Virus Korona, Kemenlu Bahas Opsi Evakuasi 93 Mahasiswa di Wuhan

JAKARTA – Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, menyebut Menteri Retno Marsudi dan sejumlah pejabat lintas kementerian tengah membahas opsi kemungkinan mengevakuasi mahasiswa maupun WNI yang kini terisolir di kota Wuhan, China.

Untuk itu, Menteri Retno dan beberapa kementerian pada Minggu 26Januari 2020 sore menggelar video conference dengan KBRI di Beijing agar mendapat informasi yang valid tentang kondisi di sana.

“Kita ingin mendapat informasi langsung kira-kira saran apa yang mereka berikan seperti apa,” ujar Teuku Faizasyah mangutip BBC.

Menurut Teuku, untuk proses evakuasi tidak semudah yang dibayangkan lantaran pemerintah China masih menutup kota itu.

“Memang tidak sesederhana permasalahannya, kalau untuk evakuasi. Memang saat sekarang opsi-opsi itu sedang dibahas, tapi karena status wilayah itu masih ditutup.”

Dari pantauan Kemenlu, beberapa negara seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia berupaya mengevakuasi warga negara mereka dari Wuhan. Namun, sejauh ini belum ada satupun negara yang berhasil melakukannya.

Karena itulah, pemerintah belum menemukan cara evakuasi yang ideal.

“Jadi kita belum bisa melihat contoh proses pelaksanaan yang ideal seperti apa, apakah dievakuasi langsung di bawa pulang atau bagaimana. Itu kan hal-hal yang harus betul-betul disiapkan di lapangan,” jelasnya.

Setidaknya ada 96 mahasiswa yang masih tinggal di asrama-asrama kampus di Wuhan. Mereka, katanya, mulai dilanda rasa khawatir luar biasa sejak pemerintah China menutup seluruh akses transportasi di sana dan melarang masyarakat setempat keluar dari Wuhan.

Pada Minggu (26/1), setidaknya 56 orang dilaporkan meninggal dunia karena virus corona dan menginveksi lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia.

Virus Corona, SARS, dan MERS, Manakah yang Paling Berbahaya?

KOMPAS.com – Dunia sedang dihebohkan dengan mewabahnya virus corona jenis baru, yakni Novel coronavirus ( 2019-nCov) yang berasal dari Wuhan, China.

Hingga saat ini tercatat sudah 14 negara yang tertular oleh virus ini.

Diketahui, Novel coronavirus (2019-nCov) merupakan virus penyebab penyakit saluran pernapasan di mana virus ini masih satu keluarga dengan virus SARS dan MERS.

Meski mirip, apakah ketiganya sama-sama berbahaya?

Salah satu dokter spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM, dr. R. Ludhang Pradipta R., M. Biotech, Sp.MK mengungkapkan, virus 2019-nCov saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut untuk bahaya yang ditimbulkan.

Meskipun demikian, virus ini sudah membunuh 41 orang di China.

“Sejauh ini untuk yang nCoV masih belum bisa dipastikan apakah ini berbahaya atau tidak, masih dalam penelitian lebih lanjut,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (26/1/2020).

Berdasarkan situs realtime gisanddata.maps.arcgis.com, imbuhnya virus 2019-nCov telah menewaskan 42 orang dari 1.438 kasus dan diindikasi masih akan terus bertambah.

“Sedangkan angka kematian SARS-CoV sebesar 10 persen dan MERS-CoV sebesar 37 persen,” terang dokter yang juga salah satu anggota dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) ini.

 

Ia menjelaskan, dalam situs realtime tersebut laporan kasus meninggal sejauh ini hanya terjadi di China saja.

Menurutnya, belum ada laporan dari negara-negara yang melaporkan ada kasus dan sudah terkonfirmasi corona.

“Sejauh ini, per hari ini saya update, belum ada laporan korban meninggal di luar China,” ujar Ludhang.

Ciri SARS, MERS, dan 2019-nCov

Berdasarkan jurnal pengobatan umum mingguan di Inggris, The Lancet, merilis penjelasan terkait tanda dan gejala dari ketiga jenis virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

 

Berikut rinciannya:

2019-nCov

Novel Coronavirus (2019-nCov) memang memiliki kesamaan dengan virus corona jenis lain, seperi MERS dan SARS.

Umumnya 2019-nCov memiliki gejala umum bagi orang yang terinfeksi, seperti demam, batuk, kelelahan, sakit tenggorokan, sakit kepala, hemoptisis, dan diare.

Hingga Minggu (26/1/2020) sebanyak 41 orang meninggal dunia akibat terjangkit 2019-nCov.

Adapun tindakan pencegahan melalui udara, seperti respirator N95 teruji efektif, dan peralatan pelindung pribadi lainnya sangat disarankan oleh petugas kesehatan.

SARS-CoV

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARAS-CoV) pertama kali ditemukan di China pada November 2002.

Diketahui, virus ini menyebabkan wabah mematikan di seluruh dunia pada kurun waktu 2002-2003.

Tercatat, sebanyak 777 penduduk meninggal dunia dari 8.098 kasus.

Meski begitu, para peneliti menyimpulkan, SARS-CoV memiliki tingkat kematian sebesar 10 persen.

Bagi pasien yang terjangkit SARS-CoV umumnya sebanyak 20-25 persen mengalami diare.

Sebuah studi awal menunjukkan bahwa peningkatan jumlah sitokin proinflamasi dalam serum tertentu dikaitkan dengan peradangan paru dan kerusakan paru-paru yang meluas pada pasien SARS.

Gejala SARS yang umumnya terjadi antara lain, menggigil, demam, batuk kering, dan sakit di bagian dada.

MERS-CoV

Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) diketahui pertama kali ditemukan di Timur Tengah pada 2012.

Saat itu ditemukan enam orang dengan gejala gagal pernapasan. Kemudian, dua orang di antaranya meninggal dunia.

MERS-CoV dilaporkan memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada SARS-CoV yakni sebesar 37 persen.

Kasus menjadi meluas, di Arab Saudi tercatat 22 orang meninggal dunia dari 44 kasus yang terjadi.

Seorang peneliti dari Erasmus Medical Center (EMC) di Belanda, Ron Fouchier mendunga MERS-CoV berasal dari kelelawar.

Pada 2013, penyakit ini mewabah ke negara-negara di Eropa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia.

WHO sempat mengeluarkan peringatan bahwa MERS-CoV dapat menjadi ancaman dunia.

Sementara itu, bagi orang yang terinfeksi MERS-CoV dilaporkan menginduksi peningkatan konsentrasi sitokin proinflamasi yang juga dikaitkan dengan peradangan paru dan kerusakan paru-paru yang luas.

Adapun MERS juga memiliki tanda dan gejala masalah pencernaan pada usus, misalnya diare.

Hingga saat ini belum ada pengobatan antivirus yang terbukti efektif untuk infeksi coronavirus.

Apa Itu Virus Corona nCoV yang Mematikan & Gegerkan Dunia?

Apa Itu Virus Corona nCoV yang Mematikan & Gegerkan Dunia?

Jakarta, CNBC Indonesia – Virus baru yang disebut corona virus telah membuat geger warga dunia. Sebab, selain dapat menyebar dengan sangat cepat, virus itu juga telah menyebabkan kematian pada banyak orang di beberapa negara dunia, utamanya di China.

Pada Kamis (24/1/2020), pemerintah China mengatakan, virus yang pertama kali muncul dari daerah Wuhan ini telah memakan korban jiwa sebanyak 25 orang dan menjangkiti lebih dari 830 orang sejak pertama kali muncul akhir tahun lalu.

Lalu, apa sebenarnya corona virus dan dari manakah sumbernya?

Laporan pemerintah China menyatakan, virus corona mulai mewabah di Wuhan, China, pada Desember lalu. Para pejabat negara mengatakan virus corona mungkin berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan (Huanan Seafood Market) yang terletak di pusat kota Wuhan.

Apalagi sejumlah penderita awal yang terjangkit virus Novel 201 Corona virus (2019-nCoV) itu adalah karyawan pasar makanan tersebut.

“Pihak berwenang percaya virus itu kemungkinan berasal dari binatang buas di pasar makanan laut meskipun sumber pastinya masih belum ditentukan.” kata Dr Gao Fu, direktur pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China, sebagaimana dilansir dari The Straits Times, Kamis (23/1/2020).

Vendor pasar makanan dan media China melaporkan, Pasar Makanan Laut Huanan menjual berbagai jenis makanan unik. Mulai dari anak serigala, rubah hidup, buaya, salamander raksasa, ular, tikus, burung merak, landak, daging unta hingga musang.

Berbagai binatang yang dijual di pasar itu merupakan spesies yang terkait dengan pandemi sebelumnya, yakni Server Acute Resporatory Syndrome (SARS).

Menurut peneliti, Virus corona merupakan virus yang kerap menginfeksi hewan. Namun, virus itu lambat laun dapat berevolusi dan menyebar ke manusia. Virus Corona juga disebut mirip dengan SARS yang mewabah di seluruh dunia pada 2002-2003 itu.

Virus SARS pertama muncul di China pada November 2002. Pada Juli 2003 ditemukan 8.000 kasus virus ini dan 774 orang yang meninggal. Wabah ini telah menyebar ke negara lain di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa dan Asia.

Apa Itu Virus Corona nCoV yang Mematikan & Gegerkan Dunia?
Foto: Infografis/Mengenal Virus Corona dan Cara Mencegahnya/Edward Ricardo

Namun, menurut profesor penyakit menular dan kesehatan global di University of Oxford, Peter Horby, virus corona lebih ringan daripada SARS. Virus itu membutuhkan waktu lama untuk berkembang dari gejala awal.

Apa saja gejala yang ditimbulkan virus corona?

Virus corona bisa membuat orang sakit saluran pernapasan bagian atas dengan tingkat ringan hingga sedang, mirip dengan flu biasa. Gejala virus corona lainnya termasuk pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala dan demam. Semua itu dapat berlangsung selama beberapa hari.

Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang tua dan anak-anak, ada kemungkinan virus dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang lebih serius seperti pneumonia atau bronkitis. Bahkan, bisa menyebar menjadi pneumonia dan mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan segera.
Meski demikian, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), mengatakan virus ini belum bersifat darurat. Sehingga tidak perlu dikategorikan sebagai darurat global, seperti virus SARS.

Ini negara-negara yang sudah terjangkit virus corona

Dari China, virus ini tercatat telah menyebar tak hanya ke wilayah otonomi seperti Hong Kong dan Makau, tapi juga ke beberapa negara sejauh ini. Termasuk Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS), Singapura hingga Thailand.

Berikut rinciannya:

China: 830 kasus, 25 kematian

Jepang: dua orang, yaitu seorang turis asal China dan seorang warga yang baru pulang dari Wuhan

Hong Kong: sekitar 1300 warga diperkirakan sudah terinfeksi

Korea Selatan: dua orang yang baru kembali dari Wuhan

Amerika Serikat: seorang pria berusia 30 tahun yang berdomisili di Seattle

Makau: dua kasus, salah satunya adalah seorang wanita berusia 52 tahun yang baru saja tiba dari Wuhan

Singapura: satu orang turis asal China yang baru tiba di Singapura

Taiwan: seorang wanita asli Taiwan terjangkit setelah kembali dari liburan di Wuhan

Thailand: dua turis asal China

Vietnam: Seorang pria China yang tinggal di Ho Chi Min terinfeksi dari ayahnya yang melakukan perjalanan ke Vietnam 13 Januari lalu, dari kota Wuhan.

The Wuhan Coronavirus: A Tentative Clinical Profile

Until the 21st century, the worst a coronavirus, a large family of viruses capable of infecting humans and animals, could do to humans was to deliver the common cold—annoying but hardly sinister. But three times so far in the 21st century, novel coronaviruses have emerged that could potentially cause a deadly pandemic—SARS (severe acute respiratory syndrome) in 2003, MERS (Middle East respiratory syndrome) in 2012, and now 2019-nCoV emanating from Wuhan, China. As of Jan. 26, the new coronavirus has reportedly infected at least 2,463 people and caused at least 80 deaths. Those numbers are certain to mushroom.

Controlling the spread of the virus requires both public health and medical measures—and for that we need a clear clinical profile. At this stage, that information is only just being put together, but what we do have is disturbing.

So far, the limited clinical information coming out of China means we know only about the mid-to-worst-case outcomes—from moderate to life-threatening pneumonia. Two studies released on Jan. 24—one about 41 infected patients and the other on a family cluster of six separate from those 41—provide both clues and concerns.

The official story is that this new coronavirus emerged from a Wuhan wet market, where live animals that would never normally meet in the wild live side by side, facilitating trans-species mutation of pathogens. Yet the first three known cases from Dec. 1 and 2 were not linked to the market. Neither were 11 more cases of the 41 reviewed in the recent study. This early data suggests an evolving virus that surfaced considerably earlier. Undetected among the plethora of similar chest infections and common symptoms, it honed its capacity to spread from human to human. As happened with SARS, new corona may be mutating along the way, gradually becoming more virulent.

The coronavirus is a physically large virus—in relative terms, at just 125 nanometers with a surface of spike projections, too big to survive or stay suspended in the air for hours or travel more than a few feet. Like influenza, this coronavirus spreads through both direct and indirect contact. Direct contact occurs through the physical transfer of the microorganism among friends and family through close contact with oral secretions. Indirect contact results when an infected person coughs or sneezes, spreading coronavirus droplets on nearby surfaces, including knobs, bedrails, and smartphones.

As with SARS, droplets generated during medical procedures such as bronchoscopy and respiratory treatment may be aerosolized, infecting multiple medical staff and enabling super-spreading. Hand hygiene and personal protective barriers—gowns, gloves, masks, and goggles—reduce droplet transmission. The incubation period, however, is unknown but currently very roughly estimated as between one and 14 days.

To complicate matters further, we do not know how easily the new coronavirus spreads. Can transmission take place before the onset of symptoms? (Measles, one of the most contagious diseases on Earth, is infectious two to four days beforehand.) Do people who never become symptomatic nonetheless spread the disease? Do symptomatic people become less contagious over time, like SARS, or is it like Ebola, which becomes increasingly contagious as the disease progresses? These are all unanswered questions.

Like its siblings SARS and MERS, the new coronavirus causes pneumonia—the infection of one or both lungs. But that may be only one potential syndrome, which is one of the factors making it difficult to spot. In fact, it probably causes a spectrum of disease, from asymptomatic to lethal. Even in deadly cases, new coronavirus infections start off much like many other less dangerous diseases. Initial symptoms are fever, dry cough, myalgia (muscle pain), and fatigue. Productive cough (a cough that produces phlegm) and headache are infrequent, hemoptysis (coughing up blood) and diarrhea occasional. It can take about a week before an infected person feels sick enough to seek medical care.

After this deceptively slow start, the disease progresses rapidly during the second week—in a similar fashion to SARS. Hypoxemia caused by increasing lung injury leads to difficulty breathing and the need for oxygen therapy. ARDS (acute respiratory distress syndrome) is a common complication. Between 25 and 32 percent of cases are admitted to the intensive care unit (ICU) for mechanical ventilation and sometimes ECMO (pumping blood through an artificial lung for oxygenation).

Other complications include septic shock, acute kidney injury, and virus-induced cardiac injury. The extensive lung damage also sets the lung up for secondary bacterial pneumonia, which occurs in 10 percent of ICU admissions. (This may also be the case for the Spanish flu of 1918, which killed 50 million people; the fatalities attributed to the viral influenza may be more because of the bacterial pneumonia that followed.)

Pneumonia from any cause severe enough to require ICU admission is associated with high morbidity and mortality. Defined as an infection of one or both lungs, it was already considered an ancient disease in Hippocrates’s time. In 1881, pneumococcus—the main cause of bacterial pneumonia—was finally identified. Over the next century, medical advances and the development of antibiotics made treatment possible, honed by intensivists to reduce the mortality rate to single figures.

In contrast, because few respiratory viruses cause more than mild infection, adult intensive care physicians generally have relatively little experience with viral pneumonia. Yet infection by SARS, H1N1, and MERS can lead to severe pneumonitis, ARDS, and respiratory failure, possibly because of an exaggerated inflammatory reaction. (Corticosteroids, the go-to anti-inflammatory drug, are ineffective and not recommended by the World Health Organization, or WHO.) The lack of effective antivirals and treatment options means viral pneumonia has a high mortality rate.

We do not know how lethal the new coronavirus is. While the single figures of deaths in early January seemed reassuring, the death toll has now climbed to above 3 percent. This may indicate better reporting—or the lethal lag time (the time for those infected to die). Another big unknown is the risk factors that would lead infection in a deadly direction. Certainly, some adults have compromised immune systems due to chronic illnesses. Of these, 15 percent have died, with higher fatality rates among older patients and those with co-morbidities of diabetes, hypertension, or coronary artery disease. However, most patients with severe illness were healthy to begin with, including a 30-year-old man who recently died.

Even trickier than treatment is detecting the virus. In quarantined Wuhan, dozens of fever clinics are singling out anyone with a fever of 99.1 degrees Fahrenheit or above—the cardinal sign for 98 percent of pneumonia cases—and then interviewing them about possible exposure to the coronavirus. In theory, this sounds reasonable.

In practice, it is the screening from hell. Early symptoms of fever and cough are clinically indistinguishable from the usual winter suspects, such as influenza, while fever is an undifferentiated sign, common to hundreds of noninfective diseases from allergies to arthritis. Even pregnancy elevates body temperature.

Because 110,000 people (about 1 percent of the population) in Wuhan might have a febrile illness at any given time, clinics, hospitals, and medical personnel are overwhelmed, short on lab tests and personal protective equipment. And as all those with a fever are detained until lab tests are back, nosocomial infection—transmission of disease in crowded clinics—becomes more likely.

Exit and entry screenings at international airports have been successful in picking up cases in Thailand and South Korea but have missed cases still incubating in the United States and Australia that were later detected in hospital after symptoms manifested.

More worrying is that several cases have been identified without a fever. This includes detection of coronavirus in a 10-year-old girl who exhibited no symptoms at all. If the coronavirus can be spread before symptoms appear, it will greatly complicate screening efforts even beyond the inadequacies of the fever test.

One puzzling aspect so far is the thankful lack of child victims. Usually, children, with less developed immune systems than adults, come down with one illness after another. A particularly severe example is RSV viral pneumonia, which results in an estimated 118,200 child deaths annually. (Adults are not seriously affected.)

Yet few children have yet been reported with coronavirus symptoms. That does not mean that no children have been infected. A similar pattern of benign disease in children, with increasing severity and mortality with age, was seen in SARS and MERS. SARS had a mortality rate averaging 10 percent. Yet no children, and just 1 percent of youths under 24, died, while those older than 50 had a 65 percent risk of dying. Is being an adult a risk factor per se? If so, what is it about childhood that confers protection? It may be the nonspecific effects of live vaccines such as for measles and rubella, which already have been found to provide protection from diseases beyond their immediate target. That may also explain why more men than women have been infected by the coronavirus, because women routinely are given a rubella vaccine booster in their teens to guard against the dangers of having rubella while pregnant. While we wait for an accelerated coronavirus vaccine to be ready, could innate immunity in adults be boosted by giving measles vaccines?

The virus itself is not the only risk. Fewer than half the patients hospitalized so far for the coronavirus ended up having the underlying disease. As hundreds more cases, many of them likely to be false positives, are picked up during aggressive screening, fewer patients can receive adequate support care. This compounds the clinical and ethical burden on medics working 24-hour shifts, working alongside colleagues who then become patients and living in hospitals because they are unwilling to risk infecting their families by going home. The risk of hospitals themselves becoming sites of infection is considerable: In March 2003, it was the infection of scores of medical staff that led the WHO to declare a global alert for SARS. This time, while only 16 medics are reported to have been infected, this is a likely underestimate—and the first case of a doctor dying from the virus has just been reported.

Fever clinics and screening are an exercise in clinical insanity, attempting to discern corona patients from every other common winter illness. Because there is no rapid diagnostic test, screening has focused on whether people have a fever, quickly overwhelming medical facilities until more time-consuming laboratory tests can be performed. Moreover, if nonsymptomatic people can spread the coronavirus, the focus on symptoms may be causing dangerous oversights.

The most powerful measures may be public education about the best ways to avoid infection, such as avoiding physical contact with people known to be infected, and to minimize spread from unidentified infections, wearing masks and hand hygiene. China is taking these measures, with public health information broadcast through multiple means, from state-run television to the village loudspeakers that usually blare propaganda. These steps can protect everyone, including families as they care for members who come down with typical flulike symptoms and may not seem to require more intensive treatment for several days. A more targeted approach can also ensure that medical facilities can focus on the people who really need intensive care rather than the far greater numbers who may simply have a fever but are kept in effective detention until laboratory tests can clear them.

Any new deadly pathogen inevitably gives rise to panic. But experience with other epidemics has shown us that a targeted approach can contain and arrest the spread of a virus—even more effectively than sweeping quarantines.

Annie Sparrow is an assistant professor of population health science and policy at Icahn School of Medicine at Mount Sinai in New York. Twitter: @annie_sparrow

source: https://foreignpolicy.com/2020/01/26/2019-ncov-china-epidemic-pandemic-the-wuhan-coronavirus-a-tentative-clinical-profile/

Tiga Pekan Usai Bencana Desa Urug Masih Butuhkan Uluran Tangan

SUKAJAYA, AYOBOGOR.COM — Desa Urug menjadi salah satu desa yang terdampak bencana alam terparah di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Di desa ini sebanyak 28 unit rumah hilang dan 194 lainnya rusak ringan hingga sedang akibat banjir bandang.

Kepala Desa Urug Sukarma mengatakan, besarnya dampak bencana itu membuat para korban bencana di desanya masih membutuhkan uluran tangan untuk memulihkan kondisi mereka.

Menurut Sukarma tiga pekan usai bencana melanda bantuan yang datang semakin berkurang.

“Dulu pas awal setiap hari ada bantuan cuma sekarang karena udah lama bantuan berkurang jadi kami sebenarnya masih mengharapkan terutama untuk korban rumahnya yang hilang, ada 28 unit rumah,” kata Sukarma usai menerima bantuan dari bank bjb, Rabu (21/1/2020).

Dia mengatakan, mereka yang rumahnya hilang terbawa banjir bandang saat ini masih mengungsi di posko bencana. Adapun bantuan yang paling dibutuhkan korban adalah berupa pangan dan beras.

Sementara itu, Kepala Cabang bank bjb Cibinong Boy Panji Soedrajat usai mendatangi langsung lokasi bencana Desa Urug mengatakan, meskipun sudah tiga pekan usai bencana memang bantuan masih dibutuhkan para korban.

“Kita melihat memang mereka membutuhkan pertolongan, memang curah hujan sudah mulai menurun tapi dampak bencana masih ada, makanya kami hari ini bersama Pimpinan Wilayah II bank bjb, bapak Mohammad Mufti berkunjung dan memberikan bantuan kepada korban bencana,” kata Boy Panji.

Dia mengatakan, bantuan yang diberikan telah melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Kabupaten Bogor. Adapun bantuan tersebut diantaranya perlengkapan bayi, perlengkapan masak, mandi, susu hingga ikan kering.

“Sebelumnya kita juga sejak awal kejadian bencana sudah menyalurkan bantuan ke Jasingga,  Bojongkulur. Mudah-mudahan ini dapat meringankan dan harapannya bisa membantu paling tidak untuk sementara waktu dan semoga saja kondisi alam bisa stabil kembali sehingga masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa,” kata Boy.

203 Bencana Alam Terjadi Dalam 20 Hari

74 Tewas, 203 Bencana Alam Terjadi Dalam 20 Hari

Jakarta, CNBC Indonesia– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Ada 203 kejadian bencana hingga 20 Januari 2019 pukul 10.00 WIB.

Bencana puting beling mendominasi pada awal tahun ini, diikuti oleh banjir dan tanah longsor. Setidaknya ada 800.124 jiwa mengungsi, dan tercatat sebanyak 74 jiwa meninggal dunia, sementara 83 jiwa luka-luka. Tercatat pula 8 orang hilang dalam bencana awal tahun ini.

BNPB mencatat bencana yang terjadi antara lain 90 bencana puting beling, 63 bencana banjir, 45 tanah longsor, 3 kejadian karhutla dan 2 kejadian gelombang pasang dan abrasi.

BNPB Catat 203 Bencana Hingga 20 Januari 2020

Foto: Bencana Januari 2020. (Dok: BNPB)

Sejumlah sarana dan prasarana tercatat mengalami kerusakan. Ada 38 kantor rusak dan 93 jembatan rusak akibat bencana tersebut.

Sementara itu, ada 3.175 rumah rusak berat, 2.187 rumah rusak sedang, dan 6.786 rumah rusak ringan. Totalnya ada 12.148 rumah yang rusak karena bencana.

Fasilitas umum juga tercatat mengalami kerusakan antara lain 118 fasilitas pendidikan, 4e fasilitas peribadatan dan 11 fasilitas kesehatan. Sehingga totalnya, ada 171 fasilitas rusak akibat bencana alam yang terjadi sejak 1 Januari hingga 20 Januari 2020.

BNPB Imbau Agar Warga tak Menonton Bencana

Bencana banjir bandang. BNPB mengimbau warga tak menonton bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo mengimbau agar masyarakat tidak menjadikan bencana sebagai tontonan. Pernyataanya ini menyikapi putusnya jembatan gantung akibat warga menonton banjir bandang di Kecamatan Padang Guci Hulu, Bengkulu pada Ahad (19/1) sore.

“BNPB mengimbau kepada masyarakat agar tidak menjadikan peristiwa alam sebagai tontonan karena dapat berpotensi menjadi bencana baru sebagaimana yang menimpa warga saat menyaksikan banjir bandang dari atas Jembatan Gantung Cawang,” ujar Agus dalam siaran pers, Senin (20/1).

Agus mengatakan, putusnya Jembatan Gantung Cawang ternyata bukan disebabkan oleh terjangan banjir bandang sehingga menimbulkan korban jiwa. Namun, melalui komunikasi lebih lanjut dan verifikasi data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kaur, tampaknya putusnya jembatan diduga dikarenakan tidak kuat menahan beban.

“Para warga tengah menonton aliran sungai berjumlah 30 orang jatuh ke sungai setelah Jembatan Gantung Cawang putus karena tak kuat menahan beban dari para warga,” ucapnya.

Sampai Senin sore ini, menurut Agus, korban meninggal dalam insiden tersebut berjumlah sembilan orang. Satu orang masih dinyatakan hilang dan 20 orang lainnya selamat.

Berikut ini nama-nama korban meninggal dunia menurut perkembangan olah data lapangan hingga Senin (20/1) pukul 14.00 WIB:

1. Emilia binti Minut warga Desa Manau 9/2
2. Yeni binti Kamharudin warga Desa Manau 9/2
3. Pio bin Didi warga Desa Bungin Tambun
4. Peri Rahman bin Tisri warga Desa Pulau Panggung
5. Migi bin Jon armada warga Desa Rigangan
6. Mika binti Sus warga Desa Bungin Tambun 3
7. Viki bin Ida warga Desa Pulau Panggung
8. Intan Guspani binti Indi warga Desa Bungin Tambun 2
9. Guspial bin Sarpudin warga Desa Tanjung Ganti

“Sedangkan warga yang masih dalam pencarian adalah Ipan bin Ujang B desa Pulau Panggung,” ujar Agus.

Sistem Peringatan Bencana Berfungsi Jika Pintu Air Menunjukkan Potensi Banjir

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) telah membeli enam unit pengeras suara untuk peringatan dini bencana banjir di ibu kota dengan harga yang cukup fantastis, yakni Rp4 miliar. Enam buah pengeras suara canggih yang bernama Disaster Warning System (DWS) ini tergabung dalam sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) BPBD DKI.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD DKI Jakarta, M. Ridwan, menyatakan bahwa alat tersebut didatangkan dari Jepang, dan teknologi ini sudah diterapkan di Negeri Sakura untuk peringatan dini bencana. Ia menuturkan, DWS akan berfungsi saat pintu-pintu air di Jakarta menunjukkan potensi banjir

“DWS ini akan memberikan informasi berupa suara petugas BPBD DKI yang dapat menjangkau hingga radius 500 meter. Alat ini akan beroperasi jika tinggi muka air telah berada pada siaga tiga,” ujarnya ketika dikonfirmasi di Jakarta, Ahad (19/1).

Ia memaparkan, pengeras suara ini bakal dipasang di kawasan Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate, dan Marunda. Kawasan tersebut, masuk dalam pemetaan daerah rawan bencana banjir BPBD DKI. “Lokasi ini sifatnya masih tentatif. Akan kami pasang di tahun ini (2020),” paparnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Indonesiainside.id dari apbd.dki.go.id, Jumat (17/1), anggaran Rp4,03 miliar tersebut terdiri dari Rp3,1 miliar untuk pengadaan enam Stasiun Ekspansi Peringatan Dini Bencana Transmisi Vhf Radio, Rp353 juta untuk enam set pole DWS, Rp416 juta untuk enam set Modifikasi software telementary dan Warning Console dengan Amplifier 100W. Kemudian, Rp14,1 juta untuk enam set Coaxial arrester DWS, Rp7,06 juta untuk enam set Horn speaker 30 W senilai, Rp70,6 juta untuk enam set Storage battery, dan Rp90,3 juta untuk enam set elemen antena. “Harga tersebut sudah termasuk material instalasi, jasa instalasi, training, site survey, dan testing peralatan,” ujar Ridwan.(PS)

Peringatan Dini Banjir akan Dipasang di 6 Kecamatan DKI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Subejo mengklaim sistem peringatan dini bencana berbasis digital atau disaster warning system (DWS) dipasang guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. BPBD DKI Jakarta akan mengadakan enam set alat DWS dengan anggaran senilai Rp4,073 miliar pada tahun ini.

Keenam set alat tersebut akan dipasang di enam kelurahan yang rawan banjir, yakni Marunda, Rawa Terate, Cengkareng Barat, Bukit Duri, Kebon Baru, dan Kedaung Kali Angke. “Itu (DWS) untuk memberi peringatan kepada masyarakat sekitar agar waspada dan bersiap-siap (mengungsi), sehingga kerugian bisa diminimalisir,” kata Subejo saat dihubungi di Jakarta, Ahad (19/1).

“Alat ini tidak dimaksudkan untuk mencegah datangnya banjir, namun mengingatkan masyarakat untuk bersiap mengungsi dan menyelamatkan barang atau dokumen berharga agar tidak terdampak banjir,” ujarnya.

Meskipun telah dilakukan pemetaan lokasi pemasangan alat DWS, namun BPBD DKI Jakarta masih akan melakukan kajian dengan melihat kondisi banjir 2020. “Kami akan kaji kembali secara komprehensif tentang sistem peringatan dini untuk antisipasi kejadian bencana, termasuk DWS sebagai salah satu sarana sistem tersebut,” ujar Subejo.

Tiap alat DWS memiliki empat pengeras suara yang dipasang pada satu tiang tinggi dan terhubung langsung dengan sistem di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPDB DKI Jakarta. Dengan menggunakan teknologi VHF digital radio, maka radius jangkauan bunyi dapat terdengar hingga jarak 500 meter.

Saat tinggi muka air bendungan mencapai siaga 3, maka alat DWS secara otomatis akan mengeluarkan bunyi sebagai peringatan akan potensi terjadinya banjir. Tak hanya alat DWS, BPBD DKI Jakarta juga telah menyiapkan beberapa cara untuk menyebarluaskan peringatan bencana mulai dari pesan berantai yang dikirim ke grup-grup Whatsapp kelurahan hingga imbauan petugas yang turun langsung ke lapangan.

Korban bencana Sukajaya Bogor lakukan konseling dan pemulihan trauma

Sukajaya, Bogor (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melakukan konseling dan pemulihan trauma bagi korban bencana di Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Selain membawa bantuan kita juga mengadakan konseling dan pemulihan trauma yang didampingi oleh Psikolog dari DP3AP2KB,” ujar Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Nurhayati, Ahad.

Kejadian longsor yang memporak-poranda sebagian wilayah Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor meninggalkan trauma tersendiri bagi warga sekitar. Maka, melalui kegiatan konseling dan pemulihan trauma diharapkan beban psikis warga cepat pulih.

“Semoga musibah yang sedang dihadapi oleh masyarakat di sini cepat selesai dan psikis korban bencana juga cepat pulih kembali,” kata mantan Camat Tajurhalang Kabupaten Bogor itu.

Ratusan peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut mayoritas dari kaum ibu dan anak-anak. Khusus bagi anak-anak, diberi perlengkapan sekolah untuk bisa tetap menimba ilmu.

“Untuk peserta pemulihan trauma di Desa Harkatjaya sebanyak 150 orang dan Desa Kiarapandak sebanyak 100 orang. Dalam kegiatan ini juga diberikan Alat Permainan Edukatif (APE), Alat Kelengkapan Sekolah (menggambar) dan makanan anak,” ujar Nurhayati.

Selain menggelar kegiatan konseling dan pemulihan trauma, DP3AP2KB Kabupaten Bogor juga memberikan bantuan sandang dan pangan untuk para korban bencana di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

“Saya membawa seluruh pegawai DP3AP2KB untuk melihat dan membantu korban bencana banjir bandang dan longsor. Kita membawa bantuan seperti makanan, pakaian, perlengkapan solat, obat-obatan, semoga bermanfaat untuk masyarakat di sini,” katanya.*