BPBD: Waspada Banjir Rob di Jakarta Utara hingga 17 Juli

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu pada 8-17 Juli.

Melalui Instagram, BPBD DKI menyatakan bahwa banjir di pesisir itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.00-24.00 WIB.

Mereka kemudian menjabarkan wilayah yang berpotensi diterjang banjir rob, yaitu di antaranya Pademangan, Penjaringan, Pelabuhan Sunda Kelapa, Marunda, dan Kepulauan Seribu.

Merujuk pada pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir rob ini terjadi karena beberapa alasan, salah satunya fase bulan purnama.

Selain itu, banjir rob ini juga dipicu fenomena perigee, atau jarak terdekat bulan ke bumi. Perigee berpotensi menyebabkan peningkatan ketinggian pasang air laut maksimum.

BPBD pun mengimbau warga dan pihak terkait di wilayah berpotensi terdampak untuk mewaspadai peningkatan ketinggian pasang air laut yang berpotensi memicu banjir pesisir.

Masyarakat dapat memantau informasi terkini mengenai kondisi gelombang air laut melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut.

“Bila menemukan keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan, segera hubungi Call Center Jakarta Siaga 112,” demikian pernyataan BPBD DKI Jakarta yang dikutip kantor berita Antara.

 

(has/has)

275 Personel Gabungan Ikut Pelatihan Bencana Alam di Lantamal XIV Sorong, Danlantamal: Agar Sigap

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG – Lantamal XIV Sorong, Papua Barat menggelar latihan tanggap bencana alam untuk prajurit dan masyarakat pesisir di Mako Lantamal XIV Sorong, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Klaligi, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong.

Danlantamal XIV Sorong, Laksamana Pertama TNI, Imam Musani mengatakan, peserta pelatihan bencana alam gempa bumi dan tsunami personel TNI-Polri bersama Kantor SAR, BPBD.

“Yang kita latihkan tentang bencana alam gempa bumi dan tsunami,” ujarnya kepada awak media, Selasa (12/7/2022). 

Baca juga: Memelihara Asa SMP Negeri Baru di Manokwari, Orangtua: Harus Jadi Sekolah Unggulan

Baca juga: Cara Dinkes Manokwari Capai Target Bulan Imunisasi Anak hingga Akhir Juli 2022

Ia menambahkan, pelatihan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali prosedur tanggap bencana.

Jadi, selama tiga hari ini mereka diberikan berbagai materi seperti metode tertulis dan praktik lapangan.

“Ada mobil ambulans, helikopter dan juga perahu karet. Disediakan sebagai simulasi di lapangan,” katanya.

Pelatihan melibatkan 275 personel ini diharapkan mampu mengedukasi peserta agar selalu siap menghadapi bencana.

“Peserta bisa dapat ilmu agar sewaktu-waktu terjadi bencana itu mereka sudah siap,” ungkapnya.

(*)

Masyarakat Bangli Diimbau Waspada Bencana

BANGLI, BALI EXPRESS– Cuaca ekstrem terjadi di Bangli sejak beberapa hari lalu. Untuk mengantisipasi terjadinya bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli mengimbau masyarakat waspada, terutama kemungkinan terjadinya pohon tumbang.

Kepala Pelaksana BPBD dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bangli I Wayan Wardana ditemui Selasa (12/7) menyampaikan, cuaca ekstrem sejak beberapa hari lalu memang tidak menimbulkan bencana di Bangli. Namun demikian, ia tetap mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Mengingat banyak pohon di pinggir jalan raya wilayah Bangli. Seperti jalur Kayuambua, Kecamatan Susut. Kemudian jalur utama Kecamatan Tembuku. Apalagi wilayah Kintamani, jalur utama berada di kawasan hutan.

Selain pohon tumbang, rawan tanah longsor juga menjadi perhatian instansi tersebut. Kawasannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Salah satu di kawasan Desa Terunyan. “Imbauan tertulis memang belum ada, tetapi secara lisan sudah,” ujarnya.

Setiap ada perkembangan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) langsung disebarkan. Sehingga semua pihak bisa waspada. “Sebar ke grup Whatsapp (WA). Harapannya, camat bisa menyebar ke perbekel, kemudian terus disebarkan hingga masyarakat luas tahu bahwa akan turun hujan ringan, lebat, jadi bisa waspada,” harapnya.

Pejabat yang sempat menjabat camat di semua kecamatan di Bangli ini  juga menyampaikan bahwa segala peralatan yang dimiliki BPBD untuk menangani bencana sudah disiapkan. Semuanya dipastikan dalam kondisi baik. Siap digunakan. “Senso setiap hari dipanaskan, dicoba biar saat dibutuhkan benar-benar masih bagus,” jelas Wardana.

Bagaimana dengan kesiapan personel? Pria asal Kelurahan Kawan, Bangli ini menegaskan, BPBD sudah memiliki tim reaksi cepat (TRC) yang standby 24 jam. Satu sif terdiri dari lima orang. Jumlah itu memang dinilai masih kurang.

Keterbatasan personel di instansi tersebut membuatnya tidak bisa menyiagakan banyak orang dalam satu sif. Namun demikian, keberadaan TRC yang dibentuk beberapa bulan lalu itu bisa membantu masyakarat terkait kebencanaan. “Kalau ada bencana, lima orang ini dulu jalan. Apabila memang butuh tenaga banyak, kami kerahkan personel yang lain. Yang penting ada saja dulu ke lokasi untuk mempercepat penanganan,” terang Wardana.

Persiapan Sekretariat ASEAN Institute for Disaster Health Management

ugm aidhm 0

ugm aidhm 0

Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) didukung oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM terus mematangkan rencana persiapan Indonesia sebagai sekretariat ASEAN Institute for Disaster Health Management (AIDHM). Pertemuan lanjutan dilaksanakan di Yogyakarta, 2 – 3 Juni 2022. Rangkaian kegiatan meliputi hybrid meeting, penugasan kelompok – kelompok kerja, serta kunjungan untuk melihat kesiapan FK-KMK UGM sebagai lokasi sekretariat. Kunjungan dilakukan di pagi pada 3 Juni 2022. Rombongan Kementerian Kesehatan diterima di Gedung Litbang FK – KMK UGM yang merupakan tempat ruangan sekretariat AIDHM tepatnya di ruang Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM.

SELENGKAPNYA

Antisipasi Bencana, BNPB Minta Masyarakat di Pesisir Selatan Jawa Lakukan Mitigasi Gempa dan Tsunami

SuaraJawaTengah.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemangku kebijakan, masyarakat dan seluruh komponen di tiap-tiap daerah di pesisir selatan Pulau Jawa lakukan mitigasi bencana gempa serta tsunami.

“Agar pemangku kebijakan, masyarakat dan seluruh komponen di tiap-tiap daerah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, kewaspadaan dan melakukan mitigasi bencana gempa serta tsunami, sehingga dampak dari kerusakan maupun korban jiwa dapat diminimalisir,” ujar Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dikiutip dari ANTARA di Jakarta, Minggu (10/7/2022).

Di samping itu, BNPB berharap agar Desa Tangguh Bencana (Destana) Gempabumi dan Tsunami yang telah dibentuk sejak 2019 lalu di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dapat terus menjadi pelopor ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Hal tersebut menyusul rentetan kejadian gempa di selatan Pulau Jawa. Getaran dirasakan masyarakat di berbagai lokasi.

Gempa dengan magnitudo 5,4 terjadi di selatan Pulau Jawa bagian timur pada Sabtu (9/7) pukul 03.17 WIB. Menurut hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempabumi itu berpusat di 9.64 LS-112.91 BT pada kedalaman 10 kilometer.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang kepada Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lumajang sontak terbangun dan berhamburan ke luar rumah saat guncangan gempabumi yang berlangsung selama 2-3 detik itu,” kata Abdul.

Kurang dari tiga jam setelah gempabumi M 5,4 itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi gempabumi lagi pada pukul 05.50 WIB.

Untuk kali kedua ini, gempabumi tercatat berkekuatan M 5,0 dan berpusat di 9.57 LS-113.93 pada kedalaman 10 kilometer. Tidak ada guncangan yang dirasakan oleh masyarakat untuk gempa susulan tersebut.

Pada pukul 09.53 WIB, seismograf BMKG kembali merekam adanya getaran gempa. Kali ketiga ini, gempabumi berkekuatan M 5,3 dan terdeteksi di titik 9.61 LS-112.91 BT pada kedalaman 42 kilometer. Menurut BPBD Kabupaten Lumajang, getaran gempa yang ketiga sempat dirasakan selama 1-2 detik, namun tidak menimbulkan kepanikan warga.

Hasil analisis sementara oleh BMKG, tiga rentetan kejadian gempa itu adalah jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault

Agar Tak Timbulkan Korban Jiwa, Pesisir Jawa Perlu Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami

Suara.com – Pesisir Jawa diminta lakukan mitigasi bencana gempa dan tsunami. Hal itu agar tak terjadi korban jiwa saat bencana.

Hal itu diminta oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BNPB berharap agar Desa Tangguh Bencana (Destana) Gempabumi dan Tsunami yang telah dibentuk sejak 2019 lalu di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dapat terus menjadi pelopor ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Hal tersebut menyusul rentetan kejadian gempa di selatan Pulau Jawa. Getaran dirasakan masyarakat di berbagai lokasi.

“Agar pemangku kebijakan, masyarakat dan seluruh komponen di tiap-tiap daerah selalu meningkatkan kesiapsiagaan, kewaspadaan dan melakukan mitigasi bencana gempa serta tsunami, sehingga dampak dari kerusakan maupun korban jiwa dapat diminimalisir,” ujar Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Gempa dengan magnitudo 5,4 terjadi di selatan Pulau Jawa bagian timur pada Sabtu (9/7) pukul 03.17 WIB.

Menurut hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempabumi itu berpusat di 9.64 LS-112.91 BT pada kedalaman 10 kilometer.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang kepada Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lumajang sontak terbangun dan berhamburan ke luar rumah saat guncangan gempabumi yang berlangsung selama 2-3 detik itu,” kata Abdul.

Kurang dari tiga jam setelah gempabumi M 5,4 itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi gempabumi lagi pada pukul 05.50 WIB.

Untuk kali kedua ini, gempabumi tercatat berkekuatan M 5,0 dan berpusat di 9.57 LS-113.93 pada kedalaman 10 kilometer.

Krisis dan Bencana Ancam Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

JENEWA, SWISS — Informasi dalam laporan yang dikeluarkan pekan ini, lebih dari 200 negara menunjukkan COVID-19, perubahan iklim, dan konflik yang berkembang berdampak merugikan bagi upaya mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, serta meningkatkan kesehatan dan keamanan dunia.

Asisten Direktur Statistik PBB, Francesca Perucci mengatakan COVID-19 merampas kemajuan lebih dari empat tahun pengentasan kemiskinan. Ia mengatakan. pandemi memaksa 93 juta lebih orang jatuh dalam kemiskinan ekstrem, dan lebih banyak yang jatuh ke dalam kelaparan parah.

Ia menambahkan, peningkatan jumlah dan penyebaran konflik dunia yang terbesar sejak 1946, memaksa lebih dari 100 juta orang meninggalkan rumah mereka.

“Krisis Ukraina menyebabkan harga pangan, bahan bakar, dan pupuk melonjak, semakin mengganggu rantai pasokan dan perdagangan dunia, mengguncang pasar keuangan, mengancam ketahanan pangan dunia dan arus bantuan. Kemanusiaan juga di terancam bencana iklim dengan dampak yang sudah tampak dan dirasakan oleh miliaran orang di seluruh dunia,” ungkap Perucci.

PBB: Lebih dari 828 Juta Orang Terancam Kelaparan pada 2021

Para ilmuwan mengatakan, emisi gas rumah kaca naik 6% tahun lalu. Untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim, mereka mengatakan, emisi karbon dioksida harus mencapai puncaknya sebelum 2025, turun 43% pada 2030 dan turun ke nol bersih pada 2050.

“Perempuan kesulitan akibat kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian, sekolah yang terabaikan, dan bertambahnya beban pekerjaan perawatan yang tidak dibayar di rumah. Sementara itu, ada bukti menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan diperburuk oleh pandemi, serta pekerja anak-anak dan pernikahan anak meningkat,” imbuhnya

Pejabat-pejabat PBB mengatakan, solusi dapat diperoleh dengan memperkuat sistem perlindungan sosial dan mengatasi akar penyebab meningkatnya ketidaksetaraan. [ps/ka]

Waspadai Potensi Bencana Alam, Pemkab Malang Siapkan Dana Rp15 Miliar untuk Penanganan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Pemerintah Kabupaten Malang mewaspadai adanya bencana gempa bumi yang bisa menerjang kapan saja.

Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto terus memantau adanya rentetan gempa bumi susulan yang sempat menerjang wilayah Selatan Malang – Lumajang sejak Sabtu (9/7/2022) hingga Minggu (10/7/2022).

Kata Didik, Pemkab Malang telah bersiap dalam segi anggaran penanganan bencana yang nilainya mencapai Rp 15 miliar. Dana tersebut berasal dari dana belanja tidak terduga atau BTT.

“Memang tetap nilainya dikisaran Rp 15 miliar. Ini memang sifatnya untuk emergency (gawat darurat). Namun kami berharap semua bisa baik-baik saja. Dan wilayah Kabupaten Malang bebas dari bencana alam apapun,” ujar Didik ketika dikonfirmasi.

Didik mengkiaskan potensi bencana alam di Kabupaten Malang begitu banyak. Alhasil dirinya meminta masyarakat juga bersikap waspada setiap saat.

“Kabupaten Malang kita tahu di sebelah Selatan itu ada Samudera Hindia. Juga di dataran tinggi dikelilingi gunung berapi. Inilah yang memunculkan potensi bencana alam di Kabupaten Malang yang cukup banyak. Gempa, gunung meletus dan sebagainya,” ujar Didik.

Mantan Kepala Desa Tunjungtirto ini menyakini masyarakat di wilayahnya telah sadar bencana.

“Kami telah memiliki desa siaga bencana dan di situ juga kami dorong peran organisasi seperti PKK agar menguatkan pengetahuan mengenai mitigasi bencana,” tutur Didik.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Statsiun Geofisika Karangkates Malang, gempa magnitudo 5,2 mengguncang Lumajang pada Sabtu (9/7/2022) telah memunculkan rentetan gempa susulan.

Kepala BMKG Statsiun Geofisika Karangkates Malang, Mamuri menjelaskan hingga Minggu (10/7/2022) pukul 04.00 WIB, sebanyak 108 kali gempa susulan mengguncang titik gempa yang berada di Lumajang.

“Susulan ini terjadi bisa disebabkan oleh karakter batuan yag rapuh, ini aktivitas tektonik. Mudah-mudahan hanya magnitude kecil-kecil saja. Kami masih terus memonitor ini,” ucap Mamuri ketika dikonfirmasi.

Mamuri mengatakan, besaran magnitudo bencana alam gempa bumi sulit diprediksi, sekalipun memakai teknologi paling mutakhir. Alhasil, ia tetap meminta masyarakat agar tetap waspada.

“Namun demikian, sampai saat ini gempabumi belum bisa di prediksi. Jadi untuk selalu tetap waspada,” tutupnya.

Pemerintah New South Wales Tetapkan Status Bencana Alam Banjir, KJRI Sebut Belum Ada WNI yang Terdampak

Curah hujan tinggi di New South Wales (NSW) menyebabkan Kota Sydney dan wilayah sekitarnya banjir hingga Selasa (5/07) sore waktu setempat. Lebih dari 100 perintah evakuasi telah diberlakukan di berbagai lokasi.

Sejauh ini, belum ada warga asal Indonesia yang dilaporkan terdampak, namun pihak berwenang meminta agar semua warga mematuhi instruksi termasuk perintah evakuasi.

“Dalam pantauan kami, sampai sekarang belum ada warga asal Indonesia yang terkena dampak banjir,” kata Tiopan dari Fungsi Informasi, Sosial dan Budaya Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney kepada Farid Ibrahim dari ABC Indonesia.

“KJRI Sydney telah berkoordinasi dengan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) NSW dan tengah melakukan komunikasi intensif dengan berbagai komunitas masyarakat dan diaspora Indonesia untuk mencari informasi terkait WNI terdampak. Hingga saat ini, belum terdapat laporan mengenai WNI terdampak banjir,” tambahnya.

KJRI Sydney juga telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI di New South Wales untuk meningkatkan kewaspadaan, mempersiapkan perlengkapan untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik dan evakuasi, mematuhi arahan dan imbauan dari instansi yang berwenang, serta terus memantau perkembangan cuaca dan peringatan cuaca.

Seorang warga asal Indonesia yang tinggal di Wollongong, sekitar 90 km dari Sydney, mengaku telah menerima imbauan dari KJRI tersebut.

“Sejauh ini belum ada perintah evakuasi di daerah kami. Kemarin ada pengumuman dari KJRI Sydney agar warga Indonesia tetap waspada,” kata Haidir Fitra Siagian, seorang warga Indonesia di Wollongong.

“Di sekitar kami tidak ada banjir, hanya beberapa ruas jalan ditutup karena genangan air,” tambahnya.

sumber: https://m.jpnn.com/news/pemerintah-new-south-wales-tetapkan-status-bencana-alam-banjir-kjri-sebut-belum-ada-wni-yang-terdampak

Longsor dan Banjir Masih Dominasi Bencana di Sukabumi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI — Peristiwa longsor dan banjir masih mendominasi bencana di Kota Sukabumi dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2022. Hal itu berdasarkan data dari Sistem informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi.

”Dalam kurun waktu enam bulan dari Januari hingga Juni 2022, secara aggregate tercatat 86 kali kejadian, yang tersebar di tujuh kecamatan,” ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, Kamis (7/7/2022). Akibatnya, ditaksir nilai kerugian mencapai Rp 6.768.545.000.

Dengan luas area 44,719 hekrare dan 63 kepala keluarga terdampak, diantaranya enam orang mengungsi, korban meninggal satu orang dan luka ringan dua orang. Selain itu menyebabman kerusakan pada 626 unit bangunan rusak, 44 unit rusak berat, 155 unit rusak sedang dan 427 unit rusak ringan.

Menurut Zulkarnain, berdasarkan jenis kejadian, frekuensi, taksiran nilai kerugian dan area berdampak (M2) terlihat banjir dan longsor masih mendominasi. Misalnya banjir 22 kali, dengan taksiran kerugian mencapai Rp 4.966.220.000 dan prakiraan luas area terdampak 40.650 M2.

Berikutnya tanah longsor 28 kali, dengan taksiran kerugian mencapai Rp 981.875.000 dan prakiraan luas area terdampak 2.750 M2. Selain itu cuaca ekstrem 20 kali, dengan taksiran kerugian mencapai Rp 367.450.000 dan prakiraan luas area terdampak 601 M2.

Selanjutnya kebakaran 11 kali kejadian dengan taksiran kerugian mencapai Rp 430.000.000 dan prakiraan luas area terdampak 488 M2. Terakhir angin kencang 2 kali, dengan taksiran kerugian mencapai Rp 16.000.000 dan prakiraan luas area terdampak 190 M2 dan gempa 3 kali, dengan sebaran di tujuh Kecamatan.

”Tanah longsor dan banjir paling mendominasi masing-masing 28 kali dan 22 kali dan terendah angin puting beliung dua kali,” ungkap Zulkarnain. Sementara Februari merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat tercatat 35 kasus dan terendah April empat kasus.

Zulkarnain menuturkan, aggregate nilai kerugian terbesar berasal dari jenis Banjir Rp 4.966.220.000 dengan prakiraan luas area terdampak 40.650 hektare. Disusul dengan taksiran kerugian Tanah longsor Rp 981.875.000 dan prakiraan luas area terdampak 2.750 hektare.

Sementara wilayah tertinggi ada di Kecamatan Cikole 20 kali bencana dan yang tertinggi berasal dari Kelurahan Subangjaya. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Cibeureum dan Citamiang yang tertinggi berasal dari Kelurahan Babakan dan Kelurahan Citamiang.

Sebaran kejadian berdasarkan wilayah, Kecamatan Cikole menempati peringkat tertinggi (20 kali), disusul Kecamatan Gunung Puyuh (16 kali) dan Kecamatan Warudoyong (15 kali) serta disusul Kecamatan Lembursitu (14 kali) dan Kecamatan Baros (12 kali).

BPBD Kota Sukabumi kata Zulkarnain, sebagai pengampu bencana telah melakukan penanggulangan bencana mulai dari prabencana, saat dan pasca bencana. Bentuk upaya-upaya yang dilakukan yakni menetapkan status siaga banjir dan longsor dari 15 November 2021 dan berakhir pada 30 April 2022.

Upaya lainnya menetapkan status darurat banjir dan tanah longsor pada 18 Februari 2022 pasca banjir jembatan merah Kelurahan Jayaraksa Kecamatan Baros dan sekitarnya. Penetapan status dibarengi dengan pembentukan Pos Komando Penanganan Darurat Banjir Longsor.

BPBD menggencarkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi Bencana kepada masyarakat dari elemen aparat/petugas, mahasiswa, KSR, siswa, serta partai politik dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan, pelatihan dengan tercapai sasaran kurang lebih 500 orang.

”Kami juga menggelar Hari Kesiapsiagaan Bencana pada 26 April dimeriahkan video pendek simulasi mandiri bencana dan video safety briefing yang diikuti oleh SKPD, kecamatan, puskemas di lingkungan Pemkot Sukabumi dan diikuti perguruan tinggi serta BUMD,” ungkap Zulkarnain.

Upaya lainnya menfasilitasi Sosis GulBencal dan edukasi siap menghadapi bencana baik di komunitas maupun fasilitasi dengan berbagai pihak seperti KIE bencana di rumah sakit, dan perguruan tinggi. Dibentuk juga Forum Pengurangan Risiko Bencana yang menggelar aksi Sukabumi bersih seperti penanaman pohon dan pemasangan rambu-rambu bahaya.