Siaga Bencana, Menko PMK Upayakan Tambahan Dapur Umum

KEMENKO PMK — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa curah hujan meningkat di hampir seluruh wilayah Indonesia hingga 70% mulai November 2021 dan mencapai puncaknya di Januari-Maret 2022. La Nina diprediksi terus berkembang di Indonesia dengan intensitas lemah sampai sedang setidaknya hingga Februari 2022. 

Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh merupakan daerah yang kerap memiliki beberapa potensi bencana, seperti gempa, maupun bencana hidrometeorologi diantaranya banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengingatkan agar tiap level pemerintahan dan masyarakat melakukan tindakan antisipasi bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh La Nina. 

“Saya senang sekali hari ini dari seluruh kekuatan yang ada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh menunjukkan kesiapannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana. Yang sebetulnya ini tidak kita kehendaki, yang bisa saja terjadi menimpa kepada rakyat dan penduduk yang ada di sini,” ujarnya saat menjadi Pembina dan memberikan arahan di Apel Kesiapsiagaan Bencana La Nina di Halaman Kantor Wali Kota Sungai Penuh, Minggu (28/11). 

Pada apel tersebut, bertindak selaku Pemimpin Apel ialah Mayor Inf. Liswar, SH, Pamen Kodim 0417 Kerinci. Turut pula mengikuti apel Bupati Kerinci Adirozal dan Wali Kota Sungai Penuh Ahmadi Zubir.

Menko PMK menekankan, kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk meminimalisir risiko serta dampak yang tidak diinginkan. Sebagaimana dilaporkan, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh menjadi ‘langganan’ banjir dan dampaknya sawah di sana hanya mampu panen sekali dalam setahun. 

Selain itu, dalam rangka mempersiapkan kemungkinan terjadinya bencana alam yang memang seringkali terjadi tiap tahunnya, baik Kabupaten Kerinci maupun Kota Sungai Penuh, saat ini hanya memiliki satu dapur umum. 

“Itu nanti mesti saya bicarakan dengan kementerian terkait yang membidangi dan akan kita koordinasikan, termasuk kekurangan-kekurangan peralatan misalnya dapur umum yang saat ini hanya ada satu.  Terutama Kemensos untuk membantu pengadaan dapur umum,” tuturnya. 

Kerja Bersama 

Pada saat memberikan arahan di Apel Kesiapsiagaan Bencana, Muhadjir menekankan kerja sama semua pihak sangat diperlukan agar antisipasi bencana dapat lebih maksimal. Mulai level provinsi, kabupaten/kota diharapkan melakukan kesiapsiagaan di daerah, OPD Provinsi menyiapkan sumber daya, melakukan simulasi bencana kontijensi, serta menghimpun relawan dan dukungan lainnya untuk kesiapsiagaan. 

Pada level kabupaten/kota, yaitu melakukan sosialisasi daerah rawan bencana hidrometeorologi, memastikan tempat evakuasi, memastikan kesiapsiagaan, memastikan seluruh OPD siap sumber daya, dan melakukan aktivasi Pusdalops di BPBD. 

Pada level kecamatan/desa/kelurahan perlu memastikan kesiapan tempat evakuasi, melakukan sosialisasi informasi kepada masyarakat dengan protokol kesehatan, memperkuat desa/kelurahan tangguh bencana, juga melakukan simulasi mandiri sesuai rencana evakuasi yang sudah dibuat. 

“Pada level masyarakat yaitu harus memastikan masyarakat tangguh, informasi terkait kebencanaan benar-benar sampai. Tidak kalah penting harus dilakukan penguatan manajemen bencana mulai dari rumah, sekolah, tempat ibadah, pelayanan kesehatan, kantor, pasar, dan fasilitas-fasilitas umum yang ada,” papar Muhadjir. 

Ia pun berharap melalui Apel Kesiapsiagaan Bencana akan dapat mendorong upaya peningkatan antisipasi dan kesiapsiagaan hidrometeorologis serta mulai membudayakan kapasitas adaptasi dan tanggap bencana untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh. (*) 

sumber: https://www.kemenkopmk.go.id/siaga-bencana-menko-pmk-upayakan-tambahan-dapur-umum

Reboisasi Diyakini Efektif Meredam Bencana Banjir

Jakarta: Reboisasi diyakini dapat meredam bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor. Hal itu yang membuat Partai Gelora tergerak untuk aksi menanam 10 juta pohon di momen Hari Menanam Pohon Nasional.
 
Hal itu diungkapkan Ketua DPW Partai Gelora Indonesia DKI Triwisaksana, saat
melakukan aksi menanam 100 pohon produktif di Waduk Rawa Lindung Kecamatan Pesangrahan, Jakarta Selatan.
 
“Dengan anggota partai 25 ribu di DKI Jakarta dan setiap anggota menanam 20 pohon maka Partai Gelora DKI Jakarta di akhir tahun 2021 menargetkan berkontribusi menanam 500 pohon,” kata Triwisaksana.
 
Pria yang akrab disapa Sani ini menyebut aksi menanam pohon untuk mencegah banjir, mengurangi polusi, mengatasi krisis air, dan memperindah serta membuat lingkungan lebih asri dan lestari.
 
“Saya Ketua DPW bersama Ketua DPD se-DKI Jakarta dan para juru bicara partai alhamdulillah telah menanam 100 pohon di sekitar Waduk Rawa Lindung, Kecamatan Pesangrahan Jakarta Selatan. Mudah-mudahan memberikan manfaat dan keberkahan untuk kita semua khususnya warga Jakarta”, keterangan Triwisaksana.
 
Partai Gelora Indonesia secara nasional merencanakan menanam 10 juta pohon sampai tahun 2023. Aksi ini adalah kontribusi Partai Gelora Indonesia dalam melawan perubahan iklim.
 
Triwisaksana atau Bang Sani menyampaikan aksi menanam pohon Partai Gelora Indonesia DKI Jakarta ini adalah wujud kepedulian dan tawaran solusi Partai Gelora Indonesia DKI Jakarta terhadap persoalan lingkungan khususnya di Jakarta.
 
“Partai Gelora Indonesia adalah partai yang ingin mewujudkan kolaborasi dalam berbagi dan peduli di tengah-tengah persoalan masyarakat Jakarta, semoga ikhtiar ini mendapatkan sambutan hangat dari warga Jakarta”, pungkas Triwisaksana.

Ciamis Siap Siaga Hadapi Bencana Alam

Ciamis – Kabupaten Ciamis merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang rawan bencana alam. Untuk itu, Pemkab Ciamis melakukan apel siaga bencana di Halaman Pendopo Bupati, Senin (29/11/2021).

Unsur yang terlibat antara lain BPBD Ciamis, PMI, TNI-Polri, Tagana, relawan dari Rafi dan Orari. Sejumlah alat berat, kendaraan, armada pemadam kebakaran, ambulans dan penanganan bencana pun dicek dan dipersiapkan.

Selain apel, dilaksanakan juga latihan penanganan bencana longsor dan pohon tumbang. Serta melakukan penanganan penyelamatan terhadap korban bencana agar cepat saat melakukan evakuasi guna mendapat perawatan medis.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan sejumlah daerah di Kabupaten Ciamis termasuk dalam rawan bencana. Bencana yang sering terjadi di Ciamis adalah tanah longsor dan pergerakan tanah. Selain itu, banjir dan puting beliung kerap melanda sejumlah wilayah di Ciamis.

“Ini kesiapsiagaan kita, latihan ketika menghadapi kejadian bencana alam. Intinya untuk penyelamatan. Dalam penanganan bencana ini tidak hanya pemerintah, tapi semua elemen turut terlibat termasuk masyarakat,” katanya.

Herdiat mengatakan menurut prakiraan dari BMKG, kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi terjadi pada Oktober 2021 hingga Februari 2022. Untuk itu kewaspadaan harus ditingkatkan agar saat terjadi bencana bisa langsung dilakukan penanganan cepat.

Kondisi cuaca cukup ekstrem intensitas hujan cukup tinggi. Diperkirakan dari Oktober hingga Februari. “Ciamis masuk salah satu daerah dengan rangking ketujuh dalam kerawanan bencana,” ucap Herdiat.

Bupati menyatakan kesiapan sarana dan prasarana secara umum dalam penanganan bencana sudah lengkap. Meski ada beberapa yang kurang dan harus dilengkapi.

“Anggaran juga sudah kami siapkan. Intinya semua pihak harus bahu-membahu menjadi garda terdepan dalam menangani bencana alam,” kata Herdiat.

Bincang Radio Edukasi untuk Masyarakat Mengenai Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Alam dan Pandemi di Sulawesi Tengah

Kerangka Acuan Kegiatan

Bincang Radio

Edukasi untuk Masyarakat Mengenai Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Alam dan Pandemi di Sulawesi Tengah

Kerjasama antara

Caritas Germany dan PKMK FK-KMK UGM) bersama Pemerintah Sulawesi Tengah

 

Pengantar

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK-KMK) UGM telah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dalam penanggulangan bencana dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan sejak 2018. Kegiatan yang dilakukan adalah pendampingan klaster kesehatan pada respon tanggap darurat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi sejak hari 4 kejadian. Di masa transisi tanggap darurat pada April 2019 mulai melakukan upaya pendampingan penyusunan Dokumen Disaster Plan untuk Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Sigi, termasuk rumah sakit Torabelo, Puskesmas Marawola dan puskesmas terdekat. Pada pandemi COVID-19 awal 2020 melanjutkan perluasan upaya pendampingan kesiapsiagaan penanggulangan bencana untuk Kota Palu dan Kabupaten Sigi, yang meliputi dinas kesehatan, puskesmas dan rumah sakit. Tidak hanya itu, untuk mendukung keberlangsungan kegiatan maka perluasan kerjasama dilakukan dengan melatih fasilitator disaster plan yang berasal dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako dan Universitas Al-Khairat.

 

Kegiatan ini telah menginspirasi daerah – daerah lain untuk belajar ke Sulawesi Tengah dalam hal penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Meski demikian, upaya publikasi juga harus dilakukan lebih luas ke lintas sektor dan masyarakat Sulawesi Tengah Sendiri. Harapannya, masyarakat luas mengetahui, mendukung dan terlibat dalam upaya penanggulangan bencana dan krisis kesehatan hingga ke tingkat keluarga.

 

Agar sosialisasi kegiatan dan edukasi dapat mencakup masyarakat Sulawesi Tengah maka dipilihkan radio sebagai salah satu media. Seluruh aktivitas dan pengetahuan yang akan dipublikasi ke masyarakat dirangkum menjadi empat bahasan sebagai berikut:

  1. Peran masyarakat dan keluarga dalam mendukung program kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas
  2. Pelibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam upaya rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan, termasuk dukungan psikologis
  3. Pemanfaatan kapasitas relawan kesehatan “Nagasi” untuk penanganan krisis kesehatan pandemi COVID-19 gelombang kedua
  4. Adaptasi baru perubahan perilaku masyarakat dan sikap kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana dan krisis kesehatan

 

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi program kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Sulawesi Tengah, baik di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas kepada masyarakat luas, dengan harapan masyarakat hingga ke tingkat keluarga dapat mendukung dan menguatkan diri serta keluarga.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini dilakukan melalui siaran radio. waktu siaran dipilih waktu prime time. narasumber berasal dari instansi pemerintah, NGO, dan selebgram di Sulawesi Tengah, serta pelibatan pakar terkait.

 

Peserta Kegiatan

Masyarakat yang pada saat kegiatan sedang mengudara melalui siaran radio MS. Capaian yang menonton rekaman kegiatan di media sosial MS dan PKMK FK-KMK UGM.

 

Output Kegiatan

Empat kali kegiatan talkshow radio dan laporan interakif pada saat siaran.

 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Hari/Tanggal   : Jumat, 26 November – 3, 10 dan 17 Desember 2021
Waktu              : 16.00 – 17.00 WITA
Tempat            : MS Radio, Jl. Masjid Raya No.9A, Palu, Sulawesi Tengah

Jumat, 26 November 2021
Topik 1 Narasumber

Kesiapsiagaan penangguangan bencana ditingkat keluarga (Family disaster preparedness planning)

 

PKMK FK-KMK UGM

1. dr Bella Donna, M.Kes Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM

2. Apoteker Gde yulian, Peneliti Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM

 

Jumat, 3 Desember 2021
Topik 2 Narasumber
Peran masyarakat dan keluarga dalam mendukung program kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas
  • Erywahyuningtias, SKM, MAP – Kepala Seksi Bidang Kesiapsiagaan UPT P2KT Dinas Kesehatan Provinsi, Sulawesi Tengah
Jumat, 10 Desember 2021
Topik 3 Narasumber
Pemanfaatan kapasitas relawan kesehatan “Nagasi” untuk penanganan krisis kesehatan pandemi COVID -19 gelombang kedua Wakil Walikota Kota Palu/ Inisiator Relawan Nagasi,
Jumat, 17 Desember 2021
Topik 4 Narasumber
Adaptasi baru perubahan perilaku masyarakat dan sikap kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana dan krisis kesehatan
  • Direktur Klinik Agung/ Dokter Preneur – dr. Ryzka, M.Kes
  • Selebgram/ influencer

 

Draft daftar pertanyaan

 

Topik 1 Pertanyaan:

Kesiapsiagaan penangguangan bencana ditingkat keluarga (Family disaster preparedness planning)

 

  • Apa program kerja yang dilakukan oleh PKMK FK-KMK UGM yang didukung oleh Caritas Germany selama ini di Sulawesi Tengah?
  • Apa itu kesiapsiagaan bencana dalam keluarga?Mengapa keluarga harus siapa?
  • Apa tugas anggota keluarga dalam program kesiapsiagaan bencana dalam keluarga ini?
  • Family disaster kit itu apa saja dan apa saja isi dari tas bencana ?
  • Jika keluarga sudah siap apakah ada kaitannya dengan kesiapsiagaan bencana daerah? Seperti daerah memiliki BPBD, Dinkes, RS dan Puskesmas yang berperan untuk penanggulangan bencana sector kesehatan.
Topik 2 Pertanyaan
Peran masyarakat dan keluarga dalam mendukung program kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas
  • Progam apa yang telah dikerjakan oleh dinas kesehatan provinsi bekerjasama dengan PKMK FK-KMK UGM dan Caritas Germany ini?
  • Siapa yang terlibat dalam program tersebut selama ini?
  • Apakah masyarakat perlu dilibatkan?
  • Mengapa masyarakat perlu dilibatkan dalam program tersebut?
  • Apa yang diharapkan oleh masyarakat setelah mengetahui program ini dan terlibat?
Topik 3 Pertanyaan
Pemanfaatan kapasitas relawan kesehatan “Nagasi” untuk penanganan krisis kesehatan pandemi COVID-19 gelombang kedua
  • Selama masa pandemi COVID-19 ini, berapa banyak relawan yang sudah terbentuk atau diketahui oleh narasumber? dan apa yang mereka kerjakan.
  • Apa itu relawan nagasi? bagaimana awal terbentunya dan kerjanya?
  • Apa pencapaian relawan Nagasi sejauh ini?
  • Bagaimana cara masyarakat untuk memanfaatkan layanan relawan Nagasi ini?
  • Apakah relawan nagasi juga bersiap untuk kemungkinan adanya gelombang ketiga COVID-19?
Topik 4 Pertanyaan
Adaptasi baru perubahan perilaku masyarakat dan sikap kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana dan krisis kesehatan
  • Sudah dua tahun pandemi COVID-19 ini, dari sisi perilaku masyarakat, apa perubahan perilaku masyarakat atau adaptasi yang terlihat?
  • Apa yang masih kurang atau perilaku yang masih keliru dalam menghadapi pandemi covid sejau ini?
  • Bagaimana perilaku kesehatan yang seharusnya selama pandemi ini?
  • Apa upaya dan peran swasta dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sejauh ini dan ke depannya?
  • Apa peran dan upaya influencer dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sejauh ini dan ke depannya?

 

 

Post Forum Nasional II Filantropi Kesehatan Pendanaan Kesehatan di Kala Bencana: bagaimana peranan filantropi?

Situasi bencana/ pandemic Covid-19 yang terjadi saat ini, membuat kitaharus menyiapkan lebih awal segala kebutuhan dalam penanganannya. Kebutuhan bukan hanya untuk SDM dan ralatan saja tetapi yang sangat penting juga adalah menyiapkan anggaran untuk kebutuhan tersebut secepatnya dan fleksibel.

Dalam kesiapan untuk menghadapi bencana yang mungkin terjadi, timbul pertanyaan, “Bagaimana rumah sakit menyiapkan anggaran untuk menghadapi bencana? Apakah donasi filantropi dapat diharapkan dalam kejadian bencana?” Guna menjawab pertanyaan ini, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bekerjasama dengan Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) akan menyelenggarakan workshop Post Forum Nasional II Filantropi Kesehatan yang bertajuk Pendanaan Kesehatan di Kala Bencana: bagaimana peranan filantropi?

Selengkapnya

Memajukan Ketahanan Sistemik Terhadap Perubahan Iklim

 Pandemi COVID-19, dengan mortalitas dan morbiditasnya yang mengejutkan, telah berdampak di semua aspek kehidupan dan memicu penurunan tersinkronisasi terbesar dalam PDB global yang pernah tercatat. Negara – negara tidak siap menghadapi krisis keamanan kesehatan yang begitu akut dan meluas. Kondisi darurat kesehatan masyarakat ini telah mengajarkan kita bahwa sistem perawatan kesehatan kita tidak dapat mengatasi banyak krisis secara bersamaan. Risiko peracikan dapat memperburuk krisis kesehatan yang menantang dengan mengalikan dampak awal. Pandemi telah membuka fakta batas kapasitas perawatan kesehatan, kesenjangan sosial, kerentanan kelompok terpinggirkan, orang tua, dan mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya. COVID-19 bahkan menghantam negara – negara kaya di Eropa, memperlihatkan kelemahan inheren dalam kapasitas perawatan kesehatan mereka dan respons terhadap krisis ini. Perubahan iklim adalah salah satu ancaman utama kesehatan masyarakat secara global. Frekuensi, durasi, dan/atau tingkat keparahan kejadian ekstrem di Eropa juga diproyeksikan meningkat, termasuk badai, hujan deras, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, atau kenaikan permukaan laut, yang dapat mengakibatkan rangkaian kejadian yang menghasilkan suksesi sistem. Misalnya, kenaikan permukaan laut menimbulkan risiko bagi permukiman di zona pesisir dataran rendah; banjir menimbulkan risiko bagi infrastruktur penting, terutama jika hal itu mempengaruhi responden pertama dan menghambat kemampuan penyelamatan mereka; dan curah hujan yang tinggi dapat membanjiri sistem pengolahan dan distribusi air yang mengakibatkan wabah yang ditularkan melalui air skala besar. Dengan demikian, episode cuaca ekstrem dapat memicu dampak berjenjang, melalui rangkaian peristiwa sekunder dalam sistem alam dan manusia yang dapat mengakibatkan gangguan fisik, alam, sosial atau ekonomi karena kerentanan masyarakat yang ada. Bahkan bahaya iklim yang relatif kecil dapat mengakibatkan serangkaian peristiwa hilir ketika risiko terkait secara kausal, dengan yang satu memicu yang berikutnya. Ini berpotensi menghasilkan urutan kegagalan sistem yang tidak terduga dengan konsekuensi kesehatan masyarakat utama yang tidak perlu sebanding dengan pemicu awal.  Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di The Lancet Regional Health

Selengkapnya

Pertimbangan Untuk Membangun Sistem Perawatan Kesehatan yang Tangguh di Eropa

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak masalah etika sistem perawatan kesehatan publik menjadi perhatian publik. Terlepas dari sejumlah besar literatur yang tersedia tentang masalah etika dalam pandemi, wawasan ini sejauh ini belum terintegrasi secara luas ke dalam kesiapsiagaan sistem kesehatan, yang mengarah ke berbagai masalah etika yang serius selama pandemi. Dalam makalah ini, empat masalah etika utama dibahas, yaitu 1) distribusi sumber daya yang langka; 2) etika penelitian; 3) ketimpangan struktural; dan 4) solidaritas dan kohesi sosial. Analisis ini mengacu pada Jerman sebagai studi kasus dan pengalaman penulis dalam pembuatan kebijakan kesehatan Jerman selama pandemi. Untuk menggarisbawahi pelajaran ini dan untuk melanjutkan perdebatan seputar pendekatan praktis untuk mengintegrasikan etika ke dalam sistem perawatan kesehatan secara lebih berkelanjutan di masa depan, peneliti merenungkan empat masalah etika utama: 1) distribusi sumber daya yang langka; 2) etika penelitian; 3) ketimpangan struktural; dan 4) solidaritas dan kohesi sosial. Sejak awal 2020, salah satu penulis (A.B.) telah menjadi Ketua Dewan Etik Jerman, yang memberi nasihat kepada pemerintah dan politik Jerman secara berkelanjutan dan telah mengeluarkan beberapa pernyataan selama pandemi. Pihaknyajuga memiliki berbagai, sebagian ad hoc, peran penasihat untuk masin g -masing kementerian, badan pemerintah dan politisi. Jerman dengan demikian studi kasus ini; dan sebagian besar diskusi kita didasarkan pada keterlibatan langsung – jika terbatas – dalam pembuatan kebijakan kesehatan Jerman. Pada saat yang sama, peneliti berharap kontribusi ini dapat menjadi pelajaran bagi negara dan wilayah lain. Keempat isu tersebut dipilih karena kepentingannya yang berkelanjutan dalam pembuatan kebijakan Jerman selama pandemi; relevansi yang dirasakan untuk ketahanan sistem perawatan kesehatan di masa depan; dan keahlian serta pengalaman khusus tim peneliti. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal The Lancet Regional Health Europe

Selengkapnya

Emy Akui P-Care BPJS Kesehatan Percepat Proses Vaksinasi

Jakarta, CNN Indonesia — Salah seorang warga Kota Palangkaraya, Emy Sudarmi (63) mengaku mendapat pengalaman menyenangkan saat mengikuti vaksinasi Covid-19. Dua kali disuntik pada Agustus dan September lalu, proses vaksinasi Emy berjalan mudah dan cepat.

Kedua dosis vaksin itu didapat Emy di Puskesmas Pahandut, Palangkaraya. Dia mengetahui informasi vaksinasi dari kantor tempat anaknya bekerja. Begitu mendengarnya, Emy segera mendaftarkan diri.

“Setelah sampai di puskesmas, saya langsung mendaftar dan mengisi formulir vaksinasi, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh petugasnya. Yang saya rasakan proses pendaftaran dan pendataan orang yang akan divaksin di sini sangat cepat, hanya sekitar 30 menit saya sudah selesai menerima vaksin pertama,” kata Emy.

Kemudahan juga dirasakan Emy saat mengikuti vaksinasi dosis kedua. Saat itu, dia sempat bertanya kepada salah seorang petugas tentang pelayanan yang cepat, dan mendapat jawaban soal aplikasi P-Care, yang dapat digunakan masyarakat luas untuk menjaga akuntabilitas pada administrasi klaim Covid-19.

“Biasanya kalau ada formulir manual pencatatannya juga manual sehingga lama, tapi ini kok cepat. Kata petugasnya karena proses pendataannya menggunakan aplikasi P-Care Vaksinasi yang sudah terhubung dengan data di Kementerian Kesehatan, jadinya ya cepat,” kata wanita yang juga sudah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS segmen penerima pensiunan ini

Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

JAKARTA – Rincian iuran BPJS Kesehatan terbaru 2021 mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 tentang jaminan kesehatan.

Dengan demikian iuran BPJS Kesehatan mengalami perubahan terutama di kelas III. Iuran BPJS Kesehatan pada peserta mandiri kelas III sejumlah Rp42.000 per bulan.

Di tahun ini peserta BPJS Kesehatan kelas III akan diberikan subsidi sebesar Rp7.000, sehingga peserta kelas III hanya membayar Rp35.000.

Subsidi tersebut lebih kecil dibanding sebelum ditetapkan Perpres Nomor 64 Tahun 2020 yaitu sebesar Rp16.500.

Dan berikut daftar iuran BPJS Kesehatan di tahun 2021:

Peserta Mandiri Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP):

– Kelas I: Rp 150.000

– Kelas II: Rp 100.000

– Kelas III: Rp 35.000

Pekerja Penerima Upah (PPU) atau karyawan:

– Pekerja membayar iuran BPJS Kesehatan sebesar 1 persen dari total gajinya

– Pemberi kerja/perusahaan membayar iuran 4 persen dari total gaji pekerja/karyawan

– Batas atas/gaji maksimal yang diperhitungkan Rp 12 juta

Pertimbangan Untuk Membangun Sistem Perawatan Kesehatan yang Tangguh di Eropa

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak masalah etika sistem perawatan kesehatan publik menjadi perhatian publik. Terlepas dari sejumlah besar literatur yang tersedia tentang masalah etika dalam pandemi, wawasan ini sejauh ini belum terintegrasi secara luas ke dalam kesiapsiagaan sistem kesehatan, yang mengarah ke berbagai masalah etika yang serius selama pandemi. Dalam makalah ini, empat masalah etika utama dibahas, yaitu 1) distribusi sumber daya yang langka; 2) etika penelitian; 3) ketimpangan struktural; dan 4) solidaritas dan kohesi sosial. Analisis ini mengacu pada Jerman sebagai studi kasus dan pengalaman penulis dalam pembuatan kebijakan kesehatan Jerman selama pandemi. Untuk menggarisbawahi pelajaran ini dan untuk melanjutkan perdebatan seputar pendekatan praktis untuk mengintegrasikan etika ke dalam sistem perawatan kesehatan secara lebih berkelanjutan di masa depan, peneliti merenungkan empat masalah etika utama: 1) distribusi sumber daya yang langka; 2) etika penelitian; 3) ketimpangan struktural; dan 4) solidaritas dan kohesi sosial. Sejak awal 2020, salah satu penulis (A.B.) telah menjadi Ketua Dewan Etik Jerman, yang memberi nasihat kepada pemerintah dan politik Jerman secara berkelanjutan dan telah mengeluarkan beberapa pernyataan selama pandemi. Pihaknyajuga memiliki berbagai, sebagian ad hoc, peran penasihat untuk masin g -masing kementerian, badan pemerintah dan politisi. Jerman dengan demikian studi kasus ini; dan sebagian besar diskusi kita didasarkan pada keterlibatan langsung – jika terbatas – dalam pembuatan kebijakan kesehatan Jerman. Pada saat yang sama, peneliti berharap kontribusi ini dapat menjadi pelajaran bagi negara dan wilayah lain. Keempat isu tersebut dipilih karena kepentingannya yang berkelanjutan dalam pembuatan kebijakan Jerman selama pandemi; relevansi yang dirasakan untuk ketahanan sistem perawatan kesehatan di masa depan; dan keahlian serta pengalaman khusus tim peneliti. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal The Lancet Regional Health Europe

Selengkapnya