Demi Bantuan Bencana Cepat dan Tepat, Kemensos Gandeng LSM

jpnn.com, JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) akan bersinergi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar penanganan saat bencana ataupun pascabencana lebih baik lagi.

“Kita (Kemensos, red) akan bersinergi untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang mengalami bencana. Masing-masing lembaga mempunyai spesialisasi. Ada yang di pemberdayaan, pendidikan sampai bagaimana membangun tempat ibadah,” kata Mensos Tri Rismaharini.

LSM yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial antara lain Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan akan terus bertambah. Baca Juga: Malam Itu Mbak PT Berada di Hotel “Kita juga akan menyiapkan dashboard. Dengan adanya dashboard itu kita bisa lihat kira-kira apa yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita,” kata Mensos.

Informasi dari pemerintah daerah dan masyarakat akan terlihat dengan dashboard. Karenanya dapat membuat penanganan bencana lebih cepat dan tepat lewat berbagi peran dan tugas. Baca Juga: DS Sudah Ditangkap, soal Duit Rp362 Juta, Parah Pada akhirnya, sinergi Kementerian Sosial dan LSM akan membuat bantuan Kemensos saat bencana yang kerap terjadi akan lebih mudah teratasi. (jpnn)

sumber: JPNN.com

Mensos Risma Gandeng LSM Perbaiki Penanganan Bencana

PKMK – Kementerian Sosial akan bersinergi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk memperbaiki penanganan saat bencana ataupun pascabencana.

“Kita akan bersinergi untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang mengalami bencana. Masing-masing lembaga mempunyai spesialisasi. Ada yang di pemberdayaan, pendidikan sampai bagaimana membangun tempat ibadah,” kata Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam keterangan tulis, Selasa (8/6).

LSM yang bekerjasama dengan Kementerian Sosial antara lain Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan lainnya dan akan terus bertambah.

Risma menguraikan, pihaknya bakal menyiapkan dashboard mengenai list kebutuhan korban bencana.

“Kita juga akan menyiapkan dashboard. Dengan adanya dashboard itu kita bisa lihat kira-kira apa yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita,” jelasnya.

Informasi dari pemerintah daerah dan masyarakat akan terlihat dengan dashboard. Karenanya dapat membuat penanganan bencana lebih cepat dan tepat lewat berbagi peran dan tugas.

Pada akhirnya, sinergi Kementerian Sosial dan LSM, kata Risma, akan membuat bantuan Kementerian Sosial saat bencana yang kerap terjadi akan lebih mudah teratasi.

Sumber: Liputan6.com [fik]

Pengayaan Materi Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan pada Fasilitator Lokal Sulawesi Tengah

Pelatihan fasilitator mei 1

Pengayaan Materi Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan pada Fasilitator Lokal Sulawesi Tengah

25 Mei 2021

 

{tab Kerangka Acuan Kegiatan}

 

Pengantar

Peningkatan kapasitas sumber daya lokal dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah sangatlah penting. Dalam peningkatan kapasitas sumber daya lokal tersebut, PKMK FK-KMK UGM telah menyelenggarakan TOT Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan (Disaster Plan) pada 17 – 26 November 2020. TOT ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Dinas Kesehatan dan Perguruan Tinggi untuk mendampingi kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Dari 37 orang peserta yang telah mendapatkan Pelatihan TOT disaster plan sebanyak 25 orang yang bersedia menjadi fasilitator lokal.

Pada gempa Mamuju Sulawesi Barat, fasilitator lokal berkoordinasi dengan tim PKMK FK-KMK UGM ikut terlibat dalam penanganan gempa. Selanjutnya fasilitator lokal juga sudah berperan sebagai pemateri pada pelatihan penyusunan dokumen penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinkes Kota Palu, Dinkes Kab. Donggala, RSUD Kabelota, Puskesmas Tompe dan Puskesmas Sangurara. Secara umum fasilitator mampu memaparkan materi dengan baik. Penyampaian materi pada pelatihan tersebut didampingi oleh narasumber dari PKMK FK – KMK UGM.

PKMK FK – KMK UGM akan terus bekerja sama dengan fasilitator lokal dalam rangka melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Pengembangan kapasitas lokal ini juga menjadi salah satu program pengembangan kapasitas sumber daya di daerah dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan.. Dengan demikian, penguatan pemahaman fasilitator lokal terhadap materi yang sudah dipilih sangat penting untuk diperdalam kembali supaya fasilitator lebih memahami dan menguasai konsep materi.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman fasilitator lokal terhadap materi terkait penyusunan perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting dengan pembagian room sesuai dengan minat fasilitator.

 

Peserta Kegiatan

Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah fasilitator lokal yang sudah mengikuti rangkaian TOT disaster plan oleh PKMK FK – KMK UGM

 

Hal yang perlu dipersiapkan oleh peserta:

Materi yang sudah pernah dibawakan pada pelatihan dan pertanyaan/pernyataan yang perlu diperdalam.

 

Output Kegiatan

Fasilitator lokal lebih memahami konsep materi yang diminati/dipilih

 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Hari/Tanggal : Selasa, 25 Mei 2021

Waktu : 09.00 – 12.00 WITA

 

Kamis, 15 April 2021
Waktu Materi/Kegiatan Fasilitator/Narasumber
09.00 – 09.10 Pengantar – PKMK FK-KMK UGM
09.10 – 09.20 Pembagian room sesi 1 – PKMK dan Peserta
09.20 – 10.20

Room 1 :

Materi Kebijakan dan Komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas

Akreditasi SNARS

– dr. Bella Donna, M.Kes

– Fasilitator materi kebijakan dan komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas

– Fasilitator Materi Akreditasi SNARS

Room 2 :

Materi Analisis Risiko

– Madelina Ariani, MPH

– Fasiliattor materi analisis risiko

Room 3 :

Materi Logistik dan Fasilitas saat Bencana

– Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt

– Fasilitator Logistik dan Fasilitas

10.20 – 10.30 Pembagian room sesi 2  
10.30 – 11.30

Room 1 :

Sistem Pengorganisasian

– dr. Bella Donna, M.Kes

– Fasilitator materi sistem pengorganisasian

 

Room 2 :

SOP dan Pengembangan Skenario

– Madelina Ariani, MPH

– Fasilitator materi SOP dan Pengembangan Skenario

 

Room 3 :

– Data dan Informasi

– Peta Respon

– Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt

– Fasilitator data dan informasi

– Fasilitator materi peta respon

11.30 – 12.00 Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan  

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam materi pemahaman fasilitator lokal terkait penyusunan perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas. Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting dengan pembagian room sesuai dengan minat fasilitator. Room terbagi menjadi 3 room dengan 2 sesi. Materi sesi pertama : (a) Kebijakan dan Komponen Disaster Plan di Dinkes, RS dan Puskesmas oleh dr. Bella Donna, M.Kes; (b) Analisis Risiko oleh Madelina Ariani, MPH; (c) Logistik dan Fasilitas saat Bencana oleh Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt. Materi sesi kedua : (a) Sistem Pengorganisasian oleh dr. Bella Donna, M.Kes; (b) SOP dan Pengembangan oleh Madelina Ariani, MPH dan (c) Data Informasi, Peta Respon oleh Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt. Peserta yang mengikuti kegiatan ini 17 orang fasilitator lokal. Peserta dan narasumber lebih banyak berdiskusi untuk membahas hal – hal yang belum dipahami oleh fasilitator.

Pelatihan fasilitator mei 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi terkait materi disaster plan (kiri) sistem pengorganisasian (kanan)”

Pada materi sistem pengorganisasian peserta menanyakan sejauh mana kewenangan tim bencana yang notabene pengaktifan tim ini berbasis sistem komando, memperjelas tugas dan fungsi dari masing – masing bidang. Pada materi logistik berdiskusi terkait SOP apa yang harus dipersiapkan di Disaster Plan serta bahwa berita acara penerimaan bantuan sebaiknya melampirkan invoice atau ada perkiraan harga barang. Dalam logistik ini ada dua pendekatan, yaitu secara makro maupun secara mikro dalam artian pengelolaan logistik secara makro yaitu bagaimana perencanaan, distribusi, penyimpanan dan pelaporan/pencatatan logistik ini terintegrasi dengan bidang – bidang lain di sistem komando, bagaimana merencanakan sesuai dengan informasi di lapangan mendistribusi dan menyipan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Namun di sisi lain, secara mikro, logistik ini tak kalah penting yaitu bagaimana detail tanggal kadaluarsa, siapa yang menyimpan kunci gudang, temperatur saat penyimpanan dan transportasi obat alat kesehatan maupun bahan habis pakai, sampai detil harga bantuan yang diberikan juga harus dicatat dan didokumentasikan dalam disaster plan – disaster plan yang diadvokasikan ke klien. Untuk menghindari secondary disaster pasca bencana SOP yang mendokumentasikan manajemen logistik secara mikro ini sangat penting, sementara untuk menghindari inovasi – inovasi yang kurang strategis dan tidak efisien saat awal terjadi bencana, diantisipasi dengan SOP manajemen logsitik secara makro.

Materi peta respon peserta berdiskusi apakah peta respon hanya bisa dibuat manual atau juga digital, bagaimana mengkonversi RHA menjadi peta respon, siapa yang berhak meng – update informasi di peta respon serta bagaimana peta respon RS memetakan kapasitas cadangan. Peta respon adalah salah satu bentuk produk informasi yang dihasilkan oleh otoritas kesehatan (klaster kesehatan daerah atau faskes terdampak) saat terjadi bencana. Peta risiko disusun berdasarkan hasil analisis resiko dan memperhatikan HVC yang ada saat pra bencana, maka peta respon memuktahirkan peta risiko dengan menambahkan alur rujukan dan kontak person yang ada saat itu. Pemuktahiran informasi HVC didapat dari hasil RHA oleh tim yang ditunjuk dari pusat, propinsi, kabupaten, laporan petugas puskesmas maupun relawan kesehatan yang melaporkan hasil temuan mereka di lapangan. Tidak semua orang boleh melakukan update/pemuktahiran pada peta respon, itulah pentingnya dinkes memiliki SOP alur informasi, sehingga jelas disebutkan siapa yang melakukan analisis hasil RHA dan melakukan update pada peta respon.

Pelatihan fasilitator mei 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi materi analisis risiko dalam rencana kontijensi”

Jika ada dua atau lebih metodologi penyusunan peta respon saat bencana maupun saat simulasi, keputusan dikembalikan kepada komandan penanggulangan bencana kesehatan, yang tertuang di rencana kontijensi/dinkes disaster plan, bisa kepala dinas maupun siapapun orang yang ditunjuk. Untuk peta respon di RS, ada dua pendekatan, peta respon internal untuk manajemen relawan kesehatan dan pasien di lingkungan rumah sakit maupun eksternal di daerah sekitar rumahsakit/wilayah kerja RS. Peta respon internal disusun dari peta risiko terlebih dahulu yang kemudian ditambah dengan pemuktahiran relawan – relawan kesehatan yang datang ke RS tersebut memberikan bantuan, perlu disebutkan bangsal – bangsal apa saja yang masih berfungsi dan kontak person penanggung jawab bangsalnya, sementara untuk yang eksternal seperti peta respon dinas dan puskesmas, hanya saja memang penting untuk diidentifikasi terlebih dahulu sumber daya yang berpotensi memberikan bantuan sebagai tenaga cadangan dan tempat tempat cadangan yang dapat dialihfungsikan sebagai bangsal agar mudah saat membuat peta respon ketika bencana terjadi baik internal maupun eksternal. Pada materi anlisis risiko membahas apa yang yang membedakan beda analisis risiko BPBD dengan dinkes dan bagaimana sikap puskesmas menghadapi renkon baru oleh BPBD sigi mengenai banjir, padahal mereka sudah susun untuk gempa.

 

Reportase : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK

{/tabs}

Pengenalan Tools Public Health Emergency Operations Centre (PHEOC) untuk Peningkattan Kesiapsiagaan Emergensi

pheoc

pheocPHEOC dipandang sebagai komponen kesiapsiagaan darurat dan digunakan untuk koordinasi multi lembaga merespon bahaya termasuk bencana alam,dan non-alam seperti tumpahan bahan kimia, insiden radionuklir, darurat kemanusiaan dan wabah penyakit. Dalam perannya memantau kejadian dengan menggunakan berbagai data, meningkatkan komunikasi antar personal kesehatan dan manajemen darurat. Operasional PHEOC dalam keadaan darurat mengacu pada struktur organisasi berbasis Incident Command System (ICS). PHEOC akan terus beroperasi melalui pengawasan kegiatan rutin dalam melayani kebutuhan kesehatan masyarakat selama periode wabah dan nonwabah. Dengan demikian, dapat dipastikan model keberlanjutan PHEOC dapat dilakukan melalui analisis rutin dan pengawasan data (sistem surveilans). Hal tersebut tentu harus didukung dengan fasilitas yang memadai (logistik operasional).

Selengkapnya

Pelatihan Online Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros

PHEOC 1

Pelatihan Online

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros


 

{tab title=”Kerangka Acuan Kegiatan” class=”red”}

Pengantar

PHEOC adalah wadah pusat komunikasi dan koordinasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau juga dikenal dengan public health emergency, baik pada saat normal karena eskalasi kejadian penyakit atau kejadian luarbiasa penyakit yang disebabkan sebagai dampak lanjutan dari kejadian bencana non alam yang mendahului, atau public health in emergency. Kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat seringkali diikuti dengan kejadian yang sangat cepat, menyerang banyak orang dan luas wilayah yang bisa sangat luas, serta dapat menimbulkan kecemasan berbagai pihak. Untuk itu, dengan kondisi negra Indonesia yang luas ini, PHEOC diharapkan tidak hanya berada di level nasional saja tapi juga dapat diimplementasikan juga di tingkat daerah.

Operasional PHEOC daerah dalam keadaan darurat mengacu pada struktur organisasi berbasis Incident Command System (ICS) serta beroperasi melalui pengawasan kegiatan rutin dalam melayani kebutuhan kesehatan masyarakat selama periode wabah. Dengan demikian dapat dipastikan model keberlanjutan PHEOC daerah dapat dilakukan melalui analisis rutin dan pengawasan data (sistem surveilans) yang didukung dengan fasilitas yang memadai (logistik operasional). Selama ini PHEOC daerah fungsinya berada di Dinas Kesehatan di seksi surveilans bidang pengendalian penyakit dengan fungsi komando dan koordinasi yang masih sangat terbatas, padahal dengan kapasitas pemantauan rutin dan pengolahan data seperti yang selama ini sudah berjalan dengan baik, fungsi PHEOC daerah dapat lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu PKMK FK-KMK UGM bekerjasama dengan Lembaga INSPIRASI melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas PHEOC Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada bulan April lalu telah dilaksanakan kegiatan review kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan Kedaruratan KKM. Hasil review ini menunjukkan kapasitas daerah dalam kegiatan KKM masih perlu dikembangkan. Daerah belum memiliki dasar hukum dari dinas kesehatan maupun PERDA terkait dengan badan khusus penanganan KKM yang memiliki fungsi komando dan koordinasi dan lebih komprehensif dapat bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor di daerah. Pelatihan ini merupakan salah satu kegiatan untuk pengembangan dan penguatan sumber daya manusia untuk mengoperasionalkan PHEOC daerah di Dinas Kesehatan. Untuk itu, PKMK FK-KMK UGM kembali mengadakan penguatan kapasitas PHEOC di daerah dengan melakukan kegiatan pelatihan online.

 

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan melalui daring (online), dimana setiap narasumber menyampaikan materi. Penugasan yang dibutuhkan pada materi tertentu akan dilanjutkan dan dilaksanakan pada pertemuan langsung di akhir bulan Juni di Kota Makassar.

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini adalah

  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
  • Dinas Kesehatan Kota Makasar

Peserta dari masing – masing Dinas Kesehatan terdiri dari:

  • Bidang Pengendalian Penyakit (P2)
  • Sie Surveillans
  • Sie Krisis Kesehatan
  • Bidang Yankes
  • Sie Rujukan
  • Bidang Logistik
  • Bidang Administrasi Keuangan

 

Output Kegiatan

Peserta memahami peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat.

Jadwal

Pertemuan I       : Rabu, 2 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.30 WITA

Pertemuan II      : Kamis, 3 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Pertemuan III  : Selasa, 8 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Pertemuan IV  : Kamis, 10 Juni 2021 pukul 10.00 – 12.00 WITA

Rabu, 2 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.10

Pengantar dan Pembukaan

 

 

Pretest

PKMK FK-KMK UGM

Dinkes Prov. Sulawesi Selatan

 

Moderator : Madelina Ariani, MPH

 

10.10 – 10.30

 

 

Paparan Hasil Review Kapasitas PHEOC (Public Health Emergency Operation Center) Provinsi Sulawesi Selatan

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

10.30 – 11.10

 

 

 

11.10 – 11.25

Konsep Ketahanan Kesehatan Nasional dan Komitmen global serta Kebijakan Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan di Indonesia

Diskusi

dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M – Pusat Krisis Kemenkes

Materi

 

11.25 – 12.05

 

 

 

12.05 – 12.20

Konsep, Tugas dan Fungsi PHEOC Daerah dalam Sistem Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan, serta Ketahanan Kesehatan

Diskusi

Abdurahman, SKM, M.Kes – Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes

Materi

 

 
12.20 – 12.30 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Kamis, 3 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator

Happy R Pangaribuan, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 11.00

Sistem Pengorganisasian

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

11.00 – 11.45

 

11.45 – 12.00

Operasional PHEOC Daerah dan Analisis RHA

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 
12.00 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Selasa, 8 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator

Happy R Pangaribuan, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 11.00

Konsep dan Jenis-jenis Tim Bantuan Bencana

Diskusi

dr. Bella Donna, M.Kes – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 

11.00 – 11.45

 

11.45 – 12.00

Perencanaan Mobilisasi SDM

 

Diskusi

Madelina Ariani, MPH – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Materi

 
12.00 Pengarahan pertemuan berikutnya PKMK FK-KMK UGM  
Kamis, 10 Juni 2021
Waktu Materi Moderator/Narasumber  
10.00 – 10.05 Pengantar singkat

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 

10.05 – 10.45

 

10.45 – 10.55

Logistik dalam Operasional PHEOC Daerah

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt – Peneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM

 

10.55 – 11.35

 

11.35 – 11.50

Bentuk, Aplikasi dan

Komponen Dinkes Disaster Plan

Diskusi

Happy R Pangaribuan, MPHPeneliti dan Konsultan PKMK FK-KMK UGM  
11.50 – 11.55 Post Test

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 
11.55 – 12.00 Testimoni dan Rencana Tindak Lanjut

Moderator :

Madelina Ariani, MPH

 
12.00 Penutupan    

 

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Online Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berharap Dinas Kesehatan dapat memahami aspek-aspek yang terdapat dalam PHEOC daerah. Sebagai lembaga riset dan konsultasi, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan/ PKMK FK-KMK UGM serta jejaring yang terlibat akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan peningkatan kesiapsiagaan krisis kesehatan baik karena bencana alam, non-alam maupun sosial di daerah.

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

{tab-ex title=”Hari Pertama” class=”red”}

 

Reportase

Peningkatan Kapasitas PHEOC Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros


Rabu, 2 Juni 2021

PHEOC 1

 

Dok. PKMK FK. KMK UGM “Pengantar Kegiatan Peningkatan Kapasitas PHEO Daerah Sulawesi Selatan”

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan fungsi PHEOC dalam penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan. Kegiatan ini dimoderatori oleh Madelina Ariani, sebagai salah satu peneliti/konsultan PKMK FK-KMK UGM, dimulai dengan pengantar oleh dr. Bella Donna. Dalam penganar disampaikan bahwa PHEOC ini masih belum familiar di daerah, sehingga perlu dikembangkan sampai ke daerah. Bagaimana dinas kesehatan memahami apa yang menjadi peran dan fungsi PHEOC. Selanjutnya Gde Yulian Yogadhita, M.Epid, Apt menyampaikan hasil kegiatan review kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan Kedaruratan KKM. Hasil review ini menunjukkan kapasitas daerah dalam kegiatan KKM masih perlu dikembangkan. Daerah belum memiliki dasar hukum dari dinas kesehatan maupun PERDA terkait dengan badan khusus penanganan KKM yang memiliki fungsi komando dan koordinasi dan lebih komprehensif dapat bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor di daerah.

PHEOC 2

Dok. PKMK FK. KMK UGM “Penyampaian materi pertama oleh dr. Widiana K. Agustin, MKM (kiri) dan materi kedua oleh Abdurahman, SKM, M.Kes”

Materi pertama Konsep Ketahanan Kesehatan Nasional dan Komitmen global serta Kebijakan Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan di Indonesia disampaikan oleh dr. Widiana K. Agustin, MKM dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Diawal pemaparannya menyampaikan terkait permenkes 75 tahun 2019 tentang krisis kesehatan. Paradigma manajemen bencana sudah berubah kalau dulu berfokus pada tanggap darurat tetap sekarang mengarah ke pengurangan risiko. Pernyataan Standar, Pengertian, DO, Rumus penghitungan, Target, langkah, teknik penghitungan dan Monev tentang SPM ada dalam Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Penanganan pandemic menggunakan framework manajemen bencana dengan prioritas pengurangan risiko becana. Dimana pada para bencana terdapat sistem kewaspadaan dini KLB dan kesiapsiagaan serta adanya peringatan dini. Komitmen global dalam menyikapi meningkatnya ancaman KKM dengan menerapkan IHR (2005) dan global health security.

Materi kedua Konsep, Tugas dan Fungsi PHEOC Daerah dalam Sistem Penanggulangan Bencana alam, non alam dan Krisis Kesehatan, serta Ketahanan Kesehatan disampaikan oleh Abdurahman, SKM, M.Kes dari Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes. Dalam pelaksanaannya PHEOC bekerja dalam 24 jam sehingga mengunakan metode kerja shift. Jika melihat framework WHO ada EOC framework, bagaimana EOC dibangun dan bagaimana operasionalnya. Kedudukan PH-EOC berbeda dalam setiap negara. Di Indonesia PHEOC ada di kemenkes dibawah dirjen P2P, fokus untuk bencana non alam seperti KLB, KKM. Dalam ruang PHEOC ada disediakan juga ruang rapat sebagai tempat pertemuan untuk pengambilan keputusan jika misaalnya terjadi KLB. Secara komprehensif perlu diketahui oleh Dinkes apa peran dan tanggung jawab masing-masing bidang PHEOC artinya tidak hanya sekedar melengkapi fasilitas saja. Salahs atu basic pelatihan yang dibutuhkan oleh PHEOC adalah pelatihan Incident Command System (ICS). Kegiatan operasional PH-EOC terdiri dari 3 fase yaitu fase pemantauan, fase kewaspadaan dan fase respon. Fase pemantauan itu bagaimana memonitor kejadian kesehatan masyarakat, dilakukan komunikasi risiko, pelatihan, kesiapan logistik dan update SOP.

PHEOC 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi diskusi”

Diskusi

Pada sesi diskusi membahas terkait dengan struktur organisasi PHEOC, siapa yang menjadi penanggung jawab/komandan di daerah. Pada struktur yang ditampilkan belum menggambarkan kondisi emergensi dari operasional ini. Pada klaster kesehatan nasional PJ nya adalah PKK Kemenkes. Sementara PHEOC masuk kedalam subklaster P2P. Jadi tetap mengacu pada struktur organisasi klaster kesehatan, jika situasinya bencana non alam makan leading bidang operasionalnya ada di subklaster pengendalian penyakit. Pada pengembangan PHEOC ada protab siapa yang melakukan apa. PHEOC beroperasi tidak hanya pada saat emergensi tetapi bekerja di 3 fase (fase normal, fase alert dan fase respon).

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

 

{tab-ex title=”Hari Kedua” class=”green”}

Kamis, 3 Juni 2021

pelatihan pheoc h2 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM: konsep pengorgansasian ICS

Hari kedua yaitu Kamis, 3 Juni 2021 kembali dilanjutkan pelatihan online penguatan kapasitas PHEOC tepat pukul 09.00 WIB yang dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH. Acara diawali dengan arahan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. H. Muhammad Ichsan Mustari, MHM. Kasus kegawatdaruratan kesehatan masyarakat harus dipandang sangat serius, bagaimanapun ini bisa berdampak luas bagi masyarakat kita, ungkapnya. Dasarnya ada di kemampuan membaca data dan menganalisisnya menjadi informasi yang valid untuk pengambilan keputusan status kasus yang berpotensi menjadi kegawatdaruratan masyarakat. Penting bagi daerah memahami konsepnya dan menyesuaikan dengan kebutuhan daerah masing – masing, tambah beliau.

Materi pertama oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Tentu tidak asing dengan pembicara karena di banyak kesempatan Bella selalu menyampaikan materi tentang konsep pengorganisasian dalam situasi kebencanaan. Kali ini untuk PHEOC daerah juga demikian. Bagaimana daerah mampu mendisain pengorganisasiannya, dan tidak bingung dengan adanya kontrol di BPBD, di bagian krisis kesehatan, dan di PHEOC sendiri. Namun, bagaimana kejelasan tugas dan fungsi yang terpenting agar tugas, komunikasi dan koordinasi terjalin tidak saja antara dinas kesehatan dengan lintas sektor tetapi juga di internal dinas kesehatan sendiri. Bella juga menjelaskan dimana peran PHEOC dalam klaster kesehatan dalam situasi bencana alam dan non alam.

pelatihan pheoc h2 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM: Sesi diskusi

Kabupaten Maros bercerita bahwa sudah memiliki rencana kontijensi antraks dan Kota Makasar yang juga memiliki rencana kontijensi Sars. Meski demikian, itu adalah pengorganisasian dan koordinasi untuk spesifik penyakit/ bencana non alamnya, yang dibutuhkan oleh dinas kesehatan saat ini adalah pengorganisasian/ perencanaan yang dapat menanggapi semua jenis bencana bai kalam non alam, dan menguatkan peran PHEOC di dalamnya, tegas Bella.

Materi kedua disampaikan oleh Gde Yulian Yogadhita, Apt. M.Epid mengenai RHA dan perubahan dari RHA menjadi analisis situasi kegawatdaruratan kesehatan masyarakat/ KKM. Pembahas ini menggambarkan tugas rutin surveilans masuk ke dalam tahapan – tahapan fase KKM. Mulai dari sehari – hari atau situasi pemantauan, berlanjut ke situasi peringatan, dan situasi respons. Hal ini tidak bisa anggap biasa dan rutin, sebab PHEOC adalah integrasi dari kegiatan public health sehari – hari dalam kerangka Emergency Operation Center, mau tidak mau petugas PHEOC harus memiliki wawasan dan rasa mengenai emergency, bagaimana menganalisis data rutin dan membacanya sebagai warning alert di masa pemantauan. Selain itu ditekankan juga menganai pelaporan dan berbagai kepentingan dari pelaporan tersebut jika dilakukan secara terintegrasi di dinas kesehatan ataupun di bawah pemerintah daerah, ungkap Gde.

Pertemuan akan berlanjut pada, Rabu, 8 Juni 2021 di waktu yang sama. Seluruh materi dapat di download pada halaman website ini.

Reportase oleh: Madelina A

{tab-ex title=”Hari Ketiga” class=”grey”}

Selasa, 8 Juni 2021

pheoc 3 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi diskusi mobilisasi SDM”

Pertemuan hari ini dimoderatori oleh Happy R Pangaribua, MPH. Peserta mendapatkan dua materi Konsep dan Jenis-jenis Tim Bantuan Bencana oleh dr. Bella Donna, M.Kes dan materi Perencanaan Mobilisasi SDM oleh Madelina Ariani, MPPH. Peserta yang mengikuti pelatihan dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, Dinkes Kota Makassar dan Dinkes Kab. Maros.

Pada saat pra bencana disiapkan tim bencana mulI dari Tim Rapid Health Assessment (RHA); Emergency Medical Team (EMT) dan Public Health Rapid Response Team (PHRRT). Bagaimana membentuk tim ini? ini bisa dilakukan dengan penyusunan dokumen dinkes disaster plan. Dimana didalam dokumen ini tertulis jelas tupoksi dari setiap tim tersebut. Pada saat tanggap darurat tim tersebut sudah bisa melaksanakan tugasnya. Mereka akan bertugas sesuai dengan bencana yang ada. Tim RHA untuk melihat situasi, dampak dan apa saja yang dibutuhkan, pengiriman RHA ini dapat dilakukan secara berulang. Emergency MedicalTeam (EMT) sering disebut dengan tim medis, sekelompok professional kesehatan yang mememberikan perawatan klinis langsung kepada penduduk yang terdampak KKM. PHRRT lebih banyak ke pendekatan kolaboratif dan multi disiplin artinya tidak hanya dari bidang kesehatan saja, misalnya satgas kesehatan bergabung dnegan satgas daerah. PHRRT lebih ke arah promotifnya. PHRRT merupakan tim yang terdiri dari berbagai professional kesehatan masyarakat, terlatih dan siap untuk memobilisasi ketika ada keadaan darurat kesehatan masyarakat.

pheoc 3 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian materi Mobilisasi SDM oleh Madelina Arinai, MPH”

Mobilisasi SDM ini berkaitan dengan pengorganisasian dan SOP aktivasi PHEOC. Ssaat bencana terjadi tim RHA melakukan assessment awal kemundian dari hasil RHA ini memberikan informasi apakah dibutuhkan mobilisasi sumber daya. Jika dibutuhkan maka dibuat segera peta respon dan rencana operasi. Selanjutnya koordinator klaster kesehatan mengkoordinasikan upaya mobilisasi. Pada fase peringatan ketua/penanggungjawab PHEOC dan Kepala Dinkes dapat memberikan notifikasi kepada lintas sektor terkait waspada dan kesiapan. Pada fase respon, jika dibutuhkan meminta bantuan dan mobilisasi tim RHA, EMT dan PHRRT. Mobilisasi EMT, PHRRT dan relawan kesehatan dapat dilakuakn dari luar daerah. Proses mobilisasi dimulai dari kesiapa personil, kepada siapa melapor ketika tim sudah tiba di lokasi, pelaksanaan operasi sampai dnegan pengakhiran operasi. Kesiapan tim harus memperhatikan logistik yang dibutuhkan.

Sesi Diskusi

Terdapat 3 hal yang dibahas pada sesi diskusi yaitu terkait dengan waktu pelayanan kesehatan yang diberikan tim, jumlah personil tim yang akan dikirimkan dan pengalaman dinas kesehatan selama menugaskan Tim Gerak Cepat. Waktu pelayanan EMT adalah bukan lamanya salah satu relawan bertugas disana namum lamanya layanan kesehatan yang akan diberikan. Jadi misalnya EMT type 2 minimal 14 hari, bisa dilakukan pergantian orang yang bertugas untuk memberikan layanan selama 14 hari tadi. Jumlah personil yang dikirim atau TGC sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Yang penting diperhatikan adalah fungsi/peran siapa yang dibutuhkan. Sekarnag yang menjadi tugas bersama adalah memahamkan dinas kesehatan dan puskesmas bahwa TGC itu tidak hanya memberikan pelayanan medis saja namun didalamnya bisa juga memberikan layanan kesehatan masyarakat saat terjadi KKM. Artinya mereka akan ditugaskan sesuai dengan fungsinya dan jenis bencana apa yang terjadi.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs-ex}

 

{/tabs}

Waspada, Longsor dan Gerakan Tanah Berpotensi Terjadi di Jaksel-Jaktim Juni 2021

JAKARTA – Lurah dan camat di wilayah bantaran sungai di Jakarta diminta mengantisipasi potensi longsor apabila mengalami hujan di atas normal. Selain itu, para pejabat dan warga setempat juga diimbau waspada potensi gerakan tanah.

Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melalui akun Instagramnya, @bpbddkijakarta menejelaskan, prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG.

Menurut informasi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), beberapa daerah di Provinsi DKI Jakarta berada di Zona Menengah.

“Pada Zona Menengah dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan,” seperti dikutip Selasa (25/5/2021).

Adapun gerakan tanah berpotensi terjadi Juni 2021 di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dengan skala menengah. Untuk wilayah Jakarta Selatan ada di Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan.

Sedangkan untuk Jakarta Timur ada di Kecamatan Kramat Jati dan Pasar Rebo.

(qlh)

Mendagri Sebut Penanganan Dampak Bencana Badai Seroja di NTT Belum Tuntas

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian hari ini berkunjung ke Kabupaten Sumba Timur. Dalam kunjungannya tersebut, Tito mengatakan bahwa penanganan dampak bencana Badai Seroja yang menerjang Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum tuntas.

Dia mengatakan, berbagai permasalahan masih membutuhkan penanganan. Misalnya perbaikan bangunan rumah yang mengalami kerusakan akibat terjangan badai. Dia pun mengimbau agar semua pihak memberi dukungan terhadap penanganan tersebut.

“Nanti kita akan sampaikan kepada (pihak terkait) yang lain-lain, belum tuntas permasalahan. Mitigasinya belum tuntas, masih banyak rumah-rumah yang rusak,” katanya dikutip dari pers rilis Kemendagri, Kamis (3/6/2021).

Dia mengatakan, bahwa perbaikan terhadap kerusakan tersebut tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Pasalnya, kapasitas fiskal yang dimiliki Kabupaten Sumba Timur terbatas.

Maka dari itu Tito mengatakan, bahwa penanganan pasca bencana ini membutuhkan bantuan dari pihak lainnya, baik dari pemerintah provinsi, maupun di tingkat nasional.

“Ini akan kita suarakan, itu sepenuhnya maksud kedatangan kita ke sini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Tito berharap kedatangannya dapat menggaungkan terkait persoalan penanganan bencana di Sumba Timur tersebut. Dengan demikian, semua pihak nantinya dapat turut membantu, sehingga penanganannya lebih efektif.

Desa Tangguh Bencana Jadi Andalan Trenggalek Hadapi Potensi Tsunami 15 Meter

Trenggalek – BPBD Trenggalek mengintensifkan mitigasi potensi tsunami di pesisir selatan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat serta menyiapkan kader Desa Tangguh Bencana (Destana). Sebab potensi kerawanan itu bisa terjadi kapan saja.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Joko Rusianto, mengatakan tingginya potensi tsunami di wilayah pesisir selatan harus disikapi secara bijak seluruh komponen masyarakat maupun instansi kebencanaan.

“Tsunami itu tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, untuk itu kita semua harus waspada. Oleh karena itulah kami maksimalkan adalah kondisi pramitigasi,” kata Joko Rusianto saat dikonfirmasi, Kamis (3/5/2021).

Pihaknya mengakui, dari hasil kajian yang dilakukan BMKG wilayah pesisir selatan Trenggalek memiliki potensi bencana tsunami dengan ketinggian hingga 29 meter, atau potensi gelombang tertinggi di pesisir selatan Jawa Timur.

Dia menjelaskan sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD Trenggalek menyiapkan para kader destana di tiga kecamatan pesisir, seperti Watulimo, Munjungan dan Kecamatan Panggul. Pada desa tangguh bencana itu, pihaknya beberapa kali telah menggelar sosialisasi, edukasi hingga simulasi dalam menghadapi bencana tsunami.

“Warga kami edukasi dan kami ajak simulasi, bagaimana mengenali datangnya tsunami dan apa yang harus dilakukan,” ujarnya.

Tetap Fokus Krisis Kesehatan dan Potensi Bencana Alam

Jakarta

Jakarta berselimut masalah serius, dinamika kehidupan bersama saat ini masih jauh dari normal. Maka, semua elemen masyarakat, dari kalangan elit hingga akar rumput, didorong untuk tetap fokus pada upaya bersama mengakhiri krisis kesehatan atau pandemi COVID-19 dan antisipatif terhadap ragam potensi bencana alam.

Karena itu, menggoreng isu-isu lain di luar kedua masalah itu, terutama isu politik tentang calon presiden, dirasakan bukan hanya tidak membumi, tetapi juga amat sangat tidak elok. Hiruk-pikuk politik bisa dihindari jika para politisi berkenan untuk menahan diri, dan lebih menunjukan empati kepada begitu banyak masyarakat yang menderita atau serba kekurangan. Dalam situasi serba prihatin seperti sekarang, amat bijaksana jika siapa pun tidak meniupkan kebisingan politik, agar baik masyarakat maupun pemerintah, termasuk pemerintah daerah, tidak kehilangan fokus pada upaya mengakhiri pandemi COVID-19 serta mengantisipasi potensi bencana alam akibat tidak menentunya iklim.

Selepas pertengahan Mei 2021, beberapa daerah masih dilanda gempa bumi. Hari pertama Juni 2021, gempa berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang Pasaman, Sumatera Barat. Dua hari kemudian, tepatnya Kamis (3/6), gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 5,2 mengguncang Melonguane, Sulawesi Utara. Pada hari yang sama, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kegempaan di wilayah selatan Jawa Timur.

Ada potensi tsunami jika gempa bumi berkekuatan di atas M 6,5. BPBD Jawa Timur mengidentifikasi sedikitnya delapan (8) kabupaten rawan tsunami dengan risiko tinggi. Delapan Kabupaten itu meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan. Masyarakat pada semua pemukiman di wilayah selatan Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaannya. Semua ini memberi gambaran bahwa potensi bencana masih mengintai kehidupan masyarakat di banyak daerah, dan karena itu masyarakat bersama pemerintah harus antisipatif, setidaknya untuk meminimalisir korban jiwa maupun korban luka, serta meminimalisir kerugian masyarakat.

Sementara itu, perkembangan pandemi COVID-19 di dalam negeri juga masih memprihatinkan. Dari sejumlah daerah, dilaporkan bahwa terjadi lonjakan kasus positif COVID-19 pasca libur lebaran. Bahkan Kementerian Kesehatan memperkirakan kenaikan jumlah kasus COVID-19 pasca-Lebaran masih akan terjadi dan mencapai puncaknya pada akhir Juni 2021. Kecenderungannya sudah terlihat, setidaknya tercermin dari naiknya tingkat keterisian tempat tidur di Wisma Atlet, Jakarta; terjadi lonjakan keterisian dari sebelumnya 15% menjadi 30% pada akhir Mei 2021.

Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) juga melaporkan kecenderungan yang sama. Sejumlah rumah sakit di berbagai provinsi melaporkan kenaikan jumlah kasus COVID-19 pasca libur Lebaran. Kenaikan jumlah kasus COVID-19 di Aceh dan Sulawesi Barat lebih dari 50%. Kenaikan jumlah kasus dari 25 hingga 50% terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Kenaikan jumlah kasus COVID-19 antara 10 sampai 24% terjadi di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, dan Jambi. Kecenderungan yang sama juga terjadi di Jakarta. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, terjadi lonjakan kasus aktif COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, terhitung sejak 17 Mei 2021 sampai 31 Mei 2021. Peningkatan kasus aktif di Jakarta mencapai jumlah 3.365 kasus.

Kalau situasi di dalam negeri masih seperti itu, yang dibutuhkan masyarakat adalah empati dari semua pihak yang tidak terdampak bencana maupun yang tidak terdampak pandemi. Sudah menjadi pengetahuan dan catatan bersama bahwa baik pandemi COVID-19 dan sejumlah bencana alam di dalam negeri telah menempatkan begitu banyak orang dalam situasi dan kondisi menderita. Karena beberapa alasan, masih ada warga yang harus bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian. Dan, tentang dampak pandemi, semua orang tahu karena ikut mengalami langsung. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.

Selain duka dan sedih, bencana banjir bandang dan siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur pada April 2021 tentu saja masih menyisakan banyak pekerjaan untuk memulihkan kehidupan masyarakat setempat. Juga, patut disyukuri karena rangkaian gempa di sejumlah daerah lain yang terjadi sepanjang Mei hingga Awal Juni 2021 tidak menyebabkan kerusakan skala besar. Terkait dengan meningkatnya aktivitas kegempaan di Jawa Timur akhir-akhir ini, semua pihak diharapkan antisipatif dan bekerjasama mendukung kewaspadaan masyarakat pada semua pemukiman di wilayah selatan Jawa Timur.

Dengan begitu, sangat jelas bahwa baik perkembangan pandemi COVID-19 di dalam negeri maupun potensi bencana alam, masih memerlukan perhatian bersama. Dua persoalan serius ini masih harus menjadi fokus perhatian, baik perhatian dari pemerintah pusat maupun Pemerintah daerah, dan juga perhatian dari semua elemen masyarakat.

Misalnya, merespons laporan BMKG tentang meningkatnya aktivitas kegempaan di Jawa Timur, semua pemerintah daerah di wilayah Selatan Jawa Timur seharusnya semakin proaktif berkomunikasi dengan masyarakat. Tidak hanya sekadar meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga terkait mitigasi bencana dan simulasi evakuasi. Lalu, dalam konteks memutus rantai penularan COVID-19, pemerintah daerah yang wilayahnya mencatat kenaikan jumlah kasus positif pasca libur lebaran, tentu harus bekerja lebih keras dalam menegakkan ketentuan tentang protokol kesehatan (prokes).

Ketika sejumlah daerah masih berkutat dengan kegiatan antisipasi terhadap potensi bencana alam dan kerja keras memutus rantai penularan COVID-19, tentu saja menjadi sangat tidak pantas jika ada kelompok masyarakat lainnya justru memicu hiruk pikuk politik dengan isu tentang sosok calon presiden atau koalisi partai politik. Pelaksanaan agenda politik terkait pemilihan presiden itu masih lama, sekitar tiga tahun lagi. Sementara persoalan riel sekarang ini adalah tantangan meningkatkan kinerja bersama memerangi COVID-19 dan mengantisipasi bencana alam.

Dalam suasana serba prihatin seperti sekarang ini, semua pihak harus bersedia menahan diri untuk tidak bermanuver politik atau memicu kebisingan politik, agar pemerintah dan masyarakat bisa tetap fokus menangani krisis kesehatan dan waspada terhadap potensi bencana alam.

Blitar Berpotensi Tsunami, BPBD Minta Warga Siapkan Tas Siaga Bencana

Blitar – 8 Kabupaten di Jawa Timur berpotensi tsunami. Salah satunya Blitar. Untuk itu BPBD Kabupaten Blitar meminta warga menyiapkan tas siaga bencana.

Deretan pantai di pesisir Blitar selatan, merupakan wilayah terdekat sumber dua kali gempa yang terjadi hanya berselang dua pekan. Yakni, 10 April terjadi gempa Malang dan 21 Mei terjadi gempa Blitar berkekuatan M 5,9.

Data BPBD Kabupaten Blitar, empat kecamatan berpotensi jadi wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi jika terjadi tsunami. Ke empat kecamatan itu yakni Bakung, Panggungrejo, Wates dan Wonotirto. Dari empat kecamatan itu, terdata 12 desa terdampak.

Namun hanya tiga desa yang paling dekat dengan permukiman warga, dengan tingkat populasi antara 20 sampai 50 kepala keluarga (KK). Yakni Desa Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto, Desa Serang di Kecamatan Panggungrejo dan Desa Jolosutro di Kecamatan Wates.

“Belum semua desa itu membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). Hanya Serang, Tambakrejo dan Jolosutro. Pokok yang ada penduduknya itu sudah dibentuk Destana Semua,” jawab Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Achmad Cholik dihubungi detikcom, Jumat (4/6/2021).

Dua alat Early Warning System (EWS) sudah terpasang di Pantai Tambakrejo dan Jolosutro. Cholik mengaku, sebenarnya pihaknya sudah mengajukan satu EWS ke pemerintah pusat untuk dipasang di Pantai Serang. Namun sampai saat ini, belum ada respon dari pusat.

“Kami sudah mengupayakan semua. Namun kami sangat berharap, warga punya kemandirian dan kewaspadaan siaga bencana. Siapkan tas siaga bencana sekarang juga. Jadi ketika bencana melanda, bisa menyelamatkan keluarga dan barang berharga yang sudah tersimpan di tas itu,” tandasnya.

Tas Siaga Bencana itu, lanjut dia, berisi surat-surat berharga, barang berharga yang bisa disimpan di dalamnya, obat-obatan dan baju untuk persiapan selama tiga hari. Selain itu, jika memungkinkan bisa membawa senter, radio dan jangan sampai lupa HP.

Selain itu, penguatan mitigasi bencana secara penthahelix rutin disimulasikan. Seperti memukul kentongan, membunyikan peluit atau alat lainnya ketika pascagempa melihat fenomena air laut mulai surut.

“Sekali lagi, mulai sekarang siapkan tas siaga bencana. Perkuat pola komunikasi antar warga dan lebih peka membaca tanda-tanda alam. Jangan panik, namun fokus menuju jalur evakuasi yang sudah disiapkan di setiap desa,” pungkasnya.