Jusuf Kalla Minta PMI Bersiap Hadapi Potensi Bencana yang Dipicu Perubahan Iklim

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meminta PMI bersiap menghadapi potensi bencana alam yang dipicu perubahan iklim. Meskipun tetap melakukan pelayanan di masa pandemi COVID-19 ini.

“Hari ini kita selalu mendengarkan bagaimana dahsyatnya COVID-19, tetapi menurut para ahli akan muncul bencana yang lebih besar lagi yaitu perubahan cuaca atau perubahan iklim,” kata Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Pengurus PMI DIY masa bakti 2021-2026 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Jumat (9/10/2021) malam.

Dia mengatakan bencana akibat perubahan iklim, seperti banjir, telah melanda sejumlah negara di benua Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan Afrika.
“Banjir, gempa bumi, dan bahaya-bahaya dari perubahan alam. Karena itulah di samping kita mengatasi masalah COVID-19 ini kita juga harus siap mengatasi bencana-bencana alam selanjutnya apabila ada,” ujar JK seperti dikutip dari Antara.

JK menegaskan PMI selalu berusaha bekerja dengan baik dan secepat-cepatnya membantu masyarakat sesuai prinsip kemanusiaan tanpa mempunyai batasan diskriminatif.

Antisipasi Bencana

Selain memberikan pertolongan, kata dia, para relawan PMI juga perlu hadir untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat mengenai mitigasi bencana.
“Harus juga memberikan mitigasi kepada masyarakat serta memberikan penjelasan kepada masyarakat, memberikan bantuan informasi kepada masyarakat. Karena hanya dengan bantuan itu kita dapat mencegah bahaya yang lebih besar,” kata dia.

Dengan kerja sama yang baik antara PMI Pusat dan PMI di tingkat daerah, ia berharap, dampak yang besar dari bencana-bencana yang mungkin terjadi itu bisa dihindari.
“PMI tidak ada artinya tanpa PMI di daerah sebagai ujung tombak mengatasi masalah di daerah,” kata dia.

Penelitian Awal Tentang Konsep Kota Spons untuk Pengurangan Banjir Perkotaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan pada masing – masing proyek percontohan untuk memahami bentuk desain utama dan konsep proyek sponge city concept (SCC) di China. Ini juga bertujuan untuk memeriksa sepuluh proyek percontohan di Shanghai untuk memperkirakan karakteristik utama mereka dan proses yang diperlukan untuk mengimplementasikan proyek SCC secara efektif. Enam jenis utama proyek SCC di antara 30 kota percontohan diklasifikasikan dalam penelitian ini untuk menemukan perbedaan dan persamaan di antara kota – kota percontohan. Empat metode desain spons diklasifikasikan ke dalam sepuluh proyek percontohan. Setelah membandingkan setiap ukuran proyek dengan menggunakan ukuran geografis yang sama, tiga tipe geometris dikategorikan ke dalam wilayah kota lama dan kota baru. Karakteristik proyek SCC dapat diidentifikasi dengan menggabungkan empat metode dan tiga tipe geometris dan program SCC dengan membandingkan perubahan penggunaan lahan dan lingkungan sekitar di sepuluh proyek percontohan.  Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di jurnal Emerald Insight, selengkapnya Selengkapnya

Media Sosial dan Kesiapsiagaan Darurat Saat Pandemi

Virus corona baru adalah penyebab pandemi global baru yang mengancam jutaan nyawa.  Saat ini, banyak metode berbagi informasi telah dimasukkan oleh platform media sosial raksasa yang memiliki kecepatan, jangkauan, dan penetrasi yang luar biasa. Lebih dari 2,9 miliar orang menggunakan media sosial secara teratur, dan banyak untuk jangka waktu yang lama. Pemahaman saat ini tentang bagaimana platform ini dapat dimanfaatkan untuk secara optimal mendukung tanggap darurat, ketahanan, dan kesiapsiagaan tidak dipahami dengan baik. Dalam artikel ini, penulis menguraikan kerangka kerja untuk mengintegrasikan media sosial sebagai alat penting dalam mengelola pandemi yang berkembang saat ini serta mengubah aspek kesiapsiagaan dan respons untuk masa depan.  Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di JAMA Network

Selengkapnya

Keterlibatan Warga dari Bawah ke Atas untuk Keadaan Darurat Kesehatan dan Manajemen Risiko Bencana

Pandemi COVID-19 telah menunjukkan bagaimana sindemi dan krisis yang berkepanjangan meningkatkan kerentanan masyarakat yang menghadapi risiko berjenjang dan peristiwa sekunder kompleks yang memperburuk risiko kesehatan dan beban mendasar penyakit menular dan tidak menular. Pandemi dimulai dan berakhir di masyarakat, dimana warga sering kali menjadi yang pertama mengamati perubahan lingkungan dan kesehatan hewan, dan yang pertama terpapar patogen baru atau yang muncul kembali. Pemangku kepentingan lokal memiliki peran penting dalam pencegahan dan pengendalian penularan penyakit, dan sering mengembangkan sistem perawatan kesehatan dan sosial yang sesuai berdasarkan pengetahuan lokal. Namun, pendekatan saat ini untuk manajemen risiko bencana seringkali tidak cukup mengenali dan melibatkan keahlian masyarakat. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal The Lancet

Selengkapnya

Kesiapan Dunia Pasca-COVID-19: Kasus Respons Bencana Pandemi dan Upaya Pemulihan Bersamaan di Kesehatan Masyarakat

Pemerintah di seluruh dunia fokus pada mitigasi dampak pandemi COVID-19 untuk menyelamatkan nyawa. Kurang perhatian diberikan pada perencanaan untuk pemulihan dan membangun “new normal“ (normal baru) di dunia pasca COVID-19 yaitu sebuah proses yang terdiri dari domain pemulihan dari siklus hidup bencana. Di tengah krisis kesehatan masyarakat yang berkembang ini, mungkin tampak terlalu dini atau bahkan berlawanan dengan intuisi untuk mulai secara aktif merencanakan pemulihan pasca pandemi dalam layanan dan sistem kesehatan masyarakat, namun sekaranglah waktunya. Siklus hidup bencana adalah proses melingkar yang dimulai dengan mitigasi, mengarah ke kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan, dan berputar kembali ke mitigasi. Di Amerika Serikat, Kerangka Pemulihan Bencana Nasional (National Disaster Recovery Framework/ NDRF) dari Badan Manajemen Darurat Federal (the Federal Emergency Management Agency/ FEMA) dengan tepat mencirikan waktu untuk memulai upaya perencanaan fase pemulihan yang bersamaan dengan permulaan kegiatan fase respons akut. Khususnya, “proses pemulihan paling baik digambarkan sebagai rangkaian kegiatan yang saling bergantung dan sering kali bersamaan yang secara progresif memajukan komunitas menuju pemulihan yang berhasil.” Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di Journal of Public Health Management and Practice.

Selengkapnya

Tantangan dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bahaya Tsunami di Pulau – Pulau Kecil yang Rawan Tsunami di Sumatera

 Enam belas tahun sejak tsunami Samudra Hindia 2004, yang menyebabkan kerusakan besar di sekitar Laut Andaman, masyarakat telah berpartisipasi dalam upaya mengurangi risiko tsunami di Indonesia. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah apakah upaya tersebut cukup dalam menghadapi risiko tsunami. Diantara tantangan yang paling mencolok disini adalah menjembatani kesenjangan dalam pengurangan risiko tsunami antara daratan Sumatera dengan masyarakat di beberapa pulau kecil. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terkini kota – kota terpilih di pulau – pulau kecil yang rawan tsunami dan mengidentifikasi hambatan – hambatan dalam kesiapsiagaan bahaya tsunami. Ini berfokus pada membandingkan upaya dalam hal fasilitas yang tersedia untuk rencana evakuasi tsunami dan perkiraan waktu kedatangan tsunami (estimated time of arrival/ ETA), yang dihitung berdasarkan model propagasi tsunami deterministik. Dalam kaitan ini, lima lokasi yang diamati tergolong dalam kondisi siaga tsunami kritis, yaitu Pulau Balai, Lahewa Pulau Nias, Sabeugunggung Pulau Pagai Utara, Surat Aban Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Enggano. Sebagian besar dari mereka memiliki ruang terbatas untuk evakuasi tsunami dan ETA tsunami pendek, yang merupakan kondisi ekstrem yang membutuhkan tindakan mitigasi tsunami segera. Salah satu pendekatan yang mungkin adalah membangun bangunan evakuasi tsunami vertikal atau memodifikasi bangunan yang ada yang dapat digunakan untuk evakuasi tsunami di pulau – pulau. Artikel ini juga menyoroti aspek sosial terkait kesiapsiagaan tsunami. Riset ini dipublikasikan pada 2020 di International Journal of Risk Reduction

Selengkapnya

Kepala BMKG Sebut Wilayah Cilacap Paling Rawan Bencana Tsunami

JawaPos.com–Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menilai, wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, paling rawan terhadap gempa bumi berpotensi tsunami dibandingkan dengan daerah lain.

”Cilacap ini ibaratnya suatu wilayah yang kotanya langsung berada di pantai. Beda ya, misalnya Purworejo, kotanya kan jauh dari pantai, Kebumen jauh dari pantai. Yang langsung di pantai dan aset nasional ada di Cilacap, ada Pertamina, ada PLTU, dan sebagainya, itu infrastruktur yang vital,” kata Dwikorita Karnawati seperti dilansir dari Antara di Cilacap, Senin (4/10).

Dwikorita mengatakan hal itu di sela kegiatan penyusuran jalur evakuasi dalam rangkaian peluncuran sistem peringatan dini tsunami berbasis frekuensi radio dan aplikasi Sirita (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert).

Jika terjadi sesuatu hal terhadap objek vital di Cilacap tersebut, kata dia, nasional akan lumpuh sehingga hal itu harus diamankan. Oleh karena itu, kegiatan penyusuran jalur evakuasi bencana tsunami tersebut juga melibatkan berbagai pihak seperti Pertamina, PT Solusi Bangun Indonesia (Semen Indonesia Group), PLTU, dan sebagainya.

”Jadi, kita kerja bareng. Peringatan dini atau mitigasi bencana itu akan sia-sia kalau kita kerja sendiri-sendiri,” ujar Dwikorita Karnawati.

Terkait dengan keberadaan jalur pipa dalam tanah milik Pertamina yang menjadi bagian jalur evakuasi bencana tsunami, dia mengatakan, demi keamanan, pihaknya menyarankan jalur tersebut lebih baik tidak dijadikan sebagai jalur evakuasi jika ada pilihan lain. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruk dari ancaman gempa megathrust berkekuatan lebih dari 8 skala Richter yang berpotensi terjadi di selatan Jawa.

”Jadi daripada gambling, nyawa jangan untuk gambling, tutup saja. Kan masih banyak jalur yang lain,” tegas Dwikorita Karnawati.

Terkait dengan keberadaan sirine peringatan dini bencana tsunami (early warning system/EWS), Dwikorita mengaku, pernah mendapatkan data jika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memasang ratusan sirine di berbagai wilayah Indonesia yang selanjutnya dihibahkan ke pemerintah daerah.

”Itu kami data, EWS yang sudah tidak berfungsi, itu puluhan, mungkin hampir 100 atau bahkan lebih, kenapa? Life time-nya sudah habis, dipasang sudah 10 tahun yang lalu dan biaya pemeliharaannya mahal, apalagi di Cilacap ini kan (kena) korosi,” jelas Dwikorita Karnawati.

Dengan demikian, kata dia, solusinya adalah menggunakan alternatif lain berupa sistem informasi peringatan dini tsunami berbasis frekuensi radio dan aplikasi Sirita berbasis Android.

Sementara itu, Wakil Bupati Cilacap Syamsul Aulia Rahman mengatakan, Cilacap merupakan salah satu daerah yang berpotensi terkena ancaman gempa megathrust berkekuatan 8,7 SR dan dapat mengakibatkan terjadinya gelombang setinggi 12 meter.

Menurut dia, simulasi dan penyusuran jalur evakuasi tersebut dilakukan bukan didasari harapan tsunami itu terjadi melainkan bagian dari kesiapsiagaan masyarakat jika bencana tersebut benar-benar terjadi. Terkait dengan sirine EWS tsunami yang rusak, dia mengatakan, suku cadang perangkat yang sebelumnya hibah dan saat sekarang dikelola Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat itu susah sekali diperoleh.

”Akhirnya kalau kita menganggarkan (untuk perbaikan) mungkin enggak ketemu lagi karena sudah puluhan tahun yang lalu. Saya setuju karena sekarang zamannya teknologi, kalau kita bisa memanfaatkan teknologi, tentunya ini akan lebih mudah,” ucap Syamsul.

BMKG Ingatkan Sembilan Daerah di NTT Terancam Bencana Kekeringan

bali.jpnn.com, KUPANG – Sembilan daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus meningkatkan kewaspadaannya terkait ancaman bencana kekeringan meteorologis.

Sembilan daerah berstatus awas kekeringan yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Lembata, dan Nagekeo.

Menurut Pelaksana Harian Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang BMKG Carolina Rommer di Kupang, Senin (4/10),

daerah-daerah berstatus awas kekeringan ini memiliki hari tanpa hujan dengan kategori ekstrem panjang yakni lebih dari 61 hari dengan persentase di atas 70 persen.

“Perlu kewaspadaan dari pemerintah daerah dan masyarakat terkait ancaman bencana kekeringan ini,” kata Carolina Rommer.

Menurutnya, ada sejumlah langkah antisipasi yang perlu dilakukan masyarakat di sembilan daerah itu.

Seperti menghemat penggunaan air bersih, mewaspadai kebakaran hutan dan lain.
“Selain itu kegiatan budidaya pertanian agar diupayakan yang tidak membutuhkan banyak air,” ujar Carolina Rommer.

Carolina menambahkan saat ini, zona musim di NTT masih berada dalam periode musim kemarau berdasar pemantauan awal musim kemarau per 30 September 2021.

Berdasar prakiraan, pada umumnya wilayah NTT diperkirakan akan mengalami curah hujan sangat rendah (kurang dari 20 mm/dasarian) dengan peluang 71-100 persen. (antara/lia/JPNN)

Duh! Covid Belum Reda, Bencana Lebih Hebat Akan Melanda Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Selain pandemi Covid-19, dunia kini juga menghadapi ancaman nyata yang sama bahayanya yakni perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim terjadi akibat meningkatnya emisi karbon sehingga meningkatkan tingkat suhu bumi. Tentunya, ini akan berdampak buruk bagi Bumi dan manusia.

Penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebutkan jika tidak ada perubahan, maka 95% permukaan laut Bumi menjadi tak layak huni pada 2100. Penelitian tentang perubahan iklim ini telah dilakukan sejak abad ke-18. Mereka pun memprediksi bagaimana emisi karbon mempengaruhi dunia pada 2021.

Sebagian besar kehidupan laut didukung oleh permukaan laut yang dicirikan oleh suhu air permukaan, keasaman, dan konsentrasi mineral arogonit yang dibutuhkan mahkluk laut guna membuat tulang atau cangkang.

Namun dengan meningkatnya tingkat CO2 (karbon dioksida) di atmosfer, setidaknya dalam tiga juta tahun, ada kekhawatiran suhu permukaan laut mungkin menjadi kurang bersahabat dengan spesies yang hidup di sana, seperti dikutip dari Nature World News, Sabtu (2/10/2021).

Laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral yang dibutuhkan bagi kehidupan laut untuk berkembang menjadikan laut tidak layanan huni bagi mahkluk laut.

Menurut penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, perubahan komposisi lautan sebagai akibat dari polusi karbon kemungkinan akan mempengaruhi semua spesies permukaan.

“Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat,” ujarnya.

Salah satu dampak perubahan iklim adalah matinya karang. Saat El Nino tahun 2016, air hangat mengancam terumbu karang di Great Barrier Reef (GBR).

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Tidak hanya itu, deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan.

Ini mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian, dan Badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian US$ 163,61 miliar.

Laporan tersebut menunjukkan tren yang semakin cepat, dengan jumlah bencana meningkat hampir lima kali lipat dari tahun 1970-an hingga dekade terakhir. Ini menambah tanda-tanda bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering karena pemanasan global.

WMO mengaitkan frekuensi yang meningkat dengan perubahan iklim dan pelaporan bencana yang lebih baik. Biaya dari peristiwa tersebut juga melonjak dari US$ 175,4 miliar pada 1970-an menjadi US$ 1,38 triliun pada 2010-an ketika badai seperti Harvey, Maria dan Irma melanda AS.

“Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas, dikutip dari Reuters.

Sementara bahaya bencana menjadi lebih mahal dan sering terjadi, jumlah kematian tahunan turun dari lebih dari 50.000 pada tahun 1970-an menjadi sekitar 18.000 pada tahun 2010. Ini menunjukkan bahwa perencanaan yang lebih baik telah membuahkan hasil.

“Sistem peringatan dini multi-bahaya yang ditingkatkan telah menyebabkan penurunan angka kematian yang signifikan,” tambah Taalas.

Namun lebih dari 91% dari 2 juta kematian terjadi di negara berkembang. Ini mencatat bahwa hanya setengah dari 193 anggota WMO yang memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya. Petteri Taalas juga mengatakan bahwa “kesenjangan yang parah” dalam pengamatan cuaca, terutama di Afrika, merusak keakuratan sistem peringatan dini.

WMO berharap laporan tersebut akan digunakan untuk membantu pemerintah mengembangkan kebijakan untuk melindungi masyarakat dengan lebih baik.

Jika Suhu Bumi Memanas 1,5 Derajat Celsius, Ini 6 Bencana Besar yang Akan Melanda

KOMPAS.com – Angka 1,5 derajat celsius memang kelihatan tidak banyak, tetapi memanasnya suhu Bumi sekecil itu saja bisa berdampak pada bencana alam di mana-mana.

Para pakar iklim mengatakan, dunia kini berpotensi menghangat 1,5 derajat celsius, berbanding kenaikan 2 derajat celsius (2C) pada abad ke-19.

Bumi dengan kenaikan suhu 2C akan diikuti gelombang panas ekstrem lebih dari dua kali lipat. Kekurangan air akan melanda seperempat miliar lebih banyak orang lagi.

Es di Samudra Arktik akan meleleh semuanya, tidak hanya sekali dalam satu abad, tetapi sekali setiap 10 tahun.

Negara-negara yang menandatangani Perjanjian Paris berjanji untuk membatasi kenaikan suhu global, tetapi masih jauh dari sasaran karena sekarang saja sudah memanas 1,1 derajat celsius.

Bahkan kalaupun terpenuhi, target untuk mengurangi emisi masih akan membuat Bumi memanas hingga 2,7 derajat celsius, menurut keterangan PBB yang dikutip AFP.

Lalu, apa saja dampak pemanasan global jika suhu Bumi memanas 1,5 derajat celsius atau lebih? Berikut prediksinya dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB.

1. Gelombang panas

Suhu maksimal di beberapa daerah akan meningkat 3 derajat celsius jika iklim menghangat 1,5C, 4 derajat jika pemanasan global mencapai tanda 2C.

Gelombang panas yang terjadi sekali dalam 10 tahun sekarang ini akan menjadi empat kali lebih sering pada tingkat 1,5C, dan hampir enam kali lebih sering pada 2C.

Peluang periode panas ekstrem yang sekarang terjadi setiap 50 tahun sekali meningkat hampir sembilan kali lipat pada 1,5C, dan 40 kali lipat di tingkat 4C.

2. Berbagai badai

Dampak pemanasan global berikutnya adalah lebih banyak hujan di wilayah lintang yang lebih tinggi, utara, dan selatan khatulistiwa, serta di daerah tropis dan beberapa zona muson.
Curah hujan di zona sub-tropis kemungkinan akan menjadi lebih jarang, meningkatkan momok kekeringan.

Peristiwa curah hujan ekstrem dibandingkan sekarang akan 1,3 kali lebih mungkin, dan tujuh persen lebih intens daripada sebelum pemanasan global dimulai.

Pada pemanasan global 1,5C, hujan ekstrem, hujan salju, atau peristiwa presipitasi lainnya akan menjadi 10 persen lebih berat dan 1,5 kali lebih mungkin.

3. Kekeringan

Di daerah rawan kekeringan, musim kering dua kali lebih mungkin terjadi di dunia dengan suhu 1,5C, dan empat kali lebih mungkin jika suhu naik 4C.
Membatasi kenaikan suhu global rata-rata menjadi 1,5C daripada 2C akan mencegah tambahan 200-250 juta orang menghadapi kekurangan air yang parah.

Membatasi kekeringan juga akan mengurangi risiko bencana terkait seperti kebakaran hutan.

4. Kekurangan pangan

Di dunia yang 2 derajat lebih panas daripada tingkat pra-industri, 7-10 persen lahan pertanian tidak akan lagi bisa ditanami.

Hasil panen juga diprediksi menurun, dengan panen jagung di zona tropis diperkirakan turun tiga persen di dunia yang lebih hangat 1,5C dan tujuh persen jika kenaikan 2C.

5. Naiknya permukaan laut

Dampak pemanasan global jika mencapai 2C, permukaan air laut akan naik sekitar setengah meter selama abad ke-21.
Permukaan air laut akan terus meningkat hingga hampir dua meter pada 2300 — dua kali lipat jumlah yang diprediksi oleh IPCC pada 2019.

Akibat ketidakpastian lapisan es, para ilmuwan masih memprediksi kenaikan total dua meter pada tahun 2100 dalam skenario emisi kasus terburuk.

Sementara itu, pemanasan global hingga 1,5C akan mengurangi kenaikan permukaan laut sebesar 10 sentimeter.

6. Separuh spesies di Bumi dalam bahaya
Semua dampak pemanasan global ini memengaruhi kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan di seluruh Planet Bumi.

Pemanasan global pada tingkat 1,5C berdampak negatif pada tujuh persen ekosistem. Pada 2C, angka itu hampir dua kali lipat.

Peningkatan 4C akan membahayakan setengah dari spesies di planet ini, dampak pemanasan global yang mengerikan jika suhu Bumi memanas tanpa henti.