Korban Meninggal Erupsi Gunung Semeru Tambah Jadi 34 Orang

Jakarta – BNPB memperbarui data korban terdampak erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur (Jatim). Korban meninggal karena erupsi Gunung Semeru bertambah menjadi 34 orang.

“Data korban jiwa tercatat warga luka-luka 56 jiwa, hilang 17 jiwa, dan meninggal dunia 34 jiwa, sedangkan jumlah populasi terdampak sebanyak 5.205 jiwa. Terkait dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang dan luka, posko masih melakukan pemutakhiran data dan validasi,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Selasa (7/12/2021).

Per pukul 12.00 WIB, jumlah warga mengungsi mengalami peningkatan menjadi 3.697 jiwa. Warga yang mengungsi sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan di Kabupaten Malang hanya terdapat 24 jiwa.

“Sebaran titik pengungsian di Kabupaten Lumajang berada di Kecamatan Pronojiwo dengan 9 titik berjumlah 382 jiwa, Kecamatan Candipuro 6 titik 1.136 jiwa, Kecamatan Pasirian 4 titik 563 jiwa, Kecamatan Lumajang 188 jiwa, Kecamatan Tempeh 290 jiwa, Kecamatan Sumberseko 67 jiwa, Kecamatan Sukodono 45 jiwa,” ujar Muhari.

Erupsi Gunung Semeru mengakibatkan 2.970 unit rumah terkena dampak. Pemerintah daerah masih melakukan pemutakhiran jumlah rumah terdampak ataupun tingkat kerusakan.

“Bangunan terdampak lainnya berupa fasilitas pendidikan 38 unit dan jembatan terputus (Gladak Perak) 1 unit,” ucapnya.

Presiden Jokowi sudah meninjau lokasi terdampak yang berada di Kabupaten Lumajang. Jokowi tiba di Lapangan Desa Sumberwuluh, Lumajang, pukul 10.21 WIB.

Jokowi bertemu dengan para penyintas erupsi Gunung Semeru, melihat dapur umum dan meninjau pos kesehatan, serta menyerahkan santunan kepada para ahli waris korban meninggal akibat erupsi.

Sementara itu, Gunung Semeru terpantau mengalami 2 kali gempa letusan dan durasi gempa 55-25 detik. Di samping itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menginformasikan terjadi 7 kali gempa guguran dengan durasi 50-20 detik.

2.000 Rumah Warga Terdampak Erupsi Semeru Segera Direlokasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan agar 2.000 rumah terdampak erupsi Gunung Semeru segera direlokasi ke tempat lebih aman.

“Segera kita putuskan di mana relokasinya dan saat itu juga akan kita bangun kalau semua sudah siap,” ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (7/12/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Jokowi mengungkapkan, ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan untuk penanganan tanggap darurat peristiwa tersebut.

Mulai dari pencarian korban dan proses evakuasi serta ketersediaan logistik bagi masyarakat terdampak dan pengungsi, termasuk rencana perbaikan infrastruktur yang rusak.

“Kita berharap semua sudah bisa dimulai, baik itu perbaikan infrastruktur maupun kemungkinan relokasi dari tempat-tempat yang kita perkirakan memang berbahaya untuk dihuni kembali,” lanjut Jokowi.

Sebagai tindaklanjut perintah Presiden, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membantu penanganan darurat bencana alam erupsi Gunung Semeru dengan mengerahkan sumber daya dan personel di balai-balai Kementerian PUPR di Provinsi Jawa Timur.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan, tugas Kementerian PUPR adalah memastikan akses menuju ke lokasi terdampak bencana bisa dilalui untuk kendaraan logistik, termasuk kebutuhan pengungsi.

“Tugas kami adalah mendukung upaya tanggap darurat, pembersihan, termasuk sarana dan prasarana juga sudah didistribusikan,” ujar Hedy.

Untuk relokasi warga, Kementerian PUPR menunggu lokasi yang aman dari Badan Geologi (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral).

Untuk percepatan peningkatan konektivitas, telah dilakukan langkah-langkah penanganan dengan mencari jalur-jalur alternatif untuk menghubungkan Lumajang-Turen-Malang yang putus akibat robohnya Jembatan Besuk Koboan.

 

Contohnya, pembangunan jembatan gantung dalam dua bulan ke depan untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua sebagai penghubung Kabupaten Lumajang dengan Malang Selatan.

Jembatan tersebut juga didesain dapat dilalui ambulans untuk keadaan darurat.

“Kami juga menyiapkan jalur alternatif ke arah selatan sepanjang 2 kilometer yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Kementerian PUPR membantu 7 kilometer,” ungkap Hedy.

Namun, jalur alternatif tersebut tidak bisa digunakan untuk kendaraan berat, melainkan hanya logistik ringan.

Untuk perbaikan permanen Jembatan Besuk Koboan di ruas Jalan Nasional Turen-Lumajang, dibutuhkan waktu sekitar 1 tahun.

“Pembangunan jembatan permanen dengan bentang 130 meter butuh waktu. Makanya, kita buatkan dulu jembatan gantung yang bersifat sementara untuk pemulihan konektivitas,” sambungnya.

Untuk mendukung kebutuhan pengungsi, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur telah memobilisasi 10 unit Hidran Umum (HU) kapasitas 2.000 liter.

Lalu, ada 4 unit Mobil Tangki Air (MTA) berkapasitas 4.000 liter, 6 unit tenda hunian darurat, 3 mobil toilet, 11 bed, 6 tenda ukuran 4×4, 1 unit dump truck dan mobil kabin, juga dukungan 16 personel tanggap darurat.

Kemudian, alat berat juga dikerahkan untuk mempercepat evakuasi korban dan pembersihan kawasan terdampak oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali seperti 1 unit ekskavator, 2 unit loader dan 2 dump truck.

Selanjutnya, 1 unit water tanker, 3 unit pick up di Lumajang dan Malang, serta 1 unit jembatan bailey, dan 2 unit dump truck, 3000 lembar kawat bronjong sudah standby di kantor balai.

Tambahan alat berat juga didistribusikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas berupa 1 unit ekskavatpr, 1 unit loader, 2 dump truck, dan perlengkapan tambahan berupa 1 set lighting lamp, 1 unit MTA dan alkon, 2 drum solar serta oli hidrolik dan oli mesin.

UPDATE Erupsi Semeru: 34 Orang Meninggal Dunia, 22 Orang Hilang

JAKARTA, KOMPAS.com – Komandan Posko Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru Kol Inf Irwan Subekti melaporkan, hingga Selasa (7/12/2021) tercatat 34 orang meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru dan 22 orang hilang.

“Sampai saat ini, korban jiwa tercatat di posko kami adalah 34 orang ini terdata, kemudian 22 orang hilang dan 22 orang luka berat,” kata Irwan dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Selasa.

Irwan mengatakan, selain korban jiwa, sebanyak 4.250 orang mengungsi di 19 titik pengungsian. Kemudian, sebanyak 5.205 unit rumah terdampak erupsi Gunung Semeru.

“4.250 orang mengungsi di mana ini tersebar di beberapa tempat di antaranya adalah sekolah, masjid, balai desa termasuk ada di rumah-rumah penduduk,” ujarnya.

Lebih lanjut, Irwan mengatakan, tercatat 10 kecamatan dan 17 desa yang terdampak erupsi Semeru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Ia mengatakan, pencarian korban akan terus dilakukan secara optimal hingga satu minggu mulai dari pagi hingga sore dengan memerhatikan situasi dan cuaca di Kabupaten Lumajang dan di sekitar Gunung Semeru.

“Mengingat setiap hari setiap sore turun hujan sangat berpengaruh terhadap proses pencarian,” pungkasnya.

Gunung Semeru yang berada di dua kabupaten, yakni Malang dan Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 15.20 WIB.

Erupsi Gunung Semeru mengeluarkan lava pijar, suara gemuruh serta asap pekat berwarna abu-abu.

Selain menimbulkan korban jiwa, erupsi juga mengakibatkan puluhan korban luka hingga sejumlah rumah warga rusak sedang hingga berat.

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

dukungan penanganan semeru1

Laporan Kegiatan

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Oleh Pokja Bencana FK – KMK UGM dan AHS UGM

{slider title=”Selasa, 7 Desember 2021″ class=”orange solid” }

 


dukungan penanganan semeru1

Dok. Pokja Bencana dan AHS UGM “Penilaian dan pemetaan kapasitas dan kebutuhan penanganan bencana letusan Gunung Semeru di Dinkes Kab. Lumajang”

Pada Senin, 6 Desember 2021 pukul 22.00 WIB, tim Pokja Bencana dan AHS UGM tiba di Lumajang. Adapun tim yang ditugas untuk membantu manajemen penanganan bencana Letusan Gunung Semeru Jawa Timur adalah :

  1. apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid
  2. Happy R Pangaribuan, MPH
  3. Endroyanto

Hari Pertama

Pada Selasa, 7 Desember 2021 pukul 08.00 WIB tim mengunjungi Dinas Kesehatan Lumajang dan langsung berkoordinasi dengan Sub Koordinator Substansi Tanggap Darurat Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr. Rakhmad dan Penanggungjawab Tim Disaster Emergency Management Team (DEMIT) Provinsi Jawa Timur, Sony. Tim Kemenkes dan provinsi memberikan arahan dan pengantar mengenai pentingnya manajemen klaster Kesehatan termasuk pengelolaan data dan informasi awal krisis. Kemudian tim UGM melakukan pendampingan dan fasilitasi penyusunan struktur organisasi Klaster Kesehatan (Health Emergency Operation Center/ HEOC), penyusunan peta respon krisis Kesehatan dengan metode visualization in participatory process, dan pendokumentasian alur – alur yang dibutuhkan dalam pengelolaan krisis Kesehatan bencana erupsi Gunung Semeru 2021 di Dinkes Kabupaten Lumajang.

Bidang terkait berkumpul dalam satu ruangan untuk membahas sejauh mana penanganan yang sudah dilakukan. Bidang yang ikut rapat adalah Yankes dan petugas PSC 119 Lumajang; KIA – Gizi dan Kesga; P2P dan Kesling, Logistik dan Keuangan, penanggungjawab Data dan Informasi dan tim dari EMT MDMC dan PB Muhammadiyah yang kebetulan sedang melakukan registrasi relawan kesehatan. Difasilitasi oleh Gde Yulian dan Happy Pangaribuan, peserta menyusun peta respon untuk memetakan fasilitas kesehatan apa saja yang melakukan pelayanan. Tercatat 4 puskesmas yang melakukan pelayanan kesehatan di daerah terdampak yaitu Puskesmas Candipuro, Puskesmas Pronojiwo, Puskesmas Penanggal dan Puskesmas Pasirian. Selanjutnya RS yang turut menangani korban adalah RSUD Haryoto, RS Bhayangkara, dan RSUD Pasirian. Sementara RS BUMN Jatiroto disiapkan sebagai RS rujukan covid jika ada pengungsi korban bencana yang terindikasi COVID-19. Setelah penyusunan peta respon, tim bersama dengan Dinkes Lumajang merapikan alur relawan, alur penerimaan logistik dan alur data informasi kesehatan.

Kondisi saat ini belum ada data riil jumlah relawan yang ditugaskan di puskesmas dan pos kesehatan, sudah teridentifikasi ada 18 tim, namun belum ada spesifikasi teknis berapa dan kompetensi apa saja. Kendala yang dialami oleh dinkes adalah keterlambatan pengiriman laporan harian dari tim kesehatan di pos pelayanan kesehatan dan puskesmas sehingga dinkes belum bisa menvisualisasikan data penyakit, data logistik, data pasien dan kebutuhan secara rutin. Hal ini disebabkan kurangnya SDM yang bisa membantu merekap data kesehatan di pos pelayanan kesehatan dan di puskesmas.

Rencana Tindak Lanjut :

  • Melaporkan kegiatan hari ini kepada tim Pokja FK-KMK UGM dan AHS UGM melalui virtual zoom pukul 19.00 WIB
  • Membantu dinkes merekap laporan data kesehatan (data penyakit, data relawan, data logistik, kelompok rentan)
  • Update peta respon
  • Merapikan form pelaporan, registrasi relawan, distribusi logistik
  • Print out alur relawan, alur penerimaan logistik dan alur data informasi kesehatan

Reporter : Happy R Pangaribuan dan Gde Yulian Yogadhita

 

{slider title=”Rabu, 8 Desember 2021″  class=”blue}

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Oleh Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM

ahs ugm lumajang 2021

Dok. Pokja Bencana dan AHS UGM “Briefing dengan relawan data dan informasi”

Tim manajemen Pokja Bencana FK – KMK UGM dan tim AHS sudah hadir di Dinkes Kabupaten Lumajang pukul 08.00 WIB melakukan briefing singkat terkait rencana kerja hari ini. Bersama dengan Tim Datin Dinkes Kabupaten Lumajang, MDMC dan PKK Kemenkes merapikan sistem pendataan kesehatan. Berdasarkan analisis masalah dan kebutuhan di hari sebelumnya MDMC sudah menghadirkan 10 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember untuk melakukan pendampingan puskesmas dalam mengkompilasi data di pos kesehatan. Sebelum ke lapangan tim Pokja Bencana FK – KMK UGM membantu dinkes menfasilitasi briefing dengan 10 mahasiswa tersebut sebelum ditugaskan ke lapangan.

ahs ugm lumajang 2021 peta respon cut

Dok. Pokja Bencana dan AHS UGM “Peta sebaran relawan”

Sistem pelaporan data kesehatan dari puskesmas ke dinkes dilakukan dengan pengisian Google Sheet yang bisa diakses oleh PJ data kesehatan. Demikian halnya dengan registrasi relawan menggunakan link Google Form, ini memudahkan dinkes untuk mendata ulang relawan karena beberapa relawan sudah melayani di pos kesehatan namun belum registrasi di dinkes. Data kesehatan seperti jumlah pasien rawat inap, rawat jalan, dan kelompok rentan sudah dapat dikompilasi. Bidang pengendalian penyakit, promosi kesehatan dan gizi sudah melaporkan pelayanan kesehatan yang dilakukan hari ini. Khusus untuk logistik sudah memetakan logistik kesehatan yang dibutuhkan, ini menjadi data bagi tim logistik untuk menolak donasi yang tidak dibutuhkan. Tim manajemen merapikan kembali peta sebaran relawan, dimana saja relawan ditugaskan dan ini di – update di peta respon.

Rencana Tindak Lanjut

  • Melanjutnkan membantu tim datin Dinkes Lumajang rekapitulasi sistem pelaporan data kesehatan
  • Update peta respon
  • Melanjutkan membantu tim logistik rekapitulasi data logistik kesehatan

Reportase : Happy R Pangaribuan dan Gde Yulian Yogadhita

 

{slider title=”Kamis, 9 Desember 2021″  class=”orange}

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Oleh Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM

ahs ugm lumajang 2021 12 9 1

Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM

Pada pagi hari, tim HEOC memiliki perbedaan persepsi mengenai tugas dan fungsi teknis sub-klaster dan tim pendukung, mengantisipasi hal ini, tim UGM kemudian mencoba untuk memfasilitasi mengurai permasalahan perbedaan persepsi yang terjadi kepada tim HEOC khususnya tim promkes dan PSC mengenai peran fungsi Sub Klaster Kesehatan dan Tim Pendukung saat bencana yang mengacu pada Permenkes Nomor 75 Tahun 2019. Pelayanan kesehatan yang diberikan secara individual itu dilakukan oleh bidang pelayanan kesehatan sementara tim promkes lebih kepada pelayanan kolektif (komunitas). Tim promkes juga berperan mendukung kegiatan sub klaster lainnya misalnya kolaborasi dengan sub klaster kesehatan jiwa dalam melakukan kegiatan psikososial. Selanjutnya hal ini menginisiasi rapat klister kesehatan di ruangan HEOC dinkes Lumajang yang dipimpin oleh kepala dinas untuk menyamakan persepsi terkait sistem pelaporan dan membangun koordinasi antar bidang, terutamanya untuk mengurangi kesalahpahaman. Kadis kemudian mengumpulkan semua bidang yang terlibat dalam struktur HEOC pusat darurat krisis kesehatan kabupaten lumajang. Kepala dinas menyampaikan bahwa masing – masing bidang wajib melaporkan progress pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan dan mencari apa yang menjadi kebutuhan di lapangan. Laporan ini lah yang akan disampaikan kepala dinas pada saat rapat koordinasi bersama dengan lintas sektor dan yang akan diteruskan ke Kemenkes. Menambahkan pesan kepala dinas, tim PKK dari Kemenkes juga menekankan pentingnya ada briefing atau pertemuan rutin dilakukan di dinas kesehatan khususnya untuk update laporan kegiatan. Selanjutnya Tim Manajemen FK – KMK dan AHS UGM juga menyampaikan perkembangan dari segi manajemen. Melalui pertemuan singkat ini disepakati semua bidang yang terlibat dalam struktur HEOC pusat darurat krisis kesehatan akan melakukan rapat koordinasi setiap hari pukul 13.00 WIB.

ahs ugm lumajang 2021 12 9 3

Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM “Live Report Tim Manajemen Penanganan Bencana Erupsi Semeru (kiri) dan diskusi perbaikan data informasi tim relawan”

Siang hari pukul 12.00 – 13.00 WIB Tim Manajemen FK – KMK UGM dan AHS UGM bersama dengan Dinkes Kaupaten. Lumajang yang diwakili oleh Irma Rokhmania, S.Si dari bidang pemberdayaan masyarakat dan humas melakukan live report dukungan tim manajemen dalam penanganan Erupsi Gunung Semeru. Informasi yang disampaikan adalah seputar update manajemen relawan, manajemen pengungsian, sistem koordinasi dan sistem komunikasi yang sudah dibangun. Pada akhir sesi Sobat FK – KMK UGM menyampaikan peran FK – KMK dalam berdonasi mendukung pelayanan penangann bencana Erupsi Semeru.

Pukul 16.00 WIB Tim bersama dengan PKK Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jatim, mendampingi langsung tim datin HEOC Dinkes Kabupaten Lumajang yang terdiri dari tim Sun-Gram, tim PSC 119, dan relawan data bantuan MDMC untuk dapat melanjutkan kompilasi data informasi kesehatan ke dalam satu file laporan. File ini yang akan dirilis setiap harinya dan dilaporkan kepada PKK Kemenkes dan Kepala Dinas Kesehatan. Tim juga mulai memperbaiki data relawan yang bertugas.

Rencana tindak lanjut : esok tim ke puskesmas Pasirian

Reporter : Happy R Pangaribuan dan Gde Yulian Yogadhita

 

{slider title=”Jumat, 10 Desember 2021″  class=”orange” open=”true”}

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Oleh Pokja Bencana FK – KMK UGM dan AHS UGM

 ahs ugm lumajang 2021 12 10 1

Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM “ meninjau Instalasi Farmasi Kabupaten Lumajang (kiri) dan menyusun papan informasi pelayanan kesehatan (kanan)”

Dalam pengelolaan manajemen data logistik medis, tim Pokja Bencana FK – KMK UGM dan AHS UGM dibantu oleh Danny dari MDMC Jawa Timur, yang bertugas untuk membantu dinas kesehatan dalam merapikan pendataan logistik kesehatan yaitu menyusun pembuatan tabel rekapan yang memuat breakdown jenis logistik, jumlah masuk dan keluar serta sisa logistik kesehatan. Informasi ini sudah berhasil direkapitulasi dalam satu Google Sheet yang dapat diakses tim logistik. Hasil rekapan sangat memudahkan PJ Logistik Dinkes Kabupaten Lumajang dalam melakukan monitoring stok, menganalisis logistik kesehatan apa yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan sehingga mudah dalam memberikan rekomendasi kebijakan kepada kepala dinas untuk meminta maupun menahan bantuan terutamanya logistik kesehatan yang datang. Dari hasil assessment lapangan yang dilakukan tim disampaikan juga gudang farmasi per 10 Desember sudah penuh (90% telah digunakan). Kendala lain yaitu banyak donatur yang mengirimkan barang tanpa berkoordinasi dengan penerima, jika hanya satu dua kardus mungkin dapat diakomodasi oleh tim dinas kesehatan, namun jika bantuan yang diberikan sampai satu truk engkol atau bahkan kontainer wing boks akan merepotkan petugas karena dibutuhkan tenaga unloading barang, storage cadangan dan kendaraan untuk mempercepat distribusi ke lapangan.

Siang hari pukul 13.30 WIB tim bersama dengan HEOC kembali melakukan rapat koordinasi rutin untuk mendiskusikan progress dan kebutuhan dari masing – masing bidang. Kepala dinas kesehatan menyampaikan untuk menghindari bias pemahaman data korban maka informasi penanganan kesehatan korban terdampak langsung dan korban di pengungsian dibedakan. Sistem pelaporan data dan informasi kesehatan sudah berjalan dengan baik. Begitu juga halnya dengan publikasi, di pintu ruang masuk dinkes sudah disediakan papan informasi terkait sebaran relawan, alur logsitik, alur pelaporan data informasi, 10 penyakit terbesar dan kompilasi laporan harian HEOC. Di akhir rapat, tim secara simbolis menyerahkan Disaster Management Kit untuk pengelolaan HEOC Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang dan sekali lagi mencoba mengadvokasikan untuk segera menyusun rencana kontingensi kesehatan Dinkes Lumajang, karena dari hasil pengkajian sementara terhadap dokumen rencana kontingensi daerah Kabupaten Lumajang untuk ancaman gunung berapi (Gunung Lamongan), informasi yang dimuat sangat normatif dan kurang operasional, sehingga saat terjadi bencana yang mengakibatkan krisis kesehatan seperti kejadian erupsi Gunung Semeru ini, masih terjadi kepanikan dan kebingungan.

ahs ugm lumajang 2021 12 10 2

Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM “Serah terima Disaster Management Kit HEOC kepada Kepala Dinas Kab.Lumajang yang disaksikan perwakilan Dinkes Prov.Jawa Timur (kiri), Rapat koordinasi tim Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM (kanan)”

Pukul 19.00 WIB, tim manajemen dari lapangan melaporkan progress kegiatan dan situasi manajemen di HEOC Dinkes Sulteng kepada tim Pokja Bencana FK – KMK UGM dan AHS UGM secara virtual. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh tim maka penugasan tim manajemen sudah mencapai tujuannya selama satu minggu ini, dan karena sistem sudah mulai berjalan dengan baik maka setelah proses transisi selesai tim akan ditarik kembali ke Yogyakarta. Kajian kebutuhan sementara dari segi manajemen untuk skala jangka menengah dan panjang adalah Dinkes Kabupaten Lumajang membutuhkan pendampingan penyusunan rencana kontingensi (Dinkes Disaster Plan), dan ini bisa diberikan saat memasuki masa transisi setelah masa tanggap darurat selesai pada 3 Januari 2022 yang sebelumnya mungkin dapat didahului dengan AAR atau after action review.

Rencana Tindak Lanjut :

Tim akan kelapangan untuk cross cek data yang ada di Dinkes apakah sudah sesuai dengan implementasi di lapangan. Bersama dengan Tim Promkes Dinkes Lumajang dan Bidang Promkes Kemenkes akan berangkat menuju pos pengungsian di Puskesmas Candipuro dan Puskesmas Penanggal.

Reporter : Happy R Pangaribuan dan Gde Yulian Yogadhita

 

{slider title=”Sabtu, 11 Desember 2021″  class=”red” open=”true”}

Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Oleh Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM

 ahs ugm lumajang 2021 12 11 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Tinjau pos pengungsian Desa Candipuro di SMP 1 Candipuro (kiri) dan pos pengungsian Desa Penanggal di SD Penanggal (kanan)

Pagi hari pukul 05.00 WIB, Tim bersama dengan tim promkes dari Dinkes Kabupaten Lumajang dan Kemenkes berangkat ke pos pengungsian Candipuro dan Penanggal. Perjalanan menuju ke pengungsian kurang lebih 60 menit. Tim bergabung dengan tim promkes melakukan senam CTPS dan sosialisasi terkait PHBS di pos pengungsian Candipuro. Tim juga melakukan cross check dengan pengelola pos pengungsian mengenai relawan kesehatan yang bertugas di pos pengungsian apakah sudah sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh koordinator relawan dari dinas kesehatan. Tim juga secara langsung melihat dan mengamati apa yang menjadi kebutuhan pengungsi saat ini. Untuk ketersedian makanan, minuman, air bersih dan pakaian sudah cukup karena pengungsi diakomodasi dalam sebuah tempat bangunan sekolah yang layak, hanya memang kebersihan dan sanitasi untuk lebih ditingkatkan dan visibilitas ruangan yang menjadi pos pelayanan kesehatan untuk dapat diperjelas, diperbanyak tanda – tanda yang mengarahkan ke sana. Selanjutnya tim menuju pos pengungsian Penanggal. Di lapangan, tim bertemu dengan relawan kesehatan yang dimobilisasi dari organik puskesmas lain di Kabupaten Lumajang yang sedang bertugas pada saat itu. Relawan yang bertugas di pos pengungsian Penanggal sesuai dengan data yang tercatat di Tim Datin Dinkes Kabupaten Lumajang.

Di pos pelayanan kesehatan Balai Desa Penanggal ini, tim juga menempelkan alur registrasi relawan, alur penerimaan logistic kesehatan dan alur sistem pelaporan layanan kesehatan di pos pengungsian. Terlihat di pos pengungsian penimbuan bantuan pakaian. Menurut informasi yang didapat dari relawan kesehatan tidak banyak pengungsi yang membutuhkan pelayanan kesehatan, satu harinya hanya berkisar 2 sampai 10 orang saja.

ahs ugm lumajang 2021 12 11 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Cross check penugasan relawan dan penjelasan singkat terkait alur relawan dan logistik di pos pengungsian Penanggal (kiri) dan serah terima papan informasi Klaster Kesehatan kepada ibu Sekertaris Dinas Kesehatan dan Humas HEOC Dinas Kesehatan (kanan).

Siang hari tim kembali ke Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang dan menyampaikan bagaimana sinkronisasi data yang ada di dinkes dengan implementasi di lapangan. Dari sistem manajemen penempatan relawan dan pelaporan data kesehatan sudah mulai tertata dengan baik. Ini perlu dipertahankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang dan puskesmas. Selanjutnya tim melaporkan rencana kepulangan tim kepada Sekertaris Dinas Kesehatan dan Tim PSC Dinkes Kabupaten Lumajang yang bertugas menerima dan menempatkan relawan. Aturan baru di Dinkes, relawan yang baru datang bertugas dan yang akan pulang wajib melakukan swab antigen COVID-19 di dinkes.

Rencana Tindak Lanjut : serah terima laporan akhir (exit report) tim manajemen Pokja Bencana FK-KMK UGM dan Tim AHS UGM kepada Dinkes Kab. Lumajang.

Reporter : Happy R Pangaribuan dan Gde Yulian Yogadhita

 

{slider title=”Exit Report”  class=”blue” open=”true”}

EXIT REPORT

PENANGANAN ERUPSI GUNUNG SEMERU, KAB.LUMAJANG – DESEMBER 2021

 

Masa penugasan : 6 – 12 Desember 2021
Nama Tim   Pokja Bencana AHS UGM
Ketua tim : apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Peneliti Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM (08175450684 / [email protected])
Anggota tim :

Happy R Pangaribuan, MPH.

Endroyanto

Keberlanjutan penugasan : Selesai, dan tidak akan mengirimkan tim pengganti/ tambahan.
Lokasi penugasan : Pos Koordinasi Klaster Kesehatan (Health Emergency Operation Center – HEOC) Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang
Tujuan penugasan :
  1. Melakukan rapid health assessment
  2. Melakukan pendampingan pos koordinasi klaster kesehatan/ HEOC
Pejabat terkait yang ditemui :

Dinarasikan pada uraian kegiatan.

Catatan:

Laporan exit report ini akan dilengkapi dengan lampiran day-to-day activity terpisah yang hanya akan diberikan kepada dinas kesehatan. Laporan detail penugasan tim Pokja Bencana AHS UGM juga dapat diakses secara online melalui tautan https://bencana-kesehatan.net/index.php/59-halaman/reportase/4458-dukungan-tim-manajemen-kesehatan-untuk-letusan-gunung-semeru

Uraian Penugasan

1Melakukan rapid health assessment

Pengambilan data primer penilaian kaji cepat kesehatan di daerah terdampak bencana dilakukan di hari pertama penugasan dengan difasilitasi oleh dinas kesehatan propinsi dan kabupaten, relawan MDMC dan penilaian kaji cepat diperkuat dari data sekunder yang didapat dari laporan petugas kesehatan dan relawan kesehatan (tim EMT) yang bertugas di daerah terdampak.

  • Lokasi rapid health assessment
    • Penilaian kaji cepat dilakukan di ruang kendali HEOC dengan sasaran Puskesmas Penanggal, Puskesmas Candipuro, Puskesmas Pronojiwo, dan Puskesmas Pasirian, kemudian ke instalasi farmasi kabupaten.
    • Dari kaji cepat yang dilakukan pada tanggal tersebut, sekitar 100% dari tenaga puskesmas yang aktif datang ke faskes.
    • Protokol Kesehatan 90% tidak dilakukan karena promosi Kesehatan yang kurang gencar dilakukan, tidak adanya tempat cuci tangan atau hand sanitizer, dan sempitnya tenda pengungsian apalagi hujan di empat hari pertama setelah erupsi.
    • Masih banyak pengungsi yang membutuhkan layanan kesehatan namun tidak mau datang ke faskes karena sungkan, takut divaksinasi, dan lain – lain.
  • Rekomendasi rapid health assessment
    • Hasil kaji cepat dikomunikasikan ke petugas dan petugas terkait di dinas kesehatan propinsi dan kabupaten, kendala di bencana yang berkarakter massive media coverage dan multi access ini adalah melimpahnya informasi yang tidak tepat mengenai situasi dan kebutuhan di lapangan serta mudahnya akses ke daerah terdampak. Sehingga bantuan kesehaan baik sumberdaya manusia dan logistik melimpah di titik – titik yang mudah diakses oleh relawan. Sesi live report pertama yang ditayangkan di kanal Youtube FK – KMK UGM yang dapat diakses via tautan: https://www.youtube.com/watch?v=Crb5DZwO_aE memberikan gambaran tentang hasil assessment dari lapangan yang sudah dlakukan oleh tim sejauh ini. Instalasi farmasi kabupaten yang masih menyimpan obat rutin yang cukup untuk pelayanan Kesehatan dasar, 90% dari kapasitas Gudang sudah terpakai dan sulit untuk menyimpan barang bantuan berupa logistik medis.

2. Melakukan pendampingan pos koordinasi klaster kesehatan

  1. Lokasi pendampingan pos koordinasi klaster kesehatan
    Pos Koordinasi Klaster Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang (di ruangan Pisang Kirana, sebelah ruangan Sekdis dan Kadis) contact person dr Hani Setiawati sebagai Kasi Yankes Rujukan dan ibu Irmawati SSi sebagai Kasi Promkes yang juga ditunjuk sebagai spokesperson atau humas.

ahs ugm lumajang exit 1

Struktur HEOC DInkes Kabupaten Lumajang

  1. Rekomendasi pendampingan pos koordinasi klaster kesehatan
  • Sumber D Petugas pengelola pos koordinasi klaster kesehatan di dinas kabupaten terbatas, dukungan tenaga berasal dari PPK Regional/ Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur (Pak Sonny Oktafiano dan pak Dimas), Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI (dr Rakhmad Ramadhanjaya dan pak Dodi Hermawan) melengkapi dr Hani Setiawati dan Yana (Yankes Rujukan/PSC119), Ririn Fitriani, Aulia, Ratri (Penyusunan Program/sun-gram), apt.Sri Lestari (logistik), dan Irmawati (promkes) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang. Seperti yang sudah dipantau dalam grup komunikasi online WhatsApp, sumberdaya untuk melakukan pengelolaan klaster kesehatan terbatas, untuk mempermudah tim dalam melakukan pendampingan pos, maka telah disiapkan beberapa form sebagai berikut: (1)Form registrasi EMT di dinkes – fakses; (2)ID EMT di dinkes; (3)Laporan harian oleh EMT kepada Dinkes; (4)Form permintaan logistik medik ke dinkes; (5) Form penerimaan donasi medik oleh dinkes; (6) Form pendistribusian logistik medik dari dinkes ke faskes dan lain – lain. Dalam pengelolaan HEOC, tim UGM menginisiasikan adanya kolaborasi dengan relawan MDMC Jawa Timur yaitu pak Danny dan Ns.Neni. Lesson learnt:Tidak adanya rapat koordinasi harian klaster kesehatan kabupaten Lumajang menyebabnya banyak terjadi simpang siur informasi.
  • Pemetaan kapasitas. Hal pertama yang paling fundamental dalam melakukan pendampingan pos koordinasi klaster kesehatan adalah pemetaan kapasitas baik tenaga maupun lokasi layanan kesehatan. Tim membantu petugas pos koordinasi dalam melakukan pemetaan ulang struktur komando insiden gempa ini dengan petugas yang benar benar ada di lapangan dan bukan hanya karena jabatan yang melekat. Kemudian pemetaan pelayanan kesehatan dalam bentuk penyusunan peta respon untuk memvisualisasikan keadaan geografis kapasitas layanan kesehatan terhadap karakter topografi dan kerentanan penduduk yang berorientasi pada titik fasilitas layanan kesehatan, ada perbedaan perspektif dalam penyusunan peta respon dengan pejabat Kementerian Kesehatan namun ini segera dikomunikasikan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Yang kedua, pendataan registrasi relawan sebagai salah satu bentuk pendampingan klaster kesehatan. Lesson learnt: Peran PSC119 sangat krusial sebagai pusat pendataan relawan, namun mekanisme pendataan dan indicator yang dikumpulkan sebaiknya konsisten, informatif (jenis profesi lain – lain untuk dapat dihindari, lokasi dan durasi penugasan untuk dapat lebih detail dan diperjelas) dan untuk dapat selalu diupdate berkala.
  • Pengelolaan informasi. Tim mengimplementasikan manajemen pengetahuan dengan memfasilitasi alur pelaporan klaster kesehatan, sebanyak tiga dokumen rekapan dipublikasikan menggunakan spreadsheed, yaitu:
  • Lesson learnt:pentingnya untuk semua petugas yang memiliki fungsi di HEOC mendapatkan informasi terkait spreadsheet ini dan sosialisasi google form yang digunakan baik ke tim relawan yang bertugas maupun petugas puskesmas/pos kesehatan di pengungsian

Rekomendasi:

  1. Untuk jangka pendek sudah tidak diperlukan baik tim pelayanan Kesehatan dari AHS dan pokja bencana UGM maupun pendampingan yang intens dalam pengelolaan HEOC/klister Kesehatan karena kapasitas ad-hoc pengelolaan krisis Kesehatan di Kabupaten Lumajang baik di bagian sun-gram maupun PSC119 sudah terbangun dengan baik. Untuk jangka Panjang diperlukan pelatihan dan peningkatan kapasitas terkait penyusunan rencana kontingensi bencana atau krisis Kesehatan termasuk dengan penyusunan peta risiko dan peta respon bersama lintas sektor.
  2. Melakukan kolaborasi pentahelix dengan tenaga akademisi (KKN UGM, Universitas Muhammadiyah Jember, Poltekkes Malang, dan yang lain), organisasi profesi (IBI, IAI, IDI, PPNI), swasta dan organisasi non pemerintah (MDMC, MSF, PMI) dan lintas sektor (dinas sosial, TNI/Polri) dalam upaya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana selanjutnya.
  3. Melakukan dokumentasi dari proses pendampingan dalam bentuk live report maupun webinar agar permasalahan di lapangan dapat teridentifikasi dan segera dicarikan alternatif pemecahannya.

{/sliders}

Rumini Pilih Temani Bunda Saat Diterjang Erupsi Gunung Semeru, Keduanya Ditemukan Berpelukan

TRIBUNNEWS.COM, LUMAJANG – Korban bencana alam erupsi Gunung Semeru kini mulai ditemukan.

Dua diantaranya adalah Salamah seorang wanita lanjut usia dan anaknya, Rumini (28).

Salamah yang berusia 70 tahun ditemukan meninggal dunia dengan Rumin, posisi mereka dalam keadaan berpelukan.

Warga Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro ditemukan tewas di dapur rumah.

Mereka menjadi korban reruntuhan bangunan yang roboh

Legiman, adik ipar Salamah cerita, ketika Gunung Semeru erupsi semua orang lari berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.

Diduga, Salamah tidak sanggup berjalan karena faktor usia.

Sedangkan anaknya, Rumini tak tega meninggalkan ibunya seorang diri.

Sehingga keduanya ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berpelukan.

“Tadi pagi kan saya cari adik ipar sama ponakanku.

Pas bongkar rontokan tembok dapur terus tangannya kelihatan dan langsung kami bersihkan dan di bawa ke rumah untuk dimakamkan,” kata Legiman.

Dua anggota keluarga Salamah, kata dia, juga bernasib malang.

Suami dan anak Salamah mengalami luka cidera akibat reruntuhan bangunan rumah.

“Suami Rumini dan anaknya selamat, mereka sekarang dirawat di puskesmas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lumajang Bayu Wibowo mengatakan, total jumlah korban yang meninggal dunia terus bertambah.

“Untuk siapa-siapanya kami masih melakukan pendataan dan konfirmasi namanya beserta keluarganya,” pungkasnya.

Desa Supit Urang Luluh Lantak akibat Erupsi Semeru, Warga Minta Direlokasi

LUMAJANG – ‘Lindungilah hamba ya Allah’  Kalimat itu tertulis dalam coretan di jendela kaca salah satu rumah di Dusun Sumbersari Umbulan, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021).

Coretan tangan itu telihat jelas karena debu yang menempel di jendela kaca cukup tebal imbas terpaan awan panas dan abu vulkanik Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021).

Kepanikan warga

Kala itu sebelum kejadian, warga masih tenang meski tahu Gunung Semeru akan memuntahkan awan panas.

Biasanya, material awan panas memang melintas di kampung tersebut, tapi dalam kapasitas kecil melintasi Sungai Umbulan.

Sebab, awan panas biasanya lebih banyak melalui Sungai Curah Kobokan yang ada sebelah utara kampung tersebut.

Namun, warga mendadak panik. Aliran awan panas sangat besar dan cepat hingga melintasi ladang dan permukiman warga.

“Saya sempat melihat datangnya (awan panas). Waktu itu alirannya masih kecil. Kalau keluarga saya sudah mengungsi. Saya masih di sini melihat datangnya, tapi saya sedia motor buat kabur,” kata Ponidi (40), warga Dusun Sumbersari, Senin.

Umi Kulsum (48) warga lainnya mengatakan, awalnya, sekitar pukul 15.00 WIB, warga masih tenang dan tak ada kepanikan.

Warga langsung berhamburan masuk ke rumah ketika abu yang berasal dari muntahan Gunung Semeru membumbung dari atas.

“Awalnya biasa, tidak ada yang panik. Akhirnya datang abu. Orang-orang langsung lari masuk ke rumah. Kondisinya gelap akibat datang abu,” katanya.

Di rumah, Umi Kulsum mengaku sesak karena abu vulkanik juga masuk ke rumahnya. Listrik juga tiba-tiba padam sehingga kondisi menjadi gelap.

Dirinya keluar rumah ketika ada sedikit cahaya dan langsung menuju masjid setempat.

Di sana, warga sudah lalu lalang berhamburan. Warga berusaha keluar dari kampung tersebut untuk mencari tempat aman.

Kondisi luluh lantak

Awan panas turut membuat Dusun Sumbersari hancur. Ladang warga yang ada di pinggir aliran sungai ludes.

Rumah warga juga banyak yang hancur terendam lumpur dan diselimuti abu vulkanik. 

Ternak warga juga banyak yang mati. Sapi bergelimpangan di kandangnya tanpa sempat melarikan diri.

Barang-barang berharga tergeletak, sebagian tertimbun lumpur.

Saat kondisi mereda, warga memberanikan diri untuk menengok rumahnya, sembari menyelamatkan barang berharganya yang masih utuh.

Mereka tidak ingin menempati kampung itu lagi dan ingin direlokasi ke tempat yang aman.

“Sudah tidak aman dan ingin menempati yang lebih aman,” kata Toha (40).

Begitu juga dengan Ponidi. Dia sudah tidak ingin berada di kampung itu.

Menurutnya, jika masih berada di kampung tersebut, warga tetap dibayangi ancaman awan panas Semeru.

“Tidak menargetkan membuat yang bagus, yang penting ada tempat berteduh dan aman. Meski sederhana asal tidur nyenyak, kan nyaman,” kata Ponidi.

Saat ini, warga di kampung tersebut masih mengungsi. Mereka kembali ke rumahnya hanya untuk mengamankan barang-barang yang masih tersisa.

 

sumber: KOMPAS.com

Update Erupsi Gunung Semeru 2021: Daftar Daerah Terdampak Hujan Abu

sumber: tirto.id – Gunung Semeru mengalami erupsi pada hari Sabtu, 16 Januari 2021 pukul 17.24 WIB. Bahkan, ada lima kecamatan yang diguyur hujan abu vulkanik. Lima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Candipuro, Kecamatan Pasrujambe, Kecamatan Senduro, Kecamatan Gucialit, dan Kecamatan Pasirian, demikian seperti dilansir Antaranews.

Berikut adalah daftar nama, dusun, desa dan kecamatan yang terdampak langsung hujan vulkanik sebagaimana dilaporkan oleh Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo.

1. Kecamatan Candipuro

  • Dusun Kajar Kuning;
  • Desa Sumbermujur;

2. Kecamatan Pasrujambe

  • Dusun Munggir;
  • Dusun Sumberingin;
  • Dusun Tulusrejo;
  • Dusun Tawon Songo;
  • Desa Pasrujambe;
  • Desa Kertosari;
  • Desa Jambearum;
  • Desa Jambe Kumbu;
  • Desa Sukorejo.

3. Kecamatan Senduro

  • Desa Senduro;
  • Desa Burno;
  • Desa Kandangtepus;
  • Desa Wonocempokoayu;
  • Desa Ranupane;
  • Desa Pandansari;
  • Desa Kandangan;
  • Desa Bedayu.

4. Kecamatan Gucialit

  • Desa Sombo;
  • Desa Gucialit.

5. Kecamatan Pasirian

  • Desa Pasirian;
  • Desa Nguter.

Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dan pengungsi akibat erupsi tersebut. Status gunung masih pada Level II (Waspada), masyarakat/pengunjung/wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 4 km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, demikian dilaporkan laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Status ini akan selalu dipantau, mengingat potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

Apabila hujan, maka dapat terjadi lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak. Dengan terjadinya erupsi gunung Semeru ini, PVMBG mengimbau:

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yang berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

BPBD Lumajang sendiri telah mengakhiri masa tanggap darurat Gunung Semeru sejak 24 Desember 2020 lalu. Sebelumnya guguran awan panas Semeru Lumajang juga terjadi pada 1 Desember. Pada saat itu tidak ada korban jiwa namun 7 ekskavator terbawa lahar dingin di Curah Kobokan, menurut laporan BPBD Lumajang.

Erupsi Gunung Semeru, BNPB: 902 Warga Mengungsi

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendapat laporan dari BPBD Kabupaten Lumajang bahwa terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik akibat erupsi Gunung Semeru.

Abdul Muhari, pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan sebanyak 305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo, dengan rincian :

– SDN Supiturang 04:  80 orang
– Masjid Baitul Jadid Dsn. Supiturang: 50 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 3: 20 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 2: 35 orang
– Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng Desa Oro-oro Ombo: 20 orang
– Balai Desa Oro-Oro Ombo:  40 orang
– Balai Desa Sumberurip: 25 orang
– SDN Sumberurip 2: 25 orang
– Sebagian masyarakat mengamankan diri di rumah keluarganya di sekitar ketinggian Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus, Desa Oro-Oro Ombo.

Kemudian sebanyak 409 orang di lima titik balai desa di Kecamatan Candipuro. Yaitu balai desa Sumberwuluh; balai desa Penanggal; balai desa Sumbermujur; Dusun Kampung Renteng dan Dusun Kajarkuning, Desa Sumberwuluh.

Sebanyak 188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian. Yaitu balai desa Condro, balai desa Pasirian, masjid Baiturahman Pasirian, dan masjid Nurul Huda Alon-Alon Pasirian.

Menurut Abdul, kejadian sebaran awan panas guguran Gunung Semeru juga menyebabkan beberapa rumah warga tertutup material vulkanik serta jembatan Gladak Perak di Curah Kobokan yang menjadi akses penghubung Lumajang dan Malang terputus. “BPBD Kabupaten Lumajang menggunakan alat berat wheel loader untuk membuka akses jalan Curah Kobokan serta melakukan pendataan lanjutan terkait kerugian materil lainnya akibat peristiwa ini,” ujar Abdul dalam keterangannya, Ahad, 5 Desember 2021.

BPBD Ungkap Alasan Tak Ada Peringatan Dini saat Bencana Semeru

Merdeka.com – Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto mengungkap, alasan tak ada peringatan dini awan panas guguran (APG) Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang pada Sabtu (4/12). Menurutnya, aktivitas Gunung Semeru saat itu masuk kategori rapid-onset.

“Nah kebetulan ini kemarin kan awan panas guguran yang sifatnya rapid-onset. Jadi tiba-tiba. Kayak longsor, longsor itu juga bencana yang tiba-tiba, rapid-onset,” katanya kepada merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menyebut, ada dua kategori bencana, yaitu rapid-onset dan slow-onset. Bencana rapid-onset merupakan bencana yang terjadi secara mendadak sehingga tidak bisa diamati tanda-tandanya, seperti awan panas guguran.

Sedangkan bencana slow-onset ialah bencana yang terjadi perlahan dan dapat dilihat gejalanya, misalnya erupsi. Bencana slow-onset bisa diprediksi dan diikuti peringatan dini.

“Makanya saya bilang tadi, ini bukan erupsi. Kalau erupsi bisa diamati karena ada kegempaan yang meningkat, kemudian ada parameter-parameter yang bisa dilihat lainnya,” jelasnya.

Sementara ahli vulkanologi, Surono menilai, tak semua bencana harus disampaikan peringatan dini sebelum kejadian. Sebab, Gunung Semeru sudah menunjukkan tanda-tanda aktivitas jauh-jauh hari.

“Kalau tinggal di daerah rawan kan risikonya banyak sekali,” ujarnya.

Surono megibaratkan tinggal di kaki Gunung Semeru seperti hidup di tengah jalan tol. Masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah soal peringatan sebelum kecelakaan. Masyarakat seharusnya sudah tahu tinggal di tengah jalan tol bisa menjadi korban kecelakaan.

Menurutnya, bencana yang terjadi pada Gunung Semeru itu bukan aktivitas baru. Guguran kubah yang menghasilkan awan panas itu sudah sering terjadi. Bahkan, laharnya selalu melewati Besuk Kobokan.

“Sudah sering terjadi makanya Besuk Kobokan itu menjadi ajang pencarian pasir karena di situ-situ juga,” ucapnya.

Surono mendorong pemerintah Jawa Timur dan masyarakat terdampak awan panas guguran Gunung Semeru duduk bersama. Membahas jalan keluar bagi daerah yang rawan bencana Gunung Semeru.

“Kita evaluasi saja yang terdampak di situ tempatnya bahaya atau enggak. Kalau daerah bahaya ada jalan enggak untuk mengurangi risiko bahaya. Kalau enggak ada hanya satu pilihan relokasi, enggak usah marah-marah lah,” kata dia.

 

Peringatan Dini PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengaku telah mengeluarkan peringatan dini sebelum Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran pada Sabtu 4 Desember 2021. Peringatan itu dikeluarkan bersamaan dengan 69 gunung api aktif lainnya.

“Peringatan dini untuk bahaya erupsi gunung api sudah dilakukan bukan hanya di Semeru, tetapi juga di 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG melalui pemasangan peralatan pemantauan, serta pengamatan visual selama 24 jam,” kata Andiani kepada merdeka.com dalam pesan singkat, Senin (6/12).

Dia menjelaskan pada 1 Desember 2021 sudah terjadi guguran lava pijar di lereng Gunung Semeru. Bahkan, pada 2 Desember, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru sudah mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar Besuk Kobokan, Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Sarat, untuk mengantisipasi kejadian awan panas guguran.

15 Orang Meninggal

Jumlah korban meningggal dunia akibat guguran awan panas Gunung Api Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bertambah satu. Sehingga total keseluruhan menjadi 15 orang.

“Ada tambahan satu korban meninggal dunia, jadi total 15. Cuma tambahan satu belum dirilis,” kata Manager Pusat Pengendalian Ops Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Timur Dino Andalananto saat dihubungi merdeka.com, Senin (6/12).

Dino menjelaskan, peristiwa yang terjadi di Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) merupakan guguran awan panas . Bukan erupsi. Erupsi merupakan aktivitas gunung vulkanik aktif yang mengeluarkan gas dan lava dari lubang vulkanik.

Sementara guguran awan panas merupakan peristiwa ketika suspensi dari material gunung berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung berapi.

“Masih banyak yang belum memahami ini padahal kita sudah kasih pengertian di awal. Makanya di keadaan darurat itu kan awan panas guguran,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan 10 kecamatan terdampak dan 8 kecamatan terdampak debu vulkanik. Total jiwa dari 4 kecamatan terdampak yaitu 5.205 jiwa. Namun hanya 1.300 jiwa memilih untuk mengungsi di tempat pengungsian yang telah disediakan.

BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan, antara lain :

305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo dengan rincian :

– SDN Supiturang 04 ± 80 orang
– Masjid Baitul Jadid Dsn. Supiturang ± 50 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 3, ± 20 orang
– SDN Oro-Oro Ombo 2, ± 35 orang
– Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng Desa Oro-oro Ombo ± 20 orang
– Balai Desa Oro-Oro Ombo ± 40 orang
– Balai Desa Sumberurip ± 25 orang
– SDN Sumberurip 2, ± 25 orang
– Sebagian masyarakat mengamankan diri di rumah keluarganya di sekitar ketinggian Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus, Desa Oro-Oro Ombo.

409 orang di lima titik balai desa di Kecamatan Candipuro dengan rincian :

– Balai desa Sumberwuluh
– Balai desa Penanggal
– Balai desa Sumbermujur
– Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh
– Dusun Kajarkuning, Desa Sumberwuluh

188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian dengan rincian :

– Balai desa Condro
– Balai desa Pasirian
– Masjid Baiturahman Pasirian
– Masjid Nurul Huda Alon² Pasirian.

sumber: https://www.merdeka.com

BNPB usung konsep mitigasi bencana tsunami berbasis ekosistem

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengusung konsep mitigasi bencana tsunami berbasis ekosistem dengan merawat vegetasi mangrove untuk menjamin fungsi proteksi dalam jangka waktu hingga ratusan tahun.

“Salah satu pilihan dalam penanganan bencana adalah hidup berdampingan dengan bencana. Salah satunya dengan menanam mangrove, sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak dari terjangan tsunami,” kata Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, hidup berdampingan dengan bencana juga mengharuskan semua pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapinya, baik melalui infrastruktur maupun kultur, seperti pengetahuan tentang potensi risiko bencana sehingga mampu meminimalisasi dampak ketika bencana terjadi.

“Penanaman mangrove merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesiapsiagaan akan tsunami. Kemudian masyarakat diharapkan mengetahui apa yang harus dilakukan, sehingga kita bisa paham bagaimana menyelamatkan diri dari tsunami,” ujar dia.

Hal itu pula yang BNPB lakukan, dengan melakukan mitigasi berbasis vegetasi yang sejalan dengan kegiatan Rumah Zakat Indonesia di mana pada saat yang sama membina Desa Kembang di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, untuk dijadikan desa wisata berbasis “eco-tourism” melalui kawasan Watu Mejo Mangrove Park.

“Dengan adanya lahan mangrove Desa Kembang yang berlokasi di sepanjang bantaran Sungai Grindulu, maka jika terjadi tsunami yang masuk dari muara sungai, energi limpasannya dapat direduksi oleh keberadaan mangrove,” ujar dia.

BNPB, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten dan Kota se-Jawa Timur, DPRD Kabupaten Pacitan, unsur TNI dan Polri, forkopimda, Forum PRB Jawa Timur, dan Kabupaten Pacitan, organisasi kemanusiaan wilayah Jawa Timur dan Kabupaten Pacitan, kelompok relawan, perwakilan sekolah, madrasah, Pramuka dan perwakilan masyarakat desa pesisir selatan melakukan penanaman mangrove bersama pada Minggu (28/11).

Kegiatan yang juga ditujukan untuk memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia itu diawali dengan peresmian lokasi wisata Watu Mejo Mangrove Park oleh Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Wakil Bupati Pacitan Gagarin dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Budi Santosa, serta CEO Rumah Zakat Nur Effendi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Budi Sentosa mengatakan upaya penanganan yang dilakukan oleh berbagai pihak harus dimulai dari saat prabencana.

“Salah satunya dengan menanam mangrove, mangrove dapat mencegah abrasi laut, mengurangi gelombang tsunami dan dapat dimanfaatkan secara ekonomi,” katanya.

Vegetasi dapat mengurangi gelombang tsunami, maka dari itu diperlukan perawatan serta pemeliharaan setelah ditanam sehingga dapat berfungsi optimal jika bencana datang.

Seperti di Pantai Teleng Ria Kabupaten Pacitan, ia mengatakan sejak tahun 2010 sudah ada vegetasi cemara, ketapang dan trembesi di sepanjang pantai yang penting untuk dijaga, karena keberadaan vegetasi di sepanjang pantai bisa mereduksi tsunami dengan signifikan pada batas-batas tertentu.

Pemerintah daerah perlu memperhatikan kondisi vegetasi yang membentuk hutan pantai.

“Jika pada setiap batang pohon, jarak antara muka tanah dengan tinggi ranting pertama sudah lebih dari 1,5 meter, maka perlu ditanami vegetasi baru diantara tegakan yang sudah ada agar fungsi reduksi tsunami bisa optimal,” ujar dia.