Tren Wisata ke Bekas Lokasi Bencana Semakin Hits, Ini Sebabnya

Tren Wisata ke Bekas Lokasi Bencana Semakin Hits, Ini Sebabnya

Suara.com – Belakangan, kabar mengenai turis yang ramai mengunjungi situs bekas bencana nuklir Chernobyl di Pripyat, Ukraina sedang heboh dibicarakan.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah bagaimana turis gemar berkunjung ke lokasi bencana hanya demi mengambil foto dan selfie.

Akibatnya, banyak yang menganggap jika ulah para turis ini sudah keterlaluan dan tidak menghormati tragedi yang pernah terjadi.

Meski begitu, fenomena turis berkunjung ke lokasi bekas bencana atau tragedi ternyata bukan cuma sekali atau dua kali terjadi.

Dirangkum dari laman CNN, fenomena ini lebih dikenal dengan nama dark tourism dan mengacu pada kegemaran turis mengunjungi lokasi seperti kamp konsentrasi Nazi hingga 9/11 Memorial and Museum. Sisa-sisa jenazah di Kota Kuno Pompeii. (Shutterstock)

Sisa-sisa jenazah di Kota Kuno Pompeii. (Shutterstock)

Dark tourism sendiri merupakan istilah yang dibuat pada tahun 1990-an silam oleh para akademisi.

Disebut juga dengan thanatourism yang diambil dari bahasa Yunani ‘thanatos‘ atau ‘kematian’, dark tourism dideskripsikan sebagai aktivitas wisata yang memiliki asosiasi dengan kehancuran dan kematian.

Namun, budaya dark tourism atau thanatourism ini rupanya sudah ada bahkan sejak sebelum tahun 90-an.

Salah satu contohnya adalah Pompeii, kota di Roma yang hancur akibat bencana gunung berapi dan mulai ramai dikunjungi turis sejak 1700-an.

Lalu, ada pula Koloseum di Roma yang senantiasa ramai dikunjungi turis padahal dulunya merupakan tempat bertarung hingga mati.

“Tidak seperti yang terlihat, ini bukan tren wisata baru,” ujar Peter Hohenhaus, salah satu travelers yang gemar melakukan dark tourism.

Tren Wisata ke Bekas Lokasi Bencana Semakin Hits, Ini Sebabnya - 2

Menanggapi minat wisatawan terhadap dark tourism yang sudah ada sejak dulu ini, seorang pakar dari Althone Institute of Technology di Irlandia pun menjelaskan motivasi para turis.

Disebutkan, beberapa turis mungkin hanya kebetulan berkunjung karena penasaran. Ada pula yang datang karena memang memiliki minat sejarah.

Meski begitu, tidak bisa dipungkiri jika ada yang mengunjungi tempat wisata macam ini untuk “bersenang-senang” dan punya niat lain. Namun, hal macam ini ternyata tidak sering terjadi.

“Seringnya, niat para pengunjung adalah untuk mempelajari sejarah gelap yang ada, juga sebagai refleksi tentang apa yang salah di masa lalu dan apa yang dapat mereka pelajari agar tidak terulang di masa depan,” ucap pakar dari Althone Institute of Technology.

Tetapi, menilik banyaknya turis yang datang demi selfie dan bersikap tidak sopan, ada pula yang menyarankan agar setiap turis memikirkan niat mereka sebelum berkunjung.

“Sebelum datang ke lokasi yang berasosiasi dengan kematian dan tragedi, penting untuk memikirkan niatmu. Apa kau datang untuk menghormati dan memahami, atau untuk mengambil selfie?”

 

Dr Zul Belajar Sistem Mitigasi Bencana di Australia

Darwin, Talikanews.com – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, Senin, 24 Juni 2019, memenuhi undangan Pemerintah Northern Territory (NT), Australia. Kunjungan ini digelar guna melihat kesiapan pemerintah setempat dalam menghadapi berbagai bencana.

Gubernur diagendakan akan berada di Australia hingga Jumat, 28 Juni 2019 mendatang. Di hari pertama kunjungannya, Gubernur berkunjung dan menggelar pertemuan di National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin.

Doktor Zul pun menerangkan makna kunjungannya kali ini. Menurutnya Northern Territory merupakan salah satu daerah yang menjadi tetangga terdekat kita. Penerbangan Lombok-Darwin hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam saja.

Menurut Doktor Zul, agenda kunjungan ini memiliki makna penting sebagai sebuah proses pembelajaran mengenai kebijakan mitigasi bencana. Sebagai daerah yang rawan gempa, NTB tentunya membutuhkan kebijakan mitigasi bencana yang andal.

Berkunjung ke Northern Territory, menurut Doktor Zul, telah memberikan gambaran mengenai berbagai pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana.

“Mereka sadar kawasan ASEAN sangat rawan bencana. Karenanya Australia menempatkan badan bencananya di Darwin yang sangat dekat dengan negara-negara ASEAN sebagai bentuk persiapan mereka kalau ada bencana di Australia dan negara-negara tetangganya,” ujar Gubernur.

Di National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin, Gubernur mendapatkan gambaran bagaimana kebijakan penanganan bencana benar-benar telah dipersiapkan. Berbagai kebutuhan warga di saat bencana, telah dipersiapkan. Nantinya, pasokan kebutuhan ini siap didistribusikan jika sewaktu-waktu bencana datang.

Gubernur juga melihat sendiri bagaimana makanan-makanan siap konsumsi telah disiapkan untuk tim dan warga dalam kondisi darurat bencana. Tidak hanya makanan, berbagai kebutuhan lain seperti tenda berbagai ukuran, obat-obatan, selimut dan kebutuhan lainnya sudah tersedia. Bahkan, kebutuhan seperti boneka untuk anak-anak kecil di daerah bencana juga sudah ada.

“Lengkap banget dan sudah ready dari sekarang. Jadi kalau ada bencana mereka sudah sangat siap,” tegas Gubernur.

Bagi Gubernur, kesiapan semacam ini tentu menjadi hal yang harus diadaptasi di daerah NTB yang juga merupakan daerah rawan bencana. Karenanya, agenda lawatan ke Northern Territory itu dimanfaatkan pula untuk meminta dukungan agar pemerintah setempat bisa memberikan edukasi dan pelatihan menghadapi bencana.

“Mereka akan dengan senang hati untuk melatih orang-orang kita di Darwin untuk sigap dan siaga bencana. Atau melatih orang-orang kita dalam jumlah lebih banyak di NTB,” pungkasnya.

Selain mengunjungi National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin, Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul ini juga menggelar kunjungan kehormatan ke Konsulat Jenderal RI di Darwin, Dicky D. Soerjanatamihardja. Lalu, berlanjut dengan agenda kunjungan serta pertemuan dengan jajaran civitas academica Charles Darwin University.

“Konjen Indonesia akan membantu untuk membuka akses pendidikan dan training di NT. Juga memberikan pelatihan agar anak-anak muda NTB bisa bekerja di NT,” sebutnya.

Sementara, dari kunjungannya ke Charles Darwin University, Doktor Zul juga mengabarkan bahwa perguruan tinggi terkemuka itu membuka kesempatan bekerjasama dengan NTB.

“Mereka memperlihatkan apa-apa saja yang mereka bisa lakukan untuk NTB,” tandasnya.(TN-04)

 

Sekolah Berperan Penting Kurangi Risiko Bencana

LAMPUNG – Dunia pendidikan, sejak TK hingga SMA bahkan perguruan tinggi, memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Dengan kondisi tersebut, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lampung Selatan menggelar kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS), untuk mengurangi risiko bencana. Selama semester pertama 2019, Tagana Lamsel menyosialisasikan pengurangan bencana ke delapan sekolah di Lampung Selatan dan satu sekolah di Kabupaten Pesawaran. Kegiatan yang diberikan, pelatihan, sosialisasi dan mitigasi bencana.

Sekolah yang dilatih dipilih yang berada di kawasan rawan bencana. Sesuai peta kawasan bencana, Lamsel memiliki wilayah menyimpan potensi bencana kekeringan, banjir, puting beliung, dan gelombang pasang.

Kemudian ada bencana alam gunung meletus, gempa bumi hingga tsunami mengintai sejumlah wilayah Lamsel. “Sesuai arahan pemerintah, melalui Kementerian Sosial, upaya pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara masif dan sistematis,” tandas Hasran Hadi, kepada Cendana News, Kamis (27/6/2019).

Pendidikan diberikan sejak dini, melalui dunia pendidikan. Harapannya, mitigasi bisa diterima masyarakat luas. Pendidikan mitigasi diberikan, agar masyarakat tidak tabu dengan potensi bencana alam.

Masyarakat harus mulai bisa melihat, potensi bencana alam yang bisa mengancam tanpa bisa diprediksi. Pengalaman tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, menjadi pelajaran berharga, agar bencana bisa diminimalisir sehingga kerugian materi dan korban jiwa bisa dihindari.

Sekolah yang tercatat saat ini berada di kawasan rawan bencana dan masuk dalam program TMS diantara, SMP 1 Way Panji, SDN 1,2,4 Way Panji, SDN 1 Way Muli, MI Mathlaul Anwar, MTS Way Panji. SMAN 1 Jati Agung dan SMPN 2 Pesawaran. Dibutuhkan metode khusus saat menyampaikan mitigasi bencana kepada pelajar.

Tingkatan pendidikan berhubungan dengan jenis kesulitan dalam menyampaikan materi. “Penyampaian upaya pengurangan resiko bencana bagi anak TK tentu berbeda dengan anak SMA, namun tetap harus kami sampaikan terkait mitigasi bencana,” jelasnya.

Diharapkan, kurikulum pendidikan, ekstra kurikuler Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), bisa menjadi sarana penyampaian PRB. Di tahun ajaran baru 2019/2020, Tagana Lamsel akan gencar menggelar TMS untuk siswa baru.

10 Praktisi Dunia Belajar Risiko Bencana di Aceh

Rencongpost.com, Aceh – Sebanyak 10 praktisi kebencanaan dari 10 negara berkumpul di Banda Aceh untuk mengikuti workshop international yang bertajuk “International Workshop on Disaster Risk Management For Europe, America, and The Carribean Countries”.

Mereka berasal dari Panama, Paraguay, Macedonia, Jamaika, Dominika, Antigua and Barbuda, Chili, Colombia, Peru, dan Costa Rica. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tsunami Disaster Mitigation Research Center Universitas Syiah Kuala (TDMRC Unsyiah) bekerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Ketua Panitia, Ibnu Rusydy mengatakan pelatihan ini berlangsung selama 10 hari dimulai dari tanggal 26 Juni hingga 5 Juli 2019. Kedatangan mereka ke Aceh untuk belajar tentang manajemen risiko bencana. Para ahli bencana dari Unsyiah juga akan berbagi ilmu dan pengalaman manajemen risiko bencana berdasarkan beberapa kejadian bencana di Aceh dan Indonesia.

“Selain berbagi ilmu tentang bencana geologi dan hidrometeorologi, para narasumber juga akan menjelaskan aspek lain terkait manajemen risiko bencana seperti manajemen ilmu terkait bencana, kearifan lokal, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami, komunikasi risiko bencana, asuransi bencana dan metode penyusunan peta risiko bencana untuk keperluan perencanaan pembangunan,” ujar Rusydy.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Marwan, mengatakan workshop internasional ini merupakan kali ketiganya dilakukan Unsyiah dan Kemenlu RI. Ini merupakan bagian dari komitmen Unsyiah untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen bencana.

“Salah satu komitmen Unsyiah dalam skala internasional adalah dengan menjadikan TDMRC sebagai pusat unggulan ilmu kebencanaan di Samudra Hindia pada tahun 2025,” ujarnya.

Untuk itu, Marwan berharap para peserta dapat berkomitmen untuk berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan kebencanaan di negaranya masing-masing setelah workshop ini selesai.

Direktur Kerja Sama Teknik Kemenlu RI, Muhammad Syarif Alatas, mengatakan workshop internasional ini dilaksanakan di bawah kerangka kerja sama selatan-selatan (south-south cooperation and triangular program). Beliau berharap para peserta dapat belajar banyak tentang cara penanganan bencana yang dilaksanakan di Indonesia dan Aceh secara khusus. (Dhil)

Dana Desa Bisa Digunakan untuk Siaga Bencana dan Konflik Sosial

Dana Desa Bisa Digunakan untuk Siaga Bencana dan Konflik Sosial

Jakarta – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menilai dana desa dapat dipergunakan untuk bidang yang terkait dengan kebencanaan seperti kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan konflik sosial, penanganan bencana alam dan bencana sosial serta pelestarian lingkungan hidup.

Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kemendesa PDTT, Hasman Maa’ni, mengutarakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan dilewati oleh ring of fire sehingga memiliki potensi kebencanaan yang sangat beragam, mulai dari bencana teknonik hingga vulkanik.

Tercatat beberapa bencana besar pernah terjadi di Indonesia seperti tsunami di Aceh, Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, Gempa Palu di Sulawesi Tengah hingga Gempa Lombok di NTB.

“Adapun peluang pemanfaatan dana desa dapat dilakukan lebih dalam untuk pengurangan risiko bencana dengan pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan konflik sosial serta penanganan bencana alam dan bencana sosial” ujar Hasman dalam keterangannya, Sabtu (22/6/2019).

Hal itu disampaikannya saat workshop gerakan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat yang digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Bandung.

Lebih lanjut, Hasman mengatakan bahwa dana desa sendiri dapat digunakan untuk membiayai program dan kegiatan bidang pembangunan desa dan bidang pemberdayaan masyarakat desa. Khususnya yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat desa dengan mendayagunakan potensi dan sumber dayanya, sendiri sehingga diharapkan desa dapat berkembang secara mandiri.

“Kegiatannya meliputi dukungan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan penanganannya, dan jangan lupa harus dilakukan dalam koridor peraturan yang berlaku,” katanya.

Hasman menjelaskan bahwa Kemendes PDTT pada dasarnya lebih fokus pada upaya mitigasi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

“Pada 2018, Ditjen PDTu melalui Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana telah memberikan bantuan dalam percepatan rehab atau rekon daerah pasca bencana di Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Donggala,” katanya.

Informasi lainnya dari Kemendes PDTT bisa dilihat di sini.
(idr/ega)

Fitur Navigasi Menghindari Bencana dari Google Maps

TEMPO.CO, Jakarta – SOS Google memberikan informasi penting ketika pengguna Google Maps berada di zona krisis dengan menghadirkan petunjuk arah mengemudi. Sebagai bagian perluasan peringatan SOS ke Google Maps, perusahaan mengenalkan fitur navigasi yang tidak hanya akan memperingatkan hambatan di sepanjang perjalanan, tetapi juga akan mengubah rute untuk menghindarinya.

Mengutip laman Engadget, Kamis, 6 Juni 2019, jika banjir menghalangi jalan pengemudi, fitur akan membantu untuk menghindarinya. Selain itu, pengguna juga akan mendapat bantuan memahami ruang lingkup bencana alam lain.

Peta akan menunjukkan jalur yang sedang dilanda badai, gempa bumi dan prakiraan banjir. Info tersebut akan muncul di aplikasi ketika pengguna berada di area terdampak. Pengguna juga akan melihatnya jika mencari di Google dengan kata kunci terkait bencana atau lokasi di mana pun berada.

Namun, butuh beberapa saat agar tersedia di semua pengguna. Visualisasi tersebut akan datang pada aplikasi perangkat Android, iOS dan web dalam minggu-minggu mendatang.

Sementara Navigasi sadar krisis akan muncul di aplikasi seluler beberapa pekan setelahnya. Meskipun begitu, fitur tersebut hanya untuk situasi dan kondisi tertentu saja. Fitur itu bisa sangat penting jika pengguna tidak yakin ke mana bisa pergi dalam situasi berbahaya.

Berita lain tentang Google Maps dan bencana alam bisa Anda simak di Tempo.co

Hurricane Harvey flooding causes Earth’s crust under Texas to sink

People make their way out of a flooded neighborhood after it was inundated with rain water following Hurricane Harvey

The volume of water dispensed on US soil by Hurricane Harvey was so vast it caused the Earth’s crust to give way and sink under the weight.

Around 33 trillion gallons of water was left behind by the hurricane — four times the amount left by Hurricane Katrina in 2005.

The flooding added around 275 trillion pounds of weight to the landmass of the southern US region, according to calculations by https://www.theatlantic.com/technology/archive/2017/09/hurricane-harvey-deformed-the-earths-crust-around-houston/538866/” data-vars-event-id=”c6″>The Atlantic.

Chris Milliner, a geoscientist at NASA’s Jet Propulsion Laboratory, says this caused the Earth’s crust to warp and sink by two centimetres.

He tweeted a map of Houston, Texas, the worst affected area hit by flooding, which shows the phenomenon.

GPS data collected from stations around the city detected the area had been depressed under the weight of the extreme floods caused by Harvey.

The phenomenon, he said, is the result of sitting water caused by flooding rather than rain.

Although it is possible some of the subsidence around Houston is the result of soil compacting, some of the measurements were taken from stations situated on bedrock, which shows the Earth’s crust did give way.

In addition, it is possible the Earth’s crust around Houston will gradually spring back to its original position over time, but this is not certain.

 

NTB Belajar Mitigasi Bencana ke Australia

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah memenuhi undangan Pemerintah Northern Territory (NT), Australia, sejak Senin (24/6). Kunjungan ini digelar guna mempelajari kesiapan pemerintah setempat dalam menghadapi berbagai bencana.

Zulfkiefimansyah diagendakan akan berada di Australia hingga, Jumat (28/6). Di hari pertama kunjungannya, ia berkunjung dan menggelar pertemuan di National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin.

Pria yang akrab disapa Zul tersebut mengatakan, Northern Territory merupakan salah satu tetangga terdekat NTB. Penerbangan Lombok-Darwin hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam.

Menurut dia, agenda kunjungan ini penting sebagai sebuah proses pembelajaran mengenai kebijakan mitigasi bencana. Sebagai daerah yang rawan gempa, NTB membutuhkan kebijakan mitigasi bencana yang andal. Berkunjung ke Northern Territory, kata dia, telah memberikan gambaran mengenai berbagai pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana.

“Mereka sadar kawasan ASEAN sangat rawan bencana. Karenanya Australia menempatkan badan bencananya di Darwin yang sangat dekat dengan negara-negara ASEAN sebagai bentuk persiapan mereka kalau ada bencana di Australia dan negara-negara tetangganya,” ujarnya.

Di National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin, Gubernur mendapatkan gambaran bagaimana kebijakan penanganan bencana benar-benar telah dipersiapkan. Berbagai kebutuhan warga di saat bencana, telah dipersiapkan. Nantinya, pasokan kebutuhan ini siap didistribusikan jika sewaktu-waktu bencana datang.

Ia juga melihat sendiri bagaimana makanan-makanan siap konsumsi telah disiapkan untuk tim dan warga dalam kondisi darurat bencana. Tidak hanya makanan, berbagai kebutuhan lain seperti tenda berbagai ukuran, obat-obatan, selimut dan kebutuhan lainnya sudah tersedia. Bahkan, kebutuhan seperti boneka untuk anak-anak kecil di daerah bencana juga sudah ada.

“Lengkap banget dan sudah ready dari sekarang. Jadi kalau ada bencana mereka sudah sangat siap,” kata Zul.

Bagi dia, kesiapan semacam ini tentu menjadi hal yang harus diadaptasi di NTB yang juga merupakan daerah rawan bencana. Karenanya, agenda lawatan ke Northern Territory itu dimanfaatkan pula untuk meminta dukungan agar pemerintah setempat bisa memberikan edukasi dan pelatihan menghadapi bencana.

“Mereka akan dengan senang hati untuk melatih orang-orang kita di Darwin untuk sigap dan siaga bencana. Atau melatih orang-orang kita dalam jumlah lebih banyak di NTB,” lanjut Zul.

Selain mengunjungi National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin, Zul melakukan kunjungan kehormatan ke Konsulat Jenderal RI di Darwin, Dicky D. Soerjanatamihardja. Lalu, berlanjut dengan agenda kunjungan serta pertemuan dengan jajaran civitas academica Charles Darwin University.

“Konjen Indonesia akan membantu untuk membuka akses pendidikan dan training di NT. Juga memberikan pelatihan agar anak-anak muda NTB bisa bekerja di NT,” sebutnya.

Sementara, dari kunjungannya ke Charles Darwin University, ia mengabarkan bahwa perguruan tinggi terkemuka itu membuka kesempatan bekerja sama dengan NTB.

“Mereka memperlihatkan apa-apa saja yang mereka bisa lakukan untuk NTB,” kata Zul menambahkan.

Belajar Mitigasi Bencana dari Australia

Belajar Mitigasi Bencana dari Australia - Daerah

indopos.co.id – Gubernur Nusa Tenggara Barat  Zulkieflimansyah memenuhi undangan Pemerintah Northern Territory, Australia. Kegiatannya untuk melihat dari dekat kesiapan pemerintah setempat dalam menghadapi berbagai bencana.

Zulkieflimansyah dalam keterangan tertulis Selasa (25/6/2019), menyampaikan Northern Territory merupakan salah satu daerah yang menjadi tetangga terdekat di mana penerbangan Lombok-Darwin hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam.

Menurut dia, agenda kunjungan ini memiliki makna penting sebagai sebuah proses pembelajaran mengenai kebijakan mitigasi bencana. Sebagai daerah yang rawan gempa, NTB membutuhkan kebijakan mitigasi bencana yang andal. Karenanya, berkunjung ke Northern Territory memberikan gambaran apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana.

“Mereka sadar kawasan ASEAN sangat rawan bencana. Karenanya Australia menempatkan badan bencananya di Darwin yang sangat dekat dengan negara-negara ASEAN sebagai bentuk persiapan mereka kalau ada bencana di Australia dan negara-negara tetangganya,” ujar gubernur.

Saat berada di National Critical Care and Trauma Response Centre, Darwin, Gubernur NTB mendapatkan gambaran bagaimana kebijakan penanganan bencana benar-benar telah dipersiapkan. Pasokan kebutuhan ini siap didistribusikan jika sewaktu-waktu bencana datang.

Gubernur juga melihat sendiri bagaimana makanan siap konsumsi telah disiapkan untuk tim dan warga dalam kondisi darurat bencana. Tidak hanya makanan, berbagai kebutuhan lain seperti tenda berbagai ukuran, obat-obatan, selimut dan kebutuhan lainnya sudah tersedia. Bahkan, kebutuhan seperti boneka untuk anak-anak kecil di daerah bencana juga sudah ada.

“Lengkap banget dan sudah ready dari sekarang. Jadi kalau ada bencana mereka sudah sangat siap,” tegas Doktor Zul sapaan akrab Gubernur NTB. Gubernur menilai kesiapan semacam ini tentu menjadi hal yang harus diadaptasi di  NTB yang juga merupakan daerah rawan bencana.

Karenanya, agenda lawatan ke Northern Territory itu dimanfaatkan pula untuk meminta dukungan agar pemerintah setempat bisa memberikan edukasi dan pelatihan menghadapi bencana.

“Mereka akan dengan senang hati untuk melatih orang-orang kita di Darwin untuk sigap dan siaga bencana. Atau melatih orang-orang kita dalam jumlah lebih banyak di NTB,” ucap dia.

Selain itu, Gubernur NTB juga menggelar kunjungan kehormatan ke Konsulat Jenderal RI di Darwin, Dicky D. Soerjanatamihardja. Kemudian, berlanjut dengan agenda kunjungan serta pertemuan dengan jajaran civitas academika Charles Darwin University.

“Konjen Indonesia akan membantu untuk membuka akses pendidikan dan pelatihan agar anak-anak muda NTB bisa bekerja di Northern Territory,” sebutnya.

Sementara, dari kunjungannya ke Charles Darwin University, Doktor Zul juga mengabarkan bahwa perguruan tinggi terkemuka itu membuka kesempatan bekerja sama dengan NTB. “Mereka memperlihatkan apa-apa saja yang mereka bisa lakukan untuk NTB,” katanya.

Gubernur diagendakan akan berada di Australia dari Senin (24/6/2019) hingga Jumat (28/6/2019).(ant)   

 

Efektif Tangani Banjir Konawe, Kepemimpinan Kepala BNPB Dipuji

KONAWE – Langkah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penangganan bencana banjir di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dinilai efektif. Kepemimpinan Kepala BNPB Doni Monardo dalam mengambil kebijakan untuk mengatasi bencana banjir Konawe mendapat pujian.

“Saya baru pertama kali mengikuti rapat penanganan banjir di BNPB bersama Pak Doni. Dalam rapat yang dipimpin Pak Kepala (BNPB Doni Monardo) langsung tuntas dan pembahasan sangat jelas dan efektif pada permasalah,” kata Matt Marasabessy, Kepala Sub Direktorat Operasi dan Pemeliharaan Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Selasa (25/6/2019).

Matt Marasabessy mengatakan, hasil rapat langsung dilaporkan dan mengarahkan Tim Kaji Cepat Bencana Sumber Daya Air (TKC SDA) segera berangkat untuk segera melakukan penanganan sedimentasi di muara sungai pada lokasi bencana di Kendari