Relokasi Korban Gempa Banjarnegara Sulit Dilakukan

Relokasi Korban Gempa Banjarnegara Sulit Dilakukan

Banjarnegara – Plt Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko menilai relokasi warga korban bencana gempa bumi di kecamatan Kalibening Banjarnegara sulit dilakukan. Selain karena sulitnya lahan yang aman juga karena sulit menjauhkan warga dari culture yang sebelumnya.

“Idealnya memang direlokasi tetapi itu sulit karena di Banjarnegara wilayah utara sangat sedikit tanah rata. Sebagian besar perbukitan dan rawan bencana,” kata dia saat melihat lokasi gempa di Kecanatan Kalibening Kamis (19/4/2018).

Selain bencana gempa lanjut dia, Banjarnegara wilayah barat rawan tanah longsor. Karena itu untuk merelokasi warga sulit dilakukan. Di sisi lain, jika direlokasi ke daerah yang jauh dari pemukiman sebelumnya juga sulit dilakukan.

“Mereka lahir di situ tumbuh besar juga di situ hingga mata pencaharian juga di dekat situ. Jadi memisahkan dari culture itu sulit. Yang penting kita melakukan upaya antisipasi penyelamatan jiwa saat bencana alam terjadi. Salah satunya dengan pemasangan alat deteksi dini,” tuturnya.

Sementara itu salah satu korban gempa bumi di Kecamatab Kalibening Sudar (37) mengaku pasrah kepada pemerintah. Apalagi saat ini rumah miliknya roboh sudah tidak bisa untuk ditempati lagi.

“Mau direlokasi atau tidak saya nurut dengan pemerintah. Asalkan saya dibantu untuk mendirikan rumah lagi,” kata warga Desa Kertosari Kecamatan Kalibening itu.
(bgk/bgk)

Potensi Gempa yang Lebih Besar Sangat Kecil

Potensi Gempa yang Lebih Besar Sangat Kecil

BANJARNEGARA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tektonik di Banjarnegara, Jawa Tengah, semakin stabil. BMKG mengatakan potensi gempa yang lebih besar sangat kecil.

“Dengan memperhatikan gempa susulan yang magnitudo kekuatannya jauh lebih kecil dari gempa utama, jadi gempa utamanya 4,4, gempa susulannya 2,6, maka tampak bahwa kondisi gempa ini semakin stabil. Sangat kecil potensi terjadi gempa susulan yang lebih besar,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, di kantor BMKG Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/4/).

Pantauan BMKG, Kamis, pukul 15.00 WIB, tercatat hanya sekali gempa susulan dengan kekuatan 2,6 Magnitudo, yang terjadi pada Rabu pukul 23.32 WIB. BMKG meminta masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya tetap tenang karena gempa susulan yang terjadi lebih kecil dari gempa sebelumnya.

Selain itu, pantauan BMKG menunjukkan tingkat guncangan terbesar terjadi di Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, pada skala II SIG BMKG.

“Yang artinya getaran dirasakan oleh semua penduduk, gerabah pecah, barang- barang terpelanting, dan bangunan dengan konstruksi lemah bisa mengalami kerusakan,” kata Dwikorita. Gempa di Banjarnegara terjadi akibat aktivitas sesar aktif.

Hasil analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar lokal yang belum teridentifikasi di dalam peta sumber bahaya gempa bumi. “Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya yang sangat dangkal, tampak bahwa gempa bumi ini terjadi akibat aktivitas sesar aktif,” ucapnya.

Warga Panik

Sementara itu, kepanikan melanda tenda pengungsian saat gempa susulan terjadi di Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (19/4). Ribuan pengungsi berhamburan keluar tenda.

Beberapa dari mereka sampai histeris lantaran masih trauma dengan gempa bermagnitudo 4,4 yang meluluhlantakkan rumah mereka sehari sebelumnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rahman, mengatakan gempa susulan terjadi tiga kali, yakni pada Kamis (19/4) pukul 07.10 WIB dan 09.45 WIB. Namun, gempa susulan terbesar terjadi pada Rabu (18/4) pukul 23.32 WIB dengan magnitudo 2,7.

“Gempa susulan yang terjadi tidak begitu siginifkan sehingga tidak mengakibatkan kerusakan infrastruktur perumahan maupun fasilitas umum,” katanya. Arif merinci kerusakan material akibat bencana gempa mencapai 194 rumah.

Sebanyak 77 unit di antaranya rusak berat. Sementara fasilitas umum yang rusak yakni empat bangunan masjid dan satu bangunan sekolah.

“Kerusakan merata di empat desa, yakni Desa Kertosari, Kasinoman, Plorengan, dan Sidakangen. Untuk korban jiwa tercatat dua orang, yakni Asep, 13 tahun, dan Kasrih, 80 tahun.

Keduanya merupakan warga Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, sedangkan korban luka total 21 orang,” ujarnya. Jumlah pengungsi yang menempati empat titik tenda darurat mencapai 1.939 jiwa. Ant/P-4

PLN Tanggap Bencana Amankan Listrik di Lokasi Gempa

Warga mengamati bangunan yang roboh akibat gempa tektonik dangkal dengan kekuatan 4,4 SR, yang melanda Desa Kasinoman, Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (18/4).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Guna membantu memulihkan kerusakan infrastruktur listrik di rumah warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Banjarnegara, PT PLN (Persero) Area Purwokerto melakukan respons cepat. Pada H+1 pasca gempa, upaya ini telah berhasil mengamankan seluruh kWh meter dan kabel sambungan rumah, pada bangunan yang roboh, di semua desa terdampak bencana gempa bumi 4,4 SR ini.

Manajer PLN Area Purwokerto, Armunanto yang dikonfirmasi mengatakan, untuk respons cepat ini PLN menurunkan sedikitnya 26 personel di sejumlah desa terdampak, di wilayah Kalibening. Ke-26 personil ini terdiri atas tim teknik rayon, tim posko jaga Kalibening, tim pelayanan teknik dan tim pemeliharaan 24 jam.

Tim telah menyelesaikan pekerjaan pengamanan sambungan rumah. “Termasuk telah melakukan pemulihan jaringan listrik yang masih padam, di wilayah Kalibening dan sekitarnya,” ungkap Armunanto, Kamis (19/4).

Ia juga mengungkapkan, dalam mengamankan jaringan listrik pasca terjadinya gempa yang mengguncang sejumlah wilayah di Kabupaten Banjarnegara. PLN langsung menerjunkan sejumlah personel ke lapangan, untuk menyisir kerusakan jaringan. Misalnya di Desa Kertosari ditemukan sebuah tiang miring dan kabel tegangan rendah di dua titik lepas.

Sehingga menyebabkan 65 pelanggan mengalami pemadaman aliran listrik. “Petugas kami langsung terjun ke lokasi untuk memperbaiki jaringan,” ujar Armunanto.

Meskipun dari segi kerusakan aset tidak terlalu parah, lanjutnya, pemulihan aliran listrik sempat terkendala akibat keadaan tanah yang masih labil. Namun, secara keseluruhan tidak ada kerusakan yang signifikan pada jaringan tegangan rendah.

Semuanya sudah bisa diatasi dan pada Kamis pukul 13.30 WIB — secara keseluruhan — listrik telah berhasil dipulihkan. “Kendati begitu, PLN Area Purwokerto kini masih tetap siaga selama 24 jam mengamankan jaringan,” tambahnya.

Seperti diketahui, gempa yang melanda Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya pada Rabu (18/4) siang telah memporak porandakan sejumlah desa. Gempa berkekuatan 4,4 SR ini berpusat di sebelah utara Kebumen, dengan kedalaman empat kilometer.

Tercatat, beberapa desa yang terdampak gempa paling parah adalah Desa Kertosari dengan jumlah kerusakan 62 rumah. Selanjutnya Desa Kasinoman dengan jumlah kerusakan 217 rumah dan Desa Plorengan dengan kerusakan 37 rumah.

Bupati Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Gempa di Banjarnegara

Bupati Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Gempa di Banjarnegara

Banjarnegara – Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono menetapkan status siaga darurat selama tujuh hari untuk bencana gempa bumi di Kecamatan Kalibening. Ia langsung minta agar Dinas Sosial Banjarnegara untuk segera membuka dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.

“Sekarang sudah berdiri dapur umum dari Dinsos untuk mencukupi kebutuhan makan dan minum pengungsi,” ungkap Budhi saat ditemui di lokasi bencana Desa Kasinoman.

Adapun jumlah pengungsi masih dalam pendataan. Untuk data awal berada di SD Sidakangen, Balaidesa Sidakangen, kantor Kecamatan Kalibening serta showroom mobil di Desa Sidakangen.

Untuk status tanggap darurat, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan BMKG. Nantinya jika rekomendasi belum memungkinkan status tanggap darurat diperpanjang.

“Nanti kalau belum memungkinkan status tanggap darurat diperpanjang lagi,” kata dia.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarnegara Agus Haryono mengatakan gempa yang terjadi pada Rabu (18/4) ini terasa di seluruh Kecamatan Kalibening. Namun, yang paling terasa di tiga desa.

“Yakni Desa Kasinoman Desa Kertasari serta sedikit di Desa Majatengah,” katanya.

Untuk langkah awal lanjutnya BPBD Banjarnegara langsung mendirikan posko di Desa Sidakangen. Pendirian posko ini untuk memudahkan koordinasi dalam penanganan bencana gempa bumi ini.

“Untuk dapur umum didirikan di Desa Sidakangen karena pengungsi banyak di Sidakangen,” terangnya.
(bgs/bgs)

Terjadi 371 Bencana Alam di Kabupaten Bogor di Awal tahun ini

Petugas BPBD Kabupaten Bogor berusaha membersihkan material longsor yang menutupi jalur utama Puncak Bogor, Jawa Barat, 5 Februari 2018. Jalur Puncak, Bogor ditutup sementara akibat cuaca ekstrim yang mengakibatkan bencana longsor di empat titik di ruas jalan di Jalan Raya Puncak yaitu di seputaran Masjid Atta'awun, Riung Gunung, Grandhill, dan Widuri. ANTARA

TEMPO.CO, Bogor – Hingga April 2018, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat 371 bencana alam terjadi di 40 kecamatannya. “Kejadian tersebut murni disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrim yang ada pada daerah setempat,” kata Kepala Seksi Logistik BPBD Kabupaten Bogor Asep Usman, Rabu 18 April 2018.

Menurut dia, bencana alam tersebut memang kerap terjadi setiap tahun, tetapi pada saat ini terbilang cukup sering dan bervariasi penyebabnya. Beberapa pekan lalu, terjadi bencana banjir setinggi 10 meter dari dasar sungai di Kecamatan Jasinga.

Banjir tersebut terjadi cuma karena hujan selama dua jam, tetapi dapat merendam rumah, tiang listrik, hingga memutus jalan penghubung. Namun pada hari berikutnya aliran sungai sudah turun bahkan banyak anak-anak terlihat bermain air.

Pada Sabtu sore 7 April 2018, banjir bandang terjadi karena meluapnya kali Cipamingkis di Kampung Catang Malang Rawa Eyod Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur. Banjir bandang itu menghanyutkan delapan rumah warga delapan motor dan empat mobil.

Bencana alam ini diduga dipengaruhi banyaknya pembukaan lahan untuk pembangunan kawasan pariwisata modern, perumahan, dan industri, penambangan liar. Namun pembangunan tersebut tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan perundangan yang berlaku. 

Menurut Asep Usman, Institute Pertanian Bogor (IPB) juga melakukan analisa dan menemukan 55 retakan tanah pada 40 kecamatan di Kabupaten Bogor yang dapat menimbulkan terjadinya longsor. Retakan tersebut memiliki diameter atau dimensi berbeda, sering yang umum ditemukan pada daerah pegunungan. Data ini dapat digunakan pemerintah daerah melakukan antisipasi dini.

ANTARA

Sosialisasi Daerah Rawan Bencana Perlu Ditingkatkan

http://rmol.co/images/berita/normal/2018/04/90054_12394118042018_Sosialisasi_Daerah_Rawan_Bencana_Perlu_Ditingkatkan.jpg
RMOL. Komisi VIII DPR mendesak Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan menindaklanjuti pandangan anggota dewan terkait sosialiasi daerah rawan bencana.

Selain itu, BNPB diminta mengoptimalisasikan pemanfaatan dan pemeliharaan peralatan Early Warning System dalam rangka mengurangi resiko bencana.

Itulah salah satu kesimpulan Raker Komisi VIII DPR RI yang dipimpin Ketua Komisi Ali Taher Parasong dengan Kepala BNPB Willem Rampangilei di gedung Nusantara II Senayan, Jakarta, Senin (16/4) lalu.

Dalam rapat ini, anggota Komisi VIII Itet Tridjajati Sumarijanto menyinggung kasus longsor di Brebes, Jawa Tengah. Melihat bencana itu, betapa pentingnya sosialisasi daerah rawan bencana.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah menginformasikan akan terjadi intensitas curah hujan yang sangat tinggi, sementara daerah tersebut rawan bencana longsor.

“Apa yang dilakukan BNPB terutama sosialisasi kepada aparat terkait dan masyarakat? Sungguh sangat memprihatinkan daerah yang selama ini dianggap aman, namun terjadi bencana longsor hingga mengakibatkan korban meninggal sampai 14 orang,” jelas Itet.

Dalam kaitan ini pula, Komisi VIII meminta BNPB untuk meningkatkan pelatihan penanggulangan bencana, terutama di daerah-daerah rawan bencana. Selain itu, meningkatkan mitigasi bencana dan simulasi teknis penyelamatan saat terjadi bencana kepada masyarakat.

Ali Taher yang membacakan kesimpulan juga mendesak BNPB untuk menyusun langkah-langkah strategis menghadapi berbagai ancaman bencana tahun 2018 yang berpotensi akan terjadi, yang belum diprediksi dan yang rutin terjadi.

“Karena itu, alokasi anggaran bencana perlu ditingkatkan. Khususnya untuk program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat yang terkait dengan penanggulangan bencana,” imbuh Ali Taher. [wid/***]

Intensitas Hujan Tinggi, Waspada Bencana

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe diminta mewaspadai cuaca buruk akibat intensitas curah hujan tinggi. Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rivo Pudihang mengatakan, masyarakat di daerah rawan bencana harus meningkatkan kewaspadaan.

“Mereka yang bermukim di lereng gunung dan dekat aliran sungai siaga, memperhatikan perubahan alam. Jika curah hujan lebat dan berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor, siap-siap mengungsi,” tandasnya. 

Lanjutnya, masyarakat diminta mencari tempat aman. Begitu juga yang tinggal di tepian pantai. “Khusus nelayan maupun pengguna transportasi laut antar pulau, kalau bisa menunda atau membatalkan perjalanan jika terjadi gelombang tinggi dan angin kencang,” pintanya. 

Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Gaghana meminta, seluruh masyarakat Sangihe mewaspadai cuaca buruk. “Fenomena cuaca itu perlu diwaspadai untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi,” imbau Gaghana. Ditambahkannya, untuk mengurangi risiko bencana, BPBD Sangihe harus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat. “BPBD juga wajib menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) sehingga ketika bencana terjadi langsung bisa terjun ke lokasi,” tutupnya. 

Pantauan harian ini, Selasa (17/4) kemarin, hujan seharian melanda Kabupaten Kepulauan Sangihe. Berdasarkan prakiraan cuaca yang berhasil dirangkum, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membeber hujan berintensitas sedang hingga lebat disertai petir dengan kecepatan angin 6-15 knots dan tinggi gelombang 0,75-1,00 meter melanda Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sementara berdasarkan data yang didapat dari BPBD Sangihe, dari 15 ada 11 kecamatan rawan bencana (lihat grafis).(wan/gel)

Program Penanggulangan Bencana Harus Berbasis Masyarakat

Program Penanggulangan Bencana Harus Berbasis Masyarakat - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA – Semua program penanggulangan bencana harus berbasis masyarakat. Selain itu, perlu meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam rangka mencegah korban atau mengurangi korban bencana.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei usai Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/4).

Dalam kesempatan itu, Willem menjelaskan alasan program penanggulangan bencana harus berbasis masyarakat. Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan 34 persen orang selamat dari bencana karena kapasitas individunya, 32 persen oleh keluarga, dan 28 persen oleh orang di sekitarnya. Sehingga kapasitas komunitas itu 95 persen ada di masyarakat.

“Oleh karena itu, apa pun yang kita lakukan harus berbasis kepada masyarakat,” katanya.

Untuk mencegah dampak bencana, BNPB melaksanakan langkah-langkah antisipatif yakni melakukan sosialisasi kepada masyarakat guna membangun kesadaran dan pemahaman, serta membangun partisipasi.

Menurut Willem, untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran semua bangsa Indonesia maka BNPB menetapkan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada tanggal 26 April 2018. Sampai hari ini, kata Willem, sudah terdaftar sebanyak 20 juta orang yang akan ikut pada peringatan Hari Kesiapsiagaan.

“Jadi makin banyak orang ikut, maka akan terbangun kesadarannya dan kalau semakin banyak orang sadar maka makin banyak langkah antisipasi. Semuanya itu, demi kepentingan masing-masing yaitu selamat dari bencana,” katanya.

Untuk diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Komisi VIII DPR menggelar rapat kerja dengan agenda evaluasi kebencanaan tahun 2017, Senin (16/4). Rapat tersebut menyimpulkan bahwa frekuensi dan intensitas bencana tidak semakin menurun. Dampak terhadap bencana juga sangat merugikan, artinya tetap menimbulkan korban jiwa.

Data BNPB menunjukkan pada tahun 2017 korban bencana terdapat 377 orang meninggal dunia. Selain itu, 3,5 juta orang terdampak bencana. Dampak bencana juga menimbulkan kerugian ekonomi, dan kerusakan ratusan ribu rumah rusak, termasuk ribuan infrastruktur.

“Oleh karena itu, penanggulangan bencana harus dilakukan lebih efektif dan efisien. Caranya adalah Komisi VIII meminta agar program kegiatan ini diarahkan dan difokuskan untuk kepentingan masyarakat,” kata Willem.

Willem memperkirakan penanggulangan bencana ke depan tidak semakin ringan karena ditemukan potensi-potensi bencana yang baru. Misalnya, sekarang potensi gempa ditemukan ada tambahan menjadi 214, dari sebelumnya 95 tahun 2010. Hal ini belum terhitung masalah perubahan iklim.(fri/jpnn)

BNPB harapkan bangunan publik miliki ketangguhan bencana

Bantul (ANTARA News) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengharapkan bangunan atau objek yang digunakan untuk fasilitas publik memiliki struktur atau petunjuk dalam memperkuat ketangguhan bencana.

“Ada tujuh objek ketangguhan yang harus kita tangguhkan, dan kita harapkan semua tujuh objek itu bisa kita jadikan objek ketangguhan kita,” kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kuniawan usai menghadiri Seminar Sadar Bencana di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin.

Ia menyebutkan, tujuh objek ketangguhan itu adalah rumah, rumah sakit atau puskesmas, sekolah atau madrasah, pasar, tempat ibadah seperti masjid, gereja dan sebagainya, kantor dan sarana vital seperti bandara dan terminal.

“Seperti sekarang kita ada di Kantor Bupati Bantul ini, apabila mendapat informasi ada gempa bumi, bapak mau kemana, apa yang bapak lakukan, tanda-tanda jalur evakuasi apakah ada, itu salah satu contoh saja,” katanya.

Lilik mengharapkan, semua objek bangunan tersebut punya petunjuk dalam melakukan evakuasi bencana sebagai jangka pendek dalam penanganan ketika terjadi bencana, agar korban jiwa dapat diminimalkan dan dicegah.

“Untuk jangka panjang tentu juga kita lakukan, misalnya dengan memperkuat struktur sekolah yang sudah mau roboh, karena sekolah di Bantul ini rawan terhadap gempa bumi misalnya, maka kita perkuat struktur untuk jangka panjangnya,” katanya.

Ia juga mengatakan, dalam jangka pendek penanggulangan bencana dilakukan dengan melatih kesiapsiagaan masyarakat maupun orang-orang yang ada di sekitar objek bangunan itu, misalnya siswa atau guru di lingkungan sekolah.

“Pada 26 April merupakan Hari Kesiapsiagaan Nasional, jangan hanya pemerintah saja, namun kita melakukan simulasi bareng bareng, misalnya kalau ketika berada di pasar apa yang mereka lakukan,” katanya.

Selain memperkuat tujuh objek tersebut untuk ketangguhan bencana, kata dia, pihaknya mengajak semua pihak mulai mengkampanyekan kesiapsiagaan bencana yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat serta orang-orang terdekat.

Menurut dia, perlunya mengkampanyekan kesiapsiagaan bencana dari diri sendiri karena berdasarkan hasil survei dari otoritas terkait, 95 persen keselamatan seseorang ketika terjadi sebuah bencana itu karena faktor dari diri sendiri.

“Jadi yang 95 persen tadi itu adalah hasil survei pascagempa bumi di Kobe Jepang 1995, tetapi itu relevan dengan yang ada di Indonesia, karena faktanya kita juga mirip dengan yang di Jepang itu,” katanya.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Emergency Proclamation Issued Declaring Kaua‘i a Disaster

Emergency Proclamation Issued:

Gov. David Ige today issued an emergency proclamation for the County of Kauaʻi after unprecedented rains caused flooding and a series of landslides on Kūhiō Highway.

“We’ve mobilized to assist Mayor Carvalho and his emergency management team. The Hawaiʻi Guard and the City and County of Honolulu are preparing to help Kauaʻi with search and rescue operations as crews continue to clear the roadway,” said Gov. Ige.

The proclamation authorizes the expenditure of state monies as appropriated for the speedy and efficient relief of damages caused by this weather event.

Radar imagery 4.15.18. PC: NOAA/NWS

 

Flood Warning Extended

The National Weather Service in Honolulu has extended the Flash Flood Warning for the island of Kauaʻi until 4:45 p.m. on Sunday, April 15, 2018.

At 1:28 p.m., intense rainfall with rates at least 4 to 5 inches per hour continued over north and east Kauaʻi. The heaviest rainfall has spread east and will produce a rapid and significant rise in the Kapaʻa Stream and Wailua River water levels.

This is in addition to the severe flooding ongoing in Hanalei River.

Road access west of Princeville is not possible and several communities are isolated due to washed out roads.

Emergency managers are advising the public to avoid any unnecessary travel to north and east Kauaʻi until further notice.

State mobilizes response to Kauaʻi floods and landslides

Governor David Ige this morning assembled state emergency management leaders to assist Kauaʻi County’s response to serious flooding and landslides on that island.

In a video conference with the Kauaʻi Emergency Management Agency, first responders, and Mayor Bernard Carvalho, the governor committed to providing all available resources to helping Kauaʻi residents.

“In a situation like the Kauaʻi flooding, the response begins at the county level,” Ige said, “but we’re coordinating help from around the state. Based on the county’s needs, we may also bring in other state agencies like DLNR to provide specialized skills and personnel. I especially want to recognize our Department of Transportation personnel who worked all night to try to keep access open to these affected areas.”

The governor’s emergency proclamation provides relief for damage caused by this weekend’s floods and landslides.  Authorities continue to monitor conditions across the state as the weather system makes its way south along the island chain.

At the same time, Adjutant General and Hawaiʻi Emergency Management Agency Director Arthur “Joe” Logan agreed to an initial commitment of Hawaiʻi National Guard personnel to work with county first responders in canvassing and assessing affected areas, and helicopters to assist in survey flights and rescues, if necessary.

Logan said the National Guard would continue to monitor conditions on Kauaʻi and confer with Kauaʻi County officials to determine what additional assistance may be needed.

HI-EMA Administrator Thomas L. Travis is working with Honolulu City and County Department of Emergency Management officials to determine what assets Oʻahu DEM can provide to assist Kauaʻi County.

Ige thanked the first responders and others who worked through the night to address the mounting challenges brought by the heavy rains. “This is a team effort,” Ige said. “Nobody goes through this kind of disaster alone.”

Red Cross Response:

American Red Cross volunteers opened shelters at Hanalei Elementary, Kapa‘a Middle School, and Church of the Pacific in Princeville at 8 p.m. on Saturday night for those affected by flash flooding and landslides on the north shore.

Air rescue operations have commenced on the North Shore area of Kauaʻi. The Kauaʻi Fire Department is coordinating with the US Coast Guard to provide air and search and rescue operations on the North Shore. A Honolulu Fire Department helicopter and rescue crew is being deployed to provide support. Red Cross has set up a reception center/shelter at the Church of the Pacific to receive evacuees from the North Shore.