, White Helmets dan media pemerintah Suriah.

Jumlah korban tewas di kedua negara melampaui proyeksi Survei Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey/USGS) yang memperkirakan 10 ribu orang.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kematian akibat gempa dahsyat itu bisa mencapai 20 ribu jiwa.

Angka kematian masih bisa berubah mengingat upaya penyelamatan korban dari puing-puing bangunan yang runtuh masih dilakukan.

Gempa dahsyat berkekuatan M 7,7 mengguncang Turki dan Suriah pada Senin dini hari pukul 04.17, waktu setempat. Gempa itu disebut sebagai yang terbesar dalam 100 tahun terakhir sejak 1939.

Pada Selasa lalu, Erdogan mengumumkan status darurat bencana selama tiga bulan usai gempa mengguncang negaranya.

Status darurat itu berlaku di 10 provinsi negara tersebut. Kesepuluh provinsi bakal dinyatakan sebagai bagian dari zona bencana gempa.

“Kami memutuskan untuk mengumumkan keadaan darurat guna memastikan bahwa penyelamatan dan pemulihan kami dapat dilakukan dengan cepat,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti dikutip AFP.

Dalam kesempatan itu, Erdogan menegaskan bakal mengirim lebih dari 50 ribu personel penyelamat ke daerah terdampak.

Dia juga bakal mengalokasikan 100 miliar lira atau setara Rp80 triliun untuk dana bantuan.

Warga negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri bisa melaporkan diri melalui portal peduli WNI secara online di situs www.peduliwni.kemlu.go.id.

Sementara itu, bagi keluarga yang ingin menghubungi kerabat atau rekan di Turki, bisa menghubungi hotline perlindungan WNI di Ankara, yakni +905321352298.

Untuk di Suriah, dapat menghubungi hotline perlindungan WNI di Damaskus, yakni +963954444810.

Penyusunan Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana untuk Sektor Kesehatan di Daerah 2023

arsip finalisasi papua barat

Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Dinkes Kesehatan Provinsi Papua Barat

Bekerja sama dengan UNICEF dan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sejumlah daerah di Provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku merupakan daerah rawan bencana alam. Begitu juga dengan pandemi COVID-19 menjadi pembelajaran bagi semua daerah untuk waspada terhadap bencana non alam. Tentunya bencana yang terjadi dapat berdampak pada krisis kesehatan. Oleh karena itu, peran Dinas Kesehatan sebagai leading sector di bidang kesehatan penting mempersiapkan kapasitas dalam menghadapi bencana dan harus menyiapkan dokumen rencana penanggulangan bencana. Amanat tersebut ditekankan melalui Permenkes Nomor 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan yang menyatakan Dinas Kesehatan berperan sebagai koordinator operasi Klaster Kesehatan.

Ketidakjelasan sistem komando kerap kali masih menjadi kendala utama pada saat pengaktifan. Hal ini akan membuat semakin sulit bagi dinas kesehatan yang belum memiliki dokumen perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Kendala sistem komando mulai dari pembagian tugas yang kurang jelas, alur komunikasi yang belum optimal dan tidak ada rencana alternatif sangat menghambat kecepatan respon penanganan bencana. Dengan demikian, sudah saatnya Dinas Kesehatan memperkuat kapasitas penanganan bencana di daerah melalui satu perencanaan yang operasional, yang hidup dan mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam.

Berdasarkan hal tersebut, UNICEF bekerja sama dengan Pusat Krisis Kesehatan (PKK) Kementerian Kesehatan dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan peningkatan kapasitas untuk tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan dalam menyusun dan merevisi rencana penanggulangan bencana dan operasionalisasi klaster kesehatan.

Tujuan

Meningkatkan kapasitas menyusun rencana penangan bencana dan krisis kesehatan serta cara mengoperasionalisasikan klaster kesehatan.

Sasaran Program

Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku

Agenda Kegiatan

arsip finalisasi papua barat

arsip finalisasi pabar

arsip pelatihan bencana manokwari

pelatihan ddp maluku

pelatihan ddp papua

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan Relawan untuk Berpartisipasi dalam Siaga Bencana

Kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk memberikan respons yang efektif, dan mengurangi kemungkinan dampak bencana. Meskipun partisipasi relawan berperan penting dalam kesiapsiagaan bencana, partisipasi mereka dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana masih rendah. Untuk menemukan cara mendorong lebih banyak relawan untuk berpartisipasi, penelitian ini menganalisis latar belakang sosial dan faktor organisasi dan sikap yang mempengaruhi kesediaan relawan untuk berpartisipasi. Kuesioner dibagikan kepada 990 sukarelawan bencana terdaftar di seluruh Beijing dan data dianalisis menggunakan model regresi linier. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal National Center for Biotechnology Information

Selengkapnya

 

Penanganan Respons Kesehatan Gempa Bumi Cianjur

Doc. Google Map Cianjur EarthquakeDoc. Google Map Cianjur Earthquake

Doc. Google Map Cianjur EarthquakeDoc. Google Map Cianjur EarthquakeWarga Kabupaten Cianjur dan sekitarnya dikejutkan dengan goncangan gempa bumi 5,6 M selama 10-15 detik yang terjadi sekitar pukul 13.21 WIB, Senin 21 November 2022. Korban meninggal dan luka-luka dilaporkan terus bertambah hingga 24 jam pasca kejadian. Gempa bumi juga berdampak pada aspek publik dan lingkungan. Dilaporkan lebih dari 13 ribu masyarakat terdampak.

Rapat daring koordinasi Emergency Medical Team (EMT) dan Klaster Kesehatan segera diinisiasi oleh Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan mengundang jejaring EMT, organisasi profesi kesehatan, serta praktisi bencana kesehatan lainnya termasuk Pokja Bencana FK-KMK UGM serta tim ahli Tenaga Cadangan Kesehatan dari Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM. Di samping itu, Pokja Bencana FK-KMK UGM juga melakukan rapat koordinasi internal bersama SOBAT FK dan jejaring rumah sakit AHS UGM mengenai persiapan tim medis dan manajemen untuk mendukung penanganan krisis kesehatan di Kabupaten Cianjur.

Silakan simak informasi dan laporan harian kegiatan kami

     Laporan Kegiatan Pokja Bencana FK-KMK UGM

     Kebijakan/Aturan       

     Infografis

     Live Report

Inovasi Pelayanan Publik (Studi Kasus: Public Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Bantul Sebagai Layanan Kesehatan dan Kegawatdaruratan)

ipsc bantul 119

ipsc bantul 119Public Safety Center (PSC) sudah mulai berkembang di Indonesia. Umumnya PSC 119 ini di bawah koordinasi satu Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota. Namun, ada juga yang sudah dalam bentuk Unit Pelayanan Terpadu seperti di Sulawesi Tengah. PSC 119 dibentuk sebagai wadah koordinasi untuk memberikan pelayanan gawat darurat secara cepat, tepat dan cermat bagi masyarakat. Kegiatan diselenggarakan 24 jam sehari secara terus menerus. PSC merupakan rangkaian kegiatan SPGDT pra-fasilitas pelayanan kesehatan (pre hospital services) yang berfungsi melakukan pelayanan kegawatdaruratan dengan menggunakan algoritma kegawatdaruratan yang ada dalam sistem aplikasi Call Center 119. Artikel berikut menggambarkan bagaimana inovasi pelayanan publik PSC 119 Kabupaten Bantul sebagai layanan kesehatan dan kegawatdaruratan. PSC 119 Kabupaten Bantul dipelopori oleh Dinas Kesehatan dan mulai beroperasi sejak 1 November 2018Jika ada masyarakat atau individu yang mengalami kecelakan lalu lintas, home emergencydan membutuhkan pertolongan pertama kegawatdaruratan yang berlokasi di wilayah administratif Kabupaten Bantul, kemudian mengalami kendala atau tidak mampu secara fisik maupun material untuk datang ke rumah sakit dapat dengan mudah menghubungi nomor 119 bebas pulsa atau telepon lokal (0274) 2811119. Sosialisasi layanan PSC 119 ini terus diupayakan supaya semakin banyak masyarakat dapat mengaksesnya

Selengkapnya

Komunikasi Krisis setelah Gempa Bumi di Yunani dan Jepang: Efek pada Manajemen Bencana Seismik

Komunikasi informasi darurat sesaat sebelum atau setelah manifestasi bahaya seismik merupakan bagian penting dari manajemen bencana. Komunikasi krisis bertujuan untuk melindungi, mendukung, dan memandu layanan publik dan darurat selama fase respons dan pemulihan. Dalam kasus peristiwa seismik, pertanyaan mendasar mengacu pada bagaimana informasi yang akan dirilis ke publik segera setelah/sebelum peristiwa seismik memengaruhi dampak dan pengelolaan bencana. Makalah ini membahas ketidakpastian yang terlibat dalam informasi seismik darurat, mengidentifikasi sumber, sarana, konten dan mode komunikasi darurat dan menunjukkan efek dari berbagai model komunikasi krisis pada persepsi publik, pada tanggap darurat dan, karenanya, pada manajemen bencana. Tinjauan pengalaman masa lalu tentang strategi komunikasi krisis seismik di negara-negara rawan gempa, yaitu Yunani dan Jepang, mengungkapkan keberhasilan dan kegagalan dalam mengelola ketidakpastian, dan dalam membangun kepercayaan publik dan meningkatkan kapasitas respons. Temuan tersebut meliputi pentingnya komunikasi krisis dalam manajemen bencana seismik, tingkat/lapisan ketidakpastian yang terlibat dalam informasi seismik darurat dan bagaimana pengaruhnya terhadap persepsi risiko, efek kepercayaan/ketidakpercayaan publik terhadap lembaga ilmiah dan manajemen, serta beberapa rekomendasi untuk krisis seismik. Strategi komunikasi untuk meminimalkan ketidakpastian dan meningkatkan tanggap darurat.

Selengkapnya