Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta telah menyelidiki jenis ulat bulu yang marak di Jakarta. Dari 4 jenis ulat itu dipastikan bukanlah wabah yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat. “Jadi kita sudah menyelidiki ulat-ulat bulu yang kita ambil dari beberapa kawasan yang terdeteksi ada hama ulat bulu,” ujar Kadis Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Ipih Ruyani, dalam jumpa pers di Gedung Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (19/4/2011).
Ratusan Ulat Bulu Merayap di Pohon Mangga di Cirebon
Setelah merebak di berbagai daerah, hama ulat bulu juga dilaporkan berbiak di Cirebon, Jawa Barat. “Wabah ulat bulu merambah ke desa kami, Desa Kalibaru blok Pegebangan, Kecamatan Tengah Tani, Cirebon. Ada ratusan,” kata warga setempat, Triatmi, pada detikcom, Selasa (19/4/2011).

Gambar: muhtayat.co.cc
Serangan Ulat Bulu di Jatim Patut Diwaspadai Hingga Agustus
Daerah yang diserang ulat bulu di Jawa Timur telah meluas. Perkembangbiakan ulat tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga empat bulan ke depan karena kondisi iklim yang mendukungnya. “Kita terus melakukan penelitian dan penyemprotan desinfektan di wilayah Jatim,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim, Wibowo Eko Putro saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (12/4/2011).
Eko memperkirakan, serangan ulat bulu di sejumlah daerah itu akan terus berlangsung hingga 4 bulan ke depan atau hingga Agustus 2011. Menurutnya, perkiraan tersebut disebabkan masih tingginya kelembaban suhu akibat hujan yang masih terus berlangsung.
BANJIR BANDANG DI ACEH TENGGARA
Semadam Disapu Banjir Bandang* Ribuan Warga Mengungsi, Dua Hilang.
KUTACANE – Sejumlah desa di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), tadi malam disapu banjir bandang yang menerjang dari pegunungan. Air bercampur lumpur, batu, dan kayu memporak-porandakan setidaknya empat desa, yaitu Lawe Beringin Gayo, Lawe Mejile, Simpang Semadam, dan Semadam Awal. Ribuan warga mengungsi, dua di antaranya dilaporkan hilang.
Desa-desa yang diterjang banjir bandang itu berada di lereng pegunungan dan aliran sungai. Hujan deras yang turun sejak sore kemarin menyebabkan sungai meluap karena tak mampu menampung air bah dari gunung. Luapan itu tanpa ampun menerjang permukiman yang bersisian dengan jalan nasional Kutacane-Medan. Yang tertimbun lumpur, kayu, dan bongkah-bongkah batu bukan hanya permukiman tetapi juga jalan nasional tersebut.
Sungai Code Meluap
Pemerintah Kota Yogyakarta hingga saat ini belum mengetahui berapa besar kerugian yang diderita oleh warga akibat banjir lahar dingin yang melanda Kota Yogyakarta, khususnya warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Kali Code. Kali ini berhulu di Gunung Merapi.

sumber vivanews.com
“Kami juga belum mendapatkan laporan secara pasti korban jiwa baik sakit atau meninggal akibat sungai Code meluap,” kata Haryadi Suyuti, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Senin malam 29 November 2010.
Meski belum mendapatkan laporan secara pasti besaran kerugian dan juga korban manusia, namun Pemkot Yogyakarta sudah menyiagakan segala kebutuhan, terutama untuk kesehatan dan suplai bahan makanan bagi warga yang rumahnya sempat digenangi air.
Continue reading
Pantauan Merapi melalui Web Cam dari badan geologi
MANAGEMEN BENCANA MERAPI
Pada tanggal 25 Oktober 2010 pukul 06.00 wib status kegiatan Gunung Merapi dinaikan dari “Siaga” ke “Awas” berdasarkan hasil pemantauan kegempaan, deformasi dan visual menunjukkan adanya peningkatan kegiatan/aktivitas secara signifikan.
TABIAT BARU GUNUNG MERAPI
Dua kali letusan besar Gunung Merapi, sepekan terakhir di bulan Oktober 2010 yang lalu, adalah babak baru. Babak baru bagi puluhan ribu penduduk di lereng Merapi dan babak baru bagi vulkanolog serta peminat kegunungapian. Inilah erupsi eksplosif pertama Merapi ketika teknologi pemantauan kegunungapian sudah kian canggih. Berpuluh tahun, tabiat erupsi Merapi disebut dengan erupsi khas Merapi. Erupsi khas itu berupa leleran lava pijar (erupsi efusif) yang biasanya diikuti luncuran awan panas (wedhus gembel).
NOOTULENSI RAPAT KOORDINASI TGC
Berikut disampaikan Hasil Rapat Koordinasi Stakeholder dalam rangka Penanggulangan Bencana Letusan Gunung Merapi pada hari minggu, tanggal 30 Oktober 2010 di Aula DInas Kesehatan Provinsi Yogyakarta. Rapat Koordinasi antar Stakholder terkait dibuka secara langsung oleh Bapak Dr.Bondan Agus Suryanto, SE., MA selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY.
BPPTK: MERAPI DIPERKIRAKAN AKAN MELETUS LAGI
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan, letusan keras Gunung Merapi pada Sabtu (30/10/2010) disusul awan panas sebenarnya berlangsung mulai pukul 00.16 hingga 00.37 WIB. Menurut dia, letusan awan panas terjadi karena suplai magma dari bawah ke atas berlangsung cepat.
“Sabtu dini hari terjadi aklamasi gas sehingga terjadi letusan awan panas dengan suara keras disertai guguran material yang mengeluarkan suara bergemuruh. Letusan diperkirakan masih terjadi karena masih ada magma dari bawah yang cukup besar,” katanya.
Seperti diberitakan, suara ledakan keras Gunung Merapi, Sabtu dini hari pada sekitar pukul 00.40 WIB membuat warga panik. Mereka langsung berbondong-bondong menuju tempat-tempat pengungsian. Para warga yang panik tersebut mengungsi menggunakan mobil bak terbuka, sepeda motor, dan berjalan kaki sambil berteriak-teriak mengajak warga lain untuk mengungsi.
Gunung Merapi, Sabtu dini hari, selama 21 menit mengeluarkan suara letusan keras dengan mengeluarkan awan panas yang pekat sehingga membuat panik kalangan warga di sekitar gunung yang aktif di Indonesia ini
Sumber : http://regional.kompas.com