Peneliti LIPI Berharap Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi Soroti BRIN

TEMPO.CO, Jakarta – Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro berharap agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) membahas mengenai Badan Riset dan Inovasi (BRIN) dalam Pidato Kenegaraan.

“BRIN sebagai institusi baru sempat menimbulkan polemik,” kata Siti Zuhro ketika dihubungi oleh ANTARA dari Jakarta, Minggu, 15 Agustus 2021.

Menurut Siti, polemik tersebut diakibatkan oleh Peraturan Presiden yang dinilai tidak sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek).

Selain itu, penyebab lainnya adalah kekhawatiran terhadap dibubarkannya 84 lembaga yang dilebur ke dalam BRIN, serta kebingungan dan ketidakpastian khususnya terkait dengan nomenklatur baru. “Pengalaman menyatukan lembaga menunjukkan sesuatu yang tidak sederhana, butuh waktu dan penyesuaian yang memadai,” ucapnya.

Ia juga mengatakan, kelembagaan yang efektif sangat diperlukan Indonesia untuk membangun SDM unggul, serta menciptakan teknologi dan inovasi.

Sebagai lembaga baru, tutur Siti menambahkan, BRIN mendapat beban yang sangat berat bila menggabungkan empat lembaga terkait penelitian dan ilmu pengetahuan teknologi, seperti menggabungkan lembaga LIPI, BPPT, LAPAN, dan BATAN yang sudah hampir dewasa. “Nasib riset harus jelas dan prospektif agar berdampak positif bagi kemajuan Indonesia,” tutur Siti Zuhro.

Indonesia yang maju dan inovatif perlu ditopang hasil penelitian dan inovasi yang mantap sehingga bisa dijadikan landasan oleh pemerintah dalam menentukan kebijakan. Oleh karena itu, peneliti politik LIPI ini berharap agar Presiden Jokowi memberi pernyataan dalam Pidato Kenegaraan terkait dengan keberadaan lembaga ini.

Selain itu, Siti Zuhro juga berharap agar pemerintah membahas mengenai kinerja Kementerian Pendidikan dan Ristek. Lembaga ini memiliki kaitan yang begitu erat dengan dampak pandemi Covid-19 terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan. “Prokes yang ketat tidak memungkinkan siswa masuk sekolah, sehingga pola pendidikan di Indonesia berubah drastis,” tutur Siti.

Ia berharap agar presiden memaparkan hasil dari perubahan pola pendidikan, dari yang sebelumnya tatap muka, kini diselenggarakan secara daring. “Apakah membuat kualitas siswa dan mahasiswa semakin baik atau justru sebaliknya?” ucap Siti.

Permasalahan pola pendidikan mendapat perhatian khusus dari Siti Zuhro mengingat tidak semua siswa maupun mahasiswa dapat mengakses proses belajar via internet. Oleh karena itu, ia berharap agar Presiden Jokowi menyampaikan kinerja Kementerian Pendidikan dan Ristek dalam Pidato Kenegaraan. “Saya berharap, Indonesia dapat lebih serius dalam membenahi kualitas pendidikan guna memberdayakan rakyat dan menciptakan SDM unggul,” tuturnya.

ANTARA

Perubahan Iklim, Arena Perang Kita Saat Ini

Belum genap sebulan selepas Jeff Bezos dan Richard Branson menjelajah luar angkasa dalam beberapa menit, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyebut bumi telah sekarat akibat perubahan iklim. Hal ini ia katakan untuk mengomentari laporan terbaru dari panel ilmuwan di badan bernama Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC berjudul Climate Change 2021: The Physical Science Basis (2021).

“Laporan ini,” kata Guterres, “adalah kode merah bagi kemanusiaan.”

Dalam laporan yang telah dimulai sejak 1988 dan dirilis setiap tujuh atau delapan tahun tersebut, IPCC menyatakan telah terjadi peningkatan karbon dioksida (CO2) sebesar 410 ppm (parts per million) di atmosfer setiap tahun sejak 2011. Ppm menunjukkan rasio dari satu gas dibanding gas lain. Misalnya jika tertulis “1.000 ppm karbon dioksida”, berarti terkandung 1.000 karbon dioksida di antara 999 ribu molekul lain di atmosfer. Terjadi pula peningkatan gas metan (CH4) dan dinitrogen monoksida (N2O) masing-masing sebesar 1.866 ppb (part per billion) dan 332 ppb per tahun.

Dengan kian mengepulnya gas rumah kaca di atmosfer, suhu permukaan bumi mengalami peningkatan 1,09 derajat Celsius antara 2011 hingga 2021, dibandingkan dengan peningkatan suhu yang terjadi pada 1850 hingga 1900. Suhu permukaan laut pun meningkat 0,88 derajat Celsius dalam rentang yang sama, membuat semakin mengikisnya es di Kutub Utara dan Selatan hingga tinggi permukaan lautan (sea level) meningkat rata-rata 3,7 milimeter per tahun. Peningkatannya jauh lebih tinggi dibandingkan 1901 hingga 1971. Ketika itu permukaan laut hanya meningkat 1,3 milimeter per tahun.

Gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim tersebut terjadi karena, mengutip laporan, “pengaruh manusia.”

Kajian mengenai perubahan iklim kerap berbeda dalam hal “siapa pelaku” sesunguhnya. Peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) bernama Dennis L. Meadows dalam buku The Limits to Growth: A Report for the Club of Rome’s Project on the Predicament of Mankind (1972) mewakili satu tendensi, yaitu bahwa semua terjadi karena pesatnya (eksponensial super) pertumbuhan penduduk.

Buku tersebut menjelaskan bahwa bumi hanya diisi 0,5 miliar penduduk pada 1650 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,3 persen per tahun. Seiring penemuan obat-obatan untuk menangani berbagai penyakit, semakin berkualitas gizi yang diserap, serta berkurangnya peperangan, kualitas hidup manusia meningkat pula. Demikian pula angka harapan hidup, juga populasi penduduk. Maka, pada 1970 atau 350 tahun kemudian, bumi telah diisi 3,6 miliar penduduk dengan tingkat pertumbuhan 2,1 persen per tahun.

Bersamaan dengan itu tercipta “vicious circle” alias “feedback loop”, suatu fenomena yang membuat kenaikan gaji, misalnya, menggiring kenaikan permintaan terhadap barang/jasa, lalu berakibat pada kenaikan harga barang/jasa, kemudian menggiring kenaikan gaji (dan seterusnya dan selamanya). Kenaikan gaji yang menggiring kenaikan permintaan serta harga barang tidak akan memberikan dampak buruk seandainya dapat ditekan di bawah 2 persen. Namun, karena pertumbuhan penduduk naik secara eksponensial super, “vicious circle” yang tercipta pun super.

Pokok/subjek yang digiring pertumbuhan super oleh pertumbuhan penduduk ini adalah industri serta lingkungan, yang sialnya memiliki batas.

Gara-gara pertumbuhan penduduk ini, industri pun harus tumbuh dengan tingkat eksponensial serupa, dari 7 persen pada 1963 menjadi lebih dari 10 persen per tahun setelahnya. Melalui peningkatan industri, meningkat pula material-material bumi yang dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai kebutuhan. Hingga, tentu, meningkatkan produksi gas rumah kaca yang berakibat buruk pada lingkungan.

Sementara Jason Hickel dalam studi berjudul “Quantifying National Responsibility for Climate Breakdown: An Equity-based Attribution Approach for carbon Dioxide Emission in Excess of the Planetary Boundry” (The Lancet Planet Health Vol. 4 2020) menyebut bukan manusia secara umum pelaku perubahan iklim, tapi negara-negara berpendapatan tinggi produsen gas rumah kaca. Amerika Serikat menjadi yang paling wahid dengan melepaskan 420 gigaton karbon dioksida dalam rentang 1970 hingga 2015, lalu disusul oleh Uni Eropa sebanyak 377 gigaton.

Hickel menyatakan secara umum Global North atau negara-negara yang terletak di sebelah utara bumi dan umumnya memiliki catatan sejarah sebagai kolonialis menyumbang karbon dioksida jauh lebih banyak dibandingkan Global South. Global North menghasilkan 1,032 teraton atau setara dengan 68 persen total karbon dioksida yang menguap ke angkasa, jauh lebih tinggi dibandingkan Global South yang hanya menyumbang 484 gigaton. Atas dasar itu Hickel mengatakan Global North harus jauh lebih bertanggung jawab atas masalah iklim ini.

Dua negara Global South, Cina dan India, memang menghasilkan karbon dioksida yang besar. Namun Hickel enggan memasukkan mereka ke dalam kantong yang sama karena memiliki banyak sekali penduduk, timpang dengan AS dan Eropa.

Kembali merujuk Guterres, andai persoalan ini tak segera teratasi, maka peningkatan suhu bumi mencapai 1,5 derajat Celsius dalam 20 tahun mendatang. Titik yang dapat menghasilkan petaka bagi umat manusia.

Meskipun mendorong penyelesaian masalah, Steven E. Koonin dalam buku Unsettled: What Climate Science Tells Us, What It Doesn’t, and Why It Matters (2021) menyebut PBB dan kawan-kawan di IPCC terlalu naif dengan menyatakan perubahan iklim saat ini sebagai “kode merah”. Alasannya, kata mantan penasihat sains pada pemerintahan Barack Obama ini, “tidak ada data yang cukup kuat untuk mengaitkan aktivitas manusia dengan perubahan iklim.”

(Catatan: Meskipun buku Koonin terbit lebih dulu dibandingkan laporan IPCC, bersumber pada laporan IPCC terdahulu, Koonin “memprediksi” laporan seperti apa yang keluar pada 2021 ini).

Bukan, Koonin bukan menolak klaim aktivitas manusia melalui industri memengaruhi produksi karbon dioksida. Dengan perbedaan jumlah penduduk antara 1900-an dan 2000-an, menurutnya bukanlah sesuatu yang aneh apabila suhu bumi meningkat gara-gara produksi karbon dioksida yang meningkat. Hanya saja menurutnya dalam kerangka “perubahan iklim” atau, yang semestinya disebut “iklim yang berubah gara-gara manusia”, suhu permukaan bumi dan lautan merupakan sesuatu yang sukar diukur. Atau dapat diukur tetapi dengan catatan keras: “perkiraan” semata.

Suatu tempat, misalnya, tak bisa sekadar ditetapkan “memiliki suhu 14,85 Celsius”, tetapi wajib menyertakan “sigma” atau “kelenturan”. Maka, andai suatu tempat suhu-nya diukur, wajib tertulis 14,85 dan 0,07 Celsius, di mana 0,07 dapat menambahkan atau mengurangi pokok suhu. Artinya, bila hari ini suhu di suatu tempat hanya tertulis 14,85 dan sebulan kemudian tertulis 14,92, tempat tersebut tak bisa disebut mengalami peningkatan suhu. Bagi Koonin, laporan IPCC terlalu berbelit, tak memperlihatkan patokan suhu yang berubah, hanya “peningkatan suhu” semata.

(Catatan: saya sependapat dengan komentar Koonin ini. Silakan cek keruwetan laporan berbentuk PDF berukuran lebih dari 250 megabyte setebal 3.949 halaman dari IPCC ini.)

 

Infografik Perubahan Iklim
 

Kritik dari Koonin mendapat perlawanan dari Michael E. Mann melalui buku berjudul The New Climate War (2021). Dalam buku yang di-endorse Greta Thunberg tersebut, Mann menegaskan kembali bahwa masalah utama perubahan iklim adalah industri yang kian gila mengeksploitasi bumi.

Masalahnya, industri memiliki dana melimpah untuk tetap menjaga produktivitasnya. Dengan kekuatan tersebut, seturut dengan kelakuan perusahaan-perusahaan senjata hingga rokok yang enggan disalahkan atas korban jiwa dan penyakit gara-gara pistol serta tembakau, upaya mengadang perubahan iklim coba dilawan dengan taktik “kill the messenger” alias bunuh kredibilitas individu/lembaga penyebar. Ini dilakukan perusahaan-perusahaan yang sangat mungkin terdampak apabila pengetatan produksi karbon dioksida diterapkan.

Koonin sendiri, sebelum mengabdi pada Obama, merupakan ketua ilmuwan BP alias The British Petroleum Company, salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar saat ini.

Kesiapsiagaan Bencana dan Kompetensi Profesional Diantara Penyedia Layanan Kesehatan

Kesiapsiagaan rumah sakit terhadap kejadian korban massal dan tanggap bencana meliputi kegiatan, program dan sistem yang dikembangkan dan dilaksanakan sebelum kejadian. Langkah – langkah ini dirancang untuk memberikan perawatan medis yang diperlukan bagi para korban bencana, dan untuk meminimalkan dampak negatif dari peristiwa individu pada layanan medis. Hingga saat ini, belum ada survei sistematis di Polandia mengenai kesiapan rumah sakit, serta tenaga medis, untuk menangani insiden korban massal. Akibatnya, sedikit yang diketahui tentang pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi profesional petugas kesehatan. Tujuan dari studi percontohan ini untuk memulai eksplorasi dan mengumpulkan data tentang kompetensi tenaga kesehatan, selain menilai kesiapan rumah sakit untuk insiden korban massal. Memanfaatkan survei anonim dari sampel acak, 134 penyedia layanan kesehatan diminta untuk menjawab pertanyaan tentang kompetensi yang mereka butuhkan, dan kesiapsiagaan rumah sakit selama tanggap bencana. Ternyata subjek tes mengevaluasi kesiapsiagaan mereka sendiri untuk insiden korban massal dan bencana lebih baik daripada kesiapsiagaan tempat kerja mereka saat ini. Studi percontohan menunjukkan bahwa kuesioner yang dirancang dengan baik dapat digunakan untuk menilai hubungan antara kesiapsiagaan rumah sakit dan staf dan efisiensi tanggap bencana. Evaluasi kesiapsiagaan dan efektivitas tanggap bencana merupakan sarana untuk menemukan dan menghilangkan kemungkinan kesenjangan dan kelemahan dalam berfungsinya dan efektifnya manajemen rumah sakit selama insiden korban massal. Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di jurnal MDPI

Selengkapnya

Warga Tasikmalaya Dikagetkan Banjir Rob Dini Hari Tadi

TASIKMALAYA – Banjir rob akibat pasang air laut menerjang kawasan Pantai Pasanggrahan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya , Jawa Barat, Kamis (12/8/2021) dini hari. Akibatnya air laut meluap hingga masuk ke pemukiman warga dan jalan sehingga membuat warga panik dan sebagian mengungsi karena ketakutan.

Gelombang pasang yang menerjang Pantai Selatan Kabupaten Tasikmalaya terekam video amatir warga.

Gelombang pasang yang terjadi bahkan membuat air laut meluap hingga sekitar seratus meter dari bibir pantai ke jalan serta perkampungan warga dan menerjang sejumlah warung yang ada di sekitar Pantai Pasangrahan.

Sejumlah warga yang rumahnya berada di sekitar pantai sempat panik dan ketakutan karena dikhawatirkan gelombang pasang air laut semakin tinggi. Sehingga sejumlah warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman dan meninggalkan rumahnya.

Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata Cipatujah Sonson Rison mengatakan, warga berharap segera ada tindakan dan bantuan dari pemerintah agar gelombang pasang ini bisa segera diatasi. “Karena saat ini warga was-was dan masih khawatir air laut semakin besar dan kembali menerjang pemukiman,” kata dia.

Akibat terjadinya gelombang pasang warga yang bermukim di sekitar pantai merasa ketakutan. “Ada sejumlah warga yang memilih untuk mengungsi meninggalkan rumahnya ke tempat yang lebih aman,” tandasnya.

25 Desa di Aceh Jaya dan Aceh Besar Banjir, Ratusan Mengungsi

Banda Aceh, CNN Indonesia — Intensitas hujan yang tinggi di sebagian wilayah di Aceh menyebabkan dua kabupaten, Aceh Jaya dan Aceh Besar terendam banjir

Dari data yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) banjir yang terjadi di Kabupaten Aceh Besar menyebabkan lima desa kebanjiran yakni Desa Lhoong, Pudeng, Krueng Kala, Geunteut dan Peukan Bada.

Ketinggian air di sana mencapai 60 cm dan masuk ke rumah warga. Sebanyak 412 jiwa warga mengungsi ke balai-balai desa.

“Dampak hujan yang mengguyur wilayah Aceh Besar menyebabkan terjadinya banjir luapan di beberapa titik lokasi, beberapa ruas jalan penghubung antar desa dan rumah warga juga tergenang,” kata Kepala BPBD Aceh Besar Farhan AP, Rabu (11/8).

BPBD Aceh Besar telah menyiagakan seluruh personel di setiap pos untuk terus memantau kondisi dan situasi terkini wilayah Aceh Besar. Farhan mengimbau warga di lokasi banjir untuk tetap waspada terkait potensi banjir susulan.

“Kita imbau masyarakat untuk tetap tenang, siaga dan waspada dalam menyikapi perkembangan cuaca saat ini yang mana dapat berpotensi terjadinya banjir,” katanya.

Sementara itu, banjir di Kabupaten Aceh Jaya juga merendam 20 Desa di tiga kecamatan. Ketinggian air di wilayah itu mencapai mencapai 2 meter.

Adapun daerah-daerah yang terdampak banjir ialah Desa Masen, Babah Dua, Baro L, Lam Tengoh, Panton Krueng, Ujong Rimba, Gunong Cut, Sayeung, Alue Gajah, Paya Santeut, Alue Gro, Seumantok, Ligan, Krueng Ayon, Cot Punti, Ranto Sabon, Jereungeh, Sapek, Muedheun dan Desa Gle Putoh.

“Ketinggian air dari 20 – 70 cm, bahkan di beberapa desa air sempat mencapai ketinggian 200 cm,” kata Kepala BPBA, Ilyas.

Sementara ini warga yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Jaya mencapai 2.666 jiwa. Petugas BPBD di sana saat ini tengah mendata pengungsi yang terdampak banjir.

(dra/sur)

Banjir Landa Turki Utara Setelah Kebakaran Hutan di Selatan

REPUBLIKA.CO.ID,ISTANBUL — Banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang luar biasa deras melanda pantai utara Turki pada Rabu (11/8), meruntuhkan sebuah jembatan dan mematikan listrik di desa-desa. Sebelumnya, beberapa kebakaran hutan terbesar dalam sejarah menghancurkan bagian barat daya negara itu.

 
 

Penyiar negara, TRT Haber mengatakan, satu orang meninggal karena serangan jantung di provinsi utara Bartin, dan petugas darurat sedang mencari orang lain yang hilang. 

Sementara itu, berdasarkan data Manajemen Bencana dan Darurat Kepresidenan atau Disaster and Emergency Management Presidency (AFAD, 13 orang juga terluka setelah sebuah jembatan runtuh di Bartin dan terjadi pemadaman listrik di 12 desa.

Dilansir dari Reuters, di provinsi Sinop, 150 mil (240 km) timur Bartin, sebuah rumah runtuh karena banjir dan mobil-mobil terdampar di air. AFAD mengatakan, sebuah rumah sakit sedang dievakuasi dan beberapa jalan ditutup di Sinop, memperingatkan bahwa hujan lebat di daerah itu diperkirakan akan terus berlanjut.

Selain itu, hujan deras juga menyebabkan sungai meluap di Kastamonu, sekitar 70 km ke daratan, menyeret mobil dan puing-puing ke hilir. Bahkan, pembangkit listrik tenaga air jhga kebanjiran saat permukaan air naik, sehingga upaya untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di daerah itu terus berlanjut.

Diketahui, bagian utara Turki rentan terhadap banjir bandang di musim panas ketika hujan sangat deras.  Tahun lalu sedikitnya lima orang tewas dalam banjir di wilayah tersebut.

Turki juga telah berjuang melawan kebakaran hutan yang membakar puluhan ribu hektar hutan di sepanjang pantai selatannya selama dua minggu terakhir. Panel iklim PBB mengeluarkan peringatan mengerikan minggu ini bahwa tingkat gas rumah kaca dunia cukup tinggi untuk menjamin gangguan iklim selama beberapa dekade.

Pemanasan 1,1 derajat Celcius yang sudah tercatat sudah cukup untuk melepaskan cuaca buruk termasuk kebakaran di Turki, Yunani dan Amerika Serikat

Warga Waspada Banjir, BPBD DKI: Bendung Katulampa Siaga 3

JAKARTA – Kawasan hulu sungai Ciliwung, Puncak, Kabupaten Bogor sejak Senin petang diguyur hujan deras. Hal tersebut mengakibatkan tinggi muka air (TMA) sungai Ciliwung Bendung Katulampa siaga 3.

“Pukul 23.00 WIB TMA 10cm/Gerimis (Normal/Siaga 4). Pukul 00.00 WIB TMA 90cm/Gerimis (Waspada/Siaga 3),” tulis akun Twitter @BPBDJakarta, Selasa (10/8/2021).

BPBD mengatakan, antisipasi kurang lebih 6-9 jam ke depan air akan sampai pintu air Manggarai. Adapun wilayah yang dilintasi aliran sungai sebagai berikut; Srengseng Sawah, Pejaten Timur, Rawa Jati, Balekambang, Pengadegan, Cikoko, Cawang, Kebon Baru, Bukit Duri, Bidara Cina, dan Kampung Melayu.

“Penyebaran informasi melalui DEWS, Penyebaran informasi melalaui media sosial, dan pemberitahuan Lurah serta Camat,” ungkapnya.

BPBD Sumsel Lakukan Pembasahan Lahan Gambut Cegah Bencana Asap

Merdeka.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan pada awal puncak musim kemarau Agustus 2021 ini gencar melakukan pembasahan lahan gambut untuk mencegah terjadinya bencana kabut asap.

“Akhir-akhir ini puluhan hektare lahan gambut mulai terbakar, jika tidak dilakukan pembasahan bisa semakin luas terbakar dan berpotensi menimbulkan bencana kabut asap,” kata Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Ansori di Palembang dilansir Antara, Senin (9/8).

Dia menjelaskan, untuk melakukan pembasahan, pihaknya menurunkan petugas didukung satgas gabungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Petugas BPBD Sumsel bersama satgas karhutla melakukan patroli darat dan udara untuk memantau daerah yang dipetakan rawan kebakaran hutan dan lahan.

Dalam patroli itu, kata Ansori, daerah yang terpantau kering atau terdeteksi sebagai titik panas dilakukan pembasahan dengan memanfaatkan sumber air terdekat, sedangkan yang terbakar dilakukan pemadaman.

Melalui upaya tersebut, menurut dia, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir bisa dikendalikan tidak menjadi kebakaran besar.

Berdasarkan data, hingga kini sekitar 90 hektare lahan gambut di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan yang terbakar.

Lahan gambut yang terbakar itu sebagian besar berada di Kabupaten Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, Pali dan Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Untuk mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas, selain menurunkan petugas intensif melakukan pembasahan, pihaknya mengharapkan partisipasi masyarakat menjaga lahan gambut, kawasan perkebunan dan hutan di sekitar desanya.

“Melalui upaya tersebut diharapkan wilayah Sumsel yang memiliki kawasan hutan, lahan gambut dan perkebunan yang cukup luas bisa terhindar dari kebakaran besar dan bencana kabut asap dampak musim kemarau tahun ini,” ujar Ansori. [ray]

Potensi Bencana-Bencana yang Diramalkan BMKG Bakal Terjadi di Indonesia

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Selain aktif meluncurkan ramalan cuaca, lembaga ini sering mengeluarkan kajian diskusi prediksi bencana untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat Indonesia.

Belakangan ini BMKG merilis sejumlah kajian ramalan untuk meningkatkan kewaspadaan, mulai dari aktivitas kegempaan, tsunami atau gelombang tinggi, hingga cuaca ekstrem atau bencana hidrometeorologis. Berikut potensi bencana-bencana yang diramalkan BMKG:

1. Gempa M 8,7

Dilansir dari laman resmi BMKG, zona lempeng selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum M 8,7. Hal ini berdasarkan hasil kajian dan pemodelan para ahli pada diskusi berjudul “Kajian dan Mitigasi Gempabumi dan Tsunami di Jawa Timur”.

Namun dalam siaran pers BMKG diluruskan bahwa Indonesia adalah wilayah yang aktif dan rawan gempa bumi, maka dapat terjadi kapan saja dengan berbagai kekuatan. Selain itu hingga kini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat.

Menanggapi hal ini, semua pihak perlu melakukan upaya mitigasi struktural dan kultural dengan membangun bangunan aman gempa. Pemerintah, pihak swasta, dan BPBD pun telah menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi yang layak dan memadai, serta memastikan sistem peringatan dini di daerah rawan beroperasi atau terpelihara dengan layak dan terjaga selama 24 jam tiap hari untuk meneruskan Peringatan Dini dari BMKG.

2. Tsunami 29 Meter di Jawa Timur

Selain potensi gempa M 8,7, hasil kajian tim ahli BMKG juga menyebutkan potensi tsunami 29 meter Jawa Timur. Secara rinci, potensi terburuk bencana ini yaitu setinggi 26-29 meter di perairan selatan Jawa Timur.

Sedangkan untuk waktu tercepat, tercatat di angka 20-24 menit pada Kabupaten Blitar. Namun menurut siaran pers yang ditayangkan dalam laman resmi BMKG, telah diluruskan bahwa isu ini merupakan potensi bukan prediksi yang pasti.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat juga akan melakukan penataan tata ruang pantai rawan agar aman dari bahaya tsunami, dengan menjaga kelestarian ekosistem pantai sebagai zona sempadan untuk pertahanan terhadap gelombang tsunami dan abrasi. Semua pihak juga diimbau untuk berupaya mitigasi dengan membangun bangunan aman tsunami.

3. Gelombang Tinggi 6 Meter di Perairan Aceh

Pada Selasa (3/8/2021) lalu, BMKG meluncurkan peringatan potensi gelombang tinggi 6 meter di sekitar perairan Aceh. Gelombang tinggi ini diprediksi mungkin terjadi pada 3-5 Agustus 2021. BMKG merinci gelombang tinggi di wilayah perairan utara Sabang (4 hingga 6 meter), perairan Sabang-Banda Aceh (0,50 hingga 2,50 meter), selat Malaka bagian utara (2,50 hingga 4 meter), dan perairan Lhokseumawe (0,50 hingga 1,25 meter.

Ada pula di perairan barat Aceh (2,50 hingga 4 meter), perairan Meulaboh-Kepulauan Sinabang (1,25 hingga 2,50 meter) dan wilayah Samudera Hindia barat Aceh mulai 4 hingga 6 meter. Dengan demikian, masyarakat di sekitar perairan Aceh dan aktivitas penyeberangan di Banda Aceh-Sabang diminta untuk waspada.

4. Gelombang Tinggi 4 Meter di Sejumlah Perairan

BMKG kembali memberikan peringatan dini adanya gelombang tinggi di berbagai wilayah perairan di Indonesia, sejak 22-24 Juli 2021. Hal ini disebabkan oleh kondisi pola angin di wilayah bagian utara dominan bergerak dari Selatan menuju Barat Daya dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot.

Sementara pola angin wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari Timur – Tenggara dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot. Dikutip dari situs resmi BMKG, kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan gelombang setinggi 1,25 – 2,50 meter, hingga yang tertinggi mencapai 4 meter. Gelombang tinggi itu diperkirakan akan terjadi di beberapa perairan seperti Selat Malaka bagian utara, perairan timur P. Simeulue – Kepulauan Mentawai, Laut Natuna utara.

5. Cuaca Ekstrem Bibit Siklon Tropis

Perkembangan Sistem Depresi Tropis 04W atau bibit siklon tropis telah dimonitor oleh BMKG, yang terdeteksi tumbuh pada tanggal 30 Mei 2021. Hal itu terdeteksi di sekitar sekitar Samudera Pasifik Barat daya sebelah Timur-Tenggara Filipina (5.9° LU 133.1°BT).

Kecepatan angin maksimum terdeteksi mencapai 30 knot (56 km/jam), dan tekanan udara minimumnya mencapai 1004 hPa. Kemudian juga teridentifikasi aktivitas awan konvektif yang signifikan dan persisten dalam 6 jam terakhir di sekitar Sistem 04W. Aktivitas itu menurut pantauan citra satelit cuaca Himawari-8.

sumber: https://nasional.okezone.com/read/2021/08/09/337/2452820/potensi-bencana-bencana-yang-diramalkan-bmkg-bakal-terjadi-di-indonesia

Bencana banjir: ‘Lebih dari 179 juta jiwa diperkirakan terdampak banjir pada 2030’ – Banjir di Kalimantan dan Sulawesi masuk dalam riset

Sebuah penelitian menunjukkan porsi populasi global yang berisiko terdampak banjir naik hampir seperempat selama dua dekade terakhir.

Citra satelit menunjukkan jumlah orang yang berisiko terdampak banjir jauh lebih besar daripada yang diprediksi oleh model komputer.

Analisis menunjukkan perpindahan penduduk dan semakin banyaknya bencana banjir, menjadi faktor di balik peningkatan pesat dari penduduk yang rentan ini.

Pada tahun 2030, jutaan orang lainnya akan mengalami peningkatan banjir karena perubahan iklim dan demografi, kata para peneliti.

Penelitian itu juga mencatat beberapa wilayah yang terdampak banjir yang parah akibat intensitas hujan yang tinggi di Indonesia dalam 20 tahun terakhir.

Mereka memperkirakan pada tahun 2030 akan ada tambahan 25 negara yang mengalami peningkatan bencana banjir, selain 32 negara yang sudah terkena dampak saat ini.

“Kami memperkirakan akan ada tambahan 179,2 juta orang baru yang terdampak banjir pada tahun 2030 di zona banjir seratus tahunan, dan sebagian besar karena perubahan demografi,” kata kepala peneliti, Dr Beth Tellman, dari University of Arizona.

“Sekitar 50 juta orang tambahan orang yang akan terkena dampak banjir, kami pikir, sebagai dampak langsung dari perubahan,” tambah perempuan yang juga menjabat sebagai kepala pejabat sains di Cloud to Street, sebuah platform pelacakan global.

Banjir merupakan bencana lingkungan yang memakan korban lebih banyak ketimbang bencana lain, kata para peneliti.

Pandangan ini terus bergema selama beberapa pekan terakhir, dengan maraknya bencana banjir besar yang menghancurkan kehidupan dan harga benda di sejumlah negara.

Di Jerman dan China, rekor curah hujan yang tinggi telah membuat penanganan kewalahan, di tengah perdebatan terkait antisipasi yang sudah dilakukan.

Salah satu tantangan dari banjir, menurut para peneliti, adalah sebagian besar peta yang memperkirakan terjadinya banjir didasarkan pada model.

Peta ini mensimulasikan banjir berdasarkan informasi seperti ketinggian, curah hujan dan data dari sensor tanah.

Namun peta itu memiliki batasan yang signifikan: mereka gagal memperhitungkan perubahan populasi atau infrastruktur, serta tidak dapat memprediksi kejadian acak seperti jebolnya bendungan.

Jadi ketika Badai Harvey melanda Texas, AS, pada 2017, sekitar 80.000 rumah yang terendam banjir tidak ada dalam peta risiko pemerintah.

Dalam studi terbaru ini, para peneliti melihat citra satelit harian untuk memperkirakan tingkat banjir dan jumlah orang yang terdampak lebih dari 900 peristiwa banjir besar antara tahun 2000 dan 2018.

Mereka menemukan bahwa antara 255 dan 290 juta orang terkena dampak langsung dari bencana banjir.

Selain itu, antara tahun 2000 hingga 2015, jumlah orang yang tinggal di lokasi banjir ini meningkat 58-86 juta.

Ini merupakan peningkatan 20-24% dalam proporsi populasi dunia yang terdampak banjir, sekitar 10 kali lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Peningkatan itu tidak merata di seluruh dunia. Negara-negara dengan peningkatan risiko banjir terutama di Asia dan Afrika sub-Sahara.

Sementara negara-negara Eropa dan Amerika Utara, risikonya stabil atau menurun.

Sekitar 90% dari bencana banjir yang diamati oleh para ilmuwan terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, di sekitar lembah sungai besar termasuk Sungai Indus, Sungai Gangga-Brahmaputra dan Sungai Mekong.

“Kami mampu mengamati banjir di Asia Tenggara lebih banyak daripada tempat lain, karena pergerakannya sangat lambat dan ketika awan bergerak, kami bisa mendapatkan gambaran banjir yang sangat jelas,” jelas Tellman.

“Tapi ada juga banyak banjir, banjir yang berdampak sangat besar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Ada juga populasi manusia yang besar yang menetap di dekat sungai untuk alasan yang sangat penting [seperti] pertanian,” jelas Dr Tellman.

Kendati begitu, ia menambahkan bahwa ini “sayangnya juga membuat orang terdampak bencana banjir”.

Salah satu aspek yang membingungkan dari penelitian ini adalah mengapa orang-orang di banyak negara pindah ke daerah rawan banjir ketimbang menjauh lokasi tersebut.

Sementara populasi global tumbuh lebih dari 18% antara tahun 2000 dan 2015, di daerah banjir yang diamati, populasi meningkat sebesar 34%.

Tellman mengatakan salah satu aspek dari pertumbuhan populasi ini terkait dengan perubahan iklim, yang mengubah lanskap lokasi dataran banjir untuk menampung lebih banyak orang.

Tetapi ekonomi juga memainkan peran penting.

“Area lahan yang sering banjir biasanya memiliki harga sangat murah untuk pembangunan permukiman, jadi di Guwahati, India dan Dhaka di Bangladsh, kita melihat orang-orang berpindah [ke area rawan banjir], sehingga area itu menjadi permukiman,” jelasnya.

“Mungkin bukan pilihan banyak orang untuk tinggal di daerah itu karena mereka mungkin tidak memiliki banyak pilihan.

“Jika ada program perumahan umum yang bagus atau pilihan lain, saya pikir orang mungkin tidak akan memilih untuk tinggal di daerah berbahaya.”

Para peneliti berkata kunci penyebab banjir adalah hujan deras, badai tropis dan atau gelombang pasang, dan salju dan es yang mencair.

Jebolnya bendungan mewakili kurang dari 2% banjir yang diamati dalam penelitian itu, kendati begitu insiden itu mencatat peningkatan tertinggi dalam hal populasi yang terpapar.

Melihat ke masa depan, para penulis mengatakan mereka memperkirakan jumlah yang berisiko banjir akan terus meningkat.

Basis data di balik penelitian ini – yang disebut sebagai yang terbesar dan paling akurat yang pernah dikompilasi – bisa dibuka di sini.

Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Nature.

Seberapa parah banjir di Indonesia?

Menurut laman Global Flood Database, Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara-negara yang mengalami peningkatan bencana banjir pada 2030.

Namun, laman itu juga mencatat beberapa wilayah yang terdampak banjir yang parah akibat intensitas hujan yang tinggi di Indonesia dalam 20 tahun terakhir.

Di laman basis data itu terpampang dua katagori, yaitu jumlah orang yang kehilangan tempat tinggal dan luas wilayah yang terdampak bencana banjir.

Untuk katagori jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal, paling parah terjadi pada banjir di sebagian Sulawesi dan Sumatra pada 10 Desember 2003.

Laman itu mencatat durasi hujan di dua kawasan itu selama 44 hari dan mencatat korban sebanyak 148 orang.

Lalu 350.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat banjir yang merendam total wilayah seluas lebih dari 2.800 km per segi.

“Kawasan ini menunjukkan peningkatan 17,9 persen populasi yang terkena banjir selama tahun 2000 hingga 2015,” tulis laman Global Flood Database.

Untuk katagori wilayah yang paling terdampak bencana banjir, situs itu juga menunjukkan peta di wilayah Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan.

Pada 16 April 2010, akibat hujan selama 16 hari, kawasan itu dilanda banjir parah yang menggenangi total wilayah 6.100 km per segi.

Tidak tercatat ada korban jiwa, namun “kawasan ini menunjukkan peningkatan 15,7% populasi yang terkena banjir selama tahun 2000 hingga 2015.”

sumber: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-58109947