Painan, Padek – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) mencatat, sepanjang tahun 2013 sudah 45 kasus bencana alam terjadi di Kabupaten Pessel dan 17 jiwa melayang akibat bencana itu.Dan kerugian yang diderita Rp 8,262.900.000,- .
Banjir Jadi Ancaman Serius di Jayapura
Jakarta – Banjir rupanya bukan hanya ancaman di Jakarta. Di ujung timur Indonesia, yakni Kota Jayapura, Papua, masalah banjir juga menjadi ancaman serius di kota yang dikelilingi bukit tersebut. Bahkan jika banjir tiba, aktivitas kota tersebut mendadak terhenti. Sebab akses keluar masuk dari kota itu lumpuh total.
Dari pemetaan yang dilakukan Oxfam, lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pencegahan bencana, ada dua wilayah di Jayapura yang rawan banjir, yakni Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, dan Kelurahan Gurabesi, Distrik Jayapura Utara.
Masyarakat Harus Paham Tanggap Bencana
SINGKAWANG– Pemahaman sikap kesiapsiagaan terhadap terjadinya bencana mutlak dimiliki oleh seluruh masyarakat. Hal tersebut sebagai upaya mengurangi dampak jika terjadi musibah di daerah tersebut. Hal tersebut diungkapkan Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Togi L Tobing, SH, MH ketika membuka Geladi Lapangan Penanggulangan Bencana Banjir Kerja sama BNPB Dengan BPBD Provinsi Kalimantan Barat di Kelurahan Sedau, Kota Singkawang, Rabu (11/12).
Penyusunan Agenda Riset Pengurangan Risiko Bencana Akibat Perubahan Iklim

Yogyakarta– Sekolah Pascasarjana UGM mengundang lebih dari 100 penggiat bencana dari berbagai universitas, fakultas, instansi pemerintah dan non pemerintah, dalam Lokakarya Penyusunan Agenda Riset Mitigasi Adaptasi Perubahan Iklim (MAPI) Dalam Rangka Pengurangan Risiko Bencana Akibat Perubahan Iklim di Indonesia. Selama tiga jam seluruh peserta berkumpul di ruang seminar lantai tiga Sekolah Pascasarjana untuk menyimak materi narasumber dan berdiskusi untuk merumuskan usulan. Dalam kesempatan ini, narasumber dari berbagai disiplin ilmu mengungkapkan dampak perubahan iklim, seperti Prof. Dr. dr. KRT. Adi Heru Husodo, MSc, DCN., DLSHTM., PKK (Kedokteran Kesehatan Kerja), Prof. Dr. Sudibyakto, MS (Magister Manajemen Bencana), Dr. rer.nat Yosi Bayu Murti, M.Si, Apt (Pusat Sumber Daya dan Kelautan), Dr. rer.nat Djati mardianto, M.Si (Pusat Studi Bencana Alam), Drs. A Budi Purnomo Brodjonegoro, MA, dengan moderator Dr. Danang Srihadmoko. Hasil diskusi antarpeserta akan menjadi usulan yang akan dibawa pada penyusunan agenda riset MAPI 2014-2019.
Tujuh Desa di Madiun Dilanda Banjir
MADIUN – Sebanyak tujuh desa yang ada di Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (10/12), dilanda banjir akibat luapan Bengawan Madiun setelah hujan deras selama beberapa jam di kawasan itu.
Desa yang terendam banjir, antara lain, Jeruk Gulung, Gading, Sogo, Balerejo, Garon, Kedungjati, dan Gelonggong. Hingga kini air masih menggenang di sejumlah jalan desa dan persawahan.
Kolaborasi BNPB dan DPRD dalam Pengurangan Risiko Bencana
Untuk meningkatkan sinergitas penanggulangan bencana di daerah, BNPB berupaya untuk mengajak DPRD Kabupaten/Kota untuk membangun komitmen bersama dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana di daerah, pada tanggal 9 Desember 2013 di Hotel Borobudur telah dilaksanakan pertemuan koordinasi kebijakan Publik dalam Penanggulangan Bencana dengan tema “Kebijakan Pembangunan yang Berwawasan Pengurangan Risiko bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim”Pertemuan koordinasi tersebut dibuka dan dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Ir. Dody Ruswandi, MSCE, dan dihadiri oleh Ketua, wakil ketua dan anggota DPRD dari Kabupaten/Kota yang telah difasilitasi oleh BNPB dalam penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana pada tahun 2012 dan beberapa pejabat eselon I dan II di lingkungan BNPB.
Reportase Sesi 3 CCMAP
International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in The Health Sector with Focus on Research, Policy and Action

Sambil menikmati makan siang dan istirahat sholat, peserta diajak untuk melihat pameran ilmiah yang digelar di lobby auditorium FK UGM. Gambar di atas menunjukkan pengalaman-pengalaman FK UGM dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Selain itu, PKMK FK UGM juga menampilkan poster mengenai kurikulum kebencanaan untuk mahasiswa S1 dan S2 di FK UGM. Poster lainnya berupa Hospital Disaster Plan dan Regional Disaster Plan.

Sebelum sesi 3 dimulai, Annika Siwertz dari kedutaan Swedia memberikan kenang-kenangan kepada UGM yang diwakili oleh Prof. Hari Kusnanto. Dalam pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak, mereka sama-sama mengucapkan terimakasih dan berharap kerjasama ini terus berlangsung ke depannya.

Sesi ketiga membahas tentang eHealth sebagai strategi yang menjanjikan bagi sektor kesehatan. Sesi ini menghadirkan tiga pembicara yang akan membahas mengenai eHealth baik pengembangannya dan manfaatnya. Harapannya, peserta dapat memahami bahwa eHealth merupakan upaya mitigasi adaptasi bagi dampak perubahan iklim dan upaya pemerataan pelayanan kesehatan antardaerah.
Dr. Asa Holmner menjelaskan apa yang dimaksud dengan eHealth sebagai upaya penyebaran sumber daya dan pelayanan kesehatan melalui media elektronik. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam siklus kehidupan kita, transportasi adalah hal yang sering kita gunakan padahal itu merupakan penyebab tingginya emisi gas buang di udara. eHealth memberikan solusi untuk mengurangi dampak emisi gas melalui transportasi eletronik yang ditawarkan. Jika dikaitkan dengan bencana, maka penggunaan eHealth sangat bermanfaat dalam upaya pelayanan rujukan data korban.
Penerapan eHealth di Indonesia memberikan manfaat tersendiri untuk menghubungkan layanan kesehatan antarpulau. Namun, sekaligus hal tersebut menjadi tantangan, salah satunya adalah regulasi dan pemanfaatannya. Saat ini, pemanfaatan sistem informasi kesehatan terbanyak sebagai medical documentation dan masih rendah sebagai transfer data pasien antarrumah sakit atau layanan kesehatan. Justru, masing-masing layanan kesehatan memiliki sistem informasinya sendiri-sendiri, atau belum terintegrasi satu sama lain. Persepsi manajer layanan kesehatan terhadap telemedicine cukup tinggi tetapi kita dihadapkan pada banyak tantangan seperti, rendahnya kompetensi penggunaan teknologi Informasi, rendahnya kebijakan dan peraturan, terbatasnya infrastruktur, isu kebudayaan, dan biaya.
Sebagai salah satu tempat proyek penerapan eHealth adalah Kabupaten Gunung Kidul. Di kesempatan ini, drg. Widodo, MM sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul memaparkan mengenai electronic medical record. Tantangan yang dirasakan Kabupaten Gunung Kidul tidak jauh berbeda seperti yang disampaikan oleh dr. Lutfan Lazuardi seperti yang dirasakan oleh daerah-daerah lain di Indonesia, salah satunya adalah rendahnya kemampuan penggunaan IT.

Pengantar Minggu ini 2 – 9 Desember 2013
Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan informasi terbaru setiap minggunya!
Kesiapsiagaan Bencana melalui Seminar dan Simulasi

International Symposium on Climate Change and Health
Pada tanggal 4 Desember 2013 telah diadakan simposium internasional mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Untuk menghindari dampak yang serius dari climate change terhadapa kesehatan masyarakat, semua sektor dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan menerapkan strategi untuk menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca. Sektor kesehatan merupakan sektor yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap emisi gas rumah kaca sehingga perlu menjadi sektor yang menjadi contoh. Terkait dengan hal itu, sebuah proyek yang dibiayai oleh Swedish International Development Cooperation Agency (Sida) bekerjasama dengan Umeå University, Swedia dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, bermaksud mengadakan simposium terkait upaya mitigasi perubahan iklim dan adaptasi di sektor kesehatan termasuk penggunaan eHealth. Simposium berfokus pada pemaparan pengetahuan dan kesenjangan yang terjadi saat ini yang harapannya menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi semua pihak. Informasi selengkapnya, silahkan ![]()
Gladi Lapang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Gunung Kidul :
Simulasi BencanaTanah Longsor
Kesiapsiagaan menghadapi bencana tanah longsor, tidak cukup dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga melibatkan masyarakat. Salah satu upaya meningkatkan pemahaman masyarakat dan uji coba perencanaan kesiapsiagaan bencana oleh Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul dapat dilakukan dengan menggelar simulasi penanggulangan bencana tanah longsor. Harapannya, hasil dari simulasi ini dapat memberikan masukan kepada Pemerintahan Gunung Kidul, Rumah Sakit di Gunung Kidul, dan masyarakat Gunung Kidul dalam menyiapkan perencanaan penanggulangan bencana baik ditingkat daerah atau Regional Disaster Plan (RDP) dan perencanaan penanggulangan bencana di sektor kesehatan baik bagi dinas kesehatan dan rumah sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP). Informasi lebih lanjut silahkan ![]()
Reportase Table top Exercise RSUD Wonosari
Sebelum penyelenggaraan simulasi bencana pada tanggal 5 Desember 2013, Tim PKMK dan Pokja Bencana FK UGM telah melakukan pendampingan table top exercise di RSUD Wonosari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan rumah sakit dalam penanggulangan bencana berdasarkan dokumen yang telah dimiliki. Reportase kegiatan silahkan ![]()
Penyuluhan dan Simulasi Bencana oleh Mahasiswa KKN FK UGM
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada 2013 Unit KP-01 mengadakan acara Penyuluhan dan Simulasi Bencana Longsor pada Minggu, 1 Desember 2013. Acara yang dilaksanakan di Balai Desa Banjaroya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat desa Banjaroya terhadap mitigasi, adaptasi dan penanganan bencana di daerah mereka. Reportase selengkapnya silakan ![]()
Minggu lalu:
|
|
|
Reportase Sesi 4 CCMAP
International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in The Health Sector with Focus on Research, Policy and Action

Sesi keempat dimoderatori oleh Prof. Laksono Trisnantoro. Dalam sesi ini, moderator bersama dengan para narasumber membahas mengenai peningkatan, kesiapsiagaan, dan respon sistem kesehatan terkait pemanfaatan sistem informasi dalam menghadapi perubahan iklim. Tiga narasumber yang dihadirkan dari Swedia yang akan membahas pelayanan gawat darurat di wilayah terpencil, dari Ericson mengenai dampak IT pada pengembangan sosioekonomi, dan dari Dinas Kesehatan DIY, dr Arida Oetami, M.Kes mengenai prioritas provinsi dalam menghadapi perubahan iklim dan kesehatan.
Lena Kroik memulai presentasinya dengan memutar sebuah film dokumenter. Film ini mengisahkan kecelakaan yang terjadi di sebuah daerah terpencil di Swedia. Korban gawat darurat membutuhkan pertolongan segera, maka first responder menelpon pusat pertolongan dan terjadilah koordinasi pelayanan kesehatan sehingga beberapa saat kemudian ambulans udara bisa didatangkan untuk menyelamatkan korban. Pembelajaran yang dapat diambil dari paparan Lena adalah pemetaan wilayah, sumber daya, dan peralatan sangat membantu dalam membangun sistem informasi.
Dari Ericson, sebagai salah satu pengembang IT di Indonesia, Crist B Ngantung menjelaskan mengenai dampak ICT terhadap pengembangan sosioekonomi. Bagaimana ICT berpengaruh pada nilai GDP dan household.
Menyadari bahwa wilayah Yogya rentan terhadap bencana serta belajar dari berbagai pengalaman bencana yang pernah terjadi, maka Dinas Kesehatan DIY melakukan kesiapsiagaan dengan pemetaan Kawasan Risiko Bencana, pemantauan, penyebaran informasi, koordinasi aktif dengan SKPD terkait, melakukan kesiapsiagaan logistik, dan rekomedasi kegiatan teknis yang berkaitan dengan mitigasi. Kegiatan kesiapsiagaan ini berkaitan dengan sistem informasi yang dibangun oleh Dinas Kesehatan DIY, misalnya dalam melakukan pemetaan wilayah berisiko dan merekam kegiatan surveilans.
Reportase Sesi 2 CCMAP
International Symposium on Climate Change and Health
Mitigation and adaptation in the health sector with focus on research, policy and action

Mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim salah satunya dilakukan dengan penelitian sebagai dasar dalam pembuatan keputusan di bidang kesehatan. Di sesi dua dalam simposium ini kita diajak untuk memahami gap-gap dalam penelitian, penguatan sistem kesehatan, dan pemaparan mengenai persepsi terhadap perubahan iklim dan peran kesehatan di dalamnya.
Prof. Hari Kusnanto dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM menyampaikan tentang gap-gap penelitian dalam perubahan iklim. Banyak penelitian yang menampilkan hubungan antara kesakitan masyarakat dengan perubahan iklim ataupun bencana yang diakibatkan perubahan iklim. Namun, belum semua hasil penelitian menjadi dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan, terutama di negara berkembang.
Prof. Laksono Trisnantoro menyampaikan definisi adaptasi kebijakan dalam menghadapi perubahan iklim. Adaptasi kebijakan tersebut adalah upaya dari pemerintah termasuk dalam membuat legislasi, peraturan, dan insentif untuk memfasilitasi sebuah sistem yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Namun disayangkan, hingga saat ini tidak ada peraturan daerah yang khusus mengatur atau berhubungan dengan perubahan iklim. Dalam paparannya, beliau juga menjelaskan mengenai tantangan dalam adaptasi kebijakan baik di tingkat nasional ataupun daerah, salah satunya minimnya penelitian dampak perubahan iklim bagi kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Diselingi dengan gurauan dan dibuka sesi pendapat dari peserta, paparan dari dr. Nawi Ng memberikan kesimpulan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk peduli pada dampak perubahan iklim bagi kesehatan masyarakat dan peran lebih dari profesional kesehatan merupakan upaya adaptasi menghadapi perubahan iklim. Pada rangking berapakah sebenarnya perubahan iklim dan pemanasan global menjadi perhatian bagi kita semua? Satu, dua, atau tiga kah?