Baznas & BNPB Kampanyekan Pencegahan Bencana

Bisnis.com, JAKARTA-Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menghimpun dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) untuk penanggulangan bencana.

Direktur Baznas Tanggap Bencana (BTB), Ahmad Fikri, mengatakan kegiatan penghimpunan ZIS itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana pada 26 April.

“Melalui kegiatan tersebut Baznas dan BNPB mengampanyekan kepada masyarakat tentang urgensi mengubah paradigma bencana dari respon menjadi pencegahan,” katanya, Minggu (15/4/2018).

Dia menyampaikan hal itu dalam talk show bertajuk Siap siaga dengan berbagi di area Car Free Day Jl MH Thamrin Jakarta, Minggu pagi ini, bersama Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Bernardus Wisnu Widjaja.

Menurutnya, Baznas Tanggap Bencana (BTB) memiliki banyak program, diantaranya Sekolah Sungai, Sekolah Aman Bencana, Kampung Tanggap Bencana, dan BTB Goes to School.

Selain itu, lanjutnya, melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan BNPB, BTB ikut membantu pengungsi Rohingya di Myanmar dan Bangladesh, serta krisis Asmat Papua, pengungsi Gunung Agung Bali, banjir di DKI Jakarta, dan bencana tanah longsor di sejumlah daerah di Tanah Air.

Dia menjelaskan selama 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Dan angka peristiwa kejadian bencana pada 2016 merupakan yang tertinggi sejak 2002.

Kejadian bencana tersebut, lanjutnya, mengakibatkan banyaknya jumlah warga yang terdampak bencana, seperti yang tercatat selama 2017 mencapai 3,2 juta warga mengungsi dan sekaligus menyebabkan jumlah warga miskin meningkat.

“Sekitar 80% dari warga yang terdampak bencana alam ini akhirnya berstatus menjadi miskin lagi. Meski sebelumnya mereka sudah masuk kategori sejahtera,” ujarnya. 

Fikri mengungkapkan bahwa Baznas bekomitmen ikut mendorong realisasi Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yakni nol kemiskinan melalui pengurangan risiko bencana.

Adapun salah satu dari upaya merealisasikan SDGs nol kemiskinan itu, menurutnya, adalah dengan mengkampanyekan paradigma kesiapsiagaan bencana pada masyarakat.

“Sehingga jumlah warga terdampak akan berkurang karena mereka telah sadar dan siap siaga ketika bencana terjadi,” tegasnya.

How to prepare if 60-foot tsunami strikes Washington coast

Are you ready for a potential tsunami? Learn how you can get prepared.

Tsunami and earthquake experts visited two sites in Grays Harbor County Wednesday to help residents learn how they can be prepared for a potential disaster.

The event held at noon at the Ocosta Junior High was packed. It included participation in a drill at the school’s recently built vertical evacuation structure, which is part of a school building. That structure, built to survive a magnitude 9 earthquake, is also built to survive a tsunami with students and residents. It’s believed to be the only vertical evacuation structure built so far in North America, but others are in the planning stages.

The presentation is part of a six-stop tsunami road show on the Washington coast and Olympic Peninsula. It will feature officials from Washington Emergency Management, the Washington Geological Survey, the National Weather Service, the University of Washington/Sea Grant and Grays Harbor County Emergency Management.

Washington coastal areas are particularly at risk from seismic activity in the Cascadia Subduction Zone. A study published in March found a 9.0 magnitude earthquake off the coast of Grays Harbor County could cause a 60-foot tsunami to inundate parts of Southwestern Washington.

Officials expected high interest in the event following the powerful earthquake off the coast of Alaska in January that triggered a tsunami watch in Washington.

“Given how events unfolded, we think it’s even more imperative to help people understand the advantages of having a NOAA Weather Alert Radio, the difference in tsunami alert levels, near source vs distance source tsunamis and when the tsunami sirens will be activated,” Keily Yemm, tsunami program coordinator for the Washington Emergency Management Division, said in a statement.

Disaster Management Research Roadmap for the ASEAN Region

previewThe ASEAN region is one of the most disaster-prone regions in the world, and extreme climate events are projected to increase in frequency and intensity due to climate variation and change.
We have seen the impacts that proper preparation and resilience -building efforts can have in the face of disaster events. The APEC Climate Center believes that science and policy, when merged and effectively utilized together, can truly enhance disaster risk reduction and disaster management. Through the ASDMP project, funded by the Republic of Korea government, the APEC Climate Center has worked closely with the AHA Centre, ASEAN Secretariat, and the ASEAN Committee on Disaster Management to enhance DRR and DRM in the region.

This research roadmap provides a guideline on a potential process that will help achieve the ASEAN region’s goal of becoming a global leader on disaster management by 2025. The ASDMP project team has travelled the ASEAN region to ensure the reflection of local knowledge in this roadmap, and surveys have been distributed widely in an attempt to fully understand the status of DRR and DRM in the region.

This roadmap has identified key research and initiatives that need to take place in the short and long term on both the country and regional level, in order to greatly enhance resilience to disasters in the ASEAN region.

APCC would like to thank the Republic of Korea government, AHA Centre, ASEAN Secretariat, the ASEAN Committee on Disaster Management, and the respective governments of the ASEAN Member States for their active participation and support throughout the project duration.

Dr. Hong-Sang Jung Executive Director APEC Climate Center

Message from the ACDM Chair

The ASEAN region sits between several tectonic plates, which cause many extreme climate events such as earthquakes, volcanic eruptions, and tsunamis. Also being between the Pacific and Indian oceans causes seasonal typhoons. The ASEAN region is prone to almost all types of natural disasters including typhoons, floods, earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions, landslides, forest fires, epidemics, and droughts. These extreme climate events often transcend the boundaries of individual nations, and that is why we must work together across boundaries to limit the potential damages of these events.

Therefore, the ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint 2025 stipulates on the paragraph D.1. that: A Disaster Resilient ASEAN that is able to Anticipate, Respond, Cope, Adapt, and Build Back Better,
Smater, and Faster.

I still remember my participation in the Kickoff Workshop for the ASEAN Science-Based Disaster Management Platform Project (ASDMP), which was taking place between 30th-31st March 2016 in Busan, Korea.

One of the above-mentioned workshop’s objectives is to Increase APCC’s network in the ASEAN region to increase the likelihood of cooperation and collaboration not only on the ASDMP Project but also on the future needs/projects. Today the objectives have been translated into concrete work. The Research Roadmap is an outstanding result, because this Disaster Roadmap management creates hope for all ten ASEAN Member States to use this as a guiding process for achieving the goal of becoming a global leader on Disaster Management by 2025.

On behalf of the ASEAN Committee on Disaster Management I would like to extend my gratitude and sincere thanks to the Republic of Korea Government, APCC, ASEAN Secretariat, AHA Center, and the respective organisations, and especially all of the experts for their close and fruitful contributions to the Research Roadmap.

https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/ASEAN-Region_Disaster-Management_0228_optimize.pdf

Mr. Prasong VONGKHAMCHANH
Director General of Social Welfare Department
Ministry of Labor and Social Welfare of Lao PDR
Chair of the ASEAN Committee on Disaster Management

Ini Cara Pakar Susun Mitigasi Bencana seperti Potensi Tsunami 57 Meter

Potensi daerah landaan dan ketinggian tsunami jika zona megathrust dari Bengkulu, Selat Sunda, dan selatan Jawa Barat mengalami gempa dengan magnitudo di atas M 9 dan panjang runtuhan dasar laut 1.000 kilometer, maka ada satu lokasi di Pandeglang yang tinggi tsunaminya 57 meter. Skenario terburuk ini didapatkan dari hasil pemodelan.

KOMPAS.com – Abdul Muhari, Chairman Sentinel Asia Tsunami Working Group, menanggapi pemberitaan soal gempa megathrust bermagnitudo 8 di Jakarta dan potensi tsunami 57 meter di Pandeglang lewat opininya di Harian Kompas, Selasa (10/04/2018).

Dia menyayangkan pemberitaan tentang kedua hal tersebut hanya fokus pada ancamannya saja, sedangkan solusi dan mitigasinya justru nyaris tak mendapat sorotan. Padahal menurut dia, kajian ilmiah yang dilakukan oleh Widjo Kongko mungkin akan memberi pengaruh baik dalam hal mitigasi, walaupun penyusunannya bukan perkara mudah.

Sebelum menyusun mitigasinya, Abdul menyebut bahwa kita perlu mengetahui terlebih dahulu dua karakteristik bencana terkait gempa dan tsunami. Kedua karakteristik tersebut adalah high frequency but relatively low to medium risk (bencana yang sering terjadi tetapi relatif memiliki dampak risiko kecil sampai medium) dan low frequency but high risk disaster (bencana yang jarang terjadi tetapi memiliki dampak risiko sangat besar). Baca juga: Merencanakan Mitigasi Gempa Jakarta, Apa yang Perlu Diketahui?

“Skenario gempa untuk kasus pertama adalah skenario yang paling mungkin dan paling sering terjadi secara historis dalam membangkitkan tsunami di kawasan tersebut,” tulis Abdul.

“Karakteristik jenis ini biasanya memiliki periode ulang pendek sekitar 50 sampai 150 tahun, dengan estimasi tinggi tsunami kurang dari 10 meter,” tambahnya. Sementara itu, karakteristik bencana kedua merupakan asumsi skenario terburuk yang mungkin digunakan. “(Mungkin) terjadi secara ilmiah dengan periode ulang lebih dari 400 tahun dan estimasi tinggi tsunami di atas 20 meter (Muhari dkk, 2015),” tulisnya.

Selain mengetahui karakteristik bencana, hal yang menurut Abdul penting bagi mitigasi adalah regulasi. Bencana Risiko Tinggi Peraturan Pemerintah No 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Pasal 17 Ayat (1) menyebutkan bahwa mitigasi bencana dengan tingkat risiko tinggi dititikberatkan pada kegiatan non struktur/non fisik. Peraturan ini bukan lahir tanpa sebab.

Berkaca pada pengalaman gempa dan tsunami Jepang tahun 2011 memberikan kita pelajaran yang sangat penting bahwa tidak ada satu struktur fisik yang mampu menahan hantaman tsunami di atas 20 meter. 

Selain itu, meski bangunan dilengkapi penahan tsunami, tapi umur struktur fisiknya (beton sekalipun) tidak mungkin melebihi 50 tahun. “Sedangkan ketika kita berbicara tsunami dengan kategori besar, maka kita berbicara periode ulang di atas 400 tahun,” ungkap Abdul.

“Artinya, ketika tsunami terjadi, struktur penahan tsunami tersebut mungkin sudah dalam kondisi tidak optimal dalam mereduksi potensi dampak yang mungkin terjadi,” tambahnya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana upaya non-struktur dalam kasus bencana dengan tingkat risiko tinggi? Menurut Abdul, hal ini dimulai dari tata ruang kawasan pesisir yang berbasis mitigasi.

“Pasca-tsunami tahun 2011, Jepang membagi kawasan pesisir yang direkonstruksi menjadi dua bagian yakni kawasan yang hampir pasti selalu terkena dampak tsunami dengan periode uang 30-150 tahun (berjarak sampai 1 kilometer dari bibir pantai) dan kawasan yang hanya terdampak oleh tsunami dengan periode ulang di atas 200 tahun (berjarak sampai tiga kilometer dari bibir pantai),” katanya.

“Kedua kawasan ini tidak boleh diisi dengan pemukiman,” imbuh Abdul. Meski begitu, pemerintah Jepang memperbolehkan kawasan pertama dimanfaatkan untuk pariwisata dan konservasi, sedang kawasan kedua hanya boleh dimanfaatkan oleh industri dan pertanian dengan syarat ketahanan bangunan terhadap gempa dan tsunami yang sangat ketat.

Selain itu, prasarana evakuasi dari tsunami juga harus tersedia dan mudah dijangkau bagi pengguna kawasan ini. “Untuk kawasan yang belum terjadi tsunami dengan pemukiman di kawasan pesisir sudah relatif sangat padat, edukasi dan pelatihan evakuasi yang ditunjang dengan ketersediaan prasarana tempat evakuasi yang mudah dicapai adalah hal utama,” kata Abdul.

“Jepang melakukan gladi evakuasi di tiap kota yang rawan tsunami setidaknya tiga kali dalam setahun,” imbuhnya. Tak hanya itu, menurut Abdul, untuk melindungi aset ekonomi seperti bangunan dan infrastruktur yang dibangun di kawasan rawan tsunami, peran serta asuransi dalam manajemen risiko sudah tidak bisa ditunda.

“Regulasi nasional mengenai asuransi bencana mendesak untuk diadakan.Tanpa adanya regulasi nasional, skema asuransi bencana di Indonesia sulit diwujudkan. Baca juga: Tanpa Buoy, Seberapa Akurat Sistem Peringatan Dini Tsunami Kita? Bencana Risiko Sedang Berbeda dengan bencana risiko tinggi, untuk jenis bencana dengan tingkat risiko sedang dan kecil, Peraturan Pemerintah No 64 Tahun 2010 yang digunakan.

Peraturan ini berisi tentang Mitigasi Bencana di Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Pasal 17 Ayat (2) dan (3) menyebutkan bahwa fungsi struktur fisik bisa dikedepankan ditunjang dengan upaya non-fisik. Peraturan ini dimaksudkan agar keberadaan struktur fisik berupa (misalnya) hutan pantai, tanggul dan pemecah gelombang dapat seiring sejalan dengan upaya perubahan perilaku masyarakat dalam merespons tanda-tanda bahaya seperti peringatan dini, gejala alam dan lain-lain.

Di samping semua itu, menurut Abdul, informasi tentang kebencanaan perlu dipahami dalam arti yang lebih luas. “Suatu hasil kajian boleh saja diperdebatkan, imbauan agar masyarakat tetap tenang dan waspada boleh saja dilakukan,” kata Abdul. “Akan tetapi hal tersebut harus dibarengi dengan tindakan yang lebih mendesak yakni implementasi upaya mitigasi baik struktural maupun non-struktural yang direncanakan dengan baik dan tersosialisasikan secara berkelanjutan kepada masyarakat,” tegasnya.

sumber: https://sains.kompas.com

BPBD Jateng Dorong Bentuk Desa Tangguh Bencana

BPBD Jateng Dorong Bentuk Desa Tangguh Bencana

SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mendorong pembentukan desa tangguh bencana di daerah-daerah yang rawan bencana sebagai upaya mengurangi dampak risiko bencana bagi masyarakat. “Kami dorong tiap desa menyiapkan fasilitas di balai desa masing-masing agar bisa dijadikan sebagai tempat pengungsian saat terjadi bencana,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Sarwa Pramana, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/).

Sarwa mengaku telah meminta agar seluruh balai desa difasilitasi untuk ditempati oleh masyarakat yang mengungsi saat terjadi bencana. “Yang paling penting tolong ditambah MCK-nya karena pada saat pengungsian menjadi sangat kurang dan dibutuhkan para pengungsi,” ujarnya.

Dia menjelaskan penanganan penanggulangan bencana menjadi urusan dan tanggung jawab bersama dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah, melainkan juga masyarakat serta dunia usaha. Saat satu daerah terdampak bencana, kata dia, maka kabupaten/kota lainnya dan seluruh pemangku kepentingan harus turun ke lapangan untuk membantu penanganan bencana

Essential to avoid disaster of hard Irish border, says Tony Blair

Tony Blair has accepted that Britain and Ireland will have to work around rather than reverse Brexit in order to prevent a hard border on the island and preserve the Good Friday agreement.

While stressing he was still “passionately opposed” to Brexit and regarded the UK leaving the EU as a “profound mistake”, the former prime minister said that the two countries would have to “overcome the challenge” posed by the British departure from Europe.

Speaking at an event in Belfast on Tuesday to mark 20 years since the signing of the Good Friday agreement peace accord, Blair said it was essential to avoid the disaster of a hard border reappearing on the island post-Brexit.

On the challenges Brexit will pose for Ireland, Blair said: “We are just going to have to work at it [Brexit] and overcome it. I wish it wasn’t happening but it is and we are just going to do our best to circumvent it.”

He also urged the current generation of Northern Ireland’s political leaders “not to cast aside” the gains of the Good Friday agreement peace deal.

Commenting on the present deadlock between unionism and nationalism in Northern Ireland, Blair said: “Where we are may not be where we want to be but it’s a much better place from where we were.

“This is the most important thing I would say right now to those people today who are in positions of responsibility: try to work your way through the present impasse, give it your all, start working at it, don’t ever give up because what you are doing is vital, it is important.”

There was discord even within the Irish nationalist representatives at the conference to commemorate 20 years of the agreement. Adams confirmed that Sinn Féin wanted a “border poll” on a united Ireland.

Seamus Mallon, the former Social Democratic and Labour party deputy leader and former deputy first minister, said calls for a referendum on Irish unity posed dangers.

Mallon said it would be a “bloody disaster” if any referendum on a united Ireland could be won by a simple majority of 50% plus 1.

In such a scenario, Mallon warned, Ireland would inherit a fearful, recalcitrant large unionist minority on the island.

Preventing, recovering from disaster in Cambria

http://www.sanluisobispo.com/latest-news/i5jcb9/picture208454434/alternates/LANDSCAPE_1140/Topping,%20Ken.jpg

Disaster-recovery expert Ken Topping and other members of the Cambria FireSafe Focus Group want all North Coast residents to be completely informed and ready for any catastrophe.

In three previous informational forums this year, the Focus Group has addressed a host of do-and-don’t readiness issues.

The group is hosting a fourth session from 3 to 5 p.m. Tuesday, April 24, at the Veterans Memorial Building, 1000 Main St.

Topping (a former general manager of the Cambria Community Services District) will discuss more about preventing disaster losses and recovering after the catastrophe.

“Prevention and recovery are two sides of the same coin,” Topping said. “The more you prepare in an effort to prevent losses, the less difficult it will be to recover and get back on track after the disaster.”

He’ll also ask attendees for their questions about preparing themselves, their homes and their community for fire, flood, earthquake, landslides and other disasters, as well as about governmental rules that may need tweaking.

“We need to know where the gaps and overlaps are that make prevention a less effective crazy quilt,” Topping said in an April 9 phone interview. “I think there are a lot of holes, kind of like Swiss cheese.”

Cambrians have banded together in the past to advocate for change, including their successful campaign to temporarily remove the county permit fee for taking down trees deemed hazardous by Cal Fire. No healthy trees could be removed under this streamlined process.

At the forum, Topping and Focus Group members will answer any questions they can, and do research later to find answers to other queries, publicizing the responses later.

Those who have questions now can email them to group leader Shirley Bianchi at [email protected].

Topping also will discuss the plan to form a VOAD group (Voluntary Organizations Active in Disasters) to help the community be more disaster-prepared. A sign-up sheet will be provided for people and organization that wish to participate in the VOAD process.

Do you have a news tip for Village People, Village Voices or the Village Square business bundle? Please send it to Kathe Tanner at [email protected]. While we may not be able to publish every submission, we’ll use as many as we can.

Ada Tim PVMBG, Ini Harapan Pengungsi Bencana Tanah Retak Ponorogo

Ada Tim PVMBG, Ini Harapan Pengungsi Bencana Tanah Retak Ponorogo

detik.com – Ponorogo – Dalam kurun sebulan belakangan, sejumlah daerah di Ponorogo masih terdampak bencana tanah bergerak. Bahkan 141 warga Desa Slahung sudah satu bulan ini berada di pengungsian.

Warga merasa takut jika harus tinggal di rumahnya akibat bencana tanah gerak. Menanggapi hal ini, tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) turun tangan melakukan penelitian.

Kedatangan tim PVMBG ke Desa Slahung pun menuai pujian dari warga. “Kami bersyukur ada tim PVMBG datang ke desa kami meninjau tempat kami, setelah terluntang-lantung tanpa kepastian. Kami harap tim bisa memberikan jalan keluar,” tutur Panut, salah satu pengungsi yang ditemui detikcom di lokasi, Selasa (10/4/2018).

Panut mengaku ia bersama ratusan warga lain memang menunggu kedatangan tim PVMBG sebab kedatangan mereka diyakini dapat memberikan solusi apa saja yang harus dilakukan oleh warga terkait bencana alam tersebut.
“Kami sudah satu bulan bolak-balik tempat pengungsian dan rumah kami. Kami ingin ada kejelasan. Kalau ada surat rekomendasi, setidaknya kami ada pegangan untuk meminta tempat yang lebih aman,” terang Panut.

Panut juga mengisahkan ia sudah berkali-kali membongkar rumahnya akibat bencana tanah gerak. “Dulu awalnya rumah saya tembok, tapi kena longsor akhirnya saya bongkar. Karena saya tidak mampu akhirnya saya ganti papan, itu pun kemarin kena longsor lagi. Ini sudah papan baru untuk rumah saya,” paparnya.

Akan tetapi Panut menambahkan bila ia tak sanggup bila harus melakukan relokasi secara mandiri karena kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan.

“Saya kalau disuruh pindah dan beli rumah baru, tidak bisa. Saya tidak punya apa-apa. Kasihan warga yang lain kondisinya juga sama,” imbuh Panut.

Kendati demikian, Panut mewakili warga setempat berterima kasih jika ada surat rekomendasi dari PVMBG agar Pemkab Ponorogo maupun Pemprov Jatim bisa segera tanggap dan membantu 141 warga Desa Slahung yang terancam dengan adanya bencana tanah gerak.

Di sisi lain, Panut bersama warga lainnya akan tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. “Karena saat musim hujan, retakan tanah itu semakin lebar dan tepat di atas pemukiman warga Dusun Gembes, kami tetap waspada. Kami tidak ingin kejadian longsor Banaran yang menimbun puluhan orang terulang kembali disini, makanya warga terus waspada dan tinggal di pengungsian terutama anak-anak dan wanita serta lansia,” pungkasnya.

Banjir Bandang di Bogor, 1 Warga Tewas dan 12 Kendaraan Hilang

BOGOR, KOMPAS.com – Hujan deras yang mengguyur kawasan Bogor, Sabtu (7/4/2018) sore hingga malam, menyebabkan dua kampung di Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, dilanda bencana longsor dan banjir bandang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor dan Komando Distrik Militer (Kodim) 0621 menginformasikan, wilayah yang terdampak bencana tersebut berada di Kampung Cisarua dan Kampung Arca. Di Kampung Cisarua, dilaporkan enam rumah warga hancur, 12 kendaraan hilang, dan seorang warga meninggal dunia akibat banjir bandang. Sementara, di Kampung Arca, longsor mengakibatkan satu warga belum ditemukan. Petugas masih melakukan pencarian terhadap korban.

Komandan Distrik Militer 0621 Letkol Inf Fransisco mengatakan, dampak dari bencana itu menyebabkan akses jalan yang menghubungkan antara wilayah Sukamakmur dengan Cianjur terputus.

“Petugas masih berada di lapangan untuk membantu evakuasi warga yang terkena dampak bencana,” kata Fransisco, Minggu (8/4/2018). Ia menambahkan, petugas sudah mengidentifikasi satu orang warga yang meninggal dalam peristiwa itu. Korban bernama Mari (70) berjenis kelamin wanita.

“Korban ditemukan hari ini dalam keadaan meninggal,” ucapnya. Sekretaris Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor, Budi Pranowo menyebut, selain merusak rumah dan kendaraan, banjir bandang juga membuat sawah dan kebun milik warga ikut hancur.

Saat Selamatkan Korban Banjir Bandang Saat ini, sambungnya, petugas masih mengevakuasi warga menuju tempat yang lebih aman. Tenda-tenda darurat serta bantuan logistik juga sudah disiapkan. “Kami imbau kepada masyarakat untuk tetap waspada mengingat curah hujan di Bogor cukup tinggi. Petugas sudah diterjunkan ke titik-titik rawan bencana untuk mengantisipasi,” tutur Budi.

A 5.3-Magnitude Earthquake Just Struck Southern California

An earthquake of preliminary magnitude 5.3 struck 38 miles (61 kilometers) off the coast of California Thursday afternoon (April 5), rattling Los Angeles.

That’s a moderate quake in the grand scheme of things, and common enough in the region of the San Andreas fault, where LA sits. But the event was still dramatic enough to make people sit up and take notice. Several Twitter users took to the platform to ask if others had felt the quake. [What Causes Earthquakes?]

“This is a very interesting earthquake,” Mark Legg, founder of the consulting firm Legg Geophysical, Inc., in Huntington Beach, California, told Live Science, adding that he’s been anticipating such an earthquake, as a magnitude-5-plus temblor occurs there about every six years. The last one, a magnitude-6.3, struck in December 2012, he said.

The earthquake occurred near a complex region of several faults called the East Santa Cruz Basin fault zone, Legg said. These fissures in the Pacific Plate are located offshore around the Channel Islands; they were most active during the Miocene epoch (between about 20 million and 5 million years ago), Legg said, though they still produce earthquakes today. That’s because they sit snugly on the Pacific Plate, whose motion toward Alaska is impeded by a bend in the San Andreas Fault and the Western Transverse mountain ranges, “which block the smooth northwest movement of the Pacific Plate,” Legg said. 

(The San Andreas Fault, which marks the boundary between the Pacific and North American tectonic plates, is not a straight line, but rather has lots of bends and other “cricks” along its path.)

Today’s earthquake seems to have struck at a spot where a major collision is occurring along a boundary between the Western Transverse Ranges and what is called the California Continental Borderland.  

“Sometimes, there are thrust earthquakes along this boundary, other times there are strike-slip earthquakes as the WTR [Western Transverse Ranges] tries to ‘escape’ around the bend in the San Andreas fault, as the Pacific plate moves to the northwest,” Legg wrote in an email.

A thrust-type quake happens when the earth on one side of a fault jumps upward and over the other side; a strike-slip earthquake means both sides of the fault move mostly horizontally, as happens along the San Andreas Fault.

If this all sounds complicated, don’t worry, it is.

“I like to think of the southern California region as a major crustal ‘Shear Zone’ composed of many faults working together (or against each other sometimes) to enable the Pacific Plate to move on its way to Alaska,” Legg said. “It is not a simple process, and that is what makes it extremely interesting to scientists like myself and many others.

The LA region experiences an earthquake of this magnitude about once a year, 

There’s a 1-in-20 chance that today’s temblor will be followed by a larger quake in the coming weeks, said John Vidale, director of the Southern California Earthquake Center at USC, as reported by the Los Angeles Times. He added that the more likely scenario involves a series of much smaller aftershocks that may be too weak for anyone to even notice.

“There is a slight chance that this is a foreshock, but as time passes, that probability diminishes rapidly,” Legg said. 

There are no reports at this time of any significant damage from the quake, and there may not be any in a region well-prepared for temblors.