Italia Banjir Bandang, Dua Orang Meninggal Dunia

Jakarta, CNN Indonesia — Wilayah Sisilia, Italia, diterjang banjir bandang menyebabkan dua orang meninggal dunia. Banjir ini menutupi berbagai jalan di Catania.

Situasi banjir di daerah itu sangat kritis, menurut pejabat pemerintah yang berbasis di Catania, Giuseppa Maria Spampinato pada CNN, Selasa (26/10). Spampinato menyatakan kalau jalan utama di kota itu Via Etnea, terendam banjir.

Pada Senin (25/10), Departemen Perlindungan Sipil Italia memberikan peringatan darurat untuk bencana banjir yang terjadi di Sisilia dan Calabria. Peringatan ini juga diberikan pada Selasa (26/10) akibat potensi turunnya hujan lebat lebih lanjut.

Hujan lebat dan angin kencang tengah melanda wilayah selatan Italia sejak Minggu (24/10).

Beberapa daerah Italia dengan curah hujan tertinggi ialah Linguaglossa, Sisilia, sebanyak 520.4 millimeter dan Fabrizia, Calabria, sebanyak 440.2 millimeter.

Catania sendiri melaporkan curah hujan sebanyak 167 millimeter dalam sehari terakhir. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan curah hujan rata-rata daerah itu yang hanya 62,7 millimeter pada Oktober.

Akibat kondisi ini, Mayor Catania Salvo Pogliese menutup sekolah dan taman di daerah tersebut. Para warga juga dilarang mampir ke daerah yang rentan mengalami longsor dan wilayah pesisir.

Sementara itu, tim SAR Italia Vigili del Fuoco menyatakan bahwa pihaknya menerima 250 panggilan akibat cuaca buruk di Catania.

Mengutip Euro News, sebanyak dua orang meninggal dunia akibat banjir di Sisilia. Kabar ini dikonfirmasi oleh kepala daerah tersebut, Nello Musumeci. Tak hanya itu, ia menyampaikan ada satu orang yang hilang akibat banjir ini.

Musumeci juga menyampaikan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu alasan banjir parah ini terjadi.

“Perubahan iklim, kerentanan wilayah kami, dan kondisi instabilitas, yang kebanyakan disebabkan oleh intervensi manusia, adalah faktor yang, jika digabungkan, dapat menyebabkan efek mematikan, seperti yang kita lihat sekarang,” tambahnya.

Mengutip laman resmi Badan Lingkungan PBB (UNEP), banjir dapat disebabkan oleh pola cuaca yang kian ekstrim akibat masalah perubahan iklim.

Tak hanya itu, banjir juga rentan terjadi di dataran rendah yang dekat dengan pesisir dan sungai. Untuk daerah langganan banjir, seperti Jakarta, tak menutup kemungkinan banjir akan lebih sering terjadi.

Pakar ingatkan pemetaan lokasi rawan banjir perlu diintensifkan

Purwokerto (ANTARA) – Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air Universitas Jenderal Soedirman Yanto, Ph.D mengingatkan perlunya mengintensifkan pemetaan lokasi rawan banjir guna mendukung upaya pengurangan risiko bencana.

“Pemetaan yang akurat terkait lokasi rawan banjir atau prakiraan wilayah berpotensi terkena banjir sangat diperlukan, terutama di tengah peningkatan curah hujan seperti sekarang ini,” kata Yanto di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu.

Dia juga mengatakan prediksi banjir yang mendekati waktu nyata (near real time) juga perlu dibuat pada skala wilayah yang kecil, misal wilayah desa.

“Ini memang sulit, namun pemerintah melalui BMKG dengan perangkat teknologi yang dimilikinya dapat bekerja sama dengan para peneliti untuk menyusun model prakiraan banjir yang lebih mendekati waktu nyata,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, masyarakat yang mungkin berpotensi terdampak banjir memiliki waktu yang cukup untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan dari bencana tersebut.

Dia menambahkan bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan bahwa peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat meningkatkan kemungkinan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan angin kencang.

Terkait imbauan BMKG tersebut, kata dia, maka perlu penguatan mitigasi bencana guna meminimalkan risiko yang ditimbulkan, salah satunya dengan membuat pemetaan.

“La Nina adalah fenomena anomali suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada meningkatnya curah hujan, terutama di Indonesia,” katanya.

“Hal ini karena anomali suhu tersebut mengakibatkan meningkatnya massa air menguap dari Samudera Pasifik dan bertambahnya kecepatan angin yang membawa massa air tersebut ke arah Indonesia,” lanjutnya.

Dampak yang dapat dideteksi dari La Nina, kata dia, adalah meningkatnya curah hujan. Sementara itu curah hujan yang turun di Indonesia berfluktuasi dari waktu ke waktu.

“Sayangnya, hujan ekstrem tersebut tidak tersebar secara merata sehingga sulit untuk memperkirakan daerah mana yang akan mengalami banjir dan mana yang tidak,” katanya.

Wilayah yang di waktu-waktu sebelumnya tidak banjir, tambah dia, sangat mungkin terkena banjir pada tahun ini atau tahun-tahun mendatang karena variasi sebaran hujan ekstrem tersebut.

“Oleh karena itu, penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir, harus bersiap dengan kemungkinan bencana banjir, meski tahun-tahun sebelumnya tidak mengalami kejadian banjir,” katanya.

Banjir Sekadau Kalbar: 2.541 Rumah Terendam, Satu Meninggal

Jakarta, CNN Indonesia — Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat dilanda banjir akibat intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya Sungai Kapuas, Rabu (27/10).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau mencatat sebanyak 2.541 unit rumah terendam. Selain itu, satu orang juga dikabarkan meninggal dunia.

“Banjir yang terjadi di Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat mengakibatkan satu warga meninggal dunia,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Kamis (28/10).

Abdul juga mengatakan banjir berdampak pada sedikitnya 2.541 KK atau 8.430 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 571 KK atau 1.879 jiwa harus mengungsi.

Kepala BPBD Sekadau, Matius Jon menjelaskan debit air mengalami kenaikan signifikan sejak Sabtu (23/10) lalu.

Beberapa desa yang tergenang di Kabupaten Sekadau yakni Desa Mungguk, Desa Sungai Ringin, Desa Tanjung, Desa Merapi, Desa Seberang Kapuas dan Desa Penit yang berada di Kecamatan Sekadau Hilir. Kemudian Desa Belintang I dan Desa Belintang II di Kecamatan Belitang.

“Debit air mulai naik secara signifikan sejak tanggal 23 Oktober 2021,” ujar Matius dalam keterangan tertulisnya, Rabu (27/10).

“Hingga kini, ketinggian air rata-rata masih berkisar antara 2 – 2,5 meter dari permukaan tanah,” tambahnya.

Tim BPBD Kabupaten Sekadau saat ini tengah berkoordinasi dengan unit terkait untuk segera terjun ke lapangan. Langkah itu diambil untuk mendata dan melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak.”Melakukan evakuasi menggunakan perahu terhadap warga terdampak. Untuk hasil kaji cepat di lapangan akan terus dilaporkan guna mendapatkan informasi terkini,” ucapnya.

Selain itu, penanganan darurat juga segera dilakukan dengan mendirikan posko bencana serta memberikan bantuan logistik ke beberapa desa yang terdampak.

(yla/ain)

Banjir Rendam Ratusan Rumah dan Trans Sulawesi di Mamuju

TEMPO.COMamuju – Banjir akibat meluapnya Sungai Kalukku melanda sejumlah desa wilayah bagian utara Kecamatan Kalukku, di antaranya Desa Pokkang, dan juga merendam jalur jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin, 25 Oktober 2021.

Menurut warga setempat banjir tersebut sudah menjadi langganan ketika musim hujan, sehingga butuh perhatian pemerintah setempat. “Butuh dilakukan normalisasi sungai dengan tanggul atau drainase, agar ketika air sungai meluap tidak merendam permukiman warga,” kata Karmal, salah seorang warga.

Ia mengatakan banjir yang terjadi setiap musim hujan tersebut merugikan masyarakat, karena lahan pertanian warga terendam dan juga mengakibatkan ternak hanyut.

Dia berharap agar pemerintah dapat melakukan penanggulangan banjir, agar banjir tidak lagi menghantui masyarakat ketika hujan turun.

Hal senada dikatakan warga lainnya, Amri, bahwa masyarakat terus membersihkan rumahnya akibat genangan air dan lumpur setinggi lutut manusia.

“Banjir yang terjadi saat ini tidak hanya merusak rumah permukiman penduduk, namun merendam barang berharga milik masyarakat yang terdapat pada ratusan permukiman,” katanya pula.

Ia berharap banjir akibat meluapnya Sungai Kalukku tersebut dapat diantisipasi agar masyarakat tidak mengalami kerugian.

ANTARA

Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2020

irbi

irbi

Buku IRBI tahun 2020 memuat nilai indeks risiko bencana di tingkat kabupaten/ kota dan tingkat provinsi seluruh Indonesia. Provinsi yang berisiko paling tinggi yaitu Sulawesi Barat, Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung. Pada dasarnya komponen yang digunakan untuk memperoleh tingkat risiko bencana suatu kawasan dengan menentukan bahaya, kerentanan dan kapasitas. Metodologi pengkajian dilakukan dengan pengambilan data sampai penyajian hasil dari kajian risiko bencana dalam bentuk peta spasial. Data ini akan diolah menghasilkan indeks risiko bencana yang menjadi referensi penyusunan bahaya, peta kerentanan, peta kapasitas dan peta risiko bencana. Dalam klasifikasi data, data yang digunakan merupakan data bahaya, jiwa terpapar, kerugian, kerusakan lingkungan dan kapasitas pemerintah. Selanjutnya dilakukan pembobotan parameter per jenis bahaya (hubungan antara frekuensi kejadian dengan ada tidaknya peringatan, parameter kerentanan (indeks penduduk yang terpapar dalam jiwa, kerugian dan lingkungan) dan kapasitas (regulasi, kelembagaan, sistem peringatan dini, mitigasi, sistem kesiapsiagaan, dan lain – lain). Bagaimana IRBI seluruh provinsi Indonesia pada 2020

Selengkapnya

Mengurangi Efek Kesehatan dari Cuaca Panas dan Panas Ekstrem

Panas yang ekstrem (yaitu, gelombang panas) telah berdampak serius pada kesehatan manusia, dengan penuaan, kemiskinan, dan penyakit kronis sebagai faktor yang memperparah. Komunitas global berusaha untuk menghadapi cuaca yang lebih panas di masa depan sebagai konsekuensi dari perubahan iklim global, ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami tindakan pencegahan dan respons paling efektif yang dapat diterapkan, terutama di rangkaian sumber daya rendah. Dalam makalah seri ini, peneliti menjelaskan bagaimana ketergantungan masa depan pada AC tidak berkelanjutan dan semakin meminggirkan komunitas yang paling rentan terhadap panas. Peneliti kemudian menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih holistik tentang lingkungan termal di lanskap dan skala perkotaan, bangunan, dan individu mendukung identifikasi berbagai peluang berkelanjutan untuk membuat orang tetap sejuk. Peneliti merangkum manfaat (misalnya, efektivitas) dan keterbatasan dari setiap strategi pendinginan yang diidentifikasi, dan merekomendasikan intervensi optimal untuk pengaturan seperti panti jompo, daerah kumuh, tempat kerja, area publik, kamp pengungsi, dan olahraga. Integrasi informasi ini ke dalam rencana aksi panas yang dikomunikasikan dengan baik dengan pengawasan dan pemantauan yang kuat sangat penting untuk mengurangi konsekuensi kesehatan yang merugikan dari panas ekstrem saat ini dan di masa depan. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal The Lancet

Selengkapnya

Risiko Kesehatan Akibat Cuaca Panas dan Panas Ekstrem

Kondisi lingkungan yang panas dan stres panas terkait dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas, serta meningkatkan hasil kehamilan yang merugikan dan berdampak negatif pada kesehatan mental. Tekanan panas yang tinggi juga dapat mengurangi kapasitas kerja fisik dan kinerja motorik-kognitif, dengan konsekuensi pada produktivitas, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan kerja. Hampir setengah dari populasi global dan lebih dari 1 miliar pekerja terkena episode panas tinggi dan sekitar sepertiga dari semua pekerja yang terpapar memiliki efek kesehatan yang negatif. Namun, kematian berlebih dan banyak risiko kesehatan terkait panas dapat dicegah, dengan rencana tindakan panas yang tepat yang melibatkan strategi perilaku dan solusi biofisik. Peristiwa panas ekstrem menjadi fitur permanen musim panas di seluruh dunia, menyebabkan banyak kematian berlebih. Morbiditas dan mortalitas terkait panas diproyeksikan meningkat lebih lanjut seiring dengan kemajuan perubahan iklim, dengan risiko yang lebih besar terkait dengan derajat pemanasan global yang lebih tinggi. Khususnya di daerah tropis, peningkatan pemanasan mungkin berarti bahwa batas fisiologis yang terkait dengan toleransi panas (bertahan hidup) akan tercapai secara teratur dan lebih sering dalam beberapa dekade mendatang. Perubahan iklim berinteraksi dengan tren lain, seperti pertumbuhan populasi dan penuaan, urbanisasi, dan pembangunan sosial ekonomi, yang dapat memperburuk atau memperbaiki bahaya terkait panas. Suhu perkotaan lebih ditingkatkan oleh panas antropogenik dari transportasi kendaraan dan limbah panas dari bangunan. Meskipun ada beberapa bukti adaptasi terhadap peningkatan suhu di negara-negara berpenghasilan tinggi, proyeksi masa depan yang lebih panas menunjukkan bahwa tanpa investasi dalam penelitian dan tindakan manajemen risiko, morbiditas dan mortalitas terkait panas cenderung meningkat. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal The Lancet.

Selengkapnya

BNPB: Indonesia Jadi Laboratorium Bencana

Merdeka.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ganip Warsito mengatakan, Indonesia dengan beragam potensi kebencanaannya lebih layak disebut sebagai laboratorium bencana dan bukan supermarket bencana.

“Kita (Indonesia) sering disebut sebagai supermarket bencana. Sebutan ini mungkin kurang tepat. Indonesia lebih layak disebut laboratorium bencana, sehingga wajib untuk dipelajari untuk disiapkan langkah-langkah antisipasi dan pencegahannya,” katanya di Ambon, Rabu (20/10).

Menurutnya, semua potensi bencana ada di Indonesia mulai dari hidrometeorologi, vulkanologi, geologi, bencana sosial hingga non alam seperti pandemi Covid-19. Berbagai potensi bencana di Tanah Air itu harus dipelajari untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik.

Penegasan tersebut juga telah disampaikannya saat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Kota Ambon, Maluku, Selasa (19/10), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tahun 2021.

Ganip menegaskan, pengurangan risiko bencana menjadi sebuah investasi penting guna meminimalisasi dampak dari potensi ancaman bencana yang ada di Tanah Air. Adapun bentuk dari investasi PRB yang dimaksud adalah investasi struktural, kultural, sumber daya manusia (SDM), ilmu pengetahuan dan teknologi serta keuangan.

Investasi struktural yang dimaksud Ganip adalah melalui pembangunan infrastruktur berdasarkan kajian risiko bencana.

“Baik berupa bangunan tahan bencana maupun penanaman dan pemeliharaan vegetasi yang dapat menjadi buffer bagi jenis bencana tertentu seperti tsunami, maupun bencana hidrometeorologi,” jelasnya.

Investasi selanjutnya adalah kultural yang lebih mengarah kepada bagaimana mengubah paradigma masyarakat dalam penanggulangan bencana dari responsif menjadi preventif, katanya.

“Investasi kultural atau non-struktural ini dapat diupayakan melalui literasi kebencanaan, edukasi maupun sosialisasi, serta pengembanganya dapat dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal setempat,” terangnya seperti dilansir dari Antara.

Investasi pengurangan risiko bencana berikutnya adalah menyangkut bagaimana kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditingkatkan.

“Investasi sumber daya manusia ini pada dasarnya untuk membentuk karakter masyarakat yang tangguh bencana,” jelas Ganip.

Dalam pengurangan risiko bencana, investasi iptek juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Bentuk investasi ini adalah dengan menciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk monitoring, analisa dan asesmen dalam pengurangan risiko bencana.

Dengan kata lain, iptek juga dapat diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar maupun peneliti.

Sedangkan investasi terakhir yakni mengenai anggaran keuangan. Hal ini menyangkut investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana, sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asuransi bencana.

Melalui kuliah umum itu, Ganip juga mengajak kalangan kampus IAIN Ambon agar dapat lebih memaksimalkan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana, sebagaimana yang diintegrasikan ke dalam tri dharma perguruan tinggi.

“Sangat banyak kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dan perguruan tinggi dalam hal penanggulangan bencana, terutama dalam aspek pencegahan dan kesiapsiagaan, diantaranya adalah melatih kesiapan teknis perguruan tinggi, dalam menghadapi bencana,” katanya.

Melalui kesiapan teknis, maka pelatihan seperti kesiapsiagaan ketika terjadi gempa bumi, maupun latihan evakuasi korban pasca gempa terjadi dapat dilakukan dengan harapan seluruh warga kampus lebih tangguh dalam menghadapi bencana. [fik]

Tim Mahasiswa UNS Ciptakan Pembangkit Listrik di Daerah Rawan Bencana

RADARSOLO.ID – Berbagai bencana alam berpotensi terjadi di Tanah Air. Mayoritas adalah hydro meteorologi. Mulai dari tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya. Sekelompok mahasiswa ini membuat alat pembangkit listrik bagi daerah-daerah rawan bencana. Dengan memanfaatkan aliran air sungai. Seperti apa?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan terjadi 2.925 bencana alam sepanjang 2020. Semua bencana tidak jauh dari hydro meteorologi. Beberapa upaya mitigasi dilakukan. Salah satunya dengan pemadaman listrik di wilayah terdampak bencana. Biasanya PLN akan memadamkan listrik dalam beberapa kondisi.

Ambil contoh, adanya gardu listrik yang terkena guncangan tanah longsor atau banjir. Sehingga penduduk di daerah itu tidak bisa memanfaatkan fasilitas listrik lantaran pemadaman yang biasanya dilakukan secara mendadak. Maka wilayah terdampak bencana akan membutuhkan penyimpanan energi listrik yang cukup mewadahi. Apabila terjadi pemutusan arus listrik. Sekaligus memperoleh listrik yang didapatkan secara alternatif.

“Merespons fenomena itu, kami merancang alat pembangkit listrik yang bisa portable digunakan diaplikasikan pada daerah-daerah rawan bencana alam hydro meteorologi. Yakni pembangkit listrik drag type turbin. Dengan tenaga micro hydro berbasis teknologi ultra low head (ULH) stream,” ungkap Lana Alfirza, mahasiswa teknik mesin Universitas Sebelas Maret (UNS) kepada Jawa Pos Radar Solo.

Alat pembangkit listrik ini memanfaatkan penggunaan turbin tipe drag. Tujuannya, mewujudkan daerah rawan bencana yang tangguh energi. Pengaplikasiannya berada di daerah-daerah rawan bencana di Indonesia. Di Kota Solo dan sekitarnya, alat ini diaplikasikan di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Sudah ada salah satu percontohan desa di Indonesia. Tepatnya di Jambi. Di sana memang benar-benar bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di desa itu untuk dijadikan energi listrik. Seperti air dan sel surya dari panas matahari.

“Nah, kami ingin mewujudkan di Solo dan sekitarnya. Kenapa kita tidak menggunakan energi air yang melimpah. Di daerah pegunungan seperti di Lawu, Jenawi, Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Boyolali. Di sana mata air sangat melimpah. Kenapa tidak diaplikasikan turbin ini di sana?” bebernya.

Lana bersama dua rekannya, Muhamad Satya Ragil Kencono dan Muhammad Hadziq Munajih lantas membuat alat itu sebagai solusi untuk memanfaatkan energi air menjadi energi listrik. Harapannya, alat ini bisa dimanfaatkan oleh warga desa bila ada pemutusan aliran listrik.

Lana menyontohkan studi kasus di Jenawi. Di sana sering terjadi bencana tanah bergerak. Sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pemadaman listrik. Sedangkan di Jenawi ada potensi sumber daya air yang melimpah. Ini bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Maka alat ini cocok diaplikasikan di sana.

“Harapannya, apabila ada tanah bergerak di Jenawi, bisa mengaplikasikan alat ini. Untuk pembangkit listrik di sana. Setidaknya bisa menjadi penerangan bila warga ada evakuasi atau penyelamatan dini. Jadi tidak gelap-gelap amat saat malam hari terjadi bencana,” sambungnya.

Alat ini sudah diaplikasikan di Desa Bonglot, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Dengan potensi lebar sungai 0,5 meter. Kecepatan total arus mencapai 2,83 meter per second. Debit air total sebesar 99,2 liter per detik.

Mengapa menggunakan drag type turbin pada pembangkit listrik ini? Lana mengatakan, tipe ini adalah salah satu turbin yang efektif untuk bisa dikomparasikan pada alat serupa yang ada di Jepang. Lana mengaku aplikasi alat pembangkit listrik buatannya memodifikasi apa yang ada di Jepang.

“Nah kelebihannya, ada pada pengaplikasian teknologi ULH stream. Aliran sungai yang ada di Indonesia itu banyak sekali. Ini salah satu potensi yang melimpah. Kami merekayasa bagaimana memanfaatkan aliran yang ada di Indonesia dengan alat ini,” sambungnya.

Perbedaan alat ini dengan alat di Jepang, Lana mengklaim, dimensi yang dibuat lebih kecil dan lebih ramping. Selain itu, alat ini portable sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Termasuk didesain agar bisa dibongkar pasang sesuai keinginan dan kebutuhan pengaplikasian.

Teknologi ULH stream ini suitable dengan kontur atau sebaran aliran di Indonesia. Turbin tipe drag yang efisien berpotensi menghasilkan daya output yang lebih maksimal bila dibandingkan dengan alat di Jepang.

“Kami menggunakan drag type turbin ini bukan tanpa alasan. Karena efisiensi yang sangat maksimal dan daya output yang maksimal juga,” imbuhnya.

Soal paten hak kekayaan intelektual alat ini, Lana menyebutkan timnya sudah mendaftarkan paten terkait desain industri. Dengan demikian ada potensi alat ini bisa dikomersilkan. Dibanderol Rp 5 juta.

“Harapannya, alat ini bisa diaplikasikan di berbagai daerah. Terutama daerah rawan bencana. Agar menjadi daerah yang tangguh,” ujarnya. (*/bun)

India Dilanda Bencana Tanah Longsor dan Banjir, 25 Orang Tewas

TEMPO.COJakarta – Sedikitnya 25 orang tewas akibat tanah longsor dan banjir yang dipicu oleh hujan lebat di India barat daya pada Minggu, 17 Oktober 2021. Tim penyelamat masih mencari korban selamat di reruntuhan berlumpur.

Hujan lebat sejak Kamis malam membuat sungai meluap hingga membanjiri jalan. Akses ke sejumlah wilayah di negara bagian pesisir Kerala pun terputus akibat bencana.

Sebanyak 11 mayat ditemukan di distrik Idukki dan 14 lainnya di distrik Kottayam, menurut para pejabat kepada AFP. Wilayah tersebut dilanda tanah longsor dan banjir bandang.

Ribuan orang telah dievakuasi dan setidaknya 100 kamp bantuan didirikan, menurut Kepala Menteri Kerala Pinarayi Vijayan pada Minggu.

Tentara, angkatan laut dan angkatan udara membantu operasi penyelamatan dan memberi bantuan kepada korban banjir. Belum bisa dipastikan berapa banyak korban yang belum ditemukan. Dalam video yang beredar di media sosial, banjir merendam bus dan mobil.

Perdana Menteri Narendra Modi telah menyatakan ucapan belasungkawa untuk korban dan keluarganya. Pihak berwenang sedang bekerja membantu korban.

Departemen Meteorologi India mengatakan hujan lebat disebabkan oleh daerah bertekanan rendah di atas Laut Arab tenggara dan Kerala. Hujan diperkirakan akan reda hari ini.

Banjir besar pernah melanda India pada 2018. Hampir 500 orang tewas di Kerala ketika banjir terburuk dalam satu abad terakhir melanda negara bagian itu.