Disaster education increases community resilience

HAVE you ever heard the story of a girl named Tilly Smith? On Dec 26, 2004, Tilly and her family went to Phuket, Thailand, for a Christmas holiday. While at Maikhao Beach, she sensed something was not right.

The water was bubbling and swelling, the tide went out suddenly and the sea was fizzing. Tilly freaked out and shouted that a tsunami was coming.

 

The 10-year-old learned about tsunamis in her geography class two weeks before coming to Thailand. Tilly’s action saved about 100 people and because of that she was once called the “angel at the beach”.

Tilly’s experience teaches us that it is imperative for society to learn about every aspect of disaster education, starting from the understanding of different types of disasters to learning about the numerous ways to save lives.

 
 

The learning process should be carried out in the school system or through informal education for the masses. Regardless of the medium of learning, disaster education should be implemented immediately, since a catastrophic disaster will strike without any notice.

Disaster education is important not only because it raises public awareness of disasters, but because it will also provide useful knowledge on disasters.

The students and the general public could learn about various kinds of disasters or the signs of disasters.

At the same time, disaster education helps community disaster preparedness. Finally, learning about disaster will facilitate the community to act appropriately in any disaster. At the end of the day, all of these will strengthen community disaster resilience.

Community disaster resilience refers to the ability of the community to face the disaster and their capability to rebuild their lives to the pre-disaster situation.

Besides the ability of a community to “bounce back” (i.e. resume normal functioning) to pre-disaster conditions, community resilience also involves the capacity of the community to “bounce forward”.

Malaysia is regarded as a fortunate country (particularly Peninsular Malaysia), which is not vulnerable to natural disasters such as earthquakes and hurricanes.

However, Malaysia is exposed to other types of catastrophes such as floods, droughts and haze.

Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak, Johor, Sabah and Sarawak are often hit by floods, particularly monsoon floods.

On December 2014, most of these areas were hit by massive floods.

The National Security Council Malaysia confirmed that the floods, popularly called the Bah Kuning, that hit Kelantan were the worst in the history of the state since 1967.

According to the council’s report, the water level of Sungai Kelantan at Tambatan DiRaja, which has a danger level of 25m, reached 34.2m in 2014 compared to 29.7m in 2004 and 33.6m in 1967.

The 2014 floods taught us that being better prepared, especially at the community level, is crucial.

As the community is the “first responder” in any disaster, they should be well-prepared to face the calamity.

Preparedness is part of disaster education. In terms of Malaysia, site-specific disaster education programmes are crucial. In other words, this kind of education is vital, especially for communities prone to disasters.

The education programme must not be done in an ad hoc manner.

A well-organised and consistent disaster programme is essential in order to enhance overall community disaster resilience.

The preparedness effort is natural in the life of any person.

Even in Islam, making a systematic preparation or arrangement before any disaster event is strongly recommended.

In the Quran, the story of Prophet Yusuf’s preparation for a disaster (famine) is very enlightening.

He interpreted a king’s dream to mean that there would be seven years of abundance and the land should be properly cultivated.

This would produce an excess of good harvest, more than the people needed and the excess should be stored.

Following that seven years of abundance, there would be seven years of famine during which time the excess grain could be used.

He also advised that during the famine they should save some grain to be used for seed for the next harvest.

Prophet Yusuf also added that after seven years of famine, there would be a year during which water would be plentiful.

If the water was properly used, grapevines and olive trees would grow in abundance, providing the community with plenty of grapes and olive oil. (Yusuf, 12:46-49)

The story teaches us that disaster preparedness is important.

In Malaysia, carrying out a disaster preparedness programme, be it in terms of education, technology advancement or food storage, is essential and should be strongly encouraged.

Azrina Sobian is a Fellow at Ikim’s Centre for Science and Environment Studies. The views expressed here are entirely her own.

Kemensos Terus Kembangkan Tagana

SUBANG, (PR).- Kementerian Sosial terus mengembangkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di berbagai daerah. Di setiap provinsi dilaksanakan rekruitmen sukarelawan Tagana 50-60 orang per tahunnya. Saat ini, jumlah anggota Tagana di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 32 ribu orang. Namun anggota yang aktif sekitar 29 ribu orang.

Hal itu dikatakan Kasubdit Penanganan Korban Bencana Alam Kemensos, Iyan Kusmadiyana seusai apel penutupan Pelatihan dan Simulasi Kampung Siaga Bencana di Alun-alun Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang, akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan jumlah sukarelawan tergabung dalam Tagana masih jauh dari ideal apalagi bila melihat peta kerawanan bencana alam di daerah. Pihaknya terus berupaya mendorong adanya penambahan jumlah keanggotaan tagana setiap tahunnya, seperti tahun 2016 tiap provinsi diharapkan ada tambahan 50 – 60 anggota baru. “Kehadiran Tagana sangat membantu kami di kemensos. Kontribusi mereka besar sekaligus mampu meminimalisir korban saat terjadi bencana. Rasa kemanusiaannya tinggi, dan selalu siap ditugaskan kapanpun,” ujarnya.

Iyan mengungkapkan pemerintah akan terus melakukan pembenahan dan peningkatan kemampuan tagana seperti peningkatan kemampuan manajemen pengungsi. “Daya jangkauan dan kemampuan Tagana terus tingkatkan sebagai bagian tim penanggulangan bencana bersama instansi lainnya,” ujarnya

Selain itu, lanjutnya upaya meningkatkan peran aktif masyarakat diarahkan kepada terbentuknya Kampung Siaga Bencana, dan jumlahnya terus diperbanyak. Melalui KSB, masyarakat dilibatkan secara aktif, dan mereka menjadi ujung tombak dalam mengantisipasi kemungkinan kejadian.

“Kami akan terus mendorong dan memfasilitasi kampung siaga bencana terutama di daerah daerah terpencil yang sangat rawan,” ujarnya.

Dijelaskannya perluasan KSB dilakukan sebagai upaya antisipasi terjadinya bencana, sekaligus meminimalisir korban saat bencana datang. Apalagi saat ini perubahan cuaca semakin tidak menentu, berpotensi besar memicu terjadinya bencana. Pemerintah akan memetakan KSB pada daerah rawan di Indonesia. Pemetaan ini dilakukan untuk menangani permasalah kebencanaan nasional, seperti banjir, tanah longsor, puting beliung dan lainnya.

“Pemetaan KSB mengacu pada data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sedangkan penentuan lokasinya diserahkan kepada daerah masing-masing,” ujarnya.

Dikatakannya, masyarakat di KSB diberikan pengetahuan mengenai sistem peringatan dini dan antisipasi serta pertolongan pertama jika terjadi bencana. Selain itu Kemensos bersama sengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan SAR Nasional, PMI dan BMKG akan terus meningkatkan sistem peringatan dini bencana di masyarakat. “Peningkatan sistem peringatan dini di masyarakat ini sangat penting guna meminimalisir korban,” jelasnya

Responding to humanitarian crisis, a major challenge to NEMA – DG

Responding to humanitarian crisis, a major challenge to NEMA - DG

The Director General of the National Emergency Management Agency (NEMA), Muhammad Sani Sidi has lamented that responding to the current humanitarian challenges in Northeast Nigeria was one of the major challenges of the agency in 2016.

NEMA’s Head of Media and Public Relations, Sani Datti said Sani Sidi disclosed this at the annual retreat organized for Members of the House of Representatives Committee on Emergency and Disaster Preparedness in Jos Plateau State at the weekend.

He quoted him as saying “this year has been challenging just like last year, we have been occupied responding to the issues in  North east and North west, particularly Zamfara State.

“Insurgency is new to us as a people and as a country, managing its consequence will certainly be new to us, but we are learning and I want to assure you that we are learning fast as an agency and as a country.”

According to Datti, the Chairman of the committee, represented by the Vice Chairman, Hon. Ali Isa (JC) in his remarks, commeded the agency for making judicious use of the little resources it received, adding that it had been very effective in handling most of emergency cases in the country.

Isa promised that the committee will look at the Act of the agency with a view to enhance and improve the functions of the agency.

Read more at http://www.dailytrust.com.ng/news/general/responding-to-humanitarian-crisis-a-major-challenge-to-nema–dg/176679.html#7wYAEXWgPvaloqa8.99

Gempa Aceh: Lafarge Cement Kirim Truk Angkut Reruntuhan

MEDAN—PT Lafarge Cement Indonesia, anak usaha PT Holcim Indonesia Tbk. memberikan bantuan berupa truk untuk mengangkut sisa reruntuhan akibat gempa di Pidie Jaya. Truk ini akan membantu di lokasi gempa selama 7 hari.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (19/12/2016), selain Lafarge, beberapa distributor Semen Andalas yakni PT Pajar Syahdina, PT Pintoe Aceh Perkasa, PT Bina Guna Lestari, PT Windira Indonad, PT Blang Meunara Andalas dan PT Lhoknga Sarana Andalas juga memberi bantuan truk untuk membersihkan lokasi gempa.

Warga menyaksikan Masjid JamIk Nur Abdullah yang ambruk akibat gempa di lintasan jalan nasional Desa Parue Keude, Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya, Propinsi Aceh, Rabu (7/12). – Antara

“Selain truk, kami juga sudah mengirimkan bantuan sandang dan pangan seperti susu, air mineral, beras, telur, dan lainnya. Tapi kami melihat masih banyak sisa reruntuhan di lokasi. Sementara itu, jumlah truk pengangkut justru kurang. Oleh karena itu, kami mengirimkan lima truk ke sana,” ucap Plant Manager Lafarge Cement Indonesia Gerald Guiot.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya Puteh Amanaf menuturkan truk tersebut akan digunakan secepatnya, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum, PMI, Dandim dan Danrem Pidi Jaya.

“Ini sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo, bahwa reruntuhan gempa harus segera dibersihkan. Kami memang sangat membutuhkan bantuan ini,” pungkasnya.

sumber: Kabar24.com,

Alat Berat Bergerak di Pidie Jaya, Korban Gempa Aceh Dilarikan ke RS

Alat Berat Bergerak di Pidie Jaya, Korban Gempa Aceh Dilarikan ke RS

Jakarta – Gempa bumi skala 6,4 SR mengguncang Aceh. Banyak korban yang berhasil dievakuasi dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

Warga Pidie Jaya bernama Supriyadin mengatakan saat ini proses evakuasi masih berlangsung. Sejumlah warga yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Sejak pukul 07.00 WIB petugas dan alat berat sudah berdatangan di lokasi. Alat-alat berat sudah bergerak melakukan evakuasi,” kata Supiyadin saat dihubungi, Rabu (7/12/2016). Supiyadin mengirimkan foto dan informasi lewat pasangmata.com.

Supiyadin mengaku melihat sejumlah warga yang terluka dilarikan ke rumah sakit. Bahkan dia melihat sejumlah korban meninggal yang digotong oleh petugas.

“Ada sejumlah warga tertimbun, terakhir informasi sekitar 18 ya, tapi bertambah terus. Ada suami istri meninggal di salah satu rumah di Jl Lintas Medan, Banda Aceh dan yang terparah di Kecamatan Ulee Glee,” kata dia.

Tim medis dari puskesmas dan rumah sakit juga sudah berada di lokasi. Supiyadin melihat banyak warga yang terluka dan banyak bangunan roboh.

“Banyak korban itu bapak-bapak yang terluka, saya sempat melihat ada satu bocah meninggal tertimbun di rumahnya. Banyak bangunan roboh itu masjid,” ujarnya.

Menurut pantauan Supiyadin korban dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit terdekat di Kecamatan Ulee Glee.

“Puskesmas terdekat puskesmas dan rumah sakit umum di Ulee Glee. Gempanya ini ada di beberapa kabupaten dan kecamatan. Sampai saat ini proses evakuasi masih berlangsung.

Gempa 6,4 SR di Aceh, Begini Potret Kepanikan Warga dan Bangunan yang Rusak

Jakarta – Masyarakat berbondong-bondong menyelamatkan diri setelah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, diguncang gempa bumi 6,4 Skala Richter (SR). Sejumlah bangunan rusak bahkan roboh.

Gempa bumi 6,4 SR ini terjadi pada Rabu (6/12/2016) sekitar pukul 05.03 WIB. Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Setelah diguncang gempa bumi, masyarakat berhamburan ke luar rumah dan bangunan. Masyarakat berusaha untuk menyelamatkan diri ke lokasi-lokasi yang aman dan menuju perbukitan.

Masyarakat berusaha menyelamatkan diri.Foto: Istimewa
Masyarakat berusaha menyelamatkan diri.

Masyarakat tampak memadati jalanan di Pidie Jaya. Ada warga yang berjalan kaki, ada juga yang mengendarai motor dan mobil. Suara klakson kendaraan bersautan memecah keheningan pagi hari.

Rumah warga yang rusak akibat gempa bumi.Foto: Istimewa
Rumah warga yang rusak akibat gempa bumi.

Sementara itu, sejumlah rumah rusak parah. Tembok-tembok bagunan rumah retak bahkan ada yang roboh. Demikian juga sejumlah fasilitas umum dan sekolah rusak parah. Salah satunya, Sekolah Tinggi Agama Islam Aziziyah, Jamalanga, Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tembok bercat kuning pada bagunan ini retak-retak.

Ada juga bangunan sekolah yang rusak.Foto: Istimewa
Ada juga bangunan sekolah yang rusak.

Tidak hanya itu, masjid-masjid juga mengalami kerusakan. Ada masjid berlantai dua yang mengalami rusak parah. Sebagian bangunannya roboh.

Masjid di Aceh roboh.Foto: Istimewa
Masjid di Aceh roboh.

Meski demikian, warga tetap khusyuk menunaikan ibadah salat Subuh di masjid. Bahkan, ada puing-puing bagunan yang roboh masih berserakan di lantai masjid.

Warga khusyu menunaikan salat di masjid.Foto: Istimewa
Warga khusyu menunaikan salat di masjid.

Kota-Kota Pantai di Inggris Terancam Berisiko Dihantam Tsunami

Ilustrasi ombak raksasa. (Sumber Thinkstock)

Liputan6.com, Southampton – Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa kawasan pantai Inggris dan infrastrukturnya berada di bawah ancaman tsunami.

Suatu penelitian terkini mengungkapkan bahwa Kepulauan Inggris dulunya pernah dihantam gelombang-gelombang raksasa yang lebih tinggi dan lebih sering daripada yang diduga sebelum ini.

Salah satu tsunami bahkan mencapai ketinggian lebih dari 18 meter. Dengan demikian, mereka memperingatkan bahwa ombak-ombak seperti itu bisa melumat instalasi-instalasi seperti pembangkit listrik dan pelabuhan-pelabuhan.

Dikutip dari Daily Mail pada Senin (5/12/2016), gejala alamiah itu biasanya disebabkan oleh gempa bumi, sehingga tidak dianggap sebagai ancaman serius bagi Inggris.

Namun demikian, bukti yang ada menunjukkan bahwa longsor bawah air dapat menyebabkan miliaran ton lumpur bergeser di dasar laut sehingga menciptakan gelombang-gelombang raksasa di bawah permukaan laut, demikian menurut laporan Sunday Times.

Sekarang para peneliti mengajukan usulan pembuatan rencana-rencana tanggapan di Inggris terkait tsunami, seperti halnya rencana-rencana tanggapan lain semisal banjir.

Kelompok Landslide-Tsunami Consortium meluangkan berminggu-minggu di atas kapal penelitian untuk melakukan survei dan mengambil sampel dari dasar laut, mulai dari Skotlandia hingga pulai Svalbard milik Norwegia.

Profesor Peter Talling, ahli geologi kelautan dari Durham University yang memimpin penelitian berbiaya 2,3 juta pound sterling (Rp 39,4 miliar) ini, mengatakan di Southampton, “Menurut kami, pemerintah harus memikirkan memasukan tsunami dalam daftar National Risk Register of Civil Emergencies.”

Bukti yang ada menunjukkan bahwa tsunami raksasa pernah menghantam pantai utara Inggris dan Kepulauan Shetland sekitar 8200 tahun lalu.

Ada bagian dasar laut seukuran Skotlandia yang bergeser dekat Norwegia sehingga menciptakan ombak setinggi 20 meter yang bergerak ke arah barat daya.

Pada 1580, tsunami menenggelamkan beberapa kapal di Dover setelah suatu gempa bumi yang menyebabkan longsor di Kanal Inggris. Saat itu, pada 1755, tsunami setinggi 3 meter menghantam Cornwall.

Drones to the rescue: Could UAVs be used to deliver aid to disaster zones?

The possibility of using drones to deliver humanitarian aid in the wake of natural disasters in the Asia-Pacific region will be investigated as part of a new research project.

For the next nine months, a research team funded by the Australian Red Cross and the Department of Foreign Affairs will examine how drones could help in relief efforts.

“After a natural disaster, one of the most critical elements is time,” said Peter Walton, Director of International at the Australian Red Cross.

“The aim is [to find out] is this a way to get humanitarian aid to be more effective and faster?”

The team will head to Fiji — hit by Cyclone Winston earlier this year — and other South Pacific countries.

To begin with, researchers will assess what drones can do after a severe cyclone that conventional aircraft, like planes and helicopters, cannot.

After recent cyclones in Fiji and Vanuatu, it was several days before many areas could be safely overflown to assess damage.

“The cloud cover was low, the weather conditions were very poor,” said Mr Walton.

“Drones offer us an ability to actually fly at much lower levels. [They] give us the opportunity to get GPS coordinates so we know exactly what has happened where.”

 

Patrick Meier, executive director of WeRobotics and a leading expert in the use of drones in humanitarian assistance, said drones could fill the “vacuum of information” in the wake of a disaster.

“Understanding who has been affected, how badly, and where, is absolutely key. Otherwise you’re just guessing,” he said.

Based in Washington, DC, Mr Meier will lead the research project in the South Pacific. He also worked in the region in Vanuatu after Cyclone Pam in 2015. His team used drones to assess recovery efforts.

“This is important, because we need to identify the price, the costs of the damage in order to basically be able to rebuild.”

The study will look at some of the potential issues surrounding the use of drones, such as whether they comply with local aviation laws, and making sure their operation does not offend cultural sensitivities.

Ultimately, the goals will be to permanently base drones in South Pacific countries and train local operators.

Media player: “Space” to play, “M” to mute, “left” and “right” to seek.

 
 

00:00

00:00

AUDIO: Listen to Norman Hermant’s story on AM (AM)

“It takes time to fly international teams, it takes money to fly international teams around the world,” said Mr Meier.

“Why not work with first responders, who are by definition the local partners and the local communities, and build their capacity?”

The study will also look at what is the holy grail for drone operators who work in humanitarian relief: the possibility that drones could eventually be used to deliver vital emergency supplies, such as medicine and food, to areas isolated after a disaster.

“As Unmanned Aerial Vehicles (drones) become more available, more common, then I think it’s absolutely feasible that we could look at dropping essential aid items,” said Mr Walton.

“But firstly we have to make sure that it’s possible.”

Di Kalsel, Tim Gabungan Siap Siaga untuk Bencana

BANJARMASIN – Bencana yang terjadi di Banua akhir-akhir ini, mulai menjadi perhatian serius. Tim gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, Tagana serta seluruh stakeholder terkait Senin (28/11) kemarin menggelar apel pasukan untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir.

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor mengatakan, bencana banjir yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama untuk berupaya menanggulanginya. Hal terpenting dalam penanganan bencana ialah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, aparat pemerintah. Serta seluruh pemangku kepentingan, seperti Polri dan TNI. “Seluruh tenaga harus dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini,” katanya.

Ia menambahkan, banjir yang telah terjadi di beberapa kabupaten. Seperti di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungan Utara, diakibatkan oleh cuaca yang dipengaruhi oleh Lalina. “Berdasarkan pantauan BMKG Syamsudin Noor tahun ini cuaca dipengaruhi Lalina, sehingga menyebabkan beberapa potensi kerawanan bencana,” tambahnya.

Untuk itu, Sahbirin mengimbau agar Basarnas dan BPBD dapat membangun sinergi dan kerjasama mempersiapkan diri. Dengan cara melakukan pengecekan perlengkapan penanggulangan banjir, serta meng-update kembali pemetaan daerah rawan banjir di wilayah Kalsel guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. “Masyarakat juga, harus selalu berhati-hati dengan kondisi cuaca seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 101/Antasari Kolonel Yanuar Adil mengungkapkan, meski belum ada status siaga banjir. Pihaknya telah menyiapkan 100 personil untuk membantu para korban yang diterjang bencana. “Jika diperlukan, kami juga bisa mengumpulkan satu batalyon ke lokasi bencana,” ungkapnya.

Ia mengaku, sudah memerintahkan para Komandan Kodim agar memetakan wilayah-wilayah banjir. Agar dapat mengetahui daerah mana saja yang akan menjadi perhatian khusus. “Dandim juga sudah saya perintahkan agar selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat, supaya dapat mengetahui jika banjir datang,” ujarnya.

Sedangkan, personel yang disiapkan Polda Kalsel dua kali lipat lebih banyak. Kapolda Kalsel Brigjen Pol Erwin Triwanto mengaku telah menyiapkan 600 personel. “Kami siapkan 600 personel dan beberapa peralatan keselamatan,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Di Kalsel, Tim Gabungan Siap Siaga untuk Bencana

PROKAL.CO, BANJARMASIN – Bencana yang terjadi di Banua akhir-akhir ini, mulai menjadi perhatian serius. Tim gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, Tagana serta seluruh stakeholder terkait Senin (28/11) kemarin menggelar apel pasukan untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir.

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor mengatakan, bencana banjir yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama untuk berupaya menanggulanginya. Hal terpenting dalam penanganan bencana ialah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, aparat pemerintah. Serta seluruh pemangku kepentingan, seperti Polri dan TNI. “Seluruh tenaga harus dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini,” katanya.

Ia menambahkan, banjir yang telah terjadi di beberapa kabupaten. Seperti di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungan Utara, diakibatkan oleh cuaca yang dipengaruhi oleh Lalina. “Berdasarkan pantauan BMKG Syamsudin Noor tahun ini cuaca dipengaruhi Lalina, sehingga menyebabkan beberapa potensi kerawanan bencana,” tambahnya.

Untuk itu, Sahbirin mengimbau agar Basarnas dan BPBD dapat membangun sinergi dan kerjasama mempersiapkan diri. Dengan cara melakukan pengecekan perlengkapan penanggulangan banjir, serta meng-update kembali pemetaan daerah rawan banjir di wilayah Kalsel guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. “Masyarakat juga, harus selalu berhati-hati dengan kondisi cuaca seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 101/Antasari Kolonel Yanuar Adil mengungkapkan, meski belum ada status siaga banjir. Pihaknya telah menyiapkan 100 personil untuk membantu para korban yang diterjang bencana. “Jika diperlukan, kami juga bisa mengumpulkan satu batalyon ke lokasi bencana,” ungkapnya.

Ia mengaku, sudah memerintahkan para Komandan Kodim agar memetakan wilayah-wilayah banjir. Agar dapat mengetahui daerah mana saja yang akan menjadi perhatian khusus. “Dandim juga sudah saya perintahkan agar selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat, supaya dapat mengetahui jika banjir datang,” ujarnya.

Sedangkan, personel yang disiapkan Polda Kalsel dua kali lipat lebih banyak. Kapolda Kalsel Brigjen Pol Erwin Triwanto mengaku telah menyiapkan 600 personel. “Kami siapkan 600 personel dan beberapa peralatan keselamatan,” pungkasnya. (ris/by/ran)